You are on page 1of 33

AKTUALISASI HUMANISME RELIGIUS MENUJU HUMANISME SPIRITUAL (Perspektif Filsafat Agama) Oleh: Husna Amin ABSTRAK Pemahaman atas

nilai universal eksistensi manusia yang tidak berbeda secara individual, merupakan sikap humanistis yang menjadi spirit gerakan keagamaan dan kefilsafatan. Humanisme lahir dalam spektrum pemikiran modern, justru memperjuangkan nilai-nilai ini. Namun dalam perkembangannya, ajaran humanitas ini berimplikasi negatif di samping memberikan hal-hal positif bagi semangat kemanusiaan, khususnya bagi pengembangan bidang kefilsafatan dan keagamaan. Dibelakang dua ranah ini, harus diakui bahwa baik filsafat maupun agama, pada dasarnya bergerak dan berkembang dalam satu tujuan, yaitu memperjuangkan serta mempertahankan tatanan kehidupan yang manusiawi. Keduanya tidak akan bermakna, jika tidak merpertimbangkan nilai humanitas. Humanisme religius merupakan jembatan filosofis yang menentukan jalan hidup yang ditempuh manusia bersifat objektif, rasional, etis dan religius. Kebebasan manusia merupakan tema sentral humanisme religius, tetapi kebebasan yang diperjuangkan bukanlah kebebasan yang absolut atau antitesis abad pertengahan yang notabene dianggap tidak seimbang antara kepentingan agama dan kepentingan kemanusiaan. Keseluruhan jiwa manusia yang memancarkan kebebasan, tidak dapat dipisahkan dari dimensi etis individualis manusia dalam ruang (alam) dan waktu (sejarah), sebagai satu kesatuan eksistensial. Manusia adalah pusat realitas, sehingga segala sesuatu harus dikembalikan kepadanya dan fenomena manusiawi tidak dibenarkan adanya interpretasi atas fenomena yang menempatkan manusia sebagai entitas-entitas marginal. Tulisan ini merupakan kajian ulang tentang humanisme religius yang kini dirasakan telah terkikis dari kehidupan manusia. Melalui pendekatan Filsafat Agama, diharapkan kajian ini dapat dijadikan sebagai alternatif pemikiran bagi upaya aktualisasi humanisme religius menuju humanisme spiritual. Hanya dengan kesadaran akan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan universal, kesadaran religius dan spiritual mumat beragama dapat dipertahankan. Key world: Filsafat, Agama dan Humanisme

A.

Pendahuluan Istilah humanisme bersal dari bahasa Inggris (humanism), yang menganggap bahwa individu rasional sebagai nilai tertinggi dan sumber nilai terakhir, serta mengabdi pada pemupukan perkembangan kreatif dan perkembangan moral individu secara rasional tanpa acuan konsep yang adikodrati.1 Secara umum, istilah humanisme dipahami sebagai sutau ajaran yang tidak menggantungkan diri pada doktrin-doktrin yang tidak memberikan kebebasan kepada individu. Doktrin-doktrin yang bersifat otiritatif sangat bertentangan dengan prinsip dasar humanisme religius, yang senantiasa memberikan kebebasan kepada setiap individu dalam menentukan pilihan hidup, baik dalam beragama, berperdapat maupun dalam menuntut haknya, tetapi nilai-nilai dasar kemanusiaan dan hak-hak orang lain tetap diperhatikan. Kalangan humanisme religius meyakini bahwa manusia memiliki sifat dasar yang telah dianugerahkan Tuhan untuk mengembangkan segala potensinya. Dalam diri manusia terdapat dua naluri, naluri alamiah dan naluri ketuhanan. Keduanya saling mengisi dan tidak bertentangan, meskipun mengandung kontradiksi, dan kadangkala manusia bertindak menentang dan berlawan dengan sunnatullah yang mengandung keseimbangan di dalamnya. Humanisme religius, bukan hanya sekedar sebuah aliran dalam Filsafat Agama, tetapi menyentuh berbagai bidang lain yang terkait erat dengan kepentingan kemanusiaan, seperti ekonomi, pendidikan, politik dan pendidikan. Humanisme religius disebut juga humanisme Islam. Penisbahan sebutan tersebut berkaitan dengan karakter berpikir yang dihasilkan oleh pemikir muslim Ibn Maskawaih dengan beberapa temannya, Abu Hayyan al-Tauhidi, Abu Sulaiman al-Sijistani dll), yang agak jauh lebih berani dan terus terang dibandingkan dengan para pemikir sebelum dan sesudahnya.2
Boisard,3 Makdisi,4 Goodman,5 dan beberapa sarjana modern lainnya, mengatakan bahwa apa yang dipublikasikan para penulis Muslim dalam berbagai karyanya berkaitan erat dengan istilah humanitas atau humanisme Islam, dan telah menjadikan kata humanisme sebagai sebuah kata yang tak asing dalam sains modern dan Islam. Menurut Remigio, kata ini pertama kali digunakan dalam bahasa latin untuk merujuk para pemikir, filsuf, ilmuwan, dan seniman
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000), 295 Oliver, Humanism Islam Abad ke-4H/ke-10M dalam Seyyed Hossein Nasr & Oliver Leaman (editor), Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, (Bandung: Mizan, 2003), 194
2 3 1

Marcel A. Boisard. Humanism in Islam. (Indianapolis: American Trust Publications, 1988), hal. 37)

George Makdisi. The Rise of Humanism in Classical Islam and the Christian West: With Special Reference to Scholasticism. (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1990), hal. 157
5

Lenn Evan Goodman. Islamic Humanism. (New York: Oxford University Press, 2003), hal. 102

yang hidup pada masa-masa awal zaman kelahiran kembali (renaissance).6 Istilah humanisme dalam bahasa Eropa, (Inggris: humanism) mermiliki makna yang sama dengan istilah insaniyah yang digunakan dalam bahasa Arab7. Islam sendiri tidak mempunyai sebutan khusus untuk menamakan fenomena massif pemuliaan manusia dan pembudidayaan ilmu pengetahuan itu.

Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, orang-orang Romawi sudah memakai kata humanitas untuk menunjukkan pada cita-cita yang mengusahakan pengembangan tertinggi etika cultural kekuatan-kekuatan manusia dalam bentuk yang secara estetik sempurna, bersama dengan sikap baik hati demi mempertahankan nilai kemanusiaan. Tokoh populernya adalah Cicero. Cita-cita humanisme pada zaman ini berkembang dalam mazhab Stoa. Stoa merupakan etika filosofis pertama yang secara konsekuen meyakini dan meminati kesamaan derajat semua orang. Stoa mengajarkan bahwa siapapun yang namanya manusia, hendaknya bersikap baik hati. Etika kosmopolistis mengatasi segala batasan dan merangkul seluruh umat manusia. Inilah ajaran humanisme Stoa untuk pertama kalinya merumuskan cita-cita negara sedunia dan persaudaraan universal. Kebebasan merupakan tema pokok humanisme, tetapi kebebasan yang diperjuangkan bukanlah kebebasan yang absolut atau antitesis abad pertengahan. Kebebasan yang diperjuangkan adalah kebebasan yang berkarakter manusiawi, sehingga dapat hidup dan berkembang dalam berbagai dimensi. Semangat menjunjung tinggi nilai dan martabat kemanusiaan, disertai dengan kesadaran bahwa mereka tidak mungkin menolak keluhuran dan kekuasaan Tuhan, merupakan unsur fundamental tegaknya humanisme religius dalam Islam.
Banyak kajian yang telah dilakukan para ahli tentang konsep humanisme, termasuk humanisme dalam Islam. Pada umumnya kajian tersebut berbicara tentang historisitas munculnya, perkembangan dan karakteristik konsep humanisme, baik di Timur maupun di Barat. Titik tekannya lebih kepada dimensi teoritis dan kurang menyentuh dimensi praktisnya, konon lagi berbicara tentang humanisme dalam kaitannya dengan sikap dan kesadaran keagamaan. Penelitian ini lebih menekankan kepada bentuk humanisme yang berkaitan dengan dimensi religius spiritual manusia dengan menggunakan perspektif Filsafat Agama, karena Filsafat Agama mengindikasikan adanya the trancendent unity of religion dalam bangunan epistemologinya.8
Kata humanism dan derivasinya yang digunakan dalam bahasa Inggris adalah terjemahan dari kata umanista (Latin) dan umanesimo (Italia). Lebih jauh tentang asal-usul istilah ini, lihat artikel Augusto Campana. The Origin of the Word Humanist, Journal of the Warburg and Courtauld Institutes, Vol. 9, (1946), hal. 60
7 6

Frithjof Schuon, The Trancendent Unity of Religions, (New York: Evanston, 1975), hal. xxvii

Konsep humanisme dalam perspektif Filsafat Agama merupakan suatu cabang etika yang lahir pada awal abad ke-16, bertepatan dengan lahirnya gerakan reformasi di dunia Kristen. Awal kebangkitan humanisme diwarnai oleh gagasan tentang kebebasan manusia sebagai individu untuk menentukan nasibnya sendiri, yang dikemukakan oleh Eramus. Gagasan yang tampak dari luar meanstrem ini kemudian banyak dikritik oleh para teolog dikalangan Kristen sendiri, termasuk Martin Luther sebagai tokoh pembaharu Kristen. Ia mengkritik keras gagasan Eramus yang menurutnya telah mereduksi Jesus Christus sekedar menjadi model perilaku ideal yang memiliki ketinggian etik.9

Tulisan ini ingin mengkaji lebih lanjut tentang signifikansi Filsafat Agama bagi aktualisasi humanisme religius menuju humanisme spiritual. Perspektif Filsafat Agama memandang bahwa nilai universal kemanusiaan merupakan penentu arah kehidupan yang lebih baik, adil dan maslahah. Keadilan Tuhan yang tertuang dalam kebebasan yang telah dianugerahkan kepada manusia tidak menghalangi Tuhan untuk berkehendak sesuai dengan kekuasaannya. Ini merupakan konsekuensi logis mengapa setiap individu harus mendapatkan hak dan kebebasannya sesuai dengan ketentuan yang diatur Tuhan dalam agama. B. Pembahasan
1. Pengertian Humanisme Humanisme berasal dari Barat dan mengalami perkembangan dalam lingkungan pemikiran Filsafat Barat. Karena itu, untuk mengkaji dan menganalisis gerakan humanisme beserta pengaruhnya pada dasar-dasar epistemologi Barat, sudah seharusnya merujuk ke berbagai ensiklopedia Barat yang akurat agar kajian bisa dilakukan secara ilmiah dan bebas dari berbagai kecenderungan subyektif. Encyclopedia of Philoshopy karya Paul Edward, menjelaskan bahwa humanisme adalah sebuah gerakan filsafat yang dilakukan pertama sekali oleh para humanis Italia, pada paruh kedua abad ke-14. Gerakan ini menjadi salah satu faktor munculnya peradaban baru yang membawa perubahan di Eropa. Humanisme di Barat adalah paham filsafat yang menjunjung tinggi nilai dan kedudukan manusia dan menganggap bahwa individu rasional sebagai nilai tertinggi dan sumber nilai terakhir, serta mengabdi pada perkembangan kreatif moral individu secara rasional tanpa acuan konsep yang adikodrati (supranatural-di luar kodrat alamiah), dan menjadikannya sebagai kriteria segala sesuatu. Humanisme menjadikan tabiat manusia beserta batas-batas dan kecenderungan alamiahnya sebagai obyek.10
Abu Hatsin, dalam Kata Pengantar buku Islam dan Humanisme, Aktualisasi Humanisme Islam Ditengah Krisis Humanisme Universal, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hal. v 10 Lee C. Deighton, The Ensiclopedia of Education, (Macmillan: The Macmillan Company and Free Press, 1971), hal. 518,
9

Pada awalnya, humanisme hanya merupakan sebuah konsep monumental yang menjadi aspek fundamental bagi Renaisans, yaitu aspek yang di jadikan para pemikir sebagai pegangan untuk mempelajari kesempurnaan manusia di alam natural dan di dalam sejarah, sekaligus menggali interpretasi manusia tentang ini. Istilah humanisme dalam pengertian ini adalah derivasi dari kata-kata humanitas, yang pada zaman Cicero dan Varro dipahami sebagai pengajaran masalah kebudayaan dalam kehidupan manusia.11 Sementara F. Budi Hardiman mensinyalir bahwa humanisme pada awal kemunculannya yang digagas oleh para humanis Italia - merupakan jargon yang sejajar dengan artista (seniman) atau iurista (ahli hukum). Humanisme merupakan guru atau murid yang mempelajari kebudayaan seperti gramatika, retorika, sejarah, seni puisi atau filsafat moral. Pelajaran inilah dalam nomenklatur humanisme dikenal dengan sebutan studia humanitatis. Atas dasar ini pada zaman renaisanse, ilmu-ilmu tersebut memiliki kedudukan yang sangat penting. Dan hal ini pula yang menjadikan kaum humanis memiliki kedudukan yang cukup terpandang dalam komunitas masyarakat.12 Penganut humanisme sejati adalah yang berusaha mencari dasar baru bagi hukum alam dalam diri manusia sendiri. Menurutnya, manusia dapat menyusun dasar hukum alam dengan menggunakan prinsip-prinsip a priori yang dapat diterima secara umum. Hukum alam adalah hukum yang berlaku secara real.13 Apa yang dilakukan oleh kaum humanis tidak hanya sekedar melahirkan kembali kultur atau warisan tradisional dalam hukum moral universal, tetapi mereka mengolahnya dengan melakukan reinterpretasi yang melibatkan dimensi kemanusiaan, yang dalam pandangan mereka sangat mungkin untuk dilakukan, termasuk menafsirkan tradisi dan doktrin agama sesuai dengan kebutuhan dan keutuhan nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini sangat relevan dengan apa yang diajarkan dalam Islam. Menurut Hasan Hanafi, esensi agama Islam adalah basis bagi sifat dan nilai kemanusiaan universal (humanisme universal) dan basis bagi bangunan etika. Islam juga merupakan agama final, penyempurna dari perjalanan wahyu dalam sejarah, mulai dari Adam sampai Isa. Esensi wahyu sudah dideklarasikan dalam Islam, yakni transendensi Tuhan, yang diimplementasikan dalam sejarah oleh pengalaman manusia. Setiap tahapan pewahyuan memiliki tujuan yang sama, yakni membebaskan kesadaran manusia dari segala bentuk penindasan, sehingga mampu menangkap nilai transendensi Tuhan, yakni bergabungnya semua manusia dalam Satu Prinsip Universal.14 Kata humanisme juga memiliki arti ganda. Di satu sisi, merupakan gerakan untuk menghidupkan ilmu-ilmu kemanusiaan atau biasa disebut humaniora. Pada sisi lain, merupakan sebuah gerakan filsafat yang menekankan sentralitas manusia. Dalam pengertian pertama,
11 12

Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000), hal. 295. F. Budi Hardiman, Para Filsuf Penentu Gerak Zaman, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hal. 9 13 Abu Hatsin, dalam Kata Pengantar Buku Islam..., hal. vi 14 Hasan Hanafi dkk., Etika Global dan Solidaritas Kemanusiaan (Jakarta: 2007), hal. 2-3.

Humanisme adalah sebuah upaya untuk menghidupkan kembali karya-karya klasik, khususnya karya-karya Yunani. Humanisme berusaha melampaui semangat abad pertengahan yang lebih banyak berfokus pada teologi dan metafisika. Karya-karya sastra yang tak mendapatkan perhatian selama abad kegelapan, dihidupkan dan digeluti dengan penuh gelora. Surat-surat Cicero dan naskah-naskah pidato yang tak pernah digubris para filsuf Kristen sebelumnya, diterbitkan kembali dan dipelajari secara serius. Humanisme dalam pengertian yang pertama ini mengalami puncak ekspresinya pada pertangahan abad ke-15, ketika sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Eropa mewajibkan mata kuliah studia humanitas yang terdiri dari tatabahasa, retorika, puisi, sejarah, dan filsafat moral.15 Dalam pengertiannya yang kedua, humanisme adalah sebuah bentuk protes terhadap elitisme filsafat yang hanya peduli pada tema-tema abstrak yang tak punya dampak langsung kepada masyarakat. Kaum humanis mengkritik para filsuf yang cenderung mengabaikan persoalan-persoalan nyata yang dihadapi manusia. Bagi mereka, tugas ilmuwan bukan hanya duduk manis di menara gading, tapi juga harus memiliki semangat aktivisme. Dan intelektual sejati adalah orang yang bisa menggabungkan antara kontemplasi dan aksi. Pada tahap perkembangan selanjutnya, humanisme dalam pengertian kedua menjadi sebuah gerakan pemikiran filsafat yang anti terhadap berbagai bentuk absolutisme, khususnya menyangkut agama dan politik. Humanisme adalah perjuangan untuk menegaskan sentralitas manusia, bahwa manusia adalah makhluk bebas yang bisa mengatur, mengontrol, dan menentukan nasibnya sendiri. Berbeda dari keyakinan abad pertengahan yang menekankan peran Tuhan, kaum humanis menolak segala bentuk supernatural dan menganggapnya sebagai mitos. Dalam pandangan mereka, manusia adalah produk evolusi alamiah, akal pikiran tak bisa dipisah-pisahkan dari fungsi otak, dan tidak ada kelanjutan kesadaran setelah manusia mati. Manusia memiliki kekuatan dan potensi untuk mengatasi persoalan-persoalannya sendiri, dengan terutama berpegang pada akal dan metode ilmiah yang digunakan secara berani dan bertanggung jawab. Kaum humanis juga menolak segala bentuk determinisme dan fatalisme. Manusia adalah makhluk bebas yang bisa memilih apa saja yang dia suka. Manusia adalah penentu nasibnya sendiri.16 Pada tahun 1933, sejumlah intelektual, sarjana, dan aktivis di Amerika membuat sebuah pernyataan bersama yang dikenal sebagai Manifesto Kaum Humanis (Humanist Manifesto). Manifesto yang berisi 15 butir ini kemudian diterbitkan oleh jurnal The New Humanist, (Vol. VI, No. 3, 1933).17 Dalam pengertiannya yang kedua juga telah menunjukkan perbedaan mendasar
Paul F. Grendler. Humanism: Ancient Learning, Criticism, Schools and Universities, dalam Angelo Mazzocco: Interpretations of Renaissance Humanism. Leiden; Boston: Brill, 2006., hal. 79.
Corliss Lamont. The Philosophy of Humanism. New York: Humanist Press, 1997, hal. 13-14. Pada tahun 1973, Manifesto ini diperbaharui dan ditambahkan beberapa butir baru yang lebih detil. Manifesto ini diterbitkan dalam jurnal The Humanist (September/October 1973).
17
16

15

antara gerakan humanisme di dunia Islam dan di Barat. Di dunia Islam, gerakan humanisme merupakan konsekuensi dan perluasan dari institusi-institusi penyebaran agama, sementara di Barat (Eropa), humanisme justru merupakan perlawanan dari lembaga-lembaga semacam itu. Penggunaan kata manusia pada humanisme (umanesimo) menunjukkan karakternya sendiri yang unik. Humanisme adalah gerakan pemberdayaan peran dan status manusia yang sebelumnya terpinggirkan. Sebelum abad ke-15, bangsa Eropa hidup dalam era kegelapan (dark ages). Istilah medieval yang digunakan untuk merujuk zaman itu tak hanya diartikan sebagai abad pertangahan, tetapi juga dimaknai sebagai mentalitas kolot di mana iman dan dogma menguasai manusia. Abad pertengahan, memandang bahwa eksistensi manusia di dunia pada dasarnya untuk melayani Tuhan. Tugas penting mereka adalah menyiapkan diri sebaik-baiknya (dengan berbuat amal saleh) demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik di akhirat nanti. Begitu sentralnya peran Tuhan, sehingga manusia sesungguhnya tidak memiliki pilihan. Semua nasib, masa depan, dan peruntungan mereka sudah ditulis dan ditakdirkan sejak sebelum lahir. Manusia juga tidak memiliki kebebasan, karena selain dikekang oleh penguasa politik yang despotis, mereka juga diikat oleh teosentrisme lewat kuasa agama dan agen-agen Gereja. Humanisme dalam perkembangan selanjutnya lebih dikenal sebagai sebuah gerakan untuk melawan semua kondisi keterkalahan itu. Humanisme berupaya mendorong posisi manusia ke pusat perhatian sambil meminggirkan peran Tuhan dan metafisika yang sebelumnya sangat dominan.

Ada yang menganggap bahwa humanisme menekankan pada individu rasional sebagai nilai paling tinggi dan sumber nilai terakhir tanpa harus terkait kepada agama tertentu. Terkadang juga humanisme secara simple dimaknai sebagai terma bahwa manusia dapat menggali ajaran-ajaran budi pekerti dari renungan rasional tanpa harus merujuk atau mengikat diri pada agama tertentu. Penafsiran-penafsiran seperti inilah kemudian muncul kekhawatiran adanya gerakan yang meyerukan kembalinya manusia kepada penemuan dirinya yang bebas melakukan segala hal tanpa terikat dengan agama apapun. Pandangan seperti inilah yang kerap kali menghambat lajunya humanisme religius sebagai sebuah tata nilai yang inheren dalam rahim agama. 2. Dasar-Dasar Teoretis Humanisme Religius dan Humanisme Spiritual Sejarah pembebasan dan penyelamatan kemanusiaan yang notabene dikenal dengan istilah humanitas merupakan inti dari kehadiran agama. Aksioma ini bisa dijadikan sebagai

sandaran dalam menafsirkan ajaran-ajaran agama yang berpihak kepada kesamaan, kebebasan, kemerdekaan dan sejarah yang senantiasa berjalan dialektis. Umat beragama harus terus menerus menjadikan semangat pencarian humanitas dalam tradisi agama sebagai porses tiada henti. Secara umum, di dalam Islam humanisme dipahami sebagai suatu konsep dasar kemanusiaan yang tidak berdiri dalam posisi bebas. Ini mengandung pengertian bahwa makna atau penjabaran arti memanusiakan manusia itu harus selalu terkait secara teologis. Dalam konteks ini kehadiran Filsafat Agama menjadi penting, sebab bidang ilmu filsafat ini menempatkan manusia pada aspek intelektual dan spiritual. Filsafat Agama memandang bahwa manusia memiliki kapasitas intelektual untuk menentukan pilihan. Karena itu, kebebasan merupakan pemberian Tuhan yang paling penting dalam upaya mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan dengan menjunjung tinggi dimensi etis dan humanis yang terkandung di dalam agama dan ilmu.
Humanisme sebenarnya tidak menggantungkan diri pada doktrin-doktrin agama yang tidak memberikan kebebasan kepada individu. Doktrin-doktrin yang bersifat otoritatif sangat bertentangan dengan prinsip humanisme dalam Islam yang memberikan kebebasan kepada setiap individu, baik dalam berpendapat maupun dalam menuntut hak-haknya, dengan tetap memperhatikan nilai-nilai dasar kemanusiaan dan hak orang lain. Kalangan humanis Islam juga meyakini bahwa manusia memiliki sifat dasar yang telah dianugerahkan Tuhan untuk mengembangkan segala potensinya. Dalam diri manusia terdapat dua naluri, naluri alamiah dan naluri ketuhanan, kedua naluri ini mendasari manusia untuk bertindak kadang seimbang, kadang pula bertentangan antara satu dengan lainnya. Di samping itu manusia juga dianugerahi kekuatan-kekuatan dan fungsi-fungsinya yang unik, baik secara fisik maupun mental spiritualnya.18 Bagi para humanis Muslim, Tuhan dan metafisika selalu menempati posisi sentral dan berjalan seiring dengan tema-tema pengetahuan dan obyek penelitian yang mereka geluti. Kaum Muslim juga tak merasakan adanya peminggiran status dan peran manusia seperti yang dialami kaum humanis di Eropa. Salah satu tokoh humanis awal, Muhammad bin Idris al-Syafii adalah seorang sarjana yang sangat individualistik, tapi sekaligus menjadi pelayan agama yang sangat loyal. Begitu juga tokoh humanis terakhir pada masa keemasan Islam, Ibnu Rushd (Averroes, w. 1198) adalah seorang filsuf sangat rasional yang tak pernah meninggalkan jubah agamanya. Benar, bahwa pernah muncul isu predeterminisme pada masa-masa awal sejarah Islam. Tapi,

18

Lee C. Dighton, The Enciclopedia, hal. 519

sama sekali tidak ada pandangan tunggal dalam menyikapi isu tersebut. Para sarjana Muslim menghadapinya secara beragam, sehingga kemudian memunculkan tiga mazhab besar dalam Islam, yakni Jabariyah (pendukung kemahakuasaan Tuhan), Qadariyah (pendukung kebebasan manusia), dan Asyariyah (mengkombinasikan keduanya). Berbeda dari kaum humanis di Eropa, para sarjana Muslim tidak punya masalah dengan posisi manusia dalam berhadapan dengan Tuhan maupun kekuasaan. Tuhan dan kekuasaan adalah dua entitas yang selalu akrab dengan mereka. Ateisme adalah gagasan yang asing bagi para filsuf dan sarjana Muslim Perrtengahan. Begitu juga, melawan pemerintah merupakan sesuatu yang absurd yang tak pernah terbersit di benak mereka yang sebagian besar hidup di lingkungan istana. Bagi para filsuf dan pemikir agama ketika itu, kemajuan pengetahuan bukan dengan cara memusuhi agama dan penguasa, tapi justru dengan cara mendekati dan memberdayakannya. Mungkin karena perbedaan dalam mempersepsi posisi Tuhan dan manusia inilah, humanisme dalam Islam berkembang dan memiliki latar belakang historis yang agak berbeda dari pengalaman Eropa. Jika gerakan humanisme di Eropa menghasilkan sebuah disiplin ilmu yang disebut studia humanitatis, gerakan humanisme Islam melahirkan apa yang George Makdisi sebut sebagai studia adabia. Adab secara harfiah berarti disiplin atau etika. Dalam bahasa Arab modern, adab biasa diartikan sebagai sastra. Fakultas-fakultas Sastra di dunia Arab biasanya disebut sebagai kuliyat al-adab. Namun dalam pengertian yang berkembang pada masa-masa awal Islam, adab lebih dari sekadar sastra, ia meliputi kegiatan ilmiah yang terkait dengan tata bahasa, puisi, retorika, sejarah, dan filsafat moral (akhlaq).19 Pada tahap perkembangan selanjutnya humanisme sebagai gerakan filsafat mendapat perhatian cukup besar dalam dua disiplin ilmu, yakni Teologi dan Filsafat.20 Sebagian literatur yang ada, khususnya buku-buku tentang etika dan moral, juga memuat pembahasan tentang manusia, meskipun uraiannya tidak terlalu detil. Sebagian cabang ilmu-ilmu agama juga memuat pembahasan tentang manusia, kendati dari perspektif yang berbeda dari filsafat humanisme yang dipahami secara umum. Disiplin agama yang membahas manusia dari sudut pandang humanisme adalah Filsafat Agama dan Ushul Fikih. Kendati Ushul Fikih sebenarnya adalah ilmu yang mengulas tentang metodologi pengambilan hukum Islam, tetapi Ushul Fikih memiliki landasan filosofis tentang hukum dan

George A. Makdisi. Cita Humanisme Islam: Panorama Kebangkitan Intelektual dan Budaya Islam dan Pengaruhnya terhadap Renaisans Barat, Jakarta: Serambi, 2005, hal. 140
Dalam hal ini, pemikiran-pemikiran para Sufi besar seperti al-Jilli, Ibn Arabi, dan Jalal al-Din Rumi bisa dikatagorikan sebagai bagian dari tradisi filsafat humanis.
20

19

10

bagaimana manusia memainkan perannya dalam pembentukan hukum dan aturan. Demikian juga Filsafat Agama, sekalipun bersifat umum dan abstrak, namun fokus kajiannya selalu tidak terlepas dari nilai-nilai universal agama dan religiusitas manusia secara filosofis dan metafisik. Tujuan hukum atau agama pada dasarnya adalah untuk memuliakan dan mengutamakan kebaikan manusia (maslahah). Dalam semangat ini, manusia ditempatkan sebagai unsur penting yang tak hanya sebagai obyek hukum, tapi juga sebagai pembuat dan penentu aturan. Perhatian pertama tentang betapa pentingnya kedudukan manusia barangkali dimulai ketika munculnya perdebatan tentang kebebasan manusia dan kehendak muthlak Tuhan atasnya. Perlu disadari betapa pentingnya akal pikiran dalam memahami makna kebebasan yang diberikan Tuhan pada manusia. Kebebasan adalah kunci bagi tanggungjawab manusia di dunia ini, dan alasan untuk meyakini keadilan Tuhan. Tanggungjawab manusia hanya bisa dimungkinkan jika mereka memiliki kehendak bebas. Eskatologi menurut perspektif Filsafat Agama hanya bisa bermakna jika manusia sepenuhnya bertanggungjawab atas apa yang dia lakukan. 21 Manusia bukanlah mesin atau robot yang sepenuhnya sudah didesain dan diatur oleh Tuhan, sehingga apa yang diyakini kaum Qadariyah menjadi objektif, bahwa nasib dan masa depan manusia terletak di tangan manusia sendiri, dan bukan pada Tuhan maupun kekuatan-kekuatan metafisis lainnya. Harus dipahami di sini bahwa wacana tentang kebebasan dalam Islam berbeda dari diskursus serupa yang berkembang di dunia Barat modern. Di dunia Islam, kebebasan adalah respon terhadap pertanyaan apakah manusia bebas dari campur tangan Tuhan. Jawaban atas pertanyaan ini memunculkan persoalan kebebasan berkehendak (free-will) dan ketidakbebasan (predeterminism). Sementara di dunia Barat modern, kebebasan adalah respon terhadap pertanyaan apakah manusia bebas dari intervensi negara dan dari manusia lain. Jawaban atas pertanyaan ini memunculkan dua konsep tentang kebebasan yang dalam filsafat politik dikenal dengan kebebasan positif dan kebebasan negatif. Kebebasan positif adalah kebebasan yang memungkinkan keinginan-keinginan seseorang tercapai.22 Sementara kebebasan negatif adalah kemungkinan bagi manusia untuk menghindar dari apa yang tidak diinginkannya.23 Para filsuf Muslim memandang manusia sebagai ukuran bagi semua hal, persis seperti yang dikatakan kaum Sofis Yunani beberapa abad sebelumnya. Abd al-Karim al-Jilli menganggapnya sebagai makhluk sempurna, sementara Ibn Arabi memandangnya sebagai pusat alam raya. Berbeda dengan teologi yang mempertentangkan antara Tuhan dan manusia, John

21 22

H. M. Rasyidi, Filsafat Agama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1996), hal. 34


Contoh dari kebebasan jenis ini adalah kebebasan berbicara, berkespresi, berkeyakinan, dan sejenisnya.

Contoh dari kebebasan jenis ini adalah kebebasan dari rasa takut, dari kemelaratan, tekanan, ancaman, dan sejenisnya.

23

11

Hick, seorang ahli Filsafat Agama menganggap manusia sebagai perluasan dari wujud Tuhan. Al-Farabi, seorang Filsuf Islam, memandang manusia sebagai kulminasi dari proses emanasi yang ruwet.24 Manusia tidak diciptakan Tuhan seperti manusia menciptakan kendi dari tanah liat, tapi melewati proses kontemplasi akal murni dari satu jenjang ke jenjang lain.25 Dalam proses kontemplasinya, akal murni memunculkan aneka benda angkasa, seperti bintang, planet, dan bulan. Al-Farabi membagi dunia angkasa ini menjadi dua: apa yang sebut dengan Yang Pertama Abadi sedangkan yang kedua tidak abadi. Kendati manusia berada dalam alam terestrial yang fana, dengan akalnya dia bisa mengabstraksi dan memahami hal-hal yang berada jauh di luar jangkauan inderanya. Akal adalah daya yang membedakan manusia dari makhluk lain. Dengan akalnya manusia mampu mengetahui yang baik dan yang buruk, yang salah dan yang benar. Dengan akalnya pula manusia berusaha mencari kesenangan dan kebahagiaan. Menurut al-Farabi, kebahagiaan yang sempurna tidak bisa diwujudkan secara individual, tapi harus melibatkan orang lain. Secara alamiah, manusia adalah makhluk sosial. Mereka saling bekerjasama dan tolong-menolong untuk merealisasikan kebahagiaan itu.26 Pertanyaan yang muncul dari beberapa ahli Filsafat Agama dan yang selalu mengganggu pemikiran para filsuf atau ahli agama lainnya adalah dari mana sumber etika dan moralitas kemanusiaan? Apakah akal atau wahyu; nalar atau agama? Ibn Miskawaih (w. 1030) secara tegas memilih nalar humanis sebagai sumber etika dan moralitas, ketimbang nasihat-nasihat yang diturunkan dari wahyu.27 Miskawaih juga percaya bahwa moral rasional lebih dapat menjawab dorongan-dorongan kodrati dalam diri manusia, ketimbang aturan-aturan normatif dari agama. Yang lebih penting dalam etika, menurut Miskawaih, bukanlah apakah seseorang mematuhi sebuah norma, tapi bagaimana dia memahami dan menyikapi norma itu. Karena itu, bagi Miskawaih, lebih penting memperhatikan bagaimana seorang anak muda memilih teman-teman minumnya, ketimbang kenyataan bahwa anak itu telah melanggar norma agama karena telah minum minuman keras.28 Pertentangan antara akal dan wahyu sebagai sumber etika menjadi perdebatan panas dalam wacana Filsafat Agama dan pemikiran Islam. Jika akal atau nalar menjadi pegangan manusia untuk mengetahui baik dan buruk, benar dan salah, apa gunanya agama? Ibn Rushd menarik perdebatan tentang kontroversi akal dan wahyu dari wilayah etika ke wilayah hukum. Jika akal

24 25

Abu Ahmadi, Filsafat Islam, (Semarang: Toha Putra, 1982), hal. 37 F. B. Hardiman, Para Filsuf Penentu Gerak Zaman, Yogyakarta: Kanisisus, 1992, hal. 47 26 Ahmad Mustofa, Filsafat Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1999, hal. 173 27 Ahmad Mustofa, Filsafat ..., hal. 177
28

Goodman, Islamic, hal. 110.

12

manusia bisa menjadi sumber etika, maka ia juga bisa - dan bahkan lebih layak - menjadi sumber hukum. Bagi Ibn Rushd, hukum rasional bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan dengan hukum agama, karena aturan-aturan agama, pada dasarnya dibuat untuk kemaslahatan manusia. Ibn Rushd memiliki pendirian tegas ketika menyikapi pertentangan akal dan wahyu. Jika akal dan wahyu berbenturan maka wahyu harus ditafsirkan agar sesuai dengan pemahaman akal.29 Fungsi wahyu adalah untuk kemaslahatan manusia, jika wahyu bertentangan dengan kebaikan manusia tak ada pilihan lain kecuali menafsirkannya agar sesuai dengan kebaikan itu. Kebaikan manusia atau yang dalam bahasa fikih disebut maslahah menjadi perhatian utama para filsuf dan pengkaji agama. Maslahah dianggap sebagai salah satu rujukan penting dalam penentuan suatu status hukum dan keutamaan nilai humanitas. Sebagai sumber hukum, kedudukan maslahah sama dengan al-Quran, Hadis, Ijma, dan Qiyas, meski berbeda secara degree. Para sarjana hukum Islam seperti Izz al-Din bin Abd al-Salam (w. 1262), Najm al-Din alThufi (w. 1324), dan Abu Ishaq al-Syathibi (w. 1388), meyakini bahwa tujuan hukum (maqasid al-syariah) pada akhirnya adalah untuk memuliakan manusia dan memberikan landasan bagi mereka untuk hidup secara pantas dan terhormat. Seluruh ketentuan agama diarahkan sebesarbesarnya untuk kemaslahatan manusia. Para ulama ushul menyebut lima hak dasar manusia yang menjadi landasan hukum Islam, yakni hak hidup, hak beragama, hak berpikir, hak milik, dan hak menjaga nama baik. Kelima hak dasar ini merupakan nilai universal yang tak hanya diperhatikan para fuqaha Muslim saja. Pada abad ke-17, John Locke (w. 1704), filsuf Inggris, mengakui pentingnya kelima hak dasar itu dan meringkasnya menjadi tiga, yakni hak hidup (life), hak bebas (liberty), dan hak milik (property). Dalam bentuk beragam, ke lima hak dasar ini kemudian di adopsi oleh dokumen-dokumen penting dunia, seperti Deklarasi Kemerdekaan Amerikka Serikat.30 Dan Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia.31 Pada zaman Yunani Kuno, para humanis bertekad untuk mengembalikan kepada manusia, spirit yang pernah dimiliki manusia pada era klasik dan kemudian musnah pada zaman pertengahan. Spirit itu tak lain ialah spirit kebebasan yang telah menjustifikasi klaim-klaim mengenai otonomi manusia dan memberi ruang bagi manusia untuk mengelola alam sebagai

Artinya: Jika tak ada pertentangan antara wahyu dan akal maka tak ada yang perlu dikatakan. Tapi, jika ada pertentangan, maka wahyu haruslah ditafsirkan. Lihat Fasl al-Maqal, (t.t.,), hal. 7. 30 Deklarasi kemerdekaan AS ditulis oleh Thomas Jefferson. Kata-kata yang digunkan adalah Life, liberty, and the Pursuit of Happiness. Di Amerika, ketiga hak ini dianggap sebagai hak-hak yang tak bisa ditawar-tawar. 31 DUHAM mendaftar banyak hak-hak dasar manusia. Tapi, sebagian besar penjabaran pasal-pasal DUHAM tidak jauh dari lima hak dasar yang dijabarkan para ulama Muslim

29

13

wilayah kekuasaannya serta menguasainya tatkala dirinya dibuat tak berdaya oleh alam dan sejarah hidupnya. Ungkapan-ungkapan kembali ke era klasik sebagaimana juga ungkapan dalam Islam seperti kembali kepada al-Quran dan Hadits, bukan untuk mereformasi al-Quran dan Hadits bukan berarti humanisme hendak mereformasi era Klasik, melainkan bertujuan menghidupkan dan mengembangkan potensi serta kemampuan yang pernah dimiliki dan dikerahkan oleh orangorang terdahulu, karena pada saat yang sama, kaum humanis juga telah melenyapkan sebagian kepercayaan dan keyakinan masyarakat abad pertengahan. Faktor yang menstimulasi kaum humanis menaruh perhatian kepada kesusasteraan klasik (syair, makna-makna ekspresif, moral, dan politik) adalah keyakinan mereka bahwa kesusasteraan ini sanggup mendidik manusia agar bisa memanfaatkan kebebasan dan ikhtiarnya secara efektif. Menurut Calvin32, Huston Smith33 dan S. H. Nasr34, kebebasan dan upaya untuk mewujudkannya adalah salah satu tema terpenting yang menjadi pusat perhatian kaum humanis. Pendapat ke tiga tokoh Filsafat Agama di atas, senada dengan Picco. Menurut Nasr, Picco seorang tokoh humanis klasik, menjelaskan bahwa manusia dianugerahi kebebasan oleh Tuhan dan menjadikan pusat perhatian dunia, karena itu ia bebas memandang dan memilih yang terbaik. Kendati kebebasan menjadi tema poko humanisme, tetapi menurut mereka perlu dipahami bahwa kebebasan yang diperjuangkan bukanlah kebebasan yang absolut atau kebebasan yang anti abad pertengahan. Kebebasan yang diperjuangkan kaum humanis adalah kebebasan yang berkarakter manusiawi, kebebasan manusia dalam batas-batas alamiah, kesejarahan dan kemasyarakatan. Dalam konteks kebebasan seperti ini, aliran seperti naturalisme pun mendapat tempat yang layak dalam semangat perjuangan humanisme. Keseluruhan jiwa manusia yang memancarkan kebebasan, tidak dapat dipisahkan dari moralitas tubuh sebagai bagian dari ruang (alam) dan waktu (sejarah). Kebebasan perspektif pemikir agama di atas adalah kebebasan yang bisa diterapkan di alam natural dan di tengah-tengah masyarakat yang berbeda dan plural. 35 Kebebasan seperti ini berseberangan dengan cara berpikir yang diterima pada abad pertengahan, yaitu anggapan bahwa imperium, gereja, dan prinsip-prinsip feodalistik adalah para pengawas tatanan yang berlaku di dunia, dan manusia harus tunduk mutlak kepadanya. Anggapan ini telah membuat tertutup kemungkinan terjadinya perubahan padanya.

Calvin, dalam John Hick, Tuhan Punya Banyak Nama, , 2001), hal. 53 Huston Smith, Agama-Agama Manusia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001), hal. 22-23 34 S. H. Nasr, The Heart of Islam, Pesan-Pesan Universal untuk Kemanusiaan, (Bandung, Mizan, 2003), hal. 73
33 35

32

Zainal Abidin, Filsafat manusia, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hal. 27

14

Institusi-institusi inilah oleh para aktivis humanis religius dan spiritual dianggap telah menanamkan doktrin bahwa segala urusan, baik menyangkut materi maupun spiritual yang diperlukan manusia, berada dalam tatanan dimana manusia bergantung kepadanya, sementara para pemuka agama adalah para penafsir dan pengawas tatanan yang menguasai dunia tersebut. Humanisme religius membela kebebasan manusia untuk merancang sendiri kehidupannya di dunia dengan cara yang merdeka. Humanisme religius memandang instruksi-instruksi tradisional para pemuka agama, bukan sebagai perintah yang akan membantu berbagai urusan yang mesti dilaksanakan, melainkan sebagai kendala dan rintangan bagi manusia. Pada dataran ini, gerakan humanisme religius pada dasarnya bertugas memberikan solusi dalam menghadapi intimidasi dan despotisme para pemuka gereja abad pertengahan. Sebab Humanisme bertekad untuk mengembalikan kepada manusia hak kebebasan yang telah dinistakan secara total oleh para elit agama di gereja. Memang, pada awal kebangkitannya diakui bahwa kaum humanis berjuang untuk mematahkan kekuatan orang-orang yang mengaku sebagai perantara yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, langit dengan bumi, namun di saat yang sama mereka selalu mempraktikkan ketidakadilan. Kaum humanis religius harus memperjuangkan otoritasnya untuk mengurus kehidupannya sendiri, dan karena itu mereka akhirnya memberikan penekanan secara ekstrim kepada otonomi dan hak manusia individu untuk menguasai diri mereka sendiri. Mereka menganalisis kebebasan dan menjunjung tinggi otoritas manusia untuk membentuk, mengubah, dan memperbaiki dunia. Mereka melukiskan kalimat-kalimat yang diungkapkan Tuhan kepada manusia: Wahai manusia, aku tidak mentakdirkan kalian dengan suatu martabat, atau citra, atau keistimewaan tertentu, sebab kalian sendirilah yang harus mendapatkan semua ini melalui keputusan dan ikhtiar kalian. Apa yang tercakup di dalam undang-undang yang aku tentukan adalah batasan-batasan yang ada pada watak makhluk-makhluk lain. Namun kalian sendirilah yang menentukan nasib kalian, tanpa ada tekanan monopolistik dalam bentuk apapun, dengan kekuatan ikhtiar yang telah aku anugerahkan kepada kalian. Aku menempatkan kalian di dalam posisi sentral dunia.36 Modenisme di Barat yang digerakkan oleh falsafah enlightenment-humanism berhasil mempengaruhi pemikiran sebagian masyarakat Barat dan mayoritas intelektual mereka. Kemunculan ahli-ahli falsafah seperti Immanuel Kant, David Hume, Nietzsche dan lain-lain telah memberikan penekanan terhadap rasionalisme dan kebebasan (liberalisme) atau pembebasan manusia daripada tradisi dan dogma. Gerakan intelektual ini semakin kuat dengan munculnya falsafah eksistensialisme oleh Sartre dan logical-positivism oleh kelompok yang dikenali dengan Vienna Circle, yang dalam perkembangan kemudian melahirkan humanisme sekuler. Menurut

36

Haidar Nashir, Agama Dan Krisis Kemanusiaan Modern, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999), 23.

15

mereka, humanisme sekuler adalah cara berfikir dan cara hidup yang bertujuan untuk memberikan yang terbaik bagi manusia dengan menolak segala kepercayaan agama dan kuasa di luar tabiat manusia sendiri. Humanisme sekuler menekankan rasio manusia dan pengkajian saintifik, kebebasan individu dan pertanggung-jawaban, nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang, serta keperluan terhadap toleransi dan kerjasama.37 Penjelasan tentang humanisme sekuler di atas memperlihatkan wujud dikotomis antara agama dan sains, antara moralitas dan kebebasan individu, antara Tuhan dan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga menampakkan perbedaan kontras dengan nilai-nilai humanis Islam. Ini menjadi awal pergeseran paradigma humanisme religius yang pernah berkembangn sebelumnya. Terlepas daripada elemen-elemen yang tampak baik terdapat dalam pemikiran ini, tertumpu pada rasionalitas, penolakan terhadap agama, dan kebebasan individu dalam menentukan segala sesuatu, telah memberi kesan negatif khususnya bagi para humanis religius. Oleh karena itu, penilaian perlu dilakukan secara menyeluruh dan sebaiknya penjelasan tentang modernisme dilakukan dari dua sudut pandang yang berbeda, yaitu Barat dan Islam. Seorang Muslim Perancis, Ren Guenon, menjelaskan bahwa modenisme pada intinya adalah penolakan terhadap segala apa yang berbentuk divine, transcendent dan supernatural, penolakan yang dilakukan oleh enlightment-humanist terhadap tradisi dan otoritas, demi kepentingan akal dan tabiat sains. Ia diciptakan atas dasar perkiraan bahwa kuasa individu yang menjadi satu-satunya sumber bagi makna kebenaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengaruh humanisme Barat sangat kuat dalam kerangka pemikiran modenisme Islam. Logika rasional menjadi tonggak utama golongan Islam Liberal. Rasionalisme, dalam arti mendewakan akal fikiran dan menjadikannya tolok ukur dalam menilai segala sesuatu, yang menjadi asas peradaban Barat juga dianut oleh golongan modernis dan liberal Islam.38 Charles Kurzman, mengatakan bahwa seorang tokoh agama yang humanis dalam Islam khususnya, bukan saja menerima nilai-nilai modern dari Barat sebagai sesuatu yang benar, melainkan juga berusaha untuk memperjuangkan modenisme Barat, yang termasuk di dalamnya rasionalitas, sains, kedaulatan perlembagaan (constitutionalism), dan persamaan manusia. Bahkan, peranan seorang modenis Islam, menurut beliau bukan saja dalam mencari persamaan di antara nilai-nilai modern dengan nilai-nilai atau ajaran Islam. Tetapi lebih dari itu, seorang modernis Islam berusaha memperkuat serta membangun dasar teoretis yang dapat membuktikan adanya persamaan dan kesesuaian tersebut.39 Dari sini tampak jelas bahwa gerakan ini mempunyai prakonsepsi dalam memahami Islam. Penyatuan di antara nilai modern dan ajaran

K. Bertent, Fenimenologi Eksistensial, (Jakarta: Gramedia, 1987) William Chittick, The Sufi Path of Love: The Spiritual Teachings of Rumi. (Oxford: University Press), 1998: 32
38

37

16

Islam pada realitasnya dilakukan dengan tidak adil, yaitu dengan memilih sebahagian tradisi dan teks-teks agama yang mampu menyokong nilai-nilai Barat. Sedangkan kajian terhadap tradisi Barat sendiri dilakukan dengan penuh apresiasi dan tidak kritis. Sementara itu gerakan humanisme religius khususnya dalam Islam, sejak awal telah memperjuangkan kepentingan manusia, baik dalam hubungannya dengan kepentingan fisikmaterial maupun kepentingan mental-spiritual. Tema-tema di atas tampak menarik, tetapi berbeda dengan tema-tema yang selalu menjadi perdebatan hangat di kalangan humanis Islam. Isu-isu seperti penolakan Syari'at, pluralisme agama, kebebasan berijtihad, penolakan otoritas agama dan hermeneutika, yang menjadi pembahasan utama gerakan humanisme sekuler. Sementara humanisme religius justru menjembatani hal ini sebagai isu yang harus mendapat perhatian serius demi penyelamatan nilai-nilai kemanusiaan. Terkadang humanisme religius

secara simple dimaknai sebagai terma bahwa manusia dapat menggali ajaran-ajaran budi pekerti dari renungan rasional, di samping merujuk atau mengikat diri pada agama tertentu. Penafsiran-penafsiran bebas yang muncul dalam berbagai karakter humanis (seperti dipresentasikan humanisme sekuler) yang menafikan kehadiran metafisika agama, memunculkan kekhawatiran adanya gerakan yang meyerukan kembalinya manusia kepada penemuan dirinya yang bebas melakukan segala hal tanpa terikat dengan agama apapun. Pandangan seperti ini yang kerap kali menghambat lajunya humanisme religius sebagai sebuah tata nilai yang inheren dalam rahim agama. Dalam Islam, sejarah pembebasan dan penyelamatan kemanusiaan yang notabene dikenal dengan istilah humanitas merupakan inti dari kehadiran agama. Aksioma ini dalam ajaran humanisme religius dan spiritual dijadikan sebagai sandaran dalam menafsirkan ajaran-ajaran agama yang berpihak kepada kesamaan, kebebasan, kemerdekaan dan sejarah yang senantiasa berjalan dialektis. Keduanya berperan sebagai proses pencarian jati diri manusia beragama, sebab kebangkitan agama masih pada tataran ikatan individual, belum sampai pada tataran ikatan persaudaraan menyeluruh antar umat manusia diseluruh belahan dunia, tanpa memandang suku dan

39

Dalam makalahnya, F. Budi Hardiman mengkritik metafisika kemanusiaan sebagai akar dari krisis humanisme di dunia Barat modern. Menurut Budi Hardiman, humanisme telah gagal karena terlalu berpegang pada metafisika kemanusiaan, yakni sebuah paradigma yang memahami manusia sebagai pusat kenyataan. Budi Hardiman memperkenalkan jenis humanisme baru yang ia sebut Humanisme Lentur, yakni humanisme yang steril dari metafisika kemanusiaan. Lihat makalah F. Budi Hardiman, Humanisme dan Para Kritikusnya. Disampaikan dalam rangkaianKuliah Umum Memikirkan Ulang Humanisme di Komunitas Salihara, Sabtu 13 Juni 2009.

17

kultur tertentu. Umat beragama harus terus menerus menjadikan semangat pencarian humanitas dalam tradisi agama sebagai porses tiada henti. Humanisme religius dan humanisme spiritual dipahami sebagai suatu konsep dasar kemanusiaan yang tidak berdiri dalam posisi bebas. Ini mengandung pengertian bahwa makna atau penjabaran arti memanusiakan manusia itu harus selalu terkait secara teologis. 40
Menurut para humanis relgius dan spiritual dalam Islam, pandangan bahwa perlunya penyesuaian di antara Islam dan nilai-nilai Barat, di antara wahyu dan kemodernan, adalah dengan mengandaikan bahwa keduanya tidak bertentangan dan seimbang. Atas pengandaian inilah, peranan menyesuaikan di antara keduanya bukan perkara yang rumit. Persoalannya apakah pengandaian ini benar dan logis? Apakah tidak ada pertentangan nilai/prinsip antara worldview Islam dan worldview Barat. Pemikir humanis Islam, menyatakan bahwa Islam mempunyai pandangan hidup yang jauh berbeda dengan pandangan hidup Barat. Pandangan hidup Barat meletakkan falsafah humanisme, rasionalisme, sekularisme sebagai asas peradaban mereka. Sedangkan falsafah-falsafah ini amat asing dalam konteks umat beragama Islam. Isma'il al-Faruqi mengatakan bahwa humanisme Barat sekarang banyak dipengaruhi oleh humanisme Greco-Roman, yang terlalu mendewakan manusia dan sebagai reaksi kepada tradisi Kristian yang sebenarnya merendahkan nilai-nilai kemanusiaan. Sebaliknya Islam telah dengan secara tidak langsung meninggikan martabat manusia, maka dari itu, al-Faruqi menyimpulkan bahwa humanisme religius dalam Islam adalah satu-satunya yang asli dan terbaik. Dengan alasan kuatnya pengaruh sekularisme dan humanisme dalam tamadun Barat, al-Attas menekankan perlunya ilmu-ilmu Barat diislamisasikan terlebih dahulu sebelum ianya diterima oleh umat Islam untuk menghindari terjadinya dikotomi dalam diri umat Islam dan berwujud dilenma atau krisis pemikiran yang menjadikan umat Islam keliru, lemah dan berpecah belah.41 Robert D. Lee dalam kata pengantarnya terhadap buku Arkoun, Rethinking Islam, mengatakan: "In the world Arkoun porposes, there would be no margins and no center, no marginalized groups and no dominant ones, no inferior beliefs and no superior, truth-producing logic. Sementara itu, Said al-Ashmawi menentang konsep Islam way of life, baginya permasalahan politik terpisah daripada agama. Beliau juga menolak keras pelaksanaan Syari'at Islam dengan alasan akan memberikan kuasa politik kepada golongan agama dan mengakibatkan lahirnya negara teokrasi. Asghar Ali Engineer mengatakan bahwa hukum Islam adalah ciptaan

Zuli Qodir, Agama Agama dalam Bayang-Bayang Kekuasaan., (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hal. 70-71 41 Ismail Faruqi, Islamisasi Ilmu, (Jakarta: Gramedia, 2003), hal. 53

40

18

fuqaha, pelaksanaan syari'at Islam bermakna pemerintahan teokrasi. Dan beliau juga menyokong sepenuhnya pemerintahan sekular: Secularism is highly necessary if India has to survive as a nation. But apart from survival of Indian nationalism and Indian unity, secularism is necessary for modern democratic polity. And this need for secular polity becomes much greater if the country happens to be as diverse and plural as India. Secularism is a great need for democratic pluralism. The most Orthodox Muslim 'Ulama of Deobandi school preferred secular India to Muslim homeland or theocratic Pakistan. They outright rejected the idea of Pakistan when mooted by Jinnah. They denounced two nation theory on the basis of religion.42 Ridwan Masmoudi, seorang presiden Center for the Study of Islam and Democracy (CSID: sebuah organisasi yang berpengaruh di Amerika), menjelaskan bahwa humanisme religius dalam Islam memperjuangkan Negara atau kerajaan yang bertanggungjawab, kebebasan individu, dan hak-hak asasi manusia. Oleh karena itu menurutnya golongan ini merupakan Muslim majoritas di dunia Islam. Tentunya anggapan bahwa para humanis Islam adalah mayoritas umat Islam, tidak berasas dan boleh dipertikaikan. Karena image liberal yang mereka ketengahkan berbeda dengan apa yang mereka maksudkan. Dalam hal ini istilah yang tepat bagi golongan yang mereka sebutkan adalah progressif, bukan liberal.43 Terlepas daripada semua itu, baik di sengaja atau tidak, hal ini bertujuan untuk menarik perhatian umat Islam agar mudah terpengaruh. Ironisnya, kenyataan tersebut disangkal oleh kalangan Barat sendiri yang majoritasnya mengkategorikan sebagai fundamentalis. Para humanis Islam beranggapan bahwa gerakan yang mereka lakukan adalah satu-satunya alternatif yang berusaha mempertemukan antara agama (faith) dan akal fikiran (reason). Mereka melihat majoritas umat Islam menganut aliran tradisionalis konservatif yang jumud dan tidak memberi ruang kepada akal fikiran untuk berperan dan berijtihad. Lebih dari itu, golongan fundamentalis dikatakan telah berusaha untuk memonopoli pemahaman Islam, sehingga apa saja pandangan yang tidak sesuai dengan kerangka berfikir mereka akan dicap sebagai tidak Islamik. Bagi para humanis religius dalam Islam, apabila pertentangan di antara keduanya, maka teks al-Quran ini perlu ditafsirkan melalui kaedah hermeneutik ataupun melalui pemahaman substantif agar tidak lagi terpaku kepada pemahaman literal terhadap syariah. Berangkat dari metodologi dan cara berfikir inilah, tidak sedikit daripada mereka yang melihat nilai-nilai universal syariah juga ada dalam tamadun Barat bahkan dipakai oleh agamaagama dunia. Untuk menjembatani antara konsep sains Barat dan Islam tentang nilai humanitas, maka perlu dijelaskan secara rinci prinsip-prinsip dasar teori humanisme sebagai berikut:

Asghar Ali Engeneer, Islam dan and Liberation Teology, (New Delhi: Sterling Publishers Private Limited, 1990), hal. 19-81 43 George A. Makdisi, Cita ..., hal. 206

42

19

1. Manusia adalah standar dan kriteria segala sesuatu. 2. Penekanan terhadap pentingnya kembali kepada peradaban klasik untuk menghidupkan kembali dan mengembangkan potensi serta kekuatan yang diyakini orang-orang terdahulu. 3. Penekanan secara berlebihan kepada kebebasan dan ikhtiar manusia, akibat kebencian kepada intimidasi dan kediktatoran para penguasa abad pertengahan. 4. Pengingkaran terhadap status para rohaniwan sebagai perantara antara Tuhan dan manusia. 5. Penyerahan sepenuhnya kekuasaan dan penentuan nasib, dan kekuasaan despotisme harus ditolak mentah-mentah. 6. Manusia adalah sentral alam semesta. 7. Akal manusia sejajar dengan akal Tuhan. 8. Penolakan sistem-sistem tertutup, filsafat, keyakinan-keyakinan agama, serta argumentasiargumentasi abstrak mengenai nilai-nilai kemanusiaan. 9. Penolakan terhadap praktik-praktik asketisme, dan memusatkan perhatian pada faktor jasmani dan kenikmatan-kenikmatan fisik. 10. Akal manusia adalah pimpinan manusia, dan status agama sebagai komando harus ditiadakan. 11. Kenikmatan-kenikmatan jasmani adalah tujuan final segala aktivitas manusia. 12. Manusia adalah binatang politik. 13. Dunia politik harus diceraikan dari segala pandangan metafisik atau agama, dan manusia adalah aktor yang memiliki wewenang mutlak dalam dunia politik. 14. Dalam psikologi, setiap manusia diteliti sebagai satu spesies tunggal, dan bukan sebagai satu individu yang merupakan bagian dari satu spesies manusia. Atas dasar ini, manusia berwenang untuk semata-mata mengikuti tatanan nilainya sendiri. 15. Aktualisasi diri, pemeliharan diri dan peningkatan diri mesti dipelajari dalam setiap individu. 16. Manusia adalah pencipta lingkungannya dan bukanlah hasil lingkungannya. 17. Manusia harus terkonsentrasi sepenuhnya kepada dirinya. 18. Kelayakan kepribadian setiap individu bisa terbentuk tanpa keimanan kepada Tuhan. 19. Keberadaan agama dipandang sebagai faktor superfisial yang diperlukan demi popularitas nilai-nilai kepribadian manusia dan perbaikan sosial, namun bukan agama produk manusia ala August Comte. 20. Penekanan terhadap persatuan antar segenap agama, baik agama yang berpangkal dari Nabi Ibrahim maupun agama khurafat.44

44 Marchel A. Boisard, Humanisme dalam Islam, Terj. H.M. Rasyidi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), hal. 53

20

Perlu diingat, kalangan humanis religius juga memandang manusia, nilai, dan kebebasannya sebagai tujuan, dan bahwa pengenalan Tuhan dan kekuasaannya adalah satu jembatan untuk mencapai kepada tujuan tersebut. Maka esensialitas manusia di depan Tuhan akhirnya terkemukakan, dan ini bisa dinilai sebagai titik distingtif pemikiran kaum humanis monoteis dan beragama. Kesimpulan globalnya, humanisme tidak bertentangan dengan kepatuhan kepada agama jika pengertiannya ialah kepercayaan kepada nilai-nilai kemanusiaan, serta kedudukan, martabat, ikhtiar, dan kebebasan manusia. Dengan demikian, muatan humanisme tidak keluar dari wilayah agama. Akan tetapi, jika manusia dalam pengertiannya yang hakiki dan merupakan khalifatullah ternyata dipandang sebagai tujuan final oleh paham humanisme, kemudian pengenalan Tuhan dan kepatuhan kepada ajaran agama dipahami semata-mata sebagai sarana dan instrumen untuk mencapai tujuan itu, maka humanisme akan berada di luar lingkungan agama. Adapun anggapan humanistik yang mensejajarkan rasio manusia dengan rasio Tuhan jelas sangat kontras dengan makrifat dan ketaatan beragama. Humanisme yang berprikemanusiaan adalah humanisme yang tidak berseberangan dengan keimanan religius. Berikut ini akan diuraikan bagaimana konsep humanis religius dapat diaktualisasikan dengan berlandaskan pada dimensi spiritualitas. Hanya kesadaran spiritualitas sebagai standar moral kemanusiaan yang mampu menggerakkan jiwa untuk menciptakan kehidupan di dunia yang seimbang dan adil, adil pada diri sendiri, kepada alam dan seluruh isi di dalamnya serta adil terhadap Tuhan sebagai sang pencipta segala-galanya. 3. Signifikansi Filsafat Agama bagi Aktualisasi Humanisme Religius menuju Humanisme Spiritual Haedar Nashir, dalam bukunya Agama dan Krisis kemanusiaan Modern, mengungkapkan sisi menarik dari krisis manusia modern. Pendewaan rasionalitas telah menjerumuskan manusia pada sekularisasi kesadaran dan membuat hidup manusia kehilangan makna spiritualnya. 45 Pragmatisme menjadi referensi, bahkan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan mental dengan jalan pintas dan tidak menghargai proses. Penyakit mental kini telah menjadi penyakit zaman yang tampil dalam keserakahan, keinginan saling menghancurkan sekularisasi kebudayaan, dan pencarian makna hidup.46 Pada akhirnya, untuk mencapai tujuan-tujuan hudupnya manusia melakukan kekerasan-kekerasan. Kekerasan amat mungkin berkembang karena ukuran keberhasilan manusia saat ini adalah sejauhmana ia berhasil mengumpulkan

45

Haedar Nashir, Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hal. Haedar Nashir, Agama ..., hal. 20

11
46

21

benda-benda materi dan simbol-simbol lahiriah yang bersifat formalistik.47 Modernisme gagal karena ia telah mengabaikan nilai-nilai spiritual transendental sebagai fondasi kehidupan. Dalam proses modernisasi, kehidupan umat manusia dituntut untuk memberikan akses bagi proses seleksi nilai dan rehumanisasi kebudayaan. Pada level seleksi nilai, umat beragama menjadi teladan bagaimana menampilkan sebuah contoh kehidupan bermoral di tengah arus pergeseran nilai saat ini. Pada rehumanisasi kebudayaan, bagaimana umat beragama menjadikan agama yang dipeluknya sebagai nilai aktual bagi bangunan kebudayaan masyarakat luas ketika proses sekularisasi dan globalisasi merambah dalam hampir seluruh aspek kehidupan. Pertanyaanya, mampukah umat beragama, baik secara individual maupun secara kolektif menjadi uswah hasanah bagi hidup yang lurus, baik, berbudi pekerti luhur, jujur, adil, teguh pendidiran, bermoral dan beradab ditengah kekacauan nilai saat ini? Ataukah umat beragama akan mengikuti arus gelombang globalisasi dalam kehampaan nilai religius, krisis moral dan spritual.48 Konsep humanisme religius dalam perspektif Filsafat Agama meliputi dimensi esensi yang berupa keyakinan, dimensi bentuk yang berupa ritual agama, dan dimensi ekspresi yang berupa tata hubungan antar individu, atau kelompok manusia dan makhluk lainnya. Ketiganya tidak dapat dipisahkan dan menjadi fondasi bagi tegaknya moralitas dalam kehidupan. Kodrat manusia merupakan kriteria utama bagi moralitas yang hendak dibangun. Sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk yang mulia, manusia diperintahkan untuk mengambil keputusan dan bertindak dengan akal dan hatinya. Karena itulah manusia memikul tanggung jawab terhadap sesama, kosmos dan Tuhannya. Hak terhadap setiap manusia terletak pada kehendak Tuhan. Hal ini mengandung konsekuensi bahwa tidak ada satu manusia pun memiliki hak untuk mereduksi manusia lain menjadi objek atau sarana bagi tujuan hidupnya. Islam menuntun manusia untuk mampu mengintegrasikan dirinya dalam satu kesatuan yang bermakna, dengan mencermati dinamika dan memelahara nilai-nilai atau hak dasar kemanusiaannya. Secara fundamental, humanisme religius merupakan hal penting dan utama dari semua keyakinan moral yang kokoh. Dalam perspektif Filsafat Agama nilai-nilai humanitas merupakan keyakinan bahkan tuntutan moral yang secara langsung mengisyaratkan sikap etis yang implementatif dan konsisten dalam kehidupan. Inti dari kesadaran religius dalam dimensi etis merupakan kepercayaan yang menyatakan bahwa setiap manusia harus dihormati sebagai manusia seutuhnya, bukan karena dia itu bijaksana atau bodoh, baik atau jelek, dan tanpa memandang agama atau suku, komunitasnya, serta apakah laki-laki atau perempuan. Dengan kata lain, manusia tidaklah diarahkan untuk menghargai seseorang atas identitas, kepercayaan,

47 48

Haedar Nashir, Agama ..., hal. 24 Haedar Nashir, Agama ..., hal. 179-180

22

idealisme, dan hal-hal yang menjadi kekhawatiran dan kebutuhannya. Menurut Franzs Magnis Suseno, tidak ada perbedaan antara laik-laki dan perempuan dari aspek nilai humanitas, karena sama-sama manusia, dan ini menjadi dasar bahwa suatu penghargaan tidak tergantung pada kualitas atau kemampuan seseorang, namun hanya didasarkan atas kenyataan bahwa orang tersebut adalah manusia.49 Atas dasar ini humanisme sebenarnya sangat membenci kekerasan dan ketidakadilan dan tidak ada alasan untuk membenarkan tindakan kejam terhadap orang lain dan sama sekali tidak manusiawi. Tidak melakukan kekerasan berarti tidak boleh menyakiti kecuali atas izin, baik secara fisik melukainya, maupun secara psikhis dengan mempermalukan atau memandang rendah kepadanya. Humanisme etis dalam konteks agama sebagai pesan moral yang bersifat spiritual, mengajarkan manusia untuk bersifat terbuka terhadap prinsip-prinsip orang lain, apapun statusnya. Dengan kata lain, berpijak pada ketentuan agama tentang nilai humanis spritualis, yang implementasinya adalah prilaku etis, manusia dituntut untuk bersikap empati dan sensitif terhadap kesulitan orang lain serta mencurahkan kasih sayang yang melampaui garis-garis primordial ataupun sekat-sekat sosial lainnya. Sebagai bagian dari prilaku etis religius, humanisme menolak ketidakladilan, karena perlakuan tidak adil tidak pernah bisa dibenarkan. Sikap ini juga berlaku bagi orang-orang asing di luar komunitas kita, bahkan terhadap musuh-musuh. Humanisme religius yang spiritual yang implemntasinya adakah prilaku etis selalu mencitrakan keseimbangan (fairness) dan cinta keadilan50. Berpijak pada konsep di atas, maka fondasi humanisme religius dalam bingkai Filsafat Agama, menegaskan kepada manusia bahwa tidak perlu mempertentangkan perbedaan antara manusia yang religius atau tidak, karena semua manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan, sehingga dalam konteks etika filosofis, bukan memperjelas sikap seseorang yang humanis religius atau sekuler, tetapi apakah seseorang benar-benar humanis, yang secara sadar memiliki, menyimpan serta menebar perasaan kasih sayang dan rasa saling menghargai antar sesama, baik secara individu maupun kelompok. Apabila seseorang benar-benar humanis, maka pasti seseorang akan dengan mudah menerima orang lain dengan segala perbedaan atau level yang dimiliki orang tersebut.

Frans Magnis Suseno, Islam dan Humanisme, Aktualisasi Humanisme Islam Di Tengah Krisis Humanisme Spiritual, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003). Hal. 211 Franzs Magnis Suseno, Humanisme ..., hal. 212

49

50

23

Humanisme spiritual merupakan perasaan yang mendalam yang dirasakan dan tertanam di dalam diri seseorang yang mengharuskannya untuk memperlakukan setiap orang dihadapannya sebagai manusia seutuhnya tanpa dipengaruhi oleh keadaan, atau kepentingan apapun disekelilingnya. Dari aspek ontologis spiritual, perasaan ini merupakan dorongan batin yang mengharuskan manusia untuk bertindak secara spontan tanpa tedeng eling-eling, yang dalam pandangan I. Kant merupakan tindakan muthlak tanpa syarat (Imperatif Kategoris). Menurut Immanual Kant, agama dalam bahasa moral menghendaki agar manusia memahami tindakannya sebagai kewajiban yang mengharuskannya untuk bertindak sesuai dengan fitrahnya. Fitrahnya manusia memang mendorong manusia untuk berbuat baik, dan kebaikan sebagai akibat dari dorongan batin tersebut, tidak hanya merupakan hasil dari sebuah tindakan, tetapi justru menjadi hukum yang mewajibkan manusia untuk mengikutinya bahkan menjadi hukum universal yang berlaku bagi semua manusia. Setiap jiwa menginginkan untuk dihormati dan dihargai, sehingga sebelum jiwa seseorang ingin untuk dihargai, maka jiwa seseorang tersebut secara moral harus menghargai jiwa yang lain sebagai bagian dalam pengharapan itu. Inilah inti ajaran moral I. Kant yang memperluas kewajiban sebagai perintah Allah sekaligus menjadi perintah moral, sebagaimana tertuang dalam teori etika deontologis.51 Menjadi jelas bahwa humanisme memiliki cakupan luas yang melampaui batas-batas sempit kelompok saya, baik komunitas religius, etnis, suku dan sejumlah identitas lainnya. Humanisme tidak dibatasi oleh ideologi dan pembenaran teologis lainnya, ia merupakan sebuah prinsip yang mempengaruhi sikap seseorang dalam segala dimensi. Dalam level institusi, aktualisasi humanisme religius terletak pada hadirnya lembagalembaga yang memfungsikan dirinya sebagai benteng atau sekat-sekat yang telah disebutkan di atas. Institusi pendidikan misalnya, memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang diperlakukan dengan jahat, mereka hidup dalam ketakutan atau menerima penghinaan yang dapat mengancam identitas dirinya, baik individu maupun kolektif, termasuk hal-hal yang dapat membuat mereka hidup dalam ketakutan atau di bawah tekanan. Dalam level institusi, yang terpenting adalah hak asasi manusia, yakni suatu sistem yang menjamin bahwa setiap individu tanpa diskrimnasi memiliki akses terhadap hukum dan diperlakukan sesuai dengan ketentuan hukum. Di Indonesia, landasan bagi terwujudnya masyarakat humanis sebagaimana tercantum dalam sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab merupakan jaminan kelembagaan yang membentengi HAM. Ide urgen dari HAM adalah kembali kepada kepercayaan agama monoteis yang menyatakan bahwa di mata Tuhan semua manusia memiliki kesamaan dan martabat, Tuhan

51 Immanual Kant, Kritik der Reinen Vernunft, Terj. Norman K. Smith, Critiqui of Pure Reason, (New York: St. Martins Press, 1986), hal. 55

24

memberi hak istimewa kepada manusia tanpa membedakan jenis kelamin atau bentuk fisiknya. Hal ini hendak menegaskan bahwa perhargaan terhadap manusia dalam persepektif humanis, hanya disebabkan karena ia manusia, bukan karena gender, asal muasal, suku, pendidikan atau nasionalitas, dan tanpa memandang keyakinan agama dan politiknya memiliki hak untuk dihormati dalam integritas kemanusiaannya. Konsep ini sesuai dengan deklarasi HAM PBB pada tahun 1948.52 Tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan manusia Indonesia seutuhnya. Bagi bangsa Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa adalah amanat institusi yang harus dilaksanakan, karena amanat tersebut termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945. Upaya ini hanya mungkin tercapai melalui institusi pendidikan, yakni pendidikan yang mampu mencerdaskan bangsanya. Demikan juga gagasan membangun manusia Indonesia seutuhnya dimaksdukan adalah membangun manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kriteria yang harus dipenuhi dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya adalah: pertama, kriteria spiritual yang diekspresikan dalam bentuk iman, taqwa, akhlak m ulia dan sehat (rohani); kedua, kriteria fisik-material seperti berilmu pengetahuan, sehat (jasmani), cakap, kreatif, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab. Dalam pemikiran para humanis Muslim, manusia seutuhnya dikenal dengan istilah Insan Kamil.53 Ini menjadi tujuan dari pendidikan Islam. Insan kamil tidak hanya berdimensi vertikan tetapi juga horizontal, tidak hanya berdimensi material tetapi juga spritual atau immaterial, tidak hanya mementingka aspek ukhurawi tetapi juga aspek duniawi. Kedua hanya ada dalam tatanan keseimbangan sesuai dengan hukum Islam yang mengahruskan keseimbangan dan keadilan. Keduanya sama penting bagi pencapaian tujuan hidup manusia. Menurut Amin Abdullah, tidaklah begitu menyenangkan sebenarnya mengkontraskan ide tentang humanisme religius dan humanisme sekuler, sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Sebagai insan religius, perlu memiliki sebuah logika dan pendekatan baru untuk memahami isu mendasar tentang humanitas, agar bisa bersikap adil terhadap kedua isu di atas, yakni dengan mencoba memahami bagaimana para humanis sekuler juga mempunyai dimensi religius dalam tradisi mereka. Demikian juga bagaimana agama mempunyai dimensi humanis dalam tradisi para humanis sekuler.54 Yang terpenting menurutnya adalah menemukan

Franzs Magnis Suseno, Humanisme, hal. 214 Sudarwan Danim, Menjadi Komunitas Pembelajar, Kepemimpinan Transformasional dalam Komunitas Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hal. 31 54 Amin Abdullah, Humanisme Religius versus Humanisme Sekular, Menuju Humanisme Spiritual, dalam Islam dan Humanisme, Aktualisasi Humanisme Islam Di Tengah Krisis Humanisme Universal, (ed. Terj.) Dedi M. Siddiq, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hal. 186
53

52

25

sebuah pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana nilai-nilai religius spiritual diletakkan dalam tradisi humanis. Pemahaman terhadap wawasan seperti ini akan menolong para humanis memahami sifat dasar agama.55 Adapun anggapan humanistik yang mensejajarkan rasio manusia dengan rasio Tuhan jelas sangat kontras dengan makrifat dan ketaatan beragama. Hal ini dapat dilihat pada landasan konseptual yang dikembangkan dalam ajaran humanisme religius berkut ini: 1. Humanisme dengan pengertian prikemanusiaan tidak bertentangan dengan agama, karena manusia menurut konsep Tuhan adalah makhluk yang tiada taranya. 2. Pembelaan nilai dan kebebasan manusia tidak berbenturan dengan agama. 3. Berdasarkan ajaran agama, manusia juga memiliki daya kreativitas yang tiada bandingannya. 4. Kitab suci Ilahi bukan hanya menjamin kebahagiaan di alam akhirat, tetapi juga di alam dunia. 5. Menurut agama-agama Ilahi, keyakinan kepada nilai perbuatan manusia akan menjamin kesuksesan amal perbuatan dan pahalanya di akhirat. 6. Akal yang dikemukakan dalam Yunani kuno tak lain adalah kalimat Allah dalam Agama Kristen.56 Perlu diingat bahwa pada dasarnya konsep humanisme religius memandang manusia, nilai, dan kebebasannya sebagai tujuan, dan bahwa pengenalan Tuhan dan kekuasaannya adalah satu jembatan untuk mencapai kepada tujuan tersebut. Maka dari itu, esensialitas manusia di depan Tuhan merupakan unsur yang paling utama, dan bisa dinilai sebagai titik distingtif pemikiran kaum humanis monoteis yang religius. Kesimpulan globalnya, humanisme tidak bertentangan dengan kepatuhan kepada agama jika pengertiannya diarahkan pada kepercayaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, serta kedudukan, martabat, ikhtiar, dan kebebasan manusia.

Namun dalam perkembangannya, konsep humanis religius sedikit tidaknya telah berada di bawah pengaruh pemikiran bebas yang di anut oleh para humanis sekuler, khususnya kaum liberal Islam. Dampak negatif globalisasi yang berbasis ideologi neo-liberal, sudah dikenal luas dan dikecam aktivis gerakan sosial, cendekiawan humanis religius, tokoh-tokoh spiritual, dan pemimpin-pemimpin dalam agama. Alasannya, motif dasar globalisasi atau neo-liberal adalah keuntungan ekonomi jangka pendek. Diperkirakan gerakan sosial paling kredibel melawan globalisasi atau neo-liberal di masa depan, bukan berdasarkan logika material

55 56

Amin Abdullah, Humanisme..., hal. 189 Musa Asyari, Dialektika Agama untuk Pembebasan Spiritual, (Yogyakarta: LESFI, 2002), hal. 39

26

atau ekonomi, tetapi berdasarkan logika kemanusiaan atau spiritualitas. Pertanyaannya, sejauh manakah tokoh-tokoh spiritual dan pemimpin-pemimpin agama mengecam dampak buruk globalisasi? Apakah persoalan akan selesai hanya dengan mengutuk? Dan apakah mereka mempunyai alternatif untuk diusulkan?
Ada dua gejala berkaitan yang menonjol sehubungan dengan masalah itu. Pertama, kecaman yang diberikan tokoh-tokoh spiritual dan pemimpin-pemimpin agama atas dampak buruk globalisasi neo-liberal. Inti kecaman mereka adalah globalisasi neo-liberal menyebabkan dominasi kepentingan ekonomi atas kemanusiaan. Pada saat yang sama, mereka menyadari globalisasi sudah menjadi kenyataan. Karena itu, yang bisa dilakukan adalah memanusiawikannya. Kedua, munculnya gerakan sosial berbasis identitas primer, identitas yang terbentuk dengan sendirinya seperti jenis kelamin, suku bangsa, kedaerahan, dan agama, bukan identitas yang dibentuk atas dasar usaha penyandangnya sendiri seperti pengusaha, pedagang, pegawai, buruh, dan sebagainya).57 Gerakan-gerakan sosial pada zaman globalisasi ini jelas berbeda dari gerakan sosial pada zaman Industrialisasi yang kini mulai berlalu di negara-negara maju. Pada zaman Industrialisasi, gerakan-gerakan sosial yang ada sebenarnya masih memiliki logika yang sama dengan logika kaum kapitalis, yakni logika ekonomi. Tuntutan mereka juga berkisar masalah ekonomi, seperti kenaikan gaji atau pembagian keuntungan yang lebih memadai. Pada zaman globalisasi, tata kerja berubah sama sekali, hubungan bawahan dengan atasan menjadi tak jelas, pekerjaanpekerjaan massal mulai berkurang, digantikan pekerjaan-pekerjaan individual, gerakan buruh mulai kehilangan peran, nasib individual menjadi tak menentu. Dalam situasi inilah identitas primer menjadi tempat mencari perlindungan. Tuntutan gerakan sosial berbasis identitas, untuk saat ini tidak lagi berkisar pada masalah ekonomi, tetapi masalah eksistensi. Mereka tidak menuntut kenaikan gaji atau pembagian keuntungan yang lebih adil seperti pada gerakan-gerakan sosial pada zaman Industrialisasi. Mereka menuntut pengakuan atas keberadaannya, atas hak-haknya untuk hidup sesuai dengan jalan hidup yang diyakini (gerakan-gerakan sosial berbasis agama, suku, gender, pilihan seksual), atas hak-haknya untuk mengelola lingkungan dengan cara sendiri (gerakan-gerakan sosial berbasis lingkungan/kedaerahan). Berdasarkan pengamatan itu, dapat disimpulkan, gerakan sosial berbasis identitas, termasuk di dalamnya gerakan sosial berbasis spiritualitas, akan memainkan peran penting dalam mencari alternatif bagi globalisasi neo-liberal yang sedang berkuasa saat ini. Pertanyaannya,

57 John Avery, Menuju Humanisme Spiritual, Konstribusi Perspektif Muslim Humanis, Terj. Arif Hutoro, (Surabaya: arisalah Gusti, 1995), hal. 72

27

bagaimanakah situasi gerakan sosial berbasis identitas pada umumnya dan berbasis spiritualitas khususnya dalam hubungan dengan globalisasi saat ini? Sejauh mana usaha bersama di antara gerakan sosial itu berlangsung? Pada dataran inilah aktualisasi humanisme religius menjadi penting. Azyumardi Azra mengatakan bahwa berpikir kritis dapat menjadi salah satu alternatif pengembangan proses pendidikan humanis, sebab pendidikan kritis menjadi sarana pembebasan manusia dari ketertindasan dan kebodohan, yang dapat meruntuhkan nilai-nilai kemanusiaannya. Pendidikan Islam adalah sumber daya terbesar dan merupakan kunci dari segala-galanya.58 Zamroni mengatakan bahwa sistem demokrasi di Indonesia dapat dijadikan sebagai suatu proses pendidikan kritis bangsa Indonesia dengan menanamkan pada generasi baru pengetahuan dan kesadaran kemanusiaan, karena sistem demokrasi di Indonesia: pertama, merupakan bentuk kehidupan bermasyarakat yang menjamin hak-hak masyarakat itu sendiri, baik di bidang politik, ekonomi, hukum, pendidikan, dan lain-lain; kedua, Learning process (proses pembelajaran) yang tidak dapat begitu saja meniru atau mencangkok dari masyarakat atau negara lain; ketiga, keberhasilan negara Indonesia dalam sistem demokrasi adalam kemampuan masyarakat untuk mentransformasikan nilai-nilai humanitas dalam segala aspek kehidupan, yang mencakup di da;amnya kebebasan, persamaan hak dan kewajiban, termasuk memperoleh kesempatan memperoleh pendidikan dan ilmu pengetahuan, keadilan serta perlindungan hukum.59 Islam menetapkan bahwa otoritas kemanusiaan dalam ilmu pengetahuan sangat penting. Cukup banyak ayat dan hadis yang menuntut umatnya menghormati ilmu dan berpegang kepada disiplin ilmu keagamaan demi kepentingan kemanusiaan yang mengajarkannya kebaikan dan kemaslahatan. Disiplin ilmu apapun memerlukan otoritas. Islam adalah subjek ilmu yang cukup ketat dalam menentukan siapa yang layak dihormati dan dijadikan guru. Tanpa adanya kriteriakriteria tertentu dalam pemilihan guru atau yang layak dihormati, maka penyelewengan terhadap agama sangat mudah sekali dilakukan. Para humanis religius dalam Islam, melihat anggapan bahwa otoritas agama hanya akan memberi kesan negatif, muncul disebabkan oleh sikap yang ditunjukkan oleh sebahagian ahli agama (Jawa: mengagungkan Kyai, misalnya) yang memonopoli kebenaran dan menghukum pandangan selain daripada unsur lain sebagai tidak Islami, sesat dan sebagainya. Kekeliruan ini timbul akibat salah faham atau distorsi yang disengaja. Wujudnya otoritas ilmu ini tidak mengisyaratkan wujudnya hirarki dalam Islam. Islam sama sekali tidak pernah meletakkan ulama

58

Azyumardi Azra, Esai-Esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, (Jakarata: Logos Wacana Ilmu, 1999), hal. 157 59 Zamroni, Pendidikan Untuk Demokrasi, Tantangan Menuju Cicil Society, (Yogyakarta: BIGRAF Publising, 2001), hal. 17

28

atau Kyai sebagai wakil Tuhan atau pemegang kuasa menggantikan Tuhan seperti yang berlaku dalam tradisi Nasrani dan pemerintahan gereja di zaman kegelapan. Ternyata pengetahuan tentang gerakan sosial berbasis spiritualitas sebagi standar moral bagi kebangkitan Humanisme religius dalam hubungannya dengan globalisasi masih amat terbatas. Banyak karya tulis yang berbicara tentang spiritualitas, gerakan sosial, dan globalisasi, masing-masing sebagai obyek terpisah. Namun, karya tulis yang membahas gabungan ketiganya sebagai kesatuan obyek masih amat langka. Masalah gerakan sosial berbasis pada humanisme spiritualis dalam kaitannya dengan globalisasi ternyata belum menjadi obyek kajian para ilmuwan. Karena itu, hasil penelitian ini boleh dikatakan merupakan perintis dalam penelitianaksi (action-research) tentang masalah kemanusiaan dalam kaitannya dengan era globalisasi. Tujuannya bersifat ganda, menambah khazanah keilmuan di satu sisi dan di sisi lain mencoba mengembalikan semangat dan kesadaran humanisme religius sebagai sebuah sarana atau gerakan sosial berbasis spiritualitas, sehingga Humanisme spritual akan terwujud sebagai manifestasi kemanusiaan dari aktualisasi humanisme religius.60 Saat ini kesadaran humanis religius telah mengalami krisis akibat dari tekanan-tekanan modernitas dan arus globalisasi. Nilai-nilai kemanusiaan telah digantikan oleh kepentingan sesaat, seperti sains, ekonomi politik dan kepentingan subyektif-individualistik. Sebagai bentuk kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan, di Asia dan Eropa, sudah tumbuh gerakan sosial berbasis spiritualitas yang langsung menanggapi dampak globalisasi. Berdasarkan asas spiritualitas, gerakan ini dapat digolongkan menjadi tiga. Pertama, gerakan sosial berbasis satu agama. Sebagaimana ditunjukkan organisasi Katolik Austria, yang menangani soal perubahan pola penggunaan waktu akibat globalisasi, dan Perancis dengan organisasi Katolik yang menyantuni pendatang, serta organisasi Katolik Singapura yang menyantuni pekerja asing). Kedua, gerakan sosial berbasis multi agama. Contohnya sebagaimana dilakukan di Indonesia oleh ICRP (Indonesian Conference of Religion for Peace), yang menangani masalah kekerasan atas perempuan. Ketiga, gerakan sosial berbasis spiritualitas alternatif. Yang dimaksud spiritualitas alternatif adalah spiritualitas di luar agama-agama yang sudah mapan. Ternyata spiritualitas alternatif ini tumbuh subur terutama di Eropa, juga di Asia, baik dalam bentuk penghargaan kembali kepada spiritualitas asli (sebelum datangnya agamaagama besar) maupun spiritualitas baru (sebagai hasil refleksi dari situasi masa kini). Contohcontohnya dapat dilihat di Finlandia tumbuh gerakan eko-spiritual, eko-feminis di Jepang dan Filipina tumbuh gerakan sosial berbasis spiritualitas asli/lokal).61

60

61

John Avery, Menuju..., hal. 79 S. Arifin, dkk., Spiritualitas Islam dan Peradaban Masa Depan, , Yogyakarta: SIPPRES, 1996.

29

Apabila jaringan yang sudah mulai terbentuk dapat dipelihara dan dikembangkan, baik dalam bentuk lokakarya maupun penelitian-aksi bersama, maka agama akan menampakkan wujudnya sebagai sesuatu yang maha penting bagi pemeliharaan nilai-nilai kemanusiaan, yang sebenarnya bersifat universal. Semua yang dilakukan, baik di dunia maupun di akhirat, hukum dunia dan hukum Tuhan, esnsinya adalah semata-mata bertujuan untuk kemashlahatan manusia. Syariat Islam, khususnya Islamic public law perlu dikaji terus menerus, karena teks agama tidak perlu diikuti secara literal saatnya menghindariu sedini mungkin pelaksanaan hukum Islam pada saat ini dari kesan counter-productive, karena pelaksanaannya bertentangan dengan hak-hak asasi manusia dan tidak sesuai dengan tuntan alam dan perkembangan zaman. C. Kesimpulan Humanisme merupakan kata yang ambivalen. Meskipun dapat dipastikan bahwa kata ini memiliki arti positif, namun bagi para pemeluk agama kata humanisme terkadang dipahami sebagai suatu sikap seseorang yang melihat dirinya sebagai subjek yang berdiri sendiri dan terpisah, bukan hanya dari kekuasaan negara atau raja, tetapi juga dari Tuhan. Sebagai insan religius, apabila benar-benar percaya pada Tuhan dan meyakini bahwa Tuhan telah menciptakan dunia dengan segala isinya termasuk manusia, menjadi jelas bahwa sikap memisahkan diri dari Tuhan atau agama, bukan saja suatu bentuk penghinaan, tetapi juga tidak masuk akal. Konsep humanisme dalam tulisan ini tidak lagi dihubungkan dengan orang-orang Eropa, (dengan kebudayaan Romawi atau Yunani Kuno). Tetapi humanisme yang berkembang menjadi gerakan lintas budaya dan universal, dalam arti berbagai sikap dan prilaku etis yang tertuang dalam segala aktivitas dan tindakan manusia dalam berbagai aspek kehidupannya, yang bertujuan membentengi martabat kemanusiaan manusia itu sendiri. Humanisme religius berlandaskan pada keyakinan dan nilai-nilai etik-spiritual yang kokoh, bahwa setiap manusia harus diperlakukan sebagai manusia, dapat menyatukan manusia yang berbeda, baik perbedaan keyakinan dan pola kehidupan sosial, sebuah masyarakat yang melindungi martabat seluruh anggotanya, karena manusia yang ada didalamnya menjadi sasaran utama. Aktualisasi humanisme religius menuju humanisme spritual merupakan salah satu model yang baik dan pantas ditawarkan bagi upaya mensikapi tantangan global dengan mencoba menemukan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang hilang. Humanisme religius tidak memisahkan dunia ke dalam bidang (material dan spiritual, duniawi dan ukhurawi, lahir dan batin) yang berbeda dan mampu melihat akal atau rasionalitas dan pengalaman mistis spiritualis terpancar dari sumber yang sama. Perbedaan yang ada adalah perbedaan dalam pemikiran, bukan dalam

30

realita. Oleh karena itu, perlu menata kembali nilai kebersamaan yang humanis, karena ungkapan tersebut mengandung banyak nilai yang berharga. Islam adalah agama Tauhid, tujuannya mengintegrasikan kehendak Allah yang ada di dalam kitab suci, sehingga terbebas dari bencana teologis, kosmos, dan kosmis. Inilah yang disebut takwa yang puncaknya sering disebut ihsan, yaitu proses kesadaran menghadirkan Tuhan di mana pun (pada tingkat teologis, kosmos, dan kosmis) dan kapanpun. Inilah yang disebut Islam Kaffah (Holistik) atau menjadi Insan Kamil. Muslim holistik selalu menyeimbangkan antara hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan horizontal dengan manusia maupun alam. Secara teologis, dia taat kepada perintah Allah, dan secara sosial, dia bersikap humanis, ramah, dan menghormati orang lain serta menjaga alam sebaik-baiknya. Dari sinilah, muncul sikap humanis-religius, yakni sikap yang mengedepankan sisi-sisi kemanusian dan nilai-nilai religi (agama). Integrasi antara keduanya dapat ditemukan pada karakter muslim holistik. Muslim holistik dalam semangat humanis-religius adalah pemimpin (khalifah), sebab, dia dapat mengintegrasikan kehendak Allah dalam segala aspek kehidupannya. Tradisi humanisme religius mengajarkan kepada manusia untuk berlaku adil antar sesama dan hidup damai di tengah kancah perbedaan. Dengan berpegang pada nilai humanitas, berarti menyadari bahwa sepanjang sejarah, mulai dari masa lalu hingga saat ini, manusia ada dalam kesatuan ruang dan waktu. Manusia dalam dimensi kesatuan ruang dan waktu merupakan bukti kesatuan eksistensial relasi dirinya dengan yang lain. Hal inilah yang diajarkan dalam agama sebagai tradisi primordial atau dalam kehidupan beragama secara formal disebut dengan kesatuan ummah (ummatan wahidatan). Tidaklah berlebihan apabila humanisme religius dinilai sebagai salah satu kriteria keaslian agama. Suatu agama yang tidak membenarkan perbuatan jahat terhadap makhluk yang bernyawa dengan menyakiti atau mempermalukan orang lain dengan alasan agama atau untuk mempertahankan kebenaran agamanya. Dalam kontek humanisme religius, hal ini kejahatan dan penghancuran nilai-nilai kemanusiaan, justru dianggap menodai ajaran-ajaran agama, dirinya dan para pemeluknya. Sikap marah atau kejam atas nama agama (Tuhan) menurut penulis sangat menjijikkan, justru penghinaan terhadap Tuhan.

Sepanjang sejarah, tragedi kemanusiaan selalu terjadi, saban hari orang-orang disiksa, ditembak, dibakar atau dibunuh dengan pedang atas nama kekejaman, kebodohan, hukum atau ortodoksi agama. Ini merupakan bentuk kesalahpahaman yang fatal terhadap agama, bahkan penyelewengan terhadap kehendak Tuhan. Mungkin hal ini disebabkan oleh kebutaan, kekasaran hati dan arogansi manusia, karena nilai-nilai etis sebagai standar

31

moral bagi bangunan masyarakat humanis yang religius telah terkikis oleh krisis spiritual manusia. Hidup menjadi dangkal dan agama seakan-akan tidak lagi dapat berperan menyelesaikan problem kehidupan, bahkan kini dianggap telah menjadi sumber kekerasan dan petaka yang semakin mengancam nilai-nilai kemanusiaan. Untuk itu perlu perhatian serius dari insan beragama dalam menata ulang kehidupan yang harmonis dan seimbang sesuai dengan tatanan universal alam semesta yang membawa rahmat bagi seluruh isi di dalamnya.

DAFTAR PUSTAKA Abu Ahmadi, Filsafat Islam, Semarang: Toha Putra, 1982. Abu Hatsin, dalam Kata Pengantar buku Islam dan Humanisme, Aktualisasi Humanisme Islam Ditengah Krisis Humanisme Universal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007. Ahmad Mustofa, Filsafat Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1999. Amin Abdullah, Humanisme Religius versus Humanisme Sekular, Menuju Humanisme Spiritual, dalam Islam dan Humanisme, Aktualisasi Humanisme Islam Di Tengah Krisis Humanisme Universal, (ed. Terj.) Dedi M. Siddiq, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007. Asghar Ali Engeneer, Islam dan and Liberation Teology, New Delhi: Sterling Publishers Private Limited, 1990. Azyumardi Azra, Esai-Esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarata: Logos Wacana Ilmu, 1999 Calvin, dalam John Hick, Satu Tuhan Banyak Nama, Jakarta: Gramedia Utama, 2001. Corliss Lamont. The Philosophy of Humanism. New York: Humanist Press, 1997. F. B. Hardiman, Para Filsuf Penentu Gerak Zaman, Yogyakarta: Kanisisus, 1992.

32

Franzs Magnis Suseno, Islam dan Humanisme, Aktualisasi Humanisme Islam Di Tengah Krisis Humanisme Spiritual, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003. Frithjof Schuon, The Trancendent Unity of Religions, New York: Evanston, 1975.
George Makdisi. The Rise of Humanism in Classical Islam and the Christian West: With Special Reference to Scholasticism, Edinburgh: Edinburgh University Press, 1990.

---------, Cita Humanisme Islam: Panorama Kebangkitan Intelektual dan Budaya Islam dan Pengaruhnya terhadap Renaisans Barat, Jakarta: Serambi, 2005. Haidar Nashir, Agama Dan Krisis Kemanusiaan Modern, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999. H. M. Rasyidi, Filsafat Agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1996. Huston Smith, Agama-Agama Manusia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001. Immanual Kant, Kritik der Reinen Vernunft, Terj. Norman K. Smith, Critiqui of Pure Reason, New York: St. Martins Press, 1986. Ismail Faruqi, Islamisasi Ilmu, Jakarta: Gramedia, 2003. John Avery, Menuju Humanisme Spiritual, Konstribusi Perspektif Muslim Humanis, Terj. Arif Hutoro, Surabaya: Risalah Gusti, 1995. John Hick, Tuhan Punya Banyak Nama, Yogyakarta, DIAN/Interfidei, 2006 K. Bertens, Fenimenologi Eksistensial, Jakarta: Gramedia, 1987. Lee C. Deighton, The Ensiclopedia of Education, Macmillan: The Macmillan Company and Free Press, 1971. Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000. Lenn Evan Goodman. Islamic Humanism, New York: Oxford University Press, 2003. Lee C. Deighton, The Ensiclopedia of Education, Macmillan: The Macmillan Company and Free Press, 1971. Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000. Marchel A. Boisard, Humanisme dalam Islam, Terj. H.M. Rasyidi, Jakarta: Bulan Bintang, 1980. ---------, Humanism in Islam, Indianapolis: American Trust Publications, 1988. Musa Asyari, Dialektika Agama untuk Pembebasan Spiritual, (Yogyakarta: LESFI, 2002. Oliver, Humanism Islam Abad ke-4H/ke-10M dalam Seyyed Hossein Nasr & Oliver Leaman (editor), Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, Bandung: Mizan, 2003. Paul F. Grendler. Humanism: Ancient Learning, Criticism, Schools and Universities, dalam Angelo Mazzocco: Interpretations of Renaissance Humanism. Leiden; Boston: Brill, 2006.
S. Arifin, dkk., Spiritualitas Islam dan Peradaban Masa Depan, , Yogyakarta: SIPPRES, 1996.

33

S. H. Nasr, The Heart of Islam, Pesan-Pesan Universal untuk Kemanusiaan, Bandung, Mizan, 2003. Sudarwan Danim, Menjadi Komunitas Pembelajar, Kepemimpinan Transformasional dalam Komunitas Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2003. William Chittick, The Sufi Path of Love: The Spiritual Teachings of Rumi. Oxford: University Press, 1986. Zainal Abidin, Filsafat manusia, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000. Zamroni, Pendidikan Untuk Demokrasi, Tantangan Menuju Cicil Society, Yogyakarta: BIGRAF Publising, 2001.