You are on page 1of 5

A.

Berbagai Hikmah dan Nilai dalam Shalat Ibadah shalat memiliki dua dimensi, dimensi individual dan dimensi sosial. Dimensi individual adalah bagaimana shalat itu dijadikan sarana untuk berkomunikasi secara individu dengan Allah, walaupun dilakukan secara berjemaah aspek individualnya dalam berkomunikasi dengan Allah menjadi tanggungjawab pribadi-pribadi yang shalat. Sementara dimensi sosial shalat adalah bagaimana shalat membawa dampak positif bagi lingkungan sosial masyarakat dimana individu yang melakukan shalat itu berada. Bahwa shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, merupakan manifestasi nilai-nilai sosial yang berada dalam shalat. Shalat merupakan waktu terdekat hubungan antara seorang hamba dan Penciptanya. Shalat pula merupakan benteng dalam menangkal perbuatan keji dan mungkar. Secara empiris memang sulit membuktikan adanya hubungan (korelasi) antara ibadah shalat dan perilaku kemasyarakatan (etika sosial), antara tuntutan normatif dan kenyataan yang ada. Ajaran shalat misalnya, menuntut seseorang untuk bisa mentransformasikan nilai-nilai yang dikandungnya ke dalam sikap dan perilaku keseharian yang pada gilirannya akan mempertegas jati dirinya sebagai seorang Muslim yang baik (shalih). B. Hikmah Shalat yang Didapatkan Sekaitan dengan hal ini, adalah sangat menarik untuk diperhatikan sembilan ayat pertama surat Al-Mukminun seperti dikemukakan di atas. Rangkaian ayat di atas bila dicermati akan terlihat di situ tuntutan sekaligus dampak positif yang diharapkan dari ibadah shalat. Pertama, hati yang khusyuk. Ibnu Katsir, mengutip pendapat para mufassir salaf, menerangkan makna khusyuk itu antara lain: ketundukan hati, ketenangan pikiran (sakinah), perasaan takut (khauf) serta merendahkan diri, dan merundukkan pandangan ke tempat sujud. Jadi, kata kunci dari khusyuk adalah pemusatan hati dan pikiran (konsentrasi) kepada Allah sewaktu shalat. Kekhusyukan dalam shalat itu diharapkan akan mengimbas kepada kekhusyuan dan sikap rendah hati terhadap sesama manusia . Kedua, menjauhi perilaku lagho (sia-sia). Kata lagho/laghwu dalam bahasa Arab menunjuk kepada ucapan-ucapan omong kosong yang tak berfaedah. Atau ucapan yang mendatangkan mudarat. Kemudian penafsirannya berkembang kepada perbuatan-perbuatan yang tak senonoh dan tidak bermanfaat. Al-Qurtubi menafsirkan kata lagho dalam (S.2:225) yakni ucapan-ucapan yang tak berguna, tidak ada nilai kebaikannya dan tak terhindari pula unsur-unsur dosanya. Atau ucapan-ucapan yang mengandung fitnah, provokasi dan mencari-

cari kesalahan orang lain sebagaimana yang lazim kita temukan dalam musim-musim kampanye. Dalam salah satu hadis Rasulullah Saw bersabda: Sebaik-baik nilai keislaman seseorang ialah sejauh mana ia mampu meninggalkan sesuatu yang tidak perlu. Ketiga, memelihara faraj (kemaluan). Dampak positif lainnya dari ajaran shalat adalah membuat seseorang terhindar dari perilaku seks menyimpang seperti zina, liwath (homoseks) dan bentuk-bentuk penyimpangan seksual lainnya yang dilarang agama. Di era globalisasi ini, di mana batas-batas budaya sudah semakin kabur, antara yang halal dan yang haram tercampurbaur, muncullah gaya hidup permissif (sikap pembiaran segala hal). Seorang mukmin yang shalat tidak seharusnya menyepelekan penyimpangan seksual yang berpangkal dari kemaluan (faraj) itu. Ia berkewajiban mengingatkan putra-putrinya tentang bahaya yang ditimbulkannya. Fenomena semacam ini tentu sudah banyak kita saksikan saat ini sebagai realitas dari ketidakpedulian orang terhadap nilai-nilai moral dan agama. Keempat, memelihara amanah dan janji. Keduanya wajib dipelihara tanpa membedabedakan agamanya. Sikap inilah yang dicontohkan Rasulullah dalam perjanjian Hudaibiah dan Piagam Madinah antara kaum Muslimin dan non-Muslim. Namun tanpa disadari dalam dua hal ini kita sering bersikap lengah. Ketepatan waktu serta kedisiplinan dalam segala hal tampaknya belum menjadi milik umat Islam. Malah yang sering terlihat sebaliknya. Dalam menghadiri pertemuan-pertemuan misalnya, kebiasaan molor dari waktu yang ditentukan sudah tidak menjadi aib lagi. Sikap menghormati janji dan amanah adalah menjadi kunci bagi perilaku positif lainnya dan merupakan garda terdepan moralitas Islam. Sampai-sampai Rasulullah Saw memperingatkan bahwa kehancuran itu akan datang disebabkan amanah yang disia-siakan. Dan menempatkan seseorang pada job yang bukan keahliannya adalah satu ciri dari penyia-nyiaan amanah itu yang pada akhirnya akan membuahkan malapetaka. Kelima, memelihara shalat. Dari segi waktunya, shalat di awal waktu jauh lebih utama (afdhal) daripada shalat di pengujung waktu. Demikian pula kontinuitas serta rutinitasnya harus dipelihara betapapun kesibukan yang kita hadapi. Dari uraian diatas dapatlah dilihat bahwa ibadah shalat itu bukanlah kewajiban yang berdiri sendiri, tapi erat kaitannya dengan sikap dan perilaku hidup sehari-hari. Wallahu a lam bisshawab

Setiap kita melakukan kebaikan secara sungguh-sungguh, tentunya kita akan mendapatkan timbal balik yang baik pula. Begitupun dalam melakukan shalat. Adapun beberapa pelajaran dan keuntungan yang bisa kita dapatkan dalam melakukan shalat. Pertama, Allah mengingatkan kita lima kali sehari tentang waktu. Orang yang khusyuk dalam shalatnya dapat dilihat dari sikapnya yang efektif menggunakan waktu. Ia tidak mau waktunya berlalu sia-sia, karena ia yakin bahwa waktu adalah nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada manusia. Kedua adalah kebersihan. Tidak akan pernah diterima shalat seseorang apabila tidak diawali dengan bersuci. Hikmahnya, orang yang akan sukses adalah orang yang sangat cinta dengan hidup bersih. Dalam QS. As Syams: 9-10 Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan dirinya dan sesungguhnya sangat merugi orang yang mengotori dirinya". Dengankata lain, siapa yang shalatnya khusyuk maka ia akan selalu berpikir bagaimana lahir batinnya bisa selalu bersih. Mulai dari dhahir, rumah harus bersih. Bersih dari sampah, dari kotoran, dan bersih dari barang-barang milik orang lain. Sikap pun harus bersih. Mata, telinga, dan juga lisan harus bersih dari maksiat dan hal-hal yang tak berguna. Dan yang terpenting pikiran dan hati kita harus bersih. Bersihnya hati akan memunculkan kepekaan terhadap setiap titik dosa, dan inilah awal dari kesuksesan. Ketiga, niat. Seorang sebelum yang memulai shalat khusyu kita harus akan selalu memasang menjaga niat. niat Niat dalam sangat setiap penting dalam ibadah. Diterima tidaknya sebuh ibadah akan sangat dipengaruhi oleh shalatnya perbuatan yang dilakukannya. Ia tidak mau bertindak sebelum yakin niatnya lurus karena Allah. Ia yakin bahwa Allah hanya akan menerima amal yang ikhlas. Apa ciri orang ikhlas? Ia jarang kecewa dalam hidupnya. Dipuji dicaci, kaya, miskin, dilihat tidak dilihat, tidak akan berpengaruh pada dirinya, karena semua yang dilakukannya mutlak untuk Allah. Setelah niat, shalat memiliki rukun yang tertib dan urutannya. Jadi, Pelajaran keempat dari orang hanya yang akan khusyuk menjadi dalam shalatnya Shalat adalah cinta keteraturan. kepada kita Ketidakteraturan masalah. mengajarkan

bahwa kesuksesan hanya milik orang yang mau teratur dalam hidupnya. Orang yang shalatnya khusyuk dapat dilihat bagaimana ia bisa tertib, teratur, dan prosedural dalam hidupnya. Kelima, hikmah dari manajemen shalat yang khusyuk adalah tuma'ninah.

Tuma'ninah

mengandung

arti

tenang,

konsentrasi,

dan

hadir

dengan

apa

yang

dilakukan. Shalat melatih kita memiliki ritme hidup yang indah, di mana setiap episode dinikmati dengan baik. Hak istirahat dipenuhi, hak keluarga, hak pikiran dipenuhi dengan sebaiknya. Rasulullah pun menganjurkan kita untuk proporsional dalam beragama, karena itu salah satu tanda kefakihan seseorang. Bila ini bisa kita lakukan dengan baik insya Allah kita akan mendapatkan kesuksesan yang paripurna., yaitu sukses di kantor, sukses di keluarga, dan sukses di masyarakat. Pelajaran Keenam, shalat memiliki gerakan yang dinamis. Sujud adalah gerakan paling mengesankan dari dinamisasi shalat. Orang menganggap bahwa kepala merupakan sumber kemuliaan, tapi ketika sujud kepala dan kaki sama derajatnya. Bahkan setiap orang ketika shalat mengandung hikmah bahwa dalam hidup kita harus tawadhu. Ketawadhuan adalahcerminan kesuksesan mengendalikan diri, mengenal Allah, dan mengenal hakikathidupnya. Bila kita tawadhu (rendah hati) maka Allah akan mengangkat derajat kita. Kesuksesan seorang yang shalat dapat dilihat dari kesantunan, keramahan, dan kerendahan hatinya. Apa cirinya? Ia tidak melihat orang lain lebih rendah daripada dirinya. Hikmah terakhir dari shalat yang khusyuk adalah salam. Shalat selalu diakhiri dengan salam, yang merupakan sebuah doa semoga Allah memberikan keselamatan, rahmat, dan keberkahan bagimu. Ucapan salam ketika shalat merupakan garansi bahwa diri kita tidak akan pernah berbuat zalim pada orang lain. Ini adalah kunci sukses, karena setiap kali kita berbuat zalim, maka kezaliman itu akan kembali pada diri kita. C. Nilai-nilai Dalam Shalat 1. Nilai Adaptasi dan fleksibel: Bentuk adaptasi dalam shalat adalah ketika seseorang tidak menemui air,bisa bertayamum menggunakan debu. Ketika sakit tidak bisa berdiri, boleh shalat dengan duduk. Dan ketika seseorang sedang bepergian jauh, shalatnya boleh dijama atau diqoshor. Rosul bersabda: Agama itu mudah. Tak ada seorang pun yang dibebani agama, kecuali ia dapat mengatasinya. 2. Nilai Sosial: Ketika shalat berjamaah, antara yang miskin dan yang kaya, memiliki kedudukan yang sama di mata Allah. 3. Nilai Kehidupan: Apabila shalat berpengaruh terhadap ketiga unsur yang berada dalam diri manusia, yakni akal, jiwa dan tubuh. Selanjutnya shalat akan berpengaruh terhadap kehidupannya.

4. Nilai perubahan: Rosul bersabda Siapa saja yang shalatnya tidak mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, dia tidak akan mendapat tambahan dari Allah, kecuali semakin jauh dari Nya. 5. Nilai Kebersihan: Sebelum melaksanakan shalat, kita harus suci dari hadas dan najis, baik badan, pakaian, hingga tempat shalat. Mensucikan diri adalah dengan berwudlu, jika hadas kecil, dan melakukan mandi untuk hadas besar. 6. Nilai Kesehatan: Shalat merupakan perlindungan berbagai penyakit yang bisa menyerang tubuh. Shalat adalah obat untuk berbagagi penyakit. Mengenai masalah ini Profesor di fakultas kedokteran Universitas Ain Syams Prof. Dr. Muhammad Zaki telah melakukan penelitian dan menjadikannya karya ilmiah. 7. Nilai Historis Dengan melaksanakan shalat, kita bisa mengikuti gerakan-gerakan yang dilakukan Nabi SAW. Kita juga akan teringat ajaran-ajaran yang telah beliau sampaikan. Kita juga bisa melihat seberapa besar perhatian beliau terhadap kesempurnaan sebuah pekerjaan dan kesabarannya terhadap berbagai aktivitas. 8. Nilai ekonomi: Mukena, sarung, sajadah diperdagangkan,bahkan dipproduksi karena ada konsumen,yaitu orang islam yang melaksanakan shalat 9. Nilai Politik: Dikatakan shalat terkandung nilai politik, adalah ketika ada orang yang ingin nyalon lurah,atau kadus, bahkan DPR, mereka rajin kemasjid agar baik dipandang masyarakat.

______, 2010, Hikmah Shalat, http://teosufi.blogspot.com. Diakses pada tanggal 15 April 2012. ______, April 2012. ______, ______, 2011, 2010, Hikmah Nilai yang Shalat dari Segi dalam Sosial, Shalat, http://isearch.babylon.com. Diakses pada tanggal 15 April 2012. Terkandung http://id.shvoong.com. Diakses pada tanggal 15 April 2012. 2011, Dimensi Sosial dalam Shalat, http://binapsikologisurabaya.blogspot.com. Diakses pada tanggal 15