You are on page 1of 2

STRATEGI PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN PERLINDUNGAN LINGKUNGAN INDUSTRI BERBASIS PETERNAKAN MELALUI PENERAPAN CLEANER PRODUCTION

Eko Suryo Firdaus/Teknologi Industri Pertanian/08.03.311.00012 Sektor industri berbasis peternakan mempunyai potensi besar menghasilkan limbah yang dapat mencemari lingkungan. Limbah yang dihasilkan dapat berupa limbah cair, padat dan gas. Limbah cair yang dihasilkan berupa kotoran cair sedangkan limbah padat berupa kotoran (feses sapi) dan sisa pakan. Penerapan produksi bersih (cleaner production) dalam dalam industri yang berbasis peternakan memiliki peluang yang sangat besar. Produksi bersih (cleaner production) merupakan strategi yang digunakan untuk meminimalkan timbulnya pencemaran melalui pengurangan limbah pada tahap proses produksi. Produksi bersih (cleaner production) lebih ditujukan pada usaha mengurangi limbah. Limbah menjadi indikator inefisiensi suatu industri sehingga perlu adanya kegiatan untuk mencegah dari awal (waste avoidance), pengurangan terbentuknya limbah (waste reduction) serta pemanfaatan limbah melalui daur ulang (recycle). Dari penerapan produksi bersih (cleaner production) diharapkan mampu menghemat karena biaya produksi menurun dan menaikkan keuntungan (reveneu generator). Aplikasi produksi bersih pada industri yang berbasis peternakan memiliki peluang besar, yaitu melalui pengolahan limbah cair dan limbah padat yang dihasilkan. Limbah cair yang dihasilkan industri berbasis peternakan bisa diolah menjadi bahan dasar biogas. Sedangkan limbah padat yang dihasilkan berguna untuk pembuatan pupuk kompos. Menurut hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur pada tahun 2011 bahwa jumlah sapi perah dan sapi potong masing-masing 2,2 juta ekor dan 4,7 juta ekor. Setiap rumah potong sapi dan rumah perah rata-rata mempunyai sapi 200 ekor. Berdasarkan informasi dari data diatas, dapat diasumsikan apabila seekor sapi menghasilkan limbah cair sebanyak 3 liter dan limbah padat sebanyak 5 kg perhari. Maka setiap hari setiap rumah potong dan rumah perah menghasilkan limbah cair sebanyak 600 liter dan limbah padat sebanyak 1.000 kg.

Menurut Jaya (2009), setiap 50 liter limbah cair sapi mampu menghasilkan gas metana setara dengan 3 kg gas LPG. Apabila satu industri berbasis peternakan mampu menghasilkan 600 liter limbah cair perhari maka setiap hari maka gas metana yang dihasilkan sebanyak setara dengan 36 kg gas LPG. Jadi, dalam setiap hari industri peternakan mampu menghemat biaya bahan bakar minyak sebanyak Rp. 43.200 perhari. Penanganan limbah padat yang berupa sisa pakan dan kotoran ternak dapat dijadikan bahan untuk membuat pupuk organik. Menurut Suganda (2007), apabila asusmi harga jual pupuk organik Rp. 40 per kg maka setiap satu ekor sapi mampu memperoleh nilai tambah sejumlah Rp. 315.000 per tahun. Sedangkan harga beli pupuk anorganik sejumlah Rp. 125.000 per 50 kg, yang membedakan pupuk organik dan anorganik yaitu umur ekonomisnya. Untuk pupuk organik mampu bertahan untuk menjaga kesuburan tanah minimal lima tahun tapi untuk pupuk anorganik mampu bertahan selama dua tahun. Dari beberapa pernyataan diatas, penerapan produksi bersih (cleaner production) mampu memberikan kenaikan profit dan juga mengurangi limbah yang dihasilkan sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan.

DAFTAR BACAAN
Bustanul. 2010. Pembuatan Pupuk Organik. [online]. http://bumiganesa.com/?p=167. Diakses pada tanggal 21 Maret 2012. Seravine. 2012 Sitorus, J. 2007. Produktivitas Ramah Lingkungan. [online]. http://inganergani.blogspot.com/2008/06/produktivitas-ramahlingkungan.html. Diakses pada tanggal 20 Maret 2012 Suganda, E. 2007. Potensi Pemanfaatan Limbah Kotoran Sapi. Lokakarya Fungsional Non Peneliti 2011. Green Productivity. [online]. http://tugaskuliahanakmenej.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 22 Maret