You are on page 1of 11

Kemudahan Menghafal Al Quran Oleh : Syekh Syadi Abu Mumin, MA. (Pengajar Al Quran di Palestina, yang meluluskan 10.

000 (sepuluh ribu) hafidh Al Quran tiap tahun dengan program dua bulan hafal Al Quran) Penerjemah : Arham bin Ahmad Yasin,Lc.,MH.

, , . , , . .
Pembicaraan tentang menghafal Kitabullah Azza Wa Jalla merupakan perkara yang sangat penting, bagi umat nabi Muhammad saw. karena ini merupakan perkara yang sangat penting untuk keselamatan ummat, kebaikannya, dan kebahagiannya, maka sesungguhnya ummat ini sudah cukup dari yang lainnya. Karena Al Quran apabila telah sempurna penghafalannya, pertemanannya, dan ketenangan dengannya, maka pada saat itu manusia tidak butuh untuk mencari kebahagian atau keselamatan. Karena ia akan mendapatinya dalam Kitabullah Azza Wa Jalla. Selanjutnya, masalah menghafal Al Quranul Karim bukalah masalah ijtihad, dan bukan pula masalah bisa atau tidak bisa. Karena manusia telah Allah ciptakan memiliki berbagai kemampuan dalam banyak hal. masalah menghafal Al Quranul Karim adalah masalah pemahaman. Apakah kita memahami nilai Al Quranul Karim? Apakah kita memahmi kebaikan Al Quranul Karim? Apakah kita memahami kemuliaan Al Quranul Karim? Inilah pertanyaan-pertanyaannya. Jika kita memahami urgensi, keagungan, nilai, kebaikan, kemuliaan Al Quranul Karim, maka setelah itu masalahnya akan menjadi sangat mudah. Pertanyaan pertama yang ditujukan pada diri kita sebelum kita mulai menghafal Al Quran, sebelum membuka mushhaf Al Quran dan ingin mengahafalnya, tanyalah diri kita: apakah saya menghafal Al Quran karena kewajiban, ataukah saya menghafal Al Quran karena kebutuhan? Apakah saya membutuhkan Al Quran, atau Al Quran membutuhkan saya? Disini ada pertanyaan yang penting yang harus dijawab: kenapa saya menghafal Al Quran? jika masing-masing dapat menjawab pertanyaan ini, maka setelah itu ia akan dapat menghafal Al Quran. karena masalahnya adalah masalah untung dan rugi, seperti satu tambah satu sama dengan dua. Sehingga ghoyah/ tujuan menghafal adalah asas dari penghafal. Bagaimana bisa demikian?

Dalam hadits Rasulullah saw, Neraka dinyalakan di hari kiamat pertama untuk siapa? Yang pertama dilemparkan ke neraka bukanlah para thoghut, para pelaku kejahatan, para pezina, pencuri, bahkan bukan pula orang-orang kafir. Tapi adalah para Qori atau Hafidh Al Quran sebagaimana hadits Rasulullah saw. : neraka dinyalakan pertama untuk tiga orang. Pertama untuk qori Al Quran, ketika ia didatangkan ia mengatakan : ya Rabb saya membaca, belajar dan mengajarkan Al Quran karena Engkau maka dikatakan: engkau menghafalkan supaya dikatakan hafidh/Qori, dan itu sudah dikatakan, maka seretlah ke neraka. Dan yang kedua adalah orang yang berinfaq, ia mengatakan : Ya Rabb, sungguh saya telah berinfaq dijalanMu maka dikatakan: engkau berinfaq supaya dikatakan dermawan, dan itu telah dikatakan, maka seretlah keneraka. Dan yang ketiga adalah seorang mujahid, ia mengatakan: ya Rabb saya berjihad dan berperang dijalanMu. Maka dikatkan kepadanya: engkau berjihad supaya dikatakan pemberani, dan itu telah dikatakan, maka seretlah keneraka (dikutip dari HR Muslim, At Turmudzi, An Nasai, dan Ahmad dari Abi Hurairah,pent.) Sehingga tujuan menghafal merupakan hal yang sangat penting. Apakah saya menghafal Al Quran supaya orang mengatakan bahwa saya hafidh, punya sanad, ijazah qiroah asyrah, atau syeikh? Atau saya ingin agar orang tahu: ini anak saya hafalannya sekian, dia hafal quran, saya hafal sekian juz sehingga orang mengatakan kepada anda masya Allah, kamu hafal sekian! apakah ini tujuan anda?! Jika tujuannya seperti ini, maka mungkin saja anda bisa menghafal Al Quran, sebagaimana anda bisa melakukan apa saja. Tapi yang terpenting apakah kita menghafal Al Quran untuk keselamatan di sisi Allah? Maka yang pertama adalah menetapkan tujuan : saya menghafal Al Quran agar selamat di sisi Allah Kemudian Niat harus ikhlash semata-mata karena Allah swt. sebagaimana kita mengetahui hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Al Khatthab ra. sesunggunya amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang adalah apa yang dia niatkan (dikutip dari HR Bukhari dan Muslim, pent) . sehingga masalah terkait dengan niat. Harus Ikhlash. Ini yang pertama. Yang kedua, Al Istianah Billah (meminta bantuan kepada Allah) dan memohon kepadaNya. Bagi yang ingin menghafal Al Quran, Al Quran itu mudah, akan tetapi ia (Al Quran) tidak diminta kecuali dari yang tepat, yaitu dengan engkau memohon kepada Allah swt dengan mengiba, dengan sikap sangat butuh, sangat mengharap, dan sangat menginginkan. Bagaimana jika engkau membutuhkan sesuatu dalam urusan dunia, engkau meminta kepada Allah. Misalnya : Ya Allah anugerahkan kepada saya keturunan engkau sambil menangis, engkau sholat malam dan berdoa; Ya Allah anugerahkan kepada saya anak laki-laki, anugerahkan kepada saya anak perempuan, Ya Allah jagalah istri/ suami saya, Ya Allah Jagalah anak saya, Ya Allah sembuhkan Ibu saya yang sedang sakit, sembuhkan anak saya yang sakit..! bukankah engkau memohon kepada Allah dengan sangat mengiba dan menangis?! Demikian juga Al Quran harus diminta dari Allah, karena Al Quran adalah Kalamullah. Hal itu ketika Al Quran menjadi obsesi yang hakiki, tidak sekedar mengatakan saya ingin menghafal Al Quran. Seperti ilmu yang lain atau sekolah, engkau bisa mempelajari apa saja di sekolah, yang semuanya tempatnya adalah di akal. Hal ini engkau lakukan karena

kebutuhan, ingin ijazah, ingin jadi sarjana, atau magister. Bukankah engau bersungguh-sungguh menuntutnya? Hal ini adalah hal sesuatu logis. Tapi Al Quranul Karim, engkau harus memintanya kepada Allah dengan sangat dan mengiba. Yang ketiga adalah Ash Shidq Fi Ath Thalab (benar dalam permohonan). Apa makna Ash Shidq? Tidak sekedar shidq Al Qaul (benar dalam berkataan), tetapi juga shidqul amal, shidqul fili, shidqul azm, dan Ash Shidq dalam merealisasikan azm. Lima tingkatan dalam Ash Shidq. Tapi kapan tampak Ash Shidq Al Haqiqi? Yaitu Jika engkau mempraktekkan amaliah menghafal, shidqul qoul, shidqul fili, dan shidqul Azm. Azm yang hakiki. Dan Azm ini tidak mungkin terwujud kecuali jika kita memahami nilai Al Quranul Karim dan urgensinya yang akan kita rinci di Akhir. Bagaimana wujud Ash Shidq dalam praktek? Yaitu engkau mengkhsuskan waktu satu jam untuk Al Quran setiap hari. Bukan merupakan sikap Ash Shidq, misalnya suatu hari engkau ditelpon oleh temanmu dan mau datang kerumahmu di waktu quranmu, kemudian engkau keluar dan mengatakan ahlan wasahlan. Ini adalah salah dan penelewengan. Pertanyaannya, mana yang lebih penting : temanmu atau Al Quran?! satu jam bersama temanmu atau satu jam bersama Allah? Saya bertanya kepadamu, jika engkau punya janji saya tahu kalian di Indonesia suka bermasalah dalam urusan janji jika temanmu berjanji kepadamu bahwa ia akan datang kepadamu jam lima, namun dia datang jam tujuh, tentu engkau akan marah bukan?! Dan engkau mengatakan : kenapa kamu terlambat, kenapa engkau tinggalkan begitu saja? Lebih-lebih Al Quran yang mulia, Al Quran tidak menerima sekutu. Jika engkau membuat jadwal dengan Al Quran, maka engkau harus menepatinya. Kita marah jika orang terlambat memenuhi janji dengan kita. Lalu bagaimana dengan janji kita dengan Allah?! Mana yang lebih utama engkau tepati janjinya, Allah atau manusia? Bersikap benarlah kepada Allah. Karena itu, waktu dengan Al Quran adalah waktu yang suci. Maka Ash Sidq disini adalah Ash Shidq dalam praktek. Jika engkau langgar waktumu dengan Al Quran satu kali saja, maka engkau akan melakukan pelanggaran-pelanggaran setiap kali. Tidak ada alasan apapun yang membenarkan tidak adanya sikap Ash Shidq dengan Al Quran. ini penting sekali. Yang keempat, Shuhbatul Quran (pertemanan dengan Al Quran). Allah swt berfirman : ingatlah, dengan berdzikir kepada Allah hati menjadi tenang ( QS. Ar Rad :28). Maka jika engkau ingin menghafal Al Quran, jangan asing terhadap Al Quran. Bagamana engkau ingin menghafal Al Quran, tapi engkau tidak membuka Al Quran dalam sepekan kecuali hanya satu kali, atau tiga hari sekali?!. Jika seperti itu engkau tidak akan bisa menghafal Al Quran. maka engkau harus menjadikan Al Quran sebagai teman. Ash Shuhbah (Pertemanan) itulah yang akan membantumu dalam menghafal. Jika Al Quran telah menjadi temanmu yang spesial, maka engkau akan bisa menghafal Al Quran dengan mudah. Bagaimana jika engkau merasa sedih atau capek, tentu engkau akan mencari orang yang terdekat denganmu bukan? Misalnya, ibumu, saudaramu, atau temanmu di sekolah. Engkau mengadu kepadanya,

engkau duduk dengannya dan menyampaikan: saya sedang sedih, saya punya masalah ini dan itu. Maka Al Quran harus menjadi yang paling akrab dengan kita dari orang yang paling dekat dengan kita, dimana Al Quran menjadi tempat pengaduan kita dan peristirahatan jiwa kita. Dan ketika Al Quran telah menjadi teman engkau, maka Al Quran-lah yang menemanimu dalam kesendirianmu, dan engkau duduk bersamanya, dan engkau habiskan waktu yang lama bersama Al Quran, Al Quran tidak jauh dari matamu. Dan ini menuntut kita untuk punya Mushaf teman, yang mana kita (di Palestina) menamainya Mushaf Huffadh atau Mushaf Shohib. Maka engkau harus punya mushaf yang menemanimu dimanapun. Pertemanan dengan Al Qura, kita harus punya wirid harian dengan Al Quran. dan wirid harian berbeda dengan hafalan. Apa maknanya wirid harian? Yaitu engkau harus membaca Al Quran paling sedikit satu juz dalam sehari, sehingga engkau mengkhatamkan Al Quran setiap bulan sekali. Jika engkau mengkhatamkan Al Quran sebulan sekali, maka berarti Al Quran dari Awal sampai akhir melewati hatimu secara harian. Demikianlah engkau menjadi akrab dengan Al Quran, sehingga ketika engkau membuka satu halaman mushfaf engkau sudah familiar dengannya. Seperti jika engkau sudah akrab dengan temanmu, engkau sudah terbiasa dengannya, setiap hari engkau bertemu dengannya, setiap hari duduk dengannya. Jika satu hari ia tidak keliahatan, engkau menelponnya : dimana kamu wahai fulan?, hari ini saya merasa ada yang kurang, saya tidak melihat kamu hari ini. Tanyakan pada dirimu, dalam sehari engkau tidak baca Al Quran: apakah merasa ada sesuatu yang kurang? jika engkau tidak merasa, berarti tidak ada pertemanan. Pertemanan adalah adanya perasaan kehilangan, perasaan kehilangan Al Quran, engkau merasa rindu kepadanya, seperti engkau rindu kepada ibumu, ayahmu, atau saudaramu. Enkau menunggu waktu dimana kamu akan duduk bersama Al Quran. Tentu saja pertemanan ini diterjemahkan dalam dua hal : Yang pertama : Al Hubb (rasa cinta) terhadap Al Quran. jika engkau mencitainya, engkau akan merasa butuk terhadapnya. Seperti jika enkau tidak makan dan tidak minum, engkau tidak bisa hidup. Apakah kita bisa tidak makan dan minum? Demikianlah Al Quran harus menjadi kebutuhan, sehingga engkau tidak bisa hidup tanpanya. Tentu saja hal ini perlu pikiran yang totalitas dan hati yang bersih. Hati yang disibukkan dengan urusan dunia, misalnya hati kita sibuk dengan nyanyian, hal-hal yang melenakan, atau games. jika hati kita sibuk maka tidak ada tempat buat Al Quran, maka tidak perlu engkau capek-capek menghafal Al Quran. engkau ambil dunia atau engkau ambil Al Quran. karena Al Quran adalah mulia dan tidak menerima sekutu. Jika ada sesuatu yang mengalahkan Al Quran dihatimu, ada sesuatu yang lebih engkau cintai dari Al Quran, maka tidak ada gunanya engkau capek-capek menghafal. Yang kedua : Adamu Al Istihya bihi (tidak malu dengan Al Quran). apa maksudnya? Pertemanan menghasilkan keakraban. Seperti jika engkau duduk dengan

sahabatmu, apakah engkau merasa malu bersamanya? Jika ada orang lewat, apakah engkau sembunyikan temanmu, sehingga tidak ada yang melihatnya? Engkau malu, atau engkau meninggalkannya, sehingga orang tidak melihatmu? Pertanyaannya : Apakah engkau malu bersama Al Quran? misalnya jika engkau berada di bis, apa masalahnya engkau membuka mushaf? Apa masalahnya engkau membawa Al Quran dengan tanganmu, dan engkau berjalan di pasar? Sebagian orang merasa malu. Misalnya di busway atau di

jalan, dia mengatakan : saya malu dari orang-orang. apakah engkau malu bersama Al Quran dari manusia?! Apakah Al Quran adalah susuatu yang membuat malu? Ini adalah tingkatan yang penting, yaitu engkau mencapai rasa bangga terhadap AL Quran. Yang kelima : Al Mushabarah wal Mujahadah (kesabaran dan kesungguhan). Tentu saja setan tidak akan membiarkanmu, setan mengatakan kepada Allah : .. demi kemuliaanMU, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya (QS. Shad : 82), .. karena Engkau telah menyesatkan akau, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalanMu yang lurus. Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka (QS. Al Araf : 16-17). Setan tidak akan senang kita membaca Al Quran dan menghafalkannya. Karena harus ada kesabaran dan mujahadah. Al Quran semuanya baik, dan tidak dihasilkan darinya kecuali kebaikan. Masalah yang penting adalah sabar terhadap Al Quran. setan akan selalu berusaha menggodamu : bagaimana kamu akan menghafal Al Quran, kamu tidak akan bisa, engkau punya anak, engkau sibuk, engkau masih kuliah, bagaimana kamu akan lulus? Saya katakan kepadamu, engkau harus punya sikap yang positif, bahwa Al Quran semuanya baik, maka engkau harus menjadikan jiwamu bersabar dalam menghafal Al Quran. berikutnya adalah mujahadah. Apakah engkau ingin surga tanpa hisab, engkau ingin masuk surga tanpa capek? Engkau tidak akan mendapatkan ijazah di universitas kecuali dengan belajar, engkau tidak akan dapat uang kecuali dengan bekerja. Bagaimana engkau ingin menghafal Al Quran tanpa usaha?! Tanpa capek?! Maka harus ada Mujahadatun Nafs (mujahadah jiwa). sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan (QS. Yusuf : 53), tetapi Allah Juga berfirman dalam Al Quran :Sungguh beruntung orang yang mensucikannya (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya (QS. Asy Syams : 9-10). Maka jiwa ini engkaulah bertanggung jawab atasnya, ini masalahnya di akal bukan di jiwa. Sehingga harus ada mujahadatun nafs. Hadits Rasulullah saw sangat jelas.: sesungguhnya Al Quran lebih cepat lepasnya dari unta pada ikatannya (dikutip dari HR Bukhari dan Muslim). Jadi Al Quran cepat lepasnya, sehingga enggau harus bermujahadah dalam menghafal Al Quran. bagaimana bisa bersabar dan bermujahadah terhadap Al Quran? sabar dan mujahadah terhadap Al Quran membutuhkan suatu masalah yang penting, yaitu pemahaman terhadap nilai Al Quranul Karim, kebaikan Al Quranul karim, dan kemuliaan Al Quranul karim. Setiap kali jiwamu merasa futur, maka ingatlah dirimu dengan kebaikan dan pahala yang besar. Setiap setan berusaha menggelincirkanmu, maka ingatlah dirimu dengan kemuliaan Al Quran. Semua yang sudah kita bahas dalam lima poin di atas, seluruhnya terkait dengan masalah pertama yang telah saya isyaratkan, yaitu pemahaman. Kita telah bahas tentang niat yang ikhlash karena Allah, kita telah bahas permohonan kepada Allah untuk menghafal dan meminta pertolongan kepadaNya, kita telah bahas Ash Shidq dalam permintaan kepada Allah swt dan azm untuk menghafal Al Quran Al Adhim dengan Ash Shidq dan memberikan waktu untuk Al Quran dengan Ash Shidq , kita telah bahas tentang pertemanan dan persahabatan dengan Al Quran hingga memudahkan kita dalam menghafal Al Quran, kemudian kita telah bahas tentang sabar dan mujahadah dalam jalan menghafal Al Quranul Karim, lima tahapan ini titik

tolaknya dan yang mengarahkan kepadanya adalah pemahaman terhadap nilai Al Quranul Karim. Bagaimana saya akan bersabar dalam menghafal Al Quranul Karim, bagaimana saya akan dapat menghafal Al Quranul Karim dari pemahaman terhadap faktor-faktor yang menjadikan saya mencintai Al Quranul Karim dan memotifasi saya untuk menghafalnya. Apa faktor-faktor tersebut, dan bagaimana saya bisa merujuk kepadanya agar menjadi titik tolak dalam meneguhkan saya dalam menghafal Al Quranul Karim? Inilah masalah yang akan kita bahas sekarang. Rasulullah saw telah bersabda : orang yang mahir dalam membaca Al Quran, maka ia bersama para malaikat yang mulia dan baik. Dan orang yang membaca Al Quran dengan terbata-bata dan bersusah payah, maka baginya dua pahala (pahala membaca, dan pahala susah payahnya) (dikutip dari HR. Muslim dari Aisyah ra) Dan hadits Rasulullah saw. bacalah Al Quran, sesungguhnya ia akan datang pada hari qiyamat sebagai penolong bagi pembacanya(dikutip dari HR. Muslim dari Abu Umamah ra.) barang siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran, maka baginya satu kebaikan, dan tiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat (dan Allah melipat gandakan bagi siapa saja yang dikehendakinya). Saya tidak mengatakan alif laam miim satu huruf. Tapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan mim satu huruf (dikutip dari HR Turmudzi dari Ibnu Masud ra) Perhatikan, ini adalah pahala yang besar. Dengarkan pula hadits Rasulullah saw.: sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al Quran dan mengajarkanya ( HR. Al Bukhari dari Utsman bin Affan ra.) Kebaikan secara mutlak. Hadits Rasulullah saw. Dikatakan kepada shohibul Al Quran siapa shohibul Quran? al Hafidh orang yang hafal - : bacalah, dan naiklah, dan tartilkanlah sebagaimana engkau mentartilkan di dunia . Maka sesungguhnya kedudukanmu adalah diakhir ayat yang engkau baca.(dikutip dari HR At Turmudzi, Abu Dawud, Ahmad, Al Baihaqi, dan Ibnu Majah) Abu Hurairah ra, yang meriwayatkan hadits ini, mengatakan : sesungguhnya penghafal Al Quran ketika membaca Al Quran dari awal sampai akhir, hingga selesai suran An Nas, maka dia ternyata sudah berada di tempat/kedudukan Nabi Muhammad saw. Jadi Al Hafidh berada di kedudukan siapa? Kedudukan Nabi saw. Bacalah juga hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh At Turmudzi : siapa yang diberikan Al Quran di dadanya, maka dia telah diberikan kenabian di dadanya, hanya saja dia tidak mendapatkan wahyu Apa kenabian itu ? AL Quran. apa risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw? Al Quran. Haidts Rasulullah saw: :sesunggguhnya orang yang di dalam dadanya tidak terdapat sebagian ayat dari Al Quran bagaikan rumah yang tidak ada penghuninya (dikutip dari HR. At Turmudzi, Al Hakim, dan Al Baihaqi ) Yaitu rumah yang mau roboh, yang buruk, yaitu dada yang kosong dari AL Quran. Hadits Rasulullah saw haditsnya sangat banyak - : sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari manusia - Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah . Sahabat bertanya : ya Rasulallah siapakah mereka? Rasulullah menjawab : ahlul quran, mereka adalah keluarga allah dan orang-orang spesialnya (dikutip dari HR. Ahmad dan Ibnu Majah) saya bertanya kepadamu, jika setan mennggodamu, bertanyalah pada dirimu : apakah engkau ingin berada pada kedudukan Rasulullah saw? apakah engkau ingin menjadi keluarga Allah dan orang spesialNya?,

apakah engkau ingin mendapat kebaikan disetiap hurufnya, dan setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat, dan Allah melipat gandakan bagi siapa saja yang dikehendakinya? Apa engkau ingin itu semua? Jika engkau ingin itu semua, maka jagalah Al Quran. dari itu, ada banyak hadits tentang menghafal Al Quranul Karirm, dan lebih banyak lagi hadits shohih dari Rasulullah saw tentang orang yang memiliki kelebihan dalam Al Quran. baik orang itu mukmin atau munafiq. Dimana Rasulullah pernah bersabda tengtang mukmin yang memaca Al Quran dan mukmin yang tidak membaca Al Quran, munafiq yang membaca Al Quran dan munafiq yang tidak membaca Al Quran. karena Al Qurannul Karim semuanya baik. Dalam Hadits Rasulullah saw : permisalan orang mukmin yang membaca Al Quran, seperti buah limau, aromanya wangi dan rasanya manis. Sementara orang mukmin yang tidak membaca Al Quran, seperti buah kurma, tidak beraroma dan rasanya manis. Orang munafiq yang membaca Al Quran seperti raihanah, aromanya wangi tapi rasanya pahit. Adapun orang munafiq yang tidak membaca Al Quran, seperti buah handholah, tidak beraroma dan dan rasanya pahit (dikutip dari HR. Al Bukhari dan Muslim). Ini adalah dalil, bahwasannya Al Quran memiliki keutamaan, baik atas orang mukmin atau tidak. Baik engkau baca dengan ikhlas atau tidak. Maka Al Quran semuanya baik. Dan keutamannya datang kepada semua manusia disebutkan dalam Al Quran.Sebagaimana firman Allah swt. : sesungguhnya Al Quran ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang beramal sholeh, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar. (QS. Al Isra : 9) Juga firman Allah - ayatnya sangat banyak yang menyebutkan tentang keutamaan Al Quranul Karim - : dan bacalah Al Quran dengan setartil-tartilnya (QS. Al Muzammil : 4) Ini adalah kata perintah, yang bermakna wajib menurut semua ulama. Yaitu, wajib membaca Al Quran sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. untuk itu kita meyakini bahwa belajar membaca Al Quran dengan bacaan yang benar hukumnya adalah fardlu ain bagi setiap muslim. Karena itu, untuk menghafal Al Quran, engkau harus memiliki pandangan yang positif, dan pemahaman tentang kebaikan Al Quranul Adhim, dan kebaikan Al Quran atas manusia. Dan Allah swt ketika berfirman dalam kitabNya yang mulia : Sungguh Al Quran telah kami mudahkan untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? ( QS. Al Qomar : 15/22/32/40). Ini jelas, bahwa Al Quran itu mudah, tetapi adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Allah swt memberikan seruan kepada hamba-hambanya. Apakah engkau siap untuk menyambut seruan Allah ini? Apakah engkau ingin menjadi orang di barisan pertama yang menghafal Al Quran dan mendapatkan kemuliaan, dan keagungan Al Quran, yang menjadikanmu berada dalam barisan para malaikat dan barisan para nabi? Inilah, Allah swt, Rabb kalian menyeru kalian untuk menerima Al Quran. maka engkau harus memiliki pandangan yang positif di dalam dirimu dalam memahami kebaikan Al Quran. ini penting sekali. Maka, pemahaman terhadap kemuliaan Al Quranul Adhim, dan pengagungan Al Quranul Adhim, pada tingkatan pertama, inilah yang menjadikanmu menempuh jalan menghafal, dan menunjukkan kepadamu jalan menghafal Al Quranul Karim, yaitu pengagungan Al Quranu Adhim dan pemuliaannya. Ketika kita pemahami bahwa Al Quran memberi petunjuk kepada jalan yang lurus Allah yang mengatakan hal ini -, ketika kita mengetahui bahwa dalam Al Quran ada keselamatan, maka sebaliknya, bagaimana jika engkau paham bahwa juga ada hukuman bagi yang mengabaikan Al Quran? apakah engaku tahu, jika engkau mengabaikan Al Quran, engkau akan masuk dalam permusuhan dengan Rasulullah saw? apakah di antara kita ada yang ingin menjadi musuh bagi Rasulullah saw di hari kiamat? Kita semua menginginkan syafaat Nabi saw. bukankah Rasulullah saw bersabda : aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, yang jika kalian berpegang teguh kepadanya kalian tidak akan tersesat selamanya, kitabullah dan sunnah rasu . ? Allah juga berfirman : dan Rasul berkata : Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al Quran ini diabaikan (QS. Al Furqon : 30)

Para ulama berkata : orang yang tiga hari berturut-turut tidak membaca Al Quran, maka ia adalah orang yang mengabaikan Al Quran. maka dia masuk dalam permusuhan dengan Nabi saw, apakah engkau ingin berdiri di hari kiamat menjadi musuh bagi Nabi Muhammad saw? dan Rasul berkata : Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al Quran ini diabaikan . meraka tidak membacanya, mereka tidak mengamalkannya, mereka tidak menghafalkannya. Lihatlah dimanakah engkau?! Apakah engkau membaca Al Quran setiap hari? Apakah engkau mengagungkan Al Quran? apakah engkau memuliakan Al Quran? tanyakan pada dirimu!!!! Saya bertanya kepadamu tentang tafsir firman Allah swt : Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka simaklah baik-baik, dan perhatikanlah agar kalian mendapat rahmat Ayat ini sangat berbahaya. Apabila dibacakan Al Quran, maka simaklah. Perintah dari Allah swt yang konsekwensinya adalah wajib. Apabila dibacakan Al Quran, fastamiuu lahu (maka simaklah). Allah tidak mengatakan fasmauu (maka dengarkanlah). Dan ini beda, antara istima (menyimak) dan sama (mendengar). Saya mungkin bisa mendengar suara, saya sekarang mendengar sebagian kalian ngobrol sana sini, dan saya mendengar suara-suara lain, mendengar biasa. Akan tetapi apakah engkau memberikan hati? Maka hati harus menyimak, dan bukan sekedar mendengar dari telinga yang masuk dari telinga kanan keluar dari telinga kiri. Allah swt mengatakan : fastamiuu lahuu. Kemudian Allah mengatakan apa? Wa anshituu, maknanya adalah dengan tadabbur, interaksi, dan tafakkur dengan Al Quran. kemudian Allah mengatakan apa ? laallakum turhamuun (agar kalian mendapat rahmat), Allah mengatakan laallakum turhamuun, dan tidak mengatakan idzan turhamuun, dan tidak mengatakan liturhamuu, tetapi Allah mengatakan laallakum turhamuun. Apa makna laallakum? Dalam bahasa Arab, kata laallaka ketika dipakai di dalam Al Quran, maka bermakna : bahwa yang melanggarnya akan mendapatkan yang sebaliknya. laallakum turhamuun (agar kalian mendapat rahmat), yaitu bahwa rahmat terkait dengan apa? Terkait dengan istima (menyimak) dan inshoot (memperhatikan). Artinya jika dibacakan Al Quran, engkau tidak menyimak dan tidak memperhatikan, maknanya adalah tertolak dari rahmat Allah. bahwa yang melanggarnya akan mendapatkan yang sebaliknya. Yang melanggar istima (menyimak), maka konsekwensinya adalah kebalikan dari rahmat. Apa kebalikan dari rahmat ? laknat. Allahu Akbar, ini masalah yang berbahaya. Ini adalah masalah yang penting, pengagungan Al Quran dan pemuliaannya, ialah yang akan membawamu untuk menghafal. Yang berikutnya yang harus kita pahami adalah adab terhadap Al Quranul Karim. Kita semua harus punya buku tentang adab terhadap Al Qurnul Karim. Al Quran janganlah dijadikan seperti musik yang didengarkan begitu saja. Diputar di laptop, Ep3, tapi pikiran kita kemana-mana. Al Quran ini harus diperhatikan, tidak boleh diabaikan seperti itu. Rasulullah saw. bersabda : siapa yang ingin berbicara dengan Allah, hendaklah ia melaksanakan sholat. Dan sebaliknya, siapa yang ingin Allah berbicara dengannya, maka hendaklah ia membaca Al Quran. Karena di dalam Al Quran ada perintah Allah, larangan, peringatan dan sebagainya. Seperti ketika kita mendengarkan pidato presiden SBY, orang mendengarkannya baik-baik. Tap Al Quran ini, Allah yang berbicara dengan kita. Maka tidak boleh pikiran kita disibukkan pada yang lainnya. Termasuk memutar murottal, tapi pikiran kita kemana-mana. Seperti saya juga perhatikan ada orang yang memutar murottal di mobil, kemudian dia ngobrol dengan temannya. Pilihannya, murottalnya dimatikan, atau orangnya diam dan memperhatikan bacaan Al Qurnul Karim. Termasuk ketika ibu-ibu dirumah memutar murottal, sambil masak, sambil bersih-bersih. Maka ini tidak boleh, memutar murottal, namun disibukkan dengan pikiranpikiran yang lain. Demikian juga terhadap anak-anak. Janganlah kita memutar murottal sedangkan mereka ramai. Tapi murottalnya harus kita matikan terlebih dahulu. Tetapi ketika anak-anak tidur, tidak ada

masalah ketika kita memutarkan murottal buat mereka, karena didalamnya ada keberkahan. Maka ketika kita mendengar Al Quran tidak boleh disibukkan dengan yang lainnya. Al Quan juga tidak boleh di tempatkan pada tempat yang rendah. Misalnya, Haram engkau meletakkan Al Quran di dalam tas dan diatasnya ada barang lain. Al Quran harus diletakkan paling atas. Bagian dari adab terhadap Al Quran: ketika datang seseorang kepadamu, dan engkau sedang membaca Al Quran sambil duduk, kemudian temanmu datang, engkau mau bersalaman dengannya, maka haram bagimu untuk berdiri. Dialah yang harus duduk dan bersalaman. Engkau tdk boleh berdiri sedang bersamamu ada Al Quran, siapapun yang datang. Jangan berdiri. Ketika engkau membaca Al Quran, kanapa haram untuk berdiri? Ini adalah Al Quran, ini adalah agung. Apakah berdiri karena orang tersebut? siapa orang tersebut? siapa dia? Siapapun dia. Jika engkau ingin menghormati, misalnya dia adalah ayahmu, orang yang lanjut usia, apa yang harus engkau lakukan? Engkau berdiri dan letakkan Al Quran di tempat yang tinggi, kemudian engkau kembali dan bersalaman. Adapun engkau berdiri untuk seseorang seperti apapun kedudukan orang tersebut - dan Al Quran bersamamu, maka ini tidak boleh. Atau dia yang duduk dan bersalaman. Ini masalah penting. Juga dalam kelas ketika mengajarkan Al Quran kepada muridmurid, ketika guru masuk, kemudian dikatakan berdiri atau stand up. Ini tidak boleh. Murid tidak boleh berdiri, dia harus tetap duduk dalam kelas Al Quran, ini harus kita ajarkan. Mana yang lebih mulia engkau sebagai pengajar- atau Al Quran? ini masalah penting, wajib mengagungkan Al Quran. misalnya juga ketika engkau duduk bersila dan engkau letakkan Al Quran di atas kaki, ini juga haram, tidak boleh. Al Quran harus ditinggikan, engkau harus memegangnya, atau diletakkan di atas meja kecil. Tapi jangan diletakkan lebih rendah darimu. Jadi, Al Quran harus diagungkan dan dimuliakan. , . Sesi tanya jawab : Pertanyaan pertama: bagaimana metode untuk menghafalkan Al Quran di Palestina sehingga anak-anak bisa hafal dalam dua bulan? Jawaban pertanyaan pertama : Tentang metode menghafal dalam dua bulan, sesungguhnya ini butuh dauroh tersendiri (sambil tertawa). Tapi ini pengalaman yang kami lakukan tidak hanya di Palestina, tapi juga di Yordania dan Saudi, dan semuanya sukses. Tapi kita di Palestina memiliki kelebihan dalam masalah jumlah. Seperti dulu saya mengajar di Saudi, di Makkah Al Mukarromah dalam program tahfidh di Masjidil Haram, dalam satu tahun hanya meluluskan 40 saja murid yang hafal Al Quran dalam program dua bulanan. di Yordania meluluskan 60 sampai 70 hafidh dalam setahun dalam program dua bulanan. Namun di Palestina kita meluluskan setiap tahun 10.000 (sepuluh ribu) hafidh dan hafidhah Al Quran, yaitu lima ribu hafidh dan lima ribu hafidhah. Kita melaksanakan program dengan bentuk umum. Tapi metode tetap memungkinkan. Kita juga terapkan di Turki dan Pakistan, yang mana mereka bukanlah orang arab. Karena masalahnya bukan masalah bahasa. Tidak ada hubungannya. Masalahnya adalah masalah agenda yang teratur. Dalam liburan musim panas, diadakan mukhoyyam Al Quran bagi siswa di masjid selama dua bulan penuh. Tidur, makan, minum, dan menghafal di tempat tersebut dan tidak meninggalkannya. Mereka hanya punya satu kegiatan, yaitu menghafal Al Quran. Kelebihan di Palestina, kita tidak punya banyak kesibukan. Kita tidak punya tempat-tempat permainan, tempat hiburan, juga tidak ada tempat bermain anak-anak. Kita hanya punya masjid-masjid. Apa sebab kita mempunyai banyak hafidh? Yaitu keseriusan. Kita menjadi masyarakat yang memiliki keseriusan, semua masyarakat. Masing-masing menginginkan anak-anaknya hafal Al Quran. ada dorongan hakiki pada

masyarakat di Gaza secara tersendiri. Kita terapkan program ini di Gaza, orang-orang menjadi memiliki respon yang terhadap menghafal Al Quran, karena mereka hidup dalam suasana jihad dan perjuangan. Dan kita menjadi punya pemahaman terhadap makna syahid di jalan Allah dan menyambut Allah. Anak-anak kalian (di Indonesia), ketika liburan, barangkali mereka bermain, atau bertamasya ke tempat yang indah. Tapi kita (di Palestina) tidak punya itu semua. Maka kita bawa mereka ke masjid-masjid. Itulah tempat rekreasi mereka, tempat bergembira mereka, masjid. Maka dari itu, orang-orang yahudi dalam perang Gaza yang terakhir, ketika mereka menyerang Gaza, apa yang mereka serang? Mereka menyerang masjid-masjid. Karena masjid-masjid tersebut yang mengeluarkan para hufadh. Karena para hufadh itulah yang membela Gaza dan berjihad di Jalan Allah. Kami di Brigade Al Qossam memiliki 70.000 (tujuh puluh ribu) pasukan, ini adalah jumlah yang dipublish, semuanya adalah hufadh. Dalam peperangan Furqon yang terakhir, kurang lebih 3 tahun yang lalu, ketika Gaza diserang, Orang-orang Israel datang dengan 40.000 (empat puluh ribu) pasukan, yang menghadapi mereka hanya 15.000 (lima belas ribu) hafidh saja. Kita hanya menggunakan 5% (lima persen) dari kekuatan kita saja. Semua yang berperang adalah hufadh kitabullah. Ya, ini barokahnya jihad. Tapi metode tidak berbeda dengan di tempat lain. Ini juga karena keistimewaan tarbiyah. Kita punya manhaj tarbawi. Kita mencapai suatu pergerakan Islam, ini bagian dari jasa Syekh Ahmad Yasin rahimahullah - , kita mentarbiyah masyarakat, kita tidak sekedar mentarbiyah individu-individu harokah dan kader-kader hamas, kita menempuh jalan Nabi Muhammad saw. Seperti Amr bin Al Ash ketika beliau menginvestigasi kemah-kemah pasukannya dalam peperangan Nahawan yang menakhukkan negeri Persia, katika beliau melewati kemah yang terdengan suara tilawah Al Quran, beliau mengatakan : dari sini kemenangan!. Tapi ketika melewati kemah-kemah, sementara pasukan sedang tiduran, beliau mengatakan : dari sini muncul kekalahan! maka kemudian mereka dikelompokkan dan ditempatkan di belakang. Adapun yang membaca Al Quran, mereka ditempatkan di depan. Hal ini sejak periode Rasrulullah saw. sehingga Al Quran dipahami oleh orang-orang Palestina karena tarbiyah Islamiyah. Ini adalah manhaj Syekh Ahmad Yasin, manhaj Imam Syahid Hasan Al Banna, dan Manhaj Imam Sayyid Qutub yang mengatakan bahwa umat Islam tidak akan menang kecuali dengan generasi Al Quranul Karim saja. Ini perkataan Sayyid Qutub. Semua yang kita lakukan di Palestina, menerapkan prinsip ini. Kita terapkan amaliyah ini. Kita mentarbiyah masyarakat. Kematian bagi kita datang dengan cepat. Kita sudah terbiasa dengan kematian. Kematian bagi kami menjadi permulaan kenikmatan, dan bukan akhir kenikmatan. Karena kita hidup dalam peperangan dan penyerangan. Boleh jadi engkau sedang tidur tiba-tiba meninggal, engkau berjalan di jalan tiba-tiba terkena ranjau dan meninggal. Sehingga kedekatan dengan kematian dan perasaan dekat dengan Allah, menjadikan penduduk Gaza mengetuk pintu Allah. Ini gambaran pemikiran secara umum. Semua manusia menjadi mempunyai keyakinan bahwa keselamatan, kebahagiaan, dan kebaikan di dunia dan akhirat adalah dengan Al Quran. dan ini adalah dari barokah jihad di Jalan Allah. Pertanyaan kedua : apakah larangan mendengarkan murottal sambil melakukan aktifitas yang lain bersifat mutlak.? Misalnya sambil memasak atau bersih-bersih kita dengarkan murottal agar telinga kita terbiasa dengan Al Quran - bukannya tidak menghargai - , dan daripada kita mendengarkan yang lain-lain. Apakah keharaman ini, berarti tidak boleh sama sekali? Jawaban Pertanyaan kedua : Mungkin jika tujuannya supaya terbiasa, saya katakan, jika engkau sedang mengerjakan sesuatu di rumah, memasak, bersih-bersih, atau kesibukan yang lain dan engkau diam, Maka dengan ini engkau bisa mengambil manfaat dan ada faedahnya. Tapi jika engkau duduk bersama teman-temanmu, dan kalian ngobrol. Engkau berbicara, dia berbicara, yang lain juga berbicara, bagaimana engkau akan terbiasa? Tidak. Ini tidak benar. Ini adalah berpaling dari peringatan Allah. Saya katakan jika engkau beraktifitas, ada kesibukan, seperti menjahit, menulis, atau apa saja yang engkau kerjakan, sambil mendengan murottal,

maka ini tidak ada masalah. Yang penting jangan berbicara. Jika engkau menidurkan anakmu, dan menyimak murottal, tidak ada masalah. Tapi jika ada pembicaraan diantara sekelompok orang yang sedang duduk-duduk, sambil ngobrol, sambil memutar murottal, ini tidak boleh. Pilihannya, mendengarkan pembicaraan, atau mendengarkan Al Quran. ini satu perkataan. tidak ada perdebatan di dalamnya. Juga mungkin supaya engkau terbiasa dengan Al Quran, ketika di mobil, engkau memutar murottal Al Quran, tapi engkau harus wajibkan pada semuanya : sekarang kita ingin mendengarkan Al Quran, kita diam dan jangan berbicara , ini boleh. Adapun selain itu, maka tidak boleh. Atau engkau memakai earphone pada telinga ketika di jalan, tetapi yang penting engkau tidak disibukkan dengan pembicaraan yang lainnya. Pertanyaan ketiga : siapa yang dimaksud dengan Ahlul Quran? Jawaban pertanyaan ketiga : Makna Ahlul Quran adalah mereka yang senantiasa menghafalnya, membacanya, dan mempelajarinya. Jadi maksud Ahlul Quran adalah meraka yang senantiasa menjaga Al Quran, memberikan Al Quran waktu untuk Al Quran. Ahlul Quran bukanlah orang yang memberikan Al Quran waktu sisanya. Tidak mungkin engkau menjadi Ahlul Quran, jika engkau memberikan waktu untuk Al Quran hanya setengah jam dalam sehari. Ahlul Quran adalah mereka yang memberikan kepada Al Quran mayoritas waktunya. Waktu yang banyak. Engkau menyibukkan diri dengan Al Quran. Imam Syatibi rahimahulllah mengatakan : dan Kitabullah adalah sebaik-baik teman, dan mengulangnya menambah keindahan didalamnya. Maka wahai para Qori yang berpegang teguh kepadanya, yang memuliakannya di segala kondisi, selamat dan bahagia buat kedua orang tuamu dengan pakaian cahaya berupa mahkota dan perhiasan. Maka bagaimana balasan bagi orangnya sendiri?! Mereka itulah keluarga Allah dan barisan malaikat Keluarga Allah dan barisan para malaikat, meraka adalah orang-orang yang sibuk dengan Al Quran. mereka belajar Al Quran, mereka mengajarkan Al Quran. (Acara diakhiri dengan pembacaan Al Quran oleh putra pertama dari Syekh Syadi yang bernama Mumin yang berusia lima tahun, dan penyerahan bantuan untuk palestina yang terkumpul dari hadirin (