You are on page 1of 10

Polda Bali Bekuk Enam Pemakai Narkoba

DENPASAR - Polda Bali kembali menangkap enam pemakai narkoba di sejumlah lokasi berbeda di Denpasar dan Badung. Dari penangkapan itu polisi berhasil mengamankan barang bukti sabu dan hasis seberat 12,64 gram. Keenam pemakai barang haram itu masing-masing ZA (28), BMT (25), S A (32), N S (54), M A H (27) dan HS (27). "Enam pelaku sejauh ini dalam penyelidikan dan diketahui sebagai pemakai narkoba. Kami masih kembangkan kasusnya," ujar Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol I Gde Sugianyar Dwi Putra, Kamis (16/12/2010). Para pemakai narkoba ditangkap di enam lokasi berbeda dalam waktu hampir bersamaan dalam waktu dua hari. Berdasarkan keterangan polisi pertama kali menciduk A H yang tinggal di Jalan Gunung Agung VI nomor 10, Denpasar, saat berada di di Jalan Cokroaminoto Gang Melur No 8, Denpasar. Dari penyergapan itu, polisi mendapati narkoba jenis sabu seberat 0.3 gram yang disimpan dalam plastik klip yang disimpan di sakunya. "Kami amankan satu paket sabu seberat 0,1 gram yang disimpan di saku belakang celana pendek yang digunakan tersangka,"ujarnya. Berbekal keterangan kedua tersangka, polisi terus bergerak dan membekuk S A yang ditangkap di Jalan Mahendradata No 73, Denpasar. Polisi berhasil mendapatkan satu buah kertas dibungkus plastik warna merah, berisikan tiga plastik klip isi sabu-sabu seberat 5,8 gram. Dari tangannya, didapati satu buah kertas dibalut isolasi berisi satu paket hasis seberat 1,5 gram. Semua barang haram itu, disembunyikan tersangka dari saku celana dan pintu toilet. Polisi tidak puas berhenti disitu dan kembali mengejar pemakai lainnya, N S. Dirinya ditangkap polisi di Jalan Mahendradata, Denpasar dengan barang bukti satu plastik klip yang dilinting berisi 4,2 gram. Polisi menemukan barang haram itu di jok depan mobil tersangka. Sedangkan, MAZ ditangkap saat berada di Jalan Taman Pancing Gelogor Carik, Denpasar. Barang bukti diamankan seberat 0,1 gram, terbungkus plastik yang berada di gengaman tangan kanan Arif. Penangkapan terakhir dilakukan terhadap HS, di Jalan Pura Demak, Denpasar, dengan barang bukti satu paket sabu seberat 0,64 gram. Barang bukti sabu itu didapat polisi dari tiang beton dipinggir jalan. "Kami masih periksa intensif ke enam narkoba, soal darimana narkoba didapat para tersangka masih dalam pengembangan," ucapnya.

Kehidupan Selebriti Rawan Narkoba

Jakarta, Bahana Kehidupan selebritis ditengarai Ketua Umum Gerakan Mencegah Daripada Mengobati (GMDM), Jeffry Tambayong sebagai sebab terjerumusnya vokalis Kerispatih, Sammy. Ketahanan fisik yang semu dan konsentrasi sesaat yang ditawarkan Narkoba menjadi daya pikat. Memang mengonsumsi barang haram ini pengguna bisa menghayati dengan prima peran yang dilakoni. Pengguna akan on dalam aksi yang diharuskan. Menggiurkan untuk digunakan. Tetapi di pihak lain menghancurleburkan fisik si pengguna. Karena akibat Narkoba, jantung, paru-paru, hati dan semua syaraf pengguna rusak, tambahnya. Persaingan public figure memang seperti mendesak para selebritis untuk memakai Narkoba. Sasaran yang paling mudah adalah para penyanyi, terutama anak band yang hidupnya dikesankan berbeda dari orang kebanyakan. Dengan gaya yang urakan, yang memang gaya hidupnya demikian, menjadikan mereka sasaran utama untuk menggunakan Narkoba. Jeffry melanjutkan, menurut survey alasan gaya hidup ini menempati peringkat teratas. Disusul karena keinginan untuk mencoba dan ketiga karena terlilit masalah. Gaya hidup urban begitu dekat dengan godaan. Godaan itu senantiasa mengelilingi mereka. Tidak terkecuali Sammy Kerispatih. Entah dia berada pada taraf pemula atau pecandu. Kalau pecandu bisa dipastikan dalam setiap tubuhnya bergerak sel-sel Narkoba. Tidak mudah untuk dipulihkan. Tapi bila pada taraf pemula, kemungkinan untuk pulih sangat besar. Hal ini diakui Tambayong. Karena itu mereka harus dicabut dari lingkungannya untuk sementara waktu. Mereka harus hidup baru di suatu tempat, katanya. Tempat tersebut lanjut Jeffry terletak jauh dari lingkungan yang akan menjerumuskan dia kembali, atau panti rehabilitasi. Mereka diberikan kesibukan untuk mengalihkan ingatan masa lalunya bersama Narkoba. GMDM sendiri memberikan fasilitas untuk memulihkan pengguna Narkoba dengan nuansa rohani Kristen. Pengguna didorong mengalami perjumpaan dengan Kristus. Inilah yang bisa memulihkan. Karena bagi Kristus tidak ada yang mustahil. Semerah apapun, bisa menjadi putih seperti salju. Seberat apapun Sammy Kerispatih mengkonsumsi Narkoba, asal berjumpa Kristus akan dipulihkan, jelasnya. Pengguna juga didorong untuk berkomunitas di lingkungan yang menggunakan kasih Kristus dalam pergaulannya. Tidak cukup hanya untuk mereka diberikan mentoring. Mentoring inilah yang mengarahkan mereka untuk bagaimana selanjutnya, jelas Tambayong. Pengguna Narkoba bukan hanya selebritis. Mereka hanyalah salah satu sasaran. Masih banyak sasaran lain yang tengah dilirik Narkoba. Termasuk hamba Tuhan, dalam hal ini pendeta. Karena efek on dalam Narkoba begitu menggiurkan untuk dicoba.

Selebriti Pengguna Narkoba Cari Kenikmatan Sesaat

Pangkalpinang (ANTARA News) - Kecenderungan penggunaan narkoba di kalangan selebriti Indonesia lebih pada keinginan mencari kenikmatan sesaat atau sekedar coba-coba, yang akhirnya berakibat fatal. Pengacara kondang yang juga suami artis Nia Daniati, Farhat Abbas SH, di Pangkalpinang, Rabu, mengatakan, penggunaan narkoba di kalangan selebritis cukup membuat miris, namun jeruji besi dan kehilangan karir belum serta merta membuat mereka jadi jera. "Lihatlah seperti Roy Marten dan Polo mereka sampai terjerumus dua kali. Itu menandakan jerat narkoba sulit dilepaskan," ujar Farhat yang hadir pada kegiatan pelatihan anti narkoba yang digelar Polda Babel itu. Farhat mengemukakan hal itu ketika dimintai tanggapannya atas tertangkapnya artis Sheila Marcia ketika mengkonsumsi narkoba. Beberapa selebritis lain seperti Ibra Azhari, Fariz RM, Ahmad Albar dan lain yang pernah berurusan dengan berwajib akibat narkoba harusnya bisa cepat menyadari pentingnya menjauhkan diri dari jerat narkoba. Hukuman berat bagi selebritis pengguna narkoba, menurut Farhat, tidak akan serta merta menjauhkan mereka dari praktek-praktek madat tersebut. "Dari zaman nabi dulu madat dan barang haram itu sudah ada. Ke depan akan terus ada dan persoalannya adalah memunculkan kesadaran bagi selebritis untuk berani berkata tidak pada Narkoba," ujarnya. Narkoba sendiri sudah menjadi gerakan nasional dan internasional. Perang melawan narkoba sudah dicanangkan dan bahkan hukuman mati sudah diberlakukan namun kecenderungan penggunaannya tetap tinggi. Farhat juga menyoroti kewenangan penyidik dan hak tersangka selebritis yang terkait kasus narkoba dalam mendapatkan penangguhan penahanan. "Faktanya dalam UU tersangka haram mendapatkan penangguhan penahanan tapi di pengadilan masih ada ruang untuk itu," ujarnya. Kasus selebritis yang menggunakan narkoba, menurut Farhat, bisa saja ibarat gunung es dan hanya sebagian kecil saja yang terungkap. Untuk itu ia mewanti-wanti agar selebritis yang menggunakan narkoba untuk segera bertobat dan lainnya jangan sampai terjerumus dan tergoda untuk sekedar mencoba-coba.(*)

Sidang Kasus Narkoba Yoyo Padi Siap Digelar

Drummer grup band Padi, Surendro Prasetyo alias Yoyo telah tiba di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Rencananya, mantan suami penyanyi Rossa itu akan menjalani sidang perdana terkait kasus narkoba yang menjeratnya. Mengenakan baju warna putih dengan celana bahan hitam dan kaca mata hitam, Yoyo tampak santai turun dari mobil tahanan Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat. Bersama-sama dengan puluhan tahanan lainnya, Yoyo bergegas menuju ruang tahanan sementara terlebih dahulu. Iya, kondisi baik, dan sehat, katanya saat ditanya wartawan seputar kesehatan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin, 30 Mei 2011. Pria kelahiran Jakarta, 29 November 1975 tersebut hanya tersenyum lebar saat dimintai keterangan soal kesiapannya menghadapi sidang perdananya. Terkait dengan kabar dirinya tersengat aliran listrik beberapa waktu lalu, Yoyo juga belum memberikan tanggapan. Seperti diberitakan sebelumnya, seharusnya pekan lalu, sidang perdana ini sudah digelar. Tetapi, karena Yoyo kesetrum listrik, maka pengadilan memutuskan untuk menunda persidangan hingga hari ini. Agenda sidang hari ini adalah pembacaan dakwaan. (vivanews)

Polisi Tangkap Oknum TNI Terlibat Kasus Narkoba


Tangerang (ANTARA News) - Aparat kepolisian dari Mabes Polri mengamankan seorang

oknum anggota TNI karena diduga terlibat kasus Narkoba. "Oknum anggota TNI itu sudah diserahkan ke Pomdam Jaya," kata Direktur IV Narkoba Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri, Brigjen Pol Arman Depari melalui layanan pesan singkat (SMS), di Tangerang, Banten, Jumat malam. Pada Jumat sekitar pukul 16.30 WIB aparat Direktorat IV Narkotika Bareskrim Mabes Polri menggerebek pabrik ekstasi di Jalan Boulevard Graha Jaya Blok P-1 No. 31, Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Selain menangkap seorang oknum anggota TNI, polisi juga menangkap lima tersangka lainnya yang diduga sebagai pelaku pembuatan barang terlarang itu. Polisi juga menyita barang bukti berupa 12.000 butir ekstasi siap konsumsi, bubuk (powder) dan adonan ekstasi yang sudah diracik siap cetak sebanyak lima kilogram. Sedangkan bahan kimia pembuatan ekstasi yang ditemukan, seperti aceton, epidrin, hdx, methanol, amoniak, serta satu buah mesin cetak tablet otomatis, tiga unit mesin cetak manual, satu unit senjata api jenis "FN" dan satu senjata peluru karet. Hingga saat ini, polisi masih berada di lokasi pembuatan ekstasi itu dan menunggu petugas dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri untuk melakukan pemeriksaan bahan material, serta ekstasi yang siap konsumsi. Rencananya, Mabes Polri akan menggelar konferensi pers terkait penggerebekan pabrik narkotika itu di Mabes Polri pada Sabtu (27/3) sekitar pukul 11.00 WIB. (T014/K004)

Kasus Narkoba, 2 Personil Kangen Band Diadili

Pengadilan Negeri Jakarta Timur hari ini menggelar sidang kasus narkoba dengan terdakwa dua personel Kangen Band, Andhika dan Izzy. Setiba di pengadilan, mereka mengaku siap untuk menjalani sidang. Andhika dan Izzy tiba di Pengadilan Negeri Jakarta Timur pukul 13.45 WIB dengan mobil tahanan bernomor polisi B 7689 JQ. Keduanya didampingi kuasa hukum mereka, Priagus. Mereka siap menjalani sidang. Mereka sehat dan tidak ada masalah untuk menghadiri persidangan hari ini, kata Priagus saat ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Jakarta Timur, Selasa, 24 Mei 2011. Andhika dan Izzy sama-sama mengenakan kemeja putih. Meski dari band terkenal, Andhika dan Izzy tidak mendapat keistimewaan. Sebelum menghadapi sidang, kedua pria menyantap nasi bungkus seperti yang dimakan para tahanan lainnya. Andhika dan Izzy sambil menunggu sidang digelar, keduanya berada di ruang tahanan yang sudah dipersiapkan. Keduanya menolak untuk diambil gambar dan diwawancara. (vivanews)

Kasus Narkoba, "Mama Obama" Ditangkap Polisi


VIVAnews - Polda Metro Jaya membongkar sindikat narkoba yang menggunakan senjata api

yang melibatkan Cara Lachele, perempuan asal Afrika Selatan Tersangka Cara diketahui sebagai model dan artis yang membintangi Film berjudul Obama Anak Menteng. Dalam film itu Cara berperan sebagai Ibu Obama. Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Anjan Pramuka Putra mengatakan penangkapan Cara Lachelle merupakan pengembangan dari penangkapan empat tersangka yakni Erik, Doddi, Mendi, dan Jovis, yang lebih dulu ditangkap petugas kawasan Kemang, Jakarta Selatan. "Mereka merupakan bandar narkoba khusus wilayah Kemang, Jakarta Selatan," ujarnya, Rabu 5 Januari 2011. Dari keterangan keempat tersangka, kata Anjan, petugas akhirnya membekuk tersangka Cara Lachelle di apartemen Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Petugas juga mendapatkan satu paket shabu seberat 1,19 gram yang disimpan di dalam tabung Redoxon dan peralatan penghisap alias bong. "Tersangka Cara memang berprofesi sebagai model. Namun saya tidak tahu kalau dia juga aktris yang pernah membintangi salah satu film layar lebar di Indonesia," katanya. "Silakan ditanyakan ke Produser film yang dibintangi pelaku," jelasnya. Namun, Anjan menambahkan jika tersangka Cara tinggal di Apartemen Rasuna Said serta memiliki rumah dan villa di Bali. "Tersangka Cara Lachelle yang merupakan warga negara Afrika Selatan mengaku hanya sebatas pemakai bukan pengedar narkoba," imbuh Anjan. Sutradara Film Obama Anak Menteng Damien Dematra saat dikonfirmasi belum mengetahui adanya penangkapan Cara Lachelle dalam kasus kepemilikan Narkoba. "Saya belum cek, tapi memang benar dia (Cara) tinggal di Apartemen Rasuna Said dan memiliki rumah dan villa di Bali," katanya singkat. Sebelumnya diketahui, tertangkapnya Cara Lachelle berawal terbongkarnya sindikat narkoba yang menggunakan senjata api di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Sindikat itu berjumlah empat orang tersangka, masing-masing bernama Erik, Doddi, Mendi, dan Jovis. Pengungkapan jaringan narkoba berawal petugas mendapatkan informasi peredaran narkoba. Polisi menindaklanjuti informasi itu dengan menangkap Erik dan Mendi, serta menggeledah rumah di Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan, Jumat dini hari 31 Desember 2010. Petugas mendapatkan barang bukti berupa 50 butir ekstasi dan dua pucuk senjata api jenis FN dan Walther. Erik mengaku mendapatkan senjata api dari Doddi dan seorang pria yang masuk daftar pencarian orang (DPO) di daerah Mangga Dua, Jakarta Barat. Alhasil Doddi ditangkap petugas berdasarkan pengembangan dari Erik. Barang bukti yang disita petugas dari tangan DP berupa senjata api jenis FN dari tersangka JT dengan cara saling tukar pinjam pistol merk "Raikal" dan KJ-27 dan tiga butir peluru. Bahkan petugas sempat melepaskan tembakan kepada JT karena berusaha menodong polisi dengan menggunakan senjata apinya. "Dari situ kami kembangkan, dan akhirnya tertangkap tersangka Cara Lachelle di apartemen Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan," kata Anjan. Dari para tersangka petugas juga menyita barang bukti secara keseluruhan berupa 424 butir ekstasi, 52,13 gram shabu, 223 butir pil "happy five", satu unit timbangan elektrik, empat pucuk senjata api dan gas, serta tiga butir peluru tajam. Para tersangka dijerat Pasal 114 ayat (1) juncto Pasal 132 ayat (1) subsider Pasal 112 ayat (1) juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika dan atau Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 juncto Pasal 55 ayat (1) Kitab Undangundang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman hukuman penjara maksimal mati atau 20 tahun dan atau denda Rp20 miliar. (sj)

Berkas Kasus Narkoba Cicit Soeharto Dinyatakan Lengkap


JAKARTA- Kejaksaan Agung mengungkapkan berkas kasus atas nama Putri Aryanti Haryowibowo

telah lengkap atau P21. Dengan demikian kasus narkoba yang melibatkan cicit Soeharto tersebut, akan segera di persidangkan. Kejagung menyatakan berkas perkara atas nama Putri Aryanti Haryo Wibowo sudah lengkap atau P21 pada 6 Mei 2011 dengan nomor surat B-4628/0.1.4/EPP:/05/2011, kata Kepala Pusat Penerangan dan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung Noor Rachmad di Jakarta, Senin (9/5/2011). Dalam berkas tersebut Putri dinilai melanggar pasal 112 ayat 1 jo. pasal 132 ayat 1 UU Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. "Berkas tersebut telah dikirimkan hari ini ke penyidik, katanya. Seperti diketahui, Putri ditangkap Satuan Narkoba Polda Metro Jaya saat mengkonsumsi narkoba di Hotel Maharani, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Putri tidak ditangkap sendiri, saat bersamaan polisi juga mengamankan seorang bandar narkoba inisial GN dan staf keuangan Mabes Polri, AKBP ES. Dari ketiganya polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa sabu seberat 0,88 gram yang diakui milik tersangka GN. Putri sempat keluar dari tahanan untuk menjalani perawatan kesehatan. Namun, 7 Mei 2011 lalu, Putri Tim dokter Rumah Sakit Polri telah mengembalikan cicit mantan Presiden Soeharto, Putri Aryanti Haryowibowo ke Penyidik Polda Metro Jaya.

Revaldo Santai Tunggu Putusan Sidang kasus Narkoba

INILAH.COM, Jakarta - Revaldo Fifaldi Surya Permana duduk memainkan telepon seluler di kursi panjang ruang sidang menunggu sidang. Ia santai menunggu keputusan dari majelis hakim. Pesinetron Revaldo yang tersandung kasus kepemilikan narkoba akan menjalani sidang dengan agenda pembacaan putusan dari majelis hakim di pengadilan negri Jakarta Barat, Rabu (30/3) ini. Menunggu anggota majelis hakim untuk memulainya sidang pembacaan keputusan, Revaldo terlihat santai memainkan ponsel. Revaldo yang mengenakan kemeja putih, rompi merah dengan rambut diikat terlihat seperti tak bermasalah. Sebagaimana diketahui, pemain film Tebus itu tiba di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Rabu (30/3) pukul 14.00 WIB dengan menumpang mobil tahanan. Ia datang bersama rombongan narapidana lain. Sebelumnya, Revaldo dituntut jaksa penuntut umum sembilan tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsider enam bulan terkait kasus narkoba. Revaldo sebelumnya juga pernah ditangkap polisi pada 10 April 2006 atas kasus narkoba. [aji]

KASUS NARKOBA DI CIREBON MENURUN

Jumat, 25 Peb 2011 11:42:49| Hukum | Cirebon, 25/2 (ANTARA) - Kasus pengedar dan pemakai narkoba di Kota Cirebon, Jawa Barat, tahun 2010 menurun dibanding tahun sebelumnya sekitar 20 persen, kata Kasat Reserse Narkoba Polresta Cirebon AKP Tri Silayanto. "Pengedar dan pemakai narkoba di Kota Cirebon tahun 2010 sebanyak 26 kasus dan bila dibanding tahun sebelumnya menurun sekitar 20 persen," katanya kepada wartawan usai pemusnahan barang bukti di Kejari Kota Cirebon, Jumat. Dikatakannya, mayoritas pemakai adalah pengangguran, pelajar dan tahun 2010 tercatat seorang perempuan. Sementara itu, Kasi Pidum Kajari Kota Cirebon Subita mengatakan, barang bukti yang dimusnahkan sebanyak 1.197 gram daun ganja kering dan 1.009 gram shabu-shabu. Menurut dia, barang terlarang sebanyak itu merupakan barang bukti yang dikumpulkan sejak April 2010 sampai 25 Januari 2011. Saat ditangkap barang bukti tersebut ditemukan beraggam di tangan pelaku antara lain shabu dimasukkan dalam korek api hingga sarung HP. Barang bukti dimusnahkan setelah kasusnya diputus pengadilan. Kasus terakhir adalah atas nama Doni Kosasih berupa satu paket shabu-shabu seberat 0,1 gram pada tanggal 25 Januari 2011, katanya. Cepat lambatnya barang bukti dimusnahkan bergantung kepada proses pengadilan. "Biasanya yang lama apabila tersangka mengajukan banding. Kalau tidak banding maka pemusnahan cepat seperti kasus Doni Kosasih tersebut," tambahnya. Yasad A