You are on page 1of 8

ALQURAN BEKAL UTAMA TARBIYAH Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Ash, ia mengatakan

bahwa Rasulullah Saw bersabda, Bacalah Al-Quran dan khatamkan dalam sebulan. Aku berkata, Aku masih kuat untuk lebih cepat. Beliau bersabda, Bacalah dan khatamkan dalam sepuluh hari. Aku berkata lagi, Tetapi aku masih kuat untuk membaca lebih cepat. Beliau bersabda, Bacalah dan khatamkan dalam tujuh hari dan jangan lebih cepat dari itu. Pada riwayat lain (dari hadits riwayat Abu Daud) disebutkan ketika Abdullah bin Amru berkata, Sesungguhnya aku bisa lebih kuat dari itu maka Rasulullah Saw bersabda, Bacalah olehmu pada tiga hari Dialog antara Abdullah bin Amru bin ash dengan Rasulullah Saw diatas bisa kita ambil beberapa pelajaran tarbawi, diantaranya: 1. Rasulullah Saw mengajarkan Abdullah bin Amru bin Ash untuk khatam Al-Quran 1 bulan sekali. Jika ingin lebih cepat, tidak kurang dari 3 hari. 2. Adanya suasana berlomba-lomba untuk mendapatkan pahala yang melimpah ruah melalui ibadah tilawah Al-Quran. 3. Abdullah bin Amru bin Ash memilih azimah bukan rukhshah. 4. Dialog diatas menunjukkan antusias sahabat dalam interaksi dengan Al-Quran. 5. Lingkungan Qurani memotivasi seseorang untuk berkompetisi dalam ibadah. Membaca Al-Quran secara berkesinambungan dan terus menerus merupakan bukti keimanan terhadap Al-Quran. Allah berfirman: Orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka Al-Kitab, mereka membacanya dengan sebaik-baik bacaan. Merekalah orang-orang yang beriman kepadanya. Maka barangsiapa yang berpaling maka merekalah orang yang merugi.( Q.S.2.121) Ikhwah fillah. Mari kita renungkan ungkapan Imam Syahid Hasan al-Banna tentang kewajiban seorang al-akh: Usahakan agar anda memiliki wirid harian yang diambil dari kitabullah minimal satu juz/hari dan berusahalah agar jangan mengkhatamkan Al-Quran lebih dari sebulan dan jangan kurang dari tiga hari. Al-Quran bekal utama tarbiyah Keislaman kita hendaknya mampu membentuk komitmen dalam tilawah, lebih dari sekedar membaca, melainkan memahami, mentadabburi,menghafal, mendakwahkan dan mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Menjaga intensitas taabbud kepada Allah sehingga menjadi sebuah proses pembekalan yang berkesinambungan. Bagaimana jika proses perbekalan (tazwid) ini tertinggal selama sepekan, dua pekan, atau bahkan lebih?

Tarbiyah adalah proses perjalanan madal hayah (sepanjang masa). Membina diri dengan AlQur-an dan berbekal dengannya adalah suatu keniscayaan, karena sumber kebenaran itu ada pada Al-Qur-an. Apalagi jika kita berkomitmen untuk menegakkan islam di bumi Allah ini, maka hendaknya kita menjadi batu-bata yang kokoh dalam bangunan islam dengan tilawah AlQuran. Jika tarbiyah qur`aniyah kita telah matang, kita pasti akan dapat merasakan bahwa sentuhan tarbawi surat Al-Baqarah berbeda dengan Ali-Imran. Begitu pula dengan surat-surat yang lainnya. Boleh jadi ketika seseorang sedang membaca surat An-Nisa, ia merindukan surat AlMa`idah. Itulah suasana tarbiyah yang belum kita rasakan dan harus dengan serius kita bangun dalam diri kita. Sungguh, Al Qur-an adalah sarana tarbiyah terbaik bagi diri dan kehidupan kita, sarana membina diri, karena di dalamnya ketika lembar demi lembar kita buka dan kita baca sekaligus kita maknai, maka kita akan merasakan suatu keunikan tersendiri dari Al Quran. Bayangkan dengan diri kita yang sering menganggap tilawah satu juz itu sebagai sesuatu yang maksimal ! Maka tugas yang sangat minimal inipun sangat sering terkurangi, bahkan tidak teramalkan dengan baik. Bagaimana mungkin kita dapat mengulang kesuksesan para sahabat dalam membangun Islam ini, jika kita tidak melakukan apa yang telah mereka lakukan (walaupun kita sadar bahwa ibadah satu juz ini bukan satu-satunya usaha di dalam berdakwah) ? Sebutlah Utsman Ibn Affan, Abdullah Ibn Amr Ibn Ash, Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafii Radiyallahu Anhum. Mereka adalah contoh orang-orang yang terbiasa menyelesaikan bacaan Al-Quran dalam waktu tiga hari sampai satu pekan. Karena bagi mereka khatam sebulan terlalu lama untuk bertemu dengan ayat-ayat Allah. Mengapa 1 juz perhari 1. Menyikapi apa yang disabdakan Rasulullah saw, Bacalah Al Qur-an dalam satu bulan! 2. Tilawah satu juz perhari merupakan mentalitas `ubudiyah, disiplin, dan akan menambah tsaqofah 3. Jika seseorang rutin setiap bulan khatam, berarti hanya sekali dalam sebulan ia bertemu dengan surat Al-Baqarah. Dapat kita bayangkan seandainya kita berlama-lama dalam mengkhatamkan Al-Quran, berarti kita akan sangat jarang bertemu dengan setiap surat dari Al-Quran. Faktor-faktor tidak mampu khatam Al-Quran 1. Mengalokasikan waktu untuk baca koran, akses internet, nonton tv tetapi untuk tilawah Al-Quran hanya waktu yang tersisa. 2. Perasaan menganggap sepele apabila sehari tidak membaca Al-Quran, sehingga berdampak tidak ada keinginan untuk segera kembali kepada Al-Quran. 3. Lemahnya pemahaman mengenai keutamaan membaca Al-Quran sehingga tidak termotivasi untuk mujahadah dalam istiqomah membaca Al-Quran. 4. Tidak memiliki waktu wajib bersama Al-Quran dan tidak terbiasa membaca Al-Quran sesempatnya, sehingga ketika merasa tidak sempat ditinggalkannyalah Al-Quran.

5. Lemahnya keinginan untuk memiliki kemampuan ibadah ini, sehingga tidak pernah memohon kepada Allah agar dimudahkan tilawah Al-Quran setiap hari. Materi doa hanya berputar-putar pada kebutuhan keduniaan saja. 6. Terbawa oleh lingkungan di sekelilingnya yang tidak memiliki perhatian terhadap ibadah Al-Quran ini. Rasulullah bersabda, Kualitas dien seseorang sangat tergantung pada teman akrabnya. 7. Tidak tertarik dengan majlis-majlis yang menghidupkan Al-Quran. Padahal menghidupkan majelis-majelis Al-Quran adalah cara yang direkomendasikan Rasulullah Saw agar orang beriman memiliki gairah berinteraksi dengan Al-Quran. Kiat mujahadah dalam tilawah satu Juz 1. Berusahalah melancarkan tilawah jika anda termasuk orang yang belum lancar bertilawah, karena ukuran normal tilawah satu juz adalah 30 40 menit. Kita dapat membangun kemauan untuk 40 menit bersama Allah, sementara kita sudah terbiasa 40 menit atau lebih bersama televisi, ngobrol dengan teman dan akses internet. 2. Aturlah dalam satu halaqah, kesepakatan bersama menciptakan komitmen ibadah satu juz ini. Misalnya, bagi anggota halaqah yang selama sepekan kurang dari tujuh juz, maka saat bubar halaqah ia tidak boleh pulang kecuali telah menyelesaikan sisa juz yang belum terbaca. 3. Lakukanlah qadha tilawah setiap kali program ini tidak berjalan. Misalnya, carilah tempat-tempat yang kondusif untuk konsentrasi bertilawah. Misalnya di masjid atau tempat yang bagi diri kita asing. Kondisi ini akan menjadikan kita lebih sejenak untuk hidup dengan diri sendiri membangun tarbiyyah quraniyyah di dalam diri kita. 4. Sering-seringlah mengadukan keinginan untuk dapat bertilawah satu juz sehari ini kepada Allah yang memiliki Al-Quran ini. Pengaduan kita kepada Allah yang sering, insya Allah menunjukkan kesungguhan kita dalam melaksanakan ibadah ini. Disinilah akan datang pertolongan Allah yang akan memudahkan pelaksanaan ibadah ini. 5. Perbanyaklah amal saleh, karena setiap amal saleh akan melahirkan energi baru untuk amal saleh berikutnya. Sebagaimana satu maksiat akan menghasilkan maksiat yang lain jika kita tidak segera bertaubat kepada Allah. Kesibukan dan Alokasi Waktu Membaca Diantara kendala utama yang sering dijadikan alasan tidak mampu mengkhatamkan Al-Quran adalah alasan sibuk. Beberapa kegagalan utama biasanya karena tidak adanya kedisiplinan dalam membaca. Bagimanapun juga, alokasi waktu untuk membaca Al-Quran harus direncanakan dalam setiap harian kita. Beberapa cara agar kita dapat disiplin dalam mengalokasikan waktu: 1. Melatih diri dengan bertahap untuk misalnya dapat tilawah satu juz dalam satu hari. Caranya, misalnya untuk sekali membaca (tanpa berhenti) ditargetkan setengah juz, baik pada waktu pagi ataupun petang hari. Jika sudah dapat memenuhi target, diupayakan ditingkatkan lagi menjadi satu juz untuk sekali membaca. 2. Mengkhususkan waktu tertentu untuk membaca Al-Quran yang tidak dapat diganggu gugat (kecuali jika terdapat sebuah urusan yang teramat sangat penting). Hal ini dapat membantu kita untuk senantiasa komitmen membacanya setiap hari. Waktu yang terbaik adalah pada malam hari dan bada subuh. 3. Menikmati bacaan yang sedang dilantunkan oleh lisan kita. Lebih baik lagi jika kita memiliki lagu tersendiri yang stabil, yang meringankan lisan kita untuk

melantunkannya. Kondisi seperti ini membantu menghilangkan kejenuhan ketika membacanya. 4. Memberikan iqab (hukuman) secara pribadi, jika tidak dapat memenuhi target membaca Al-Quran. Misalnya dengan kewajiban infaq, menghafal surat tertentu, dan lain sebagainya, yang disesuaikan dengan kondisi pribadi kita. 5. Memberikan motivasi dalam lingkungan keluarga jika ada salah seorang anggota keluarganya yang mengkhatamkan Al-Quran, dengan bertasyakuran atau dengan memberikan ucapan selamat dan hadiah. Ya Allah, rahmatilah kami dengan Al-Quran, jadikanlah ia sebagai pemimpin, cahaya,petunjuk dan rahmat bagi kami. Ya Allah, ingatkanlah apa yg kami lupa dari padanya, berikanlah kami ilmu apa yg belum kami ketahui mengenainya, anugerahkanlah kepada kami untuk membacanya di tengah malam dan penghujung siang, jadikanlah ia sebagai hujjah bagi kami wahai Tuhan sekalian alam. Aamiin.. by Ust. Salman Syarifudin, MA (al hafidz) [via]

Belajar dari Sejarah, Antara NII, Umat Islam, dan 'Mereka'


Jumat, 29/04/2011 09:03 WIB | email | print Dan Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (din) (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup." (QS. Al-Baqarah [2] : 217) Belajar dari Sejarah Majalah Time edisi 30 September 2002 menurunkan satu tulisan berjudul, Taking The Hard Road di mana dibuka oleh tulisan Indonesia menghadapi pilihan sulit menggulung kaum ekstrimis dan risikonya mendapatkan reaksi keras dari umat Islam. Hampir 10 tahun kemudian setelah tulisan itu, tahun 2010-2011, Kata-kata ekstrimis, terror bom, Gerakan radikal, mulai terdengar di masyarakat. Kata-kata yang dahulu baik, semakin kemari semakin bermakna negarif seperti jihad, Negara Islam, Syariat Islam, dan lainnya. Namun, mungkin saat ini umat Islam yang semakin terdesak, seolaholah tidak adanya antara Islam dengan ekstrimis, teroris atau bahkan seperti yang diungkapkan para orientalis, bahwa Islam itu teroris, ekstrimis, dan lainnya. Media memulai peranan penting dalam pembentukan opini. Saat ini, isu yang digencarkan adalah tentang NII KW9, yang pada mulanya diduga ada orang yang dicuci otaknya. Namun mengapa tiba-tiba bisa menyambung kepada NII ini, di saat sebelumnya, media gencar memberitakan bom terhadap Ulil, Bom di Mesjid, Bom yang diliput, juga perampokan CIMB Niaga yang dalam diskusi-diskusi terbuka, ada saja yang mengaitkan dengan Umat Islam yang ekstrimis, teroris, dll.

Sebenarnya , tentang NII KW9 sudah lama dibahas oleh MUI Bagaimana mungkin ingin menegakan Negara Islam dengan cara yang menyalahi syariat? (syahadat ulang, membayar, tidak shalat, dll) Ini tentu sesuatu hal yang patut dipertanyakan. Pada tahun 2002, MUI meneliti tentang NII KW9 yang ternyata diambil beberapa kesimpulan bahwa hubungan NII KW9 memiliki hubungan historis dengan Ma;had Al-Zaitun. Lalu, apakah tidak ada follow up dari pemerintah / MUI sendiri? Sehingga muncul banyak pertanyaan. Saat ini isu tentang NII KW9 mulai dimunculkan kembali, padahal kasus ini sudah bergulir puluhan tahun, dimana terjadi desas-desus bahwa NII KW9 sengaja dipelihara Intel untuk mengaburkan dengan NII sebenarnya yang dahulu secara sah dan resmi berdampingan dengan RI. Al Chaidar bahkan mengatakan, bahwa dalam kerjanya NII KW9 dilarang merekrut TNI dan Polri agar tidak jeruk makan jeruk. Dan muncul juga pertanyaan, kenapa baru-baru ini di blow up lagi oleh media? Key Comboy dalam bukunya Intel, Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia menyebutkan bahwa Ali Moetopo berhasil memasukkan orangnya yang bernama Sugiyarto dalam lingkaan orang-orang Darul Islam (DI/NII-pen). Sugiyarto ini berhasil membangun hubungan dengan Danu Mohammad Hasan (komandan DI Jabar) dan pada awalnya orang-orang DI ini dimanfaatkna untuk mengejar orangorang komunis. Umar Abduh membenarkan dalam tulisan berjudul Latar Belakang Gerakan Komando Jihad. Ali Moertopo mengajukan ide tentang pembentukan dan pembangunan kembali kekuatan NII, guna menghadapi bahaya laten komunis Ide Ali Moertopo ini selanjutnya diolah Danu M. Hasan, Tahmid Rahmat Basuki (Anak Karto Suwiryo), dan H. Ismail Pranoto. Jadi, apa yang sebenarnya dituju oleh isu yang bergulir saat ini (NII)? Ditambah dengan adanya RUU Intelejen, dan pembahasan agama dan kekerasan yang marak di media? Sejarah yang Kembali Terulang Orang-orang Komando Jihad ditangkap, Undang-undang Subversif PNPS No. 11 Tahun 1963 .Sejak saat itulah UU Subversif ini digunakan sebagai senjata utama untuk menangani semua kasus yang bernuansa makar dari kalangan Islam. Kenneth E. Ward menyatakan, rezim Orde baru (yang dimotori oleh Jendal Ali Moertopo, Kepala Opsis/Aspri Presiden) sedari awal sudah menempatkan Umat Islam melalui Identitas dengan Darul Islam (NII), sehingga cenderung hendak menghancurkan Islam, sejak kasus Komando Jihad (Komji), stigma bahwa Islam merupakan agama kaum ekstrim kanan terus didengungkan oleh kelompok Ali Moerrtopo. M. Sembodo dalam bukunya Pater Beek, Fremason, dan CIA pada hal 142 menjelaskan bahwa ada kesan yang ingin ditimbulkan dari penangkapan-penangkapan aktivis Islam. Penangkapan ini memberikan adanya pembenaran pada Ali Moertopo bahwa telah muncul bahaya makar yang dilakukan oleh ekstrimis Islam guna memecah belah NKRI. Dengan cara ini ada dua keuntungan yang didapatkan, yaitu memberikan kesan bahwa umat Islam adalah umat yang tidak setia pada NKRI. Kedua memberikan tekanan kepada umat Islam agar tidak macam-macam dengan pemerintah.

Agar tidak dicap macam-macam, umat Islam mungkin saja harus sekuler, harus berpikir liberal, agar tidak dimusuhi oleh Pemerintah. Suatu penggiringan opini yang sangat cerdas sekali, yang akhirnya umat Islam mungkin menjadi malu dengan identitas keislamannya. Jika kita melihat sejarah, terlihat pola sejarah masa lalu berulang kemasa kini. Jangan heran, mungkin suatu saat akan ada orang tua yang melarang anaknya mengaji, mungkin jika ada orang yang mengajak kepada Islam, orang akan curiga, ketika ada orang berdiskusi tentang Islam, akan menjauh, ketika membahas tentang Negara yang berasaskan Islam akan malu, ketika ada halaqah-halaqah beberapa orang dicurigai, ketika ada sebuah dauroh, dituduh memberontak, ketika membahas tentang politik Islam, dikaitkan dengan menggulingkan NKRI, Rohis dituduh awal mula perekrutan teroris. Rekrutmen dai dicurigai. Akhirnya orde baru kembali terjadi. Rancangan Undang-undang Intelejen sedang dibahas di DPR. Pengawasan terhadap gerakan dakwah, penyusupan intelijen, dan sejarah berulang kembali. BIN dapat melakukan penangkapan dan pemeriksaan intensif (interogasi) paling lama 7X24 jam. Usulan itu seperti halnya masa lalu, dapat membuat mereka ditangkap, tanpa surat penangkapan, tanpa pemberitahuan, dll. Sehingga Gerakan Islam semakin terbatas geraknya. Lagi-lagi kita harus belajar dari sejarah. Isyhadu Bi anna Muslimun Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran [3] : 139) Ketika dakwah Rasulullah shallahu alaihi wa sallam dimulai, pertentangan mulai terjadi, terjadi fitnah, tuduhan, dan semacamnya. Sampai akhirnya Rasulullah shallahu alaihi wa sallam ditawari kekuasaan, tapi menolaknya, ditawari harta, wanita, tapi menolaknya, ditawari untuk saling menyembah Tuhan, tetap menolaknya, hingga diminta jangan berdakwah, dan tahun depan kafir Quraisy akan masuk Islam, ketika Rasul shallahu alaihi wa sallam mulai ragu turun firman Allah agar tidak menerima tawarannya. Tapi, apakah dengan begitu dakwah Rasulullah shallahu alaihi wa sallam terhenti? Apakah dengan menyerang kekufuan mereka dakwah berhenti? Apakah dengan difitnah, ujian, diboikot dakwah berhenti? Apakah dengan bara' (menolak) kepada kaum kafir dakwah terhenti? Justru dengan hal-hal di atas, Islam semakin berkembang, Islam semakin justru Islam semakin eksis. Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orangorang yang kafir tidak menyukai (QS. At Taubah [9] : 31-32) Kaum muslimin di Indonesia diprovokasi untuk berpikir sekuler-liberal, sebagian dari budaya global. Bahkan kaum muslimin didorong untuk meninggalkan cara berpikir tauhid, yang mengakui Al-Quran sebagai kitab suci yang valid dan mukjizat, dan hanya mengakui Islam sebgai satu-satunya agama yang benar. Dalam Maalim fii Thariq (Petunjuk Jalan), Sayyid Quthb menguraikan tentang hakikat Islam Peraturan Allah, pada hakikatnya, adalah lebih baik, karena itu termasuk syariat Allah. Kapan pun, syariat yang dibuat oleh manusia tak akan dapat menyamai syariat Allah. Akan tetapi, ini bukan landasan dawah. Landasan dawah adalah menerima syariat Allah apa adanya dan

menolak syariat lain apa pun wujudnya. Beginilah Islam, pada hakikatnya. Islam tidak memiliki makna lain selain makna ini. "Maka , tidak perlu kita mencari-cari aturan-aturan lain, kita cukup bangga menjadi muslim Maka apakah mereka mencari din selain din Allah, padahal kepada Allahlah mereka berserah diri." (QS. Ali-Imran [3] : 83) "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada din(Allah)yang hanif (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Ar-Rum [30] : 30) Surat Al-Baqarah ayat 217 yang dikutip pada awal tulisan di atas menegaskan bahwa mereka akan terus memerangi kita, sampai din itu tidak ada pada diri kita satu persatu. Dalam din mencakup aqidah, maka sedikit demi sedikit, aqidah kita dirusak. Di dalam din mencakup akhlak, dari situlah mulai yaruddukum andinikum. Semakin malu dengan identitas keislaman, di dalam din itu ada syariat, yaruddukum andinikum, semakin malu dengan syariat, anti terhadap penegakan hukum Islam, dalam din itu ada Islamic Wordview, mulai bangga dengan Liberalisme, Hermeneutika, Humanisme dan pada akhirnya seperti yang pernah disampaikan Allahu yarham Ustadz Rahmat Abdullah , nggak bangga lagi dengan Islam nggak bangga lagi dengan produk tarbiyah, bangganya dengan sana, sana, sana. Dan memang itulah yang dituju mereka. Pertanyaannya apakah kita, kawan-kawan kita, saudara kita akan terjebak dengan makar mereka? Disinilah para dai berperan besar. Muhammad Rizki Utama Mahasiswa Arsitektur Institut Teknologi Bandung rizkilesus.wordpress.com SEPULUH JALAN PENGHAPUS DOSA Diantara jalan bagi penghapus dosa bagi seorang muslim dan mukmin, diantaranya, pertama, membaca istighfar (memohon ampun), kedua, taubat, ketiga, mengerjakan amal-amal kebaikan yang menghapuskan dosa, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya :


"Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatanperbuatan yang buruk. Itlah peringatan bagi orang-orang yang ingat". (QS : Hud :114) Keempat, berbagai musibah yang menimpa diri manusia yang lemah karena dosa yang telah dilakukannya. Yang paling berat adalah musibah yang mengantarkannya pada kematian dan yang paling ringan adalah duri yang menusuk dirinya serta teriknya sinar matahari yang menyengat. kelima, doa orang-orang mukmin shalih yang diperuntukkan bagi yang bersangkutan. Keenam, kerasnya rasa sakit saat meregang nyawa dan kesulitan yang dialami oleh orang yang bersangkutan saat menghadapi kematiannya yang kepedihan dan rasa sakitnya tak terperikan. Semoga Allah meringankan penderitaannya bagi diri kami dan juga bari diri anda pada saat yang kritis itu. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ketujuh, Adzab khubur. Tahukah anda apakah adzab khubur itu? Adzab khubur pasti akan mencabut kalbu orang-orang yang mengesakan dan pasti akan terasa hampir melayangkannya, jika mereka mempunyai sedikit keyakinan tentangnya. Kedelapan, ketakutan yang sangat pada hari menghadap kepada Allah Taala pada hari Kiamat nanti. Itulah saat kita keluar dari khuburan kita dalam keadaan menangis karena berdosa seraya memilkul semua kesalahan dan kedurahakaan yang telah kita lakukan, lalu kita datang untuk dihadapkan kepada peradilan Allah Taala. Kesembilan, syafaat Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, syafaat para wali, dan syafaat orang-orang yang shalih. Sesungguhnya hal ini telah dinyatakan kebenarannya oleh kalangan ulama ahli sunnah. Sepuluh, rahmat dari Yang Maha Penyayang diantara para penyayang. Saat semua rahmat telah habis, semua pintu telah tertutup, dan habislah semua kemampuan para hamba. Saat itulah datang pertolongan dari Allah Yang Maha Esa lagi Maha Membalas dan datanglah rahmah dari Allah Taala, lalu Dia merahmati, menolong, dan menyayangi. Maka rahmat-Nyaadalah akhir dari segalanya,yaitu rahmat dari Yang Maha Penyayang diantara para penyayang. Selanjutnya Ibn Taimiyah mengatakan, bahwa barangsiapa yang terlewatkan dari sepuluh macam penghapus dosa ini, maka sesungguhnya dia pasti masuk neraka dengan sebenarnya, karena sesungguhnya dia telah lari dari Allah seperti unta yang lari dari pemilikinya dan dia telah pergi dari Allah, sebagaimana seorang budak pembangkang yang pergi dari tuannya.