You are on page 1of 10

Harga Moral Generasi Muda

Manusia pasti takkan lepas untuk berhubungan dan bersosialisai antar manusia lainnya. Di dalam berosialisasi sopan santun dalam bertingkah laku sangatlah penting. Sopan santun mencerminkan tingkah laku yang biasa dilakukan oleh seorang manusia dalam kehidupan sehariharinya. Orang lain akan mengukur diri manusia melalui tingkah laku

yang dilakukannya dan bisa menilai kepribadian seseorang. Bukankah sopan santun berakar dari nilai nilai luhur yang tertanam di dalam diri manusia itu sendiri? Seseorang dapat bertingkah laku dengan baik jika dia mempunyai sesuatu nilai nilai luhur yang ada didalam dirinya. Dengan kata lain nilai nilai luhur adalah pedoman hidup (guiding principles) yang digunakan untuk mencapai derajat kemanusiaan yang lebih tinggi, hidup yang lebih bermanfaat, kedamaian dan kebahagiaan. (http://belanegarari.wordpress.com/2009/08/25/) Bagaimana dengan

negara kita, Indonesia? Apakah Indonesia memiliki nilai-nilai luhurnya? Tentu Indonesia memilikinya. Indonesia memiliki ideologi bukan? Ya ideologi bangsa Indonesia adalah Pancasila. Tapi Pancasila tidak hanya sebagai ideologi tapi Pancasila bisa menjadi landasan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Pancasila menjelaskan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia di setiap sila-silanya yang mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia. o Sila Ketuhanan Yang Maha Esa : Masyarakat Minahasa

memiliki petuah pangilikenta waja si Empung si Rumer reindeng rojor (Sekalian kita maklum bahwa yang

memberikan rahmat yakni Tuhan Yang Maha Esa). Konsep ketuhanan dikenal dalam masyarakat Madura dalam nasehat bijak abantal sadat, sapoiman, payung Allah (Iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa). o Sila Kemanusiaan Yang Beradab : Dalam masyarakat Jawa dikenal konsep kemanusiaan dalam bentuk tepo seliro

(tenggang rasa), sepi ing pamrih rame ing gawe (mau bekerja keras tanpa pamrih), gotong royong (berat ringan ditanggung bersama). o Sila Persatuan Indonesia : Diambil dari petuah bijak di Bolaang Mongondow Sulawesi Utara, nabuah pinayung (Tetap bersatu dan rukun). Hal ini juga dikenal di Maluku, dengan slogan kaulete mulowang lalang walidase nausavo sotoneisa etolomai kukuramese upasasi netane kwelenetane ainetane (Mari kita bersatu baik di laut maupun di darat untuk menentang kezaliman). o Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan : Di Lampung, untuk menyelesaikan berbagai persoalan dikenak nasehat bijak tebak cotang di serambi, mupakat dilemsesat (Simpang siur di luar, mufakat di dalam balai). Dan dalam Masyarakat Minangkabau musyawarah dan mufakat berada dalam tataran konsep kemanusiaan dan kekuasaan tertinggi (sovereinitas), yang tercermin dalam peribahasa bulat air oleh pembuluh, bulat kata oleh mufakat (sovereinitas) dan penghulu beraja ke mufakat, mufakat beraja pada kebenaran (konsep kemanusiaan) dan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (konsep religiusitas). o Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia : Di kehidupan sehari-hari kita sering bersikap adil untuk menghindari pertengkaran yang mungkin akan terjadi. Misalnya kakak beradik yang mendapat satu kue tart, maka ibunya meomotong dua kue tsb dan membagikan kuenya secara adil. (http://www.walibarokah.org/) Tapi zaman sekarang nilai-nilai luhur tersebut sudah mulai memudar dan terkubur oleh globalisasi. Hal ini terjadi terutama dikalangan anak-anak dan remaja. Banyak anak-anak dan remaja

tidak mengetahui ideologi bangsa Indonesia. Tidak mengetahui ideologi bangsa Indonesia berarti tidak mengetahui juga nilai-niali luhur dan kepribadian bangsa Indonesia sendiri. Hal ini dapat terjadi karena adanya ketidakpedulian anak-anak terhadap bangsanya sendiri dan juga adanya kemunduran nilai moral dan agama dalam kehidupan masyarakat. Itu merupakan kemunduran besar bagi suatu bangsa. Jika para generasi muda dari awal tidak peduli terhadap bangsanya bagaimana mereka akan memajukan negara Indonesia ini? Misalnya saja seperti berita yang dilangsir oleh okezone.com pada tanggal rabu, 20 Juni 2010. Berita itu menjelaskan bahwa anak-anak telah menjadi korban globalisasi. Anak-anak menggunakan gadget selama 53 jam seminggu . Berarti lebih dari 2 hari anak-anak menggunakan waktunya hanya untuk menggunakan media elektronik. Bukankah waktu sebanyak itu bisa digunakan untuk melakukan hal-hal bermanfaat lainnya? Hal itu bukankah menunjukkan bahwa anak-anak zaman sekarang telah mengalami kemunduran moral? Mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu mereka dengan menggunakan media elektronik. Padahal mereka bisa memilih untuk menghabiskan waktu mereka dengan belajar, membaca buku, beribadah, membantu orang tua ataupun bersosialisai dengan teman sebaya. Anak-anak yang menggunakan gadget elektronik secara berlebihan akan lupa waktu dan lupa akan hak dan kewajibannya. Melupakan hak dan kewajiaban bukanlah salah satu cerminan dari nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam Pancasila khususnya sila kedua. Selain itu anak-anak yang terlalu sering menggunakan gadget elektronik akan lupa untuk melakukan kewajibannya beribadah sebagai seseorang yang

mempunyai agama. Tidak melakukan ibadah bukanlah nilai yang terkandung didalam sila pertama Pancasila. Selain itu anak-anak yang menggunakan gadget elektronik dapat dengan mudah untuk mengakses film-film yang berbau

kekerasan dan seks. Hal itu sangat berbahaya bagi anak-anak. Karena dapat mempengaruhi pembentukan watak dan kepribadian pada anak itu sendiri. Anak-anak yang telah teracuni film-film yang berbau kekerasan lama kelamaan akan melakukan pemberontakan,

pertengkaran, tawuran, teror dan tumbuh menjadi seseorang yang egois, emosian dan mementingkan diri sendiri. Karena menonton film seperti itu dia tidak ingin dirinya megalami kekerasan seperti yang terjadi di dalam film. Pikiran seperti itu telah meracuni pikiran anakanak sejak awal. Sedangkan anak-anak yang sering menonton filmfilm yang berbau seks ingin melakukan perbuatan seperti yang ada di film itu. Dengan adanya keinginan untuk melakukan perbuatan itu, anak-anak sudah berniat untuk melakukan perzinahan. Perzinahan sangatlah dilarang oleh agama. Dan juga anak-anak yang terlalu sering menggunakan gadget elektronik memiliki waktu yang lebih sedikit untuk bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya.

Walaupun ada bukankah anak-anak tersebut akan lebih memilih untuk mehabiskan waktu bersama alat elektronik miliknya dibandingkan dengan bergaul dengan teman sebayanya. Hal ini akan membentuk kepribadian anak-anak menjadi soliter, penyendiri, rendah diri, dan egois. Mereka tidak terbiasa untuk berorganisasi, mengeluarkan aspirasi dan pendapatnya sendiri. Orang seperti itu apakah bisa menghargai pendapat orang lain? Tentu saja tidak. Jadinya anak-anak tidak bisa menjadi pemimpin ataupun anggota yang baik. Dia jadi tidak dapat bermusyawarah menentukan pendapat, menghargai pendapat dan melaksanakan hasil musyawarah itu dengan baik. Jika orang seperti itu ada dalam suatu organisasi atau kelompok rasa persatuan antar anggota kelompok tersebut sulit akan terbentuk. Apakah kepribadian tersebut mencerminkan kepribadian

bangsa Indonesia? Tentu saja tidak. Atau bisa dibilang sangat bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang

terkandung di dalam Pancasila. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Hal-hal yang dilakukan anak-anak seperti yang disebutkan diatas bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor. Faktor terbesar yaitu karena tidak adanya pengawasan orangtua. Orang tua hanya memberikan gadget elektronik kepada anak tanpa mempertimbangkan dampak gadget elektronik tersebut untuk perkembangan anak. Orang tua tidak memberikan batasan ataupun ketegasan kepada anak tentang penggunaan gadget elektronik tersebut. Keadaaan tersebut juga diperparah dengan tuntutan zaman yang mewajibkan anak-anak memiliki gadget elektronik. Bila anak-anak tidak memiliki benda tersebut mereka dianggap tidak keren. Faktor terbesar lainnya

adalah karena adanya kemunduran moral dan agama yang dialami oleh anak-anak. Hal itu sangat berbahaya karena agama merupakan pegangan bagi seseorang untuk bertindak. Dengan adannya

kemunduran tersebut membuat anak-anak menjadi tidak mengetahui batasan dalam menggunakan gadget elektronik. Tidak heran jika tawuran pelajar, tindak kekerasan,

pelanggaran HAM yang dialkukan oleh anak-anak ataupun remaja semakin sering terjadi. Seperti berita tanggal 26 November 2008 yang berjudul Tawuran Pelajar, Dua Luka Parah. (http://news.okezone.com) Itu menunjukkan bahwa kejadian tersebut terjadi berasal dari kepribadian anak itu sendiri. Berita itu menjelaskan bahwa tawuran tersebut terjadi dikarenakan adanya dendam di salah satu pihak. Jika anak-anak dan remaja dari awal sudah memiliki agama yang kuat kejadian tersebut tidak mungkin akan terjadi. Dengan tidak adanya nilai agama dalam diri anak-anak bisa menyebabkan dewasanya nanti mereka tidak mengetahui makna sesungguhnya dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Contohnya saja seperti para koruptor, koruptor memiliki otak yang pintar tetapi mereka tidak memiliki imtaq yang baik. Sehingga mereka tidak bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk. Dan itu sangat

berbahaya. Percuma memiliki otak yang pintar jika tidak memiliki imtaq. Tentunya kejadian tersebut dapat dicegah. Dari uraian diatas banyak cara dapat dilakukan sebagai tindakan pencegahan

diantaranya : 1. Menanamkan nilai-nilai moral dan agama ke dalam diri anakanak sejak dini . Orang tualah yang menjadi akar untuk melakukan itu. Karena segala sesuatu berawal dari

keluarga. Di lingkungan keluargalah kepribadian anak-anak mulai terbentuk. 2. Menanamkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia ke dalam diri anak-anak. Dengan mengetahui nilai-nilai luhur bangsanya sendiri dapat memupuk rasa cinta tanah air ke dalam diri anak-anak. Dan juga dapat menjadi tameng untuk anakanak agar mereka tidak mudah terpengaruh oleh budaya negara lain. 3. Membiasakan anak-anak melaksanakan kewajibannya dan menerima haknya dengan baik. Dengan begitu anak-anak tidak akan merasa tertekan dan terhindar untuk tidak melakukan tindakan kekerasan. 4. Membatasi waktu anak-anak dalam menggunakan gadget elektronik. Jangan sampai menggunakan gadget elektronik menjadi gaya hidup bagi anak-anak. Menggunakan gadget elektronik hanya sebatas sebagai hiburan untuk anak-anak. Karena penggunaan gadget elektronik berpengaruh dalam pembentukan karakter anak-anak. 5. Melakukan pengawasan terhadap anak-anak. Itu dilakukan guna mencegah anak-anak melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat.

6. Membantu anak-anak mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang bermanfaat. Seperti ikut serta dalam kegiatan yang akan dilakukan oleh anak-anak. 7. Membantu anak-anak untuk memulai kebiasaan membaca buku. Karena dengan begitu pikiran anak-anak akan lebih terbuka. 8. Membiasakan diri untuk beorganisasi. Sehingga anak-anak belajar menjadi pemimpin dan belajar untuk menjadi pendengar yang baik. Sehingga anak-anak pun bisa melakukan musyawarah mufakat dengan baik. 9. Menceritakan kepada anak-anak tentang sejarah

terbentuknya bangsa Indonesia. Dengan begitu akan tertanam jiwa yang mulia di dalam diri anakanak. Anak-anak akan bisa memiliki kesadaran beragama, sikap nasionalisme, mengetahui jati diri bangsa, kepribadian yang baik, dan sikap berorganisasi yang baik. Serta anak-anak dapat mengetahui yang mana perbuatan yang baik dan buruk. Tapi tindakan pencegahan itu tidak akan berhasil jika anak-anak tidak memiliki keinginan untuk melakukan tindakan-tindakan tersebut. Segala usaha akan berhasil jika ada kemauan. Tetapi walaupun begitu anak-anak akan tetap bisa mengetahui manfaat dari tindakan pencegahan tersebut. Dapat kita simpulkan bahwa nilai-nilai luhur yang ada didalam diri sesorang, kelompok atau bahkan negara sekalipun sangatlah penting. Karena nilai-nilai luhur lah yang membentuk identitas diri dan kepribadian diri. Bahkan teknologi membantu menentukan arah terbentuknya

kepribadian seseorang.

Apakah nilai-nilai luhur itu terbentuk dengan

sendirinya? Nilai-nilai luhur dapat diambil dari nilai-nilai agama yang ada di kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai luhur tentu mengajarkan bahwa agama, kepribadian, otak dan pikiran haruslah seimbang. Tanpa agama kita bagaikan orang linglung yang mencoba berjalan di dunia ini. Tidak punya kepribadian bagaikan orang tanpa nama. Tanpa otak dan pikiran

bagaikan orang tanpa kepala. Jika tidak ada keseimbangan dalam hidup bukankah akan terjadi kebingungan? Oleh karena itu mulailah dari sekarang untuk mulai mengenal nilai-nilai luhur bangsa sendiri dan nilainilai agama. Dan tak lupa untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Daftar Pustaka (http://belanegarari.wordpress.com/2009/08/25/ diunduh tanggal 25 Agustus 2009) (http://www.walibarokah.org/ diunduh tanggal 1 Juni 2011) (http://news.okezone.com diunduh tanggal 26 November 2008 dan 20 Juni 2010)

Biodata Diri Nama Sekolah Kelas Usia Alamat : Nindi Deshera Putri : SMA Plus Negeri 17 Palembang : X.C : 14 tahun : Btn Keban Agung Blok A1 No.3 Tanjung Enim, Sum-sel Nomor Telepon : 085381308586 / 081377667407