You are on page 1of 3

PENINGKATAN PENGETAHUAN KEAMANAN PANGAN PADA IBU-IBU PKK PERUMAHAN ARJUNA GUMILANG, DESA NGIJO, KECAMATAN KARANGPLOSO MALANG

G MELALUI PENYULUHAN PENGOLAHAN PANGAN YANG BAIK DAN BENAR

Okky Meidiana Prameswari (0911010061), Siti Aisyah Nurfiliyah (0911010075), Violetta Prisca Effendi (0911010085) Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

ABSTRAK

Kelompok PKK Perumahan Arjuna Gumilang merupakan kelompok kegiatan masyarakat yang sebagian besar anggotanya adalah ibu rumah tangga. Dalam kehidupan sehari-hari,para ibu akan berurusan dengan pengolahan pangan, baik untuk keluarga maupun keperluan lain. Pengetahuan mengenai pengolahan pangan sangat dibutuhkan guna memastikan bahwa bahan pangan dan produk pangan tetap pada kondisi yang aman untuk dikonsumsi sehingga penyuluhan pengetahuan keamanan pada pengolahan pangan penting bagi para ibu rumah tangga. Kegiatan penyuluhan mengunakan metode ceramah dan curah pendapat. Evaluasi dilakukan melalui pemberian kuesioner sebelum dan setelah kegiatan penyuluhan. Hasil rekapitulasi kuesioner awal sebesar 45.24% pada bagian pengetahuan dan 67.14% pada bagian sikap. Pengukuran peningkatan pengetahuan dilakukan berdasarkan feedback. Pengetahuan peserta dapat dikatakan meningkat mengenai keamanan pangan pada proses pengolahan pangan berdasarkan feedback yang diberikan peserta. Kata kunci: Arjuna Gumilang, kemanan pangan, pengetahuan

PENDAHULUAN Kelompok PKK Perumahan Arjuna Gumilang merupakan kelompok kegiatan masyarakat yang terletak di Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kota Malang. Adapun jumlah anggotanya kurang lebih 40 orang. Kegiatan yang diadakan kelompok PKK ini antara lain pertemuan rutin tiap bulan yang diisi kegiatan arisan, simpan pinjam, dan tak jarang pula diisi dengan kegiatan penyuluhan oleh dinas kesehatan, kader posyandu, serta ajang promosi beberapa produk. Adanya kelompok PKK ini dapat membantu ibu-ibu di Perumahan Arjuna Gumilang untuk memperoleh berbagai informasi karena pertemuan rutin PKK diadakan setelah pertemuan rutin di tingkat kelurahan dilaksanakan. Berdasarkan hasil diskusi kami dengan Ibu Ketua PKK dan pengurus yang lain, diketahui bahwa hampir sebagian besar anggota PKK adalah ibu rumah tangga, dengan tingkat pendidikan yang beragam. Dalam kehidupan sehari-hari, tentunya para ibu rumah tangga dari PKK ini akan berurusan dengan pengolahan pangan, baik untuk keluarga maupun untuk keperluan lain seperti hajatan dan lain-lain. Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang dilakukan untuk menjamin bahwa pangan yang dikonsumsi tidak mengandung

bahaya biologi, kimia dan fisik yang dapat mengganggu merugikan dan membahayakan kesehatan. Foodborne disease atau lazim disebut dengan istilah keracunan pangan merupakan penyakit yang umumnya bersifat infeksi atau intoksikasi / racun, yang disebabkan oleh agent yang masuk kedalam tubuh melalui makanan yang dicerna. Penyebab keracunan pangan sangat bervariasi meliputi bakteri, parasit, virus, ganggang air tawar maupun ganggang air laut, racun mikrobial, racun flora dan fauna, terutama hasil laut. Tetapi lebih dari 90% keracunan pangan disebabkan oleh kontaminasi mikroba, diantaranya bakteri yang menyebabkan penyakit tipus, disentri, botulism dan intoksikasi bakteri lainnya, serta virus penyebab hepatitis A dan cacingan misalnya karena trichinellosis. Bakteri merupakan makhluk hidup berukuran sangat kecil yang hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop. Walaupun sebagian besar bakteri tidak membahayakan, tetapi beberapa diantara bakteri yang lain dapat menyebabkan penyakit atau bersifat pathogen. Jika bakteri pathogen terdapat pada pangan, maka pangan yang dikonsumsi dapat menyebabkan keracunan. Keamanan pangan tidak lepas dari proses penanganan (pengolahan pangan) dan

penyimpangan pangan. Pangan yang tercemar oleh bakteri pathogen tidak selalu mengalami perubahan warna, bau atau rasa. Kondisi penanganan pangan perlu diperhatikan untuk mengetahui apakah sudah memenuhi persyaratan keamanan pangan atau belum. Penanganan pangan yang baik harus sehat, bersih dan rapi serta menerapkan kebiasaan yang higienis selama menangani pangan. Penyimpangan pangan dapat dilakukan di lemari pada suhu ruang, di lemari pendingin atau di lemari beku tergantung dari jenis pangannya. Pangan beku dan pangan yang disimpan dingin harus segera disimpan di tempat yang sesuai (lemari beku atau lemari pendingin). Menyimpan pangan terlalu lama di suhu ruang, dapat menurunkan mutu pangan dan juga meningkatkan risiko keamanan pangan. Pangan dingin sebaiknya dijaga agar tetap dingin dan disimpan pada suhu 5C atau lebih rendah. Penyimpangan dingin akan memperlambat pertumbuhan bakteri. Penyimpanan beku (-12C atau lebih rendah) di dalam lemari beku akan menghentikan pertumbuhan bakteri. Pembekuan dan penyimpanan beku tidak membunuh semua bakteri yang mungkin telah ada pada pangan sebelum pangan tersebut dibekukan sehingga produk pangan yang disimpan beku tetap harus dimasak secara sempurna untuk membunuh bakteri pathogen yang mungkin ada. Pada prosesnya, pengetahuan mengenai pengolahan pangan sangat dibutuhkan guna menjaga agar nutrisi pada masakan tetap terjaga dengan baik (tidak banyak berkurang) atupun dalam memastikan bahwa bahan pangan dan produk pangan tetap pada kondisi yang aman untuk dikonsumsi. Oleh karenanya penyuluhan pengetahuan keamanan dan pengolahan pangan ini penting adanya bagi para ibu-ibu rumah tangga. METODE Kegiatan penyuluhan dilakukan pada kelompok PKK Perumahan Arjuna Gumilang, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso-Malang pada tanggal 20 Mei 2012. Penyuluhan diikuti oleh 21 ibu-ibu PKK. Metode yang digunakan dalam penyuluhan keamanan pangan terhadap ibu PKK di Desa Ngijo adalah metode ceramah dimana penyuluh menyampaikan materi secara langsung (tidak menggunakan slide presentasi) yang diselingi dengan melontarkan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang sedang disampaikan guna menarik

perhatian peserta untuk menghindari kontak forum dalam forum. Selain itu, penyuluh juga memberi ilustrasi yang berkaitan dengan materi guna mempermudah peserta dalam memahami materi yang disuluhkan. Pemakaian metode ini ditujukan agar peserta yang disuluh aktif, serta respect terhadap materi yang disuluh. Adanya penggunaan sampel atau ilustrasi ditujukan agar peserta penyuluhan dapat lebih mudah mengerti dan menyerap materi yang disuluhkan. Tahapan pelaksanaan kegiatan penyuluhan terdiri dari penyuluhan dan evaluasi. Pada tahap penyuluhan, peserta penyuluhan diberi iinfomasi mengenai keamanan pangan dan pengolahan pangan serta dampak atau akibat ia prinsip keamanan pangan tidak dilakukan saat pengolahan pangan. Secara umum, output yang diharpkan dari kegiatan penyuluhan ini adalah peningkatan pengetahuan keamanan pangan dan pengolahan pangan pada peserta penyuluhan. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh untuk memprediksi dampak yang dihasilkan terhadap peningkatan pengetahuan ibu-ibu PKK melalui kuesioner yang diberikan sebelum dan setelah kegiatan penyuluhan. HASIL KEGIATAN Hasil kegiatan yang telah dilakukan pada setiap tahap pelaksanaan kegiatan adalah sebagi berikut: 1. Penyuluhan keamanan pangan Secara umum informasi yang diberikan mencakup kontaminasi silang bahan pangan, pengolahan pangan yang baik dan penyimpanan pangan yang benar. Kegiatan penyuluhan berlangsung berjalan dengan lancar dan ibu-ibu PKK berperan aktif dalam kegiatan penyuluhan. Antusiasme ibu-ibu PKK dalam kegiatan penyuluhan sngat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan oleh ibu-ibu PKK. Selain itu, para ibu PKK juga aktif menanggapi pertanyaan yang diajukan penyuluh kepada ibu-ibu PKK sehingga kegiatan penyuluhan berjala dengan baik. Terdapat beberapa orang peserta dalam kegiatan penyuluhan yang dimungkinkan kurang mampu mengakses materi yang disuluhkan karena keterbatasan ruangan sehingga harus duduk diluar ruangan (namun ruangan masih terhubung oleh pintu). 2. Evaluasi Kegiatan evaluasi yang direncakan, yaitu melalui kuesioner sebelum dan setelah kegiatan penyuluhan tidak dapat dilakukan dengan baik. Kuesioner hanya dapat diberikan sebelum kegiatan berlangsung karena keterbatasan waktu yang diberikan kelompok

PKK kepada penyuluh sehingga evaluasi dilakukan melalui hasil rekapitulasi kuesioner awal (sebelum kegiatan Penyuluhan) dan pengukuran tingkat pemahaman melalui feedback yang muncul dari ibu-ibu PKK. Kuesioner yang diberikan terdiri dari tiga bagian soal, yaitu bagian A (pengetahuan), bagian B (sikap) dan bagian C (tindakan). Masing-masing bagian soal terdiri dari sepuluh soal. Berdasarkan rekapitulasi kuesioner awal (sebelum kegiatan penyuluhan berlangsung) secara keseluruhan diperoleh rata-rata pengetahuan yang dimiliki ibu-ibu PKK mengenai kemanan pangan pada proses pengolahan pangan adalah 45.24% dan 67.14% pada pengetahuan bersikap terhadap pengetahuan keamanan dan pengolahan pangan. Feedback yang diberikan oleh ibu-ibu PKK cukup baik. Feedback yang dimaksud adalah banyak dai para ibu PKK yang mengajukan pertanyaan tentang beberapa studi kasus yang dialami ibu-ibu PKK dalam kehidupan sehari-hari. Dari rekapitulasi kuesioner awal (sebelum kegiatan penyuluhan berlangsung) diperoleh bahwa pengetahuan ibu-ibu PKK mengenai keamanan pangan pada proses pengolahan pangan termasuk dalam level yang rendah. Dari feedback yang diberikan ibu-ibu PKK dalam kegiatan penyuluhan kemanan pangan pada proses pengolahan pangan dapat dikatakan bahwa pengetahuan ibu-ibu PKK meningkat dari sebelum kegiatan penyuluhan dilakukan. Dalam kegiatan penyuluhan ini terdapat beberapa faktor pendorong dan penghambat. Beberapa faktor yang mendorong pelaksanaan dan keberhasilan kegiatan ini adalah mitra pelaksana maupun khalayak sasaran memiliki motivasi yang kuat untuk memperoleh pengetahuan mengenai keamanan pangan pada proses pengolahan pangan dan mitra bersifat dinamis dan terbuka terhadap peningkatan pengetahuan.

Faktor-faktor penghambat dalam kegiatan ini adalah fasilitas untuk diadakannya penyuluhan kurang menunjang seperti tidak tersedianya microphone dan LCD proyektor saat kegiatan berlangsung sehingga peserta yang berada di luar ruangan tidak dapat mendengarkan materi penyuluhan dengan baik sehingga peserta ramai dengan kegiatan individunya, waktu yang singkat sehingga kegiatan penyuluhan tidak dapat dilakukan sesuai rencana dan tata ruang penyuluhan yang sempit sehingga tidak dapat menampung peserta dengan jumlah yang banyak dan ada peserta yang duduk di luar ruangan.

KESIMPULAN Secara umum transfer pengetahuan telah dilakukan. Mitra pelaksana maupun khalayak sasaran telah memahami prinsip keamanan pangan pada proses pengolahan pangan. Hal disimpulkkan berdasarkan feedback yang muncul dari para ibu PKK. Kegiatan penyuluhan berjalan dengan baik dan lancar serta antusiasme peserta dalam kegiatan penyuluhan yang sangat tinggi. DAFTAR PUSTAKA Rahayu, W.P, dkk. 2006. Penyuluhan Keamanan Pangan Untuk Konsumen Swalayan. Badan POM RI