You are on page 1of 36

1

DAFTAR ISI
Pengantar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3 Perluasan perspektif kajian kebenaran dalam penghayatan Al Quran . . . 4 Dasar-dasar ajaran Kebenaran dalam Al Quran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9 Telaahan ayat-ayat dan kajian surat-surat pada Al Quran . . . . . . . . . . . . 11 RISALAH PENGKAJIAN AYAT-AYAT AL QURAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 21 TAURAT dan INJIL sebagai paparan Wahyu dan Hadist . . . . . . . . . . . . . . . 23 Akar ketidak harmonisan antara Umat Pengikut Nabi Muhammad SAW dengan kaum Kristen . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 27 Beberapa aspek penghambat lain akibat kurangnya pendalaman pemahaman . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 30 Ibadah sebagai Bagian dari Iman . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 31 Karakteristik Perilaku dan Amal Perbuatan sebagai refleksi ke-Imanan. 33 Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 34 Penutup . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 36

Pengantar
Keberadaan beberapa agama Tauhid yang berasal dari satu akar sejarah merupakan suatu proses perjalanan rencana Allah SWT bagi manusia yang beriman dan berpedoman pada ajaran-ajaranNya. Eksistensi tiga agama Tauhid, pada kenyataannya menimbulkan kompleksitas baru yang tidak kalah pelik dan perlu mendapatkan perhatian serius serta upaya pembentukan kesefahaman atas dasar-dasar yang melandasi kebenaran ketiga Ajaran yang berasal dari satu sumber hakiki, Allah SWT. Penilaian subjektif dan tuduhan yang dilontarkan diantara umat dan rohaniawan ketiga ajaran ini, adalah sesuatu yang tidak jarang terjadi. Bahkan masalah ini meluas serta meradang berkepanjangan dan menimbulkan ekses-ekses merugikan sesamanya. Al Quran sebagai tuntunan wahyu Allah yang diturunkan paling akhir, bila dikaji secara seksama memiliki jawaban atas asinkronitas persepsi yang ada diantara ketiga Agama Tauhid tersebut. Untuk dapat menggali nilai dan petunjuk yang diwahyukan dan menempatkannya pada posisi pemahaman yang universal namun proporsional dan terhindar dari subjektifitas yang terkadang dihadapi, dituntut keterbukaan serta sikap legawa agar tidak timbul penilaian yang berpihak. Kunci dan dorongan untuk memulai hal ini adalah harapan atas terciptanya keserasian serta keharmonisan hubungan yang timbul atas dasar niat yang tulus dan sikap saling percaya. Fakta bahwa kesinambungan rencana Keselamatan Allah SWT atas seluruh jajaran umat dalam ketiga ajaran ini akan tergambar secara gamblang dalam bentuk peringatan; pesan; petunjuk dan gambaran atas tujuan sejati yang diwahyukan dan dijalin dalam tuturan penyampaian yang berkorelasi dengan konteks uraian yang menyandangnya. Sebagian daripadanya terkamuflase dengan penempatan yang terkadang berada dalam topik yang berkorelasi dengan topik-topik lain yang mengemukakan hal-hal lain pula. Karenanya untuk dapat memposisikan diri dalam mengamati makna sejauh jangkauan yang dimungkinkan, hendaknya kita melepas segala atribut; posisi dan disiplin yang mengemuka yang kita sandang dan berserah pada Kehendak Sang Maha Kuasa untuk membimbing dan melindungi kita dari pegaruh internal maupun eksternal yang mungkin membiaskan pandangan perspektif yang sesungguhnya. Dengan memposisikan diri kembali pada dasar pemahaman atas kebenaran Allah SWT, akan terbuka peluang untuk melihat integritas makna dan rencana yang terkandung didalamnya secara utuh dan berkesinambungan. Puji Syukur dan terima kasih pada Allah SWT atas kekuatan serta motivasi yang dilimpahkan dan semua fihak atas dorongan dan masukan yang positif sehingga paparan sederhana ini dapat dimulai dan juga dikaji oleh lebih dari kalangan yang dikenal dan memiliki kedekatan dengan penulis. Semoga dapat membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi kerukunan dan keharmonisan Umat Allah SWT.

Jakarta, 2005 Penyusun

Perluasan perspektif kajian kebenaran dalam penghayatan Al Quran Assalam Mualaikum Wr Wb; Syaloom, Dalam zaman yang marak dengan kompleksitas akibat dinamika ragam kehidupan yang menempatkan umat pada titik dimana keyakinan dan akal bergumul dalam polemik tiada akhir, manusia ditempatkan pada situasi yang gamang. Tanpa inisiatif untuk berpegang dan menentukan dasar pedoman yang kokoh ia akan terombangambing dan tidak mustahil terjerembab dalam kesalahan demi kesalahan yang tak berkesudahan. Agama sebagai pedoman yang diyakini, merupakan kebenaran hakiki Ilahi hendaknya menjadi satu-satunya jaminan keselamatan bagi umat dan seyogyanya mampu membawa umat pada penuntasan ke-gamang-an tadi. Namun terbersit pertanyaan mengapa dalam interaksi antar Agama Allah SWT(Tauhid) dimuka bumi ini, senantiasa terjadi ketidak sefahaman dan polemik yang mengklaim kebenaran masing-masing pihak mengemuka dan meruncing hingga menimbulkan friksi yang kerap mengarah pada pertikaian yang sangat menghawatirkan. Upaya-upaya untuk mempertemukan Visi dan Misi yang kesemuanya berasal dari Satu sumber yang tak terbantahkan ke-Esaan-Nya hingga kini senantiasa menemui jalan buntu dan bahkan terkadang menimbulkan polemik baru yang memicu letupan kontroversi baru pula. Kesemuanya membawa umat pada kehawatiran yang tidak kalah rumit untuk menempatkan sikap dan posisi dalam berinteraksi. Masing-masing pihak mengambil posisi dan sikap yang menurutnya aman dan umumnya memilih untuk menempuh satu dari dua alternatif yang lazim ditempuh, yaitu Bersikap masa bodoh (saya adalah saya dan kamu adalah kamu), mengubur atau mengaburkan persoalan yang mengemuka dan tetap berjalan tanpa kepedulian bahwa masalah tadi akan muncul kembali setiap saat dengan skala yang semakin besar, atau Membangun benteng virtual(imajiner) yang didirikan atas fanatisme subyektif yang secara membabi buta melibas segala perbedaan dan permasalahan yang dihadapi tanpa peduli sekalipun akan meruntuhkan koneksitas yang merupakan dasar kebenaran bersama yang seharusnya justru dipelihara. Hal yang dirasakan paling menyedihkan adalah, pokok pertikaian dan kontroversi ini timbul akibat ke-tidak/kurang fahaman pemaknaan wahyu-wahyu atau adanya upaya memaksakan kehendak, serta sikap yang mengabaikan keutamaan untuk selalu mendahulukan prinsip keterbukaan dalam melakukan analisa/verifikasi kebenaran pada segala hal. Hal yang baru bagi satu fihak serta perlu diverifikasi kebenarannya, kerap adalah hal yang benar; lazim dan lumrah bagi fihak lainnya, demikian sebaliknya. Sikap untuk membuka diri bagi fihak lain untuk berbagi pemahaman dalam melihat perspektif atas nilai kebenaran yang diyakini akan mencairkan kebekuan akar kontroversinya. Hal lain yang juga sering menjadi pertanyaan kritis akibat fokus yang timbul dari gambaran atas perilaku dan tradisi serta tata-cara lahiriah yang tampak dan dirasakan secara langsung adalah mengapa ada perbedaan ritual; adat; tata-cara ibadat dan metodologi pengajaran maupun pembentukan sikap yang tidak menampilkan keseragaman sebagai bagian integral dari ajaran dan Agama-agama Allah SWT. Pertentangan atas kontroversi masalah ini juga tak kurang andil negatifnya serta tak jarang menjadi pemicu keresahan akibat lunturnya toleransi maupun keterbukaan yang sedianya harus diutamakan.

Hendaknya segenap umat dalam konteks ini dapat melihat perspektif kebesaran dan Maha Arif Allah SWT adanya, yang telah memberikan keleluasaan pada umatNya untuk mengembangkan ritual; budaya; tata-cara ibadat; tradisi dan metoda penyembahan maupun menaikkan pujian kehadiratNya sejauh tidak bertentangan dengan nilai-nilai pedoman dasar yang sekalipun fleksibel tetap memiliki perimeter yang dilindungi oleh hukum-hukumNya. Pemaksaan atas hal ini akan secara frontal memulai pertentangan baru dan membawa umat yang berselisih faham pada pengingkaran atas perimeter yang tadinya fleksibel menjadi kaku dan tak lagi memiliki nilai kebersamaan. Pengingkaran ini juga menggiring umat kedalam fokus attensi yang cenderung mengaburkan perspektif atas aspek diluar bidang fokusnya, dan jika dibiarkan akan melemahkan dasar pemahaman dan toleransi keimanan keluar batasan yang justru akan menjerumuskan pelakunya pada kesalahan dan kesesatan. Fenomena ini semua terjadi bukanlah atas kehendak Allah SWT, namun tepatnya sebagai akibat dari pemaksaan kehendak serta nafsu yang kemudian menjadi kendaraan tunggangan si-Iblis yang membelokkannya ke-sasaran yang ia tentukan. Hanya dengan ketulusan dalam menghayati kebenaran hakiki Allah SWT, serta senantiasa memohon bimbingan dan bekal dasar keimanan yang kuat, niscaya segenap umat dapat menghindarinya. Kesemuanya akan terbentuk diatas dasar pemahaman dan penghayatan yang benar serta menjadi meterai yang terpateri dalam kehidupan umat yang senantiasa mendahulukan dorongan pemenuhan hati nurani yang telah ditempa dalam keimanan yang mengedepankan Kasih dan landasan hukum-hukum Allah yang diterapkan dalam konteks dan porsi yang tepat. Pada penghayatan nilai-nilai agama maupun pendalaman makna Firman atau Wahyu sering ditemui kenyataan bahwa halhal praktis terapan mendapat porsi perhatian sebagai fokus permasalahan yang lebih sering mengemuka dan diutamakan. Hal ini tentunya oleh mayoritas umat dilumrahkan sebab memang kenyataannya manusia hidup dalam hal-hal praktis yang ditemui dalam keseharian dan membutuhkan panduan yang dapat membimbing umat berperilaku serta membangun ketahanan terhadap infiltrasi ajaran yang sesat. Namun hendaknya jangan semata-mata terfokus pada bidang perspektif yang sempit yang akan merancukannya sebagai satu-satunya hal yang utama. Kekuatan yang tumbuh dari pemahaman perspektif yang luas namun tetap terfokus, akan membuka peluang untuk meraih pemaknaan yang lebih dalam dan mampu membekali umat dengan kesadaran dan kearifan yang lebih mulia dan mampu menuntun umat pada kebenaran hakikinya. Bila lebih jauh diamati akan didapati beberapa hal mendasar yang kurang diminati untuk dikaji oleh umumnya kebanyakan umat, padahal segala pemahaman kebenaran Ilahi dalam struktur rencana penyelamatan ummat Allah SWT terjalin dan berawal dari hal-hal mendasar ini. Banyak yang tanpa sadar melupakan atau kurang memperhatikan landasan/pedoman dasar ini dan serta-merta menggali penjabaran pedoman ini tanpa mengacu pada hubungan dasar-lanjutan secara berkesinambungan. Kecenderungan ini sama halnya dengan melemahkan pondasi bangunan dan mengharapkan dinding serta lantai untuk menopang beban fisik bangunan itu sendiri. Beberapa pemahaman dasar yang berdiri sebagai acuan pemahaman disini sebagai artikulasi dan makna serta landasan perspektif antara lain:

Al-Kitab/Kitab-kitab : - Adalah rangkuman Firman-firman Allah SWT yang diturunkan/diwahyukan sebelum Al Quran, firman-firman ini disampaikan dalam bentuk wahyu; Penglihatan; kehadiran maupun pernyataan Allah SWT secara langsung maupun melalui utusanNya. Kitab-kitab yang dimaksud pada Al Quran adalah Taurat; Zabur; serta kitab-kitab lain hingga Injil, untuk dapat mengetahui kitab mana yang dimaksud pada suatu ayat pada Al Quran, perlu penelaahan korelatif pada bahasan serta tematik penyampaiannya. Kitab Sebelum Injil : - Dimulai dari Kitab Genesis(kejadian/penciptaan); Taurat; Zabur dst. Merupakan rangkuman Firman; Hukum; perumpamaan dan sejarah yang memberikan siratan ajaran kebenaran dalam mempersiapkan ummat bagi penyelamatan Allah SWT. Karena intinya merupakan janji; hukum-hukum Allah SWT dan jalan keselamatan yang merujuk pada pemenuhan janji itu sendiri, maka oleh umat Nasrani/Kristiani dikenal sebagai Perjanjian Lama. Taurat : - (Taurat) atau Kitab Allah. Merupakan rangkuman peristiwa dan hukum Allah SWT yang diturunkan pada masa kehidupan Nabi Musa AS yang menjadi dasar pedoman bagi ummat Allah SWT serta masih berlaku hingga hari Kiamat. Kitab Taurat ini hingga kini masih menjadi pedoman bangsa Yahudi dalam tata-cara ibadat dan kehidupan keseharian karena memuat pelbagai penjabaran hukum terapan yang sangat spesifik. Kenyataanya umat Yahudi melihat ada peluang pengingkaran dan memutar-balikkan celah aturan yang ada. Adapun Kitab Taurat mengungkap janji Allah akan kehadiran Isa Almasih yang ditunjukkan sebagai Ia yang dijanjikan datang dan tanda-tanda kedatangannya sebagai Messias yang akan melepaskan ummat Allah dari belenggu. Interpretasi tentang belenggu yang keliru membawa ummat Yahudi kala itu berpendapat Isa Almasih akan melepaskan mereka dari belenggu penjajahan Romawi, sementara misi utamaNya adalah untuk melepaskan belenggu dosa manusia yang tunduk, patuh dan berserah pada Sang-Khalik(ISLAM), bukan hanya untuk umat Yahudi semata. Inilah sebabnya hingga kini umat Yahudi tidak mengakui Isa AS sebagai juru syafaat juga bagi umat kaumnya. Injil : - Pemenuhan janji Allah yang disebut dalam Kitab-kitab sebelumnya dimana Allah SWT menghadirkan Juru-syafaat yang bukan dari kalangan manusia biasa namun terlahir melalui perantaraan manusia sebagai Firman yang hidup, dan yang mati sebagai penebus serta bangkit kemudian diangkat kesurga oleh Allah SWT sendiri. Injil merupakan Hadist atas Firman Allah yang hidup sebagai Isa AS, serta membawa janji yang diperbaharui tentang keselamatan Hari Akhir dan kehidupan sesudahnya. Kehadiran Isa AS dilengkapi hukum pamungkas(Kasih) yang melingkupi seluruh Hukum yang diturunkan Allah SWT serta memperkenalkan Rohullqudus /AnNur. Banyak katakata Isa Almasih yang tercatat pada Injil merupakan kata-tersamar serta perumpamaan yang harus dimaknai dalam Visi Spiritual. Proses Perangkuman Injil dihasilkan melalui pengumpulan catatan kesaksian

AlQuran :

Ahli Kitab :

ISLAM

MUSLIM : Kafir :

Nasrani

atas kejadian dari beberapa saksi maupun rangkuman surat serta paparan rasul-rasul murid Isa Almasih dengan klarifikasi melalui Rohullqudus. Dalam AlQuran, Injil digambarkan sebagai Cahaya yang Terang( Al Maidah 46) Dinamai juga Perjanjian Baru. - Seperti dikemukakan berulang kali melalui wahyu didalam Al Quran, bahwa disamping sebagai tuntunan yang lurus, juga adalah peringatan bagi umat Yahudi serta juga segolongan umat Nasrani/Kristiani yang membelokkan atau justru menjalankan hal-hal yang bukan diajarkan oleh Allah pada Kitab-kitabNya. Namun AlQuran juga menekankan agar umat Allah SWT yang ISLAM, mengedepankan Iman serta senantiasa tanpa terkecuali berpegang teguh pada ajaran Kitab-kitab Allah. - Ungkapan yang dalam penulisan Al Quran kerap diberikan pada Para Ahli Taurat(Yahudi) namun terkadang juga dimaksudkan sebagai Rohaniawan kaum Nasrani atau keduanya atau bahkan dalam konteks ayat tertentu juga dimaksudkan sebagai ahli AlQuran. - Kata yang berasal dari akar/asal bahasa kuno Arab/Israel sebagai suatu kata sifat yang mengambarkan cara hidup yang awalnya ditauladani oleh Nabi Ibrahim yang mengutamakan kepatuhan; tunduk dan berserah kepada Allah SWT semata. Juga menggambarkan karakter umat Allah yang berhak mendapatkan keselamatan Dunia - Akhirat (Syria : eslem). Nabi Muhammad SAW menyampaikan wahyu yang menamai Shalat 5 waktu sebagai karakter umat yang mengedepankan ciri dan sifat yang tunduk serta berserah kepada rencana dan kehendak Allah SWT yang mutlak diakui sebagai satu-satunya Ilah maha Esa yang patut disembah. - Umat yang ISLAM - Manusia yang tidak mempercayai keberadaan maupun keselamatan dari Allah SWT; tidak peduli untuk beriman sekalipun telah ditunjukkan dan diperingatkan; hidup dengan menuruti hawa nafsu-duniawi semata; membawa umat Allah pada kesesatan; menyembah dan menuhankan hal lain selain Allah SWT. - Merupakan golongan umat pengikut/pelaku ajaran Isa Almasih. Umat Nasrani yang berkembang dikawasan timur tengah kala Nabi Muhammad SAW membawa syiar Islam memiliki kedekatan dan kesepahaman dengan Nabi Muhammad SAW. Nasrani merupakan aliran yang pertama membawa ajaran Isa Almasih yang juga berkembang di Syria dan Persia sementara di Mesir; Ethiopia dan beberapa kawasan Afrika dikenal juga aliran Koptik, di Eropa misi penyebaran yang dibawa oleh Rasul Paulus oleh penerusnya dikembangkan oleh jemaat di Roma menjadi Katolik. Pada masa syiar Nabi Muhammad, belum dikenal aliran selain umat Nasrani di kawasan timur tengah. Pertentangan antara Muslim dan Katolik Roma barulah timbul setelah wafat Nabi dan Khalifah Umar memimpin umat muslim, kalamana peziarah dari Roma yang merupakan utusan Paus waktu itu mencoba mengusir umat muslim yang sedang beribadat di Masjid Al

Aqsa Yerusalem yang dibangun di tepat diatas reruntuhan bekas Bait Allah. Perseteruan ini berlanjut hingga pecah perang Sabil dan akar pertentangan in tidak pernah terselesaikan hingga kini. Katolik : - Umat Katolik yang berkembang di Roma pada dasarnya juga berpedoman pada landasan ajaran Nasrani, kemudian mengembangkan dogma-dogma dan tata-cara ibadah serta membangun sistim struktural kepemimpinan Paus; Kardinal; Uskup/Monsigneur dst yang hingga kini eksis. Kristen : - Umat Kristen, merupakan kelompok umat berkesadaran yang memisahkan diri dari struktur ke-Paus-an, kelompok ini me-reformasi struktur dan tata-cara yang rentan terhadap penyimpangan serta absolutisme struktur kekuasaan Gereja pada akhir abad pertengahan untuk kembali pada struktur awal kristiani agar sesuai seperti yang tertera pada Injil. Jihad : - Berjuang/berperang untuk kemuliaan Allah SWT Melindungi/membela umat yg beriman pada Allah SWT Memerangi hawa nafsu Beramal dan derma Memberantas atau mencegah kebathilan Rukun : - Adalah acuan perbuatan yang dianjurkan untuk sebisa mungkin dilakukan untuk membina dan menumbuhkan kerukunan; keharmonisan; kearifan; kebijakan; kepercayaan; kepedulian; kasihsayang dan kesemua ini berujung pada utamanya keimanan yang ISLAM, atau pedoman ibadah dalam kehidupan di-dunia. Syahadat : - Pernyataan/Kesaksian seseorang tentang sikap; kepercayaan; keyakinan dan keimanan. Pernyataan/Kesaksian ini adalah langkah awal yang mutlak bagi seseorang yang sebelumnya tidak mengenal jalan penyelamatan Allah SWT untuk menjadi seorang yang ISLAM, karena untuk dapat masuk kategori umat yang akan diselamatkan Allah SWT, ia harus percaya; meyakini dan beriman pada Allah SWT semata. Pada awal masa Syiar Nabi, seorang yang awalnya kafir harus mengakui eksistensi Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa pesan tentang Wahyu dari Allah SWT. Tahap selanjutnya adalah mempelajari; menindak-lanjuti dan menjalankan apa yang diwahyukan melalui AlQuran secara keseluruhan dan bukan hanya sebagian saja. Halal : - Sesuatu yang dirihoi dan adalah rizki atau berkat dari Allah SWT. Haram : - Sesuatu hal yang bukan merupakan rizki Allah atau diperoleh/diberikan tanpa ridho Allah. Isa AlMasih menekankan bahwa yang haram tidak hanya sesuatu yang kita makan atau datang/diperoleh pada seseorang, namun juga atas sesuatu yang keluar/berasal dari seseorang yang ditujukan kepada pihak lain, seperti ucapan; penilaian subjektif; kemarahan dan sejenisnya. Agama : - Pembakuan tata ibadat dan tuntunan kehidupan umat yang disepakati oleh komunitasnya yang dibangun atas keyakinan akan kebenaran ajaran keselamatan dari Sang-Maha-Kuasa.

Pemahaman perspektif atas artikulasi dan makna dasar hal-hal diatas kiranya perlu mendasari dan akan memberi titik referensi yang jelas serta dapat menghindarkan umat dari pengingkaran kebenaran atas apa yang sedang dihadapinya. Penggalian pesan dan perintah Allah SWT dalam semua catatan penulisan wahyu yang pernah disampaikan sepanjang perjalanan misi penyelamatan Allah akan menghindarkan umat dari kehancuran moral dan kerusakan iman yang akan menempatkan umat yang tak memiliki kesadaran akan hal ini pada neraka jahanam menemani Iblis yang senantiasa mengajak umat untuk turut menghuni neraka bersamanya. Hendaknya setiap umat Allah melakukan pencarian untuk menemukan kebenaran didalam apa yang pernah diwahyukan dengan pedoman referensi dasar yang mampu menghindarkannya dari kekeliruan dan kesalah fahaman fatal bila diterapkan dalam kehidupannya.

Dasar-dasar ajaran Kebenaran dalam Al Quran


Al Quran ditulis atas dasar wahyu yang turun pada Nabi Muhammad SAW, baik melalui mimpi; penglihatan; pendengaran maupun pengalaman spiritual yang kemudian disampaikan pada beberapa pengikut setia Nabi yang melakukan pencatatan. Seperti diketahui bersama bahwa Nabi Muhammad yang sekalipun memiliki tingkat Intelegensia dan kebijakan sangat tinggi semasa hidupnya, bukanlah seorang yang memiliki kemampuan baca-tulis. Sekalipun beliau memiliki kedekatan dengan beberapa Alim-ulama Nasrani saat itu, apa yang beliau sampaikan sebagai paparan dasar atas Kitab-kitab dan tuntunan Allah pada masa sebelum Nabi hadir, tanpa bimbingan langsung Allah SWT mustahil untuk dapat merangkumnya seperti apa yang ada tertulis pada Al Quran. Tak dapat disangkal bahwa standar kebenaran serta akurasinya menjelaskan dengan sendirinya bahwa Kuasa serta peran Allah SWT yang menghadirkan semua ini melalui wahyu pada Nabi Muhammad SAW. Projeksi implementasi materi dari wahyu yang disampaikan juga selaras dengan kenyataan yang berkembang dan akan kemudian terjadi, sebagai contoh bahwa ada penyimpangan tatacara maupun dogmatis yang terjadi pada implementasi ajaran Allah, sekalipun pada masa dan tempat yang berbeda. Bahkan secara blak-blakan diungkapkan bahwa apabila umat agama Allah SWT mencoba mengingkari kebenaran Allah yang telah diturunkan pada kitab-kitab sebelumnya, Al Quran akan menjadi batu sandungan bagi mereka.Dalam AlQuran, juga berulang kali ditegaskan agar umat Allah SWT beriman, tetap berpedoman pada semua Kitab yang sebelumnya pernah Ia turunkan. Hal ini pulalah yang merupakan deklarasi final dari Allah SWT bahwa untuk menjadi umat yang dikasihi; diselamatkan dan berhak menerima janji Allah SWT haruslah menjadi manusia yang ISLAM(tunduk, takluk, berserah padaNya dan menjalankan segala perintahnya) serta beriman pada semua Kitab yang menyampaikan kebenaran yang Allah turunkan. Kekayaan makna dan panduan yang diwahyukan oleh Allah SWT dan terangkum dalam Al Quran tidak dapat disangkal keabsahannya namun juga menemui beberapa kenyataan yang dirasakan tidak sederhana permasalahannya. Ketetapan para penerus Nabi Muhammad SAW untuk membakukan penulisan dan penyebaran Al Quran hanya dalam aksara Arab memang beralasan, hal ini juga memberikan kontribusi dalam mempertahankan keasliannya. Seperti halnya aksara-aksara di timur tengah, aksara arab adalah aksara yang melambangkan simbol dasar atas bunyi, karenanya memiliki tanda fonetik baca yang memandu pembacanya untuk menentukan bunyi

fokal kata yang memberi arahan arti. Kenyataan bahwa Al Quran ditulis tanpa mencantumkan tanda fonetik ini jika dimaksud sebagai upaya untuk memelihara dan mempertahankan keaslian penulisan baku, disatu sisi adalah tepat, disisi lain hal yang kemudian menjadi kendala adalah memungkinkan pergeseran pelafalan yang sering memberikan perbedaan makna kata dan kalimat, terutama untuk menurunkan hafalan antar generasi. Hal ini pulalah yang menyebabkan terdapatnya beberapa tafsir Quran sebagai upaya untuk memberikan penyelarasan makna. Namun dari beberapa tafsir yang disusun oleh sejumlah Imam besar yang pernah ada, masih didapati beberapa perbedaan makna pada ayat yang sama. Hal ini dapat difahami karena pada setiap proses penafsiran, ada pengaruh atas nuansa; suasana jaman; kondisi; ekspektansi dan terkadang tujuan penyampaian yang turut terimplementasi. Untuk itu, adalah sangat bijaksana agar melakukan pengkajian secara korelatif berdasarkan kronologis situasi dan kondisi saat wahyu Allah SWT diturunkan untuk mendapatkan sinkronisasi kontekstual makna atas wahyu pada suatu ayat. Hal yang terpenting diatas kesemuanya adalah menjalankan seluruh perintahNya secara utuh, termasuk untuk juga beriman dan menggali serta menerapkan dalam kehidupan segala kebenaran yang Allah SWT ajarkan melalui semua KitabNya. Keengganan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dijalankan memang terkadang beralasan, namun tidak sepantasnya menjadi penghalang sebuah kebenaran yang hakiki. Dengan kepasrahan dan memohon tuntunanNya, serta menyingkirkan belenggu kecurigaan, dan membuka diri untuk berdialog secara tulus dengan motivasi yang mengedepankan tujuan yang mulia, maka niscaya awal keharmonisan akan membuka wawasan dan perspektif yang mampu meningkatkan derajat keimanan dan kepatuhan semua umat agama Allah untuk menjadi ummat yang ISLAM. Seperti digambarkan pada bahasan sebelumnya, tanpa berpedoman pada pokok dasar keimanan serta tanpa upaya untuk melihat makna secara korelatif dengan ayatayat atau terkadang Kitab-kitab yang lain(Al Baqarah -146/176/213; Ali Imran-7), pemahaman makna yang 100% akurat sulit dicapai. Kajian berikut disusun dalam upaya membuka perspektif yang lebih luas serta memiliki jangkauan makna yang korelatif sebagai metoda pendekatan yang mampu menepis kontroversi pemahaman antar Kitab-kitab yang ada, khususnya yang diturunkan sebagai pedoman umat keturunan Ibrahim yang juga adalah Bapaknya umat manusia yang beriman pada Allah SWT(Ali Imran-67-68). Pendekatan dalam pengkajian dan penggalian pemahaman berikut berpedoman pada dasar janji Allah SWT pada umatNya yang menjadi titik awal penyelamatan umat manusia yang beritikad menjadi ISLAM dalam artian yang sesungguhnya. Insya Allah segala pertentangan yang ada dan dipicu oleh asinkronisasi dogmatik kelak memudar dan berbalik menjadi kesepahaman dimana segenap umat saling mengisi celah kontroversi yang menjadi penghalang.(Ali Imran-64). Hal mana adalah paling ditakuti oleh Iblis yang berikrar menjerumuskan umat yang ISLAM dengan memecah belah mereka(An Nisaa 60; Ibrahim 30; Yaasin 62; Shaad 82). Pada penelusuran beerikut ini kita akan temui perintah; peringatan maupun penggambaran makna yang tersirat dalam ayat-ayat suci Allah dalam Al-Quran yang merupakan sumber kebenaran yang menjadi acuan korelasi ajaran agama-agama Tauhid.

10

Telaahan ayat-ayat dan kajian surat-surat pada Al Quran Surah Al Faatihah Ayat :

1 2 3 4 5 6 7

- Dengan menyebut nama Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang. - Segala puji bagi Allah, tuhan semesta alam. - Maha pemurah lagi maha penyayang. - Yang menguasai hari pembalasan. - Hanya pada Engkaulah kami menyembah, dan hanya pada Engkaulah kami mohon pertolongan. - Tunjukilah kami jalan yang lurus, - jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nimat pada mereka; bukan mereka yang dimurkai dan bukan mereka yang sesat.

Dari kajian surah ini tergambar secara utuh bahwa ayat-ayat ini adalah suatu pernyataan karakter umat yang sebagai memiliki sifat berserah diri dan pengakuan eksistensi keberkuasaan Allah SWT secara absolut. Surah Al Faatihah ini sangat singkat dan sederhana namun memiliki makna dan siratan yang sangat dalam dan mampu menjangkau aspek penyerahan diri serta pengakuan eksistensi kekuasaan Allah dengan perspektif yang utuh. Kajian ikutan sebagai pemaparan ayat-ayat pembuka ini seyogyanya ditelusuri pada ayat-ayat yang terkandung pada Surah-surah berikutnya, namun hendahknya tetap berpedoman pada ayat-ayat pembuka ini. Surah : Al Baqarah Ayat : 4 - Kriteria umat yang memperoleh hak atas keselamatan Allah SWT

44

79

85 87

91

- Menggambarkan sikap para ahli Kitab(Taurat) yang memerintahkan orang lain untuk melakukan kebajikan sementara mereka sendiri justru mengingkarinya. - Peringatan bagi orang yang mengada-ada tentang Firman Allah SWT atau mengatakan apa yang sesungguhnya bukan Firman Allah SWT melainkan karangan mereka sendiri, bahwa mereka kelak akan celaka. - Menggambarkan sikap orang-orang Yahudi yang beriman setengah hati - Gambaran tentang sikap dan keimanan orang Yahudi yang sekalipun telah diberikan tuntunan berupa Taurat dan beberapa Kitab hingga Injil namun mereka tetap ingkar pada Taurat serta tak mengakui Injil dan malah mendustai bahkan membunuh utusan Allah SWT. - Sikap arogan para Ahli Taurat(Yahudi) yang tidak mengakui Al Quran sebagai firman Allah SWT padahal Al Quran adalah bagian keselamatan Allah SWT pada umatnya, disisi lain mereka mengingkari/memutar balikkan firman Allah SWT yang telah

11

diturunkan sebelumnya bahkan mereka membunuh para nabi utusan Allah SWT. 101 - Sikap Para Ahli Taurat yang mengingkari kebenaran yang datang dan tertera pada Taurat. 105 - Allah SWT mempunyai hak untuk memberikan karunia kepada siapapun yang Ia kehendaki dan dalam hal ini adalah Muhammad, para ahli Taurat tidak senang dengan kenyataan ini. 109 - Kala itu para Ahli Kitab(Taurat) berharap bahwa bangsa Arab tetap menjadi bangsa Jahilliah sehingga lebih mudah mereka bodohi. 113 - Pertentangan antara orang Yahudi dan Nasrani yang tak berkesudahan dalam hal ini Allah SWT sajalah yang akan mengadili dan menentukan siapa diantara mereka pada hari kiamat nanti. 114 - Kehinaan didunia serta hukuman Allah di Akhirat bagi orang-orang yang menghalangi Syiar ajaran Allah 115 - Allah ada disegala penjuru dan tak ada yang tidak Allah ketahui. 121 - Petunjuk bagi umat yang telah diberikan kepada mereka Al Kitab agar mereka mempelajari kebenaran Allah SWT dalam Firmannya, sementara orang-orang yang mengingkarinya akan merugi. 124 - Pernyataan bahwa Nabi Ibrahim adalah Imam seluruh manusia yang ISLAM. 130~131- Nabi Ibrahim juga mengawali pembawa ajaran yang ISLAM. 132 - Penegasan bahwa seluruh keturunan Nabi Ibrahim yang beriman adalah masuk dalam kategori umat yang ISLAM. 144 - Perihal Perintah Allah SWT untuk menjadikan Masjiddil Haram sebagai Kiblat. 145 - Kenyataan bahwa Ummat Allah SWT dari golongan non-muslim tidak akan berkiblat pada Masjiddil Haram. 146 - Bahwa sesungguhnya dengan mendengar Firman yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, ummat Allah SWT yang beriman pada KitabKitab sebelum diturunkannya Al Quran mengenali kebenaran dan asal firman yang disampaikan adalah dari Allah semata, sehingga mereka tidak perlu mempertentangkannya.
151 - Bahwa bagi ummat yang beriman pada Kitab-kitab sebelum diturunkan Al Quran telah mendapatkan nimat Allah berupa tuntunan dari Rasul Allah dan kesucian dalam iman serta pengetahuan. 159/174 - Peringatan bagi ummat Allah yang beriman pada Kitab-kitab sebelum diturunkan Al Quran bahwa apabila mereka menyembunyikan/mingingkari kebenaran Allah yang telah diturunkan pada mereka maka mereka akan dilanati dan celaka.

12

176

213

- Pernyataan bahwa Al Kitab berisi kebenaran yang berasal dari Allah SWT dan hendaknya tidak dipertentangkan karena akan membawa siapapun yang mempertentangkan pada kesesatan. - Sesungguhnya Allah SWT telah mengutus Para Nabi; sebagai pemberi kabar gembira ttg keselamatan Allah; memberi peringatan dan menurunkan Kitab-kitab sebagai petunjuk dalam menyelesaikan perselisihan diantara manusia, karenanya memperselisihkan tentang kebenaran nyata Kitab-kitab yang diturunkan Allah SWT adalah buah kedengkian mereka sendiri, dan akan ditunjukkan kebenaran pada orang-orang beriman yang dikehendakiNya perihal perselisihan itu.

Surah : Ali Imran Surat ini merupakan risalah tentang keberadaan Keluarga Ali Imran(keluarga Siti Maryam) yang melahirkan Isa Almasih. Dalam surat ini tergambar keISLAMan keluarga dan Siti Maryam dilingkungan umat Yahudi yang diuraikan secara gamblang. Ayat : 3 -Juz-3 - Perihal Kitab yang diturunkan Allah SWT dimana Al Quran sebenarbenarnya adalah firman Allah SWT dan membenarkan Kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya 7 - ttg pokok-pokok Al Quran berasal dari Kitab-kitab terdahulu yang diturunkan Allah SWT. - Orang-orang yang memutar balikkan ayat-ayat untuk memfitnah. 19 - Agama Allah hanyalah ISLAM(menurut sifatnya), dan ISLAM tidak berselisih faham dengan orang-orang yang diberi AlKitab(yang juga berisi firman2 Allah) sementara siapapun yang kafir terhadap ayat2(firman2) Allah akan dihukum Allah. 20 - Perdebatan Nabi Muhammad SAW dimana Nabi menegaskan tentang Sifat dan ciri ISLAM serta kewajiban untuk menyampaikan petunjuk, karena Allah maha mengetahui. 23 - Al Kitab disini maksudnya adalah Kitab Taurat sebagai bagian AlKitab, umat Yahudi membelakangi hukum2 Allah SWT yang ada di Taurat. 24 - Ahli Taurat Yahudi juga meng-ada2 tentang keselamatan Allah SWT. 39 - Yahya putra Zakariya diutus sebagai utusan yang memberitakan firman yang membenarkan tentang Isa Al Masih yang hidup sebagai Kalimat dari Allah atau Firman yang hidup. 45 - Karunia Allah kepada Maryam dengan kalimat(yangdatang) adalah firman Allah yang hidup/lahir kedunia melalui Maryam yaitu Isa Al Masih yang terkemuka di bumi dan akhirat. 47 - Kenyataan bahwa Maryam masih perawan dimana atas kuasa Allah saja Maryam dapat mengandung dan melahirkan Isa Al Masih. 48 - Dalam perjalanan hidupnya Isa Al Masih akan mengajarkan AlKitab, Hikmah; Taurat dan Injil.

13

50 55~56

57

58 59 64

65 67 68

69 70 78 80 84

85

89 93 97

- Allah membenarkan Taurat dan apa yang diajarkan Isa dan Ia juga diberi kuasa yang menjadikan halal apa yang sebelumnya diharamkan bagi kita. - Firman Allah yang menyatakan bahwa Allah akan membawa Isa keakhir ajalNya dan kemudian mengangkat/membangkitkannya dari kematian dan membawa kepadaNya serta meninggikan pengikut2nya diatas orang2 kafir hingga hari kiamat dan Allah adalah penolong mereka. - Sebaliknya orang2 kafir tidak memperoleh penolong. Dalam hal ini jelas dituturkan urutan kejadian yang dialami Nabi Isa AS yaitu Lahir Hidup sebagai Firman Allah disampaikan ajalnya(mati) lalu dibangkitkan dan diangkat - Janji tentang pahala bagi orang2 yang beramal saleh. Konteks janji disini dimaksudkan bagi pengikut Isa AS karena merupakan bagian Al Quran yang menceritakan tentang Nabi Isa AS serta pengikutNya. - Penyampaian bukti2 tentang eksistensi penyelamatan Allah melaui Isa Almasih di sampaikan Quran dengan penuh hikmat. - Klarifikasi tentang Isa AS yang tidak memiliki Bapak biologis manusia. - Himbauan Nabi agar berpegan pada ketetapan tanpa perselisihan paham bahwa Allah adalah satu2nya Ilah(tuhan) yang patut disembah yang kepadaNya jugalah hendaknya umat senantiasa berserah diri. - Perbantahan yang tidak perlu mengenai perihal Ibrahim. - Penjelasan tentang Ibrahim sebagai orang yang lurus(hanif) dan berserah diri (beriman hanya pada Allah SWT) - Penjelasan ttg Nabi Muhammad SAW sebagai keturunan langsung Ibrahim yang juga memperoleh hak keselamatan Allah sesuai dengan yang Allah janjikan pada Ibrahim bagi semua keturunannya. - Ada segolongan Ahli-Kitab/Taurat yang berusaha menepis fakta ini. - Teguran bagi Ahli Kitab/Taurat - Teguran bagi Ahli Kitab/Taurat yang memalsukan ayat2 Allah. - Mempertuhankan manusia ataupun malaikat adalah keingkaran. - Sikap Nabi yang beriman pada Allah dan apa yang diturunkan padanya maupun diturunkan pada utusan Allah yang terdahulu, serta beriman pada apa yang diberikan pada Musa; Isa dan para Nabi Allah dimana dalam hal ini Nabi Muhammad SAW tidak mem-beda2kan nabi2 yang terdahulu dan beriman hanya pada Allah SWT. - Ungkapan/ekspresi tentang ISLAM(adalah dasar dari perilaku orang yg beriman yaitu tunduk dan berserah diri hanya pada Allah SWT) yang merupakan satu2nya jalan yang saleh. - Pertaubatan yang diterima Allah haruslah mengarah pada perbaikan. - Ttg makanan yang diharamkan bagi Bani Israel. - Pernyataan bahwa Ibrahim adalah Bapak agama ISLAM karena beliau adalah umat pertama yang beriman pada Allah dan memperoleh janji keselamatan baginya dan keturunannya.

14

99

- Pernyataan Allah supaya tidak menghalangi jalan ISLAM yang lurus.

Ringkasan makna: * * Ali Imran 64~100 - Menunjukkan sikap dan arogansi para ahli kitab yang menyangkal Nabi Muhammad dengan memutar balikkan ayat-ayat Taurat dan menyangkal kebenaran Alkitab serta berupaya untuk mencegah Bani Arab beriman pada Allah SWT. * Ali Imran 100~103 - Pernyataan bahwa ada segolongan orang yang mengaku percaya pd Kitab-kitab berupaya mengalihkan umat Nabi dari keimanan mereka menjadi seperti sebelum menerima ajaran yang ISLAM atau kembali menjadi kafir/Jahilliah, hal mana dikarenakan bangsa Arab waktu itu sejak Ismail hingga Nabi Muhammad hadir belum tersentuh langsung bimbingan Allah melalui utusan keturunan Ismail, lain halnya Bani Israel telah dibimbing Allah melalui Utusan2Nya hingga kehadiran Isa Al Masih. 110 - Menganjurkan agar para Ahli Kitab/Taurat untuk beriman. Pada masa Nabi Muhammad banyak Ahli Kitab Yahudi yang berpaling untuk membela kaum Quraisy sementara umat Nasrani sekalipun berpihak pada Nabi namun memutuskan tidak turut berperang bersama umat Nabi. 112 - Disini yang dimaksud adalah Ahli Taurat yang diungkapkan sebagai penuh kehinaan dan kafir pada ayat-ayat Allah serta membunuh para Nabi/Utusan Allah. *Ali Imran 111~112 Juz 4 - Sifat/Karakter AhliKitab yang menentang Nabi. 113 - Ada juga Ahli Kitab/Taurat yang berlaku lurus. Maksudnya adalah memahami dan mendukung keimanan Nabi yang didasari pada agama tauhid yang berasal dari Nabi Ibrahim. 114 - Menjelaskan bahwa berlaku lurus antara lain dengan menganjurkan umat untuk beramal soleh serta mencegah munkar. 115 - Bahwa setiap kebajikan akan memperoleh pahala karena Allah mengetahui orang2 yang bertaqwa. *Ali Imran 113~115 Juz 4 - Sifat/Karakter Ahli Kitab yang sefaham dgn Nabi. 13 116-117 - Hukuman bagi orang kafir. 119 - Umat Nabi juga harus beriman kepada semua Kitab(Taurat; Zabur; Injil) sekalipun jika dibenci dan dilecehkan oleh penganut kitab manapun 142 -143 - Pernyataan Allah agar ber-hati2 dalam menyatakan Jihad. 145 - Hak dan kuasa Allah untuk menentukan Ajal; rejeki serta keselamatan akhirat seseorang. 147 - Doa untuk menghadapi kebathilan. 155 - Tersirat pada ayat ini bahwa Syaitan dapat menggelincirkan manusia karena perbuatan2 manusia itu sebelumnya dan tidak insyaf/bertaubat kepada Allah. 157 - Apabila seseorang gugur ketika menjalankan perintah Allah, maka Allah akan memberikan ampunan serta rahmat yang lebih baik.

15

187

- Anjuran agar hendaknya orang2 yang diberi pada mereka AlKitab(Taurat; Zabur dan Injil) menerangkan isi AlKitab pada umat manusia, bukannya menyembunyikannya untuk diri sendiri. 188 - Anjuran untuk tidak mencari sanjungan/pujian dari manusia. 191-194 - Perumpamaan ttg doa orang berakal budi tentang kuasa dan ciptaan Allah serta memohon realisasi janji Allah yang telah disampaikan melalui perantaraan rasul2 Allah terdahulu. 195 - Jawaban atas doa yang benar. 199 - Sikap teladan beberapa Ahli Kitab. Surah : ANNISAA Ayat : 46 - Ttg orang2 Yahudi yang memutar-balikkan firman2, serta beriman tipis. 47 - Himbauan kepada orang2 yang bukan umat Nabi agar percaya pada Quran yang membenarkan Kitab2 sebelumnya. 64 - Penggunaan istilah Kami sebagai pengganti Kata Allah menyiratkan bahwa keselamatan Allah diimplementasikan oleh Allah beserta pihak2 yang dipilihnya dan menerima kuasa mutlakNya. 125 - Agama yang dianut Ibrahim dan besarnya kasih Allah pada Ibrahim. 136 - Himbauan pada orang2 beriman agar beriman pada Allah dan rasulnya serta pada Kitab2 Allah yang diturunkan sebelumnya. 146 - Tentang pertaubatan (idem dgn Ali Imran 89) 155~156 - Kekafiran orang2 yahudi kecuali sebagian kecil terhadap Isa Almasih dan Maryam (tuduhan zina) 157 - Keraguan dan sangkalan para Ahli Taurat serta orang2 yahudi (dalam ayat ini kedua oknum diistilahkan sebagai mereka) tentang kenyataan bahwa Isa Almasih masih hidup setelah mereka salibkan. Kenyataan dimana mereka kebingungan karena mereka kira mereka telah membunuh namun mereka tidak bisa menghalangi kuasa Allah SWT yang membangkitkan Isa AS dan tetap hidup hingga kini(158) sekalipun mereka telah menyalibkanNya. Akhirnya mereka nyatakan bahwa yang disalibkan itu adalah orang yang diserupakan dengan Isa AS. 159 - Barangsiapa yang mengikut dan beriman pada ajaran Allah melalui Isa AS, pada hari penghakiman nanti Isa AS akan bersaksi thd mereka. 171 - Sangkalan bahwa Isa AS itu (atau setara dengan Allah) dan sangkalan bahwa Allah itu adalah tiga oknum yang memiliki kesetaraan yang sama diantaranya. 172 - Bahwa Isa tunduk dan menyembah Allah tanpa keraguan.

16

Surah : AL MAA-IDAH Ayat : 5 - Makanan2 yang dihalalkan bagi orang yg diberi AlKitab(Nasrani) halal bagi umat Islam, dan wanita dari kalangan org Nasrani juga halal untuk dikawini. 8 - Petunjuk bagi orang2 yg beriman. 12 - Tentang orang2 yahudi yang suka memelintir firman Allah sehingga menyesatkan. 14 - Tentang sebagian orang2 Nasrani yang telah melupakan peringatan Allah. 15 - Mengenai Utusan Allah yang membawa keselamatan dan menerangkan kebenaran Allah yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab(Taurat) Utusan yang dimaksudkan disini adalah Isa AlMasih, mengingat ayat ini diikuti ayat yang berhubungan dan membahas mengenai Isa. 17 - Bantahan bahwa Isa adalah Allah(Ilah/Tuhan). 18 - Pernyataan nabi bahwa anak2 Allah tdk akan berbuat dosa sehingga mengalami siksa Allah. Ini menyiratkan makna bahwa tidaklah pantas mengaku sebagai anak2 Allah sementara masih secara sadar berbuat dosa. 19 - Firman tentang Nabi Muhammad sebagai utusan allah pemberi peringatan. 20 ~ 26 - Tentang keraguan Umat Musa pada kuasa Allah. 46 - Tentang Isa yang datang membenarkan Taurat dan membawa Injil yang adalah cahaya yang terang. 47 - Pengikut Isa hendaknya berpegang dan memutuskan perkara2 menurut apa yang ada pada Injil, sebab bila tidak, mereka setara dengan orang2 fasik. 48 - Quran memberitakan kebenaran serta membenarkan Kitab2 sebelumnya namun juga merupakan batu-ujian terhadap pelaksanaan wahyu dan perintah pada Kitab2 tersebut. Maka hendaknya masing2 umat memutuskan perkara menurut apa yang Allah telah turunkan dan agar jangan mengikuti hawa nafsu sehingga meninggalkan kebenaran yang telah datang. Untuk setiap umat telah diberikan aturan dan jalan yang terang dan apabila Allah menghendakinya niscaya hanya ada satu agama Allah. Namun dalam hal ini Allah hendak menguji keyakinan umatnya terhadap pemberiannya(ajarankebenaran) dan hendaknya umatNya berlomba-lomba berbuat kebajikan, kelak setelah semua dipanggil/kembali kepadaNya akan dibukakan apa yang selama ini diperselisihkan diantara umat agama Allah. 51 - Agar masing2 umat mengambil/memilih pemimpin mereka dari kalangan mereka masing-masing. 69 - Allah tidak membedakan umatnya yang manapun jika mereka benar2 beriman kepadaNya; pada hari kemudian(akhirat) serta melakukan amal saleh maka mereka tak perlu takut pada apapun. 72~73 - Idem dengan AnNisaa 171

17

77~78

- Himbauan agar Ahli Kitab tidak melampaui batas hak dan kewenangan mereka dalam menalarkan firman2 Allah serta mengikuti hawa nafsu dalam mengambil keputusan suatu perkara.- Hal mana adalah kelaknatan bagi Utusan2 Allah sebelum Nabi Muhammad. 82~86 - Kenyataan bahwa permusuhan yang paling keras terhadap orang2 beriman adalah dari orang2 Yahudi. Sebaliknya yang paling dekat pada orang2 beriman adalah orang2 Nasrani dimana Pendeta2 dan rahib2nya tidak menyombongkan diri.- Pada saat mereka mendengar apa yang diwahyukan pada Nabi Muhammad, mereka memuji Allah dan menjadi saksi kebenaran wahyu2 yang diberitakan Nabi(Quran).- Namun mereka tetap beriman pada apa yang telah mereka imani sekalipun mereka ingin menjadi bagian dari keselamatan Allah yang diberitakan Nabi. Karena keyakinan serta iman mereka yang besar maka Allah memberikan pahala serta keselamatan akhirat bagi mereka.- Sementara bagi orang2 yang mendustakan firman2 Allah akan menjadi penghuni Neraka. 87~88 - Anjuran agar jangan mengharamkan yang tidak haram dan menghalalkan yang tidak halal hal mana adalah perbuatan yang melampaui batas.- agar memakan apa yang merupakan rezki dari Allah. 110 - Perihal kuasa Allah yang dikaruniakan pada Isa termasuk (AnNur) RohKudus; kemampuan2 serta kuasa2 yang dilakukan Isa AS, sementara Ahli2 Taurat mengatakan bahwa apa yang Isa lakukan adalah Sihir. 111 - Perihal Pengikut Isa yang setia. 112~115- Ketika pengikut Isa (maksudnya masa yang mengikuti khotbah) meminta sesuatu mukjijat Allah(agar menurunkan makanan) maka Isa tidak meladeninya dan menyuruh mereka agar semata-mata bertaqwa pada Allah sebagai orang yg beriman. - Mereka memohon bukti kuasa Allah yang ada pada Isa, lalu Isa memohon ijin pada Allah agar Allah berkenan menurunkan makanan bagi mereka.- Allah menurunkan makanan namun jika setelah menyaksikan bukti kuasa ini pengikut Isa munkar maka akan menerima siksa Allah. 116 - Pernyataan bahwa Isa AS tidak pernah mengucapkan bahwa Ia serta Ibunya patut disembah selayaknya Allah. 117 - Pernyataan Isa bahwa Ia tidak berbuat sesuatu apapun yang bukan rencana Allah SWT hingga saat Ia Wafat, dibangkitkan dan diangkat kehadirat Allah, maka Allah yang mengetahui segala sesuatunya. 118 - Isa berkata bahwa Allah berhak menghukum orang2 yang mensetarakan Ia dengan Allah, namun orang2 tersebut adalah hamba2 Allah juga dan jika Allah mengampuni mereka hanya karena Allah maha Pengampun. 119~120 - Allah memahami kekhilafan tersebut dan ridha serta mengampuni mereka atas kesalahan persepsi atas eksistensi Isa-Almasih.- Karena Dunia dan segala isinya merupakan kepunyaan Allah dan Allah mahakuasa.

18

Surat : AL ANAAM Ayat : 29~30 - Orang2 yg beriman hendaknya percaya akan pembangkitan setelah kematian yaitu pada hari kiamat nanti dan hukuman yang akan Allah timpakan kepada orang-orang yang tak percaya. 36 - Kata mati disini memiliki makna mati-jasmani, sementara yang akan dibangkitkan adalah Roh(Spiritual) yang akan kembali padaNya. 38 - Masih berkaitan dengan ayat 29-30 dimana ditekankan dalam hal ini menurut Al Kitab seluruh umat manusiapun kecuali binatang akan dibangkitkan Rohnya dari alam kubur dan dihimpun kehadapan Tuhan. 44 - Tentang orang2 yg berpaling dari kebenaran Allah, Syaitan akan membawa mereka pada kesenangan dunia dan Allah akan membiarkannya, namun ketika Allah tiba-tiba menghukum mereka, maka mereka akan terkejut dan putus asa. 57 - Tentang orang-orang yang mendustakan firman Allah, Nabi menyampaikan bahwa menetapkan hukum( membuat aturan dan menghukum) adalah sepenuhnya hak Allah. 90 - Bahwa Allah telah menurunkan Nabi-nabi yang dibekali dengan Kitab; Hikmat dan Kenabian, hendaknya manusia yg percaya mengikuti ajaran ttg kebenaran yg telah diturunkan Allah SWT. Al Quran adalah peringatan bagi segenap umat(dari agama apapun). Surat : YUNUS Ayat : 35 - Bahwa Allah saja yang menunjukkan kebenaranNya 36 - Bahwa persangkaan/persepsi/dugaan tidak akan ada gunanya dalam hal memaknai ajaraan kebenaran Allah 37 - AlQuran diwahyukan Allah untuk membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah Allah tetapkan, tanpa keraguan. 41 - Bila menghadapi orang-orang yang tidak jujur, katakan bahwa masingmasing mempunjai tugas yang tidak terkait tanggung jawabnya antara satu sama lainnya. 94 - Allah memerintahkan agar bila berada dalam keraguan tentang apa yang Allah telah wahyukan/firmankan, maka agar bertanya pada orang-orang yang membaca kitab sebelumnya dan jangan sampai termasuk dalam orang yang ragu-ragu dalam memahami Wahyu dan Firman Allah. 100 - Bahwa keimanan seseorang hanya dengan izin Allah saja dan hendaknya umat menggunakan akal yang dikaruniakan padanya. Paparan ini menggambarkan korelasi yang jelas tentang adanya kesinambungan kitab-kitab suci agama Tauihid, namun disamping ayat-ayat yang dipaparkan diatas, masih terdapat banyak ayat-ayat Al Quran yang menggambarkan korelasi firmanfirman Allah pada kitab-kitab sebelumnya. Kesemuanya memberi nuansa yang lebih

19

mempertegas koneksitas yang ada dan penekanan untuk melakukan upaya-upaya positif agar maksud dan rencana keselamatan Allah SWT pada umat manusia dapat secara utuh direalisasikan. Bila dikaji secara menyeluruh, paparan Wahyu Firmanullah pada AlQuran hampir lebih dari separuhnya mengemukakan hal-hal yang korelatif dengan Wahyu Firmanullah tentang ajaran kebenaran pada Kitab-kitab sebelum AlQuran. Separuh lainnya berisikan amaran/arahan/petunjuk, perintah dan penjabaran tentang bagaimana Allah SWT menghendaki Nabi Muhammad SAW bersikap, memahami/memedomani dan memutuskan perkara-perkara yang berkaitan dengan tugas beliau menjalankan Syiar ISLAM kala itu. Banyak amaran, perintah dan penjabaran yang dirasakan sangat berbeda dengan tradisi maupun kelaziman dengan apa yang berjalan pada Umat Israel namun ini bisa difahami karena komunitas bangsa Arab kala itu didominasi oleh kaum Quraisyi yang telah tumbuh dan memelihara kultur Tradisi Jahiliyah akibat tidak tersentuh oleh ajaran Allah SWT selama lebih dari 2000 tahun. Untuk bisa mendobrak segala tradisi, perilaku sesat dan kekeliruan kaum Quraisyi yang ada saat itu, Allah SWT secara khusus membekali Nabi dengan kelengkapan sosial serta langkah-langkah perlindungan bagi Ia; keluarganya serta pengikutnya. Nabi Muhammad faham betul bahwa banyak pengikutnya yang sekalipun telah memilih untuk mengikuti perjuangan Nabi, namun berasal dari kaum yang asalnya Jahil dan kafir dimana tradisi kejahilan serta kekafiran masih tertanam melekat dalam keyakinan dan pola pikirnya, mereka belum mampu menundukkan dorongan naluriah yang sebelumnya telah lama mengendalikan kehidupan mereka. Sebagai contoh hal mengenai penerapan penggunaan Hijab pada wanita muslimah kala itu merupakan pendekatan untuk meredam perilaku masyarakat yang mudah terpicu nafsu-birahinya bila melihat bagianbagian tubuh wanita. Langkah ini pada saat itu dinilai sangat moderat karena istiadat kaum Quraisyi melakukannya dengan cara membatasi populasi kaum wanita dan membiarkan pembunuhan bayi-bayi perempuan yang lahir saat itu. Demikian halnya dengan pembagian harta pampasan perang maupun kepemilikan budak yang diperoleh ketika lasykar Nabi Muhammad menundukkan lawan-lawan kafirnya. Tanpa adanya aturan tentang hal ini, niscaya akan selalu terjadi perseteruan dan perebutan yang justru akan memecah belah umat yang baru saja dihimpun untuk menegakkan Syiar Ajaran Allah SWT atas kaum-kaum kafir umumnya dan di-tanah Arab khususnya. Disamping adanya Wahyu Allah SWT pada AlQuran umat Nabi Muhammad SAW juga memiliki Hadist Nabi yang kerap dijadikan referensi figur panutan dalam hal karakter dan sikap hidup dalam komunitas Muslim pengikut Nabi di-awal keberadaannya. Hadits Nabi ini dicatat berdasarkan penuturan kesaksian para Sahabat dan Kerabat Nabi Muhammad SAW sepanjang perjalanan kehidupan Nabi dalam mengantarkan ajaran yang ISLAM bagi umat yang kala itu masih terbelenggu dalam kebodohan dan kekafiran. Adapun mengenai keutamaan yang menjadi pedoman Hidup umat baik dalam hal Duniawi maupun Spiritual, Nabi Muhammad SAW juga menetapkan bahwa AlQuran adalah rujukan utama. Ini menegaskan bahwa AlQuran derajatnya jauh lebih tinggi daripada Hadits Nabi. Oleh karena itu niscaya ada asinkronitas makna atas suatu atau beberapa hal/aspek bahasan topik tertentu diantara AlQuran dan Hadist Nabi, kiranya umat tetap berpegang pada keutamaan kebenaran makna sesuai paparan Wahyu Ilahi yang tertera pada AlQuran diatas Hadist.

20

RISALAH PENGKAJIAN AYAT-AYAT AL QURAN Secara umum dapatlah dikemukakan disini bahwa Quran mengutamakan, membenarkan dan tidaklah pernah membantah kebenaran serta Firman Allah yang diturunkan melalui Kitab-kitab sebelumnya (melalui Bani Israil yang juga adalah keturunan Nabi Ibrahim). Ini ditekankan dengan memerintahkan umat Nabi agar menghormati dan juga menyelidiki kebenaran Allah pada Kitab-kitab terdahulu. Hal yang tersirat namun perlu mendapatkan penekanan dalam melihat Kitab-kitab terdahulu adalah dengan menelusuri alur misi penyelamatan Allah bagi umatNya melalui gabungan pemahaman Kitab-kitab tersebut. Kesemua ini bermuara pada Keselamatan melalui Kasih Allah semata yang tingkatannya berada jauh diatas segala hukum dan ajaran apapun yang diturunkan bagi umat manusia yang mencari Keselamatan Dunia Akhirat padaNya. Jika dikaji secara kronologis rencana Allah atas penyelamatan umat manusia dapat dijabarkan dalam periode {Misi (masa)} dalam urutan sebagai berikut : - Diciptakan(Adam) - Dibersihkan dari golongan umat pendosa( Luth; Nuh) - Diberi janji/jaminan Keselamatan karena ketaatannya yang ISLAM(Ibrahim) - Dididik dalam penderitaan sebagai bangsa yang terjajah(perbudakan Bani Israil di-Mesir) - Dilepaskan dari belenggu dan diajari aturan Hukum Allah selama 40 tahun di gurun (oleh Musa) - Dilatih disiplin dalam menjalankan aturan dan hukum (oleh para Hakim) - Dididik menjadi masyarakat bernegara(oleh para Raja: Saul; Daud; Sulaiman dst) - Dibimbing memahami dasar-dasar penyelamatan spiritual Allah dan dipersiapkan untuk kedatangan Isa AlMasih(oleh para Nabi) - Diberi kunci keselamatan melalui penggabungan kesemuanya yakni Kasih; melalui firman Allah SWT yang hidup sebagai manusia, kemudian ditebus dosa-dosanya dengan Qurban yang disediakan oleh Allah SWT sendiri melalui curahan Darah dan Nyawa Al Masih, yang atas rencanaNya pula Ia mengalahkan Maut dengan dibangkitkan serta diangkat kehadiratNya. Pada tahap ini umat juga dijaga dan dipelihara dengan bekal kehidupan Fisik dan Spiritual oleh Rohul Kudus/An-Nur sebagai jaminan keselamatan Allah bagi umatnya yang dikasihi (melalui Isa Al Masih). - Diingatkan untuk tidak mengingkari/membelokkan/memutar-balikkan perintah/hukum/jalan-keselamatan Allah SWT melalui AlQuran sebagai jalan yang lurus dan ditunjukkan pada kebenaran firman-firman Allah yang disampaikan pada Kitab-kitabNya. Dihimbau/dibimbing untuk menuju keselamatan Allah SWT dengan menyusuri kembali inti pemahaman keselamatan sesuai tauladan hidup Nabi Ibrahim yang Hanif dan ISLAM hingga pemenuhan Misi keselamatan Allah SWT atas manusia sepenuhnya terlengkapi.(Nabi Muhammad SAW)

21

Dari kronologis diatas dapatlah dipahami bahwa Eksistensi Al Masih dinyatakan sebagai Nabi pada penulisan Al Quran adalah karena kala itu (pada waktu Nabi Muhammad menyampaikan amanat keselamatan Allah) umat Nabi Muhammad harus terlebih dahulu memahami Al Masih sebagai Utusan/Nabi yang membawa ajaran/hukum Kasih. Untuk dapat masuk pada fasa pemahaman yang lebih mendalam, Al Quran beberapa kali secara khusus memerintahkan umat Nabi untuk beriman serta mendalami Kitab-kitab sebelumnya. Bahkan ditekankan agar Nabi dan Umat yang ISLAM tanpa ragu bertanya pada orang-orang yang membaca kitab-kitab sebelumnya(Qs : Yunus(10):94. Allah SWT dalam wahyunya pada Al-Quran tidak secara khusus menyatakan bahwa kitab-kitab Taurat dan Injil yang kala Nabi Muhammad SAW telah ada sebagai kitab-kitab yang isinya dipalsukan, namun berulang kali mengemukakan bahwa terjadi pengingkaran maupun pemutar-balikan makna dan terapan atas wahyu-wahyu Allah yang telah diturunkan. Kiranya inilah hal yang ditekankan untuk diperhatikan oleh umat agama-agama tauhid sebelum hadirnya Nabi Muhammad SAW untuk berkaca pada perjalanan sejarah agama yang dianutnya serta legawa menerima kritik maupun petunjuk yang benar sekaligus melakukan langkah-langkah koreksi diri yang sekiranya diperlukan. Dibutuhkan waktu dan niat untuk mempelajari serta mengkaji kronologi penyelamatan secara utuh dalam upaya memahami serta hidup dalam keselamatanNya. Sekalipun telah secara eksplisit dalam Al Quran ditekankan untuk melakukan langkah kearah tersebut, sangatlah sulit dalam prakteknya bila tidak mengembangkan perspektif pandangannya hingga seluruh makna yang terkandung didalamnya dapat dicerna; diserap serta diterapkan dalam kehidupan dengan pemahaman keselamatan secara utuh. Pengakuan atas misi penyelamatan melaui Isa Almasih dalam Al Quran terproyeksi dengan jelas walaupun dengan perspektif yang berbeda, mengingat Al Quran diturunkan pada bangsa Arab yang sekalipun merupakan salah satu bangsa besar keturunan Ibrahim, namun relatif lama(ribuan tahun) tidak tersentuh pemahaman keIlahian Allah (sejak Siti Hajar dan Ismail berpisah dari Ibrahim/Sarah hingga kehadiran Nabi Muhammad SAW) dimana pada masa kehadiran Nabi, mayoritasnya masih menyembah berhala. Perspektif yang demikian dapatlah dimaklumi, karena untuk memahami misi peyelamatan Al Masih dibutuhkan persiapan pendahuluan yang dipersingkat dari ribuan tahun menjadi hanya beberapa tahun dalam syiar Nabi Muhammad SAW. Al Quran secara jelas menyatakan Isa AS sebagai Firman Allah yang Hidup serta harus mengalami kepedihan maut sehingga boleh menjadi Qurban tebusan(Al Maa-Idah 110). Ketaatan dan kedekatan Manusia Isa AS pada Allah SWT tergambar jelas seperti halnya anak terhadap Bapak yang diungkapkan sebagai personifikasi Allah SWT sang pencipta atau Bapa dari segala Bapak. Apa yang terjadi dikayu salib dimana Al Masih ditentukan menjadi Qurban, adalah pelengkap kealpaan kejadian dimana Nabi Ibrahim karena kemurahan Allah SWT, tidak sampai mengurbankan anak tunggalnya. Sangatlah relevan dan bijaksana bila umat yang ISLAM mau melihat tuntunan Al Quran dengan perspektif yang lebih terkembang, hal ini niscaya akan memberikan manfaat dan kemudahan dalam mengadakan pendekatan titik pemahaman rencana keselamatan Allah SWT bagi ummat yang dikasihi.

22

TAURAT dan INJIL sebagai paparan Wahyu dan Hadist


Taurat seperti diketahui adalah wadah penggabungan Wahyu dan Hadist yang mengawali Misi penyelamatan Allah SWT pada umatNya. Ribuan tahun perjalanan tuntunan Allah SWT pada manusia sejak Adam diciptakan tergambar dengan gamblang dan akurat pada Taurat. Periode penyelamatan pada tahap ini menekankan keimanan dalam ketaatan Hukum-hukum Allah. Berikut adalah sepuluh Hukum dasar Allah SWT yang di sampaikan pada umat manusia. Hukum-hukum ini masih berlaku hingga akhir jaman dan menjadi panduan dasar umat dalam berkorelasi dengan Allah maupun sesama manusia. 1. Jangan Menyembah dan beriman pada Ilah lain selain Allah SWT > Jangan menduakan Allah dengan apapun (Harta; Martabat; Kuasa ; Jimat, Penguasa Duniawi; Roh-roh; Nabi-nabi serta utusan Allah dsb) termasuk dalam hal ini adalah memohon serta menggantungkan nasib serta tujuan pada kuasa selain kuasa dari Allah semata. Jangan membuat/menempatkan patung atau benda atau representasi fisik maupun ilusi apapun baik yang dibuat menyerupakan Allah maupun utusan Allah didunia atau Ilah atau penguasa apapun untuk disembah /dipuja. > Penyembahan pada patung atau benda yang direpresentasikan sebagai sesuatu media penyembahan oleh Allah di artikan juga sebagai pernyataan kebencian pada Allah yang wujudnya tak pernah akan bisa didefinisikan oleh umatnya dalam bentukan fisik atau imajinasi manusia. Jangan Menyebut nama Allah SWT dengan sembarangan tanpa sikap khidmat dan untuk hal yang sia-sia, mengucapkan sumpah atas namaNya untuk sesuatu yang tidak bisa diPastikan pelaksanaannya. Hormatilah Hari Sabat(Sabtu), hari ketujuh siklus penciptaan semesta beserta segala isinya, pada hari ketujuh ini Allah menyelesaikan segala proses penciptaan dan menghentikan kegiatanNya. > Allah menghendaki bahwa ummatnya juga menghormati hari ini dengan tidak beraktivitas dalam mencari nafkah dan sejenisnya namun memfokuskan untuk kegiatan-kegiatan memuliakan Allah dan beribadat. Hormati Ayah dan Ibu > Orangtua sebagai Pihak yang membawa keberadaan kita di-Dunia harus kita hormati dan jangan secara sengaja disakiti dengan cara apapun. Dengan menghormati asal keberadaan kita, maka niscaya Allah akan mengaruniakan kita dengan usia yang panjang. Jangan Membunuh > Menghilangkan Nyawa sesama kita(manusia ciptaan Allah) untuk hal yang sia-sia. Hak mencabut nyawa adalah sepenuhnya hak Allah SWT. Jangan berZinah > Zinah akan meruntuhkan kerukunan intern dan antar keluarga, merusak akar keturunan dan menimbulkan perselisihan yang akan terbawa hingga generasi penerus pelaku Zina itu sendiri. Kondisi ini akan secara langsung melemahkan keutuhan umat Allah SWT. Jangan Mencuri > Mengambil/merampas hak atas milik orang lain secara paksa atau tanpa sepersetujuan/kerelaan pemilik asalnya, adalah suatu penganiayaan atas

2.

3.

4.

5.

6. 7.

8.

23

kehormatan dan hak orang lain. Hal ini menimbulkan ketidak-percayaan akan memicu kemarahan yang merusak kepercayaan dan kerukunan antar sesama umat. 9. Jangan Berdusta, jangan bersaksi dusta atau Sumpah Palsu > Hendaknya umat berkata dengan benar apa adanya, tidak menjanjikan hal yang tidak pasti kenyataannya dan menghidari untuk bersumpah untuk meyakinkan orang lain atas sesuatu kebenaran yang belum terbukti, apalagi dengan mengucap sumpah dalam Nama Allah. 10. Jangan Mengingini apapun yang adalah hak atau milik orang lain > Keinginan untuk memiliki ini hendaknya dialihkan pada cita-cita/harapan untuk meraih apa yang merupakan berkat dan Karunia Allah melalui upaya/usaha yang halal serta diridhoi Allah SWT. Keninginan memiliki hak/milik sesama akan menstimulir kecemburuan dan pengingkaran kenyataan bahwa Allah memberikan karunia pada setiap umatnya sesuai dengan apa yang dikehendakinya serta apa yang seseorang upayakan secara halal dengan kemampuan akal-budi sebagai bekal yang Allah berikan padanya. Dari 10 Hukum dasar yang diturunkan, kesemuanya jelas dapat diklasifikasikan sebagai jalan kerukunan dan keselarasan hubungan umat manusia dengan Allah(1~5) serta dengan sesama manusia(6~10). Penerapan Hukum-hukum ini secara konsisten, akan mampu membangun tatanan masyarakat beriman yang syakinah serta rukun dalam kekerabatan namun juga mampu membangun struktur komunitas yang kuat diantara komunitas-komunitas lain manapun. Allah SWT merencanakan untuk menyelamatkan; melindungi dan memberkati umatNya yang berkomitmen dalam ketaatan dan memiliki kekuatan struktural serta wajib hukumnya bagi segenap umat agama Allah SWT. Puluhan Nabi dan Pembimbing umat silih berganti datang dan menjaga keutuhan sasaran yang dipersiapkan oleh Allah sendiri untuk menyelamatkan manusia dari jerat Dosa yang tiada terelakkan. Perangkap yang ditebar oleh Iblis ini hanya dapat dihambat dengan satu senjata pamungkas, keimanan dan ketaatan sebagai manusia yang ISLAM. Kenyataanya selalu terdapat pengingkaran dan pemelintiran atas implementasi hukum Allah dalam kehidupan Bani Israel. Pagar hukum yang diturunkan pada masa Nabi Musa, bagai tiang awan Allah SWT yang tegak dan kokoh pada masa Bani Israel dilepaskan dari belenggu perbudakan, tidak sepenuhnya berfungsi secara efektif pada tatanan masyarakat Bani Israel yang mbalelo. Hakimhakim; Raja-Raja dan Nabi-nabi pun diutus untuk membentengi hukum utama ini. Disini akan jelas terlihat betapa pentingnya hukum-hukum Allah ini dan kesemuanya dimaksudkan untuk membentuk umat Allah yang ISLAM semata. Pertanyaannya adalah Mengapa begitu banyak perhatian tercurah pada Bani Israel yang sebenarnya merupakan golongan umat Allah yang paling bandel?(Yahudi). Bila disimak rencana pamungkas Allah SWT yang terjadi pada bangsa yang satu ini, akan jelas bahwa Allah SWT sendiri pada akhirnya hadir melalui FirmanNya yang hidup dan dilahirkan melalui rahim perawan Siti Maryam yang adalah keturunan Bangsa Israel. Sebagai Misi yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari dan dipilih serta dijaga hingga masanya tiba. Kehadiran Firman Allah SWT yang hidup sebagai Isa AS adalah alasan dari segala persiapan yang dilakukan dan dicatat dalam Taurat
24

Injil disisi lain, merupakan kelengkapan yang dibutuhkan dalam implementasi hukum-hukum Allah dan membawa nuansa serta pendekatan keimanan yang baru. Menurut klasifikasinya, Injil adalah Hadist atas Firman Allah SWT yang hidup, Hadist atas Kuasa Allah SWT yang hadir dan bekerja serta melimpahkan KasihNya pada umat yang bergelimang dosa agar mampu bertransformasi menjadi umat yang beriman ISLAM, agar mendapatkan hak keselamatan dari Allah di Dunia dan Akhirat. Hadir sebagai Firman yang Hidup; Mati-dibunuh dan Bangkit hidup-kembali lalu diangkat ke Surga(Ali Imran 55~56) sebagai siklus kehadiranNya ditengah-tengah manusia dalam misi penyelamatan yang Allah persiapkan dan selesaikan dengan tuntas. KematianNya yang menjadi Qurban tebusan dengan darah manusia yang dihidupi oleh Roh dari Allah sendiri. Kebangkitannya dan pengangkatannya ke Surga membekali manusia beriman dengan Kuasa Rohullqudus(An-Nur)(Al Maa-Idah 110). Kesemuanya merupakan bekal kelengkapan umat untuk membuka jalannya menjadi manusia yang ISLAM serta mampu mengalahkan naluri-daging dan hidup secara rohaniah. Keutamaan dalam Injil yang melengkapi kesepuluh hukum Allah sebelumnya, adalah Hukum universal yang menjadi referensi(acuan baku) yang mengayomi serta memberikan penjabaran dalam toleransi yang akurat dalam penerapan keseharian, yaitu : Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu, dan Kasihilah manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Dengan mereferensikan kesepuluh hukum ini dengan HukumKasih maka penjabaran dan ragam persoalan yang mengemuka niscaya akan selalu ada solusinya. Kasih disini juga memberikan ruang gerak serta toleransi yang proporsional dalam pencarian solusi, batasan toleransi atas penyelesaian masalah akan terprojeksi dengan jelas jika manusia yang diberikan bekal akal budi secara bijak berpedoman padanya. Berikut sebuah kutipan dari Injil Roma 12 yang juga merupakan definisi dan merefleksikan karakter kehidupan manusia yang ISLAM. Kutipan ini diambil dari surat kepada jemaat di Roma yang kala itu sedang dianiaya oleh penguasa dan hidup dalam penindasan dan dikejar-kejar untuk dibunuh, dari Rasul Pulus, seorang Murid/Rasul Isa AS yang dipenuhi karunia Rohullqudus. Pada paparan Injil Roma 12 ayat 6~21 tergambar pemaknaan jelas tentang Kasih sesuai yang Allah SWT ajarkan melalui sifat utamaNya(Maha-pengasih dan Mahapenyayang). Disini bisa disiratkan karakter Kasih yang benar sebagai : Melayani; Mengajarkan-kebenaran; Memberi dengan Ikhlas; Murah-hati dan penuh sukacita; Tulus tanpa kepura-puraan; Melakukan hal-hal baik; Saling mengasihi; Salingmenghormati; Melayani Allah; Berpengharapan dan Sabar serta tekun dalam Doa; Senantiasa Membantu dan memberi support; Membalas kejahatan dengan kebaikan; Berkati dan jangan mengutuk orang yang menganiaya; Turut merasakan emosi sesama yang mengalami kesusahan atau kegembiraan; Tidak tinggi hati namun rendahkanlah diri serta mengarahkan diri pada hal-hal yang sederhana; Hidup damai dengan semuaorang; Tidak menuntut balas namun menyerahkan hak ini pada Allah semata; Berbuat baik pada seteru-kita agar kita tidak kalah dari kejahatan tetapi mengalahkannya dengan kebaikan; Lakukan segala kebenaran Kasih ini dalam Iman yang benar.

25

Nampak dari kutipan diatas bahwa segala sikap; perilaku dan benteng moral manusia sepantasnya memiliki sifat-sifat yang mulia yang bukannya merupakan ancaman, namun lebih untuk mengayomi dan mengasihi. Injil juga mewahyukan bahwa Isa AS adalah Anak-Manusia(manusia biologis yang dilahirkan) namun memiliki Roh yang adalah bagian dari Roh-Allah SWT sendiri (Kalimatullah dan Roh -Allah surah An Nisa 147). Kalimatullah dan Roh Allah SWT yang menghidupi Jasad Isa AS inilah yang didefinisikan sebagai AlMasih=Kristus (Kebenaran-yang-Hidup)=Anak-Allah yang memiliki otoritas penuh dari Bapa-segala-Bapak(Allah SWT). Kekeliruan predikasi Yesus=Isa AS sebagai Tuhan menjadi rancu akibat pemahaman makna kataLord yang dalam bahasa Indonesia tidak terdefinisikan secara benar. Dalam bahasa Inggris, Yesus dipredikasi sebagai Lordi(yang-diberi-otoritas; yang-sangat-mulia) dimana kata padanan Lord=Gusti(bhs jawa) ini tidak ada dalam khasanah bahasa Indonesia. Lord=Gusti bukanlah Tuhan yang disembah, namun adalah sang-penerima otoritas dari Ia yang Maha-Kuasa(Allah SWT). Otoritas Ini ditunjukkan dengan ijin Allah bagi AlMasih untuk Menghidupkan; Membangkitkan; Menyembuhkan serta banyak Muzizat lain, namun yang utama adalah ijin-mengampuni dosa, karena otoritas ini hanya Allah SWT berikan pada AlMasih=Kristus. Pengampunan dosa adalah otoritas-mutlak milik Allah SWT. Jadi, Isa=Yesus=Manusia, AlMasih=Kristus(Kalimatullah-Roh-Allah SWT). Catatan atas terjadinya pengingkaran atas penerapan Injil berawal pada abad ke III kala persekutuan umat yang menamakan diri sebagai Gereja yang melangkah jauh keluar hak; kewenangan dan jalur aqidah yang sedianya dipaparkan menurut injil, sekali lagi menjadi kendala misi penyelamatan Allah SWT atas umat. Fakta ini juga yang melatar belakangi adanya tindakan pamungkas Allah SWT untuk terakhir kalinya. Perlu adanya peringatan dan pengembalian nilai-nilai aqidah atas pengingkaran bahkan penyelewengan implementasi Firman dan Hukum-hukum Allah pada umatnya. Masalahnya adalah langkah pamungkas ini tidak mungkin lagi diturunkan pada Bani Israel yang kala itu tercerai-berai dan kembali hidup dalam perbudakan seperti yang telah disampaikan oleh Isa AS akan terjadi (Markus 13 : 2). Dan Allah SWT tidak akan menarik janjinya pada Nabi Ibrahim bahwa semua jalan keselamatan Allah SWT akan datang dari keturunan Nabi Ibrahim. Al Quran sesuai maksud diturunkannya, adalah juga ditujukan bagi umat Allah SWT dari kalangan Yahudi dan Nasrani sebagai peringatan dan sebagai jalan yang lurus (al Baqarah : 79; 159/174)(Al Maa-Idah : 8/12/15 /17~19/46~48). Kenyataan ketika diturunkan wahyu-wahyu pada Nabi Muhammad SAW kala itu, mayoritas bangsa Arab menyembah berhala. Hal ini pulalah yang mendasari terdapat banyaknya pemaparan wahyu dari Taurat dan Injil melalui Nabi Muhammad sebagai langkah pengalihan bangsa Arab untuk melepaskan diri dari penyembahan Berhala dan beriman pada Allah SWT, dengan proses dan tahap yang serupa dengan apa yang Allah SWT jalankan pada bani Israel. Bedanya disini masa yang dimiliki Nabi Muhammad SAW tidak sepanyang periode pembelajaran Bani Israel, namun dipersingkat. Karenanya dapat disimpulkan bahwa pada Al Quran terkandung paparan Wahyu dan Hadist firman Allah SWT yang terdapat pada Kitab-kitab sebelumnya, ditambah dengan peringatan untuk tidak menyelewengkan ajaran kebenaran Allah SWT.

26

Akar ketidak harmonisan antara Umat Pengikut Nabi Muhammad SAW dengan kaum Kristen
Pada masa syiar Nabi Muhammad, belum dikenal aliran selain umat Nasrani di kawasan timur tengah. Pengakuan eksitensi kedua pihak sebagai pembawa pesan keselamatan Allah, mendasari keharmonisan kekerabatan Nabi Muhammad dengan kalangan Nasrani kala itu. Pertentangan antara Muslim dan Katolik Roma barulah merebak setelah wafat Nabi dan Khalifah Nabi telah memimpin umat muslim, kalamana peziarah Roma yang merupakan utusan Paus waktu itu karena ketidak tahuan mereka mencoba mengusir umat muslim yang sedang beribadat di Masjid Al Aqsa Yerusalem yang dibangun atas petunjuk Allah SWT tepat diatas reruntuhan bekas Bait Allah. Perseteruan ini berlanjut memicu pecahnya perang Sabil dan akar pertentangan ini tidak pernah terpecahkan hingga kini. Umat Kristen non-Katolik yang sekalipun belum eksis kala itu, karena merupakan pecahan atau reformis yang berasal dari Katolik Roma, turut terkena getahnya. Keengganan kedua belah pihak untuk saling mengakui dan merintis bersama jalan keselamatan Allah SWT menghambat keduanya untuk bersinerji. Reformasi yang dijalankan umat Kristen yang berketetapan untuk kembali ke ajaran dan struktur awal yang tertera pada Injil, sesungguhnya tidak lain adalah kembali menjadi Nasrani. Bedanya adalah Nasrani pada masa Nabi Muhammad, mengakui dalam iman bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Rasulullah(Al Maidah 83; ). Disini Nabi Muhammad SAW sendiri mengakui eksistensi dan Ajaran yang dibawa umat Nasrani kala itu sebagai ajaran yang benar berasal dari Allah SWT(Ali Imran 84). Bahkan Nabi menyampaikan wahyu yang menyatakan bahwa sebagian umat Nasrani akan mendapat tempat di Surga setelah hari penghakiman nanti(Al Maidah 85; Al Baqarah-146). AlQuran jelas-jelas mengakui eksistensi pengikut Isa Almasih. Kenyataannya bahwa dengan mengakui kerasulan Nabi Muhammad SAW, pengakuan eksistensi juga akan didapat dari umat pengikut Nabi Muhammad SAW. Ini juga membuka peluang umat Kristen untuk mendapatkan arahan dan peringatan yang disampaikan sebagai wahyu dalam AlQuran agar terhindar dari terulangnya kesalahan dimasa silam. AlQuran juga bertujuan menuntun umat Kristen agar terhindar dari kesalahan penerapan keselamatan Allah SWT. Disisi lain, umat Muslim juga beroleh manfaat dan kemudahan dalam mendalami dan beriman pada kitab-kitab seperti yang diperintahkan melalui wahyu Allah SWT dalam AlQuran dan tauladan Nabi(Ali Imran 84/119), dimana umat Kristen berkewajiban untuk menerangkan isi dan makna yang terkandung dalam Kitab-kitab(Ali Imran 187; Al Baqarah 159/174). Kesemuanya dapat terjadi bila keengganan kedua pihak untuk mengambil inisiatif awal, menyingkirkan terlebih dahulu prasangka dan kecurigaan yang dapat membentuk ketidak-percayaan, mulai saling percaya atas dasar ketulusan dan mendahulukan tujuan mulia ini diatas kepentingan dan maksud lainnya. Aspek lain yang juga memberi nuansa gamang dalam penilaian atas umat Kristen/Nasrani adalah masalah definisi Tri-Tunggal Allah yang muncul dalam pengajaran keimanan umat Kristen/Nasrani(Al Maa-idah : 72~73/ An Nisaa: 171). Disini Al Quran secara tegas membantah definisi bahwa Allah SWT adalah tiga oknum Tuhan/Ilah yang kerap diyakini dan diimani oleh kalangan luas umat Kristen/Nasrani. Eksistensi dan pendefinisian ini hendaknya dikaji secara bijak dan mendalam bahwa Tiga-subyek dalam Trinitas adalah Eksistensi Fungsionalitas dalam misi penyelamatan Allah SWT dan bukan menunjukkan adanya tiga oknum Tuhan

27

yang memiliki eksistensi tersendiri masing-masingnya. Analogi akan hal ini dapat digambarkan sebagai Allah Sang Maha Kuasa yang mengutus Manusia Fisik(bukan produk genetik dunia) yang hidup dalam Roh-FirmanNya yang akan membekali umatNya dengan Rohullqudus yang juga adalah Roh-Allah sebagai Pembimbing dan Pelindung. Disini akan dapat dilihat perspektif yang lebih jelas bahwa Eksistensi Allah SWT sebagai Roh yang hadir pada ketiga subyek fungsionalitas tadi. Manusia Isa AS adalah manusia Fisik yang dibentuk/diciptakan dengan kuasa Firman dan Roh dari Allah SWT sendiri yang artinya berasal/bagian dari Allah SWT yang bukan bagian/berasal dari dunia dan harus diangkat(jiwa-raga) dari dunia setelah misinya didunia selesai. Jelaslah disini bahwa Eksistensi keEsa-an Allah SWT tidak terbantah adalah Satu dan bukan Tiga-Subjek Eksistensi yang berbeda satu sama lain. Umat Kristen/Nasrani hendaknya juga meluruskan hal ini dalam penjabaran kehidupannya. Masalah Kematian Isa AS dalam penyaliban kiranya juga perlu diselidiki lebih mendalam konotasi harfiah wahyu pada Al Quran (An-Nisaa 157~158).. Wahyu pada Al Quran tentang eksistensi Firman yang Hidup; Mati dan Bangkit lalu diangkat ke Surga(Ali Imran 55~56) dan (Al Maryam 34) menegaskan bahwa tiga fasa inilah yang terjadi pada Isa AS semasa Ia menjalankan misi Allah SWT di-Dunia tidak terbantahkan lagi. Bila fakta bahwa ada konroversi atas kedua wahyu Allah diatas dengan wahyu pada Surah (An-Nisaa 157~158) maka ini pastinya terjadi karena adanya kekeliruan pemaknaan akibat tatanan bahasa serta pencatatan wahyu yang sepenuhnya dilakukan oleh tangan manusia. Kini marilah kita mengkaji dengan seksama Surah (An-Nisaa 157~158) yang kontroversial ini serta mengupasnya secara proporsional:

157 - dan karena ucapan mereka: Sesungguhnya Kami telah membunuh AlMasih,`Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yangdibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa.
158 - Tetapi, Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Asinkronitas ayat ini dengan ayat-ayat lain dalam AlQuran dinilai bisa membawa kita pada keragu-raguan. Jawaban untuk menepis keragu-raguan ini diungkapkan pada Surah Yunus ayat : 94, yaitu dengan mengungkap topik yang sama namun terpapar pada kitab-kitab Allah SWT sebelum AlQuran. Paparan Injil sebagai Hadist Isa AS yang dicatatkan berdasarkan saksi-saksi hidup oleh empat pencatat yang diutus untuk menuliskan faktual Injil, menampilkan empat catatan yang mengungkap kejadian sama dengan kronologis dimana perbantahan yang terjadi diantara Pemuka dan Rohaniawan Yahudi kala mereka menjadi sangat bingung ketika mengetahui bahwa Isa AlMasih masih hidup sekalipun mereka telah membunuhNya. Ini juga tertera dalam catatan sejarah pemerintahan Romawi yang turut mempunyai andil dalam peristiwa ini, disini dinyatakan bahwa Petinggi rohaniawan Yahudi membawa seorang bernama Iesus untuk diadili. Dalam pengadilan ini mereka tidak bisa membuktikan kesalahan yang

28

sepadan untuk menghukum mati Iesus namun para Otoritas Agama Yahudi kala itu berkeras agar mereka(penguasa Romawi) tetap mengeksekusi mati(disalibkan) . Kini bila dikaji dengan seksama kalimat padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka maka tampak tata kata yang rancu disini bisa mengaburkan makna yang akan disampaikan. Hal yang sebaliknya bila susunan katanya ditata menjadi . . dan karena ucapan mereka: Sesungguhnya Kami telah membunuh AlMasih,`Isa putra Maryam, Rasul Allah padahal mereka tidak membunuh dan tidak menyalib orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka . . yang diikuti kalimat . . Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa. . Disini tampak hubungan makna kalimat menjadi jelas bahwa mereka telah membunuh Isa dan bukan orang yang diserupakan dengan Isa, namun mereka tidak bisa menghalangi Allah SWT untuk membangkitkan Isa dari kematiannya. Menurut Injil, keragu-raguan/ kebingungan(perselisihan paham) Pemuka Agama(Ahli-Taurat) ini muncul tiga-hari setelah masa eksekusi, para Rohaniawan Yahudi mendapat laporan bahwa Isa terlihat dalam keadaan Hidup dan bertemu dengan para-murid serta kerabatnya. Kebingungan ini pulalahlah yang mendorong mereka untuk menutupi fakta bahwa mereka gagal membunuh/mengeliminir Isa AlMasih dengan membuat pernyataan publik bahwa yang dieksekusi adalah orang yang diserupakan dengan 'Isa. Pernyataan palsu mereka secara tegas dibantah oleh wahyu AlQuran yang mengindikasikan bahwa yang mereka salibkan adalah bukan orang yang diserupakan namun adalah benar-benar 'Isa. Ini menunjukkan kebesaran Allah SWT sehingga sekalipun orang-orang fasik kala itu telah membunuh Isa Almasih dengan menyalibkanNya namun ini tidak mampu mengeliminir eksistensi Isa, karena Allah SWT membangkitkan 'Isa dari kematian tiga-hari setelah Ia disalibkan dan kemudian mengangkat Isa secara utuh(jiwa-raga) kehadiratnya empat puluh hari kemudian. Fakta ini juga meluruhkan kontroversi yang awalnya mengemuka pada Surah an-Nisa[4]:157-158 dengan Surah Al Maryam[19]:33 serta Ali-Imran[3]:55 maupun Surah AlMaidah [5]:117 serta mampu menyelaraskannya, karena Allah SWT tak mungkin mewahyukan firman yang saling bertentangan maknanya. Ini memberikan suatu contoh yang dengan gamblang menunjukkan bahwa dengan memadukan pemahaman pada Kitab-Kitab Allah secara utuh akan justru memberikan nuansa sinerji-pemahaman yang mampu memaknai firman maupun wahyu Allah SWT dengan relevansi yang lebih akurat. Keberadaan Agama-agama Tauhid dan Kitab-kitab tuntunan beserta keberagamannya hendaklah menjadi cermin dan bahan referensi yang sedianya mampu membuka peluang untuk memperoleh pemahaman misi keselamatan Allah SWT secara utuh dan tidak terpenggal-penggal. Kuncinya disini adalah, hal ini perlu didasari dengan Niat yang Tulus dan Sikap Bijak serta objektifitas yang mendasari upaya pencarian kebenaran hakiki menuju keselamatan Dunia Akhirat. Keselamatan yang dijanjikan Allah SWT bagi umat yang ISLAM. Kiranya cukup sudah perbantahan tentang hal ini dan hendaknya kedua umat menyikapi secara bijak dan mengedepankan objektifitas hakikinya.

29

Beberapa aspek penghambat lain akibat kurangnya pendalaman pemahaman


Pada satu sisi kita perhatikan bahwa terjadi kerancuan persepsi dimana Umat Kristen telah secara tidak tepat memberi predikat Tuhan pada Isa Al Masih karena Tuhan dalam bahasa Indonesia/Melayu adalah setara dengan Illah. Predikasi yang lebih tepat dinyatakan dalam bahasa Inggris dengan istilah Lord yang dalam bahasa Jawa berarti Gusti atau yang ditinggikan kedudukannya. Lord juga memiliki arti dan karakter sebagai utusan yang berkuasa penuh dan sebagai representasi yang mengutusnya, seperti halnya seorang Pangeran dalam perundingan Multilateral mempunyai otoritas penuh untuk membuat keputusan, bahkan menyatakan Perang atau Damai. Penggunaan predikasi Tuhan ini dalam kenyataannya telah membentuk konotasi negatif tentang keberadaan Isa Almasih yang sedianya adalah penyelamat, disini seolah tergambar sebagai Utusan yang mendeklarasikan kesetaraannya dengan Allah SWT. Penyimpangan persepsi ini terutama akan muncul dalam pengkajian AlQuran yang dilakukan secara fraksional maupun kurang mengikut sertakan referensi dasar pemahaman maknanya. Begitu pula pengucapan nama Isa dalam bahasa dikawasan timur tengah yang kemudian menjadi Yesus didalam terjemah dari bahasa Inggris. Ini terjadi karena dalam bahsa Ibrani/Aramaic(Yahudi) tertulis dalam lafal yang akan terbaca sebagai Isahs, sementara orang Romawi menuliskannya sebagai Iesus untuk kemudian dalam bahasa latin Iesus dibaca sebagai Yesus sehingga dalam pelafalan bahasa Inggris terbaca Yises. Jelaslah disini semuanya menyebutkan nama atas figur yang sama. Sementara itu klaim atas putra ibrahim( Ishak atau Ismail) yang Allah minta pada Nabi Ibrahim untuk dijadikan Qurban, masih mengemuka perdebatan yang tidak akan ada kesimpulan akhirnya. Namun hal ini bisa dihindari bila disepakati untuk mengartikannya sebagai putra Nabi Ibrahim yang Ia kasihi, maka siapapun itu, konotasi kebenaran makna akan dicapai tanpa perlu mempertentangkannya. Disini kiranya harus diutamakan makna diatas nama, tanpa perlu perbantahan. Penajaman atas hal-hal yang tidak hakiki sifatnya hendaknya dikesampingkan secara legawa dan bijksana, sebaliknya makna kontekstual yang sebenar-benarnya adalah sama karena merupakan inti misi penyelamatan umat Allah, hendaknya dijadikan dasar kebersamaan yang mampu menjembatani agama-agama Tauhid. Bagi suatu kebenaran tidaklah ada kata terlambat dan upaya untuk meluruskan pemahaman makna atas semua ini akan membuka era kesadaran baru yang lebih prospektif bagi kedua-belah pihak. Dengan menyingkirkan perbedaan yang nonsubstansial dan mendahulukan inti kebenaran yang terkandung dalam Wahyu dan Firman Allah SWT, niscaya hambatan yang sedemikian tidak akan dirasakan mengganggu lagi. Upaya sementara pihak yang mencari Pembenaran atas apapun argumen, dalil serta referensi yang mereka ajukan, justru akan mempertajam pertentangan yang sudah ada. Cara-cara semacam ini tidak akan pernah memberikan solusi dalam pencarian Kebenaran-Hakiki yang sifatnya fundamental serta universal berlaku bagi seluruh umat Allah SWT yang mengacu untuk menemukan jalan keselamatan dalam Kitab-kitab Allah yang berisi segala firman melalui pewahyuan selama lebih dari 2000 tahun. Ini karena inti makna Kebenaran-firman yang terkandung disini bersifat Spiritual.

30

Ibadah sebagai Bagian dari Iman


Seperti juga dikemukakan dala Al Quran bahwa ada 3(tiga) agama yang diakui sebagai agama tauhid. Ketiga agama ini adalah Agama yang dibawa bagi Kaum Yahudi; Ajaran Isa Almasih serta Agama yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW. Ketiga agama ini secara mutlak diakui sebagai pembawa hukum serta kebenaran Ilahi yang membawa manusia pada keselamatan dunia dan akhirat. Pengakuan eksistensi ketiga agama tauhid oleh Allah ini juga menunjukkan toleransiNya atas keragaman tatacara ibadah lahiriah yang bagi masing-masing agama berbeda namun mengutamakan penyiratan harfiah yang harus tetap satu. Satu harfiah disini adalah pemahaman keesaan Allah dan sikap perilaku ISLAM yang mutlak dijalankan dalam kehidupan umat agama tauhid ini. Dari pengertian ini seyogyanya setiap umat agama Allah juga memahami dan memiliki toleransi atas ragam ibadah yang juga diakui oleh Allah SWT. Setiap penilaian serta konotasi negatif maupun pertengkaran atas tatacara ibadah antar umat agama-agama tauhid ini jelas merupakan upaya penghakiman subjektif yang melampaui batas, karena hak menghakimi sepenuhnya adalah hak mutlak Allah. Upaya apapun untuk menyatakan tindakan ini sebagai Jihad-dijalanAllah, adalah upaya penunggangan atas hukum-hukum Allah serta harfiah pemahamannya yang harus dicegah. Sebaliknya Allah SWT sendirilah yang memberikan keleluasaan bagi manusia untuk memilih berdasarkan apa yang manusia rasakan sebagai batas kemampuannya. Seperti halnya Nabi Muhammad SAW menerima perintah ibadah namun juga diberi keleluasaan untuk menunaikan shalat dimana beliau memilih untuk bershalat penuh sebanyak lima waktu sehari yang hingga saat ini menjadi panutan standar umatnya. Disisi lain umat Nasrani mendapatkan perintah dengan konotasi yang serupa tentang ibadah wajib pada Allah, yaitu seperti dipesankan dalam Injil (surat Roma 12:12) yang memerintahkan umat untuk senantiasa bertekun dalam Doa yang menyiratkan agar umat untuk selalu menjalankan kehidupannya dalam Doa, apapun kondisinya. Secara harfiah Doa disini tidaklah dimaksudkan sebagai Doa yang panjang atau sembahyang seperti halnya shalat, namun lebih ditekankan pada ekspresi jiwa yang bahkan bisa diungkapkan tanpa kata-kata, ekspresi yang bermakna sebagai penyerahan diri maupun kepatuhan pada Allah SWT serta mohonan bimbingan dan lindunganNya sebagai pendamping setiap kegiatan keseharian umat. Bila dikaji secara teliti, akan tampak keselarasan makna perintah ibadah yang diturunkan bagi umat, namun sekali lagi tergambar bahwa manusia juga memiliki hak untuk memilih dan apapun pilihan itu, sejauh maksud dan makna atas ibadah terlaksana dan yang terutama berfungsi penuh sebagai panduan serta ekspresi ketaatan umat pada Allah SWT semata. Suatu Analogi yang menarik untuk dikaji dalam kaitan bahasan ini adalah Ungkapan tentang Ke-ISLAM-an Paman Nabi Muhammad SAW Abu Tholib diungkapkan menurut penuturan hadist Nabi sebagai seorang umat yang sah menjadi wali dalam menikahkan Muhammad(sebelum mendapat wahyu kenabian) dengan Chadijah. Abu Tholib adalah pembimbing dan pelindung Muhammad yang telah Yatim. Beberapa kalangan mengakui bahwa Abu Tholib seperti halnya Chadijah adalah pengikut Nasrani yang menurut Nabi masuk kategori ISLAM. Mereka yakin akan kenabian Muhammad SAW kala wahyu-wahyu yang diterima oleh Nabi disampaikan padanya bahkan mereka merupakan pendahulu pembela kebenaran/kerasulan Nabi yang gigih hingga akhir hayatnya. Jelaslah bahwa perbedaan tatacara ibadah seseorang, tidak menutup kemungkinan ia adalah ISLAM.
31

Iman adalah suatu keyakinan yang utamanya bersifat Spiritual dan dipedomani untuk mengantarkan seseorang mencapai keselamatan dalam kehidupan-dunia dan akhirat (sipritual) kelak. Kebenaran-Spiritual Sejati adalah hal yang tak-terbantahkan, mutlak dan tak terpatahkan dengan argumentasi manapun. Ini tergambar misalnya atas Keutamaan sifat Allah SWT yang Maha pengasih serta Maha-penyayang, disini jelas apapun sangkalan/sanggahan atas subyeknya tak akan mampu mematahkan kebenaran utamanya bahwa Allah SWT adalah ILAH yang senantiasa Mengasihi serta menyayangi. Sifat utama Allah SWT ini mencakup aspek Spiritual maupun Duniawi(atas segala ciptaan) dan ini adalah landasan keimanan umat Allah yang ISLAM dan berlaku sejak penciptaan semesta-raya hingga akhir segalanya kelak. Hal yang perlu disefahami dalam konotasi Ibadah umat disini, adalah Ibadah sebagai bagian daripada Iman, bukan Ibadah adalah Iman, atau bahkan akan menjadi lebih rancu lagi jika dibalik menjadi Iman sebagai bagian daripada Ibadah. Dari ungkapan ini jelaslah bahwa hal yang diutamakan adalah Iman, sementara ibadah disini merupakan kelengkapan. Atau analoginya, dalam perjalanan kehidupan umat di-dunia Iman adalah motivasi, pemahaman dan keyakinan akan tujuannya, sementara Agama adalah kendaraan serta Ibadah adalah rute-tempuh perjalanannya. Kebenaran Sejati ajaran Allah yang terkandung dalam paduan Kitab-kitab Agama Tauhid sesungguhnya adalah pengetahuan-spiritual yang mampu membekali seseorang dengan Peta-navigasi yang mencantumkan segala rute dan keterangan yang bisa dan benar untuk ditempuh sesuai dengan tujuan akhir yang akan juga membawa seseorang pada tujuan dan keselamatan yang benar. Kebenaran Sejati ini adalah kunci curahan AnNur/Roh-Allah yang Kudus dan penuh dengan KasihNya yang Hidup dan menghidupi/menuntun perjalanan kehidupan umat yang ISLAM dan memilih untuk menjadi yang terpilih. Dengan pengetahuan dan bekal ini seseorang akan mampu mengutamakan motivasi yang datang dari nurani-spiritualnya mengatasi/mematahkan segala nafsu naluri-duniawi/biologisnya. Niscaya bila Iman mengarahkan kita untuk menggali dan menemukan Pengetahuan-spiritual Sejati ini terlebih dahulu, maka kita akan membuka pengetahuan tentang cara untuk mencapai tujuannya, sementara kendaraan serta rute yang akan dipilih merupakan hak dan konsekwensi sebagai opsi terbuka yang diberikan sesuai kelaziman maupun kenyamanan masing-masingnya. Tinggal apakah kita menjalani rute ini sesuai dengan tuntunannya serta apakah kita menjalankan kendaraannya dengan prosedur dan cara yang benar? Inilah yang akan menentukan apakah kita sampai ketujuan tanpa kendala, atau sampai ketujuan walaupun harus mengalami kendala diperjalanannya. Atau bahkan gagal mencapai tujuannya karena tersesat akibat teralihkan dari rute yang benar, maupun mengalami kerusakan fatal akibat kendaraan yang dikendarai diforsir hingga rusak total. Semuanya terpulang kepada masing-masingnya. Dari bahasan diatas kiranya tergambar bahwa hal yang harus diutamakan dalam kehidupan manusia beragama adalah keseimbangan tiga aspek utama, yaitu ImanIbadah-Amal Perbuatan. Ketiga unsur ini akan terpancar dalam ekspresi sikap dan tindakan yang merefleksikan bagaimana seseorang menggunakan haknya serta menjalankan kewajibannya semasa Allah SWT memberikan padanya kehidupan dunia ini. Hendaknya Allah SWT saja yang menilai; menakar dan menghakimi, karena Hak atas itu ada padaNya semata.

32

Karakteristik Perilaku dan Amal Perbuatan sebagai refleksi ke-Imanan


Sebenar-benarnya ajaran serta tuntunan dari Allah SWT, tidaklah akan berarti jika tidak ditindak lanjuti dengan pemahaman; keimanan serta terrefleksi dalam Pemikiran serta Amal Perbuatan yang nyata dan mampu mengarahkan umat penganutnya pada status perilaku yang patut dijadikan panutan dalam kehidupan manusia sehari-harinya. Iman dan Ibadah adalah sesuatu yang bersifat internal dan bukan menjadi tolok ukur dalam hubungan antar manusia, namun harus direfleksikan dalam amal dan perbuatan nyata dalam interaksi antar umat beragama bahkan dengan umat agama non-Tauhid sekalipun. Sepantasnyalah bila umat yang ISLAM secara signifikan mampu menampilkan keunggulan positif yang membedakan antara perilaku sosial umat agama tauhid dengan umat agama-agama non-tauhid. Apabila segolongan umat hanya mampu berbuat positif dan berguna bagi golongannya sendiri, apalah kelebihan yang membedakannya dibandingkan dengan golongan-golongan yang lain? Dalam hal inilah Allah SWT dalam Kitab-kitab dan Al Quran mewahyukan agar umatnya senantiasa belomba-lomba untuk berbuat kebajikan dan mampu menjadi panutan positif bagi umat manapun(Al Maa-idah - 48). Keterbukaan dan upaya menciptakan saling pemahaman, adalah kunci terciptanya situasi seperti yang diharapkan. Dengan demikian, umat agama-agama tauhid serta agama non-tauhid saling menghidari intervensi bahkan mampu bersama-sama menggali nilai-nilai kebenaran Ilahi yang terkandung dalam ajaran serta mengimplementasikan dalam kehidupannya sebagai amalan interaktif yang positif sehingga mampu menciptakan keharmonisan dalam kehidupan sebagai masyarakat yang berdampingan. Perlu dicatat disini bahwa seperti halnya pada masa Nabi Muhammad SAW hidup maupun utusan-utusan Allah SWT sebelumnya, interaksi antar umat inipun telah berlangsung dan jika diamati dengan seksama akan jelas bahwa toleransi serta upaya intuk menghindarkan intervensi senantiasa mendapatkan prioritas utama. Friksi yang pernah terjadi adalah justru jika pelanggaran atas norma-norma dasar ini terjadi pada setiap insiden yang terkait dan mayoritasnya adalah akibat langsung dari adanya kendala iteraksi serta perilaku antar umat yang berselisih itu sendiri. Seperti juga terpapar dalam bahasan sebelumnya, pemahaman dan toleransi hendaknya senantiasa didahulukan, terutama untuk menjaga keharmonisan pluralitas yang mana kita semua hidup didalamnya. Upaya-upaya dari suatu golongan yang menampik adanya kebenaran Allah SWT pada golongan atau komunitas lainnya akan membawa golongan tadi untuk membentuk absolutisme dan penguasaan atas komunitas lain sebagai cara untuk menyamakan persepsi kebenarannya sendiri. Apabila hal yang semacam ini berlangsung secara berkepanjangan, maka cara-cara anarkis yang selayaknya tidak ditolerir dan merupakan pelanggaran ajaranpun akan sengaja ditempuh semata-mata untuk mencapai tujuan yang tidak objektif dan adil, kerena Allah SWT sendiri memerintahkan segenap umatnya untuk bertoleransi dengan menjaga rasa saling percaya dan saling menghormati. Dengan mentolerir terjadinya pengingkaran atas hal mendasar ini, berarti siapapun dia yang melakukannya, telah secara langsung dan sadar menZalimi hak Allah SWT sebagai satu-satunya hakim yang seadil-adilnnya .

33

Kesimpulan
Kajian ini semata-mata merupakan upaya pendekatan objektif pencarian titik-titiktemu atas mengemukanya kontroversi diantara agama-agama Allah yang berasal dari satu akar yaitu sama-sama mengakui bahwa Allah SWT sebagai Penguasa Tunggal dan Absolut yang juga merupakan asal-muasal(Bapa dari segala Bapak) penciptaan eksistensi segenap alam semesta ini. Terlepas dari semua perbedaan maupun silang pendapat yang marak mewarnai studi komparasi maupun sinkronisasi makna dalam Al Quran maupun Kitab-kitab pendahulunya, dapat disepakati dasarnya bahwa Allah tidak akan menyatakan firmannya secara kontradiktif dalam media penyampaiannya pada umat yang dikasihinya. Untuk mendapatkan referensi yang gamblang tentang makna kebenaran yang berasal dari Allah SWT, perlu dipahami makna yang terpapar pada kronologis rencana keselamatan itu sendiri dan bukan tanpa dasar untuk menggali makna ini dari umat yang diberi pengetahuan tentang makna yang terkandung pada Kitab-kitab(Ali Imran 187). Kenyataan dimana pendalaman atas Kitab-kitab pendahulu Al Quran tidaklah dapat sepenuhnya didasarkan semata pada pendalaman makna Kitab-kitab tersebut pada uraian pengejawantahan dalam Al Quran, namun untuk mendapatkan esensinya, Kitab-kitab tadi perlu dikaji secara tersendiri sebagaimana adanya. Ini membutuhkan niat keterbukaan serta toleransi penuh yang didasarkan pada upaya menghadirkan Kebenaran Ilahi yang melengkapi perjalanan keimanan yang ISLAM. Kiranya tidak berlebihan bila pemenuhan perintah Allah SWT dalam firmanNya akan lengkap setelah pemahaman utuh atas segenap rencana dalam perjalanan penyelamatan umat dapat menjadi jenjang keimanan baru yang membentuk Manusia yang ISLAM seutuhnya. Janji keselamatan dari Allah SWT secara eksplisit telah disampaikan hanya kepada Nabi Ibrahim, salah satu umat yang dimata Allah SWT memiliki kesetiaan dan kepatuhan serta senantiasa berserah padaNya(al Baqarah 131). Sangat disayangkan bahwa catatan tentang kehidupan Nabi Ibrahim tidaklah selengkap serta serinci seperti halnya catatan yang ada atas Nabi-nabi besar lainnya, padahal beliaulah yang menjadi titik berangkat dan titik acuan dari segenap rencana keselamatan ummat Allah. Hal ini sangatlah jelas dinyatakan dalam Kitab-kitab dan AlQuran dimana beliau disebut sebagai Bapak umat yang percaya dan diselamatkan. Kenyataan ini pula yang dapat mempersatukan persepsi tentang definisi keselamatan yang Allah SWT janjikan, dimana Nabi Ibrahim didefinisikan sebagai manusia yang ISLAM utuh dalam rencana keselamatan umat manusia. Karenanya untuk dapat sepenuhnya menghayati makna keselamatan yang Allah SWT janjikan, seseorang mutlak untuk mendahulukan tujuan diatas cara. Allah SWT sendiri yang berulang-kali mengingatkan agar umat-umatnya yang beriman padaNya serta berkehendak untuk masuk dalam rencana keselamatanNya agar menjadi Ibrahim-Ibrahim baru dalam perilaku; sikap dan ketaatan sekalipun hukum-hukum belum Allah turunkan. Nabi Ibrahim yang pada masanya merupakan satu-satunya orang yang ISLAM diantara golongan kaum lain yang tak mengenal Allah SWT, sungguh-sungguh dapat menempatkan diri tanpa menemui konflik dan kesulitan yang berarti. Itu semua juga dikarenakan bekal ke ISLAMannya terprojeksi pada tata-cara lahiriah dan Attitude serta pola korelasinya dengan lingkungannya. Kesemuanya merupakan gambaran dimana kearifan yang ISLAM tidaklah akan pernah menebar konflik apalagi mentolerir ketidak adilan,

34

disamping keutamaannya adalah menepis sikap yang mementingkan suatu individu mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Kiranya inilah yang sepatutnya menjadi contoh sebagai manusia yang seutuhnya ISLAM sebagai awal sejarah penyelamatan Allah atas umat manusia. Sepatutnya seorang yang sungguh-sungguh hendak masuk dalam katagori ummat yang ISLAM, hendaknya mengeliminir, bukannya mempertajam kontroversi yang ada, serta menempatkan prioritas keimanan atas perbuatan dan amal serta ibadah yang benar dimata Allah SWT, diatas aspek seremonial dan tatacara Ibadah maupun ritual semata, dan yang terpenting adalah melakukan upaya untuk membawa serta ummat manusia dalam keselamatan bukannya membiarkan terjadinya penjerumusan serta penyesatan dalam perselisihan kontradiktif yang tak berkesudahan. Karenanya kita hendaknya mencontoh segala perilaku, ucapan dan ibadah keseharian figur dengan dasar yang kokoh seperti halnya seorang Nabi Ibrahim yang dipenuhi Kasih(Ali Imran-67), kepatuhan dan kesetiaan serta penyerahan seutuhnya, hal mana merupakan dasar dari segala pondasi kebenaran yang tidak lain adalah representasi sifat utama Allah SWT dalam kehidupan umat yang ISLAM. Dengan membawa bangsa Arab semasa Nabi Muhammad SAW pada pemahaman pentingnya menyusuri kembali rencana penyelamatan Allah SWT melalui titik awalnya(Nabi Ibrahim) serta mengikuti sejarah turunnya Wahyu dan Firman melalui Rasul/Nabi dan Utusan Allah SWT yang tercatat dalam AL-Kitab, adalah tuntunan yang akan membawa segenap umat Nabi Muhammad SAW menjadi ummat yang ISLAM dan sempurna dalam keselamatan Allah SWT. Sama halnya bagi umat yang telah dibekali pengetahuan isi Al-Kitab, diingatkan untuk mengakui kerasulan Nabi Muhammad sebagai pembawa pesan yang mengakui eksistensi penyelamatan utuh Allah SWT melalui firmannya yang hidup dalam ISA Almasih. Diwahyukan juga bahwa AlQuran akan menjadi batu sandungan apabila mereka berusaha memutar balikkan fakta dan makna yang terkandung dalam Al-Kitab. Pengakuan eksistensi dan kerjasama mutualistik antara pihak-pihak yang termasuk dalam rencana keselamatan Allah SWT akan membawa umat pada pemenuhan rencana keselamatan itu sendiri. Sesuai apa yang diwahyukan Allah SWT dalam Al Quran adalah kewajiban semua umat untuk beriman pada semua Kitab-Kitab Allah. Hal ini wajiblah dimulai dengan mengadakan pemahaman melalui pengkajian yang sungguh-sungguh. Hal mana tidaklah dimungkinkan apabila mendahulukan ketidak percayaan dan kecurigaan, namun dituntut lebih dari itu, yaitu kesediaan untuk membuka diri atas hal-hal yang bagi seseorang merupakan hal baru sebagai sesuatu kebenaran yang berasal dari Allah SWT juga. Bukti-bukti kebenaran ini dapat dipaparkan sepanjang sejarah perjalanan syiar Kitab-kitab hingga kini, bahkan Allah SWT mewahyukannya dalam Al Quran sebagai kenyataan yang harus diamini. Tidak dapat disangkal bahwa perintah melalui wahyu yang berulang kali dikemukakan dalam Al Quran menekankan ini sebagai tujuan yang patut diperjuangkan oleh semua umat agama Allah SWT. Perlu dicatat disini sesuai apa yang telah di-Firmankan berulang kali, bahwa Iblis akan memanfaatkan segala celah perbedaan yang ada sekecil apapun, membuat ummat Allah yang lemah ke-ISLAMannya menjadi teradu-domba dan menuruti hawa-nafsu serta melakukan penZaliman atas hak-hak sesama ummat Agama Tauhid bahkan terlebih lagi menZalimi Hak Allah SWT. Mereka tanpa sadar menjadi budak dan kakitangan Iblis di-dunia dan kelak akan menemani si-Iblis menempati Neraka jahannam setelah hari penghakiman Allah SWT tiba.

35

Penutup Dari uraian singkat yang masih jauh dari memadai diatas, masih ditemui banyak kekurangan, namun kiranya dapat diperoleh perspektif sederhana yang dapat membuka sedikit wawasan makna dan jangkauan tentang hal yang dipaparkan. Pada dasarnya upaya untuk membangun kesadaran bahwa dengan saling mengakui eksistensi dan Hak masing-masing umat Agama Allah SWT dan membuka dialog pendalaman bersama kiranya akan mampu memupus tuntas perbedaan yang selama ini mengganjal. Jelaslah bagi segenap umat bahwa bibit permasalahan yang masih berlangsung dan bermula sejak pertentangan atas perselisihan di Masjid Al Aqsa belasan abad yang lalu, sepenuhnya timbul akibat campur tangan Iblis yang berusaha memecah belah umat Allah yang belum memahami integritas perjalanan keselamatan Allah SWT itu sendiri. Perang Sabil sebagai sesuatu yang mencoreng muka dan tercatat dalam guratan sejarah dunia sebagai perang besar yang berkepanjangan dan telah menelan jutaan umat dikedua belah pihak, telah pula menjadikan adanya dinding pembatas yang seharusnya tidak pernah- dan tidak perlu -ada. Hal yang paling menyedihkan adalah kedua belah pihak mengklaim berada dipihak Allah SWT. Api kebencian dan akar permusuhan yang dikobarkan si Iblis ini kiranya masih menyala seperti bara dalam sekam yang bisa berkecamuk serta membakar dan menelan korban hingga hari yang Allah SWT tentukan tiba dimana tidak seorangpun mampu memperbaiki dan bertaubat lagi. Masihkah kita akan membiarkan si-Penyesat menebar kebencian dan permusuhan dengan mentolerir rencananya itu. Atau sebalikknya kita melihat hal tersebut sebagai pelajaran yang harus dibayar mahal dimasa lalu dan termotivasi untuk melakukan sesuatu yang dapat menghentikan hal ini, dimulai dari Diri dan lingkungan kita sendiri. Semuanya terpulang kepada kita, umat yang telah Allah berikan kebebasan sebagai bekal dan tanggung jawab. Dengan cara mana Manusia yang diperlengkapi dengan Akal-Budi serta Hati-Nurani diberi kelebihan dibandingkan mahluk ciptaan Allah yang lain, boleh beroleh keselamatan dan pemenuhan Karunia Allah seutuhnya. Tidakkah kita menyadari kedudukan dan hak sebagai manusia yang diciptakan dalam refleksi sifat-sifat ke-IlahianNya terprojeksi pada ciptaanNya yang paling mulia,dan ini adalah Hak yang diberikan hanya pada Manusia yang ISLAM. Semoga Kasih Allah SWT dan Kemurahan serta KeselamatanNya senantiasa hadir diantara kita Wabillahii taufiq wal hidayah, Assalam Mualaikum Wr. Wb, Syaloom, Salam sejahtera

Bismantoro DW Hamba Allah,

36