You are on page 1of 10

Referat Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut

PULPITIS

Oleh: Yessi Oktiari G0006026

Penguji: drg. Widia Susanti

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT GIGI DAN MULUT FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA 2010

PULPITIS

I.

Pendahuluan

A. Definisi Pulpitis Menurut Henry H. Burchard (2009), pulpitis adalah fenomena peradangan dalam jaringan pulpa. Pulpitis merupakan peradangan pulpa, kelanjutan dari hiperemi pulpa, yaitu bakteri yang telah menggerogoti jaringan pulpa. Menurut Ingle, atap pulpa mempunyai persyarafan terbanyak dibanding bagian lain pada pulpa. Jadi, saat melewati pembuluh saraf yang terbanyak ini, bakteri akan menimbulkan peradangan awal dari pulpitis akut (Tarigan, 2002). Peradangan merupakan reaksi jaringan ikat vaskuler yang sangat penting terhadap cedera. Reaksi pulpa sebagian disebabkan oleh lama dan intensitas rangsangnya. Rangsang yang ringan dan lama bisa menyebabkan peradangan kronik, sedangkan rangsang yang berat dan tiba-tiba besar kemungkinan mengakibatkan pulpitis akut (Walton dan Torabinejad, 2003). B. Klasifikasi Pulipitis Menurut Tarigan (2009), klasifikasi pulpitis adalah sebagai berikut. Berdasarkan sifat eksudat yang keluar dari pulpa, pulpitis terbagi atas: 1. Pulpitis akut serosa Secara struktur, jaringan pulpa sudah tidak dikenali lagi, tetapi sel-selnya masih terlihat jelas. Pulpitis akut dibagi menjadi pulpitis akut serosa parsialis yang hanya mengenai jaringan pulpa di bagian kamar pulpa saja dan pulpitis akut serosa totalis jika telah mengenai saluran akar. 2. Pulpitis akut fibrinosa Banyak ditemukan fibrinogen pada pulpa. 3. Pulpitis akut hemoragi Di jaringan pulpa terdapat banyak eritrosit.

4.

Pulpitis akut purulenta Terlihat infiltrasi sel-sel masif yang berangsur berubah menjadi peleburan jaringan pulpa. Bergantung pada keadaan pulpa, dapat terjadi pernanahan dalam pulpa: a. Pada beberapa bagian terjadi peleburan jaringan pulpa sehingga terbentuk abses. b. Pernanahan terajadi berkesinambungan sehingga terjadi flegmon pada pulpa yang menghancurkan keseluruhan jaringan pulpa.

Berdasarkan ada tidaknya gejala, pulpitis terbagi atas: 1. Pulpitis simtomatis Pulpitis ini merupakan respons peradangan dari jaringan pulpa terhadap iritasi, dengan proses eksudatif memegang peranan. Rasa sakit timbul karena adanya peningkatan tekanan intrapulpa. Rasa sakit ini berkisar antara ringan sampai sangat hebat dengan intensitas tinggi, terus menerus, dan berdenyut. Yang termasuk dalam pulpitis simtomatis adalah: a. Pulpitis akut

b. Pulpitis akut dengan periodontitis apikalis akut/ kronis c. Pulpitis subakut

Gambaran radiografi memperlihatkan adanya karies yang luas dan dalam, kadang-kadang terjadi sedikit pelebaran ligamen periodontal. Pada pulpitis simtomatis yang disertai periodontitis apikalis terjadi kepekaan terhadap perkusi. Rangsangan panas akan menyebabkan sakit, sebaliknya rasa sakit berkurang dengan adanya rangsang dingin. Pada stadium awal, gigi menunjukkan kepekaan yang tinggi terhadap tes elektrik, selanjutnya kepekaan ini berkurang sejalan dengan keparahan penyakit. 2. Pulpitis asimtomatis Merupakan proses peradangan yang terjadi sebagai mekanisme pertahanan dari jaringan pulpa terhadap iritasi dengan proses proliferasi berperan di sini. Tidak ada rasa sakit karena adanya pengurangan dan keseimbangan tekanan intrapulpa. Yang termasuk pulpitis asimtomatik:

a.

Pulpitis kronik ulseratif

b. Pulpitis kronik hiperplastik c. Pulpitis kronis yang bukan disebabkan oleh karies (prosedur operatif, trauma, gerakan ortodonti) Berdasarkan gambaran histopatologi dan diagnosis klinis, pulpitis terbagi atas: 1. Pulpitis reversibel Yaitu vitalitas jaringan pulpa masih dapat dipertahankan setelah perawatan ortodonti. Yang termasuk pulpitis reversibel adalah: a. c. 2. Peradangan pulpa stadium transisi Pulpitis akut

b. Atrofi pulpa Pulpitis ireversibel Yaitu keadaan ketika vitalitas jaringan pulpa tidak dapat dipertahankan, tetapi gigi masih dapat dipertahankan di rongga mulut setelah perawatan endodonti dilakukan. Yang termasuk pulpitis ireversibel adalah: a. Pulpitis kronis parsialis tanpa nekrosis

b. Pulpitis kronis parsialis dengan nekrosis c. e. Pulpitis kronis koronalis dengan nekrosis Pulpitis kronis eksaserbasi akut d. Pulpitis kronis radikulairs dengan nekrosis

II.

Pulpitis Reversibel

A. Pengertian Pulpitis reversibel adalah inflamasi pulpa yang tidak parah. Jika penyebabnya dihilangkan, inflamasi akan menghilang dan pulpa kembali normal (Walton dan Torabinejad, 2003). B. Patofisiologi Pulpitis awal dapat terjadi karena karies dalam, trauma, tumpatan resin komposit/ amalgam/ ionomer gelas. Gambaran mikroskopis ditandai oleh lapisan odontoblas rusak, vasodilatasi, udem, sel radang kronis, kadang sel radang akut (Standar Pelayanan Medis, 1999).

C. Faktor penyebab Faktor-faktor yang dapat mengakibatkan pulpitis reversibel adalah stimulus ringan atau sebentar seperti karies insipien, erosi servikal, atau atrisi oklusal, sebagian besar prosedur operatif, kuretasi periodontium yang dalam, dan fraktur email yang menyebabkan tubulus dentin terbuka (Walton dan Torabinejad, 2003). D. Gejala Pulpitis reversibel simtomatik ditandai oleh rasa sakit tajam yang hanya sebentar. Lebih sering diakibatkan oleh makanan dan minuman dingin dari pada panas dan oleh udara dingin. Tidak timbul spontan dan tidak berlanjut bila penyebabnya ditiadakan. Perbedaan klinis antara pulpitis reversibel dan ireversibel adalah kuantitatif; rasa sakit pulpitis ireversibel adalah lebih parah dan berlangsung lebih lama. Pada pulpitis reversibel, penyebab sakit umumnya peka terhadap stimulus, seperti air dingin atau aliran udara, sedangkan pada pulpitis ireversibel rasa sakit datang tanpa stimulus yang nyata. Pulpitis reversibel asimtomatik dapat disebabkan karena karies yang baru mulai dan menjadi normal kembali setelah karies dihilangkan dan gigi direstorasi dengan baik (Grossman et al, 1995.). E. Pemeriksaan Diagnosis berdasarkan suatu studi mengenai gejala pasien dan berdasarkan tes klinik. Rasa sakitnya tajam, berlangsung beberapa detik, dan umumnya berhenti bila stimulusnya dihilangkan. Dingin, manis, atau asam biasanya menyebabkan rasa sakit. Rasa sakit dapat menjadi kronis. Meskipun masingmasing paroksisme (serangan hebat) mungkin berlangsung sebentar, paroksisme dapat berlanjut berminggu-miggu bahkan berbulan-bulan. Pulpa dapat sembuh sama sekali atau rasa sakit tiap kali dapat berlangsung lebih lama dan interval keringanan dapat menjadi lebih pendek, sampai akhirnya pulpa mati. Karena pulpa sensitif terhadap perubahan temperatur, terutama dingin, aplikasi dingin merupakan suatu cara untuk menemukan dan mendiagnosis gigi yang terlibat. Sebuah gigi dengan pulpitis reversibel secara normal bereaksi terhadap perkusi, palpasi, dan mobilitas, dan pada pemeriksaan radiografik jaringan apikal adalah normal (Grossman et al, 1995.).

F. Diagnosis Banding Pada pulpitis reversibel, rasa sakit umumnya tidak terus menerus, berlangsung beberapa detik, sedangkan pada pulpitis ireversibel, rasa sakit dapat berlangsung beberapa menit atau lebih lama. Gambaran pasien mengenai rasa sakit, terutama mengenai permulaannya, sifatnya dan lamanya, sering merupakan bantuan yang tidak ternilai sampai pada diagnosis banding yang tepat. Tes termal berguna untu menemukan gigi bersangkutan bila tidak diketahui. Tes pulpa listrik, menggunakan lebih sedikit arus dibandingkan pada gigi kontrol, merupakan suatu tes menguatkan yang baik (Grossman et al, 1995.). G. Perawatan Menghilangkan iritan dan menutup serta melindungi dentin yang terbuka atau pulpa vital biasanya akan menghilangkan gejala (jika ada) dan memulihkan proses inflamasi jaringan pulpa. Akan tetapi jika iritasi ini berlanjut atau intensitasnya meningkat, inflamasi akan berkembang menjadi sedang bahkan parah yang akhirnya menjadi pulpitis ireversibel dan bahkan nekrosis (Walton dan Torabinejad, 2003). H. Prognosis Prognosa baik, bila iritasi diambil cukup dini, jika tidak kondisinya dapat berkembang menjadi pulpitis irreversibel (Grossman et al, 1995).

III.

Pulpitis Ireversibel

A. Pengertian Pulpitis ireversibel seringkali merupakan akibat atau perkembangan dari pulpitis reversibel. Pulpitis ireversibel merupakan inflamasi parah yang tidak bisa pulih walaupun penyebabnya dihilangkan. Cepat atau lambat pulpa akan menjadi nekrosis (Walton dan Torabinejad, 2003). B. Patofisologi Radang pulpa akut akibat karies yang lama. Kerusakan jaringan pulpa mengakibatkan gangguan sistem mikrosirkulasi pulpa yang berakibat udem, syaraf tertekan, dan menimbulkan nyeri hebat (Standar Pelayanan Medis, 1999).

C. Faktor penyebab Kerusakan pulpa yang parah akibat pengambilan dentin yang luas selama porsedur operatif atau terganggunya aliran darah pulpa akibat trauma atau pergerakan gigi dalam perawatan ortodonsia dapat pula menyebabkan pulpitis ireversibel (Walton dan Torabinejad, 2003). D. Gejala Gejala pulpitis ireversibel biasanya asimtomatik atau pasien hanya mengeluhkan gejala yang ringan. Akan tetapi, pulpitis reversibel dapat juga diasosiasikan dengan nyeri spontan (tanpa stimuli eksternal) yang intermiten atau terus-menerus. Nyeri pulpitis ireversibel dapat tajam, tumpul, setempat, atau difus (menyebar) dan bisa berlangsung hanya beberapa menit atau berjam-jam. Menentukan lokasi nyeri pulpa lebih sulit dibandingkan dengan nyeri periradikuler dan menjadi lebih sulit ketika nyerinya semakin intens. Aplikasi stimulus eksternal seperti dingin atau panas dapat mengakibatkan nyeri berkepanjangan (Walton dan Torabinejad, 2003). E. Pemeriksaan Jika inflamasi hanya terbatas pada jaringan pulpa dan tidak menjalar ke periapeks, respons gigi terhadap palpasi dan perkusi berada dalam batas normal. Penjalaran inflamasi hingga mencapai ligamen periodontium akan mengakibatkan gigi peka terhadap perkusi dan nyerinya lebih mudah ditentukan tempatnya (Walton dan Torabinejad, 2003). F. Perawatan Perawatan endodontik disesuaikan dengan keadaan gigi, yaitu gigi apeks terbuka dan gigi apeks tertutup. Pada dewasa muda dengan pulpitis ringan dilakukan pulpotomi (Ca(OH)2) dan pada pulpitis yang berlangsung lama dilakukan pulpotomi foromoeresol menunggu apeksogenesis. Pada gigi dewasa dengan perawatan saluran akar dan dilanjutkan restorasi yang sesuai (Standar Pelayanan Medik, 1995).

IV.

Pulpitis Kronik Hiperplastik

A. Pengertian Pulpitis kronik hiperplastik adalah bentuk pulpitis ireversible akibat bertumbuhnya pulpa muda yang terinflamasi secara kronik hingga ke permukaan oklusal. Biasanya ditemukan pada mahkota yang karies pada pasien muda. Pulpa polip biasanya diasosiasikan dengan kayanya pulpa muda akan pembuluh darah, memadainya tempat terbuka untuk drainase, dan adanya proliferasi jaringan (Walton dan Torabinejad, 2003). B. Patofisiologi Pulpitis kronik hiperplsatik umumnya terjadi pada anak-anak dan remaja yang memiliki resistensi dan reaktivitas jaringan yang tinggi. Lesi proliferatif terjadi pada karies yang terbuka dan lebar.Jaringan hiperplastik hanya mengandung sediki saraf, sehingga kurang peka terhadap manipulasi (Rajendran dan Sivapathasundaram, 2009). C. Gejala dan pemeriksaan Polip pulpa biasanya asimtomatik dan terlihat sebagai benjolan jaringan ikat seperti kol yang berwarna kemerah-merahan mengisi kavitas karies di permukaan oklusal yang besar. Hal ini kadang-kadang diasosiasikan dengan tanda-tanda klinis pulpitis ireversibel seperti nyeri spontan serta nyeri yang menetap terhadap stimulus panas dan dingin . Ambang rangsang terhadap stimulus elektrik adalah sama dengan pulpa normal. Respon gigi terhadap palapasi atau perkusi normal (Walton dan Torabinejad, 2003).

Gambar pulpitis kronik hiperplastika (Courtesy of Dr. Douglas Holmes, Morgantown, WV.)

D. Perawatan Perawatannya adalah pulpotomi, perawatan saluran akar atau ekstraksi (Walton dan Torabinejad, 2003).

Daftar Pustaka Burchard, H. H. 2009. A Text-book Of Dental Pathology and Therapeutics, for Students and Practitioners. Michigan: Lea brothers & co. Grosmman et al. 1995. Ilmu Edodontik Dalam Praktek. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Rajendran R. and Sivapathasundaram B. 2009. Shafers Text-book Of Oral Pathology 6th Ed. New Delhi: Elsevier. Tarigan R. 2002. Perawatan Pulpa Gigi (Edodonti). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Walton R. E. dan Torabijad M. 2003. Prinsip dan Praktik Ilmu Edodonsia. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. www.drchetan.com (26 Desember 2010)