You are on page 1of 6

PENGARUH PENGGUNAAN MATERIAL LISTRIK DAN PEMASANGAN INSTALASI RUMAH TINGGAL YANG TIDAK STANDAR TERHADAP BAHAYA YANG

DITIMBULKAN
Wahyu Susongko (0819451020) Dosen Pembimbing : Ir. I Gusti Ngurah Janardana, MErg Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Udayana Kampus Fakultas Teknik Sudirman, Denpasar - Bali Email : why_giallorossi@yahoo.com Abstrak Kasus kebakaran yang diduga akibat listrik masih sering terjadi. Dari tahun 2008 hingga akhir tahun 2011 ini, kasus kebakaran di Kodya Denpasar sangat mendominasi. Rata-rata 40% kasus kebakaran akibat listrik dari total kasus kebakaran yang ada. Penyebab kebakaran akibat listrik sangat kompleks dan bermacam-macam. Banyak pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku instalasi listrik dengan cara penggunaan material listrik dan pemasangan instalasi yang tidak mengacu pada peraturan dan standar yang berlaku. Hal ini memicu pengurangan kualitas listrik yang ada pada pelanggan dan masyarakat. Dampak bagi masyarakat luas adalah, tidak terjaminnya keselamatan dan keamanan instalasi tersebut bagi pengguna dan pemanfaat energi listrik. Dengan mengacu pada peraturan dan standar tentang pemasangan instalasi dan material listrik yang digunakan, diharapakan akan meminimalisir terjadinya korban akibat listrik. Penelitian ini membahas tentang penyebab-penyabab yang timbul akibat penggunaan material tidak standar dan pemasangan instalasi secara sembarangan. Data penelitian didapat dari tinjauan ke lapangan, serta data penunjang dari dinas maupun instansi terkait. Dari penelitian yang dilakukan, didapatkan hasil bahwa pemasangan instalasi dan penggunaan material listrik yang tidak standar merupakan penyebab utama dari bahaya akibat listrik hingga bahaya kebakaran yang bisa ditimbulkan. Penggunaan kabel yang melebihi dari KHA (Kemampuan Hantar Arus) kabel tersebut, bisa menyebabkan hubungan arus pendek akibat melelehnya isolasi kabel akibat aliran arus yang besar. Instalasi tanpa penghantar pengaman, juga salah satu penyebab dari sengatan arus listrik tidak langsung. Pemakaian material listrik tanpa tanda SNI (Standar Nasional Indonesia), tidak akan menjamin instalasi tersebut aman digunakan dalam kurun waktu yang lama. Karena kualitas bahan material yang belum diuji oleh badan penguji mutu. Kata Kunci : arus lebih, standar SNI, instalasi listrik, material listrik Abstract Cases of fires allegedly caused by electricity are still common. From 2008 until the end of 2011, the case of a fire at Denpasar very dominating. Average of 40% of cases of fires caused by electrical fires are the total cases. The cause of electrical fires are very complex and diverse. Many of the violations committed by the perpetrators of the electrical installation by the use of electrical materials and installation which does not refer to the applicable regulations and standards. This triggers a reduction in the quality of existing power on customers and community. The impact for society is, no guarantee of safety and security of these installations to make use of electrical energy. With reference to the regulations and standards regarding the installation of electrical installations and materials used, is expected to minimize the occurrence of casualties due to electricity. This study discusses the cause-penyabab arising from the use of materials and installation standards are not in vain. The data obtained from a review of research into the field, as well as supporting data from agencies and related institutions. From research conducted, showed that the installation of electrical installation and use of materials that are not standard is the main cause of the hazard due to electrical fire hazards that can be generated. The use of cables in excess of the CRC (Ability Conductivity Flow) cable, can cause short circuiting as a result of melting of the cable insulation due to the large current flow. Installation without a safety conductor, is also one of the causes of indirect electric shock. Electricity without the use of materials SNI, will not guarantee the installation is safe to use in a long time. Because the quality of materials that have not been tested by examining board quality. Keywords: overcurrent,SNI standards, electrical installation, electrical materials 1. PENDAHULUAN Hingga saat ini kasus bencana yang diduga karena listrik masih sering terjadi. Bencana ini menimpa hampir seluruh jenis bangunan yang ada. Dari jenis bangunan untuk fasilitas umum, perkantoran hingga bangunan rumah tinggal, yang mengakibatkan kerugian harta benda dan jiwa. Salah satu kasus kebakaran yang menghebohkan kota Denpasar adalah terbakarnya Pasar Kumbasari yang merupakan pasar tradisional

yang ada di jantung kota Denpasar, tepatnya di jalan Gajah Mada. Kebakaran tersebut terjadi pada tanggal 02 Mei 2007. Ratusan kios yang terletak di lantai III dan lantai IV yang sebagian besar menjual barang souvenir, ludes dilalap si jago merah. Dari kajian dan penelitian yang dilakukan oleh pihak terkait tentang penyebab dari kebakaran tersebut, beberapa menyimpulkan bahwa kebakaran tersebut disebabkan oleh hubungan arus pendek listrik. Kasus terbaru kebakaran yang terjadi di kota Denpasar yang diakibatkan oleh listrik, terjadi pada tanggal 14 Desember 2011. Kebakaran ini terjadi di jalan Gunung Karang, Munang maning Denpasar (BNPB 2011). Data statistik dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kota Denpasar tentang penyebab utama dari kebakaran selama periode Januari Desember 2011 adalah disebabkan oleh listrik yang mencapai 39%. Dan obyek bangunan yang banyak terbakar adalah bangunan perumahan. Sebagai penyedia layanan energi listrik, PLN sampai saat ini hanya memasang KWh meter sebagai pengukur pemakaian energi listrik pelanggan, dan memasang MCB sebagai pembatas daya yang tersambung ke pelanggan. Karena hal inilah diharapkan pada konsumen maupun pelaku instalasi listrik, agar dapat mendesain dan memasang instalasi sesuai dengan standar dan peraturan yang berlaku. Yang juga sebagai antisipasi dini kemungkinan timbulnya kebakaran yang ditimbulkan oleh listrik. Pada saat sebuah instalasi dikerjakan oleh teknisi instalasi yang kompeten, sebelum hasil diserah terimakan ke konsumen, dan sebelum PLN melakukan penyambungan KWh meter, pada instalasi tersebut harus dilakukan pengujian terlebih dahulu untuk memperoleh Sertifikat Laik Operasi (SLO). Lembaga penguji independen yang mempunyai wewenang menerbitkan SLO adalah KOSUIL (Komite Nasional Keselamatan Untuk Instalasi Listrik). KONSUIL bertugas untuk memeriksa dan menguji instalasi yang dipasang oleh teknisi listrik yang kompeten. Jadi apabila dalam melakukan pemeriksaan dan pengujian KONSUIL menemukan pemasangan maupun material instalasi terpasang tidak mengacu pada standar dan peraturan yang berlaku, maka KONSUIL punya kewajiban menegur pelaksana instalasi tersebut untuk merevisi ulang instalasinya. Dengan demikian sebuah instalasi listrik konsumen yang terpasang, bisa terkontrol dengan baik tentang teknis rancangan dan pemasangannya hingga bahan material yang digunakan. Tetapi akhir-akhir ini PLN sudah tidak mewajibkan lagi SLO sebagai syarat untuk mendapatkan daya listrik pada penyambungan baru dan penambahan daya. Hal ini memicu terjadinya penyimpangan teknis tentang pemasangan instalasi listrik pelanggan. Karena ada kemungkinan instalasi tersebut bisa tersambung aliran dari PLN tanpa

melalui prosedur pemeriksaan instalasi oleh lembaga independen, KONSUIL. Kondisi seperti inilah yang bisa memicu timbulnya bahaya akibat listrik maupun bahaya kebakaran, karena kesalahan dalam perencanaan dan pemasangan instalasi listrik. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jumlah Kasus Kebakaran Karena Listrik Tabel 1. Data Kebakaran di Denpasar Penyebab Kebakaran
Tahun KP LP LS RK DP ONY MA SN LL

2008 13 2009 12 2010 14 2011 13 Sumber :

- 39 1 7 - 54 - 51 2 6 2 60 - 47 2 4 2 1 13 1 41 1 8 1 2 37 Badan Penanggulangan Bencana Daerah kota Denpasar (2011)

Keterangan Tabel : KP : Kompor LS : Listrik RK : Rokok DP : Dupa ONY : Obat Nyamuk MA : Menyala Arta SN : Sengaja LL : Lain-lain

LP

:Lampu

Grafik 1. Kebakaran Karena Listrik Sumber : Badan Penanggulangan Bencana Daerah kota Denpasar (2011) Penyebab Kebakaran Karena Listrik Ada empat kemungkinan penyebab terjadinya kebakaran, yaitu : a) Karena kejadian yang tidak disengaja. b) Kejadian yang alami (natural causted). c) Kejadian yang disengaja. d) Adanya arus harmonik yang besar. Suatu kebakaran dapat terjadi jika terpenuhi adanya tiga unsur, yaitu : a) Bahan-bahan yang mudah terbakar. b) Energi yang menghasilkan suatu sumber panas dengan daya yang cukup dan dalam rentang waktu yang relatif lama. c) Adaya gas oksigen yang cukup jumlahnya. Bila salah satu dari ketiga unsur di atas tidak terpenuhi, maka kebakaran tidak akan terjadi. Dari teori ini dapat disimpulkan bahwa, kebakaran karena 2.2

listrik tidak mungkin terjadi. Tetapi listrik dapat menimbulkan panas dan mempu memercikkan api. Percikan api yang pertama inilah yang memungkinkan sebagai unsur pemicu kebakaran. Proses terjadinya energi panas karena listrik dapat terjadi dari beberapa sebab, yaitu : a) Hubung Singkat Langsung (Dead Short Circuit). b) Hubung Singkat Tak Langsung (Limited Short Circuit). c) Pembebanan dan Pemanasan lebih (Overloaded & Over heating Circuit). d) Arus Bocor (Leakage Current). e) Penyambungan dan pemutusan aliran listrik (Electrical Contacts & Spark). Hubung Singkat Langsung (Dead Short Circuits). Hubung singkat langsung, adalah hubung singkat antara hantaran fasa dengan hantaran netral secara lansung. Kejadian ini umumnya berlangsung singkat dan sangat cepat karena pengaman sirkit (Sekring/MCB) akan bekerja, sehingga tidak menimbulkan panas yang berlebih pada hantaran tersebut. Persoalan akan lain apabila pengaman mempunyai kapasitas yang cukup besar hingga melebihi dari KHA penghantar yang diamankan. Sebagai contoh, sebuah penghantar NYA berpenampang 2,5 mm2 mempunyai KHA maksimal mencapai 23 Ampere. Sebuah MCB mempunyai kapasitas 35 Ampere sebagai pengamannya. Hal seperti inilah yang akan menjadikan penghantar mengalami pemanasan yang berlebihan sehingga memicu terjadinya kebakaran awal. Karena kapasitas MCB pengaman melebihi dari KHA penghantar yang diamankan. Hubung Singkat Tak Langsung (Limited Short Circuit) Hubung singkat tak langsung merupakan hubung singkat yang terjadi karena adanya material yang menghubungkan hantara fasa dengan hantaran netral, tetapi arus hubungnya belum mengaktifkan gawai pengaman untuk bekerja. Sehingga terjadi Tracking dan Sparking dalam waktu yang cukup lama. Hal inilah yang menyebabkan pemanasan pada daerah sekitar Tracking dan Sparking tersebut, yang disinyalir sebagai pemicu utama terjadinya kebakaran akibat listrik. 2.2.3 Pembebanan & Pemanasan Lebih (Over Loaded & Over Heating Circuit) Pembebanan lebih adalah keadaan dimana sebuah sirkit akhir dari inslalasi dialiri arus yang besarnya melebihi dari KHA penghantar sirkit tersebut. Pemanasan lebih adalah keadaan dimana sebuah sirkit listrik dialiri arus kurang dari KHAnya, tetapi mengalami pemanasan yang melebihi dari batas yang diijinkan. Hal-hal yang menyebabkan kedua kondisi dai atas adalah : 2.2.2 2.2.1

a)

Pengaman cabang ataupun pengaman akhir kapasitasnya melebihi dari KHA pengantar atau saluran sirkitnya. b) Adanya arus harmonik yang besar. c) Sistem perancangan dan pemasangan yang tidak mengacu pada standar dan peraturan yang berlaku. 2.2.4 Arus Bocor (Leakage Current) Arus bocor terjadi jika ada penurunan dari kualitas isolasi. Baik isolasi penghantar, isolasi sistem penyambungan maupun isolasi dari peralatan listrik yang ada. Jika kejadian ini berlangsung terus menerus, maka arus ini akan semakin merusak isolasi kabel hingga terkelupas. Salah satu pemicu awal dari kebakaran adalah hal semacam ini. Penyambungan & Pemutusan aliran Listrik (Electrical Contacts & spark) Penyambungan dan pemutusan aliran listrik bisa juga menimbulkan percikan api. Karena arus yang besar, sedangkan kapasitas saklar lebih kecil dari arus yang dilewati, maka percikan api bisa saja terjadi. Apabila kondisi ini terjadi di tempat dengan kandungan gas yang cukup tinggi, maka ledakan bisa terjadi. Demikian untuk sambungan penghantar, bisa menimbulkan hal semacam ini jika sisitem penyambungannya tidak benar. Bahaya yang bisa ditimbulkan Listrik Listrik merupakan suatu hal yang sangat berpengaruh bagi kehidupan masyarakat luas dewasa ini. Tetapi listrik juga sangat berbahaya jika diperlakukan tidak dengan aturan yang ada. Arus listrik tidak kelihatan tetapi sangat mematikan. Ada beberapa penyebab listrik bisa menimbullkan bahaya jika tidak diperlakukan dengan benar sesuai dengan standard an peraturan yang berlaku. Beberapa penyebabnya adalah : a) Penggunaan material instalasi yang tidak sesuai dengan standar SNI. b) Pemasangan instalasi dikerjakan oleh teknisi yang tidak kompeten. c) Teknis pemasangan yang tidak mengacu pada aturan dan persayaratan yang ada. Hal-hal seperti di atas inilah yang bisa menyebabkan listrik dapat menimbulkan bahaya. Misalkan saja, pemasangan Saklar yang bukan stadar SNI. Jadi kekuatan dan mutu dari perangkat tersebut masih dipertanyakan, karena belum diuji oleh lembaga penguji mutu. Hal lainnya adalah pemasanganan Stopkontak bawah ( 30 cm di atas permukaan lantai). Stop kontak jenis ini harus dipasang jenis tertutup. Karena seandaninya dipasang yang berjenis biasa, sangat membahayakan bagi anak-anak yang bisa saja stopkontak tersebut dibuat sebagai mainan. METODE ANALISIS Analisis yang dilakukan adalah dengan malakukan kajian dan penelitian di lapangan. Data

2.2.5

2.3

3.

penelitian diperoleh dari lapangan serta ditambah data penunjang dari dinas pemerintahan terkait. PEMBAHASAN Mendeteksi adanya Api Listrik Adanya percikan api listrik dapat dideteksi dengan beberapa cara antara lain : a) Ultrasonik detector. b) Rangkaian elektronik (photo detector). c) Mendeteksi arus bocor dari percikan ai listrik. Titik rawan timbulnya percikan api listrik umumnya pada titik-titik sambungan pengahantar. Baik itu sambungan penghantar jenis pelintir maupun sambungan menggunakan terminal sambungan. Mengingat jumlah titik sambungan pada satu jaringan instalasi cukup banyak, maka untuk cara (a) dan (b) membutuhkan biaya yang cukup mahal. Ini sangat menyulitkan bagi konsumen golongan menengah ke bawah. Cara yang sangat efisien tetapi sangat efektif adalah (c). Yaitu dengan manfaatkan ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker). Teknik pemasangannya adalah dengan memanfaatkan kotak sambung yang terbuat dari plat logam (metal), yang dilengkapi dengan saluran pentanahan yang selanjutnya berkoordinasi dengan ELCB. 4. 4.1

mengalami pemanasan, dan selanjutnya akan merusak isolasi penghantar tersebut. Kemungkinan yang terjadi selanjutnya adalah terjadinya percikan bunga api sebagai pemicu utama terjadinya kebakaran akibat listrik. Fomula yang baik dalam menghitung kemampuan penghantar yang sesuai dengan beban sebagai berikut : Ibeban < Ipengaman < IKHA penghantar Dari ilustrasi di atas dapat dijelaskan bahwa, sebuah instalasi aman beroperasi apabila besar arus yang mengalis ke beban harus lebih kecil dari arus nominal pengaman. Begitu juga dengan arus nominal pengaman harus lebih kecil dari KHA penghantar. Jadi apabila arus yang mengalir ke beban melebihi dari arus nominal pengaman, maka pengaman tersebut akan bekerja dan memutus suplai daya ke beban tersebut. Dan penghantarnyapun tetap aman, karena arus yang lewat tidak akan melebihi dari KHA penghnatar tersebut. Tabel 2. KHA Penghantar Tegangan Rendah

No 1 2 3 4 5

mm

Kemampuan Hantar Arus (KHA) 1x 2x 3x 4x


NYA NYM NYY NYM NYY NYM NYY

2,5 4 6 10 16

19 25 33 45 61

22 30 39 53 71

29 38 48 66 90

22 30 39 53 71

25 34 44 60 80

22 30 39 53 71

25 34 44 60 80

Sumber : PUIL (2000) Gambar 1. Rangkaian deteksi dan pengaman percikan api listrik Sumber : Susiono (2010) Pemasangan ELCB sebaiknya diatur sedemikian rupa, sehingga jika terjadi gangguan tidak terjadi pemutusan total. Cara kerja dari rangakaian ini adalah, apabila percikan api ini cukup besar tentunya arus bocor yang mengalir cukup besar (>30mA, nilai nominal ELCB), sehingga ELCB akan bekerja untuk memutus suplai saluran tersebut. dan percikan api akan berhenti. 4.2 Pemilihan Penghantar Instalasi Dalam melakukan perancangan sebuah instalasi listrik, harus diperhatikan penggunaan kabel yang akan dipakai. Penggunaan kabel disini harus sesuai dengan beban kerja instalalsi tersebut. Disamping itu, pengantar tersebut sudah memiliki sertifikat uji mutu. Antara lain standar SNI, LMK (Lembaga Mutu Konsumen) ataupun SPLN (Standar Perusahaan Listrik Negara). Yang berarti bahwa kabel yang digunakan tersebut sudah memiliki mutu yang terjamin untuk digunakan. Sebuah penghantar harus mengalirkan arus listrik yang sesuai dengan kemampuan maksimalnya. Karena jika dialiri arus yang melebihi KHA penghantar tersebut, maka penghantar tersebut akan 4.3 Penggunaan Material Listrik yang Standar SNI Sebuah produk yang sudah mempunyai standar dan uji mutu dari lembaga penguji mutu, akan menjamin bahwa bahan dan produk tersebut aman dan awet digunakan. Begitu juga dengan peralatan dan material listrik yang sudah berstandar SNI. Hal ini akan menjamin bahwa instalasi yang terpasang tersebut memenuhi kriteria tentang keselamatan dari baha listrik. Karena sudah menggunakan bahan-bahan dan material yang berstandar sesuai dengan aturan yang berlaku.

Tabel 3. Daftar Produk SNI (MCB)


NO MERK PRODUSEN/IMPORTIR

Tabel 5. Daftar Produk SNI (Kotak Kontak)


SERTIFIKAT BERLAKU S.D 29 Agustus 2009
16 November 2009

NO

MERK

PRODUSEN/IMPORTIR Merten Intec Indonesia, PT


Bowden Industries Indonesia,PT

SERTIFIKAT BERLAKU S.D


13 September 2009

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29

LIKON ABB MASKO HYUNWO ELITECH VYBA CLIPSAL MG


SCHNEIDER HANNOCHS

Toko Sinar Matahari


ABB Installation Materials, PT Sinko Prima Alloy Indonesia,PT Sinko Prima Alloy Indonesia,PT Sinko Prima Alloy Indonesia,PT

Gloria Mandiri Perkasa, PT


Wenzhou Aolec Electrical Co. Ltd

15 Juli 2010 15 Juli 2010 15 Juli 2010 24 Juli 2010


30 November 2011 26 Februari 2012 26 Februari 2012

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

MERTEN GP LEGRAND GB Gebro MK


PANASONIC

1 November 2009

Sibalec, PT GB Gebro GmbH


MK Electric Indonesia, PT
Panasonic Electric Work Gobel Manufacturing Indonesia, PT Zheijiang Everflourish Electrical Co., Ltd Citra Hannochs Niagantara, CV Citra Hannochs Niagantara, CV
Wenzhou Aolec Electrical Co. Ltd

20 April 2010
11 September 2010 11 September 2010

16 Juli 2011 16 April 2012 04 Juni 2012 04 Juni 2012 16 Juni 2012 30 Juni 2012
20 Agustus 2012

GAO MITSUI SUNFREE SONGRUI HAGER VYBA RHINO BRIGHT-G VVM VOLTAMA
SCHNEIDER

Schneider Indonesia, PT Schneider Indonesia, PT


Citra Hannochs Niagantara, CV Citra Hannochs Niagantara, CV

SUNFREE HAGER CHINT MOELLER LS SHUKAKU


SCHNEIDER

Tunas Wijaya Sakti, PT Chint Indonesia, PT Kita Maju Niaga, PT


Duta Listrik Graha Prima, PT

04 Juni 2012 04 Juni 2012 30 Juni 2012 30 Juni 2012


05 Oktober 2012
11 November 2012

Tunas Wijaya Sakti, PT


Gloria Mandiri Perkasa, PT

Inti Guna Ichtiar, PT Shukaku Indonesia, PT


Voltama Vista Megah, PT Voltama Vista Megah, PT
Schneider Indonesia (Clipsal), PT

03 Januari 2013
31 Agustus 2013 10 Oktober 2013 10 Oktober 2013 07 Desember 2013 07 Desember 2013

Shukaku Indonesia, PT
Schneider Indonesia (Bulgaria), PT

13 Januari 2013
03 November 2013

BRIGHT-G POWELL OKACHI MATSUKA MEET NEOLUS BOSS BROCO DEKSON MORGEN MEIKO
NEWPALLAS

Shukaku Indonesia, PT
Hongbao Electric, Co. Ltd

13 Januari 2013

25 Juli 2013
13 Agustus 2013 13 Agustus 2013 13 Agustus 2013 13 Agustus 2013
26 Desember 2013

Keson Internasional, PT Keson Internasional, PT Keson Internasional, PT Keson Internasional, PT


Australindo Graha Nusa, PT
Broco Mutiara Electrical Industry, PT

LOYAL BROCO

Jakarta Akuratama Plastik, PT


Broco Mutiara Electrical Industry, PT

23 Januari 2014

Sumber : Dirjen LPE (2011) 4.4 Teknik Pemasangan Instalasi Untuk mendapatkan kualitas dan standar keamanan sebuah instalasi, maka instalasi tersebut harus dipasang sesuai dengan peraturan dan persyaratan yang berlaku. Disamping itu, teknisi pemasang juga harus kompeten dalam bidang kelistrikan, karena menyangkut dengan professional kerja, dengan harapan mendapatkan hasil yang baik. PHB (Peralatan Hubung Bagi) Merupakan kotak distribusi sirkit dan saluran instalasi listrik. Di dalam kotak ini terdiri dari Penghantar Utama, Saklar Utama, Saklar pengaman sirkit yang terdiri dari beberapa Gawai Pengaman (MCB), dan sistem pembumian sebagai pengaman instalasi. Sebuah PHB instalasi bangunan tegangan rendah harus terpasang pada tempat yang aman, mudah dijangkau dan mempunyai ketinggian minimal 1,5 meter di atas permukaan lantai (PUIL, 2000).

23 Januari 2014

Hongbao Electric, Co. Ltd Hongbao Electric, Co. Ltd Hongbao Electric, Co. Ltd Hongbao Electric, Co. Ltd

03 Mei 2014 03 Mei 2014 03 Mei 2014 03 Mei 2014

Sumber : Dirjen LPE (2011) Tabel 4. Daftar Produk SNI (Sakelar)


NO MERK PRODUSEN/IMPORTIR Merten Intec Indonesia, PT
Bowden Industries Indonesia,PT

SERTIFIKAT BERLAKU S.D


13 September 2009 1 November 2009

4.4.1

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

MERTEN GP LEGRAND MK CLIPSAL


PANASONIC

Sibalec, PT
MK Electric Indonesia, PT
Clipsal Manufacturing Limited Panasonic Electric Work Gobel Manufacturing Indonesia, PT Heshan City Wanshun Electrical Manufacture Co., Ltd Zheijiang Everflourish Electrical Co., Ltd Citra Hannochs Niagantara, CV Citra Hannochs Niagantara, CV
Wenzhou Aolec Electrical Co. Ltd

20 April 2010
11 September 2010

08 Juli 2011 16 Juli 2011 15 April 2012 16 April 2012 04 Juni 2012 04 Juni 2012 16 Juni 2012 30 Juni 2012
20 Agustus 2012 03 Januari 2013 31 Agustus 2013 31 Agustus 2013 10 Oktober 2013
07 Desember 2013 07 Desember 2013 07 Desember 2013

KRISBOW GAO MITSUI SUNFREE SONGRUI HAGER VYBA RHINO SHUKAKU BRIGHT-G VOLTAMA CLIPSAL
SCHNEIDER

Tunas Wijaya Sakti, PT


Gloria Mandiri Perkasa, PT

Inti Guna Ichtiar, PT Shukaku Indonesia, PT Shukaku Indonesia, PT


Voltama Vista Megah, PT
Schneider Indonesia (Clipsal), PT Schneider Indonesia (Clipsal), PT

LOYAL BROCO

Jakarta Akuratama Plastik, PT


Broco Mutiara Electrical Industry, PT

23 Januari 2014

Sumber : Dirjen LPE (2011)

4.4.2 Penghantar 4.4.2.1 Jenis Penghantar Saat ini banyak jenis penghantar yang ada di pasaran. Dari harga yang termurah hingga yang berkualitas paling bagus yang berharga mahal. Dari berbagai jenis penghantar tersebut, tentunya teknik pemasangannya juga akan berbeda-beda. 1) NYA Merupakan penghantar berisolasi dengan jumlah penampang satu. Pemasangan kabel jenis ini harus terpasang di dalam pipa dan dengan rol isolator apabila pasangan menempel. 2) NYM Merupakan pengahantar berisolasi PVC dengan selubung luar juga dengan jenis PVC. Pengahntar jenis ini harus terpasang di dalam pipa ataupun menempel dengan klem. Jumlah penampang penghantar ini antara dua penampang hingga empat penampang.

3) NYY Merupakan jenis pengahantar Tanam. Baik tertanam di tanah maupun dalam plesteran. Mempunyai dua hingga empat penampang, dengan jenis isolasi PVC dengan selubung luar bejenis PVC juga. 4.4.2.2 Kapasitas Penghantar Dalam memasang sebuah penghantar dalam sebuah jaringan instalasi listrik, harap diperhatikan kapasitas gawai pengamannya. Karena sebuah penghantar mempunyai KHA maksimal yang bisa dilalui sebuah arus listrik. Disarankan kapasitas nominal arus sebuah pengaman penghantar, harus lebih kecil dari KHA penghantar tersebut. dengan tujuan untuk menghindari pemanasan penghantar karena arus yang berlebih. Dalam menetukan kapasitas penghantar dan pengaman yang dibutuhkan, sesuaikan dengan Tabel 4 di atas. 4.4.3 Armatur Instalasi Armatur instalasi atau biasa disebut material instalasi, atau juga ada yang menyebut aksesoris instalasi. Dalam pemasang-pamasang dilapangan juga harus sesuai dengan peraturan yang berlaku. Karena standar keamnanan tentang keselamatan bagi penggunanya harus yang diutamakan. 1) Saklar. Saklar berfungsi sebagai penyambung dan pemutus saluran atau sirkit listrik. Dalam memasang sebuah saklar, penempatannya harus mudah dijangkau. Polaritas sebuah saklar, bagian yang bergerak harus tidak bertegangan (PUIL, 2000). 2) Stop Kontak Sebuah stop kontak harus terpasang dengan penghantar proteksi. Polaritas sebuah stop kontak adalah harus dipasang sehingga kutub netralnya ada disebelah kanan atau di bawah kutub bertegangan. Pemasangan sebuah stop kontak, kurang dari 1,25 m di atas permukaan lantai harus jenis tertutup (PUIL, 2000). 3) Fitting Lampu Sebuah fiting lampu harus terpasang dengan baik pada tempat yang telah disediakan. Polaritas sebuh fiting lampu adalah, armatur penerang harus dihubungkan sedemikian rupa, sehingga semua kotak luar atau ulir dari fiting lampu tersambung dengan penghantar netral (PUIL, 2000). Sistem Penyambungan Seluruh titik sambungan pada instalasi tersebut, harus tersambung dalam kotak sambung (PUIL, 2000). Sistem Pengaman Sistem pengaman disini dimaksudkan sebagai pengaman arus bocor, yang selanjutnya arus tersebut di buang ke tanah melalui penghantar

pembumian. Setiap Stop Kontak dan bagian konduktif terbuka yang terbuat dari logam, harus dikebumikan melalui penghantar pembumian yang ada. 5. KESIMPULAN Dari pembahasan yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1) Pemasangan instalasi yang tidak sesuai dengan standar dan peraturan yang berlaku, dapat menimbulkan bahaya. 2) Salah satu pemicu kebakaran awal akibat listrik adalah terjadinya korona dan sparking dalam waktu relative lama. 3) Pemakaian penghantar sesuai dengan KHA dari penghantar tersebut, akan menjamin instalasi tersebut aman dioperasikan. DAFTAR PUSTAKA BSN. 2000. PERSYARATAN UMUM INSTALASI LISTRIK (PUIL) 2000. Jakarta : YAYASAN PUIL. Suryatmo. F. 2004. TEKNIK LISTRIK INSTALASI PENERANGAN. Jakarta : Rineka Cipta. Susiono, 2010. MODEL INSTALASI LISTRIK YANG DAPAT MENCEGAH BAHAYA KEBAKARAN PADA BANGUNAN. Teknologi Elektro, Vol. 9 No. 1 : Denpasar. - - -, 2010. DAFTAR MATERIAL WAJIB SNI. www.djlpe.com. Diakses hari Sabtu, 03 Desember 2010.

6. [1]

[2]

[3]

[4]

4.4.4

4.4.5