Вы находитесь на странице: 1из 31

1.

Menguasai substansi dan metodologi dasar keilmuan bahasa Indonesia yang mendukung pembelajaran bahasa Indonesia SD/MI. 1.1. Memilih, menata, dan merepresentasi materi ajar bahasa Indonesia SD berdasarkan pemahaman tentang bagaimana siswa belajar bahasa Indonesia 1.1.1. Menganalisis karakteristik perkembangan bahasa anak usia SD Perkembangan Fonologis Sebelum masuk SD, anak telah menguasai sejumlah fonem/bunyi bahasa, tetapi masih ada beberapa fonem yang masih sulit diucapkan dengan tepat. Menurut Woolfolk (1990) sekitar 10 % anak umur 8 tahun masih mempunyai masalah dengan bunyi s, z, v. Hasil penelitian Budiasih dan Zuhdi (1997) menunjukkan bahwa anak kelas dua dan tiga melakukan kesalahan pengucapan f, sy, dan ks diucapkan p, s, k. Terkait dengan itu, Tompkins (1995) juga menyatakan bahwa ada sejumlah bunyi bahasa yang belum diperoleh anak sampai menginjak usia kelas awal SD, khususnya bunyi tengah dan akhir, misalnya v, zh, sh,ch. Bahkan pada umur 7 atau 8 tahun anak masih membuat bunyi pengganti pada bunyi konsonan kluster. Kaitannya dengan anak SD di Indonesia diduga pun mengalami kesulitan dalam pengucapan r, z, v, f, kh, sh, sy, x, dan bunyi kluster misalnya str, pr, pada kata struktur dan pragmatik. Di samping itu, anak SD bahkan orang dewasa kadangkala ada yang kesulitan mengucapkan bunyi kluster pada kata: kompleks, administrasi diucapkan komplek dan adminitrasi. Agar hal itu tidak terjadi, sejak di SD anak perlu dilatih mengucapkan kata-kata tersebut. Perkembangan Morfologis Afiksasi bahasa Indonesia merupakan salah aspek morfologi yang kompleks. Hal ini terjadi karena satu kata dapat berubah makna karena proses afiksasinya (prefiks, sufiks, simulf iks) berubah-ubah. Misalnya kata satu dapat berubah menjadi: bersatu, menyatu, kesatu, satuan, satukan, disatukan, persatuan, kesa-tuan, kebersatuan, mempersatukan, dst. Zuhdi dan Budiasih (1997) menyatakan bahwa anak-anak mempelajari morfem mula-mula bersifat hapalan. Hal ini kemudian diikuti dengan membuat simpulan secara kasar tentang bentuk dan makna morfem. Akhirnya anak membentuk kaidah. Proses yang rumit ini dimulai pada priode prasekolah dan terus berlangsung sampai pada masa adolesen. Berdasarkan kerumitan afiksasi tersebut, perkembangan morfologis atau kemampuan menggunakan morfem/afiks anak SD dapat diduga sebagai berikut: a. Anak kelas awal SD telah dapat mengunakan kata berprefiks dan bersufiks seperti melempar dan makanan. b. Anak kelas menengah SD telah dapat mengunakan kata berimbuhan simulfiks/konfiks sederhana seperti menjauhi, disatukan. c. Anak kelas atas SD telah dapat menggunakan kata berimbuhan konfiks yang sudah kompleks misalnya diperdengarkan dan memberlakukan dalam bahasa lisan atau tulisan. Perkembangan Sintaksis Brown dan Harlon (dalam Nurhadi dan Roekhan, 1990) berkesimpulan bahwa kalimat awal anak adalah kalimat sederhana, aktif, afirmatif, dan berorientasi berita. Setelah itu, anak baru menguasai kalimat tanya, dan ingkar. Berikutnya kalimat anak mulai diwarnai dengan kalimat elips, baik pada kalimat berita, tanya, maupun ingkar. Sedangkan menurut hasil pengamatan Brown dan Bellugi terhadap percakapan anak, memberi kesimpulan bahwa ada tiga macam cara yang biasa ditempuh dalam mengembangkan kalimat, yaitu: pengembangan, pengurangan, dan peniruan. Kedua peneliti ini sepakat bahwa peniruan merupakan cara pertama yang ditempuh anak, meskipun peniruan yang dilakukan terbatas pada prinsip kalimat yang paling pokok yaitu urutan kata. Cara yang kedua yang ditempuh anak untuk mengembangkan kalimat mereka adalah pengulangan dan pengembangan. Anak mengulang bagian kalimat yang memperoleh tekanan yaitu bagian kalimat kontentif, atau bagian kalimat yang berisi pesan pokok, sedangkan bagian lain dihilangkan secara sistematis. Karena itu, bahasa anak disebut dengan istilah tuturan telegrafis, karena mengandung pengurangan bagian kalimat secara sistematis. Dilihat dari segi frase, menurut Budiasih dan Zuchdi (1997) bahwa frase verba lebih sulit dikuasai oleh anak SD dibanding dengan frase nomina dan frase lainnya. Kesulitan ini mungkin berkaitan dengan perbedaan bentuk kata kerja yang menyatakan arti berbeda. Misalnya ditulis, menuliskan, ditulisi, dan seterusnya. Dari segi pola kalimat lengkap, anak kelas awal cenderung menggunakan struktur sederhana bila berbicara. Mereka sudah mampu memahami bentuk yang lengkap namun belum dapat memahamai bentuk kompleks seperti kalimat pasif (Wood dalam Crown, 1992). Menurut Emingran siswa kelas atas SD menggunakan struktur yang lebih kompleks dalam menulis daripada dalam berbicara (Tompkins, 1989). Pada umumnya anak SD mengenal bentuk pasif daripada preposisi oleh misalnya Buku itu dibeli oleh Ali. Dengan demikian kalimat pasif yang tidak disertai kata oleh, mereka

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

menganggapnya bukan kalimat pasif, misalnya Saya melempar mangga (kalimat aktif) menjadi Mangga saya lempar (kalimat pasif) bukan Mangga dilempar oleh saya. (Salah). Anak biasanya menggunakan kalimat pasif yang subjeknya dari kata ganti/tak dapat dibalik dan kalimat pasif yang subjeknya bukan kata ganti/dapat dibalik secara seimbang. Namun, anak sering mengalami kesulitan dalam membuat kalimat dan menafsirkan makna kalimat pasif yang dapat dibalik (subjeknya bukan kata ganti). Menjelang umur 8 tahun mereka mulai lebih banyak menggunakan kalimat pasif yang tidak dapat dibalik (subjeknya kata ganti). Pada umur 9 tahun, anak mulai banyak menggunakan bentuk pasif yang subjeknya dari kata ganti. Dan pada umur 11-13 tahun mereka banyak menggunakan kalimat yang subjeknya dari kata ganti. Penggunaan kata penghubung juga meningkat pada usia SD. Anak di bawah umur 11 tahun sering menggunakan kata dan pada awal kalimat. Pada umur 11-14 tahun, penggunaan dan pada awal kalimat mulai jarang muncul. Anak sering mengalami kesulitan penggunaan kata penghubung karena: dalam kalimat, seperti Saya menghadiri pertemuan itu karena diundang . Anak SD bingung membedakan kata hubung karena, dan, lalu dilihat dari segi urutan waktu kejadiannya. Yakni diundang dahulu baru pergi ke pertemuan. Oleh karena itu kadangkala ada anak TK yang mengucapkan Saya sakit karena saya tidak masuk sekolah padahal maksudnya Saya tidak masuk sekolah karena sakit.. Pemahaman kata penghubung karena baru mulai berkembang pada umur 7 tahun. Pemahaman yang benar dan konsisten baru terjadi pada umur skitar 10-11 tahun (Budiasih dan Zuchdi, 1997). Perkembangan Semantik Selama priode usia sekolah dan dewasa, ada dua jenis penambahan makna kata. Secara horisontal, anak semakin mampu memahami dan dapat menggunakan suatu kata dengan nuansa makna yang agak berbeda secara tepat. Penambahan vertikal berupa penambahan jumlah kata yang dapat dipahami dan digunakan dengan tepat (Owens dalam Budiasih dan Zuchdi, 1997). Menurut Lindfors, perkembangan semantik berlangsung dengan sangat pesat di SD. Kosa kata anak bertambah sekitar 3000 kata per tahun (Tompkins,1989). Sedang Berger menyatakan bahwa antara 2-6 rata-rata anak mempelajari 6 -10 kata per hari. Ini berarti bahwa rata-rata anak umur 6 tahun mempunyai kata 8.000 - 14.000 kata. Dan pada usia 9 - 10 thn. sekitar 5000 kata baru dalam perbendaharaan kosa katanya (Woolfolk, 1990). Merujuk apa yang tercantum dalam Kurikulum 1994, perbendaharaan kata siswa SD diharapkan lebih kurang 6000 kata. Dengan demikian pendapat Berger di atas sangat tinggi. Pendapat yang relatif mendekati harapan Kurikulum 1994 adalah hasil temuan penelitian Slegers bahwa ratarata anak masuk kelas awal dengan pengetahuan makna sekitar 2500 kata dan meningkat ratarata 1000 kata per tahun di kelas awal dan menengah SD dan 2000 kata di kelas atas sehingga perbendaharaan kosa kata siswa berjumlah 8500 di kelas VI (Harris dan Sipay, 1980). Kemampuan anak kelas rendah SD dalam mendefinisikan kata meningkat dengan dua cara. Pertama, secara konseptual yakni dari definisi berdasar pengalaman individu ke makna yang bersifat sosial atau makna yang dibentuk bersama. Kedua, anak bergerak secara sintaksis dari definisi kata-kata lepas ke kalimat yang menyatakan hubungan kompleks (Owens, 1992) Pengetahuan kosa kata mempunyai hubungan dengan kemampuan kebahasan secara umum. Anak yang menguasai banyak kosa lebih mudah memahami wacana dengan baik. Selama priode usia SD, anak menjadi semakin baik dalam menemukan makna kata berdasarkan konteksnya. Anak usia 5 thn. mendefinisikan kata secara sempit sedang anak berumur 11 tahun membentuk definisi dengan menggabungkan makna-makna yang telah diketahuinya. Dengan demikian definisinya menjadi lebih luas, misalnya kucing ialah binatang yang biasa dipelihara di rumah-rumah penduduk. Menurut Budiasih dan Zuchdi (1997), anak usia SD sudah mampu mengembangkan bahasa figuratif yang memungkinkan penggunaan bahasa secara kreatif. Bahasa figuratif menggunakan kata secara imajinatif, tidak secara literal atau makna sebenarnya untuk menciptakan kesan emosional. Yang termasuk bahasa figuratif adalah (a) ungkapan misalnya kepala dingin, (b) metafora, misalnya Suaranya membelah bumi., (c) kiasan, misalnya Wajahnya seperti bulan purnama., (d) pribahasa, misalnya Menepuk air di dulang, terpecik muka sendiri. Perkembangan Pragmatik Perkembangan pragmatik atau penggunaan bahasa merupakan hal paling penting dibanding perkembangan aspek bahasa lainnya pada usia SD. Hal ini pada usia prasekolah anak belum dilatih menggunakan bahasa secara akurat, sistematis, dan menarik. Berbicara tentang pragmatik ada 7 faktor penentu yang perlu dipahami anak (1) kepada siapa berbicara (2) untuk tujuan apa, (3) dalam konteks apa, (4) dalam situasi apa, (5) dengan jalur apa, (6) melalui media apa, (7) dalam peristiwa apa (Tarigan, 1990). Ke-7 faktor penentu komunikasi tersebut berkaitan erat dengan fungsi (penggunaan) bahasa yang dikemukakan oleh M.A.K Halliday: instrumental, regulator, interaksional, personal, imajinatif, heuristik, dan informatif.

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

Pinnel (1975) dalam penelitiannya tentang penggunaan fungsi bahasa di SD kelas awal menemukan bahwa umumnya anak menggunakan fungsi interaksional (untuk bekomunikasi) dan jarang menggunakan fungsi heuristik (mengunakan bahasa untuk mencari ilmu pengetahuan saat belajar dan berbicara dalam kelompok kecil). Dilihat dari segi perkembangan kemampuan bercerita, anak umur 6 th sudah dapat bercerita secara sederhana tentang acara televisi/film yang mereka lihat. Kemampuan ini selanjutnya berkembang secara teratur dan sedikit-demi sedikit. Mereka belajar menghubungkan kejadian tetapi bukan yang mengandung hubungan sebab akibat. Kata penghubung yang digunakan: dan, lalu. Pada usia 7 tahun anak mulai dapat membuat cerita yang ang agak padu. Mereka sudah mulai mengemukakan masalah, rencana mengatasi masalah dan penyelesaian masalah tersebut meskipun belum jelas siapa yang melakukannya. Pada umur 8 th anak menggunakan penanda awal dan akhir cerita, misalnya Akhirnya mereka hidup rukun. Kemampuan membuat alur cerita yang agak jelas baru mulai diperoleh oleh anak pada usia lebih dari delapan tahun. Pada umur tersebut barulah mereka dapat mengemukakan pelaku yang mengatasi masalah dalam cerita. Anak-anak mulai dapat menarik perhatian pendengar atau pembaca cerita yang mereka buat. Struktur cerita mereka semakin menjadi jelas. Kaitannya dengan gaya bercerita antara anak laki-laki dengan perempuan memiliki perbedaan. Anak perempuan menganggap bahwa peranannya dalam percakapan adalah sebagai fasilitator sehingga mereka menggunakan cara yang tidak langsung dalam meminta persetujuan dan lebih banyak mendengarkan, misalnya Ibu tidak marah, kan ?. Sedangka anak laki-laki menganggap dirinya sebagai pemberi informasi sehingga cenderung memberitahu. Anak laki-laki biasanya kurang berbicara dan lebih banyak berbuat namun kadangkala bertindak keras dan percakapan digunakannya untuk berjuang agar tidak dikuasai oleh anak lain atau kelompok lain. Sedangkan anak perempuan cenderung banyak bicara dengan pasangan akrabnya, dan saling menceritakan rahasianya, masalah pribadinya dikemukakan kepada teman dan temannya biasanya menyetujui dan dapat memahami masalah tersebut (Owens,1992). Ross dan Roe (Zuchdi dan Budiasih, 1997) membagi fase/tahap perkembangan bahasa anak seperti berikut.

Perkembangan membaca terjadi atas beberapa fase, yaitu sebagai berikut. Fase kesatu, kelas I dan kelas II, anak usia 7 dan 8 tahun, sudah dapat membaca lancar dalam cerita sederhana. Mereka sudah mengenal huruf, suku kata, dan kata untuk keperluan membaca tersebut. Fase kedua, kelas III dan kelas IV, anak sudah dapat menganalisis kata yang tidak diketahuinya menggunakan pola tulisan dan kesimpulan yang didasarkan konteksnya Fase ketiga, kelas IV sampai SLTP, pembelajaran membaca sudah meningkat bukan lagi pengenalan tulisan, melainkan sudah pada tingkat pemahaman bahan bacaan. (Owens dalam Zuchdi, 1996/1997:2021). 1.1.2. Memilih materi ajar aspek membaca di kelas rendah SD Pembelajaran membaca merupakan suatu keterampilan yang kompleks yang melibatkan serangkaian keterampilan lebih kecil lainnya. Secara garis besar, terdapat dua karakteristik yang penting dalam pembelajaran membaca. Karakteristik tersebut adalah sebagai berikut. a. Keterampilan yang bersifat mekanis dapat dianggap berada pada urutan yang lebih rendah. Hal ini mencakup: (a) pengenalan bentuk huruf; (b) pengenalan unsur-unsur linguistik (fonem/grafem, kata, frase, pola klausa, kalimat, dan lain-lain); (c) pengenalan hubungan/korespondensi pola ejaan dan bunyi (kemampuan menyuarakan baha n tertulis); (d) kecepatan membaca ke taraf lambat. b. Keterampilan bersifat pemahaman yang dapat dianggap berada pada urutan yang lebih tinggi. Hal ini mencakup: (a) memahami pengertian sederhana (leksikal, gramatikal, retorikal); (b) memahami signifikansi atau makna (a.l. maksud dan tujuan pengarang, relev

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

ansi/keadaan kebudayaan, dan reaksi pembaca); (c) evaluasi atau penilaian (i si, bentuk); (d) kecepatan membaca yang fleksibel, mudah disesuaikan dengan keadaan (Broghton (et al) Memilih materi ajar Membaca dan Menulis Permulaan(MMP) yang cocok guru perlu mempertimbangkan tingkat kesesuian materi itu dengan tema, dan fokus pembicaraan. Meskipun tema-tema itu bukan merupakan bahan ( isi pelajaran ) yang harus diajarkan, namun penyajian pembelajaran yang didasarkan atas tema-tema tertentu akan lebih mengarahkan kegiatan belajar mengajar siswa dan guru. Tema merupakan alat untuk melakukan kegiatan berbahasa, dan merupakan payung yang membungkus kemasan pembelajaran bahasa Indonesia. Beberapa alternatif tema yang ditawarkan untuk setiap semester dan peringkat kelas sbb: 1. Diri sendiri 2. Keluarga 3. Pengalaman 4. Budi pekerti 5. Lingkungan 6. Kegemaran Dari struktur materi pembelajaran MMP untuk kelas I diarahkan pada pengenalan kalimat berita interaktif (KB + Kki) mis: Ayah tidur, Paman datang dst. 1.1.3. Memilih materi ajar aspek menulis di kelas tinggi SD Materi pembelajaran Bahasa Indonesia SD Kelas IV memuat berbagai kompetensi dalam aspek me-nulis seperti menulis tentang berbagai topik, pengumuman, pantun, dan surat. Dalam berbagai kegiatan menulis tersebut, siswa diharapkan nantinya dapat menulis dengan memperhatikan unsur-unsur kebahasaan dalam kaidah penulisan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, seperti penggunaan ejaan, huruf, dan tanda baca. Hal itu termuat dalam Kompetensi Dasar pelajaran Bahasa Indonesia kelas IV semester II menyusun karangan tentang berbagai topik sederhana tentang berbagai topik sederhana dengan memperhatikan penggunaan ejaan, penulisan tanda baca dan huruf besar 1.2. Merencanakan, melaksanakan, mengorganisasi, dan mengevaluasi pembelajaran bahasa Indonesia di SD. 1.2.1. Memilih berbagai metode pembelajaran menulis permulaan yang dapat mengembangkan kemampuan dan kegemaran menulis siswa Metode Membaca dan Menulis Permulaan (MMP) A. Metode EJA Pada metode ini, memulai pengajaran dengan mengenalkan huruf alphabet ( A, B, C dst). Huruf-huruf tersebut dihafalkan dan dilafalkan anak sesuai bunyinya menurut abjad. Misalnya: b,u,k,u menjadi b.u bu (dibaca be.u bu) k.u ku (dibaca ka.u ku) bu-ku dilafalkan buku Setelah anak-anak menulis huruf lepas tersebut,kemudian anak-anak belajar menulis rangkaian huruf yang berupa suku kata. Proses selanjutnya adalah pengenalan kalimat-kalimat sederhana. Pemilihan bahan ajar untuk pembelajaran MMP hendaknya dimulai dari hal-hal yang konkret menuju hal-hal yang abstrak,dari hal-hal yang mudah,akrab,familiar dengan kehidupan anak menuju yang sulit dan mungkin merupakan suatu yang baru nagi anak. B. Metode Bunyi Proses pembelajaran MMP melalui metode ini merupakan bagian dari metode eja. Prinsipn dasar dan proses pembelajarannya tidak jauh berbeda dengan metode eja di atas. Perbedaannya terletak pada cara atau sistem pembacaan atau pelafalan abjad(huruf-hurufnya). Misal: Huruf b dilafalkan /eb/-d dilafalkan /ed/: dilafalkan dengan e pepet seperti pengucapan pada kata benar,keras,pedas,lemah,dan sebagainya. Dengan demikian,kata nani dieja menjadi: en.a na en.i ni dibaca nani C. Metode Suku Kata dan Metode Kata Pada metode ini,proses pembelajaran MMP diawali dengan pengenalan suku kata seperti ba,bi,bu,be,bo,ca,ci,cu,ce,co,dan seterusnya. Suku-suku kata tersebut kemudian dirangkaikan menjadi kata-kata bermakna. Misalnya: ba-bi cu-ci

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

ba-bu ci-ca bi-bi ca-ci Langkah-langkah pembelajaran MMP dengan metode suku kata adlah sebagai berikut: 1. Tahap pertama,pengenalan suku-suku kata; 2. Tahap kedua,perangkaian suku-suku kata menjadi kata; 3. Tahap ketiga,perangkaian kata menjadi kalimat sederhana; 4. Tahap keempat,pengintegrasian kegiatan perangkaian dan pengupasan; Karena proses pembelajaran MMP dengan metode ini melibatkan serangkaian proses pengupasan,dan perangkaian,maka metode ini dikenal juga sebagaiMetode Kupas Rangkai. Sebagian orang menyebutkan Metode Kata atau Metode Kata Lembaga. D. Metode Global (Metode Kalimat ) Proses pembelajaran MMP yang diperlihatkan melalui proses ini diawali dengan penyajian beberapa kalimat secara global. Agar membantu pengenalan kalimat yang dimaksud,biasanya menggunakan gambar. Di bawah gambar dimaksud, dituliskan sebuah kalimat yang kira-kira merujuk pada makna gambar tersebut. Selanjutnya, setelah anak diperknalkan dengan beberapa kalimat,barulah proses pembelajaran MMP dimulai. Melalui proses pengurai menjadi satuan-satuan yang lebih kecil,seperti kalimat menjadi satuan-satuan yang lebih kecil,seperti kata,suku kata,dan huruf,selanjutnya anak mengalami proses belajar MMP. Misalnya: ini mimi ini mimi i-ni mi-mi i-n-i m-i-m-i E. Metode SAS( Struktural Analitik Sintetik ) SAS merupakan salah satu jenis metode yang biasa digunakan untuk proses pembelajaran membaca dan menulis permulaan bagi siswa pemula. Pembelajaran MMP dengan metode ini mengawali pelajarannya dengan menampilkan dan mengenalkan sebuah kalimat utuh. Mulamula anak disuguhi sebuah struktur yang memberi makna lengkap,yakni struktur kalimat. Hal ini dimaksudkan untuk mambangun konsep-konsep kebermaknaan pada diri anak. Dan akan lebih baik jika struktur kalimat yang disajikan sebagai bahan pembelajaran MMP dengan metode ini adalah struktur kalimat yang digali dari pengalaman berbahasa si pembelajar itu sendiri. Prosespenguraian atau penganalisisan dalam pembelajaran MMP dengan metode SAS,meliputi: 1. Kalimat menjadi kata-kata 2. Kata-kata menjadi suku suku kata 3. Suku kata menjadi huruf-huruf Pada tahap selanjutnya anak diajak menyimpulkan satuan-satuan bahasa yang telah terurai tadi dikembalikan lagi kepada satuannya semula,yakni dari huruf-huruf menjadi suku kata,suku kata menjadi kata,kata-kata menjadi kalimat. Sehingga anak akan menemukan kembali wujud struktur semula,yakni menjadi sebuah kalimat utuh. Misal: ini mama Ini mama i-ni ma-ma inimama i-ni ma-ma ini mama ini mama Dalam bermacam-macam metode yang biasa digunakan MMP dapat kita simpulkan bahwa tidak ada metode yang terbaik dan metode terburuk. Metode terbaik adalah metode yang paling cocok dengan pembawa metode tersebut. 1.2.2. Merancang berbagai kegiatan menulis di kelas tinggi yang dapat meningkatkan kemampuan menulis dan berpikir siswa Teknik dan Model Pembelajaran Menulis Cerita Berdasarkan butir-butir pembelajaran menulis di kelas tinggi (kelas 3-6) SD terdapat ragam teknik pembelajaran menulis. Teknik pembelajaran menulis dikelompokkan menjadi dua, yakni: 1. Menulis cerita Teknik ini terdiri atas 6 macam, yaitu: a) Teknik menyusun kalimat. Teknik menyusun cerita dapat dilakukan dengan:

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

2.

menjawab pertanyaan, melengkapai kalimat, memperbaiki susunan kalimat, memperluas kaiimat, subtitusi, transfomtasi, dan membuat kaiimat. b) Teknik memperkenalkan cerita dapat dilakukan dengan: baca dan tulis, simak dan tulis; meniru model; menyusun paragaf; menceritakan kembali; membuat Menulis untuk keperluan sehari-hari, yang meliputi: a) menulis surat, b) menulis pengumuman, c) mengisi formulir, d) menulis surat undangan, e) membuat iklan, dan f) menyusun daftar riwayat hidup.

Model pembelajaran menulis cerita/cerpen di SD meliputi: menceritakan gambar, melanjutkan ceria lain, menceitakan mimpi, menceriakan pengalaman, dan menceritakan cita-cita. 1. Menceritakan gambar. Model ini dapat dilakukan mulai kelas 4 SD. Guru memperlihatkan beberapa gambar, selanjutnya, siswa diminta mengamati gambar tersebut dengan teliti. Kemudian, mereka diminta untuk menuliskannya ke dalam centa lengkap. 2. Melanjutkan centa. Model ini diawaii dengan kegiatan guru membacakan atau memperdengarkan cerita yang dipilih guru, kemudian para siswa diminta melanjutkan cerita guru tersebut. 3. Menceitakan mimpi. Model ini dilakukan dengan menugasi siswa untuk menceritakan mimpinya dengan menambah atau mengurangi isi dan mimpi mereka. 4. Menceritakan pengalaman. Model ini dilakukan dengan menugasi siswa untuk menceritakan pengalaman, baik pengalaman saat liburan, bermain,darmawisata, dan sebagainya. 5. Menceritakan cita-cita. Model ini dilakukan dengan cara menugasi siswa untuk menceritakan cita-citanya setelah dewasa nanti. Pembelajaran menulis di kelas tinggi diarahkan pada kegiatan menulis lanjutan. Dalam kegiatan menulis lanjutan siswa diharapkan dapat mengembang-kan kemampuan menulisnya dalam bentuk yang lebih beragam. Jenis tulisan yang bisa dikembangkan pada kegiatan menulis lanjutan ini adalah menulis pantun, puisi, surat, dan prosa 1.2.3. Memperjelas perencanaan dan pelaksanaan penilaian dan evaluasi dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Secara umum tahapan evaluasi pembelajaran terdiri atas 4 tahap, yaitu (1) tahap persiapan, (2) tahap pelaksanaan, (3) tahap pengolahan hasil, dan (4) tahap tindak lanjut. Berikut ini penjelasan singkat tentang keempat tahap evaluasi pembelajaran tersebut. (1) Tahap Persiapan Menurut Damaianti (2007: 8) tahap ini disebut juga tahap perencanaan dan perumusan kriterium. Langkahnya meliputi: (a) perumusan tujuan evaluasi; (b) penetapan aspek-aspek yang akan dievaluasi; (c) menetapkan metode dan bentuk evaluasi (tes/nontes); (d) merencanakan waktu evaluasi; (e) melakukan uji coba (untuk tes) agar dapat mengukur validitas dan reliabilitasnya. Menurut Damaianti (2007: 11) tes kesastraan sebaiknya diprioritaskan pada kemampuan apresiasi sastra yang meliputi hal-hal berikut ini. (1) Soal kesastraan tingkat informasi Soal bentuk ini dimaksudkan untuk mengungkapkan kemampuan siswa yang berkaitan dengan data-data suatu karya sastra, selanjutnya data-data tersebut digunakan untuk menafsirkan karya sastra. (2) Soal kesastraaan tingkat konsep

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

Soal bentuk ini berkaitan dengan persepsi tentang bagaimana data-data atau unsur-unsur yang ada pada karya sastra. Siswa dituntut untuk mampu mengungkapkan data yang ada pada karya sastra yang bersangkutan. (3) Soal kesastraan tingkat perspektif Soal bentuk ini berkaitan dengan persepsi tentang bagaimana pandangan siswa sebagai pembaca terhadap sebuah karya sastra. Dengan memberikan pandangan dan reaksi terhadap karya sastra, siswa dituntut untuk memahami karya sastra yang bersangkutan. Siswa dituntut juga untuk menghubungkan antara sesuatu yang ada di dalam karya sastra dengan sesuatu yang ada di luar karya sastra. (4) Soal kesastraaan tingkat apresiasi Soal bentuk ini berkaitan dengan usaha mengenali dan memahami bahasa sastra melalui ciri-cirinya lalu membandingkan keefektifannya dengan penuturan bahasa yang digunakan sehari-hari. Untuk dapat menjawab soal bentuk ini siswa dituntut untuk mengenali, menganalisis, menggeneralisasi, dan menilai bentuk-bentuk kebahasaan yang digunakan dalam karya sastra yang dianalisisnya 1.3. Menampilkan keterampilam berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis) 1.3.1. Merumuskan hakikat (pengertian, tujuan, jenis, dan manfaat) membaca, dan menulis a. Membaca A. Definisi Membaca Membaca merupakan proses berpikir atau bernalar (proses aktif dan bertujuan) yang dilakukan melalui proses mem persepsi dan memahami informasi serta memberikan makna terhadap bacaan yang dilakukan oleh pembaca. Beberapa ahli mencoba memberi definisi Membaca, antara lain: Farris (1993:304) mendefinisikan membaca sebagai pemrosesan kata-kata, konsep, informasi, dan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pengarang yang berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman awal pembaca. Dengan demikian, pemehaman diperoleh apabila pembaca mempunyai pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dengan apa yang terdapat di dalam bacaan. Syafii (1999:7) menyatakan bahwa membaca adalah suatu proses yang bersifat fisik atau yang disebut proses mekanis, berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual, sedangkan proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi. Dalam KBBI (2000:62) membaca didefinisikan sebagai melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis, yang dibaca secara lisan atau dalam hati. Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat dirangkum bahwa membaca merupakan proses pemahaman atau penikmatan terhadap teks bacaan dengan memanfaatkan kemampuan melihat (mata) yang dimiliki oleh pembaca, sesuai dengan tujuannya yang dilakukan secara nyaring atau dalam hati. B. Tujuan Membaca Perlu disepakati bahwa membaca harus mempunyai tujuan. Apabila membaca tidak bertujuan, maka proses dan kegiatan membaca yang dilakukan tidak memiliki arti sama sekali. Tujuan membaca dapat ditetapkan secara eksplisit ataupun implisit. Berdasarkan pengalaman yang dialami, ada beberapa tujuan membaca yang dapat dikemukakan, di antaranya untuk: Memahami aspek kebahasaan (kata, frasa, kalimat, paragraf, dan wacana) dalam teks Memahami pesan yang ada dalam teks Mencari informasi penting dari teks Mendapatkan petunjuk melakukan sesuatu pekerjaan atau tugas Menikmati bacaan, baik secara tekstual maupun kontekstual C. Metode Pengajaran Membaca Terdapat beberapa metode pengajaran membaca yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain: 1. Metode Reseptif Metode ini mengarah ke proses penerimaan isi bacaan maupun simakan baik tersurat maupun tersirat. Metode tersebut sangat cocok diterapkan kepada siswa yang dianggap

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

telah banyak menguasai kosakata, frase, maupun kalimat. Yang dipentingkan bagi siswa dalam suasana reseptif adalah bagaimana isi bacaan atau simakan diserap dengan bagus. 2. Metode Komunikatif Desain yang bermuatan komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikkan ke dalam tujuan konkret yang merupakan produk akhir. Sebuah produk di sini dimaksudkan sebagai sebuah informasi yang dapat dipahami, ditulis, diutarakan, atau disajikan ke dalam nonlinguistis 3. Metode Integratif Integratif berarti menyatukan beberapa aspek ke dalam satu proses. Artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Misalnya, mendengarkan diintegrasikan dengan berbicara dan menulis. Menulis diintegrasikan dengan berbicara dan membaca. 4. Metode Partisipatori Metode ini lebih menekankan keterlibatan siswa secara penuh. Siswa dianggap sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa didudukkan sebagai subjek belajar. Dengan berpartisipasi aktif, siswa dapat menemukan hasil belajar. Guru hanya bertindak sebagai pemandu atau fasilitator. Guru berperan sebagai pemandu yang penuh dengan motivasi, pandai berperan sebagai moderator yang kreatif Proses tersebut dilakukan dengan strategi tertentu melalui kegiatan visual untuk mencocokkan huruf atau melafalkan lambang bahasa tulis untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis. Dalam membaca, pembaca mengolah informasi secara kritis, kreatif y ang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyelur uh. Pada akhirnya pembaca dapat memberikan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan tersebut. D. Jenis Membaca Jenis membaca ada dua yaitu: (1) membaca nyaring, dan (2) membaca dalam hati. Membaca dalam hati ada dua jenis ya itu: (1) membaca ekstensif, dan (2) membaca intensif. Teknik membaca ada lima langkah yaitu: (1) survey, (2) question, (3) read, (4) recite (recall), dan (5) review. Faktor-faktor yang mempengaruhi membaca ada empat yaitu faktor: (1) kognitif, (2) afektif, (3) teks bacaan, dan (4) penguasaan bahasa E. Manfaat Membaca 1. Ketika sibuk membaca, seseorang terhalang masuk ke dalam kebodohan, 2. Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja, 3. Dengan sering membaca, seseorang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata, 4. Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir, 5. Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan mengingkatkan memori dalam pemahaman, 6. Dengan sering membaca seseorang dapat mengambil manfaat dari pengalaman orang lain, seperti mencontoh kearifan orang bijaksana dan kecerdasan para sarjana, 7. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengembangkan kemampuannya, baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya di dalam hidup, 8. Keyakinan seseorang akan bertambah ketika dia membaca buku-buku yang bermanfaat, terutama buku-buku yang ditulis oleh penuli-penulis muslim yang saleh. buku itu adalah penyampai ceramah terbaik dan ia memiliki pengaruh kuat untuk menuntun seseorang menuju kebaikan dan menjauhkannya dari kejahatan, 9. Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya gara tidak sia-sia, dengan sering membaca, seseorang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai model kalimat, 10. Lebih lanjut lagi, ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis di antara baris demi baris (memahami apa yang tersirat).

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

Pengertian membaca Membaca pada hakeketnya adalah proses ecoding oleh penerima pesan,yaitu poses memaknai bentuk-bentuk bahasa yang tertulis sehingga pesan yang disampaikan oleh pengirim dapat diterima oleh pengirim dapat diterima secara utuh Manfaat membaca,dengan membaca kita dapat mengetahui peristiwa-peristiwa waktu lampau atau waktu sekarang ditempat lain atau cerita yang menarik tentang kehidupan didunia. Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari dan memperoleh informasi,mencakup isi,memahami makna bacaan. Ragam Membaca 1. membaca intensif Membaca intensif adalah membaca dengan hati-hati dan teliti sekali dan biasanyapun cara membacanya sangat lambat-lambat.tujuanya adalah untuk memahami bahan bacaan itu sampai kepada bagian yang terkecil. 2. membaca kritist Kegiatan ini merupakan jenis kegiatan membaca yang dilakukan secara bijaksana,bukan hanya mencari kesalahan belaka. 3. membaca cepat Membaca cepaat mencakup dua jenis kegiatan yakni skimming dan scaning.skimming merupakan teknik untuk mencari hal-hal yang penting atau untuk mencari pokok bacaan.scanning merupakan teknik membaca untuk mendapatkan informasi tanpa membaca yang lain. 4. membaca untuk keperluan praktis Digunakan sebagai sarana untuk memahami setiap bacaan yang perlu untuk dibaca dengan praktis sesuai dengan kebutuhan masing-masing atau tujuan yang akan dicapai. 5. membaca untuk keperluan studi Membaca untuk studi ialah membaca untuk memahami isi buku secara keseluruhan,baik pikiran pokok maupun pikiran-pikiran penjelas pemahaman yang komperensif tentang isi buku tercapai. b. Menulis 1. Pengertian menulis Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang di pahami seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu. 2. Fungsi dan tujuan menulis Fungsi utama dari tulisan adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung.Penulis yang ulung adalah penulis yang dapat memanfaatkan situasi dengan tepat.Situasi yang harus di perhatikan dan dimanfaatkan itu adalah: a. maksud dan tujuan penulis b. pembaca atau pemirsa c. waktu dan kesempatan.

Hugo Harting merangkum tujuan penulisan sebagai berikut: a. Assignment purpose(tujuan penugasan) Penulis menulis sesuatu karena di tugaskan bukan atas kemauan sendiri. b. Altruistic purpose (tujuan altruistic) Penulis bertujuan untuk menyenangkan para pembaca,menghindarkan kedudukan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalaranya, ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu. c. Persuasive purpose(tujuan persuasif) Tulisan yang bertujuan meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan. d. Informational purpose(tujuan informasional,tujuan penerangan) Tulisan yang bertujuan memberi informasi atau keterangan /penerangan kepada pembaca. e. Selfexpressive purpose(tujuan pernyataan diri)\ Tulisan yang bertujuan memperkenalkan atau menyatakan diri sang pengarang kepada para pembaca. f. Creative purpose(tujuan kreatif) Tulisan yang mencapai nilai nilai artistic,nilai-nilai kesenian.

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

g.

Problem-Solving purpose Sang penelis memecahkan masalah yang dihadapi.

RAGAM / JENIS TULISAN 1. NARASI Adl jenis karangan yang menceritakan rangkaian peristiwa berdasarkan urutan waktu.Narasi terdiri dari narasi ekspositoris dan narasi artistik/literer. 2. DESKRIPSI Adl jenis karangan yang melukiskan atau menggambarkan suatu obyek sehingga pembaca ikut merasakan apa yang dituliskan si pengarang. 3. EKSPOSISI Adl jenis karangan yang bertujuan menambah pengetahuan pembaca dengan cara memaparkan informasi secara akurat. 4. ARGUMENTASI Adl jenis karangan yang bertujuan mempengaruhi pembaca dengan bukti yang jelas sehingga pembaca dapat percaya. 1.3.2. Menemukan isi atau pesan pokok wacana lisan monolog dan dialog dalam kehidupan seharihari, seperti berita, pidato

1.3.3. Menemukan isi atau pesan pokok dalam wacana naratif seperti cerita rakyat, puisi

1.3.4. Membandingkan berbagai jenis wacana bahasa Indonesia (deskripsi dan narasi) Menulis Deskripsi Deskripsi adalah pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata atas suatu benda, tempat, suasana atau keadaan. Seorang penulis deskripsi melalui tulisannya mengharapkan pembaca dapat melihat, mendengar, mencium bau, mencicipi dan merasakan hal yang sama dengan penulis. Deskripsi pada dasarnya merupakan hasil dari pengamatan melalui panca indera yang disampaikan dengan kata-kata. Jauh di sana di tepi sungai,tampak seorang perempuan yang masih muda berjalan hilir mudik, kadang-kadang menengok ke laut, rupanya mencari atau menantikan apa-apa yang boleh timbul dari dalam laut yang amat tenang laksana aiar di dalam dulang pada ketika itu, atau darti pihak manapun. Pada air mukanya yang telah pucat dan dan tubuhnya yang sudah kurus itu, dapatlah diketahui, bahwa perempuan itu memikul suatu percintaan yang amat berat. Meskipun mukanya telah kurus, tetapi cahaya kecantikan perempuan itu tiada juga hilang. (dikutip dari Bintang Minahasa karya Hersevien M.Taulu,2001:65) Menulis Narasi Narasi pada dasarnya adalah karangan atau tulisan yang berbentuk cerita. Seperti kalau orang bercerita tentang mengisi liburan sekolah, mendaftarkan diri ke sekolah, pengalaman berkemah di hutan, kecelakaan lalu lintas di jalan raya, atau pertandingan olahraga. Cerita itu tentunya didasarkan pada urut-urutan suatu kejadian atau peristiwa. Di dalam peristiwa itu ada tokoh, mungkin tokoh itu adalah penulis sendiri, teman penulis, atau orang lain, dan tokoh itu mengalami masalah atau konflik. Bisa saja dalam cerita itu menghadirkan satu konflik atau serangkaian konflik yang dihadapi oleh tokoh dalam ceritamu itu. Jadi, dalam sebuah narasi terdapat tiga unsur pokok, yaitu: peristiwa, tokoh, dan konflik. Ketiga unsur itu diramu menjadi satu dalam sebuah jalinan yang disebut alur atau plot. Dengan demikian, narasi adalah cerita berdasarkan alur. Sering juga narasi diartikan sebagai cerita yang didasarkan pada kronologi waktu. Contoh: Pertandingan antara Angelique Widjaja melawan Tamarine Tanasugarn berlangsung sangat mendebarkan. Pada set pertama, Tamarine unggul atas Angie dengan skor 6-2. Namun, Angie membalas kekalahannya di set pertama dengan merebut set kedua. Angie memenangi set kedua itu dengan skor tipis 7-5. Memasuki set ketiga, Tamarine tampaknya mulai kehabisan tenaga. Sebaliknya Angie semakin percaya diri apalagi ia mendapat dukungan luarbiasa dari para penonton. 1.3.5. Menyusun berbagai bentuk/jenis tulisan surat Bentuk tulisan surat yang lazim dipergunakan ada 5 yaitu: 1. Bentul lurus penuh ( full block style) 2. Bentuk lurus ( block style)

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

3. Bentuk setengah lurus (semi block style) 4. Bentuk lekuk (indented style) 5. Bentuk paragraf mengantung (hanging paragraph) Jenis-jenis surat Surat pribadi, yaitu surat yang dikirim oleh seseorang kepada orang lain atau suatu organisasi/instansi. Surat yang dibuat oleh seseorang yang isinya kepentingan pribadi. ( surat keluarga dan surat lamaran pekerjaan) Surat Resmi, Suarat yang disampaikan oleh lembaga/instansi kepada seseorang ataupun instansi/lembaga lain. (Surat dinas pemerintah, surat niaga & Surat sosial) 1.4. Mengkreasikan apresiasi sastra Indonesia yang mendukung pembelajaran bahasa Indonesia 1.4.1. Menganalisis unsur intrinksik dan ekstrinsik, struktur, dan ciri-ciri karya sastra prosa, puisi Unsur-unsur dalam Karya Sastra Ada dua unsur utama dalam karya sastra, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur instrinsik berupa segala sesuatu yang menginspirasi penulisan karya sastra dan mempengaruhi karya sastra secara keseluruhan. Unsur ekstrinsik ini meliputi: latar belakang kehidupan penulis, keyakinan dan pandangan hidup penulis, adat istiadat yang berlaku pada saat itu, situasi politik (persoalan sejarah), ekonomi, dsb. Sementara unsur intrinsik terdiri atas: Tema Pokok persoalan dalam cerita. Karakter Tokoh dalam cerita. Karakter dapat berupa manusia, tumbuhan maupun benda Karekter dapat dibagi menjadi: Karakter utama: tokoh yang membawakan tema dan memegang banyak peranan dalam cerita Karakter pembantu: tokoh yang mendampingi karakter utama Protagonis: karakter/tokoh yang mengangkat tema Antagonis: karakter/tokoh yang memberi konflik pada tema dan biasanya berlawanan dengan karakter protagonis. (Ingat, tokoh antagonis belum tentu jahat) Karakter statis (Flat/static character): karakter yang tidak mengalami perubahan kepribadian atau cara pandang dari awal sampai akhir cerita. Karakter dinamis (Round/ dynamic character): karakter yang mengalami perubahan kepribadian dan cara pandang. Karakter ini biasanya dibuat semirip mungkin dengan manusia sesungguhnya, terdiri atas sifat dan kepribadian yang kompleks.

Catatan: karakter pembantu biasanya adalah karakter statis karena tidak digambarkan secara detail oleh penulis sehingga perubahan kepribadian dan cara pandangnya tidak pernah terlihat secara jelas. Karakterisasi Cara penulis menggambarkan karakter. Ada banyak cara untuk menggali penggambaran karakter, secara garis besar karakterisasi ditinjau melalui dua cara yaitu secara naratif dan dramatik. Teknik naratif berarti karakterisasi dari tokoh dituliskan langsung oleh penulis atau narator. Teknik dramatik dipakai ketika karakterisasi tokoh terlihat dari antara lain: penampilan fisik karakter, cara berpakaian, kata-kata yang diucapkannya, dialognya dengan karakter lain, pendapat karakter lain, dsb. Konflik Konflik adalah pergumulan yang dialami oleh karakter dalam cerita dan. Konflik ini merupakan inti dari sebuah karya sastra yang pada akhirnya membentuk plot. Ada empat macam konflik, yang dibagi dalam dua garis besar: Konflik internal Individu-diri sendiri: Konflik ini tidak melibatkan orang lain, konflik ini ditandai dengan gejolak yang timbul dalam diri sendiri mengenai beberapa hal seperti nilai-nilai. Kekuatan karakter akan terlihat dalam usahanya menghadapi gejolak tersebut Konflik eksternal Individu Individu: konflik yang dialami seseorang dengan orang lain

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

Individu alam: Konflik yang dialami individu dengan alam. Konflik ini menggambarkan perjuangan individu dalam usahanya untuk mempertahankan diri dalam kebesaran alam. Individu- Lingkungan/ masyarakat: Konflik yang dialami individu dengan masyarakat atau lingkungan hidupnya. Seting Keterangan tempat, waktu dan suasana cerita Plot Jalan cerita dari awal sampai selesai Eksposisi: penjelasan awal mengenai karakter dan latar( bagian cerita yang mulai memunculkan konflik/ permasalahan) Klimaks: puncak konflik/ ketegangan Falling action: penyelesaian Simbol Simbol digunakan untuk mewakili sesuatu yang abstrak. Contoh: burung gagak (kematian) Sudut pandang Sudut pandang yang dipilih penulis untuk menyampaikan ceritanya. Orang pertama: penulis berlaku sebagai karakter utama cerita, ini ditandai dengan penggunaan kata aku. Penggunaan teknik ini menyebabkan pembaca tidak mengetahui segala hal yang tidak diungkapkan oleh sang narator. Keuntungan dari teknik ini adalah pembaca merasa menjadi bagian dari cerita. Orang kedua: teknik yang banyak menggunakan kata kamu atau Anda. Teknik ini jarang dipakai karena memaksa pembaca untuk mampu berperan serta dalam cerita. Orang ketiga: cerita dikisahkan menggunakan kata ganti orang ketiga, seperti: mereka dan dia. Teknik penggunaan bahasa Dalam menuangkan idenya, penulis biasa memilih kata-kata yang dipakainya sedemikian rupa sehingga segala pesannya sampai kepada pembaca. Selain itu, teknik penggunaan bahasa yang baik juga membuat tulisan menjadi indah dan mudah dikenang. Teknik berbahasa ini misalnya penggunaan majas, idiom dan peribahasa. Ciri-ciri karya sastra KESUSASTRAAN; berasal dari bahasa sansekerta yaitu susastra yang berarti indah. Jenis karya sastra dapat dibagi menjadi tiga; puisi, prosa dan drama. PUISI: Salah satu jenis karya sastra yang memiliki unsur sajak, bait, baris dan tipografi. Ciri-ciri puisi: Terdiri dari beberapa bait 1. Memiliki pencitraan 2. Memiliki sajak/rima 3. Memiliki tipografi 4. Memakai konotasi 5. Bahasa lebih padat PROSA: Salah satu jenis karya sastra yang berupa karangan yang mencritakan tentang kehidupan manusia dan tidak terikat oleh unsur-unsur dalam puisi. Ciri-ciri prosa: 1. Berbentuk bebas dalam susunan paragraf 2. Tidak terikat pada bentuk puisi 3. Memiliki unsur intrinsik DRAMA: Salah satu jenis karya sastra yang dimainkan sekelompok orang kemudian dipentaskan di atas panggung. Ciri-ciri drama: 1. Terdapat pemeran tokoh cerita 2. Dialog lebih dominan dan ditampilkan dalam bentuk lisan 3. Dopentaskan berupa gerak, mimik dan suara 4. Terdapat babak dan adegan 5. Terdapat gambaran panggung 6. Memiliki properti 1.4.2. Menyusun langkah-langkah membuat parafrase puisi ke prosa

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

Adalah mengubah puisi dalam bentuk prosa/memprosakan puisi/mengartikan (menceritakan) dalam prosa Ada dua metode parafrase puisi, yaitu a. Parafrase terikat, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan cara menambahkan sejumlah kata pada puisi sehingga kalimat-kalimat puisi mudah dipahami. Seluruh kata dalam puisi masih tetap digunakan dalam parafrase tersebut. b. Parafrase bebas, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan kata-kata sendiri. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat digunakan, dapat pula tidak digunakan. Setelah kita membaca puisi tersebut kita menafsirkan secara keseluruhan, kemudian menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri. Dalam puisi tidak hanya tiap larik puisi yang mempunyai pertalian makna, melainkan juga antar bait dengan bait. Dengan begitu larik dan bait sebuah puisi akhirnya membentuk atu keatuan makna yang utuh. Makna puisi: multiinterpretatif. Langkah-langkah parafrase: - Bacalah berulang-ulang - Artikan kata kiasan/kata sulit/simblolisasi jika ada - Tambahkan kata atau frase tertentu yang sengaja dihilangkan penulisnya (jika perlu) - Tambahkan tanda baca - Susun dala bentuk kalimat-kalimat yang membentuk paragraf 1.4.3. Menilai prosa PROSA Adalah karya sastra yang ditulis dalam bentuk paragraf/bab/bagian yang memiliki koherensi/kesatuan pikiran Unsur Instrinsik Prosa - Tema: gagasan/ide/dasar cerita - Alur: tahapan cerita yang bersambungan. meliputi Pemaparan, pertikaian, penggawatan, klimaks, peleraian. dilihat dari cara menyusun: alur maju/lurus, alur mundur, alur sorot balik, alur gabungan. Dilihat dari padu tidaknya cerita alur dibagi dalam alur rapat dan alur longgar. 1.4.4. Mengapresiasi drama Tingkat apresiasi dalam pengertian ini dilihat dari daya tanggap, pemahaman, pengkhayalan, dan ketrampilan. Dengan demikian menyangkut pula pengertian tingkat kesiapan dalam menanggapi, memahami, menghayati, dan keterampilan dalam tingkat apresiasi sastra. Menurut Mio (1991:19) tingkat-tingkat apresiasi sastra drama, khususnya pembacaan drama dan prosa dapat dibagi atas empat, yaitu: 1. Pembaca yang telah dapat merasakan karya sastra itu sesuatu yang hidup, dengan pelaku-pelakunya yang mengagumkan. Mereka telah dapat terbawa dalam cerita atau drama yang sedang dibacanya, yang sering diiringi oleh ketawa, menangis, membenci seorang pelaku, dan sebagainya. 2. Pembaca yang telah dapat melihat dalamnya perasaan atau jika mereka telah dapat mengungkapkan rahasia kepribadian para pelaku satu drama berarti selangkah lebih maju dari pembaca di atas, Pada tingkat ini pembaca drama tidak saja menikmati kejadiankejadian dalam drama secara badaniah, tetapi lebih banyak pada apa yang terjadi dalam pikiran pelaku. 3. Pembaca drama yang telah dapat membandingkan satu drama dengan yang lain dan dapat memberikan pendapatnya mengenai satu karya, juga telah dapat membaca karya yang lebih sukar dengan kenikmatan. 4. Pembaca yang telah dapat melihat keindahan susunan dialog, setting simbolis, pemakaian kata-kata yang berirana yang disajikan oleh sastrawan, telah mampu memberi respons pada daya sastra yang merangsang mereka berpikir dan memberi respons pada seni yang disajikan sastrawan. Tingkatan Apresiasi Sastra Adapun tingkatan apresiasi sastra, Wardani (1981) membagi tingkatan apresiasi sastra ke dalam empat tingkatan sebagai berikut. (1) Tingkat menggemari, yang ditandai oleh adanya rasa tertarik kepada bukubuku sastra serta keinginan membacanya dengan sungguh-sungguh, anak melakukan kegiatan kliping sastra secara rapi, atau membuat koleksi pustaka mini tentang karya sastra dari berbagai bentuk.

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

(2) Tingkat menikmati, yaitu mulai dapat menikmati cipta sastra karena mulai tumbuh pengertian, anak dapat merasakan nilai estetis saat membaca puisi anak-anak, atau mendengarakan deklamasi puisi/prosa anak-anak, atau menonton drama anak-anak. (3) Tingkat mereaksi yaitu mulai ada keinginan utuk menyatakan pendapat tentang cipta sastra yang dinikmati misalnya menulis sebuah resensi, atau berdebat dalam suatu diskusi sastra secara sederhana. Dalam tingkat ini juga termasuk keinginan untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sastra. (4)Tingkat produktif, yaitu mulai ikut menghasilkan ciptasastra di berbagai media masa seperti koran, majalah atau majalah dinding sekolah yang tersedia, baik dalam bentuk puisi, prosa atau drama. Hasyim (1981) mengemukakan bahwa cerita yang diberikan kepada anak sebagai bahan belajar di Sekolah Dasar hendaknya memiliki ciri sebagai berikut. (a) Bahasa yang digunakan haruslah sesuai dengan tingkat perkembangan bahasa anak. (b) Isi ceritanya haruslah sesuai dengan tingkat umur dan perhatian anak. Pada tahap pertama (kelas 1-3 SD), bacaan untuk anak laki-laki dan wanita dapat disamakan. Untuk selanjutnya ( kelas 4-6 SD) secara berangsurangsur akan kelihatan bahwa anak laki-laki lebih menyenangi cerita petualangan, olahraga, dan teknik, sedangkan anak wanita lebih menyenangi cerita yang bersifat kekeluargaan dan sosial. (c) Hendaknya jangan diberikan cerita yang bersendikan politik tetapi mengutamakan pendidikan moral dan pembentukan watak. Apa yang dikemukakan oleh Hasyim sejalan dengan Pramuki (2000) bahwa hendaknya cerita yang diberikan kepada anak adalah cerita yang sesua dengan tingkat perkembangan usia anakanak, yakni: usia 6-9 tahun lebih menyenangi cerita yang bertema kehidupan sehari-hari sampai termasuk dongeng hewan dan cerita lucu, usia 9-12 tahun menyukai cerita yang bertema tentang kehidupan keluarga yang dilukiskan secara realistis, cerita fantastis, dan cerita petualangan. 2. Memiliki kompetensi pedagogik pembelajaran PKn 2.1. Penilaian proses belajar PKn. 2.1.1. Merumuskan proses belajar PKn tentang konsep kejujuran

2.1.2. Membuat tes proses pembelajaran tentang sikap nasionalisme

2.2. Menilai berbagai norma dalam kehidupan 2.2.1. Membuat contoh sangsi pelanggaran norma yang berlaku di sekolah

2.3. Merumuskan prinsip-prinsip demokrasi dan praktik demokrasi di Indonesia. 2.3.1. Menelaah prinsip-prinsip demokrasi Inu Kencana Syafiie merinci prinsip-prinsip demokrasi sebagai berikut, yaitu ; adanya pembagian kekuasaan, pemilihan umum yang bebas, manajemen yang terbuka, kebebasan individu, peradilan yang bebas, pengakuan hak minoritas, pemerintahan yang berdasarkan hukum, pers yang bebas, beberapa partai politik, konsensus, persetujuan, pemerintahan yang konstitusional, ketentuan tentang pendemokrasian, pengawasan terhadap administrasi negara, perlindungan hak asasi, pemerintah yang mayoritas, persaingan keahlian, adanya mekanisme politik, kebebasan kebijaksanaan negara, dan adanya pemerintah yang mengutamakan musyawarah. Prinsip-prinsip negara demokrasi yang telah disebutkan di atas kemudian dituangkan ke dalam konsep yang lebih praktis sehingga dapat diukur dan dicirikan. Ciri-ciri ini yang kemudian dijadikan parameter untuk mengukur tingkat pelaksanaan demokrasi yang berjalan di suatu negara. Parameter tersebut meliputi empat aspek, yaitu: Pertama, masalah pembentukan negara. Proses pembentukan kekuasaan akan sangat menentukan bagaimana kualitas, watak, dan pola hubungan yang akan terbangun. Pemilihan umum dipercaya sebagai salah satu instrumen penting yang dapat mendukung proses pembentukan pemerintahan yang baik. Kedua, dasar kekuasaan negara. Masalah ini menyangkut konsep legitimasi kekuasaan serta pertanggungjawabannya langsung kepada rakyat. Ketiga, susunan kekuasaan negara. Kekuasaan negara hendaknya dijalankan secara distributif. Hal ini dilakukan untuk menghindari pemusatan kekuasaan dalam satu tangan. Keempat, masalah kontrol rakyat. Kontrol masyarakat dilakukan agar kebijakan yang diambil oleh pemerintah atau negara sesuai dengan keinginan rakyat.

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

Beberapa karakteristik yang harus ditampilkan dari warga negara yang berkarakter dan berjiwa demokratis, yaitu ;Memilki sikap rasa hormat dan tanggung jawab, bersikap kritis, membuka diskusi dan dialog, bersikap terbuka, bersikap rasional, adil, dan selalu bersikap jujur. Warga negara yang otonom harus melakukan tiga hal untuk mewujudkan demokrasi konstitusional, yaitu menciptakan kultur taat hukum yang sehat dan aktif (culture of law), ikut mendorong proses pembuatan hukum yang aspiratif (process of law making), mendukung pembuatan materi-materi hukum yang responsif (content of law), ikut menciptakan aparat penegak hukum yang jujur dan bertanggung jawab (structure of law). PRINSIP-PRINSIP DEMOKRASI PANCASILA 1. Prinsip-prinsip Demokrasi Pancasila Ahmad Sanusi mengutarakan 10 pilar demokrasi konstitusional Indonesia menurut Pancasila dan Undang-indang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, yang sebagai berikut: a. Demokrasi yang Berketuhanan Yang maha Esa b. Demokrasi dengan kecerdasan c. Demokrasi yang berkedaulatan rakyat d. Demokrasi dengan rule of law e. Demokrasi dengan pemisahan kekuasaan Negara f. Demokrasi dengan hak asasi manusia g. Demokrasi dengan pengadilan yang merdeka h. Demokrasi dengan otonomi daerah i. Demokrasi dengan kemakmuran j. Demokrasi yang berkeadilan social Demokrasi Pancasila mendasarkan diri pada faham kekeluargaan dan Kegotong-royongan yang ditujukan untuk: a. Kesejahteraan rakyat b. Mendukung unsur-unsur kesadaran hak ber-ketuhanan Yang Maha Esa c. Menolak atheisme d. Menegakkan kebenaran yang berdasarkan kepada budi pekerti yang luhur e. Mengembangkan kepribadian Indonesia f. Menciptakan keseimbangan perikehidupan individu dan masyarakat, kasmani dan rohani, lahir dan bathin, hubungan manusia dengan sesamanya dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Pelaksanaan demokrasi di Indonesia Demokrasi merupakan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat,dan untuk rakyat. Dalam perjalanan sejarah ketatanegaraan Negara kita, semua konstitusi yang pernah berlaku menganut prinsip demokrasi. Hal ini dapat dilihat misalnya: a. Dalam UUD 1945 (sebelum diamandemen) pasal 1 ayat (2) berbunyi: Kedaulatan adalah di tangan rakyat, dan dilakukan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. b. Dalam UUD 1945 (setelah diamandemen) pasal 1 ayat (2) berbunyi: Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut undang-undang dasar. c. Dalam konstitusi Republik Indonesia Serikat, Pasal 1: 1)Ayat (1) berbunyi: Republik Indonesia Serikat yang merdeka dan berdaulat ialah suatu Negara hokum yang demokrasi dan berbentuk federasi. 2)Ayat (2) berbunyi: Kekuasaan kedaulatan Republik Indonesia Serikat dilakukan oleh pemerintah bersama-sama Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat. d. Dalam UUDS 1950 pasal 1: 1) Ayat (1) berbunyi: Republik Indonesia Serikat yang merdeka dan berdaulat ialah suatu Negara hokum yang demokratis dan berbentuk kesatuan. 2)Ayat (2) berbunyi: Kedaulatan Republik Indonesia adalah di tangan rakyat dan dilakukan oleh pemerintah bersama-sama dengan Dewan Perwakilan rakyat.

2.

2.3.2. Mengkategorikan Peraturan perundang- undangan di tingkat pusat dan daerah Pancasila adalah sumber hukum nasional. Penyusunan peraturan perundang-undangan harus bersumber pada sumber hukum. Dalam penyusunan peraturan perundang-undangan ada tata urutannya, yaitu mulai pusat sampai daerah. 1. Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945)

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 adalah bentuk peraturanperundangan yang tertinggi. Dengan demikian, semua peraturan perundangan di bawahnya tidak boleh bertentangan dengan UUD 1945. UUD 1945 ditetapkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 18 Agustus 1945. UUD 1945 ini merupakan Konstitusi pertama yang terdiri atas pembukaan, batang tubuh, dan penjelasan resmi. Undang-Undang Dasar 1945 telah mengalami empat kali perubahan atau amandemen yang dilakukan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Pertama pada tanggal 19 Agustus 1999. Kedua, pada tanggal 18 Agustus 2000. Ketiga, 10 November 2001. Keempat, tanggal 10 Agustus 2002. 2. Undang-Undang (UU)/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Rencana penyusunan Undang-Undang dilakukan dalam suatu Program Legislasi Nasional antara Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersama dengan pemerintah. Undang-Undang ini sebagai pelaksanaan dari UUD 1945. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) dibuat oleh pemerintah dalam hal ini presiden jika ada kegentingan yang memaksa. Untuk mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang, presiden harus mendapat persetujuan dari DPR. Jika tidak mendapat persetujuan dari DPR, maka peraturan itu harus dicabut. 3. Peraturan Pemerintah (PP) Peraturan Pemerintah (PP) adalah peraturan yang dibuat oleh pemerintah, dalam hal ini presiden. Peraturan Pemerintah (PP) memuat aturan-aturan umum dalam melaksanakan undang-undang. 4. Peraturan Presiden (Perpres) Peraturan Presiden dibuat oleh presiden untuk mengatur masalah-masalah tertentu. Peraturan Presiden (Perpres) berisi materi yang bersifat khusus untuk melaksanakan ketentuan undangundang atau untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah. 5. Peraturan Daerah (Perda) Peraturan Daerah merupakan peraturan yang disusun dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah. Peraturan daerah ditetapkan oleh kepala daerah setelah mendapat persetujuan bersama DPRD. Peraturan Daerah merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah. Peraturan Daerah meliputi: a. Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi bersama dengan gubernur; b. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota c. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat, dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. 2.4. Mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. 2.4.1. Mengemukakan sejarah terbentuknya Pancasila sebagai pandangan hidup dan sejarah Pancasila sebagai dasar negara Penjajahan Belanda berakhir pada tahun 1942, tepatnya tanggal 8 Maret. Sejak saat itu Indonesia diduduki oleh bala tentara Jepang. Namun Jepang tidak terlalu lama menduduki Indonesia. Mulai tahun 1944, tentara Jepang mulai kalah dalam melawan tentara Sekutu. Untuk menarik simpati bangsa Indonesia agar bersedia membantu Jepang dalam melawan tentara Sekutu, Jepang memberikan janji kemerdekaan di kelak kemudian hari. Janji ini diucapkan oleh Perdana Menteri Kaiso pada tanggal 7 September 1944. Oleh karena terus menerus terdesak, maka pada tanggal 29 April 1945 Jepang memberikan janji kemerdekaan yang kedua kepada bangsa Indonesia, yaitu janji kemerdekaan tanpa syarat yang dituangkan dalam Maklumat Gunseikan (Pembesar Tertinggi Sipil dari Pemerintah Militer Jepang di Jawa dan Madura) Dalam maklumat itu sekaligus dimuat dasar pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Tugas badan ini adalah menyelidiki dan mengumpulkan usul-usul untuk selanjutnya dikemukakan kepada pemerintah Jepang untuk dapat dipertimbangkan bagi kemerdekaan Indonesia. Keanggotaan badan ini dilantik pada tanggal 28 Mei 1945, dan mengadakan sidang pertama pada tanggal 29 Mei 1945 1 Juni 1945. Dalam sidang pertama ini yang dibicarakan khusus mengenai calon dasar negara untuk Indonesia merdeka nanti. Pada sidang pertama itu, banyak anggota yang berbicara, dua di antaranya adalah Muhammad Yamin dan Bung Karno,

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

yang masing-masing mengusulkan calon dasar negara untuk Indonesia merdeka. Muhammad Yamin mengajukan usul mengenai dasar negara secara lisan yang terdiri atas lima hal, yaitu: 1. Peri Kebangsaan 2. Peri Kemanusiaan 3. Peri Ketuhanan 4. Peri Kerakyatan 5. Kesejahteraan Rakyat Selain itu Muhammad Yamin juga mengajukan usul secara tertulis yang juga terdiri atas lima hal, yaitu: 1. Ketuhanan Yang Maha Esa 2. Persatuan Indonesia 3. Rasa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab 4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ Perwakilan 5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia Usulan ini diajukan pada tanggal 29 Mei 1945, kemudian pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mengajukan usul mengenai calon dasar negara yang terdiri atas lima hal, yaitu: 1. Nasionalisme (Kebangsaan Indonesia) 2. Internasionalisme (Perikemanusiaan) 3. Mufakat atau Demokrasi 4. Kesejahteraan Sosial 5. Ketuhanan yang Berkebudayaan Kelima hal ini oleh Bung Karno diberi nama Pancasila. Lebih lanjut Bung Karno mengemukakan bahwa kelima sila tersebut dapat diperas menjadi Trisila, yaitu: 1. Sosio nasionalisme 2. Sosio demokrasi 3. Ketuhanan Berikutnya tiga hal ini menurutnya juga dapat diperas menjadi Ekasila yaitu Gotong Royong. Selesai sidang pertama, pada tanggal 1 Juni 1945 para anggota BPUPKI sepakat untuk membentuk sebuah panitia kecil yang tugasnya adalah menampung usul-usul yang masuk dan memeriksanya serta melaporkan kepada sidang pleno BPUPKI. Tiap-tiap anggota diberi kesempatan mengajukan usul secara tertulis paling lambat sampai dengan tanggal 20 Juni 1945. Adapun anggota panitia kecil ini terdiri atas delapan orang, yaitu: 1. Ir. Soekarno 2. Ki Bagus Hadikusumo 3. K.H. Wachid Hasjim 4. Mr. Muh. Yamin 5. M. Sutardjo Kartohadikusumo 6. Mr. A.A. Maramis 7. R. Otto Iskandar Dinata 8. Drs. Muh. Hatta Pada tanggal 22 Juni 1945 diadakan rapat gabungan antara Panitia Kecil, dengan para anggota BPUPKI yang berdomisili di Jakarta. Hasil yang dicapai antara lain disetujuinya dibentuknya sebuah Panitia Kecil Penyelidik Usul-Usul/Perumus Dasar Negara, yang terdiri atas sembilan orang, yaitu: 1. Ir. Soekarno 2. Drs. Muh. Hatta 3. Mr. A.A. Maramis 4. K.H. Wachid Hasyim 5. Abdul Kahar Muzakkir 6. Abikusno Tjokrosujoso 7. H. Agus Salim 8. Mr. Ahmad Subardjo 9. Mr. Muh. Yamin Panitia Kecil yang beranggotakan sembilan orang ini pada tanggal itu juga melanjutkan sidang dan berhasil merumuskan calon Mukadimah Hukum Dasar, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Piagam Jakarta. Dalam sidang BPUPKI kedua, tanggal 10-16 juli 1945, hasil yang dicapai adalah merumuskan rancangan Hukum Dasar. Sejarah berjalan terus. Pada tanggal 9 Agustus dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

tanpa syarat kepada Sekutu, dan sejak saat itu Indonesia kosong dari kekuasaan. Keadaan tersebut dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pemimpin bangsa Indonesia, yaitu dengan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945. Sehari setelah proklamasi kemerdekaan PPKI mengadakan sidang, dengan acara utama (1) mengesahkan rancangan Hukum Dasar dengan preambulnya (Pembukaannya) dan (2) memilih Presiden dan Wakil Presiden. Untuk pengesahan Preambul, terjadi proses yang cukup panjang. Sebelum mengesahkan Preambul, Bung Hatta terlebih dahulu mengemukakan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 sore hari, sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan, ada utusan dari Indonesia bagian Timur yang menemuinya. Intinya, rakyat Indonesia bagian Timur mengusulkan agar pada alinea keempat preambul, di belakang kata ketuhanan yang berbunyi dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya dihapus. Jika tidak maka rakyat Indonesia bagian Timur lebih baik memisahkan diri dari negara RI yang baru saja diproklamasikan. Usul ini oleh Muh. Hatta disampaikan kepada sidang pleno PPKI, khususnya kepada para anggota tokoh-tokoh Islam, antara lain kepada Ki Bagus Hadikusumo, KH. Wakhid Hasyim dan Teuku Muh. Hasan. Muh. Hatta berusaha meyakinkan tokoh-tokoh Islam, demi persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena pendekatan yang terus-menerus dan demi persatuan dan kesatuan, mengingat Indonesia baru saja merdeka, akhirnya tokoh-tokoh Islam itu merelakan dicoretnya dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya di belakang kata Ketuhanan dan diganti dengan Yang Maha Esa. 2.4.2. Menyimpulkan nilai-nilai Pancasila,sebagai idiologi negara Makna Sila-Sila Pancasila 3. Arti dan Makna Sila Ketuhanan Yang Maha Esa Manusia sebagai makhluk yang ada di dunia ini seperti halnya makhluk lain diciptakan oleh penciptanya. Pencipta itu adalah kausa prima yang mempunyai hubungan dengan yang diciptakannya. Manusia sebagai makhluk yang dicipta wajib melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. 4. Arti dan Makna Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Manusia ditempatkan sesuai dengan harkatnya. Hal ini berarti bahwa manusia mempunyai derajat yang sama di hadapan hukum. Sejalan dengan sifat universal bahwa kemanusiaan itu dimiliki oleh semua bangsa, maka hal itupun juga kita terapkan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Sesuai dengan hal itu, hak kebebasan dan kemerdekaan dijunjung tinggi. 5. Arti dan Makna Sila Persatuan Indonesia Makna persatuan hakekatnya adalah satu, yang artinya bulat, tidak terpecah. Jika persatuan Indonesia dikaitkan dengan pengertian modern sekarang ini, maka disebut nasionalisme. Oleh karena rasa satu yang sedemikian kuatnya, maka timbulah rasa cinta bangsa dan tanah air. 6. Arti dan Makna Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan Perbedaan secara umum demokrasi di barat dan di Indonesia yaitu terletak pada permusyawarata. Permusyawaratan diusahakan agar dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang diambil secara bulat. Kebijaksaan ini merupakan suatu prinsip bahwa yang diputuskan itu memang bermanfaat bagi kepentingan rakyat banyak. 7. Arti dan Makna Sila Keadila Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Keadilan berarti adanya persamaan dan saling menghargai karya orang lain. Jadi seseorang bertindak adil apabila dia memberikan sesuatu kepada orang lain sesuai dengan haknya. Kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat dalam arti dinamis dan meningkat. 8. Pentingnya Paradigma dalam Pembangunan Pembangunan yang sedang digalakkan memerlukan paradigma, suatu kerangka berpikir atau suatu model mengenai bagaimana hal-hal yang sangat esensial dilakukan. Pembangunan dalam perspektif Pancasila adalah pembangunan yang sarat muatan nilai yang berfungsi menajdi dasar pengembangan visi dan menjadi referensi kritik terhadap pelaksanaan pembangunan. 9. Pancasila sebagai Orientasi dan Kerangka Acuan a. Pancasila sebagai Orientasi Pembangunan Pada saat ini Pancasila lebih banyak dihadapkan pada tantangan berbagai varian kapitalisme daripada komunisme atau sosialisme. Ini disebabkan perkembangan kapitalisme yang bersifat global. Fungsi Pancasila ialah memberi orientasi untuk terbentuknya struktur kehidupan social-politik dan ekonomi yang manusiawi, demokratis dan adil bagi seluruh rakyat. b. Pancasila sebagai Kerangka Acuan Pembangunan Pancasila diharapkan dapat menjadi matriks atau kerangka referensi untuk membangun suatu model masyarakat atau untuk memperbaharui tatanan social budaya. 2.5. Merumuskan nilai-nilai nasionalisme. 2.5.1. Menganalisis pentingnya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

2.5.2. Menelaah bentuk-bentuk manifestasi nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari

2.6. Membagankan sistem pemerintahan kabupaten, kota, provinsi, dan pusat. 2.6.1. Menelaah setiap lembaga-lembaga pemerintahan di tingkat desa, kabupaten/kota, provinsi, dan pusat Lembaga Legislatif Lembaga legislatif adalah lembaga negara yang memegang kekuasaan membentuk undang-undang. Lembaga ini terdiri atas DPR, MPR, dan DPD. a. DPR DPR singkatan dari Dewan Perwakilan Rakyat. Anggota DPR dipilih dari partai politik yang berkompetisi dalam pemilihan umum legislatif. Lembaga ini setidaknya mempunyai 3 (tiga) fungsi: 1) Mengadakan dan mengesahkan undang-undang negara (fungsi legislasi). 2) Mengesahkan anggaran belanja dan pendapatan negara (fungsi anggaran). 3) Mengawasi jalannya roda pemerintahan (fungsi pengawasan). b. DPD DPD singkatan dari Dewan Perwakilan Daerah. Anggota DPD dipilih dari setiap provinsi melalui pemilihan umum. Di mana 4 calon anggota DPD yang memperoleh suara terbanyak ditetapkan menjadi anggota DPD. Adapun tugas DPD antara lain: 1) Mengajukan RUU (Rancangan Undang-Undang) kepada DPR. 2) Ikut membahas RUU. 3) Melakukan pengawasan pelaksanaan RUU. Adapun RUU yang dimaksud hanya berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. c. MPR MPR singkatan dari Majelis Permusyawaratan Rakyat. Anggota MPR terdiri dari anggota DPR dan DPD. Tugas dan wewenang MPR antara lain: 1) Mengubah dan menetapkan UUD. 2) Melantik presiden dan wakil presiden. 3) Memberhentikan presiden dan wakil presiden dalam masa jabatannya menurut UUD. 2.6.2. Menelaah sistem pemilu dan pilkada yang ada di Indonesia Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala Daerah Salah satu wujud pelaksanaan pemerintahan oleh rakyat adalah dilaksanakannya pemilihan umum. Dalam negara demokrasi, setiap warga negara memiliki hak asasi dan kewajiban dasar yang sama, yaitu memiliki hak untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan negara, salah satunya melalui pemilu dan pilkada. Setiap orang tidak dibedakan berdasarkan suku bangsa, ras, agama, dan jenis kelamin. Dalam pemilihan umum tentu ada pihak yang kalah dan yang menang. Pihak yang menang tidak boleh sombong dengan kemenangannya itu, dan yang kalah juga harus dapat menerima kekalahan. Pemilihan umum merupakan sarana untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Pemilihan umum dilaksanakan berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. 1. Langsung berarti setiap pemilih memberikan suaranya langsung tanpa perantara. 2. Umum berarti semua warga negara yang memenuhi syarat berhak ikut pemilihan itu. 3. Bebas berarti tidak ada paksaan dari pihak mana pun dalam menggunakan haknya. 4. Rahasia berarti setiap pemilih tidak akan diketahui tentang siapa yang dipilihnya. 5. Jujur berarti semua pihak yang terlibat dalam proses pemilu itu harus bertindak jujur sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 6. Adil berarti semua pihak yang terlibat dalam proses pemilu akan mendapat perilaku yang sama dan terbebas dari tindakan curang pihak mana pun. 1. Proses Pemilihan Umum (Pemilu) di Indonesia Pemilihan umum (pemilu) di Indonesia pada awalnya ditujukan untuk memilih anggota lembaga perwakilan, yaitu DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres) yang semula dilakukan oleh MPR, disepakati untuk dilakukan langsung oleh rakyat. Pilpres sebagai bagian dari pemilu diadakan pertama kali pada pemilu 2004.

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

Pada tahun 2007, pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah (pilkada) juga dimasukkan sebagai bagian dari pemilu. Di tengah masyarakat, istilah pemilu lebih sering merujuk kepada pemilu legislatif serta pemilu presiden dan wakil presiden yang diadakan setiap 5 tahun sekali. Pemilu diselenggarakan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum) yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri. KPU bertanggung jawab atas penyelenggaraan pemilu. Dalam melaksanakan tugasnya, KPU menyampaikan laporan dalam tahap penyelenggaraan pemilu kepada presiden dan DPR. Keanggotaan KPU terdiri atas seorang ketua merangkap anggota, dibantu seorang wakil ketua merangkap anggota, dan para anggota. Ketua dan wakil ketua KPU dipilih dari dan oleh anggota. Setiap anggota KPU mempunyai hak suara yang sama. Dalam melaksanakan pemilu harus melalui tahap-tahap, antara lain: a. Pendaftaran Peserta Pemilu Peserta pemilu adalah partai politik dan perseorangan calon anggota DPD. b. Penetapan Jumlah Kursi 1) Jumlah kursi DPR ditetapkan sebanyak 550 orang. Jumlah kursi anggota DPR untuk setiap provinsi ditetapkan berdasarkan jumlah penduduk dengan memerhatikan perimbangan yang wajar. 2) Jumlah kursi anggota DPRD provinsi ditetapkan sekurang-kurangnya 35 kursi dan sebanyak-banyaknya 100 kursi. 3) Jumlah kursi anggota DPRD kabupaten/kota ditetapkan sekurangkurangnya 20 kursi dan sebanyak-banyaknya 45 kursi. 4) Jumlah anggota DPD untuk setiap provinsi ditetapkan 4 orang. c. Pencalonan Anggota DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota Calon anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota harus memenuhi syarat: 1) Warga negara Republik Indonesia yang berumur 21 (dua puluh satu) tahun atau lebih. 2) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 3) Berdomisili di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 4) Cakap berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia. 5) Berpendidikan serendah-rendahnya SLTA atau sederajat. 6) Setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar 1945, dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945. 7) Bukan bekas anggota organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia, termasuk organisasi massanya, atau bukan orang yang terlibat langsung ataupun tidak langsung dalam G 30 S/PKI, atau organisasi terlarang lainnya. 8) Tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. 9) Tidak sedang menjalani pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih. 10) Sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan dari dokter yang berkompeten. 11) Terdaftar sebagai pemilih. Seorang calon anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota hanya dapat dicalonkan dalam satu lembaga perwakilan pada satu daerah pemilihan. Calon anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota selain harus memenuhi syarat tersebut di atas juga harus terdaftar sebagai anggota partai politik peserta pemilu yang dibuktikan dengan kartu tanda anggota. Calon anggota DPD selain harus memenuhi syarat calon anggota DPR dan DPRD, juga harus memenuhi syarat antara lain: 1) Berdomisili di provinsi yang bersangkutan sekurang-kurangnya 3 tahun secara berturutturut yang dihitung sampai dengan tanggal pengajuan calon atau pernah berdomisili selama 10 tahun sejak berusia 17 tahun di provinsi yang bersangkutan. 2) Tidak menjadi pengurus partai politik sekurang-kurangnya 4 tahun yang dihitung sampai dengan tanggal pengajuan calon. Calon anggota DPD dari pegawai negeri sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia, atau anggota kepolisian negara Republik Indonesia selain harus memenuhi syarat tersebut di atas, juga harus mengundurkan diri sebagai pegawai negeri sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia, atau anggota kepolisian negara Republik Indonesia. Berikut tata cara pencalonan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota.

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

1.

2. 3.

Setiap partai politik peserta pemilu dapat mengajukan calon anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota untuk setiap daerah pemilihan dengan memerhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30%. Setiap partai politik peserta pemilu dapat mengajukan calon sebanyak-banyaknya 120% jumlah kursi yang ditetapkan pada setiap daerahpemilihan. Pengajuan calon anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan dengan ketentuan: a) Calon anggota DPR disampaikan kepada KPU. b) Calon anggota DPRD provinsi disampaikan kepada KPU provinsi yang bersangkutan. c) Calon anggota DPRD kabupaten/kota disampaikan kepada KPU kabupaten/kota yang bersangkutan. d) Kampanye Kampanye pemilu adalah kegiatan peserta pemilu dan/atau calon anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota untuk meyakinkan para pemilih dengan menawarkan program-programnya. Dalam kampanye pemilu, rakyat mempunyai kebebasan untuk menghadiri kampanye. Kegiatan kampanye dilakukan oleh peserta pemilu selama 3 minggu dan berakhir 3 hari sebelum hari pemungutan suara. Materi kampanye pemilu berisi program peserta pemilu. Penyampaian materi kampanye pemilu dilakukan dengan cara yang sopan, tertib, dan bersifat mendidik. Pedoman dan jadwal pelaksanaan kampanye ditetapkan oleh KPU dengan memerhatikan usul dari peserta pemilu. Kampanye pemilu dilakukan melalui: 1) Pertemuan terbatas. 2) Tatap muka. 3) Penyebaran melalui media cetak dan media elektronik. 4) Penyiaran melalui radio dan/atau televisi. 5) Penyebaran bahan kampanye kepada umum. 6) Pemasangan alat peraga di tempat umum. 7) Rapat umum.

Kegiatan lain yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan. Media elektronik dan media cetak memberikan kesempatan yang sama kepada peserta pemilu untuk menyampaikan tema dan materi kampanye pemilu. Media elektronik dan media cetak wajib memberikan kesempatan yang sama kepada peserta pemilu untuk memasang iklan pemilu dalam rangka kampanye. Pemerintah pada setiap tingkatan memberikan kesempatan yang sama kepada peserta pemilu untuk menggunakan fasilitas umum. Semua pihak yang hadir dalam pertemuan terbatas atau rapat umum yang diadakan oleh suatu peserta pemilu hanya dibenarkan membawa atau menggunakan tanda gambar dan/atau atribut peserta pemilu yang bersangkutan. KPU berkoordinasi dengan pemerintah untuk menetapkan lokasi pemasangan alat peraga untuk keperluan kampanye pemilu. Pemasangan alat peraga kampanye pemilu oleh peserta pemilu dilaksanakan dengan mempertimbangkan etika, estetika, kebersihan, dan keindahan kota atau kawasan setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pemasangan alat peraga kampanye pemilu pada tempat-tempat yang menjadi milik perseorangan atau badan swasta harus seizin pemilik tempat tersebut. Alat peraga kampanye pemilu harus sudah dibersihkan paling lambat 3 hari sebelum hari pemungutan suara. Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ketentuan pasal ini ditetapkan oleh KPU. Dalam kampanye pemilu dilarang: 1. Mempersoalkan dasar negara Pancasila dan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. 2. Menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan, calon dan/atau peserta pemilu yang lain. 3. Menghasut dan mengadu domba antar perseorangan maupun antar kelompok masyarakat. 4. Mengganggu ketertiban umum. 5. Mengancam untuk melakukan kekerasan atau menganjurkan penggunaan kekerasan kepada seseorang, sekelompok anggota masyarakat, dan/ atau peserta pemilu yang lain. 2.7. Merumuskan prinsip dan praktik politik luar negeri Indonesia. 2.7.1. Menelaah prinsip politik luar negeri dan dalam negeri ASEAN Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (Perbara) atau lebih populer dengan sebutan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) merupakan sebuah organisasi geo-politik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara, yang didirikan di Bangkok, 8 Agustus 1967 melalui Deklarasi Bangkok oleh Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi,
[3][4]

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggotanya, serta memajukan perdamaian di tingkat regionalnya. Negara-negara anggota ASEAN mengadakan rapat umum pada setiap bulan November. Prinsip Utama ASEAN Prinsip-prinsip utama ASEAN adalah sebagai berikut: Menghormati kemerdekaan, kedaulatan, kesamaan, integritas wilayah nasional, dan identitas nasional setiap negara Hak untuk setiap negara untuk memimpin kehadiran nasional bebas daripada campur tangan, subversif atau koersi pihak luar Tidak mencampuri urusan dalam negeri sesama negara anggota Penyelesaian perbedaan atau perdebatan dengan damai Menolak penggunaan kekuatan yang mematikan kerjasama efektif antara anggota ASEAN didirikan oleh lima negara pemrakarsa, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand di Bangkok melalui Deklarasi Bangkok. Menteri luar negeri penanda tangan Deklarasi Bangkok kala itu ialah Adam Malik (Indonesia), Narsisco Ramos (Filipina), Tun Abdul Razak (Malaysia), S. Rajaratnam (Singapura), dan Thanat Khoman (Thailand). Isi Deklarasi Bangkok adalah sebagai berikut: Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan perkembangan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara Meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional Meningkatkan kerjasama dan saling membantu untuk kepentingan bersama dalam bidang ekonomi, sosial, teknik,ilmu pengetahuan, dan administrasi Memelihara kerjasama yang erat di tengah - tengah organisasi regional dan internasional yang ada Meningkatkan kerjasama untuk memajukan pendidikan, latihan, dan penelitian di kawasan Asia Tenggara 3. Menguasai kompetensi pedagogik pembelajaran matematika SD/MI 3.1. Menguasai prinsip, teori dan strategi pembelajaran serta teknik asesmen yang tepat pada pembelajaran matematika 3.1.1. Merancang aktivitas pembelajaran berdasarkan prinsip dan teori pembelajaran matematika 3.1.2. Merancang pembelajaran matematika yang menggunakan gradasi mulai representasi kongkrit, simbolik, dan abstrak agar siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan matematika 3.1.3. Memilih media pembelajaran yang tepat untuk pembelajaran operasi bilangan bulat 3.1.4. Memilih media pembelajaran yang tepat untuk pembelajaran operasi bilangan pecahan 3.1.5. Mengombinasikan beragam strategi pembelajaran matematika untuk mencapai tujuan pembelajaran 3.1.6. Memilih media pembelajaran yang tepat untuk pembelajaran geometri dan pengukuran Menguasai konsep dan metode keilmuan matematika yang mendukung pembelajaran matematika SD/MI. 4.1. Menguasai konsep bilangan, operasi, algoritma, dan sifat-sifat bilangan bulat 4.1.1. Menganalisis dan menerapkan urutan operasi pada bilangan bulat 4.1.2. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan sifat distribusi bilangan bulat 4.2. Menguasai konsep bilangan, operasi, algoritma, dan sifat-sifat bilangan pecahan 4.2.1. Menganalisis dan menerapkan sifat-sifat urutan bilangan pecahan 4.2.2. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan bilangan pecahan 4.2.3. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan perbandingan/rasio 4.3. Menguasai konsep relasi, fungsi dan penalaran dalam matematika 4.3.1. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan pola bilangan 4.3.2. Menyelesaikan masalah dengan menggunakan persamaan yang memuat variabel 4.4. Menguasi konsep dan prinsip dalam geometri dan pengukuran 4.4.1. Menganalisis dan menerapkan sifat-sifat segiempat 4.4.2. Menganalisis dan menerapkan sifat-sifat kesejajaran garis-garis 4.4.3. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan waktu, jarak, dan kecepatan 4.4.4. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan volume bangun ruang 4.5. Menguasai konsep probabilitas dan statistika serta aplikasinya 4.5.1. Menyajikan data dalam bentuk diagram

4.

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

4.5.2. Memecahkan masalah berkaiatan dengan rara-rata 5. Menguasai kompetensi pedagogik pembelajaran IPA SD/MI 5.1. Merancang pembelajaran IPA sesuai dengan karakteristik peserta didik dan materi 5.1.1. Merumuskan tujuan pembelajaran (proses, produk, dan sikap) sifat benda padat, cair dan gas sesuai dengan karakteristik peserta didik dan materi ajar 5.1.2. Merancang kegiatan pembelajaran IPA melalui penyelidikan ilmiah agar siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan IPA 5.1.3. Mengkombinasikan beragam pendekatan/ strategi/ metode/ teknik pembelajaran IPA untuk mencapai tujuan pembelajaran (produk, proses, dan sikap ilmiah) 5.1.4. Menggabungkan beragam asessmen dalam mengevaluasi tujuan pembelajaran IPA (produk, proses, dan sikap ilmiah) Menguasai struktur, konsep, dan metode keilmuan IPA SD / MI 6.1. Menafsirkan struktur, fungsi dan sistem pengangkutan pada tumbuhan 6.1.1. Menganalisis proses-proses fotosintesis pada tumbuhan Fotosintesis atau fotosintesa merupakan proses pembuatan makanan yang terjadi pada tumbuhan hijau dengan bantuan sinar matahari dan enzim-enzim. Fotosintesis adalah suatu proses biokimia yang dilakukantumbuhan, alga, dan beberapa jenis bakteri untuk memproduksi energi terpakai (nutrisi) dengan memanfaatkan energi cahaya. Fotosintesis adalah fungsi utama dari daun. Proses fotosintesis sangat penting bagi kehidupan di bumi karena hampir semua makhluk hidup tergantung pada proses ini. Proses Fotosintesis juga berjasa menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di atmosfer bumi.Organisme yang menghasilkan energi melalui fotosintesis (photos berarti cahaya) disebut sebagai fototrof. Fotosintesis merupakan salah satu cara asimilasikarbon karena dalam fotosintesis karbon bebas dari CO2 diikat (difiksasi) menjadi gula sebagai molekul penyimpanenergi. Cara lain yang ditempuh organisme untuk mengasimilasi karbon adalah melalui kemosintesis, yang dilakukan oleh sejumlah bakteri belerang. Fotosintesis pada tumbuhan Tumbuhan hijau daun bersifat autotrof. Autotrof artinya dapat memasak atau mensintesis makanan langsung dari senyawa anorganik. Tumbuhan menyerap karbondioksida dan air untuk menghasilkan gula dan oksigen yang diperlukan sebagai makanannya. Energi untuk menjalankan proses ini berasal dari fotosintesis. Perhatikan persamaan reaksi yang menghasilkan glukosa berikut ini: 6H2O + 6CO2 + cahaya C6H12O6 (glukosa) + 6O2 Glukosa dapat digunakan untuk membentuk senyawa organik lain seperti selulosa dan dapat pula digunakan sebagaibahan bakar. Proses ini berlangsung melalui respirasi seluler yang terjadi baik pada hewan maupun tumbuhan. Secara umum reaksi yang terjadi pada respirasiseluler adalah kebalikan dengan persamaan di atas. Pada respirasi, gula (glukosa) dan senyawa lain akan bereaksi dengan oksigen untuk menghasilkan karbondioksida, air, dan energikimia. Tumbuhan menyerap cahaya karena mempunyai pigmen yang disebut klorofil. Pigmen inilah yang memberi warna hijau pada tumbuhan. Klorofil terdapat dalam organel yang disebut kloroplast. klorofil menyerap cahaya yang akan digunakan dalam fotosintesis. Sebagian besar energi fotosintesis dihasilkan di daun tetapi juga dapat terjadi pada organ tumbuhan yang berwarna hijau. Di dalam daun terdapat lapisan sel yang disebut mesofil yang mengandung setengah juta kloroplas setiap milimeter perseginya. Cahaya akan melewati lapisan epidermis tanpa warna dan yang transparan, menuju mesofil, tempat terjadinya sebagian besar proses fotosintesis. Permukaan daun biasanya dilapisi oleh kutikula dari lilin yang bersifat anti air untuk mencegah terjadinya penyerapan sinar matahari ataupun penguapan air yang berlebihan. Beberapa faktor yang menentukan kecepatan fotosintesis: 1. Cahaya Komponen-komponen cahaya yang mempengaruhi kecepatan laju fotosintesis adalah intensitas, kualitas danlama penyinaran. Intensitas adalah banyaknya cahaya matahari yang diterima sedangkan kualitas adalah panjang gelombang cahaya yang efektif untuk terjadinya fotosintesis. 2. Konsentrasi karbondioksida Semakin banyak karbondioksida di udara, makin banyak jumlah bahan yang dapat digunakan tumbuhan untuk melangsungkan fotosintesis. 3. Suhu Enzim-enzim yang bekerja dalam proses fotosintesis hanya dapat bekerja pada suhu

6.

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

4.

5.

6.

optimalnya. Umumnya laju fotosintensis meningkat seiring dengan meningkatnya suhu hingga batas toleransi enzim. Kadar air Kekurangan air atau kekeringan menyebabkan stomata menutup, menghambat penyerapan karbon dioksidasehingga mengurangi laju fotosintesis. Kadar fotosintat (hasil fotosintesis) Jika kadar fotosintat seperti karbohidrat berkurang, laju fotosintesis akan naik. Bila kadar fotosintat bertambah atau bahkan sampai jenuh, laju fotosintesis akan berkurang. Tahap pertumbuhan Penelitian menunjukkan bahwa laju fotosintesis jauh lebih tinggi pada tumbuhan yang sedang berkecambahketimbang tumbuhan dewasa. Hal ini mungkin dikarenakan tumbuhan berkecambah memerlukan lebih banyakenergi dan makanan untuk tumbuh.

6.1.2. Menyimpulkan macam-macam pengangkutan pada tumbuhan Jaringan Pengangkut

Jaringan pengangkut bertugas mengangkut zat-zat yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Ada 2 macam jaringan; yakni xilem atau pembuluh kayu dan floem atau pembuluh lapis/pembuluh kulit kayu. Xilem bertugas mengangkut air dan garam-garam mineral terlarut dari akar ke seluruh bagian tubuh tumbuhan. Xilem ada 2 macam: trakea dan trakeid. Floem bertugas mengangkut hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tubuh tumbuhan. 6.1.3. Menggambarkan hubungan manusia, lingkungan dan pemeliharaannya 6.2. Menafsirkan organ, fungsi, dan sistem pada sistem tubuh hewan dan manusia 6.2.1. Menganalisis gangguan-gangguan pencernaan makanan pada manusia Gangguan Sistem Pencernaan Apendikitis Radang usus buntu. Diare Feses yang sangat cair akibat peristaltik yang terlalu cepat. Kontipasi (Sembelit) Kesukaran dalam proses Defekasi (buang air besar) Maldigesti Terlalu banyak makan atau makan suatu zat yang merangsang lambung. Parotitis Infeksi pada kelenjar parotis disebut juga Gondong Tukak Lambung/Maag "Radang" pada dinding lambung, umumnya diakibatkan infeksi Helicobacter pylori Xerostomia Produksi air liur yang sangat sedikit Gangguan pada sistem pencernaan makanan dapat disebabkan oleh pola makan yang salah, infeksi bakteri, dan kelainan alat pencernaan. Di antara gangguan-gangguan ini adalah diare, sembelit, tukak lambung, peritonitis, kolik, sampai pada infeksi usus buntu (apendisitis). Diare Apabila kim dari perut mengalir ke usus terlalu cepat maka defekasi menjadi lebih sering dengan feses yang mengandung banyak air. Keadaan seperti ini disebut diare. Penyebab diare antara lain ansietas (stres), makanan tertentu, atau organisme perusak yang melukai dinding usus. Diare dalam waktu lama menyebabkan hilangnya air dan garam-garam mineral, sehingga terjadi dehidrasi. Konstipasi (Sembelit) Sembelit terjadi jika kim masuk ke usus dengan sangat lambat. Akibatnya, air terlalu banyak diserap usus, maka feses menjadi keras dan kering. Sembelit ini disebabkan karena kurang mengkonsumsi makanan yang berupa tumbuhan berserat dan banyak mengkonsumsi daging. Tukak Lambung (Ulkus)

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

Dinding lambung diselubungi mukus yang di dalamnya juga terkandung enzim. Jika pertahanan mukus rusak, enzim pencernaan akan memakan bagian-bagian kecil dari lapisan permukaan lambung. Hasil dari kegiatan ini adalah terjadinya tukak lambung. Tukak lambung menyebabkan berlubangnya dinding lambung sehingga isi lambung jatuh di rongga perut. Sebagian besar tukak lambung ini disebabkan oleh infeksi bakteri jenis tertentu. Beberapa gangguan lain pada sistem pencernaan antara lain sebagai berikut: Peritonitis; merupakan peradangan pada selaput perut (peritonium). Gangguan lain adalah salah cerna akibat makan makanan yang merangsang lambung, seperti alkohol dan cabe yang mengakibatkan rasa nyeri yang disebut kolik. Sedangkan produksi HCl yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya gesekan pada dinding lambung dan usus halus, sehingga timbul rasa nyeri yang disebut tukak lambung. Gesekan akan lebih parah kalau lambung dalam keadaan kosong akibat makan tidak teratur yang pada akhirnya akan mengakibatkan pendarahan pada lambung. Gangguan lain pada lambung adalah gastritis atau peradangan pada lambung. Dapat pula apendiks terinfeksi sehingga terjadi peradangan yang disebut apendisitis. 6.2.2. Menganalisis kelainan dan gangguan pada sistem pernapasan manusia a. Emfisema, merupakan penyakit pada paru-paru. Paruparu mengalami pembengkakan karena pembuluh darahnya kemasukan udara. b. Asma, merupakan kelainan penyumbatan saluran pernapasan yang disebabkan oleh alergi, seperti debu, bulu, ataupun rambut. Kelainan ini dapat diturunkan. Kelainan ini juga dapat kambuh jika suhu lingkungan cukup rendah atau keadaan dingin. c. Kanker paru-paru. Penyakit ini merupakan salah satu yang paling berbahaya. Sel-sel kanker pada paru-paru terus tumbuh tidak terkendali. Penyakit ini lamakelamaan dapat menyerang seluruh tubuh. Salah satu pemicu kanker paru-paru adalah kebiasaan merokok. Merokok dapat memicu terjadinya kanker paru-paru dan kerusakan paru-paru. d. Tuberkulosis (TBC), merupakan penyakit paru-paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Bakteri tersebut menimbulkan bintil-bintil pada dinding alveolus. Jika penyakit ini menyerang dan dibiarkan semakin luas, dapat menyebabkan sel-sel paru-paru mati. Akibatnya paru-paru akan kuncup atau mengecil. Hal tersebut menyebabkan para penderita TBC napasnya sering terengah-engah. e. Bronkhitis, merupakan gangguan pada cabang batang tenggorokan akibat infeksi. Gejalanya adalah penderita mengalami demam dan menghasilkan lendir yang menyumbat batang tenggorokan. Akibatnya penderita mengalami sesak napas. f. Influenza (flu), merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus influenza. Penyakit ini timbul dengan gejala bersin-bersin, demam, dan pilek. o Manusia perlu bernapas untuk mengambil oksigen dan membuang karbon dioksida. Oksigen diperlukan dalam proses pembentukan energi. Karbon dioksida yang merupakan hasil dari pembakaran zat makanan perlu dikeluarkan karena dapat menjadi racun bagi tubuh. o Pernapasan pada manusia memerlukan sejumlah organ pernapasan, yaitu hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Pertukaran gas-gas terjadi di paru-paru, tepatnya di alveoli. o Paru-paru merupakan organ yang pasif, proses menghirup napas dan mengeluarkan napas sesungguhnya dikontrol oleh gerakan otot antartulang dada (pernapasan dada) dan pergerakan diafragma (pernapasan perut). Pernapasan dada dan pernapasan perut hanyalah istilah saja, karena sesungguhnya keduanya berlangsung bersamaan. 6.2.3. Mengabstraksi ciri hewan invertebrata Filum Protozoa Protozoa merupakan hewan yang memiliki ciri tubuh hanya terbentuk dari sebuah sel. Filum Protozoa dibagi atas empat klas berdasarkan alat gerak yang dimilikinya, yaitu: a. Klas Rhizopoda. Hewan yang termasuk klas ini memiliki alat gerak berupa kaki palsu b. (pseudopodia), karena bentuk alat geraknya tidak tetap. Hewan yang termasuk ke dalam kals ini antara lain: Amoeba proteus, Entamuba coli, Entamuba disentri, Fo raminifera dan Radiolaria. Entamuba coli dan entamuba disent ri menyebabkan penyakit disentri bila termakan/terminum oleh manusia karena minum air yang telah tercemar oleh Entamuba tersebut.

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

c. Klas Flagellata. Hewan yang termasuk klas Flagellata memiliki ciri alat geraknya berbentuk bulu cambuk (flagel). Beberapa contoh hewan yang termasuk Flagellata antara lain: Euglena viridis, Volvox, Tripanosoma gambiensis, Tripanosoma rodentiasis, Tripanosoma evansi. Tripanosoma merupakan protozoa penyebab penyakit tidur yang ditularkan oleh gigitan lalat Tsetse, banyak ditemukan di benua Afrika. d. Klas Cilliata. Alat gerak klas Cilliata berupa cilia atau rambut-rambut kecil di sekitar tubuh. Hewan yang termasuk ke dalam klas ini antara lain: Paramaecium caudatum, Stentor, Didinium. Paramaecium banyak kita jumpai di selokan atau kolam yang airnya kotor. e. Klas Sporozoa. Klas Sporozoa adalah hewan bersel tunggal yang tidak mempunyai alat gerak. Contoh hewan yang termasuk ke dalam kelas ini antara lain: Plasmodium falsifarum penyebab penyakit malaria tropicana, Plasmodium vivax yang dapat menyebabkan penyakit malaria tertiana, dan Plasmodium malariae penyebab penyakit malaria quartana. Plasmodium d itularkan dari satu orang ke orang lainnya melalui gigitan nyamuk anopheles. Filum Porifera Hewan yang termasuk ke dalam filum Porifera memiliki tubuh yang berpori-pori. Klas yang terkenal dalam Filum Porifera adalah Klas Despongia, contohnya adalah Spongia (hewan spons). Spongia banyak dijumpai di laut, dulu digunakan sebagai alat pembersih (spons). Filum Coelenterata Hewan yang termasuk ke dalam Filum Coelenterata memiliki tubuh yang berongga. Filum Coelenterata terdiri atas Klas Hydrozoa, misalnya Hydrafusca (berupa polip) dan Obelia (berupa medusa)

Filum Platyhelmintes Hewan yang termasuk ke dalam Filum Platyhelmintes memiliki ciri tubuh pipih memanjang (cacing). Filum ini dibagi menjadi tiga Klas, yaitu: a. Klas Turbellaria, contohnya adalah cacing Planaria. Planaria mempunyai kemampuan regenera si yang tinggi. Bila tubuhnya dipotong menjadi tiga bagian, maka kepala akan membentuk badan dan ekor, bagian badan akan membentuk kepala dan ekor, serta bagian ekor akan membentu badan dan kepala. b. Klas Trematoda, contohnya adalah Fasc iola hepatica merupakan cacing hati yang hidup pada rongga-rongga pada hati ternak (sapi dan kambing). Cacing ini berwarna coklat seperti hati dan menggerogoti hati sehingga hati ternak ini akan rusak. Panjangnya kurang lebih 3 cm, parasit pada hewan dan manusia dengan melekatkan dirinya dengan menggunakan alat pengisap. c. Klas Cestoda (cacing pita). Cacing pita berwarna putih seperti warna usus, berbentuk pipih memanjang seperti pita dan beruas-ruas. Ruas-ruas ini akan semakin bertambah banyak sehingga cacing bertambah banyak. Setiap ruas merupakan individu. Contoh cacing pita adalah Taenia saginata, inang tetap cacing ini adalah manusia sedang inang perantaranya adalah sapi. Taenia solium mempunyai inang tetap manusia, dan inang perantaranya adalah babi. Inang tetap Dyphylobothrium latum adalah manusia dengan inang perantaranya adalah ikan Filum Nemathelmintes Nemathelmintes adalah cacing yang berbentuk gilig. Kedua ujung tubuhnya runcing sedangkan bagian tengah tubuhnya bulat. a. Ascaris megalocephala (hidup pada usus kuda), b. Ascaris lumbricoides (cacing perut), hidup pada usus halus manusia, menghisap sari makanan dengan menggunakan seluruh permukaan tubuhnya, berwarna putih gading seperti warna usus. c. Nacator americanus (cacing tambang). Larva caing ini banyak ditemukan di daerah pertambangan yang becek dan lembab. Bila kaki tidak menggunakan alas, larva dapat menembus kaki, masuk ke dalam airan darah yang pada akhirnya akan menetas dan menetap pada usus halus. Cacing tambang menghisap darah pada usus halus dengan membuat luka pa da usus. Penderita biasanya mengalami kekurangan darah/anemia parah, selain kare na darahnya dihisap juga karena luka yang ditimbulkan oleh cacing ini, hingga kotoran penderita bercampur dengan darah. d. Oxyuris vermicularis (cacing keremi). Bentuk cacing ini kecil berwarna putih mirip kelapa parut. Cacing ini hidup pada usus besar manusia. Bila cacing betina akan bertelur, cacing ini akan membutuhkan oksigen, oleh karena itu cacing tersebut bergerak menuju anus. Banyaknya jumlah cacing pada anus menyebabkan penderita merasakan gatal di sekitar anus.

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

e. Filaria bancrofti menyebabkan penyakit elephantiasis (kaki gajah). Cacing-cacing ini akan menyumbat pembuluh lymph, hingga terjadi pembengkakkan pada kaki. Larva cacing ini ditularkan oleh gigitan nyamuk culex. Filum Anelida Anelida adalah cacing yang berbentuk gelang a. Klas Polychaeta, yang memiliki gerak parapodia, tubuh memiliki setae/rambut yang banyak. Hewan yang termasuk klas ini antara lain: Eunice (cacing palolo) dan Lysidice (cacing wawo). Kedua cacing ini muncul di lautan sekitar Maluku pada saat bulan purnama dibulan Maret. Oleh penduduk setempat cacing ini biasa dikonsumsi setelah dijemur terlebih dahulu. b. Klas Oligochaeta, memiliki sedikit se tae/rambut, dan tidak memiliki parapodia. Lumbricus terrestris (cacing tanah) merupakan contoh hewan dari klas ini. Cacing tanah merupakan decomposer dengan memakan sisa-sisa makhluk hidup. Hidup di dalam tanah, biasanya akan muncul ke permukaan tanah pada sore hari setelah hujan. c. Klas Hirudinae, merupakan cacing yang menghisap darah. Hewan yang termasuk ke dalam klas ini antara lain Hirudome dicinalis (lintah). Lintah sering digunakan dalam pengobatan dengan meletakkan lintah pada bagian tubuh yang sakit, lalu lintah itu dibiarkan menghisap darah penderita. Lintah banyak ditemukan di tempat-tempat yang berair seperti sawah dan rawa. Lintah akan mengeluarkan zat anti beku darah pada saat menghi sap darah mangsa. Tubuhnya akan mengembang sesuai dengan banyaknya darah yang dihisap. Bila telah kenyang lintah akan melepaskan diri sendiri. Haemodipsa (pacet) adalah sebangsa lintah yang hidup di tempat yang kering. Filum Molluska (hewan bertubuh lunak) Mollusca terbagi menjadi: a. Klas Lamellibranchiata, yaitu hewan yang memiliki insang yang pipih berupa kepingan. Hewan ini hidup di perairan baik laut maupun air tawar. Hewan yang termasuk dalam klas ini antara lain remis dan Margaritifera (tiram mutiara). b. Klas Gastropoda, hewan ini bergerak dengan menggunakan kaki perut. Hewan yang termasuk ke dalam klas ini antara lain Achatina fulica (bekicot) dan Lymnea javanica. c. Klas Cephalopoda, ciri hewan ini adalah memiliki tangan-tangan pada bagian kepalanya. Hewan yang termasuk ke dalam klas ini antara lain Loligo (cumi-cumi), Sepi (sotong), dan Octopus (gurita). Filum Echinodermata Echinodermata memiliki alat gerak yang disebut kaki ambulakral. Kebanyakan hewan-hewan klas ini hidup di air laut dan terdiri atas: a. Klas Asteroidea (bintang laut) Contoh hewan dari klas ini antara lain Linekia laevigata (bintang laut baru), Culcita (bintang tak bertangan), dan Acanthaster ( bintang laut yang memiliki tangan kelipatan lima). b. Klas Echinoidea (bulu babi) Contoh: Echinos esculenthus (bulu babi berduri pendek), Echinosdiscus (bulu babi berbentuk cakram), Echinocardium (bulu babi berbentuk seperti kantung). c. Klas Ophiuroidea (bintang ular laut) contoh dari klas ini adalah Ophiura (bintang mengular) dan Acanthaster d. Klas Holothuroidea (teripang) contoh yang termasuk ke dalam klas ini adalah tripang. e. Klas Crinoidea (lilia laut), contoh hewan dari klas ini adalah Antendon dan Metacrinus. Filum Arthropoda Hewan arthropoda tubuh dan kakinya beruas-ruas. Hewan ini terbagi menjadi: a. Klas Crustaceae (udang-udangan), hewan yang termasuk klas ini antara lain: Panulirus versicolor (udang karang), Pharatelpusa tridentata (ketam), Scylla serrata (kepiting), Neptunus pellagicus (rajungan), ketam kelapa dan ketam kenari. b. Klas Myriapoda, tubuh dan kaki yang berbuku-buku. Contoh yang termasuk klas ini adalah Lipan, kelabang pemakan laba-laba atau hewan lainnya, dan luwing (keluwing/kaki seribu) adalah hewan decomposer sering ditemukan di sekitar kamar mandi atau tempat yang lembab lainnya. c. Klas Arachnoidea terdiri atas kepala, tubuh dan kaki yang beruas-ruas. Jumlah kaki empat pasang. Contoh hewan dari klas ini antara lain Heterometrus cyaneus (kalajengking), labalaba, kutu kudis dan caplak anjing. d. Klas Insecta (serangga) memiliki ciri tubuh terdiri atas 3 bagian yaitu kepala, badan, dan ekor. Memiliki tiga pasang kaki, dan bila bersayap, sayapnya berjumlah dua pasang. Dalam siklus hidupnya mengalami metamorfosis ada yang sempurna dan ada juga yang tidak sempurna. 6.3. Membandingkan besaran dan satuan 6.3.1. Memilih alat ukur sesuai dengan besaran yang diukur

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

6.4. Mengkategorikan materi dan perubahannya 6.4.1. Mengkategorikan penyebab perubahan sifat benda 6.5. Memecahkan permasalahan energi dan perubahannya 6.5.1. Menganalisis sifat-sifat cahaya 6.5.2. Menyelidiki konsep kelistrikan dan dan kemagnetan 6.5.3. Menganalisis jenis-jenis gaya dalam kehidupan sehari-hari 6.5.4. Memprediksi peristiwa pemuaian dalam kehidupan sehari-hari 6.5.5. Menganalisis peran kalor dalam mengubah suhu benda 6.6. Menganalisis fenomena-fenomena bumi dan alam semesta 6.6.1. Mengelompokkan planet-planet dalam tata surya a. Planet dalam (Inferior) Planet dalam (inferior) merupakan planet-planet yang jaraknya lebih kecil atau sama dengan 1 satuan astronomi (150 km). Karena jarak 1 satuan astronomi ditentukan berdasarkan jarak dari bumi ke matahari, maka yang termasuk planet dalam (inferior) Merkurius, Venus, dan Bumi b. Planet luar (superior) Planet Luar merupakan planet-planet yang jaraknya lebih besar dari 1 satuan astronomi (150 juta km). Adapun planet-planet yang termasuk planeet luar (superior) adalah Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. 6.6.2. Menganalisis proses terjadinya tata surya a. Teori Bintang Kembar Ada dua bintang yang relatif berdekatan, kemudian satu bintang meledak. Pecahan dari bintang yang meledak menjadi planet-planet dan satelit, sedangkan bintang yang tidak meledak menjadi Bintang pusat (matahari). b. Teori Dentuman Besar (Big Bang) Teori dentuman besar dipelopori oleh G. Lemaltre. Teori dentuman besar menyatakan bahwa alam semesta berasal dari ledakan hebat. Ledakan tersebut melemparkan pratikelpartikelnya ke segala arah. Partikel-partikel yang terlempar tersebut menjadi galaksi. Planetplanet berasal dari sebagian bahan suatu bintang (matahari) yang terlempar karena ada bintang lain yang melintas di dekatnya. c. Teori Kabut (Nebula) Teori ini dipelopori oleh Kant dan Laplace. Teori kabut (nebula) menyatkan bahwa tata surya pada mulanya merupakan awan gas dan debu (nebula) yang terdiri dari gas helium dan hidrogen. Bagian tengah terjadi pemampatan, kemudian menyusut sambil berputar. Putarannya mula-mula lambat, kemudian semakin cepat, dan semakin cepat lagi. Akibat putaran yang semakin cepat tersebut bentuknya menjadi bulat pipih, seperti cakaram. Selanjutnya sebagian bahan tepinya terlempar. Bagian bahan yang terlempar menjadi planet-planet, sedangkan intinya menjadi matahari. d. Teori Pasang Surut Teori ini dipelopori oleh Jenas dan Jefreey. Teori ini menyatkan bahwa pada saat sebelum terbentuk Sistem Tata Surya, ke dekat suatu bintang melintas bintang pertamana yang lebih besar. Akibatnya ada sebagian partikel/bahan dari bintang pertama yang terlempar karena pengaruh gaya tarik bintang yang besar. Partikel bintang yang terlempar menjadi planetplanet, sedangkan intinya menjadi matahari. e. Teori Planetisimal Teori ini dipelopori oleh Moution dan Chamberlian. Teori ini hampir sama dengan teori yang dikemukakan oleh Kant dan Laplace, perbedaannya teori planetisimal mengatakan bahwa di dalam kabut (nebula) terdapat material padat yang dinamakan planetisimal. Planetisimalplanetisimal itulah yang nantinya menjadi planet-planet. f. Teori Proto Planet Teori ini mirip dengan teori nebula yang ditemukan oleh Kant dan Laplace. Perbedaannya adalah teori ini mengatakan bahwa di sekitar bintang pusat (matahari) terdapat kabut gas yang membentuk gumpalan-gumpalan. Selanjutnya gumpalan-gumpalan tersebut memadat dan berubah menjadi planet-planet. 6.6.3. Mengidentifikasi lapisan-lapisan bumi a. Atmosfir Lapisan atmosfir terdiri atas lapisan udara yang meyelubungi permukaan bumi. Atmosfir memiliki ketebalan 31 km. Lapisan atmosfir dibagi-bagi menjadi beberapa lapisan, yaitu: troposfir, stratosfir, ionosfer, dan eksosfir. Semakin naik udara dalam atmosfir semakin tipis. Udara dalam atmosfir terdistribusi sekitar 75 % di lapisan tropofir, hal itulah yang menyebabkan semakin ke atas tipisnya udara di lapisan bagian atas. Di dalam lapisan

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

atmosfir terdapat lapisan ozon (O3) dapat atau berfungsi sebagai filter sinar ultra violet yang berasal dari matahari yang dapat membahayakan makhluk hidup di bumi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia selain meningkatkan kesejahteraan kepada manusia juga berdampak buruk terhadap kehidupan manusia itu sendiri. Berbagai industri dan kendaraan menimbulkan polusi udara berupa gas buang seperti gas CO, CO2, gas flour. Gas-gas tersebut mengikat satu atom oksigen dari ozon sehingga ozon berubah menjadi O2. Rusaknya lapisan ozon dan terkotorinya atmosfir oleh gas-gas terebut menyebabkan kemampuan atmosfir dalam memfilter infra merah menjadi berkurang. Gejala pemanasan global atau global warming. Seharusnya, cahaya matahari yang sampai ke bumi dipantulkan kembali ke angkasa. Tetapi karena atmosfir semakin tercemari, cahaya matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi ke atmosfir oleh atmosfir dipantulkan kembali ke permukaan bumi. Hal itulah yang menyebabkan meningkatnya bumi rata-rata yang dikenal dengan istilah pemanasan global. Adanya pemanasan global perlu diwaspadai atau diantisipasi dengan cara mengurangi penggunaan energi yang berasal dari bumi dan beralih menggunakan energi alternatif yang berasal dari tumbuhan. b. Hidrosfir Permukaan bumi sekitar 30% terdiri atas daratan atau litosfie dan 70% diselubungi oleh air (H2O) atau hidrosfir, yang terdiri atas lautan, danau, sungai, dan daerah kutub. Air merupakan salah satu zat yang diperlukan untuk kelangsungan hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Air dapat mengalami perubahan wujud. Perubahan wujud air memungkinkan terjadinya siklus air. Adanya siklus air menguntungkan bagi makhkuk hidup, karena ketersediaan dan kualitas air dapat terus terpelihara. Penebangan hutan yang terus berlangsung di berbagai belahan dunia dapat merusak siklus air, sebagai akibatnya adalah seringnya terjadi bencana banjir dan longsor. Untuk mengatasi hal tersebut kita harus turut berperan dalam melestarikan hhutang dengan cara reboisasi. Lithosfir Permukaan bumi beerbentuk daratan terdiri atas lapisan batuan atau litosfir. Jari-jari bumi dari permukaan sekitar 6.415 km. - Kerak bumi Kerak bumi merupakan bagian teratas daari lithosfir. Kerak bumi mempunyai ketebal sekitar 6 km di daerah samudera, sampai 35 kmdaerah benua. - Mantel bumi Terdiri atas mantel bumi bagian atas dan mantel bumi bagian bawah. Mantel bumi bagian atas mempunyai ketebalan 1.200 km, banyak mengandung magnesium, alumunium, dan magnesium. Mantel bumi merupakan tempat terbentuknya magma. Magma merupakan cairan o silikat panas yang suhunya 1.200 C, bersifat mobil dan mengandul kristal-kristal terapung. Jika magma berhasil menerobos permukaan bumi dinamakan lava. Lava yang mengalir di permukaan bumi yang beercampur dengan material hasil letusan gunung berapi atau material lainnya dinamakan lahar. - Inti Bumi Ketebalannya sekitar 3.500 km. Inti bumi manyak mengandungcobalt, nikel, dan ferum. Tentunya suhu inti bumi lebih besar jika dibandingkan dengan suhu mantel bumi. Suhu o o inti bumi sekitar 3.000 C sampai 5.000 C.

c.

7.

Menguasai kompetensi profesional pembelajar IPS 7.1. Menguasai lingkup dan struktur IPS 7.1.1. Membandingkan fakta, konsep, generalisasi dalam pembelajaran IPS Fakta : adalah kenyataan yang ada di sekitar kita yang tidak terbatas jumlahnya. Fakta : adalah ramuan dari pemikiran atau bahan dasar pembentuk konsep. Fakta : kesan indrawi. Ciri khas fakta adalah buntu tidak lebih daripada apa yang tampak. Cara yang baik memotivasi peserta didik untuk dapat membaca fakta dan menemukan konsep serta menggeneralisasikan yang dibahas secara terpadu. Konsep. Konsep = Kesan Indrawi yang mempunyai makna tertentu. Konsep = Suatu kesatuan atribut yang berkaitan dengan symbol

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

tentang objek, peristiwa atau proses. Konsep dapat dipahami bila dibahas tentang atribut, kelas (golongan), dan simbol. 1. Atribut: adalah ciri yang membedakan tabel objek atau peristiwa atau proses dari obyek, peristiwa atau proses lainnya. Atribut dapat didasarkan atas fakta berupa informasi konkret yang dapat dibuktikan melalui laporan seseorang atau hasil pengamatan langsung. Laporan verbal, gambar-gambar, chart yang berisi data dapat digunakan untuk mengkomunikasikan atribut. 2. Kelas (golongan) : Pengelompokan kategori dari benda, kejadian atau gagasan (pikiran). Setiap kelas memasukkan atribut yang sama dan mengeluarkan atribut yang berbeda atau tidak berhubungan. Kelas didasarkan pada atribut yang ditentukan/bukan semua atribut. Contoh : semua orang dapat kita masukkan pada kelas tertentu : Pria ...Wanita, Korpri - Nonkorpri, Guru - Murid, Kaya> < Miskin, Kawan > < Lawan. Setiap kelas merupakan bagian dari sekelompok kelas, dan kelas yang besar dapat dibagi dalam kelas kecil (subkelas). Pada dasarnya kelas merupakan landasan untuk membentuk konsep, karena kelas adalah konsep. 3. Simbol. Setiap kelas dapat digambar dengan simbol. Simbol dapat dinyatakan dengan kata, tanda, gerakan badan, angka sebagai alat untuk mengkomunikasikan dengan kelas lain. Konsep juga dapat dilihat dari pengertian connotative dan denotative (Womack, 1970), konsep yang ada pada kamus pengertian denotative adalah pengertian yang dikategorikan oleh kamus (denote = menunjukkan) (Connote mengandung arti yang lebih luas (detail untuk konsep IPS tidaklah cukup bila kita batasi pada pengertian de notative saja. Seperti juga bidang studi yang lain. maka bidang studi IPSpun harus memiliki pengertian Connotative, suatu pengertian yang lebih tinggi yang seharusnya dipelajari oleh murid. a. Konsep adalah kumpulan pengertian abstrak (the abstract body of meaning) yang berkaitan dengan simbol untuk kelas dari suatu benda (obyek) kejadian atau gagasan. b. Konsep bersifat abstrak berisi pengertian yang berhubungan dengan semua anggota kelas yang mungkin (tidak dengan satu contoh khusus dari kelas). c. Konsep adalah subyektif dan internalisasikan. Karena itu setiap orang akan membangun konsepnya sendiri berdasarkan pengalaman, dalam membaca buku, diskusi dan sebagainya sehingga ia menangkap sesuatu atau suatu atribut: a. Konsep bukan suatu verbalisasi/tidak spesifik. b. Konsep adalah kesadaran mental yang bersifat internal yang mempengaruhi perilaku. Menurut Womack (1970), selain memahami konsep yang dibangun berdasarkan pengenalan kita terhadap atribut kelas (penggolongan) dan simbol, juga penting memahami tingkat arti ( level of meaning ) dari sebuah konsep. Ia berpendapat bahwa sebuah konsep studi sosial merupakan kata atau sekumpulan kata (prosa) yang berkaitan dengan satu gambaran tertentu yang menonjol dan bersifat tetap (Certain, vakint, inalienable, features = tetap, menonjol, tak dapat dicabut). Generalisasi adalah hubungan atau beberapa konsep atau adalah rangkaian atau hubungan antarkonsep-konsep. Karena itu generalisasi dapat berbentuk proposisi, hipotesis, inferens, kesimpulan, pemahaman, atau prinsip. Arti generalisasi seperti tersebut di atas digambarkan pada dan dikomunikasikan melalui pernyataan Verbal. Dalam contoh generalisasi tersebut di atas konsep-konsep tentang tanah, tenaga kerja, modal dan produksi. 1. Ciri-ciri generalisasi a. Menunjukkan hubungan dua konsep atau lebih. b. Bersifat umum dan merupakan abstraksi yang menunjukkan path keseluruhan kelas dan bukannya bagian atau contoh. c. Adalah tingkat abstraksi yang lebih tinggi dari sekedar konsep. d. Berdasarkan pada proses dan dikembangkan atas dasar penalaran dan bukan hanya berdasarkan pengamatan semata. e. Berisi pernyataan-pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya dan validasi artinya diuji berdasarkan bukti-bukti yang pasti dengan menggunakan sistem penalaran dan equity. f. Bukanlah sekedar pernyataan yang diverbalkan atau penegasan pernyataan akan tetapi satu kesatuan pengertian. 7.2. Menguasai sejarah kenampakan bentang alam, gejala alam, dan pemanfaatan SDA untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera dan harmonis dalam kehidupan 7.2.1. Menganalisis sejarah kenampakan alam, serta hubungannya dengan keragaman sosial budaya 7.2.2. Merumuskan pemanfaatan dan pemeliharaan SDA untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera dan harmonis dalam kebinekaan Sasaran pengelolaan lingkungan hidup sebagai berikut. Pertama, tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup. Kedua, terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)

dan membina lingkungan hidup. Ketiga, terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan. Keempat, tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup. Kelima, terkendalinya pemanfaatan sumberdaya secara bijaksana. Keenam, terlndungnya NKRI terhadap dampak usaha dan/atau kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. 7.2.3. Mengaitkan penyebab terjadinya gejala-gejala alam, dan bentuk-bentuk bencana alam serta usaha-usaha untuk menghadapinya 7.2.4. Memerinci ciri-ciri kehidupan yang sejahtera dan harmonis 7.3. Menganalisis proses globalisasi dan kerja sama ekonomi luar Indonesia 7.3.1. Menganalisis peran bangsa Indonesia pada era global 7.3.2. Menentukan peran Indonesia dalam kerjasama ekonomi internasional 7.4. Menganalisis berbagai aktivitas ekonomi dan peran uang dalam perekonomian 7.4.1. Menganalisis berbagai aktivitas ekonomi dalam masyarakat

7.4.2. Menentukan peran uang dalam perekonomian 8. Memiliki kompetensi pedagogik pembelajaran IPS 8.1. Mengembangkan kurikulum mata pelajaran IPS 8.1.1. Menyesuaikan materi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran IPS 8.2. Menyelenggarakan pembelajaran IPS yang mendidik 8.2.1. Merencanakan media pembelajaran sesuai karakteristik peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran IPS 8.3. Menyelenggarakan penilaian proses dan hasil belajar IPS 8.3.1. Memilih prinsip-prinsip penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar IPS 8.3.2. Memilih prosedur penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar IPS

Dikembangkan oleh Alumni PJJ S-1 PGSD Universitas Mataram tahun 2010 (Kab. Lombok Utara)