You are on page 1of 2

Senin, 26/09/2011 17:15 WIB Kolom Estafet Pelaku Bom Noor Huda Ismail - detikNews Jakarta - Bom bunuh

diri di depan GBIS pada tgl 25 September 2011 merupakan indikasi bahwa faksi radikal dalam bentuk sel-sel kecil tidak pernah mati. Mereka bertumbuh dan melakukan aksi seiring dengan momentum. Bisa dikatakan pula bahwa saat ini merupakan fase individual jihad yang bersifat leaderless (tanpa figur pemimpin yang kuat); anak-anak muda berlomba-lomba untuk berjihad dalam kapasitas sekecil apa pun. Karena injeksi pandangan jihad sebagai perang atau 'qital' sudah merasuk dan diyakini kebenarannya. Sehingga pada saat ada momentum, sistem 'pembalasan' langsung teraktivasi dengan otomatis. Fenomena 'leaderless jihad' ini semakin terlihat tatkala setiap kejadian bom atau aksi teroris, organisasi jihad seperti Jamaah Islamiyah (JI) dan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) selalu 'cuci tangan' dan menolak dikait-kaitkan dengan aksi-aksi itu. Ini merupakan bukti bahwa organisasi jihad tersebut tidak bisa diharapkan bagi faksi muda yang progresif untuk berjihad. Oleh karena itu, jaringan yang digunakan oleh kelompok ini adalah jaringan personal. Regenerasi teror dilakukan secara personal. Umumnya jaringan ini dipimpin oleh orang-orang muda yang progresif yang kecewa dengan sikap organisasi jihad sperti JI dan JAT yang menurut mereka tidak melakukan jihad. Sebagai contoh adalah Urwah, bernama asli Bagus Budi Pranoto merupakan pemuda progresif yang tidak punya tempat untuk berjihad melalui 2 organisasi tersebut diatas. Bahkan sempat dituduh sebagai intel Densus. Dijatuhi hukuman 3,5 tahun pada Mei 2005 atas aksinya dalam operasi pengeboman Kedutaan Australia. Setelah lepas dari penjara, dia bergabung dengan kelompok Noordin dan akhirnya tewas bersama Noordin di Jebres, Solo. Dalam pelatihan militer di Aceh awal tahun lalu beberapa unsur JAT juga 'main sendiri'. Ubed yang bergabung dengan kelompok Dulmatin dan juga Mustaqim diyakini bergerak bukan berdasarkan keputusan organisasi JAT. Kasus terakhir adalah kasus terorisme di pesantren Umar bin Khattab Kabupaten Bima NTB. Beberapa anggota JI di Bima keluar dari JI dan kemudian bergabung dengan JAT. Perpindahan dari JI ke JAT dengan harapan JAT memiliki program jihad qital. Karena bagi mereka yang pindah ke JAT,JI sudah tidak lagi memiliki program jihad. Mereka yang gabung ke JAT antara lain adalah Abrori, pimpinan pesantren UBK. Setelah setahun bergabung dengan JAT, ternyata mereka juga tidak menemukan program jihad di JAT. Akhirnya, kelompok Abrori bermain sendiri dan sempat ditegur oleh pimpinan JAT Bima karena sering melakukan hal di luar koordinasi program JAT.

Singkat cerita salah satu alumni santri UBK yang masih mengaji di pesantren, Saban Abdurahman melakukan aksi qital terhadap polisi. Saban kabarnya membunuh polisi karena sebagian dari dorongan ceramah Abrori. Setelah aksi qital itu, pihak pesantren menerima kabar polisi akan menyerang pesantren sebagai bentuk balasan dari kematian anggota polisi. Abrori kemudian mengundang teman-temanya datang ke pesantren untuk menjaga pesantren dan melawan polisi. Sebelum kabar kebenaran polisi menyerang pesantren. Bom yang kabarnya untuk melawan polisi sudah meledak. Karena itu banyak pengurus dan pengajar UBK ditangkap atas tuduhan teroris. Setelah itu, baik JI atau pun JAT dengan jelas menyatakan tidak terlibat dengan kasus Abrori. Jadi, mereka bermain sendiri itu selalu ada 'pemantiknya'. Untuk kasus bom di gereja Solo ini sangat kuat berkaitan dengan penyelesaian konflik di Ambon baru-baru ini. Bagi faksi ini, selalu muncul ketidakpuasan yang menganggap kelompok Islam sebagai korban. Mereka juga melihat tindakan pemerintah lambat dibandingkan dengan respon bom gereja di Solo ini. Hanya dalam waktu kurang dari 7 jam, semua jajaran bertindak cepat, mengecam dan mendeteksi pelaku dengan sangat mudah. Bandingkan dengan kasus Ambon yang sampai saat ini masih terkatungkatung. Sehingga menimbulkan spekulasi bahwa kasus Ambon merupakan permainan intelijen untuk memprovokasi para aktivis jihad untuk kembali bermain di sana. Fenomena jihad individu ini sebuah fakta juga bahwa faksi radikal ini membenci denial strategi (strategi penyangkalan) yang kerap dilakukan oleh jamaah-jamaah jihad yang ada setiap kali ada insiden terorisme. Jadi aksi-aksi kelompok radikal ini seperti antitesis dan ingin menunjukkan kepada jamaah jihad yang ada bahwa sebaiknya demikianlah jihad yang seharusnya dilakukan. Pengeboman dari faksi-faksi radikal ini seolah membawa pesan pada jamaah-jamaah jihad tersebut bahwa 'we did our part, where's yours?' *) Noor Huda Ismail adalah pengamat terorisme dan Ketua Yayasan Prasasti Perdamaian.
Sumber : http://www.detiknews.com/read/2011/09/26/171531/1730800/103/estafet-pelaku-bom