You are on page 1of 5

PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DI BIDANG DOKUMENTASI HUKUM

Anggota Kelompok 1. Marya Rusnizar


2. Mutiara Redita Anjani 3. Ani Rahayuningsih 4. Peni Noviyanti

(13040111130089) (13040111130092) (13040111130124) (13040111140174)

S1 ILMU PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS DIPONEGORO 2012

PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi yang semakin maju, membuat Teknologi Informasi dan Komunikasi ( TIK ) menjadi kebutuhan yang penting bagi kehidupan manusia modern. Kebutuhan-kebutuhan itu menjadi penting tatkala kita harus menyesuaikan diri dengan zaman serba cangih dan kita akan ketinggalan dengan manusia lainnya bila tidak memanfaat teknologi yang ada. Salah satu perkembangan teknologi komunikasi adalah penggunaan telephone genggam ( handphone ). Kemudahan dan kepraktisan yang kita peroleh ketika kita m emakai handphone , menjadikan menjamurnya handphone di manamana. Padahal dulu handphone adalah barang mewah. Gabungan antara teknologi informasi dan teknologi komunikasi lah yang akhirnya kita kenal sebagai TIK. Di era kini, penerapan TIK yang mendunia adalah penggunaan jaringan internet. Dengan internet kita dapat memperoleh semua informasi tanpa batas ruang dan waktu. Namun, karena dengan mudahnya siapa saja menampilkan informasi melalui internet, tidak menutup kemungkinan informasi yang berada di internet tidak akurat. Maka sebab itu, masyarakat sebagai pengguna internet harus memiliki kemampuan yang disebut dengan istialh information literacy ( IL ). Menurut Chartered Instituttion for Library and Information Professionals (CILIP), information literacy is knowing when and why you need information, where to find it, and how to evaluate, use and communicate it in an ethical manner ( CILIP, 2006 ). Kemampuan ini penting bagi pengguna internet karena sering terjadi kesalahan dalam pemanfaatan internet. Kesalahan pemanfaatan internet tidak hanya bagi pengguna internet tetapi juga pada penyedia informasi di internet. IL penting supaya pengguna internetidak mudah tertipu dengan informasi diinternet dan tidak menambah hal yang tidak benar di internet. Ketika kita membicarakan mengenai penerapan TIK, yang terpikir adalah mengenai suatu aktivitas; kegiatan karena semua hal yang berfokus teknologi ditempatkan pada pusat kegiatan ( technology centered activity ). Dan sebagai subjek teknologi di sini adalah manusia, dimana tidak lain adalah pengguna teknologi. Pengembangan sistem ini disebut human centered activity. Dari sini muncul konsep usability. TIK di bidang dokumentasi hukum bukan hanya mengenai teknologi saja, tetapi lebih menekankan pada dokumentasi berbasis literatur yang dalam hal ini adalah produk peraturan perundang-undangan. Pada tulisan ini, penyadur akan menjabarkan mengenai konsep usability, dokumentasi dan informasi.

PEMBAHASAN
A. Konsep Usability

Usability selalu berkaitan dengan fungsi suatu system. Ada kemungkinan terjemahan dari kata usability adalah keberdayagunaan. Namun karena masih bersifat rancu, maka istilah ini akan digunakan dalam Bahasa Inggris. Usability dan usefullnes memiliki makna yang berbeda, tetapi saling berkaitan karena usabilty adalah bagian dari usefullnes. Menurut ISO, usability adalah karakter suatu produk yang dapat digumakan secara efektif, efisien dan memuaskan untuk mencapai tujuan penggunaannya. Hal yang dipertimbangkan oleh usability :
Siapa penggunanya, apa yang diketahuinya, dan bagaimana mereka akan hal

umempelajarinya ? Apa yang diinginkan atau dikerjakan pengguna ? Apa latar belakang umum pengguna ? Dalam konteks apa pengguna bekerja ? Apa tugas mesin dan apa tugas pengguna ? Kemudian dapat diperluas lagi : Dapatkah dengan mudah pengguna memperoleh apa yang diinginkan ? Berapa banyak pelatihan yang diperlukan oleh pengguna ? Adakah pedoman tertulis untuk pengguna ? Apakah pedoman ini memuat hal yang diperlukan pengguna ? Kesalahan apa dan sesering apa yang mungkin dilakukan pengguna dalam memakai sistem itu ?
Dapatkah

pengguna memperbaiki kesalahan itu ? Bagaimana perbaikan ? Apakah sistem itu memberikan saran perbaikan ?

prosedur

Adakah kemudahan bagi penderita cacaaat fisik untuk menggunakan sistem itu ?

Konsep usability sekarang digunakan dalam pengembangan pangkalan data maupun situs lembaga. Namun, banyak situs yang mementingkan keindahan desaign daripada prinsip usability sendiri. Berikut 5 prinsip usability dalam merancang situs (Benun, 2003) 1. Konsistensi. Setiap situs harus memiliki konsistensi dalam rancangan grafis maupun cara interaksi dari satu halaman ke halaman lain, dari bagian satu ke bagian lain. Maka, perlu kesamaan dalam tata letak, tema grafis, ikon dan tombol perpindahan halaman. Hal ini diterapkan untuk menghilangkan kebingunan pengguna situs. 2. Interaksi Setiap situs harus dapat diprediksi, terlihat dan berbalik. Saat perpindahan halaman, pengguna harus tau memang sudah berpindah halaman. Jangan membuat halaman buntu karena akan membuat pengguna bingung dan merasa tersesat. Maka, sebaiknya pengguna diberikan kemudahan dalam kembali ke halaman sebelumnya 3. Intruksi Dibuat dengan jelas, sehingga tidak membuat pengguna berfikir lama dalam menggunakan situs anda. Jangan terlalu banyak instruksi atau terlalu sedikit instruksi. Sesuaikan dengan pengguna anda 4. Pilihan Hendaknya dibuat beragam tampilan demi memenuhi berbagai selara pengguna. Ada pengguna yang suka memakai indeks, ada yang suka dengan rancangan grafis. Beri kemungkinan pengguna untuk memilih. 5. Pengaturan Di sini lebih menekankan pada tampilan. Dari pengaturan font, tampilan, desaign dan tata letak supaya tampilannya menarik dan banyak pengunjung yang datang. Masih banyak hal pengembangan konsep usability dalam pembuatan situs.Dan masih banyak juga situs lembaga yang kurang memperhatikan konsep usability. Kemudian muncul pertanyaan. Bagaiman konsep usability diterapkan dalam membangun pangkalan data ?

PEMAHAMAN DOKUMENTASI DAN INFFORMASI Dalam kegiatan jaringan dokumentasi dan informasi, yang difokuskan yaitu lebih pada dokumentasi produk hukum seperti produk perundang-undangan. Semua itu dikumpulkan dalam rangka memberikan layanan informasi hukum. Masih jarang kita lengkapi dokumen kita dengan dokumentasi proses. Kalau ada pun aksesnya justru terbatas atau tidak dilakasanakan dengan benar. Maka sebab itu, perlu diuraikan pengembangan konsep dokumentasi dan informasi lebih lanjut. Kata dokumentasi dan informasi selalu digunakan bersama, tidak jelas bedanya dan sudah anggap sebagai kata majemuk padahal terdiri dari dua kata. Sebenarnya dokumentasilah yang harus lebih lebih ditekankan karena tidak akan ada informasi bila tidak didokumentasikan. Tidak penting penyedia informasi menggunakan hasil kerja dokumentasi sendiri atau ornag lain. Maka, seharusnya setiap institusi harus melaksanakan fungsi dokumentasinya dengan benar sebagai pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugas intitusi itu sendiri.