You are on page 1of 4

Selangkah Membangun Toleransi1 Oleh Haryani Saptaningtyas2 Dalam sistem sosial dan budaya bangsa Indonesia, agama menjadi

satu topik yang tak bisa dilepaskan. Bahkan secara historis, agama telah menjadi entitas penting dalam proses pewujudan nilai bagi bangsa ini. Akhir-akhir ini ada pertanda semakin menguatnya kehidupan keberagamaan di Indonesia. Fashion dan fasilitas public seperti sekolah, rumah sakit, bank dan bahkan salon kecantikan beridentitas agama. Ini menjadi contoh konkrit dihidupkannya symbol-simbol keagamaan diruang public. Perwujudan keperbedaan identitas yang menonjol ini diharap dapat menjadi pemicu positif munculnya perilaku toleran dimasyarakat. Persoalan justru muncul ketika simbolik pluralism ini dinodai dengan adanya sikap sentiment terhadap kelompok agama tertentu, dan bahkan mengarah pada upaya-upaya penodaan atas nama agama. Disinilah sikap tolerant kita mulai dipertanyakan apakah toleransi kita masih hanya sebatas toleransi coexistence sebagai barometer toleransi terrendah dimana kita mampu hidup secara damai dan berkomitmen menjaga toleransi nir kekerasan, tapi tanpa ada saling mengenal. Atau dengan sikap toleransi justru kita mampu membangun dialog yang konstruktif dan bahkan mampu menghargai dan merayakan kemajemukan itu sendiri. Dalam tulisan ini ada tiga hal yang akan difokuskan: Pertama soal peran pemerintah dalam toleransi dan intoleransi, Kedua soal identifikasi sikap toleransi masyarakat dan Ketiga kebutuhan masyarakat untuk mengenal agama berbeda. Dari tiga hal ini diharapkan bisa memunculkan sikap tepa selira dan saling menghargai. Peran Pemerintah dalam Toleransi dan Intoleransi Hampir semua orang Indonesia percaya bahwa bangsa ini pada dasarnya memiliki kultur toleran yang mengkerangkai keperbedaan suku dan agama yang ada. Ini dibuktikan dalam jajak pendapat Kompas September 2010 yang menyatakan bahwa 96% responden menyatakan menerima pergaulan dengan kelompok yang lain bahkan 76,9% bersedia jika lingkungannya dipakai untuk tempat perayaan agama lain. Tetapi kenyataan justru menunjukkan kekerasan dan intoleransi atas nama agama masih berulang dan terjadi di banyak wilayah. Tercatat dalam kurun waktu dua tahun, setidaknya kasus-kasus yang dapat dikategorikan sebagai intoleransi justru mendominasi laporan beberapa lembaga seperti The Wahid Institute, Setara Institute dan Moderate Muslim Society. Bahkan The Wahid Institute dalam laporannya di tahun 2011 menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan pelanggaran kebebasan beragama dan
1

Tulisan ini telah dipublikasikan di majalah GO! Inspired Mission Living edisi bulan Februari Maret 2012. Adalah sebuah majalah Kristiani yang diterbitkan oleh IFGS GISI dan diedarkan di kalangan pemimpin gereja serta profesional muda, serta dijual dijual bebas. Alamat redaksi di Jl. Gunung Rinjani 6, Taman Himalaya. Lippo Village, Tangerang 11581, Indonesia. Ph. 62-215420-2388. Fax. 62-21-5420-2387
2

Penulis adalah peneliti social budaya dan aktif dalam kegiatan membangun relasi Muslim dan Kristian di tingkat local.

berkeyakinan di berbagai daerah di Indonesia. Apabila tahun sebelumnya hanya 64 kasus maka jumlah ini meningkat 18% menjadi 93 kasus. Namun demikian tak selamanya kasus kekerasan selalu berbuah pada kekerasan yang tak berkesudahan. Dalam beberapa kasus, memburuknya persoalan intoleransi ini justru menjadi momentum bagi para penggiat perdamaian untuk saling mendukung dan saling menguatkan. Kasus bom bunuh diri di Gereja Bethel Injili Sepenuh (GBIS) Kepunthon pada tanggal 25 September 2011, justru menjadi momen pengokohan persahabatan lintas iman di wilayah Solo Jawa Tengah. Tak terpancing dengan isu berbau agama, masyarakat justru berbondong-bondong menunjukkan simpati melalui doa paska peristiwa tersebut. Ini memberi optimism lebih bahwa nilai dan budaya toleran masih kuat dimasyarakat kita. Alih-alih mengoyak perdamaian, kasus ini justru mendorong proses transformasi dari sebuah nilai menjadi sebuah tindakan aktif produktif pengelolaan perdamaian. Pertanyaannya adalah haruskah transformasi nilai semacam ini baru akan muncul setelah didahului oleh peristiwa kekerasan atau adakah hal sederhana yang bisa kita lakukan secara bersama?. Yang pasti, kita sebagai warga negara berhak menuntut negara untuk menjamin kebebasan beragama dan beribadah. Di sisi lain, kita juga perlu melakukan sesuatu yang nyata untuk membangun komunikasi lintas iman atau kepercayaan. Soal peran pemerintah, kita bisa berkaca pada kasus kekerasan berlatar belakang etnis dan agama yang terjadi di Nigeria.Sepanjang bulan Januari tahun ini, menurut Journal of Foreign Relation (1 Februari 2012) setidaknya telah muncul korban lebih dari 200 orang. Semula pergolakan ini bermula dari demo menentang pemerintah yang menaikkan harga minyak sejak 1 Januari lalu yang menyebabkan melambungnya harga-harga barang lalu meluas menjadi konflik atas nama etnis dan agama. Kegagalan pemerintah menjamin kehidupan yang lebih baik. korupsi, kemiskinan dan pengangguran menjadi pemicu konflik. Menyedihkan memang. Membaca rentetan sejarah konflik dan dinamika politik di Negara itu, seolah kita diberi cermin supaya belajar. Nigeria memiliki banyak kesamaan dengan bangsa kita. Negara ini memiliki berragam etnik, kelas dan agama dan terdapat sekitar 450 suku bahasa. Bahkan system pemerintah local (desentralisasi) diberlakukan paska kekerasan di tahun 1966, yakni pemerintah mendirikan 36 negara bagian dan 774 pemerintahan local yang berdasar suku dan agama untuk meminimalisir konflik. Bagian utara Nigeria dihuni oleh mayoritas muslim, sedangkan Christian ada di bagian selatan. Tetapi konflik diawal tahun 2012 memberi pelajaran bahwa politik segregasi (pemisahan) tak mampu membendung konflik dan sebagai akibatnya justru konflik dengan mudah meluas. Sungguh, peristiwa ini memberi pelajaran berharga bagi kita, bahwa pemerintahan yang tak amanah dan gagal mewujudkan masyarakat yang adil dan tak korup justru membuka peluang munculnya gerakan-gerakan kekerasan. Di negara kita, kita bisa belajar dari Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta soal pelarangan Ahmadiyah. Gubernut DI Yogyakarta Sri Sultan Hamenkubowono menolak adanya pelarangan Ahmadiyah di wilayahnya, maka yang terjadi komunitas itu pun terlindungi dengan sendirinya. Atau dalam kasus bom Solo, pascakerushuan 1998 Kota Solo bisa dikatakan harus bekerja keras membangun diri. Di bawah kepemimpinan walikota Joko Widodo dan wakil walikota FX Hadi Rudyatmo, Solo mampu bangkit menjadi kota yang aman, nyaman dan memberikan kesejahteraan bagi warganya. Sehingga ketika terjadi bom di GBIS Kepunton, yang terjadi justru simpati, masyarakat sama sekali tak terpancing dengan tindak kekerasan. Di sini, pemerintah sedikit banyak

telah mampu membawa masyarakat ke dalam zona nyaman, sehingga mereka akan melawan jika ada gerakan yang mengusik kenyamanan itu. Identifikasi Toleransi Masyakarat perlu mengidentifikasi tingkat toleransi yang dijalankan. Berdasar pengamatan panjang relasi lintas agama, secara umum, sikap toleransi kita masih bersifat coexistence. Kita hidup bersama, tetapi dialog sebagai prasyarat mutual learning masih minim dilakukan atas dasar kesadaran pribadi. Bahkan ada kemungkinan kita kehilangan potensi toleransi akibat lemahnya komunikasi lintas agama. Ada kecenderungan, komunikasi kita didominasi oleh komunikasi tak langsung yang mengandalkan media. Sebagai akibatnya komunikasi hanya satu arah dan yang mungkin terjadi informasi hanya terbagi pada komunitas sendiri. Akibatnya masyarakat menjadi lebih rentan terhadap isu-isu sensitif karena check and recheck informasi lintas komunitas sulit terjadi. Peristiwa pembakaran beberapa gereja dan fasilitas publik di Temanggung, Jawa Tengah pada tanggal 8 Februari 2011 dan pelemparan bom molotov yang menimpa Gereja Pantekosta di Indonesia (GPDI) Sleman DIY pada tanggal 29 April 2011, menjadi contoh bagaimana informasi menggelinding liar akibat tersebarnya short messages, yang umumnya hanya di dalam komunitas sendiri saja. Akibatnya kebenaran informasi sulit diperoleh. Sementara berita di media massa juga masih didominasi oleh berita negatif (bad news) sementara upaya-upaya damai yang berhasil dilakukan dibatasi porsi pemberitaannya. Keadaan lebih menghawatirkan mengingat saat ini variasi aliran3 atau denominasi keagamaan juga semakin beragam terutama pada dua agama besar, Islam dan Kristen. Kelompok pinggiran yang semula kurang diperhitungkan muncul menjadi komunitas yang cukup kuat terutama dalam hal jumlah pengikut. Dalam konteks social, perkembangan ini dapat diartikan secara positif dimana dua agama ini menunjukkan perkembangan yang berarti, tetapi sayangnya perkembangan ini tidak diikuti dengan pergaulan dan dialog. Lebih dari sepuluh tahun bergaul dengan komunitas gereja dari berbagai denominasi memberi pemahaman bahwa ternyata tidak semua pendeta dan gembala saling mengenal meski mereka tinggal di kota yang sama. Apalagi bagi mereka yang jelas-jelas memiliki denominasi berbeda. Terlepas dari dinamika politik gerejawi, fenomena yang sama juga muncul di Islam. Tindakan intimidasi yang dialami oleh Majelis Tafsir Alquran di Kudus beberapa waktu lalu menjadi fakta bahwa kita masih gagap mengenali dan berdialog dengan the other. Dengan demikian komunikasi langsung lintas komunitas mutlak harus dibangun. Saling Mengenal Tak kenal maka tak sayang, demikian pepatah kuno Melayu. Konflik antarkelompok terkadang dipicu oleh persoalan sepele yang sebenarnya bisa diselesaikan jika kita saling mengenal. Dan untuk mengenal dibutuhkan komunikasi, berdialog. Dalam dialog kita tak perlu mempersoalkan kenyataan setiap orang menerima agamanya yang paling benar, karena sikap ini tak membantu kita keluar dari persoalan diatas. Lebih perlu bagi
3

Martin van Bruinessen, memakai istilah gerakan sempalan untuk merujuk pada aliran-aliran Islam Indonesia. Menurutnya gerakan sempalan yang tipikal adalah kelompok atau gerakan yang sengaja memisahkan diri dari "mainstream" umat, mereka yang cenderung eksklusif dan seringkali kritis terhadap para ulama yang mapan . Sumber : Bruinessen, (1992) Gerakan sempalan di kalangan umat Islam Indonesia: latar belakang sosial-budaya" ("Sectarian movements in Indonesian Islam: Social and cultural background"), Ulumul Qur'an vol. III no. 1, 1992, 16-27. .

setiap orang yang berbeda agamanya mengerti sistem keagamaan yang lain tanpa berharap terjadi perpindahan agama. Dengan cara ini kita dapat menciptakan atmosfer yang cocok untuk melihat pandangan orang lain. Umumnya dalam upaya dialog lintas agama, kita cenderung melakukan terlebih dahulu kegiatan bersama, berkumpul bersama dan mengatasi persoalan bersama, tetapi pertanyaan tentang sistem keagamaan biasanya dilakukan sambil lalu. Padahal informasi seperti ini membantu kita mengatasi kecurigaan. Satu contoh kasus pendirian gereja. Biasanya kelompok muslim bertanya mengapa harus mendirikan gereja baru padahal sudah ada gereja yang lama. Pertanyaan ini jika tidak terjawab, mungkin berujung pada masalah yang lebih serius yakni penolakan. Padahal seharusnya persoalan ini bisa dengan mudah teratasi jika pemahaman akan perbedaan denominasi gereja dapat dijelaskan. Pertanyaan dari kelompok Muslim ini sebenarnya adalah pertanyaan yang lumrah dan tidak bermuatan politis apapun karena pertanyaan ini muncul dari cara pandangan mereka terhadap system yang ada di masjid. Masjid terbuka untuk siapapun yang akan sholat karena tidak ada system keanggotaan dan juga perbedaan dalam menjalankan tata ibadahnya meski berbeda aliran sekalipun. Pertanyaan-pertanyaan social sederhana yang lain seperti bagaimana kaderisasi kyai, romo, gembala dan pendeta, apa peran istri kyai, gembala dan pendeta, apa beda kyai dan habib, apa perbedaan antara pendeta, romo dan gembala dll dapat menjadi arah baru memahami komunitas agama yang lain. Berangkat dari pertanyaan ini diharapkan dapat membantu menciptakan ruang pemahaman bersama. Kenyataan bahwa masih banyak umat Muslim yang tidak mengerti perbedaan Kristen Protestant dan Katolik, dan bahkan sering salah sebut karenanya, menjadi pertanda bahwa kita semua diundang secara aktif untuk membangun komunikasi lintas batas. Mulai dengan memahami system keagamaan agama yang lain, maka toleransipun dapat diperkuat. Semoga.