Вы находитесь на странице: 1из 2

Patofisiologi Terdapat banyak fakor resiko terjadinya solusio plasenta, sedangkan untuk faktor utamanya belum dketahui apa

penyebabnya. Beberapa faktor resiko yang terdapat pada solusio plasenta dan juga terdapat ada pasien ini adalah adanya hipertensi, riwayat solusio plasenta dan juga riwayat solusio plasenta. Selain dari faktor yang telah disebutkan, faktor koagulan dan juga riwayat kebiasaan seperti merokok dan konsumsi alkohol juga dapat menyebabkan solusio plasenta. Dari semua faktor resiko yang telah disebutkan, apabila terjadi pada wanita hamil maka hal tersebut akan menyebabkan implantasi dari plasenta kurang kuat. Dikarenakan implantasi tersebut kurang kuat, maka dapat terjadi perdarahan dalam desidua basalis. Perdarahan dalam janin tidak menimbulkan perdarahan dikarenakan terdapa tekanan dari plasenta. Apabila plasenta tersebut kurang kuat implantasinya, maka plasenta tersebut tidak dapat kuat menekan perdarahan yang umumnya memang terjadi. Perdarahan di dalam desidua basalis tersebut kemudian menjadi hematom dalam desidua yang mengangkat lapisan-lapisan diatasnya. Hematom ini semakin lama semakin membesar sehingga plasenta akhirnya terdesak dan terlepas. Jika perdarahan sedikit maka hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta, belum mengganggu peredaran darah antara uterus dan plasenta, sehingga tanda dan gejala pun tidak jelas. Perdarahan akan terjadi terus menerus karena otot uterus yang teregang oleh kehamilan tidak mampu untuk berkontraksi lebih untuk menghentikan perdarahan karena masih terdapat hasil konsepsi didalam. Darah dapat merembes ke pinggiran membran dan keluar dari uterus maka terjadilah perdarahan ang keluar (revealed hemorrhage) atau terjadi efusi darah dibelakang plasenta dengan tepi yang masih utuh ( concealed hemorrhage). Apabila hematom retroplasenta (dibelakang plasenta) terus membesar dikarenakan tidak ada yang dapat mengehentikan perdarahan maka hematom retroplasenta tersebut dapat menyebabkan plasenta terlepas sebagian ataupun seluruhnya. Sebagian dari perdarahan ada yang keluar melalui vagina yang menimbulkan perdarahan pervaginam atau juga ada yang menembus selaput amnion dan menembus kantong amnion atau juga mengadakan ekstravasasi dintara serabut-serabut uterus. Ekstravasasi tersebut menyebabkan uterus menjadi tegang dan nyeri. Akibat adanya kerusakan jaringan miometrium dan hematom retroplasenta, banyak tromboplastin akan masuk kedalam peredaran darah ibu, sehingga terjadi pembekuan intravaskular dimana-mana, hal tersebut menyebabkan persediaan fibrinogen dari ibu menjadi habis. Akibatnya terjadi hipofibrinogenimia yang menyebabkan gangguan pembekuan darah Pada uterus maupun alat tubuh lainnya. Akibat terjadinya perdarahan tersebut, maka akan

menimbulkan beberapa gejala klinis seperti anemia, walaupun dari anamnesis didapatka keluhan perdarahan yang keluar hanya sedikit, tetapi kita tidak menutup kemungkinan bahwa terjadi perdarahan yang sangat banyak yang tersembunyi didalam uterus. Karena perdarahan yang sangat banyak dapat menyebabkan uterus menjadi tegang dan juga nyeri. Dari perdarahan juga dapat menyebabkan adanya keluhan pusing karena kurangnya perfusi Oksigen ke otak. selain perfusi ke otak dan organ yang lainnya menurun, terjadi juga penurunan perfusi darah ke perifer, maka dari itu dari gejala klinis adanya tampak pucat. Apabila perdarahan semakin banyak dan mendesak uterus, maka bisa didapatkan tinggi fundus uteri yang lebih besar dari normal. Pembesaran dari uterus tersebut dapat mendesak organ di kavum abdomen, salah satunya gaster. Apabila ada penekanan pada gaster maka dapat menimbulkan gejala klinis mual mutah. Selain penekanan pada gaster, juga terdapat penekanan pada vena di bagian ektremitas. Pada umunya, memasuki kehamilan diatas 30 mingu dapat menyebabkan adanya edema pada tungkai dikarenakan adanya kongesti vena di tungkai oleh pembesaran uterus yang berisikan janin. Tetapi pada kasus ini, kemungkinan patologis terjadinya edema adalah dikarenakan terganggunya juga perfusi di ginjal akibat perdarahan yang banyak dan juga pembekuan intravaskular. Hal tersebut dapat menyebabkan nekrosis pada tubuli ginjal yang mendadak dan menyebabkan adanya proteinuria. Proteinuria dapat menyebabkan adanya hipoalbuminemia yang menyebabkan penurunan tekanan onkotik. Penurunan tekanan onkotik dapat menyebabkan perpindahan cairan dari intravaskular ke interstisium dan hal tersebut dapat menyebabkan edema. Maka dari itu kita tidak dapat menutup kemungkinan sudah terjadinya proteinuria pada pasien ini dan harus dipantau dengan pemeriksaan laboratorium. Dari gejala-gejala yang dialami pasien, ada kemungkinan juga pasien mengarah kepada preeklamsia, jadi hal tersebut harus diwaspadai.

Shad H Deering, MD, Abruptio Placentae .http://emedicine.medscape.com/article/252810overview . accesed on July 04,2012