You are on page 1of 2

CritiCaL agrarian studiEs of indonEsia

Fellowship 2012

menyelenggarakan Infrastructure Summit tahun 2005 dan menetapkan enam Koridor Ekonomi pada Mei 2011. Penetapan prioritas percepatan pembangunan di setiap koridor didasarkan pada potensi alam dan sumber daya manusia di masing-masing wilayah. Tujuan penetapan koridor ekonomi adalah untuk mengembangkan pusat pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan klasterklaster ekonomi baru yang terintegrasi dengan pusat kegiatan ekonomi dan infrastuktur pendukung lainnya. Untuk mendorong berjalannya program ini, pemerintah Indonesia memberikan sejumlah perlakuan khusus, mulai dari kebijakan perpajakan dan kepabeanan peraturan ketenagakerjaan, dan perizinan, kepada perusahaanperusahaan yang ingin terlibat penuh dalam program ini. Untuk memperkuat kebijakan tersebut, sejak tahun 2007, melalui BPN (Badan Pertanahan Nasional), juga dilakukan serangkaian sertifikasi dan legalisasi tanah. Dalam uraian Wibowo (2010) dan Bachriadi (2010), perubahan kebijakan tersebut merupakan upaya membuka pintu selebar-lebarnya untuk investasi dan menghilangkan hambatan-hambatan politik dan hukum bagi berkembangnya pasar bebas privatisasi, dan pengurangan peran negara dalam kegiatan ekonomi dalam sebagai alas bekerjanya negara neoliberal. Strategi percepatan pembangunan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang dianut oleh Indonesia saat ini tentu saja membawa implikasi pada perubahan struktur agraria di Indonesia. Arah pembangunan yang lebih mengedepankan ekspor komoditas ini cenderung lebih memberi prioritas pada investasi industri skala besar, khususnya industri ekstraktif, telah meminggirkan petani di banyak wilayah pedesaan di Indonesia. akibatnya tentu saja ketimpangan penguasaan tanah di Indonesia menjadi semakin tajam. Dalam konteks penyediaan pangan, rencana percepatan pembangunan ini secara jelas akan menggeser kemampuan masyarakat dalam menyediakan pangan untuk kebutuhan sendiri ke tangan industri-industri besar, baik yang melakukan usaha pertanian di Indonesia maupun melalui jalur perdagangan import. Ketimpangan struktur agraria di Indonesia merupakan salah satu persoalan yang cukup besar saat ini. Bachriadi dan Wiradi (2011), menyebut dua macam ketimpangan struktur agraria di Indonesia, yaitu konsentrasi penguasaan lahan akibat desakan industri skala besar yang menciptakan ketimpangan di dalam alokasi penggunaan lahan untuk aktivitas pertanian rakyat dan aktivitas industri (agroindustri, forestry, pertambangan, manufaktur, turisme,

real estate, dan lain sebagainya). Ketimpangan alokasi penggunaan lahan ini juga diperparah dengan adanya kebijakan penetapan kawasan hutan dan kawasan non kehutanan yang menyebutkan sekitar 65% daratan di Indonesia merupakan wilayah kehutanan yang hanya dapat digunakan untuk aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan fungsi hutan secara ekonomi, ekologi dan sosial. Ketimpangan lainnya adalah ketimpangan penguasaan tanah di kalangan petani sendiri (peasant landholders). Dua bentuk ketimpangan yang terus terpelihara ini tercermin dalam index Gini penguasaan lahan oleh petani di Indonesia yang sejak 40 tahun yang lalu selalu di atas angka 0,6 (Bachriadi dan Wiradi 2011). Secara teoretis, ketimpangan struktur agraria menyebabkan peningkatan jumlah penduduk miskin di wilayah pedesaan yang pada akhirnya memicu konflik sosial. Desakan kapital dengan prioritas pada komoditas ekspor membuat petani dipaksa untuk melepaskan dan meninggalkan lahan pertaniannya. Berdasarkan data Agrarian Resource Center (ARC), pembukaan lahan untuk industri ekstraktif menyebabkan peningkatan konflik hampir di seluruh wilayah Indonesia. Terkait dengan hal tersebut, tema fellowship tahun ini adalah: 1. Perubahan agraria dan persoalan agraria mutakhir, khususnya yang berkaitan dengan rencana besar pemerintah untuk menjalankan skema percepatan pembangunan ekonomi (MP3EI). 2. Kemampuan organisasi tani terkait dengan strategi dan metode untuk menghadapi perubahan situasi dan tantangan-tantangan baru yang sedang dan akan dihadapi.

Landgrabbing dan Koridor EKonomi di indonEsia


Istilah global land grab lazim dipakai untuk mendeskripsikan dan menganalisis banyaknya transaksi komersial atas tanah dalam lingkup (trans)nasional dalam skala besar. Land grab dapat terjadi dengan berbagai cara, mulai dari pembelian langsung perorangan dan penyewaan oleh publik-privat untuk produksi biofuel hingga akuisisi tanah yang luas untuk kepentingan konservasi, dengan hasil yang beragam (Hall 2011, Wolford 2010). Proses dan kecenderungan pengambilalihan lahan ini bukan fenomena yang baru di Indonesia. Maraknya investasi skala besar masa Orde Baru, yang mendorong pengambilalihan lahan, nampaknya akan kembali berulang dengan ditetapkannya program MP3EI (Masterplan Perluasan dan Percepatan pembangunan Ekonomi Indonesia) pada tahun 2011. MP3EI adalah upaya pemerintah Indonesia untuk meningkatkan laju investasi dan pertumbuhan ekonomi. Upaya tersebut antara lain diwujudkan dengan

Waktu Pelaksanaan: Fellowship ini akan dilakukan selama 6 bulan (Mei 2012- Oktober 2012) Persyaratan Peserta
No 1 2 3 4 Jenis Kegiatan Rekruitmen peserta waktu pelaksanaan 12-24 April 2012

Peserta yang terpilih akan mendapatkan beberapa tunjangan selama pelaksanaan Fellowship ini berupa: a. uang transportasi dan uang saku selama pelatihan b. uang saku dan biaya untuk penelitian lapangan Pendaftaran Para pendaftar diharapkan mengirimkan aplikasinya melalui e-mail sampai dengan tanggal 21 April 2012. Dengan mengirimkan : 1. Curriculum Vitae (tidak lebih dari 4 lembar dan dibuat sesuai format yang disediakan). 2. Surat rekomendasi (dua buah) dari pimpinan lembaga dan/atau orang lain yang dianggap layak memberikan rekomendasi untuk pendaftar. 3. Contoh tulisan yang sesuai dengan tema fellowship tahun ini (tidak kurang dari 7 (tujuh) halaman). Aplikasi tersebut dikirimkan dengan mencantumkan judul: Fellowship Critical Agrarian Studies of Indonesia 2012 melalui kedua e-mail di bawah ini: Administrasi ARC: arc@arc.or.id and/or arc.indonesia@gmail.com Yudi Bachrioktora : yudibachri@gmail.com

tEntang Program fELLowshiP


Agrarian Resources Centre (ARC) yang didirikan pada tahun 2005 merupakan sebuah lembaga yang memfokuskan aktivitasnya pada penelitian, dokumentasi dan pelatihan yang berhubungan dengan masalah-masalah agraria, pembangunan pedesaan, reforma agraria dan gerakan sosial pedesaan baik di Indonesia maupun internasional. ARC secara khusus mempunyai misi untuk menyediakan informasi, dokumentasi dan analisis tentang permasalahan agraria yang terbuka untuk publik dan secara khusus bagi kelompok gerakan sosial di Indonesia. Mulai tahun 2011 ARC merancang suatu program fellowship yang bernama Fellowship Studi Agraria Indonesia (Fellowship-SAI) untuk membantu aktivis dan peneliti muda yang tertarik untuk melakukan penelitian tentang masalah-masalah agraria di Indonesia. Dalam program fellowship ini, ARC mengkombinasikan pelatihan dan penelitian lapangan sebagai inti dari aktifitas program. Pelatihan dimaksudkan untuk memberikan landasan pemahaman dan pengetahuan tentang permasalahan agraria di Indonesia saat ini. Selain itu pelatihan juga disiapkan sebagai sarana untuk memahami metodologi penelitian mulai dari penyusunan riset desain, perumusan masalah penelitian, penggunaan kerangka konsep, hingga perumusan asumsi penelitian. Kemudian dilanjutkan dengan teknis penelitian lapangan termasuk didalamnya teknik wawancara mendalam. Program fellowship ini bertujuan agar para peserta terpilih nantinya akan melakukan penelitian dan menyampaikan suatu analisis laporan tentang kondisi dan masalah agraria di Indonesia yang terkini, terutama yang terkait dengan tema fellowship tahun ini. Laporan tersebut diharapkan dapat memberi kontribusi bagi kerja-kerja advokasi dan pengorganisasian perjuangan hak atas tanah di Indonesia.

wawancara peserta yang lulus seleksi 24-25 April 2012 administrasi pengumuman hasil seleksi peserta pelaksanaan Fellowship 27 April 2012 Mei-oktober 2012

Program fellowship ini dirancang untuk para aktivis dan peneliti muda, baik perempuan maupun laki-laki, yang mempunyai keinginan untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan isu-isu agraria. Program fellowship untuk tahun ini akan memilih 1 (satu) orang peserta. Persyaratan umum peserta : a. Minimal adalah Sarjana (S1) dan pernah melakukan penelitian lapangan minimal untuk waktu selama 3 bulan secara intensif; b. Peserta yang memiliki ketertarikan dan pengetahuan tentang masalah-masalah agraria seperti masalah penguasaan tanah, konflik agraria, dan gerakan sosial pedesaan merupakan suatu keuntungan; c. Bersedia terlibat secara aktif sejak dimulainya program ini hingga selesai, termasuk kemungkinan untuk meninggalkan tempat tinggal selama proses pelatihan (di Bandung) maupun penelitian lapangan; d. Memiliki kemauan dan kemampuan untuk bekerja sama dengan tim peneliti yang ada di ARC; e. Mempersiapkan dan menyerahkan laporan hasil studi lapangan yang telah dilakukan; f. Bersedia berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan oleh ARC.

Sekretariat ARC (Agrarian Resource Center): Jalan Terjun Bugi No. 25, Arcamanik, Bandung 40293 Indonesia ph/fax. +62-22-7208863 website. arc.or.id