You are on page 1of 33

TUGAS TERSTRUKTUR KELOMPOK I GOLONGAN I A(H DAN Li)

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Kimia Unsur yang dibina oleh Dra. Sri Wardhani, M.Si.

disusun oleh: Chandra Ayu S. Fifi Nafikah Hayyunisa Thaati Titin Maulidyawati (0910920006) (0910920010) (0910920012) (0910920018)

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

BAB I PENDAHULUAN

Gas mulia adalah unsur-unsur yang terdapat dalam golongan VIIIA yang memiliki kestabilan yang sangat tinggi dan sebagian ditemukan di alam dalam bentuk monoatomik. unsur-unsur yang terdapat dalam gas mulia yaitu Helium (He), Neon (Ne), Argon (Ar), Kripton (Kr), Xenon (Xe), Radon (Rn). Gas-gas ini pun sangat sedikit kandungannya di bumi. Dalam udara kering maka akan ditemukan kandungan gas mulia sebagai berikut (Anonymous1, 2008): Helium = 0,00052 % Neon = 0,00182 % Argon = 0,934 % Kripton = 0,00011 % Xenon = 0,000008 Radon = Radioaktif

A. HELIUM Ditemukan oleh pierre Janssen pada tahun 1868. Memiliki nama asli yaitu helios yang merupakan bahasa yunani dengan arti matahari. Meskipun, helium ada di alam secara natural, tetapi pada awalnya helium ditemukan di matahari. Helium pertama kali dideteksi saat terjadi gerhana matahari pada tahun 1868, ketika seorang astronot bernama Pierre Janssen melihat spektrum garis pada matahariyang tidak dapat dijelaskan oleh beberapa unsur yang telah diketahui. Helium tidak ditemukan pada bumi hingga tahun 1895, ketika William Ramsay menemukan beberapa helium pada bijih uranium. Pada saat ini, kebanyakan helium didapatkan dari sumur gas alam (Miller,2006). Helium adalah gas mulia yang paling ringan dan yang pertama kali ditemukan. Pada kenyataannya, unsur ini pertama kali ditemukan di matahari bukan di bumi. Pada tahun 1868, ketika terjadi gerhana matahari di india, suatu spektrometer digunakan pertama kali untuk mempelajari kromosfer yang mengelilingi matahari. Spektrum kromosfer itu memiliki garis yang cerah atau terang yang mengandung garis dengan karakteristik hidrogen dan yang lainnya berwarna kuning. Astronot prancis bernama Janssen memutuskan untuk mempelajari garis tersebut dan mencoba memproduksi ulang spektrum kromosfor dari cahaya biasa. Dia berhasil mengungkapkan bahwa garis berwarna kuning bukanlah natrium tetapi dimungkinkan garis tersebut merupakan suatu

elemen baru. Lockyer and Frankland menyetujui hasil eksperimen Janssen yang mengatakan bahwa garis kuning tersebut tidak dimiliki bumi. Franklang bertujuan memberikan nama helium setelah mendapat dari bahasa yunani helios yang berarti matahari. Garis ini juga dideteksi pada beberapa spektrum bintang yang lain (Anonymous2, 2010). Penemuan unsur baru sangat tidak berkembang hingga 1895, ketika Sir William ramsay mencoba menghasilkan suatu gas dari bijih Norwegian (cleveite) ketika mereaksikannya dengan asam. Pada spektrum gas ini muncul garis berwarna kuning terang dan dikenal dengan helium. Sir William Ramsay menemukan penemuan ini setelah melihat kerja Hillebrand pada tahun 1888, sejumlah uraninite di didihkan dengan asam sulfat dan menghasilkan sejumlah gas yang inert. Dia mengungkapkan bahwa bagian dari gas ini adalah nitrogen dan ketika helium belum dikenal, dia mengira bahwa gas tersebut hanyalah nitrogen. Namun pada spketrum gas nitrogen yang dihasilkan terdapat beberapa garis aneh yang tidak ada pada nitrogen murni. Garis aneh tersebut merupakan spektrum dari helium (Anonymous2, 2010). Penemuan helium pada bahan radioaktif tidak secara sepenuhnya dimengerti hingga ditemukan radium pada 1898. Lalu dapat diketahui bahwa helium adalah produk yang stabil dari pembelahan unsur radioaktif. Penemuan helium dibuat dari bahan radioaktif dan beberapa unsur yang sangat jarang ditemui. Atmosfer dekat bumi mengandung 0.0004% helium, dimana 1 molekul helium tiap 200000 molekul udara. Helium juga ditemukan dalam jumlah yang rendah pada batuan,gas alam, gas vulkanik dan mineral radioaktif (Anonymous2, 2010). Helium adalah 1 dari 6 unsur yang diketahui sebagai gas mulia karena bersifat inert. Helium tidak bereaksi dengan unsur lainnya. Ketika hidrogen dan oksigen secara normal ditemukan sebagai molekul yang masing masing terdiri dari dua atom (H2 dan O2), helium ditemukan sebagai atom tunggal. Helium merupakan gas kedua yang paling kecil densitasnya setelah hidrogen. Karena alasan ini, helium digunakan pada balon udara dan balon. Helium tidak menghasilkan energi sebesar hidrogen dan lebih aman digunakan karena helium merupakan unsur yang tidak mudah terbakar (Miller,2006). Helium adalah unsur yang paling melimpah kedua di alam semesta setelah hidrogen. Unsur ini tidak bisa diperoleh di atmosfer bumi. Semua helium yang digunakan di bumi ini merupakan hasil ekstraksi dari sumur gas alam. Helium pertama kali ditemukan dalam

spektrum matahari. Atom helium dapat diperoleh dari reaksi fusi atom hidrogen dimana pada proses ini dihasilkan pula sinar matahari dan panas (Miller,2006). Helium adalah unsur kedua yang melimpah di alam semesta setelah hidrogen. Helium terbentuk secara alami di bumi oleh peluruhan radioaktif dari unsur dengan nomor massa yang besar. Kebanyakan helium ini bergerak ke permukaan dan masuk ke atmosfer. Dan secara logis dapat diketahui bahwa konsentrasi helium di atmosfer lebih tinggi daripada di laut (5,25 ppm di laut). Meskipun helium memiliki berat molekul yang kecil, helium bebas ke udara memiliki kecepatan yang sama dengan kecepatan pembentukannya. Gas alam mengandung helium dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari pada di atmosfer. Helium merupakan unsur ke 71 yang melimpah di kerak bumi dan ditemukan sekitar 8 ppm (Anonymous3, 2004). 1. Sifat Fisik dan Kimia Helium memiliki beberapa sifat fisik yaitu sebagai berikut (Anonymous2, 2010):
o o o o o

Nama: Helium Nomor Atom: 2 Simbol Kimia: He Konfigurasi Elektron: 1s2 Kelimpahan: Bumi: 0.008 ppm Sistem matahari: 6.31x1010 (rel. to [H]=1x10 )
12

Energi Ionisasi Atom: 1s : 2373 kJ mol-1 Energi Ionisasi berurutan: He - He + : 2372.3 kJ mol-1 He+1 - He+2 : 5250.4 kJ mol-1 Substansi dasar yang sering dikenal : He

Kelas dasar substansi : Nonmetal

o o o o o o

Massa atom: 4.002602 Elektronegativitas: Mutlak: 12.3 eV Afinitas Elektron: 0 kJ mol-1 Polarisabilitas: 0.2 3 Muatan Inti Efektif: Slater: 1.7 Clementi: 1.69 Froese Fischer: 1.62 Radius: Atom: 128 pm Van der Waals: 122 pm
o o o

Sumber : Natural Keadaan dasar : Gas Densitas [4K] : 125 kg m-3 Kisi kristal : h.c.p. Titik Leleh : 1 K Titik Didih : 4 K Konduktivitas Panas [300K] : 0.152 W m-1K-1 Panas dari: Fusi: 0.021 kJ mol-1 Penguapan: 0.082 kJ mol-1 Atomisasi: 0 kJ mol-1

Berikut merupakan gambar struktur kristal helium (Anonymous2, 2010):

Helium merupakan gas mulia yang bersifat inert sehingga sulit untuk bereaksi dengan unsur yang lain. Helium memiliki banyak sifat yang unik yaitu titik didih yang rendah, densitas yang rendah, kelarutan yang rendah, konduktivitas panas yang tinggi dan sifat yang inert, karena itu helium digunakan untuk beberapa aplikasi yang membutuhkan keunikan sifatnya tersebut (Anonymous3, 2004). 2. Isolasi Helium Helium dihasilkan melalui peluruhan radioaktif unsur unsur berat seperti uranium dan thorium. Pada proses radiasi unsur ini akan menghasilkan partikel alfa yang nantinya akan membentuk inti atom helium. Beberapa unsur helium ini akan keluar menuju atmosfer yang mana helium akan dengan cepat naik dan keluar ke luar angkasa. Sebagian lagi tetap di bumi karena terjerat di lapisan impermeabel batuan dan bercampur dengan gas alam. Jumlah helium yang ditemukan pada berbagai deposit gas alam bervariasi dari hampir nol sampai 4% volume. Hanya sekitar sepersepuluh gas alam yang dieksploitasi memiliki konsentrasi lebih besar dari 0,4% (Anonymous4, 2012). Helium dapat pula dihasilkan dari pencairan udara dan kemudian memisahkan komponen komponen gasnya. Biaya produksi untuk metode ini mahal sedangkan jumlah helium yang ada di udara sangat rendah. Meskipun metode ini sering digunakan untuk memproduksi gas gas lain seperti nitrogen dan oksigen tetapi metode ini jarang digunakan untuk memproduksi helium (Anonymous4, 2012). Proses pembuatan Helium biasa dihasilkan sebagai produk sampingan dalam proses pengolahan gas alam. Gas alam mengandung metana dan hidrokarbon lainnya, dimana kandungan ini merupakan sumber utama energi panas saat gas alam dibakar. Sebagian besar deposit gas alam juga mengandung sedikit nitrogen, uap air, karbon dioksida, helium dan bahan bahan lain yang tidak mudah terbakar, yang mana bahan bahan ini dapat menurunkan energi potensial panas gas. Untuk memproduksi gas alam dengan tingkat

energi panas tertentu, pegotor pengotor harus dihilangkan. Proses ini disebut sebagai upgrading (Anonymous4, 2012). Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk meng-upgrade gas alam. Saat gas mengandung lebih dari sekitar 0,4% volume helium, maka metode distilasi cryogenik sering digunakan untuk me-recovery helium. Setelah helium dipisahkan dari gas alam maka helium akan dimurnikan kembali sehingga diperoleh kemurnian helium sebesar 99,99% untuk selanjutnya dijual secara komersial (Anonymous4, 2012). Berikut ini merupakan rangkaian operasi untuk mengekstrak dan memproses helium: a. Pretreating (Perlakuan awal) Karena metode ini memanfaatkan cryogenik yang sangat dingin dalam prosesnya maka seluruh pengotor yang mungkin dipadatkan seperti uap air, CO2 dan beberapa hidrokarbon berat lainnya harus dihilangkan dulu dari gas alam pada proses pretreatment untuk mencegah pengotor menyumbat di pipa. Prosesnya adalah sebagai berikut (Anonymous4, 2012): 1. Gas alam diberi tekanan 800 psi (5,5 Mpa atau 54 atm), kemudian dialirkan ke penyerap atau adsorben diamana gas alam ini akan diarahkan menuju spray monoetanolamin yang menyerap CO2 dan membawanya keluar. 2. Selanjutnya aliran gas disaring sesuai ukuran molekulnya yang mana molekul uap air yang ada dalam aliran akan tertahan dan molekul molekul gas yang lebih kecil akan dilewatkan. Penyaring molekul ini selanjutnya dibilas secara terbalik untuk menghilangkan molekul uap air yang tertahan. 3. Hidrokarbon berat yang ada dalam aliran dapat diambil pada bagian permukaan karbon aktif. Aliran gas sekarang mengandung metana, nitrogen dengan sejumlah kecil helium, hidrogen dan neon. b. Pemisahan Gas alam dipisahkan menjadi komponen komponen utamanya melelui proses distilasi yaitu distilasi fraksional. Metode ini biasa dikenal dengan fraksinasi dan alatnya disebut dengan kolom fraksinasi. Pada proses distilasi fraksional ini, nitrogen dan metana dipisahkan menjadi dua tahapan, menghasilkan campuran gas yang mengandung helium. Pada masing masing tahap, tingkat konsentrasi atau fraksi masing masing komponen meningkat sampai proses pemisahan selesai (Anonymous4, 2012).

Gambar 1. Seluruh pengotor dipadatkan dan setelah proses pretreatmen, komponen gas alam dipisahkan dengan distilasi fraksional Pada industri gas alam, proses ini seringkali disebut dengan rejeksi nitrogen selama fungsi utamanya adalah untuk menghilangkan jumlah nitrogen yang berlebih pada gas alam. Selanjutnya proses pemisahan dilanjutkan dengan beberapa tahap seperti berikut (Anonymous4, 2012): Aliran gas melewati satu sisi plat penukar panas sedangkan metana dan nitrogen yang sangat dingin dari cryogenik melewati sisi lain plat tersebut. Aliran gas yang datang kemudian didinginkan sementara metana dan nitrogen dihangatkan. Aliran gas selanjutnya dilewatkan pada katup lebar yang mana katup ini akan membuat gas mengalami ekspansi dengan cepat sementara tekanan turun menjadi sekitar 145 360 psi (1,0 2,5 Mpa atau 10 25 atm). Ekspansi gas yang cepat ini mampu mendinginkan aliran gas sehingga metana mulai mencair. Aliran gas (sebagian cairan dan sebagian gas) memasuki bagian dasar kolom fraksinasi bertekanan tinggi. Pada kolom ini metana terus mencair membentuk campuran yang kaya akan metana pada bagian dasar kolom sementara sebagian besar nitrogen dan gas lain mengalir ke atas. Campuran metana cair atau disebut metana mentah diambil dari dasar kolom dan kemudian didinginkan dalam pendingin. Selanjutnya metana dilewatkan pada katup lebar yang kedua dimana tekanan menurun sekitar 22 psi (150 kPa atau 1,5 atm) sebelum metana memasuki kolom fraksinasi bertekanan rendah. Karena

metana cair maka akan mengisi bagian bawah kolom dan nitrogen dapat dipisahkan sehingga dihasilkan cairan yang mengandung tidak lebih dari 4% nitrogen. Cairan ini dipompa keluar, dihangatkan dan dievaporasi sehingga menjadi gas alam yang berkualitas baik. Nitrogen yang berbentuk gas dikeluarkan pada bagian atas kolom bertekanan rendah dan ditangkap dengan proses lain. Sementara itu, gas yang berasal dari kolom bertekanan tinggi didinginkan dalam kondenser. Banyak nitrogen yang dikondensasikan menjadi uap dan dimasukkan ke dalam kolom bertekanan rendah. Sisa gas yang ada disebut dengan helium mentah karena gas ini mengandung 50 70% helium, 1 -3% metana yang tidak ikut mencair, hidrogen, neon dan nitrogen.

Gambar 2. Setelah terpisah dari gas alam, helium mentah dimurnikan dengan proses yang bertahap dengan beberapa metode pemisahan tergantung pada kemurnian helium mentah dan digunakan untuk apa helium itu nantinya c. Pemurnian Helium mentah selanjutnya dimurnikan untuk menghilangkan material lain. Biasanya hal ini merupakan proses yang bertahap tergantung pada tingkat kemurnian helium mentah dan tujuan dari pemanfaatan helium itu nantinya. Secara rinci proses pemurnian helium mentah adalah seperti berikut ini (Anonymous4, 2012): Helium mentah pertama tama didinginkan sekitar -3150F (-1930C). Pada temperatur ini sebagian besar nitrogen dan metana berkondensasi menjadi cairan dan dialirkan lagi. Campuran gas sisanya adalah helium dengan kemurnian 90%. Udara ditambahkan ke dalam campuran gas untuk menyediakan oksigen. Gas kemudian dihangatkan oleh pemanas dan dilewatkan pada katalis sehingga menyebabkan sebagian besar hidrogen dalam campuran bereaksi dengan oksigen

di udara dan membentuk uap air. Gas kemudian didinginkan dan uap air dikondensasikan dan dialirkan keluar. Campuran gas memasuki unit pengadsorpsi yang terdiri dari tabung tabung pengadsorpsi yang beroperasi secara paralel. Dalam masing masing tabung tersebut terdapat ribuan partikel dengan pori pori yang kecil. Saat campuran gas dengan tekanan tertentu dilewatkan di partikel ini maka gas akan terjerat dalam pori. Kemudian tekanan diturunkan dan aliran gas menjadi sebaliknya. Hal ini ditujukan untuk membersihkan gas gas yang terjerat. Cara ini diulang ulang setelah beberapa detik atau menit, tergantung pada ukuran tabung dan konsentrasi gas. Metode ini mampu menghilangkan sebagian besar uap air, nitrogen dan metana dari campuran gas. Sekarang helium memiliki kemurnian sekitar 99,99%. d. Pendistribusian Helium didistribusikan sebagai gas pada temperatur normal atau dalam bentuk cair pada temperatur sangat rendah. Gas helium didistribusikan dalam tabung baja atau alloy aluminium dengan tekanan antara 900-6000 psi (6-41 Mpa atau 60 410 atm). Cairan helium didistribusikan dalam kontainaer yang di beri insulator dengan kapasitas mencapai 14.800 galon (56.000 liter) (Anonymous4, 2012). Jika helium dicairkan atau dibutuhkan dalam kemurnian tinggi, neon dan pengotor sisa lainnya dihilangkan dengan melewatkan gas pada karbon aktif dalam adsorben cryogenik yang beroperasi pada temperatur -4230 F (-2350 C) dan diperoleh helium dengan tingkat kemurnian 99,999% (Anonymous4, 2012). Helium dialirkan ke pencair dimana helium dilewatkan melalui penukar panas dan pengekspansi. Saat proses ini berlangsung, temperatur menjadi menurun sekitar 4520 F (-2690 C) sehingga mencair. Helium cair biasanya dikirim dalam kontainer bertekanan tertentu (Anonymous4, 2012).

Gambar 3. Helium didistribusikan sebagai gas pada temperatur normal dan sebagai cairan pada temperatur sangat rendah.

3. Aplikasi Helium Helium pada awalnya digunakan pada balon udara. Sekarang seperti halnya argon, helium dapat digunakan untuk bahan pendingin dari reaktor nuklir yang berfungsi sebagai media transfer, karena helium merupakan gas inert. Helium juga digunakan pada pengobatan asma karena sangat mudah berdifusi menuju paru paru. Helium juga dapat digunakan pada campuran pernafasan untuk para penyelam karena helium sedikit larut di darah dari pada nitrogen (Anonymous2, 2010). Pada bentuk cair, helium digunakan untuk mencapai suhu rendah yang ekstrim pada alat elektronik atau untuk mempelajari pada suhu sekitar 0-5 K. Helium juga merupakan gas yang mampu digunakan untuk termometer gas dengan suhu rendah karena helium memiliki titik didih yang rendah dan bersifat selalu ideal (Anonymous2, 2010). Helium merupakan gas pertama yang digunakan untuk mengisi balon dan balon udara. Aplikasi gas ini digunakan untuk penelitian ketinggian permukaan bumi dan untuk meteorologi. Kegunaan utama dari helium adalah gas pelindung yang inert pada proses pengelasan. Helium sangat memiliki potensi untuk ditemukan pada aplikasi yang membutuhkan temperatur yang sangat rendah. Hanya helium yang dapat digunakan sebagai pendingin dengan kemampuan mencapai hingga temperatur lebih kecil dari 15 K (-434F). Aplikasi utama dari temperatur yang sangat rendah itu ada pada perkembangan dari keadaan superkonduktivitas yang resistensi fluks listriknya selalu nol. Aplikasi lain yaitu digunakan sebagai gas penekan pada cairan propelan untuk roket, campuran heliumoksigen untuk penyelam, gas helium berfungsi sebagai aliran gas pendingin pada reaktor nuklir dan berfungsi sebagai gas pembawa pada analisis kimia dengan kromatografi gas (Anonymous3, 2004). Helium merupakan gas yang ringan dan tidak mudah terbakar. Helium dapat digunakan sebagai pengisi balon udara. Helium cair digunakan sebagai zat pendingin karena memiliki titik uap yang sangat rendah. Helium yang tidak reaktif digunakan sebagai pengganti nitrogen untuk membuat udara buatan untuk penyelaman dasar laut. Para penyelam bekerja pada tekanan tinggi. Jika digunakan campuran nitrogen dan oksigen untuk membuat udara buatan, nitrogen yang terhisap mudah terlarut dalam darah dan dapat menimbulkan halusinasi pada penyelam. Oleh para penyelam, keadaan ini disebut pesona bawah laut. Ketika penyelam kembali ke permukaan, (tekanan atmosfer) gas nitrogen keluar dari darah dengan cepat. Terbentuknya gelembung gas dalam darah dapat menimbulkan rasa sakit atau kematian (Anonymous5,2010).

Campuran helium dan oksigen digunakan sebagai udara buatan untuk para penyelam dan para pekerja lainnya yang bekerja di bawah tekanan udara tinggi. Perbandingan antara He dan O2 yang berbeda-beda digunakan untuk kedalaman penyelam yang berbeda-beda. Helium sangat banyak digunakan untuk mengisi balon ketimbang hidrogen yang lebih berbahaya. Salah satu kegunaan helium yang lain adalah untuk menekan bahan bakar cair roket. Roket Saturn, seperti yang digunakan pada misi-misi Apollo, memerlukan sekitar 13 juta kaki kubik He. Helium cair yang digunakan di Magnetic Resonance Imaging (MRI) tetap bertambah jumlahnya, sejalan dengan ditemukannya banyak kegunaan mesin ini di bidang kesehatan. Helium juga dapat diaplikasikan sebagai laser yang digabungkan dengan neon untuk pembacaan bar-code. Helium juga digunakan untuk balon-balon raksasa yang memasang berbagai iklan perusahaan-perusahaan besar, termasuk Goodyear. Aplikasi lainnya sedang dikembangkan oleh militer AS adalah untuk mendeteksi pelurupeluru misil yang terbang rendah. Badan Antariksa AS NASA juga menggunakan balonbalon berisi gas helium untuk mengambil sampel atmosfer di Antartika untuk menyelidiki penyebab menipisnya lapisan ozon (Mohsin, 2005).

B. XENON Xenon merupakan gas mulia yang terdapat di atmosfer dalam jumlah sedikit. Xenon merupakan unsur yang paling berat dalam golongan gas mulia dan memiliki densitas kirakira 5 kali lebih besar dari udara. Seperti gas lainnya dalam golongan gas mulia, xenon berada dalam bentuk molekul monoatomik yag tidak berwarna, berbau, dan berasa (Miller, 2006). Xenon ditemukan oleh seorang kimiawan Inggris Sir Willian Ramsay pada tahun 1898 dan diberi nama xenon yang berasal dari bahasa Yunani xenosyang artinya sesuatu yang aneh. Ramsay berhasil mengisolasi xenon dari sampel udara menggunakan distilasi fraksional. Saat ini xenon diproduksi secara komersial dengan teknik yang sama (Miller, 2006). Hingga saat ini gas mulia diketahui bersifat inert, tidak bereaksi dengan substansi lainnya bahkan dengan dirinya sendiri. Semua gas mulia berada dalam bentuk molekul monoatomik. Pada tahun 1962 Neil Bartlett seorang kimiawan Inggris yang bekerja pada Universitas Columbia Inggris membuat sneyawa dari gas mulia untuk pertama kalinya. Beliau menggabungkan xenon dan platinum heksa fluorida dan diperoleh senyawa padatan berwarna kuning orange. Senyawa tersebut terdiri dari molekul xenon, platinum, dan fluorin. Bartlett berhasil menginsirasi ilmuwan lainnya. Bulan demi bulan penelitian dari

senyawa-senyawa lainnya dilakukan oleh ilmuwan pada the Argonne National Laboratory dekat Chicago. Mereka menemukan bahwa xenon bereaksi secara langsung dengan fluorin pada temperatur 400oC dan jika terkena sinar matahari akan bereaksi dengan fluorin pada temperatur ruang. Pada penelitian ini terdapat tiga senyawa xenon fluorida yang berbeda yang dikerjakan yaitu xenon difluorida, xenon tetrafluorida, dan xenn heksafluorida. Mereka juga mensintesis sejumlah senyawa xenon-oksigen. Hingga saat ini hanya xenon dan kripton dari golongan gas mulia yang dapat membentuk senyawa (Miller, 2006). 1. Sifat Fisik Xenon Berikut ini merupakan sifat fisik xenon (Widodo, 2011): Nama : Xenon Simbol : Xe Nomer Atom : 54 Massa Atom : 131.29 Titik Leleh : -111.9 C Titik Didih : -108.1 C Jumlah Proton/Elektron : 54 Jumlah Neutron : 77 Klasifikasi : Gas Mulia Struktur Bentuknya : Kubik Warna : Colorless Gas Konfigurasi Elektron : [Kr] 4d10 5s2 5p6 2. Persenyawaan dan Aplikasi Xenon Kira-kira 200 senyawaan xenon dikenal orang, termasuk halida (kebanyakan fluorida), oksida, oksi-fluorida, fluorosulfat, garam-garam xenat dan perxenat, dan senyawaan adisi dengan asam dan basa lewis. Fluorida XeF2, XeF4, dan XeF6 diperoleh dengan mereaksikan xenon dengan fluor dalam kuantitas yang makin bertambah. Dalam senyawaan-senyawaan ini, xenon mempunyai bilangan oksidasi genap +2, +4, dan +6, yang khas bagi kebanyakan senyawaan xenon. Ketiga fluorida tersebut adalah senyawaan yang mudah menguap, menyublim dengan cepat pada 25C. Mereka dapat disimpan dalam wadah nikel, namun perkecualian bagi XeF4 dan XeF6, mudah terhidrolisis dan bahkan sedikit pun air tidak boleh ada. Fluorida-fluorida adalah lahan permulaan untuk mensintesis senyawaan xenon lainnya. Senyawaan dalam mana sebuah atom oksigen menggantikan dua atom fluor dalam heksafluorida juga dikenal: XeOF4, XeO2F2, dan XeO3. Trioksida itu, XeO3, stabil dalam larutan air, tetapi zat

padatnya yang putih dan kering adalah bahan peledak (eksplosif) yang dahsyat dan secara membahayakan peka terhadap ledakan hebat (detonasi), sebagaimana telah ditunjukkan oleh banyak kecelakaan ledakan dalam laboratorium (Lutfi, 2009). Meskipun xenon oktafluorida tak dikenal, xenon dapat mempunyai keadaan oksidasi +8. Dua derivat oksifluorida XeO2F4 dan XeO3F2, maupun tetroksida XeO4, dikenal orang. Garamnya yang penting adalah natrium xenat, NaHXeOF4, dan natrium perxenat, Na4XeO6 (Lutfi, 2006). Dua dari senyawaan xenon yang paling menarik adalah fluoroxenat CsXeF7 dan Cs2XeF8. Senyawaan ini masing-masing mempunyai delapan dan sembilan elektron dalam kulit valensi xenon. Oktafluoroxenat Cs2XeF8 dan RbXeF8 adalah senyawaan xenon yang paling stabil yang dikenal orang . Zat-zat ini dapat dipanaskan sampai 400C tanpa terurai. Berikut ini merupakan jenis-jenis senyawaan xenon (Lutfi, 2006): a. Xenon Fluorida 1) Xenon Difluorida (XeF2) Xenon fluorida dapat dibuat melalui: a. Irradiasi campuran xenon dan fluorine dengan tekanan 1500 kPa pada 300 K dalam suatu tube pendek dari nikel dan membentuk hasilnya sampai 195 K untuk mencegah menjadi XeF4. b. Mengalirkan campuran 1 + 2 Xe + F2 melalui loop nikel pada 670 K dan mengkondensasikan hasilnya XeF2 yang terjadi pada 220 K. c. Memperlakukan CF4 + Xe pada 6000 V muatan listrik. d. Fluorinasi xenon oleh O2F2 pada 195 K Xe + F2 XeF2 Xe + O2F2 XeF2 + O2 Sifat-sifat: XeF2 merupakan senyawa xenon fluorida yang paling sedikit menguap. Zat padat yang putih mencair pada 390-410 K menjadi zat cair yang tidak berwarna dan menyublim pada 403 K. Senyawa ini stabil pada keadaan murni dan kering dan dapat disiapkan dalam tempat dari nikel atau gelas yang cukup cermat keringnya. Hidrolisis Xenon difluorida terhidrolisis seluruhnya secara lambat dalam asam, larutan netral, atau larutan basa. 2 XeF2 + 2 H2O 2 Xe + O2 + 4 HF 2 XeF2 + 4 OH- 2 Xe + 4 F- + O2 + 2 H2O

Bahan pengoksidasi Dalam asam-basa, hidrolisis berjalan lambat dan XeF2 mengoksidasi H2 menjadi
HF-; amoniak menjadi N2; Co+2 menjadi Co+3 ; Ce+3 menjadi Ce+4; BrO 3 menjadi

BrO -4 ; IO 3 , Ag+ menjadi Ag+2 dan seterusnya.

XeF2 + 2 e- Xe + 2 FSebagai bahan pemfluorisasi:

E = 2,6 V

Dalam HF, XeF2 larut tanpa suatu reaksi dan bertindak sebagai suatu bahan pemfluorisasi yang berkemampuan. Dengan alkana, alkena, XeF2 akan menghasilkan fluoroalkana. 2 XeF2 + 2 CH2CH2 CH2FCH2F + CHF2CH3 + 2 Xe Sebagai basa lewis Dalam larutan BrF3, XeF2 bertindak sebagai suatu basa Lewis dan membentuk adduk dengan komposisi XeF2.MF5, XeF2.2MF5, dan 2XeF2.MF5 dengan M = P, As, Sb, Pt, Ir, Os, dsb. Senyawa-senyawa ini ionik mengandung ion-ion XeF+MF6-, XeF+M2F11-, dan Xe2F3+MF6-. 2) Xenon Tetrafluorida Xenon tetrafluorida terbentuk dengan mengalirkan campuran Xe:F2 sebagai 1:5 dengan tekanan 600 1300 kPa melalui tabung nikel yang dibungkus dengan lembaran nikel pada 670 K. Pada pendinginan gas yang dikeluarkan, kristal putih XeF4 (mp = 387 K) diperoleh pembentukan XeF4 diikuti secara bersamaan pembentukan yang bersamaan XeF2 dan XeF6. Kecuali untuk hidrolisis, reaksi-reaksi XeF4 seperti senyawa XeF2. Pada suatu zat padat kuning pucat nampak dipermukaan kristal-kristal XeF4 yang larut dalam asam-asam lambat (cepat dalam basa). XeF4 + 4 OH- Xe + O2 + 4 F- + 2 H2O Larutan itu dengan dipanasi membebaskan Xe dan pada penguapan endapan kristal yang sangat eksplosif XeO3 diperoleh. 6 XeF4 + 12 H2O 4 Xe + 3 O2 + 2 XeO3 + 24 HF Oleh karena itu hidrolisis dalam asam mencakup disproporsi XeF4. Bahan pemfluorinasi XeF4 merupakan suatu bahan pemfluorisasi yang lebih kuat daripada XeF2. Zat itu membentuk HF dengan H2 atau HCl; merubah alkena menjadi hidrokarbon terfluorisasi; BCl3 menjadi BF3; NO dan NO2 menjadi NOF dan NO2F; Hg menjadi

HgF2; Pt menjadi PtF6; S menjadi SF6; yodida menjadi yodium secara kuantitatif; SF4 menjadi SF6; tetapi gelas tidak terpengaruh meskipun pada 250 K. Meskipun XeF4 meledak kalau kontak dengan alkohol atau cyclopentadiena, dapat dilakukan fluorisasi pada hidrokarbon aromatik. Pembentukan adduct Zat itu melarut dalam BrF3, HF, atau IF5 tanpa ionisasi. Dalam medium BrF5, zat ini memberikan adduk seperti XeF4.2SbF3 yang secara perlahan-lahan melepaskkan F2 dan membentuk adduk XeF2. 3) Xenon Heksafluorida Jika campuran 1 + 20 Xe + n F2 pada suhu 500 900 K diperlakukan pada suatu tekanan 5 30 MPa, maka diperoleh xenon heksafluorida (95%). Dengan F2 berlebih, pada tekanan 20 MPa, dapat juga terbentuk XeF8. Heksafluorida dapat juga dibuat dengan fluorisasi XeF4 oleh O2F2 pada 140 K. XeF4 + O2F2 XeF6 + O2 XeF6 (mp = 322,5 K membentuk cairan kuning dan uap hijau pucat)dapat dipisahkan dari XeF2 dan XeF4 dengan mengalirkan melalui NaF yang mengabsorbsi XeF6 pada 290 K memberikan Na2XeF8. Pada pemanasan sampai 395 K dihasilkan XeF6 murni. 290 K XeF6 + 2 NaF 395 K Hidrolisis XeF2 dalam asam sangat keras dan membentuk XeO3 tanpa menghasilkan gas apapun XeF6 + 3H2O XeO3 + 6 HF
4 Dalam alkali, XeF6 berdisproporsi menjadi Xe dan XeO 6- (perxenat)

Na2XeF8

4 4 XeF6 + 36 OH- Xe + 3 XeO 6- + 24 F- + 18 H2O

Hidrolisis secara hati-hati XeF6 pada 77 K dalam tempat dari nikel menghasilkan zat cair stabil yang tidak berwarna XeOF4. XeF6 + H2O XeOF4 + 2 HF Sebagai oksidator XeF6 merupakan suatu oksidator yang sedang dan mengoksidasi I- menjadi I2; dan H2 menjadi HF.

Pembentuk adduct Dalam HF, XeF6 membentuk suatu larutan yang dapat menghantar arus listrik dan dengan asam Lewis diperoleh adduk XeF6.SbF5, 2XeF6.SbF5, XeF6.BrF3. Fluorida logam alkali memberikan XeF7- dan XeF82- . 2 RbF + 2 XeF6 293 K 2 RbXeF7 323 K Rb2XeF8 + XeF6 XeF6 adalah suatu pemberi F yang kuat disebabkan karena sangat berjubelnya ruang atom xenon. Kekuatan donor fluorida ada dalam urutan sebagai berikut: XeF6> XeF2> XeF4 Stabilitas XeF7- dan XeF82- berkurang dengan menurunnya ukuran kation seperti yang diharapkan.XeF6 adalah suatu bahan pemfluorisasi yang kuat CF4, C2H6, dan lain-lain. Dalam kebanyakan fluorisasi oksida-oksida XeOF4 terbentuk. Dengan perxenat XeF6 memberikan XeO3F2. SiO2 + 2 XeF6 2 XeOF4 + SiF4 2 XeO3F2 + 2 Xe + 3 O2 + 8 F4 2 XeO 6- + 2 XeF6

b. Oksida dan Asam Oksi dari Xenon Xenon membentuk dua oksida. Trioksida XeO3 diperoleh dari hidrolisis XeF4 atau XeF6 sebagai suatu senyawa eksplosif yang endoterm Hf = +402 kJ mol-1. Tetraoksida XeO4 adalah suatu senyawa yang mudah menguap terbentuk dengan mengasamkan barium perxenat Ba2XeO6 pada suhu 268 K. Barium perxenat bisa diperoleh dengan disproporsi XeF6 atau XeO3 dalam Ba(OH)2.
H 4 XeO 6- XeO4 XeF6 OH

4 XeO 6- + XeF6 2 XeO3F2 + 2 Xe + 3 O2 + 8 F-

XeO3 merupakan oksida asam dan menghasilkan garam-garam dengan alkali, yang dapat dikristalkan sebagai MHXeO4. nH2O. Garam barium, berdisproporsi pada saat kristalisasi menjadi perxenat (di atas).
4 2 HXeO -4 + 2 OH- Xe + XeO 6- + O2 + 2 H2

Zat itu membentuk haloxenat dengan halida alkali: K+ XeO3F-, Cs+ XeO3Cl-, dan Cs+ XeO3Br-. Stabilitasnya menurun dari fluorida sampai bromida secara progresif. Dalam larutan asam, XeO3 merupakan oksidator yang kuat dan mengoksidasikan Cl- menjadi Cl2; Mn2+ menjadi MnO -4 yang berwarna merah

muda; alkohol dan RCOOH menjadi CO2 dan akan melakukan semua oksidasi dari XeF2. Dengan XeOF4, XeO3 memberikan XeO2F2 yang tak berwarna. Ozon mengoksidasikan XeO3 menjadi perxenat dalam medium alkali. Meskipun XeO4 tidak stabil, perxenat stabil. Seperti pK3 dari H4XeO6 sebesar 10,4 (pKa = diatas 14) (cf H6TeO6, pK2 = 10,4) larutan pada pH = 11 13 mengandung ion HXeO 3- . 6 Kristalisasi dapat memberikan NaXeO6. 4H2O, NaXeO6. 6H2O, K4XeO6. 9H2O, dan 2 Ba2XeO6. 3H2O. Pengendapan memberikan zat hitam Ag4XeO6 dan zat kuning Pb2XeO6 dari larutan alkali atau netral. Perxenat merupakan oksidator kuat dalam asam-asam (E = 2,36 V) tetapi kurang dalam alkali (E = 0,9 V). Mereka mengoksidasi Mn2+ menjadi MnO -4 dan membebaskan O2 secara cepat dari air. Idioksidasi secara langsung menjadi IO -4 . H4XeO6 + 2 H+ + 2 e- XeO3 + H2O E = 2,36 V

Dengan XeF6, perxenat membentuk oksi fluorida XeO3F2, XeO2F4, dan XeOF4. Ini dapat dimurnikan dengan mengalirkan melalui NaF atau SbF3 dengan mana mereka membentuk senyawa adisi MF.XeOF4, dan lain-lain. Seperti gas mulia lainnya xenon digunakan dalam tabung electrical discharge untuk menghasilkan cahaya. Saat mengalami eksitasi xenon mengemisikan sinar putih cemerlang. Seperti kripton, xenon secara cepat berinteraksi dengan arus listrik, dan campuran kripton xenon digunakan dalam intensitas yang tinggi yaitu tabung fotografi short exposure. Untuk alasan yang sama, xenon juga digunakan dalam lampu sorot yang menghasilkan hamburan cahaya untuk jangka waktu yang sangat pendek. Kamera menggunakan hamburan cahaya ini untuk menangkap objek yang bergerak dengan cepat, seperti peluru yang ditembakkan dari sebuah senjata atau saat kaca pecah pada film fotografi (Muller, 2006). Meskipun jarang digunakan, xenon merupakan unsur gas mulia yang stabil dan dapat digunakan sebagai agen anestesi umum. Xenon pertama kali digunakan pada operasi pada 1951 oleh Stuart C. Cullen, yang berhasil mengoperasi 2 pasien (Anonymous6, 2011).

BAB II PEMBAHASAN

1. Bagaimana peran helium dalam alat Magnetic Resonance Imaging (MRI)? Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah suatu teknik penggambaran penampang tubuh berdasarkan prinsip resonansi magnetik inti atom hidrogen. Tehnik penggambaran MRI relatif komplek karena gambaran yang dihasilkan tergantung pada parameter. Alat tersebut memiliki kemampuan membuat gambaran potongan sagital, aksial dan oblik tanpa banyak memanipulasi tubuh pasien Bila banyak coronal, pemilihan

parameternya tepat, kualitas gambaran detil tubuh manusia akan tampak jelas, sehingga anatomi dan patologi jaringan tubuh dapat dievaluasi secara teliti (Cluett, 2011). Magnetic Resonance Imaging yang disingkat dengan MRI adalah suatu alat diagnostik mutahir untuk memeriksa dan mendeteksi tubuh dengan menggunakan medan magnet dan gelombang frekuensi radio, tanpa operasi, penggunaan sinar X ataupun bahan radioaktif (Cluett, 2011).

MRI bila ditinjau dari tipenya terdiri dari : a. b. MRI yang memiliki kerangka terbuka (open gantry) dengan ruang yang luas MRI yang memiliki kerangka (gantry) biasa yang berlorong sempit. MRI Tesla tinggi ( High Field Tesla ) memiliki kekuatan di atas 1 1,5 T MRI Tesla sedang (Medium Field Tesla) memiliki kekuatan 0,5 T MRI Tesla rendah (Low Field Tesla) memiliki kekuatan di bawah 0,5 T.

Sedangkan bila ditinjau dari kekuatan magnetnya terdiri dari : a. b. c.

Prinsip MRI Pasien ditempatkan dalam medan magnet, dan gelombang elektromagnet pulsa diterapkan untuk membangkitkan objective nuclide di dalam tubuh. Nuclide yang dibangkitkan akan kembali ke dalam energi semula dan akan melepaskan energi yang

diserap sebagai gelombang elektromagnet. Gelombang elektromagnet yang dilepas ini adalah sinyal MR. Sinyal ini dideteksi dengan kumparan (coil) untuk membentuk suatu gambar (image) (Cluett, 2011). Yang perlu diperhatikan dengan memakai MR adalah nucleus (proton di dalam tubuh). Nucleus mempunyai massa dan muatan positif serta berputar pada sumbunya. Nucleus yang berputar ini dianggap sebagai suatu magnet batang kecil (small bar magnet). Karena nucleus ditempatkan di dalam medan magnet statis, maka akan berputar (precession). Ketika suatu pulsa RF yang mempunyai frekuensi sama dengan kecepatan/frekuensi dari putaran diberikan, nucleus menyerap energi dari pulsa (yang disebut gejala resonansi). Pulsa RF adalah gelombang elektromagnet dan disebut pulsa RF (Radio Frequency) karena band frekuensinya. Ketika pulsa RF dimatikan, nucleus kembali ke keadaan semula sambil melepaskan energi yang diserap (yang disebut relaxation). Dengan membuat nucleus memancarkan sinyal ketika melepaskan energi yang diserap, suatu gambar (image) dihasilkan (Cluett, 2011).
Permanent magnet (generating a constant static magnetic field) Gradient magnetic field coil (providing MR signal with positional information) Transmitter coil (applying an RF pulse) Receiver coil (receiving MR signal) Display Image Nc Processing system Rf Signal

Gambar Komposisi dasar sistem MRI Secara garis besar instrumen MRI terdiri dari (Cluett, 2011): a. Sistem magnet yang berfungsi membentuk medan magnet. Agar dapat mengoperasikan MRI dengan baik, kita perlu mengetahui tentang : tipe magnet, efek medan magnet, magnet shielding ; shimming coil dari pesawat MRI tersebut b. Sistem pencitraan berfungsi membentuk citra yang terdiri dari tiga buah kumparan koil, yaitu: Gradien coil X, untuk membuat citra potongan sagittal. Gardien coil Y, untuk membuat citra potongan koronal.

c.

Gradien coil Z untuk membuat citra potongan aksial . Sistem frekuensi radio berfungsi membangkitkan dan memberikan radio frekuensi serta mendeteksi sinyal.

d.

Sistem komputer berfungsi untuk membangkitkan sekuens pulsa, mengontrol semua komponen alat MRI dan menyimpan memori beberapa citra.

e.

Sistem pencetakan citra, fungsinya untuk mencetak gambar pada film rontgent atau untuk menyimpan citra.

Sebagai inti dari MRI adalah magnet untuk menghasilkan medan magnet statis. Berikut adalah 3 macam magnet yang sekarang dipakai dalam sistem MRI(Cluett, 2011): 1. 2. 3. Magnet tetap (Permanent Magnet/PM) Magnet resistif (Resistive Magnet/RM) Magnet superkonduktif (Superconductive Magnet/SCM)

Dari 3 macam magnet, magnet superkonduktif mungkin paling tidak dikenal. Magnet ini adalah suatu magnet listrik yang menggunakan suatu kumparan sebagai materi dengan suatu gejala superkonduktif terjadi. Gejala superkonduktif adalah bahwa hambatan listrik (electrical resistance) dari suatu logam menjadi nol bila metal didinginkan dengan temperature yang sangat rendah (-272 C), dan temperature pada saat tersebut disebut temperature kritis (critical temperature) Tc. Hambatan listrik menjadi nol berarti bahwa suatu arus besar dapat mengalir dengan memakai tegangan (voltage) rendah beberapa volt (Cluett, 2011). Ciri-ciri sistem MRI dengan magnet superkonduktif adalah sebagai berikut: 1. Pemakaian daya listrik sangat rendah dibandingkan dengan sistem magnet kumparan. 2. Medan magnet yang kuat dapat dihasilkan karena arus listrik yang cukup besar dapat dialirkan. 3. Untuk mendapatkan temperatur yang sangat rendah, kumparan harus dicelupkan ke dalam helium cair (-272 C). Magnet superkonduktif memerlukan biaya daya listrik yang rendah daripada magnet kumparan untuk mendapatkan medan magnet yang kuat, yang membuat magnet superkonduktif lebih berguna. Magnet utama terdiri atas kumparan logam niobiumtitanium (coil). Cara untuk membuat magnet pada kawat kumparan listrik adalah mengalirkan arus listrik pada kawat. Ini menghasilkan medan magnet yang ada di tengah kumparan. Untuk menghasilkan medan magnet yang cukup kuat yang digunakan pada MRI, kawat kumparan harus tidak memiliki hambatan, ini dilakukan dengan mecelupkan

kawat kumparan pada cairan helium dengan temperatur 450 derajat Fahrenheit hingga 0. Kumparan ini dapat membuat medan magnet 1,5 hingga 3 Tesla (kekuatan dari kebanyakan MRI), yang 20000 kali lebih kuat dari medan magnet bumi (Cluett, 2011).

2. Bagaimana aplikasi helium pada laser helium-neon? LASER merupakan akronim dari Light Amplification by the Stimulated Emission of Radiation (Wilkins, 1997). Mekanisme utama untuk stimulasi dalam laser gas adalah menggunakan kejutan elektron. Misalkan atom jenis A dalam tabung laser distimulasi sehingga keadaannya menjadi metastabil. Jika tabung laser ini berisi atom jenis lain, B, dimana keadaan stimulasinya sangat dekat dengan keadaan metastabil A maka akan terjadi perpindahan energi resonansi dan atom B tereksitasi. Jika laju pemindahan energi ini lebih besar dari proses relaksasi maka keadaan terstimulasi pada atom B akan meningkat (Laud, 1988). Laser helium-neon terdiri dari tiga komponen utama yakni tabung laser, power supply bertegangan tinggi dan model pengemasan. Tabung laser tersusun atas tabung gelas yang berisi gas laser, elektroda dan cermin. Besar kecilnya tabung ini tergantung pada seberapa besar energi yang dikeluarkan oleh laser. Gas laser merupakan campuran dari helium dan neon dengan perbandingan tertentu yakni antara 5:1 dan 14:1 untuk helium : neon. Elektroda diletakkan dekat dengan masing masing ujung tabung yang berfungsi untuk menghasilkan listrik bermuatan sehingga dapat melalui gas. Cermin ditempatkan pada masing masing ujung tabung agar dapat meningkatkan efisiensi. Power supply akan menyediakan energi bertegangan tinggi yang dibutuhkan yakni kira kira sebesar 10 kV untuk memulai emisi laser dan untuk proses selanjutnya dibutuhkan energi sebesar 1-2 kV. Model pengemasan yang terdiri dari tabung laser dan power supply. Laser juga dilengkapi dengan tombol pengaman supaya dapat mencegah paparan acak dan optik eksternal agar berkas yang timbul seragam (Wilkins, 1997). Laser helium-neon ini bekerja dengan adanya proses amplifikasi sinar dan emisi yang timbul akibat adanya stimulasi atom. Emisi ini terjadi ketika listrik bermuatan dikenakan pada gas laser sehingga menghasilkan elektron. Elektron ini kemudian bertumbukan dengan atom gas lain yang menyebabkan terjadinya transfer energi. Atom yang berenergi ini menjadi tidak stabil karena elektron elektronnya telah berpindah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Atom yang mengalami eksitasi ini akan dengan cepat kembali ke keadaan dasar atau relaksasi. Pada saat tiap tiap elektron turun akan memancarkan foton yang memiliki jumlah energi sesuai dengan beda tingkat yang dilaluinya. Emisi jenis ini

disebut emisi spontan. Emisi karena stimulasi terjadi saat foton dengan energi tertentu mengenai atom yang telah tereksitasi dan menghasilkan foton yang identik. Foton ini akan melalui gas laser sehingga menyebabkan timbulnya lebih banyak emisi yang terstimulasi. Hal ini yang disebut dengan amplifikasi sinar. Melalui proses ini laser secara efektif dapat menghasilkan sejumlah besar foton dari emisi spontan yang sedikit (Wilkins, 1997). Gambar berikut ini adalah skema tingkat energi helium dan neon pada laser heliumneon yang pertama kali dibuat oleh Javan dan kawan kawan (Laud, 1988):

Gambar Skema tingkat energi helium dan neon Atom atom helium lebih siap terstimulasi oleh kejutan elektron daripada atom neon. Tingkat tingkat 21 S dan 23 S helium memiliki waktu hidup yang relatif panjang yaitu dalam bentuk atom metastabil. Helium dalam laser ini berperan untuk membantu proses pemompaan (Laud, 1988). Tingkat tingkat metastabil 21 S helium energinya berhimpit atau hampir sama dengan tingkatan energi dalam keadaan terstimulasi atom neon yakni 3s dan 2s. Notasi yang digunakan dalam gambar diatas adalah paschen (Laud, 1988). Jika atom helium dalam keadaan metastabil membentur atom neon dalam keadaaan dasar maka akan terjadi pertukaran energi sehingga atom neon akan naik ke tingkat 2s atau 3s. Sedangkan atom helium turun kembali ke keadaaan dasar. Selanjutnya atom neon pada tingkat ini akan mengalami transisi sesuai dengan aturan seleksi menuju keadaan dasar atau 2p. Waktu peluruhan dari tingkat s setingkat lebih lama dibanding peluruhan dari tingkat p. Maka transisi dapat terjadi antara keadaan s dan p yang memenuhi kondisi kerja sebagai sistem laser empat tingkat (Laud, 1988). Pada proses kerja laser ini diasumsikan bahwa atom atom 2s tidak turun kembali ke keadaan dasar dimana hal ini dapat terjadi pada tekanan sangat rendah. Keadaan 2s ini terhubung dengan keadaan dasar sehingga pada keadaan 2s akan meluruh dengan cepat melebihi kecepatan peluruhan pada keadaan 2p. Pada tekanan yang lebih tinggi, yakni sekitar 1 mm Hg perpindahan ke keadaan dasar diikuti dengan proses penangkapan

resonansi sempurna, dimana setiap kali satu foton dipancarkan maka foton tersebut tidak keluar dari gas tapi diserap oleh atom lain yang berada pada keadaan dasar sehingga atom yang menyerap tersebut akan terstimulasi dan keadaannya menjadi 2s. Populasi keadaan 2s ini menjadi besar dan waktu hidup tingkat 2s ini ditentukan dari peluruhan radiasi ke tingkat 2p. Asumsi lain adalah tingkat 2p tidak terstimulasi oleh benturan non-elastis antara elektron atau dalam kondisi metastabil 1s. Kedua asumsi dapat digambarkan dalam reaksi berikut (Laud, 1988): e + Ne (2s) Ne + e e + Ne (1s) Ne (2p) + e Pada laser helium-neon ini, atom neon merupakan sumber sinar laser. Emisi stimulasi ini hanya terjadi ketika ada atom neon yang tereksitasi, proses ini akan dengan cepat berakhir kecuali atom neon diberi energi. Atom helium pada gas laser akan membantu dalam proses transfer energi pada atom neon. Dipilih helium karena helium memiliki fase metastabil (tidak meluruh dengan cepat) (Wilkins, 1997). Jumlah radiasi yang dapat diemisikan atom neon tidak cukup untuk menghasilkan berkas yang kuat tanpa adanya amplifikasi. Seperti pada lampu bohlam, foton pada gas laser memancar dengan arah yang acak sehingga sulit memfokuskan foton ini. Foton yang acak ini akan membuat laser menjadi tidak efisien karena banyaknya foton yang keluar dari tabung sebelum terjadinya proses stimulasi. Masalah ini dapat dipecahkan dengan menggunakan cermin pada kedua ujung tabung. Meskipun banyak foton yang terus akan keluar dari tabung, foton yang diemisikan secara paralel terhadap sumbu di antara kedua cermin ini akan direfleksikan beberapa kali. Tiap kali foton direfleksikan dalam laser gas maka foton ini akan menyebabkan lebih banyak lagi foton yang diemisikan dengan arah yang sama. Sehingga dalam waktu singkat akan ada banyak foton dengan arah tertentu di sepanjang sumbu di antara kedua cermin. Pada konfigurasi standart, salah satu cermin akan merefleksikan foton foton tersebut sedangkan satu cermin lain akan mentransmisikan satu persen dari keseluruhan sinar datang. Berkas sinar terbentuk oleh foton yang dapat keluar melalui cermin transparan. Berikut adalah contoh diagram model pengemasan laser helium-neon pertama (Wilkins, 1997):

Gambar Diagram skematis laser helium-neon pertama Keuntungan dari laser helium-neon ini adalah laser ini dapat mengemisikan sinar tampak, biasanya mengemisikan sinar dengan panjang gelombang 632,8 nm sehingga menghasilkan berkas sinar merah. Laser ini mempunyai kualitas berkas sinar yang bagus sehingga berkasnya akan tetap fokus pada jarak yang jauh (Wilkins, 1997). Laser helium-neon ini merupakan perangkat serba guna yang dapat diaplikasikan untuk berbagai kepentingan. Biasanya laser ini digunakan pada bar-code reader. Karena laser ini dapat mengemisikan sinar tampak maka laser ini digunakan untuk operasi yang dimanfaatkan untuk memposisikan berkas sinar infrared yang digunakan untuk pemotongan. Beberapa orang memanfaatkan laser helium-neon ini untuk memperkirakan dengan tepat suatu pengukuran jarak jauh karena berkas yang dihasilkan oleh laser ini memiliki kualitas yang bagus. Laser helium-neon merah juga digunakan dalam holografi (Wilkins, 1997).

3. Bagaimana peran Helium dalam suatu reaktor nuklir? Pemanfaatkan sumber energi baru dan terbarukan termasuk energi nuklir yang dapat digunakan sebagai alat pembangkit panas untuk produksi bahan bakar hidrogen, alat pembangkit listrik, dan alat desalinasi air laut untuk menghasilkan air bersih (fresh water) atau lebih dikenal dengan nama kogenerasi. Sistem kogenerasi ini, mengaplikasikan reaktor berpendingin gas temperatur tinggi (High Temperature Gas-cooled Reactor / HTGR), dapat didesain sesuai dengan daya thermal yang dibutuhkan (Sudadiyo, 2010). Tipe HTGR (High Temperatur Gas-cooled Reactor atau reaktor temperatur tinggi berpendingin gas) - belum di operasikan seacara komersil - merupakan pengembangan dari reaktor berpendingin gas tipe sebelumnya. Reaktor tipe ini menggunakan grafit sebagai moderator dan helium sebagai pendingin. HTGR didesain agar mencapai sistem keselamatan yang maksimal dengan menerapkan berbagai sistem keselamatan pasif. Bahan bakar reaktor dilapisi dengan keramik yang mampu bertahan pada suhu hingga 1600oC dan efisiensi pengoperasian dapat dicapai pada suhu 950oC. Gas helium selain

dapat memutar turbin secara langsung untuk memproduksi listrik, dapat juga digunakan untuk menghasilkan panas proses untuk berbagai keperluan (Anonymous7,2010). Reaktor nuklir jenis High Temperature Gas-cooled Reactor (HTGR) menjadi kandidat reaktor nuklir untuk membantu proses produksi hidrogen. Reaktor ini menggunakan gas helium sebagai pendingin, grafit sebagai moderator, jenis bahan bakar TRISO, dan mampu memproduksi panas hingga bersuhu 9500C.Berdasarkan suhu panas yang dihasilkan, reaktor ini dapat dikategorikan menjadi 1) HTGR konvensional yang menghasilkan panas bersuhu 7850C, 2) Advanced HTGR (AHTGR) yang menghasilkan panas bersuhu 8500C, dan 3) Very High Temperature Gas-Cooled Reactor (VHTR) yang menghasilkan panas bersuhu 9500C, termasuk dalam Generation-IV Reactor

(Dhartanto,2009). HTGR juga dapat dikategorikan berdasarkan bentuk susunan bahan bakar yang digunakan yaitu tipe block dan pebble. Pada tipe block, partikel TRISO dijadikan dalam bentuk compact dan diletakkan di dalam block grafit berbentuk heksagonal. Lain dengan tipe pebble, partikel TRISO dijadikan bentuk pebble dan diletakkan di teras. Perbedaan dan karakter lain dari HTGR dapat dilihat di gambar di bawah ini (Dhartanto,2009):

HTGR bukanlah jenis reaktor baru. Reaktor ini sudah dikembangkan sejak tahun 1960 seperti DRAGON di Inggris, Peach Bottom di Amerika Serikat, Arbeitsgemeinschaft Versuchsreaktor (AVR) di Jerman, Fort Saint Vrain (FSV) di Amerika Serikat dan Thorium High-Temperature Reactor (THTR) di Jerman. Saat ini hanya 2 reaktor HTGR yang beroperasi, digunakan untuk penelitian yaitu High Temperature Testing Reactor (HTTR) di Jepang dan High Temperature Reactor (HTR)-10 di China (Dhartanto,2009).

Konsep teknologi reaktor nuklir kogenerasi dengan memanfaatkan panas yang dikeluarkan oleh reaktor ini dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik (33,33%), produksi gas hidrogen (28,33%) dan desalinasi (38,33%). Dengan demikian seluruh energi panas yang dikeluarkan oleh reaktor dapat dimanfaatkan semuanya, tanpa ada yang terbuang ke lingkungan. Negara Jepang telah berhasil menguasai teknologi reaktor kogenerasi ini, namun dalam hal efisiensi pemanfaatan panas yang dihasilkan oleh reaktor kogenerasi belum bisa mencapai 100%. Efisiensi pemanfaatan panas dari reaktor kogenerasi oleh negara Jepang baru mencapai 80%. Kunci keberhasilan penerapan teknologi ini adalah bagaimana dapat mempertahankan efisiensi transfer panas secara sempurna, yang dalam hal ini pendinginnya adalah gas helium. Kemurnian gas helium sebagai pendingin untuk transfer panas pada reaktor kogenerasi memegang peranan penting untuk mencapai efisiensi 100% (Supriatna,2008).

Gambar Konsep Dasar Reaktor Kogenerasi dengan Fungsi dan Aplikasinya Gas helium sangat tepat dijadikan sebagai fluida pendingin untuk transfer panas pada reaktor dengan suhu sangat tinggi (untuk HTGR, VHTR dan jenis gascool reactor lainnya sampai sekitar 950oC), mengingat karakteristik dari gas helium sebagai gas ideal / gas inert, tidak mengalami perubahan sifat fisik maupun kimia pada suhu relatif sangat tinggi, tidak bereaksi dengan gas / zat lainnya, efektif untuk keperluan heat transfer dan mudah dimampatkan sampai di atas 5 MPa atau lebih. Karakteristik gas helium bisa bertahan seperti ini jika kemurniannya (purity) bisa dijaga dengan baik. Namun demikian unsur-unsur gas pengotor bisa muncul dari akibat kebocoran orde mikro pada sistem shield antar sambungan pipa pendingin, sehingga gas pengotor (impurity gas) memungkinkan masuk ke dalam sistem pendingin. Tidak mustahil jika pelumas dari bearing dengan sistem penyekatan yang tidak sempurna, pada suhu sangat tinggi akan menjadi gas kontaminan yang bisa merusak karaksteristik dari gas helium. Setiap material

yang mengalami kontak langsung dengan gas helium dengan suhu sekitar 950oC, cepat atau lambat akan mengalami kerusakan fisik akibat temperature stress sehingga secara fisik menjadi lebih rapuh. Benda rapuh ini akan menghasilkan debu yang mengotori gas helium (Supriatna,2008). Bermacam-macam dampak yang ditimbulkan oleh gas pengotor pada sistem pendingin helium ini. Gas N2 dan O2 yang terperangkap dalam sistem pendingin helium dengan suhu sangat tinggi akan membentuk gas NOx. Gas pengotor ini jelas akan menurunkan efisiensi heat transfer dari sistem pendingin helium. Gas O2 yang terperangkap masuk kedalam bejana reaktor, ketika mengenai balok balok grafit yang dijadikan moderator, pada suhu sangat tinggi akan terjadi reaksi pembentukan gas COx, dan hal ini akan menimbulkan kerapuhan pada permukaan balok grafit, bahkan jika gas O2 yang mengenai balok grafit ini menghujam tajam akan menimbulkan keretakan pada balok grafit. Apapun bentuk kerusakan material pada sistem pendingin ini akan merupakan pengotor yang bisa menurunkan unjuk kerja dari sistem pendingin gas helium secara keseluruhan. Berdasarkan kondisi seperti itu maka pemeliharaan dalam bentuk pemurnian gas helium sebagai pendingin pada gascooled reactor adalah mutlak diperlukan tanpa harus menghentikan proses yang sedang berjalan (Supriatna,2008). Berikut merupakan aliran jalannya gas helium sebagai pendingin pada reaktor tipe HTGR:

4. Bagaimana aplikasi xenon sebagai lampu xenon arc? Lampu xenon arc adalah salah satu jenis lampu gas discharge, sebuah lampu listrik yang menghasilkan cahaya dengan melewatkan listrik melalui gas xenon terionisasipada tekanan tinggi untuk menghasilkan cahaya putih terang yang mirip sinar matahari alami. Lampu busur xenon digunakan dalam proyektor film di bioskop dan disorot untuk

keperluan khusus dalam industri dan penelitian untuk mensimulasikan sinar matahari. Xenon headlamps dalam mobil benar-benar menggunakan lampu halida logam, dimana xenon arc hanya digunakan ketika start-up (Anonymous8, 2012). Lampu xenon busur pendekmemiliki dua varietas yang berbeda: xenon murni yang hanya berisi gas xenon, dan xenon-merkuri yang mengandung gas xenon dan sejumlah kecil logam merkuri (Anonymous8, 2012). Dengan lampu xenon murni, sebagian besar cahaya yang dihasilkan dalam awan, pinpointkecilberukuran plasma terletak di mana aliran elektron meninggalkan permukaan katoda. Volume generasi cahaya berbentuk kerucut, dan intensitas cahaya jatuh secara eksponensial bergerak dari katoda ke anoda. Elektron melewati awan plasma menyerang anoda, menyebabkan ia panas. Sebagai hasilnya, anoda dengan lampu xenon arc pendek baik harus jauh lebih besar dari katoda atau menjadi air-cooled untuk mengusir panas. Output dari lampu xenon busur pendek murni relatif datar selama seluruh spektrum warna, meskipun dengan lampu tekanan tinggi ada beberapa garis emisi yang sangat kuat dalam inframerah dekat, kira-kira di area 850-900 nm. Daerah ini spektral dapat berisi sekitar 10% dari cahaya total yang dipancarkan (Anonymous8, 2012). Dalam xenon-merkuri lampu busur pendek, sebagian besar cahaya yang dihasilkan dalam awan pinpoint berukuran plasma terletak di ujung elektroda masing-masing. Volume generasi cahaya berbentuk seperti dua kerucut berpotongan, dan intensitas cahaya jatuh secara eksponensial bergerak menuju pusat lampu. Lampuxnon-merkuri busur pendek memiliki spektrum putih kebiruan dan output UVnya sangat tinggi. Lampu ini digunakan terutama untuk aplikasi UV curing, sterilisasi objek, dan menghasilkan ozon. Ukuran yang sangat kecil dari busur memungkinkan untuk memfokuskan cahaya dari lampu dengan presisi moderat. Untuk alasan ini, lampu xenon arc dengan ukuran lebih kecil (hingga ke 10 watt), digunakan di optik dan presisi untuk pencahayaan mikroskop dan instrumen lainnya, meskipun di zaman modern keduanya digantikan oleh dioda laser single mode dan putih laser supercontinuum, cahaya yang dapat menghasilkan titik yang benar-benar difraksi terbatas (Anonymous8, 2012). Semua xenon pendek busur lampu besar menghasilkan radiasi ultraviolet . Xenon memiliki garis spektrum yang kuat dalam band UV, dan ini mudah melewati amplop lampu leburan kuarsa. Tidak seperti kaca borosilikat digunakan dalam lampu standar, kuarsa leburan tidak melemahkan radiasi UV kecuali secara khusus diolah. Radiasi UV dirilis oleh lampu busur pendek dapat menyebabkan masalah sekunder dari ozon generasi. Radiasi UV menyerang oksigen molekul di udara sekitar lampu sehingga terjadi ionisasi.

Beberapa molekul terionisasi kemudian bergabung kembali sebagai O3(ozon). Peralatan yang menggunakan lampu busur pendek sebagai sumber cahaya harus mengandung radiasi UV dan mencegah pembentukan ozon (Anonymous8, 2012).

5. Bagaimanakah peran xenon sebagai obat anestesi dalam bidang kedokteran? Anestesi inhalasi merupakan obat-obatan yang paling sering digunakan untuk keperluan anestesi umum. Penambahan obat anestesi inhalasi ke dalam oksigen sebanyak 1% saja dapat menyebabkan ketidaksadaran dan amnesia, yang mana keadaan tersebut adalah komponen esensial untuk anestesi umum. Peningkatan sedasi/hipnosis dan analgesia dapat dicapai dengan mengkombinasikan dengan adjuvan intravena, seperti opioid atau benzodiazepin. Anestesi inhalasi semakin populer digunakan dalam anestesi umum oleh karena kemudahan penggunaannya (lewat inhalasi), juga karena efeknya dapat dimonitor (contohnya tanda klinis dan konsentrasi akhir tidal). Zat-zat anestesi inhalasi tergolong cepat berefek pada tubuh, dan untuk keperluan anestesi umum, efek yang cepat timbul ini memberikan keamanan. Kemampuan untuk meningkatkan atau menurunkan level anestesi sesuai kebutuhan dapat mencegah suatu kecelakaan anestesi. Kecepatan timbulnya efek juga berpengaruh terhadap efisiensi. Proses induksi yang cepat dapat menghasilkan persiapan operasi yang lebih baik dan cepat. Penghilangan efek yang cepat berakibat pada singkatnya masa pemulihan (Rosaningtyas dan Rudi, 2009). Dalam dunia kedokteran, xenon telah diaplikasikan sebagai obat bius inhalasi yang rutin digunakan di Rusia, Jerman, Belanda, dan Swedia. Xenon dipercaya 44% lebih ampuh daripada nitrous oxide atau N 2 O jika digunakan kepada orang yang telah berumur diatas 40 tahun. Xenon dapat di gunakan bersamaan dengan oksigen dan dapat mengurangi resiko hypoxia (penyakit kekurangan oksigen). Tidak seperti nitrous oxide, xenon bersifat ramah lingkungan karena tidak memproduksi gas rumah kaca. Saat xenon terbuang ke atmosfer, xenon akan berubah menjadi gas asalnya dan tidak berdampak buruk bagi lingkungan (Anonymous 9 , 2011). Terdapat dua mekanisme yang menyebabkan xenon memiliki sifat

anestesi. Pertama, adanya penghambatan pompa kals ium ATP-ase yang menyebabkan hilangnya kalsium sel, termasuk membran sel sinaptik. Kedua, xenon memiliki
9

interaksi

nonspesifik

dengan

lipid

membran

(Anonymous ,2010).

Meskipun xenon secara virtual bersifat inert dan tidak membentuk ikatan kovalen dengan unsur lainnya (kecuali di bawah kondisi ekstrim), kulit elektron yang sangat besar pada xenon dapat mengalami polarisasi dan terdistorsi oleh molekul yang dekat sehingga menghasilkan suatu dipol terinduksi. Distorsi dari orbital elektron ini menyebabkan xeno n dapat berinteraksi dan terikat pada protein seperti mioglobin dan lipid bilayer khusunya pada daerah yang memiliki gugus lebih polar. Kemampuan xenon untuk berinteraksi dengan protein sel dan penyusun membran sel ini yang menyebabkan adanya potensi anestetik. Xenon menghambat pompa Ca 2+ pada membran plasma yang mana bertanggung jawab untuk terjadinya peningkatan pada konsentrasi Ca 2+ neuronal dan mengubah eksitabilitas. Xenon menghambat respon nociceptive pada saraf saraf dorsal tanduk tulang belakang yag merupakan efek dari inhibisi reseptor NMDA (Evans, 2000). Xenon memiliki banyak sifat sebagai gas anestetik yang ideal, di antaranya adalah (Evans, 2000): Tidak mudah terbakar dan tidak mudah meledak Induksi yang cepat karena memiliki koefisien partisi gas dalam darah paling rendah dibandingkan jenis anestetik lainnya, yaitu 0.12 Memiliki nilai MAC manusia sebesar 0.63 sehingga membuatnya cocok sebagai obat anestesi inhalasi dengan campuran 30% oksigen Cukup bersifat analgesik dan memiliki efek hipnotik dalam campurannya dengan 30% oksigen Tidak ikut dalam sistem metabolisme, toksisitas rendah, dan tidak memiliki teratogenisitas Dibandingkan obat bius lainnya, anestesi xenon menghasilkan aliran darah tertinggi di daerah otak, hati, ginjal, dan usus. Bahaya terhadap jaringan hipoksia juga sangat kecil dan oleh karena itu muncul sebagai alternatif yang menarik untuk obat anestesi dalam operasi transplantasi Dapat melindungi sel sel saraf terhadap luka iskemik. Selama operasi kardioparu, xenon dapat memberikan efek protektif bagi saraf Ventilasi dan fungsi paru tidak terganggu. Meskipun memiliki densitas lebih besar daripada N2O, xenon tidak merubah mekanisme pernafasan dan hambatan saluran udara tidak bertambah

Kurangnya depresi kardiovaskular merupakan karakteristik yang paling menarik dari xenon. Bahkan dengan 80% konsentrasi Xe, aliran Ca2+ dalam kardiomiosit manusia tetap tidak terpengaruh. Indeks Kinerja Myocardial (MPI) menunjukkan bahwa ventrikel kiri dan dinding sistolik tidak mengalami depresi apapun

Difusi hipoksia lebih kecil daripada jika menggunakan N2O

DAFTAR PUSTAKA Anonymous1, 2008, Xenon, http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/xenon/, diakses 1 Juni 2012 Anonymous2, 2010, Helium, http://nautilus.fis.uc.pt/st2.5/scenes-e/elem/e00292.html, diakses tanggal 31 Mei 2012 Anonymous3, 2004, Helium He, http://www.lenntech.com/periodic/elements/he.htm#ixzz1wQrv8cRD, diakses tanggal 31 Mei 2012 Anonymous4, 2012, How helium is made - material, history, used, processing, components, product, industry, Raw Materials, The Manufacturing Process of helium, Quality Control, The Future, http://www.madehow.com/Volume4/Helium.html#ixzz1wVxmb6qW, diakses tanggal 31 Mei 2012 Anonymous5,2010, Kegunaan Gas Mulia, http://www.edukasi.net/index.php?mod=script&cmd=Bahan%20Belajar/Materi%20Pokok/view&id =369&uniq=3266, diakses tanggal 1 Juni 2012 Anonymous6, 2011, Xenon, http://hdxtechnology.com/_news-detail.php?v=xenon--9, diakses tanggal 2 Juni 2012 Anonymous7, 2010, Tipe dan Karakteristik Rekator Nuklir,

http://www.infonuklir.com/readmore/read/iptek_nuklir/teknologi_reaktor/16etpk1/Tipe%20dan%20karakteristik%20reaktor%20nuklir, diakses tanggal 1 Juni 2012 Anonymous8, 2012, Xenon Arc Lamp, http://en.wikipedia.org/wiki/Xenon_arc_lamp, diakses 2 Juni 2012 Anonymous9, 2010, Prinsip Dasar Farmakologi dan Aplikasi Obat Anestesi, http://www.scribd.com/document_downloads/direct/45369114?extension=pdf&ft=1338 669231&lt=1338672841&uahk=T+WmukvrZ2IdLgoXroyVEQGcniY, diakses tanggal 2 Juni 2012 Cluett, J., 2011, MRI, http://orthopedics.about.com/cs/sportsmedicine/a/mri.htm, diakses tanggal 1 Juni 2012 Dhartanto, 2009, Reaktor Nuklir untuk Hidrogen Nuklir, http://nukers2002.wordpress.com/2009/07/22/reaktor-nuklir-untuk-hidrogen-nuklir/, diakses tanggal 1 Juni 2012

Evans, G., 2000, Xenon Anesthesia, http://www.uwoanesthesia.ca/documents/Xenon%20Anesthesia3.ppt, diakses tanggal 2 Juni 2012 Laud, B.B., 1988, Laser dan Optik Nonliniear, UI press, Jakarta Miller, R., 2006, The Elements What You Really Want to Know, A division Lerner Publishing Group, Inc., Minneapolis Mohsin, Y., 2005, Helium, http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/helium/, diakses tanggal 1 Juni 2012 Rosaningtyas, W.F. dan R. Rudi, 2009, Anastesi Inhalasi, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta Sudadio, S., 2010, Analisis Termodinamika Sistem Turbin Helium Untuk Reaktor Daya Nuklir, Prosiding Seminar Nasional ke-16 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir ISSN : 0854 - 2910 Hal. 51-58. Supriatna, P., 2008, Konsep Rancangan Sistem pemurnian Gas pendingin Primer pada High Temperature Reactor (HTR), Seminar Nasional IV SDM Teknologi Nuklir ISSN 1978-0176, Yogyakarta Widodo, H. P., 2011, Xenon, http://unsur2kimiaku.ueuo.com/xe.html, diakses 1 Juni 2012 Wilkins, 1997, Helium-Neon Laser, http://www.physics.ohio-

state.edu/%7Ewilkins/writing/index.html, diakses tanggal 31 Mei 2012