You are on page 1of 2

EKONOMI SYARIAH DI INDONESIA

Ekonomi Syariah merupakan kata yang belum lama terdengar oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Namun sejatinya ini sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW saat Syariah Islam ditegakkan oleh Rasulullah. Ekonomi Syariah populer setelah ia mampu bertahan di kala krisis moneter yang pernah terjadi di Indonesia tahun 2007, dibandingkan dengan prinsip ekonomi konvensional yang sudah umum di masyarakat. Ekonomi syariah mengedepankan kesejahteraan masyarakat, memberikan rasa adil, dan memberikan kebebasan yang bertanggung jawab kepada seluruh pelaku yang terlibat. Melalui suatu perniagaan yang melakukan suatu kesepakatan antara kedua belah pihak yang boleh atau tidak di transaksikan. Seperti yang terkandung dalam Surah An Nisaa:29 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu, Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan juga Islam melarang adanya Riba dalam setiap transaksi yang dilakukan oleh pelaku usaha, tercantum dalam Surah Al-Baqarah:275, orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Untuk pertama kalinya Indonesia memiliki Bank dengan prinsip ekonomi syariah yakni didirikannya Pt Bank Muamalat Tbk, pada tahun1412H atau 1991M yang diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pemerintah Indonesia.

Indonesia baru memiliki Hukum yang sah yang mengatur tentang perbankan syariah yang menjalankan prinsip ekonomi syariah yakni undang-undang Republik Indonesia Nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Ini merupakan hasil dari perjuangan panjang oleh para ahli ekonomi Islam yang melakukan transformasi hukum konvensional ke ekonomi syariah melalui proses Islamisasi fiqh muamalat ekonomi konvensional yang sudah berakar panjang di Indonesia. Sehingga inilah yang menyebabkan Ekonomi syariah asing bagi sebagian Muslim di Indonesia karena minimnya peraturan negara yang mendukung. Minimnya peraturan yang mendukung tentang tegaknya prinsip ekonomi syariah di Indonesia yang hanya terbentuk dalam fiqh para fuqaha' atau fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI), maka Mahkamah Agung RI telah menerbitkan Peraturan Mahkamah Agung No. 02 Tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES). KHES berisikan tentang Subyek Hukum dan Amwal, Akad, Zakat dan Hibah, dan Akutansi Syariah. Diharapkan pemerintah dan DPR RI dapat mengambil inisiatif di masa depan untuk mengembangkan KHES menjadi Kitab Undang-Undang Ekonomi Syariah melalui produk perundang-undangan. Semoga dengan adanya upaya dari para ahli ekonomi Islam di Indonesia, dan juga para ulama di Indonesia untuk menegakkan syariah Islam, sehingga dengan tegakknya syariah Islam maka diharapkan perekonomian Islam juga dapat berdiri tegak. Sehingga kita dapat merasakan kehidupan perekonomian yang tenang, nyaman, tidak ada pelaku usaha yang dirugikan, dan masih banyak lagi keuntungan yang kita dapatkan bila kita menjalankan perkenomian Islam secara benar dan keseluruhan. Kita juga harus mulai melaksanakan perekonomian Islam sebagai contoh kecilnya kita meminggalkan Bank Konvensional dan beralih ke Bank Syariah, karena tanpa ada tindakan dari masyarakat sebagai pelaku usahanya, maka usaha para ahli ekonomi Islam, Ulama, dan orang yang memperjuangkan tegaknya perkonomian Islam di Indonesia itu tidak akan terlaksana.

Yogyakarta, 3 April 2012 Hamzah Abidin