You are on page 1of 4

MEMITRA NGALANG SALAH SATU DELIK ADAT BALI-HINDU OLEH : I GUSTI NGURAH SUTARKA,SH.

Dengan memanjatkan puji syukur kami coba menguraikan beberapa delik adat khususnya masyarakat Bali-Hindu. Dengan tulisan ini mudah-mudahan ada manfaat bagi pembaca untuk menambah pengetahuan bagi yang belum mengetahui. Dalam hal ini akan kami uraikan beberapa saja, dimana uraian ini merupakan hasil penelitian dari Wayan P Windia pada Pusat Kajian Hukum Adat Universitas Udayana yang sudah dipublikasikan dalam media Bali Post. Dalam hubungannya dengan tugas Polri sebagai pengemban fungsi Polmas, dimana Polri bertugas Mengayomi, Melindungi dan Melayani masyarakat akan menghadapi permasalahan yang sangat kompleks di masyarakat. Dengan adanya informasi ini akan dapat menambah wawasan akademis dimana tingkat pola pikir masyarakat yang semakin maju. Kata Memitra artinya berzinah. Mitra artinya lawan berzinah ( huruf a pada mitra dibaca e ). Pamitra artinya sama-sama dengan orang yang diajak berzinah. Ngamitrain artinya yang menzinahi. Galang berarti terang atau lapang. Mamitra Ngalang tidak berarti berzinah secara terang-terangan. Terang dalam hal ini menunjuk kepada prilaku seseorang dalam menunaikan sesuatu yang tidak menaruh peduli terhadap lingkungannya. Terlepas dari apakah sesuatu itu benarbenar dilakukan dibawah sinar lampu yang terang benderang atau sebaliknya tanpa lampu sama sekali. Memitra Ngalang adalah salah satu jenis delik adat di Bali, menyangkut kesusilaan. Kata delik berasal dari bahasa Belanda, Delict yang artinya kejahatan atau pelanggaran. Selain Memitra Ngalang, delik adat sejenis lainnya seperti : lokika sanggraha, drati krama, salah krama, gamia gemana, dll. Menurut I Made Widnyana, guru besar bidang hukum pada Fakultas Hukum Unud menyebut Memitra Ngalang sebagai suatu delik adat berupa seorang laki-laki yang sudah beristri mempunyai hubungan dengan wanita lain yang diberinya nafkah lahir bhatin seperti layaknya suami istri, tetapi wanita ini belum dikawini secara syah.

Delik adat ini memang mirip dengan drati krama, tetapi tentu saja tidak persis sama. Dalam Memitra Ngalang transaksi bukan hanya sekali dua kali, melainkan dirancang sedemkian rupa sehingga hubungan antara pria dan wanita bersifat berkelanjutan. Dalam rangka untuk menjamin kelancaran proyek ini mereka tak ragu-ragu untuk keluar dari lingkungan keluarganya. Perbuatan Memitra Ngalang ini juga tidak memperhatikan kelestarian lingkungan, apapun yang dikatakan tetangganya atau masyarakat disekitarnya dua orang itu tetap saja melakukan proyek padat karyanya.Perbuatan Memitra Ngalang dapat dihukum pidana kalau pihak yang berkepentingan menghendaki, dalam hal ini suami/istri, karena memitra atau berselingkuh termasuk salah satu tindak pidana aduan/klachdelict. Perbedaan Memitra Ngalang dengan Drati krama yakni pada Memitra Ngalang sudah diuraikan seperti diatas, sedangkan Drati Krama sama-sama merupakan delik adat dimana hubungannya hanya bersifat sementara atau lebih tepat dibilang sesaat. Misalnya seorang pria yang sudah kawin, secara tiba-tiba hatinya berontak demikian rupa dan jatuh tak tertahankan dalam pangkuan seorang wanita, di luar dugaan wanita yang tak terkejut kejatuhan hati, bahkan sebaliknya memungut dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. Sesudah didahului dengan bumbu basa-basi sebagai pendahuluannya, akhirnya kata sepakat pun tercapai, dan selanjutnya tinggal menunggu saat yang tepat dan tempat yang tepat untuk melakukan transaksi, serta selesai. Hukum nasional / KUHP tidak mengenal perbedaan antara drati krama dan memitra ngalang, dilakukan sekali saja atau terus menerus, sama saja yang disebut zinah, diancam dengan hukuman penjara sebagaimana diatur pasal 284 KUHP. Masalahnya kalau ini diteruskan pastilah dapat dibayangkan akibatnya, yaitu sebuah perceraian, artinya kalau seorang suami atau istri mengadukan karena perzinahan maka dia harus siap untuk cerai. Agaknya kesiapan semacam ini yang jarang dimiliki oleh seorang suami atau istri, dan termasuk yang paling jarang sekalipun harus lebih suka memilih kura-kura didalam perahu atau mengikuti gedang renteng uyah areng sane nglenteng gelahang bareng. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Memitra Ngalang suatu perbuatan yang dilakukan tanpa memperhatikan kelestarian lingkungannya dan

dilakukan

berkelanjutan/terus

menerus,

sedangkan

Drati

Krama

terjadinya

perbuatan hanya bersifat sementara atau sesaat. Berikut akan diulas delik adat yang lain seperti salah krama, lokika sanggraha dan gamia gemana. Salah Krama merupakan delik adat dimana orang melakukan hubungan kelamin dengan makhluk yang tidak sejenis. Tegasnya, hubungan kelamin itu terjadi manusia dengan hewan. Misalnya seorang pria melakukan hubungan kelamin dengan sapi betina, atau sebaliknya seorang wanita karena lagi birahi yang tak ketulungan berusaha memuaskan kebutuhannya dengan jalan memanfaatkan jasa anjing jantan piaraannya sebagai lawan tanding. Lokika Sanggraha juga merupakan delik adat. Yang dimaksud dengan Lokika Sanggraha menurut Wayan P Windia dalam catatan populer Hukum Keluarga Perspektif Hukum Adat Bali, adalah hubungan cinta antara seorang pria dengan seorang wanita, dua-duanya belum terikat dalam perkawinan yang syah, dilanjutkan dengan hubungan seksual atas dasar suka sama suka, karena adanya janji dari si pria untuk mengawini si wanita, namun setelah si wanita hamil ternyata si lelaki mengingkari janjinya tanpa alasan yang syah. Dengan demikian unsur-unsur Lokika Sanggraha sebagai berikut : Adanya hubungan cinta antara seorang wanita dengan seorang laki-laki Dalam hal ini telah terjadi hubungan seksual atas dasar suka sama suka Adanya janji-janji tertentu oleh seorang laki-laki kepada wanita Si laki-laki memutuskan hubungan cintanya. Bila Salah Krama dan Lokika Sanggraha yang dimaksud seperti tersebut diatas, maka Gamia Gemana adalah merupakan larangan kawin atau mengadakan hubungan seksual antara orang-orang yang masih ada hubungan kekeluargaan dekat baik menurut garis lurus maupun kesamping. Hal ini sejalan pula dengan ketentuan dalam undang-undang perkawinan : U U No. 1/1974, yang juga melarang adanya perkawinan diantara saudara dekat. Misalnya melangsungkan perkawinan dengan keponakan, anak tiri, misan dan saudara dekat lainnya. Pasal 8 U U No. 1/1974 ( Undang-undang Perkawinan ) menyatakan : Perkawinan dilarang antara dua orang yang :
3

Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah ataupun ke atas Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara saudara, antara seorang dengan saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya

Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu/bapak tiri Berhubungan susuan, yaitu orang tua susuan, anak susuan, saudara susuan dan bibi/paman susuan Berhubungan saudara dengan istri atau sebagai bibi atau kemenakan dari istri, dalam hal seorang suami beristri lebih dari seorang Mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku, dilarang kawin. Demikian ulasan singkat ini semoga ada manfaatnya buat kita, dan sudah

tentu ada kekurangan-kekurangannya, untuk itu mohon maaf dan saran/kritik yang positif, serta atas kerjasamanya dihaturkan terimakasih.