Вы находитесь на странице: 1из 2

"Social media is just an extension of the social world and not a different social world.

"
Media sosial tidak membentuk dunia sendiri, karena media sosial dengan dunia sosial sangat berkaitan dan berkesinambungan. Kalau tidak ada dunia sosial maka tidak akan terbentuk twitter, facebook, etc. Jika media sosial tersebut membentuk dunia yang terpisah maka tidak akan ada gunanya, karena tidak ada dunia sosial nyata yang mau menggunakan media media sosial tersebut. Misalnya saja sebuah toko yang menggunakan media sosial untuk menarik pelanggan-pelanggan dalam dunia maya. Membuat website, twitter atau facebook dll merupakan salah satu strategi agar si toko tersebut bisa eksis dalam dunia sosial. Contoh lainnya, sebuah website milik universitas. Website tersebut digunakan untuk mempermudah komunikasi antara kampus dan mahasiswanya, atau kampus dengan staffnya.

Itulah mengapa orang-orang berlomba untuk tetap eksis dalam media sosial, terkadang media sosial sendiri menjadi tolak ukur keberadaan atau eksistensi seseorang dalam dunia sosial. Orang terus mengikuti perkembangan media sosial tersebut, selain untuk mempermudah komunikasi, berbagi informasi, juga mempertahankan eksistensinya di dunia sosial.

A mediated public sphere."

Ruang publik yang termediasi adalah suatu sarana dimana publik bisa saling berhubungan, mengutarakan pendapat, mengungkapkan ide dan sebagainya. Dimana publik menjadi pihak pertama dan pihak kedua yang diatur dan disediakan sarananya oleh pihak ketiga. Misalnya, seseorang yang mengutarakan pandangannya terhadap suatu keadaan pemerintahan dalam blognya. Blog tersebut dapat dibaca oleh para blogger lain dan mereka dapat saling berkomunikasi dan bertukar pikiran melalui media sosial tersebut. Media sosial seperti sebuah kotak sendiri dalam bagian dunia sosial yang prinsipnya sama dengan dunia sosial itu sendiri, menghubungkan satu dengan yang lainnya, hanya saja dalam dunia maya di era digital ini.

Media sosial menjadi sebuah wadah untuk berdiskusi, berbagi pandangan-pandangan dan komentar. Seperti pada Youtube, orang yang mengupload film pendek lalu berbagi komentar di

tempat yang disediakan. Media sosial menjadi sebuah ruang publik untuk berdiskusi.

Dalam suatu artikel berjudul Integrasi Konglomerasi Bisnis Media dan Bisnis Politik: Awal Gejala Minimalisasi Ruang Publik dikatakan bahwa:

Media massa (terutama televisi) sebagai anak kandung modernisasi-industrialisasi hadir sebagai instrumen baru pengganti ruang publik yang konvensional tersebut. Manifestasinya, media massa dan media penyiaran menawarkan diri sebagai piranti yang berfungsi memediasi pertemuan publik dalam memperbincangkan urusan kepublikannya. Dengan begitu pertemuan publik itu bisa termediasi. Bahkan realitas itu sendiri juga bisa termediasi. (http://nalar.org/blog/author/admin/page/7/)

Activism in digital age irrespective of the medium is a myth

Media itu hanya semacam pesan dan bukan konten nyata. Bisa dilihat sekarang banyak orang yang berkampanye dan membuat petisi-petisi di facebook, twitter atau blog dan website berlomba-lomba mengungkapkan ide dan berharap bisa mengubah sesuatu. Misalnya di http://www.change.org/id yang membuat petisi buat pemerintah di Indonesia atau hal-hal yang dilakukan oleh non governmental organization untuk membuat satu perubahan. Dengan membuat suatu artikel dalam website lalu di like oleh jutaan pembaca, itulah yang menang. Tapi pertanyannya sekarang apa media dapat membuat suatu perubahan di dunia nyata? Tombol like atas petisi petisi tersebut apa dapat membawa sebuah perubahan nyata? Menurut saya itu hanya alat mediasi antar 2 kubu yang sedang berseteru atau mempunyai interest atas sebuah isu publik. Mereka menggunakan internet untuk memenangkan ajang tersebut. Jadi kalau internet dibilang hanya sekedar mitos atau sesuatu yang tidak nyata itu benar, namun sekarang fungsi aktivisme dalam internet memiliki fungsi lain seperti membentuk perspektif bagi masyarakat dan membangun awareness masyarakat akan isu public.