You are on page 1of 2

3.

000 Sarjana Mengajar di Daerah Terpencil


krj4 | Senin, 26 Desember 2011 | 22:13 WIB | Dibaca: 27 | Komentar: 0 Image: corbis.com

JAKARTA (KRjogja.com) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan mengirimkan 3.000 sarjana pendidikan untuk mengajar di daerah terpencil. Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ditjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud Supriadi Rustad mengatakan, program ini akan dijalankan selama lima tahun. Dan setiap tahunnya, akan dikirimkan 3.000 orang sarjana dari Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) ke daerah terpencil dan tertinggal. Supriadi menjelaskan, program ini untuk memenuhi terbatasnya guru di ketiga daerah tersebut yang tiap tahun memerlukan sekira 6.000 guru. Untuk menutupi kebutuhan itu, 3.000 guru akan dipasok melalui redistribusi guru dan 3.000 melalui program Sarjana Mendidik di Tiga daerah Terpencil, Terdepan, dan Terluar (SM3T). Program SM3T bukan program rekrutmen guru. Program ini untuk memberi kesempatan kepada mahasiswa LPTK sebelum mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk mengabdi sebagai guru, jelas Supriadi di Jakarta kemarin. Peserta program SM3T, ujarnya, akan mendapat subsidi untuk mengikuti PPG selama satu tahun dan diprioritaskan dalam pengangkatan sebagai guru. Sebab, seusai mengajar, mereka langsung mendapatkan sertifikat. Selama mengabdi, mereka juga akan mendapat gaji Rp2,5 juta per bulan dan asuransi. Sementara tempat tinggal akan disediakan oleh pemerintah daerah setempat, paparnya. Peminat program SM3T, menurut Supriadi, sangat besar. Sejauh ini ada sekira 7.000 pelamar dari seluruh LPTK di Indonesia. Karena banyaknya peminat, maka pemerintah akan melakukan proses seleksi ketat. Sebab, dibutuhkan guru yang mampu bertahan mengajar di daerah yang risikonya sangat tinggi itu, paparnya. Lebih lanjut Supriadi menjelaskan, pemerintah telah membuat program jangka panjang untuk menutupi kebutuhan guru di daerah terpencil. Program itu disebut Strategi Maju Bersama sejak 2011. Program ini memberi subsidi kepada lulusan SMA/SMK dari daerah terpencil untuk menempuh pendidikan di LPTK. Mahasiswa yang mendapat subsidi ini wajib kembali ke daerahnya untuk mengajar. Namun baru akan diperolehnya hasilnya pada tahun 2015. Itu sebabnya, pemenuhan kebutuhan guru sementara ini melalui program SM3T yang memasok 3.000 tenaga yang siap mendidik, paparnya. Program ini sebenarnya hampir sama dengan program yang digagas Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan dengan Indonesia Mengajar. Menurut Anies, Gerakan Indonesia Mengajar dikirim ke 14

provinsi yang memiliki daerah terpencil. Seperti di Kabupaten Bengkalis (Riau), Tulang Bawang Barat (Lampung), Paser (Kalimantan Timur), Majene (Sulawesi Barat), dan Halmahera (Maluku Utara). Anies menyebutkan, program Gerakan Indonesia Mengajar telah menjangkau 18.003 siswa yang tersebar di 117 desa, 14 kabupaten, dan 14 provinsi. Pengajar muda angkatan pertama sebanyak 123 orang telah habis masa tugasnya selama satu tahun. Mereka sudah kembali ke daerah asal masing-masing. Penggantinya, 47 pengajar muda telah berangkat menuju berbagai tempat terpencil di Indonesia pada 3 November lalu, jelas Anies. Mereka, ujarnya, berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia antara lain Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Menurut Anies, pengiriman tenaga pengajar muda dilakukan bergantian setiap tahun. Pengiriman dilakukan secara estafet atau diteruskan oleh angkatan berikutnya. Menurut dia, keberadaan pengajar muda itu berdampak positif untuk mengisi kekurangan guru SD di daerah setempat. Pendidikan di wilayah terpencil dan perbatasan memang menjadi fokus pembenahan Kemendikbud. Selain mengirimkan sarjana untuk mengajar, Kemendikbud juga sudah menjalin kerja sama dengan jajaran TNI yang bertugas di wilayah perbatasan. Disamping menjaga wilayah NKRI, anggota TNI nantinya juga akan diberi kesempatan untuk membantu mengajar di sekolah-sekolah setempat. Mabes TNI pun sudah menginstruksikan jajarannya untuk membantu Kemendikbud. (Okz/Git)