You are on page 1of 16

MAKALAH Pengantar keperawatn Professional

PEMBIMBING : DESI ANGRENY, S.Kep

ANALISA KASUS : MENUNDA PROSES KELAHIRAN


DI SUSUN OLEH
DEDENG SAPUTRA EVA SONIA DELVI MARIANI NURSISKA YULIANTI TATIK YUNIKA SARI YUDI HARYADI : : : : : : 110101028 110101034 110101040 110101046 110101054 110101060

Program studi ilmu keperawatan Stikes al- insyirah pekanbaru

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah konsep dasar keperawatan dengan judul analisa kasus penundaan kelahiran seorang bayi. Makalah ini di susun dalam rangka memenuhi tugas kelompok mata kuliah Pengantar Keperawatan professional. Program Studi S1 Keperawatan Stikes Al Insyirah pekanbaru. Penulis menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna sempurnanya makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.

april 2012 ,Pekanbaru 14

OkKelomp

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .. DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG B. TUJUAN PENULISAN

i ii 1 1 2 3 3 3 4 4 6 7 7 8 9 9 9 10 12 12 12 13

BAB III TINJAUAN TERORITAS ..


A. Hukum Dalam Keperawatan

.. ................................................. .................... .........

B. Tugas Perawat dalam Ruang Bersalin

C. Dalam Keadaan apa saja perawat mengambil keputusan

tampa intruksi dari dokter

.................................................................. ..............................

D. Faktor Penyebab Perawat Salah Dalam Mengambil Keputusan E. Dampak Dari Tindakan Keperawatan Yang Salah

(menunda persalinan) BAB III

......................................................................... ...............................................

F. Labilitas Dalam Praktek Keperawatan

PEMBAHASAN ..
A. Kasus B. Tangagapan Dari Analisa Kasus C. Penyelesaian

..

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpilan .. B. Saran

DAFTAR PUSTAKA ..

ii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perawatan merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan langsung baik kepada individu, keluarga dan masyarakat. Sebagai salah satu tenaga profesional, keperawatan menjalankan dan melaksanakan kegiatan praktek keperawatan dengan mengunakan ilmu pengetahuan dan teori keperawatan yang dapat dipertanggung jawabkan. Dimana ciri sebagai profesi adalah mempunyai bdy of knowledge yang dapat diuji kebenarannya serta ilmunya dapat diimplementasikan kepada masyarakat langsung. Pelayanan kesehatan dan keperawatan yang dimaksud adalah bentuk implementasi praktek keperawatan yang ditujukan kepada pasien/klien baik kepada individu, keluarga dan masyarakat dengan tujuan upaya peningkatan kesehatan dan kesejahteraan guna mempertahankan dan memelihara kesehatan serta menyembuhkan dari sakit, dengan kata lain upaya praktek keperawatan berupa promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi. Dalam melakukan praktek keperawatan, perawat secara langsung berhubungan dan berinteraksi kepada penerima jasa pelayanan, dan pada saat interaksi inilah sering timbul beberapa hal yang tidak diinginkan baik disengaja maupun tidak disengaja, kondisi demikian inilah sering menimbulkan konflik baik pada diri pelaku dan penerima praktek keperawatan. Oleh karena itu profesi keperawatan harus mempunyai standar profesi dan aturan lainnya yang didasari oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya, guna memberi perlindungan kepada masyarakat. Dengan adanya standar praktek profesi keperawatan inilah dapat dilihat apakah seorang perawat melakukan malpraktek, kelalaian ataupun bentuk pelanggaran praktek keperawatan lainnya.
B. Tujuan Penulisan 1

Tujuan penulisan makalah ini, secara umum adalah mahasiswa dapat memahami tugas dan tanggung jawab dalam bidang keperawatan dilihat dari dimensi etik dan dimensi hukum. Dan secara khusus mahasiswa dapat menjelaskan tentang pengertian, kriteria dan unsur-unsur terjadinya kesalahan, disamping itu juga dapat menjelaskan dampak yang terjadi dengan adanya kesalahan serta bagaimana mencegah terjadinya kesalahan dalam praktek keperawatan

BAB II
2

TINJAUAN TEORITIS A. Berbagai Defenisi 1. Hukum Dalam Keperawatan Hukum adalah kumpulan peraturan yang berisi kaidah-kaidah hukum, sedangkan etika adalah kumpulan peraturan yang berisi kaidahkaidah non hukum, yaitu kaidah-kaidah tingkah laku (etika) (Supriadi, 2001). Hukum adalah A binding custom or practice of acommunity: a rule of conduct or action, prescribed or fomally recognized as binding or enforced by a controlling authority (Websters, 2003). Banyak sekali definisi-definisi yang berkaitan dengan hukum, tetapi yang penting adalah hukum itu sifatnya rasionalogic, sedangkan tentang hukum dalam keperawatan adalah kumpulan peraturan yang berisi kaidah-kaidah hukum keperawatan yang rasionalogic dan dapat dipertanggung jawabkan. Fungsi hukum dalam keperawatan, sebagai berikut: a. Memberi kerangka kerja untuk menetapkan kegiatan praktek perawatan apa yang legal dalam merawat pasien. b. Membedakan tanggung jawab perawat dari profesi kesehatan lain c. Membantu menetapkan batasan yang independen tentang kegiatan keperawatan d. Membantu mempertahankan standar praktek keperawatan dengan membuat perawat akontabilitas dibawah hukum yang berlaku 2. Tugas Perawat dalam Ruang Bersalin Tugas Pokok : Melaksanakan kegiatan pelayanan keperawatan di Ruangan Bersalin dan Ruang Kebidanan (R.23)Uraian Tugas :
a. Melaksanakan Fungsi Perencanaan 3

Membuat diperlukan

Perencanaan

tenaga

Keperawatan

yang

Membuat perencanaan jenis dan jumlah peralatan keperawatan yang diperlukan Membuat perencanaan asuhan keperawatan sesuai Kebutuhan pasien

b. Melaksanakan fungsi kegiatan asuhan keperawatan

Melaksanakan Asuhan Keperawatan disiplin, efektif dan efisien

secara

tertib,

Mengisi lembaran asuhan keperawatan dalam rekam medik pasien dengan tertib Melakukan Sistem Identifikasi Bayi Baru Lahir sesuai SOP Meningkatkan pengetahuan dan keterampila

3. Dalam Keadaan apa saja perawat mengambil keputusan tampa intruksi dari dokter. a. Fungsi Perawat Independen Dalam fungsi ini, tindakan perawat tidak memerlukan perintah dokter. Tindakan perawat bersifat mandiri, berdasarkan pada ilmu keperawatan. Oleh karena itu, perawat bertanggung jawab terhadap akibat yang timbul dari tindakan yang diambil. Contoh tindakan perawat dalam menjalankan fungsi independen adalah: Pengkajian seluruh sejarah kesehatan pasien/keluarganya dan menguji secara fisik untuk menentukan status kesehatan. Mengidentifikasi tindakan keperawatan yang mungkin dilakukan untuk memelihara atau memperbaiki kesehatan. Membantu pasien dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Mendorong untuk berperilaku secara wajar.
4

b. Situasi-situasi perawat mengambil keputusan tampa intruksi dokter

Pengenalan Masalah Pekerjaan dan Pengambilan Keputusan yang di ambil dari penelitian jurnal Dinamika Perilaku Pengambilan Keputusan Perawat Dalam Konsisi Darurat. Olrh :Yadi Purwanto dan Moordiningsih Ada perbedaan antara masalah atau kasus yang ada di unit gawat darurat (UGD) dan bangsal persalinan. Beberapa permasalahan yang dihadapi antara lain sebagai berikut: 1. Di bangsal kebidanan masalah yang harus membuat keputusan sendiri pada kasus-kasus emergensi, perdarahan dan kejang-kejang, namun sesuai prosedur (W-1, 66-68) Saya mengambil keputusan sendiri bila situasi emergensi serta bila tidak ada dokter atau tidak bisa menghubungi dokter, maka menggunakan pengalaman sendiri (W-11, 15-25) Masalah yang dihadapi adalah kondisi kritis pasien bila menunggu dokter cukup lama sementara kondisi pasien butuh segera ditolong. Kalau takut salah, takut dimarahi dokter, tetapi berusaha tetap menolong pasien menurut prosedur (W-11,587-66) Sering saya harus mengambil keputusan sendiri, misalnya pasien dating dengan pembukaan lengkap, sudah mau bersalin (W-IV, 17) 2. Di Unit Gawat Darurat (UGD) Sering dihadapkan pada situasi harus mengambil keputusan sendiri,belum tentu dokternya stand by, ketika pasien datang dengan kondisi jelek, seperti diare, dehidrasi, sudah lemas, muntah-muntah . Kita menginfus dulu tanpa konsultasi dokter (W-VI, 20-25

Sering mengambil keputusan sendiri, ketika jaga malam jam 21.00, dokter belum datang, otomatis aku terima pasien, aku anamnesa. (WVII, 35-40)

Perlu

mengambil

keputusan

misalnya

kasus

kecelakaan lalu lintas, tidak ada keluarga, padahal kondisi gawat, maka kita harus mengambil keputusan dia harus rawat inap (W-VII, 78-83). Sering mengambil keputusan sendiri kalau pasiennya banyak, tenaga perawat hanya 4 orang agak kerepotan. Kita itu memilih mana pasien yang harus kita utamakan, walaupun dia datang lebih dulu, kita ambil yang gawat dulu (W-IX, 33-38) Ada situasi harus mengambil keputusan sendiri, misalnya ada anak sakit panas dengan kejang, nah itu bisa langsung masukkan penenang, nggak usah nunggu dokternya (W-X, 24-31).
4. Faktor Penyebab Perawat Salah Dalam Mengambil Keputusan

Terdapat beberapa hal yang memungkinkan perawat tidak melakukan tindakan keperawatan dengan benar, diantaranya sebagai berikut: a. Perawat tidak kompeten (tidak sesuai dengan kompetensinya) b. Perawat tidak mempunyai kepercayaan diri yang baik c. Pendidikan yang minim d. Perawat tidak mengetahui SAK dan SOP e. Perawat tidak memahami standar praktek keperawatan f. Rencana keperawatan yang dibuat tidak lengkap g. Supervise dari ketua tim, kepala ruangan atau perawat primer tidak dijalankan dengan baik
5. Dampak Dari Tindakan Keperawatan Yang Salah (menunda persalinan)

a. Terhadap Pasien Kelainan atau penyakit akibat salah tindakan Kemungkinan terjadi komplikasi/munculnya masalah kesehatan/keperawatan lainnya. Kerugian akibat perawatn lebih lama Biaya yang bertambah Kerugian akibat cacat seumur hidup

b. Bagi perawat individu perawat tidak dipercaya oleh pasien, keluarga dan juga pihak profesi sendiri, karena telah melanggar prinsip-prinsip moral/etik keperawatan, antara lain: Beneficience, yaitu tidak melakukan hal yang sebaiknya dan merugikan pasien Avoiding killing, yaitu perawat tidak menghargai kehidupan manusia, cacatnya pasien akan menambah penderitaan pasien dan keluarga c. Bagi rumah sakit Kurangnya kepercayaan masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan RS Menurunnya kualitas keperawatan, dan kemungkinan melanggar visi misi Rumah Sakit Kemungkinan RS dapat dituntut baik secara hukum pidana dan perdata karena melakukan kelalaian terhadap pasien Standarisasi pelayanan Rumah Sakit akan dipertanyakan baik secara administrasi dan prosedural 6. Labilitas Dalam Praktek Keperawatan Liabilitas adalah tanggungan yang dimiliki oleh seseorang terhadap setiap tindakan atau kegagalan melakukan tindakan. Perawat
7

profesional, seperti halnya tenaga kesehatan lain mempunyai tanggung jawab terhadap setiap bahaya yang timbulkan dari kesalahan tindakannya. Tanggungan yang dibebankan perawat dapat berasal dari kesalahan yang dilakukan oleh perawat baik berupa tindakan kriminal kecerobohan dan kesalahan. Terjadi akibat kegagalan menerapkan pengetahuan dalam praktek antara lain disebabkan kurang pengetahuan. Dan dampak kesalahan ini dapat merugikan pasien.

BAB III PEMBAHASAN


8

A. Kasus Para perawat di ruang bersalin telah berusaha menunda-nunda kelahiran seorang bayi, dengan menekan-nekan dan mendorong kepala bayi yang mau keluar dengan sebuah handuk, sambil menunggu kedatangan sang dokter. Akibatnya, saluran oksigen yang menyuplai otak sang bayi melalui ibunya terputus, sehingga bayi tersebut menjadi cacat mental seumur hidup dan memerlukan perawatan khusus sepanjang hidupnya
B. Tanggapan Dari Analisa Kasus

Dilihat dari kasus diatas merupakan kesalahan yang fatal bagi perawat karna telah berusaha menunda-nunda kelahiran seorang bayi, dengan menekan-nekan dan mendorong kepala bayi yang mau keluar dengan sebuah handuk, sambil menunggu kedatangan sang dokter. Akibatnya, saluran oksigen yang menyuplai otak sang bayi melalui ibunya terputus, sehingga bayi tersebut menjadi cacat mental seumur hidup dan memerlukan perawatan khusus sepanjang hidupnya. Seabiknya perawat lebih mementingkan kondisi pasein dan bayi yang akan dilahirkannya. Dengan memudahkan proses kelahiran bayi bukan menunda prses kelahiran. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh perawat agar tidak terjadi kesalahan tidakan tersebut. Karna bayi tersebut lahirnya secara nrmal bukan karna operasi. Membiarkan bayi lahir itu lebih baik dari menunda kelahirannya. Client berhak menutut atas kecelakaan datas. Karna dampak atau akibat yang ditimbulkan sangatlah merugikan client. Baik dari sang ibu yang melahirkan maupun kelurga. Tentunya harpan mereka sirna karna bayi yang mereka tunggu-tunggu selama ini mengalami cacat mental seumur hidup. Bagi bayi, alangkah kasihanya karna telah menderita cacat mental
9

seumur hidup. Tak seorangpum yang mengiginkan dirinya cacat, dan semua orang tua dan kelurga sangat tidak mengiginkannya. Bila melihat dari hubungan perawat pasien dan juga tenaga kesehatan lain tergambar pada bentuk pelayanan praktek keperawatan, baik dari kode etik dan standar praktek atau ilmu keperawatan. Pada praktek keperawatan, perawat dituntut untuk dapat bertanggung jawab baik etik, disiplin dan hukum. Dan prinsipnya dalam melakukan praktek keperawatan, perawat harus menperhatikan beberapa hal, yaitu: Melakukan praktek keperawatan dengan ketelitian dan kecermatan, sesuai standar praktek keperawatan, melakukan kegiatan sesuai kompetensinya, dan mempunyai upaya peningkatan kesejaterahan serta kesembuhan pasien sebagai tujuan praktek. C. Penyelesaian Kesalahan dalam mengambil tidakan implikasinya dapat dilihat dari segi etik dan hukum, bila penyelesaiannya dari segi etik maka penyelesaiannya diserahkan dan ditangani oleh profesinya sendiri dalam hal ini dewan kode etik profesi yang ada diorganisasi profesi, dan bila penyelesaian dari segi hukum maka harus dilihat apakah hal ini sebagai bentuk pelanggaran pidana atau perdata atau keduannya dan ini membutuhkan pakar dalam bidang hukum atau pihak yang berkompeten dibidang hukum. Penyelesaian Kasus penundaan kelahiran perawat diatas, harus memperhatikan berbagai hal baik dari segi perawat secara perorangan, Rumah Sakit sebagai institusi dan juga bagaimana padangan dari organisasi profesi. Segi perawat secara perorangan, harus dilihat dahulu apakah perawat tersebut kompeten dan sudah memiliki Surat ijin perawat, atau lainnya sesuai ketentuan perudang-undangan yang berlaku, apa perawat tersebut memang kompeten dan telah sesuai melakukan praktek asuhan keperawatan.
10

Tetapi bagaimanapun perawat harus dapat mempertanggung jawabkan semua bentuk sesalahannya sesuai aturan perundangan yang berlaku. Bagi pihak Rumah Sakit, harus juga memberikan penjelasan apakah perawat yang dipekerjakan di Rumah Sakit tersebut telah memenuhi syaratsyarat yang diperbolehkan oleh profesi untuk mempekerjakan perawat tersebut. Apakah RS atau ruangan tempat bersalin di mempunyai standar (SOP) yang jelas. Dan harus diperjelas bagaimana Hubungan perawat sebagai pemberi praktek asuhan keperawatan.

BAB IV PENUTUP
11

A. Kesimpulan Kesalahan yang fatal bagi perawat karna telah berusaha menundanunda kelahiran seorang bayi, dengan menekan-nekan dan mendorong kepala bayi yang mau keluar dengan sebuah handuk, sambil menunggu kedatangan sang dokter. Akibatnya, saluran oksigen yang menyuplai otak sang bayi melalui ibunya terputus, sehingga bayi tersebut menjadi cacat mental seumur hidup dan memerlukan perawatan khusus sepanjang hidupnya. Kasus tersebut merupakan bentuk perawat yang tidak berkopeten karna dari tindakanya membuat kerugian yang sangat besar, baik bagi perawat, clien, organisasi professi, maupun RS. B. Saran
1. Standar profesi keperawatan dan standar kompetensi merupakan hal

penting untuk menghindarkan terjadinya kesalahan, maka perlunya pemberlakuan standar praktek keperawatan secara Nasional dan terlegalisasi dengan jelas. 2. Perawat sebagai profesi baik perorangan dan kelompok hendaknya memahami dan mentaati aturan perundang-undangan yang telah diberlakukan di Indonesia, agar perawat dapat terhindar dari bentuk pelanggaran baik etik dan hukum.
3. Pemahaman

dan

bekerja

dengan

kehati-hatian,

kecermatan,

menghindarkan bekerja dengan cerobah, adalah cara terbaik dalam melakukan praktek keperawatan sehingga dapat terhindar dari kesalahan/malpraktek.
4. Rumah Sakit sebagai institusi pengelola layanan praktek keperawatan

dan asuhan keperawatan harus memperjelas kedudukannya dan hubungannya pihak. DAFTAR PUSTAKA
12

dengan

pelaku/pemberi

pelayanan

keperawatan,

sehingga dapat diperjelas bentuk tanggung jawab dari masing-masing

www.mbiomedcentral.com www.perawatpintar.web.id