You are on page 1of 11

MODUL - XI

MEKANIKA TEKNIK









DISUSUN OLEH :
Muhammad Kholil




Program Studi Teknik Industri
Fakulta Teknologi Industri
UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA 2008

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB IR. MUHAMMAD KHOLIL MT
MEKANIKA TEKNIK 2


Sistem Ekivalen Gaya-gaya
I. Gaya
Gaya didefinisikan sebagai aksi suatu benda terhadap benda lainnya. Kita
mengetahui bahwa gaya merupakan suatu besaran vektor, karena akibat yang
ditimbulkannya bergantung pada arahnya selain hukum jajaran genjang dari
kombinasi vektor. Jasi spesifikasi lengkap dari aksi suatu gaya harus
mencantumkan besar, arah dan titik kerjanya, yang dalam kasus ini diperlukan
sebagai vektor tetap.
Aksi sebuah gaya pada suatu benda dapat digolongkan ke dalam dua
pengaruh yaitu luar (ekternal) dan dalam (internal). Gaya digolongkan sebagai gaya
kontak atau gaya benda, gaya kontak terjadi akibat kontak fisik langsung antara dua
benda. Gaya benda adalah gaya yang terjadi akibat aksi dari jauh, seperti gaya
gravitasi dan gaya magnetik.
Karakteristik sebuah gaya yang dinyatakan oleh hukum Newton ketiga harus
benar-benar diperhatikan. Aksi sebuah gaya selalu oleh reaksi yang besarnya sama
dan berlawanan arah. Sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui dengan jelas
dalam pikiran kita pasangan gaya dipisahkan dan gaya yang dikenakan pada benda
ini (bukan oleh benda) digambarkan. Kekeliruan akibat kecerobohan dan kesalahan
dalam meninjau pasangan gaya sangat mudah terjadi apabila kita tidak berhati-hati
sewaktu membedakan antara aksi dan reaksi.

II. Momen Gaya terhadap Sumbu

Bila momen gaya terhadap sumbu didefinisikan, semua gaya ditinjau pada
bidang gambar dan momennya di hitung terhadap sumbu yang tegak lurus pada
bidang. Namun, dalam ruang, gaya-gayanya tidak terbatas pada gaya yang terletak
pada bidang yang tegak lurus sumbu terhadap mana momen tersebut ditentukan.
Tinjauan suatu gaya F yang ditetapkan di B dan AA (Gambar 4.1). Kita
uraikan F menjadi dua komponen tegak lurus F
1
dan F
2
, komponen F1 dipilih pada
arah sejajar AA, dan komponen telretak pada bidang P tegak lurus pada AA, dan
melalui B. (Kita katakan bahwa F
2
merupakan proyeksi F dan P). Jika F bereaksi
pada suatu benda tegar, hanya komponen F
2
cenderung untuk membuat benda itu
berputar sekitar sumbu AA. Jadi momen F terhadap sumbu AA didefinisikan
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB IR. MUHAMMAD KHOLIL MT
MEKANIKA TEKNIK 3

sebagai momen F
2
terhadap sumbu itu. Momen itu sama dengan perkalian F
2d
,
dengan d jarak tegak lurus dari sumbu AA ke garis aksi F
2
. Arah momen (searah
atau berlawanan dengan jarum jam) ditentukan dari sudut pandang pengamat yang
terletak di A yang melihat ke arah A. Momen F terhadap sumbu AA) berada dari A
ke A) terlihat pada gambar 4.1 ialah berlawanan jarum jam.
Perlu diperhatikan bahwa momen gaya F terhadap sumbu AA menjadi nol
jika garis aksi F berpotongan dengan sumbu itu atau sejajar dengan sumbu
tersebut.

III. Kopel dalam Ruang

Kopel didefinisikan sebagai kompensasi dari dua gaya F dan F yang
mempunyai besar F yang sama, garis aksinya sejajar, dan berlawanan arah.
Ditunjukkan dalam aksi suatu kopel pada benda tegar hanya bergantung dari
momen M dari kopel itu yang sama dengan hasil kali Fd dari besar gaya F jarak d
antara kedua garis aksi itu. Dalam kasus kopel dalam ruang, bidang tempat kopel
itu beraksi harus dispesifikasikan. Karena kopel dapat diganti dengan kopel lain
yang bermomen sama pada bidang yang sama, kita dapat memudahkan untuk
menyatakan suatu kopel dalam ruang oleh suatu vektor yang tegak lurus bidang
kopel itu dan besarnya sama dengan momen M dari kopel itu, ini dinyatakan dalam
M disebut vektor kopel dan arahnya sedemikian sehingga orang yang berada pada
ujung runcing M akan melihat kopel beraksi berlawanan jarum jam.
Titik kerja suatu vektor kopel dapat dipilih dimana-mana pada bidang kopel.
Nyatanya, kita dapat memilihnya dimana saja dalam ruang, seperti yang akan
ditunjukkan dibawah, hanya orientasi bidang kopel yang menentukan. (Dengan kata
lain, kedua kopel dengan momen yang sama dan beraksi pada bidang sejajar
adalah ekivalen (setara). Karena kenyataan ini, vektor koper adalah vektor bebas,
berbeda dengan vektor terikat yang mempunyai titik kerja yang terdefinisikan
dengan baiki, dan vektor kopel dapat dipilih pada titik asal sistem koordinat. Lebih
jauh lagi, vektor kopel M dapat diuraikan menjadi vektor komponen M
x
, M
y
, M
2
, yang
berarah sesuai dengan sumbu koordinat.

IV. Kopel adalah Vektor

Untuk memudahkan kita katakanlah bahwa kopel adalah suatu vektor.
Namun, pernyataan tersebut harus dapat dibenarkan, yaitu ditunjukkan bahwa kopel
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB IR. MUHAMMAD KHOLIL MT
MEKANIKA TEKNIK 4

memiliki semua karakteristik suatu vektor. Kita telah mengetahui bahwa kopel
mempunyai besar dan arah, kita juga harus menunjukkan bahwa kopel dapat
dijumlahkan dengan menjumlahkan vektor kopel yang bersangkutan mengikuti
hukum jajaran genjang.
Tinjaulah dua kopel bermomen M1 dan M2 yang beraksi, berurutan, pada
bidang P
1
dan P
2
(Gambar 4.7a). Masing-masing kopel dapat dinyatakan dengan
dua gaya F dan F yang besarnya F diambil sembarang. Jarak d
1
antara gaya ini
membentuk kopel pertama dan jarak d
2
antara gaya salah satu gaya dari masing-
masing kopel dapat dipilih sepanjang perpotongan AA antara kedua bidang itu,
yang sesuai dnegan arah AA saling meniadakan dan kopel yang diberikan dapat
direduksi menjadi gaya sepanjang BB dan CC. Kedua gaya ini membentuk kopel
bermomen M = Fd yang beraksi pada bidang P yang didefinisikan oleh BB dan CC.

V. Penguraian Suatu Gaya Menjadi Suatu Gaya pada O dan Suatu
Kopel

Tinjaulah gaya F pada titik sudut A dari kotak persegi. Karena gaya selalu
dapat diuraikan menjadi komponen yang sejajar dengan sumbu koordinat, kitaakan
menganggap bahwa F sejajar pada salah satu sumbu, misalnya, sumbu z (Gambar
4.9a).
Kerjakan pada bidang ABCD sesuai dengan aturan, yang kita ganti gaya
yang diketahui dengan sistem kopel gaya di B. Gaya yang besarnya F, berarah
sejajar sumbu z, kopel yang sama dengan momen M
y
yang searah dengan sumbu y
(Gambar 4.9b). Sekarang kita kerjakan pada bidang BCEO, kita pindahkan vektor
kopel ke O dan ganti gaya F yang beraksi di B dengan sistem gaya kopel di O kopel
yang baru yang bermomen sama dengan M
y,
dari F (beraksi di B atau di A) terhadap
sumbu x dapat dinyatakan dengan vektor M
y
yang berarah sepanjang sumbu x
(Gambar 4.9c).

VI. Reduksi Suatu Sistem Menjadi Gaya pada Satu Gaya dan Satu
Kopel

Tinjaulah suatu sistem gaya F
1
, F
2
, F
3
dan sebagainya yang beraksi pada
benda tegar. Mula-mula kita uraikan masing-masing gaya menjadi komponen tegak
lurusnya. Komponen ini dapat diganti dengan gaya dan kopel ekivalen di O. Dengan
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB IR. MUHAMMAD KHOLIL MT
MEKANIKA TEKNIK 5

menjumlahkan semua komponen x, z dan z, kita peroleh, berurutan, gaya R
x
, R
y
,
dan R
z
yang berarah sesuai dengan sumbu koordinat, demikian juga, dengan
menjumlahkan semua momen terhadap sumbu x, y dan z, kita peroleh, berurutan,
vektor kopel M
x
, M
y
, dan M
z
. Dianjurkan untuk mengatur hasil perhitungan dalam
bentuk tabel seperti yang terlibat pada contoh 4.3 dan 4.4. Gaya dan vektor kopel
yang diperoleh bersama-sama ekivalen dengan sistem yang diberikan, kuantitas
tersebut menyatakan dengan jelas apa yang ditimbulkan oleh sistem pada benda
tegar. Perhatikan bahwa vektor kopel yang berbeda dapat diperoleh bila titik asal O
yang berbeda dipilih.
Kita perhatikan bahwa supaya ekivalen, dua sistem gaya yang diketahui
harus tereduksi menjadi gaya dan vektor kopel di O yang sama. Jumlah komponen,
x, y dan z dan jumlah momennya terhadap sumbu x, y dan z haruslah berurutan,
sama.
Demikianlah juga, vektor kopel M
x
, M
y
, dan M
z
dapat diganti oleh vektor
kopel tunggal M. Besar dan arah gaya R dan vektor kopel M dapat diperoleh
dengan metode. Dengan memberi tanda O
x
, O
y
, O
z
dan |
x
, |
y
, |
z
untuk sudut yang
dibentuk, berurutan oleh R dan M dengan sumbu koordinat, kita tulis :


z
R
y
R
x
R R
2 2 2
+ + =
cos O
x
=
R
R
x
cos O
y
=
R
R
y
cos O
z
=
R
R
z

z
M
y
M
x
M M
2 2 2
+ + =
cos |
x
=
M
M
x
cos |
y
=
M
M
y
cos |
z
=
M
M
z


Perbedaan yang penting antara reduksi suatu sistem gaya sebidang dan
reduksi suatu sistem gaya ruang perlu diperhatikan. Telah diperlihatkan bahwa
sistem gaya kopel yang diperoleh dengan mereduksi sistem gaya sebidang dapat
direduksi lebih lanjut menjadi gaya tunggal. Dalam kasus sistem gaya ruang pada
umumnya hal seperti itu tidak mungkin. Suatu sistem gaya kopel dapat direduksi
menjadi gaya tunggal hanya jika gaya dan kopel itu beraksi pada satu bidang ini
berarti hanya jika gaya dan vektor kopelnya saling tegak lurus.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB IR. MUHAMMAD KHOLIL MT
MEKANIKA TEKNIK 6


VII. MOMEN DAN KOPEL
Definisi vektor yang umum dari momen telah diuraikan, meskipun dalam
analisis dua dimensi seringkali lebih mudah untuk menentukan besar sebuah
memen dengan perkalian skalar dengan menggunakan kaidah lengan momen.
Akan tetapi, dalam tiga dimensi, penentuan jarak tegak lurus antara sebuah titik
atau garis dengan garis kerja gaya dapat merupakan perhitungan yang
membosankan. Pendekatan vektor dengan menggunakan perkalian silang akan
lebih memudahkan.
Momen. Tinjaulah Sebuah gaya F dengan suatu garis kerja yang bekerja
pada sebuah benda, sembarangan titik O yang tidak terletak pada garis ini. Titik O
bersama dengan garis G tersebut membentuk bidang A. momen Mo akibat F
terhadap sumbu yang melalui O yang tegak lurus terhadap bidang tersebut adalah
Mo = Fd, dimana d adalah jarak tegak lurus dari O ke garis kerja F. Momen ini juga
dianggap sebagai momen akibat F terhadap titik O. vektor Mo adalah tegak lurus
terhadap bidang tersebut dan sepanjang sumbu yang melaui O. Besar dan arah Mo
dapat dihubungkan dengan perkalian silang vektor yang telah dibahas. Vektor r
mulai dari O menuju sembarang titik pada garis kerja F.
Perkalian silang dari r dan F ditulis r x F dan besarnya adalah ( r sin o) F, yang
sama dengan Fd, yakni besar Mo.
Arah yang tepat dari momen ditetapkan oleh kaidah tangan kanan, yang diuraikan
sebelumnya. Jadi dengan r dan F diperlukan sebagai vektor bebas. Karena kita
dapat menuliskan momen F terhadap sumbu yang melalui O sebagai :
Mo = r x F
menerapkan prinsip momen, persamaan prinsip yang sama ini dapat dikembangkan
untuk tiga dimensi.
Dalam pasal sebelumnya kita telah membuktikan bahwa sebuah gaya dapat
dipindahkan ke sebuah yang sejajar dengan F1, F2, F3 yang bekerja pada
sebuah benda tegar. Kita dapat memindahkan tiap-tiap gaya tersebut ke titik O
sembarang asalkan kita menambahkan juga sebuah kopel untuk setiap gaya yang
dipindahkan tadi. Jadi, misalnya kita boleh memindahkan gaya F1 ke O ke suatu
titik pada garis aksi F1. Bila semua gaya digeser ke O dengan cara ini, maka kita
mempunyai sebuah sistem gaya yang kongkuren di O dan sebuah sistem vektor
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB IR. MUHAMMAD KHOLIL MT
MEKANIKA TEKNIK 7

kopel, sepeti diperlihatkan dalam gaya-gaya yang kongkuren itu kemudian dapat
dijumlahkan secara vektor
untuk menghasilkan gaya resultan R, dan kopel juga dapat dijumlahkan untuk
menghasilkan kopel resultan M.
Kemudian sistem gaya umum tersebut disederhanakan menjadi :

R = F1 + F2 + F3 EF
M = M1 + M2 + M3 E (r x F)

Contoh Soal :
Tentukan resultan dari sistem gaya dan kopel yang bekerja pada benda padat
persegi.
Penyelesaian : kita memilih titik O sebagai titik acuan yang mudah untuk tahap awal
penyerderhanaan gaya-gaya yang ada ke sistem kopel gaya.
Gaya resultan adalah :

R = EF = (80 80) i + (100 100) j + (50 + )k = o N

Jumlah momen terhadap o ialah

Mo = (50(16) 70) i + (80 (1,2) 96)j + (100 (1) (100 ) k N.m

Karena itu resultan terdiri dari sebuah kopel, yang tentu saja dapat
dikenakan pada sembarang titik pada benda tersebut atau pada benda perluasan
tersebut.



PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB IR. MUHAMMAD KHOLIL MT
MEKANIKA TEKNIK 8

VIII. BAGIAN SISTEM GAYA TIGA DIMENSI KOMPONEN
PERSEGI PANJANG
Kebanyakan persoalan dalam mekanika membutuhkan analisis tiga dimensi
dan seringkali kita perlu menguraikan sebuah gaya ke dalam ketiga komponen
saling tegak lurusnya. Jadi gaya F yang bekerja pada titik O, mempunyai
komponen Fx, Fy dan Fz dimana :

Fx = F cos ux F = \ Fx
2
+ Fy
2
+ Fx
2


Fy = F cos ux F = Fx i + Fy j + Fx k

Fx = F cos ux F = F ( i cos ux + J cos uy + k cos ux)

Dimana dalam kasus ini besarnya adalah satu. Jika F mempunyai cosinus arah
I, m, n terhadap sumbu acuan x-y-z, maka proyeksi F dalam arah n menjadi :
Fn = F.n F(ii+ mj + nk). (oi + |j + yk)
= F (io + m| + ny)
Karena i.i = j, j = k, k = 1
Dan i.j =j, i=i, k=k, i=j, k=k, j=0
Jika sudut antara gaya F dan arah yang ditentukan oleh vektor satuan n
adalah u, maka dengan memakai hubungan perkalian titik kita memperoleh F.n =
Fn cos u = F cos u dimana
n = n=1. Jadi sudut antara F dan n ialah

u = cos
1
F.n
F
Atau, pada umumnya, sudut antara dua vektor sembarang P dan Q adalah
u = cos
1
P.Q
PQ
Contoh Soal :
Sebuah gaya F dengan besar N dikenakan pada titik asal O dari sumbu-
sumbu x-y-z sebagaimana ditunjukkan. Garis harga F yang melalui suatu titik A
berkoordinat 3 m, 4m, dan 5m. Tentukan (a) Komponen-komponen skalar x,y dan z
dari F (b) proyeksi F pada bidang x-y dan (c) proyeksi Fn dari F sepanjang garis O-n
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB IR. MUHAMMAD KHOLIL MT
MEKANIKA TEKNIK 9

yang melalaui titik B seperti diperlihatkan.

Penyelesaian. Bagian (a). cosinus arah F adalah;

l =3 = 0,424 m = 4 =0,566 n = 5 = 0,707
7,071 7,071 7,071

Dimana diagonal ke titik A adalah \ 3
2
+ 4
2
+ 5
2
= \ 50 = 7,071 m
Bagian (b). Cosinus sudut uxy antara F dan bidang xy adalah

cos 0xy = \ 3
2
+ 4
2
= 0,707
7,071

Sehingga Fxy = F cos uxy = 100 (0,707) = 70,7 N
Jawab
Bagian . Cosinus arah dari vektor satuan n sapanjang O-n adalah
o= | = 6 = 0,688 y = 2 = 0,229
\ 6
2
+6
2
+2
2
\ 6
2
+ 6
2
+ 2
2


Jadi, proyeksi F sepanjang O-n menjadi

Fn = F.n = 100 (0,42 4i + 0,566j + 0,707k) . (0,688i + 0,688j + 0,229k)
= 100 [(0,424) (0,688) + (0,566) (0,688) + (0,707) (0,229)]
= 84,4 N

- Dalam contoh ini semua komponen skalar adalah positif. Bersiap-siaplah untuk
kasus dimana cosinus arah dan skalarnya, ternyata negatif.
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB IR. MUHAMMAD KHOLIL MT MEKANIKA TEKNIK
10

- Perkalian titik dengan sendirinya akan mendapatkan proyeksi atau komponen
skalar dari F sepanjang garis O-n sebagaimana ditentukan. Untuk menuliskan
komponen skalar ini sebagai suatu vektor kita harus menuliskan F-nn atau 84,4n
N.































PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB IR. MUHAMMAD KHOLIL MT MEKANIKA TEKNIK
11

KESIMPULAN

Momen gaya terhadap sumbu adalah semua gaya ditinjau pada bidang
gambar dan momennya dihitung terhadap sumbu yang tegak lurus terhadap bidang.
Arah momen yaitu searah atau berlawanan dengan arah jarum jam ditentukan dari
sudut pandang pengamat yang terletak di A yang melihat ke arah
Kopel adalah kompensasi dari dua gaya F dan F yang mempunyai besar F
yang sama, garis aksinya sejajar dan berlawanan arah. Kopel adalah suatu vektor
yang sama mempunyai besar dan arah.
Dimensi adalah satuan/sistem konversi dari satuan yang berfungsi untuk
mencari kesetaraan. Sistem gaya kopel yang diperoleh dengan mereduksi sistem
gaya sebidang dapat direduksi lebih lanjut menjadi gaya tunggal, jika gaya-gaya
kopel beraksi pada satu bidang dan juga gaya dan kopel vektor saling tegak lurus.
Sistem Gaya merupakan bagian yang paling penting dalam statistika dan
harus benar-benar dikuasai, Kita akan tetap menggunakan konsep yang
dikembangkan, yang meliputi gaya, momen, kopel, dan resultan pada saat kita
menerapkan prinsip-prinsip kesetimbangan. Prosedur yang dikembangakan
merupakan pengantar lengkap yang sering kali dalam menyelesaikan persoalan-
persaoalan mekanika dan bidang teknik lainnya. Pendekatan ini merupakan dasar
dari keberhasilan dalam penguasaan statistika.