You are on page 1of 20

FISIKA INTI

RADIOAKTIVITAS

Oleh: Komang Suardika (0913021034)

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA SINGARAJA 2011

BAB I
Radioaktivitas 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Di alam banyak terdapat unsur radioaktif, yakni sifat dari suatu zat yang dapat memancarkan partikel radiasi karena kondisi zat tersebut tidak stabil. Secara alami dalam tulang terdapat (sedikitnya dua) unsur radioaktif, yakni polonium dan radium. Otot-otot kita mengandung unsur karbon (C) dan kalium (K) radioaktif. Sementara itu, dalam paruparu kita juga terdapat gas mulia radioaktif dan tritium. Zat-zat ini dan banyak zat lainnya secara terus-menerus memancarkan radiasi dan menyinari tubuh kita dari dalam. Kita juga terkena radiasi dari dalam melalui semua zat radioaktif alam dan buatan yang berasal dari makanan atau minuman yang kita konsumsi sehari-hari. Dalam bidang kesehatan, radiasi justru menjadi penyelamat, seperti dalam pemeriksaan dengan partikel-X dan mammografi. Pengobatan dan pemeriksaan medis juga memerlukan zat-zat radioaktif yang disuntikkan ke dalam tubuh pasiennya. Penyakit kanker kadang-kadang diobati dengan partikel-X atau unit telekobal (disebut juga bom kobal). Partikel X sendiri pertama kali ditemukan oleh W.C. Rntgen sekitar tahun 1985 dan menyebakan fisikawan Perancis Henri Becquerel tertari untuk menyelidikinya. Becquerel berpendapat bahwa fenomena partikel-X yang ditemukan Rntgen disebabkan oleh suatu zat yang bersifat fosforensi karena partikel matahari. Untuk membuktikannya Ia membungkus suatu pelat fotografi (pelat film) dengan kain hitam. Kemudian Ia menyiapkan garam uranium (kalium uranil sulfat), material yang bersifat fosforensis. Rencananya Becquerel akan menyinari garam uranium dengan partikel matahari dan meletakkannya dekat pelat film dan mengharapkan terjadinya partikel-X. Namun cuaca mendung menyebabkan Becquerel menyimpan pelat film yang tertutup kain hitam dan garam uranium dalam laci meja di laboratoriummnya. Becquerel bermaksud meletakkan garam uranium di bawah partikel matahari dan melanjutkan rencana percobaannya. Terlebih dahulu ia memeriksa pelat film yang dibungkus kain hitam untuk memastikan kualitasnya masih baik. Ia memeriksa pelat film tersebut di dalam kamar gelap dan membersihkannya dengan cairan pembersih pelat film. Ia sangat terkejut saat mengamati pelat film yang telah dicuci karena pada pelat film tersebut terdapat suatu jejak cahaya berupa garis lurus. Becquerel berpikir, mungkinkah garis ini disebabkan oleh radiasi garam uranium? Untuk memastikannya ia memasukkan kembali pelat film yang telah dibungkus kain hitam di dekat garam uranium di tempatnya semula. Ia menunggu beberapa hari, lalu memeriksa pelat film dan menemukan fenomena
Radioaktivitas 2

munculnya jejak cahaya berupa garis lurus pada pelat film. Rencana menyinari garam uranium dengan partikel matahari digantinya dengan percobaan mendekatkan pelat film di dekat garam uranium di dalam laci laboratorium. Setelah berkali-kali mengulangi percobaannya ia selalu menemukan fenomena yang sama yaitu jejak cahaya berupa garis lurus pada pelat film. Dari fenomena yang terjadi berulang-ulang ini Becquerel menyimpulkan bahwa jejak cahaya pada pelat film tersebut disebabkan oleh garam uranium memancarkan radiasi yang dapat menembus kain pembungkusnya dan mempengaruhi pelat film. 1.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang yang telah dikemukakan, maka dapat ditarik beberapa rumusan masalah yang akan dibahas, yaitu sebagai berikut.
1. Bagaimana penemuan radioaktivitas dan jenis-jenis radioaktif?

2. Bagaimana hukum peluruhan radioaktif itu? 3. Bagaimana proses peluruhan radioaktif berlangsung? 4. Bagaimana kesetimbangan yang radioaktif?
5. Apakah yang dimaksud deret radioaktif alam?

6. Satuan apa saja yang digunakan dalam radioaktivitas? 1.3 Tujuan Penulisan Dari latar belakang dan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka diperoleh tujuan penulisan sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui penemuan radioaktivitas dan jenis-jenis radioaktif. 2. Untuk mengetahui hukum peluruhan radioaktif. 3. Untuk mengetahui proses peluruhan radioaktif berlangsung. 4. Untuk mengetahui kesetimbangan yang radioaktif. 5. Untuk mengetahui yang dimaksud deret radioaktif alam. 6. Untuk mengetahui satuan apa saja yang digunakan dalam radioaktivitas.

1.4 Manfaat Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah untuk menambah pengtahuan dan pemahaman penulis dan pembaca mengenai radioaktivitas. 1.5 Metode Penulisan
Radioaktivitas 3

Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah metode telaah pustaka, yaitu melalui pengumpulan berbagai buku sumber dan internet yang relevan dengan materi yang ditulis dalam makalah.

BAB II
Radioaktivitas 4

PEMBAHASAN 2.1 Penemuan dan Jenis-jenis Partikel Radiasi Radioaktivitas didefinisikan sebagai peluruhan inti atom yang berlangsung secara spontan, tidak terkontrol dan menghasilkan radiasi. Unsur yang memancarkan radiasi seperti ini dinamakan zat radioaktif. Seperti kita ketahui bahwa inti atom terdiri atas dua partikel yaitu proton (ditemukan oleh Rutherford, 1919) dan netron (dipopulerkan oleh James Chadwick, 1932). Proton adalah partikel bermuatan positif (qp = 1,602 x 10-19 C, mp = 1,007276487 sma) disebut juga inti atom hidrogen, sedangkan netron merupakan partikel tidak bermuatan dengan massa 1,008664891 sma. Dalam penemuan radioaktif ini, banyak usaha yang dilakukan para ilmuwan untuk mempelajari sifat-sifat dari partikel radiasi. Radiasi dari unsur radioaktif alami digolongkan dalam tiga jenis yang berbeda. Jenis yang pertama adalah suatu partikel yang memiliki daya tembus yang sangat lemah, mampu menembus selembar kertas biasa ini disebut dengan partikel alfa atau partikel-. Jenis kedua yaitu memiliki daya ionisasi yang lebih kecil dari partikel alfa, partikel ini adalah partikel beta atau partikel-. Dan jenis yang ketiga yaitu memiliki daya ionosasi yang sangat kecil. Partikel ini adalah partikel gama atau partikel-. Pada tahun 1899, Rutherford melakukan percobaan yang menyatakan bahwa partikel alfa dibelokkan sangat kecil di bawah pengaruh medan magnetik yang kuat dan berkelakuan seolah-olah mereka bermuatan positif. Partikel beta menunjukkan bahwa partikel tersebut lebih dibelokkan dari pada partikel alfa dan seolah-olah bermuatan negatif. Sedangakan, R. Strutt menunjukkan bahwa partikel gamma tidak dibelokkan oleh medan magnet.
PELAT FOTOGRAFI ******************************* ******************************* ******************************* ******************************* ******************************* ******************************* *******************************

B(Keluar bidang kertas)

RADIUM

Balok Timbal

Gambar. 1 percobaan yang menunjukkan pembelokkan partikel-, partikel-, dan partikel-

Radioaktivitas

Pada percobaan ini, ia menempatkan sedikit radium di dasar sebuah kotak kecil dari timah hitam (timbal). Ia memperhatikan partikel-partikel yang dipancarkan dari kotak karena adanya pengaruh sebuah medan magnet kuat yang berarah tegak lurus terhadap arah rambat radiasi ketiga partikel yang dipancarkan oleh radium. Dan ternyata pancaran radioaktif itu terdiri atas tiga jenis partikel yaitu, partikel alfa, partikel beta, dan partikel gamma

Gambar 2. Daya tembus partikel-, partikel-, dan partikel- a. Partikel Alfa () Partikel alfa merupakan radiasi partikel yang bermuatan positif. Partikel partikel alfa sama dengan inti helium -4, bermuatan +2e dan bermassa 4 sma. Partikel alfa adalah partikel terberat yang dihasilkan oleh zat radioaktif. Partikel alfa dipancarkan dari inti dengan kecepatan sekitar 1/10 kecepatan cahaya. Karena memiliki massa yang besar, daya tembus partikel alfa paling lemah diantara partikel-partikel radioaktif. Di udara hanya dapat menembus beberapa cm saja dan tidak dapat menembus kulit. Partikel alfa dapat dihentikan oleh selembar kertas biasa. Partikel alfa segera kehilangan energinya ketika bertabrakan dengan molekul media yang dilaluinya. Tabrakan itu mengakibatkan media yang dilaluinya mengalami ionisasi. Akhirnya partikel alfa akan menangkap 2 elektron dan berubah menjadi atom helium .

Berdasarkan percobaan dalam medan magnetik dan medan listrik dapat ditentukan rasio muatan partikel- ditentukan oleh pembelokkan medan listrik dan medan magnet, yang menunjukkan e/m = 4823 emu/gm yaitu dua kali dari massa ion hydrogen. Partikel mampu berpijar pada suatu bahan, hasil pijaran partikel- bersifat diskrit. Kebanyakan partikel- memiliki kecepatan sekitar 1,4 x 109 cm/det dan 2,2 x 109

Radioaktivitas

cm/det, tetapi beberapa orang menggolongkan partikel- dari inti selalu memiliki kecepatan yang terbatas, sehingga memiliki energi yang terbatas pula. b. Partikel beta () Partikel beta merupakan radiasi partikel bermuatan negatif. Partikel beta merupakan berkas elektron yang berasal dari inti atom. Partikel beta yang bemuatan -le dan bermassa 1/836 sma. Energi partikel beta sangat bervariasi, mempunyai daya tembus lebih besar dari partikel alfa tetapi daya pengionnya lebih lemah. Partikel- merupakan partikel yang memendarkan bahan yang sangat bagus. Sama halnya dengan partikel-, partikel- juga memiliki massa dan muatan.,Partikel beta paling energetik dapat menempuh sampai 300 cm dalam uadara kering dan dapat menembus kulit. Kecepatan partikel- hampir mendekati kecepatan cahaya yaitu 0,99 c, dimana kecepatan cahaya adalah 3 x 1010 cm/det. Partikel- dibelokkan dengan kuat oleh medan magnet dan medan listrik, dengan nilai e/m sekitar 1,77 x 107 emu/gm. Jejak partikel- dalam bahan berbelok-belok, karena disebabkan oleh hamburan yang dialami oleh elektron.
c.

Partikel gamma () Partikel gamma adalah radiasi elektromagnetek berenergi tinggi, tidak bermuatan dan tidak bermassa. Partikel gamma dinyatakan dengan notasi . Partikel gamma

mempunyai daya tembus. Partikel- juga memendarkan bahan, partikel- juga memiliki daya ionisasi tetapi dalam taraf yang sangat kecil. Untuk menghentikan partikel gamma diperlukan lapisan metal tebal, namun karena penyerapannya fungsi eksponensial akan ada sedikit bagian yang mungkin menembus pelat metal. Karena partikel- tidak memiliki muatan, hampir tidak bermassa, dan tidak dibelokkan oleh medan listrik dan medan magnet. Partikel- merupakan radiasi elektromagnetik, yang kecepatannya sama dengan kecepatan cahaya dan memiliki energi paling besar dengan panjang gelombang antara 1,7 x 10-10 cm dan 4,1 x 10-8.Partikel- tidak banyak berintraksi dengan atom suatu bahan. 2.2 Hukum Peluruhan Radioaktif Peluruhan radioaktif adalah kumpulan beragam proses di mana sebuah inti atom yang tidak stabil memancarkan partikel sub-atomik (partikel radiasi baik itu partikel-, patikel-, dan partikel-) atau partikel lain.
Radioaktivitas 7

Diasumsikan bahwa masing-masing inti yang tidak meluruh jika mempunyai probabilitas maka inti akan meluruh beberapa detik kemudian (asumsikan bahwa <<1). Pada waktu dt masing-masing probabilitas atom meluruh adalah dt. Jika N atom tidak meluruh pada waktu yang ditentukan, banyaknya atom dN meluruh pada waktu yang singkat dt, dan memberikan : dN = N dt .......................................................(1) Masing-masing ruas dapat diintegrasikan dengan syarat waktu (t) = 0, dan banyaknya atom radioaktif yang belum meluruh N0, yaitu: dN = dt N N0
N

ln N ln N 0 = dt N = N 0 e t .............................................(2) Di mana N(t) adalah banyaknya atom radioaktif pada saat t Probabilitas, , yang digunakan pada persamaan di atas disebut konstan peluruhan. Sehingga dapat digunakan aktivitas radioaktif pada setiap sampel, yang digambarkan dengan banyaknya disintegrasi per detik. Dan dari persamaan (2), maka: dN = N 0 e t dt N Aktivitas = ...............................................(3) = N Waktu Paruh (Half-Life) Pendekatan lain yang dapat dilakukan dalam menentukan aktivitas radiasi adalah dengan konsep waktu paruh. Waktu paruh (T1/2) didefinisikan sebagai lamanya zat radioaktif melakukan peluruhan hingga banyaknya inti sisa adalah setengah dari banyaknya inti mula-mula. Hubungan antara konstan peluruhan dan umur paro t1/2 dapat ditentukan dengan mudah. Dan untuk waktu-paro akan berlaku, yaitu apabila t = t1/2, dan aktivitas N telah menurun menjadi N0 jadi, N = N 0 e t
t 1 1 N0 = N0 e 2 2

t 1
2

=2

Dengan mengambil logaritma alamiah kedua persamaan tersebut menjadi:

Radioaktivitas

t 1 = ln 2
2

t1
2

ln 2 0,693 ...(4) =

Karena t1 / 2 adalah waktu, maka adalah peluang per satuan waktu (det-1). b. Waktu Rata-Rata Untuk mengetahui fenomena statistik alami ini, maka perlu digambarkan kwantitas waktu -rata (). Waktu rata-rata dari inti radioaktif dapat dihitung dengan penjumlahan semua inti yang hidup dan dibagi dengan total jumlah inti. Kira-kira dN1 inti mempunyai waktu hidup t1, dN2 mempunyai t2, dN3 mempunyai t3, dan seterusnya, sehingga: t1 dN 1 + t 2 dN 2 + t 3 dN 3 + ... .................................................(5) dN 1 + dN 2 + dN 3 + ...
N0 N0

Persamaan (6) diintegralkan menjadi

t dN t dN
0 N0

dN
0

N0

.....................................................................(6)

Dimana N0 = dN1 + dN 2 + dN 3 + ... , substitusi untu dN dari persamaan (3) ke persamaan (7) dan integralkan, sehingga mengahasilkan N 0 e t dt
0

N0

= t e t dt =
0

1 .......................................... (7)

Oleh karena itu

2.3 Persamaan Peluruhan Berurutan Jika inti anak sendiri adalah radioaktif, maka inti anak akan meluruh dalam unsur yang lain, yang disebut inti cucu, dan seterusnya seperti gambar berikut.
N 1 1 N 2 2 N 3 ( stabil )
atau

Radioaktivitas

N1

Inti induk 1

N2 2

N3

Asumsikan bahwa pada waktu t = 0, N1 = N10, N2 = N20 = 0, dan bahwa N3 = N30 = 0. definisi aktivitas sebagai banyaknya peluruhan per detik, dapat digunakan persamaan di bawah ini. dN = 1 N 1 ...............................................................................(8a) dt dN 2 = 1 N 1 2 N 2 ...................................................................(8b) dt dN 3 = 2 N 2 ...............................................................................(8c) dt Persamaan (8a) merupakan laju peluruhan inti induk dengan laju 1 N1 dan tanda minus menyatakan berkurangnya N1 (jumlah inti mula-mula). Persamaan (8b) merupakan aktivitas pembentukan N2 dengan laju 1 N1 dan pengurangan N2 dengan laju 2 N2. sedangkan persamaan (8c) merupakan laju pembentukan. Untuk mencari solusi dari ketiga persamaan di atas, maka: Untuk persamaan (8a) yaitu mencari N1, jika pada t = 0, N1 = N10 dan N2 = N3 = 0 N 1 = N 10 e 1 t ...............................................................(9) Untuk persamaan (8b) yaitu untuk mencari N2 dengan N2 pada saat t.
Radioaktivitas 10

dN 2 + 2 N 2 = 1 N 10 e 1 t ......................................................(10) dt Masing-masing koefisien dikalikan dengan e 2 t sehingga: e 2 t dN 2 + 2 N 2 e 2 t = 1 N 10 e 1 t e 2 t .(11) dt

Integral diferensial suatu fungsi adalah fungsi itu sendiri, maka: 1 ( 2 1 ) t N 2 e 2 t = 1 N 10 + C (12) e 2 1 N2 =

1 N 10 e t + C e 2 t ..(13) 2 1 1 N10 ....(14) 2 1

Dimana C adalah integral konstan, dan jika N2 = N20 =0 pada t = 0, maka: C=

Substitusikan nilai C ke persamaan (14), dan bagi kedua ruas dengan e 2 t , sehingga diperoleh: N2 =

1 N 10 ( e 1 t e 2 t ) 2 1

...(15)

Dengan cara yang sama, persamaan (9c) dapat dipecahkan dengan syarat bahwa N 3 = N30 = 0 pada t = 0, sehingga didapat solusi N3 yaitu: 1 2 N 3 = N 10 1 + e 2 t e 1 t 2 1 2 1 .......(16)

Persamaan (10), (17), dan (18) menguraikan dengan lengkap banyaknya atom setiap waktu t. persamaan ini telah diperoleh untuk kasus ketika N1 = N10, N2 = N20 = N30 = 0 pada waktu t = 0 dan persamaan di bawah ini merupakan prosedur untuk memperoleh N 1, N2, dan N3, bahkan jika N20 tidak sama dengan nol pada t = 0, dan hasil perhitungannya adalah: N 1 = N 10 e 1 t .......(17a) N2 =

1 N 10 ( e 1 t e 2 t ) ..(17b) 2 1

1 2 2 t N 3 = N 30 + N 20 1 e 2 t + N 10 1 + e 1 t (17c) e 2 1 2 1

Persamaan diferensial yang merupakan bentuk umum peluruhan sederhana 1 tingkat mewakili peluruhan berurutan adalah dN1/dt = -1 N1
Radioaktivitas 11

dN2/dt = 1 N1 2 N2 dN3/dt = 2 N2 3 N3 (18) dNn/dt = n - 1 Nn - 1 n Nn Dimana N1, N2, dan N3, Nn 1, dan Nn adalah jumlah atom dari isotop-isotop yang berbeda setiap waktu t, dan 1, 2, 3,, n 1, dan n adalah konstan peluruhan berturut-turut. 2.4 Keseimbangan Radioaktif Pada bagian ini, akan digunakan persamaan peluruhan berurutan untuk beberapa kasus. Dua kasus itu adalah (i) di mana 1 2, dan (ii) di mana sekunder atau permanen. 1. Keseimbangan Transien Keseimbangan ini terjadi apabila inti induk meluruh dengan konstanta peluruhan 1 yang mendekati konstanta peluruhan inti anak 2. jika ingin mencari umur rata-rata inti induk akan memiliki orde yang sama dengan umur rata-rata inti anak, 1 2 ; 1 2. Dengan keadaan yang memenuhi kondisi t = 0, N1 = N10, N2 = N20 = N3 = N30 = 0, maka akan mempunyai: N 1 = N 10 e t N2 = . kasus yang pertama disebut dengan keseimbangan transien dan kasus kedua disebut keseimbangan

...(18)

1 N 10 ( e 1 t e 2 t ) (19) ( 2 1 )

Jika ingin mencari waktu yang diperlukan tm agar N2 mencapai nilai maksimum, maka digunakan persamaan diferensial terhadap waktu sama dengan nol, diperoleh: dN 2 = 0 =

1 N 10 ( 1e 1 t m + 2 e 2 t ) 2 1 1 log 2 (20) 2 1 1
Jika 1< 2,

tm =

Setelah waktu tm inti anak meluruh yang ditentukan oleh 1 atau 2.

umur rata-rata inti induk lebih panjang dari umur inti anak, dengan e 2 t lebih cepat menuju nol sehingga diabaikan, maka menghasilkan:

Radioaktivitas

12

N2 =

1 ( N e 1 t ) ( 2 1 ) 10 ...(21) 1 (N ) = ( 2 1 ) 1

N2 1 = (22) N 1 2 1 Persamaan (22) menyatakan perbandingan inti anak dan inti induk adalah konstan. Dengan perbandingan aktivitas inti anak lebih besar dari inti induk dengan factor

adalah: 2 1
dN 2 dt = 2 N 2 = 2 ....(23) dN 1 1 N 1 2 1 dt

2. Keseimbangan Permanen atau Sekunder Keseimbangan ini terjadi jika inti induk meluruh dengan konstanta peluruhan yang jauh lebih kecil dari konstanta peluruhan inti anak atau 1<<2, semakin kecil konstanta peluruhan akan semakin lama proses peluruhan. Pada kasus: N 2 = [ 1 / ( 2 1 ) ] N 10 e 1 t e 2t ..(24) atau N2 =

1 N 10 (1 e 2t ) karena 2 1 2 dan e 1t 1 . 2
1 , dan 2

Dan jika t sangat besar dibandingkan umur rata-rata inti anak, maka t >> e 2t cepat menjadi nol sehingga persamaannya adalah: N 2 = ( 1 / 2 ) N 10 ..(25)

Karena waktu paruh inti induk sangat besar, dan jumlahnya hampir konstan, N10 = N1, dan maka: N 2 = ( 1 / 2 ) N Sehingga kondisi untuk keseimbangan permanen atau sekunder adalah: 1 N1 = 2 N2 ......(26a) atau N1/N2 = 2/ 1 = 1/ 2 ..(26b)

Radioaktivitas

13

Persamaan (26b) mengandung makna bahwa aktivitas inti induk sama dengan aktivitas inti anak atau aktivitas inti induk sama dengan aktivitas inti cucu. Contoh keseimbangan radioktivitas:

1.0 Kesetimbangan Sekular 5 6 7 peluruhan lambat recovery N o m or R el ati f, N 0.5 0 1

4 Waktu dalam unit satuan

2.5 Deret Radioaktif Alam Kebanyakan unsur radioaktif yang didapatkan di dalam alam merupakan anggota dari empat deret radioaktif, masing-masing deret terdiri dari urutan produk inti anak yang semuanya dapat diturunkan dari inti-induk tunggal. Pada kenyataannya, hanya terdapat empat deret radioaktif yang dapat dijelaskan dari peluruhan yang mereduksi nomor massa sebuah inti sebesar 4. Jadi memenuhi: A = 4n A = 4n + 1 A = 4n + 2 A = 4n + 3 deret Thorium deret Neptunium deret Uranium deret Aktinium

Radioaktivitas

Slow recovery Net recovery peluruhan

14

Gambar. 4

Radioaktivitas

15

Gambar 5

Gambar 4 dan 5 menunjukkan plot N (di mana N = A-Z) dan Z. Gambar tersebut memperlihatkan waktu paruh, jenis-jenis peluruhan dan energi disintegrasi. Keberadaan deret seperti itu erat kaitannya dengan fakta bahwa inti induk pada setiap deret memiliki umur yang sangat panjang, kecuali pada kasus neptunium. Karena secara komparatif waktu paruh inti induk pada deret neptunium sangat pendek (t1/2 = 2,2 x 106 tahun), sehingga pada saat ini, golongan-golongan deret neptunium tidak ditemukan di alam dan tidak terjadi secara alami, unsur ini memiliki peluruhan ketika formasi pada unsur (~5 x 109 tahun yang lalu). Pada gambar 4 dan 6 menunjukkan nama-nama deret isotop radioaktif yang berbeda dari nama-nama unsurnya. Selain deret neptunium, deret-deret di atas mempunyai empat sifat, yaitu sebagai berikut. a. Semua deret memiliki satu isotop dengan umur yang sangat panjang, sebagai contoh, a. 99Th232 b. 92U238 c. 92U235 t1/2 = 1,39 x 1010 tahun t1/2 = 4,5 x 1010 tahun t1/2 = 7,15 x 1010 tahun

b. Hasil akhir dari ketiga deret yang stabil adalah beberapa isotop yaitu 82Pb208, 82Pb206,
82

Pb207, berturut-turut untuk deret thorium, deret uranium, dan deret aktinium.

c. Masing-masing memiliki suatu gas mulia yang terjadi pada Z = 86, yang

mengakibatkan nama dari tiga deret itu menjadi thoron (86Rn220), radon (86Rn222), action (86Rn219), berturut-turut untuk deret thorium, deret uranium, dan deret aktinium.
d. Suatu isotop C meluruh dalam proses percabangan oleh peluruhan dan , dan

mengakibatkan dua unsur pada setiap kasus, yang akhirnya berubah bentuk sedemikian rupa untuk memberi suatu hasil yang umum D, seperti pada gambar 6 dibawah ini.
C Radioaktivitas C C 16

Gambar 6. proses D peluruhan bercabang oleh

2.6 Satuan Radioaktifitas Satuan dari radioaktifitas adalah curie, yang menyatakan jumlah aktivitas radon setara dengan satu garam radium. Nilai curie dapat digunakan untuk perhitungan sederhana. Waktu paruh dari radium adalah 1620 tahun, maka konstanta peluruhan adalah ln 2 t1 / 2 0,693 = 13,8 10 12 sec 1 1,62 10 3 thn

radium =

Substitusi harga waktu paruh radium ke persamaan (45), maka

radium =

Massa dari radium adalah 226 amu yang sama dengan 6,02 x 1023 atom dari satu gram radium. Oleh karena itu, satu gram radium mengandung 6,02 10 23 = 2,26 10 21 atoms 2 2,26 10 Karena itu, harga peluruhan dN/dt = | N| = 13,8 x 10-12 x 2,66 x 1021 3,7 1010 di sin tegrasi / sekon Sehingga 1 curie setera dengan 3,7 x 1010 disintegrasi/sekon. Sub-satuan dari curie adalah milli-curie yang dinotasikan dengan mc dan micro-curie yang dinotasikan dengan c. Dimana milli-curie (mc) = 3.7 x 107 disintegrasi/sekon atau micro-curie (c) = 3.7 x 106 disintegrasi/sekon. Karena kekacauan dari definisi satuan curie, The American National Bureau of Standards mengusulkan satuan baru, yaitu rutherford (rd) yang memiliki nilai 106 disintegrasi/sekon. Sub-satuan rd adalah milli- rutherford yang dinotasikan dengan mrd dan micro- rutherford yang dinotasikan dengan rd. Dimana milli- rutherford (mrd) = 103 disintegrasi/sekon dan micro- rutherford (rd) = 1disintegrasi/sekon.

Radioaktivitas

17

BAB III PENUTUP 3.1 SIMPULAN Adapun yang dapat disimpulkan dari pembahasan di atas adalah sebagai berikut.
1. Radioaktivitas didefinisikan sebagai peluruhan inti atom yang berlangsung secara

spontan, tidak terkontrol dan menghasilkan radiasi terdiri atas tiga jenis partikel yaitu, partikel alfa, partikel beta, dan partikel gamma
2. Diasumsikan bahwa masing-masing inti yang tidak meluruh jika mempunyai

probabilitas maka inti akan meluruh beberapa detik kemudian (asumsikan bahwa <<1). Pada waktu dt probabilitas yang meluruh masing-masing atom menjadi dt. Jika N atom tidak meluruh pada waktu yang ditentukan, banyaknya dN, akan meluruh pada waktu yang singkat dt, Pendekatan lain yang dapat dilakukan dalam menentukan aktivitas radiasi adalah dengan konsep waktu paruh. Waktu paruh (T1/2) didefinisikan sebagai lamanya zat radioaktif melakukan peluruhan hingga banyaknya inti sisa adalah setengah dari banyaknya inti mula-mula dan untuk
mengetahui fenomena statistik alami ini, maka perlu digambarkan kwantitas waktu -rata (). 3. Persamaan peluruhan radioaktif yang diperoleh adalah dNn/dt = n - 1 Nn - 1 n Nn

Dimana N1, N2, dan N3, Nn 1, dan Nn adalah jumlah atom dari isotop-isotop yang berbeda setiap waktu t, dan 1, 2, 3,, n 1, dan n adalah konstan peluruhan berturut-turut.
4. Ada dau keseimbangan radioaktif yaitu keseimbangan transien apabila inti induk

meluruh dengan konstanta peluruhan 1 yang mendekati konstanta peluruhan inti anak 2. jika ingin mencari umur rata-rata inti induk akan memiliki orde yang sama dengan umur rata-rata inti anak, 1 2 ; 1 2 dan keseimbangan permanen atau sekunder yang terjadi jika inti induk meluruh dengan konstanta peluruhan yang jauh lebih kecil dari konstanta peluruhan inti anak atau 1<<2, semakin kecil konstanta peluruhan akan semakin lama proses peluruhan.

Radioaktivitas

18

5. Kebanyakan unsur radioaktif yang didapatkan di dalam alam merupakan anggota

dari empat deret radioaktif, masing-masing deret terdiri dari urutan produk inti anak yang semuanya dapat diturunkan dari inti-induk tunggal, yaitu deret Thorium (A = 4n), deret Neptunium (A = 4n + 1), deret Uraniu Aktinium (A = 4n + 3)
6. Satuan tradisional dari radioaktifitas adalah curie, yang menyatakan jumlah

A = 4n + 2) , dan deret

aktivitas radon setara dengan satu garam radium. Karena kekacauan dari definisi satuan curie, The American National Bureau of Standards mengusulkan satuan baru, yaitu rutherford (rd) yang memiliki nilai 106 disintegrasi/sekon 3.2 Saran Adapun saran yang dapat penulis berikan terkait makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Pembaca agar lebih banyak mencari sumber lain yang terkait dengan isi makalah ini

karena sumber yang penulis gunakan masih sangat terbatas.


2. Penulis

mengharapkan

agar pembaca dapat memberikan masukan

yang

membangun untuk perbaikan makalah ini dan menambah pengetahuan penulis.

Radioaktivitas

19

DAFTAR PUSTAKA Allya.-. Physics Nuclear.-. Rosana, Dadan, Sukardiyono dan Supryadi. 2000. Konsep Dasar Fisika Modern. Yogyakarta: Universitas Yogyakarta. Anonim. 2008. Radio Aktivitas. tersedia pada http://www.e-dukasi.net/ . Diakses pada tanggal 15 Oktober 2008 Anonym. 2000. Keradioaktifan Alam. Tersedia pada Diakses

http://iwanpermana.blogspot.com/2007/02/pengukuran-radio-aktif.html. pada tanggal 15 Oktober 2008

Radioaktivitas

20