Вы находитесь на странице: 1из 7

SKABIES (GUDIK) GUDIK: GATAL BERSAMA, MENGGARUK BERSAMA Kata Kunci: gudik (gudikan), penyakit ampera, gatal agogo,

budukan, scabies, the itch, seven-year itch, Norwegian itch, Norwegian scabies, canine scabies, mange , intense pruritus, nocturnal pruritus, Sarcoptes scabies. Ini dia, Skabies atau Gudikan, salah satu penyakit kulit yang mudah menular ( ya ng disebabkan oleh kutu Scabies scabiei ) dari satu orang ke orang lainnya, sehi ngga tak jarang menyebar dalam keluarga ketika salah satu anggota keluarganya pu lang kerumah membawa penyakit ini. Bila sebuah keluarga terjangkit penyakit gudik (skabies) maka tak ayal akan terj adi ritual menggaruk bersama terutama di malam hari. Beberapa penderita penyakit gudik menggambarkan seperti gitaran. Gerakan menggaruk yang mirip bermain gitar di malam hari lantaran rasa gatal yang ditimbulkannya. Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa penyakit gudik (skabies) mudah menular dan m enjangkiti sekelompok orang melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Karen anya tak heran jika penyakit gudik (skabies) dapat dijumpai di sebuah keluarga, di kelas sekolah, di asrama, di pesantren. Di daerah kami (Palaran, Samarinda), gudik (skabies) merebak lagi sejak tahun 20 02 hingga saat ini. Pada tahap awal, penyakit gudik (skabies) sulit dibedakan de ngan penyakit alergi kulit, akibatnya gudik (skabies) menyebar karena penyebabny a tidak diobati. Biasanya, penyakit gudik (skabies) terdeteksi manakala menjangk iti lebih dari 1 orang dalam sebuah keluarga. :: :: :: PENGERTIAN :: :: :: Skabies (gudik) adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh Sarcoptes sca biei varian hominis (sejenis kutu, tungau), ditandai dengan keluhan gatal, terut ama pada malam hari dan ditularkan melalui kontak langsung atau tidak langsung m elalui alas tempat tidur dan pakaian. :: :: :: PERJALANAN PENYAKIT :: :: :: Sekilas kutu Sarcoptes scabiei. Sarcoptes scabiei adalah kutu (atau tungau) mungil berwarna putih transparan, be rbentuk bulat lonjong. Ukuran kutu (tungau) betina 0,3-0,4 mm, sedangkan si jant an setengah dari ukuran betina. Di luar kulit, kutu ini hanya dapat bertahan hid up 2-3 hari pada suhu kamar dan kelembaban 40-80%. Cara berkembang biak dan penularan: Setelah membuahi kutu betina maka si pejantan mati. Kutu betina yang sudah dibua hi akan membuat liang terowongan di kulit, kemudian bertelor sekitar 40-50 butir telor, dan akan menetas setelah sekitar 3-5 hari. Hasil penetasan (larva) kutu tersebut keluar ke permukaan kulit dan tumbuh menjadi kutu dewasa dalam waktu se kitar 16-17 hari. (referensi lain menyebutkan 10-14 hari) Penularan terjadi melalui: * Kontak langsung, kontak seksual * Secara tidak langsung melalui bekas duduk, sprei (alas) tempat tidur serta pakaian. :: :: :: TANDA-TANDA :: :: :: Keluhan utama pada penderita skabies (gudik) adalah: * Rasa gatal terutama waktu malam hari. * Tonjolan kulit (lesi) berwarna putih keabu-abuan sepanjang sekitar 1 cm. * Kadang disertai nanah karena infeksi kuman akibat garukan. Lokasi paling sering di sela-sela jari tangan, telapak tangan, pergelangan tanga n, siku, ketiak, daerah payudara, sekitar pusar dan perut bagian bawah, sekitar kelamin dan pantat. Sedangkan pada bayi dan anak-anak dapat mengenai wajah, sela -sela jari kaki dan telapak kaki. Pada pria bisa mengenai ujung kemaluan bahkan sekujur kemaluan. Duhhh gatalnya a

lang kepalang. ( gimana nggaruknya ya ) :: :: :: DIAGNOSA :: :: :: Penetapan diagnosa skabies (gudik) berdasarkan riwayat gatal terutama pada malam hari dan adanya anggota keluarga atau teman dekat yang sakit seperti penderita ( ini menunjukkan adanya penularan ). Pemeriksaan fisik yang sangat penting adalah dengan melihat bentuk tonjolan kuli t yang gatal dan arena penyebarannya. Untuk memastikan diagnosa skabies (gudik) adalah dengan pemeriksaan mikroskop un tuk melihat ada tidaknya kutu Sarcoptes scabiei atau telurnya. :: :: :: PENGOBATAN :: :: :: Pengobatan ditujukan pada pemberantasan kutu Sarcoptes scabiei dan mengurangi ke luhan gatal serta penyulit yang timbul karena garukan. Antibiotika dapat digunakan jika ada infeksi sekunder, misalnya bernanah di area yang terkena (sela-sela jari, kelamin, dll) akibat garukan. :: :: :: TIPS dan ANJURAN :: :: :: * Periksakan ke Puskesmas, dokter, dokter spesialis kulit atau Rumah sakit s etempat bila menjumpai penyakit ini untuk mendapatkan pengobatan. * Cuci semua baju dan alas tidur (sprei atau sejenisnya) dengan air panas. * Mandi teratur dengan sabun. * Apabila ada yang sakit Skabies (gudik), periksakan semua anggota keluarga yang kontak dengan penderita. Jika ternyata menderita skabies, obati semuanya se cara serempak agar tidak terjadi penularan ulang. * Bagi para guru atau Ustadz yang mendapati murid atau santrinya sakit Skabi es (gudik) hendaknya menganjurkan kepada murid atau santrinya untuk berobat seca ra serempak di Puskesmas terdekat atau poliklinik Kulit Rumah Sakit setempat. PENGOBATAN : Pengobatan scabies tidak terlalu sulit. Oleskan krim permetrin 5% seluruh tubuh dari leher ke bawah, selama semalam lalu basuh hingga bersih. Pengobatan ini bia sanya diulang setelah 1 minggu. Alternatif pengobatan lainnya adalah dengan krim lindane, dioleskan seluruh tubuh dari leher ke bawah, dan dibersihkan setelah 8 jam. Kedua obat tersebut efektif, tetapi lindane cenderung mengiritasi kulit, l ebih toksik dan tidak boleh diberikan kepada anak-anak dan ibu hamil. Selain itu , dapat diberikan pengobatan per oral, dengan ivermectin. Dosisnya adalah 200 mi krogram per kilogram berat badan, dosis tunggal. Pengobatan ini diulang setelah 2 minggu. Dapat dipergunakan pula antihistamin seperti CTM untuk mengurangi gata l. Hal lain yang dapat dilakukan adalah merendam pakaian, seprei dan selimut yan g dipakai ke dalam air panas. Cara Cegah Skabies, Penyakit Kulit Mengerikan Skabies disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Infestasi tungau ini mudah men yebar dari orang ke orang melalui kontak fisik dan sering menyerang seluruh peng huni dalam satu rumah. Tungau ini ukurannya cukup besar sehingga dapat dilihat d engan mata telanjang dan sering menular diantara orang-orang yang tidur besama. (foto: homeopathyandmore) Skabies disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Infestasi tungau ini mudah men yebar dari orang ke orang melalui kontak fisik dan sering menyerang seluruh peng huni dalam satu rumah. Tungau ini ukurannya cukup besar sehingga dapat dilihat d engan mata telanjang dan sering menular diantara orang-orang yang tidur besama. (foto: homeopathyandmore) Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi ter hadap Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya. Beberapa sinonim penyakit ini yaitu: Kudis, The Itch, Gudig, Budukan, Gatal Agogo. Epidemiologi Skabies merupakan penyakit epidemik pada banyak masyarakat. Ada dug aan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemik scabies. Penyakit ini banyak d ijumpai pada anak dan orang dewasa muda, tetapi dapat juga mengenai semua umur.

Insidensi sama pada pria dan wanita. Insidensi skabies di negara berkembang menunjukan siklus fluktasi yang sampai sa at ini belum dapat dijelaskan. Interval antara akhir dari suatu epidemic dan per mulaan epidemik berikutnya kurang lebih 10-15 tahun. Beberapa factor yang dapat membantu penyebarannya adalah kemiskinan, hygiene yang jelek, seksual promiskuit as, diagnosis yang salah, demografi, ekologi dan derajat sensitasi individual. I nsidensinya di Indonesia masih cukup tinggi, terendah di Sulawesi Utara dan tert inggi di Jawa Barat. Etiologi Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthopoda, kelas Arachnida, ordo Ackarina, supe rfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis, sedangka n varietas pada mamalia lain dapat menginfestasi manusia, tetapi tidak dapat hid up lama. Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung da n bagian perutnya rata. Tungau ini transient, berwarna putih kotor, dan tidak be rmata. Tungau betina panjangnya 300-450 mikron, sedangkan tungau jantan lebih ke cil, kurang lebih setengahnya yakni 200 240 mikron x 150 200 mikron. Bentuk dewa sa mempunyai 4 pasang kaki dan bergerak dengan kecepatan 2,5 cm permenit di perm ukaan kulit. Sarcoptes scabiei betina setelah dibuahi mencari lokasi yang tepat di permukaan kulit untuk kemudian membentuk terowongan, dengan kecepatan 0,5 mm 5 mm per hari . Terowongan pada kulit dapat sampai ke perbatasan stratum korneum dan stratum g ranulosum. Di dalam terowongan ini tungau betina akan tinggal selama hidupnya ya itu kurang lebih 30 hari dan bertelur sebanyak 2-3 butir telur sehari. Telur akan menetas setelah 3-4 hari menjadi larva yang akan keluar ke permukaan kulit untuk kemudian masuk kulit lagi dengan menggali terowongan biasanya sekita r folikel rambut untuk melindungi dirinya dan mendapat makanan. Setelah beberapa hari, menjadi bentuk dewasa melalui bentuk nimfa. Waktu yang diperlukan dari te lur hingga bentuk dewasa sekitar 10-14 hari. Tungau jantan mempunyai masa hidup yang lebih pendek dari pada tungau betina, dan mempunyai peran yang kecil pada p atogenesis penyakit. Biasanya hanya hidup dipermukaan kulit dan akan mati setela h membuahi tungau betina. Sarcoptes scabiei betina dapat hidup diluar pada suhu kamar selama lebih kurang 7 14 hari. Yang diserang adalah bagian kulit yang tipis dan lembab, contohnya li patan kulit pada orang dewasa. Pada bayi, karena seluruh kulitnya masih tipis, m aka seluruh badan dapat terserang. Patogenesis Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga ole h penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau bergandengan sehi ngga terjadi kontak kulit yang kuat, menyebabkan kulit timbul pada pergelangan t angan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekret dan ekskre t tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat it u kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtik a dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infek si sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau. Cara Penularan Penyakit skabies dapat ditularkan melalui kontak langsung maupun kontak tak lang sung. Skabies ditularkan oleh kutu betina yang telah dibuahi, melalui kontak fis ik yang erat penularan melalui pakaian dalam, tempat tidur, handuk, setelah itu kutu betina akan menggali lobang kedalam epidermis kemudian membentu terowongan didalam stratum korneum. Dua hari setelah fertilisasi, skabies betina mulai meng eluarkan telur yang kemudian berkembang melalui stadium larva, nimpa dan kemungk

inan menjadi kutu dewasa dalam 10-14 hari. Lama hidup kutu betina kira-kira 30 hari, kemudian kutu mati di ujung terowongan . Terowongan lebih banyak terdapat didaerah yang berkulit tipis dan tidak banyak mengandung folikel pilosebasea. Penyakit ini sangat mudah menular, karena itu bila salah satu anggota keluarga t erkena, maka biasanya anggota keluarga lain akan ikut tertular juga. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kebersihan perseorangan dan lingkungan . Apabila tingkat kesadaran yang dimiliki oleh banyak kalangan masyarakat masih cukup rendah, derajat keterlibatan penduduk dalam melayani kebutuhan akan keseha tan yang masih kurang, kurangnya pemantauan kesehatan oleh pemerintah, faktor li ngkungan terutama masalah penyediaan air bersih, serta kegagalan pelaksanaan pro gram kesehatan yang masih sering kita jumpai, akan menambah panjang permasalahan kesehatan lingkungan yang telah ada. Faktor Predisposisi Kebersihan lingkungan sangat penting pada penularan penyakit ini. Scabies pada u mumnya terdapat pada komunitas yang berpenghasilan rendah (low income communitie s) yang kurang memperhatikan kebersihan diri (personal hygiene). Skabies juga da pat terjangkit pada mereka yang tinggal berdesakan seperti pengungsi, anggota te ntara pada saat perang, asrama, panti, sekolah, dll. Gejala Klinis Ciri khas dari skabies adalah gatal-gatal hebat, yang biasanya semakin memburuk pada malam hari. Lubang tungau tampak sebagai garis bergelombang dengan panjang sampai 2,5 cm, ka dang pada ujungnya terdapat beruntusan kecil. Lubang/terowongan tungau dan gatal-gatal paling sering ditemukan dan dirasakan d i sela-sela jari tangan, pada pergelangan tangan, sikut, ketiak, di sekitar puti ng payudara wanita, alat kelamin pria (penis dan kantung zakar), di sepanjang ga ris ikat pinggang dan bokong bagian bawah. Infeksi jarang mengenai wajah, kecuali pada anak-anak dimana lesinya muncul seba gai lepuhan berisi air. Lama-lama terowongan ini sulit untuk dilihat karena tertutup oleh peradangan yan g terjadi akibat penggarukan. Terdapat empat tanda kardinal skabies: 1. Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena ak tivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas. 2. Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok, misalnya dalam sebuah k eluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu pula dalam seb uah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut. Dikenal keadaan hiposensitisasi, yang selur uh anggota keluarganya terkena, walaupun mengalami infestasi tungau, tetapi tida k memberikan gejala. Penderita ini bersifat sebagai pembawa (carrier). 3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan ini ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf (pustule, ekskoriasi dan lain-lain). Te mpat predileksinya biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mammae (wanita), umbilicus, bokong, genitalia eksterna (pria) dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki. 4. Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat ditemukan sa tu atau lebih stadium hidup tungau ini.

Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal tersebut. Klasifikasi Skabies Terdapat beberapa bentuk skabies apitik yang jarang ditemukan dan sulit dikenal, sehingga dapat menimbulkan kesalahan diagnosis. Beberapa bentuk tersebut antara lain: 1. Skabies pada Orang Bersih Terdapat pada orang yang tingkat kebersihannya cukup. Biasanya sangat sukar dite mukan terowongan. Kutu biasanya hilang akibat mandi secara teratur. Bentuk ini d itandai dengan lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya sehingga sangat sukar ditemukan. 2. Skabies Inkognito Obat steroid topikal atau sistemik dapat menyamarkan gejala dan tanda scabies, s ementara infestasi tetap ada. Sebaliknya pengobatan dengan steroid topical yang lama dapat pula menyebabkan lesi bertambah hebat. Hal ini disebabkan mungkin ole h karena penurunan respon imum seluler. 3. Skabies Nodular Pada bentuk ini lesi berupa nodus coklat kemerahan yang agtal. Nodus biasanya te rdapat di daerah tertutup, terutama pada genitalia laki-laki, inguinal dan aksil a. Nodus ini timbul sebagai reaksi hipersensetivitas terhadap tungau scabies. Pa da nodus yang berumur lebih dari satu bulan tungau jarang ditemukan. Nodus mungk in dapat menetap selama beberapa bulan sampai satu tahun meskipun telah diberi p engobatan anti skabies dan kortikosteroid. 4. Skabies yang ditularkan melalui hewan Di Amerika, sumber utama skabies adalah anjing. Kelainan ini berbeda dengan skab ies manusia yaitu tidak terdapat terowongan, tidak menyerang sela jari dan genit alia eksterna. Lesi biasanya terdapat pada daerah dimana orang sering kontak/mem eluk binatang kesayangannya yaitu paha, perut, dada dan lengan. Masa inkubasi le bih pendek dan transmisi lebih mudah. Kelainan ini bersifat sementara (4 8 mingg u) dan dapat sembuh sendiri karena Sarcoptes scabiei pada binatang tidak dapat m elanjutkan siklus hidupnya pada manusia. 5. Skabies Norwegia Skabies Norwegia atau skabies krustosa ditandai oleh lesi yang luas dengan krust a, skuama generalisata dan hyperkeratosis yang tebal. Tempat predileksi biasanya kulit kepala yang berambut, telinga bokong, siku, lutut, telapak tangan dan kak i yang dapat disertai distrofi kuku. Berbeda dengan skabies biasa, rasa gatal pada penderita skabies Norwegia tidak m enonjol tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yang menginfestasi sangat banyak (ribuan). Skabies Norwegia terjadi akibat defisiensi imunologik s ehingga sistem imun tubuh gagal membatasi proliferasi tungau dapat berkembangbia k dengan mudah. 6. Skabies pada bayi dan anak Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, le her, telapak tangan, telapak kaki dan sering terjadi infeksi sekunder berupa imp etigo, ektima sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi, lesi di muka. 7. Skabies terbaring ditempat tidur (bed ridden) Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal ditempat tid ur dapat menderita skabies yang lesinya terbatas. 8. Skabies yang disertai penyakit menular seksual yang lain Skabies sering dijumpai bersama penyakit menular seksual yang lain seperti gonor

e, sifilis, pedikulosis pubis, herpes genitalis dan lainnya. Komplikasi Bila skabies tidak diobati selama beberapa minggu atau bulan, dapat timbul derma titis akibat garukan. Erupsi dapat berbentuk impetigo, ektima, sellulitis, limfa ngitis, dan furunkel. Infeksi bakteri pada bayi dan anak kecil yang diserang sca bies dapat menimbulkan komplikasi pada ginjal. Dermatitis iritan dapat timbul ka rena penggunaan preparat anti skabies yang berlebihan, baik pada terapi awal ata upun pemakaian yang terlalu sering. Pencegahan Pencegahan skabies dapat dilakukan dengan berbagai cara: DEFINISI Skabies adalah suatu infestasi tungau yang menyebabkan beruntus-beruntuk kecil k emerahan dan rasa gatal yang hebat. PENYEBAB Skabies disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Infestasi tungau ini mudah menyebar dari orang ke orang melalui kontak fisik dan sering menyerang seluruh penghuni dalam satu rumah. Tungau ini ukurannya cukup besar sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang da n sering menular diantara orang-orang yang tidur besama. Kadang tungau ditularkan melalui pakaian, seprei dan benda-benda lainnya yang di gunakan secara bersama-sama; masa hidupnya hanya sebentar dan pencucian biasa bi sa menghancurkan tungau ini. Tungau betina membuat terowongan di bawah lapisan kulit paling atas dan menyimpa n telurnya dalam lubang. Beberapa hari kemudian akan menetas tungau muda (larva) . Infeksi menyebabkan gatal-gatal hebat, kemungkinan merupakan suatu reaksi alergi terhadap tungau. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala (gatal-gatal hebat) dan hasil pemeriksaa n fisik (adanya terowongan tungau). Untuk memastikan diagnosis, bisa dilakukan pemeriksaan mikroskopis terhadap kero kan kulit dan akan ditemukan adanya tungau. PENGOBATAN Penyakit ini bisa diatasi dengan mengoleskan krim yang mengandung permetrin atau larutan lindane. Kedua obat tersebut efektif, tetapi lindane cenderung mengiritasi kulit, lebih t oksik dan tidak boleh diberikan kepada anak-anak. Kadang digunakan krim yang mengandung corticosteroid (misalnya hydrocortisone) s elama beberapa hari setelah pemberian permetrin atau lindane, untuk mengurangi g atal-gatal sampai semua tungau mati. Pengobatan juga harus dilakukan terhadap seluruh penghuni rumah. PENCEGAHAN Untuk mencegah kembali dihinggapi dan untuk mencegah tungau menyebar ke orang la in, ambil langkah-langkah ini: 1. Bersihkan semua pakaian dan kain. Gunakan air panas, air sabun untuk mencu ci semua pakaian, handuk dan selimut yang Anda gunakan setidaknya dua hari sebel um perawatan. Keringkan dengan panas tinggi. Dry-clean item Anda yang tidak dapa t dicuci di rumah.

2. Buat tungau kelaparan. Pertimbangkan menempatkan perabotan Anda yang tidak dapat dicuci di kantong plastik tertutup dan meninggalkannya di tempat jauh dar i ruang anda, misalnya di dalam garasi Anda, selama beberapa minggu. Tungau mati jika mereka tidak makan selama seminggu. 3. Menghindari pemakaian baju, handuk, seprai secara bersama-sama. 4. Mengobati seluruh anggota keluarga, atau masyarakat yang terinfeksi untuk memutuskan rantai penularan. (fn/sc/mc) www.suaramedia.com Obat Scabies Tradisional Penyakit scabies adalah penyakit yang menyerang kulit, bentol bentol kecil warna kemerahan dan cepat menyebar ke seluruh tubuh jika tidak segera diobati. Gambar bisa diakses disini Scabies. Yang menderita penyakit ini biasanya merasa tersik sa karena gatal gatal yang makin lama makin banyak dan timbul di seluruh tubuh b iasanya jadi susah tidur. Penyakit scabies disebabkan oleh kutu yang membuat terowongan kecil dibawah lapi san kulit persis dibawah kulit ari, dan menembus kemana mana, jadi ya lorong-lor ongnya sebenarnya banyak persis seperti sarang tikus, karena itu menyebabkan gat al gatal. Pada saat bertelur kutu scabies ini menyebarkan telur telurnya keselur uh tubuh, walaupun perjalanannya lambat sekitar 1 cm per 1 malam, tapi karena ma kin lama makin banyak tentu saja bisa menyebar keseluruh tubuh. Telor kutu scabi es akan menetas dalam tempo sekitar 1 minggu sampai 10 hari. Oleh karena itu dal am masa pengobatannya harus diulangi lagi setelah 1 minggu sampai 10 hari. Obat yang sudah jadi memang banyak antara lain scabicid dan scabimid. Obat ini t ergolong murah untuk ukuran obat salep, sekitar Rp. 20.000 per tube, ukuran seki tar 20 gram. Jadi per gramnya Rp. 1000,-. Pengalaman saya menggunakan obat ini kurang bagus hasilnya, sudah lebih dari 1 m inggu ternyata belum sembuh juga. Akhirnya aku memilih membuat sendiri dari obat tradisional obat scabies bisa dilihat di Medicine. Obat tradisional untuk scabi es itu ada beberapa macam, ada yang tidak baik untuk anak anak dan ada yang aman buat anak anak dan bayi. Yang akan diterangkan disini yang aman saja, memang de ngan obat yang kurang aman buat anak itu hanya perlu satu hari saja dan diulangi setelah 10 hari. Tapi obat tradisional yang ini juga tidak kalah ampuh, hanya 3 hari dan diulangi lagi setelah 10 hari, 3 hari lagi. Cara menggunakannyapun cuk up sederhana cukup dibedakan ke seluruh tubuh. Bahan: 1. Sulfur, berbentuk bubuk kuning, kalau belum bubuk harus ditumbuk sampai ha lus dahulu. 2. Bedak bayi yang netral, tidak mengandung bahan macam macam, untuk menghind ari adanya reaksi dengan sulfur. Lebih aman lagi menggunakan tepung kanji. Ramuan: Campur bubuk sulfur dengan bedak/tepung dengan komposisi 1: 8, jadi jika tepungn ya 8 gram maka sulfurnya perlu 1 gram, jangan terbalik. Campur sampai campuran m enjadi rata dengan mengaduk aduk berulang kali. Jadi deh obat tradisional scabie s. Setelah jadi bisa langsung dibalurkan keseluruh tubuh penderita scabies.