Вы находитесь на странице: 1из 18

Bentuk Usaha Tetap (BUT)

Makalah Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pajak Internasional

Disusun oleh: Adik Angga Putri J Bayu Dwi Putra A Dimas Wimandiri Mirza Widyantoro Ricardo Togar Satria Adi Susanto 01 07 12 24 28 32

DIPLOMA III PAJAK SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA 2011-2012

Bentuk Usaha Tetap (BUT) |1

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya lah kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Bentuk Usaha Tetap (BUT). Makalah ini kami susun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Pajak Internasional di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Melalui pengantar makalah ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Richard Eddy Tampubolon karena telah membimbing dan memotivasi kami dalam mempelajari materi Pajak Internasional. Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan keterbatasan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pengerjaan makalah ini, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Pada akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, juga bagi kami sehingga tujuan yang telah diharapkan dapat tercapai.

Tangerang, 25 Maret 2012

Penyusunj

Bentuk Usaha Tetap (BUT) |2

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ................................................................................................... 1 DAFTAR ISI ............................................................................................................... 2 BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 3 A. B. C. A. B. C. D. E. F. A. B. Latar Belakang........................................................................................... 3 Batasan Materi .......................................................................................... 3 Tujuan Penulisan ....................................................................................... 4 Pengertian Bentuk Usaha Tetap ............................................................... 5 Kriteria Penentuan BUT ............................................................................ 5 Time Test (tes waktu)................................................................................ 7 Jenis BUT (Bentuk Usaha Tetap ) ............................................................ 11 Yang dikecualikan sebagai BUT ............................................................... 13 Pengecualian pemotongan PPh pasal 26 ................................................ 13 Kesimpulan.............................................................................................. 15 Saran ....................................................................................................... 16

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................... 5

BAB III PENUTUP ................................................................................................... 15

Bentuk Usaha Tetap (BUT) |3

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Sedikitnya ada 2 (dua) perubahan besar yang diakibatkan oleh globalisasi. Yang pertama adalah bahwa era globalisasi yang diwarnai dengan tumbuhnya kawasan bebas perdagangan, jasa dan modal (misal: NAFTA, European Community, dan terakhir AFTA), transaksi internasional telah bertumbuh dengan pesatnya baik dari sisi frekuensi maupun volumenya. Dan yang kedua adalah masuknya investasi asing ke suatu negara dalam bentuk portfolio investment dan foreign direct investment mengakibatkan implikasi yang luas baik dari sisi sosial, ekonomi, hukum dan keamanan terhadap negara pengimpor modal (importing capital countries) misalnya Indonesia. Dalam melakukan investasi langsung di Indonesia, investor asing dapat melakukannya dalam bentuk joint venture dengan perusahaan asing lainnya dan perusahaan lokal. Umumnya, perusahaan ini berbentuk penanaman modal asing dan berbadan hukum Indonesia sehingga perusahaan penanaman modal asing adalah wajib pajak dalam negeri (resident taxpayer). Selain itu, perusahaan asing dapat menjalankan usahanya melalui bentuk usaha di Indonesia. Ini yang disebut dengan Bentuk Usaha Tetap (selanjutnya disingkat BUT). Apabila investor asing menjalankan bisnisnya di Indonesia melalui BUT ( a permanent establishment) berarti bahwa perusahaan tersebut tidak berbadan hukum Indonesia sehingga BUT adalah bukan wajib pajak dalam negeri. Selanjutnya, makalah ini akan membahas secara detal mengenai BUT dan hubungannya dengan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B).

B. Batasan Materi

Untuk memberi kejelasan kepada pembaca mengenai isi makalah, maka penyusun membatasi pembahasan makalah dengan fokus membahas materi berikut. 1. Penentuan BUT

Bentuk Usaha Tetap (BUT) |4

2. Pengertian Keberadaan BUT 3. Pengecualian dari BUT

C. Tujuan Penulisan

Makalah ini disusun dengan tujuan: 1. Memenuhi tugas mata kuliah PPnBM Pajak Internasional semester 6 Spesialisasi Pajak Sekolah Tinggi Akuntansi Negara; 2. Memahami secara detail mengenai Bentuk Usaha Tetap (BUT) dan peraturan perundang-undangan mengenai BUT.

Bentuk Usaha Tetap (BUT) |5

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Bentuk Usaha Tetap Istilah Bentuk Usaha Tetap dalam UU PPh dapat disetarakan dengan penyebutanpermanent establishment dalam P3B. Istilah tersebut dipakai untuk menentukan hak pemajakannegara sumber atas penghasilan dari bisnis (dan profesi) yang dijalankan oleh bukan WPDN.William (dalam Bichel, 1978) dan Patrick (dalam Helawel, 1980) menyatakan baahwa istilahpermanent establishment (PE) lebih merupakan ambang batas (treshold) atau kriteria yangmemungkinkan suatu negara sumber untuk secara legal dapat memajaki penghasilan dari bisnis(dan profesi) transnasional (lintas perbatasan). Sebagai titik ambang batas, maka setiap usahadan kegiatan transnasional yang belum memenuhi kriteria atau berada di bawah kriteria BUTdibebaskan dari pengenaan pajak di negara sumber. Hal ini bukan berarti penghasilan tersebutbebas dari pemajakan dengan alasan bahwa sesuai dengan kelaziman internasional.

B. Kriteria Penentuan BUT 1) Kriteria BUT menurut UU PPh. Bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidakbertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badanyang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usahaatau melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat berupa: a. tempat kedudukan manajemen; b. cabang perusahaan; c. kantor perwakilan; d. gedung kantor; e. pabrik; f. bengkel;

g. gudang; h. ruang untuk promosi dan penjualan; i. pertambangan dan penggalian sumber alam;

Bentuk Usaha Tetap (BUT) |6

j.

wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi;

k. perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan; l. proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;

m. pemberian jasa dalam bentuk apa pun oleh pegawai atau orang lain, sepanjangdilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas)bulan; n. orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas; o. agen atau pegawai dari perusahan asuransi yang tidak didirikan dan tidakbertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi ataumenanggung risiko di Indonesia; dan p. komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki, disewa, ataudigunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan kegiatanusaha melalui internet.

2) Kriteria BUT menurut model OECD Menurut Model OECD, keberadaan suatu BUT ditentukan dengan adanya : a. suatu tempat kedudukan manajemen; b. suatu cabang; c. suatu kantor; d. suatu pabrik; e. suatu bengkel; f. suatu pertanian atau perkebunan;

g. suatu gudang; h. suatu tambang, sumur minyak atau gas, tempat penggalian, atau tempat pengambilan sumber daya alam lainnya; i. suatu bangunan atau konstruksi atau perakitan atau proyek instalasi, atau kegiatan pengawasan yang berhubungan dengannya, atau suatu instalasi atau anjungan pengeboran atau kapal yang digunakan untuk eksplorasi atau untuk mengeluarkan sumber daya alam, yang ada atau berlangsung untuk suatu masa lebih dari .*.. ( ... ) hari (* ditentukan dalam peretujuan); j. pemberian jasa-jasa, termasuk jasa konsultasi, melalui pegawai atau orang lain untuk tujuan tersebut, namun hanya jika kegiatan-kegiatan tersebut

Bentuk Usaha Tetap (BUT) |7

berlangsung (untuk proyek yang sama atau yang berhubungan) lebih dari ... (..*.) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan(tergantung kesepakatan). 3) Kriteria BUT menurut model UN Menurut kriteria ini, bentuk usaha tetap berarti suatu tempat usaha tetap yang ditandai dengan adanya : a. suatu tempat kedudukan manajemen; b. suatu cabang; c. suatu kantor; d. suatu pabrik; e. suatu bengkel; f. suatu gudang atau tempat yang digunakan sebagai outlet penjualan;

g. suatu pertanian atau perkebunan; h. suatu tambang, atau sumur minyak atau gas, suatu penggalian atau suatu tempat penggalian atau eksplorasi sumber daya alam, tempat pengeboran atau kapal yang digunakan untuk eksplorasi atau eksploitasi sumber-sumber daya alam. i. suatu bangunan, suatu konstruksi, proyek perakitan atau instalasi atau kegiatan pengawasanyang berhubungan dengan kegiatan proyek tersebut merupakan suatu bentuk usaha tetap hanya apabila tempat, proyek atau kegiatan tersebut berlangsung lebih dari ..*. bulan. j. pemberian jasa-jasa, termasuk jasa konsultasi oleh sebuah perusahaan melalui karyawan atau orang lain yang dilibatkan oleh perusahaan untuk tujuan tertentu, tetapi hanya apabila aktivitas-aktivitas tersebut berlangsung (untuk proyek yang sama atau berhubungan) di suatu Negara dalam masa atau masamasa lebih dari ..* bulan dalam jangka waktu 12 bulan.

C. Time Test (tes waktu) BUT merupakan cabang perusahaan, atau tempat kedudukan

manajemen,kantor, pabrik, tempat kerja atau suatu hak penambangan dan kekayaan alamlainnya. Dalam pengertian ini juga termasuk proyek pembuatan gedung ataukonstruksi yang dilakukan dan melewati tes waktu yang ditentukan dalamUndangUndang di negara domisili, di Indonesia diatur dalam Pasal 2 ayat 5 bahwa untuk

Bentuk Usaha Tetap (BUT) |8

dianggap BUT, apabila mereka melakukan kegiatan di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, sedangkan untuk pemberian jasa, waktu tes yang diberikan untuk menjadi BUT apabila jasa yang diberikan lebih dari 60 hari dalam jangka waktu 12 bulan. Sedangkan, untuk penghasilan yang diperoleh penduduk dari suatu Negara Pihak pada Persetujuan sehubungan dengan jasa-jasa profesional atau pekerjaan bebas lainnya hanya akan dikenakan pajak di Negara itu kecuali dalam hal dibawah ini, dimana penghasilan itu dapat juga dikenai pajak di Negara pada persetujuan lainnya : a. Jika ia mempunyai suatu tempat tertentu yang tersedia secara teratur dipergunakan untuk menjalankan pekerjaan di Negara Pihak lainnya pada Persetujuan itu, penghasilan tersebut dapat dikenakan pajak di Negara Pihak lainnya itu tetapi hanya bagian penghasilan yang dianggap berasal dari tempat tertentu itu ;atau b. Jika ia tinggal di Negara Pihak lainnya itu selama suatu masa atau masa masa yang tidak melebihi 183 hari dalam masa 12 bulan yang mulai atau berakhir pada satu tahun pajak, dalam hal ini hanya penghasilan yang diperoleh dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan di Negara lain itulah yang akan dikenakan pajak di Negara Pihak lainnya itu. Dengan demikian suatu usaha yang dilakukan oleh penduduk asing di Negara Indonesia harus ditentukan saat kapan mereka menjadi Bentuk UsahaTetap atau Tempat Usaha Tetap.Penentuan tersebut jika tidak diatur dalam P3B, maka berlaku ketentuan Undang-undang Pajak Penghasilan. Dibawah ini disajikan tes waktu untuk BUT , sebagai berikut : TIME TEST P3B YANGBERLAKU EFEKTIF (BENTUK USAHA TETAP)
PENGAWASAN KONSTRUKSI 3 months 120 days 6 months 183 days JASA LAINNYA 3 months/12 months 120 days/12 months 3 months/12 months 91 days/12 months

NO. 1 2 3 4

NEGARA Algeria Australia Austria Bangladesh

KONSTRUKSI 3 months 120 days 6 months 183 days

INSTALASI 3 months 120 days 6 months 183 days

PERAKITAN 3 months 120 days 6 months 183 days

Bentuk Usaha Tetap (BUT) |9

NO. 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

NEGARA Belgium Brunei Darussalam Bulgaria Canada Czech China Denmark Egypt Finland France Germany Hungary India Italy Japan Jordan Korea, Republic of Korea, Democratic People's Republic of Kuwait Luxembourg Malaysia Mexico Mongolia Netherlands

KONSTRUKSI 6 months 183 days 6 months 120 days 6 months 6 months 6 months 6 months 6 months 6 months 6 months 3 months 183 days 6 months 6 months 6 months 6 months 12 months

INSTALASI 6 months 3 months 6 months 120 days 6 months 6 months 3 months 4 months 6 months N/A 6 months 3 months 183 days 6 months 6 months 6 months 6 months 12 months

PERAKITAN 6 months 3 months 6 months 120 days 6 months 6 months 3 months 4 months 6 months 6 months N/A 3 months 183 days 6 months N/A 6 months 6 months 12 months

PENGAWASAN KONSTRUKSI 6 months 183 days 6 months 120 days 6 months 6 months 6 months 6 months 6 months 183 days/12 months N/A 3 months 183 days 6 months 6 months 6 months 6 months 12 months

JASA LAINNYA 3 months/12 months 3 months/12 months 120 days/12 months 120 days/12 months 3 months /12 months 6 months/12 months 3 months/12 months 3 months/12 months 3 months/12 months 183 days/12 months 7,5% 4 months/12 months 91 days/12 months 3 months/12 months N/A 1 month/12 months 3 months/12 months 6 months/12 months

22

23 24 25 26 27 28

3 months 5 months 6 months 6 months 6 months 6 months

3 months 5 months 6 months 6 months 6 months 6 months

3 months 5 months 6 months 6 months 6 months 6 months

3 months 5 months N/A 6 months 6 months 6 months

3 months/12 months 10% 3 months/12 months 91 days/12 months 3 months/12 months 3 months/

Bentuk Usaha Tetap (BUT) |10

NO.

NEGARA

KONSTRUKSI

INSTALASI

PERAKITAN

PENGAWASAN KONSTRUKSI 6 months 6 months 3 months 6 months 183 days 6 months 6 months 6 months 3 months N/A 6 months 6 months 6 months 6 months 183 days 90 days 6 months 6 months 183 days 6 months 6 months 6 months 3 months 6 months

JASA LAINNYA 12 months 3 months/12 months 3 months/12 months 15% 183 days/12 months 120 days/12 months 183 days/12 months 6 months/12 months 4 months/12 months TanpaTime Test N/A 3 months /12 months 90 days/12 months 91 days/12 months 120 days/12 months 3 months/12 months 90 days/12 months 3 months/12 months 3 months/12 months 5% 183 days/12 months 120 days/12 months 6 months/12 months 3 months/12 months 183 days/12

29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

New Zealand Norway Pakistan Philippines Poland Portuguese Qatar Romania Russia Saudi Arabia* Seychelles Singapore Slovak South Africa Spain SriLanka Sudan Sweden Switzerland Syria Taipei /Taiwan Thailand Tunisia Turkey

6 months 6 months 3 months 6 months 183 days 6 months 6 months 6 months 3 months N/A 6 months 183 days 6 months 6 months 183 days 90 days 6 months 6 months 183 days 6 months 6 months 6 months 3 months 6 months

6 months 6 months 3 months 3 months 183 days 6 months 6 months 6 months 3 months N/A 6 months 183 days 6 months 6 months 183 days 90 days 6 months 6 months 183 days 6 months 6 months 6 months 3 months 6 months

6 months 6 months 3 months 3 months 183 days 6 months 6 months 6 months 3 months N/A 6 months 183 days 6 months 6 months 183 days 90 days 6 months 6 months 183 days 6 months 6 months 6 months 3 months 6 months

Bentuk Usaha Tetap (BUT) |11

NO.

NEGARA

KONSTRUKSI

INSTALASI

PERAKITAN

PENGAWASAN KONSTRUKSI 6 months

JASA LAINNYA months 6 months

53 54 55 56

UAE (United Arab Emirates) Ukraine United Kingdom United States of America Uzbekistan Venezuela Vietnam

6 months

6 months

6 months

6 months 183 days 120 days

6 months 183 days 120 days

6 months 183 days 120 days

6 months 183 days 120 days

4 months/12 months 91 days/12 months 120 days/12 months 3 months/12 months 10% 3 months/12 months

57 58 59

6 months 6 months 6 months

6 months 6 months 6 months

6 months 6 months 6 months

6 months 6 months 6 months

* P3B antara Indonesia dengan Saudi Arabia hanya mengaturmengenai transportasi penerbangan dalam jalur internasional. D. Jenis BUT (Bentuk Usaha Tetap ) a) BUT Tipe Aktiva Contoh : 1. tempat kedudukan manajemen; 2. cabang perusahaan; 3. kantor perwakilan; 4. gedung kantor; 5. pabrik; 6. bengkel; 7. pertambangan dan penggalian sumber alam, wilayah kerja pengeboran yang digunakan untuk eksplorasi pertambangan; dan 8. perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan,atau kehutanan.

b) BUT Tipe Aktivitas Contoh : 1. proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan; 2. pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau oleh orang lain, sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan.

Bentuk Usaha Tetap (BUT) |12

c) BUT Tipe Agen Tidak semua agen merupakan BUT. Agen dibagi dua yaitu agen bebas dan agen tidak bebas. Agen yang manjadi BUT adalah agen tidak bebas. Hal ini diatur di Pasal 5 ayat (5) OECD model. Bahwa orang atau badan dapat ditetapkan sebagai BUT jika melakukan aktivitas melalui agen tidak bebas. Agen tidak bebas dapat berupa orang pribadi atau badan asal : 1. Bergantung pada perusahaan yang diwakilinya. Artinya selalu mengikuti petunjuk dan instruksi perusahaan yang diwakilinya. 2. Mempunyai kuasa / kewenangan untuk menandatangani kontrak-kontrak atas nama perusahaan tersebut. Kewenangan tersebut bersifat tetap atau berlangsung terus menerus. Salah satu faktor yang menentukan untuk mengetahui sifat tetap atau terus menerus adalah apakah kegiatan tersebut dari awal mulanya dimaksudkan untuk jangka panjang atau hanya sementara. 3. Tidak mempunyai kuasa seperti diatas, tetapi ia mempunyai kebiasaan menyimpan persediaan barang-barang atau barang dagangan dan secara teratur menyerahkan barang-barang tersebut atas nama perusahaan yang diwakilinya. d) BUT Tipe Perusahaan Asuransi BUT jenis ini bisa timbul karena perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia memungut premi asuransi atau menanggung risiko di Indonesia melalui agen atau pegawainya.

BUT dalam P3B dikenal dengan istilah permanent establishment ,yang menyatakan bahwa Laba perusahaan dari Negara Pihak pada Persetujuan hanya akan dikenakan pajak di negara itu kecuali jika perusahaan itu menjalankan usaha di negara Pihak lainnya pada Persetujuan, melalui suatu bentuk usaha tetap yang berkedudukan disitu. Apabila perusahaan tersebut menjalankan usahanya sebagaimana dimaksud diatas, maka laba perusahaan itu dapat dikenakan pajak di negara lainnya tetapi hanya atas bagian laba berasal dari bentuk usaha tetap tersebut. Oleh karena itu, jika suatu perusahaan dari suatu Negara Pihak pada Persetujuan menjalankan usaha di setiap negara melalui suatu bentuk usaha tetap yang berkedudukan disitu, maka yang akan diperhitungkan sebagai laba bentuk usaha tetap itu oleh masing-masing negara ialah laba yang diperolehnya di negara dimana BUT berkedudukan.

Bentuk Usaha Tetap (BUT) |13

E. Yang dikecualikan sebagai BUT Sesuai Tax Treaty model OECD, pengecualian timbulnya BUT yaitu sebagai berikut : 1. Apabila perusahaan dari suatu Negara treaty partner menjalankan kegiatankegiatan yang terbatas di Indonesia yang cakupan kegiatan-kegiatannya adalah sebagai berikut : a. Penggunaan fasilitas-fasilitas semata-mata dimaksudkan untuk menyimpan, memamerkan barang-barang atau barang dagangan milik perusahaan b. Penggunaan persediaan barang-barang atau barang dagangan milik perusahaan semata-mata dimaksudkan untuk disimpan, dipamerkan, atau diolah lebih lanjut oleh perusahaan lain. c. penggunaan tempat usaha tetap semata-mata dimaksudkan untuk pembelian barang-barang atau barang dagangan, mengumpulkan informasi bagi keperluan perusahaan, untuk tujuan periklanan, memberikan informasi atau untuk menjalankan kegiatan-kegiatan yang bersifat persiapan ataupun penunjang bagi perusahaan. 2. Apabila perusahaan tersebut menjalankan usahanya melalui agen yang bertindak bebas (independent agent). Independent agent adalah agen yang menjalankan usahanya secara bebas tanpa adanya instruksi dari perusahaan luar negeri (non resident tavpayer) misalnya makelar, komisioner umum. 3. Apabila suatu perusahaan yang berkedudukan disuatu Negara treaty partner yang menguasai atau dikuasaia oleh perusahaan lain yang berkedudukan dinegara treaty oartner lainnya ataupun menjalankan usaha dinegara treaty lainnya ( baik melalui suatu BUT maupun dengan cara lain).

F. Pengecualian pemotongan PPh pasal 26 Khusus untuk BUT dikecualikan dari pemotongan apabila Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi Pajak Penghasilan dari BUT ditanamkan kembali di Indonesia yang dapat menunjang kebijaksanaan Pemerintah dalam rangka peningkatan dan pemerataan penanaman modal dengan syarat :

Bentuk Usaha Tetap (BUT) |14

1. Penanaman kembali dilakukan dalam bentuk penyertaan modal pada perusahaan yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pendiri atau peserta pendiri, dan ; 2. Penanaman kembali dilakukan dalam tahun berjalan atau selambatlambatnya tahun pajak berikutnya dari tahun pajak diterima atau diperoleh penghasilan tersebut ; 3. Tidak melakukan pengalihan atas penanaman kembali tersebut sekurangkurangnya dalam waktu 2 (dua) tahun sesudah perusahaan tempat penanaman dilakukan, mulai berproduksi komersil.

Bentuk Usaha Tetap (BUT) |15

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidakbertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badanyang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usahaatau melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat berupa: a. tempat kedudukan manajemen; b. cabang perusahaan; c. kantor perwakilan; d. gedung kantor; e. pabrik; f. bengkel;

g. gudang; h. ruang untuk promosi dan penjualan; i. j. pertambangan dan penggalian sumber alam; wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi;

k. perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan; l. proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;

m. pemberian jasa dalam bentuk apa pun oleh pegawai atau orang lain, sepanjangdilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas)bulan; n. orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas; o. agen atau pegawai dari perusahan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi

ataumenanggung risiko di Indonesia; dan p. komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki, disewa, atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan kegiatan usaha melalui internet.

Bentuk Usaha Tetap (BUT) |16

Sesuai Tax Treaty model OECD, pengecualian timbulnya BUT yaitu sebagai berikut : 1. Apabila perusahaan dari suatu Negara treaty partner menjalankan kegiatankegiatan yang terbatas di Indonesia yang cakupan kegiatan-kegiatannya adalah sebagai berikut : a. Penggunaan fasilitas-fasilitas semata-mata dimaksudkan untuk menyimpan, memamerkan barang-barang atau barang dagangan milik perusahaan b. Penggunaan persediaan barang-barang atau barang dagangan milik perusahaan semata-mata dimaksudkan untuk disimpan, dipamerkan, atau diolah lebih lanjut oleh perusahaan lain. c. penggunaan tempat usaha tetap semata-mata dimaksudkan untuk pembelian barang-barang atau barang dagangan, mengumpulkan informasi bagi keperluan perusahaan, untuk tujuan periklanan, memberikan informasi atau untuk menjalankan kegiatan-kegiatan yang bersifat persiapan ataupun penunjang bagi perusahaan. 2. Apabila perusahaan tersebut menjalankan usahanya melalui agen yang bertindak bebas (independent agent). Independent agent adalah agen yang menjalankan usahanya secara bebas tanpa adanya instruksi dari perusahaan luar negeri (non resident tavpayer) misalnya makelar, komisioner umum. 3. Apabila suatu perusahaan yang berkedudukan disuatu Negara treaty partner yang menguasai atau dikuasaia oleh perusahaan lain yang berkedudukan dinegara treaty oartner lainnya ataupun menjalankan usaha dinegara treaty lainnya ( baik melalui suatu BUT maupun dengan cara lain).

B. Saran

Menurut penyusun, hal yang masih perlu kajian lebih mendalam dalam penyusunan makalah sejenis berikutnya antara lain: 1. Contoh kasus seputar BUT; 2. Perbedaan peraturan mengenai BUT di Indonesia dengan negara lain; 3. Perlakuan perpajakan atas BUT.

Bentuk Usaha Tetap (BUT) |17

DAFTAR PUSTAKA

BPPK. 2009. Modul Pusdiklat Pajak. Jakarta: BPPK www.dannydarussalam.com www.dudiwahyudi.blogspot.com www.ortax.org