You are on page 1of 36

PENDAHULUAN Makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas DSP II.

Dalam paper ini membahas mengenai Pertumbuhan dan Perkembangan Dento Craniofasial Prenatal yang meliputi konsep fertilisasi yang menjelaskan tentang terbentuknya zigot, perkembangan dari zigot sampai trilaminar germdisc yang menjelaskan tentang perkembangan embrio sampai terbentuknya tiga lapisan, endoderm, mesoderm, dan ektoderm, perkembangan wajah prenatal yang menjelaskan tentang terbentuknya bagian-bagian wajah, perkembangan struktur-struktur oral yang menjelaskan tentang pembentukan lidah, palatal, serta membahas tentang perkembangan alur pembuluh darah dan saraf yang melaluinya, diferensiasi struktur pendukung (chondrocranium, kompleks maxilla, tulang palatum, serta mandibula dan temporomandibular joint) dan juga periode fetal bulan ketiga sampai kesembilan.

KATA PENGANTAR Pertama-tama kami ucapkan puji dan syukur kepada Tuhan YME yang karena rizki-Nya makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas DSP II. Makalah ini juga dibuat untuk tutorial DSP-II. Semoga dengan adanya makalah ini dapat membantu para pembacanya untuk mengetahui lebih dalam lagi dari proses fertilisasi sampai terbentuknya jaringan-jaringan di dalam tubuh. Apabila ada kekurangan di dalam makalah ini, harap dimaklumi. Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

Penyusun

Konsep Fertilisasi
Fertilisasi adalah proses penyatuan gamet pria dan wanita yang terjadi pada daerah ampulla tuba Fallopi. Bagian ini merupakan bagian terluas pada saluran telur dan terletak dekat dengan ovarium. Spermatozoa dapat bertahan hidup di dalam saluran reproduksi manusia kirakira selama 24 jam. Spermatozoa bergerak dengan cepat dari vagina ke rahim dan selanjutnya masuk ke dalam saluran telur. Pergerakan naik ini disebabkan oleh kontraksi otot uterus dan tuba. Pada saat spermatozoa sampai di saluran kelamin wanita belum mampu membuahi oosit. Spermatozoa harus mengalami kapasitasi dan reaksi akrosom. Kapasitasi adalah suatu masa penyesuaian di dalam saluran reproduksi wanita kira-kira selama 7 jam. Selubung glikoprotein dan protein plasma semen dibuang dari selaput plasma yang membungkus daerah akrosom spermatozoa. Hanya sperma yang menjalani kapasitasi yang mampu melewati sel korona dan mengalami reaksi akrosom. Reaksi akrosom terjadi setelah penempelan ke zona pelusida dan diinduksi oleh protein zona. Reaksi ini berpuncak pada pelepasan enzim-enzim yang diperlukan untuk menembus zona pelusida, antara lain akrosin dan zat-zat serupa tripsin. Fase fertilisasi mencakup fase 1-penembusan korona radiate, fase 2-penembusan zona pelusida, dan fase 3-fusi oosit dan membrane sel sperma. Penembusan Korona Radiata Dari 200-300 juta spermatozoa yang dicurahkan ke dalam saluran kelamin wanita, hanya 300-500 yang mencapai tempat pembuahan. Hanya satu diantaranya yang diperlukan untuk pembuahan, dan diduga bahwa sperma lainnya membantu sperma yang akan membuahi untuk menembus sawar-sawar yang melindungi gamet wanita.

Penembusan Zona Pelusida Zona pelusida adalah sebuah perisai glikoprotein disekeliling telur yang mempermudah dan mempertahankan pengikatan sperma menginduksi reaksi akrosom. Pelepasan enzimenzim akrosom memungkinkan sperma menembus zona pelusida, sehingga akan bertemu

dengan membran plasma oosit. Hanya satu spermatozoa yang mampu menembus oosit, yang lainnya menempel di zona pelusida. Penyatuan Oosit Dan Membran Sel Sperma Setelah spermatozoa menyentuh membran sel oosit, kedua selaput plasma sel tersebut menyatu. Sel telur menanggapinya dengan 3 cara : 1. Reaksi kortikal dan zona. Sebagai akibat terlepasnya butir-butir kortikol oosit (a) selaput oosit tak dapat ditembus lagi oleh spermatozoa lainnya, dan (b) zona pelusida mengubah struktur dan komposisinya untuk mencegah penambatan dan penetrasi sperma. 2. Melanjutkan pembelahan meiosis kedua. Oosit menyelesaikan pembelahan meiosis keduanya segera setelah ada spermatozoa masuk. Salah satu dari sel anaknya hampir tidak mendapatkan sitoplasma dan dikenal sebagai badan kutub kedua, sel anak lainnya adalah oosit definitif. 3. Penggiatan metabolik sel telur. Faktor penggiat diperkirakan dibawa oleh spermatozoa.

Selama masa pertumbuhan, baik pronukleus pria maupun wanita menggandakan DNA-nya. Hasil utama pembuahan adalah : 1. Pengembalian menjadi jumlah kromosom diploid lagi, separuh dari ayah dan separuh dari ibu. 2. Penentuan jenis kelamin individu baru. Spermatozoa pembawa X akan menghasilkan satu mudigah wanita (XX), dan spermatozoa pembawa Y menhasilkan satu mudigah pria (XY). 3. Dimulainya pembelahan. Tanpa pembuahan, oosit biasanya akan berdegenerasi 24 jam setelah ovulasi.

TUMBUH KEMBANG ZIGOT SAMPAI TRILAMINAR GERMDISC


PERKEMBANGAN MINGGU PERTAMA A. PEMBELAHAN Zigot yang telah mencapai tingkat dua sel, mengalami sebuah pembelahan mitosis, yang mengakibatkan bertambahnya jumlah sel dengan cepat. Sel-sel kecil ini disebut juga dengan blastomer. Setelah adanya pembelahan ketiga, hubungan antar blastomer semakin rapat, sehingga membentuk gabungan sel-sel yan disebut dengan blastomer. Pada 3 hari setelah pembuahan sel-sel embrio mengalami pembelahan lagi yang dan membentuk sebuah morula. Sel-sel bagian morula merupakan sel bagian dalam, sedangkan sel-sel sekitar luar membentuk massa sel luar. Massa sel dalam ini akan membentuk sebuat jaringan embrio yang sebenarnya, sedangkan sel luar membentuk trofoblas yang akan berubahbentuk menjadi plasenta.

B. PEMBENTUKAN BLASTOKISTA Pada saat morula memasuki rongga pada rahim, zona pelusida masuk ke dalam zona sel dan akan membentuk sebuah rongga yang disebut dengan blastokel. Pada saat ini mudigah disebut dengan blastokista. Sedangkan sel-sel dalam disebut dengan embrioblas yang terletak pada sel dalam yang disebut dengan embrioblas. Pada umumnya, sel trofoblas diatas kutub embrioblas mulai masuk diantara sel epitel mukosa rahim kira-kira pada hari keenam. Oleh karena itu, minggu pertama perkembangannya, zigot manusia telah melewati tingkat morula dan blastokista dan langsung berimplantasi pada dinding rahim.

RAHIM PADA SAAT IMPLANTASI Dinding rahim terdiri atas 3 lapisan : a. Endometrium b. Miometrium c. Perimetrium : selaput lendir yang melapisi dinding bagian dalam : lapisan tebal otot polos : melapisi dinding bagian luar

Pada saat implantasi, selaput lendir rahim sedang berada di dalam fase sekretorik. Dan ada 3 lapisan di dalam endometrium yaitu : a. Lapisan kompakta pada permukaan b. Lapisan spongiosa pada pertengahan c. Lapisan dasar yang tipis

CAKRAM MUDIGAH BILAMINER (Perkembagan Minggu ke Dua)

Perkembangan hari Kedelapan Blastokista tenggelam didalam stroma endometrium. Sedangkan di daerah atas embrioblas, trofoblas berdiferensiasi menjadi 2 lapisan : a. Lapisan sel-sel berinti tunggal di bagian dalam (sitotrofoblas) b. Satu zona luar berinti banyak tanpa adanya batas sel yang jelas (sinsitiotrofoblas)

Sel-sel yang berasal dari massa sel dalam atau embrioblas juga berdiferensiasi menjadi 2 lapisan yaitu : a. Lapisan Hipoblas : satu lapisan sel kuboid yang berdampingan dengan rongga blastokista b. Lapisan Epiblas : Satu lapisan sel silinder tinggi yang bersebelahan dengan rongga Amnion

Pada saat yang sama, sebuah rongga kecil muncul di dalam epiblas. Rongga tersebut membesar dan menjadi rongga amnion. Sedangkan sel-sel epiblas yang dekat dengan sitotrofoblas disebut dengan amnioblas. Perkembagan hari Kesembilan Pada masa ini blastokista semakin tenggelam di dalam endometrium, sedangkan trofoblas menunjukan perkembangan yang pesat , terutama pada kutub embrionalnya dimana terlihat vakuola pada sinsitium. Tahap perkembagan trofoblas ini disebut dengan tahap lakunaris. Lalu , pada kutub abembrional , sel-sel gepeng membentuk sebuah selaput tipis yang dikenal sebagai selaput eksoselom yang melapisi permukaan sitotrofoblas. Selaput ini bersama dengan hipoblas membentuk lapisan untuk rongga eksoselom (kuning telur yang primitif)

Perkembangan hari Kesebelas sampai hari Keduabelas Pada tahap ini, blastokista telah tenggelam seluruhnya di dalam stroma endometrium dan epitel permukaan menutupi hampir seluruh cacat pada dinding rahim. Trofoblas ditandai dengan rongga-rongga lakuna dalam sinsitium yang membentuk suatu relasi yang saling berhubungan. Pada saat yang bersamaan , sel-sel sinsitiotrofoblas menembus lebih dalam pada lapisan stroma dan merusak jaringan endotel pembuluh kapiler pada inang. Karena trofoblas terus merusak sinusoid, maka darah inang tersebut mengalir lewat sistim trofoblas sehingga terjadi sirkulasi utero-plasenta.

Perkembangan hari Ketigabelas Pada hari ketigabelas luka pada endometrium ini sudah mulai memulih, akan tetapi dapat terjadi pendarahan pada tempat implantasi karena meningkatnya aliran darah ke dalam ruang-ruang lakuna. Trofoblas ditandai dengan munculnya struktur-struktur vili.Sel-sel

sitotrofoblas berproliferasi setempat dan menembus ke dalam sinsitiotrofoblas, sehingga membentuk silinder-silinder sel yang dikelilingi oleh sinsitium. Selain itu, hipoblas menghasilkan sel-sel lain yang bermigrasi ke sisi dalam selaput eksoselom. Proses ini menghasilkan rongga baru yang dikenal dengan kantung kuning telur sekunder.

CAKRAM MUDIGAH TRILAMINER (perkembangan Minggu ketiga) Gastrulasi (Pembentukan Mesoderm dan Endoderm Embrional)

Yang paling khas di dalam minggu ketiga adalah gastrulasi. Gastrulasi adalah proses yang membentuk 3 lapisan germinal pada embrio. Pada proses gastrulasi dimlai dengan pembentukan primitive streak pada permukaan epiblas. Terdapat garis pada bagian ini, ujung kedua garis ini dikenal sebagai primitive node yaitu merupakan daerah yang meninggi di sekeliling primitive pit. Sel-sel epiblas berpindah mengikuti alur arah garis primitif untuk membentuk sebuah mesoderm dan entoderm intraembrional.

Karena semakin banyak sel yang menyusup masuk diantara lapisan epiblas dan hipoblas, maka mereka mulai menyebar ke arah lateral dan kepala lalu, secara bertahap membungkus kantung kuning telur dan amnion. Ke arah kepala, sel-sel ini melewati camping kanan dan kiri lempeng prekordal dan saling bertemu di depan lempeng ini, dimana akan terbentuk lempeng kardiogenik dan lempeng pembentuk jantung.

PEMBENTUKAN NOTOKORD

Sel-sel prenotokord menjalani invaginasi di lubang primitif , bergerak sampai mencapai lempeng prekordal. Prenotokord ini terkumpul di dalam hipoblas , sehingga di dalam waktu yang singkat , garis tengah embrio terdiri dari 2 lapisan sel yang membentuk lempeng notokard. Notokard dan sel-sel prenotokard meluas ke arah kranial menuju lempeng prekordal dan ke arah kaudal menuju lubang primitif. Pada lubang tersebut terbentuk sebuah saluran kecil yaitu saluran neurenterik.

PERTUMBUHAN CAKRAM MUDIGAH Cakram mudigah mula-mula rata dan bundar namun lama-lama berangsur memanjang dengan ujung kepala lebar dan ujung kaudal sempit. Perluasan cakram mudigah terutama terjadi pada daerah kepala dan daerah garis primitif kurang lebih sama besarnya. Pertumbuhan bagian cakram disebabkan oleh migrasi sel yang terus menerus dari daerah garis primitif menuju ke arah kepala. Pada tingkatan ini, garis primitif menunjukkan perubahan regresif. Dengan demikian gastrulasi lapisan mudigah berlanjut terus pada segmensegmen kaudal. Sementara struktur kranial sedang berdiferensiasi dan embrio bergerak secara sefalokaudal.

PERKEMBANGAN TROFOBLAS LEBIH LANJUT Pada awal minggu ketiga, trofoblas ditandai oleh vili primer yang terdiri atas inti sitotrofoblas yang dibungkus oleh selapis sinsitium. Pada perkembangan selanjutnya, sel-sel mesoderm menembus vili inti primer dan tumbuh ke arah desidua. Susunan vili yang baru ini disebut dengan vili sekunder.

Pada akhir minggu ketiga, sel-sel mesoderm dalam inti villi mulai berdiferensiasi menjadi sel darah dan pembuluh darah yang kecil. Selanjutnya pembuluh-pembuluh darah ini memiliki hubungan dengan sistem peredaran darah di dalam mudigah , sehingga menghubungakan plasenta dengan mudigah. Sedangkan sel-sel sitotrofoblas di dalam vili terus menembus ke dalam sinsitium di sekitarnya sehingga mencapai endometrium tersebut.Akibat dari ini terbentuklah suatu kulit sitotrofoblas luar yang tipis yang dimana nantinya kulit ini akan mengelilingi seluruh trofoblas. Villi yang menjulur dari lempeng korion ke desidua basalis disebut vili batang atau vili penambat sedangkan vili yang keluar dari sisi-sisi vili merupakan vili bebas.

PERIODE PEMBENTUKAN WAJAH

1. Arcus branchialis (lengkungan yang bercabang) diferensiasi wajah manusia terjadi di awal kehamilan hidup, khususnya antara kelima dan ketujuh minggu setelah pembuahan terjadi. selama periode yang singkat ini, sejumlah kejadian penting yang menentukan pembentukan wajah manusia terjadi. pada minggu keempat setelah pembuahan, masa depan daerah wajah dan leher yang terletak di bawah otak-depan embrio manusia menjadi tersegmentasi (terbagi-bagi) (gambar 3-1 A). 5 branchial arches terbentuk, muncul dengan bentuk bulat, perluasan tubular, dan dibatasi oleh rongga dan alur-alur yang membantu mendefinisikan setiap lengkungan. Penomoran dimulai dari bagian depan. Bagian pertengahan dan bawah mengembangkan daerah wajah, sebagian, dari dua yang pertama, dinamai mandibular dan lengkungan hyoid. Yang ketiga juga berkontribusi ke basis lidah. dalam masing-masing lengkungan branchial muncul rangka, otot, pembuluh darah, jaringan penghubung (ssp), epitel, dan saraf unsur-unsur yang berkembang menjadi sistem penyokong wajah dan leher. sebagian besar struktur wajah orang dewasa berkembang dari bagian yang pertama dan kedua lengkungan branchial dari jaringan di sekitar otak-depan. pada periode awal perkembangan (4 minggu pertama), sulit untuk membedakan fitur kraniofasial utama embrio manusia dari mamalia lainnya. (gambar 3-1 A dan B)

Sketsa embrio manusia 5 (A) dan 7 minggu (B)

Wajah manusia pertama kali dicirikan oleh invagination atau lesung di lapisan ektoderm permukaan yang muncul tepat di bawah otak-depan. massa jaringan sekitar oral pit ini akan segera membentuk wajah manusia. Di minggu ke 4, batas posterior dari oral pit akan berhubungan dengan foregut yang berkembang. sebagai ectodermal oral plate bertemu/memenuhi ectodermal lapisan usus, selaput hancur, dan kesinambungan antara

rongga mulut dan saluran pencernaan pertama kali diperoleh. Pada akhir minggu ke-4, mulai tampak tonjol-tonjol wajah yang terutama dibentuk oleh mesenkim yang berasal dari Krista neuralis dan terutama dibentuk oleh pasangan lengkung faring pertama. Tonjolan maksila dapat dikenali disebelah lateral stomodeum dan tonjol mandibula di sebelah kaudal stomodeum. Prominensia frontonasalis yang dibentuk oleh poliferasi mesenkim di sebelah ventral vesikel otak, merupakan tepi atas stomodeum. Di sisi kanan dan kiri prominensia frontonasalis muncul penebalan-penebalan setempat dari ectoderm permukaaan yaitu plakoda nasal (olfaktorius), dibawah pengaruh induksi bagian ventral otak depan. Di minggu ke 5, wajah tampak tidak beraturan antara otak-depan yang berkembang pesat dan hati, yang menempati sebagian besar rongga Dada . Paru-paru yang bekembang masih sangat kecil, terutama terdiri dari bronkus sampai melakukan bronchioles pernafasan mulai terbentuk dalam bulan depan. selami paru-paru tidak berfungsi dalam respirasi sampai setelah lahir, kebutuhan oksigen disuplai dari plasenta melalui vena umblical ke jantung. jantung, bagaimanapun, harus berfungsi sangat awal,ukurannya mencolok di minggu ketiga sebelum ada detak jantung di minggu keempat kehidupan embrio. selama periode prenatal, tidak hanya jantung memompa darah ke seluruh tubuh embrio, tetapi juga menyalurkanke darah, melalui dan dari sistem plasenta kembali ke jantung. jantung secara proporsional jauh lebih besar daripada saat akan berada dalam tubuh orang dewasa dan, karena itu, memerlukan banyak tetapi ruang untuk pengembangan tepat. pertumbuhan jantung mempengaruhi karenaa perkembangan wajah, bukan hanya karena pentingnya suplai darah ke perkembangannya, juga karena wajah selama periode awal pertumbuhan yang pesat bersamaandengan pembesaran otak-depan dan jantung berdenyut.Bahkan pada tahap awal ini, kepala menjadi tegak

2. Perkembangan daerah perioral "Wajah" di minggu kelima kira-kira setebal lembaran kertas , dan keseluruhan wajah hanya sekitar 1 mm. Selama minggu ke-5 dua buah rigi,tonjol idung lateral da medial, tumbuh cepat dan mengelilingi lempeng hidung yan kemudian membentuk dasar suatu lekuk, lubang hidung (gambar 18-28 B). Tonjol hidung lateral akan membentuk cuping hidung ; tonjol medial akan menghasikan (1) bagian tengah hidung (2) bagiian tengah bibir aatas, (3) bagian tengah rahang atas, dan (4) seluruh langitan primer .

Tekanan memperdalam ke dalam lubang-lubang yang akan menjadi lubang hidung dewasa dan menjembatani massa di sekitarnya dan sisi hidung eksternal. jaringan antara lubang-lubang hidung disebut proses hidung medial dan bagian lateral yang disebut lubang hidung lateral proses. Jaringan terbentuk berasal dari jaringan dangkal epitel dan jaringan dari daerah frontal ketika mereka semua tumbuh ke bawah dan maju bersama-sama (gambar 3-2C). Gambar 3-2D, menunjukkan penyatuan antara processus nasalis lateralis dan processus nasalis mdialis, yang akan digambarkan nanti. Sebelum penyatuan ini terjadi , lubang hidung mengalami pemanjangan lebih lanjut. yang mengangkat tepi anterior membentuk lubanglubang ini berbentuk tapal kuda kecil, dengan bagian samping yang terbuka di bawah gambar 3-4 . jarak antara dua lubang hidung ini tidaklah bertambah luas selama periode penting dari perkembangan wajah, adapun dengan sendirinya lubang2 bertambah tinggi dan panjang.

Gambar 3-2 Tampak depan dari pmbentukan wajah embrio manusia dari bulan keempat sampa bulan kedelpan prenatal .Pada minggu keempat (A),Bakal wajah ditandai dengan penonjolan otak baagiaan depan dan bagian arcus branchialis bagian I napak dibawaahnya.Pada minggu keenam (B),celahh mulut sudaah nampak,lubang hidung sudah nampak diatasnya. Mata tampak dikedua sisi kepala.Arcus mandibularis berada dibawa celah mulut. Pada 6 minggu (C), kedua mata mendekat kebagian depan dari wajah. Hidung semakin jelas,dan telinga mulai nampak dikedua sudut mulut. Pada minggu kedelapan (D) bagian-bagian yang membentuk wajah bergabung bersama mebentuk rongga mulut dan otak bagian depan tumbuh kedepan sehingg telinga teretak dibagian belakang.

Gambar 3-3 Pembentukan bibir bagian atas Processus maxillaris (MP) berabung dengan Processus nasaliss medialis (MN) membentuk dasar dari lubang hidung.Processus nasalis lateralis (LM) melebar membetuk kedua sisi dari hidung . celah ddibawah luang hidung disebut nasal fin (NF) merupakan baagia potensial bibir sumbing. Mandibula (MD) terletak dibawah celah mulut (NP) = nasal pit

Gambar 3-4 Tampak depan dari bagian atas wajah janin yang memperlihatkan nasal pit (NP)dan pembentukan nasal fins (NF). LN= Processuss nasalis lateralis ; MN=Processus nasalis medialis ; MP = Processus maxillaris ; MD = mandibula Karena jaringan yang mendasari setiap lubang hidung mewakili pemisahan pertama rongga hidung dari rongga mulut, kemudian disebut sebagai langit-langit primer oleh beberapa ahli. Cara pembentukan formasi dari lubang2 ini amatlah penting, karena kegagalan dalam setiap langkah perkembangan mereka dapat mengakibatkan bibir sumbing. langkah-langkah dalam penyatuan bibir atas diilustrasikan pada gamabar 3-5. langkah 1 dapat didefinisikan sebagai kontak antara epitel yang menutupi batas medial dari proses berkenaan dengan rahang atas dan batas lateral processus nasalis medialis. kedua epitel tertutup bersama-sama membentuk suatu lamina diistilahkan sebagai "nasal fin" 3-5. pada kontak, adhesi dari dua lembar epitel terjadi; mereka menyatu menjadi satu lembar. kemudian, degenerasi dari lembar ini terjadi, mengakibatkan penetrasi jaringan ikat palung gambar 3-5 b dan c. wilayah ini memperluas penetrasi dengan cepat dan sirip hidung dihilangkan kecuali pada bagian anterior dan batas posterior. dengan cara ini, bibir dipersatukan antara anterior dengan anterior, dan pemisahan dasar lubang-lubang dalam bentuk celah dicegah. mendasari jaringan dan antara dua lubang hidung disebut sebagai langit-langit primer sejak bentuk-bentuk pemisahan antara primitif rongga hidung dan rongga mulut. di batas posterior epitel fin, dua lembar epitel yang

sama terpisah, menghasilkan celah antara lubang-lubang hidung dan atap rongga mulut. posterior yang membuka lubang hidung ini disebut nares internal dan merupakan batas posterior langit-langit primer. kemudian dipisahkan oleh rak palatal sekunder. rongga hidung posterior meluas untuk membentuk Rak-rak ini disebut langit-langit sekunder, karena suatu ruang yang melapisi seluruh rongga mulut. Mulut dan rongga hidung kemudian mereka dari sekunder ke langit-langit primer. rongga hidung posterior kemudian akan terbuka di nasofaring. kegagalan salah satu langkah-langkah perkembangan agak rumit terjadi secara berurutan dan pada interval waktu perkiraan dapat mengakibatkan cacat bawaan. ini adalah alasan mengapa cacat paling umum/ sering terjadi sekarang. satu di setiap 800 kelahiran hasilnya adalah cacat kedua bibir sumbing, sumbing langit-langit, atau kombinasi kedua cacat tersebut.

3-5 Pembentukan dasar daarri lubang hidung dan nasal fin terletak dibawahnya. (A dan

B).Memperlihatkan pemanjangan dari lubang hidung, lapisan epitel dari maxilllaris dan processus nasals medialis bergabung dan nampak pembukaan jarinan ikat dari bibir .(C) Jaringan dari bibir belum terisi dan membentuk langit-langit utama dimana bagian kecil dari jaringan dibatasi oleh rongga mulut dibawahnya an lubang hidung diatasnya. (D) bagian posterior dari nasal pit terbuka mengarah ke dasar rongga mulut yang dipisahkan dengan lapisan epitel

Dalam ringkasan,pembentukan bibir adalah proses tiga tahap, yang pertama adalah kontak dari dua lembar epitel meliputi proses-proses yang berdekatan, yang kedua, fusi epitel menjadi satu lembar, dan, akhirnya degenerasi lembaran ini, diikuti oleh invasi ke invasi oleh jaringan ikat yang tumbuh dari palung bibir tsb. kelopak mata yang sedang berkembang adalah sebuah contoh dari dua epitel lamina yang mengalami kontak yang kuat tapi jangan melebur atau mengalami penetrasi jaringan ikat. yang hanya tetap tertutup, mata. Di minggu keenam, bagian atas wajah muncul datar dan luas, dengan lubang-lubang hidung lateral terletak pada sudut-sudut wajah. Jarak antara lubang-lubang hidung mewakili sekitar 90% dari lebar wajah. Lateral ke daerah ini adalah proses berkenaan dgn rahang atas, yang muncul pada tahap ini sebagai segitiga atau massa berbentuk baji superior terletak pada aspek lateral rongga mulut. Saat 6 minggu, muncul lengkungan rahang lebar dan datar dan terdiri dari batas bawah rongga mulut. Di garis tengah, sedikit penyempitan masih dapat dilihat, dan lateral aurikel telinga akan muncul dari enam bukit kecil jaringan kecil yang muncul untuk membatasi celah branchial yang diposisikan antara mandibular dan lengkungan hyoid. Tiga dari bukit kecil timbul dari lengkungan rahang dan tiga di bawah sumbing muncul dari lengkungan hyoid. Celah branchial pertama nantinya akan menjadi kanal auditori eksternal. permukaan mereka menyatu, sampai kehamilan bulan ketujuh, dan pada saat mereka terbuka, memperlihatkan

3. perubahan dalam proporsi wajah Tiga atau empat hari kemudian, pada minggu ke 6 , proporsi wajah telah berubah, karena peningkatan dimensi lateral ke lubang hidung. Dalam rentang waktu singkat, perluasan wilayah anterior otak, menyebabkan lateral berkenaan dengan rahang bagian atas untuk pindah ke bagian depan wajah. Dengan demikian, mata dan jaringan pipi berdekatan dan diputar 90 derajat dari sisi ke bagian depan wajah karena pertumbuhan diferensial ini. Daerah hidung medial kini hanya mencapai segmen medial bibis atas yang relatif kecil. Jaringan interposes hidung medial antara potongan rahang atas pada tahap ini akan menjadi tempat masa depan philtrum pada bibir atas. Jaringan hidung medial di awal minggu ketujuh, wajah manusia mulai dikenali muncul sebagai akibat dari letak mata di depan, diferensiasi dari hidung, pembesaran mandibula. Kemudian, ketika wajah bertambah tinggi ukurannya, lubang hidung tidak akan lagi berada pada bidang

horisontal

yang

sama

seperti

mata.

Pada

minggu

ke tujuh,

garis

pemisah

area

mandibular,maxillaris dan nasalis menjadi kabur atau tidak tegas.Telinga eksternal sekarang terlihat, setelah dibedakan dari aurikularis hillocks. itu adalah hal penting bahwa struktur yang rumit ketika telinga eksternal kita dapat muncul dari enam kecil dan pembesaran awalnya sama. Telinga akan muncul dengan baik dari minggu keenam belas prenatal. Bangunanbangunan yang Ikut Membentuk Wajah Prominensia Frontonasal Maksila Medial nasal Lateral nasal Mandibula Bangunan yang terbentuk Dahi,jembatan hidung,tonjol hidung medial dan lateral Pipi, bagian lateral bibir atas Filtrum bibir atas, lengkung dan ujung hidung Alae nasi Bibir bawah

4. Asal mula malformasi wajah Selama periode penyusunan wajah, proses rahang dan maxillae muncul dari lengkungan brakialis pertama sementara daerah dahi dan hidung tumbuh dari jaringan yang melapisi otak-depan. Asal mula yang berbeda ini, masing-masing dengan serangkaian kegiatan dan jadwal sangat tepat, menciptakan penyebab utama variabilitas wajah, baik di dalam dan di luar batas normal pertumbuhan. Selama minggu keempat hingga keenam otak-depan lateral mengalami pengembangan sebagai prosencephalon membentuk ventrikel lateral. Akibatnya wajah bertambah lebar dan mata muncul untuk berpindah dari posisi mereka di kepala lateral ke depan wajah. Perubahan ini merupakan hasil dari pelebaran umum wajah dengan pertumbuhan jaringan di belakang dan yang mendasari mata. Wajah dengan demikian dibentuk oleh otak-depan, dan lapisan jaringan yang mengandung sel-sel saraf pusat dengan bermigrasi dari tabung saraf dorsel turun ke wajah calon. kekurangan sel pusat, misalnya dapat dan pada perubahan placode menyebabkan kurangnya berkembangnya saraf penciuman

kurangnya pembentukan hidung. ketiadaan lubang hidung dan rasa ethimoidal kapsul berikut. anterior medial yang dihasilkan cacat wajah dapat diklasifikasikan sebagai ethmocephaly, yang namanya menunjukkan kekurangan pada jaringan otak dan hidung. Bentuk malformasi wajah yang parah ini jelas menunjukkan hubungan dengan perkembangan wajah saraf. Kurangnya perkembangan otak anterior dapat menyebabkan kekurangan pada saraf saraf penciuman

pusat dan kurangnya induksi bagian hidung. Kekurangan parsial akan mengakibatkan ethmocephaly simpleks, yang dapat mengakibatkan pertengahan celah bibir dan / atau hidung. Kelainan bibir sumbing bagian lateral atau unilateral lebih umum terjadi daripada bibir sumbing bagain tengah. Sumbing ini merupakan hasil dari kesalahan pertumbuhan lokal di dasar lubang hidung. Ini mungkin disebabkan kurangnya pengembangan sirip hidung (nasal fin) di mana dua bagian mungkin tidak bergabung, yang mengakibatkan oronasal sumbing, atau mungkin terdapat kurangnya penetrasi ephitelial sirip oleh jaringan ikat, yang memungkinkan sirip terpisah setelah penutupan awal dan celah untuk muncul. Cacat lain dari wajah anterior dapat muncul dari kurangnya "penggabungan" wajah di sepanjang alur. Penggabungan didefinisikan sebagai alur pengisian oleh pertumbuhan jaringan yang mendasari alur. Alur muncul antara hidung dan mata, atau di sudut-sudut mulut (macrostomia). Minggu keenam dan ketujuh pralahir adalah masa yang penting dalam perkembangan jenis cacat karena alur ini paling jelas pada saat itu. Cacat dari wajah lateral biasanya terkait dengan lengkungan branchial. Cacat ini dapat kembali muncul dari kekurangannya pusat sel saraf selama sel-sel ini bermigrasi ke lengkungan branchial pada awal perkembangan ketika anterior neuropore menutup, mirip dengan cara yang mereka lakukan di lebih dulu di wajah. silih bergantinya telinga eksternal adalah cacat yang paling umum ditemukan dalam sindrom lengkungan branchial, tetapi juga mencakup perubahan dari kerangka wajah dan / atau pengembangan otot lidah cacat, dan sumbing dari alur branchial. Sumbing branchial atau kista muncul paling sering di sepanjang perbatasan anterior otot sternokleidomastoid. Pierre Robin dan Treacher Collins (mandibulofacial dysostosis) sindrom adalah cacat dari lengkungan branchial. kondisi pertama dicirikan oleh mandibula pendek, lidah membesar, dan kemungkinan celah langit-langit mulut. Mereka yang terkena Sindrom Treacher Collins menunjukkan kurangnya perkembangan lengkungan malar, lengkung mandibula pendek, dan kurangnya perkembangan telinga tengah yang menyebabkan kehilangan pendengaran. Cacat garis tengah juga terjadi di mandibula, meskipun jarang terjadi. Hal itu akibat dari kurangnya pengembangan garis tengah pada lengkungan branchial pertama, sehingga kekurangan tulang dan jaringan lunak pada situs tersebut. Thryoglossal duktus kista dan fistula juga terlihat di garis tengah leher, yang disebabkan oleh kegigihan tali sel epitel dari kelenjar tiroid yang berkembang.

Tambahan gambar

TUMBUH KEMBANG JARINGAN RONGGA MULUT


Lidah
Lidah merupakan struktur muscular di dalam rongga mulut. Pada permukaan bawah lidah mukosanya licin. Permukaan dorsal lidah tidak teratur, di anterior ditutupi banyak tonjolan kecil yang disebut papila. Di belakang batas ini permukaan lidah berkelompok limfosit kecil: kelompok kecil limfonoduli dan tonsila lingualis, dengan limfonoduli berkumpul mengelilingi invaginasi (kriptus) dari membran mukosa. Lidah dibagi menjadi 2 bagian: 1. Oral, merupakan bagian yang dapat bergerak, membentuk 2/3 anterior lidah, dilapisi oleh ephitelium squamosa berkeratin. 2. Pharyngeal, merupakan bagian yang tidak dapat bergerak, membentuk 1/3 posterior lidah, dilapisi oleh epithelium squamosa tanpa keratin. Fungsi: Mastikasi Perasa Berbicara Penelanan Tipe Otot: 1. Ekstrinsik: menggerakkan lidah dalam rongga mulut 2. Intrinsik : mengubah bentuk lidah Perkembangan Lidah Lidah merupakan turunan dari semua archus pharyngeal yang kemudian berperan menjadi berbagai komponen. Karena lidah berkembang di dalam dasar rongga mulut, maka tahap-tahap perkembangan embrioniknya belum terlihat di luar. Sel otot lidah berasal dari somit. Sementara itu, otot mastikasi merupakan turunan dari somitomer yang tidak bersegmen. Proses myogenesis lidah sama dengan myogenesis pada limb. Proses myogenesis dan synaptogenesis pada otot mastikasi dapat dikatakan cukup tertunda jika dibandingkan dengan otot-otot lainnya, dan masih belum lengkap saat lahir. Sementara itu, perkembangan dari otot lidah berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan otot-otot lain dan berakhir di sekitar waktu kelahiran. Proses myogenesis otot lidah dan otot mastikasi cenderung bergantung pada perkembangan asal dari otot-otot tersebut, yaitu somit atau somitomer. Sedangkan proses

myogenesis dan synaptogenesisnya sendiri cenderung meningkat untuk memenuhi persyaratan fungsional dari otot lidah dan otot mastikasi. Archus pharyngeal adalah suatu jaringan ikat yang terdapat pada permukaan anterior pada perkembangan embrio manusia. Archus pharyngeal yang pertama adalah archus mandibular. Archus ini kemudian berkembang kearah kaudal. Secara paralel, archus pharyngeal ke-2 adalah archus hyoid, dipisahkan dari yang pertama dengan alur yang tajam dan dalam. Archus pharyngeal yang ke-3, 4 dan 6 lebih kecil dan lebih mencolok daripada archus brachial yang berada di atasnya (archus brachial yang ke-5 menghilang karena mengalami kemunduran). Tiga archus brachial yang terakhir tidak mencapai permukaan pada midline tapi dibatasi oleh bagian lateral leher. Alur yang membatasi archus di luar permukaan adalah brachesl grooves. Hubungan alur-alur ini kemudian berkembang menjadi kantung lateral pada dinding pharyngeal, dan di belakang archus tersebut terdapat saluran cekung, yaitu saluran pencernaan. Sebelum akhir minggu ke-4 embrio, saluran ini ditutup ujung bagian atasnya oleh membran boccopharyngeal yang memisahkan saluran ini dari cavitas oral primitive (stomodeum). Ephitelium anterior sampai membran buccopharyngeal dibentuk dari ectoderm. Sedangkan, saluran yang berada di belakangnya dibentuk dari endoderm. Sekitar 4 1/2 minggu, membran bucopharyngeal pecah. Kemudian lidah mulai berkembang membentuk suatu pembesaran yang muncul di luar bagian belakang archus pharyngeal.

Setiap archus pharyngeal dihubungkan oleh sebuah saraf cranial khusus. 2/3 anterior lidah dibentuk dari 2 pembesaran lingual lateral lidah dan tuberculum impar. Keduanya berasal dari archus ke-1. Archus ke-1 merupakan bagian oral dari lidah. 1/3 posterior lidah dibentuk dari

copula (hypobranchial eminence) dan archus ke-3. Archus ke-3 merupakan bagian pharyngeal dari lidah. Akar lidah dan epiglottis dibentuk dari pembesaran epiglottal dari archus ke-4. Mendekati minggu keempat, elevasi (peninggian) median triangular muncul pada dasar pharynx primordial, hanya rostral ke arah foramen caecum. Pembengkakan ini- median tongue bud (tuberculum impar)- merupakan indikasi pertama perkembangan lidah. Kemudian, 2 dari distal tongue bud yang berbentuk oval (lateral lingual swelling) berkembang pada masing-masing sisi median tongue bud. Otot-Otot Lidah Lidah adalah sebuah kantong epitel yang diisi oleh otot-otot dan jaringan ikat. Membran mukosa lidah melekat dengan erat pada otot, karena jaringan ikat dari lamina propria menyusup ke dalam celah-celah diantara berkas-berkas otot. Otot-otot ini muncul dari lapisan mesoderm. Otot-otot ini dapat dikontrol oleh tubuh dan secara umum dikenal sebagai otot rangka (voluntary striated muscle). Otot-otot ini dibagi ke dalam 2 grup, yaitu otot-otot intrinsik dan ekstrinsik. Otot-otot yang berawal dan berakhir di dalam lidah disebut otot intrinsik dan termasuk ke dalamnya 4 kelompok yaitu: 1. Grup superior longitudinal, terbentang dari depan ke belakang (anterior ke posterior) dan berada di depan dorsum lidah. 2. Grup inferior longitudinal, juga terbentang dari anterior ke posterior tetapi dekat dengan ventrum lidah. 3. Grup tranversal, terbentang dari sisi ke sisi. 4. Grup vertical, terbentang dari atas ke bawah (dorsal ke ventral) Apabila grup longitudinal berkontraksi maka lidah akan memendek. Pemendekan lidah ini akan membuat lidah lebih tebal dan lebih lebar. Namun, apabila grup tranversal berkontraksi maka lidah akan sedikit lebih tebal dan panjang. Lain halnya apabila grup vertical berkontraksi, maka lidah akan lebih lebar dan lebih panjang. Otot intrinsik di dalam lidah adalah otot-otot yang awalnya berada di luar mulut kemudian masuk ke dalam mulut. Otot-otot ekstrinsik sebenarmya lebih berhubungan dengan anatomi secara langsung dibandingkan dengan oral histologi. Terdapat 4 pasang otot ekstrinsik, kiri dan kanan. Hyoglossus terbentang dari sisi lateral tulang hyoid, naik ke pinggir lateral lidah dan menekannya ke dasar mulut. Styloglossus melekat dari prossesus styloideus, turun dan diteruskan ke dalam tepi lateral lidah dan menyatu dengan hyoglossus. Styloglossus menekan lidah ke belakang dan sedikit ke atas. Lalu Palatoglossus terbentang dari anterior palatum

lunak, turun dan sedikit diteruskan ke tepi lateral lidah. Otot ini mengangkat bagian posterior lidah dan menekannya sedikit ke belakang. Genioglossus berawal dari superior genial tuberkel pada midline mandibula dan masuk ke dalam midline lidah dari ujung ke dasar. Otot ini membantu gerak protusi, retrusi atau depressi lidah.

Otot Geniohyoid Otot geniohyoid ini terletak di bagian medial permukaan atas mylohyoid dan berkontak dengan sesama otot geniohyoid di seberangnya. Biasanya di atas otot genioglossus. Geniohyoid disuplai oleh cabang-cabang saraf hypoglossal, tetapi serat-seratnya diturunkan dari saraf spina servikal yang pertama. Otot ini berguna untuk mengangkat dan menarik ke depan tulang hyoid atau berlawanan untuk menekan mandibula.

Otot Hyoglossus Otot ini adalah suatu lembaran yang muncul dari permukaan atas dari keseluruhan panjang kornus yang terbesar dan bagian lateral dari badan tulang hyoid. Seperti otot lainnya di lidah (kecuali palatoglossus), hyoglossus dialiri oleh saraf hypoglossal. Gunanya untuk menekan lidah. Permukaan lateral dari otot ini dihubungkan ke saraf lingual, lobus kelenjar submandibular yang dalam dan duktus submandibular, saraf hypoglossal dan vena lingual yang dalam. Lobus kelenjar submandibular yang dalam terletak berlawanan dengan bagian posterior

permukaan lateral hyoglossus dari dimana dia mulai dipisahkan oleh saraf hypoglossal dan vena lingual yang dalam. Duktus submandibular meninggalkan lobus kelenjar yang dalam dan melewati permukaan lateral hyoglossus, dengan hubungan ke saraf lingual yang telah dijelaskan, untuk membuka kavitas oral pada papilla sublingual di sisi frenulum lidah. Saraf hypoglossal berjalan ke depan pada permukaan lateral hyoglossus, suatu jarak yang pendek diatas kornus yang terbesar dari hyoid. Di margin anterior otot, saraf hypoglossal terbagi ke beberapa cabang yang bergerak ke otot-otot lidah. Di bagian ini melewati hyoglossus, saraf hypoglossal bersama dengan vena lingual yang dalam. Pada bagian posterior dari permukaan lateral hyoglossus berhubungan dengan otot stylohyoid dan tendon lanjutan dari otot digastrik. Permukaan medial dari hyoglossus

dihubungkan pada saraf glossoparyngeal, ligamen stylohyoid dan arteri lingual. Saraf glossopharyngeal berjalan ke dalam bagian atas hyoglossus untuk menyuplai membran mukosa dari posterior pertama sampai ke 3 lidah. Ligamen stylohyoid berjalan ke dalam bagian posterior hyoglossus untuk menempel pada kornus terakhir di hyoid bone. Arteri lingual melewati pertengahan bagian yang lebih rendah dari batas posterior hyoglossus, berjalan melewati atas kornus terbesar dari hyoid dan berbelok ke atas di batas posterior otot untuk melewati permukaan yang lebih rendah dari lidah. Juga yang dihubungkan ke permukaan medial dari hyoglossus adalah otot genioglossus. Otot Mylohyoideus Musculus mylohyoideus yang berasal dari 2 sisi, membentuk diafragma bergerak yang berada di dasar rongga mulut. Leher bereda di bawah diafragma ini. Tiap otot ini merupakan lapisan tipis yang berasal dari panjang keseluruhan garis mylohyoid pada aspek medial mandibula. Otot ini mepunyai ujung posterior yang bebas. Serat posterior berjalan di medial dan turun untuk masuk ke permukaan anterior dari badan tulang hyoid. Serat anterior yang lain melewati medial dan turun untuk bertemu serat yang berhubungan dengan sisi yang berlawanan di raphe median, di mana serat ini berjalan dari permukaan internal symphysis menti menuju bagian depan tulang hyoid. Otot diinervasi oleh cabang mylohyoid dari nervus alveolaris inferior, dan pergerakannya adalah untuk elevasi dasar mulut dan hyoid untuk depresi mandibula. Suplai saraf sensorik dari membran mukosa diperoleh dari cabang-cabang divisi maksila dan mandibula dari nervus trigeminal (5th cranial). Suplai darahnya berasal dari cabang arteri facial, lingual, dan maksila. Limfatik dari membrane mukosa mulut disalurkan menuju submental, submandibular dan cervical lymph nodes atas yang dalam. Ukuran rongga mulut diatur oleh otot buccinator dan mylohyoid; bentuk dan pergerakan lidah oleh otot intrinsik dan ekstrinsik; dan posisi palatum lunak diatur oleh otot palatan. Tulang yang membentuk rangka dari daerah mulut antara lain tulang maksila,palatum, mandibula, dan hyoid.

Bibir dan Pipi Bibir

Bibir merupakan lipatan daging yang terdiri dari kulit di superficialnya dan membran mukosa di internalnya, dengan musculus orbicularis, jaringan ikat longgar, nervus labialis, serta pembuluh darah yang berda di antaranya. Kelenjar labial yang menyekresikan mucus terletak internal dari orbicularis oris. Bibir dapat bergerak. Serabut ototnya mengelilingi mulut, dari nasolabial sulci dan nares (lateral dan superior) sampai mentolabial sulcus di inferior. Di bibir terdapat m.orbicularis oris, otot bibir superior dan inferior, pembuluh darah dan saraf. Bibir lapisan luarnya dilapisi oleh kulit, sedangkan bagian dalamnya oleh membrane mukosa. Fungsi bibir diantaranya mengontrol masuk dan keluarnya zat dari mulut dan saluran pernapasan. Bibir digunakan untuk menangkap (grasping) makanan, menyedot minuman, menjaga makanan tetap berada di mulut, berbicara, osculasi (mencium). Zona transisi bibir tersusun dari coklat sampai merah, terus ke dalam rongga mulut ( membrane mukosa). Frenulum labialis berada di midline membrane mukosa, dari vestibular gingiva sampai mukosa bibir atas dan bawah; yang berada di bibir bawah lebih kecil. Frenula kecil yang lain kadang-kadang terlihat di lateral region vestibular premolar. Pada bibir dapat diamati peralihan antara epitel tanpa lapisan tanduk menjadi epitel berlapis tanduk. Bibir atas dibentuk oleh pertumbuhan processus maxilaris arcus pharyngeal ke-1 pada masing-masing sisi ke arah medial. Akhirnya, processus maxillaries saling bertemu di garis tengah dan bersatu, juga dengan processus nasalis medialis. Jadi bagian lateral bibir atas dibentuk oleh processus maxilaris, dan bagian medial atau philtrum dibentuk oleh processus nasalis medialis dengan bantuan processus maxilaris. Bibir atas disuplai oleh cabang labial superior dari N. facial dan infraorbital arteri (V2). Bibir bawah dibentuk dari processus mandibularis archus pharyngeal ke-1 dari masingmasing sisi. Processus ini tumbuh ke arah medial di bawah stomodeum dan bersatu di garis tengah untuk membentuk seluruh bibir bawah. Bibir bawah disuplai oleh cabang labial inferior dari N.facial dan arteri mentale (V3). Bibir atas dan bibir bawah berhubungan dengan gusi melalui frenulum superior dan inferior. Pembentuknya dapat melewati daerah diantara Insisivus 1 untuk berlekatan dengan papilla insivus, dimana insisivus dipisahkan oleh jarak yang disebut diastema. Pipi

Pipi mempunyai struktur yang hampir sama dengan bibir. Pipi membentuk dinding rongga mulut yang dapat bergerak. Secara anatomi, aspek external dari pipi bergabung dengan region buccal, di anterior berhubungan dengan oral dan region mentalis (bibir dan dagu), superior dengan region zygomaticum, posterior dengan region parotid, dan inferior dibatasi dengan mandibula. Tonjolan pipi berada pada sambungan antara zygomaticum dan region buccal. Tulang zygomaticum berada di bawah tonjolan dan arcus zygomaticum yang berlanjut ke posterior, sering disebut cheek bone. Pipi mempunyai lapisan eksternal berupa kulit, lapisan internal berupa membrane mukosa, lapisan tengah berupa otot (yaitu buccinator), dan jaringan ikat yang mengandung saraf dan pembuluh darah. Kelenjar buccal terletak internal dari buccinators. Sensor inervasi kulit dan membran mukosa dari bibir atas berasal dari nervus infraorbitalis, bibir bawah berasal dari nervus mentalis, sedangkan pipi berasal dari nervus buccalis. Serta secretomotor kelenjar pada bibir atas dan bagian atas pipi lewat dari ganglion pterygopalatinus di nervus maxillaris dan lanjutan infraorbitalisnya. Serta yang sama dari kelenjar pada bibir bawah dan pipi bagian bawah lewat dari ganglion oticus di nervus mandibularis dan alveolar inferiornya serta cabang buccal. Otot mendapatkan aliran darah dari nervus facialis, seperti otot ekspresi wajah.

PENUTUP

Pada

masa-masa

prenatal

manusia

terjadi

berbagai

macam

proses

pembentukan daerah dentocraniofasial. Proses ini terjadi secara bertahap dan dapat mengakibatkan kerusakan morfologis bila terjadi kesalahan pada salah satu proses tersebut. Proses ini ada yang masih berlangsung bahkan setelah lahir. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat dan apabila terdapat kekurangan semoga bisa menjadi bahan dalam pembahasan berikutnya.

Terimakasih

TUMBUH KEMBANG DENTOKRANIOFASIAL PRENATAL (DSP-II)

Kelompok tutor I

- Meivy Puspita Sari - Natasha Griselda - Dwi Destaria - Sarah Nilam

- 05 - 06 - 07 - 08

KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PADJAJARAN 2008


Daftar Pustaka Bishara, E. S., 2001, Textbook of Orthodontics., W. B. Saunders Co. : Philadelphia Moyers, R. E. et al. 1998. Handbook of Orthodontics. 4thed. USA: Medical Publishers Year Book, Inc Orban, B. J., 1957. Oral Histology and Embryology.4th ed. USA :Mosby Company. Sadler, T. W., 1997. Embriologi Kedokteran Langman. alih bahasa, Joko Suyono; editor, Devy H. Ronardy.Jakarta: EGC