Вы находитесь на странице: 1из 101

Kisi-Kisi Kuliah Mekanika Fluida

1. Definisi
2. Simbul dan Sistem Satuan
3. Sifat-Sifat Fluida
Kerapatan
Volume Jenis
Gravitasi Jenis
Kompresibilitas
Tegangan Permukaan
Tekanan Uap
Viscositas
Thermodinamika
Temperatur, Panas, Usaha

4. Fluida Statik
Persamaan Umum
Hidrostatika
Fluida Yang Mengalami Percepatan Seragam
Fluida yang Mengalami Rotasi Seragam
Manometer
5. Persamaan Gerak Fluida Ideal

UJIAN TENGAH SEMESTER
6. Persamaan Gerak Fluida Viscous
Persamaan Umum
Aliran Fluida Dalam Pipa
Keseimbangan Energi
Pressure Loss Dalam Pipa
Sambungan Pipa

7. Angka-Angka Tanpa Dimensi

UJIAN AKHIR SEMESTER
BUKU PEGANGAN
DASAR-DASAR MEKANIKA
FLUIDA TEKNIK

REUBEN M.OLSON
STEVEN J.WRIGHT


Cara Penilaian
1. Ujian Tengah Semester 35 %
2. Ujian Akhir Semester 45 %
3. Tugas Tugas 15 %
4. Kehadiran 5 %
MEKANIKA FLUIDA
Definisi Fluida
Fluida didefinisikan sebagai suatu zat yang terus menerus
berubah bentuk apabila mengalami tegangan geser; dimana
fluida tidak mampu menahan tegangan geser tanpa mengalami
perubahan bentuk.
Definisi dan Sifat-Sifat fluida
Jenis-jenis bahan :
Zat padat
Zat cair
gas
Perbedaan zat padat dan zat cair

Zat padat mempunyai bentuk tertentu, sedangkan zat cair atau
gas mempunyai bentuk yang ditentukan oleh wadahnya.

Perbedaan zat cair dan gas
Gas akan menyebar dan mengisi seluruh wadah yang
ditempatinya.
Perbedaan pokok zat padat dan fluida
Perbedaan pokok antara zat padat dan fluida adalah
dari karakteristik deformasi bahan-bahan tersebut;
dimana Zat padat dianggap sebagai bahan yang
menunjukkan reaksi deformasi yang terbatas ketika
mengalami atau menerima tegangan geser (shear).
Pada umumnya makin besar laju deformasi fluida
makin besar pula tegangan geser yang dialami
fluida.


Viscositas atau kekentalan merupakan ukuran
untuk menyatakan hambatan atau ketahanan fluida
terhadar deformasi.
Tegangan geser bisa terjadi jika suatu fluida
mengalami deformasi.

Air dalam wadah yang dirotasikan dengan
kecepatan/percepatan konstan tidak
menunjukkan adanya deformasi sehingga tidak
mengalami tegangan geser.
Agar terjadi tegangan geser maka fluida harus viscous
sebagaimana karakteristik yang ditunjukkan oleh
semua fluida sejati.

Fluida ideal didefinisikan sebagai fluida yang tidak
viscous; jadi tegangan geser dalam fluida ideal tidak
ada meskipun fluida itu mengalami deformasi.
Simbul dan Satuan
Untuk mempermudah studi tentang perilaku fluida
maka diperlukan simbul-simbul khusus seperti massa,
panjang, waktu dan temperatur (M, L, T dan u).

Untuk besaran-besaran tak berdimensi diberi nama
sesuai dengan orang yang dianggap berjasa seperti
Re untuk menyatakan reynolds Number.
Untuk menyatakan besaran-besaran fisika diperlukan
sistem satuan seperti panjang boleh dinyatakan dalam
satuan inci, kaki meter, mil dsb.
Contoh Sistem satuan
Sistem Gaya Massa Panjang Waktu g
c

Inggris
absolut
poundal (pdl) pound ft s 1 lbm ft/pdl s
2

Matric
absolut
(cgs)
dyne gram (g) cm s 1 g cm/dyne s
2

Inggris
teknik
pound (lbf) slug ft s 1 slug ft/lbf s
2

SI Newton (N) Kilogram (kg) Meter (m) s 1 kg m/N s
2


Persamaan, tabel dan grafik yang mengandung
parameter-parameter tak berdimensi, sistem
satuan yang digunakan tidak berpengaruh,
dimana persamaan, tabel dan grafik yang ada
berlaku untuk semua sistem satuan.

Persamaanpersamaan yang menghubungkan
besaran fisik harus konsisten tak perduli sistem
satuan mana yang digunakan untuk
menetapkan harga-harga numerik parameter-
parameter dalam persamaan tersebut.
Contoh :
Kecepatan fluida sering diukur secara tidak langsung dengan
mengukur kenaikan tekanan ketika fluida itu dihentikan. Untuk
ini dengan Ap kenaikan tekanan dan kerapatan fluida.
Kenaikan tekanan yang terukur untuk air adalah 150 lbf/ft
2
.
Berapakah kecepatan yang terukur ?

Jawab:
Dalam sistem Inggris Teknik, = 1.94 slug/ft
3


s ft s ft slug slug lb ft
ft slug
ft lb
V
f
f
/ 44 . 12 / 4 . 12 / 44 . 12
/ 94 . 1
) / 150 ( 2
2 2
3
2
== = = =
Sifat-Sifat Fluida
Semua fluida sejati mempunyai sifat-sifat penting
dalam dunia rekayasa.

Sifat-sifat yang dimaksut (dalam keadaan diam)
adalah: kerapatan, kompresibilitas, kapileritas
dan tekanan uap.

Untuk fluida yang dinamik masih ada sifat penting
yaitu viscositas.
Tekanan dan temperatur juga merupakan sifat-sifat
yang menentukan sifat-sifat lain.

Beberapa sifat fluida merupakan perpaduan beberapa
sifat yang telah disebutkan.

Contoh :
Difusifitas termal melibatkan perpaduan antara
konduktivitas termal, kerapatan dan kerapatan panas
jenis pada tekanan konstan sedangkan konduktivitas
termal melibatkan viskositas dan kerapatan dinamik.
Semua fluida terdiri dari molekul-moekul yang
masing-masing tidak terikat ditempat tertentu
tetapi saling bergerak terhadap yang lain.

Jarak antar molekul dalam gas lebih besar dari
ukuran molekulnya, sedangkan dalam zat cair
keduanya kurang lebih sama.

Dalam rekayasa kita beranggapan bahwa fluida
berperilaku seolah memiliki struktur yang
kontinu.
Kerapatan, Volume jenis dan Gravitasi jenis
Kerapatan (density) suatu zat adalah ukuran konsentrasi zat
tersebut dan dinyatakan dalam massa per satuan volume.

= lim (m/v)

Kerapatan air pada temperatur kamar adalah 1.94 slug/ ft
3
,
atau 1000 kg/m
3
.

Kerapatan udara baku ( ditetapkan pada tekanan mutlak 2116
lbf/ft2 dan T = 59
o
F) adalah 0.002378 slug/ ft
3

Tekanan dan temperatur pengaruhnya kecil terhadap
kerapatan zat cair, namun sangat berarti terhadap kerapatan
gas.

Volume jenis (v)
Volume jenis (v) adalah volume yang ditempati oleh sebuah
satuan massa zat, karenanya merupakan kebalikan dari
kerapatan

V = 1/
Berat jenis ()
Berat jenis () adalah gaya gravitasi terhadap massa
yang terkandung dalam sebuah satuan volume

= g

Untuk air dengan kerapatan 1.94 slug/ft
3
dan
percepatan gravitasi 32.17 ft/s
2
berat jenisnya adalah :

= (1.94 slug/ft
3
)(32.17 ft/s
2
) = 62.4 lbf/ft
3
Berat jenis bukanlah sifat fluida yang
sesungguhnya karena sifat ini tergantung pada
percepatan gravitasi lokal.

Meskipun demikian gaya hidrostatik yang bekerja
terhadap fluida tergantung pada gravitasi sehingga
orang terbiasa menggunakan berat jenis dalam
perhitungan-perhitungan yang melibatkan gaya
tersebut.
Gravitasi jenis (s)
Gravitasi jenis (s) adalah sifat yang digunakan untuk
membandingkan kerapatan suatu zat dengan kerapatan air.

Karena kerapatan semua zat cair tergantung tekanan dan
temperatur maka tekanan dan temperatur zat cair yang
ditanyakan dan yang dijadikan acuan harus dinyatakan untuk
mendapatkan harga gravitasi jenis yang tepat.

s = /w
Kompresibilitas (k)

Deformasi yang dialami fluida akibat geseran viscous
atau kompresi oleh tekanan dari luar yang bekerja
terhadap suatu volume fluida.

K = -P/(V/V)
Tegangan Permukaan
Tegangan di permukaan cairan yang terjadi akibat perbedaan tarik
menarik antar molekul zat cair dekat permukaan dan molekul-
molekul yang terletak agak jauh dari permukaan dari massa zat cair
yang sama.

Jika suatu tabung pipa kecil dicelupkan tegak lurus kedalam air yang
bebas, maka air akan naik kedalam pipa tersebut.

Jika zat cair tersebut adalah air raksa maka permukaan cairan dalam
pipa akan turun

Pipa plastik bersih yang ditempatkan dengan cara sama mungkin
akan membuat kolom air didalamnya naik, turun atau tetap;
tergantung jenis plastik yang digunakan.

Tegangan permukaan dinyatakan dalam simbul o.

Apabila antarmuka zat cair bersinggungan dengan permukaan
zat padat berarti disitu terdapat tiga buah gaya antarmuka:
antara gas dengan zat cair, gas dengan zat padat dan zat cair
dengan zat padat. Keseimbangan yang terjadi menghasilkan
hubungan skalar sbb:
o
gs
= o
sl
+ o
gl
cos u

Zat cair disebut membasahi permukaan apabila u < t/2 dan
sebaliknya.

Sudut kontak antara kaca bersih, air dan udara sama
dengan nol.

Naiknya kolom air didalam pipa kecil adalah akibat
tegangan permukaan dan disebut dengan gejala kapiler.

Kenaikan permukaan zat cair dalam pipa kecil (gejala
kapiler) dapat ditentukan dengan persamaan :




Apabila u < t/2 kenaikan kapiler akan terjadi dan sebalinya.
u

o
cos
2
gr
h =
Tekanan Uap

Adalah suatu tekanan dimana zat cair dan
uapnya berada bersama sama dalam
keseimbangan.

Untuk setiap zat cair, tekanan uap merupakan
fungsi temperatur.
Viscositas

Adalah ukuran ketahanan fluida terhadap deformasi
atau perubahan bentuk.

Viscositas gas bertambah naik sejalan dengan naiknya
temperatur karena meningkatnya aktivitas molekul
ketika temperatur naik.

Pada zat cair, jarak antar molekul jauh lebih kecil
dibandingkan dengan gas sehingga kohesi antar
molekul disitu besar. Peningkatan temperatur
mengurangi kohesi molekul dan ini diwujudkan berupa
penurunan viscositas fluida.

Dalam industri perminyakan, satuan viscositas biasa
dinyatakan dalam centipoise (cp). 1 poise = 0.1 kg/m s
Jenis Viscositas
Viscositas dinamik ( ) : adalah tegangan geser terhadap
gradien kecepatan

= (lbf/ft
2
)/((ft/s)/ft) = lbf s/ft
2
= slug/fts

=

(N/m
2
)/((m/s)/m) = Ns/m
2
= kg/ms

Viscositas kinematis (v) : adalah perbandingan viscositas
dinamis dengan kerapatan

V = /
= m
2
/s (untuk sistem SI)
= ft
2
/s (untuk sistem british)
Termodinamika
Pembahasan mekanika fluida, khususnya yang menyangkut
aliran gas memerlukan keterlibatan prinsip-prinsip
termodinamika; terutama mengenai konsep-konsep dan
persamaan-persamaan yang berhubungan dengan mekanika
fluida. Konsep-konsep yang dimaksud adalah konsep sistem
dan volume kontrol.

Sistem adalah bahan atau zat dengan bahan tertentu yang
akan dijadikan pusat perhatian. Daerah diluar batas sistem
disebut dengan lingkungan.

Apabila berurusan dengan aliran fluida umumnya lebih mudah
kalau berurusan dengan suatu daerah yang tetap
dibandingkan jika partikel-partikel zatnya yang tetap.
Hukum Pertama Termodinamika

Hukum pertama termodinamika merupakan hukum kekekalan energi.

Setiap energi yang dipindahkan memintas batas sebuah sistem,
energi yang bersangkutan berubah dengan besar yang sama.

Salah satu bentuk Hukum pertama ini menyatakan bahwa jika energi
dipindahkan ke suatu zat dalam sebuah sistem tertutup sedemikian
rupa sehingga tidak ada panas yang dipindahkan ke atau dari sistem,
besar usaha yang dilakukan didefinisikan secara langsung menurut
keadaan akhir proses bersangkutan

e
1
e
2
= w
1-2

e = kandungan energi (energi content) yang didalamnya termasuk
energi kinetik,energi potensial dan energi dalam (u).
Jika suatu proses disertai dengan perpindahan
panas, energi yang dipindahkan sebesar:

q
1-2
= w
1-2
- w
1-2
= e
2
e
1
+ w
1-2

Untuk sistem tertutup dengan mengabaikan
energi kinetik & potensial :

q
1-2
= u
2
u
1
+ w
1-2

Hukum Kedua Termodinamika

Perubahan energi yang terjadi tidak dapat berjalan balik
(irreversible).

Penggunaan hukum ini dalam termodinamika yang paling
bermanfaat adalah adanya aksioma yang disebut
ketidaksamaan clausius, yaitu apabila sebuah sistem
menjalani suatu proses siklus yang lengkap (Zat dalam sistem
kembali ke keadaan kesetimbangan semula), maka integral
dQ/T s nol.

} (dQ/T) s 0
Aksioma kedua hukum kedua menyatakan integral dQ/T untuk
sebuah proses dapat balik antara kondisi acuan dan kondisi
akhir menghasilkan sebuah sifat baru yang disebut entropi.

Jika entropi per satuan massa dinyatakan dengan s, maka :


dimana : dq = du + dw sehingga :



Apabila hanya p dv energi yang ditransfer, untuk proses dapat
balik tanpa pemindahan panas maka ds = 0 & untuk tidak dapat
balik ds > 0.

Entalpi (H)
Entalpi (H) (atau h per satuan massa) adalah jumlah energi
dalam dan hasil kali tekanan dan volume jenis.

h = u + pv

Dalam bentuk differensial;

dh = du + p dv +v dp,

Sehingga

T ds = dh v dp

Gas Ideal
Adalah gas yang memenuhi persyaratan keadaan pv = RT
atau p = RT

Kapasitas jenis pada tekanan konstan (cp) dan volume
konstan (cv) didefinisikan sebagai :

(Perubahan energi terhadap temperatur pada tekanan
konstan)



(Perubahan energi dalam terhadap temperatur pada volume
konstan)
p
p
dT
dh
c
(

=
v
v
dT
du
c
(

=
Untuk gas ideal, cv adalah fungsi temperatur

du = cv dT dan bila cv konstan maka :
u
2
u
1
= cv (T
2
T
1
)

dh = cp dT dan bila cp konstan maka :
h
2
h
1
= cp (T
2
T
1
)

Untuk gas ideal, berlaku :
cp - cv = R
Proses Aliran
Sebuah sistem disebut isoterm bila temperaturnya tidak
berubah. Persamaan keadaan untuk gas ideal menyatakan
bahwa pv = konstan

Sebuah sistem dikatakan isobar bila tekanannya tidak
berubah.

Sebuah sistem dikatakan adiabatik bila tidak ada panas yang
dipindahkan ke atau dari sistem dari atau ke lingkungan
sekitarnya ( dq = 0).

Isentropik adalah suatu proses adiabatik yang perubahan-
perubahannya dapat balik.
Untuk proses isentropik berlaku persamaan :

P
1
v
1
k
= p
2
v
2
k
= konstan




Suatu proses dikatakan politropik bilamana :
P
1
v
1
n
= p
2
v
2
n
= konstan

n = 1 untuk proses isoterm
n = 0 untuk proses tekanan konstan.
n = k untuk proses isentropik
dan
p
p
T
T
k k

/ ) 1 (
1
2
1
2

|
|
.
|

\
|
=
k
p
p
/ 1
1
2
1
2
|
|
.
|

\
|
=

Fluida Statik
Fluida Statik membahas perubahan-perubahan tekanan fluida
terhadap ketinggian dalam suatu medan gravitasi, misalnya
medan gravitasi bumi dan perubahan-perubahan tersebut
pada permukaan di dalam fluida pada keadaan diam.

Penelitian terhadap perubahan-perubahan ini memungkinkan
penentuan beda tekanan yang diukur dengan manometer,
gaya hidrodtatik pada tangki penimbunan dll.

Analisa gaya dalam suatu sistem fluida dianggap penerapan
hukum kedua Newton untuk gerak per satuan volume fluida
F = a
Dalam suatu aliran fluida, setiap bagian massanya
mungkin mengalami tekanan, gravitasi, tegangan
viscous, tegangan permukaan dll; oleh karena itu
analisa terhadap gaya-gaya itu mungkin kompleks
sekali.

Dalam hidrotatika kita mengandaikan fluida dalam
keadaan diam sehingga percepatan sama dengan
nol dan tidak ada tegangan viscous.

Gaya akibat tegangan permukaan pada umumnya
diabaikan.

Dengan demikian keseimbangan gaya
hidrostatika yang terjadi adalah antara
tekanan normal dan gaya gravitasi.

Gaya-gaya yang terjadi akibat tekanan
adalah sebuah vektor yang merupakan hasil
kali intensitas tekanan dan luas serta
mempunyai arah normal terhadap luas
permukaan benda.

F = -}} p(n dA)
Persamaan Differensial Umum








Arah gaya dalam suatu benda

Karena fluida diandaikan dalam keadaan diam, maka terjadi
keseimbangan antara gaya-gaya yang bekerja terhadap
fluida.
Arah Sumbu X



Arah Sumbu Y



Arah Sumbu Z





Dalam bentuk vektor, hubungan tersebut dituliskan :

Ap = g

Persamaan differensial diatas mengungkapkan hal-hal
nyata yang sering dijumpai, misalkan:

1. Intensitas tekanan berkurang dengan berkurangnya
ketinggian (op negatif bila oz positif)

2. Intensitas tekanan tidak berubah bila ketinggian
tetap (op = 0)
Hidrostatika




p
2
-p
1
= -g (z
2
-z
1
) = - (z
2
-z
1
)

Ap = h

p/ = pressure head
z = potensial head
(p/+z) = piezometric head
Zat cair homogen
1. Pressure head di A > B
2. Potensial head di B > A
3. Piezometric di A =
Piezometric di B
Zat cair heterogen
1. P
1
= p
0
+
1
g
1
h
1
2. P
2
= p
1
+
2
g
2
h
2

= p
0
+
1
g
1
h
1
+
2
g
2
h
2

dst

Jadi untuk fluida heterogen,
Piezometric head di semua
tingkat tidak konstan.

Fluida yang Mengalami Percepatan Seragam

Hidrolika dipandang sebagai suatu kasus khusus diantara
yang lebih umum, dimana fluida mengalami percepatan
seragam sehingga tegangan geser dalam tidak ada. Keadaan
ini terjadi pada analisa zat cair dalam wadah yang mengalami
percepatan. Jika fluida dalam wadah tidak sampai terguncang,
maka fluida akan mengalami percepatan sama dengan
wadahnya.
Tujuan analisa
Tujuan analisa ini adalah untuk menyertakan percepatan
dalam persamaan keseimbangan gaya :



Persaman vektor ini dapat diekspresikan menurut komponen-
komponennya untuk koordinat cartesius dengan x dan y
sebagai koordinat horizontal dan z sebagai sumbu yang positif
ke arah atas.


) ( p atau a g V a g p V F = = + =


x
a
x
p

o
o
=
y
a
y
p

o
o
=
) (g az
z
p
+ =
o
o

Untuk mendapatkan gradien tekanan fluida maka
dilakukan pengintegrasian persamaan diatas :



Permukaan dengan tekanan konstan (Ap = 0)
dihitung melalui substitusi gradien tekanan.
z
z
p
y
y
p
x
x
p
A + A + A = A
o
o
o
o
o
o
p
Persamaan Garis

Sebuah wadah mengalami percepatan dengan komponen
dalam dua arah y dan z kecuali ax = 0 akan mempunyai
permukaan-permukaan tekanan konstan (gambar 1.5)
dengan kemiringan:

z
y
y
z
a g
a
+
=
A
A

Contoh

Kotak persegi dengan panjang 2 ft,lebar 1 ft dan dalam 1 ft
(Gb.1.5) mengalami percepatan mendatar dengan laju 8.05
ft/s
2
. Berapa kedalaman air di bagian belakang kotak serta
tekanan pada titik A dan B jika kedalaman air dalam kotak
ketika dalam keadaan diam adalah 0.5 ft


(a) tidak bergerak
B
Az
0.5 ft
2.0 ft
Permukaan
tekanan
konstan Ay
h
1

h
0

A
(b) mengalami percepatan
mendatar
Gambar 1.5. Kotak persegi dengan percepatan mendatar konstan
Penyelesaian:
Misalkan percepatan fluida adalah arah y.



Volume total air = 2 x 1 x 0.5 = 1 ft
3
Menggunakan geometrik dengan kedalaman seperti gambar
(1.5)
2 x 1 x (h
1
+ h
0
) = 1 dan h
1
= h
0
- (dz/dy) 2 = h
0
+ 0.5 ft
h
0
= 0.25 ft dan h
1
= 0.75 ft
25 . 0
2 . 32
05 . 8
= =
+
=
z
y
y
z
a g
a
o
o
Tekanan di A dan B dihitung dari hubungan hidrostatika
dimana dalam hal ini percepatan vertikal tidak ada.

PA = g h
0
= (62.4) (0.25) = 15.6 psf = 15.6/144 psi

PB = g h
1
= (62.4) (0.75) = 46.8 psf

Fluida Mengalami Rotasi Konstan
Jika sebuah wadah berisi fluida diputar terhadap sumbu
vertikal, gerak rotasi yang dihasilkan disebut pusaran
paksa atau forced vortex.

Kerangka yang paling baik untuk menganalisa keadaan
ini adalah sistem koordinat silinder (r, u, z ).

Percepatan dinyatakan dengan - e
2
r, dimana e adalah
kecepatan sudut sistem rotasi.
Keseimbangan Gaya

r
2
=
o
o
=
r
p

0 =
ou
op

g
o
o
=
z
p
Keadaan demikian menyebabkan permukaan konstan
mengalami deformasi karena adanya gradien
tekanan horizontal.
Posisi permukaan konstan ditentukan dari kombinasi
dua gradien tekanan:



Persamaan tersebut menggambarkan perputaran
parabolik sekaligus menggambarkan permukaan bebas.
g
r

2
=
o
o
=
r
z

C z + =
2g
r

2 2
=
Contoh
Sebuah bak silinder terbuka mempunyai ukuran panjang 1.8 m,
diameter dasar 1m, berisi air setinggi 1.5 m. Silinder diputar
pada sumbu vertikal dengan kecepatan sudut 6 rad/s
Ditanyakan:
a). Sampai tinggi berapakah air akan naik?
b). Berapa tekanan air pada dasar di pusat dan di
pinggir?
c). Berapa seharusnya kecepatan sudut putarnya
supaya air naik sampai pinggiran atas silinder?
Distribusi tekanan dalam silinder terbuka yang mengalami rotasi secara vertikal
Penyelesaian:

Misalkan volume paraboloid putaran = V1

maka V1 = x volume silinder putaran
= x H x r
2
x z
2


V1 = H x r
2
(z
2
z
1
)
= volume udara mula-mula setinggi (z
2
z
1
)

Persamaan.
x H x r
2
x z
2
= H x r
2
(z
2
z
1
)
y
2
z
2.
= (z
2
z
1
)


Penurunan muka air di tengah = kenaikan muka air di pinggir =
x tinggi paraboloid putaran

Persamaan garis muka air.

g
r
z
2
2 2
=
=
45 . 0
) 10 ( 2
) 5 . 0 )( 36 (
2
2
= = z
Dengan demikian permukaan air naik setinggi = 0.5 (0.45)
= 0.225 m

Tinggi muka air di pinggir = 1.5 + 0.225 = 1.725 m
Tinggi muka air di pusat = 1.5 - 0.225 = 1.275 m

Tekanan di pinggir = 1.725 (1000) =1725 kg/m
2

= 0.1725 kg/cm
2

Tekanan di pusat = 1.275 (1000) =1275 kg/m
2
= 0.1275 kg/cm
2
Bila dikehendaki air naik sampai bibir
silinder maka:
Kenaikan muka air di pinggir = 0.3 m
Penurunan muka air di pusat = 0.3 m
Perbedaan muka air di pinggir dan di pusat
= 0.3 + 0.3 = 0.6 m
Persamaan garis muka air.


maka


e = (48)
1/2
= 6.93 rad/s
g
r
z
2
2 2
=
=
2
2
) 5 . 0 (
20
6 . 0
=
=
Contoh
Sebuah pipa berdiameter 1 m,
panjang 4 ft diisi dengan minyak
seperti gambar disamping. (
minyak = 0.822 x 62.4 lb/ft
3
).
Dalam kedudukan horizontal pipa
diputar dengan e = 27.5 rad/s
pada sumbu yang berjarak 1 ft
dari salah satu ujungnya.

Hitunglah: besar selisih tekanan
diantata ujung pipa dalam lb/in
2

Penyelesaian:
X
1
= 1 ft x
2
= (1 + 4) = 5 ft
Bilamana AB horizontal diputar dengan poros sumbu z maka
bentuk garis tekanan antara A dan B berbentuk paraboloid (
gambar diatasnya).

Tekanan di A :


Tekanan di B :

Az = (z2 z1) = (293.57 11.74) = 281.83 ft
= (281.83) ft ( 0.822) (62.4) lb/ft
3
(ft2/144 in
2
)
= 100.39 lb/in
2

ft
g
x
z 74 . 11
) 2 . 32 ( 2
) 1 ( ) 5 . 27 (
2
2 2
1
2
1
1
= = =
=
ft
g
x
z 57 . 293
) 2 . 32 ( 2
) 5 ( ) 5 . 27 (
2
2
2 2 2
2
2
= = =
=
Latihan

Kotak persegi dengan panjang 2 ft,lebar 1
ft dan dalam 10 ft terisi air setengahnya
mengalami jatuh bebas dengan laju 32,2
ft/s
2
. Berapa tekanan di dasar kotak
Latihan
Sebuah pipa berdiameter 1 m,
panjang 4 ft diisi dengan minyak
seperti gambar disamping. (
minyak = 0.822 x 62.4 lb/ft
3
).
Dalam kedudukan horizontal pipa
diputar dengan e = 27.5 rad/s
pada sumbu yang berjarak 1 ft
dari salah satu ujungnya.

Hitunglah: besar selisih tekanan
diantata ujung pipa dalam lb/in
2

Manometer
Peralatan yang digunakan Untuk menentukan
tekanan atau beda tekanan.

Kita mulai dari salah satu ujung sistem dan mencatat
beda tekanan antara antarmukanya.

Bentuk manometer yang paling sederhana adalah
barometer.

Dengan pengandaian fasa cair dan uap dalam
keseimbangan, sehingga bagian atas mengalami
tekanan uap (Pv).
Pv +
b
h
b
=P
a

Barometer
Beberapa manometer dirancang sedemikian rupa sehingga
dapat mengukur beda tekanan yang relatif besar untuk
defleksi manometer yang relatif kecil, atau sebaliknya.
Defleksi manometer mengacu ke jarak antara dua antarmuka
zat cair-zat cair atau zat cair-gas.

Contoh.
Beda tekanan di seberang menyeberang lubang kecil dalam
pipa saluran minyak diukur dengan sebuah manometer
seperti tampak pada gambar berikut. Berapa harga p
1
p
2

nya? (
m
= 2.95 (62.4) lb/ft
3
,
o
= 0.8 (62.4) lb/ft
3
, h
m
= 14
inci, Z
2
-z
1
= 12 in
Penyelesaian
Tinggi titik 1 kita sebut z
1
sedangkan tinggi titik 2 kita sebut z
2
.

Keseimbangan hidrostatika antara titik 1 dan titik 2 adalah
sebahai berikut:

P
1
+
0
(z
1
z
2
+y +h
m
) -
m
h
m
-
0
y = p
2

Sehingga :

P
1
p
2
= h
m
(
m
-
0
)
0
(z
1
-z
2
)



P
1
p
2
= ((14/12) ft ((2.95)(62.4)-(0.8)(62.4)) lbf/ft
3
)
)
-((0.8)(62.4)) lbf/ft
3
)(-12/12)ft

P
1
p
2
= ((14/12) ft ((2.95)(62.4)-(0.8)(62.4)) lbf/ft
3
)
)
+((0.8)(62.4)) lbf/ft
3
)(12/12)ft

P
1
p
2
= (14/12) ft (184.08-49.92) lbf/ft
3
+(49.92 lbf/ft
3
)(1)ft

P
1
p
2
= 156.52 lbf/ft
2
+49.92 lbf/ft
2
= 206,44 lbf/ft
2
=206.44/144
= 1.43 psi

Contoh
Sebuah manometer peka berisi minyak dan air
(Gb. Bawah). Berapa beda tekanan yang
titunjukkan bila tinggi zat cair di ruang atas mula-
mula sama (P
A
= P
B
). Pada saat pengukuran
tinggi zat zair di A 1/450 cm lebih tinggi dari
semula sedangkan di B 1/450 cm lebih rendah
dari semula. (defleksi fluida manometer = 2 cm)
Penyelesaian:
Dari persamaan hidrostatika didapatkan :

P
A
+
o
(y +(1/450)(0.01) +
w
(0.02)-
o
((0.02+y-(1/450)(0.01)) = P
B

P
B
P
A
= 0.02 (
w
-
o
) +(2
o
/45000)

= 0.02(0.2 x 1000 x 9.81) +(2 x 0.8 x 1000 x 9.81)/45000

P
B
P
A
= 39.6 (m x kg/m
3
x m/s
2)
= 39.6 N/m
2


P
B
P
A
= 39.6 Pa

= (39.6/6895) psi
PERSAMAAN GERAK
Integrasi persamaan Euler untuk aliran non rotasi yang tidak
dapat mampat menghasilkan persamaan Bernoulli.



Persamaan ini menghubungkan kecepatan, tekanan dan
perubahan ketinggian dalam fluida yang tidak viscous.

Persamaan Bernoulli sering digunakan untuk aliran
berdimensi satu yang pengaruh viscositasnya dapat
diabaikan.

t
V
s
z
g
t
p
s
V
V
o
o
o
o
o
o
o
o
= + +
1
Dalam pembahasan ini akan dikembangkan
persamaan-persamaan untuk fluida tidak viscous,
baik untuk koordinat natural (streamline) maupun
dalam koordinat Cartesius.

Persamaan Bernoulli untuk aliran tidak dapat
mampat sering disebut persamaan energi mechanic
karena kemiripannya dengan persamaan energi
aliran steady yang diperoleh dari hukum pertama
termodinamika untuk fluida tidak viscous tanpa
perpindahan panas dan tanpa usaha dari luar.
Gaya-gaya yang bekerja pada suatu elemen fluida secara
umum ada dua macam, yaitu body force dan gaya-gaya
permukaan (surface force).

Body force adalah gaya-gaya yang bekerja pada volume atau
massa elemen fluida; yang meliputi: gaya gravitasi dan gaya
pada fluida penghantar dalam sebuah medan magnit.

Gaya-gaya permukaan meliputi baik gaya-gaya normal
maupun tangensial.
Gaya tangensial umumnya disebabkan oleh gerakan
viscous, namun mancakup pula tegangan permukaan
bila elemen fluida mempunyai sebuah permukaan
bebas.

Untuk fluida tidak viscous, gaya-gaya viscous tidak ada
dan gaya-gaya tegangan permukaan tidak
diperhitungkan karena pembicaraan ini tidak mencakup
permukaan bebas.
Gaya-gaya permukaan pada fluida tidak viscous yang
terdapat dalam suatu fluida adalah gaya-gaya normal
yang disebabkan oleh tekanan.

Tekanan adalah besaran skalar sehingga tidak
tergantung pada arah; Oleh sebab itu px = py = pz.

Pembahasan tentang gerakan fluida tidak viscous
rasanya janggal karena semua fluida mempunyai
viscositas.

Namun demikian perlu dipahami bahwa pada
kebanyakan aliran memang pengaruh viscositas dapat
diabaikan

Jika kecepatan (V) sebuah partikel fluida
merupakan fungsi terhadap letak dan waktu, dapat
dituliskan V = V(s,t) karena kecepatan mempunyai
komponen dalam arah (s) yang bersinggungan
dengan garis arus.





t
V
dt
ds
s
V
dt
V
dt
t
V
ds
s
V
dV
o
o
o
o o
o
o
o
o
+ = + = atau
Karena kecepatan di sepanjang garis arus adalah
V = (ds/dt), percepatan dalam arak itu adalah :




V(dV/ds) : percepatan konveksi atau variasi kecepatan
disepanjang garis arus

dV/dt:adalah percepatan lokal atau variasi kecepatan
pada sebuah titik terhadap waktu.
t
V
s
V
V
dt
dV
a
s
o
o
o
o
+ = =
Dari hukum kedua Newton ( F = ma
s
) di sepanjang garis
arus menghasilkan :



Karena u = oz/os, jika persamaan diatas disederhanakan
didapat:

|
.
|

\
|
+ A A = A A A
|
.
|

\
|
A + A
t
V
s
V
V s A s A g A s
s
p
p A p
o
o
o
o
u
o
o
sin
t
V
s
z
g
t
p
s
V
V
o
o
o
o
o
o
o
o
= + +
1
Untuk fluida steady (oV/ot) = 0), jika persamaan diatas
diintegrasikan sepanjang garis arus untuk kerapatan konstan
akan didapatkan:



Suku-suku dalam persamaan diatas diekspresikan dalam
energi per satuan massa yang besarnya konstan di
sepanjang garis arus aliran tidak viscous yang tidak dapat
mampat dan steady.
) (
2
2
arus garis sepanjang di tetapan gz
p V
= + +

Persamaan tersebut jika dikalikan dengan didapat:




I II III I II III
I : tekanan dinamik
II : tekanan statik
III : tekanan potensial
Dalam persamaan ini energi per satuan volume fluida tetap di
sepanjang garis arus aliran.
tan
2 2
2 2
2
2
1 1
2
1
kons total tekanan gz p
V
gz p
V
= + + = + +

Jika persamaan tersebut dibagi dengan g akan didapatkan :





I II III I II III
I : head kecepatan
II : head tekanan
III : head potensial
Persamaan-persamaan inilah yang disebut persamaan
bernoulli
tan
2
2
2
2
2
2
1
1
2
1
kons total head z
g
p
g
V
z
g
p
g
V
= + + = + +

Contoh
Sebuah alat pengukur kecepatan sederhana (tabung pitot)
digunakan untuk mengukur kecepatan lokal dalam suatu aliran.
Jika tinggi air dalam tabung pitot 0.5 inci di atas tinggi
permukaan air bebas, berapakah kecepatan air disitu?
L
1 2
0.5 in
Penyelesaian
Untuk menyelesaiakan persoalan ini digunakan Persamaan
Bernoulli.
Fluida dalam tabung pitot tidak bergerak sehingga kecepatan
pada titik 2 = 0.
Harga tekanan lokal diperoleh menggunakan prinsip hidrolika
dalam arus bebas untuk titik 1 dan dalam tabung pitot untuk
titik 2. Dengan z
1
= z
2
.
0
12
5 . 0
2 2 2
2
2
2
2
1
2
1
1
+
|
.
|

\
|
+ = + = + = + L g
V
p
V
gL
V
p

s f t V / 64 . 1
12
5 . 0
) 2 . 32 ( 2
1
=
|
.
|

\
|
=


Soal 1
Suatu pipa saluran air mengalami penyempitan secara bertahap
dari diameter 4 in hingga 2 in. Perbedaan tekanan dalam pipa
itu adalah 53 psi. Berapakah laju aliran yang melewati pipa
tersebut jika diandaikan aliran itu tanpa gesekan?
4 2
1
2
V
1
V
2

Penyelesaian
Gunakan pers kontinuitas dan pers Bernoulli
V
1
A
1
= V
2
A
2


2
2
2
1
2
1
2 2
p
V
p
V
+
|
|
|
.
|

\
|
= +
|
|
|
.
|

\
|

( ) ( )
s f t
x x
A
A
p
V / 6 , 91
4 2 1 94 , 1
144 53 2
1
2
4 2
1
2
1
2
=

=
|
|
.
|

\
|

s cuft x xA V Q / 2
12
2
4
14 , 3
6 , 91 2 2
2
=
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
= =
Soal 2
Sebuah pipa saluran air dengan luas penampang 240 cm
2
, 480
cm
2
dan 960 cm
2
disambung secara seri dengan posisi
horizontal (lihat Gambar). Perbedaan tekanan yang terukur pada
pipa pertama dan pipa ketiga sebesar 25 kPa. Berapakah laju
aliran air dalam pipa tersebut jika diandaikan aliran itu tanpa
gesekan?