You are on page 1of 29

ANGGARAN DASAR PAKLINA

ANGGARAN DASAR
MUKADDIMAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Bahwa tujuan pembangunan nasional Indonesia adalah mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang berlandaskan Pancasila dan Undang-undang Dasar Tahun 1945 dilakukan dengan membangun tatanan perekonomian nasional yang demokratis, dinamis dengan iklim usaha yang sehat. Untuk mengawal tujuan tersebut sesuai ketentuan pasal 33 Undang-undang Dasar Tahun 1945 maka Pemerintah berkewajiban memberikan bimbingan, pembinaan, perlindungan dan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat pengusaha agar mampu memajukan usahanya, menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat Indonesia. Atas Rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan didorong oleh keinginan luhur dan dengan kesadaran serta keyakinan dalam menyumbangkan darma bakti untuk pembangunan nusa dan bangsa, maka para pengusaha nasional dibidang kelistrikan menyatakan kesepakatan untuk memperjuangkan kepentingannya dan mensosialisasikan program pemberdayaan ekonomi kerakyatan dalam satu wadah asosiasi dengan nama PERSATUAN KONTRAKTOR LISTRIK NASIONAL disingkat PAKLINA. Dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga sebagai berikut :

BAB I NAMA, TEMPAT KEDUDUKAN DAN WAKTU Pasal 1 Nama Organisasi ini bernama Persatuan Kontraktor Listrik Nasional disingkat PAKLINA yang dalam bahasa Inggris disebut National Electrical Contractor Assosiation, disingkat NECA. Pasal 2 Tempat Kedudukan PAKLINA pertamakali berkedudukan dan berkantor pusat di Semarang Jawa Tengah, dan sesuai dengan kebutuhannya kantor pusat dapat dipindahkan di ibukota Negara sedangkan untuk cabang-cabangnya berada di ibukota daerah Provinsi dan gabungan Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Pasal 3 Waktu (1). PAKLINA didirikan untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. (2). Untuk pertama kalinya didirikan, PAKLINA dideklarasikan pembentukannya di Semarang pada tanggal 26 Desember 2006 dan telah mendapat pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum No : C-14 HT.01.03 TH 2007 Tgl. 26 Pebruari 2007 (AKTE No. 03 Tgl. 16 Januari 2007).

1
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN DASAR PAKLINA

BAB II ASAS, LANDASAN DAN TUJUAN Pasal 4 Asas PAKLINA berasaskan Pancasila Pasal 5 Landasan 1. 2. 3. 4. 5. Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Undang-Undang No.15 Tahun 1989 tentang Ketenagalistrikan Undang Undang No. 5 Tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Undang-undang No.18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi Keputusan Musyawarah Nasional Anggota PAKLINA.

Pasal 6 Visi Mewujudkan anggota dan masyarakat jasa konstruksi di bidang Mekanikal, Elektrikal dan Elektronikal yang tangguh, jujur, bertanggung jawab, profesional,sehat dan berdaya saing tinggi

Pasal 7 Misi Menciptakan peluang pasar dengan basis efisien efektif profesional dan bermartabat yang memiliki keunggulan kompetensi.

Pasal 8 Sasaran 1. Menjadikan PAKLINA sebagai organisasi profesional yang mandiri dan tangguh sehingga dipercaya masyarakat Jasa Konstruksi bidang Mekanikal, Elektrikal dan Elektronikal baik dalam negeri maupun luar negeri. 2. Mewujudkan tanggung jawab sebagai organisasi profesional yang mengembangkan ilmu dan teknologi konstruksi, SDM yang kompeten, sarana dan prasarana jasa konstruksi khususnya dibidang Mekanikal, Elektrikal dan Elektronikal yang kompetitif secara nasional maupun internasional. 3. Memberikan pelayanan jasa Mekanikal, Elektrikal dan Elektronikal sesuai dengan kemampuan masyarakat.

2
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN DASAR PAKLINA

Pasal 9 Tujuan 1. Menghimpun pengusaha / perusahaan nasional yang bergerak di bidang jasa konstruksi khususnya bidang Mekanikal, Elektrikal dan Elektronikal di dalam satu wadah organisasi. 2. Berperan dan ikut serta untuk meningkatkan pembangunan nasional. 3. Membimbing, mengarahkan dan memperjuangkan kepentingan anggota demi kelangsungan usahanya. 4. Mendorong terciptanya rasa kesetiakawanan sesama pelaku pasar konstruksi agar dapat dihindari terjadinya persaingan kerja dan usaha yang tidak sehat, sehingga dapat benarbenar tercipta kebersamaan. 5. Aktif mengadakan kerja sama dengan lembaga-lembaga yang terkait dengan badan Usaha Jasa Konstruksi, baik di dalam maupun di luar negeri. 6. Membina dan mengembangkan kemampuan pengusaha jasa konstruksi bidang Mekanikal, Elektrikal dan Elektronikal menjadi tangguh dan profesional, kokoh dan mandiri. 7. Mendorong terciptanya hubungan kemitraan yang sinergis antara pengusaha golongan ekonomi lemah, menengah dan kuat.

BAB III KEDAULATAN Pasal 10 Kedaulatan Organisasi Kedaulatan tertinggi organisasi PAKLINA berada di tangan anggota PAKLINA yang dilaksanakan melalui Musyawarah Nasional.

BAB IV BENTUK, STATUS, SIFAT DAN FUNGSI Pasal 11 Bentuk Organisasi PAKLINA berbentuk satu kesatuan organisasi yang kolektif, yang menganut struktur kekuasaaan otonom, dan struktur kepemimpinan berjenjang dari Dewan Pengurus Pusat, Dewan Pengurus Daerah dan Dewan Pengurus Cabang di seluruh wilayah Republik Indonesia.

Pasal 12 Status Organisasi PAKLINA berstatus independen, tidak berpihak kepada perorangan, kelompok dan atau lembaga/instansi manapun, kecuali semata-mata memihak kepada peningkatan kualitas dan kesejahteraan anggotanya.

3
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN DASAR PAKLINA

Pasal 13 Sifat Organisasi PAKLINA bersifat organisasi terbuka untuk mewadahi dan membina pengusaha / perusahaan yang dalam melakukan kegiatannya bergerak di bidang jasa konstruksi, khususnya Mekanikal, Elektrikal dan Elektronikal.

Pasal 14 Fungsi Organisasi 1. Menciptakan kesatuan dan persatuan yang dilandasi niat jujur, terbuka dan akomodatif demi terciptanya tujuan bersama. 2. Memperjuangkan kepentingan anggota dan membinanya sehingga mampu mengembangkan usahanya. 3. Sebagai wadah konsultasi dan komunikasi antar anggota, dan pengusaha lainnya, dengan pemerintah, serta lembaga-lembaga lain yang berkaitan dengan bidang usaha jasa konstruksi.

Pasal 15 Wewenang 1. Melakukan pembinaan serta menfasilitasi penerbitan setifikasi kompetensi perusahaan kepada anggotanya. 2. Pengendalian perilaku anggota sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Pasal 16 Status Dan Berakhirnya Keanggotaan 1. Keanggotaan PAKLINA terdiri dari : a) Anggota Biasa. b) Anggota Luar Biasa. c) Anggota Kehormatan. 2. Yang berhak menjadi Anggota Biasa adalah Badan Usaha Jasa Konstruksi bidang pekerjaan Elektrikal, Mekanikal dan Elektronikal dan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga. 3. Anggota Luar Biasa dan Anggota Kehormatan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga. 4. Keanggotaan PAKLINA ditentukan oleh Dewan Pengurus Pusat atas usulan dari DPD dan DPC sesuai domisili Badan Usaha Jasa Konstruksi berada dan bilamana pada wilayah tersebut belum terbentuk DPC, maka keanggotaan diajukan melalui DPD.

Pasal 17 Berakhirnya Keanggotaan Tata cara penerimaan, pemberhentian anggota dan ketentuan lainnya diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

4
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN DASAR PAKLINA

BAB VI STRUKTUR ORGANISASI Pasal 18 Struktur Pimpinan 1. Struktur Pimpinan terdiri dari : a. Di tingkat Nasional disebut Dewan Pengurus Pusat disingkat DPP. b. Di tingkat Provinsi disebut Dewan Pengurus Daerah disingkat DPD. c. Di tingkat Kabupaten/Kota disebut Dewan Pengurus Cabang disingkat DPC. 2. Pada struktur pimpinan ditingkat DPP dilengkapi dengan Dewan Pembina kecuali untuk tingkat DPD dan DPC yang kesemuanya itu merupakan satu kesatuan struktur kepemimpinan berjenjang secara koordinatif.

Pasal 19 Struktur Kewenangan 1. Musyawarah di tingkat Nasional terdiri dari : a. Musyawarah Nasional disingkat MUNAS. b. Musyawarah Nasional Luar Biasa disingkat MUNASLUB. c. Musyawarah Nasional Khusus disingkat MUNASUS. d. Rapat Kerja Nasional disingkat RAKERNAS. e. Rapat Pimpinan Nasional disingkat RAPIMNAS. 2. Musyawarah di tingkat Propinsi terdiri dari : a. Musyawarah Daerah disingkat MUSDA. b. Musyawarah Daerah Luar Biasa disingkat MUSDALUB. c. Rapat Kerja Daerah disingkat RAKERDA. d. Rapat Pimpinan Daerah disingkat RAPIMDA. 3. Musyawarah di tingkat Kabupaten/Kota terdiri dari : a. Musyawarah Cabang disingkat MUSCAB. b. Musyawarah Cabang Luar Biasa disingkat MUSCABLUB. c. Rapat Kerja Cabang/Kota disingkat RAKERCAB. d. Rapat Pimpinan Cabang disingkat RAPIMCAB.

BAB VII KODE ETIK DAN LAMBANG Pasal 20 Kode Etik Kode Etik yang menjadi landasan dasar bagi sikap dan perilaku PAKLINA ditetapkan dalam Anggaran Rumah Tangga.

5
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN DASAR PAKLINA

Pasal 21 Lambang Lambang PAKLINA ditetapkan dalam Anggaran Rumah Tangga

BAB VIII KEUANGAN DAN HARTA BENDA Pasal 22 Keuangan Sumber keuangan PAKLINA bersumber dari : 1. Uang pangkal keanggotaan. 2. Uang iuran keanggotaan. 3. Uang administrasi keanggotaan. 4. Usaha lainnya yang sah yang dilakukan oleh pengurus dan atau anggota. 5. Sumbangan dan atau bantuan lainnya yang halal dan tidak mengikat.

Pasal 23 Pengelolaan Keuangan Pengelolaan Keuangan berasaskan fungsional, transparansi dan akuntabilitas yang didasarkan pada pertanggungjawaban moral yang jujur dan adil, serta pertanggungjawaban secara konstitusi organisasi, hukum dan peraturan perundangan yang berlaku.

Pasal 24 Harta Benda 1. Harta benda PAKLINA merupakan bagian dari kekayaan hak milik organisasi. 2. Pengelolaan dan pertanggungjawaban harta benda PAKLINA mulai dari tingkat Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota, sepenuhnya menjadi tanggung jawab struktur organisasi bersangkutan yang dipertanggungjawabkan pada MUNAS, MUSDA, dan MUSCAB. 3. Apabila dikemudian hari pada beberapa tingkatan struktur kepengurusannya dinyatakan bubar, maka harta kekayaannya dititipkan kepada struktur kepemimpinan satu tingkat di atasnya. 4. Apabila dikemudian hari PAKLINA dinyatakan dibubarkan, maka seluruh harta benda dan kekayaannya diserahkan pada badan-badan sosial yang sesuai dengan misi PAKLINA.

BAB IX PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN PEMBUBARAN ORGANISASI Pasal 25 Perubahan Anggaran Dasar

6
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN DASAR PAKLINA

Anggaran Dasar ini hanya dilakukan perubahannya melalui keputusan Musyawarah Nasional atau Musyawarah Nasional Luar Biasa atau Musayawarah Nasional Khusus yang disepakati oleh 2/3 dari jumlah Dewan Pengurus Daerah yang telah ada, dan distujui oleh 2/3 dari jumlah peserta penuh musyawarah. Pasal 26 Pembubaran Organisasi Pembubaran organisasi secara nasional hanya dapat dilakukan melalui keputusan Musyawarah Nasional Luar Biasa yang diadakan khusus untuk itu, yang disepakati oleh 2/3 dari jumlah DPD yang ada, dan disetujui oleh 2/3 dari jumlah DPD yang hadir.

BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 27 Penutup 1. Hal-hal yang belum cukup diatur dan atau tidak diatur dalam Anggaran Dasar ini, dialihkan pengaturannya dalam Anggaran Rumah Tangga dan tidak dibenarkan bertentangan dengan Anggaran Dasar ini. 2. Anggaran Dasar ini hanya dapat diubah melalui Munas atau Munaslub atau Munasus. 3. Anggaran Dasar ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Pada tanggal

: Semarang : 29 April 2009

PIMPINAN SIDANG MUSYAWARAH NASIONAL KHUSUS TAHUN 2009 ANGGOTA PERSATUAN KONTRAKTOR LISTRIK NASIONAL

1. KETUA 2. SEKRETARIS 3. ANGGOTA

: : :

FX. Mulyatno, SH. Ir. Achmad Supriyadi H. Hadis Sudarman, ST.

7
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

ANGGARAN RUMAH TANGGA


BAB I KEANGGOTAAN Pasal 1 Keanggotaan PAKLINA 1. Anggota Biasa a. Badan Usaha milik Negara, milik Swasta Nasional memiliki akta pendirian yang sah menurut hukum di Negara Republik Indonesia dan bergerak dalam bidang Jasa Pelaksana Konstruksi. b. Persyaratan lainnya yang diatur secara nasional, dengan menyesuaikan keadaan daerah, yang selanjutnya diatur dalam pedoman khusus. 2. Anggota Luar Biasa a. Badan Usaha yang berbentuk Penanaman Modal Asing yang didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bergerak dalam bidang Jasa Pelaksana konstruksi. b. Persyaratan lainnya yang diatur secara nasional, dengan menyesuaikan keadaan daerah, yang selanjutnya diatur dalam pedoman khusus. 3. Anggota Kehormatan a. Tokoh-tokoh perorangan baik pemerintah, pengusaha nasional, maupun masyarakat pada umumnya yang dipandang telah berjasa dalam membentuk, membina, dan memajukan PAKLINA, baik di tingkat Nasional, Provinsi atau Kabupaten/Kota. b. Syarat keanggotaan kehormatan akan diatur selanjutnya dalam pedoman khusus. Pasal 2 Hak Anggota 1. Setiap Anggota Biasa PAKLINA berhak untuk : 1) Hak mengajukan permohonan untuk mendapatkan sertifikat Badan Usaha, sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh perundang-undangan. 2) Meminta bantuan berupa konsultasi, informasi, rekomendasi, arbitrasi dari pengurus yang berkenaan dengan bidang usahanya sepanjang batas kemampuan dan kesanggupan pengurus. 3) Berperan serta dalam semua kegiatan Asosiasi. 4) Menjadi panitia, delegasi, kelompok kerja, misi dan lainnya yang dibentuk pengurus. 5) Mendapatkan Tanda keanggotaan dan surat keterangan lainnya yang diperlukan dalam bidang usahanya. 6) Menanyakan persoalan keuangan dan jika perlu meminta dilakukan pemeriksaan pembukuan dalam Rapat Anggota Cabang dan atau Rapat Kerja Daerah bagi daerah yang tidak mempunyai Cabang. 7) Atas permintaannya turut membaca surat-surat masuk dan keluar sepanjang oleh pengurus tidak dinyatakan rahasia. 8) Hak sanggah / pembelaan manakala yang bersangkutan diperingatkan atau diskors karena suatu sebab. 9) Mengajukan pendapat dan hak suara dalam hal pemungutan suara. 10) Memilih dan dipilih menjadi Anggota Pengurus.

1
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

2. Setiap Anggota Luar Biasa berhak untuk : a) Memiliki hak sebagaimana di atur dalam Anggaran Rumah Tangga Pasal 2 Ayat 1 sampai dengan 8. b) Hak megajukan pendapat c) Tidak memiliki hak untuk dipilih dan memilih menjadi anggota pengurus. 3. Setiap Anggota Kehormatan berhak untuk : a) Hak bicara yaitu hak mengeluarkan pendapat dan mengajukan pertanyaan. b) Hak untuk mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi atas undangan Dewan Pengurus. c) Hak untuk dipilh menjadi Pengurus atas pengajuan dari anggota dan setelah mendapat persetujuan dari Dewan Pengurus Pusat. 4. Dalam menggunakan hak, anggota PAKLINA sebagaimana tersebut pada ayat 1, Anggota Biasa dan Anggota Luar Biasa PAKLINA hanya diwakilkan kepada satu orang, sehingga : a) Secara otomatis adalah orang yang identitasnya tercantum dalam KTA PAKLINA yang masih berlaku. b) Dalam hal diwakilkan kepada orang lain, harus dapat dibuktikan terlebih dahulu bahwa yang bersangkutan adalah salah seorang pengurus perusahaan (anggota PAKLINA) tersebut yang nama dan jabatannya tercantum dalam akte perusahaan (akte pendirian dan perubahan-perubahan), dan yang bersangkutan mendapat surat kuasa penuh dari pimpinan perusahaan tersebut untuk mewakili dalam organisasi PAKLINA. c) Dalam penggunaan hak anggota diwakilkan sebagaimana tersebut butir b, untuk keperluan kepesertaan dalam musyawarah, maka akte perusahaan yang berlaku adalah akte pendirian/perubahan yang waktunya dibuat 6 (enam) bulan sebelum berlangsungnya musyawarah. d) Dalam hal penggunaan hak anggota diwakilkan sebagaimana tersebut butir b dan butir c, maka ketentuan ayat 3a menjadi gugur dan hak mewakili anggota dialihkan kepada yang mendapat kuasa penuh tersebut. e) Ketentuan mengenai wakil/kuasa Anggota Luar Biasa dalam organisasi diatur lebih lanjut dalam Pedoman Ketatalaksanaan Organisasi.

Pasal 3 Tata Cara Penerimaan Anggota 1. Penerimaan anggota baru didaftarkan melalui DPC untuk selanjutnya diteruskan ke tingkat kepengurusan Provinsi (Dewan Pengurus Daerah) hingga kepengurusan Pusat (Dewan Pengurus Pusat). 2. Bila di daerah tempat Badan Usaha tersebut berdomisili belum dibentuk Dewan Pengurus Cabang PAKLINA, maka permohonan seperti tersebut pada ayat 1, dapat diajukan melalui Dewan Pengurus Daerah PAKLINA setempat yang kemudian diteruskan ke DPP. 3. Dalam waktu selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah mengajukan permohonan menjadi anggota, Dewan Pengurus Cabang/Daerah harus memberikan jawaban tertulis. 4. Diterima atau tidaknya sebagai anggota PAKLINA ditetapkan oleh Dewan Pengurus Pusat, atas rekomendasi DPD yang bersangkutan. 5. Anggota yang diterima diberikan Kartu Tanda Anggota PAKLINA yang diterbitkan secara nasional yang diditanda tangani oleh Ketua Umum DPP dan Ketua Umum DPD setempat serta tidak dibenarkan rangkap keanggotan Asosiasi sejenis dengan memiliki persamaan bidang sub bidang pekerjaan konstruksi.

2
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

Pasal 4 Lingkup Bidang Pekerjaan Anggota Lingkup bidang pekerjaan meliputi Bidang Mekanikal, Elektrikal dan Elektronikal dengan rincian sub bidang sebagaimana diatur dalam aturan perundang yang berlaku.

Pasal 5 Kewajiban Anggota 1. Mantaati Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan Kode Etik Organisasi serta ketetapan organisasi dan keputusan Dewan Pengurus lainnya. 2. Menjaga nama baik dan menjunjung tinggi harkat dan martabat organisasi. 3. Berperan aktif dalam pelaksanaan program kerja organisasi, berdasarkan keputusan yang telah ditetapkan. 4. Melaksanakan kewajiban keanggotaan lainnya termasuk Uang Pangkal dan Iuran serta Sumbangan-sumbangan yang lain sebagai mana yang telah ditetapkan oleh organisasi.

Pasal 6 Pemberian Sanksi Organisasi Pada Anggota 1. Setiap Anggota Biasa dan Luar Biasa dapat diberikan sanksi kehilangan haknya di disebabkan karena : a) Melakukan pelanggaran Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga atau Kode Etik PAKLINA; dan atau ketentuan organisasi lainnya. b) Tidak memenuhi kewajiban keuangan setelah diperingatkan secara tertulis 3 (tiga) kali berturut-turut dalam jangka waktu minimal 3 (Tiga) bulan. c) Melakukan kesalahan dalam hal tindakan pemalsuan, penipuan, dan kriminalitas lainnya. d) Tidak menjalankan profesi sebagaimana mestinya sehingga merugikan nama baik organisasi. 2. Pemberhentian atau pemberhentian sementara anggota dilakukan oleh DPP setelah kepada yang bersangkutan diberi peringatan tertulis terlebih dahulu sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan, terkecuali untuk hal-hal yang luar biasa yang merugikan organisasi, berdasarkan keputusan rapat Dewan Pengurus Pusat. 3. Anggota yang diberikan sanksi organisasi, memiliki hak pembelaan diri melalui pengajuan pembelaan diri pada Rapat Pimpinan Daerah dimana Propinsi keanggotaannya terdaftar dan berkedudukan, dan atau melalui forum Rapat Kerja Cabang, dan atau ada forum Musyawarah Cabang dan atau langsung melalui Dewan Pembina Dewan Pengurus Pusat. 4. Dalam masa pemberhentian atau pemberhantian sementara, anggota yang bersangkutan kehilangan hak-haknya. 5. Anggota yang kehilangan haknya karena terkena sanksi, akan memperoleh pemulihan hak-haknya setelah saksi yang dikenakan kepadanya dicabut kembali. 6. Tata cara menjatuhkan sanksi pemberhentian atau pemberhentian sementara kepada Anggota Biasa dan Anggota Luar Biasa diatur lebih lanjut dalam Pedoman Ketatalaksanaan Organisasi.

3
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

Pasal 7 Pemberian Sanksi Organisasi Bagi Personal Unsur Dewan Pengurus 1. Kepengurusan dari semua tingkatan organisasi dapat diberikan sanksi organisasi atas pelanggaran AD/ART, dan atau Kode Etik organisasi, oleh Dewan Pengurus yang bersangkutan setelah mendapat persetujuan dari DPP atas rekomendasi Dewan Pembina DPP 2. Pemberian sanksi organisasi dapat berupa : 2.1. Peringatan tertulis 2.2. Pembekuan Kepengurusan 2.3. Pencabutan Surat Keputusan 3. Khusus untuk pelanggaran yang sangat mendasar yang dilakukan oleh Dewan Pengurus atau personil unsur Dewan Pengurus dapat diberikan sanksi pembekuan dan pencabutan Surat Keputusan tanpa melalui sanksi peringatan tertulis oleh Dewan Pengurus Pusat atas persetujuan Dewan Pembina DPP setelah Dewan Pembina DPP melakukan investigasi dengan membentuk tim independen. 4. Pelanggaran yang sangat mendasar yang disebut pada ayat 3 dan 4 tersebut di atas adalah perilaku yang terbukti melakukan tindak pemalsuan, penipuan, korupsi, penyalahgunaan wewenang, penggelapan uang organisasi dan tindakan kriminal lainnya berdasarkan keputusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

BAB II STRUKTUR KEWENANGAN PAKLINA Pasal 8 Musyawarah Nasional 1. Status a. Musyawarah Nasional disingkat MUNAS merupakan musyawarah antar anggota sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di tingkat Nasional yang diwakili oleh Dewan Pengurus Daerah. b. Musyawarah Nasional yang merupakan pemegang kekuasaan tertinggi organisasi di tingkat nasional. c. Musyawarah Nasional diadakan sekali dalam 3 (tiga) tahun. d. Musyawarah Nasional dapat diadakan penyimpangan dari pasal 8 ayat 1 bagian c diatas untuk penyempurnaan AD-ART dan Kode Etik dan bila keadaan luar biasa dengan melaksanakan Musyawarah Luar Biasa. e. Musyawarah Nasional Luar Biasa hanya dapat diadakan atas persetujuan 2/3 dari jumlah Dewan Pengurus Daerah yang telah ada. f. Musyawarah Nasional Luar Biasa dan Musyawarah Nasional Khusus dalam pelaksanaannya sama dengan Musyawarah Nasional. 2. Kewenangan a. Menilai dan menetapkan untuk menolak dan atau menerima laporan pertanggungjawaban Dewan Pengurus Pusat. b. Menyempurnakan dan menetapkan Anggaran Dasar, dan Anggaran Rumah Tangga, Program Kerja serta peraturan dan kebijakan organisasi lainnya. c. Memilih dan menetapkan Ketua Umum dan kelengkapan kepengurusan Dewan Pengurus Pusat. d. Acara-acara lain yang bermanfaat bagi kemajuan organisasi.

4
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

3. Tata Tertib a. Peserta Musyawarah Nasional terdiri dari wakil-wakil utusan Dewan Pengurus Pusat dan Dewan Pengurus Daerah yang masing-masing terdaftar sebagai Peserta Penuh, dan Dewan Pengurus Cabang sebagai Peserta Peninjau. b. Peserta Penuh memiliki hak suara, yaitu hak bicara, hak untuk memilih, dan hak untuk dipilih. c. Peserta Peninjau hanya memiliki hak bicara dan hak untuk dipilih. d. Dalam pengambilan keputusan, hak suara berlaku masing-masing 1 (satu) suara untuk 1 (satu) utusan Dewan Pengurus Pusat, 1 (satu) suara bagi setiap Dewan Pengurus Daerah yang hadir. e. Peserta lainnya diluar ketentuan pasal 8 ayat 3a diatas, termasuk dalam status Peserta Peninjau. f. Pimpinan Persidangan Musyawarah Nasional berbentuk Pimpinan Sidang berjumlah 3 (tiga) orang yang dipilih dari dan oleh peserta penuh, dengan ketentuan 1 (satu) dari Dewan Pengurus Pusat, 1 (satu) orang dari Dewan Pengurus Daerah dan 1 (satu) orang dari Steering Commite. g. Dewan Pengurus Pusat adalah sebagai penyelenggara dan penanggung jawab pelaksanaan Musyawarah Nasional. h. Musyawarah Nasional dilengkapi beberapa orang Panitia Pengarah dan Panitia Pelaksana yang ditetapkan dan bertanggung jawab kepada Dewan Pengurus Pusat; i. Panitia Pengarah karena tugas dan fungsinya untuk merumuskan perlengkapan materi sidang, baik sebelum maupun sesudah diadakan Musyawarah Nasional adalah memimpin sidang untuk sementara waktu, selama Pimpinan Sidang definitif belum terpilih. j. Musyawarah Nasional hanya dapat dianggap sah bila dihadiri 2/3 utusan Dewan Pengurus Daerah yang ada dan apabila belum memenuhi kuorum maka diberikan waktu 2x30 menit dan bilamana belum juga memenuhi kuorum maka keputusan ditawarkan kepada peserta yang sudah hadir. k. Setelah Laporan Pertanggungjawaban Dewan Pengurus Pusat disampaikan pada Sidang Pleno Musyawarah Nasional, maka kepengurusan Dewan Pengurus Pusat dinyatakan demisioner.

Pasal 9 Musyawarah Nasional Luar Biasa 1. Status a. Musyawarah Nasional Luar Biasa disingkat MUNASLUB merupakan musyawarah antar anggota sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di tingkat Nasional yang diwakili oleh Dewan Pengurus Daerah. b. Musyawarah Nasional Luar Biasa dapat diadakan penyimpangan dari pasal 8 ayat 1 bagian c di atas apabila kondisi organisasi dalam keadaan luar biasa. c. Kekuasaan dan wewenang Musyawarah Nasional Luar Biasa sama dengan kekuasaan dan wewenag Musyawarah Nasional. d. Musyawarah Nasional Luar Biasa hanya dapat diadakan atas persetujuan 2/3 dari jumlah Dewan Pengurus Daerah yang telah ada. e. Musyawarah Nasional Luar Biasa dalam pelaksanaannya sama dengan Musyawarah Nasional. 2. Kekuasaan dan Wewenang a. Menilai dan menetapkan untuk menolak atau menerima Laporan Pertanggungjawaban Dewan Pengurus Pusat.

5
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

b. Apabila pertanggungjawaban seperti pada ayat 2 bagian a tersebut di atas tidak dapat diterima oleh Musyawarah Nasional Luar Biasa tersebut maka Dewan Pengurus Pusat yang bersangkutan dianggap telah gugur atau berakhir. c. Akibat ayat 2 bagian b tersebut maka Musyawarah Nasional Luar Biasa melakukan proses pemilihan dan penetapan Dewan Pengurus Pusat untuk masa bhakti yang baru. d. Menyempurnakan dan menetapkan Anggaran Dasar, dan Anggaran Rumah Tangga, Program Kerja serta peraturan dan kebijaksanaan organisasi lainnya. e. Memilih dan menetapkan Ketua Umum dan kelengkapan kepengurusan Dewan Pengurus Pusat untuk masa bhakti berikutnya. 3. Tata Tertib a. Peserta Musyawarah Nasional Luar Biasa terdiri dari wakil-wakil utusan Dewan Pengurus Pusat dan Dewan Pengurus Daerah yang masing-masing terdaftar sebagai Peserta Penuh, dan Dewan Pengurus Cabang sebagai Peserta Peninjau. b. Peserta Penuh memiliki hak suara yaitu dipilih dan hak memilih serta hak bicara. c. Peserta Peninjau hanya memiliki hak bicara dan hak dipilih. d. Dalam pengambilan keputusan, hak suara berlaku masing-masing 1 (satu) suara untuk 1 (satu) utusan Dewan Pengurus Pusat, 1 (satu) suara bagi setiap Dewan Pengurus Daerah yang hadir. e. Peserta lainnya diluar ketentuan Pasal 8 ayat 3a di atas, termasuk dalam status Peserta Peninjau. f. Pimpinan Persidangan Musyawarah Nasional Luar biasa berbentuk Pimpinan Sidang berjumlah 3 (tiga) orang yang dipilih dari dan oleh Peserta Penuh, dengan ketentuan 1 (satu) dari Dewan Pengurus Pusat, 1 (satu) orang dari Dewan Pengurus Daerah dan 1 (satu) orang dari Steering Commite. g. Dewan Pengurus Pusat sebagai penyelenggara dan penanggung jawab pelaksanaan Musyawarah Nasional Luar Biasa. h. Musyawarah Nasional Luar Biasa dilengkapi beberapa orang Panitia Pengarah dan Panitia Pelaksana yang ditetapkan dan bertanggung jawab kepada Dewan Pengurus Pusat. i. Panitia Pengarah karena tugas dan fungsinya untuk merumuskan perlengkapan materi sidang baik sebelum maupun sesudah diadakan Musyawarah Nasional Luar Biasa adalah memimpin sidang untuk sementara waktu, selama pimpinan sidang dafinitif belum terpilih. j. Musyawarah Nasional Luar Biasa hanya dianggap sah bila dihadiri 2/3 utusan Dewan Pengurus Daerah yang ada dan apabila belum memenuhi kuorum maka diberikan waktu 2x30 menit dan bilamana belum juga memenuhi kuorum maka keputusan ditawarkan kepada peserta yang sudah hadir. k. Setelah Laporan Pertanggungjawaban Dewan Pengurus Pusat disampaikan pada Sidang Pleno Musyawarah Nasional Luar Biasa, maka Kepengurusan Dewan Pengurus Pusat dinyatakan demisioner.

Pasal 10 Musyawarah Nasional Khusus 1. Status a. Musyawarah Nasional Khusus disingkat MUNASUS merupakan musyawarah antar anggota sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di tingkat Nasional yang diwakili oleh Dewan Pengurus Daerah.

6
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

b. Musyawarah Nasional Khusus dapat diadakan penyimpangan dari pasal 8 ayat 1 bagian c di atas apabila sangat dibutuhkan segera perubahan tentang Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan Kode Etik Organisasi. c. Kekuasaan dan Wewenang Musyawarah Nasional Khusus sama dengan kekuasaan dan wewenang Musyawarah Nasional. d. Musyawarah Nasional Khusus hanya dapat diadakan atas persetujuan 2/3 dari jumlah Dewan Pengurus Daerah yang telah ada. e. Musyawarah Nasional Khusus dalam pelaksanaannya sama dengan Munas. 2. Kekuasaan dan Wewenang Menyempurnakan dan menetapkan Anggaran Dasar, dan Anggaran Rumah Tangga, Program Kerja serta peraturan dan kebijaksanaan organisasi lainnya. 3. Tata Tertib a. Peserta Musyawarah Nasional Khusus terdiri dari wakil-wakil utusan Dewan Pengurus Pusat dan Dewan Pengurus Daerah yang masing-masing terdaftar sebagai Peserta Penuh sedangkan Dewan Pengurus Cabang sebagai Peserta Peninjau. b. Peserta Penuh memiliki hak suara yaitu hak dipilih dan hak memilih serta hak bicara. c. Peserta Peninjau hanya memiliki hak bicara dan hak dipilih. d. Dalam pengambilan keputusan, hak suara berlaku masing-masing 1 (satu) suara untuk 1 (satu) utusan Dewan Pengurus Pusat dan 1 (satu) suara bagi setiap DPD yang hadir. e. Peserta diluar ketentuan Pasal 10 ayat 3a diatas, dikategorikan sebagai Peserta Peninjau. f. Pimpinan Persidangan Musyawarah Nasional Khusus berbentuk Pimpinan Sidang berjumlah 3 (tiga) orang yang dipilih dari dan oleh peserta penuh, dengan ketentuan 1 (satu) dari Dewan Pengurus Pusat, 1 (satu) orang dari Dewan Pengurus Daerah dan 1 (satu) orang dari Panitia Pengarah (Steering Commite). g. Dewan Pengurus Pusat sebagai penyelenggara dan penanggung jawab pelaksanaan Musyawarah Nasional Khusus. h. Musyawarah Nasional Khusus dilengkapi beberapa orang Panitia Pengarah dan Panitia Pelaksana yang ditetapkan dan bertanggung jawab kepada Dewan Pengurus Pusat. i. Panitia Pengarah karena tugas dan fungsinya untuk merumuskan perlengkapan materi sidang baik sebelum maupun sesudah diadakan Musyawarah Nasional Khusus adalah memimpin sidang untuk sementara waktu, selama Pimpinan Sidang definitif belum terpilih. j. Musyawarah Nasional Khusus hanya dapat dianggap sah bila dihadiri 2/3 utusan Dewan Pengurus Daerah yang ada dan apabila belum memenuhi kuorum maka diberikan waktu 2x30 menit dan bilamana belum juga memenuhi kuorum maka keputusan ditawarkan kepada peserta yang sudah hadir.

Pasal 11 Rapat Kerja Nasional 1. Status a. Rapat Kerja Nasinal merupakan rapat antar anggota yang diwakili oleh Dewan Pengurus Daerah. b. Rapat Kerja Nasional merupakan pemegang kekuasaan tertinggi organisasi dalam penyusunan pogram kerja nasional. c. Rapat Kerja Nasional diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam 2 (dua) tahun. 2. Kekuasaan dan Wewenang a. Mendengarkan laporan dan mengevaluasi hasil pelaksanaan program kerja nasional yang dilaksanakan Dewan Pengurus Pusat. b. Menyempurnakan dan menetapkan Program Kerja Nasional, serta peraturan dan kebijaksanaan organisasi lainnya.

7
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

3. Tata Tertib a. Peserta Rapat Kerja Nasional terdiri dari wakil-wakil utusan Dewan Pengurus Pusat dan Dewan Pengurus Daerah yang masing-masing terdaftar sebagai Peserta Penuh, dan Dewan Pengurus Cabang sebagai Peserta Peninjau. b. Peserta Peninjau hanya memiliki hak bicara dan hak dipilih. c. Hak suara hanya dimiliki oleh masing-masing unsur DPP 1 (satu) suara dan untuk DPD 1 (satu) suara. d. Peserta lainnya diluar ketentuan Pasal 11 ayat 3a di atas, termasuk dalam status Peserta Peninjau. e. Pimpinan Persidangan Rapat Kerja Nasional berbentuk Pimpinan Sidang berjumlah 5 (lima) orang yang dipilih dari dan oleh peserta penuh dan memiliki hak dan kewajiban yang sama dan seimbang. f. Dewan Pengurus Pusat sebagai penyelenggara dan penanggung jawab pelaksanaan Rapat Kerja Nasional. g. Rapat Kerja Nasional dilengkapi beberapa orang Panitia Pengarah dan Panitia Pelaksana yang ditetapkan dan bertanggung jawab kepada Dewan Pengurus Pusat. h. Panitia Pengarah karena tugas dan fungsinya untuk merumuskan perlengkapan materi sidang baik sebelum maupun sesudah diadakan Rapat Kerja Nasional, sehingga berhak memimpin sidang untuk sementara waktu, selama Pimpinan Sidang definitif belum terpilih. i. Rapat Kerja Nasional hanya dapat dianggap sah bila dihadiri 2/3 utusan Dewan Pengurus Daerah yang ada dan apabila belum memenuhi kuorum maka diberikan waktu 2x30 menit dan bilamana belum juga memenuhi kuorum maka keputusan ditawarkan kepada peserta yang sudah hadir.

Pasal 12 Rapat Pimpinan Nasional 1. Status a. Rapat Pimpinan Nasional merupakan rapat antar pimpinan yang diwakili oleh DPD. b. Rapat Pimpinan Nasional merupakan pemegang kekuasaan tertinggi organisasi dalam penetapan kebijakan organisasi dalam ruang lingkup nasional. c. Rapat Pimpinan Nasional diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam 1 (satu) tahun. 2. Kekuasaan dan Wewenang a. Mendengarkan laporan dan mengevaluasi hasil pelaksanaan kebijaksanaan yang dilaksanakan Dewan Pengurus Pusat dan seluruh Dewan Pengurus Daerah. b. Menginventarisasi permasalahan organisasi dalam ruang lingkup nasional dan menetapkan kebijaksanaan dalam penanggulangan dan penyelesaiannya. 3. Tata Tertib a. Peserta Rapat Pimpinan Nasional terdiri dari wakil-wakil utusan Dewan Pengurus Pusat dan Dewan Pengurus Daerah yang masing-masing terdaftar sebagai Peserta Penuh, dan Dewan Pengurus Cabang sebagai Peserta Peninjau. b. Peserta Peninjau hanya memiliki hak bicara. c. Dalam pengambilan keputusan, hak suara berlaku masing-masing 1 (satu) suara untuk 1 (satu) utusan Dewan Pengurus Pusat dan 1 (satu) suara bagi setiap Dewan Pengurus Daerah yang hadir. d. Peserta lainnya diluar ketentuan Pasal 12 ayat 3a di atas, termasuk dalam status Peserta Peninjau. e. Pimpinan Persidangan Rapat Pimpinan Nasional dipimpin oleh ,Ketua Umum dan atau Wakil-wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat yang memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang sama dan seimbang dengan peserta rapat lainnya.

8
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

f. Dewan Pengurus Pusat sebagai penyelenggara dan penanggung jawab pelaksanaan Rapat Pimpinan Nasional. g. Rapat Pimpinan Nasional hanya dapat dianggap sah bila dihadiri 2/3 utusan Dewan Pengurus Daerah yang ada dan apabila belum memenuhi kuorum maka diberikan waktu 2x30 menit dan bilamana belum juga memenuhi kuorum maka keputusan ditawarkan kepada peserta yang sudah hadir.

Pasal 13 Musyawarah Daerah 1. Status a. Musyawarah Daerah disingkat MUSDA merupakan musyawarah antar anggota sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di tingkat Propinsi yang diwakili oleh Dewan Pengurus Cabang. b. Musyawarah Daerah merupakan pemegang kekuasaan tertinggi organisasi di tingkat Propinsi. c. Musyawarah Daerah diadakan sekali dalam 3 (tiga) tahun. d. Musyawarah Daerah dapat diadakan penyimpangan dari pasal 13 ayat 1 bagian c di atas bila dalam keadaan luar biasa dengan melaksanakan Musyawarah Daerah Luar Biasa d e. Musyawarah Daerah hanya dapat diadakan atas persetujuan 2/3 dari jumlah Dewan Pengurus Cabang yang telah ada. f. Musyawarah Daerah Luar Biasa dalam pelaksanaannya sama dengan Musyawarah Daerah. 2. Kekuasaan dan Wewenang a. Menilai dan menetapkan untuk menolak dan atau menerima laporan Pertanggungjawaban Dewan Pengurus Daerah. b. Menyempurnakan dan menetapkan Program Kerja serta kebijakan lainnya di tingkat Propinsi yang bersangkutan. c. Memilih dan menetapkan Ketua Umum dan kelengkapan kepengurusan Dewan Pengurus Daerah, untuk masa bakti berikutnya. 3. Tata Tertib a. Peserta Musyawarah Daerah terdiri dari wakil-wakil utusan Dewan Pengurus Daerah dan Dewan Pengurus Cabang yang masing-masing terdaftar sebagai Peserta Penuh, dan anggota sebagai Peserta Peninjau. b. Peserta Penuh memiliki hak suara, yaitu hak memilih, hak dipilih, serta hak bicara. c. Peserta Peninjau hanya memiliki hak bicara dan hak dipilih. d. Dalam pengambilan keputusan, hak suara berlaku masing-masing 1 (satu) suara untuk 1 (satu) utusan Dewan Pengurus Daerah, 1 (satu) suara bagi setiap Dewan Pengurus Cabang yang hadir. e. Peserta lainnya diluar ketentuan Pasal 13 ayat 3a di atas, termasuk dalam status Peserta Peninjau. f. Pimpinan Persidangan Musyawarah Daerah berbentuk Pimpinan Sidang berjumlah 3 (tiga) orang dipilih dari dan oleh peserta penuh, dengan ketentuan 1 (satu) dari Dewan Pengurus Daerah, 1 (satu) orang dari Dewan Pengurus Cabang dan 1 (satu) orang dari Steering Commite. g. Dewan Pengurus Daerah sebagai penyelenggara dan penanggung jawab pelaksanaan Musyawarah Daerah. h. Musyawarah Daerah dilengkapi beberapa orang Panitia Pengarah dan Panitia Pelaksana yang ditetapkan dan bertanggung jawab kepada Dewan Pengurus Daerah.

9
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

i. Panitia Pengarah karena tugas dan fungsinya untuk merumuskan perlengkapan materi sidang baik sebelum maupun sesudah diadakan Musyawarah Daerah, sehingga berhak memimpin sidang untuk sementara waktu, selama Pimpinan Sidang definitif belum terpilih. j. Musyawarah Daerah hanya dapat dianggap sah bila dihadiri 2/3 utusan Dewan Pengurus Cabang yang ada dan apabila belum memenuhi kuorum maka diberikan waktu 2x30 menit dan bilamana belum juga memenuhi kuorum maka keputusan ditawarkan kepada peserta yang sudah hadir. k. Setelah Laporan Pertanggungjawaban Dewan Pengurus Daerah disampaikan pada Sidang Pleno Musyawarah Daerah, maka kepengurusan Dewan Pengurus Daerah dinyatakan demissioner.

pasal 14 musyawarah daerah luar biasa 1. Status a. Musyawarah Daerah Luar Biasa disingkat MUSDALUB merupakan musyawarah antar anggota sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di tingkat Daerah yang diwakili oleh Dewan Pengurus Cabang. b. Musyawarah Daerah Luar Biasa dapat diadakan penyimpangan dari pasal 13 ayat 1 bagian c di atas apabila kondisi organisasi dalam keadaan Luar Biasa. c. Kekuasaan dan wewenang Musyawarah Daerah Luar Biasa sama dengan kekuasaan dan wewenang Musyawarah Daerah. d. Musyawarah Daerah Luar Biasa hanya diadakan atas permintaan dan persetujuan 2/3 dari jumlah Dewan Pengurus Cabang yang telah ada. e. Musyawarah Daerah Luar Biasa dalam pelaksanaannya sama dengan Musyawarah Daerah. 2. Kekuasaan dan Wewenang a. Menilai dan menetapkan untuk menolak dan atau menerima laporan Pertanggungjawaban Dewan Pengurus Daerah. b. Apabila pertanggungjawaban tersebut pada ayat 2 bagian a tersebut di atas tidak dapat diterima oleh Musyawarah Daerah Luar Biasa tersebut maka Dewan Pengurus Daerah yang bersangkutan dianggap telah gugur atau berakhir. c. Akibat ayat 2 bagian b tersebut maka Musyawarah Daerah Luar Biasa melakukan proses pemilihan dan penetapan Dewan Pengurus Daerah untuk masa bhakti yang baru. d. Menyempurnakan dan menetapkan Anggaran Dasar, dan Anggaran Rumah Tangga, Program Kerja serta kebijaksanaan organisasi lainnya. e. Memilih dan menetapkan Ketua Umum dan kelengkapan kepengurusan Dewan Pengurus Daerah, untuk masa bakti berikutnya. 3. Tata Tertib a. Peserta Musyawarah Daerah Luar Biasa terdiri dari wakil-wakil utusan Dewan Pengurus Daerah dan Dewan Pengurus Cabang yang masing-masing terdaftar sebagai Peserta Penuh, dan anggota sebagai Peserta Peninjau. b. Peserta Penuh memiliki hak suara, yaitu hak memilih, hak dipilih, serta hak bicara. c. Peserta Peninjau hanya memiliki hak bicara dan hak untuk dipilih. d. Dalam pengambilan keputusan, hak suara berlaku masing-masing 1 (satu) suara untuk 1 (satu) utusan Dewan Pengurus Daerah, 1 (satu) suara bagi setiap Dewan Pengurus Cabang yang hadir. e. Peserta lainnya diluar ketentuan Pasal 16 ayat 3a di atas, termasuk dalam status Peserta Peninjau.

10
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

f. Pimpinan Persidangan Musyawarah Daerah Luar Biasa berbentuk Pimpinan Sidang berjumlah 3 (tiga) orang dipilih dari dan oleh peserta penuh, dengan ketentuan 1 (satu) dari Dewan Pengurus Daerah, 1 (satu) orang dari Dewan Pengurus Cabang dan 1 (satu) orang dari Steering Commite. g. Dewan Pengurus Daerah sebagai penyelenggara dan penanggung jawab pelaksanaan Musyawarah Daerah Luar Biasa. h. Musyawarah Daerah Luar Biasa dilengkapi beberapa orang Panitia Pengarah dan Panitia Pelaksana yang ditetapkan dan bertanggung jawab kepada Dewan Pengurus Daerah. i. Panitia Pengarah karena tugas dan fungsinya untuk merumuskan perlengkapan materi sidang baik sebelum maupun sesudah diadakan Musyawarah Daerah, sehingga berhak memimpin sidang untuk sementara waktu, selama Pimpinan Sidang definitif belum terpilih. j. Musyawarah Daerah Luar Biasa hanya dapat dianggap sah bila dihadiri 2/3 utusan Dewan Pengurus Cabang yang ada dan apabila belum memenuhi kuorum maka diberikan waktu 2x30 menit dan bilamana belum juga memenuhi kuorum maka keputusan ditawarkan kepada peserta yang sudah hadir. k. Setelah Laporan Pertanggungjawaban Dewan Pengurus Daerah disampaikan pada Sidang Pleno Musyawarah Daerah, maka kepengurusan Dewan Pengurus Daerah dinyatakan demissioner.

Pasal 15 Rapat Kerja Daerah 1. Status a. Rapat Kerja Daerah merupakan rapat anggota yang diikuti oleh Dewan Pengurus Cabang. b. Rapat Kerja Daerah merupakan pemegang kekuasaan tertinggi organisasi dalam penyusunan program kerja propinsi. c. Rapat Kerja Daerah diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam 2 (dua) tahun. 2. Kekuasaan dan Wewenang a. Mendengarkan laporan dan mengevaluasi hasil pelaksanaan program kerja propinsi yang dilaksanakan Dewan Pengurus Daerah. b. Menyempurnakan dan menetapkan Program Kerja Daerah, serta peraturan dan kebijaksanaan organisasi lainnya. 3. Tata Tertib a. Peserta Rapat Kerja Daerah terdiri dari wakil-wakil utusan Dewan Pengurus Daerah dan Dewan Pengurus Cabang yang masing-masing terdaftar sebagai Peserta Penuh, dan anggota sebagai Peserta Peninjau. b. Peserta Peninjau hanya memiliki hak bicara. c. Dalam pengambilan keputusan, hak suara berlaku masing-masing 1 (satu) suara untuk 1 (satu) utusan Dewan Pengurus Daerah dan 1 (satu) suara bagi setiap DPC yang hadir. d. Peserta lainnya diluar ketentuan Pasal 15 ayat 3a di atas, termasuk dalam status Peserta Peninjau. e. Pimpinan Persidangan Rapat Kerja Daerah dipimpin oleh Ketua Umum dan atau wakilwakil Ketua Umum Dewan Pengurus Daerah setempat yang memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang sama dan seimbang dengan peserta rapat lainnya. f. Dewan Pengurus Daerah sebagai penyelenggara dan penanggung jawab pelaksanaan Rapat Kerja Daerah. g. Rapat Kerja Daerah hanya dapat dianggap sah bila dihadiri oleh 2/3 utusan Dewan Pengurus Cabang yang ada dan apabila belum memenuhi kuorum maka diberikan waktu 2x30 menit dan bilamana belum juga memenuhi kuorum maka keputusan ditawarkan kepada peserta yang sudah hadir.

11
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

Pasal 16 Musyawarah Cabang 1. Status a. Musyawarah Cabang disingkat MUSCAB merupakan musyawarah antar anggota sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di tingkat Cabang. b. Musyawarah Cabang merupakan pemegang kekuasaan tertinggi organisasi di tingkat Cabang. c. Musyawarah Cabang diadakan sekali dalam 3 (tiga) tahun; d. Musyawarah Cabang dapat diadakan penyimpangan dari Pasal 16 ayat 1 bagian c di atas bila dalam keadaan luar biasa dengan melaksanakan Musyawarah Cabang Luar Biasa. e. Musyawarah Cabang hanya dapat diadakan atas persetujuan 2/3 dari jumlah anggota yang hadir. f. Musyawarah Cabang Luar Biasa dalam pelaksanaannya sama dengan Muscab. 2. Kekuasaan dan Wewenang a. Menilai dan menetapkan untuk menolak dan atau menerima Laporan Pertanggungajawaban Dewan Pengurus Cabang. b. Menyempurnakan dan menetapkan Program Kerja serta kebijakan organisasi lainnya di tingkat Kabupaten/Kota yang bersangkutan. c. Memilih dan menetapkan Ketua Umum dan kelengkapan kepengurusan DPC. 3. Tata Tertib a. Peserta Musyawarah Cabang terdiri dari anggota yang masing-masing terdaftar dan sudah memiliki Kartu Tanda Anggota PAKLINA yang masih berlaku sebagai Peserta Penuh. b. Peserta Penuh memiliki hak suara, yaitu hak dipilih dan hak memilih serta hak bicara. c. Peserta Peninjau hanya memiliki hak bicara dan hak dipilih. d. Dalam pengambilan keputusan, hak suara berlaku masing-masing 1 (satu) suara untuk anggota yang hadir. e. Peserta lainnya diluar ketentuan pasal 16 ayat 3a diatas, termasuk dalam status Peserta Peninjau. f. Pimpinan Persidangan Musyawarah Cabang berbentuk Pimpinan Sidang berjumlah 3 (tiga) orang yang dipilih dari anggota yang hadir. g. Dewan Pengurus Cabang sebagai penyelenggara dan penanggung jawab pelaksanaan Musyawarah Cabang. h. Panitia Pengarah karena tugas dan fungsinya untuk merumuskan perlengkapan materi sidang, baik sebelum maupun sesudah diadakan Musyawarah Cabang, sehingga berhak memimpin sidang untuk sementara waktu, selama Pimpinan Sidang definitif belum terpilih. i. Musyawarah Cabang hanya dapat dianggap sah bila dihadiri 2/3 Dewan Pengurus Cabang yang ada; dan apabila belum memenuhi kuorum maka diberikan waktu 2x30 menit dan bilamana belum juga memenuhi kuorum maka keputusan ditawarkan kepada peserta yang sudah hadir. j. Setelah Laporan Pertanggungjawaban Dewan Pengurus Cabang disampaikan pada Sidang Pleno Musyawarah Cabang, maka kepengurusan DPC dinyatakan demisioner.

Pasal 17 Musyawarah Cabang Luar Biasa 1. Status a. Musyawarah Cabang Luar Biasa disingkat MUSCABLUB merupakan musyawarah antar anggota sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di tingkat Kabupaten/Kota yang diwakili oleh Anggota.

12
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

b. Musyawarah Cabang Luar Biasa merupakan pemegang kekuasaan tertinggi organisasi di tingkat Kabupaten/Kota. c. Musyawarah Cabang Luar Biasa dapat diadakan penyimpangan dari pasal 16 ayat 1 bagian c di atas bila dalam keadaan luar biasa dengan melaksanakan Musyawarah Cabang Luar Biasa dan. d. Musyawarah Cabang Luar Biasa hanya dapat diadakan atas permintaan dan persetujuan 2/3 dari jumlah anggota di Kabupaten/Kota yang bersangkutan. e. Musyawarah Cabang Luar Biasa dalam pelaksanaannya sama dengan Musyawarah Cabang. 2. Kekuasaan dan Wewenang a. Menilai dan menetapkan untuk menolak atau menerima Laporan Pertanggungjawaban Dewan Pengurus Cabang. b. Apabila pertanggungjawaban tersebut seperti pada ayat 2 bagian a tersebut di atas tidak dapat diterima oleh Musyawarah Cabang Luar Biasa tersebut maka Dewan Pengurus Cabang yang bersangkutan dianggap telah gugur atau berakhir. c. Akibat ayat 2 bagian b tersebut maka Musyawarah Cabang Luar Biasa melakukan proses pemilihan dan penetapan Dewan Pengurus Cabang untuk masa bhakti yang baru. d. Menyempurnakan dan menetapkan Program Kerja serta peraturan dan kebijakan organisasi lainnya di tingkat Kabupaten/Kota yang bersangkutan; e. Memilih dan menetapkan Ketua Umum dan kelengkapan kepengurusan Dewan Pengurus Cabang, untuk masa bakti berikutnya. 3. Tata Tertib a. Peserta Musyawarah Cabang Luar Biasa terdiri dari anggota yang masing-masing terdaftar dan sudah memiliki Kartu Tanda Anggota PAKLINA yang masih berlaku sebagai Peserta Penuh. b. Peserta Penuh memiliki hak suara yaitu dipilih dan hak memilih serta hak bicara. c. Peserta Peninjau hanya memiliki hak bicara dan hak dipilih. d. Dalam pengambilan keputusan, hak suara berlaku masing-masing 1 (satu) suara untuk anggota yang hadir. e. Peserta lain diluar ketentuan Pasal 17 ayat 3a, dikategoriakan sebagai Peserta Peninjau. f. Pimpinan Persidangan Musyawarah Cabang Luar Biasa berbentuk Pimpinan Sidang berjumlah 3 (tiga) orang yang dipilih dari anggota yang hadir. g. Dewan Pengurus Cabang sebagai penyelenggara dan penanggung jawab pelaksanaan Musyawarah Cabang Luar Biasa. h. Panitia Pengarah karena tugas dan fungsinya untuk merumuskan perlengkapan materi sidang baik sebelum maupun sesudah diadakan Musyawarah Cabang Luar Biasa, sehingga berhak memimpin sidang untuk sementara waktu, selama pimpinan sidang definitif belum terpilih. i. Musyawarah Cabang Luar Biasa hanya dianggap sah bila dihadiri 2/3 dari jumlah anggota yang terdaftar di Dewan Pengurus Cabang yang bersangkutan dan apabila belum memenuhi kuorum maka diberikan waktu 2x30 menit dan bilamana belum juga memenuhi kuorum maka keputusan ditawarkan kepada peserta yang sudah hadir. j. Setelah Laporan Pertanggungjawaban Dewan Pengurus Cabang disampaikan pada Sidang Pleno Musyawarah Cabang Luar Biasa, maka Kepengurusan Dewan Pengurus Cabang dinyatakan demissioner. Pasal 18 Rapat Kerja Cabang 1. Status a. Rapat Kerja Cabang merupakan rapat antar anggota PAKLINA.

13
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

b. Rapat Kerja Cabang merupakan pemegang kekuasaan tertinggi organisasi dalam penyusunan pogram kerja Kabupaten/Kota. c. Rapat Kerja Cabang diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam 2 (dua) tahun. 2. Kekuasaan dan Wewenang a. Mendengarkan laporan dan mengevaluasi hasil pelaksanaan program kerja Kabupaten/Kota yang dilaksanakan Dewan Pengurus Cabang. b. Menyempurnakan dan menetapkan Program Kerja Kabupaten/Kota, serta peraturan dan kebijaksanaan organisasi lainnya. 3. Tata Tertib a. Peserta Rapat Kerja Cabang terdiri dari Pengurus dan anggota Dewan Pengurus Cabang yang masing-masing terdaftar sebagai Peserta Penuh, dan Dewan Pengurus Daerah sebagai Peserta Peninjau. b. Peserta Peninjau hanya memiliki hak bicara. c. Dalam pengambilan keputusan, hak suar berlaku masing-masing 1 (satu) hak suar untuk 1 (satu) orang peserta. d. Peserta lainnya diluar ketentuan Pasal 18 ayat 3a di atas, termasuk dalam status Peserta Peninjau. e. Pimpinan Persidangan Rapat Kerja Cabang berbentik Pimpinan Sidang berjumlah 3 (tiga) orang yang dipilih dari dan oleh peserta penuh dengan ketentuan 1 (satu) orang dari Dewan Pengurus Cabang dan 2 (dua) orang dari peserta penuh, dan memiliki hak dan kewajiban yang sama dan seimbang. f. Dewan Pengurus Cabang sebagai penyelenggara dan penanggung jawab. g. Rapat Kerja Cabang hanya dapat dianggap sah bila dihadiri oleh 2/3 dari jumlah anggota yang terdaftar di Dewan Pengurus Cabang yang bersangkutan dan apabila belum memenuhi kuorum maka diberikan waktu 2x30 menit dan bilamana belum juga memenuhi kuorum maka keputusan ditawarkan kepada peserta yang sudah hadir.

Pasal 19 Rapat Pimpinan Cabang 1. Status a. Rapat Pimpinan Cabang merupakan rapat pimpinan Dewan Pengurus Cabang. b. Rapat Pimpinan Cabang merupakan pemegang kekuasaan tertinggi organisasi dalam penetapan kebijaksanaan organisasi dalam ruang lingkup Kabupaten/Kota. c. Rapat Pimpinan Cabang diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam 1 (satu) tahun. 2. Kekuasaan dan Wewenang a. Mendengarkan laporan dan mengevaluasi hasil pelaksanaan kebijaksanaan yang dilaksanakan Dewan Dewan Pengurus Cabang. b. Menginventarisasi permasalahan oranisasi dalam ruang lingkup Kabupaten/Kota dan menetapkan kebijaksanaan dalam penanggulangan dan penyelesaiannya. 3. Tata Tertib a. Peserta Rapat Pimpinan Cabang terdiri dari Pengurus Dewan Pengurus Cabang sebagai Peserta Penuh dan utusan Dewan Pengurus Daerah sebagai Peserta Peninjau. b. Peserta Peninjau hanya memiliki hak bicara. c. Dalam pengambilan keputusan, hak suara berlaku masing-masing 1 (satu) suara untuk 1 (satu) orang peserta penuh. d. DPCabang sebagai penyelenggara dan penanggung jawab pelaksanaan Rapimpcab. e. Rapat Pimpinan Cabang hanya dapat dianggap sah bila dihadiri oleh 2/3 dari jumlah anggota yang terdaftar di Dewan Pengurus Cabang yang bersangkutan. dan apabila belum memenuhi kuorum maka diberikan waktu 2x30 menit dan bilamana belum juga memenuhi kuorum maka keputusan ditawarkan kepada peserta yang sudah hadir.

14
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

BAB III STRUKTUR PIMPINAN PAKLINA Pasal 20 Dewan Pengurus Pusat 1. Dewan Pengurus Pusat disusun oleh Dewan Formatur dalam MUNAS. 2. Yang dapat menjadi Anggota Dewan Pengurus Pusat ialah Pimpinan Badan Usaha dari anggota biasa dengan syarat menyatakan kesediaannya untuk duduk sebagai anggota Dewan Pengurus Pusat. 3. Dewan Pengurus Pusat sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua Umum, Sekretaris Jenderal, Bendahara dan 2 (dua) orang atau lebih Pengurus lainnya, yang jabatan dan tugasnya ditentukan oleh Formatur. Unsur Dewan Pengurus Pusat adalah terdiri dari Ketua Umum dibantu Wakil-wakil Ketua Umum yang sebanyak-banyaknya 6 (enam) orang, Sekretaris Jenderal dibantu Wakil-wakil Sekretaris Jenderal yang sebanyak-banyaknya 6 (enam) orang, Bendahara dibantu Wakilwakil Bendahara yang sebanyak-banyaknya 3 (tiga) orang, dan beberapa Departemen yang minimal terdiri dari : - Departemen Organisasi dan Pembinaan Daerah - Departemen Sertifikasi dan Pelatihan - Departemen Teknologi Konstruksi - Departemen Hukum dan Hubungan Masyarakat 4. Masing-masing Departemen terdiri 1 (satu) orang Ketua dan beberapa Anggota. 5. Anggota Dewan Pengurus Pusat dipilih dan ditetapkan masing-masing seorang dari satu perusahaan Anggota Biasa. 6. Anggota Dewan Pengurus Pusat berhenti menjadi Pengurus apabila: a. Mengundurkan diri dan diputuskan melalui Rapat Pleno. b. Perusahaannya berhenti dan menjadi Anggota Biasa. d. Masa jabatan telah berakhir dan yang bersangkutan tidak terpilih kembali. e. Diberhentikan melalui Rapat Pleno dan disahkan pada RAKERNAS, kecuali Ketua Umum yang hanya dapat diberhentikan oleh MUNAS Luar Biasa. f. Berhalangan tetap. g. Terlibat dalam Tindak Pidana dengan Keputusan Pengadilan Negeri. 6. Anggota Dewan Pengurus Pusat yang lama dapat dipilih kembali untuk masa kepengurusan berikutnya. 7. Ketua Umum hanya dapat dipilih untuk 2 (dua) kali masa jabatan berturut-turut dalam jabatan yang sama. 8. Ketua Umum, Sekretaris Jenderal, Bendahara tidak boleh merangkap anggota pengurus di DPD maupun DPC. 9. Penggantian Ketua Umum yang berhenti, dilaksanakan dalam MUNAS Luar Biasa. 10. Penggantian anggota Dewan Pengurus Pusat yang berhenti, ditetapkan oleh sisa pengurus lainnya dalam Rapat Pleno dan dilaporkan dalam RAKERNAS berikutnya serta kesemuanya bertugas sampai dengan MUNAS berikutnya. 11. Dewan Pengurus Pusat dilengkapi Dewan Pembina Tingkat Nasional yang terdiri dari tokohtokoh tingkat Nasional yang memiliki keterkaitan dan perhatian di bidang usaha jasa konstruksi serta kemajuan organisasi. 12. Dewan Pembina Tingkat Nasional tugasnya melakukan pembinaan secara melekat kepada Dewan Pengurus di semua tingkatan.

15
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

Pasal 21 Dewan Pengurus Daerah 1. Status a. Dewan Pengurus Daerah adalah struktur kepemimpinan tertinggi di dalam ruang lingkup provinsi sebagai penyelenggara roda kehidupan organisasi di tingkat Provinsi. b. Masa jabatan Dewan Pengurus Daerah adalah 3 (tiga) tahun. c. Dewan Pengurus Daerah sebagai penyelenggara dan penanggung jawab pelaksanaan Musyawarah Daerah, Musyawarah daerah Luar Biasa, Rapat Kerja Daerah, Rapat Pimpinan Daerah. 2. Struktur dan Komposisi Personalia Dewan Pengurus Daerah a. Dewan Pengurus Daerah sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua, sekretaris Bendahara. Unsur Dewan Pengurus Daerah adalah terdiri dari Ketua dibantu Wakil-wakil Ketua sebanyak-banyaknya 6 (enam) orang, Sekretaris dibantu Wakil-wakil Sekretaris sebanyak-banyaknya 6 (enam) orang, Bendahara dibantu Wakil-wakil Bendahara sebanyak-banyaknya 3 (tiga) orang, dan beberapa Biro yang minimal terdiri dari : - Biro Organisasi dan Pembinaan Daerah. - Biro Sertifikasi dan Pelatihan. - Biro Teknologi Konstruksi. - Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat. b. Masing-masing Biro terdiri 1 (satu) orang Ketua dan beberapa Anggota. dan yang yang yang

Pasal 22 Dewan Pimpinan Cabang 1. Status a. Dewan Pengurus Cabang adalah struktur kepemimpinan tertinggi di dalam ruang lingkup Kabupaten/Kota sebagai penyelenggara roda kehidupan organisasi di tingkat Kabupaten/Kota. b. Masa jabatan Dewan Pengurus Cabang adalah 3 (tiga) tahun. c. Dewan Pengurus Cabang sebagai penyelenggara dan penanggung jawab pelaksanaan Musyawarah Cabang, Musyawarah Cabang Luar Biasa, Rapat Kerja Cabang, Rapat Pimpinan Cabang. 2. Struktur dan Komposisi Personalia Dewan Pengurus Cabang a. Dewan Pengurus Cabang sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua, Sekretaris dan Bendahara. Unsur Dewan Pengurus Cabang adalah terdiri dari Ketua dibantu Wakil-wakil Umum yang sebanyak-banyaknya 6 (enam) orang, Sekretaris dibantu Wakil-wakil Sekretaris yang sebanyak-banyaknya 6 (enam) orang, Bendahara dibantu Wakil-wakil Bendahara yang sebanyak-banyaknya 3 (tiga) orang dan beberapa Biro yang minimal terdiri dari : - Biro Organisasi dan Pembinaan Anggota. - Biro Sertifikasi dan Pelatihan. - Biro Teknologi Konstruksi. - Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat. b. Masing-masing Biro terdiri dari 1 (satu) orang Ketua dan beberapa Anggota.

16
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

Pasal 23 Ketua Umum 1. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat adalah penanggung jawab tertinggi dan pelaksana tertinggi pengendalian kehidupan organisasi secara nasional serta bertanggung jawab kepada Musyawarah Nasional atau Musyawarah Nasional Luar Biasa. 2. Ketua Dewan Pengurus Daerah adalah penanggung jawab tertinggi dan pelaksana tertinggi pengendalian kehidupan organisasi ditingkat Provinsi serta bertanggung jawab kepada Musyawarah Daerah atau Musyawarah Daerah Luar Biasa. 3. Ketua Dewan Pengurus Cabang adalah penanggung jawab tertinggi dan pelaksana tertinggi pengendalian kehidupan organisasi ditingkat Kabupaten/Kota serta bertanggung jawab kepada Musyawarah Cabang atau Musyawarah Cabang Luar Biasa.

Pasal 24 Dewan Pembina 1. Dewan Pembina hanya ada pada tingkat Dewan Pengurus Pusat. 2. Dewan Pembina terdiri atas seorang ketua dan beberapa anggota sebanyak-banyaknya 8 (delapan) orang anggota. 3. Dewan Pembina mempunyai kewenangan untuk membina seluruh jajaran kepengurusan mulai dari pusat sampai ke cabang serta melindungi anggota dari tindakan kesewenangwenangan dari pengurus. Anggota Dewan Pembina berasal dari orang perorang yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap PAKLINA serta tidak mempunyai konflik kepentingan dengan seluruh jajaran kepengurusan mulai dari pusat sampai ke cabang.

4.

BAB IV PROSES PEMILIHAN DEWAN PENGURUS Pasal 25 Persyaratan Menjadi Dewan Pengurus Persyaratan untuk dapat duduk dalam Unsur Dewan Pengurus adalah : 1. Pimpinan perusahaan yang namanya tercantum dalam Kartu Tanda Anggota (KTA) PAKLINA dan mempunyai SBU. 2. Tidak sedang dalam rangkap jabatan di organisasi sejenis di semua unsur yang memiliki persamaan bidang dan sub bidang pekerjaan konstruksi. 3. Khusus untuk Ketua Umum harus : a. Mempunyai kredibilitas, loyalitas dan dedikasi terhadap organisasi. b. Tidak pernah cacat moral, cacat hukum dan cacat konstitusi. c. Untuk jabatan Ketua Umum / Ketua adalah pimpinan perusahaan yang mempunyai KTA dan SBU. Atau personil yang telah dinyatakan menjadi anggota kehormatan yang mendapat dukungan dari anggota serta mempunyai persyaratan sebagaimana disebutkan pada ayat 3 point a dan b pasal ini kecuali Ketua DPC.

17
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

Pasal 26 Tata Cara Pemilihan Formatur / Anggota Formatur Tata cara pemilihan Formatur dan Anggota Formatur dalam semua tingkatan organisasi PAKLINA diatur sebagai berikut : 1. Pemilihan Ketua Formatur yang secara otomatis menjadi Ketua Umum/Ketua dilakukan dengan cara aklamasi atau musyawarah untuk mufakat, dan bila tidak tercapai dilakukan dengan cara voting tertutup. 2. Pemilihan Anggota Formatur dilakukan dengan cara aklamasi atau musyawarah untuk mufakat dan bila tidak tercapai, dilakukan dengan cara voting tertutup untuk memilih 7 (tujuh) orang Anggota Formatur.

Pasal 27 Teknis Proses Pemilihan Dewan Pengurus 1. Proses pemilihan Dewan Pengurus lebih lanjut diatur dalam Tata Tertib Musyawarah Tingkat Organisasi yang bersangkutan. 2. Proses pemilihan Formatur lebih lanjut diatur dalam Tata Tertib Musyawarah Tingkat Organisasi yang bersangkutan. 3. Proses pemilihan dimaksud pada butir 1 dan 2 tersebut tidak bertentangan dengan AD-ART.

BAB V KODE ETIK DEWAN PENGURUS PAKLINA Pasal 28 Kode Etik Kode Etik Dewan Pengurus PAKLINA dengan Panca Etika PAKLINA, merupakan pedoman perilaku bagi Pimpinan dan Anggota Dewan Pengurus PAKLINA, tercantum pada lampiran I Anggaran Rumah Tangga ini.

BAB VI LAMBANG PAKLINA Pasal 29 Lambang PAKLINA Lambang PAKLINA bentuk, arti dan maknaya tercantum pada lampiran II Anggaran Rumah Tangga ini

BAB VII KEUANGAN DAN HARTA BENDA Pasal 30 Keuangan

18
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

1. Sumber-sumber keuangan organisasi, berupa uang pangkal, uang iuran dan uang administrasi keanggotaan, ditetapkan melalui Rapat Pimpinan Nasional dengan mempertimbangkan keadaan daerah-daerah kepengurusan. 2. Tata cara pembayaran, jumlah dan pengelolaan keuangan organisasi ditetapkan melalui Rapat Pimpinan Nasional yang selanjutnya ditetapkan dalam bentuk Pedoman Kebendaharaan. 3. Keuangan organisasi dan sumber-sumber keuangan lainnya, dimanfaatkan semata-mata untuk urusan organisasi dan dapat dipertanggungjawabkan. 4. Sistem Administrasi Keuangan Dewan Pengurus dengan Badan atau Lembaga yang ada pada tingkat Organisasi yang bersangkutan adalah terpisah. 5. Penandatanganan surat-surat berharga pada Dewan Pengurus terkait dengan keuangan harus ditandatangani oleh Ketua Umum bersama Bendahara Umum dan atau bersama Sekretaris Jenderal/ Sekretaris Umum. 6. Penandatanganan surat-surat berharga pada Badan atau Lembaga terkait dengan keuangan harus ditandatangani oleh Ketua Umum Dewan Pengurus dan Ketua Badan dan atau Lembaga.

Pasal 31 Pertanggungjawaban Dan Laporan Keuangan Pertanggungjawaban keuangan di setiap tingkatan organisasi diatur sebagai berikut : 1. Pada tingkatan Dewan Pengurus Pusat, pertanggungjawaban dan laporan keuangan setiap 3 (tiga) bulan setelah akhir tahun dan diaudit oleh akuntan publik dan disampaikan kepada Dewan Pengurus Daerah. 2. Pada tingkatan Dewan Pengurus Daerah, pertanggungjawaban dan laporan keuangan setiap 3 (tiga) bulan setelah akhir tahun dan diaudit oleh akuntan publik dan disampaikan kepada Dewan Pengurus Cabang. 3. Pada tingkatan Dewan Pengurus Cabang, pertanggungjawaban dan laporan keuangan setiap 3 (tiga) bulan setelah akhir tahun dan disampaikan kepada anggota PAKLINA. 4. Apabila Dewan Pengurus Pusat tidak melakukan kewajibannya tentang pertanggungjawaban dan laporan keuangan seperti diatur dalam ayat (1) pasal ini maka Dewan Pengurus Daerah berhak menuntut DPP untuk melaksanakan Rapat. 5. Apabila Dewan Pengurus Daerah tidak melakukan kewajibannya tentang pertanggungjawaban dan laporan keuangan seperti diatur dalam ayat (2) pasal ini maka Dewan Pengurus Cabang berhak menuntut Dewan Pengurus Daerah untuk melaksanakan Rapat Pleno. 6. Apabila Dewan Pengurus Cabang tidak melakukan kewajibannya tentang pertanggungjawaban dan laporan keuangan seperti diatur dalam ayat (3) pasal ini maka Anggota berhak menuntut Dewan Pengurus Cabang untuk melaksanakan Rapat.

Pasal 32 Harta Benda 1. Mekanisme sumber pendapatan, pemanfaatan dan pertanggungjawabannya ditetapkan melalui Rapimpnas dengan mempertimbangkan keadaan daerah kepengurusan. 2. Tata cara pendapatan, pemanfaatan dan pertanggungjawabnnya ditetapkan melalui Rapat Pimpinan Nasional yang selanjutnya ditetapkan dalam bentuk Pedoman Kebendaharaan. 3. Harta benda organisasi dan sumber-sumber keuangan lainnya, dimanfaatkan semata-mata untuk urusan organisasi dan dapat dipertanggungjawabkan.

19
Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A Semarang, 29 April 2009

ANGGARAN RUMAH TANGGA PAKLINA

BAB VIII PERUBAHAN ANGGARAN RUMAH TANGGA Pasal 33 Perubahan Anggaran Rumah Tangga Anggaran Rumah Tangga ini hanya dapat dilakukan perubahannya melalui keputusan Musyawarah Nasional dan atau Musyawarah Nasional Luar Biasa dan atau Musyawarah Nasional Khusus yang disepakati oleh 2/3 dari jumlah Dewan Pengurus Daerah yang telah ada, dan disetujui oleh 2/3 dari jumlah peserta penuh musyawarah.

BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 34 Aturan Peralihan Hal-hal yang belum cukup diatur dan atau belum diatur dalam Anggaran Rumah Tangga ini, akan diatur dalam bentuk pedoman-pedoman organisasi, dan atau kebijakan organisasi lainnya yang tidak bertentangan dengan Anggaran Rumah Tangga ini.

Pasal 35 Berlakunya Anggaran Rumah Tangga 1. Anggaran Rumah Tangga ini pertama kali disahkan melalui Rapat Pendirian PAKLINA di Kota Semarang pada tanggal 26 Desember 2006, dan selanjutnya dilakukan penyempurnaan dan ditetapkan sebagaimana mestinya dalam Musyawarah Nasional I DPP PAKLINA di Kota Semarang pada tanggal 7 September 2007 dan telah dilakukan penyempurnaan pada MUNASUS PAKLINA di Semarang Tanggal 29 April 2009. 2. Anggaran Rumah Tangga ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. 3. Anggaran Rumah Tangga yang baru ini tidak berlaku surut.

Ditetapkan di : Semarang Pada tanggal : 29 April 2009

PIMPINAN SIDANG MUSYAWARAH NASIONAL KHUSUS TAHUN 2009 ANGGOTA PERSATUAN KONTRAKTOR LISTRIK NASIONAL

1. 2. 3.

KETUA SEKRETARIS ANGGOTA

: : :

FX. Mulyatno, SH. Ir. Achmad Supriyadi H. Hadis Sudarman, ST.

.... .. 20
Semarang, 29 April 2009

Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A

LAMPIRAN I

ANGGARAN RUMAH TANGGA

KODE ETIK
PANCA ETIKA PAKLINA
1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berjiwa Pancasila, memiliki semangat Nasionalisme dan Patriotisme serta memiliki rasa kepedulian sosial yang tinggi. Senantiasa menghormati, mentaati dan mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta selalu berupaya untuk menghindarkan diri dari perbuatan tercela dan tindakan melawan hukum. Menjunjung tinggi nilai etika organisasi, bersikap santun dalam mengembangkan profesi serta bersikap jujur, adil dan bijaksana. Berpikiran maju dalam meningkatkan kemampuan serta bersikap profesional untuk meraih predikat sebagai pengusaha yang tangguh dan mandiri. Selalu menjaga dan meningkatkan rasa solidaritas antar sesama anggota dan kesetiakawanan rekan seprofesi.

2.

3. 4.

5.

Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A

Semarang,

29 April 2009

LAMPIRAN II

ANGGARAN RUMAH TANGGA

LAMBANG PAKLINA

Bingkai segi tiga sama sisi dengan warna biru langit, di tengah melingkar warna kuning demgan simbol petir warna merah dan tepat digaris tengah lingkaran terdapat tulisan PAKLINA melintang dengan dasar warna putih.

ARTI MAKNA LAMBANG


1. 2. 3.
Segitiga sama sisi sepenanggungan. adala lambang persamaan hak / kewajiban senasib

Warna biru langit, adalah sibol kesejukan. Lingkaran warna kuning bermakna : Simbol kebulatan tekat yang pantang menyerah dengan ikatan persatuan dan kesatuan yang kokoh serta semangat kehati-hatian. Ganbar petir warna merah merupakan simbol sumber energi listrik. Tulisan PAKLINA melintang dengan dasar warna putih bermakna : PAKLINA lahir dengan dasar ketulusan dan kebutuhan hak dasar untuk hidup. Atribut-atribut PAKLINA lainnya yaitu tentang Bendera organisasi, papan nama organisasi dan lagu hymne serta mars PAKLINA akan ditetapkan oleh Pengurus Pusat PAKLINA pada Peraturan Organisasi.

4. 5. 6.

Musyawarah Nasional Khusus P A K L I N A

Semarang,

29 April 2009