You are on page 1of 4

DIBALIK MIE INSTAN MAKANAN FAVORIT ANAK KOST

Siapakah penemu mie instan itu ? Mie instan pertama kali diciptakan oleh Momofuku Ando pada tahun 1958, yang kemudian mendirikan perusahaan Nissin. Mie instan adalah mie yang sudah dimasak terlebih dahulu dan dicampur dengan minyak, dan bisa dipersiapkan untuk konsumsi hanya dengan menambahkan air panas dan bumbu - bumbu yang sudah ada dalam paketnya. Tetapi tahukah anda bahwa mie instan itu tidak bisa menggantikan makan penuh dan hanya bisa dijadikan makanan bantu sementara (selingan) dan tidak boleh di konsumsi secara terus menerus karena berakibat sangat buruk bagi kesehatan, hal itu disebabkan kandungan zat (campuran dalam pembuatan ) mie instan. Disamping itu mie instan tidak memenuhi kebutuhan gizi seimbang bagi tubuh, Walaupun di dalam mie instan terdapat kandungan karbohidrat dalam jumlah besat tetapi kandungan vitamin, mineral maupun protein yang ada didalamnya sangat sedikit. Memang sebaiknya mie instan tidak dijadikan makanan pokok terutama bagi anak kost. Dari penelitian ilmiah karbohidrat yang terkandung dalam mie berbeda dengan sifat yang terkandung di dalam nasi. Sebagian karbohidrat dalam nasi merupakan karbohidrat kompleks yang memberi efek rasa kenyang lebih lama. Sedangkan karbohidrat dalam mie instan sifatnya lebih sederhana sehingga mudah diserap. Akibatnya, mie instan memberi efek lapar lebih cepat dibanding nasi. Tetapi yang perlu diwaspadai bagi para anak kost adalah mie instan juga memiliki kandungan natrium yang tinggi. Natrium yang terkandung dalam mie instan berasal dari garam (NaCl) dan bahan pengembangnya. Bahan pengembang yang umum digunakan adalah natrium tripolifosfat, mencapai 1% dari bobot total mie instan per takaran saji. Natrium memiliki efek yang kurang menguntungkan bagi penderita maag dan hipertensi. Bagi penderita maag, kandungan natrium yang tinggi akan menetralkan lambung, sehingga lambung akan mensekresi asam yang lebih banyak untuk mencerna makanan. Keadaan asam lambung yang tinggi akan berakibat pada pengikisan dinding lambung dan menyebabkan rasa perih. Sedangkan bagi penderita hipertensi, natrium akan meningkatkan tekanan darah karena ketidakseimbangan antara natrium dan kalium (Na dan K) di dalam darah dan jaringan. Kelemahan lain mie instan adalah tidak dapat dikonsumsi oleh penderita autisme. Hal tersebut disebabkan karena mie instan mengandung gluten, substansi yang tidak boleh dikonsumsi oleh penderita autisme.

Didalam mie instan juga terdapat kandungan zat pengawet E218 (methyl phydroxybenzoate) atau nipagin, dalam jangka waktu lama bila konsumsi nipagin melebih batas harian yang diperbolehkan dan berlangsung terus menerus, tubuh tidak akan mampu menguraikan atau mengeluarkan melalui proses metabolisme. Dalam kondisi tersebut, menurut Nuri Andarwulan, seorang Ahli Kimia Pangan dari Departement Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, organ tubuh yang paling mudah terganggu adalah hati yang justru berfungsi menawarkan racun dalam tubuh. Untuk meminimalisasi resiko dari memakan mie instan, ada beberapa cara mengolah mie instan supaya zat-zat kimia berbahaya bisa berkurang : 1. Tidak menggunakan kuah rebusan pertama 2. Tidak memakai kecap dan sambal bawaan mie instan 3. Mengurangi pemakaian bumbu terlampir 4. Jangan memasak berkali - kali di air rebusan yang sama Buat anak-anak kost yang hobi memakan mie instan, masihkah anda menjadikan mie sebagai makanan pokok anda ?

Exsan Dwi Cahyono NIM : 100534402744 Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Elektro Fakultas Teknik UM Contact : 085732667011

Dibalik Lezatnya Mie Instan


Exsan Dwi Cahyono Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang Exsan_dc@yahoo.com Siapakah penemu mi instan? Mi instan pertama kali diciptakan oleh Momofuku Ando pada tahun 1958, yang kemudian mendirikan perusahaan Nissin. Mi instan adalah mi yang sudah dimasak terlebih dahulu dan dicampur dengan minyak, dan bisa dipersiapkan untuk konsumsi hanya dengan menambahkan air panas dan bumbu-bumbu yang sudah ada dalam paketnya. Tetapi tahukah Anda bahwa mi instan itu tidak bisa menggantikan makan penuh dan hanya bisa dijadikan makanan bantu sementara (selingan) dan tidak boleh dikonsumsi secara terus menerus karena berakibat sangat buruk bagi kesehatan, hal itu disebabkan kandungan zat (campuran dalam pembuatan ) mi instan. Di samping itu mi instan tidak memenuhi kebutuhan gizi seimbang bagi tubuh, Walaupun di dalam mi instan terdapat kandungan karbohidrat dalam jumlah besat tetapi kandungan vitamin, mineral maupun protein yang ada di dalamnya sangat sedikit. Memang sebaiknya mi instan tidak dijadikan makanan pokok, setidaknya bagi anak kos. Dari penelitian ilmiah, karbohidrat yang terkandung dalam mi berbeda dengan sifat yang terkandung di dalam nasi. Sebagian karbohidrat dalam nasi merupakan karbohidrat kompleks yang memberi efek rasa kenyang lebih lama. Sedangkan karbohidrat dalam mi instan sifatnya lebih sederhana sehingga mudah diserap. Akibatnya, mi instan memberi efek lapar lebih cepat dibanding nasi. Tetapi yang perlu diwaspadai bagi para anak kos adalah mi instan juga memiliki kandungan natrium yang tinggi. Natrium yang terkandung dalam mi instan berasal dari garam (NaCl) dan bahan pengembangnya. Bahan pengembang yang umum digunakan adalah natrium tripolifosfat, mencapai 1 persen dari bobot total mi instan per takaran saji. Natrium memiliki efek yang kurang menguntungkan bagi penderita maag dan hipertensi. Bagi penderita maag, kandungan natrium yang tinggi akan menetralkan lambung, sehingga lambung akan mensekresi asam yang lebih banyak untuk mencerna makanan. Keadaan asam lambung yang tinggi akan berakibat pada pengikisan dinding lambung dan menyebabkan rasa perih. Sedangkan bagi penderita hipertensi, natrium akan meningkatkan tekanan darah karena ketidakseimbangan antara natrium dan kalium (Na dan K) di dalam darah dan jaringan. Kelemahan lain mi instan adalah tidak dapat dikonsumsi oleh penderita autisme. Hal tersebut disebabkan karena mi instan mengandung gluten, substansi yang tidak boleh dikonsumsi oleh penderita autisme. Di dalam mi instan juga terdapat kandungan zat pengawet E218 (methyl phydroxybenzoate) atau nipagin, dalam jangka waktu lama bila mengonsumsi nipagin melebih batas harian yang diperbolehkan dan berlangsung secara terus menerus, tubuh tidak akan mampu menguraikan atau mengeluarkan melalui proses metabolisme. Dalam kondisi tersebut, menurut Nuri Andarwulan, seorang ahli kimia pangan dari Departement Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, organ tubuh yang paling mudah terganggu adalah hati yang justru berfungsi menawarkan racun dalam tubuh. Untuk

meminimalisasi risiko dari memakan mi instan, ada beberapa cara mengolah mi instan supaya zat-zat kimia berbahaya bisa berkurang: 1. Tidak menggunakan kuah rebusan pertama 2. Tidak memakai kecap dan sambal bawaan mie instan 3. Mengurangi pemakaian bumbu terlampir 4. Jangan memasak berkali-kali di air rebusan yang sama