Вы находитесь на странице: 1из 78

Ir. M. Lukman,MT.

Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
1
1. Bunga Sederhana
Konsep pemajemukan uang dengan sistem ataui metode bunga uang sederhana adalah besarnya
bunga yang harus dibayarkan atas pengembalian pinjaman bersifat proporsional terhadap periode
waktu dikalikan dengan jumlah pokok uang yang dipinjam. Perhitungan bunga sederhana dihasilkan
dapat diperoleh melalui cara berikut;
1. Pendapatan pemajemukan atas bunga sederhana I
2. Jumlah pokok modal atau uang yang dipinjamkan P.,
3. Periode waktu peminjaman n.
4. Tingkat suku bunga yang berlaku atau telah disepakati.

maka pendekatan rumusan matematika pembayaran atas bunga per periode adalah sebesar ,
(3.1)
Dimana:
I = Pendapatan atas bunga sederhana
P = jumlah pokok modal atau uang yang dipinjamkan
n = lama periode waktu peminjaman
i = tingkat suku bunga

Jika mendapat pinjaman 1 M (P), dg perjanjian bunga 12 %/tahun atau 1% (i) /bulan harus
dibayarkan /bulan (n), bunga dibayarkan oleh peminjam,Berapa Pendapatan atas bunga

1.000.000.000 *1*0,01= Rp10.000.000/bulan.
Keuntungan terbesar adalah dari peminjaman


1.000.000.000 *0,01=10.000.000.

Sedangkan pendekatan rumus pendapatan total atas bunga adalah sebesar,


Dimana:
I
t
= Pendapatan total, pokok ditambahkan bunga sederhana
P = jumlah pokok modal atau uang yang dipinjamkan
n = lama periode waktu peminjaman
i = tingkat suku bunga
Sebagai gambaran bunga sederhana adalah, jika Ari Meminjam uang kepada Kepada Burhan,
sejumlah Rp. 1000.000,-selama setahun, dengan perjanjian tingkat suku bunga sederhana sebesar 20%
per tahun. Pada akhir tahun Ari harus membayar kepada Burhan bunag uang sebesar I:
(3.1)

I = Pni.
I
t
= P+Pni.
I = Pni.
I = Pni.
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
2

Dimana:
I = Pendapatan atas bunga sederhana
P = jumlah pokok modal atau uang yang dipinjamkan
= Rp 1 Juta
n = lama periode waktu peminjaman
= 1 tahun
i = tingkat suku bunga
= 20% per tahun
maka besarnya bunga yang harus dibayar tiap akhir tahun, kita masukkan kedalam rumus 3.1
I = 1.000.000 (1) (0,10) = 100.000,-
Nilai bunga uang yang harus dibayar oleh Ari kepada Burhan, adalah sebesar Rp 100.000,- dan
akan jatuh tempo tiap akhir tahun, umumnya besarnya bunga sederhana per periode waktu adalah
tergantung kesepakatan. Bunga sederhana dihitung hanya dari sejumlah pokok uang pinjaman tanpa
memperhitungkan bunga yang telah diakumulasikan pada periode sebelumnya Contoh lain untuk kasus
bunga sederhan seperti dalam tabel 3.1.A.

Tabel 3.1 A. Kalkulasi Bunga Sederhana Dibayar Sampai tahun ke Empat
Akh
ir
Tah
un
Jumlah
Hutang Pada
Awal Tahun
(Rp)
(B)
Bunga Yang
Harus Dibayar
, tiap akhir
tahun (Rp)
(C)
Jumlah
Hutang
Pada Akhir
Tahun (Rp)
(D)=(B)+(C)
Jumlah Yang Harus
Dibayar oleh si
Peminjam Pada
Akhir Tahun ( Rp)
(E)
1
1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 1,100,000.00
2
100,000.00 1,200,000.00 1,200,000.00
3
100,000.00 1,300,000.00 1,300,000.00
4
100,000.00 1,400,000.00 1,400,000.00

Contoh lain dapat dilustrasikan sebagai berikut, seorang pengusaha Usaha Kecil Menengah ( UKM) di
bidang usaha keramik di daerah Dinoyo, membutuhkan modal tambahan Rp.10.000.000,- untuk
pembuatan oven pembakar keramik baru. Dana pinjaman adalah dari koperasi dengan bunga
sederhana sebesar 10% per tahun dengan periode peminjaman selama 4 tahun dan akan dibayar
semuanya pada akhir tahun ke-4. Berapa besarnya hutang yang harus dibayar oleh pengusahatersebut
pada akhir tahun ke 4?
Penyelesaian adalah jumlah yang harus dibayar adalah induk sebesar Rp. 10.000.000,- dan
bunga sederhana sebesar 10%, selama 4 tahun sebesar:
I = Rp. 10.000.000 + (Rp 10.000.000 x 10% x 4)
= Rp. 14.000.000
Jadi yang harus dibayar pada akhir tahun keemmpat oleh pengusaha UKM ke Koperasi adalah sebesar
Rp. 14.000.000,-. Uang tersebut akan digunakan untuk pembuatan oven keramik baru, karena oven
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
3
yang lama telah rusak Bila dibuat dalam bentuk tabel maka perhitungan di atas dapat ditabulasikan
seperti Tabel 3.1.B dibawah ini:

Tabel 3..1.B Perhitungan bunga sederhana
Akhir
Tahun
Jumlah
dipinjam
(Rp)
Bunga akhir
tahun, (Rp)
Jumlah
Hutang akhir
tahun, (Rp)
Total
Jumlah
dibayar,
(Rp)
1 10.000.000 1.000.000 11.000.000
2 1.000.000 12.000.000
3 1.000.000 13.000.000
4 1.000.000 14.000.000 14.000.000




12 Oktober 16 Oktber
lukmanumm@yahoo.co.id
Subject+ kepala lampiran
MK, Kelas, Tugas Ke, nama-nim
Akhir
Tahun
Jumlah
dipinjam
(Rp)
Bunga akhir
tahun, (Rp)
Jumlah
Hutang akhir
tahun, (Rp)
Total
Jumlah
dibayar,
(Rp)
1
300.000
*12=3600.000
360.000 3.960.000

2
300.000
*12*2=7200.0
00+360.000
=7560.000
756.000
3
300.000
*12*3=3600.0
00
1.000.000 13.000.000
4 1.000.000 14.000.000 14.000.000




Tampak dari tabel tersebut bahwa besarnya bunga pada tiap periode adalah sama sebesar Rp. 1.000.000
karena yang berbunga hanyalah induknya yang besarnya Rp. 10.000.000.

2.Bunga Majemuk
Konsep bunga majemuk atas uang adalah didasarkan juga pada konsep model pinjam meminjam
uang. Pada bunga majemuk besarnya pemajemukan atau bunga atas uang, harus dibayarkan tiap akhir
periode pengembalian pinjaman dan ditambah dengan total bunga dan pokok pinjaman periode
sebelumnya. Pada bunga majemuk pokok pinjaman setiap tahun adalah bertambah besar nilainya.
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
4
Faktor pemajemukan (Compounding) adalah suatu proses matematis penambahan bunga pada pokok
pinjaman sehingga terjadi penambahan jumlah pokok pinjaman pada akhir periode mendatang.
Rumusan matematika perhitungan bunga majemuk per periode adalah ,
I
n
= P (1 + i)
n
(3.1)
Dimana:
I
t
= Pendapatan total, pokok ditambahkan bunga majemuk pada periode ke n
P = jumlah pokok modal atau uang yang dipinjamkan
n = lama periode waktu peminjaman ( atau dinotasikan dengan t)
i = tingkat suku bunga
Sebagai gambaran Kasus pinjam-meminjam antara Burhan dan Ari, selama 4 tahun dengan
perjanjian mengunakan bunga sederhana, besarnya pinjaman pada awal tahun pertama adalah
Rp1.000.000,- dengan perjanjian atau kesepakatan awal ketentuan bunga pinjaman adalah sebesar
10% per tahun, dan perjanjian berikutnya bahwa Burhan akan mengembalikan uang kepada Ari, saat
jatuh tempo pada akhir tahun keempat, maka perhitungan dapat dilihat dalam Tabel 3.1.A
Pada Kasus bunga majemuk, diberikan gambaran perjanjian hutang antara Burhan dan Ari
mengunakan bunga majemuk. Besarnya pinjaman pada awal tahun pertama adalah sebesar
Rp1.000.000,- dengan perjanjian atau kesepakatan awal bunga pinjaman adalah sebesar 10% per tahun,
dan perjanjian berikutnya bahwa Burhan akan mengembalikan uang kepada Ari, saat jatuh tempo pada
akhir tahun keempat, atau bisa dibayar total pada akhir tahun keempat. Jumlah yang harus dibayar oleh
Burhan pada akhir tahun keempaat adalah sebesar Rp 1,464,100.00,- dan detail perhitungan dapat
dilihat dalam Tabel 3.1.B. Faktor bunga majemuk adalah identik dengan mengalikan faktor bunga
dengan periode waktu. Jika periode waktu pengembalian lebih dari setahun maka faktor pengali
merupakan faktor pangkat dari faktor bunga. Misalnya dengan bunga 10%, maka faktor pengali bunga
adalah sebesar (1.1)
n
. dimana n merupakan pangkat dan besarnya adalah identik dengan periode tahun
pengembalian. Sehingga dari faktor perkalian ini disebut bunga majemuk. dan faktor pengali ini
disebut faktor pemajemukan (compounding) adalah suatu faktor pengali matematis penambahan bunga
pada pokok pinjaman, sehingga terjadi penambahan jumlah terhadap pokok pinjaman secara nominal
pada akhir periode mendatang. Peminjam yang tidak dapat melunasi hutang-hutangnya dalam sistem
bunga majemuk, maka peminjam akan terlilit dengan hutangnya tersebut.




Tabel 3.1 C. Kalkulasi Bunga Majemuk Bila Bunga Dibayar Tiap Tahun
Akh
ir
Tah
un
Jumlah
Hutang Pada
Awal Tahun
(Rp)
Bunga
Yang
Harus
Dibayar
(Rp)
Jumlah
Hutang
Pada Akhir
Tahun (Rp)
Jumlah Yang Harus
Dibayar oleh si
Peminjam Pada
Akhir Tahun ( Rp)
1
1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 1,100,000.00
2
1,100,000.00 110,000.00 1,210,000.00 1,210,000.00
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
5
3
1,210,000.00 121,000.00 1,331,000.00 1,331,000.00
4
1,331,000.00 133,100.00 1,464,100.00 1,464,100.00




Pertanyaan:
1. Jelaskan suku bunga
2. Jelaskan suku bunga sederhana
3. Jelaskan suku bunga majemuk
4. Jelaskan perbedaan suku bunga sedeerhana dan majemuk











3.Suku Bunga Efektif
Secara umum dasar penggunaan tingkat suku bunga yang berhubungan dengan pemajemukan
adalah dinyatakan atas dasar periode satuan waktu setahun. Tetapi bisa juga tingkat suku bunga satuan
waktunya dirubah ke dalam satuan waktu : harian, mingguan, bulanan, tiga bulanan, empat bulanan,
lima bulanan atau satuan waktu lainnya sesuai dengan kesepakatan yang dibuat misalnya tiap panen
padi. Suku bunga tersebut dikenal dengan suku bunga aktual atau efektif , dan periode majemukkan
tiap periode tersebut. Misalnya suku bunga tabungan di Suatu Bank dilakukan harian, disebut suku
bunga tabungan efektif harian. Atau suku bunga deposito per tiga bulanan menggunakan suku bunga 6
%, artinya suku bunga efektif yang digunakan adalah periode tiap tiga bulanan. Hubungan matematis
antara tingkat suku bunga efektif per periode interval waktu yang disepakati dengan tingkat suku bunga
nominal per periode satu tahun, dinotasikan dengan :

r = tingkat suku bunga nominal per tahun
i = tingkat suku bunga efektif dalam interval waktu yang disepakati
l = jangka interval waktu (dalam tahun)
m = lama waktu jangka periode majemuk (dalam tahun)
Tingkat suku bunga efektif untuk periode interval waktu yang telah disepakati dinotasiakn secara
matematis sebagai berikut:
i = 1
m
r
1
m 1
|
.
|

\
|
+

(3.1a)
Jika bunga majemuk hanya sekali dalam interval waktu, maka nilai 1 m = 1, sehingga mengahsilkan
persamaan:
i =
m
r
(3.1b)
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
6
Untuk menghitung nilai besarnya tingkat suku bunga efektif, i%, pada interval waktu yang telah
disepakati, sebagai berikut :
i = 1
m
r
1
m 1
|
.
|

\
|
+

, c >1 (3.1c)
dimana c adalah jumlah periode yang dimajemukkan dalam interval waktu (c = 1 x m). Jika
nilai, c = 1, maka persamaan (3.1c) akan mengurangi Persamaan (3.1b), dapat digunakan untuk
mencari bunga efektif per periode pemajemukan. Misalnya bila tingkat suku bunga nominal tabungan
atau deposito adalah sebesar 9% majemuk tahunan, maka tingkat bunga efektif per periode satu
bulanan pemajemukan adalah:
i = 0075 , 0
12
09 , 0
= atau 0,75%
Bila c > 1, tingkat bunga efektif didapat dari Persamaan (3.16) untuk interval waktu kapanpun.
Berikut adalah beberapa contoh:
1. Tingkat nominal 10% majemuk bulanan dengan interval waktu satu tahun (c = 12), maka
bunga efektif setahun adalah
i = 1
12
10 , 0
1
12
|
.
|

\
|
+

i = 0.104713
i = 10,4713 % per tahun
2. Bunga nominal 10% majemuk mingguan dengan interval waktu satu tahun (c = 52), maka
bunga efektif tahunan adalah sebesar
i = 1
52
10 , 0
1
52
|
.
|

\
|
+
i = 0.105065

3. Bunga nominal 10%, majemuk bulanan dengan interval waktu enam bulan (c = 6)
i = 1
6
14 , 0
1
6
|
.
|

\
|
+

i = 0.10426
4. Bunga nominal 10% majemuk mingguan dengan interval waktu 6 tahun ( 4 *12 *6) (c = 288)
i = tahun enam per 5,12% atau ...... 0 , 0 1
288
10 , 0
1
26
= |
.
|

\
|
+
Contoh, Bila uang sejumlah Rp 20juta dipinjamkan kepada anggota koperasi Keramik dan
dibayar kembali 3 tahun kemudian dengan sistem pembayaran tunggal, F , dengna tingkat bunga
sebesar 6% (gambar grafis arus kas dalam Gambar 3.10).
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
7
Penyelesaian dari soal diatas dengan asumsi pola periode waktu yang berbeda-beda. Untuk tingkat suku
bunga 6% majemuk tiga bulanan periode waktu sebagai berikut:







Gambar 3.10 Arus kas peminjaman
Tahunan i=6,157% per tahun, n = 3 tahun, F = 20.000.000 ( )
3 , 167 , 5 , P / F
967 , 1
Tiga bulanan,i= 1,507% per tiga bulanan, n = 12 tiga bulanan, F = 20.000.000 ( )
12 , 507 , 1 , P / F
967 , 1
Bulanan ,i= 6%/12 = 0,5% per bulan, n = 36 per bulan, F = 20.000 (1,967)

Sebagai contoh tingkat suku bunga efektif dengan tingkat suku bunga tahunan nominal 18%
pertahun ddilakukan analisa pemajemukan tiap periode: secara tahunan, setengah tahunan, tiga
bulanan, bulanan, mingguan, harian dan terus-menerus seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 3.7.
Tabel 3.7 Besarnya Tingkat suku bunga tahunan efektif untuk beragam periode
majemuk pada bunga nominal 18%
Frekuensi
Majemuk
Jumlah
Periode
Per
Tahunan
Tingkat Suku
Bunga Efektif
per Periode
Tingkat Suku
Bunga Tahunan
Efektif
Tahunan
Setengah tahunan
Tiga bulanan
Bulanan
Mingguan
Harian
Terus-menerus
1
2
4
12
52
365

18,0000 %
9,0000
4,5000
1,5000
0,3642
0,0493
0,0000
18,0000%
18,8100
19,2517
19,5618
19,6843
19,7142
19,7217










Tahunan 1 2 3
F
Tiga bulanan 4 8 12

Bulanan 12 24 36
20juta
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
8
4.Dasar Ekivalensi Rumus-rumus Bunga Majemuk
Faktor pemajemukan/penggandaan (compounding), dengan rumus I
n
=P(1+i)
n
, merupakan dasar
dari ekivalensi rumus bunga majemuk, sehingga karena uang memiliki nilai waktu, maka dapat
dilakukan ekivalensi tiap periode waktu antara lain:
1. Waktu Sekarang ( Presenth,P)
2. Waktu Yang akan Datang (Future,F)
3. Waktu Telah Lalu









Menurut cara pembayaran dapat digolongkan menjadi
1. Pembayaran tunggal
2. Pembayaran secara Seragam tiap akhir periode/ cicilan (Annuited,A)
3. Pembayaran Gradien naik atau Turun (gradien,G)
P
t, time (n)
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
9
Dari kedua hubungan ini dapat digambarkan secara grafis menjadi









Gambar Hubungan Nilai Waktu Uang dan Metode Pembayaran

Penjelasan gambar adalah jika kita merencanakan investasi dari sejumlah pokok uang atau
modal, maka analisa ekonomi teknik dapat dilakukan untuk menghitung nilai pokok investasi tersebut
dengan konsep paerhitungan akan datang atau nilai sekarang. Misalnya Arif akan merencanakan
melakuan investasi sebesar Rp 100.000.000,- pada akhir tahun ini (jika tingkat suku bunga yang
digunakan sebagai dasar perencanaan adalah 20% per tahun) dari analisa ekonomi teknik muncul
beberapa pertanyaan: Berapakah jumlah uang Arif pada akhir tahun kelima akan datang? Bagaimana
cara pembayaran uang tersebut pada akhir tahun ke lima, dapatkah uang Arif dibayarkan tiap tahun
setelah tahun pertama dilewati? Apakah perencanaan Arif itu memberikan keuntungan?. Dari
penjelasan konsep grafis tersebut maka dapat dikatakan bahwa pada investasi uang dapat dilakukan :
1.Pemajemukan atau (Compounding)
2. Diskonting (Discounting).
Faktor pemajemukan (Compounding) adalah suatu proses matematis penambahan bunga pada
induk sehingga terjadi penambahan jumlah induk secara nominal pada periode mendatang.
Pemajemukan adalah suatu alat untuk mendapatkan nilai yang ekuivalen pada suatu periode mendatang
dari sejumlah uang pada saat ini bila tingkat bunga yang berlaku diketahui.










Gambar 3.6 Ilustrasi pemajemukan (a) dan diskonting (b)
Proses yang kebalikan dari pemajemukan adalah proses untuk menentukan nilai sekarang
dari sejumlah uang yang nilainya telah diketahui pada periode mendatang, disebut dengan dikonting

0 1 2 3 n
Pemajemukan
Mencari future worth
(a)

0 1 2 3 a
Diskonting
Mencari present worth
(b)
P
A F
(A/F, i%, N)

(F/A, i%, N)
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
10
(discounting). Proses diskonting adalah lawan dari proses pemajemukan. Dari diskontiong dan
pemajemukan akan dapat dialakukan analisa :
1.Nilai sekarang dari suatu jumlah uang periode mendatang dinamakan Present Worth (PW)
2.Nilai ekuivalen di suatu saat mendatang ini disebut dengan istilah Future Worth (FW) dari
nilai sekarang.
Notasi-notasi ekivalensi proses pemajemukan nilai uang adalah sebagai baerikut:
i = tingkat suku bunga tahunan.
n = jumlah periode waktu investasi/ peminjaman .
P = jumlah pokok saat ini.
A = pembayaran berkala atau deret seragam yang besarnya sama tiap akhir periode,
sebagai bagian dari n pembayaran yang sama, dibuat pada awal tiap-tiap periode
bunga tahunan.
F = Besarnya nilai uang pada periode yang akan datang, selama n periode bunga
tahunan dari saat ini.
G = pembayaran secara berkala dengan niali semakin besar atau semakin kaecil dari satu
periode ke periode berikutnya.

Empat dasar penting sebagai pedoman dalam penurunan rumus pemakaian faktor bunga untuk
pembayaran tahunan antara lain;
1. Akhir satu tahun merupakan permulaan dari tahun berikutnya.
2. P adalah awal tahun pada waktu yang dianggap sebagai saat ini.
3. F adalah akhir tahun ke-n sejak waktu yang dianggap sebagai saat ini.
4. A terjadi pada akhir tiap tahun pada periode yang dipertimbangkan.











4.1 Penurunan Rumus Pembayaran Tunggal (mencari F bila diketahui P), (F/P, I, n) dan Faktor
JumlahMajemuk Pada Pembayaran Tunggal atau
Dasar penurunan rumus pemajemukan contohnya adalah seperti dalam tabel 3.2 dan tabel 3.3,
yang memberikan penjelasan berapa uang akan dibayar pada tiap akhir periode yang akan datang atau
dinotasikan dengan F
i
, atas sejumlah pokok hutang P yang diterima saat ini pada suku bunga i% ?.
Dengan menggantaikan notasi I
i
dengan F
i
dan I digantikan dengan P, maka langkah pendekatan
matematis dapat kita lakukan sebagai berikut:
1. Pembayaranpada akhir tahun pertama adalah
F
1
= P + bunga dari P
= P + Pi = P (1 + i)
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
11
dan , pada akhir periode 2 akan menjadi
F
2
= F
1
+ bunga dari F
1

= P (1 + i) + P(1 + i)
= P (1 + i)
2

berikutnya pada akhir periode 3 akan menjadi:
F
3
= F
2
+ F
2
i
= P (1 + i)
2
+ P(1 + i)
1

= P (1 + i)
3

dengan analogi di atas maka pada akhir periode ke N, jumlah uang tersebut akan menjadi:
F = P (1 + i)
N
(3.3)
Ringkasan Ilustrasi efek pemajemukan tersebut dapat ditunjukkan seperti pada Tabel 3.3
berikut:

Tabel 3.4 Faktor Jumlah-Majemuk Pembayaran Tunggal
Akhir
Tahun
Jumlah
Pada Awal
Tahun
Bunga
per akhir
Tahun
Jumlah Majemuk
Pada Akhir Tahun
1 P Pi P + Pi P (1+i)
1

2 P (+ i) P(1 + i)i P (1+i) + P(1+I) i P (1+i)
2

3 P (1+i)
2
P(1+i)
2
i P(1+i)
2
+ P(1+i)
2
i P (1+i)
3

4 P (1+i)
n-1
P(1+i)
n-1
i P(1+i)
n-1
+ P(n+I)
n-1
i =P (1+i)
n

= F
Dari tabel diatas dapat analisa kesimpulan tentang identifikasi faktor pengali jumlah-majemuk
pembayaran tunggal nilai saat ini P, dan nilai akan datang F, faktor pengali bunga majemuk tersebut
dinotasikan sebagai (
F/P, i, n
) atau identik dengan faktor pengali bunga (1+i)
n
. Faktor pengali bunga
majemuk lelbih dikenal sebagai faktor pemajemukan pembayaran tunggal (single payment compound
amount factor = SPCAF) dan akan menghasilkan jumlah F dari nilai awal sejumlah P setelah
dibungakan secara majemuk selama N periode dengan tingkat i%, tiap akkhir periode. Secara
pendekatan matematis, SPCAF didefinisikan sebagai berikut:
F/P = P(1 + i)
N
(3.4)
Atau dinyatakan sebagai berikut:
F/P = (F/P, i%, N)
. F = P (
F/Pi, n
). (3.5)
Dapat diartikan adalah jika kita ingin mendapatkan nilai uang akan datang sejumlah, F , maka harus
menyetorkan sejumlah uang P, dengan tingkat suku bunga yang berjalan sebesar i% dan periode waktu
selama, N, (penulis lain ditulis dengan notasi t atau n).
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
12
Sebagai contoh: Seorang karyawan meminjam uang dibank dengan melalui kartu kredit, sejumlah uang
Rp1.000.000,- dengan bunga 10% per tahun dan akan dikembalikan sekali dalam 5 tahun mendatang.
Pertayaan (a) Gambarkan diagram alir kas.
(b) Hitunglah jumlah yang harus dibayarkan akhir tahun kelima dengan pendekatan rumus
matematis
(c) Hitunglah jumlah yang harus dbayarkan dengan pendekatan tabel.
Jawaban:
a. Gambar diagram alir kas dari persoalan tersebut adalah sebagai berikut:
b.





Gambar 3.7 Diagram alir kas
(b) Penyelesaian dengan rumus matematis adalah, diketahui P =Rp. 1.000.000,-besarnya bunga
majemuk , i = 10%, periode tahun pinjaman N = 5 tahun, maka :
F/P = (1 + i)
N

F = Rp. 1.000.000,- (1 + 0,10)
5

= Rp. 1.000.000 (1,10)
5

= Rp. 1.000.000 (1.61051)
= Rp. 1,610.100,-
(c) Penyelesaian dengan pendekatan tabel, lihat tabel bunga cari nilai bunga majemuk, i = 10%
untuk (F/P, i%, N) dan pada baris N = 5, pada tabel tersebut akan tampak angka 1,161
(Perhatikan cara melihat tabel seperti gambar 7.4 berikut.


i = 10%
Single Payment
N (F/P, i%, N)
1
2
3
4
5
6
-
-
-
N




1,1605




Nilai faktor F/P
yang dicari


0 1 2 3 4 5
F
Rp. 1 juta = P
Periode
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
13

Gambar 3.8 Cara melihat tabel faktor bunga
Dengan demikian maka nilai F adalah:
F = Rp. 1.000.000 (F/P, 10%, 5)
= Rp. 1.000.000 (1,1605)
= Rp. 1.160.500,-
Perbedaan angka antara metode matematis dan tabel adalah disebabkan karena pembulatan saja, dan
perhitungan menggunakan tabel faktor SPCAF adalah lebih mudah dilakukan.
Gambaran contoh kedua, misalnya pengusaha kecil keramik (UKM), akan membangun
oven keramik baru lihat gambar 2. , dengan nilai Rp 10 Juta dengan cara pinjam di Koperasi dengan
bunga majemuk. Tingkat suku buga i per tahun = 15%, berapa pokok dan bunga yang diakumulasikan
setelah akhir tahun ke empat atau n= 4 tahun, pengusaha harus membayar ke koperasi dan buat diagram
alirankasnya?
Jawaban, diagram arus kas untuk situasi itu diperlihatkan pada gambar 3.2.







Gambar 3.9 Jumlah saat ini dan jumlah yang akan datang
Penyelesaian dengan menggunakan tabel bunga , Jumlah uang yang diterima saat
ini,P=Rp10.000.000,- maka jumlah majemuk nilai hutang yang harus dibayar kan pada pada akhir
tahun ke-4 ke koperasi,F, adalah sebesar:
F = Rp10.000.000,- (1 + 0,15)
4

= 10.000.000 (1,7490)
= 17.490.000,-
4.2 Faktor Nilai Sekarang dari Pembayaran Tunggal (Menghitung P bila diketahui F) (P/F, i, n)
Kebalikan dari analisa perhitungan sub bab diatas, maka analisa ekonomi teknik pada sub
bab ini adalah jika nilai akan datang diketahui sebesar F, dan nilai saat ini akan dihitung besarnya, P.
Analisa ekonomi teknik menghitung P bila diketahui F, adalah menggunakan faktor pengali
pemajemukan pembayaran tunggal atau Single Payment Worth Factor atau SPPWF dapat dinyatakan
dengan notasi
n , i , F / P
) ( , artinya kita ingin menghitung sejumlah nilai uang sebesar yang akan diterima
saat ini P, dari nilai uang yang akan datang pada periode n sudah diketahui nilainya sebesar F.
Besarnya nilai suku bunga i% dan lama periode waktu sebesar n. Oleh karenanya, persamaan
pendekatan matematis adalah sebagai berikut:
P = F
(

+
N
) i 1 (
1
(3. 7)

1 2 3 n 1 n
...
P
0
F
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
14
P = F (P/F, i%, N) (3,8)
Atau
P = F
n , i , F / P
) (
Analisa grafis dengan diagram aliran kas dari faktor nilai sekarang digambarkan seperti dalam pada
gambar 3.10.





Gambar 3.10 Diagram aliran kas untuk mendapatkan P bila F diketahui

Pada dasarnya nilai faktor pengali majemuk antara single payment compound amount factor
SPCAF dan Single Payment Worth Factor, SPPWF adalah merupakan fungsi berbalik pada nilai bunga
i dan periode tahun N yang sama. Secara matematis hal ini dapat dirumuskan:
(F/P, i%, N) =
) N %, i , F / P (
1
(3.9)
atau
F/P =
F / P
1
(3.10)
Sebagai gambaran pada contoh kali ini adalah, Pak Fery ingin merencanakan tabungan pendidikan
bagi putra pertamanya yang saat ini kelas 2 SMP. Jika putranya ingin masuk perguruan tinggi
negeri (melalui Sistim seleksi Mahasiswa khusus) atau swasta.. Besarnya uang gedung diperkirakan
adalah sebesar Rp 10.000.000,- pada periode 5 tahun yang akan saat putra pertamanya lulus SMU.
Tentukanlah berapa banyaknya uang yang harus didepositokan pada saat ini agar 5 tahun lagi bisa
menjadi Rp. 10.000.000, bila diketahui tingkat bunga deposito adalah sebesar 10%, berkan diagram
aliran kas juga.
Jawaban , Untuk mendapatkan jawaban pertanyaan tersebut ada baiknya digambarkan lebih dahulu
diagram aliran kasnya sebagai berikut:


a. Diagram aliran kas

0 1 2 N-2 N-1 N
P = ?
F = diketahui

0 1 2 3 4 5
P = ?
i = 10%
F = Rp. 10 juta
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
15
b.




Gambar 3.11 Diagram alir kas dari soal di atas


(b) Jawaban dengan pendekatan matematis :
P
saatkelas 2 SMP
= F
(

+
N
) i 1 (
1

= Rp. 10.000.000
(

+
5
) 1 , 0 1 (
1

= Rp. 10 juta
(

1.61051
1

= Rp. 10 juta (0.620921)
= Rp. 6.209.210,-
Maka besarnya uang harus didepositokan periode waktu saat ini adalah sebesar Rp. 6.209.210,-

(c) Jawaban dengan pendekatan tabel, dari tabel dengan i = 10% dan periode tahun, N =5 tahun,
diperoleh nilai (P/F, 10%, 5) = 0,6209 sehingga hasilnya:
P = F
n , i , F / P
) (
= Rp 10.000.000 (0.6209)
= 6.209.000,-
maka Pak Fery harus mendepositokan uangnya saat ini sebesar Rp. 6.620.900,-.
Contoh kedua, Jika bapak Feri juga merencanakan membelikan sepeda motor Honda tiger baru
pada saat si anak masuk kuliah. Berapa jumlah yang harus diinvestasikan saat anak kelas 3 SMP, atau
didepositokan dari saat si anak kelas 3 SMP, pada bunga 10% majemuk tahunan sehingga uang yang
diterima pada akhir tahun keempat adalah sebesar Rp18.juta untuk membeli sepeda motor Honda Tiger
baru:
a. Diagram aliran kas

2SMP 3SMP 1SMA 2SMA 3 SMA Kuliah

i = 10%
F =
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
16
Gambar 3.12 Diagram alir kas Pembelian Honda Tiger
b. Jawaban dengan pendekatan matematis,
P
saatkelas3SMP
= 18.000.000 242 . 294 . 12 ) 683013 , 0 ( 000 . 000 . 18
) 1 , 0 1 (
1
4
= =
(

+


c. Jawaban dengan pendekatan tabel bunga,
P
saatkelas3SMP
= 18.000.000 12.294.000 ) 6830 . 0 (
4 , 10 , /
=
F P


Maka Pak Fery harus mendepositokan uangnya sebanyak Rp12.294.000, ketika putranya kelas 3 SMP.

4.3 Faktor Rangkaian Pembayaran Deret Seragam (Annuited), A
Jika kita mengamati proses usaha di Bank atau di lembaga keuangan lainnya adalah merupakan
kegiatan simpan pinjam atas sejumlah uang, secara umum ada tiga model metode transaksi pembayaran
:
1. Metode pembayaran tunai kontan atau tunggal (hanya dibayar sekali saja).
2. Metode pembayaran angsuran atau deret seragam (dibayar tetap selama periode waktusimpan
atau pinjam).
3. Metode pembayaran angsuran dengan nilai semakin kecil atau semakin besar dengan tingkat
pertumbuhan konstan.
Metode atau cara pembayaran transaksi simpan pinjam atau jual beli dengan nilai uang yang
setara atau deret seragam tiap akhir periode waktu disebut dengan deret seragam atau annuited
dinotasikan A,. Ada berbagai ekivalensi atau konversi pembayaran annuited diantaranya :
1. Faktor Rangkaian Pembayaran Setara Jumlah Majemuk (F/A, i, n)
2. Faktor Sinking Fund Rangkaian Pembayaran Berjumlah Sama atau Mencari Nilai A bila
diketahui F (A/F, i, n).
3. Faktor Pemulihan modal Deret Seragam (Mencari A bila diketahui P) (A/P, i, n)
4. Faktor Nilai Sekarang Deret Seragam (Mencari P bila diketahui A) (P/A, i, n)

4.4 Faktor Rangkaian Pembayaran Deret Seragam Jumlah Majemuk (F/A, i, n)
Faktor pemajemukan nilai uang sejumlah deret seragam (Uniform Series Compound Amound
Factor, USCAF), yaitu memberikan perhitungan sejumlah nilai uang yang akan diterima pada
periode waktu yang akan datang F, dari sejumlah pembayaran yang seragam nilainya tiap atau awal
Rp 18 Juta
P= ?
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
17
periode tahun dengan notasi ,A, selama periode waktu tertentu,n dan dengan bunga besarnya i
%. Analisa grafis berupa diagram alir kas yang menunjukkan deret seragam sebesar A selama N
periode dengan bunga i% ditunjukkan pada Gambar 3.7.






Gambar 3.13 Mencari F jika diketahui Deret seragam A
Analisa konsep dasar pendekatan matematis dari pambayaran transaksi deret seragam atau annuited,
adalah dapat dianalogikan, jika kita meminjam atau menabung sejumlah nilai uang yang besarnya sama
(A) setiap akhir atau awal tahun selama periode n tahun dari sekarang dengan bunga i% maka besarnya
pinjaman atau tabungan, pada akhir tahun ke n tersebut adalah:
F = A + A (1 + i) + A (1 + i)
2
+ .. + A (1 + i)
N-1
(3.11)
Dengan mengalikan kedua ruas dengan (1 + i) akan diperoleh:
F (1 + i) = A (1 + i) + A (1 + i)
2
+ A (1 + i)
3
+ . + A (1 + i)
N
(3.12)
Apabila kita mengurangkan persamaan (3.11) pada persamaan (3.12) maka akan
didapatkan:
F (1 + i) F = A ( 1 + i)
N
A
atau
F (1 + i 1) = A [(1 + i)
N
1]
F = A
(

+
i
1 ) i 1 (
N
(3.13)
atau
F/A =
(

+
i
i
N
1 ) 1 (
(3.14)
Faktor pengali sebesar
(

+
i
i
N
1 ) 1 (
ini dinamakan faktor pemajemukan deret seragam atau
Uniform Series Compound Amound Factor, USCAF dan notasi matematis yang praktis dapat ditulis
menjadi : (F/A, i%, N) =
i
1 ) i 1 (
N
+
(3.15)
atau
0 1 2 3 N-1 N
A A A A A
i%
F
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
18
F = A (F/A, i%, N) (3.16)
Contoh pertama, Jika Pak Feri tadi mulai menabung untuk kuliah si anak pada saat si anak kelas 2
SMP. Besarnya tabungan P. Fery adalah sebesar Rp. 10.000.000 tiap tahun selama 5 tahun dengan
bunga 10% per tahun, berapakah jumlah uang yang terkumpul pada akhir tahun ke lima pada saat si
anak masuk kuliah?
Jawaban:
a.Diagram aliran kas dari contoh ini ditunjukkan gambar sebagai berikut:







Gambar 3.14 Diagram aliran Tabungan P. Fery
b. Perhitungan besarnya nilai tabungan pada akhir tahun ke lima ( pada saat anak masuk kuliah) (
perhitungan menggunakan tabel bunga)
F = A (F/A, i%, n)
= Rp. 10.000.000 (F/A, 10% , 5)
= Rp.10.000.000 (6,1051)
= Rp. 61.051.000,-
Jadi, pada akhir tahun kelima jumlah uang yang dimiliki P. Fery untuk kuliah si Anak adalah sebesar
,F ddimana F = Rp. 61.051.000,-





Gambar 3.15 Rangkaian tahunan berjumlah sama dan jumlah tunggal yang akan datang

Tabel 3.4 Jumlah Majemuk Dari Serangkaian Pembayaran Akhir Tahun dengan
deret seragam dengna nilai yang sama sebesar A
Akhir
Tahun Ke
Pembayaran
Akhir Tahun
Deret Seragam,
A
Jumlah
Majemuk Pada
Akhir Tahun
Total Uang pada
akhit tahun
kelima
mendatang

0 1 2 3 i=10 % 4
Rp10 juta=A A A
F
A
1
A
2
A
3
A
4
A A
9
A
10
= Rp. 10.000.000
i = 10%
F = ?
0
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
19
1 10.000.000 (1,10)
5
16,105,100.00
2 10.000.000 (1,10)
4
14,641,000.00
3 10.000.000 (1,10)
3
13,310,000.00
4 10.000.000 (1,10)
2
12,100,000.00
5 10.000.000 (1,10)
1
11,000,000.00 67,156,100.00
Faktor yang memberi hasil, [(1 + i)
n
1]/i, dikenal sebagai faktor jumlah majemuk rangkaian
pembayaran berjumlah sama dan dinotasikan sebagai
n , i , A / P
) ( , Faktor pemajemukan
n , i , A / P
) ( dapat
digunakan untuk mendapatkan jumlah majemuk, F, dari rangkaian pembayaran berjumlah sama, A.
Sebagai contoh kedua, Ibu Julia, memiliki seorang putra saat ini umur 2 tahun. Ibu akan
merencanakan keuangan saat putranya harus dapat masuk ke Sekolah Dasar favorit, yang terkenal
mahal sumbangan uang gedungnya. Jika cara mengumpulkan uang adalah dengan menabung di sebuah
Bank swasta terkenal dan dibayarkan tiap tahun setelah mendapatkan THR, dari perusahaannya dia
bekerja sebesar Rp. 5 Juta per tahun, berapakah jumlah uangnya pada akhir tahun kelima setelah si
putra lulus sekolah TK, jika suku bunga deposito Bank tersebut adalah sebesar 12% per tahun?
Jawaban:
a. Dengan Rumus
F = Rp 5.000.000 ) 353 , 6 ( 000 . 000 . 5
12 , 0
1 ) 12 , 0 1 (
5
=
(

+

= Rp 31.765.000,-




b. Dengan Tabel Bunga
Dengan menggunkan pendekatan faktor tabael bunga, didpat faktor pemajemukan sebesar
5 , 12 , /
) 353 , 6 (
A F
maka penyelesaiannnya adalah .
F = 5.000.000
5 , 12 , /
) 353 , 6 (
A F

= Rp 31.765.000,-

Jadi total uang yang didapatkan olEh Ibu tersebut adalah sejumlah Rp 31.765.000,- pada akhir
tahun kelima.




0 1 2 3 i=12 % 4 5
Rp 5 juta=A A A A
F=31JT
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
20






Gambar Diagram Aliran Kas Tabungan Ibu Julia Untuk Si Putra Saat Masuk SD

4.5 Faktor Sinking Fund Rangkaian Pembayaran Berjumlah Sama atau Mencari Nilai A bila
diketahui F (A/F, i, n)
Faktor pemajemukan dalam materi sub bab ini secara matematis adalah konversi nilai keuangan
dengan kebalikan dari USCAF di atas, tujuannya adalah mencari besarnya angsuran atau tabungan
yang harus disetor tiap periode akhir waktu jika nilai F, i dan n telah diketahui besar nilainya.
Pendekatan konversi matematis dari persamaan (3.13) adalah sebagai berikut :
A = F
(

+ 1 ) i 1 (
i
N
(3.17)
Atau
A/F =
(

+ 1 ) i 1 (
i
N
(3.18)
Persamaan (3.18) adalah merupakan faktor pemajemukan deret seragam pemajemukan rangkaian
dana tenggelam pada pembayaran berjumlah sama dan ditunjukkan sebagai faktor jumlah majemuk
rangkaian pembayaran berjumlah sama (Uniform Series Sinking Fund Factor = USSFF). Atau
persamaan matematisnya lebih dikenal dengan persamaan:
(A/F, i%, N) =
(

+ 1 ) i 1 (
i
N
(3.19)
atau
A = F (A/F, i%, N) (3.20)

Hasil dari persamaan ini adalah untuk analisa perhitungan besarnya uang yang harus dibayarkan
tiap periode waktu A bila nilai sejumlah nilai uang yang akan diterima atau dibayarkan pada periode
yang akan datang atau F, i dan N diketahui lebih dahulu. Hubungan jumlah majemuk rangkaian
pembayaran berjumlah sama pada dengan faktor pemajemukan, i/[1 +
i
]
n
1], dikenal sebagai faktor
pemajemukan rangkaian dana tenggelam pembayaran berjumlah sama dan ditunjukkan sebagai faktor
jumlah majemuk rangkaian pembayaran berjumlah sama
n , i , F / A
) ( .
Contoh pertama, Seorang karyawan PT. Indo Astro ingin memiliki mobil Suzuki APV baru, ada
tawaran dari sales mobil dia bisa memiliki secara kredit dengan jaminan dari perusahaannya. Dengan
jaminan tersebut sehingga karyawan tidak usah membayar uang muka atau down payment, tetapi yang
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
21
harus dibayar adalah besarnya angsuran atau cicilan perbulan langsung dari potong gaji. Jika angsuran
adalah selama periode 10 tahun dengan suku bunga pinjam sebesar 20% per tahun, dan harga Suzuki
APV setelah dihitung oleh kreditor dihitung nilai pada saat akhir tahun ke 10 yang akan datang atau
nilai F, adalah sebesar Rp. 150 juta. Berapa besarnya angsuran tiap tahunnya yang harus dibayar
karyawan tersebut?
Jawaban :
a. Penyelesaian dengan pendekatan menggunakan diagram aliran kas dari persoalan ini digambar
sebagai, nilai A adalah besarnya angsuran perakhir periode dan nilai konversi F, sebesar Rp 150
juta yang dilakukan pada periode akhir tahun ke 10, adalah berikut:
b.






Gambar 3.16 Diagram alir kas soal di atas


b. Penyelesaian dengan pendekatan menggunakan tabel bunga dari persoalan ini digambar sebagai,
nilai A adalah besarnya angsuran perakhir periode dan nilai konversi F, sebesar Rp 150 juta yang
dilakukan pada periode akhir tahun,n ke 10, dan faktor pemajemukan sebesar (A/F, i%, n), adalah
sebagai berikut :
A = F (A/F, i%, n)
= Rp. 150 juta (A/F, 20%, 10)
= Rp. 150 juta (0,0385)
= Rp. 5.775.000 per akhir periode tahun
Jika dibayarkan tiap bulan tanpa menghitung bunga efektif maka karyawan akan membayar
hanya sebesar Rp 5.775.000 / 12 bulan = Rp 481.250 / bulan, sungguh jumlah angsuran yang sangat
meringankan karyawan PT Indo Astro

4.6 Faktor Pemulihan modal Deret Seragam (Mencari A bila diketahui P) (A/P, i, n)
Pendekatan matematis dari faktor pemajemukan mencari A jika diketahui besarnya nilai
uang saat ini atau P, adalah kebalikan dari USPWF, yaitu untuk mengkonversikan suatu nilai sekarang
yangidketahui besarnya atas nilai seragam pada suatu periode tertentu (n) bila tingkat bunga diketahui
sebesar i%. Atau mencari besarnya pembayaran tiap akhir periode waktu selama n periode, jika
diketahuii besarnya i dan n dan P. Faktor yang menghasilkan, i(1 + i)
n
/ [(1 + i)
n
1], dikenal
sebagai faktor pemulihan modal rangkaian pembayaran berjumlah sama (Uniform Series Capital
Recovery Factor = USCRF) atau faktor amortisasi dan bisa juga dinyatakan dengan dan ditunjukkan
A A A A A A A A A = ?
1 2 3 4 5 i = 20% 7 8 9 10
Rp. 150 juta
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
22
sebagai Faktor A/P =
(

+
+
1 ) i 1 (
) i 1 ( i
N
N
atau dalam tabael bunga dikenal dengan
n , i , P / A
) ( . Dari persamaan
(3.21) di atas maka kita bisa menulis:
A = P
(

+
+
1 ) i 1 (
) i 1 ( i
N
N
(3.25)
atau
A/P =
(

+
+
1 ) i 1 (
) i 1 ( i
N
N
(3.26)
:
(A/P, i%, N) =
(

+
+
1 ) i 1 (
) i 1 ( i
N
N
(7.27)

atau
A = P (A/P, i%, N) (7.28)
Contoh pertama, seorang manajer produksi dari sebuah industri yang berkembang membutuhkan
sebuah kendaraan sedan dengan harga saat ini adalah Rp.200 juta, digunakan untuk operasional
manajer. Kendaraan tersebut akan dibeli dengan cara kredit selama 5 tahun dan dibayar tiap akhir
tahun dengan jumlah angsuran yang sama sebesar A. Dari Bank sebagai pihak kreditor memberi
batasan jumlah maksimum nilai kredit yang diberikan adalah 75% dari Rp 200 juta. Bila bunga
pinjaman yang berlaku adalah 25% per tahun, berapakah besarnya angsuran yang harus dibayar tiap
tahun?
Jawaban:
a.Diagram Aliran Kas









Gambar 3.17 Pembayaran tahunan berjumlah sama, A dari jumlah sekarang tunggal,P.
b. Penyelesaian dengan tabel bunga untuk mencari besarnya angsuran, Jika batas maksimum kredit
adalah 75% x Rp. 200 juta =Rp.150 juta. Besarnya angsuran tiap tahun adalah
A = P (A/P, i%, N)

0 1 2 3 n 1 n
A A A A A
P
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
23
= Rp. 150 juta (A/P, 25%, 5)
= Rp. 150 juta (0,3718)
= Rp. 55,770,000.00 juta/ tahun
Jika cicilan dibuat per bulan tanpa memperhitungkan nilai bunga efektif per bulan maka besarnya
angsuran adalah Rp. 55,770,000.00 juta/ 12 bulan =Rp4,647,500.00,- tiap bulan.
Contoh kedua, Pak. Abel ingin menyetor uang pesangonnya sejumlah Rp 100.000.000, ke Bank ABC,
diluar pensiun yang didapat per bulan. Dengan Harapan uang tersebut dapat diambil tiap akhir tahun
dengan jumlah yang sama sampai tahun ke delapan, dengan tingkat suku bunga 15% selama 8 tahun.
Berapakah uang yang akan diterima pak Abel per tahun sampai tahunke delapan?
Jawaban.
a. Dengan Diagram aliran kas dana pak Abel nilai saat ini, P, sejumlah Rp 100 Juta, dan besarnya
uang yang akan dibayarkan Bank, kepada Pak.Abel per akhir tahun selama 8 tahun, A.












Gambar 3.18 Pembayaran tahunan berjumlah sama, A dari jumlah sekarang tunggal,P= Rp 100
Juta.



b.Perhitungan dengan cara pendekatan rumus ,
A = Rp100.000.000
(

+
+
1 ) 15 , 0 1 (
) 15 , 0 1 ( 15 , 0
8
8

= Rp 100.000.000 (0,2229)
= Rp22.290.000 per tahun selama periode waktu 8 tahun.
C. Dengan perhitungan mengunakan tabel, adalah dengan menggunakan tabel diskrit faktor pemulihan
modal deret seragam (Uniform Series Capital Recovery Factor = USCRF), (A/P, i%, N)
A = Rp 100.000.000
8 , 15 , /
) 2229 , 0 (
P A

= Rp 22.290.000 per tahun selama periode waktu 8 tahun.
Jadi uang yang diterima oleh Pak Abel tiap akhir tahun selama periode 8 tahun adalah sebesar Rp
22.290.000 per tahun atau jika dibuat per bulan tanpa memperhitungkan nilai bunga efektif per bulan
maka besarnya uang yang diterima adalah Rp 22.290.000/ 12 bulan, adalah sebesar = Rp
1,857,500.00 ,- tiap bulan.

0 1 2 3 7
A A A A
P=10
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
24


4.7 Faktor Nilai Sekarang Deret Seragam (Mencari P bila diketahui A) (P/A, i, n)
Faktor pemajemuakn ini digunakan untuk menghitung nilai ekuivalensi pada saat ini P bila
aliran kas seragam sebesar A telah diketahui besanya, dan dibayarkan tiap pada tiap akhir periode
selama n periode dengan tingkat bunga sebesar i%. Secara grafis diagram aliran kas seperti dalam
pada Gambar 3.10.






Gambar 3.19 Diagram alir kas untuk mencari P bila diketahui A selama periode n

Dari dasar persamaan matermatis dibawah ini:
F = P (1 + i)
N

dan persamaan:
F = A
(

+
i
1 ) i 1 (
N

Dengan cara melakakan subtitusi dari kedua persamaan diatas, diperoleh persamaan matematika
sebagai berikut:
A
(

+
i
1 ) i 1 (
N
= P (1 + i)
N

atau P = A
(

+
(

+
N
N
) i 1 (
1
i
1 ) i 1 (

atau P = A
(

+
+
N
N
) i 1 ( i
1 ) i 1 (
(3.21)
dan P/A =
(

+
+
N
N
) i 1 ( i
1 ) i 1 (
(3.22)
Faktor pemajemukan ini dinamakan faktor nilai sekarang dari deret seragam atau Faktor yang
menghasilkan, [(1 + i)
n
1] /1 (1 + i)
n
, dikenal sebagai faktor harga sekarang rangkaian pembayaran
berjumlah sama (Uniform Series Present Worth Factor = USPWF) dan ditunjukkan sebagai
n , i , A / P
) ( ,
ditulis dengan pendekatan matematis sebagai berikut:.
1 2 3 N-2 N-1 N
0
A A A A A A
i%
P = ?
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
25
(P/A, i%, N) =
(

+
+
N
N
) i 1 ( i
1 ) i 1 (
(3.23)
atau
P = A (P/A, i%, N) (3.24)
Contoh pertama, Seorang investor menawarkan rumah type regency dengan pembayaran kredit
kepada karyawan dalam kelompok industri otomotif PT Aspra yang telah bekerja selama minimal 5
tahun. Sebuah rumah ditawarkan dengan membayar uang muka Rp. 0 juta dan angsuran yang sama
selama 10 tahun sebesar Rp.20 juta per tahun, karena gaji take home pay yang mereka terima per bulan
adalah Rp 6 Juta. Bila bunga yang berlaku adalah 20% per tahun. Jika ada karyawan yang bertanya
berapakah harga rumah tersebut bila harus dibayar kontan saat ini?
Jawaban,
Harga rumah tersebut saat ini, P, adalah harga saat ini dari angsuran yang harus dibayar sebesar A. dan
diselesaikan dengan bantuan tabel bunga diskrit, nilai bunga i= 20-%, dari periode angsuran selama, n
= 10 tahun, dan nilai angsuran per tahun A, sebesar Rp.20 juta, adalah:
P = A (P/A, i%, n)
= Rp. 20.000.000 (P/A, 20%, 10)
= Rp. 20.000.000 (4,8696)
= Rp. 97,392,000.00
Jadi harga rumah tersebut pada periode saat ini,P, adalah sebesar
Rp. 97,392,000.00.









Gambar Aliran Kas Kredit Rumah dan Nilai Saat ini

4.8 Aliran Kas Tidak Teratur
Secara nyata aliran kas yangg ada dalam perusahaan bentuknya adalah tidak teratur, karena
dalam pembukuan atau dalam menulis akuntasi biaya aliran kas adalah total nilai aliran uang masuk
dan keluar besarnya bebeda-beda dan tidak memiliki pola yang teratur. Untuk memudahkan
penanganan permasalahan ketidak teraturan ini secara konsep dasar adalah dilakukan konversi satu
1 2 3 N-2 N-1 9 10
0
A A A A A A =20 jt
i%
P = 97 jt
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
26
persatu ke awal atau ke akhir periode sehingga kita akan mendapatkan nilai total dari P, F atau A dari
aliran kas tersebut. Tapi cara ini sangat tidak praktis dalam akuntansi buaya, karena dalam suatu
industri menengah aliranuang per hari adalah tidak memiliki pola berbeda misalnya dalam satu hari
transaksi penjualan dan pembelian akan memilii nilai bunga dan cara pembayaran berbeda antara
supplier satu dengan atau pembeli satu dengan paembeli lainnya. Tapi dalam buku ini hany adiberikan
konsep dasar penyelesaiannya saja.
Contoh soal pertama dibawah ini, menggambarkan aliran kas keluar yang tidak teratur dari
suatu perusahaan keramik di Malang seperti dalam gambar 3.11 dengan penjelasan akuntasi biaya
adalahsebagai baerikut:
a) Pembayaran bahan baku keramik saat ini sebesar Rp 6 juta.
b) Pembayaran bahan baku keramik di awal tahun pertama sebesar Rp 10 juta.
c) Pembayaran bahan baku keramik di awal tahun kedua sebesar Rp 2 juta.
d) Pembayaran bahan baku keramik di awal tahun empat sebesar Rp 12 juta.
e) Pembayaran bahan baku keramik di awal tahun kelima sebesar Rp 8 juta.
Dengan menggunakan tingkat bunga 10% tentukan besarnya:

a) Diagram alir arus kas
b) Nilai konversi nilai saat ini, P
c) Nilai konversi pada akhir tahun lima , F
d) Nilai konversi pada besarnya uang yang dikeluarkan tiap akhir tahun sebesar dan A .
Jawaban
a. Diagram alir arus kas







Gambar 3.20 Diagram aliran kas tidak teratur
Untuk menyelesaikan umumnya adalah dengan mempertimbangkan :
1. Melakukkan konversi diskonting setiap ada aliran kas ke nilai awal (present worth, P) dari
keseluruhan diagram tersebut.
2. Lakukan pemajemukan, atau dikonversikan ke nilai saat akan datang F, seperti dalam
gambar dibawah ini.




0 1 2 3 4 5
Rp. 6 juta
Rp. 10Juta
Rp. 3 Juta
Rp. 12 Juta
Rp. 8 Juta

0 1 2 3 n
Pemajemukan
Mencari future worth
(a)

0 1 2 3 a
diskonting
Mencari present worth
(b)
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
27





Gambar 3.21 Ilustrasi pemajemukan future (a) dan diskonting (b)

b. Penyelesaian adalah , dengan mengkonversi semuanya aliran kas uang kedalam present worth,P.
Artinya bahwa pembelian bahan baku dapat dibayarkan pada awal tahun Ke nol,
P
0
= Rp. 6.000.000,0
P
1
= Rp. 10.000.000 (P/F, 10%, 1)
= Rp. 10.000.000 (0,9091)
= Rp. 9.091.000,-
P
2
= Rp. 3.000.000(P/F, 10%, 2)
= Rp. 3.000.000 (0,8264)
= Rp. 2,479,200.00
P
3
= 0
P
4
= Rp. 12.000 .000(P/F, 10%, 4)
= Rp. 12.000.000 (0,6830)
= Rp. 8,196,000.00
P
5
= Rp. 8.000.000 (P/F, 10%, 5)
= Rp. 8.000.000 (0,6209)
= Rp. 4,967,200.00
Sehingga Total nilai P dari keseluruhan aliran kas tersebut adalah:
P = P
0
+ P
1
+ P
2
+ P
3
+ P
4
+ P
5

=9.091.000+8.929.000+2,479,200.00+0+8,196,000.00+ 4,967,200.00
= Rp. 30,733,400.00 ,-
c. Dengan mengetahui nilai P maka untuk mengkonversi atau ekivalensi total ke nilai uang pada akhir
lima tahun akan datang atau F, artinya pembelian semua bahan baku dapat dibayarkan pada akhir
tahun ke lima sebesar ,F. Dihitung dengan bantuan tabel bunga sebagai berikut:
F = P (F/P, i%, N)
= Rp. 30,733,400.00 (F/P, 10%, 5)
= Rp. 30,733,400.00 (1,6105)
= Rp. 49,496,140.70,-
d. Dengan mengetahui nilai P maka untuk mengkonversi ke nilai A (yang dibayarkan pada tiap akhir
tahun sampai tahun ke-5). Dihitung dengan bantuan tabel bunga sebagai berikut:
A = P (A/P, i%, N)
= Rp. 30,733,400.00 (A/P, 10%, 5)
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
28
= Rp 30,733,400.00 (0,2638)
= Rp. 8,107,470.92

4.9 Hubungan Faktor-faktor Pemajemukan Nilai Presenth,P, Nilai future,F, dan Annuited, A
Hubungan-hubungan P, F dan A adalah merupakan hubungan persamaan matematis yang
diawali dengan persamaan 3.1 dimana I
n
= P (1 + i)
n
. Dari persamaan dasar tersebut dapat diturunkan
dan dikonversikan atau di ekivalensikan, sehingga ada hubungan antara faktor pemajemukan dan faktor
diskonting Tabel 3.4 menampilkan ringkasan dari faktor-faktor konversi tersebut. Hubungan
matematsi dapat digambarkan secara grafis dengan melibatkan 6 faktor konversi atau ekivalensi seperti
telah diuraikan secara detail pada bahasan sebelumnya. Secara diagramatis hubungan-hubungan
tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:












Gambar 3.22 Faktor-faktor penghubung P, F dan A



Tabel 3.6 Ringkasan Faktor Konversi Diskret
Nama
Faktor
Untuk
Mendapatkan
Diketahui Simbol Rumus
SPPWF P F (P/F, i%, N) N
) i 1 (
1
+

SPCAF F P (F/P, i%, N) (1 + i)
N

USPWF P A (P/A, i%, N)
N
N
) i 1 ( i
1 - i) 1 (
+
+

USCRF A P (A/P, i%, N)
1 ) i 1 (
1 - i) 1 ( i
N
N
+
+

USCAF F A (F/A, i%, N)
i
1 - i) 1 (
N
+

USSFF A F (A/F, i%, N)
1 i) (1
i
N
+




P
A F
(A/F, i%, N)

(F/A, i%, N)
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
29
4.10 Faktor Pemajemukan Secara Gradien
Transaksi bisnis dalam bidang keuangan atau di dunia usaha terjadi seperti dalam nilai konversi
A, P dan F. Tetapi ada satu lagi sistim nilai pembayaran yaitu sistem pembayaran tahunan bisa
dilakukan jumlahnya mengalami kenaikan atau penurunan dengan prosentase tertentu secara konstan
yang disebut faktor pemajemukan gradien,G.
Misalnya dalam suatu Bank, pihak manajeman membaerikan ketetapan model atau pola
kenaikan gaji karyawan per tahun adalah sebesar 10% dari gaji total saat ini. Nilai kenaikan sebesar
10% per tahun besarnya adalah konstan untuk setiap tahun dan berlaku untuk semua karyawan. Jika
gaji seorang manajer finansial disuatu Bank tersebut, saat ini adalah besarnya Rp 10 Juta per bulan
maka tahun depan gajinya akan naik sebesar Rp 10 Juta x (1 +10/ 100 )= Rp 11juta, perbulan dan
tahun yang berikutkan adalah Rp 12 juta, tahun ketiga adalah sebesar Rp 13 juta dan seterusnya
sehingga faktor 10% sebesar Rp1 juta per tahun, itu disebut konstanta kenaikan gaji tiap tahun atau
g, digunakan untuk menunjukkan perubahan persentase besarnya pembayaran dari satu tahun ke
tahun berikutnya, besarnya pembayaran tahun ke t yang berhubungan dengan pembayaran itu. Secara
umum, pembayaran yang naik secara setara untuk n periode bunga dapat diungkapkan sebagai g, 2g,
.., (n 1)g, seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 3.5, dimana g merupakan perubahan besaran
pembayaran tahunan. Pendekatan matematis untuk mengevaluasi rangkaian persamaan gradien adalah
mengaplikasikan rumus-rumus bunga yang telah dikembangkan sebelumnya sistim pembayaran dalam
rangkaian itu.
Sebagai contoh, misalkan suatu industri tekstil memprediksi terjadi kenaikan biaya perawatan
mesin-mesin sebesar Rp. 1 juta per tahun maka Rp. 1 juta ini adalah gradien dari aliran kas perawatan
mesin tersebut. Sebagai contoh aplikasi nilai gradien dalam bidang bisnis misalnya: (1) biaya
perawatan dan perbaikan peralatan-peralatan mekanik yang tiap tahun akan meningkat biayanya secara
konstan dan (2) perhitungan beban depresiasi yang mengikuti pola sum of years digit (suatu metoda
depresiasi yang mengakibatkan beban depresiasi pada suatu aset turun dengan jumlah yang sama tiap
periode (3) Pola kenaikan gaji karyawan dan lain sebagainaya. Gambaran secara grafis dari kenaikan
atau penurunan pola pembayarangradien g dapat digambarkan sebagai baerikut.







Gambar 3.23 Rangkaian gradien kenaikan yang konstan

Pendekatan metode matematis adalah dengan mengkonversi nilai gradien,G juga dapat
dikaitkan dengan P, dan A, dan F, seperti dalam tabel bunga diberikan dua parameter hasil tabulasi
sebagai berikut :

0 1
2 3 n - 1 n

(n - 2)g
(n - 1)g
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
30
1.Faktor Sinking Fund Rangkaian Pembayaran Berjumlah Sama atau Mencari Nilai A bila diketahui G
(A/G, i, n).
2.Faktor Pemulihan modal Deret Seragam (Mencari P bila diketahui G) (P/G, i, n)

Tabel 3.7 Rangkaian gradien kenaikan dan sebuah set rangkaian ekuivalen
Akhir
Tahun ke
Rangkaian
Gradien
Set Ekuivalen
Rangkaian atas
Rangkaian
Gradien
Rangkaian
Setahun
0
1
2
3
4
.
.
.
n 1
n
O
O
g
2g
3g
.
.
.
(n 2)g
(n 1)g
O
O
G
g + g
g + g + g
.
.
.
g+ g+ g+ + g
g+ g+ g++ g+ g
O
A
A
A
A
.
.
.
A
A
Hubungan matematis pemajemukan dan diskonting antara A, P, F dan G dapat digambarkan secaara
grafis seperti Gambar 3.15.
Gambar 3.24 Hubungan A, P dan F dengan G

Pendekatan analisa rumusan matematis jika terjadi pembayaran atau rankaian arus kas
transaksi keuangan dengan pengurangan atau penambahan secara setara, A,. maka:
g = perubahan konstanta tahunan atau gradien kenaikan atau penurunan
N = jumlah tahun
A = pembayaran tahunan berjumlah sama atau deret seragam
Rangkaian gradien naik atau turun, g, 2g, ., (n 1)g, adalah sebagai penjumlahan komponen
ukuran g yang identik atau nilanya konstan tiap paeriode waktu. Sebagai analisa ekonomi teknik
misalnya, menghitung jumlah uang atau transakasi yang akan datang, F, pada waktu n yang akan
dihasilkan dari rangkaian gradien yang digambarkan:
F
1
= F
1
(1+ g)
t-1
, t = 1,2, .. n. (3.10)
A
G
P F
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
31
Nilai g positif artinya rangkaian tersebut akan naik dan nilai g negatif, rangkaian gradien
tersebut akan turun. Untuk mendapatkan hasil analisa gambaran jumlah saat ini, P, hubungan antara F
1

dan F
t
yang diberikan oleh Persamaan (3.10) dengan faktor pembayaran tunggal harga saat ini, P, dapat
dilihat pada persamaan (3.11) sebagai baerikut,
P = F
1
(

+
+
+ +
(

+
+
+
(

+
+
+
(

+
+

n
1 n
1
3
2
1
2
1
1
1
0
) i 1 (
) g 1 (
F ....
) i 1 (
) g 1 (
F
) i 1 (
) g 1 (
F
) i 1 (
) g 1 (

Kalikan tiap bagian dengan (1 + g) /(1 + g) dan sederhanakan:
P =
(

+
+
+ +
+
+
+
+
+
+
+
+
+ n ) i 1 (
n ) g 1 (
....
) i 1 (
) g 1 (
) i 1 (
) g 1 (
) i 1 (
) g 1 (
g 1
F
3
3
2
2
1
1
1

Jika faktor majemuk gradien,
i 1
g 1
) ' g 1 (
1
+
+
=
+

Dimana g adalah tingkat bebas pertumbuhan secara gradien naik atau turun, dan dengan
melakuan subttitusi persamaan atau mengganti denga persamaan lain ,maka persamaan baru adalah:
P =
(

+
+ +
+
+
+
+
+ +
n 3 2
) ' g 1 (
1
...
) g 1 (
1
) ' g 1 (
1
' g 1
1
g 1
1 F

Dalam persamaan diatas bagian dalam kurnga besar atau [ ] merupakan faktor rangkaian
pemajemukan pembayaran setara secara gradien harga saat ini,P, untuk n tahun. Maka dari itu,
(3.11)

Atau ,
P =
( )
(
(

+ + g g
F
n g A P
1

1
1
, ' . /
(3.12)
Faktor pemajemukan diantara kurung besar ([ ]) disebut faktor rangkaian gradien geometris
atau gradien . Pemakaiannya membutuhkan pencarian g dari
g = 1
g 1
i 1

+
+
(3.13)
Jika pada kondisi nilai g > 0 dan nilai I > g, maka nilai g adalah positif, dan faktor
pemajemukan gradien dinotasikan sebagai ( )
n , ' g , A / P
.
(

+
+
+
=
n
n
1
) ' g 1 ( ' g
1 ) ' g 1 (
g 1
F
P
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
32
Jika pada suatu transaksi keuangan dalam berbisnis dibidang usaha manufaktur atau jasa terjadi
analisa perhitungan diketahui nilai gradien naik atau turun, tetapi belum diketahui besarnya nilai
angsuran atau pembayaran secara periodik atau setara atau merupakan deret seragam, pendekatan
penyelesaian adalah dengan menggunakan pendekantan faktor perkalian pemajemukan secara gradien
(A/G, i, n). Dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi teknik sering kita dihadapkan
pada sederetan penerimaan atau pengeluaran tunai yang meningkat atau berkurang secara seragam
setiap periode. Besarnya peningkatan atau penurunan itu disebut dengan gradien. Besarnya nilai faktor
perkalian ini dapat dilihat dalam tabel bunga.






Gambar 3.25 Diagram aliran kas dengan kenaikan gradien dengan Arus kas keluar

Gambar 3.13 memberikan gambaran suatu deretan arus kas pengeluaran yang mengikuti
perilaku gradien, dengan gradien sebesar konstanta G. Gradien seperti ini dinamakan pendekatan
matematis gradien aritmatika seragam karena besarnya kenaikan per periode waktu besarnya adalah
konstan, dengan mengasumsikan besarnya G pada akhir periode 1 adalah 0. Sebagai contohnya,
misalkan perusahaan A membeli sebuah mobil baru dengan garansi 1 tahun termasuk bebas biaya
perawatan dan spare parts. Pada tahun pertama pengeluaran perusahaan hanyalah untuk bahan bakar,
misalnyaRp. 3.000.000 per tahun karena biaya perawatan dan spare parts gratis. Nilai Rp. 3.000.000
ini adalah pembayaran dasar. Setelah tahun kedua, perusahaan harus merawat mobil tersebut dengan
biaya sendiri dan ongkos perawatan ini akan meningkat setiap tahun dengan besar yang konstan.
Misalnya pada tahun kedua mobil tersebut membutuhkan perawatan dengan biaya Rp. 1.000.000 dan
selalu meningkat Rp. 1.000.000 setiap tahun sehingga total biaya pada tahun kedua adalah Rp.
4.000.000, tahun ketiga Rp. 5.000.000 dan seterusnya, sehingga pada tahun ke N total ongkos tersebut
akan menjadi 3.000.000 + (N 1) 1.000.000 rupiah. Gambaran grafis model atau perilaku biaya atau
aliran kas operasional dan perawatan mobil ini ditunjukkan pada gambar dibawah ini.








0 1 2 3 4 N-2 N-1 N
)G
)G
)G
)G
)G
G
2G
3G
(N 3)G
(N 2)G
(N 1)G

0 1 2 3 4 N-2 N-1 N
3 juta + (N -1) 1 juta
3juta
4 juta
5 juta
6 juta
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
33

Gambar 3.26 Diagram deret gradien seragam perawatan mobil dengan gradien Rp. 1 juta per tahun


4.11 Faktor Pemajemukan Gradien mencari P jika diketahui nilai G (P/G, i, n)
Pendekatan metode matematika yang bisa dipakai untuk menurunkan rumus-rumus faktor
gradien, bisa melalui konversi nilai terhadap : F, P dan A. Dari persamaan matematis sebelumnya
maka konversi atau ekovalensi ke nilai saat ini atau presenth, P dari semua aliran kas tersebut adalah:
P = G(P/F, i%, 2) + 2G (P/F, i%, 3) + 3G (P/F, i%, 4) + .. +
[( N 2) G] (P/F, i%, N 1) + [(N 1) G] (P/F, i%, N)
Dengan subtitusi faktor pemajemukan G diperoleh:
P = G [(P/F, i%, 2) + 2 (P/F, i%, 3) + 3 (P/F, i%, 4) + +
(N 2) (P/F, i%, N 1) + (N 1) (P/F, i%, N)]
atau juga ditulis
P = G
(

+
+

+ +
+
+
+
+
+
N 1 N 4 3 2
) i 1 (
) 1 N (
) i 1 (
) 2 N (
......
) i 1 (
2
) i 1 (
2
) i 1 (
1
(3.14)

Dengan mengalikan kedua ruas persamaan (3.14) dengan faktor pemajemukan (1 + i) maka
diperoleh:
P (1 + i) = G
(

+
+

+ +
+
+
+
+
+
1 N 2 N 3 2
) i 1 (
) 1 N (
) i 1 (
) 2 N (
......
) i 1 (
2
) i 1 (
2
) i 1 (
1

Selanjutnya persamaan (3.14) secara matematika dikurangkan pada persamaan (3.15) sehingga
didapatkan persamaan sebagai berikut:
P(1+ i) P = G
(

+

+ +
+
+
+
+
+
N 1 N 3 2
) i 1 (
) 1 N (
) i 1 (
) 2 N ( ) 1 N (
......
) i 1 (
2
) i 1 (
2
) i 1 (
1

P (1 + i) P = G
(

+
+ +
+
+
+
+
+
N 1 N 3 2
) i 1 (
N 1
) i 1 (
1
......
) i 1 (
2
) i 1 (
2
) i 1 (
1
(3.15)
Pada sisi ruas persamaan sebelah kiri bisa diuraikan menjadi P + Pi P = Pi. Dengan mengeluarkan n
yang terakhir dan membagi kedua ruas dengan i, diperoleh persamaan:
P =
N N 1 N 3 2
) i 1 ( i
GN
) i 1 (
1
) i 1 (
1
......
) i 1 (
1
) i 1 (
1
) i 1 (
1
i
G
+

+
+
+
+ +
+
+
+
+
+

(3.16)
Nilai persamaan yang berada didalam kurung adalah identik dengan konversi nilai sekarang (P) dari
suatu deret seragam yang besarnya 1 selama N periode, sehingga bisa disubstitusikan dengan faktor
P/A pada persamaan (3.16) dan menjadi sebagai berikut:
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
34
P =
N N
N
) i 1 ( i
GN
) i 1 ( i
1 ) i 1 (
i
G
+

+
+

=
(

+
+
N N
N
) i 1 ( i
N
) i 1 ( i
1 ) i 1 (
i
G
(3.17)
Hasil dari persamaan matematika 3.17, adalah menghasilkan faktor nilai sekarang dari deret gradien
(Present Worth of Gradien Series Factor = PWGSF) digunakan untuk mengkonversi suatu deret
gradien seragam ke nilai sekarang, yaitu mengubah G menjadi P bila i dan N diketahui. Dalam bentuk
standar persamaan matematika, notasi diatas juga bisa ditulis:
(P/G, i%, N) =
(

+
+
N N
N
) i 1 (
N
) i 1 ( i
1 ) i 1 (
i
1
(3.18)
atau
P = G (P/G, i%, N) (3.19)
4.12 Faktor Pemajemukan Secara Gradien Setara atau mencari F jika diketahui nilai G (F/G, i,
n)
Untuk mengkonversi faktor nilai akan datang (F) dari deret gradient maka dipakai dari persamaan
dasar:
F = P (F/P, i%, N)
Lakukan substitusi nilai P sesuai persamaan (3.19) dan substitusi faktor (F/P, i%, N) sesuai
persamaan sehingga didapatkan persamaan:
F =
N
N N
N
) i 1 (
) i 1 (
N
) i 1 ( i
1 ) i 1 (
i
G
+
(

+
+

F/G =
(

+
N
i
1 ) i 1 (
i
1
N
(3-20)
atau ditulis:
F = G (F/G, i%, N) (3-21)
4.13aktor Pemajemukan Secara Gradien Setara atau mencari A jika diketahui nilai G (A/G, i, n)
Dari subritusi persamaan diatas digunakan melakukan konversi atau ekivalensi nilai A
bila nilai-nilai G, i dan N diketahui. Pendekantan untuk nilai gradien tadi juga bisa dikonversikan ke
deret seragam dengan menggunakan persamaan dasar ,
A = P (A/P, i%, N)

Dengan mensubtitusi nilai P dan mensubstitusi persamaan dasar (A/P, i%, N) sehingga diperoleh
persamaan:
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
35
A =
(

+
+
(

+
+
1 ) i 1 (
) i 1 ( i
) i 1 (
N
) i 1 ( i
1 ) i 1 (
i
G
N
N
N N
N

=
(

1 ) i 1 (
Ni
1
i
G
N

A = G
(

1 ) i 1 (
N
i
1
N

Dari persamaan matematika diatas, didapatkan suatu faktor ini juga bisa ditulis:
A = G (A/G, i%, N) (3.22)
Contoh, industri manufaktur bidang tekstil PT , TEXTILINDO, menuliskan catatan atau
data tahun-tahun sebelumnya bahwa model atau perilaku kenaikan biaya perawatan dari 100mesin
produksi adalah sebesar Rp. 10 juta pada tahun pertama, Rp. 10,5 juta pada tahun kedua dan seterusnya
selalu meningkat sebesar Rp 0,5 juta setiap tahun sampai tahun ke 5. Bila tingkat bunga yang berlaku
adalah 15 % per tahun hitunglah:
(a) Konversi nilai sekarang dari semua ongkos tersebut (pada tahun ke-0)
(b) Konversi nilai semua ongkos tersebut pada tahun ke 5.
Jawaban dari contoh soal pertama, diagram aliran kas dari persoalan ini terlihat seperti dibawah ini
terdiri dari dua bagian yaitu bagian yang menunjukkan deret seragam sebesar pembayaran awal (Rp.
10juta) dan bagian yang menunjukkan gradien yang besarnya adalah Rp. 0,5 juta per periode tahun.





Gambar 3.27 Diagram aliran kas untuk besarnya gradien kenaikan biaya perawatan













Gambar 3.28 Diagram aliran kas untuk besarnya gradien kenaikan biaya perawatan bagian
(a) bagian deret seragam






0 1 2 3 4 5
10 juta
10,5 juta
11 juta
11,5 juta
12 juta

0 1 2 3 4 5
10juta 10uta 10 juta 10 juta

0 1 2 3 4 5
0,5 juta
1 juta
1,5 juta
2 juta
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
36




Gambar 3.29 Diagram aliran kas untuk besarnya gradien kenaikan biaya perawatan bagian
(b) dan bagian gradien


B. Penyelesain dengan metode matematika berdasarkan rumus.
(a) Konversi ke nilai sekarang (P) dapat dihitung sebagai berikut:
P = P
1
+ P
2

= Rp. 10 juta (P/A, 15%, 5) + Rp. 0,5 juta (P/G, 15%, 5)
= Rp. 10 juta (3,3520) + Rp. 0,5 juta (5,775)
= Rp. 33.520.000 + Rp288.750
= Rp 33.808.750
(b) Konversi dari nilai sekarang,P, ke nilai akan datang, F, pada tahun ke-5 bisa dihitung dengan
mengubah P ke F.
F = P (F/P, 15%, 5)
= Rp. 33.808.750 juta (2, 011)
= Rp. 67.989.396.25

PERTANYAAN
1. Berapa jumlah yang harus dibayar dalam 5 tahun bila sejumlah uang Rp10 juta dipinjamkan saat
ini dengan bunga 10% per tahun bunga sederhana?
2. Berapa periode waktu yang diperlukan untuk sejumlah uang sebesar Rp50 juta yang diinvestasikan
supaya menjadi jumlah Rp 100 juta, bila investasi itu menghasilkan 10% bunga sederhana per
tahun?
3. Untuk tingkat suku bunga 10% majemuk per tahun, carilah:
a. Berapa jumlah yang dapat dipinjam saat ini bila Rp2.Juta akan dibayar kembali pada akhir 3
tahun?
b. Berapa jumlah yang akan dibayar jika lama waktu peminjaman selama 6 tahun dari sekarang
untuk membayar pinjaman Rp 50 Juta yang dilakukan saat ini?
4. Berapa lama waktu rangkaian pembayaran berjumlah sama yang harus diletakkan ke dalam dana
annited untuk mengakumulasikan jumlah berikut?
a. Rp 50 juta selama 15 tahun dengan bunga 10% majemuk per tahun saat pembayaran dibuat per
tahun.
b. Rp 50 juta selama 5 tahun dengan bunga 10% majemuk per tahun saat pembayaran dibuat per
tahun.
c. Rp 50 juta selama 10 tahun dengan bunga 10% majemuk per tahun saat pembayaran dibuat per
tahun.
5. Berapakah besarnya tingkat suku bunga setahun efektif yang cocok dengan yang berikut?
a. Tingkat suku bunga nominal 10% majemuk setengah tahunan.
b. Tingkat suku bunga nominal 10% majemuk bulanan.
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
37
c. Tingkat suku bunga nominal 10% majemuk tiga bulanan.
d. Tingkat suku bunga nominal 10% majemuk mingguan.
e. Tingkat suku bunga nominal 10% majemuk harian.


























5. Ekivalen Atau Konversi Nilai Uang
Bila dua atau lebih situasi nilai keuangan karena perbedaan cara membayar akan diperbandingkan,
syaratnya adalah mereka harus memiliki dasar ekivalensi atau konversi terhadap cara pembayaran,
angsuran atau penerimaan, terutama dengan memperhatikan pendekatan matematika tentang nilai uang:
pemajemukan, diskonting, tingkat suku bunga dan cara pembayaran. Pendekatan matematis harus
menyeimbangkan persamaan disisi kiri dan kanan keduanya adalah sama. Tiga elemen dasar nilai
ekivalensi atau konversi atas nilai mata uang adalah:
(1) Variasi jumlah uang.
(2) Periode waktu .
(3) Tingkat suku bunga.

Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
38
5.1 Ekivalensi Yang Melibatkan Faktor Pembayaran atau Penerimaan Tunggal
Terdapat hubungan matematis dengan rumus matematika dasar I
t
= P+Pni

, antara: pemajemukan, diskonting, tingkat suku bunga dan cara pembayaran dengan notasi P,
A, F, i dan n untuk pemajemukan tahunan dan antara P, A, F, r dan n untuk pemajemukan terus
menerus atau efektif , telah diuraikan pada bab III.
5.1.1 Aplikasi Nilai Uang Pada Periode Yang akan Datang F, jika Diketahui Nilai saat ini, P
dengan Faktor Pemajemukan (F/P, i, n)
Cara pembayaran tunggal dari sistem pemajemukan sejumlah nilai uang pada periode yang akan
datang F, pada waktu akan datang yang ditentukan, yang secara matematis adalah ekivalen dengan
jumlah pokok P untuk tingkat suku bunga spesifik i yang dimajemukkan tahunan, atau r dimajemukkan
terus menerus.
Sebagai contoh pertama, Jika Pak Yanto awal tahun ini mendepositokan uang hasil keuntungan kebun
penjualan Apel manalagi di Kota Batu, sebesar Rp 50.000.000,- berapakah jumlah majemuk uang yang
akan diterima pada akhir 10 tahun yang akan datang,F ? , jika tingkat suku bunga adalah sebesar 10%
yang majemuk tahunan.
Jawaban:
n = 10 tahun
i = 10 %
a.Rumus ekivalensi nilai uang atas bunga dengan bunga tahunan (diskrit)
F = P
n , i , P / F
) (
= 50,000,000
10 , 15 , /
) 0456 , 4 (
P F

= Rp202,280,000,-
Uang yang akan diterima Pak Yanto pada akhir 10 tahun akan datang adalah sebesar Rp202,280,000,-
b. a.Rumus ekivalensi nilai uang atas bunga dengan bunga terus-menerus (continue) cek tabel
F = P
n , r , P / F
) (
= 50.000.000 | |
10 , 10 , /
4817 . 4
P F

= Rp 224.085.000,-
Contoh aplikasi kedua, Bila Pak Yanto memiliki uang saat ini sebesar, P= 100.000.000,- dan akan
dimajemukkan melalui keikutsertaan program deposito di Bank CBA, dengan deposito selama 10
tahun, maka jumlah uang Pak Yanto diakhir tahun ke sepuluh akan menjadi sejumlah, F=
300.000.000,-, maka hitung besarnya tingkat suku bunga i (dapat dihitung dengan interpolasi linear
dalam tabel bunga).
Jawaban:
Diasumsikan , bila , pemecahan untuk i , diambil I = 10 %, maka :
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
39
F = P
n , i , P / F
) (
300.000.000 = 100.000.000
10 , 1 , /
i,10) F/p, (
P F


10 , 1 , /
i,10) F/p, (
P F
=
000 . 000 . 100
000 . 000 . 300


10 , , /
i,10) F/p, (
i P F
= 3

Pencarian dengan bantuan tabel bunga untuk bunga majemuk tahunan mengungkapkan bahwa:
a.Dengan nilai i = 10% diperoleh
10 , , /
F/p,10,10) (
i P F
sebagai berikut:

10 , , /
F/p,10,10) (
i P F
= 2.5937
b.Dengan nilai i = 10% diperoleh
10 , , /
F/p,12,10) (
i P F
sebagai berikut:
10 , , /
F/p,12,10) (
i P F
= 3.1058
c.Maka nilai
10 , , /
i,10) F/p, (
i P F
= 3 , adalah terletak antara i = 10% dan i = 12%,
10 , 12 , / 10 , , / 10 , 10 , /
) 1058 , 3 ( ) 0000 , 3 ( ) 5937 , 2 (
P F i P F P F
< <
Dengan proporsi linear, i dihitung
i = 10 + (1)
838 , 1 689 , 1
750 , 1 689 , 1


= 6 + % 41 , 6
149 , 0
061 , 0
=
Sebagai Analisa perhitungan ekonomi teknik biasanya didasarkan pada perhitungan masa yang akan
datang, kesalahan kecil yang diakibatkan oleh interpolasi tidaklah terlalu berarti atau tidak terlalu
signifikan.
Pemecahan untuk i dimungkinkan dengan menggunakan rumus matematis tanpa pemakaian tabel
sebagai berikut:
F = P(1 + i)
n

300.000.000 = 100.000.000 (1 + i)
10

(1+ i)
10
=
000 . 000 . 100
000 . 000 . 300

i =
10
1 0 , 3
i = 1,0642 1 = 0,0642, atau 6,42%
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
40
Contoh aplikasi ketiga, Bila jumlah uang didepositokan saat ini sebesar P=Rp 50 juta, dan depsitokan
selama n tahun, sehingga jumlah nilai uang yang diterima akan datangnya F=Rp75juta, dan jika tingkat
suku bunga i = 9 % per tahun, hitunglah nilai lama periode deposito,n?
F = P
n , i , P / F
) (
750.000.000= 50.000.000
n , 9 , P / F
) (

n P F , 9 , /
.) (......... =
000 . 000 . 50
000 . 000 . 75


n P F , 9 , /
.) (......... = 1.5
Pencarian dengan bantuan tabel bunga mengungkapkan bahwa:
a. n = 4 tahun , misalkan merupakan X
11

dan
n P F , 9 , /
.) (......... = 1.4116, misalkan merupakan Y
11

b. n = 5 tahun , misalkan merupakan X
13

dan
n P F , 9 , /
.) (......... = 1.5386, misalkan merupakan Y
13

c. maka Nilai terletak antara 4 dan 5 tahun , atau, misalkan merupakan X
12
, variabel yang dicari
nilainya ( tidak diketahui), dan
n P F , 9 , /
.) (......... = 1.5, misalkan merupakan Y
12


5 , 9 , / , 9 , / 4 , 9 , /
) 5386 , 1 ( ......) 5 . 1 (... 4116 , 1 (
P F n P F P F
< <
Dengan interpolasi linear



Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
41
Persamaan geometrik matematis, menggunakan perbandingan segitiga besar ABC dan segitiga kecil
ADE ,
= 4. 6961
d. Solusi untuk n dapat dicapai tanpa pemakaian tabel sebagai berikut:
F = P(1 + i)
n

75.000.000 = 50.000.000 (1 + 0,07)
n

(1,07)
n
=
000 . 000 . 50
000 . 000 . 75

(1,07)
n
= 5 . 1
dari rumusan matematika :


5 , 1 log
07 . 1
= n
Y1
Y2
X1
X2
Y11=1,4116
Y12=1,5
Y13= 1,5386
X11=4 x12 =n x13 = 5
X= tahun
Y = (F/P,9,n)
Gambar 4. Model interpolasi linier
A
B
C
E
D
F
2
2
1
1
X
Y
X
Y
=
2
2
1
1
X
Y
X
Y
=
11 13
11 13
11 12
11 12
X X
Y Y
X X
Y Y

4 5
4116 , 1 5386 . 1
4
4116 , 1 5 , 1
12

X
1
127 . 0
4
0884 . 0
12
=
X
1
4
127 . 0
0884 . 0
12

=
X
127 . 0
0884 . 0
4
12
+ = X
0.6961 4
12
+ = X
b c
a
log =
c
a b =
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
42


maka kita subtitusikan , n

n = 4. 697
Interpretasi lama periode waktu n, dalam contoh diatas adalah bahwa diperlukan periode waktu selama
n = 4,6961 tahun, sehingga uang yang saat ioni bernilai 50 juta akan menjadi sebesar Rp 75 juta.
5.2.2 Kalkulasi Nilai Uang Pada Periode saat ini, P, jika Diketahui Nilai Yang akan Datang F ,
dengan Faktor (P/F, i, n)
Nilai uang saat ini, P, adalah ekivalen dengan jumlah yang akan datang, F. Sebagai contoh,
Berapakah jumlah uang yang harus didepositokan saat ini oleh Pak Didin, jika akan membeli mobil
kijang baru 10 tahun akan datang seharga Rp 200 Juta, dengan catatan besarnya tingkat sukubunga
disktrit atau tahunan i= 12% sampai akhir tahun ke sepuluh?
P = F( )
n , i , F / P

= Rp.200.000.000
10 , 12 , /
3220 , 0 (
F P
)
= Rp 64.400.000,-
Jadi, Pak Didin harus mendepositokan saat ini ( awal periode) sejumlah uang Rp64.400.000,-,
sehingga pada akhir tahun ke sepuluh bisa membeli mobil Kijang baru seharga Rp 200.000.000,-
Jika uang pak Didin dibungakan secara terus-menerus atau continue,r =12% , merapakan uang yang
harus dia setor sebagai deposito saat ini?
P = F( )
n , r , F / P

= Rp.200.000.000( )
10 , 12 , /
0.3012
F P

= Rp. 60.240.000,-
Jadi, Pak Didin harus mendepositokan saat ini (awal periode) sejumlah uang Rp60.240.000,- sehingga
pada akhir tahun ke sepuluh bisa membeli mobil Kijang baru seharga Rp 200.000.000,-

5.2.3 Kalkulasi Nilai Uang Pada Periode akan Datang , F, jika Diketahui Nilai Pembayaran
Sama, A,dengan Faktor (F/A, i, n)
Faktor jumlah majemuk rangkaian pembayaran berjumlah sama,A, selama periode tertentu n,
memberikan jumlah F pada waktu tertentu di masa yang akan datang. Nilai F adalah ekivalen dengan
rangkaian pembayaran A, terjadi pada akhir tahun berturut-turut selama n, periode waktu.
5 . 1 log
1,07
= n
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
43
Contoh pertama, jika pembayaran angsuran sepeda motor merk H tipe bebek per tahun sebesar 5
juta tetap selama 5 tahun dari sekarang, dengan tingkat suku bunga 20% per tahun (diskrit), berapa
besarkah nilai uang pada akhir rahun kesepuluh, F?
F = A( )
n , i , A / F

= Rp.5.000.000.
5 , 20 , /
) 4416 , 7 (
A F

= Rp 37.208.000,-

Jadi, pada akhir tahun ke sepuluh bisa nilai total ( akumulasi) kredit adalah sebesar Rp 37.208.000,-
Contoh kedua , jumlah majemuk akumulasi kredit sepeda motor merk H, tipe bebek adalah F =
Rp 20.000.000, pembayaran seri tahunan besarnya sama A= Rp 3 juta, selama periode waktu n= 5
tahun,.
Pertanyaan hitunglah besarnya tingkat suku bunga yang berlaku pada kredit tersebut?
Jawaban.
F = A( )
n , i , P / F

Rp.20.000.000 = Rp.3.000.000( )
5 , , /

i A F

( )
5 , , /

i A F
=
000 . 000 . 3
000 . 000 . 20

( )
5 , , /

i A F
= 6.667, adalah sebagai nilai Y
12
dalam persamaan interpolasi linier
a.Dengan nilai i = 12% , sebagai X
11
, diperoleh ( )
n i A F , , /
5 F/A,12, sebagai Y
11,
sebagai berikut:
( )
n i A F , , /
5 F/A,12, = 6.3528
b.Dengan nilai i = 15%, sebagai X
13
, diperoleh ( )
n i A F , , /
5 F/A,12, sebagai Y
13
, dan dari tabel didapatkan
nilainya sebagai berikut:
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
44

( )
n i A F , , /
5 F/A,12, = 6.7242
c.Maka nilai ( )
n i A F , , /
5 i, F/A, adalah yang akan dicari besarnya nilai i%, dalam interpolas ini sebagai X
12
,
adalah terletak antara i = 12% dan i = 15%,
( )
5 , 12 , /
6.35285
A F
<( )
5 , , /
6.667
i A F
<( )
5 , 15 , /
6.7242
A F

Dengan proporsi linear, i dihitung
Persamaan geometrik matematis, menggunakan perbandingan segitiga besar ABC dan segitiga kecil
ADE ,


Y1
Y2
X1
X2
Y11=6,3528
Y12=6,667
Y13=7242
X11=12% x12 =i% x13 =15%
X= i %
Y = (F/A,i%,5)
Gambar 4. Model interpolasi linier Dengan "n" Konstan dan i%
Yang Dihitung
A
B
C
E
D
F
2
2
1
1
X
Y
X
Y
=
11 13
11 13
11 12
11 12
X X
Y Y
X X
Y Y

12 15
3528 . 6 7242 . 6
12
3528 , 6 667 , 6
12

X
3
0.3714
12
3142 . 0
12
=
X
0.1238
12
3142 . 0
12
=
X
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
45
= 14. 538
Jadi besarnya tingkat suku bunga yang berlaku pada kredit sepeda motor tersebut adalah sebesar 14.
538%. Besarnya nilai bunga tersebut adalah terletak antara 12% <14,538% < 15%.
Contoh ketiga, Perusahaan Jasa Pendidikan Tinggi merencanakan program dana pensiun
karyawan dan Dosen. Jumlah iuran per tahun jumlahnya adalah tetap adalah, A, sebesar Rp1 Juta
dengan tingkat suku bunga 10 % tahunan, selama minimal n = 25 tahun. Berapa jumlah uang yang
dapat ditarik oleh karyawan dan dosen tersebut pada akhir tahun ke 25 pada saat dia mau pensiun?
Jawaban:
Dengan pemakaian rumus dan tabel bunga,
F = Rp.1.000.000( )
25 , 10 , /
3471 . 98
A F

= Rp 98.347.100,-
Jadi, tabungan sejumlah Rp. 1 juta per tahun selama 25 tahun dengan suku bunga tahunan/ diskrit
sebesar 10% akan memberi nilai pesangon pensiun sebesar Rp 98.347.100,-pada saat akhir tahun ke 25.
Contoh keempat, jika angsuran dana pensiun dinaikkan sebesar Rp.2.000.000 per tahun karena
perusahaan menyumbang Rp 1 juta per tahun dan masa pensiun diperpanjang sampai periode waktu n=
30 tahun, Berapa jumlah uang yang dapat ditarik oleh karyawan dan dosen tersebut pada akhir tahun ke
30 pada saat dia mau pensiun?
Jawaban:
Dengan pemakaian rumus dan tabel bunga,
F = Rp.2.000.000( )
30 , 10 , /
4940 . 164
A F

= Rp328.988.000,-
Jadi, tabungan sejumlah Rp. 2 juta per tahun selama 30 tahun dengan suku bunga tahunan/ diskrit
sebesar 10% akan memberi nilai pesangon pensiun sebesar Rp328.988.000,-pada saat akhir tahun ke
30.






12
1238 . 0
3142 . 0
12
= X
2.538 12
12
+ = X
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
46
6.Prinsip-prinsip Ekuivalen
6.1 Ekuivalen Antar Arus Kas
Pengertian ekuivalen yang terkait dengan nilai pertukaran merupakan hal yang sangat penting.
Sebagai contoh, jumlah sekarang Rp.300 adalah ekuivalen dengan Rp.798 bila jumlah tersebut
dipisahkan oleh waktu selama 7 tahun dan bila tingkat suku bunganya 15%.
Arus kas ekuivalen adalah arus kas yang memiliki nilai yang sama dan merupakan ungkapan
kalkulasi ekuivalen yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan pilihan.
Ekuivalen antara kedua arus kas dalam Gambar 4.3 dapat diilustrasikan dengan pemakaian
rumus-rumus pembayaran tunggal. Sebuah jumlah Rp.300 saat ini adalah
Rp.300(1 + 0,15)
7
= Rp.300( ) 798 $ 660 , 2
7 , 15 , P / F
=








Gambar 4.5 Arus kas ekuivalen 15%
Dua atau lebih arus kas tertentu adalah ekuivalen bila mereka ekuivalen pada arus kas yang sama.
6.2 Ekuivalen untuk Tingkat Suku Bunga yang Berbeda
Tingkat suku bunga yang digunakan dalam rumus bunga senantiasa tetap selama rentang waktu
arus kas. Dalam kenyataannya, tingkat suku bunga seringkali berubah dari waktu ke waktu, dan adalah
penting bahwa arus kas dianalisis dalam kondisi itu.
Sebagai contoh, arus kas dalam Gambar 4.4. melambangkan tiga tingkat suku bunga berbeda
yang dapat dipakai untuk jangka waktu 5 tahun. Untuk menghitung jumlah ekuivalen P pada saat ini
untuk kondisi itu, carilah
380 $ ) 8885 , 0 ( ) 8885 , 0 ( ) 9346 , 0 ( ) 7355 , 1 ( 100 $ 100 $ 200 $
4 , 3 , F / P 4 , 3 , F / P 1 , 7 , F / P 2 , 10 , A / P
=
)
`

+ +
6.3 Ekuivalen antara Pemasukan dan Pengeluaran
Arus kas dalam Gambar 4.5. harus dicari tingkat suku bunga yang menetapkan pemasukan
ekuivalen dengan pengeluaran. Kita dapat menyelesaikan itu dengan mencari nilai i yang memenuhi
syarat hubungan itu.





0 1 2 3 4 5 6 7 0 1 2 3 4 5 6 7
Arus Kas 1 Arus Kas 2

Rp.30
0
Rp.798
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
47

Rp.1.000 + Rp.500
5 , i , F / P 2 , i , A / P 1, i , F / P 3 , i , A / P 5 , i , F / P 1 , i , F / P
) ( ) ( 482 $ ) ( ) ( $482 ) ( ) ( + = +





Gambar 4.6 Arus kas untuk pemasukan dan pengeluaran
Hal itu dapat diperlihatkan untuk arus kas dalam Gambar 4.5 dengan menunjuk sembarang n = 5
sebagai dasar untuk kalkulasi berikut:
Rp.1.000
2 , 10 , A / P 1 , 10 , P / F 3 , 10 , A / F 4 , 10 , P / F 5 , 10 , P / F
(1,7355) $482 (1,100) (3,310) $482 $250 (1,464) $500 ) 611 , 1 ( + + = + +

Rp.2.593 = Rp.2.593
Bila pemasukan dan pengeluaran arus kas ekuivalen untuk beberapa tingkat suku bunga, arus kas
dari porsi ekuivalen investasi manapun adalah setara pada tingkat suku bunga itu dengan jumlah
ekuivalen arus kas negatif (-) yang merupakan porsi yang tersisa dari investasi itu.
6.4 Kalkulasi Ekuivalen Dengan Majemuk Yang Lebih Sering
Walaupun majemuk tahunan bunga merupakan situasi yang paling sering ditemui, rentang waktu
yang manapun dapat dipilih sebagai periode majemuk. Biasanya, periode-periode itu adalah interval
waktu yang berlainan seperti sehari, seminggu, sebulan, tiga bulan, enam bulan, atau setahun,
tergantung pada institusi keuangan atau alat keuangan yang terlibat.
6.5 Majemuk dan Periode Pembayaran Bertepatan
Pemakaian tingkat suku bunga efektif per periode untuk selain periode tahunan, bila periode
majemuk dan periode pembayarannya bertepatan, diilustrasikan oleh contoh berikut.
Bila pembayaran Rp.100 terjadi setengah-tahunan pada akhir tiap periode enam-bulan untuk 3
tahun dan tingkat suku bunga nominalnya 12% majemuk setengah-tahunan, harga sekarang P
ditentukan sebagai berikut:
i = per % 6
periode 2
% 12
=
n = (3 tahun) (2 periode per tahun) = 6 periode
P = A( ) 73 , 491 $ ) 9173 , 4 ( 100 $
6 , 6 , A / P n , i , A / P
= =
Sebagai contoh kedua, umpamakan seseorang meminjam Rp.2.000 dan harus membayar kembali
itu dalam 24 angsuran bulanan sebesar Rp.99,80 selama 2 tahun ke depan. Bunganya majemuk bulanan
atas sisa pinjaman yang tidak terbayar. Berapa tingkat suku bunga efektif per bulan dan tingkat suku
bunga nominal yang dibayar untuk pinjaman itu? Jawabannya dapat ditemukan sebagai berikut:
Rp.1.0
3 4 5 6
- -
0 2
Rp.482 Rp.482 Rp.482
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
48
Rp.99,80 = Rp.2.000( )
24 , i , P / A

( )
24 , i , P / A
= 0,0499
Pencarian dari tabel bunga mengungkap bahwa nilai faktor yang terdahulu itu didapatkan untuk i
= 1%. Karena periode dalam masalah itu adalah bulan, tingkat suku bunga bulanan efektif adalah
1%. Tingkat suku bunga nominal adalah
R = (1 per bulan) (12 bulan) = 18% per tahun majemuk tahunan
Dan suku bunga tahunan efektif dari Persamaan (3.14) dengan i = 1 adalah
i
a
= tahun per % 56 , 19 1
12
18 , 0
1 1
m
r
1
12 m
= |
.
|

\
|
+ = |
.
|

\
|
+
6.6 Majemuk Lebih Sering Daripada Pembayaran
Umpamakan sebuah tabungan Rp.100 disimpan pada sebuah rekening di bank pada akhir tiap
tahun untuk 3 tahun berikutnya. Bank membayarkan bunga pada tingkat 6% majemuk tiga-bulanan (per
kuartal).
Kalkulasi yang diperlukan dapat didasarkan pada periode majemuk, yaitu selama 3 bulan, sebagai
berikut:
i =
triwulan 4
% 6
= 1 % per triwulan
Jumlah yang berakumulasi dalam tabungan adalah
F = Rp.100 $318,80 $100 (1,061) ($100 ) 127 , 1 (
4 , 1 , P / F 8 , 1 , P / F
2
1
2
1
= + +
Metode kedua adalah mencari tingkat suku bunga efektif untuk periode pembayaran (1 tahun
dalam kasus ini) dan kemudian melakukan seluruh kalkulasi atas dasar periode tersebut. Tingkat suku
bunga tahunan efektif dari Persamaan (3.14) dengan i = 1 adalah
i
a
= 1
m
r
1
m
|
.
|

\
|
+
Dalam kasus itu, m = 4 dan r = 6%. Karena itu,
i
a
= 1
4
06 , 0
1
4
|
.
|

\
|
+ = 6,14% per tahun
Solusinya adalah
F = Rp.100
3 , 14 , 6 , A / P
) 188 , 3 ( = Rp.318,80
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
49
Perhatikanlah situasi bunga majemuk terus-menerus. Rumus bunga terus-menerus diambil dari
bagian 3.6 dan dapat dimodifikasi untuk mengakomodasi pembayaran berjumlah sama yang terjadi
lebih sering dariapda sekali setahun. Ketika terdapat pembayaran c per tahun, anggaplah
n = c (jumlah tahun)
Dan
r =
c
tahun per nominal bunga suku tingkat

Untuk contoh, umpamakan diinginkan untuk mencari jumlah yang akan datang pada akhir dari 5
tahun yang akan dihasilkan dari tabungan itu adalah 15% majemuk terus menerus. Maka
n = (12 periode per tahun) (5 tahun)
= 60 periode
r =
periode 12
% 15

r = 1,25%

6.7 Kalkulasi Ekuivalen Yang Melibatkan Obligasi
Obligasi adalah alat keuangan yang ditetapkan berdasarkan kondisi yang menyebabkan uang itu
dipinjam. Obligasi itu berisi janji si peminjam dana untuk membayar jumlah atau persentase bunga
yang disepakati pada tingkat atau nilai yang sama dengan yang dicantumkan di nilai pari pada interval
yang disepakati dan untuk membayar kembali nilai sebesar pokok (nilai pari) pada suatu waktu yang
disepakati. Obligasi umumnya ditulis dengan nilai pari dalam kelipatan Rp.1.000. Sebagai contoh,
sebuah obligasi Rp.1.000 dapat berupa janji untuk membayar si pemegang obligasi Rp.60 satu tahun
setelah pembelian dan tiap tahun berturut-turut hingga jumlah pokok atau nilai pari dari Rp.1.000
terbayar kembail pada sebuah tanggal yang ditunjuk. Obligasi seperti itu disebut sebagai sebuah
obligasi 6% dengan bunga dibayar per tahun. Obligasi juga dapat memberikan pembayaran bunga yang
dilakukan setengah-tahunan atau pertriwulan.
6.7.1 Harga dan Bunga Obligasi
Obligasi dibeli dan dijual, karena obligasi tersebut melambangkan janji untuk membayar dan oleh
karena itu memiliki nilai. Harga pasar obligasi dapat berkisar antara di atas atau dibawah nilai pari atau
nilai yang dicantumkan, tergantung pada kondisi pasar yang sedang terjadi dan yang diperkirakan.
Umpamakan seseorang dapat membeli (dengan Rp.900) sebuah obligasi suatu kota senilai
Rp.1.000 yang membayar 6% bunga bebas pajak setengah-tahunan. Bila obligasi tersebut harus dibayar
pada nilai yang tercantum dalam 7 tahun, akan menjadi berapakah tingkat suku bunga ekuivalennya?
Dalam konteks keuangan, apa yang dimaksud dengan hasil jatuh tempo obligasi? Diagram arus kas
untuk situasi itu diilustrasikan dalam Gambar 4.7



0 4 5 6 11
1 2 3 7 8 9 10 12
Rp.100 Rp.100
Rp.100
Rp.100 Rp.100 Rp.100
Rp.100
Rp.4
Rp.2
Penarikan
Bulan
Tabungan
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
50










Gambar 4.7 Perjanjian arus kas untuk majemuk yang lebih jarang daripada pembayaran

Hasil jatuh tempo (yield to maturity) didefinisikan sebagai tingkat pengembalian investasi yang
diperoleh dari obligasi dari tanggal sekarang hingga obligasi jatuh tempo.
Hasil jatuh tempo dapat dicari dengan menentukan tingkat suku bunga yang membuat
pengeluaran awal Rp.900 ekuivalen dengan harga sekarang dari pemasukan yang diantisipasi sebagai
berikut:
Rp.900 = Rp.300( ) ( )
14 , i , F / P 14 , i , A / P
1.000 +
Jawaban untuk i harus dengan mencoba-coba. Pada 3%, harga sekarang pemasukan tersebut
adalah
Rp.300 000 . 1 $ (0,6611) $1.000 ) 2961 , 11 (
14 , 3 , F / P 14 , 3 , A / P
= +
Harga sekarang pemasukan dengan 4% adalah
Rp.30 894 $ (0,5775) $1.000 ) 5631 , 10 (
14 , 4 , F / P 14 , 4 , A / P
= +





Gambar 4.8 Diagram arus kas obligasi
Nilai i yang membuat harga sekarang pemasukan = Rp.900 terletak antara 3% dan 4%. Dengan
interpolasi, per periode setengah-tahunan.

Rp.4
Rp.2
Penarikan
Bulan
Tabungan
Rp.3
0
2
3 1
4
Rp.3
Rp.1
Rp.30 Rp.30 Rp.30 Rp.30 Rp.30 Rp.30 Rp.30 Rp.30 Rp.30 Rp.30
0
Rp.1.000 Nilai
Rp.1.03
Rp.90
1 2 3 4 5 6 7
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
51
i = 3% + 1%
(

894 $ 000 . 1 $
900 $ 000 . 1 $

= 3% + 0,94% = 3,94%
Tingkat suku bunga nominal tahunan adalah dan tingkat suku bunga
r = (3,94% setengah tahunan) (dua periode enam bulanan) = 7,88%
tahunan efektif atau hasil jatuh tempo untuk obligasi itu adalah
i
a
= % 04 , 8 1 0804 . 1 1
2
0788 , 0
1
2
= = |
.
|

\
|
+

6.8 Saldo Pinjaman yang Tersisa
Saldo pinjaman yang tersisa dikenal dengan berbagai nama seperti jumlah terhutang, saldo belum
kembali, saldo yang belum dibayar, dan pokok terhutang. Untuk menghitung saldo tersisa dari sebuah
pinjaman setelah dilakukan sejumlah pembayaran spesifik, kita perlu menemukan ekuivalen dari
jumlah awal yang dipinjam dikurangi jumlah ekuivalen yang dibayar kembali hingga dan meliputi
pembayaran terakhir yang dilakukan.
Umpamakan Rp.10.000 dipinjam dengan pengertian bahwa akan dibayar kembali dalam
pembayaran berjumlah sama per triwulan selama lima tahun pada tingkat suku bunga 4% per tahun
majemuk per triwulan. Pembayaran per triwulan akan menjadi
A = Rp.10.000( ) 736 $ 0736 , 0
20 , 4 , P / A
=
Segera setelah pembayaran ke-13 dilakukan, peminjam ingin membayar habis saldo tersisa, U
13
,
sehingga kewajibannya selesai. Saldo tersisa pada awal periode ke-14 didapatkan dengan menghitung
ekuivalen jumlah awal pinjaman pada titik waktu itu, dikurangi dengan jumlah ekuivalen yang dibayar
kembali, sebagai
U
13
= Rp.10.000( ) 413 , 4 $ ) 627 , 16 ( 736 $ 665 , 1
13 , 4 , A / F 13 , 4 , P / F
=
Pendekatan kedua adalah dengan mendapatkan ekuivalen pembayaran tersisa pada saat saldo
tersisa itu harus dibayar. Untuk contoh itu, saldo tersisa setelah pembayaran ke-13, dengan sisa 7
pembayaran, adalah
U
13
= Rp.736 418 , 4 $ ) 0021 , 6 (
7 , 4 , A / P
=
6.8.1 Pembayaran Pokok dan Bunga
Pembayaran pinjaman yang diterima pada akhir periode bunga pertama-tama harus dipakai untuk
bunga yang dikenakan. Gambar 4.9 mengilustrasikan arus kas untuk pinjaman tingkat suku bunga
tetap, pembayaran tetap. Sebuah jumlah, P, dipinjam dan jumlah yang besarnya sama, A, dibayar
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
52
kembali secara periodik selama n periode. Tiap pembayaran dibagi menjadi sebuah jumlah yaitu bunga
dan jumlah sisa karena telah ada pengurangan pokok. Didefinisikan
I
t
= bagian pembayaran A pada waktu t yaitu bunga
B
t
= bagian pembayaran A pada waktu t yang digunakan untuk mengurangi saldo tersisa
A = I
t
+ B
t
, dimana t = 1, 2, .., n.
Bunga yang dikenakan atas periode, t, untuk pinjaman apapun yang bunganya dikenakan atas saldo
tersisa dihitung dengan mengalikan saldo tersisa pada awal periode t (akhir periode t-1) dengan tingkat
suku bunga.





Gambar 4.9 Arus kas untuk pinjaman dengan tingkat suku bunganya tetap, pembayaran tetap.
I
t
= A
) 1 t ( n , i , A / P ) 1 t ( n , i , A / P
(i) ) ( A ) i ( ) (
+
= (4.3)
dimana A
) 1 t ( i , A / P
) (

adalah saldo tersisa pada akhir periode t 1, juga,
B
t
= A I
t
= A A
1 t n , A / P
) (
+
(i)
= A
(


+
(i) ) ( 1
1 t n , i , A / P

Dari bagian 3.4, ( ) ( )(i) 1
n , i , F / P n , i , F / P
= . Oleh karena itu,
B
t
= A
1 t n , i , F / P
) (
+
(4.4)
Sebagai sebuah contoh aplikasi B
t
dan I
t
untuk mendapatkan pembayaran pokok dan bunga
pinjaman tingkat suku bunganya tetap, pembayaran tetap, bila P = Rp.1.000 n = 4, dan i = 15% per
tahun. Pembayaran pinjaman tahunan adalah
A = Rp.1.000
4 , 15 , P / A
) ( = Rp.350,30




1 2 3 n-1 n
A A A A A
B
1

B
2

B
3

I
1
I
2
I
3
B
n-1

I
n-1

I
n

B
n

0
P
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
53
PERTANYAAN
1. Berapa jumlah ekuivalen tunggal yang akan berakumulasi dari tiap investasi berikut?
a. Rp.15 juta dalam 4 tahun pada 12% majemuk setengah-tahunan.
b. Rp.15juta dalam 4 tahun pada 12% majemuk per triwulan
c. Rp.15juta dalam 4 tahun pada 12% majemuk per bulanan
d. Rp.15juta dalam 4 tahun pada 12% majemuk harian
2. Rangkaian pembayaran berjumlah sama yang ekuivalen dengan rangkaian pembayaran sebesar
Rp.20juta pada akhir tahun ke-5 menurun Rp.0,5 juta tiap tahun hingga tahun ke-10? Bunganya
10% majemuk tahunan.
3. Carilah tingkat satu bunga setengah tahun efektif, tingkat suku bunga tahunan efektif, dan tingkat
suku bunga nominal yang akan membuat nilai P dan A berikut ekuivalen dengan nilai n yang
diperlihatkan.
a. P = Rp.70juta; A = Rp.10juta rupiah pembayaran tiap semester atau setengah tahunan; n = 5 tahun.
b. P = Rp.70juta; A = Rp.10juta rupiah pembayaran tiap empat bulanan; n = 5 tahun.
c. P = Rp.70juta; A = Rp.10juta rupiah pembayaran tiap bulanan; n = 5 .
4. Sebuah perusahaan manufaktur pembuat sepatu merk ADDS membayar royalti paten seharga
Rp.1juta per unit produk yang dibuat, dibayar pada akhir tiap tahun. Paten tersebut akan memiliki
kekuatan selama hanya 5 tahun. Untuk tahun ini ia membuat 10.000 unit produk, tapi telah
dihitung bahwa outputnya akan meningkat sebesar 10% per tahun dalam 4 tahun berturut-turut. Ia
sedang mempertimbangkan untuk meminta pemegang paten merk ADDS untuk menyudahi
kontrak royalti sekarang dengan ganti sebuah pembayaran tunggal sekarang, atau sebagai ganti
pembayaran setahun setara yang akan dilakukan pada akhir tiap 5 tahun. Bila bunga 10% yang
dipakai, berapakah:
(a) pembayaran tunggal sekarang.
(b) pembayaran setahun yang ekuivalen dengan pembayaran royalti dalam prospek dibawah
perjanjian sekarang?
5. Seorang mahasiswa meminjam uang Rp.5juta kepada Bank dengan jaminan ijazahnya untuk modal
usaha, yang akan dikembalikannya dalam angsuran bulanan setara 36 kali. Setelah pembayaran ke
24 ia ingin membayar sisa pinjaman dalam sebuah pembayaran tunggal. Dengan 15% bunga
majemuk bulanan, berapakah jumlah pembayaran tersebut?
6. Pak Alim seorang karyawan menerima uang pesangon masa pensiun sebesar Rp.100 juta dari
sebuah perusahaan. suaminya. Ia merencanakan untuk menyimpan jumlah ini dalam sebuah
rekening tabungan yang mendapat bunga 10% majemuk per tahun untuk 5 tahun.
a. Bila ia ingin menarik jumlah setahun setara dari rekening untuk 5 tahun, dengan penarikan pertama
terjadi satu tahun setelah penyimpanan, berapa banyak pengeluarannya?
b. Hitung dan sajikan dalam bentuk tabel, saldo tersisa tepat setelah penarikan dilakukan pada tiap
saat dalam waktu?
7. Seorang kontraktor pembangunan perumahan meminjam Rp.1.000.000.000,- dengan sebuah
pinjaman untuk mengembalikan pinjaman selama 5 tahun dalam pembayaran setahun setara
dengan tingkat suku bunga 15%. Hitunglah besarnya angsuran per tahun
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
54

























































7.Analisa Capital Budgeting
Dasar perhitungan dalam teknik capital budgeting dibagi dua:
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
55
7.1 Tidak memperhitungkan nilai waktu uang (Time value of money)
Ada dua teknik sederhana dalam capital budgeting, kedua teknik tersebut tidak
mempertimbangkan faktor nilai waktu dari uang.
Teknik tersebut adalah:
A.Average rate of return
Perhitungan average rate of return (ARR) dalam penilaian suatu investasi yaitu
membandingkan besarnya keuntungan yang diperoleh atas investasi dengan besarnya investasi.
Rumus ARR :
Cara 1:
ARR =
Investment Average
EAT Average

Average EAT =
n
EAT


Average Investment =
* 2
Investasi Nilai

Cara 2:
ARR =
Investment Average
Flow in Cash Average

Average cash inflow =
n
CIF


Cara 3:
ARR =
Investment nitial I
EAT Average

Dengan menggunakan metode ARR, keputusan diterima atau ditolaknya suatu usulan investasi
yaitu dengan membandingkan ARR usulan investasi dengan ARR yang ditetapkan perusahaan. Bila
ARR usulan investasi lebih besar dari ARR yang ditetapkan perusahaan maka usulan investasi
diterima, demikian sebaliknya bila ARRnya lebih kecil dari ARR yang ditetapkan akan ditolak.
B.Payback period
Metode payback menilai suatu investasi dengan menentukan waktu yang diperlukan untuk
memperoleh nilai cash flow agar sama dengan nilai investasi, atau mengukur jangka waktu yang
dibutuhkan untuk mengembalikan nilai investasi.
Metodenya ini sangat sederhana, dan dapat digunakan untuk mengukur likuiditas investasi,
juga dapat digunakan untuk mengukur resiko, karena menggambarkan lama waktu suatu investasi
dapat segera balik modal dengan cash inflow yang dihasilkan. Tetapi tidak tepat digunakan untuk
mengukur rentabilitas investasi, karena tidak mempertimbangkan cash inflow.
Rumus Payback:
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
56
Bila pola cash inflow berbentuk anuitet:
Payback Period =
inflow ash C
Investment Initial

Bila pola cash inflow tidak berbentuk anuitet:
Payback Period =
c d
c b
t

+
Keterangan:
t = Tahun terakhir, dimana jumlah cash inflow belum menutup initial investment
b = Initial investment
c = Jumlah cash inflow pada tahun ke t
d = Jumlah cash inflow pada tahun ke t + 1



7.2 Memperhitungkan nilai waktu uang
Ada teknik capital budgeting yang memperhitungkan nilai waktu uang yaitu:
A.Net Present Value
Net present value menghitung selisih dari semua aliran modal yang dihitung
nilainya saat ini antara present cash inflow dengan present net investment. Metode NPV lebih baik
dibandingkan dengan metode ARR maupun payback period, karena metode NPV mempertimbangkan
waktu uang.
Rumus NPV :
NPV = PV Cash Inflow PV Initial Investment

NPV < 0 usulan investasi ditolak.
Bila perusahaan diharapkan pada usulan investasi yang saling meniadakan (mutually
exclusive project) maka haruslah dipilih usulan investasi yang memiliki NPV paling besar.


B.Benefit Cost Ratio (B/C Ratio)
Benefit cost ratio hampir sama dengan NPV hanya pada B/C Ratio menghitung ratio
antara PV Cash Inflow dengan PV Initial Investment.
Rumus B/C Ratio:
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
57
B/C RATIO =
Investment - Intial PV
Flow In Cash PV


C.Internal Rate of Return (IRR)
IRR adalah discount rate yang menyamakan PV Cash Inflow dengan PV Initial
Investment, atau IRR sama dengan discount rate yang menghasilkan NPV sama dengan nol (NPV = 0).
7.3 Perhitungan IRR
1. Untuk CIF yang berbentuk anuitet:
a. Hitung payback period
b. Gunakan tabel A 4 (PVIFA
i,n
) carilah angka yang sama atau hampir sama (mendekati)
dengan hasil payback period. IRR terletak pada persentase terdekat dari hasil tersebut:
c. Apabila diperoleh angka yang hampir sama (dari langkah c) maka lakukan interpolasi.
2. Untuk CIF yang tidak berbentuk annuitet:
a. Hitung Average Cash Inflow
b. Bagilah Initial Investment dengan Average Cash Inflow.
c. Gunakan Tabel A 4 seperti sebelumnya. Hasil tersebut jadikan titik awal penentuan IRR.
d. Apabila CIF tahun-tahun awal lebih besar dari average cash inflow maka hasil langkah c
diperbesar, demikian sebaliknya.
e. Dengan menggunakan discount rate yang baru (dari langkah d) hitunglah NPV.
f. Bila NPV yang diperoleh lebih besar dari nol (NPV > 0) maka naikkan lagi tingkat discount
rate, demikian sebaliknya.
g. Hitung NPV lagi dengan menggunakan discount rate dari langkah f. Bila telah diperoleh
secara berurutan NPV positif dan negatif, lakukan interpolasi.
Dengan metode IRR suatu investasi akan diterima apabila IRRnya lebih besar dari cost of
capital, ditolak apabila IRRnya lebih kecil dari cost of capital.
D.Capital Rationing
Capital rationing merupakan suatu proses tentang bagaimana memilih beberapa
usulan investasi yang tersedia. Proses ini timbul akibat dari terbatasnya modal yang tersedia.
Untuk memecahkan masalah ini maka dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Membuat rangking atas usulan investasi. Metode IRR maupun NPV dapat digunakan sebagai
dasar merangking. Untuk metode IRR, usulan investasi dengan IRR terbesar menempati ranking
pertama demikian selanjutnya. Demikian pula untuk metode NPV.
2. Pilih usulan investasi yang menduduki rangking-rangking terbaik dengan disesuaikan pada modal
yang dibutuhkan dan modal yang tersedia.

Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
58
7.4 Capital Budgeting Under Risk
Menurut Van Home (1991, p: 37), resiko dalam investasi merupakan kemungkinan
penyimpangan tingkat keuntungan yang sesungguhnya (actual return) dari tingkat keuntungan yang
diharapkan (expected return). Suatu investasi selalu mengandung ketidakpastian, investasi tersebut
mengandung kemungkinan menghasilkan cash flow yang menyimpang dari cash flow yang telah
diestimasikan atau dengan kata lain adalah adanya resiko kerugian dalam investasi. Resiko disini
mempunyai pengertian terdapat kemungkinan bahwa hasil yang akan diterima tidak sebesar yang
diharapkan, makin besar kemungkinan tersebut makin besar resiko suatu investasi, berarti kerugian
semakin besar.

6.3.1 Memasukkan Faktor Resiko Dalam Usulan Investasi
Beberapa metode yang dapat digunakan dalam analisa resiko dalam usulan investasi, yaitu:
A.Sensivity Analysis
Analisa kepekaan (sensivity analysis) merupakan suatu analisa untuk menilai akibat
dari perubahan variabel-variabel yang mempengaruhi hasil estimasi cash flow atas suatu usulan
investasi. Dengan adanya suatu ketidakpastian atas hasil estimasi cash flow berarti makin banyak
kemungkinan yang akan terjadi, pada analisa kepekaan dituntut kemampuan menemukan variabel-
variabel yang sangat mempengaruhi suatu usulan investasi, variabel-variabel tersebut misalnya, market
size, market share, jumlah produk yang terjual, harga jual, biaya-biaya, dan lain-lainnya.
Dengan menemukan variabel-variabel yang sangat mempengaruhi penilaian terhadap
suatu usulan investasi, diharapkan dapat menilai kembali estimasi cash flow yang telah dibuat, serta
mengetahui seberapa jauh tingkat kepekaan cash flow akibat dari perubahan variabel-variabel yang
ada.
Contoh soal:
a. PT UM melakukan analisa dua usulan investasi yang mutually exclusive, usulan tersebut
adalah proyek A dan B. Umur investasi kedua proyek sama yaitu 10 tahun, dengan COC sebesar
20%. Untuk memperkirakan tingkat resiko dari kedua proyek tersebut, perusahaan telah
menyusun estimasi cash inflow sebagai berikut:



Tabel 6.1 Alternatif Proyek
Keterangan Proyek A Proyek B
Intial Investment
Estimasi Cash Inflow Per
Tahun (Tahun 1 10)
Pesimis
Rp.
200.000.
000


Rp.
200.000.0
00


Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
59
Expected
Optimis
Rp.
30.000.0
00
Rp.
40.000.0
00
Rp.
50.000.0
00
Rp. 0
Rp.
40.000.00
0
Rp.
80.000.00
0
Range Rp.
20.000.0
00
Rp.
80.000.00
0

Dari data tersebut hitunglah. NPV dari masing-masing kemungkinan untuk proyek A dan B.
Sebaiknya dipilih proyek yang mana?
b. Perusahaan plastikPlastindo mempunyai suatu rencana investasi yang diberi nama proyek
Plastik Kemasan AQUA CUP, estimasi cash flow telah disusun seperti tabel berikut:
Tabel 6.2 Estimasi Cash Flow Proyek A
Keterangan Proyek A
Initial investment
Pendapatan
Biaya variabel
Biaya tetap
Biaya penyusutan
Rp.150.000.000
Rp. 37.000.000
Rp. 30.000.000
Rp. 3.000.000
Rp. 1.500.000


Tingkat pajak 15% pertahun. Informasi lain:
Estimasi unit yang terjual = Market share produk baru x Market size
= 0,01 x 10 juta unit
= 100.000 unit
Pendapatan = Unit terjual x Harga jual per unit
= 100.000 x Rp. 375,-
= Rp. 37.500.000,-
Umur Investasi = 10 tahun
Sensitivity Analysis dengan menggunakan taksiran pesimis dan optimis dari masing-
masing variabel:
Tabel 6.3 Sensitivity Analysis
Variabel Pesimis Expected Optimis
Unit yang terjual
Harga per unit
Biaya variabel per
90.000 unit
Rp. 350,-
Rp. 350,-
100.000 unit
Rp. 375,-
Rp. 300,-
110.000 unit
Rp. 400,-
Rp. 250,-
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
60
unit
Biaya tetap
Rp. 4 juta Rp. 3 juta Rp. 2 juta

Pertanyaan:
a. Analisalah dengan menggunakan metode NPV dengan tingkat diskonto 18%, dengan asumsi
bahwa investasi tersebut tidak mengandung unsur resiko.
b. Analisalah usulan investasi tersebut dengan menggunakan metode sensitivity analysis untuk
menentukan tingkat NPVnya.

1. Mean Standar Deviasi
Perkiraan suatu cash flow yang tidak memperhitungkan resiko berarti asumsi yang
digunakan adalah cash flow tersebut akan menjadi kenyataan. Tetapi tidaklah selalu demikian adanya,
terkadang cash flow yang telah diperkirakan menyimpang dari harapan. Karena itu sebaiknya terlebih
dahulu diperhitungkan sejauhmana penyimpangannya (deviasi). Untuk menentukan penyimpangan
suatu cash flow yang berkaitan dengan besar-kecilnya resiko maka prosentase kemungkinan terjadinya
hasil yang diharapkan (probabilitas) diramalkan terlebih dahulu.
Penggunaan probabilitas dalam memperkirakan resiko usulan investasi adalah sebagai
penentuan kemungkinan terjadinya suatu cash flow yang telah diperkirakan. Dengan menentukan
probabilitas cash inflow maka dapat dihitung besarnya nilai yang diharapkan (Expected Value) dari
suatu usulan investasi.
Expected value merupakan hasil rata-rata tertimbang dimana penimbang yang
digunakan adalah probabilitas dari cash inflow.
Langkah-langkah dalam menghitung standard devisasi:
1. Menghitung Expected Value suatu Cash Flow
Bila probabilitas dapat diramalkan:

= P CIF E
Bila probabilitas tidak dapat diramalkan:
n
CIF
E

=
Keterangan:
E = Expected value
CIF = Cash Inflow
P = Probabilitas
n = Jumlah kemungkinan cash inflow
2. Menghitung standard deviasi
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
61
Bila probabilitas dapat diramalkan:

= o P . ) E CIF (
2

Bila probabilitas tidak dapat diramalkan:
n
) E CIF (
2


= o
Bila Perkiraan Cash Inflow pertahun dari satu.
2 nx
2
n
2 x 3
2
3
2 x 2
2
2
2 x 1
2
1
) i 1 (
) (
) i 1 (
) (
) i 1 (
) (
) i 1 (
) (
+
o
+
+
o
+
+
o
+
+
o
= o
Coefficient of Variation
Pendekatan standart deviasi digunakan apabila besarnya beberapa usulan investasi
adalah sama. Suatu contoh proyek A mempunyai E = Rp. 5.000,- dengan o = Rp. 2.000,-
sedangkan proyek B dengan E = Rp. 4.000,- o = Rp. 2.000,- Berarti proyek B mempunyai
resiko yang lebih besar dibandingkan proyek A. Karena variabilitas relatif yang berbeda
maka perlu diperhitungkan coeficient of variation atau ratio standard deviasi terhadap
expected value.
V =
E
o

2. Certainty Equivalent
Metode lain untuk memasukkan resiko dalam penilaian usulan investasi adalah metode
ekuivalen kepastian yang menggambarkan suatu faktor yang merefleksikan persentasi penurunan
cash inflow yang dapat diterima dari cash inflow yang diharapkan. Caranya adalah dengan
melakukan penyesuaian terhadap cash inflow, yang berarti mengekuivalenkan cash inflow yang
tidak pasti dengan cash inflow yang pasti. Suatu contoh, Amir mengharapkan akan menerima
penghasilan sebesar Rp. 100.000,- setahun yang akan datang dari suatu investasi yang belum
dijalankannya, sedangkan dari investasi yang sekarang telah ia jalankan akan diperoleh penghasilan
sebesar Rp. 90.000,- (pasti). Maka Amir dapat mengekuivalenkan nilai Rp. 100.000,- dengan nilai
Rp. 90.000,-
Didalam penggunaan metode ekuivalen kepastian, tingkat bunga (discount rate) yang
digunakan adalah tingkat bunga bebas resiko (R
f
). Tingkat bunga bebas resiko berarti tingkat bunga
atas suatu investasi yang tidak mengandung resiko, misalkan tingkat bunga bank pemerintah. Maka
dalam menentukan NPV dari suatu usulan investasi, pada nilai estimasi cash inflow yang
mengandung resiko menjadi suatu cash inflow yang pasti.
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
62
PV CIF = ( )( )
n
f n
R 1 CEC CIF

+
CEC
n
= (CEC
1
)
n

Keterangan:
PV CIF = Present value cash inflow
CIF = Cash inflow
CEC
n
= Certainty equivalent coeficient
R
f
= Tingkat bunga bebas resiko
n = Jumlah tahun

Certain Equivalent Coefficient (CEC)
CEC akan besar kalau certainty equivalent cash inflow yang diestimasikan besar. CEC akan mendekati 1,0 atau
100% apabila cash inflow yang diestimasikan mendekati kepastian. CEC akan makin kecil atau akan mendekati nol bila
cash inflow yang diestimasikan menjadi kurang pasti.

3. Risk Adjusted Discount Rate
Pendekatan risk adjusted discount rate menyesuaikan tingkat bunga yang digunakan
untuk menghitung NPV dari suatu usulan investasi. Dalam perhitungan present value cash flow,
discount rate yang digunakan adalah sebesar coe, tetapi mengingat setiap usulan investasi mempunyai
tingkat resiko yang berbeda-beda maka perlu dilakukan penyesuaian discount rate pada setiap usulan
investasi. Discount rate disesuaikan lebih tinggi untuk usulan investasi yang mengandung resiko lebih
besar, dimana penyesuaian ini dimaksudkan sebagai kompensasi resiko atas modal yang diinvestasikan.
Sebagai dasar penyesuaian maka digunakan tingkat bunga bebas resiko (R
f
).
Sedangkan discount rate yang akan digunakan sebagai dasar perhitungan NPV adalah discount rate
yang telah disesuaikan (adjusted risk = k).

6.4 Stuktur Modal Yang Optimal
Struktur modal adalah penimbangan total hutang jangka panjang dan modal sendiri yang
digunakan perusahaan. Penentuan struktur modal merupakan masalah yang penting dalam pembiayaan
suatu investasi, yang berarti perusahaan harus menetapkan suatu strategi pembiayaan jangka panjang
yang tepat karena akan berpengaruh terhadap keuntungan yang akan diperoleh perusahaan.
Suatu struktur modal optimal apabila dengan tingkat resiko tertentu memberikan nilai
perusahaan yang maksimal. Penentuan struktur modal yang optimal mempunyai tujuan mempertinggi
nilai perusahaan, dimana keuntungan yang diperoleh haruslah lebih besar dari biaya modal sebagai
akibat penggunaan modal serta tingginya nilai surat berharga jangka panjang yang telah dikeluarkan
perusahaan.

7.5 Jenis-jenis Modal
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
63
Ada dua macam modal yang digunakan dalam pembiayaan perusahaan yaitu Model Asing
dan Modal Sendiri. Dalam penentuan struktur modal perusahaan jenis modal yang diperhitungkan
hanya modal asing jangka panjang atau hutang jangka panjang dan modal sendiri.

7.5.1 Analisa Leverage
Permasalahan dalam struktur modal dalam menentukan struktur modal manakah yang
sebaiknya dipilih dari beberapa alternatif struktur modal yang ada.
Contoh:
Perusahaan manufaktur kayu PT. JATI EMAS, sedang membuat suatu usulan investasi yang
membutuhkan dana sebesar Rp. 30.000.000,- Struktur modal saat ini terdiri dari saham biasa
sebanyak 3600 lembar. Sedangkan untuk alternatif pembiayaan atas usulan investasi tersebut yaitu:
Alternatif 1 : dengan menjual saham nominal Rp. 2000,-
Alternatif 2 : mengeluarkan obligasi dengan coupon rate 10% senilai Rp. 30.000.000,-
Untuk menentukan alternatif mana yang sebaiknya dipilih dari kedua alternatif pembiayaan
tersebut maka dapat digunakan analisa per lembar saham kedua alternatif (analisa EBIT EPS atau
analisa Financial Leverage).
1. Financial Leverage
Financial Leverage adalah kemampuan perusahaan dalam menggunakan kewajiban
finansial yang sifatnya, untuk memperbesar pengaruh perubahan EBIT terhadap pendapatan
perlembar saham biasa atau EPS.
Kewajiban finansial yang sifatnya tetap adalah bunga atas hutan dan deviden saham
istimewa.
Mengapa analisa finansial leverage digunakan? Tujuan dari penentuan struktur modal
adalah mempertinggi nilai perusahaan, dimana nilai perusahaan ini ditentukan oleh harga pasar
dari saham dan obligasi yang dikeluarkan perusahaan sebagai sumber dana. Salah satu faktor
yang mempengaruhi naik turunnya harga pasar dari surat berharga tersebut adalah kemampuan
perusahaan memberikan keuntungan (bunga dan deviden) yang maksimal kepada para investor.
Sehingga dengan diketahuinya tingkat finansial leverage akan tergambar seberapa besar
kemampuan perusahaan menutup biaya-biaya finansialnya, yang berarti pula apabila biaya-
biaya finansial meningkat maka EBIT harus diperbesar untuk menutup kenaikan biaya-biaya
finansial tersebut. Apabila perusahaan tidak mampu meningkat EBIT berarti perusahaan akan
tidak mampu membayar kewajiban finansial tersebut maka para kreditur dan pemegang saham
akan segera menarik kembali dananya yang berarti pula turunnya nilai dari saham maupun
obligasi perusahaan.
Contoh, perusahaan manufaktur kayu PT. JATI EMAS, memiliki data finansial
leverage dari perusahaan tersebut sebagai berikut:
Pada tingkat EBIT = Rp. 7.500.000,-
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
64
Tabel 6. 4 Leverage
Alternatif 1 Alternatif 2
EBIT Rp. 7.500.000
Rp.
7.500.000
Bunga 0 3.000.000
EBT Rp. 7.500.000 Rp. 4.500.000
Tax (40%) 3.000.000 1.800.000
EAT Rp. 4.500.000 Rp. 2.700.000
PD 0 0
EAC Rp. 4.500.000 Rp. 2.700.000
EPS Rp. 4.500.000 Rp. 2.700.000
5.000 3.000
Rp. 900 Rp. 771

Tabel 6.5 Pada tingkat EBIT Rp. 12.500.000,-
Alternatif 1 Alternatif 2
EBIT Rp. 12.500.000 Rp. 7.500.000
Bunga 0 3.000.000
EBT Rp. 12.500.000 Rp. 4.500.000
Tax (40%) 5.000.000 1.800.000
EAT Rp. 7.500.000 Rp. 2.700.000
PD 0 0
EAC Rp. 7.500.000 Rp. 2.700.000
EPS Rp. 7.500.000 Rp. 2.700.000
50.000 3.000
Rp. 1500 Rp. 771

Maka tingkat finansial leveragenya:
DPL =
EBIT Perubahan osentase Pr
EPS Perubahan Prosentase

atau
DFL =
) t 1 (
PD
I EBIT
EBIT



Dari perhitungan EPS dari tingkat EBIT tertentu dapat ditentukan prosentase perubahan-
perubahan EBIT terhadap EPS sebagai berikut:
Alternatif 1 :
Tingkat EBIT Rp. 7.500.000,- menghasilkan EPS Rp. 900,-
Tingkat EBIT Rp. 12.500.000,- menghasilkan EPS Rp. 1.500,-
Prosentase perubahan EBIT = 66,67%
Prosentase perubahan EPS = 66,67%
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
65
maka DFL = 1
% 67 , 66
% 67 , 66
=
Alternatif 2:
Tingkat EBIT Rp. 7.500.000,- menghasilkan EPS Rp. 711,-
Tingkat EBIT Rp. 12.500.000,- menghasilkan EPS Rp. 1.629,-
Prosentase perubahan EBIT = 66,67%
Prosentase perubahan EPS = 111,28%












Bagaimana pengaruh EPS terhadap harga pasar saham? Perhatikan perhitungan
sebagai berikut: Misalkan, price earning ratio yang diharapkan perusahaan sebesar 13 maka:
Nilai saham dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
P
0
= (P/E) (EPS)
Keterangan:
P/E = Price earning ratio
P/E = Harga saham EPS
EPS = Earning per share

Nilai saham pada tingkat EBIT = Rp. 7.500.000,-
Alternatif 1: P
0
= 13 x Rp. 900,-
= Rp. 11.700,-
Alternatif 2: P
0
= 13 x Rp. 771,-
= Rp. 10.023,-
Nilai saham pada tingkat EBIT = Rp. 12.500.000,-
Alternatif 1: P
0
= 13 x Rp. 1.500,-
0 7.500 10.000 12.500 EBIT (juta Rp)
1.629
1.500
1.200
900
771
Alternatif ulang
(obligasi)

Alternatif modal
sendiri

Laba per Lembar
Saham (EPS = Rp)

Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
66
= Rp. 19.500,-
Alternatif 2: P
0
= 13 x Rp. 1.629,-
= Rp. 21.177,-
Dari perhitungan di atas, pada EBIT = Rp. 7.500.000,- alternatif 1 akan mengakibatkan nilai
saham lebihbesar dibandingkan dengan alternatif 2. Sedangkan pada EBIT = Rp. 12.500.000,-
alternatif 1 mengakibatkan nilai saham lebih kecil dibandingkan alternatif 2.
Maka dapat disimpulkan, struktur modal alternatif 1 dapat dipilih apabila perusahaan
mengestimasikan EBIT yang akan dicapai kurang dari indifference point (Rp. 10.000.000,-),
apabila EBIT yang akan dicapai lebih dari Indifference Point sebaiknya memilih alternatif 2.

2. Nilai Perusahaan
Nilai perusahaan ditentukan oleh harga dari obligasi dan saham yang telah dikeluarkan
perusahaan.
V = D + E
Keterangan:
V = Nilai perusahaan
D = Nilai hutang atau harga pasar obligasi
E = Nilai saham
Nilai Saham =
saham modal Biaya
Deviden

E =
e e e
K
EAT
K
) t 1 )( 1 EBIT (
K
Dev
=

=
t = D x K
d

Keputusan perusahaan dalam menentukan struktur modal mempengaruhi biaya modal
tertimbang (WACC) karena pengaruh dari biaya modal setiap sumber modal yang digunakan
perusahaan maka nilai perusahaan tidak terlepas dari biaya modal setiap sumber modal yang
digunakan.
WACC (K
e
) =
E D
K E
E D
K D
e 1
+

+
+


K
0
=
V
K
K
) t 1 )( Kd D ( EBIT (
) t 1 ( K D
e
e
d

+

Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
67
V =
e
d d
K
) t 1 ))( K D ( EBIT ( ) t 1 ( K D +

V =
e
d d
K
) t 1 ))( K D ( )) t 1 ( EBIT ( ) t 1 ( K D +

V =
e
K
) t 1 ( EBIT

V =
WACC
) t 1 ( EBIT

Dari contoh soal Perusahaan manufaktur kayu PT. JATI EMAS , maka nilai perusahaan dapat
dihitung sebagai berikut:
Pada EBIT = Rp. 7.500.000,-
Alternatif 1:
WACC =
000 . 000 . 30
% 5 , 4 000 . 000 . 30

WACC = 4,5%
K
e
= % 100
000 . 20
900

K
e
= 4,5%
V =
% 5 , 4
%) 40 1 ( 000 . 500 . 7

V = 100.000.000
ROE =
Sendiri Modal
EAT

ROE =
( )
% 100
000 . 20 500 . 1 ) 000 . 15 500 . 3 (
000 . 500 . 4

+

ROE = 5,46%
Alternatif 2:
WACC =
000 . 000 . 30
%) 40 1 %( 10 000 . 000 . 30

WACC = 6%
V =
% 6
%) 40 1 ( 000 . 500 . 7

V = 75.000.000
ROE = % 100
000 . 15 500 . 3
000 . 700 . 2


ROE = 5,14%
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
68
Pada EBIT = Rp. 12.500.000,-
Alternatif 1:
V =
% 5 , 4
%) 40 1 ( 000 . 500 . 12

V = 166.666.666,7
ROE =
( ) ( ) 000 . 20 500 . 1 000 . 15 500 . 3
000 . 500 . 7
+

ROE = 9,09%

Soal :
1. Perusahaan Otomotif akan melakukan analisa finansial terkait dengan keputusan membuat atau
membeli produk ban luar standar berdiameter 14 inchi. Dari analisa desain tim Analisa kelayakan
pabrik yang terdiri dari manajer: marketing, produksi, keuangan , dan engineering, dapat diketahi
permintaan sebesar x buah setiap bulan, dengan catatan permintaan hanya didalam tidak melayani
merk otomotif lain. Jika harga ban dijual dengan harga Rp, dan akan ditentukan selama t tahun
harga akan tetap maka buatlah analisa pendukung kelayakan pabrik:
1. Irr
2. BEP
3. Pay Back Period
4. Make or Buy
5. Alternatif pendaan pinjam atau saham atau setoran uang cash dari pemilik merk otomotif
mana yang paling menguntungkan, atau modal tersebut jika didepositokan.
Jika diketahui :
Proses Pembuatan ban diperlukan investasi mesin seperti dalam tabel 1
Tabel 1

MESIN UNIT HARGA/ UNIT (Rp juta)
1 13 50
2 14 15
3 10 30
4 14 25
5 15 30
6 16 40
7 18 20
Tanah dan bangunan pabrik 700





B. Tabel 2
No Parameter Harga /
Rp * 1000
Bunga %
Unit
1 Bahan baku karet/ unit 20
2 Kawat/unit 5
3 Variabel cost/ unit 25
4 Biaya tetap/unit 15
5 Bunga bank pinjam 17
6 Harga jual /unit 175
7 Permintaan per hari 200
8 Bunga deposito/ tahun 8
9 Plastik bungkus/unit 1
10 Cat/unit untuk kode produksi 0.5
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
69
11 Biaya pesan / unit 0.2
12 Biaya simpan / unit/ bulan 0.1
2. Perusahaan plastikPlastindo Abadi mempunyai suatu rencana investasi yang diberi nama
proyek Plastik Kemasan AQUA Gallon, estimasi cash flow telah disusun seperti tabel berikut:
Tabel Estimasi Cash Flow Proyek A
Keterangan Proyek A
Initial investment
Pendapatan
Biaya variabel
Biaya tetap
Biaya penyusutan
Rp.160.000.000
Rp. 30.000.000
Rp. 36.000.000
Rp. 5.000.000
Rp. 2.500.000

Tingkat pajak 15% pertahun. Informasi lain:
Estimasi unit yang terjual = Market share produk baru x Market size
= 0,01 x 10 juta unit
= 100.000 unit
Pendapatan = Unit terjual x Harga jual per unit
= 100.000 x Rp. 375,-
= Rp. 37.500.000,-
Umur Investasi = 10 tahun
Sensitivity Analysis dengan menggunakan taksiran pesimis dan optimis dari masing-
masing variabel:
Tabel 6. Sensitivity Analysis
Variabel Pesimis Expected Optimis
Unit yang terjual
Harga per unit
Biaya variabel per
unit
Biaya tetap
190.000 unit
Rp. 350,-
Rp. 350,-
Rp. 4 juta
200.000 unit
Rp. 375,-
Rp. 300,-
Rp. 3 juta
210.000 unit
Rp. 400,-
Rp. 250,-
Rp. 2 juta

Pertanyaan:
a.Analisalah dengan menggunakan metode NPV dengan tingkat diskonto 18%, dengan asumsi bahwa
investasi tersebut tidak mengandung unsur resiko.
b.Analisalah usulan investasi tersebut dengan menggunakan metode sensitivity analysis untuk
menentukan tingkat NPVnya.
3. PT UMAIR melakukan analisa dua usulan investasi yang mutually exclusive, usulan tersebut
adalah proyek AIR MINERAL (A) dan BISNIS AGRO (B). Umur investasi kedua proyek sama
yaitu 10 tahun, dengan COC sebesar 10%. Untuk memperkirakan tingkat resiko dari kedua proyek
tersebut, perusahaan telah menyusun estimasi cash inflow sebagai berikut:
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
70

Alternatif Proyek
Keterangan Proyek A Proyek B
Intial Investment
Estimasi Cash Inflow Per
Tahun (Tahun 1 10)
Pesimis
Expected
Optimis
Rp. 300.000.000


Rp. 50.000.000
Rp. 60.000.000
Rp. 55.000.000
Rp. 250.000.000


Rp. 0
Rp. 40.000.000
Rp. 85.000.000






















Analisa pengembalian investasi
Perhitungan analisa keuangan terfokus pada besarnya modal yang dikeluarkan dalam suatu
investasi dapat dihitung dengan memperhatikan nilai waktu dari uang. Sebagai gambaran, misalnya
seorang pemilik modal telah melakukan analisa kelayakan usaha dan dinyatakan layak untuk
mendirikan pabrik air minum mineral merk AQ dua tahun yang lalu, dan sampai saat ini telah
berproduksi. Investor tersebut telah mengeluarkan sejumlah uang yang dikonversikan total pada
saat ini (net present worth), sejumlah Rp 4.000.000.000, dinotasikan PW
t
= nilai present worth dari
semua pengeluaran (aliran kas negatif). Dari hasil analisa kelayakan proyek diketahui sejumlah
pendapatan selama t tahun kedepan, dari hasil penjualan air mineral yang dikonversiskan juga
menjadi nilai total pada saat ini, PW
E
= nilai present worth dari semua pemasukan (aliran kas
positif). Pada analisa pengembalian investasi dilakukan perhitungan pada kondisi, dimana terjadi
keseimbangan antara semua total pengeluaran dengan semua pendapatan, yang diperoleh dari
investasi tersebut selama t tahun, selisih keduanya harus sama dengan nol. Analisa investasi jenis
ini disebut dengan analisa tingkat pengembalian atau rate of return, ROR. Secara matematis hal ini
bisa dinyatakan:
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
71
NPW =

= +
N
0 t
t
t
0 ) i 1 ( F (7.1)
dimana:
NPW = Selisih Total nilai uang saat ini harus sama dengan nol
F
t
= Keseimbangan aliran kas pada periode yang akan datang, F pada tahun ke t
N= t = umur proyek atau periode analisa proyek tersebut
i = tingkat nilai suku bunga ROR dari proyek atau investasi tersebut
Secara matematis nilai F
t
pada persamaan 7.1, maka persamaan ROR dapat juga dinyatakan
dengan kesimbangan persamaan baru berdasarkan nilai ekivalensi, menjadi :
NPW = PW
R
PW
E
= 0 (7.2)
Atau, ekivalensi lebih lengkap menjadi persamaan :


= =
=
N
0 t
N
0 t
t t
0 ) t %, i , F / P ( E ) t %, i , F / P ( R (7.3)
dimana:
PW
E
= nilai saat ini (present worth) dari semua toal pemasukan (aliran kas positif)
PW
t
= nilai saat ini (present worth) dari semua total pengeluaran (aliran kas negatif)
R
t
= Revenue atau total penerimaan yang terjadi pada periode ke t
E
t
= pengeluaran total yang terjadi pada periode ke t, termasuk investasi awal (P)
Analisa ekivalensi yang lain terkait dengan deret seragam (annual worth) untuk nilai saat
ini atau present worth, pada perhitungan ROR adalah dengan melakukan ekivalensi terhadap
sehingga akan hubungan matematis menjadi :
EUAR EUAC = 0 (7.4)
Dimana:
EUAR = (equivalent uniform annual revenue) adalah ekivalensi deret seragam yang
menyatakan pendapatan (aliran kas masuk) per periode yangtelah ditentukan
misalnya akhir tahun.
EUAC = (equivalent uniform annual cost) adalah deret seragam pengeluaran (aliran kas
keluar) per periode yang telah ditentukan misalnya akhir yang menyatakan per
tahun.
Perhitungan cara matematis, dengan menggunakan analisa NPW sebagai fungsi dari dari
bunga atau i, akan menghasilkan deretan kuntinyu nilai NPW yang jumlahnya tak terbatas. Pada
nilai bunga i semakin besar maka nilai NPW:
1. Mungkin akan semakin turun atau kecil
2. Mungkin juga semakin naik atau besar.
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
72
Untuk menyelesaikan persamaan matematis diatas dapat umumnya dilakukkan dengan pendekatan
metoda trial and error akan dihasilkan pada nilai i, tertentu kita akan mendapatkan nilai NPW =
0. Besarnya nilai persamaan ini sama dengan nol, inilah yang disebut ROR, pendekatan analisa
secara grafis dapat maemerikan gambaran analisa tersebut, untuk memberikan gambaran hubungan
antara i dengan NPW dengan melakan plot nilai keduannya dalam suatu grafik seperti dalam gambar
7.1. Hasil pengamatan pendekatan secara grafis adalah nilai NPW tidak berhubungan secara linier
dengan i. Tetapi untuk mempermudah analisa perhitungan dalam prakteknya, dilakukan pendekan
metoda interpolasi linier.
Beberapa pendekatan metode analisa tingkat pemgembalian investsasi dengan memperhatikan nilai
uang atau Rate of Return ROR yang dikenal dalam ekonomi, antara lain:
1.Internal rate of return (IRR),
2.External rate of return (ERR),
3. Explicit reinvesment rate of return (ERRR).








Gambar 7. Rambu peluang Investasi
Perbedaaan dari ketiga analisa tersebut adalah, pertama untuk tingkat pengembalian investasi internal
atau Internal rate of return IRR, jika kita mengasumsikan bahwa setiap hasil yang diperoleh dari suatu
investasi tertentu, secara langsung diinvestasikan kembali ke proyek atau pengembangan industri
tersebut dengan tingkat ROR yang sama. Jika investor yang telah berhasil dalam investasi tertentu
secara bisnis berhasil, dan keuntungannya diinvestasikan pada proyek yang lain yang berbeda atau
perusahaan ingin melakukan diversifikasi investasi, maka rate of returnt ini disebut ERR dan ini
disebut dengan analisa investasi kedua. Analisa ketiga adalah rate of returnt ERRR adalah investasi
lump sum tunggal yang diikuti dengan aliran kas netto positif seragam pada akhir setiap periode selama
umur proyek atau investasi tersebut.


NPW NPW







Gambar 71 Grafis analisa rate of returnt i*, ROR dan antara faktor tingkat bungai dengna
besarnya nilai NPW
0
0
i*

i
i
0
i*

i
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
73
Pemodal telah menginvestasikan dana segar sejumlah Rp 50.000.000 pada tahun ini untuk
pembuatan pabrik isi ulang air minum, dan akan mendapatkan nilai uang kembali dari sejumlah
investasi selama 5 tahun kemudian sebesar Rp 100 juta. Hitunglah besarnya bunga i , ROR











Gambar 7.2 Diagram aliran kas Pabrik Air Minum Isi Ulang
Jawab:
Rumus IRR:
NPW = PW
R
PW
E
= 0
= 100 juta (P/F, i%, 5) 50 juta = 0
(P/F, i%, 5) = 5 , 0
100
50
=
Dari persamaan diatas dapat dihitung mencari nilai i, dengan melakukan pendekatan trial and
error, beberapa nilai i melalui tabel bunga. sehingga (P/F, i%, 5) = 0,5000. Misalnya percobaan
pertama dengan masukkan nilai, i = 15% :
(P/F, 15%, 5) = 0,4972
Dari tabel bunga, nilai terdekat adalah i = 12% :
(P/F, 12%, 5) = 0,5674
Maka besarnya nilai bunga tingkat pengembalinan (P/F, i
*
%, 5) = 0,5000, akan terletak antara nilai
bunga i
*
, 12% dan 15%. Untuk lebih detail nilai bunga dapat dilakukan analisa interpolasi.

Pada contoh diatas jika diketahui dari hasil analisa kelayakan, investor akan mendapatkan besarnya
nilai keuntungan sejumlah Rp 5.000.000,- per akhir tahun, sel;ama 5 tahun berturut-turut. Hitunglah
besarnya nilai , ROR




1 2 4 5
8
F = 100 juta
P = 50 juta
0
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
74






Gambar 7.3 Diagram aliran kas investasi Pabrik Air Minum


Jawaban:
NPW = A (P/A, i%, 5) + F (P/F, i%, 5) P = 0
= 5 juta (P/A, i%, 5) + 100 juta (P/F, i%, 5) 50 juta = 0
(7.5)
Persamaan diatas adalah untuk perhitrungan nilai tingkat bunga pengembalian investasi i
*
%,
sehingga ruas kiri sama dengan nol, maka kita mungkin harus mencoba berbagai nilai i karena disini
kita dihadapkan pada dua faktor, yaitu faktor nilai tetap tahunan seragam atau annnuited P/A dan
faktor nilai saat ini atrau presenth P/F. Untuk mempermudah analisa perhitungan maka
diasumsikan pertama aliran kas terjadi tanpa bunga, kedua kedua faktor yang berbeda tadi bisa
diekivalensi menjadi satu dengan analisa tanpa bunga , mengekivanskan P/A dan P/F ke nilai akan
datang P/F, peta aliran kas menjadi F :
F = Rp100.000.000 + 5 x Rp5.000.000
= Rp125.000.000,-
Asumsi ketiga adalah pada dasarya secara nyata nilai-nilai deret seragam A sebesar Rp 5.000.000, per
tahun adalah berbunga maka, nilai akan datang F tentu lebih besar dari 125 juta, sehingga bisa kita
berikan asumsi agar mempermudah pendekatan kita tidak terlalu menyimpang dengn kondisi nyata,
dapat diambil suatu kebijakan nilai F dari Rp125.000.000, menjadi Rp150.000.000, atau
Rp135.000.000, terserah besarnya nilai tersebut tapi gunakan pertimbangan yang wajar jangan
berlebihan dengan pertimbangan kondisi nyata jika kita meminjam uang di Bank selama 5 tahun.
150 juta (P/F, i%, 5) = 50 juta
(P/F, i%, 5) =
150
50

= 0.3333
Nilai tingkat bunga pengembalian investasi i
*
%, dengna menggufnakan tabael bunga untk
persamaan (P/F, i%, 5), yang mendekati persamaan (7.6) adalah 25%. Diambil dari tabel bunga
pendekatan trial and error, masukkan i = 25% nilai (P/F, 25%, 5) = 0.3277, dari tabel bunga
pendekatan trial and error, masukkan i = 205% nilai (P/F, 20%, 5) = 0.4371, maka kita pilih i=
25 %, karena lebih mendekati nilai (P/F, i%, 5) =
150
50
= 0.3333, jika ada tabel bunga lebih lengkap,
kita bisa memilih lebih baik jika tidak kita putuskan niali 25 % saja:
5 juta (P/A, 25%, 5) + 150 juta (P/F, 25%, 5) 50 juta = 0
5 juta (2,6893) + 100 juta (0,3277) 50 juta
= 13446500 + 32.770.000- 50.000.000
= -3.783.500
F = 100 juta
P = 50 juta
A = 5 juta
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
75
Hasil perhitungan pada triatl and error tahap pertama adalah ruas kiri persamaan di atas tidak
sama dengan nol, maka kita mencoba triatl and error tahap kedua dengan nilai tingkat bunga
pengembalian investasi i
*
, besarya sama dengan 20%, sehingga akan diperoleh:
5.000.000(P/A, 20%, 5) +100.000.000 (P/F, 20%, 5) 50.000,000 = 0
5. 000.000 (2,9906) + 100. 000.000 (0,4019) 50. 000.000
= 55.143.000 50.000.000
= 5.143.000
Hasil darr perhitungan triatl and error tahap kedua persamaan ini juga tidak sama dengan nol. Dari
kedua hasil perhitungan dapat kita lakukan analisa interpolasi linier untuk mendapatkan persamaan
sama dengan nol atau sehingga nilai tingkat bunga pengembalian investasi i
*
, bahwa nilai nol pada
ruas kiri tersebut akan berada pada i
*
antara 25% dan 20%.

Tabel 7.1 Hasil Perhitungan Data untuk melakukan interpolasi
TINGKAT BUNGA
PENGEMBALIAN
INVESTASI i
*
(%)
NPW (Rp)
20
5.143.000
i
*
0
25%
-3.783.500
Salah satu hasil analisa keberhasilan suatu investasi dikatakan layak adalah dengan
pertimbangan faktor analisa ekomomis nilai tingkat bunga pengembalian investasi i
*
, ROR yang
dihasilkan lebih besar atau sama dengan suku bunga pinjam dari sebuah Bank yang ditunjuk. Bila
teryata dalam suatu alternatif kelayakan proyek ada beberapa alternatif yang bersifat mutually
execlusive dan sama-sama memiliki ROR yang lebih besar dari bunga bank proses pemilihannya
dilakukan dengan metode IROR meningkat (Incremental Rate of Return).


7.2 External Rate of Returnt (ERR)
Analisa metode ERR adalah tingkat bunga eksternal e%, dimana aliran kas yang
dihasilkan oleh suatu proyek setelah umur ekonomisnya selelsai, bisa diinvestasikan kembali ke
proyek yang lain dari luar perusahaan yang telah menghasilkan ROR tadi atau dengan kata lain
diversivikasi investasi.
Dasar analisa perhitungan metode ERR adalah dengan ekivalensi atau konversikan semua aliran kas
keluar ke periode sekarang (presenth) dengan nilai tingkat pengembalian suku bunga e* per periode
pemajemukan, dan semua aliran kas masuk dikonversi ke periode N dengan tingkat bunga e%.
Hasilnya adalah suatu tingkat bunga yang menyebabkan kedua nilai tadi (setelah dikonversi)
ekuivalen, persamaan matematis adalah :




= =
=
N
0 t
N
0 t
t t
t) - N e%, (F/P, R N) i'%, (F/P, t) e%, (P/F, E (7.6)
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
76
dimana:
E
t
= Total aliran kas pengeluaran atas penerimaan pada periode t
R
t
= Total aliran kas penerimaan atas pengeluaran pada periode t
N = umur proyek atau horizon perencanaan
e = tingkat pengembanlian bunga pada investasi eksternal

Secara pendekatan metoda grafis diperlihatkan seperti dalam gambar 7.5.




Gambar 7.5 Analisa grafis ERR
Analisa akhir adalah suatu proyek akan bisa diterima (layak dilaksanakan) jika nilai e* % yang
diperoleh dari perhitungan ERR lebih besar atau sama dengan tingkat sukau bunga pinjam bank atau
suku tingkat bunga yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
Contoh pertama: Investasi diversifikasi baru untuk proyek jasa Warnet dengan umur alat selama
lima tahun, nilai investasi diambilkan dari keuntungan jasa Wartel yang semakin sepi saat ini. Investasi
awal yang dibutuhkan adalah Rp.25.000.000,- karena tempat dan komputer bekas wartel masih bisa
digunakan dan diakhir tahun kelima memiliki nilai sisa Rp.5.000.000,-. Dari analisa teknik dan
ekonomis usaha Warnet ini akan bisa menghasilkan Rp. 10.000.000.- per tahun setelah dikurangi
ongkos-ongkos operasional. Ditanya perhitungan besarnya nilai tingkat pengembalian suku bunga e*
per periode pemajemukan ERR dan beri keputusan apakah usulan ini bisa diterima?

Jawaban :
Langkah pertama Analisa perhitungan adalah dengan menggambarkan diagram aliran kas
dari persoalan ini seperti gambar 7.6. Dengan Rp 10.000.000 per tahun adalah merupakan pendapatan
Warnet merupakan deret seragam A, mulai akhir tahun pertama sampai akhir tahun kelima, F adalah
nilai sisa investsi Warnet diakhir tahun kelima sebesar Rp 5.000.000,-. Jika asumsi pertama adalah
nilai tingkat suku bunga pinjaman Bank atau suku tingkat bunga yang telah ditetapkan oleh perusahaan,
e = 20% per tahun. Langkah perhitungan kedua adalah melakukan perhitungan nilai bunga
menggunakan asumsi tabel bunga konvensional i % bukan e. Langkah ketiga lakukan perhitungan
aliran kas.




=
N
0 t
t) e%, (P/F, E

=

N
0 t
) t N %, e , P / F ( R
0
e* =
N
F=5.000.000
i = 20%
A = 10 juta
P=25.000.000
0
1 2 3 4 5
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
77




Gambar 7.6 Diagram aliran kas Usaha Warnet

Manual perhintungan adalah bisa kita pilih dengan melakukkan ekivalensi kan semua nilai
ke periode yang akan datang F.
25.000.000 (F/P, i%, 5) =10 .000.000 (F/A, 20%, 5) + 5.000.000
(F/F, i%, 5) = 10.000.000 (7.4416) + 5.000.000 (F/P, i%, 5) =

.000.000 25
79.416.000

=3.17664
Dari tabel bunga untuk mendapatkan (F/P, i%, 5) =3.17664 adalah nilai suku bunga adalah lebih besar
dari 25 %, karena untuk i = 25% maka nilai tabel bunga adalah sebesar 3.0518, sedangkah untuk (F/P,
20%, 5) =2,4883. Untuk hasil peritungan yang tepat bisa dilakukan dengan menghitung dengan rumus
log seperti dalam contoh soal bab III. Sehingga nilai tingkat suku bunga proyek ini lebih besar atau
sama dengan tingkat sukau bunga pinjam bank atau suku tingkat bunga yang telah ditetapkan oleh
perusahaan jasa wartel e*,= 20 % maka usulan investasi pendirian jasa warnet dapat diterima.



7.3 Explicit Reinvestment Rate of Return (ERRR)
Untuk analisa dengan metode ERRR digunakan untuk membandingkan hasil analisa
dengan metode IRR dan umunya metode ini diterapkan pada permasalahan dimana terdapat investasi
lump-sum tunggal dengan memperhatikan penerimaan bersih (setelah pajak) yang bisa merupakan deret
seragam pada setiap akhir periode, selama umur dari investasi.
Dasar anaslisa perhitungan besarnya nilai ERRR diperoleh dengan membagi keuntungan
total tahunan (penerimaan dikurangi pengeluaran dikurangi pengeluaran ongkos ekivalen tahunan dari
penggantian investasi) dengan jumlah investasi awal. Rumusan secara matematis ERRR sebagai
berikut:
ERRR =
P
) N %, e , F / A )( S P ( ) E R (
(7.8)
dimana:
R = Besarnya penerimaan keuntungan tahunan (deret seragam)
E = Besarnya pengeluaran perusahaan tahunan (deret seragam)
P = Besarnya investasi awal proyek atau usaha
S = Besarnya nilai sisa proyek atau usaha
N = Lama umur proyek atau usaha
Ir. M. Lukman,MT.
Hand Out E K O N O M I T E K N I K
Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Malang
2011
78
e = suku bunga tingkat efektif tahunan dari alternatif investasi yang bersangkutan
(seringkali sama dengan ketentuan dari perusahaan misalnya tingkat suku bunga
pinjaman Bank )

Sebagai gambaran , Manajemen Perguruan Tinggi memutuskan mendirikan SPBU setelah hasil
studi kelayakan hasilnya menguntungkan dan didirikan dekat lokasi kampus. Total Investasi Awal
adalah sebesar Rp. 25 M, dan akan memiliki nilai sisa Rp. 5 M, juga pada akhir umurnya di akhir tahun
kelima. Pendapatan atau keuntungan sebesar Rp. 10 M per tahun setelah dikurangi ongkos-ongkos
operasional. Hitung dengan ERRR
Penyelesaiann, dari soal diketahui:
R = Rp10 M per tahun
E = 0
P = Rp 25 M.
S = Rp 5 M.
P-S = Rp 20 M.
N = 5 tahun















Gambar 7.6 Diagram aliran kas Investasi SPBU (Stasiun Pengisian Bahan
Bakar Umum)
ERRR = ( 10 M (20 M (A/F,20 %,%))) : 25 M
= 0,2125 %
Karena nilai tingkat suku bunga pengembalian metode ERRR= 0,2125 % > Suku bunga Pinjam
Bank sebesar 20%, maka alternatif tersebut layak dilaksanakan, walaupun dengan selisih tingkat
bunga yang kecil. Artinya bisa juga dana usaha tersebut diusahakan dari pinjaman Bank.

F = 5 M
i = 20%
A = 10 M
25 M
0
1 2 3 4 5