You are on page 1of 21

Karies D1-D6 Menurut ICDAS, karies terbagi atas 6, yaitu: 1.

D1 Dalam keadaan gigi kering, terlihat lesi putih pada permukaan gigi. 2. D2 Dalam keadaan gigi basah, sudah terlihat adanya lesi putih pada permukaan gigi 3. D3 Terdapat lesi minimal pada permukaan email gigi. 4. D4 Lesi email lebih dalam. tampak bayangan gelap dentin atau lesi sudah mencapai bagian dentino enamel Junction (DEJ). 5. D5 Lesi telah mencapai dentin. 6. D6 Lesi telah mencapai pulpa. Capping Pulpa PULP CAPPING 1. Pengertian Pulp Capping Pulpa capping adalah aplikasi selapis atau lebih material pelindung atau bahan untuk perawatan diatas pulpa yang terbuka, misalnya kalsium hidroksida yang akan merangsang pembentukan dentin reparative (Harty dan Oston, 1993) 2.Tujuan Pulp capping Adapun tujuan pulpa capping adalah untuk menghilangkan iritasi ke jaringan pulpa dan melindungi pulpa sehingga jaringan pulpa dapat mempertahankan vitalitasnya. Dengan demikian terbukanya jaringan pulpa dapat terhindarkan. 3.Macam-macam Pulp capping a. Indirect Pulp Capping ( Pulpa capping secara tidak langsung )

Indirect Pulp Capping adalah perawatan pada pulpa yang masih tertutup lapisan dentin tipis karena karies yang dalam. Pada teknik ini obat-obatan yang digunakan tidak berkontak langsung dengan pulpa.Pulp capping tidak langsung memerlukan lebih dari dua kali kunjungan. Indirect pulp capping dirasa lebih memberi hasil yang diharapkan dari pada metode direct pulp capping. Dilakukan bila pulpa belum terbuka, tapi atap pulpa sudah sangat tipis sekali, yaitu pada karies profunda. Agar perawatan ini berhasil jaringan pulpa harus vital dan bebas dari inflamasi. Biasanya atap kamar pulpa akan terbuka saat dilakukan ekskavasi. Apabila hal ini terjadi maka tindakan selanjutnya adalah dilakukan direct pulp capping atau tindakan yang lebih radikal lagi yaitu amputasi pulpa (Pulpotomi).

Tahapan perawatan yang dilakukan adalah sebagai berikut : Pada Kunjungan Pertama : Karies dibuang dengan escavator atau bur round (bor bundar) kecepatan rendah , Lalu lakukan ekskavasi sampai dasar pulpa, hilangkan dentin lunak sebanyak mungkin tanpa membuka kamar pulpa. Jaringan karies yang paling dalam dibiarkan. Kavitas disterilkan dengan air calxyl atau obat lain yang tidak caustik. Hindari penggunaan alkohol, karena dapat memicu terjadinya dehidrasi cairan tubulus dentin. Aplikasi preparat Kalsium hidroksida Ca(OH)2 kemudian dilapisi Zinc Okside Eugenol (ZOE) yang diletakkan didasar kavitas kemudian dilapisi semen fosfat dan akhirnya tambalan sementara. Perawatan dilanjutkan 1-2 minggu kemudian. Pada Kunjungan Kedua : Apabila ada keluhan, dilakukan penambalan tetap.

Gambar Perawatan Indirect Pulp Capping

b. Direct Pulp Capping ( Pulpa capping secara langsung ) Direct Pulp Capping adalah perawatan sekali kunjungan. Direct Pulp Capping juga digunakan dalam contoh di mana ada pembusukan yang mendalam mendekati pulpa tapi tidak ada gejala infeksi. Direct Pulp Capping menunjukkan bahwa bahan diaplikasikan langsung ke jaringan pulpa. Daerah yang terbuka tidak boleh terkontaminasi oleh saliva, kalsium hidroksida dapat diletakkan di dekat pulpa dan

selapis semen Zinc Okside Eugenol dapat diletakkan di atas seluruh lapisan pulpa dan biarkan mengeras untuk menghindari tekanan pada daerah perforasi bila gigi direstorasi. Pulpa diharapkan tetap bebas dari gejala patologis dan akan lebih baik jika membentuk dentin sekunder. Agar perawatan ini berhasil maka pulpa disekitar daerah terbuka harus vital dan dapat terjadi proses perbaikan. Keuntungan Direct Pulp Capping antara lain : 1.Mempertahankan ketuhan dan vitalitas pulpa. 2.Memperbaiki dan penutup pulpa yang terbuka 3.Menghemat waktu perawatan. 4.Mempertahankan fungsi gigi. Tahapan Perawatan yang Dilakukan adalah sebagai berikut : Pada Kunjungan Pertama : Dilakukan pemasangan rubber dam/cotton roll untuk mencegah kontaminasi bakteri pada karies. Karies dibuang dengan bor atau ekscavator steril. Kavitas dibersihkan dengan air calxyl. Bagian yang tereksponasi ditutup dengan cotton pellet yang sudah dibazahi dengan minyak cengkeh atau eugenol. Sebaiknya hindari desinfektan yang kaustik seperti fenol, kresol dan alkohol. Kalau ada perdarahan atau rasa sakit, kontrol dengan cotton pellet dan eugenol yang dihangatkan. Di atas pulpa yang masih terbuka, aplikasikan preparat Ca (OH)2 tanpa tekanan dengan Ash 49 atau amalgam carrier. Kelebihan obat dibuang dengan ekscavator. Di atasnya diaplikasikan ZOE kemudian dilapisi semen fosfat kemudian dilapisi tambalan sementara. Pada Kunjungan Kedua : Setelah 8-10 hari, kalau tidak ada keluhan, dengan kata lain gigi bereaksi normal, lakukan penambalan permanen. 4. Medikamen/ Pemberian bahan terapitik Bahan yang biasa digunakan untuk pulp capping ini adalah kalsium hidroksida karena dapat merangsang pembentukan dentin sekunder secara efektif dibandingkan bahan lain. Obat Pulp Capping antara Lain : Ca(OH)2 bubuk kering dicampur air steril / akuades

Dengan bentuk preparat : pulpdent, calxyl, dycal, calcipulpe, hydcal

SIFAT-SIFAT OBAT PULP CAPPING 1. antiseptik 2. sedatif 3. Tidak mengiritasi 4. Bukan penerus panas 5. Tidak kontraksi / ekspansi 6. Dapat diaplikasi tanpa tekanan 7. Menetralisir asam karies SIFAT CALXYL : 1. PH 11,5-12,5 2. menetralkan asam 3. sedikit antiseptic 4. tdk mengiritasi 5. menghambat infeksi 6. merangsang pembentukan dentin sekunder. 5. Prosedur Perawatan Pulpa Capping: Siapkan peralatan dan bahan. Gunakan kapas, bor, dan peralatan lain yang steril. Isolasi gigi Selain menggunakan rubber dam, isolasi gigi juga dapat menggunakan kapas dan saliva ejector, jaga posisinya selama perawatan. Preparasi kavitas Tembus permukaan oklusal pada tempat karies sampai kedalaman 1,5 mm (yaitu kira-kira 0,5 mm kedalam dentin). Pertahankan bor pada kedalaman kavitas dan dengan hentikan intermitten gerakan bor melalui fisur pada permukaan oklusal.

Ekskavasi karies yang dalam Dengan perlahan-lahan buang karies dengan ekskavator, mula-mula dengan menghilangkan karies tepi kemudian berlanjut ke arah pulpa. Jika pulpa vital dan bagian yang terbuka tidak lebih besar diameternya dari ujung jarum maka dapat dilakukan pulp capping.

Berikan kalsium hidroksida Keringkan kavitas dengan cotton pellet lalu tutup bagian kavitas yang dalam termasuk pulpa yang terbuka dengan pasta kalsium hidroksida.

PULPOKTOMI DAN PULPEKTOMI PULPOTOMI Pulpotomi adalah pemotongan jaringan pulpa pada bagian koronal yang telah mengalami infeksi. Indikasi: 1. Pulpa vital, bebas dari pernanahan atau tanda nekrosis lainnya. 2. Pulpa terbuka karena faktor mekanis selama preparasi kavitas yang kurang hati-hati atau tidak sengaja. 3. Pulpa terbuka karena trauma dan sudah lebih dari dua jam, tetapi belum melebihi 24 jam, tanpa terlihat adanya infeksi pada bagian periapeks. 4. Gigi masih depot diperbaiki dan minimal didukung lebih dari dua pertiga panjang akar. 5. Tidak ada kehilangan tulang pada bagian interradikal. 6. Pada gigi posterior yang eksterpasi pulpa sulit dilakukan. 7. Apeks akar belum tertutup sempurna. 8. Usia tidak lebih dari 20 tahun (Dr. Sobarzo). Kontraindikasi: 1. Sakit jika diperkusi atau dipalpasi. 2. Ada radiolusen pada daerah periapeks atau interadikular. 3. Mobilitas patologik. 4. Ada nanah pada pulpa yang terbuka.

5. Pada pasien yang kesehatannya kurang baik. 6. Pada pasien berusia di atas 20 tahun. Keuntungan perawatan pulpotomi vital: 1. Dapat diselesaikan dalam waktu singkat, hanya 1-2 kali kunjungan. 2. Pengambilan pulpa hanya di bagian korona, hal ini menguntungkan karena pengambilan jaringan pulpa bagian saluran akar sulit dilakukan akibat adanya ramifikasi. 3. Iritasi instrumen atau obat-obatan terhadap jaringan periapeks dapat dihindarkan. 4. Jika perawatan ini gagal, dapat dilakukan pulpektomi. Pulpotomi terbagi atas pulpotomi parsial dan pulpotomi servikal. Pulpotomi parsial biasanya dilakukan jika pulpa terbuka disebabkan preparasi kavitas. Di sini pulpa dalam kamar pulpa tidak diganggu, masih dalam keadaan utuh, sedangkan pada pulpotomi servikal, keseluruhan pulpa pada kavum pulpa sampai orifisum dibuang, kemudian diletakkan Ca(OH)2 di lantai pulpa, menutupi seluruh orifisum. Biasanya pulpotomi servikal ini dilakukan terutama bila foramen apikal masih belum sempurna pertumbuhannya.

PULPEKTOMI (Ekstirpasi Pulpa)

Pulpektomi adalah tindakan pengambilan seluruh jaringan pulpa dari seluruh akar dan korona gigi. Pulpektomi merupakan perawatan untuk jaringan pulpa yang telah mengalami kerusakan yang bersifat irreversible atau untuk gigi dengan kerusakan jaringan keras yang luas. Meskipun perawatan ini memakan waktu yang lama dan lebih sukar daripada pulp capping atau pulpotomi namun lebih disukai karena hasil perawatannya dapat diprediksi dengan baik. Jika seluruh jaringan pulpa dan kotoran diangkat serta saluran akar diisi dengan baik akan diperoleh hasil perawatan yang baik pula

Indikasi:

1. Gigi dengan infeksi yang melewati ruang kamar pulpa, baik pada gigi vital, nekrosis sebagian maupun gigi sudah nonvital. 2. Saluran akar dapat dimasuki instrument. 3. nan jaringan periapeks dalam gambaran radiografis kurang dari sepertiga apikal. 4. Ruang pulpa kering

5. endarahan berlebihan pada pemotongan pulpa (pulpotomi) tidak berhasil 6. Sakit spontan tanpa stimulasiKeterlibatan tulang interradikular tanpa kehilangan tulang penyangga 7. Tanda-tanda/gejala terus menerus setelah perawatan pulpotomiPembengkakan bagian bukal

Kontra Indikasi

1. Keterlibatan periapikal atau mobilitas ekstensif 2. Resorbsi akar ekstensif atau > 1/2 akar 3. Resorbsi internal meluas menyebabkan perforasi bifurkasi 4. Kesehatan buruk dan harapan hidup pendek 5. Ancaman keterlibatan gigi tetap yang sedang berkembang karena infeksi 6. Tingkah laku pasien yang tidak dapat dikendalikan dan di rumah sakit tidak mungkin dilakukan

Pulpektomi Vital Pulpektomi vital sering dilakukan pada gigi anterior dengan karies yang sudah meluas kearah pulpa, atau gigi yang mengalami fraktur.Langkah-langkah perawatan pulpektomi vital satu kali kunjungan :

1. Pembuatan foto Rontgen.Untuk mengetahui panjang dan jumlah saluran akar serta keadaan jaringan sekitar gigi yang akan dirawat. 2. Pemberian anestesi lokal untuk menghilangkan rasa sakit pada saat perawatan. 3. Daerah operasi diisolasi dengan rubber dam untuk menghindari kontaminasi bakteri dan saliva. 4. Jaringan karies dibuang dengan bor fisur steril. Atap kamar pulpa dibuang dengan menggunakan bor bundar steril kemudian diperluas dengan bor fisur steril. 5. Jaringan pulpa di kamar pulpa dibuang dengan menggunakan ekskavatar atau bor bundar kecepatan rendah.

6. Perdarahan yang terjadi setelah pembuangan jaringan pulpa dikendalikan dengan menekankan cotton pellet steril yang telah dibasahi larutan saline atau akuades selama 3 sampai dengan 5 menit. 7. Kamar pulpa dibersihkan dari sisa-sisa jaringan pulpa yang telah terlepas kemudian diirigasi dan dikeringkan dengan cotton pellet steril. Jaringan pulpa di saluran akar dikeluarkan dengan menggunakan jarum ekstirpasi dan headstrom file. 8. Saluran akar diirigasi dengan akuades steril untuk menghilangkan kotoran dan darah kemudian dikeringkan dengan menggunakan paper point steril yang telah dibasahi dengan formokresol kemudian diaplikasikan ke dalam saluran akar selama 5 menit. 9. Saluran akar diisi dengan pasta mulai dari apeks hingga batas koronal dengan , menggunakan jarum lentulo. 10. Lakukan lagi foto rontgen untuk melihat ketepatan pengisian . 11. kamar pulpa ditutup dengan semen, misalnya dengan semen seng oksida eugenol atau seng fosfat. 12. Selanjutnya gigi di restorasi dengan restorasi permanen. B. Pulpektomi Devital

Pulpektomi devital sering dilakukan pada gigi posterior yang telah mengalami pulpitis atau dapat juga pada gigi anterior pada pasien yang tidak tahan terhadap anestesi. Pemilihan kasus untuk perawatan secara pulpektomi devital ini harus benar-benar dipertimbangkan dengan melihat indikasi dan kontaindikasinya. Perawatan ini sekarang sudah jarang dilakukan pada gigi tetap, biasanya langsung dilakukan perawatan pulpektomi vital walaupun pada gigi posterior. Pulpektomi devital masih sering dilakukan hanya pada gigi sulung, dengan mempergunakan bahan devitalisasi paraformaldehid, seperti Toxavit, dan lain-lain. Bahan dengan komposisi As2O3 sama sekali tidak digunakan lagi.

C. Pulpektomi Nonvital (Endo Intrakanal)

Perawatan saluran akar ini sering dilakukan pada gigi anterior yang mempunyai saluran akar satu, walaupun kini telah banyak dilakukan pada gigi posterior dengan saluan akar lebih dari satu.

Gigi yang dirawat secara pulpektomi nonvital adalah gigi dengan gangrene pulpa atau nekrosis.

Indikasi:

1. Mahkota gigi masih dapat direstorasi dan berguna untuk keperluan prostetik (untuk pilar restorasi jembatan). 2. Gigi tidak goyang dan periodontal normal.Foto rontgen menunjukkan resorpsi akar tidak lebih dari sepertiga apical, tidak ada granuloma pada gigi sulung. 3. Kondisi pasien baik serta ingin giginya dipertahankan dan bersedia untuk memelihara kesehatan gigi dan mulutnya.Keadaan ekonomi pasien memungkinkan. Kontra indikasi:

1. Gigi tidak dapat direstorasi lagi. 2. Resorpsi akar lebih dari sepertiga apical. 3. Kondisi pasien buruk, mengidap penyakit kronis, seperti Diabetes Melitus, TBC, dan lainlainTerdapat belokan ujung dengan granuloma (kista) yang sukar dibersihkan ataui sukar dilakukan tindak bedah endodonti. Langkah-langkah perawatan pulpektomi non vital :

Kunjungan pertama : 1. Lakukan foto rontgen. 2. Isolasi gigi dengan rubber dam. 3. Buang semua jaringan karies dengan ekskavator, selesaikan preparasi dan desinfeksi kavitas. 4. Buka atap kamar pulpa selebar mungkin. 5. Jaringan pulpa dibuang dengan ekskavator sampai muara saluran akar terlihat. 6. Irigasi kamar pulpa dengan air hangat untuk melarutkan dan membersihkan debris. 7. Letakkan cotton pellet yang dibasahi trikresol formalin pada kamar pulpa. 8. Tutup kavitas dengan tambalan sementara.

9. Instruksikan pasien untuk kembali 2 hari kemudian. Kunjungan kedua : 1. Isolasi gigi dengan rubber dam. 2. Buang tambalan sementara. 3. Jaringan pulpa dari saluran akar di ekstirpasi, lakukan reaming, filling, dan irigasi. 4. Berikan Beechwood creosote. Celupkan cotton pellet dalam beechwood creosote, buang kelebihannya, lalu letakkan dalam kamar pulpa. 5. Tutup kavitas dengan tambalan sementara. 6. Instruksikan pasien untuk kembali 3 sampai dengan 4 hari kemudian. Kunjungan ketiga : 1. Isolasi gigi dengan rubber dam. 2. Buang tambalan sementara. 3. Keringkan kamar pulpa, dengan cotton pellet yang berfungsi sebagai stopper masukkan pasta sambil ditekan dari saluran akar sampai apeks. 4. Letakkan semen zinc fosfat. 5. Restorasi gigi dengan tambalan permanen.

Teknik Pulpektomi 1. Anestesi (bila perlu) dan isolasi gigi 2. Karies dibersihkan 3. Outline form diperbaiki 4. Atap pulpa dibuka sepenuhnya 5. Preparasi biomekanis : pulpa yang mengering dibersihkan sampai sepanjang saluran akar, dan kira-kira mencapai k-file nomor 35 6. Irigasi sebanyak-banyaknya dengan air aquades agar serpihan-serpihan dentin keluar dari saluran , lalu kemudian dikeringkan.

7. Beri cotton pelet dengan bahan obar sterilisasi (rotation of medication) seperti CHKM, CMCP, Creosote, Cresophene dll yang ditaruh di kamar pulpa lalu tutup dengan tmpatan sementara 8. Setelah 3 hari cek apakah ada keluhan dari pasien atau tidak (kontrol gejala) meliputi perkusi, druksasi, mobilitas, warna,dan perabaan. Serta dicek dengan K-file nomor terakhir (pada waktu preparasi preparasi biomekanis) apakah ada ada pus yang keluar dari saluran akar atau tidak 9. Mengganti bahan obat sterilisasi (rotation of medication). Ditutup kembali dengan tumpatan sementara. 10. Setelah 3 hari, kontrol gejala kembali. Jika tidak ada keluhan dari pasien maupun gigi yang sedang dirawat, maka bisa memulai dengan pengisian saluran akar dengan bahan ZnOE. 11. Isolasi terlebih dahulu. 12. Irigasi terlebih dahulu, kemudian keringkan. 13. Siapkan bahan lalu aduk dengan konsistensi kental. 14. Ambil bahan sedikit(dengan alat dycal), taruh di bagian orifice saluran akar. Dorong bahan tersebut dengan cotton pelet (kecil saja) yang dijepit dengan pinset agar masuk. Lakukan berulang-ulang sampai saluran akar tersebut penuh. 15. Jika sudah penuh, maka bersihkan kamar pulpa dari ZnOE . Tutup bagian orifice dengan Zinc Pospat setinggi kira-kira 1mm. 16. Jika kontrol gejala juga tidak menunjukkan kelhan setelah pengisian, maka bisa dilakukan tumpat tetap dengan GIC IX. Gigi tersebut dibangun selayaknya gigi sehat. 17. Cek oklusi. 18. Restorasi bila perlu.

Seperti halnya seluruh perawatan gigi, penggabungan beberapa factor mempengaruhi hasil suatu perawatan endodontik. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan perawatan saluran akar adalah faktor patologi, factor penderita, faktor anatomi, faktor perawatan dan kecelakaan prosedur perawatan

Faktor Patologis

Keberadaan lesi di jaringan pulpa dan lesi di periapikal mempengaruhi tingkat keberhasilan perawatan saluran akar. Beberapa penelitian menunjukan bahwa tidak mungkin menentukan secara klinis besarnya

jaringan vital yang tersisa dalam saluran akar dan derajat keterlibatan jaringan peripikal. Faktor patologi yang dapat mempengaruhi hasil perawatan saluran akar adalah : Keadaan patologis jaringan pulpa. Beberapa peneliti melaporkan tidak ada perbedaan yang berarti dalam keberhasilan atau kegagalan perawatan saluran akar yang melibatkan jaringan pulpa vital dengan pulpa nekrosis. Peneliti lain menemukan bahwa kasus dengan pulpa nekrosis memiliki prognosis yang lebih baik bila tidak terdapat lesi periapikal. Keadaan patologis periapikal Adanya granuloma atau kista di periapikal dapat mempengaruhi hasil perawatan saluran akar. Secara umum dipercaya bahwa kista apikalis menghasilkan prognosis yang lebih buruk dibandingkan dengan lesi granulomatosa. Teori ini belum dapat dibuktikan karena secara radiografis belum dapat dibedakan dengan jelas ke dua lesi ini dan pemeriksaan histologi kista periapikal sulit dilakukan. Keadaan periodontal Kerusakan jaringan periodontal merupakan faktor yang dapat mempengaruhi prognosis perawatan saluran akar. Bila ada hubungan antara rongga mulut dengan daerah periapikal melalui suatu poket periodontal, akan mencegah terjadinya proses penyembuhan jaringan lunak di periapikal. Toksin yang dihasilkan oleh plak dentobakterial dapat menambah bertahannya reaksi inflamasi. Resorpsi internal dan eksternal Kesuksesan perawatan saluran akar bergantung pada kemampuan menghentikan perkembangan resorpsi. Resorpsi internal sebagian besar prognosisnya buruk karena sulit menentukan gambaran radiografis, apakah resorpsi internal telah menyebabkan perforasi. Bermacam-macam cara pengisian saluran akar yang teresorpsi agar mendapatkan pengisian yang hermetis.

Faktor Penderita

Faktor penderita yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu perawatan saluran akar adalah sebagai berikut :

1. Motivasi Penderita Pasien yang merasa kurang penting memelihara kesehatan mulut dan melalaikannya, mempunyai risiko perawatan yang buruk. Ketidaksenangan yang mungkin timbul selama perawatan akan menyebabkan mereka memilih untuk diekstraksi. 2. Usia Penderita Usia penderita tidak merupakan faktor yang berarti bagi kemungkinan keberhasilan atau kegagalan perawatan saluran akar. Pasien yang lebih tua usianya mengalami penyembuhan yang sama cepatnya dengan pasien yang muda. Tetapi penting diketahui bahwa perawatan lebih sulit dilakukan pada orang tua karena giginya telah banyak mengalami kalsifikasi. Hali ini mengakibatkan prognosis yang buruk, tingkat perawatan bergantung pada kasusnya. 3. Keadaan kesehatan umum Pasien yang memiliki kesehatan umum buruk secara umum memiliki risiko yang buruk terhadap perawatan saluran akar, ketahanan terhadap infeksi di bawah normal. Oleh karena itu keadaan penyakit sistemik, misalnya penyakit jantung, diabetes atau hepatitis, dapat menjelaskan kegagalan perawatan saluran akar di luar kontrol ahli endodontis.

Faktor Perawatan

Faktor perawatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu perawatan saluran akar bergantung kepada :

1. Perbedaan operator

Dalam perawatan saluran akar dibutuhkan pengetahuan dan aplikasi ilmu biologi serta pelatihan, kecakapan dan kemampuan dalam manipulasi dan menggunakan instrumen-instrumen yang dirancang khusus. Prosedur-prosedur khusus dalam perawatan saluran akar digunakan untuk memperoleh keberhasilan perawatan. Menjadi kewajiban bagi dokter gigi untuk menganalisa pengetahuan serta kemampuan dalam merawat gigi secara benar dan efektif.

2. Teknik-teknik perawatan

Banyak teknik instrumentasi dan pengisian saluran akar yang tersedia bagi dokter gigi, namun keuntungan klinis secara individual dari masing-masing ukuran keberhasilan secara umum belum dapat ditetapkan. Suatu penelitian menunjukan bahwa teknik yang menghasilkan penutupan apikal yang buruk, akan menghasilkan prognosis yang buruk pula.

3. Perluasan preparasi atau pengisian saluran akar.

Belum ada penetapan panjang kerja dan tingkat pengisian saluran akar yang ideal dan pasti. Tingkat yang disarankan ialah 0,5 mm, 1 mm atau 1-2 mm lebih pendek dari akar radiografis dan disesuaikan dengan usia penderita. Tingkat keberhasilan yang rendah biasanya berhubungan dengan pengisian yang berlebih, mungkin disebabkan iritasi oleh bahan-bahan dan penutupan apikal yang buruk. Dengan tetap melakukan pengisian saluran akar yang lebih pendek dari apeks radiografis, akan mengurangi kemungkinan kerusakan jaringan periapikal yang lebih jauh.

Faktor Anatomi Gigi

Faktor anatomi gigi dapat mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan suatu perawatan saluran akar dengan mempertimbangkan :

1. Bentuk saluran akar

Adanya pengbengkokan, penyumbatan,saluran akar yang sempit, atau bentuk abnormal lainnya akan berpengaruh terhadap derajat kesulitan perawatan saluran akar yang dilakukan yang memberi efek langsung terhadap prognosis.

2. Kelompok gigi

Ada yang berpendapat bahwa perawatan saluran akar pada gigi tunggal mempunyai hasil yang lebih baik dari pada yang berakar jamak. Hal ini disebabkan karena ada hubungannya dengan interpretasi dan visualisasi daerah apikal pada gambaran radiografi. Tulang kortikal gigi-gigi anterior lebih tipis dibandingkan dengan gigi-gigi posterior sehingga lesi resorpsi pada apeks gigi anterior terlihat lebih jelas. Selain itu, superimposisi struktur radioopak daerah periapikal untuk gigi-gigi anterior terjadi lebih sedikit, sehingga interpretasi radiografinya mudah dilakukan. Radiografi standar lebih mudah didapat pada gigi anterior, sehingga perubahan periapikal lebih mudah diobservasi dibandingkan dengan gambaran radiologi gigi posterior.

3. Saluran lateral atau saluran tambahan

Hubungan pulpa dengan ligamen periodontal tidak terbatas melalui bagian apikal saja, tetapi juga melalui saluran tambahan yang dapat ditemukan pada setiap permukaan akar. Sebagian besar ditemukan pada setengah apikal akar dan daerah percabangan akar gigi molar yang umumnya berjalan langsung dari saluran akar ke ligamen periodontal. Preparasi dan pengisian saluran akar tanpa memperhitungkan adanya saluran tambahan, sering menimbulkan rasa sakit yang hebat sesudah perawatan dan menjurus ke arah kegagalan perawatan akhir.

Kecelakaan Prosedural

Kecelakaan pada perawatan saluran akar dapat memberi pengaruh pada hasil akhir perawatan saluran akar, misalnya :

1. Terbentuknya ledge (birai) atau perforasi lateral.

Birai adalah suatu daerah artifikasi yang tidak beraturan pada permukaan dinding saluran akar yang merintangi penempatan instrumen untuk mencapai ujung saluran . Birai terbentuk karena penggunaan instrumen yang terlalu besar, tidak sesuai dengan urutan; penempatan instrument yang kurang dari panjang kerja atau penggunaan instrumen yang lurus serta tidak fleksibel di dalam saluran akar yang bengkok. Birai dan ferforasi lateral dapat memberikan pengaruh yang merugikan pada prognosis selama kejadian ini menghalangi pembersihan, pembentukan dan pengisian saluran akar yang memadai. 2. Instrumen patah

Patahnya instrumen yang terjadi pada waktu melakukan perawatan saluran akar akan mempengaruhi prognosis keberhasilan dan kegagalan perawatan. Prognosisnya bergantung pada seberapa banyak saluran sebelah apikal patahan yang masih belum dibersihkan dan belum diobturasi serta seberapa banyak patahannya. Prognosis yang baik jika patahan instrumen yang besar dan terjadi ditahap akhir preparasi serta mendekati panjang kerja. Prognosis yang lebih buruk jika saluran akar belum dibersihkan dan patahannya terjadi dekat apeks atau diluar foramen apikalis pada tahap awal preparasi.

3. Fraktur akar vertikal

Fraktur akar vertikal dapat disebabkan oleh kekuatan kondensasi aplikasi yang berlebihan pada waktu mengisi saluran akar atau pada waktu penempatan pasak. Adanya fraktur akar vertikal memiliki prognosis yang buruk terhadap hasil perawatan karena menyebabkan iritasi terhadap ligamen periodontal.

ROOT CANAL TREATMENT Apa yang dimaksud dengan Root Canal Treatment?

Root Canal Treatment, atau biasa diterjemahkan sebagai Perawatan Endodontik, adalah prosedur perawatan untuk membuang jaringan saraf dan pembuluh darah (jaringan pulpa) yang mengalami keradangan/ infeksi, membersihkan saluran akar gigi, dan menutupnya.

Pada dasarnya gigi anda terdiri dari 3 lapisan the enamel, the dentine and the pulp. Ada beberapa penyebab kerusakan pada bagian pulp gigi, berikut penjelasannya:

Pulp gigi terdiri dari nadi dan darah serta mempunyai kemampuan untuk memperbaiki dengan sendirinya apabila terjadi kerusakan. Ketika pulp terluka dan tidak dapat memperbaiki jaringan sendiri, pulp tersebut mengalami kondisi yang dikenal sebagai pulp death.

1. Kerusakan yang dapat meluas hingga ke dalam ruang pulp 2. Rongga yang dalam pada gigi memerlukan tambalan yang besar 3. Cedera traumatik pada gigi misalnya akibat terjatuh 4. Sindrom gigi retak

Semua situasi tersebut dapat memungkinkan bakteri masuk ke dalam pulp. Jika cedera atau penyakit tersebut tidak dihilangkan dengan segera, jaringan-jaringan disekitar akar gigi dapat terkena infeksi, yang menyebabkan sakit luar biasa dan menimbulkan lebam. Bakteri beracun dapat merusak tulang yang menjadi penyangga gigi di rahang. Tanpa perawatan, gigi kemungkinan harus segera dicabut. Perawatan Root Canal merupakan kasus yang umum. Di Amerika sudah menyelamatkan sekitar 24 juta gigi setiap tahunnya melalui perawatan ini.

Kapan Root Canal Treatment ini dibutuhkan?

Pada beberapa kasus di mana jaringan pulpa mengalami keradangan (irreversible pulpitis) yang dapat disebabkan antara lain oleh: infeksi bakteri oleh karena karies yang dalam keretakan gigi (cracked teeth) trauma (misal: benturan)

Mengapa dilakukan Root Canal Treatment?

Pada kasus-kasus tersebut, biasanya keadaan ini disertai dengan munculnya rasa nyeri sehingga pasien terdorong untuk meminum obat penghilang nyeri (analgesik). Namun, analgesik hanya mengatasi rasa sakit saja, BUKAN mengobati PENYEBAB dari rasa sakit tersebut. Yang sering terjadi adalah rasa sakit ini mereda setelah pasien mengonsumsi analgesik sehingga beranggapan bahwa masalah giginya telah terobati.

Apabila gigi yang telah mengalami infeksi ini dibiarkan saja, dapat berpotensi mengakibatkan abses gigi, yang dapat berujung pada pencabutan gigi. Abses gigi yang tidak diatasi dapat berpotensi mengakibatkan gangguan kesehatan yang sangat serius.

Prosedur RCT bertujuan untuk mempertahankan gigi yang telah mengalami infeksi tersebut dalam keadaan steril dan menghindari pencabutan gigi yang dapat menyebabkan disharmoni hubungan antara gigi-geligi.

Setelah prosedur RCT ini selesai dilakukan, diberikan restorasi yang sesuai sehingga bentuk gigi kembali seperti asli dan gigi dapat berfungsi normal dan nyaman digunakan. Bagaimana terapi Root Canal dilakukan?

Terapi Root Canal dapat dilakukan dengan satu kali kunjungan atau beberapa kali kunjungan. 1. Obat bius lokal diberikan untuk memberikan mati rasa pada gigi yang akan dikerjakan. 2. Sebuah X-ray gigi yang disebut juga dengan periapikal x-ray , digunakan oleh para dokter gigi sebagai acuan pada saat melakukan prosedur perawatan. 3. Sebuah pelindung karet diletakkan untuk menjaga gigi terhindar dari air liur/saliva anda dan diharuskan dalam kondisi sangat kering sebelum mencapai langkah akhir penyelesaian prosedur perawatan. Pelindung karet juga sangat berguna dalam menjaga zat kimia yang digunakan untuk membasmi kuman pada akar gigi yang memasuki mulut anda. 4. Bukaan kecil dibuat dalam gigi ke akar gigi yang dikenal dengan pulp chamber. Asahan kecil dilakukan untuk membuang saraf dan semua jaringan yang terinfeksi dari dalam akar kanal gigi. Kanal tersebut kemudian dibentuk dan dipersiapkan untuk pengisian.

5. Setelah seluruh gigi tersebut dibersihkan, gigi kemudian dikeringkan dengan kertas penyerap yang berukuran kecil. Gutta percha adalah sebuah material terbuat dari karet yang kemudian digunakan untuk mengisi akar kanal gigi tersebut.

Karena saraf dan suplai darah pada gigi telah diambil, gigi kemungkinan dapat menjadi rapuh seiring berjalannya waktu dan dapat menghasilkan keretakan pada gigi. Untuk mencegahnya, perawatan Root Canal secara rutin harus dilakukan, yang biasanya dengan cara perlindungan dari sebuah mahkota gigi.

CARA MENYIKAT GIGI YG BAIK DAN BENAR Meskipun semua orang telah mengetahui berapa pentingnya menyikat gigi, tidak semua dari mereka tahu bagaimana menyikat gigi dengan cara yang baik dan benar.

Langkah-langkah menyikat gigi yang baik dan benar

Bubuhkan pasta gigi berfluoride sepanjang bulu sikat gigi untuk dewasa, atau sebesar biji jagung untuk anak dibawah usia 6 tahun. Menyikat Gigi yang Baik dan Benar

Meskipun semua orang telah mengetahui berapa pentingnya menyikat gigi, tidak semua dari mereka tahu bagaimana menyikat gigi dengan cara yang baik dan benar.

Langkah-langkah menyikat gigi yang baik dan benar

1. Bubuhkan pasta gigi berfluoride sepanjang bulu sikat gigi untuk dewasa, atau sebesar biji jagung untuk anak dibawah usia 6 tahun. 2. Berkumurlah dengan air bersih sekali saja. 3. Sikatlah gigi dimulai dari bagian depan, sikat dengan cara vertikal sebanyak 8x. 4. Lanjutkan kebagian gigi belakang yang beradapan dengan pipi, sikat dengan cara memutar sebanyak 8x.

5. Lanjutkan kebagian dalam mulut yang berbatasan dengan lidah dengan cara maju mundur sebanyak 8x. 6. Lakukan pada daerah titik gigit gigi (oklusal) pertemuan antara gigi atas dan gigi bawah. Dengan cara sama yaitu memutar sebanyak 8x. 7. Sikatlah seluruh bagian dari gigi. 8. Untuk menghilangkan bau mulut, menyikat lembut lidah juga dianjurkan. 9. Berkumurlah dengan air bersih. Cukup sekali atau 2 kali saja supaya kandungan yang terkandung dalam pasta gigi masih melindungi gigi.

PERAWATAN ENDODOTIK (FOKAL TREATMENT) Perawatan endodontic adalah suatu usaha menyelamatkan gigi terhadap tindakan pencabutan agar gigi dapat bertahan dalam soket. Karena itu sebaiknya seorang klinisi (Dokter Gigi), harus mengtahui prinsipprinsip ilmu endodontic secara benar yaitu pengetahuan mendiagnosis, cara merestorasi jaringan gigi yang hilang dan mempertahankan sisa jaringan, sehingga gigi tersebut dapat bertahan selama mungkin di dalam mulut dan menghindari tindakan pencabutan agar gigi dapat bertahan di dalam soketnya, sehingga dapat memperlambat resorpsi tulang alveolar gigi terkait. Keuntungan secara psikologis yang diperoleh adalah dapat mempertahankan gigi dalam keadaan vital, pasien tetap memiliki gigi asli dalam keadaan sehat, karena gigi dapat berfungsi seperti semula, dan gigi dapat dipakai sebagai tumpuan gigi tiruan lepasan. Mempertahankan gigi dalam keadaan vital adalah usaha perawatan yang dilakukan untuk melindungi pulpa yang terluka dari peradangan dan kerusakan lebih lanjut. Secara mendasar pulpa memeberi rangsangan bqakteri, kemis, toksin, dan termis serta hal lain, dengan mengadakan peradangan local. Selama perawatan, semua jaringan pulpa harus dikeluarkan, saluran akar dibersihkan dan diirigasi, permukaan saluran disterilkan sebagai yang ditentukan oleh pemeriksaan bakteriologik, dan saluran diobturasi dengan baik untuk mencegah kemungkinan infeksi kembali. Mengenai perawatan endodontik, prinsip yang berlaku yaitu pembuangan jaringan yang terinfeksi atau eliminasi kuman, preparasi dan sterilisasi saluran akar, serta pengisiannya sudah lama diterapkan dan masih berlaku sampai sekarang. Karena itu perawatan mumifikasi yang ternyata masih banyak dilakukan oleh praktisi, seharusnya tidak dilakukan lagi, kecuali dalam keadaan darurat, karena sebetulnya menyalahi dasar ilmiah perawatan endodontik. Mengingat kesadaran masyarakat untuk memeriksa penyakitnya sedini mungkin masih kurang dan datang dalam keadaan parah, serta umumnya minta giginya dicabut perawatan endodontik sebaiknya

lebih dipopulerkan. Apalagi jika dimaklumi bahwa pencabutan gigi tidak menyelesaikan masalah, dan ada ucapan bahwa satu gigi hilang tujuh gigi disekitarnya akan berada dalam keadaan bahaya. Sebetulnya untuk semua perawatan konservasi gigi, prioritas utama seharusnya ditujukan untuk mempertahankan vitalitas jaringan pulpa, dan isi saluran akar yang paling baik adalah jaringan pulpa itu sendiri (Plasschaert, 1983). Karena itu semua tindakan dalam pelayanan konservasi gigi selalu ditujukan ke arah hal yang sama, mulai dari diagnosis, preparasi kavitas, dan penumpatan. Dalam lingkup perawatan endodontik, diagnosis adalah mutlak penting karena dengan diagnosis yang tepat perawatan yang akurat dapat direncanakan. Termasuk dalam hal ini adalah perawatan pulp capping, yang juga termasuk perawatan endodontik dan memerlukan analisis rasa sakit dengan teliti dalam menentukan apakah jaringan pulpa dapat dipertahankan ataukah harus dikorbankan (Sundoro, 1984). Untuk menanggulangi penyakit, prinsip terapi yang utama adalah menghilangkan penyebab. Karena dalam Endodontic Treatment atau perawatan saluran akar (root canal treatment) penyebab utama umumnya berada dalam saluran akar, eliminasi kuman dan preparasi kavitas yang ditujukan untuk membersihkan saluran akar juga sudah dikembangkan. Demikian pula cara-cara pengisiannya sehingga diperoleh pengisian hermetis baik ke lateral maupun ke apeks, sehingga sisa kuman yang mungkin masih ada tidak diberi kesempatan untuk berkembang biak. Untuk mendukung prinsip-prinsip tersebut, dikembangkan teknologi endodontik. Antara lain dengan alat-alat seperti apex locator dan RVG yang dapat menentukan panjang kerja sehingga preparasi tidak melampaui apeks. Demikian pula alat-alat saluran akar dengan prinsip mekanik, sonik, dan ultrasonik juga dikembangkan untuk memudahkannya. Selanjutnya teknik endodontik bedah dan cara-cara restorasi gigi sesudah perawatan saluran akar juga dikembangkan. Semua ini tentu saja ditujukan untuk memperoleh hasil yang optimal dan tujuan untuk mempertahankan gigi selama mungkin dalam mulut dapat dicapai.