You are on page 1of 9

8cKepala Seksi Bina Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel Mulyono mengatakan, bulan November hingga

Februari merupakan puncak serangan demam berdarah di Sumsel. Hal ini karena lingkungan mendukung perkembangan nyamuk, seperti suhu dan kelembaban udara yang tinggi, serta banyaknya genangan air akibat tingginya curah hujan. Jangan ada laporan baru bergerak dinas kesehatan harus bekerja dengan maksimal memonitoring di lapangan. Selain itu, Diskes harus sering rurun ke bawah memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya DBD ini, ujar anggota DPRD Kota Pekanbaru, Afrizal DS kepada RiauUPDATE, Rabu (2/10) di DPRD. Politisi Partai PPP ini sangat menyayangkan kondisi yang terjadi dengan tingginya kasus DBD di Pekanbaru. Karenanya Diskes harus lebih pro aktif, sehingga angka penderita DBD dapat lebih ditekan sehingga panyakit yang bisa membawa kematian ini bisa diantisipasi sejak dini, ungkapnya. . EPIDEMIOLOGI 1. Penyebab Penyakit DBD disebabkan oleh Virus Dengue dengan tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. Virus tersebut termasuk dalam group B Arthropod borne viruses (arboviruses). Keempat type virus tersebut telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia antara lain Jakarta dan Yogyakarta. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus dengue dengan tipe satu dan tiga. 2. Gejala Gejala pada penyakit demam berdarah diawali dengan : a. Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38-40 derajat Celsius) b. Manifestasi pendarahan, dengan bentuk : uji tourniquet positif puspura pendarahan, konjungtiva, epitaksis, melena, dsb. c. Hepatomegali (pembesaran hati). d. Syok, tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah. e. Trombositopeni. f. Hemokonsentrasi, meningkatnya nilai Hematokrit. g. Gejala-gejala klinik lainnya yang dapat menyertai: anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare kejang dan sakit kepala. h. Pendarahan pada hidung dan gusi. i. Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah. 3. Masa Inkubasi Masa inkubasi terjadi selama 4-6 hari. 4. Penularan Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti / Aedes albopictus betina yang sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lain. Nyamuk Aedes aegypti berasal dari Brazil dan Ethiopia dan sering menggigit manusia pada waktu pagi dan siang.

Orang yang beresiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun, dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh. Penyakit DBD sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan. Virus ini kemungkinan muncul akibat pengaruh musim/alam serta perilaku manusia. 5. Penyebaran Kasus penyakit ini pertama kali ditemukan di Manila, Filipina pada tahun 1953. Kasus di Indonesia pertama kali dilaporkan terjadi di Surabaya dan Jakarta dengan jumlah kematian sebanyak 24 orang. Beberapa tahun kemudian penyakit ini menyebar ke beberapa propinsi di Indonesia, dengan jumlah kasus sebagai berikut : - Tahun 1996 : jumlah kasus 45.548 orang, dengan jumlah kematian sebanyak 1.234 orang. - Tahun 1998 : jumlah kasus 72.133 orang, dengan jumlah kematian sebanyak 1.414 orang (terjadi ledakan) - Tahun 1999 : jumlah kasus 21.134 orang. - Tahun 2000 : jumlah kasus 33.443 orang. - Tahun 2001 : jumlah kasus 45.904 orang - Tahun 2002 : jumlah kasus 40.377 orang. - Tahun 2003 : jumlah kasus 50.131 orang. - Tahun 2004 : sampai tanggal 5 Maret 2004 jumlah kasus sudah mencapai 26.015 orang, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang. III. PENCEGAHAN Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu : 1. Lingkungan Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah. Sebagai contoh: guras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu.

-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah dan lain sebagainya. 2. Biologis Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14).

3. Kimiawi Cara pengendalian ini antara lain dengan: hion dan fenthion), berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu. -tempat penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain. Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan 3M Plus, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dll sesuai dengan kondisi setempat. IV. PENGOBATAN Pengobatan penderita Demam Berdarah adalah dengan cara: Penggantian cairan tubuh. Penderita diberi minum sebanyak 1,5 liter 2 liter dalam 24 jam (air teh dan gula sirup atau susu). Gastroenteritis oral solution/kristal diare yaitu garam elektrolit (oralit), kalau perlu 1 sendok makan setiap 3-5 menit. V. KEBIJAKAN PEMERINTAH Dalam rangka mengatasi dampak yang ditimbulkan oleh penyakit demam berdarah, pemerintah Indonesia telah mengambil beberapa kebijakan, di antaranya adalah: a. Memerintahkan semua rumah sakit baik swasta maupun negeri untuk tidak menolak pasien yang menderita DBD. b. Meminta direktur/direktur utama rumah sakit untuk memberikan pertolongan secepatnya kepada penderita DBD sesuai dengan prosedur tetap yang berlaku serta membebaskan seluruh biaya pengobatan dan perawatan penderita yang tidak mampu sesuai program PKPS-BBM/ program kartu sehat . (SK Menkes No. 143/Menkes/II/2004 tanggal 20 Februari 2004). c. Melakukan fogging secara massal di daerah yang banyak terkena DBD. d. Membagikan bubuk Abate secara gratis pada daerah-daerah yang banyak terkena DBD. Melakukan penggerakan masyarakat untuk melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M dan merekrut juru pemantau jentik (jumantik). e. Penyebaran pamflet lewat udara tentang pentingnya melakukan gerakan 3 M (Menguras, Menutup, Mengubur). f. Menurunkan tim bantuan teknis untuk membantu RS di daerah , yang terdiri dari unsur-unsur :

g. Membantu propinsi yang mengalami KLB dengan dana masing-masing Rp. 500 juta, di luar bantuan gratis ke rumah sakit. h. Mengundang konsultan WHO untuk memberikan pandangan, saran dan bantuan teknis.

i. Menyediakan call center. (021) 4265974, (021) 42802669 j. Melakukan Kajian Sero-Epidemiologis untuk mengetahui penyebaran virus dengue. VI. TINDAKAN BADAN LITBANG KESEHATAN Dalam rangka membantu mengatasi penyakit Demam Berdarah, Badan Litbang Kesehatan telah melakukan beberapa penelitian, di antaranya : 1. Penelitian Seroepidemiologi Infeksi Virus Dengue pada Anak-anak dan Remaja di Mataram, Tahun1998. 2. Penelitian Evaluasi dan Pembinaan Pokja DBD Khususnya Ibu Dasa Wisma dalam Pelaksanaan Penanggulangan Penularan Penyakit DBD, Tahun 1999. 3. Penelitian Peningkatan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) Berbasis Masyarakat dengan Pendekatan Pendidikan Kesehatan Masyarakat, Tahun 2000. 4. Penelitian Pengembangan Metode Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Daerah Endemis Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Tahun 2001. 5. Penelitian Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue di DKI Jakarta 2003. 6. Penelitian Wabah Demam Berdarah Dengue pada Sepuluh Rumah Sakit di DKI Jakarta Tahun 2004. (Penelitian ini sedang berlangsung). Badan Litbangkes berkerja sama dengan Namru 2 telah mengembangkan suatu sistem surveilen dengan menggunakan teknologi informasi (Computerize) yang disebut dengan Early Warning Outbreak Recognition System ( EWORS ). EWORS adalah suatu sistem jaringan informasi yang menggunakan internet yang bertujuan untuk menyampaikan berita adanya kejadian luar biasa pada suatu daerah di seluruh Indonesia ke pusat EWORS (Badan Litbangkes. Depkes RI.) secara cepat. Melalui sistem ini peningkatan dan penyebaran kasus dapat diketahui dengan cepat, sehingga tindakan penanggulangan penyakit dapat dilakukan sedini mungkin. Dalam masalah DBD kali ini EWORS telah berperan dalam hal menginformasikan data kasus DBD dari segi jumlah, gejala/karakteristik penyakit, tempat/lokasi, dan waktu kejadian dari seluruh rumah sakit DATI II di Indonesia. Penyakit. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan lingkungan yang cenderung meningkat jumlah penderita dan semakin luas daerah penyebarannya, sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk Sampai saat ini penyakit DBD belum ada vaksin pencegahnya dan obatnyapun juga masih diusahakan. Satu-satunya cara efektif adalah mencegah dan menanggulanginya dengan cara memberantas nyamuk penularnya. Nyamuk Aedes Aeggepti berkembang biak di tempat penampungan air bersih seperti bak mandi, tempayan, ban bekas, kaleng bekas dan lain-lain. Nyamuk ini mampu hidup pada ketinggian sampai 1000 m dari permukaa laut, suka hidup didaratan rendah yang berpenghuni padat. Dari telur hingga dewasa mencapai kurang lebih 12 hari. Menggigit pada pagi dan sore hari. Jarak terbang

maksimal 100 m. Nyamuk jantan hidup mencapai 30 hari yang betina mencapai 3 bulan. Nyamuk jantan menghisap sari buah-buahan, naymuk betina menghisap darah manusia untuk mematangkan telurnya. Setelah nyamuk betina menggigit orang sakit DBD, 7 hari kemudian virus DBD dalam tubuhnya telah matang dan siap ditularkan kepada orang lain melalui gigitannya. Nyamuk betina infektif dapat menularkan virus DBD seumur hidupnya. Untuk membunuh nyamuk DBD ini ada beberapa cara, yaitu secara mekanisme, biologis dan kimia. Pemberantasan nyamuk Demam Berdarah akan lebih efektif jika dilakukan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan oleh petugas Puskesmas disemua desa non endemis sekaligus memberikan abate pada penampungan air yang ada jentiknya.. Peran serta mayarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk digerakkan lebih giat melalui penyuluhan-penyuluhan. Keberadaan jentik Aedes aegypti di suatu daerah merupakan indikator terdapatnya populasi nyamuk Aedes aegypti di daerah tersebut. Untuk itu perlu dilakukan upaya Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB). Sebelum dilakukan PJB seorang petugas seharusnya mengenali apa itu telor, jentik dan kepompong dari naymuk aedes aegypti. Telur Setiap kali bertelur, nyamuk betina dapat mengeluarkan telur sebanyak 100 butir, telur nyamuk Aedes aegypti berwarna hitam dengan ukuran + 0,80 mm. Telur ini di tempat yang kering dapat bertahan sampai 6 bulan. Telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu + 2 hari setelah terendam air. Jentik Jentik kecil yang menetas dari telur akan tumbuh menjadi besar, panjangnya 0 1 cm. Jentik nyamuk Aedes aegypti selalu bergerak aktif dalam air. Gerakannya berulang-ulang dari bawah ke atas permukaan air untuk bernafas, kemudian turun kembali ke bawah untuk mencari makanan dan seterusnya. Pada waktu istirahat, posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air. Biasanya berada di sekitar dinding tempat penampungan air. Setelah 6-8 hari jentik itu akan berkembang/berubah menjadi kepompong. Kepompong Bentuk seperti koma, gerakannya lamban, sering berada dipermukaan air. Setelah 1 2 hari akan menjadi nyamuk baru Cara Melakukan Pemeriksaan Jentik Periksalah bak mandi/WC, tempayan, drum dan tempat-tempat penampungan air lainnya. Jika tidak tampak, tunggu + 0,5-1 menit, jika ada jentik, ia akan muncul kepermukaan air untuk bernafas Ditempat yang gelap gunakan senter Periksa juga vas bunga, tempat minum burung, kaleng-kaleng bekas/plastik, ban bekas, dll. Jentik-jentik yang ditemukan ditempat-tempat penampungan ait yang tidak beralaskan tanah (Bak mandi/WC, drum, tempayan dan sampah-sampah/barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan) dapat dipastikan bahwa jentik tersebut adalah jentik nyamuk Aedes aegypti penular penyakit DBD. Cara Mencatat Hasil Pemeriksaan Jentik Tulis nama desa/kelurahan yang akan dilakukan pemeriksaan jentik, dan tanggal pemeriksaan/survei Tulis nama keluarga dan alamatnya (RT/RW) pada kolom yang tersedia

Hitung jumlah conteiner yg ada air, kemudian hitung yg terdapat jentik pd kolom yg telah ditentukan Hitung jumlah seluruh conteiner yang terdapat jentik pada kolom yang telah ditentukan Tulislah hal-hal yang perlu diterangkan pada kolom keterangan seperti : rumah/kavling kosong, penampungan air hujan, dll. http://www.slideshare.net/danicibadak/materi-pelatihan-jumantik Cara memeriksa jentik nyamuk : arahkan senter ke wadah air, jika ada jentik maka jentik akan bergerak menjauhi cahaya. Tempat-tempat yang mudah menjadi sarang jentik : wadah penampung air di bawah keran dispenser, di bawah meteran air, di bagian belakang kulkas Self Jumantik adalah setiap anggota masyarakat di semua tatanan yang harus membiasakan melakukan gerakan pemberantasan jentik nyamuk DBD di dalam dan luar rumah/bangunan/gedung minimal seminggu sekali. Di dalam rumah/bangunan/gedung; Menguras dan menyikat tempat penampungan air seperti bak mandi, bak WC, tempayan, ember, drum, vas

bunga, perangkap semut, dispoenser, tampungan air di belakang kulkas dan tempat penampungan air lainnya. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti tempayan, drum, ember, gentong dan sejenisnya. Melipat atau menghindari pakaian/kain yang bergelantungan di dalam ruangan dan pemakaian gorden

berwarna gelap. Di luar rumah/bangunan/gedung Membersihkan dan mengganti air tempat minum burung/ayam/binatang lainnya, ovitrap, pot tanaman hias

air, kolam ikan, kolam renang dll. Membersihkan dan mengeringkan air yang terdapat pada penampungan tetesan tampungan air AC dan bak

meteran PAM

Menutup lubang pada pagar bambu/besi yang dapat menampung air Mengubur/menyingkirkan barang-barang bekas seperti ban, kaleng, botol, plastik, batok kelapa dll. Memangkas atau menggoyang-goyangkan tanaman/pohon yang berpotensi menjadi tempat perindukan

nyamuk, misalnya; pohon pisang, pohon kelapa dll. Membersihkan dan memperbaiki talang dan kemiringan dak yang bisa menampung air. Tempat penampungan air yang sulit dikuras seperti; reservoir, tangki atap, tempat penampungan air hujan

dll, ditaburkan bubuk larvasida sesuai dengan aturan yang telah ditentukan. Misal seandainya memakai abate dalam wadah air berukuran 100 liter. Bila hal ini tidak dapat dilakukan, penampungan air yang sulit dikuras agar dipakai untuk memelihara ikan. Jumantik adalah petugas yang berasal dari masyarakat setempat yang secara SUKARELA mau bertanggungjawab melakukan pengamatan jentik secara rutin di RT nya serta melaporkan hasil kegiatan secara berkesinambungan ke kel. Berdomisili di wilayah RT nya & Telah mengikuti pelatihan Jumantik. Jumantik melakukan pemantauan setiap Jumat pukul 09.00 s.d. 09.30 APA YANG DILAKUKAN JUMANTIK Di dalam rumah/bangunan

Mengecek keberadaan jentik di semua tempat penampungan air Memastikan semua tempat-tempat penampungan air sudah tertutup

Memastikan tidak ada pakaian/kain yang bergelantungan di dalam ruangan Diluar rumah/bangunan

Mengecek keberadaan jentik di tempat-tempat yang dapat menampung air Memastikan tempat penamp. air yang sulit di kuras seperti water toren, tangki atap sudah ditaburkan bubuk larvasida Memastikan kolam ikan dan kolam renang bebas jentik Jumantik bertanggung jawab memeriksa setiap rumah/bangunan serta lingkungan sekitar rumah, jalan termasuk rumah yang tidak ditempati/bangunan kosong APA LAGI YANG HARUS DILAKUKAN JUMANTIK Jika ditemukan jentik, jumantik memperingatkan dan meminta pemilik membersihkan tempat ditemukannya jentik Jumantik mencatat hasil riksa di kartu jentik yang terdapat di setiap rumah (digantung di pencatat meteran listrik

Setiap minggu Jumantik membuat laporan mingguan hasil pemeriksaan jentik dan menghitung angka bebas jentik (AJB) serta container indeks (CI) Angka Bebas Jentik dan Container Indeks dilaporkan kepada lurah dengan mengetahui RT & RW serta secara berjenjang Lurah melaporkan ke instansi vertikal Korwil DBD ( Koordinator Wilayah DBD) adalah Kepala lingkungan yang ditetapkan oleh Lurah sebagai koordinator wilayah untuk memantau pengendalian DBD di tingkat RW Tangerang, megapolitanpos.com Keberadaan kader juru pemantau jentik (jumantik) yang tersebar di setiap Kelurahan di Kota Tangerang mempunyai andil besar dalam menurunkan tingkat penyebaran nyamuk aedes aigepti yang dapat menyebabkan penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Hal tersebut terungkap pada sesi dialog antara para kepala dinas, camat dan kepala puskesmas dalam rapat evaluasi bulanan yang dipimpin oleh Walikota Tangerang H. Wahidin Halim, bertempat di ruang Akhlakul Karimah Pusat Pemerintahan (Puspem) Kota Tangerang. Pada kesempatan tersebut Walikota mengatakan bahwa dengan aktifnya kader jumantik di lingkungan masyarakat lebih dapat memberikan motivasi kepada masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan.

Untuk itu, Walikota meminta kepada seluruh Camat dan Lurah agar lebih mengintensifkan lagi peran kader-kader jumantik di wilayahnya. Masyarakat harus lebih diberikan sosialisasi tentang DBD, Kita jadikan DBD sebagai musuh, tegasnya.

Selain permasalahan DBD, Walikota juga mengingatkan agar setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang terkait dengan pembangunan infrastruktur untuk melaksanakan program-program pembangunan sesuai kebutuhan masyarakat karena seluruh kegiatan pembangunan Pemerintah Kota Tangerang harus mengacu pada kebutuhan dan kepentingan rakyat atau pro rakyat.

Walikota juga mengingatkan peran Camat dan Lurah sebagai promotor pembangunan Pemerintah Kota Tangerang karena Camat dan Lurah adalah sebagai pelaksanan seluruh kebijakan dari Walikota. Dinas, Kecamatan, Kelurahan dan Puskemas merupakan kepanjangan dari program-program Walikota, tegasnya.Johan