You are on page 1of 13

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Pembangunan adalah proses natural mewujudkan citacita bernegara yaitu terwujudnya masyarakat makmur, sejahtera secara adil dan merata. Kesejahteraan ditandai dengan kemakmuran, yaitu meningkatnya konsumsi yang disebabkan oleh meningkatnya pendapatan. Pendapatan meningkat sebagai hasil produksi yang semakin meningkat pula. Proses natural tersebut dapat dilaksanakan jika asumsiasumsi pembangunan yang ada, yaitu kesempatan kerja atau partisipasi masyarakat secara penuh. Setiap orang memiliki kemampuan yang sama dan masingmasing pelaku bertindak rasional dapat dipenuhi. Namun demikian dalam kenyataan asumsiasumsi tersebut sangat sulit dipenuhi. Pasar sering kali tak mampu memanfaatkan tenaga kerja dan sumber daya alam sedemikian rupa, sehingga tak mampu berada pada kondisi full employment. Selain itu produktivitas pelaku ekonomi sangat beragam. Kondisi tersebut diperburuk oleh kenyataan bahwa setiap pelaku ekonomi mendasarkan pasar atas pertimbangan yang rasional dan efisien. Dalam kondisi demikian pasar atau ekonomi telah terdistorsi. Dalam jangka panjang hal tersebut akan melahirkan masalah pembangunan, seperti kesenjangan, pengangguran dan pada akhirnya kemiskinan (Wrihatnolo dan Dwidjowijoto, 2007). Untuk itu di tengah kondisi distortif tersebut, proses natural dalam pembangunan tidak dapat terjadi begitu saja. Proses natural harus diciptakan 1 2 melalui intervensi pemerintah, dengan kebijakankebijakan yang akan mendorong terciptanya kondisi yang mendekati asumsiasumsi pembangunan. Menurut Wrihatnolo dan Dwidjowijoto (2007), disebutkan bahwa dalam pelaksanaan pembangunan nasional ada tiga pertanyaan pokok yang perlu dijawab yaitu: 1) Pembangunan perlu diletakkan pada arah perubahan struktur. 2) Pembangunan perlu diletakkan pada pemberdayaan masyarakat untuk menuntaskan masalah kesenjangan berupa pengangguran, kemiskinan dan ketidakmerataan dengan memberikan ruang dan kesempatan yang lebih besar kepada rakyat banyak untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan. 3) Pembangunan perlu diletakkan pada arah koordinasi lintas sektoral mencakup program pembangunan antar sektor, pembangunan antar daerah, dan pembangunan khusus. Dalam pelaksanaannya, usaha untuk menjawab ketiga arah pembangunan itu harus dilaksanakan secara terpadu, terarah dan sistematis, pemberian ruang lingkup dan kesempatan yang lebih besar kepada rakyat untuk berpartisipasi dapat bersinergi dengan upaya untuk menanggulangi masalah pengangguran, kemiskinan dan ketidakmerataan. Kebutuhan manajemen pemberdayaan mendapatkan relevansinya dalam upaya pemerintah menanggulangi kemiskinan, masalah kemiskinan menjadi pembicaraan banyak pihak karena kemiskinan merupakan masalah multisektoral dan menjadi tanggung jawab semua pihak, baik dari tingkat kementerian/lembaga maupun individu masyarakat. Perhatian serius pada keluarga miskin dilihat dari kebijakankebijakan aktivitas yang dilakukan pemerintah yang sasarannya adalah keluarga miskin (Wrihatnolo dan 3 Dwidjowijoto, 2007).

Kemiskinan merupakan permasalahan yang harus segera tuntas, karena kemiskinan membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lemah. Kondisi kemiskinan yang tengah dihadapi Indonesia dapat dilihat dari pendekatan konsumsi penduduk miskin, kemiskinan multidimensi dan kesenjangan antar wilayah. Penerapan pemberdayaan dalam menanggulangi kemiskinan secara konseptual dapat dilakukan oleh empat jalur strategis, yaitu perluasan kesempatan kerja, pemberdayaan masyarakat, peningkatan kapasitas dan perlindungan sosial. Strategi perluasan kesempatan kerja ditujukan untuk menciptakan kondisi dan lingkungan ekonomi, politik dan sosial yang memungkinkan masyarakat miskin baik laki- laki maupun perempuan dapat memperoleh kesempatan seluas-luasnya dalam memenuhi kebutuhan dasar dan peningkatan taraf hidup secara berkelanjutan. Strategi pemberdayaan masyarakat dilakukan untuk memperkuat kelembagaan sosial, politik, ekonomi dan budaya masyarakat, dan memperluas partisipasi masyarakat miskin baik lakilaki maupun perempuan dalam pengambilan keputusan kebijakan publik yang menjamin penghormatan, perlindungan dan pemenuhan kebutuhan dasar. Strategi peningkatan kapasitas dilakukan untuk mengembangkan kemampuan dasar dan kemampuan berusaha masyarakat miskin agar dapat memanfaatkan perkembangan lingkungan. Strategi perlindungan sosial dilakukan untuk memberikan perlindungan dan rasa aman bagi kelompok rentan dan masyarakat miskin baru yang disebabkan oleh bencana alam, dampak negatif krisis ekonomi dan konflik sosial. 4 Dari keempat jalur strategi tersebut yaitu khususnya strategi pemberdayaan masyarakat sangat memegang peranan penting dalam mendorong penduduk miskin untuk secara kolektif terlebih dalam proses pengambilan keputusan termasuk penanggulangan kemiskinan yang mereka alami sendiri, masyarakat bukan sebagai obyek. Semakin berdayanya masyarakat miskin ditandai dengan bertambahnya kesempatan kerja yang diciptakan sendiri oleh penduduk miskin secara kolektif yang pada akhirnya akan memberikan tambahan penghasilan, meringankan beban konsumsi, serta meningkatkan nilai simpanan/aset keluarga miskin, semakin berdayanya penduduk miskin juga ditandai dengan semakin meningkatnya kapasitas penduduk miskin secara kolektif dalam mengelola organisasi pembangunan secara mandiri. Upaya penanggulangan kemiskinan yang telah dilakukan oleh pemerintah selama ini ternyata masih dihadang oleh berbagai permasalahan, mulai dari permasalahan sosial, ekonomi, politik dan keamanan. Dampak yang ditimbulkan oleh krisis moneter dan ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997 dan tragedi Bom Bali I pada tahun 2002 mengakibatkan semakin tidak berdayanya rumah tangga miskin dalam memenuhi kebutuhan dasar. Ketidakberdayaan mereka disebabkan antara lain hilangnya mata pencaharian, melemahnya daya beli, dan produk-produk industri kerajinan sepi pembeli karena jumlah kunjungan wisata menurun. Menurunnya kunjungan wisata akibat tragedi Bom Bali I membawa dampak yang luas karena selama ini Bali dalam pembangunannya sangat bertumpu pada sektor pariwisata. Kemiskinan merupakan fenomena global yang sangat memprihatinkan, 5 bagaimana tidak, dari tahun ke tahun masalah kemiskinan ini tidak kunjung surut bahkan cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan

masyarakat serta menurunnya kondisi perekonomian negara Indonesia. Kemiskinan merupakan masalah yang pada umumnya dihadapi hampir di semua negara-negara berkembang, terutama negara yang padat penduduknya seperti Indonesia. Dari seminar ke simposium, dari lokakarya ke semiloka, dari model top-down ke model bottom-up, dan variasinya program intervensi, pada akhirnya tetap menyisakan persoalan sepertinya tidak mampu menekan drastis angka kemiskinan. Kemiskinan merupakan masalah bersama yang harus ditanggulangi secara serius, kemiskinan bukanlah masalah pribadi, golongan bahkan pemerintah saja, akan tetapi hal ini merupakan masalah warga negara Indonesia. Kepedulian dan kesadaran antar sesama warga diharapkan dapat membantu menekan tingkat kemiskinan di Indonesia. Ketimpangan distribusi pendapatan dan kemiskinan umumnya disebabkan oleh ketidakmerataan sumber-sumber atau faktor produksi, antara lain rendahnya akses pendidikan, kesehatan, gizi dan akses akan kepemilikan tanah, modal serta fasilitas-fasilitas lain yang dapat dipergunakan untuk mengembangkan atau meningkatkan pendapatan penduduk. Ketimpangan dapat semakin luas akibat proses pembangunan mengalami polarisasi pertumbuhan antar sektor modern di daerah perkotaan dan sektor tradisional di daerah perdesaan (Sumodiningrat, 1977). 6 Pendapatan merupakan salah satu indikator untuk mengukur kesejahteraan seseorang atau masyarakat, sehingga pendapatan masyarakat ini mencerminkan kemajuan ekonomi suatu masyarakat. Kemajuan ini dapat dilihat dari empat aspek, yaitu: tingkat pendapatan, pertumbuhan dan perkembangan pendapatan serta distribusi pendapatan. Keempat aspek pendapatan tersebut dalam perekonomian yang kegiatannya diatur dan dilaksanakan secara berencana hendaknya berjalan seimbang agar tercapai stabilitas ekonomi yang mantap dan dinamis. Pembangunan kota sebagai salah satu realisasi pembangunan nasional, terlihat menyolok terjadi di banyak kota. Perubahan-perubahan fisik telah terjadi di kota-kota tersebut. Jalan-jalan semakin lebar, fasilitas yang lengkap serta adanya pembangunan gedung-gedung yang tinggi. Sejalan dengan perubahan fisik tersebut aktivitas penduduk kota semakin padat. Pembangunan kota yang berjalan dengan cepat tersebut menarik penduduk dari desa-desa sekitar kota untuk memasuki kota dan mencari rezeki di kota besar. Kota-kota besar seakan-akan memberikan tawaran dan jaminan kesempatan berusaha dan hidup yang lebih baik serta menyenangkan. Masalah urbanisasi menimbulkan permasalahan baru di bidang sosial, ekonomi dan pemukiman bagi kota. Beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab kemiskinan diantaranya (1) tekanan ekonomi karena krisis dan berbagai tragedi yang mengikutinya, (2) kurang tepatnya berbagai program penanggulangan tersebut yang tidak berdasar penyebab kemiskinan. Terkait dengan penyebab kemiskinan Sharp.et al. (1996) mengidentifikasikan penyebab kemiskinan dipandang dari sisi ekonomi: pertama, 7 kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang. kedua, akibat perbedaan kualitas sumber daya manusia, dan ketiga, kemiskinan muncul akibat perbedaan akses modal. Seharusnya penanggulangan kemiskinan itu megacu kepada faktor

penyebab dikaitkan dengan potensi wilayah, dimana penduduk miskin berada. Hal ini dimaksudkan agar efektivitas penanggulangan kemiskinan semakin meningkat. Pada tahun 1999, pemerintah juga mengambil kebijakan dengan melaksanakan Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) kepada masyarakat yang tergolong miskin di perkotaan. Adapun tujuan dari Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) adalah sebagai suatu upaya pemerintah untuk membangun kemandirian masyarakat dan pemerintah daerah dalam menanggulangi kemiskinan secara berkelanjutan. Program ini sangat strategis karena menyiapkan landasan kemandirian masyarakat berupa institusi kepemimpinan masyarakat yang representatif, mengakar dan menguat bagi perkembangan modal sosial (social capital) masyarakat di masa mendatang serta menyiapkan kemitraan masyarakat dengan pemerintah daerah dan kelompok peduli setempat. Lembaga kepemimpinan masyarakat yang mengakar, representatif dan dipercaya tersebut (secara genetik disebut Badan Keswadayaan Masyarakat atau disingkat BKM) dibentuk melalui kesadaran kritis masyarakat untuk menggali kembali nilai-nilai luhur kemanusiaan dan nilai-nilai kemasyarakatan sebagai pondasi modal social (Capital Social) kehidupan masyarakat. Dengan demikian, Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) selain diharapkan mampu menjadi 8 wadah perjuangan kaum miskin dalam menyuarakan aspirasi dan kebutuhan mereka, sekaligus menjadi motor bagi upaya penanggulangan kemiskinan yang dijalankan oleh masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan, mulai dari proses penentuan kebutuhan, pengambilan keputusan, proses penyusunan program hingga pemanfaatan dan pemeliharaan. Tiap Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) bersama masyarakat telah menyusun Perencanaan Jangka Menengah Program Penanggulangan Kemiskinan (PJM Pronangkis) secara partisipatif, sebagai prakarsa masyarakat untuk menanggulangi kemiskinan di wilayahnya secara mandiri. Atas fasilitasi pemerintah dan prakarsa masyarakat, BKM-BKM ini mulai menjalin kemitraan dengan pemerintah daerah dan kelompok peduli setempat. Sejak pelaksanaan Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP)-1 hingga pelaksanaan P2KP-3 saat ini telah terbentuk sekitar 6.405 BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) yang tersebar di 1.125 Kecamatan di 235 Kota/Kabupaten, telah memunculkan lebih dari 291.000 relawan-relawan dari masyarakat setempat, serta telah mencakup 18,9 juta orang pemanfaat (penduduk miskin) melalui 243.838 KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat). Mempertimbangkan perkembangan positif Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) tersebut, Pemerintah Indonesia telah menetapkan kebijakan untuk memperluas jangkauan wilayah dan keberlanjutan pelaksanaan Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP), dengan mengalokasikan tambahan dana yang cukup signifikan. 9 Keberlanjutan pelaksanaan Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) ini sangat penting mengingat kontribusi Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) P2KP saat ini baru membiayai sekitar 10-15 persen dari kebutuhan program yang disusun masyarakat (Perencanaan Jangka Menengah Program Penanggulangan Kemiskinan (PJM Pronangkis), sehingga upaya penanggulangan kamiskinan masih belum optimal. Sedangkan perluasan wilayah

sasaran dilakukan dalam rangka upaya mengurangi jumlah penduduk miskin menjadi 8,2 persen dari total penduduk Indonesia pada Tahun 2009. Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) hadir untuk melaksanakan amanah Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) yang menempatkan penanggulangan kemiskinan sebagai prioritas mendesak untuk segera ditangani. Upaya menanggulangi kemiskinan merupakan usaha yang tidak dapat diselesaikan dalam waktu tertentu. Penanggulangan kemiskinan merupakan suatu proses yang tidak pernah boleh berhenti karena kemiskinan itu sendiri sangat dinamis. Dalam P2KP, masalah kemiskinan dipandang bukan suatu hal yang terjadi dengan sendirinya, melainkan karena sebagai akibat dari suatu kebijakan. Masalah kemiskinan lebih cenderung merupakan suatu masalah kebijakan politik yang berkaitan dengan masalah kebijakan pembangunan pada umumnya (di segala bidang), baik di level atas maupun di level bawah. Dalam hal kebijakan pembangunan, tampak jelas lemahnya atau ketidakberdayaan posisi masyarakat terutama kelompok masyarakat miskin atau lapis bawah (grass roots) dalam 10 proses pengambilan keputusan. Bagaimana program pembangunan atau penanggulangan kemiskinan dapat berhasil apabila kebijakan atau sasarannya salah. Sering terlihat kurangnya koordinasi antar program pembangunan, tetapi justru menunjukkan indikasi adanya ego sektoral antar instansi, sehingga program-program tersebut terkesan kurang saling mendukung. Berbagai program-program intervensi tersebut, dalam kenyataannya cenderung kurang terkoordinasi dan berjalan sendiri-sendiri. Keterkaitan secara keseluruhan sangat lemah, sehingga terkadang memancing terjadinya kebingungan hingga friksi-friksi antar stakeholders di daerah. Kondisi ini bahkan dipicu dengan banyaknya program-program dengan jargon pemberdayaan masyarakat dan program sektoral pusat, yang mem-by pass (melompati dan tidak menganggap) peran penting pemerintah daerah. Pada masa otonomi daerah, sangat ironis apabila masalah tersebut terjadi, karena di daerah otonomlah sebagai terminal titik koordinasi bertemunya aspirasi dari bawah dan kebijakan dari atas dipertemukan. Di Indonesia program-program penanggulangan kemiskinan sudah banyak pula dilaksanakan, seperti : pengembangan desa tertinggal, perbaikan kampung, gerakan terpadu pengentasan kemiskinan. Sekarang pemerintah menangani program tersebut secara menyeluruh, terutama sejak krisis moneter dan ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997, melalui program-program Jaring Pengaman Sosial (JPS). Dalam JPS ini masyarakat sasaran ikut terlibat dalam berbagai kegiatan. 11 Sedangkan, P2KP sendiri sebagai program penanggulangan kemiskinan di perkotaan lebih mengutamakan pada peningkatan pendapatan masyarakat dengan mendudukan masyarakat sebagai pelaku utamanya melalui partisipasi aktif. Melalui partisipasi aktif dari masyarakat miskin sebagai kelompok sasaran tidak hanya berkedudukan menjadi obyek program, tetapi ikut serta menentukan program yang paling cocok bagi mereka. Mereka memutuskan, menjalankan, dan mengevaluasi hasil dari pelaksanaan program. Nasib dari program, apakah

akan terus berlanjut atau berhenti, akan tergantung pada tekad dan komitmen masyarakat sendiri. Sejak dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2005 mengenai program penanggulangan kemiskinan, pemerintah telah melakukan intervensi percepatan penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat. Komponen intervensinya mencakup tiga hal yaitu bantuan modal, penyediaan prasarana/sarana, dan pendampingan masyarakat. Bantuan modal didistribusikan sebesar 20 juta rupiah per kelurahan IDT. Merasa tidak cukup, dilengkapi dengan bantuan pembangunan infrastruktur pekelurahanan melalui Pembangunan Prasarana Pendukung Kelurahan Tertinggal (P3DT) dan Program Pembangunan Jalan Poros Kelurahan (P2JPD). Penyediaan tenaga pendampingan disediakan baik untuk IDT maupun P3DT. Ini saja tidak cukup. Oleh karena itu, dengan mulai berakhirnya masa 3 tahun IDT, dikembangkanlah program yang lebih besar untuk mempercepat peningkatan sosial-ekonomi masyarakat di kelurahan (melalui Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dan di perkotaan (melalui P2KP). 12 Bersamaan dengan itu, dengan pola mirip, dilaksanakanlah programprogram lain seperti P2MPD atau Community and Local Government Support, Program dalam Rangka Menanggulangi Dampak Krisis Ekonomi atau PDMDKE, dan yang terakhir adalah Jaring Pengamanan Sosial atau JPS khusus sebagai upaya penanggulangan krisis dan mencegah kemiskinan yang makin membengkak angkanya. Belajar dari pengalaman pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan di masa lalu yang masih memberikan porsi yang sangat besar kepada birokrasi, maka digulirkan intervensi ekstrim Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) yang melompati jenjang birokrasi peran Pemda. Program ini merupakan kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan Bank Dunia melalui pinjaman Loan IDA credit yang merupakan salah satu program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat di perkotaan. Intervensinya ditekankan pada penciptaan lapangan kerja dan penyediaan dana pinjaman bergulir serta pengembangan prasarana dan sarana dasar lingkungan dengan penyediaan pendampingan pihak Konsultan Manajemen Wilayah dan Fasilitator Kelurahan (KMW dan Faskel). Program ini memiliki beberapa tujuan, antara lain; pertama, P2KP adalah sebuah program pemberdayaan masyarakat. Utamanya ditujukan bagi masyarakat miskin di daerah perkotaan yang menerima dampak paling berat akibat krisis ekonomi. Dijelaskan pula bukan berarti masyarakat miskin pedesaan tidak diperhatikan. Tetapi masyarakat perkotaan menjadi skala prioritas utama program ini, karena mereka tidak memiliki pilihan lain selain sandaran ekonomi 13 keluarganya. Di sisi lain menurut pemahaman penulis, masyarakat miskin perkotaan karena kondisi dan pengaruh kepentingan tertentu, memiliki peluang besar untuk melakukan gerakan massa guna memperoleh hak-hak dasar mereka. Bahkan yang paling ekstrim sekalipun. Seperti pernah terjadi, terprovokasinya gerakan anarki dalam bentuk penjarahan dan pengrusakan oleh sebagian massa daerah perkotaan sebagai akibat kecemburuan sosial dan ekonomi. Sementara masyarakat pedesaan meskipun memiliki peluang yang sama, tetapi karakter kepribadian

dan lingkungan mereka yang saling berbeda, kemungkinan melakukan gerakan massa relatif sangat kecil. Kecuali provokasi bernuansa SARA, yang dilakukan secara sistematis untuk suatu kepentingan politik. Kedua, program P2KP bukan sekedar program pemberdayaan ekonomi yang bersifat penyelamatan (rescue) atau pemulihan (recovery) yang berjangka pendek seperti program sejenis lainnya. Tetapi lebih merupakan pengentasan kemiskinan (poverty allviation) melalui pemberdayaan masyarakat (community empowerment)secara utuh, simultan, berkelanjutan dan berjangka panjang. Di dalam implementasinya, lebih diutamakan pemberdayaan dan perkuatan kelembagaan di tingkat paling bawah (kelurahan) melalui pendekatan tribina (bina lingkungan, ekonomi dan sosial). Artinya, menurut pemahaman penulis, melalui program P2KP akan digali dan dibangun kembali akan budaya serta kelembagaan tradisional yang kental akan nuansa kebersamaan dan gotong royong. Sebuah tata kehidupan yang penuh dengan nuansa silih asah, silih asih dan silih asuh (saling mendidik, mengasihi, dan membantu). 14 Ketiga, melalui pemberdayaan dan perkuatan kelembagaan masyarakat diharapkan bisa dikembangkan suatu proses pengorganisasian yang aspiratif, terbuka, adil dan demokratis yang mewakili kelompok usaha dari masyarakat di wilayah sasaran program. Perwujudannya adalah pembentukan kelompokkelompok keswadayaan masyarakat di tingkat kelurahan dan kelurahan sebagai wadah usaha bersama baik di bidang ekonomi, sosial maupun untuk kegiatan lainnya. Keempat, sebagai stimulan, melalui program P2KP diupayakan dana pinjaman sebesar USD 100 juta (sekitar Rp 800 milyar) dari Bank Dunia guna membantu masyarakat miskin di daerah perkotaan yang tergabung di dalam organisasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dalam rangka memberdayakan kehidupan mereka baik di bidang ekonomi melalui pengembangan usaha kecil (small scale bussiness), pembangunan dan perbaikan sarana dan prasarana lingkungan serta penyelenggaraan pelatihan sumber daya manusia dan penciptaan lapangan kerja. Artinya, sekali lagi menurut pemahaman penulis, bantuan dan pinjaman bagi masyarakat miskin bukanlah tujuan utama program P2KP. Dana hanyalah sekedar sarana untuk membangkitkan kesadaran masyarakat sasaran akan pentingnya membangun keberdayaan. Kelurahan sasaran P2KP di Kecamatan Jembrana adalah Kelurahan Dauhwaru dan Kelurahan Pendem, dapat dilihat pada Tabel 1.1 di bawah ini. 15 Tabel 1.1 Jumlah Kepala Rumah Tangga di Kelurahan Dauhwaru dan Pendem No. Kelurahan Jenis Kelamin Kepala Rumah Tangga Total Jlh Laki-laki % Perempuan % RT 1. 2. Dauhwaru Pendem 212 541 69.74 92

73.31 197 30.26 26.69 304 738 586 3.507 (Sumber : BPM, 2009) Kualitas lingkungan perumahan dan permukiman jauh di bawah standar, dan kelayakan mata pencarian yang tidak menentu. Kondisi ini diperlukan perbaikan di segala sektor kehidupan masyarakat. Hal ini ditunjang dengan kondisi masyarakat miskin Kelurahan Dauhwaru pada tahun 2006 dengan jumlah penduduk 9.624 jiwa, atau 279 rumah tangga miskin. Pada tahun yang sama, jumlah penduduk di Kelurahan Pendem 23.342 jiwa atau 721 rumah tangga miskin. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk meneliti dan mengetahui Efektivitas Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) yang telah dilaksanakan di Kecamatan Jembrana. 1.2. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka yang menjadi masalah adalah: 1) Bagaimanakah efektivitas Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) di Kecamatan Jembrana ? 16 2) Apakah terjadi peningkatan pendapatan keluarga sesudah mengikuti Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) di Kecamatan Jembrana ? 3) Apakah terjadi peningkatan kesempatan kerja keluarga sesudah mengikuti Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) di Kecamatan Jembrana ? 4) Masalah apakah yang dihadapi kelompok P2KP dalam pelaksanaan Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) di Kecamatan Jembrana ? 1.3 Tujuan Penelitian. Sesuai dengan rumusan masalah penelitian, maka tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui efektivitas dari pada pelaksanaan program P2KP di Kecamatan Jembrana. 2) Untuk mengetahui ada/tidaknya peningkatan pendapatan keluarga sesudah mengikuti program P2KP di Kecamatan Jembrana. 3) Untuk mengetahui ada/tidaknya peningkatan kesempatan kerja sesudah mengikuti program P2KP di Kecamatan Jembrana. 4) Untuk mengetahui masalah yang dihadapi kelompok P2KP dalam pelaksanaan program P2KP di Kecamatan Jembrana. 17 1.4 Manfaat Penelitian. Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah: 1) Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran sebagai informasi yang mendalam, baik bagi pengambil

kebijakan, pelaksana kebijakan, pengelola dan pembina, baik dalam hal penyaluran fasilitas permodalan, pembinaan usaha yang meliputi keterampilan sumber daya manusia (SDM), manajemen usaha, dan pemasaran maupun kegiatan produksi untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk peserta program P2KP, khususnya di Kecamatan Jembrana di masa mendatang. 2) Secara teoritis, penelitian ini merupakan media untuk menerapkan konsep-konsep teori yang selama ini diproleh dalam perkuliahan, disamping itu hasil-hasil penelitian ini akan memperkaya kemampuan keilmuan melalui berbagai temuan dilapangan yang sebelumnya belum terungkap. 18 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pendapatan Ketimpangan distribusi pendapatan dan kemiskinan umumnya disebabkan oleh ketidakmerataan sumber-sumber atau faktor produksi, antara lain rendahnya akses pendidikan, kesehatan, gizi dan akses akan kepemilikan tanah, modal serta fasilitas-fasilitas lain yang dapat dipergunakan untuk mengembangkan atau meningkatkan pendapatan penduduk. Ketimpangan dapat semakin luas akibat proses pembangunan mengalami polarisasi pertumbuhan antar sektor modern di daerah perkotaan dan sektor tradisional di daerah perdesaan (Sumodiningrat, 1977). Pendapatan merupakan salah satu indikator untuk mengukur kesejahteraan seseorang atau masyarakat, sehingga pendapatan masyarakat ini mencerminkan kemajuan ekonomi suatu masyarakat. Kemajuan ini dapat dilihat dari empat aspek, yaitu: tingkat pendapatan, pertumbuhan dan perkembangan pendapatan serta distribusi pendapatan. Keempat aspek pendapatan tersebut dalam perekonomian yang kegiatannya diatur dan dilaksanakan secara berencana hendaknya berjalan seimbang agar tercapai stabilitas ekonomi yang mantap dan dinamis. Menurut Sadono (2008), pendapatan individu merupakan pendapatan yang diterima seluruh rumah tangga dalam perekonomian dari pembayaran atas penggunaan faktor-faktor produksi yang dimilikinya dan dari sumber lain. Dalam 18 19 penelitian ini salah satu faktor produksi yang digunakan adalah modal untuk usaha-usaha ekonomi produktif dalam rangka meningkatkan pendapatan keluarga, khususnya keluarga miskin. Menurut Mubyarto (2003) pendapatan merupakan penerimaan yang dikurangi dengan biayabiaya yang dikeluarkan. Pendapatan seseorang pada dasarnya tergantung dari pekerjaan dibidang jasa atau produksi, serta waktu jam kerja yang dicurahkan, tingkat pendapatan perjam yang diterima, serta jenis pekerjaan yang dilakukan. Tingkat pendapatan perjam yang diterima dipengaruhi oleh pendidikan, keterampilan dan sumber sumber non tenaga kerja yang dikuasai, seperti tanah, modal dan teknologi. Menurut Putong (2000) untuk mengkaji pendapatan dapat dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu : 1) Pendekatan Produksi ( production approach) yaitu dengan menghitung

semua nilai produksi barang dan jasa yang dapat dihasilkan dalam periode tertentu. 2) Pendekatan Pendapatan (income approach) yaitu dengan menghitung nilai keseluruhan balas jasa yang dapat diterima oleh pemilik faktor produksi dalam suatu periode tertentu 3) Pendekatan Pengeluaran (expenditure approach) yaitu pendapatan yang diperoleh dengan menghitung pengeluaran konsumsi masyarakat. BPS Provinsi Bali (2003), mengukur pendapatan masyarakat bukanlah pekerjaan yang mudah, oleh karena itu BPS melakukan perhitungan pendapatan dengan menggunakan pengeluaran/konsumsi masyarakat. Hal ini didasari oleh 20 paradigma bahwa bila pendapatan mengalami kenaikan maka akan diikuti oleh berbagai kebutuhan yang semakin banyak sehingga menuntut pengeluaran yang tinggi pula. Pada umumnya semakin tinggi pengeluaran maka persentase pengeluaran makanan cenderung semakin kecil atau dengan kata lain meningkatnya pendapatan masyarakat akan menggeser pola konsumsi masyarakat dari lebih banyak mengkonsumsi makanan menjadi lebih banyak mengkonsumsi bukan makanan. Dari kondisi ini dapat juga dilihat bahwa apabila persentase pengeluaran masyarakat untuk makanan telah menurun dari tahun tahun sebelumnya hal ini dapat menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat telah mengalami peningkatan. 2.2 Pengaruh Jumlah Penduduk terhadap Kesempatan Kerja Kesempatan kerja adalah suatu keadaan yang menggambarkan ketersediaan pekerjaan untuk diisi oleh para pencari kerja. Namun bias diartikan juga sebagai permintaan atas tenaga kerja. Dalam Ilmu Ekonomi, kesempatan kerja berarti peluang atau keadaan yang mewujudkan tersedianya lapangan pekerjaan, sehingga semua orang yang bersedia dan sanggup bekerja dalam proses produksi dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahlian, ketrampilan dan bakatnya masing-masing. Kesempatan kerja (demand for labour) adalah suatu keadaan yang menggambarkan/ketersedian pekerjaan (lapangan kerja untuk diisi oleh para pencari kerja). Dengan demikian kesempatan kerja dapat diartikan sebagai permintaan atas tenaga kerja. 21 Kesempatan kerja adalah pemanfaatan sumber daya manusia untuk mewujudkan barang dan jasa. Kegiatan ekonomi di masyarakat membutuhkan tenaga kerja. Kebutuhan tenaga kerja itu dapat juga disebut sebagai kesempatan kerja (demand for labour). Semakin meningkat pembangunan, semakin besar pula kesempatan kerja yang tersedia. Hal ini berarti semakin besar pula permintaan akan tenaga kerja. Sebaliknya semakin besar jumlah penduduk, semakin besar pula kebutuhan akan lowongan pekerjaan (kesempatan kerja). Menurut Sukirno (2008) pertambahan penduduk tidak dengan sendirinya menyebabkan pertambahan permintaan. Tetapi pertambahan penduduk diikuti oleh perkembangan dalam kesempatan kerja. Pertambahan dalam jumlah penduduk akan menyebabkan terjadinya pertambahan permintaan terhadap output yang dihasilkan oleh perusahaan. Oleh karena permintaan terhadap tenaga kerja adalah suatu permintaan turunan (derived demand), yang disebabkan oleh adanya permintaan konsumen terhadap produk perusahaan, maka peningkatan jumlah penduduk yang meningkatkan permintaan terhadap output akan menyebabkan

peningkatan dalam permintaan tenaga kerja. Sehingga, dalam hal ini jumlah penduduk mempunyai pengaruh positif terhadap kesempatan kerja. 2.3 Teori Produktivitas Kerja Menurut Sukirno (2008) produktivitas didefinisikan sebagai produksi yang diciptakan oleh seorang pekerja pada suatu waktu tertentu. Kenaikan produktivitas berarti pekerja itu dapat menghasilkan lebih banyak barang pada jangka waktu yang sama, atau suatu tingkat produksi tertentu dapat dihasilkan dalam waktu 22 yang lebih singkat. Kenaikan produktivitas disebabkan oleh beberapa faktor, yang terpenting adalah. 1) Kemajuan Teknologi Memproduksi Kemajuan teknologi menimbulkan dua akibat penting kepada kegiatan memproduksi dan produktivitas. Yang pertama, kemajuan teknologi memungkinkan penggantian kegiatan ekonomi dari menggunakan binatang dan manusia kepada tenaga mesin. Kedua, kemajuan teknologi memperbaiki mutu dan kemampuan mesin-mesin yang digunakan. 2) Perbaikan Sifat-Sifat Tenaga Kerja Kemajuan ekonomi menimbulkan beberapa akibat yang akhirnya meninggikan kepandaian dan keterampilan tenaga kerja. Kemajuan ekonomi mempertinggi taraf kesehatan masyarakat, mempertinggi taraf pendidikan dan latihan teknik, dan menambah pengalaman dalam pekerjaan. Faktor-faktor ini besar sekali peranannya dalam mempertinggi produktivitas tenaga kerja. 3) Perbaikan dalam Organisasi Perusahaan dan Masyarakat Dalam perekonomian yang mengalami kemajuan, bentuk menajemen perusahaan mengalami perubahan. Pada mulanya pemilik merupakan juga pemimpin perusahaan. Tetapi semakin maju perekonomian, semakin banyak perusahaan diserahkan kepada manajer profesional. Dengan perubahan ini juga organisasi perusahaan diperbaiki, dan diselenggarakan menurut cara-cara manajemen yang modern. Langkah seperti itu meninggikan produktivitas. 23 Secara umum produktivitas didefinisikan sebagai sumber-sumber ekonomi untuk menghasilkan barang dan jasa. Secara mikro, produktivitas biasanya terkait dengan kemampuan organisasi dalam mencapai daya saingnya. Semakin tinggi produktivitas, semakin tinggi daya saingnya di pasar. Produktivitas yang tinggi dapat disebabkan oleh perubahan teknologi atau perbaikan mutu modal manusia dalam organisasi. Jika organisasi dapat beroperasi secara produktif maka keuntungan yang diperoleh juga cenderung meningkat. Karena biaya tenaga kerja umumnya ditentukan berdasarkan proporsi keuntungan, maka dengan produktivitas tinggi, terdapat kecenderungan naiknya tingkat upah. Sebaliknya, jika produktivitas pekerja dan organisasi secara keseluruhan turun, kemungkinan besar terjadi penurunan tingkat upah. Produktivitas tenaga kerja dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut. KK Produktivitas PDRB ................................................................................... (2.1) Keterangan: PDRB = Produk Domestik Regional Bruto

KK = Kesempatan Kerja 2.4 Kemiskinan 2.4.1 Pengertian Kemiskinan Kemiskinan sering dianalogkan dengan semua sifat kekurangan dan ketidakberdayaan. Analog ini mengakibatkan definisi kemiskinan menjadi sangat luas sehingga sulit untuk memahaminya dan kesulitan untuk menentukan langkah kebijakan yang perlu dilakukan untuk menanggulangi kemiskinan. 24 Kemiskinan dapat didefinisikan dalam berbagai versi. Ada batasan sederhana yang mengkaitkan kemiskinan dengan standar minimal yang dihitung berdasarkan pendapatan (income based poverty line). Mereka yang dinyatakan miskin adalah individu, rumah tangga, masyarakat, atau kelompok sosial lainnya yang memperoleh pendapatan dibawah standar minimal. Batasan ini mengabaikan sumber daya tunai (non cash) yang tersedia di masyarakat dan sulit digunakan dalam situasi setempat yang terbatas (Soedijanto Padmowihardjo, 2004). Kemiskinan diartikan sebagai ketidak mampuan berpartisipasi dalam bermasyarakat secara ekonomi, sosial budaya dan politik. Pengertian ini melihat kemiskinan bersipat multidemensi yang mencakup kemiskinan insani dan martabat, konsep kemiskinan multidemensi melihat kemiskinan menjadi berapa katagori yaitu kemiskinan pendapatan, kesehatan, pendidikan, ketenaga kerjaan, ketimpangan struktur usaha, ketidak berdayaan, penyandang masalah kesejahtraan sosial, ketimpangan gender dan kesenjangan antar golongan dan wilayah (Solehatul Mustofa , 2005). Selama dekade 1970-an pada saat minat dan perhatian pada masalah kemiskinan tengah meningkat, para ahli ekonomi pembangunan mulai berusaha mengukur luasnya atau kadar parahnya tingkat kemiskinan di dalam suatu negara dan kemiskinan relative antarnegara dengan cara menentukan atau menciptakan suatu batasan yang lazim disebut sebagai garis kemiskinan (poverty line). Setelah melakukan telaah yang lebih mendalam mereka menemukan konsep kemiskinan absolut (absolute poverty) yang kemudian dipakai secara luas. Konsep ini 25 dimaksudkan untuk menentukan tingkat pendapatan minimum yang cukup untuk memenuhi kebutuhankebutuhan fisik minimum setiap orang berupa kecukupan makanan, pakaian serta perumahan sehinggga dapat menjamin kelangsungan hidupnya (Todaro, 2004). BAPPENAS (2005) mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi dimana seseorang atau kelompok orang, lakilaki dan perempuan, tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Definisi kemiskinan ini beranjak dari pendekatan berbasis hak yang mengakui bahwa masyarakat miskin, baik lakilaki maupun perempuan, mempunyai hak- hak dasar yang sama dengan anggota masyarakat lainnya. Kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidakmampuan ekonomi, tetapi juga kegagalan pemenuhan hakhak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang, lakilaki dan perempuan, dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. Hakhak dasar terdiri dari hakhak yang dipahami masyarakat miskin sebagai hak mereka untuk dapat menikmati kehidupan yang bermartabat dan hak yang diakui dalam peraturan perundangundangan. Hakhak dasar yang diakui secara umum antara lain meliputi terpenuhinya kebutuhan

pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan, dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial politik, baik bagi perempuan maupun lakilaki. Hakhak dasar tidak berdiri sendiri tetapi saling mempengaruhi satu sama lain sehingga tidak terpenuhinya satu hak dapat mempengaruhi pemenuhan hak lainnya. 26 Kemiskinan merupakan fenomena yang kompleks, bersifat multidemensi dan tidak dapat secara mudah dilihat dari suatu angka absolut. Luasnya wilayah dan sangat beragamnya budaya masyarakat menyebabkan kondisi dan