Вы находитесь на странице: 1из 27

ANDI MULYA SURATMAN SMF PARU

DEFENISI
Pleuritis suatu peradangan pada pleura. Pleurisi terjadi jika suatu penyebab mengiritasi pleura, sehingga terjadi peradangan. Pleuritis TB

Peradangan pada pleura oleh M.tuberkulosis, Merupakan suatu penyakit TB ekstraparu Dengan manifestasi menumpuknya cairan di rongga pleura

KLASIFIKASI
1.

Bila disertai dengan penimbunan cairan di

rongga pleura maka disebut pleuritis eksudatif


(efusi pleura)
2.

Bila tidak terjadi penimbunan cairan di rongga

pleura, maka disebut pleuritis sicca (pleurisi


kering). Setelah terjadi peradangan, pleura bisa kembali normal atau terjadi perlengketan. Di Indonesia paling sering dijumpai radang selaput paru yang basah (eksudatifa).

EPIDEMIOLOGI

TB ekstra paru berkisar antara 9,7 sampai 46% dari semua kasus TB. Organ yang sering terlibat yaitu limfonodi, pleura, hepar dan organ gastro intestinal lainnya, organ genitourinary, peritoneum, dan perikardium. Pleuritis TB merupakan TB ekstraparu kedua terbanyak setelah limfadenitis TB. Angka kejadian bervariasi antara 4% di USA sampai 23% di Spanyol. Insidensi pleuritis TB seiring dengan peningkatan insidensi TB ekstraparu oleh karena pandemik HIV. Insidensi Pleuritis TB pada HIV/AIDS dilaporkan bervariasi antara 15-90 %.

ETIOLOGI
Penyebab M. Tuberculosis Penyebarannya melalui:

Langsung Limfogen Hematogen Hipersensitivitas tipe lambat.

ANATOMI PLEURA

Rongga pleura dibentuk oleh : Membran serosa yg kuat berasal dari mesoderm. Terdiri dari dua bagian: 1. Pleura parietalis membungkus rongga dada bagian dalam (dinding thorak, diafragma, dan mediastinum) 2. Pleura viseralis membungkus parenkim paru Rongga pleura terletak antara paru dan dinding thoraks. Tebal rongga pleura 10-20 mikron Rongga pleura dengan lapisan cairan yang tipis ini berfungsi sebagai pelumas antara

Perbedaan pleura viceralis dan parietalis


Pleura visceralis Permukaan luarnya

terdiri dari selapis sel mesothelial yang tipis < 30mm. Diantara celah-celah sel ini terdapat sel limfosit Di bawah sel-sel mesothelial ini terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit. Di bawahnya terdapat lapisan tengah berupa jaringan kolagen dan serat-serat elastik. Lapisan terbawah terdapat jaringan interstitial subpleura yang banyak mengandung pembuluh darah kapiler dari a.Pulmonalis dan a. Brakhialis serta pembuluh limfe Menempel kuat pada jaringan paru Fungsinya untuk mengabsorbsi cairan Pleura

Pleura parietalis : Jaringan lebih tebal

terdiri dari sel-sel mesothelial dan jaringan ikat (kolagen dan elastis) Dalam jaringan ikat tersebut banyak mengandung kapiler dari a. Intercostalis dan a. Mamaria interna, pembuluh limfe, dan banyak reseptor saraf sensoris yang peka terhadap rasa sakit dan perbedaan temperatur. Keseluruhan berasal n. Intercostalis dinding dada dan alirannya sesuai dengan dermatom dada. Mudah menempel dan lepas dari dinding dada di atasnya Fungsinya untuk memproduksi cairan pleura.

PATOFISIOLOGI

Pleuritis TB dapat merupakan manifestasi dari tuberkulosis primer atau tuberkulosis post primer (reaktivasi).

Pleuritis TB primer 6-12 minggu setelah infeksi primer pecahnya fokus kaseosa subpleura ke kavitas pleura. Antigen mikobakterium TB memasuki kavitas pleura dan berinteraksi dengan Sel T yang sebelumnya telah tersensitisasi mikobakteria, reaksi hipersensitivitas tipe lambat eksudasi oleh karena meningkatnya permeabilitas dan menurunnya klirens akumulasi cairan di kavitas pleura. Cairan efusi ini secara umum adalah eksudat tapi dapat juga berupa serosanguineous dan biasanya mengandung sedikit basil TB

Beberapa

kriteria yang mengarah ke Pleuritis TB primer : 1. Adanya data tes PPD positif baru, 2. Rontgen thorax dalam satu tahun terakhir tidak menunjukkan adanya kejadian tuberkolosis parenkim paru, 3. Adenopati Hilus dengan atau tanpa penyakit parenkim.

Pleuritis TB reaktivasi atau TB post primer. Reaktivasi dapat terjadi jika stasus imunitas

pasien turun. Umur rata-rata pasien dengan reaktivasi TB adalah 44,6 tahun. Pada kasus Pleuritis TB rekativasi, dapat dideteksi TB parenkim paru secara radiografi dengan CT scan Infiltrasi dapat terlihat pada lobus superior atau segmen superior dari lobus inferior. Bekas lesi parenkim dapat ditemukan pada lobus superior, hal inilah yang khas pada TB reaktivasi. Efusi yang terjadi hampir umumnya ipsilateral dari infiltrat dan merupakan tanda adanya TB parenkim yang aktif.

Efusi pada pleuritis TB dapat juga terjadi sebagai akibat penyebaran basil TB secara:
olangsung dari lesi kavitas paru, odari aliran darah dan osistem limfatik pada TB post primer (reaktivasi).

Penyebaran hematogen terjadi pada TB milier.

GAMBARAN KLINIS

Gambaran klinis dari Pleuritis TB yang paling sering dilaporkan adalah:


Batuk (71-94%), Batuk yang terjadi biasanya nonproduktif terutama ketika tidak terdapat lesi paru aktif. Demam (71-100%), Nyeri dada pleuritik (78-82%) Dispneu. keluhan umum TB: Keringat malam, sensasi mengigil, dyspneu, malaise, dan penurunan berat badan

Lanjutan...
Demam dan nyeri dada umumnya terdapat pada pasien muda, Batuk dan dyspneu umumnya pada pasien yang lebih tua. Durasi rata-rata dari gejala penyakit sekitar 14 hari pada pleuritis TB primer dan 60 hari pada pleuritis TB reaktivasi.

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik ditemukan :


Berkurangnya suara nafas, fremitus taktilmelemah dan perkusi pekak diatas tempat efusi. Pleral friction rub dilaporkan pada 10% pasien.

METODE DIAGNOSIS

Pleuritis TB tidak selalu mudah didiagnosis, karena tidak selalu ada gambaran khas seperti adanya eksudat yang kaya limfosit pada cairan efusi, granuloma nekrotik kaseosa pada biopsi pleura, hasil positif dari pewarnaan Ziehl Neelsen atau kultur Lowenstein dari cairan efusi atau jaringan sampel dan sensitivitas kulit terhadap PPD.

Lanjutan...

Diagnosis dari Pleuritis TB secara umum ditegakkan dengan:


Gejala klinis Pemeriksaan fisik Pemeriksaan Penunjang :
Sputum BTA Ro torax Tuberkulin (PPD) Analisis cairan pleura dan Biopsi pleura.

Biopsi pleura parietal telah menjadi tes diagnositik yang paling sensitif untuk Pleuritis TB. Pemeriksaan histopatologis jaringan pleura menunjukkan peradangan granulomatosa, nekrosis kaseosa, dan BTA positif. Hasil biopsi perlu diperiksa secara PA, pewarnaan BTA dan kultur.

Pada tahun-tahun terakhir ini, beberapa penelitian meneliti adanya penanda biokimia seperti : ADA, ADA isoenzim, Lisozim, dan limfokin lain untuk meningkatkan efisiensi diagnosis. IFN- PCR

TERAPI
Berdasarkan

pedoman tata laksana DOTS, pasien dengan sakit berat yang luas atau adanya efusi pleura bilateral dan sputum BTA positif, diberikan terapi kategori I 2RHZE/4RH pasien dengan pleuritis TB soliter harus diterapi dengan 2RHZ/4RH

Pada

Thorakosintesis mungkin diperlukan untuk mengurangi gejala. Penggunaan kortikosteroid menurut review metaanalisis Cochrane menunjukkan kurangnya data yang mendukung bahwa kortikosteroid efektif pada Pleuritis TB.

PROGNOSIS
Setengah dari kasus yang tidak diterapi akan berkembang menjadi bentuk tuberkulosis paru dan ekstraparu yang lebih berat yang dapat berakibat pada kecacatan dan kematian. Umumnya, efusi pada Pleuritis TB primer tanpa diketahui dan proses penyembuhan spontan 90% kasus.

KOMPLIKASI
Tuberkulosa empyema. Pecahnya kavitas parenkim ke ruang pleura dapat berkembang menjadi fistula bronkhopleural dan pyopnemothoraks.