You are on page 1of 23

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian Pabrik Pupuk Kujang Cikampek merupakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara yang mempunyai 2 plant (1A dan 1B). Pembangunan pabrik Pupuk Kujang pertama diberi nama Pabrik Kujang 1A dengan kapasitas produksi 570.000 ton/tahun urea dan 330.000 ton/tahun ammonia yang diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 12 Desember 1978. Sejalan dengan perkembangannya di usia pabrik yang semakin tua, membawa konsekuensi kepada pembebanan biaya pemeliharaan yang semakin tinggi dan down time yang semakin meningkat pula. Oleh karena itu, dibangun pabrik Kujang 1B pada tahun 2001 dengan kapasitas produksi 570.000 ton/tahun urea dan 330.000 ton/tahun ammonia. Bahan baku utama dalam pembuatan urea adalah gas bumi, air dan udara. Ketiga bahan baku tersebut diolah sehingga menghasilkan ammonia dan akhirnya menjadi urea. Secara garis besar, keseluruhan proses yang ada di pabrik kujang 1B terdiri dari 4 bagian utama, yaitu: Unit Utilitas, Unit Produksi Ammonia, Unit Produksi Urea, dan Unit Pengantongan.

Terdapat beberapa unit pada plant 1B Ammonia yang terdiri dari 1. Unit pemurnian gas alam, a. Penghilangan fraksi berat dan debu, b. Penghilangan merkuri (Hg), c. Pemanasan dan kompresi, d. Penghilangan senyawa sulfur, 2. Unit pembuatan gas sintesa, a. Reforming gas sintesa, b. Konversi CO menjadi CO2, 3. Unit pemurnian gas sintesa, a. Absorbsi CO2, b. Desorbsi CO2, c. Metanasi, 4. Unit sintesa ammonia, a. Kompresi gas proses, b. Konversi gas proses menjadi ammonia, 5. Unit pemurnian dan refrigerasi ammonia, 6. Unit Hydrogen Recovery. Seiring berjalannya waktu untuk proses yang terjadi pada plant 1B Ammonia PT Pupuk Kujang Cikampek mengalami perubahan dari design awal. Hal ini dapat dilihat dari kapasitas yang digunakan pada proses CO2 removal berbeda dengan design awal, dikarenakan kandungan CO2 pada natural gas yang tinggi sehingga beban penyerapan CO 2 sistem semakin tinggi. Hal ini berpengaruh pada pada proses pemisahan CO 2 dari larutan penyerap karena dibutuhkan pemanasan yang lebih tinggi. Namun pada kondisi aktual, suhu keluaran hasil absorber sudah menurun dibandingkan dengan design awal. Hal ini menyebabkan beban preheater pada stripper semakin berat dan sistem pemanasan sebelum masuk ke absorber perlu dioptimisasi agar dapat memenuhi panas yang diperlukan sebelum masuk ke dalam stripper. Oleh karena itu, dilakukan evaluasi terhadap kinerja CO2 removal dengan memperhatikan beberapa parameter tertentu yang memungkinkan untuk mengubah proses

lebih efisien dan melihat kondisi optimum agar didapat kemurnian CO2 tetap sesuai dengan yang diharapkan +98%. 1.2 TujuanPenelitian Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Menganalisa proses pada CO2 removal plant Ammonia 1B PT Pupuk Kujang Cikampek. 2. Membandingkan kondisi design terhadap kondisi aktual pada CO2 removal. 3. 4. Mengevaluasi kesesuaian flow diagram design dengan flow diagram aktual. Mengamati perubahan suhu dan tekanan dengan menggunakan simulasi komputer.

5. Mengevaluasi kinerja performance existing tiap alat pada CO2 removal sistem dengan data design.

1.3 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini meliputi : 1. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data dari plant Ammonia 1B PT Pupuk Kujang Cikampek.
2. Pengamatan dilakukan pada pre Heater (A-131-C, A-105-C, A-106C), Heater(A-111-C),

Flash Separator (A-102-F1), dan HE keluaran stripper (A-109,A-110,A-112).


3. Perhitungan evaluasi pre Heater (A-131-C, A-105-C, A-106C), Heater(A-111-C), dan HE

keluaran stripper (A-109,A-110,A-112) berdasarkan pada koefisien perpindahan panas keseluruhan (U). 4. Penelitian dilakukan pada Unit CO2 removal plant 1B.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Proses Pembuatan Ammonia plant 1B PT Pupuk Kujang Cikampek Pada Unit pembuatan Ammonia, proses yang dipakai oleh PT Pupuk Kujang IB untuk memproduksi ammonia adalah lisensi dari Kellog Brown & Root (KBR) , Inc. Dipilihnya metode Kellog atau proses High Pressure Catalytic Steam Reforming ini karena lebih efisien dari segi bahan bakar dan produk, dengan temperatur yang tidak terlalu tinggi dapat menghasilkan konversi yang cukup baik. Sampai saat ini, ada beberapa cara untuk sintesis Ammonia diantaranya adalah sebagai berikut : a. b. c. d. e. f. Proses Haber-Bosch s Proses Claude Proses Calase Proses Fauser Proses Mont Cenis Proses Kellog Brown & Root

Lisesnsi yang digunakan KBR untuk teknologi ammonia dan pupuk meliputi : Conventional Magnetite Ammonia Synthesis Process. Metode ini menggabungkan antara teknologi Top-Fired Steam Methane Reformer (SMR). Dengan sintesa ammonia Horizontal Ammonia Synthesis Converter Purifier Ammonia Process. Proses pemurnian yang dipakai menggunakan teknologi Purifier (cryogenic syngas purification) bersamaan dengan horizontal ammonia synthesis converter. PURIFIERplus Ammonia Process. Teknologi ini mengkombinasikan antara KRES, Purifier and horizontal ammonia synthesis converter.

KBR Advanced Ammonia Process (KAAP) . Teknologi ini mengkombinasikan TopFired Steam Methane Reformer (SMR) dengan KAAP Synthesis Converter. KAAPplus. Metoda ini menggabungkan keuntungan dari tiga teknologi KBR: KRES, Purifier, and KAAP. Secara garis besar terdapat beberapa unit pada plant 1B Ammonia dengan proses

Kellog yang terdiri dari Unit Pemurnian Gas Alam, Unit Pembuatan Gas Sintesa, Unit Pemurnian Gas Sintesa, Unit Sintesa Ammonia, Unit Pemurnian dan Refrigasi Ammonia, Unit Hydrogen Recovery. Berikut proses produksi pembuatan ammonia dan reaksi yang terjadi pada tiap unitnya :

Gambar 2.1 Proses Produksi Ammonia

Pada tahap awal, gas alam melewati proses Unit Pemurnian Gas Alam, dengan menghilangkan debu dan fraksi berat, proses penghilangan Merkuri dan Desulfurisasi. Pada
6

langkah selanjutnya masuk ke dalam Unit Pembuatan Gas Sintesa, yang terjadi adalah pembentukan gas hidrogen, karbonmonoksida dan karbondioksida dari senyawa hidrokarbon (gas alam) dan steam pada primary reformer. Pada primary reformer terdapat 4 buah heater yang masing-masing heater terdiri dari 48 tube katalis. Katalis yang dipakai adalah katalis nikel. Gas yang keluar diharapkan mempunyai tekanan 36,2 kg/cm2 dan suhu 799 oC kemudian dikirim ke secondary reformer yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya reaksi reforming. Reaksi yang terjadi sama dengan reaksi pada primary reformer, tetapi panas yang digunakan diperoleh dari pembakaran langsung dengan udara di dalam reaktor. Setelah melewati proses secondary reformer, gas akan dialirkan ke dalam shift converter. Di dalam shift converter gas CO diubah menjadi CO2 untuk mempersiapkan bahan baku sebelum masuk ke ammonia converter. Setelah melewati Unit Pembuatan Gas Sintesa, gas akan dialirkan pada Unit Pemurnian Gas Alam. Pada unit Pemurnian Gas Alam ini terdiri dari 3 proses yaitu Absorbsi CO2, Desorbsi CO2 dari larutan aMDEA dan Metanasi. Proses ini dilakukan untuk mempersiapkan bahan baku sebelum masuk ke ammonia converter, yang berupa gas N 2 dan H2 sehingga gas-gas lain yang ada harus dipisahkan dahulu. Proses CO2 removal yang diperlukan dalam pembuatan urea diambil dengan cara menyerap CO 2 menggunakan larutan aMDEA yang kemudian dilepaskan kembali sehingga diperoleh gas CO2. Prosesnya adalah gas yang keluar dari konverter dimasukkan ke dalam absorber. Kemudian Gas CO 2 dalam larutan rich solution akan dipisahkan dengan proses stripping yang beroperasi pada tekanan rendah dan suhu tinggi. Gas CO2 inilah yang digunakan sebagai umpan pada reaktor sintesis urea. Sedangkan gas yang keluar dari absorber yang masih mengandung sisa CO dan CO2 dapat menyebabkan rusaknya katalis di ammonia converter, oleh karena itu perlu diubah di metanator menjadi CH4 agar tidak meracuni katalis. Pada Unit Pemurnian Gas Sintesa, terdari dari proses CO 2 removal dan metanasi. Hal-hal yang mempengaruhi kinerja CO2 Removal diantaranya temperatur lean solution, temperatur gas umpan, tekanan gas umpan, tekanan bagian atas stripper, stripper reboiler duty, solution strength. Beberapa kondisi lower dan higher dari design dapat menimbulkan beberapa masalah seperti foaming, konsumsi energi lebih tinggi, meningkatnya pressure drop, meningkatnya kecepatan korosi dan lain-lain.
7

Setelah melewati Unit Pemurnian, maka gas akan masuk ke dalam ammonia converter untuk mereaksikan antara N2 dan H2. Ammonia yang terbentuk lalu dipisahkan dan dikondensasikan yang kemudian disimpan dalam bentuk cair. 2.2 Absorbsi Sebagian besar reaksi kimia yang diterapkan dalam industri kimia melibatkan bahan baku yang berbeda wujudnya, baik berupa padatan, cair, maupun gas. Oleh karena itu, reaksi kimia dalam suatu industri dapat terjadi dalam fase ganda atau heterogen, misalnya biner atau bahkan tersier (Coulson,1996). Absorbsi adalah proses perpindahan massa di mana uap larutan A dalam campuran gas diserap oleh cairan di mana zat terlarut atau kurang larut (Geankoplis, 1993).Proses ini memisahkan bahan dari suatu campuran gas dengan cara pengikatan bahan tersebut pada permukaan absorben cair yang diikuti dengan pelarutan. Kelarutan gas yang akan diserap dapat disebabkan hanya oleh gaya-gaya fisik (pada absorpsi fisik) atau selain gaya tersebut juga oleh ikatan kimia (pada absorpsi kimia). Fungsi Absorbsi dalam industri kimia digunakan untuk meningkatkan nilai guna dari suatu zat dengan cara merubah fasenya. Pada industri petrokimia absorbsi digunakan untuk menyerap sejumlah gas dari campuran gas-gas atau sering pula digunakan untuk menghilangkan komponen-komponen berbahaya seperti hydrogen sulfide atau belerang dioksida dari gas-gas yang berasal dari cerobong keluaran (Flue gases). Absorpsi dapat berlangsung dalam dua macam proses, yaitu absorpsi fisik atau absorpsi kimia (Treyball,1981). Absorbsi fisik merupakan absorbsi dimana gas terlarut dalam cairan penyerap tidak disertai dengan reaksi kimia. Contoh absorbsi ini adalah absorbsi gas H2S dengan air, metanol, propilen, dan karbonat. Penyerapan terjadi karena adanya interaksi fisik, difusi gas ke dalam air, atau pelarutan gas ke fase cair. Sedangkan absorbsi kimia merupakan absorbsi dimana gas terlarut didalam larutan penyerap disertai dengan adanya reaksi kimia. Contoh absorbsi ini adalah absorbsi dengan adanya larutan MEA, NaOH, K2CO3, dan sebagainya. Aplikasi dari absorbsi kimia dapat dijumpai pada proses penyerapan gas CO2 pada pabrik ammonia. Penggunaan absorbsi kimia pada fase kering sering digunakan untuk mengeluarkan zat terlarut secara lebih sempurna dari
8

campuran gasnya. Keuntungan absorbsi kimia adalah meningkatnya koefisien perpindahan massa gas, sebagian dari perubahan ini disebabkan makin besarnya luas efektif permukaan. Absorbsi kimia dapat juga berlangsung di daerah yang hampir stagnan disamping penangkapan dinamik. Hal-hal yang mempengaruhi dalam prsoses adsorbsi : Zat yang diadsorbsi Luas permukaan yang diadsorbsi Temperatur Tekanan

2.3

Unit CO2 Removal Absorpsi gas-cair merupakan proses heterogen yang melibatkan perpindahan komponen gas yang dapat larut menuju penyerap yang biasanya berupa cairan yang tidak mudah menguap (Franks 1967). Reaksi kimia dalam proses absorpsi dapat terjadi di lapisan gas, lapisan antar fase, lapisan cairan atau bahkan badan utama cairan, tergantung pada konsentrasi dan reaktifitas bahan-bahan yang direaksikan. Untuk memfasilitasi berlangsungnya tahapan-tahapan proses tersebut, biasanya proses absorpsi dijalankan dalam reaktor tangki berpengaduk bersparger, kolom gelembung ( bubble column) atau kolom yang berisi tumpukan partikel inert ( packed bed column). Proses absorpsi gas-cair dapat diterapkan pada pemurnian gas sintesis, recovery beberapa gas yang masih bermanfaat dalam gas buang atau bahkan pada industri yang melibatkan pelarutan gas dalam cairan, seperti H2SO4, HCl, HNO3, formadehid dll (Coulson 1996). Absorpsi gas CO2 dengan larutan hidroksid yang kuat merupakan proses absorpsi yang disertai dengan reaksi kimia order 2 antara CO2 dan ion OH- membentuk ion CO32- dan H2O. Sedangkan reaksi antara CO2 dengan CO32- membentuk ion HCO3- biasanya diabaikan (Danckwerts, 1970; Juvekar dan Sharma, 1972). Namun, menurut Rehm et al. (1963) proses ini juga bisa dianggap mengikuti reaksi order 1 jika konsentrasi larutan NaOH cukup rendah (encer). Absorbsi kimia merupakan suatu proses yang melibatkan peristiwa pelarutan gas dalam larutan penyerap yang disertai dengan reaksi kimia. Contoh peristiwa ini adalah absorbsi gas CO2 dengan larutan MEA, NaOH, K2CO3 dan sebagainya. Aplikasi dari
9

absorbsi kimia dapat dijumpai pada proses penyerapan gas CO 2 pada pabrik Ammonia yang disebut Unit CO2 removal seperti yang terlihat pada gambar:

Gambar 2.2 Proses absorpsi dan desorpsi CO2 dengan pelarut MEA di pabrik Ammonia

Proses absorpsi dapat dilakukan dalam tangki berpengaduk yang dilengkapi dengan sparger, kolom gelembung (bubble column), atau dengan kolom yang berisi packing yang inert (packed column) atau piringan (tray column). Pemilihan peralatan proses absorpsi biasanya didasarkan pada reaktifitas reaktan (gas dan cairan), suhu, tekanan, kapasitas, dan ekonomi. Pada Unit CO2 removal di PT Pupuk Kujang Cikampek, raw gas yang berasal dari LTS (Low Temperature Shift converter), A-104-D2 akan dialirkan ke dalam Unit CO2 removal. Gas CO2 yang terdapat dalam gas proses harus dipisahkan terlebih dahulu karena merupakan racun katalis di ammonia converter. Pemisahan CO2 dilaksanakan secara absorbsi di CO2 absorber A-101-E, sehingga kadar CO2 dalam gas kurang dari 0,06% vol. Pada absorber dialirkan larutan aMDEA yang berasal dari Stripper A-102-E yang didinginkan terlebih dahulu dalam cooler A-109-C sebelum dipompa oleh A-107-JA,JB,JC ke puncak Absorber. Sedangkan larutan aMDEA yang keluar dari bottom absorber akan dialirkan ke kolom stripper A-102-E untuk memisahkan antara larutan aMDEA yang nantinya akan dipakai kembali ke dalam absorber dan CO2 product.

10

Berikut merupakan proses flow diagram unit CO2 removal plant 1B PT Pupuk Kujang Cikampek:

11

12

2.4

Karakteristik Absorben Pada plant Ammonia 1B pelarut yang digunakan adalah aMDEA (Activated

Methyl-Diethanol Amine). Pelarut ini merupakan sebagai penyerap CO2 dan media untuk terjadinya proses perpindahan massa. Proses penyerapan dengan larutan amine memerlukan tekanan tinggi dan suhu yang rendah dan sebaliknya untuk proses regenerasi diperlukan tekanan yang rendah dan temperatur tinggi.

Gambar 2.3 Struktur kimia senyawa MDEA

Karakteristik MDEA : Berat molekul : 119,2 kg/kmole Boiling point pure MDEA: 2450C Boiling point aqueous solution : 110-1200C Berfungsi sebagai penyerap suatu bahan (CO2,H2S) HCO3- + H+ R3NH+ R3NH+

Mekanisme reaksi yang terjadi dengan MDEA : CO2+H2O R3N+H+ R3N+ CO2+H2O

Dalam mekanisme ini, air berfungsi bukan hanya sebagai solvent tetapi sebagai reaktan. Mekanisme reaksi yang terjadi lambat sehingga ditambahkan sistem activator dalam hal ini adalah piperazine. Mekanisme absorbsi dengan aMDEA adalah sebagai berikut :

13

Gambar 2.4 Mekanisme absorbsi dengan aMDEA

2.5

Karakteristik CO2 Karbon dioksida pertama kali dicairkan (pada tekanan tinggi) pada tahun 1823

oleh Humphry Davy dan Michael Faraday. Karbon dioksida (CO2) atau zat asam arang adalah sejenis senyawa kimia yang terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah atom karbon. Ia berbentuk gas pada keadaan temperatur dan tekanan atmosfer. Karbon dioksida tidak mempunyai bentuk cair pada tekanan di bawah 5,1 atm namun langsung menjadi padat pada temperatur di bawah -78 C. Dalam bentuk padat, karbon dioksida umumnya disebut sebagai es kering. CO2 adalah oksida asam. Larutan CO2 mengubah warna litmus dari biru menjadi merah muda. Sifat Umum Rumus Kimia : CO2 Sifat Kimia

Tidak dapat terbakar Agak bersifat asam Tidak berwarna Sedikit berbau tajam, pedas Rasanya sedikit menggigit Berat molekul : 44,02 gr/1 Spesific gravity gas (21,11C, 1 atm) : 1,53 Density cair (21,11C dan 57,09 atm) : 758,5 gr/1 Density cair ( -16,8C, 20,14 atm) : 1014,96 gr/1 Density padat (-78,5C, 1 atm) : 1563,5 gr/1 Titik tripel : -56,57C, 5,112 atm.abs Suhu kritis : 31,01C Tekanan kritis : 73,825 bar Suhu padat pada 1 atm : -78,47C

Sifat Fisik

http://www.karyagunagas.com/co2.html 14

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Tahap Tahap Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilakukan dalam 4 tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelakasanaan, dan tahap analisis, tahap akhir 3.1.1 Tahap Persiapan Pada tahap persiapan penelitian meliputi kegiatan sebagai berikut : Studi literature CO2 removal. Studi literature absorbsi kimia. Studi literature kinerja aMDEA.

3.1.2 Tahap Pelaksanaan Pada tahap persiapan penelitian meliputi kegiatan sebagai berikut : Observasi lapangan pada unit CO2 removal Mengumpulkan data variabel terukur pada DCS. Mengumpulkan data design plant CO2 removal. Membuat simulasi CO2 removal pada software (Hysys/Aspen).

3.1.3 Tahap Analisis Akhir Pada tahap ini mencakup analisa sebagai berikut : 3.1.4 -

Menganalisa alur proses CO2 removal. Pengaruh temperatur lean solution terhadap kinerja penyerapan CO2. Pengaruh kondisi aktual temperatur gas umpan unit absorber dibandingkan design. Pengaruh kondisi aktual tekanan bagian atas stripper unit absorber dibandingkan design. Analisa kemungkinan efisiensi energi pada Unit CO2 Removal.
Pembuatan Laporan.

Tahap akhir

15

3.2

Skema Tahapan Penelitian Berikut merupakan skema proses penelitian evaluasi kinerja CO2 removal di plant ammonia :

Gambar 3.1 skema proses penelitian evaluasi kinerja CO2 removal

16

17

3.3

Tabel Data Pengamatan 3.3.1 Data Stream CO2 Removal Data Design Stream CO2 removal
Stream Number Stream Service Component H2 N2 CH4 AR CO CO2 O2 C2H8 C3H8 iC4 nC4 Dry Total Water (H2O) Wet Total Weight Flow (kg/h) Temperature (0C) Pressure (kg/cm2g) 11 LTS Effluent 12 CO2 Absorber Feed 13 CO2 Product

Data Aktual Stream CO2 removal


Stream Number Stream Service Component H2 N2 CH4 AR CO CO2 O2 C2H8 C3H8 iC4 nC4 Dry Total Water (H2O) Wet Total Weight Flow (kg/h) Temperature (0C) Pressure (kg/cm2g) 11 LTS Effluent 12 CO2 Absorber Feed 13 CO2 Product

18

3.3.2

Data per Unit CO2 Removal

Data Design per Unit CO2 Removal


Unit Description Pressure (kg/cm2g) Temperature(0C) Flow (m3/hr) A-131-C LTS effluent/ BFW Exchanger A-106-C LTS effluent/LP BFW Exchanger A-102-F1 Raw Gas Separator A-101-E CO2 Absorber A-102-F2 CO2 Absorber Overhead KnockOut Drum A-102-E CO2 Stripper A-116-J/JA CO2 Stripper Quench Pump A-111-C CO2 Stripper Steam Reboiler

Unit Description Pressure (kg/cm2g) Temperature(0C) Flow (m3/hr)

A-112-C Lean/Semi Lean Solution Solution Exchanger

A-110-C Lean Solution Cooler

A-107-JA Lean Solution Pump

A-107-JB Lean Solution Pump

A-107-JC Semi Lean Solution Pump

A-109-C Lean Solution/BFW Exchanger

A-108-J,JA Semi Lean Solution Pump

Unit Description Pressure (kg/cm2g) Temperature(0C) Flow (m3/hr)

A-115-F aMDEA Solution Pump

A-114-F aMDEA Solution Storage Tank

A-115-J aMDEA Sump Pump

A-111-J aMDEA Transfer Pump

A-107-C CO2 Stripper Quench Cooler

19

Data Aktual per Unit CO2 Removal


Unit Description Pressure (kg/cm2g) Temperature(0C) Flow (m3/hr) A-131-C LTS effluent/ BFW Exchanger A-106-C LTS effluent/LP BFW Exchanger A-102-F1 Raw Gas Separator A-101-E CO2 Absorber A-102-F2 CO2 Absorber Overhead KnockOut Drum A-102-E CO2 Stripper A-116-J/JA CO2 Stripper Quench Pump A-111-C CO2 Stripper Steam Reboiler

Unit Description Pressure (kg/cm2g) Temperature(0C) Flow (m3/hr)

A-112-C Lean/Semi Lean Solution Solution Exchanger

A-110-C Lean Solution Cooler

A-107-JA Lean Solution Pump

A-107-JB Lean Solution Pump

A-107-JC Semi Lean Solution Pump

A-109-C Lean Solution/BFW Exchanger

A-108-J,JA Semi Lean Solution Pump

Unit Description Pressure (kg/cm2g) Temperature(0C) Flow (m3/hr)

A-115-F aMDEA Solution Pump

A-114-F aMDEA Solution Storage Tank

A-115-J aMDEA Sump Pump

A-111-J aMDEA Transfer Pump

A-107-C CO2 Stripper Quench Cooler

Keterangan : Data yang diambil akan berdasarkan data per jam dalam kurun waktu 1 minggu. 20

21

3.4

Jadwal Penelitian Keseluruhan kegiatan ini direncanakan selesai selama 3 bulan dengan deskripsi kegiatan sebagai berikut:

No

Tahap

Deskripsi

Bulan April Mei Juni Minggu ke 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 2

Persiapan Pelaksanaan

3 4

Analisis Akhir

Studi literature CO2 removal. Studi literature absorbsi kimia. Studi literature kinerja aMDEA. Observasi lapangan pada unit CO2 removal. Mengumpulkan data variabel terukur pada DCS. Mengumpulkan data design plant CO2 removal. Membuat simulasi CO2 removal pada software (Hysys/Aspen). Evaluasi kinerja CO2 removal. Penulisan laporan

DAFTAR PUSTAKA 22

http://www.slideshare.net/noeyoenuy/savedfiles?s_title=jurnalabsorpsi&user_login=LuthfiDewi http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-industri/teknologi-proses/absorbsi/ http://www.pupuk-kujang.co.id/allmenu=2.php?idn=18

23