You are on page 1of 22

MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR: 01/PERMEN/M/2006 TENTANG PENGADAAN

PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR/KPRS SYARIAH BERSUBSIDI MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT Menimbang : a. bahwa perumahan dan permukiman merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan faktor penting dalam peningkatan harkat dan martabat manusia, maka perlu diciptakan kondisi yang dapat mendorong pembangunan perumahan untuk menjaga kelangsungan penyediaan perumahan dan permukiman; b. bahwa masyarakat, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah, masih belum mampu tinggal di rumah yang layak, sehat, aman, serasi dan teratur tanpa dukungan fasilitas subsidi perumahan, baik untuk pemilikan rumah maupun pembangunan/perbaikan rumah sederhana sehat yang dilakukan secara individu maupun berkelompok; c. bahwa dalam rangka fasilitasi pembiayaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah serta guna memberikan alternatif fasilitas dukungan skim pembiayaan perumahan selain jenis dan skim pembiayaan perumahan melalui perbankan konvensional, diperlukan skim pembiayaan perumahan melalui perbankan syariah; d. bahwa dalam rangka pemberian subsidi perumahan tersebut perlu memperhatikan kemampuan masyarakat berpenghasilan rendah, kebijakan moneter, sistem pendanaan dan kemampuan Bank Pelaksana dan Lembaga Pembiayaan lainnya serta ketersediaan lahan; e. bahwa dalam rangka pemberian subsidi perumahan tersebut perlumemperhatikan persyaratan teknis perumahan dan permukiman dan bangunan gedung dengan memperhatikan muatan lokal maupun budaya setempat yang berkaitan dengan bentuk arsitektur dan struktur bangunan; f. bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan perumahan sebagaimana dimaksud pada huruf a, b, c, d, dan e diatas, dan guna menjangkau lebih banyak lagi kelompok sasaran masyarakat berpenghasilan rendah, maka diperlukan pengaturan atas: nilai subsidi perumahan; uang muka; batas maksimum pembiayaan melalui PembiayaanKepemilikan Rumah Bersubsidi dengan prinsip Syariah(KPR Syariah Bersubsidi); nilai minimum dan maksimum dana pembangunan/perbaikan yang dibiayai melalui skim Pembiayaan Pembangunan/Perbaikan Rumah Swadaya Bersubsidi dengan prinsip Syariah (KPRS Syariah Bersubsidi);

g. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf f, perlu penetapan Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Tentang Pengadaan Perumahan dan Permukiman dengan dukungan fasilitas subsidi perumahan melalui KPR/KPRS Syariah Bersubsidi.

Mengingat : 1. Undangundang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman; 2. UndangUndang Nomor 10 Tahun 1998 (Amandemen Undangundang Nomor 7 Tahun 1992) tentang Perbankan; 3. Undangundang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung; 4. Undangundang Nomor 13 Tahun 2005 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2006; 5. Keputusan Presiden RI Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Susunan Kabinet Indonesia Bersatu; 6. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 20042009; 7. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia; 8. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia; 9. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia; 10. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah selaku Ketua Badan Kebijaksanaan dan Pengendalian Pembangunan Perumahan dan Permukiman Nasional (BKP4N) Nomor 217/KPTS/M/2002 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Perumahan dan Permukiman (KSNPP); 11. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 403/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Sehat (Rs Sehat); 12. Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 05/PERMEN/M/2005 tentang Pengadaan Perumahan dan Permukiman dengan Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan melalui KPR/KPRS Bersubsidi;

Memperhatikan: 1. Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 04/DSNMUI/IV/2000 tentang Murabahah; 2. Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 06/DSNMUI/IV/2000 tentang Jual Beli Istishna; 3. Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 07/DSNMUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh); 4. Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 08/DSNMUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah; 5. Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 12/DSNMUI/IV/2000 tentang Hawalah.

MEMUTUSKAN Menetapkan

PERTAMA

KEDUA

KETIGA

KEEMPAT

PERATURAN PENGADAAN MENTER NEGARA PERUMAHAN RAKYAT PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN TENTANG DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR/KPRS SYARIAH BERSUBSIDI Pengaturan tentan kelompok sasara penerima subsid perumahan dalam rangk pemilikan da pembangunan/perbaikan Rumah Sederhana Seha (Rs Sehat/RSH) untu masyarakat berpenghasila rendah dengan prinsi syariah, sebagaiman diatur dalam Lampira Peraturan ini. Pengaturan tentang piliha jenis dan skim subsidi bag kelompok sasara masyarakat berpenghasila rendah, yang mencaku batas harga rumah yan dapat dibeli atau pag pembiayaan perumaha yang dapat diperoleh, uan muka, batas minimum da maksimum pembiayaan serta skim subsid pembiayaan perumahan sebagaimana diatur dalam Lampiran Peraturan ini. Bank pelaksana dan ata lembaga pembiayaa lainnya yang berpartisipas dalam program pembiayaan perumaha bersubsidi dengan prinsi syariah adalah Bank da atau lembaga pembiayaa yang telah beroperas dengan prinsip syariah. Bank pelaksana dan ata lembaga pembiayaa lainnya yang berpartisipas dalam program

KELIMA

KEENAM

KETUJUH

KEDELAPAN

pembiayaan perumaha bersubsidi dengan prinsi syariah bertanggung jawa sepenuhnya untu menyediakan pembiayaa yang dibutuhkan sedangkan Pemerinta bertanggung jawa sepenuhnya untu menyediakan dana subsid yang dibutuhkan. Bank Pelaksana dan ata Lembaga Pembiayaa lainnya dapat memberika pembiayaan perumaha bersubsidi dengan prinsi syariah kepada keluarg berpenghasilan tidak teta yang berhimpun dalam wadah koperasi. Pilihan jenis rumah da pelaksanaan pembanguna Rs Sehat/RSH mengac pada Keputusan Mente Permukiman da Prasarana Wilayah Nomo 403/KPTS/M/2002 denga mengoptimalkan pemanfaatan potensi baha bangunan loka penyesuaian bentuk da jenis bangunan sesua dengan budaya/arsitektu setempat, dan teta memperhatikan pengatura aspek lingkunga permukiman dan banguna gedung. Koordinasi pelaksanaa KPR/KPRS Syaria Bersubsidi untuk R Sehat/RSH merupaka tanggung jawab da dilaksanakan oleh Mente Negara Perumahan Rakya Pengaturan sebagaiman tercantum dalam diktum pertama sampai denga ketujuh berlaku da mengikat bagi semu instansi/lembaga pemerintah pusa

pemerintah propins pemerintah kota/kabupaten perbankan, lembag pembiayaan lainny (koperasi dan lembag pembiayaan di tingka komunitas) yang bergera dalam bidang perumahan serta masyarakat yan akan memanfaatka subsidi perumahan denga prinsip syariah.

ABSTRAK MAKALAH

SINKRONISASI PENATAAN RUANG dengan PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN1


Disampaikan Oleh :

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah

Direktur Jenderal Penataan Ruang

Makalah ini berisikan uraian ringkas mengenai keterkaitan antara penataan ruang dengan pengembangan perumahan dan permukiman, khususnya pada kawasan perkotaan. Selain itu dikemukakan pula berbagai issues dan tantangan penataan ruang dalam era demokrasi dan otonomi daerah, penguatan peran masyarakat, serta prinsip-prinsip kebijakan penataan ruang sebagai acuan pelaksanaan pembangunan sektoral (khususnya yang terkait dengan bidang perumahan dan permukiman). .

Makalah ini disampaikan pada acara Orientasi Wartawan Bidang Properti dan Konstruksi di Bandung, 17 Mei 2002.

I.
1.

KAITAN PENATAAN RUANG DENGAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

PEMBANGUNAN

Berdasarkan UU No.24/1992, pengertian penataan ruang tidak terbatas pada dimensi perencanaan tata ruang saja, namun lebih dari itu termasuk dimensi pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Selanjutnya, tata ruang sendiri merupakan wujud struktural pemanfaatan ruang dan pola pemanfaatan ruang, baik yang direncanakan maupun tidak, yang menunjukkan adanya hirarki dan keterkaitan pemanfaatan ruang. Didasarkan atas pengertian diatas, maka penataan ruang terdiri atas 3 (tiga) komponen utama, yakni : (a) perencanaan tata ruang, yang dibedakan atas Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Propinsi, Kabupaten dan Kota, serta rencana-rencana yang sifatnya lebih rinci ; (b) pemanfaatan ruang, yang merupakan wujud operasionaliasi rencana tata ruang atau pelaksanaan pembangunan; dan (c) pengendalian pemanfaatan ruang, yang terdiri atas mekanisme perizinan dan penertiban terhadap pelaksanaan pembangunan agar tetap sesuai dengan RTR-nya. Mengingat karakteristik penataan ruang terkait dengan ekosistem, maka upaya penataan ruang harus didekati secara sistem tanpa dibatasi oleh batas-batas kewilayahan dan sektor dengan dilandasi oleh 4 (empat) prinsip pokok penataan ruang yakni : (a) holistik dan terpadu, (b) keseimbangan kawasan hulu dan hilir, (c) keterpaduan penanganan secara lintas sektor dan lintas wilayah dengan skala propinsi untuk keterpaduan lintas Kabupaten/Kota dan skala pulau untuk keterpaduan lintas propinsi, serta (d) pelibatan peran serta masyarakat mulai tahap perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang.2 Rencana tata ruang wilayah (RTRW) sebagai hasil perencanaan tata ruang merupakan landasan pembangunan sektoral atau dengan kata lain, setiap bentuk pembangunan sektoral yang berbasis ruang perlu
Disarikan dari Makalah Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah pada Forum Sains dan Kebijakan Penanganan Bencana Banjir, ITB, 22 Maret 2002.

2.

3.

4.

mengacu pada rencana tata ruang yang berlaku. Hal ini dimaksudkan agar terjadi sinergi dan efisiensi pembangunan, sekaligus menghindari kemungkinan terjadinya konflik pemanfaatan ruang antar sektor-sektor yang berkepentingan dan dampak merugikan pada masyarakat luas (externalities). 5. Didalam rencana tata ruang kawasan perkotaan sendiri, diatur alokasi pemanfaatan ruang untuk berbagai penggunaan (perumahan, perkantoran, perdagangan, ruang terbuka hijau, industri, sempadan sungai, dsb) berdasarkan prinsip-prinsip keadilan, keseimbangan, keserasian, keterbukaan (transparansi) dan efisiensi, agar tercipta kualitas permukiman yang layak huni (livable environment). Untuk kawasan perkotaan, alokasi ruang untuk perumahan dan permukiman merupakan yang terbesar dibandingkan dengan alokasi untuk penggunaan lainnya. Lebih lanjut, seperti ditegaskan dalam PP No.80/1999 mengenai Kawasan Siap Bangun dan dalam Kebijakan dan Strategi Nasional Perumahan dan Permukiman (KSNPP) bahwa perumahan dan permukiman tidak dapat terpisahkan dari ruang yang harus dimanfaatkannya. Lingkup pembangunan perumahan dan permukiman senantiasa mencakup aspek penataan ruang dan aspek penyediaan prasarana dan sarana lingkungan (utilitas umum). Dalam mendukung pelaksanaan UU No.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah serta mewujudkan visi dan misi pembangunan perumahan dan permukiman yang tertuang dalam KSNPP, maka telah disiapkan Pedoman Penyusunan Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman di Daerah (RP4D). RP4D pada dasarnya merupakan alat operasional untuk mewujudkan kebijakan dan strategi perumahan dan permukiman tersebut.3 Mengingat pembangunan perumahan dan permukiman tidak dapat berdiri sendiri, sehingga perlu mendapatkan dukungan sektor ataupun stakeholders lainnya. Dalam kaitan tersebut, maka RP4D tersebut merupakan skenario koordinasi dan keterpaduan lintas sektoral terkait dengan penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman di daerah. RP4D pun memuat pengaturan menyeluruh terhadap perencanaan dan pemrograman secara terpadu berbagai kegiatan lintas sektoral oleh stakeholders. Program terpadu tersebut mencakup pula program pengembangan kawasan (permukiman kumuh, pemugaran, pemukiman kembali, pemukiman baru) yang selaras dengan RTRW.

6.

7.

8.

Kepmen Perumahan dan Permukiman No.09/KPTS/M/IX/1999 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman di Daerah.

II.

ISSUES DAN TANTANGAN DALAM TERKAIT DENGAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN

PENATAAN RUANG PERUMAHAN DAN

9.

Penataan ruang dan pembangunan perumahan dan permukiman merupakan 2 (dua) bidang yang sangat kompleks, ditinjau dari sifatnya yang multi-dimensi, multi-sektoral, dan multi-stakeholders. Hal ini dapat terlihat dari berbagai issues dan permasalahan yang teridentifikasi, yakni : a. Pemanfaatan lahan perumahan dan permukiman belum sepenuhnya mengacu pada RTRW , serta masih berorientasi pada pengembangan yang sifatnya horizontal seperti pada kasus kota metropolitan dan kota besar sehingga cenderung menciptakan urban sprawling dan inefisiensi pelayanan prasarana dan sarana. b. Izin lokasi pemanfaatan lahan perumahan dan permukiman melebihi kebutuhan nyata, sehingga meningkatkan luas area lahan tidur (vacant land).4 c.Pola pemanfaatan lahan perumahan dan permukiman belum memberikan rasa keadilan kepada penduduk berpenghasilan rendah, sehingga selalu tersingkir ke luar kota dan jauh dari tempat kerja. Sementara tuntutan pemberdayaan dan keberpihakkan pada masyarakat tersebut semakin besar. d. Pemanfaatan ruang untuk perumahan dan permukiman belum serasi dengan pengembangan kawasan fungsional lainnya (seperti kawasan kritis, nelayan, rawan, terbelakang, dsb) atau dengan programprogram sektor/fasilitas pendukung lainnya. e. Ketidakseimbangan pembangunan desa kota, serta meningkatnya urbanisasi yang mengakibatkan permukiman kumuh dan berkembangnya masalah sosial di kawasan perkotaan.

10.

Issues lainnya yang sangat penting dan banyak menjadi perdebatan publik belum lama ini adalah mengenai konflik penggunaan lahan, khususnya antara penggunaan permukiman dengan penggunaan kawasan lindung. Bencana banjir dan longsor yang menimpa kawasan perkotaan Jabodetabek pada awal tahun 2002 silam, merupakan salah satu fakta yang menarik untuk menunjukkan konflik tersebut. Fakta menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan penggunaan lahan di Jabodetabek sebesar 10% untuk permukiman antara tahun 1992 hingga 2001. Pada kurun waktu yang sama, juga terjadi pengurangan luasan kawasan lindung hingga 16%. Secara keseluruhan terjadi penyimpangan
Dari luasan izin lokasi yang telah diberikan di wilayah Jabodetabek pada tahun 1999 : 136.771 ha, maka 68.472 ha telah dibebaskan, 35.025 belum dimanfaatkan, dan hanya 33.274 ha (24%) saja yang sudah dibangun.

sebesar 20% terhadap arahan penggunaan lahan pada Rakeppres Jabotabek.5 (selengkapnya mohon periksa Tabel 1)

Tabel 1 Pola Pemanfaatan Ruang Kawasan Jabodetabek


Kode Zona Nama Luas Zona (ha) Arahan Pemanfaatan/Pengendalian

Z o n i n g

N1

Lindung (4,32%)

29.261,20

a. Tidak diperkenankan bagi kegiatan budidaya b. Difungsikan sebagai kws. Pengaman elemenelemen geografi dan ekosistem c. Kegiatan budidaya yang telah terlanjur dalam jangka panjang harus dikeluarkan dari zona ini d. Hutan lindung e. Hutan wisata f. Hutan riset g. Hutan suaka margasatwa h. Taman nasional laut a. Tidak diperkenankan bagi kegiatan budidaya b. Hutan, sempadan sungai, danau, laut dan lereng terjal c. Hutan perlindungan badan air d. Pertanian terbatas tanaman keras (tahunan) dengan jenis komoditas yang sesuai dengan fungsi pengaman e. Kawasan preservasi dan konservasi a. Perumahan hunian padat (perkotaan) b. Perdagangan dan jasa c. Industri ringan non-polutan dan berorientasi pasar a. Perumahan hunian rendah (perdesaan) b. Pertanian/ladang c. Industri berientasi tenaga kerja a. Perumahan hunian rendah b. Pertanian/ladang a. Perumahan hunian rendah b. Pertanian lahan basah/kering

N2

Suaka Alam/ Budaya/Sej arah (2,66%)

18.025,25

B-1

Budidaya-1 (19,64%)

132.886,3 0

B-2

Budidaya-2 (15,15%) Budidaya-3 (6,11%) Budidaya-4 (41,85%)

102.513,5 0 41.370,60 283.242,1 0

B-3 B-4
5

Bahan Persiapan Sidang Kabinet Terbatas Bulan Maret 2002 tentang Program Penanganan Banjir Bidang Penataan Ruang di Jabotabek dan Bopunjur, Depkimpraswil, 21 Februari 2002.

c. Perkebunan, perikanan, peternakan, agroindustri B-5 Budidaya-5 (10,27%) 69.480,50 a. Pertanian lahan basah (irigasi teknis)

Sumber : Rancangan Keppres Rencana Tata Ruang Kawasan Jabodetabek, 2001

11.

Sementara untuk kawasan Bopunjur yang merupakan hulu (up-stream) dari wilayah Jabodetabek, berdasarkan informasi citra landsat tahun 2001 telah terjadi penyimpangan pemanfaatan lahan sebesar 79,5% dari arahan yang ditetapkan dalam Keppres No.114/1999. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan kawasan perkotaan yang cukup pesat dengan luas mencapai 35,000 ha atau 29% dari total luasan kawasan Bopunjur. (mohon periksa Tabel 2). Bentuk-bentuk penyimpangan lainnya diantaranya adalah : (a) pemanfaatan ruang yang tidak sesuai untuk permukiman pada sepanjang bantaran sungai-sungai, dan (b) pemanfaatan ruang untuk permukiman pada wilayah retensi air, seperti rawa-rawa dan lahan basah. (selengkapnya mohon periksa Tabel 2).

Tabel 2 Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Bogor Puncak Cianjur (Bopunjur) dibandingkan dengan Keppres No.114/1999.
N o 1 2 3 4 5 6 7 Jenis Penggunaan Tahun 1993 (ha) Kawasan Perkotaan Kawasan Basah/Sawah Kawasan Lindung Cagar Alam Taman Nasional Taman Wisata Alam Kawasan Lainnya Lahan Hutan 16.985 20.448 12.308 550 3500 450 66.854 121.09 5 % 14,03 16,89 10,16 0,45 2,89 0,37 55,21 100,00 Tahun 1997 (ha) 20.500 18.500 15.000 550 3500 450 62.595 121.095 % 16,93 15,28 12,39 0,45 2,89 0,37 51,69 100,00 Keppres No.114/1999 (ha) 19.500 18.600 19.475 550 3500 450 59.020 121.09 5 % 16,12 15,37 16,10 0,45 2,89 0,37 48,70 100,00

Total Penggunaan Lahan

Sumber : Strategi Pengembangan Kawasan Bopunjur dan sekitarnya, 1996/1997 Peta Penggunaan Tanah, 1997 Lampiran Keppres No.114/1999

12. Beberapa penyebab terjadinya penyimpangan terhadap rencana tata ruang pada kasus banjir dan longsor di Jabodetabek diantaranya adalah : (a) lemahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penataan ruang, (b) lemahnya kemampuan pengawasan dan pengendalian pembangunan, baik oleh Pemerintah maupun oleh masyarakat, (c) lemahnya penegakan hukum, serta (d) belum terciptanya semangat dan mekanisme kerjasama lintas wilayah dalam pembangunan yang sinergis. 13. Sebagai dampak dari berbagai penyimpangan terhadap ketentuan alokasi pemanfaatan ruang sebagaimana telah ditetapkan dalam RTRW adalah kerusakan pada konsentrasi perumahan dan permukiman di Jabodetabek (jiwa, harta benda, kerusakan sarana dan prasarana, serta efek traumatik) yang sangat besar. 14. Tantangan untuk pembangunan perumahan dan permukiman ke depan sangatlah berat. Dengan jumlah penduduk perkotaan yang terus meningkat dari waktu ke waktu, kebutuhan lahan untuk permukiman pun akan meningkat drastis. Data menunjukkan bahwa jumlah penduduk perkotaan di Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup pesat dari 32,8 juta atau 22,3% dari total penduduk nasional (1980), meningkat menjadi 55,4 juta atau 30,9% (1990), 74 juta atau 37% (1998) dan diperkirakan akan mencapai angka 150 juta atau 60% dari total penduduk nasional (2015) dengan laju pertumbuhan penduduk kota ratarata 4,49% (1990-1995).6

15. Tingginya laju pertumbuhan penduduk ini pada gilirannya menimbulkan kebutuhan akan lahan perumahan dan permukiman yang sangat besar., sementara kemampuan Pemerintah sangat terbatas. Menurut catatan, hanya 15% kebutuhan perumahan yang mampu disediakan oleh pemerintah, sedangkan sisanya sebesar 85% disediakan langsung oleh masyarakat atau swasta. Apabila pembangunan perumahan yang dilakukan oleh masyarakat atau swasta ini tidak dikendalikan pengembangannya, akan menimbulkan masalah besar yang mengancam kawasan konservasi atau kawasan lindung. 16. Melihat keterbatasan Pemerintah tersebut, masyarakat diharapkan dapat berperan aktif dalam mengembangkan bentuk-bentuk alternatif penyediaan lahan perkotaan, seperti telah diatur dalam PP No.80/1999 tentang Kasiba dan Lisiba yang Berdiri Sendiri,. Adapun penetapan lokasi Kasiba dan Lisiba tersebut harus sesuai dengan rencana tata ruang wilayah-nya. Selain itu, penyelenggara Kasiba dan Lisiba wajib menyusun rencana teknik ruang sebagai rincian dari RTRW. 17. Tantangan terbesar dalam penataan ruang serta pembangunan perumahan dan permukiman adalah bagaimana memberdayakan atau menguatkan peran masyarakat agar mampu memenuhi kebutuhan
6

Population Research Centre at www.trcdc.com.org/summaries/indonesia/indonesia.html.

perumahannya sendiri yang sehat, aman, serasi, dan produktif tanpa merusak lingkungan hidup dan merugikan masyarakat luas. Untuk itu, masyarakat perlu diperkenalkan pengertian tentang penataan ruang, diberikan akses dan stimulan, ditumbuhkan rasa peduli dan rasa tanggungjawab, yang pada akhirnya memunculkan bentuk partisipasi atas kehendak masyarakat sendiri sebagai benteng terakhir pengendali pemanfaatan ruang.

III. PENGUATAN PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG DAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN
18. Didalam Undang-Undang No.24/1992 tentang Penataan Ruang, pasal 4, disebutkan bahwa setiap orang berhak menikmati manfaat ruang termasuk pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang. Selanjutnya, Setiap orang berhak untuk : (a) mengetahui rencana tata ruang, (b) berperan serta dalam penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang, (c) memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang. Selain hak-hak diatas, melekat pula kewajiban masyarakat dalam penataan ruang seperti ditegaskan dalam Pasal 5 UU No.24/1992, yakni : (a) setiap orang berkewajiban berperan serta dalam memelihara kualitas ruang dan (b) setiap orang berkewajiban menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan.

19.

20. Dalam penyusunan rencana tata ruang wilayah ataupun rencana yang sifatnya rinci, maka prosesnya senantiasa harus melibatkan masyarakat, seperti telah diatur dalam PP No. 69/1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang. Namun demikian, PP 69/1996 ini hingga kini belum sepenuhnya dihayati dan dilaksanakan karena masyarakat merasa tidak memahami arti penting dan manfaat penataan ruang. 21. Pada era demokrasi dewasa ini, maka penataan ruang harus merupakan keputusan publik atas dasar konsensus bersama Dalam mekanisme keputusan publik, tentunya kepentingan masyarakatlah yang harus diutamakan, mengingat masyarakat merupakan unsur stakeholders pembangunan dengan konstituen terbesar. Untuk itu, hal-hal yang harus dipertimbangkan adalah 7 :
Diadaptasi dari sambutan Pembukan Menteri Permukiman dan Pengembangan Wilayah pada Seminar Sehari Pengelolaan Kota dan Wilayah yang Berkelanjutan dalam Perspektif Demokrasi, Bogor, 27 Juli 2000.

a. Mengacu pada UU No.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah maka penyelenggaraan pembangunan daerah harus mengikutsertakan masyarakat dan swasta. Karena itu, setiap jenis rencana pembangunan kota dan wilayah tidak cukup hanya disosialisasikan kepada masyarakat, tetapi lebih jauh harus dikomunikasikan dan dikonsultasikan kepada masyarakat. b.Pengembangan wilayah dan kota (kawasan perkotaan) seyogyanya mampu menciptakan iklim yang kondusif bagi rencana pembangunan yang berasal dari masyarakat (community-driven planning) melalui mekanisme forum kota atau rembug desa sebagai media untuk menggali ide-ide dan menjaring aspirasi pembangunan yang orisinal dari masyarakat. c. Dengan dikonsultasikannya rencana pengembangan wilayah dan kota tersebut kepada masyarakat, maka jaminan keberlanjutan dari suatu proses pembangunan akan lebih mudah tercapai, mengingat keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan sejak dini akan melahirkan bentuk-bentuk peran masyarakat yang cukup tinggi sehingga mampu memecahkan persoalannya sendiri. 22. Dalam upaya pemberdayaan masyarakat agar dapat mengatasi persoalan-persoalan pembangunan di daerahnya, maka Pemerintah Pusat (dalam hal ini Depkimpraswil) tidak lagi berperan sebagai inisiator ataupun aktor utama pembangunan, melainkan lebih berperan sebagai fasilitator dan enabler masyarakat. Sedangkan Pemerintah Daerah pun harus mampu mereposisikan peran yang selama ini ditanganinya untuk dapat didesentralisasikan kepada kelompok-kelompok masyarakat yang tumbuh secara demokratis dengan orientasi pada penguatan peran masyarakat. Selain itu, untuk lebih mendesentralisasikan penyelenggaraan penataan ruang di Daerah, maka Pemerintah Pusat dituntut untuk lebih banyak menyusun dan mengembangkan Norma, Standar, Pedoman, dan Manual (NSPM), serta memfasilitasi pelaksanaan pembangunan yang diinginkan oleh Pemerintah Daerah.8 Dengan demikian, Pemerintah Pusat (Depkimpraswil) tidak terlibat secara fisik dalam penataan ruang wilayah dan kota (kawasan perkotaan), kecuali pada tingkatan yang lebih makro, seperti penataan ruang lintas propinsi (misal kawasan Jabodetabek, pulau dan kepulauan) atau penataan ruang kawasan perbatasan.

23.

Disarikan dari Keynote Address Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah mengenai Tata Ruang dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah pada Forum Nasional Tata Ruang, Jakarta, 18 April 2001.

IV. KEBIJAKAN PENATAAN RUANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN


24.

DALAM

PEMBANGUNAN

Untuk dapat mewujudkan penataan ruang sinkron dengan pembangunan perumahan dan permukiman, diperlukan strategi pendayagunaan penataan ruang yang senada dengan semangat otonomi daerah. Strategi pendayagunaan penataan ruang tersebut disusun dengan 9 memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut : a. Keterpaduan program yang bersifat lintas sektoral dan lintas wilayah dalam konteks pengembangan wilayah atau kawasan b.Pendekatan bottom-up atau mengedepankan peran masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan perumahan dan permukiman c. Sinergi pembangunan keunggulan lokal dengan memperhatikan potensi dan

d.Akomodatif terhadap berbagai masukan, kemitraan dengan seluruh stakeholders dan transparansi dalam pelaksanaan pembangunan. e. Konsistensi pelaksanaan pembangunan perumahan dan permukiman terhadap rencana tata ruang f. Penegakan hukum yang konsisten dan konsekuen untuk menghindari kepentingan sepihak dan untuk terlaksananya pembagian peran yang seimbang antar unsur-unsur stakeholders. g. Kerjasama antar pembangunan. 25. wilayah dalam rangka menciptakan sinergi

Berdasarkan prinsip-prinsip pokok penataan ruang (pada butir 3 diatas) maka kebijakan pokok penataan ruang yang perlu dilaksanakan dalam mendukung pembangunan perumahan dan permukiman adalah melaksanakan upaya revitalisasi dan operasionalisasi rencana tata ruang (RTR) yang berorientasi kepada pemanfaatan dan pengendalian rencana tata ruang yang ada. Hal ini dicapai melalui kegiatan-kegiatan pokok seperti : (a) inventarisasi perubahan fungsi lahan dan penyimpangan pemanfaatan (konflik-konflik pemanfaatan ruang); (b) pengkajian ulang terhadap rencana tata ruang yang ada (review RTRW Kabupaten/Kota dan RDTR Kawasan); (c) menyiapkan dukungan/instrumen pemanfaatan rencana tata ruang, seperti mekanisme insentif dan disinsentif, dan (d) menyiapkan instrumen pengendalian pemanfaatan ruang melalui mekanisme perizinan (seperti izin prinsip, izin lokasi, IMB dan penegakan sanksi hukum atas bentukbentuk pelanggaran). Selain itu, kebijakan penting yang dilakukan adalah : (a) penyiapan NSPM agar terjadi percepatan desentralisasi bidang penataan ruang ke daerah;
idem.

26.
9

(b) peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia serta pemantapan format dan mekanisme kelembagaan penataan ruang, serta (c) sosialisasi produk-produk penataan ruang kepada masyarakat melalui public campaign 27. Pada akhirnya, kebijakan penataan ruang dikembangkan untuk mewujudkan keterpaduan pembangunan wilayah yang mampu mendorong peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan lingkungan hidup, melalui upaya pengaturan keseimbangan kawasan lindung (daerah aliran sungai, daerah resapan air, ruang terbuka hijau, hutan lindung dll), sistem pusat-pusat permukiman (termasuk didalamnya permukiman skala besar), serta arahan sistem jaringan prasarana wilayah (sistem transportasi, pengendalian banjir, penyediaan air baku, sistem pembuangan limbah) dengan melibatkan peran pemerintah, masyarakat dan dunia usaha.

V.
28.

PENUTUP
Perumahan dan permukiman tidak terpisahkan dari ruang yang harus dimanfaatkannya sehingga harus selalu mengacu pada rencana tata ruang wilayah yang dinamis dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Kebutuhan tersebut adalah agar semua anggota masyarakat dapat menghuni rumah yang layak dalam lingkungan permukiman yang sehat, aman, serasi, produktif, berkelanjutan dan bebas dari ancaman bencana (livable environment). Penyelenggaraan penataan ruang wilayah dan kota (kawasan perkotaan sebagai pusat permukiman) bukan hanya menjadi tanggungjawab Pemerintah semata, karena pada hakekatnya Pemerintah bekerja bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk memberikan pelayanan terbaik pada masyarakat berdasarkan kebutuhan dan aspirasi yang berkembang. Untuk itu, dibutuhkan kerjasama antara Pemerintah dengan berbagai unsur stakeholders dimana masyarakat sebagai subyek pembangunan dalam suatu proses menuju penguatan peran masyarakat (community driven planning). Dengan mempertimbangkan pentingnya penataan ruang dalam proses pembangunan khususnya perumahan dan permukiman - maka perlu segera dilakukan kampanye penyadaran masyarakat (public awareness

29.

30.

campaign) secara terarah, terkoordinasi dan terus menerus (continuous efforts). 31. Dalam kaitan kampanye penyadaran masyarakat sebagai benteng terakhir pengendali pemanfaatan ruang, peran wartawan menjadi sangat penting, yakni sebagai mitra strategis Pemerintah dan ujung tombak dalam upaya meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap penataan ruang (kawasan perkotaan) secara kontinyu. Peran pers akan semakin efektif karena telah didukung oleh keberadaan berbagai media komunikasi yang kini berkembang sangat pesat seiring dengan kemajuan teknologi informasi. 32. Dengan peran masyarakat yang semakin kuat yang didukung oleh peran wartawan yang aktif dan konstruktif, maka penyelenggaraan pembangunan secara umum dapat dilakukan secara lebih transparan dan akuntabel sebagai wujud nyata dari pelaksanaan prinsip good governance.

PT Bank BRISyariah menjadi satu-satunya bank umum syariah yang digandeng Kementerian Perumahan Rakyat untuk mewujudkan kepemilikan rumah sejahtera. Penandatangan kerja sama ini dilakukan pada Senin (17/10) di Kantor Kemenpera, Jakarta Selatan. Kerja sama yang diberi nama Penyaluran Dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) ini menjadikan Bank BRISyariah sebagai bank umum syariah pertama yang terlibat dalam pengadaan perumahan melalui Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera. Chief of Retail Banking Khairullah mengatakan, langkah ini merupakan terobosan untuk mengatasi kesenjangan antara permintaan dan penawaran kebutuhan perumahan sebanyak 13,6 juta per tahun. Khairullah mengatakan, BRISyariah menargetkan penyaluran pembiayaan 5.000 rumah dengan nilai Rp250 miliar dalam satu tahun kerja sama yang menyasar pasar Pegawai Negeri Sipil, TNI, Polri, dan karyawan swasta di kota-kota kedua itu. "Dengan 100 kantor, kami mampu mencapai target," kata Khairullah dalam keterangan pers di Kantor BRI Syariah, Jakarta Pusat, Senin (24/10). Melalui dana FLPP, Khairullah mengatakan, BRISyariah membantu masyarakat dalam membayar angsuran kepemilikan rumah dengan cicilan terjangkau. Didukung 100 unit kerja di seluruh Indonesia, BRISyariah juga menawarkan program KPR BRISyariah iB yang mempunya nilai percepatan kepemilikan rumah bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

"Dengan pagu pembayaran terentang antara Rp25 juta hingga Rp80 juta untuk KPR Sejahtera dapat memenuhi hampir semua kebutuhan pembiayaan KPR masyarakat Indonesia," katanya lagi. Sebagai salah satu produk unggulan, KPR BRISyariah iB memiliki berbagai kelebihan di antaranya jangka waktu fleksibel hingga 15 tahun, uang muka ringan serta angsuran tetap dan terjangkau. Sebelumnya BRISyariah juga telah bekerja sama dalam program Kemenpera lainnya yaitu Program Subsidi Uang Muka (SUM) di mana BRISYariah telah menyalurkan pembiayaan ke lebih dari 100 unit rumah untuk masyarakat berpenghasilan menengah dan masyarakat berpenghasilan rendah. Per September 2011, BRISyariah sendiri sudah membukukan penyaluran pembiayaan sebesar Rp1,1 triliun dari target Rp1,2 triliun. Tahun depan, pembiayaan perumahan diharapkan tumbuh menjadi Rp2,3 triliun. n Rizky Andriati Pohan close

MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR: 01/PERMEN/M/2006 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR/KPRS SYARIAH BERSUBSIDI MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT Menimbang : a. bahwa perumahan dan permukiman merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan faktor penting dalam peningkatan harkat dan martabat manusia, maka perlu diciptakan kondisi yang dapat mendorong pembangunan perumahan untuk menjaga kelangsungan penyediaan perumahan dan permukiman; b. bahwa masyarakat, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah, masih belum mampu tinggal di rumah yang layak, sehat, aman, serasi dan teratur tanpa dukungan fasilitas subsidi perumahan, baik untuk pemilikan rumah maupun pembangunan/perbaikan rumah sederhana sehat yang dilakukan secara individu maupun berkelompok; c. bahwa dalam rangka fasilitasi pembiayaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah serta guna memberikan alternatif fasilitas dukungan skim pembiayaan perumahan selain jenis dan skim pembiayaan perumahan melalui perbankan konvensional, diperlukan skim pembiayaan perumahan melalui perbankan syariah; d. bahwa dalam rangka pemberian subsidi perumahan tersebut perlu memperhatikan kemampuan masyarakat berpenghasilan rendah, kebijakan moneter, sistem pendanaan dan kemampuan Bank Pelaksana dan Lembaga Pembiayaan lainnya serta ketersediaan lahan; e. bahwa dalam rangka pemberian subsidi perumahan tersebut perlumemperhatikan persyaratan teknis perumahan dan permukiman dan bangunan gedung dengan memperhatikan muatan lokal maupun budaya setempat yang berkaitan dengan bentuk arsitektur dan struktur bangunan; f. bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan perumahan sebagaimana dimaksud pada huruf a, b, c, d, dan e diatas, dan guna menjangkau lebih banyak lagi kelompok sasaran masyarakat berpenghasilan rendah, maka diperlukan pengaturan atas: nilai subsidi perumahan; uang muka; batas maksimum pembiayaan melalui PembiayaanKepemilikan Rumah Bersubsidi

dengan prinsip Syariah(KPR Syariah Bersubsidi); nilai minimum dan maksimum dana pembangunan/perbaikan yang dibiayai melalui skim Pembiayaan Pembangunan/Perbaikan Rumah Swadaya Bersubsidi dengan prinsip Syariah (KPRS Syariah Bersubsidi);

g. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf f, perlu penetapan Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Tentang Pengadaan Perumahan dan Permukiman dengan dukungan fasilitas subsidi perumahan melalui KPR/KPRS Syariah Bersubsidi.

Mengingat : 1. Undangundang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman; 2. UndangUndang Nomor 10 Tahun 1998 (Amandemen Undangundang Nomor 7 Tahun 1992) tentang Perbankan; 3. Undangundang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung; 4. Undangundang Nomor 13 Tahun 2005 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2006; 5. Keputusan Presiden RI Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Susunan Kabinet Indonesia Bersatu; 6. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 20042009; 7. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia; 8. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia; 9. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia; 10. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah selaku Ketua Badan Kebijaksanaan dan Pengendalian Pembangunan Perumahan dan Permukiman Nasional (BKP4N) Nomor 217/KPTS/M/2002 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Perumahan dan Permukiman (KSNPP); 11. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 403/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Sehat (Rs Sehat); 12. Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 05/PERMEN/M/2005 tentang Pengadaan Perumahan dan Permukiman dengan Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan melalui KPR/KPRS Bersubsidi;

Memperhatikan: 1. Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 04/DSNMUI/IV/2000 tentang Murabahah; 2. Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 06/DSNMUI/IV/2000 tentang Jual Beli Istishna; 3. Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 07/DSNMUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh); 4. Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 08/DSNMUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah; 5. Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 12/DSNMUI/IV/2000 tentang Hawalah.

MEMUTUSKAN Menetapkan

PERTAMA

KEDUA

KETIGA

KEEMPAT

PERATURAN PENGADAAN MEN NEGARA PERUMA RAKYAT PERUMA DAN PERMUKI TENTANG DEN DUKUNGAN FASIL SUBSIDI PERUMA MELALUI KPR/K SYARIAH BERSUBSID Pengaturan ten kelompok sas penerima su perumahan dalam ra pemilikan pembangunan/perbaika Rumah Sederhana S (Rs Sehat/RSH) u masyarakat berpengha rendah dengan pr syariah, sebagaim diatur dalam Lam Peraturan ini. Pengaturan tentang p jenis dan skim subsidi kelompok sas masyarakat berpengha rendah, yang menc batas harga rumah dapat dibeli atau pembiayaan perum yang dapat diperoleh, muka, batas minimum maksimum pembiay serta skim su pembiayaan peruma sebagaimana diatur d Lampiran Peraturan ini Bank pelaksana dan lembaga pembia lainnya yang berpartis dalam pro pembiayaan perum bersubsidi dengan pr syariah adalah Bank atau lembaga pembia yang telah berop dengan prinsip syariah Bank pelaksana dan lembaga pembia lainnya yang berpartis dalam pro pembiayaan perum bersubsidi dengan pr

c:/Tarunas/TR-Pulau/Paper-Wartawan-170502

20

KELIMA

KEENAM

KETUJUH

KEDELAPAN

syariah bertanggung ja sepenuhnya u menyediakan pembia yang dibutuh sedangkan Pemer bertanggung j sepenuhnya u menyediakan dana su yang dibutuhkan. Bank Pelaksana dan Lembaga Pembia lainnya dapat membe pembiayaan perum bersubsidi dengan pr syariah kepada kelu berpenghasilan tidak yang berhimpun d wadah koperasi. Pilihan jenis rumah pelaksanaan pembang Rs Sehat/RSH men pada Keputusan Me Permukiman Prasarana Wilayah N 403/KPTS/M/2002 de mengoptimalkan pemanfaatan potensi b bangunan penyesuaian bentuk jenis bangunan se dengan budaya/arsit setempat, dan memperhatikan penga aspek lingku permukiman dan bang gedung. Koordinasi pelaksa KPR/KPRS Sy Bersubsidi untuk Sehat/RSH merup tanggung jawab dilaksanakan oleh Me Negara Perumahan Ra Pengaturan sebagaim tercantum dalam di pertama sampai de ketujuh berlaku mengikat bagi se instansi/lembaga pemerintah p pemerintah pro pemerintah kota/kabup perbankan, lem pembiayaan lai

c:/Tarunas/TR-Pulau/Paper-Wartawan-170502

21

(koperasi dan lem pembiayaan di tin komunitas) yang berg dalam bidang peruma serta masyarakat akan memanfaa subsidi perumahan de prinsip syariah.

c:/Tarunas/TR-Pulau/Paper-Wartawan-170502

22