You are on page 1of 4

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

Komentar terhadap laporan keuangan pemerintah daerah kabupaten Way Kanan (belanja modal lebih besar dari operasi)
1. Format laporan Format yang dibuat oleh pemerintah kabupaten way kanan tidak sesuai dengan SAP. Dimana dapat dilihat format pada LRA Way Kanan :

Sedangkan format yang ditentukan oleh SAP adalah :

Dari dua hal diatas dapat disimpulkan format laporan realisasi anggaran Way Kanan tidak sesuai karena tidak mencantmkan realisasi tahun sebelumnya

2. Klasifikasi Belanja operasi


SAP mengelompok-kan Belanja Operasi menjadi dua yaitu Belanja Administrasi Umum dan Belanja Operasi dan Pemeliharaan. Setiap kelompok belanja tersebut terdiri dari Belanja Pegawai, Belanja Barang dan Jasa, Belanja Perjalanan Dinas, dan Belanja Pemeliharaan sebagaimana diilustrasikan pada skema IV. Setiap jenis belanja dari dua kelompok tersebut selanjutnya digabung untuk disajikan dalam Belanja Operasi. Namun, pada laporan yang didapat tidak terdapat pengklasifikasian belanja tersebut dan hanya memaparkan semuanya saja

3. Klasifikasi Belanja Modal

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK


Bersarkan SAP belanja modal dirinci sesuai dengan klasifikasi aset tetap di neraca, yaitu Belanja modal tanah, Belanja modal peralatan dan mesin, Belanja modal gedung dan bangunan, Belanja modal jalan, irigasi dan jaringan, Belanja modal aset tetap lainnya, dan Belanja modal aset lainnya. Namun, pada laporan tersebut tidak terdapat perincian daripada belanja modal. Klasifikasi demikian diperlukan untuk kontrol hubungan antar akun dalam laporan keuangan, khususnya akun belanja dan akun asset

4. Tingkat Realisasi Anggaran

Secara umum, tingkat realisasi anggaran pada kabupaten ini sudah dapat dikatakan sebagai keberhasilan dalam keuangan. Hal ini dapat dilihat dari sektor pendapatan dimana realisasi pendapatan asli daerah melebihi target sebesar
2,680,218,928.00

ditambah

realisasi belanja mampu dibawah dari anggaran. Karena hal tersebut, pemerintah telah melewati anggaran yang telah dibuat dan bahkan mampu mencapai nilai yang surplus sebesar
31,939,063,706.23.

5. Belanja pegawai yang tidak tertutupi pendapatan asli daerah Belanja pegawai dari kabupaen ini tergolong besar dengan nilai yang mencapai 56 milyar. Hal tersebut sangatlah tidak sebanding dengan pendapatan asli daerah kabuoaten tersebut yang hanya berjumlah 2 milyar. Fakta diatas mencerminkan tidak efektifnya penggunaan dana dari sisi belanja pegawai yang memang dipandang terlalu besar

6. Belanja operasi yang lebih kecil dari belanja modal

Belanja operasi yang ditunjukkan pada laporan realisasi anggaran kabupaten tersebut dapat dilihat lebih kecil daripada belanja modalnya. Hal ini menunjukkan tingkat focus pemerintah yang dalam proses pembangunan, namun tidak terdapatnya penjabaran dalam belanja modal menimbullkan kebingunan kemana alokasi biaya tersebut apakaj benar-benar

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK


untuk pembangunan daerah atau bukan. Namun hal itu setidaknya sudah menunjukkan tingkat perhatian pemerintah lebh kepada pembangunan daerah

7. Tidak ada anggaran untuk dana bantuan social, hibah, maupun subsidi Realisasi anggaran untuk dana bantuan social,hibah,mauoun subsidi daerah kabupaten Way kanan tersebut yang bernilai 0 merupakan suatu hal yang patut dipertanyakan. Nilai tersebut dinilai tidak wajar mengingat pada anggaran juga tidak ada,. Padahal alokasi dana tersebut juga dibutuhkan oleh masyarakat .walaupun memang dana bantuan sosial sangat dicurigai yang bias digunakan sebagai alat kampanye. Namun belum adahal tersebut pada tahun yang bersangkutan. Penggunaan dana ini memang harus diawai dengan kuat. Pemerintah daerah sebagai pihak yang bertanggungjawab tidak dapat merealisasikan hal ini begitu saja.

8. Realisasi pendapatan dari pajak dan retribusi daerah

realisasi pendapatan daerah dari pajak dan retribusiyang rendah memperlihatkan bagaimana daerah tidak baik dalam pengelolaan pajak tersebut. Hal tersebut seharusnya dapat diperbaiki mengingat di daerah-daerah lain tingkat penerimaan dari dua pos tersebut terus mengalami peningkatan 9. Sulitnya akses dalam memperoleh Laporan auditor independen Sulitnya akses dalam mendapatkan informasi mengenai hasil LKPD yang telah diaudit memang menjadikan tingkat pengawasan masyarakat terhadap pemerintah daerah menjadi menurun. Alasan dari belum dipublikasikannya LKPD tersebut tidak ada. Seharusnya masyarakat seharusnya dapat dengan cepat mendapatkan informasi mengenai LKPD tersebut ditambah lagi tidak semua LKPD terutama bagian kabupaten dapat diperoleh melalui jaringan internet. Dengan makin tingginya teknologi, seharusnya tingkat

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK


aksesbilitas juga naik sehingga tingkat pengawasan juga naik. Hal ini akan berdampak baik bagi semuanya