You are on page 1of 3

NAMA NPM

: IMAM MUKHLASIN : 1112011184

KONSTITUSI, DEMOKRASI, DAN MAKNA KEMERDEKAAN Kemerdekaan dalam arti yang sesungguhnya masih belum terwujud secara materiil di republik ini. Itulah sebabnya Konstitusi dan Demokrasi yang seharusnya dikaitkan dengan makna kemerdekaan yang seharusnya menjadi acuan dan puncak internalisasi semokrasi melalui konstitusi. Dalam beberapa tahun terakhir, kata konstitusi dan demokrasi memang begitu populer dalam perbincangan publik ini terkait dengan proses transisi politik yang tengah berlangsung yang membuka peluang membangun kembali demokrasi, sekaligus menyempurnakan konstitusi. Sudah sejak tahun 1992, pada masa akhir penulisan disertai di negri Belanda, penyempurnaan konstitusi karena UUD 1945 adalah salah satu faktor penghambat terwujudnya demokrasi di Indonesia. Oleh karena itu upaya-upaya untuk membangun demokrasi dengan sendirinya mengharuskan adanya penyempurnaan mengharuskan adanya penyempurnaan konstitusi. Orde baru (sepeti halnya rejim orde lama pasca1959) menyakralkan UUD 1945 sebagai sandaran untuk mengembangkan sistem politik yang dinamakan Demokrasi Pancasila, yang pada hakekatnya merupakan kelanjutan semata dari Demokrasi Terpimpin. UUD 1945 menjadi penting karena UUD ini memungkun tegaknya totaliterisme dengan selubung demokrasi. Dengan sendirinya gagasan mengenai perubahan UUD tersebut ditabukan. Dengan tumbangnya rejim orde baru, maka terbuka jalan untuk melakukan perubahan. Sekarang empat tahapan amandemen terhadap UUD 1945 ini sudah dilakukan. Dilihat dari substansi dalam rangka membangun sistem politik yang demokratis, hasil amandemen tersebut membangun gagasan-gagasan yang cukup maju. Sungguhpun demikian tidaklah lantas berarti bahwa hasil amandemen tanpa kekurangan sama sekali. Anggota MPR melupakan sudut pandang (prespektif) yang dianut oleh arsitek penyusun UUD 1945, yakni: begitu menaruh kepercayaan terhadap semangat penyelenggaraan negara yang akan melaksanakan UUD. Kritik tersebut cukup mendasar karena hasil perubahan tersebut tidak boleh lepas dari gagasan dasar dan tujuan dibentuknya negara Indonesia yang tertuang dalam pembukaan, yang seharusnya menjadi acuan dalam melakukan amandemen terhadap Batang Tubuh secara Koheren. Tidak adanya metodologi yang jelas itu dikarenakan para anggota MPR dampaknya tidak memiliki pegangan konsep ketatanegaraan yang jelas tentang arah dan tujuan yang ingin dicapai melalui serangkain amandemen itu.

Prespektif Soepomo Dalam kaitannya dengan persoalan prespektif yang dianut oleh penyusun UUD 1945, jelas membutuhkan perhatian seksama, karena dalam sidang BPUPKI dengan tegas Prof. Soepomo mengatakan bahwa kegagalan mencermati sekaligus mempersoalkan prespektif yang demikian itu dalam rangka melakukan amandemen terhadap UUD 1945, niscayakan akan menimbulkan kerancuan : sekalipun sejumlah pasal di dalam batang tubuh UUD 1945 telah mengalami amandemen sedemikian rupa, namun bukan mustahil masih mengandung prespektif Soepomo. Hal itu terbukti dengan keberadaan Mahkamah Konstituis sebagai salah satu dari hasil mandemen ketiga. Sebagai contoh Pasal 7 B ayat 4 jo. Pasal 7 B ayat 1 Pada ayat 4 menyatakan : Mahkamah konstitusi wajib memeriksa, mengadili dan memutuskan dengan seadil-adilnya pendapat DPR.... ketentuan ini berkaitan dengan usul pemberhentian presiden dan/atas wakil presiden karena pelanggaran hukum oleh DPR kepada MPR melalui Mahkamah Konstitusi, yang diatur dalam Pasal 7 B ayat 1. Pemberian wewenang kepada Mahkamah konstitusi untuk melakukan pemeriksaan terhadap presiden dan/atau wakil presiden itu memperlihatkan ketidaksepahaman anggota MPR terhadap UUD 1945, karena UUD ini tidak menganut asas forum privilegatum seperti UUDS 1950, yang memungkin presiden dan/atau wakil presiden diperiksa dengan cara tersendiri diluar ketentuan KUHAP. Bagi Soepomo, suatu ketentuan hukum tertulis seperti UUD bukanlah segala-galanya; yang lebih penting adalah semangat dari penyelenggaraan UUD itu sendiri. Selain itu, Soepomo juga terlalu meyakini asas iktikad baik- in good faith (Inggris) atau yang disebut tegoeder trouw (Belanda) atau yang dikenal sebagai de bonne foi (Perancis)dari pelaksanaan suatu ketentuan hukum. Sebuah asas yang memang menjadi doktrin utama dan penting dalam ilmu hukum di negara manapun.

Prespektif Konstitualisme Manusia bukanlah malaikat kendati harus beritikad baik. Terlebih manusia yang memegang kekuasaan. Bila kekuasaan tersebut tidak dibatasi, maka kekuasaan tersebut tidak dibatasi, maka kekuasaannya itu cenderung menjadi absolut. Kekuasaan semacam itu, sebagaimana adadigum yang dirumuskan Lord Acon, cenderung disalahgunakan. Kecenderungan ini sudah terbukti di dalam sejarah. Sejak jaman Plato (429 SM- 347 SM), sudah muncul pemikiran tetang pentingnya kekuasaan diatur oleh hukum. Pada mulanya Plato memang memiliki kepercayaan terhadap sikap bijak pemimpin sebagai kekuasaan negara. Sebagai yang dituangkan di Buku Pertamanya Politea, menurut Plato pemimpin semacam itu haruslah seorang filosof. Karena menurut Plato hanya filosof yang dapat memikirkan tentang itu. Namun melihat kenyataan yang ada ketika itu, Plato menyadari pemikirinya tidak realistis. Oleh karena itu Plato berubah pikiran bahwa : bahwa kekuasaan harus diatur oleh hukum.