Вы находитесь на странице: 1из 34

BAB 1 Definisi

Keterangan : 1. P. Pemb. Listrik 2. GI StepUp 3. Transmisi 4. GI StepDown 5. Distribusi

Diagram Satu Garis Sistem Tenaga Listrik

1.1 Pengertian
Sistem tenaga listrik secara garis besar dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu Pusat Pembangkit, Sistem Transmisi dan Sistem Distribusi. Pada pusat pembangkit terdapat generator yang merupakan sumber tenaga listrik. Tegangan keluar dari generator dinaikkan oleh trafo step-up menjadi tegangan transmisi 70kV-500kV. Pada gardu induk tegangan diturunkan menjadi tegangan distribusi primer 6kV dan 20kV dengan menggunakan trafo step-down atau disebut trafo distribusi. Perbedaan sistem transmisi dan sistem disribusi adalah tergantung pada fungsinya, pada sistem transmisi adalah membawa tenaga listrik dari pusat pembangkit tenaga listrik ke gardu induk. Pada sistem distribusi tenaga listrik merupakan penyaluran tenaga listrik dari Gardu Induk ke konsumen. Pada sistem distribusi diklasifikasikan berdasarkan tingkat tegangannya menjadi dua bagian, yaitu Distribusi Primer yang
1

menyalurkan tenaga listrik dari gardu induk sampai trafo distribusi pada tegangan 20kV/6kV.

1 2 3 4
Diagram Satu Garis Sistem Distribusi

Keterangan : 1. Gardu Induk 2. Saluran Distribusi Primer 3. Trafo (20kV/380V) 4. Saluran Distribusi Sekunder

Selanjutnya adalah Distribusi Sekunder atau biasa disebut Tegangan Rendah. Pada sistem jaringan distribusi sekunder merupakan hasil penurunan tegangan pada jaringan distribusi primer 20kV menjadi tegangan 380V/220V melalui trafo distribusi.

BAB 2 KLASIFIKASI SISTEM DISTRIBUSI


Dilihat a. dari tegangannya sistem distribusi pada saat ini dapat dibedakan dalam 2 macam yaitu : Sistem Jaringan Distribusi Primer, sering disebut Sistem Jaringan Tegangan Menengah (JTM) dengan tegangan operasi nominal 20 kV/ 11 , 6 kV b. Sistem Jaringan Distribusi Sekunder, sering disebut Sistem Jaringan Tegangan Rendah nominal 380 / 220 volt 2.1 JARINGAN SISTEM DISTRIBUSI PRIMER Setelah tenaga listrik disalurkan melalui saluran transmisi maka sampailah tenaga listrik di Gardu Induk (GI) sebagai pusat beban untuk diturunkan tegangannya melalui transformator penurun tegangan (step down transfomer) menjadi tegangan menengah atau yang juga disebut sebagai tegangan distribusi primer. Tegangan distribusi primer yang dipakai PLN adalah 20 KV, 12 KV dan 6 KV. Kecenderungan saat ini menunjukkan bahwa tegangan distribusi primer PLN yang berkembang adalah 20 KV. Jaringan distribusi primer yaitu jaringan tenaga listrik yang keluar dari GI baik itu berupa saluran kabel tanah, saluran kabel udara atau saluran kawat terbuka yang menggunakan standard tegangan sekarang tanah, menengah salurannya dikatakan masing sebagai Jaringan Tegangan untuk yang Menengah yang sering disebut dengan singkatan JTM dan masing disebut SKTM jaringan tegangan menengah yang menggunakan saluran kabel SKUTM untuk jaringan tegangan menengah menggunakan saluran kabel udara dan SUTM untuk jaringan tegangan menengah yang menggunakan saluran kawat terbuka. (JTR) dengan tegangan operasi

Terdapat bermacam-macam bentuk rangkaian jaringan distribusi primer. Antara lain :

2.1.1

Jaringan Distribusi Radial Bentuk Jaringan ini merupakan bentuk dasar, paling

sederhana dan paling banyak digunakan. Dinamakan radial karena saluran ini ditarik secara radial dari suatu titik yang merupakan sumber dari jaringan itu,dan dicabang-cabang ke titik-titik beban yang dilayani. Catu daya berasal dari satu titik sumber, hal ini menjadikan sistem sangat bergantung pada sumber daya tersebut. Bila terjadi gangguan maka beberapa gardu distribusi yang mendapat suplai dari gardu induk yang mengalami gangguan tadi akan mengalami gangguan listrik, karena membukanya pemutus daya, sehingga pemadaman total terjadi.

Gambar Konfigurasi Sistem Radial

Spesifikasi dari jaringan bentuk radial ini adalah: a). b). c). Bentuknya sederhana dan ekonomis.(+) Biaya investasinya relatip murah.(+) Keaandalannya masih rendah. (-)
4

d).

Kontinyuitas pelayanan daya tidak terjamin, sebab sehingga bila saluran tersebut mengalami

antara titik sumber dan titik beban hanya ada satu alternatif saluran gangguan, maka seluruh rangkaian sesudah titik gangguan akan mengalami "black out" secara total.(-) Sistem Radial ini masih banyak digunakan di daerah pedesaan. Sistem radial sesuai untuk daerah dengan kerapatan beban rendah sampai menengah, sehingga dapat diharapkan keandalannya masih diterima konsumen. 2.1.2 Jaringan Distribusi Rangkaian Tertutup ( Loop ) Sistem saluran rangkaian feeder yang tertutup saling pada jaringan distribusi oleh

merupakan suatu sistem penyaluran melalui dua atau lebih berhubungan membentuk rangkaian berbentuk cincin. Sistem ini secara ekonomis menguntungkan, karena gangguan pada jaringan terbatas hanya pada saluran yang terganggu saja. Sedangkan pada saluran yang lain masih dapat menyalurkan tenaga listrik dari sumber lain dalam rangkaian yang tidak terganggu. Sehingga kontinuitas pelayanan sumber tenaga listrik dapat terjamin dengan baik. Serta kualitas dayanya menjadi lebih baik, karena rugi tegangan dan rugi daya pada saluran menjadi lebih kecil. Yang perlu diperhatikan pada sistem ini apabila beban yang dilayani bertambah, maka kapasitas pelayanan untuk sistem rangkaian tertutup ini kondisinya akan lebih jelek. Tetapi jika digunakan titik sumber (Pembangkit Tenaga Listrik) lebih dari satu di dalam sistem jaringan ini maka sistem ini akan benyak dipakai, dan akan menghasilkan kualitas tegangan lebih baik, serta regulasi tegangannya cenderung kecil.

Gambar Konfigurasi Sistem Loop

Bentuk loop ini ada 2 macam, yaitu: (a).Bentuk open loop: Bila diperlengkapi dengan normally-open switch, dalam keadaan normal rangkaian selalu terbuka. (b).Bentuk close loop Bila diperlengkapi dengan normally-close switch, yang dalam keadaan normal rangkaian selalu tertutup. Pada tipe ini, kualitas dan kontinyuitas pelayanan daya memang lebih balk, tetapi biaya investasinya lebih tinggi bila dibandingkan dengan dengan pemutus sistem beban radial, yang karena otomatis memerlukan pemutus beban yang lebih banyak. Bila digunakan (dilengkapi dengan recloser atau AVS),maka pengamanan dapat berlangsung cepat dan praktis, dengan cepat pula daerah gangguan segera beroperasi kembali bila gangguan telah teratasi. Dengan cara ini berarti dapat mengurangi tenaga operator. Bentuk ini cocok untuk digunakan pada daerah beban yang padat dan memerlukan keandalan tinggi. Keuntungannya : a. Dapat menyalurkan daya listrik melalui satu atau dua saluran feeder yang saling berhubungan
6

b. Menguntungkan dari segi ekonomis c. Bila terjadi gangguan pada saluran maka saluran yang lain dapat menggantikan untuk menyalurkan daya listrik d. Konstinuitas penyaluran daya listrik lebih terjamin e. Bila digunakan dua sumber pembangkit, kapasitas tegangan lebih baik dan regulasi tegangan cenderung kecil f. Dalam kondisi normal beroperasi, pemutus beban dalam keadaan terbuka g. Faktor penggunaan konduktor lebih rendah, yaitu 50 % h. Keandalan relatif lebih baik Kelemahannya : a. Drop tegangan makin besar b. Bila beban yang dilayani bertambah, maka kapasitas pelayanan akan lebih jelek 2.1.3 Jaringan Distribusi Spindle

Gambar Konfigurasi Sistem Spindle

Selain bentuk-bentuk dasar dari jaringan distribusi yang telah ada, maka dikembangkan pula bentuk-bentuk modifikasi, yang bertujuan meningkatkan keandalan dan
7

kualitas sistem. Salah satu bentuk modifikasi yang populer adalah bentuk spindle, yang biasanya terdiri atas maksimum 6 penyulang dalam keadaan dibebani, dan satu penyulang dalam keadaan kerja tanpa beban yang keseluruhannya bergabung pada Gardu Hubung. Saluran 6 penyulang yang beroperasi dalam keadaan berbeban dinamakan "working feeder" atau saluran kerja, dan satu saluran yang dioperasikan tanpa beban dinamakan "express feeder". Fungsi "express feeder" dalam hal ini selain sebagai cadangan pada saat terjadi gangguan pada salah satu "working feeder", juga berfungsi untuk memperkecil terjadinya drop tegangan pada sistem distribusi bersangkutan pada keadaan operasi normal. Dalam keadaan normal memang "express feeder" ini sengaja dioperasikan tanpa beban. Bila salah satu saluran atau seksi dari kabel saluran beban mengalami gangguan, maka PMT bekerja dan saklar beban pada gardu trafo di kedua ujung seksi tersebut dapat dibuka untuk mengisolir gangguan kabel yang terganggu. Kemudian bagian sisi hulu dapat dialiri kembali dari GI, sedangkan hilir dialiri oleh GH melalui kabel express. 2.2 JARINGAN SISTEM DISTRIBUSI SEKUNDER Setelah tenaga listrik disalurkan melalui jaringan distribusi primer maka kemudian tenaga listrik diturunkan tegangannya dengan menggunakan trafo distribusi (step down transformer) menjadi tegangan rendah dengan tegangan standar 380/220 Volt atau 220/127 Volt dimana standar tegangan 220/127 Volt pada saat ini tidak diberlakukan lagi dilingkungan PLN. Tenaga listrik yang menggunakan standard tegangan rendah ini disalurkan melalui suatu jaringan yang disebut kemudian Jaringan

Tegangan Rendah yang sering disebut dengan singkatan JTR. Sama halnya pada JTM jenis saluran yang dipergunakan pada JTR dapat menggunakan tiga jenis saluran yaitu SUTR untuk
8

saluran udara tegangan rendah dengan menggunakan saluran kawat terbuka SKUTR untuk saluran udara tegangan rendah dengan menggunakan saluran kabel udara yang dikenal dengan sebutan kabel twisted yang sering disebut dengan singkatan TIC singkatan dari Twisted Insulation Cable SKTR untuk saluran udara tegangan rendah dengan menggunakan saluran kabel tanah. Sistem distribusi sekunder digunakan untuk menyalurkan ke rumah-rumah pelanggan (konsumen) melalui suatu sarana yang disebut Sambungan Pelayanan atau Sambungan Rumah yang dapat dipisahkan menjadi dalam 2 bagian yaitu Sambungan Luar Pelayanan dan Sambungan Masuk Pelayanan. Pada sistem distribusi sekunder bentuk saluran yang paling banyak digunakan ialah sistem radial. Sistem ini dapat menggunakan kabel yang berisolasi maupun konduktor tanpa isolasi. Sistem ini biasanya disebut sistem tegangan rendah yang langsung akan dihubungkan kepada konsumen/pemakai tenaga listrik.

Komponen saluran distribusi sekunder seperti ditunjukkan pada gambar berikut ini.

Gambar Komponen Sistem Distribusi

Dalam praktek karena luasnya jaringan distribusi sehingga diperlukan banyak sekali transformator distribusi, maka Gardu
9

Distribusi

seringkali Trafo

disederhanakan Tiang yang

menjadi

transformator lebih

tiang/Gardu

rangkaian

listriknya

sederhana daripada yang digambarkan. Sebelumnya nilai tegangan operasional yang dipergunakan dilingkungan PLN pada level tegangan menengah bervariasi yaitu 6 KV, 12 KV dan 20 KV demikian juga pada level tegangan rendah yaitu 220/127 volt pada repelita 1 pada tahun 1970 dimulai perubahan tegangan yang kita kenal PTR / PTM hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan dan menurunkan susut jaringan .

10

2.3 SISTEM INTERKONEKSI Merupakan pembangkit, sistem apabila dengan salah lebih dari satu yang sumber berasal atau dari satu jaringan

pembangkit lain padam maka pelayanan daya listrik dapat diganti oleh pembangkit lain. Bentuk sistem ini banyak digunakan pada daerah yang mempunyai kerapatan beban sangat tinggi, jadi sangat cocok untuk daerah metropolitan yang membutuhkan kontinuitas pelayanan yang tinggi. Sistem interkoneksi ini merupakan perkembangan dari sistem network/mesh. Sehingga penyaluran tenaga listrik dapat berlangsung terus menerus (tak terputus), walaupun daerah kepadatan beban cukup tinggi dan luas. Hanya saja sistem ini memerlukan biaya yang cukup mahal dan perencanaan yang cukup matang. Untuk perkembangan dikemudian hari, sistem interkoneksi ini sangat baik, bisa diandalkan dan merupakan sistem yang mempunyai kualitas yang cukup tinggi.

Gambar Sistem Jaringan Interkoneksi

11

Keuntungannya : a. Penyaluran tenaga listrik dapat berlangsung terus-menerus (tanpa putus), walaupun daerah kepadatan beban cukup tinggi dan luas b. Memiliki keandalan dan kualitas sistem yang tinggi c. Biaya pembangkitan dapat diperkecil d. Sistem ini dapat bekerja secara bergantian sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan e. Dapat menjaga kestabilan sistem Pembangkitan f. Dapat di capai penghematan-penghematan di dalam investasi Kelemahannya a. Memerlukan biaya yang cukup mahal b. Memerlukan perencanaan yang lebih matang c. Saat terjadi gangguan hubung singkat pada penghantar jaringan, maka semua Pusat Pembangkit akan tergabung di dalam sistem dan akan ikut menyumbang arus hubung singkat ke tempat gangguan tersebut. d. Perlu menjaga keseimbangan antara produksi dengan pemakaian e. Merepotkan saat terjadi gangguan petir

12

BAB 3 PERALATAN KEANDALAAN DAN KONTINUITAS SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK


Untuk mendapatkan keandalan yang baik, maka diperlukan peralatan peralatan yang dapat mengatasi gangguan di system jaringan distribusi tenaga listrik sehingga nantinya energy yang akan disalurkan ke konsumen (beban) dapat tetap disalurkan dengan baik. Perencanaan pengaman jaringan distribusi ini menyesuaikan macam dan karakteristik beban pada system distribusi listrik itu sendiri. Macam-macam pengaman pada jaringan distribusi tenaga listrik untuk menjaga keandalan adalah : 3.1 Rellay

Agar penyaluran energi listrik tetap terjamin kontinuitasnya serta aman terhadap lingkungan dan peralatan maka diperlukan peralatan yang dapat mengamankan /memproteksi kepentingan diatas. Peralatan yang dimaksud adalah relai proteksi. Macam-macam relay proteksi :
OCR /Over Current Relay (Rele Arus Lebih) Rele Arus Lebih Seketika Rele Arus Lebih Waktu Tertentu Rele Arus Lebih Berbanding Terbalik DGR /Directional Ground Relay (Rele Gangguan Tanah Berarah) 3.2 Fuse Cut Out (Pengaman Lebur) Fuse cut out (sekring) adalah suatu alat pengaman yang melindungi jaringan terhadap arus beban lebih (over load current) yang mengalir melebihi dari batas maksimum, yang disebabkan karena hubung singkat (short circuit)atau beban lebih (over load). Konstruksi dari fuse cut out ini jauh lebih sederhana 13

bila dibandingkan dengan pemutus beban (circuit breaker)yang terdapat di Gardu Induk (sub-station). Akan tetapi fuse cut out ini mempunyai kemampuan yang sama dengan pemutus beban tadi. Fuse cut out ini hanya dapat memutuskan satu saluran kawat jaringan di dalam satu alat. Apabila diperlukan pemutus saluran tiga fasa maka dibutuhkan fuse cut out sebanyak tiga buah. Penggunaan fuse cut out ini merupakan bagian yang terlemah di dalam jaringan distribusi. Sebab fuse cut out boleh dikatakan hanya berupa sehelai kawat yang memiliki penampang disesuaikan dengan besarnya arus maksimum yang diperkenankan mengalir di dalam kawat tersebut. Pemilihan kawat yang digunakan pada fuse cut out ini didasarkan pada faktor lumer yang rendah dan harus memiliki daya hantar (conductivity)yang tinggi. Faktor lumer ini ditentukan oleh temperatur bahan tersebut. Biasanya bahan-bahan yang digunakan untuk fuse cut out ini adalah kawat perak, kawat tembaga, kawat seng, kawat timbel atau kawat paduan dari bahanbahan tersebut. Mengingat kawat perak memiliki konduktivitas 60,6 mho/cm lebih tinggi dari kawat tembaga, dan memiliki temperatur 960C, maka pada jaringan distribusi banyak digunakan. Kawat perak ini dipasangkan di dalam tabung porselin yang diisi dengan pasir putih sebagai pemadam busur api, dan menghubungkan kawat tersebut pada kawat fasa, sehingga arus mengalir melaluinya. Jenis fuse cut out ini untuk jaringan distribusi dugunakan dengan saklar pemisah. Pada ujung atas dihubungkan dengan kontak-kontak yang berupa pisau yang dapat dilepaskan. Sedangkan pada ujung bawah dihubungkan dengan sebuah engsel. Untuk lebih jelasnya lihat gambar di bawah ini.

14

Gambar Fuse Cut Out

Kalau arus beban lebih melampaui batas yang diperkenankan, maka kawat perak di dalam tabung porselin akan putus dan arus yang membahayakan dapat dihentikan. Pada waktu kawat putus terjadi busur api, yang segera dipadamkan oleh pasir yang berada di dalam tabung porselin. Karena udara yang berada di dalam porselin itu kecil maka kemungkinan timbulnya ledakan akan berkurang karena diredam oleh pasir putih. Panas yang ditimbulkan sebagian besar akan diserap oleh pasir putih tersebut. Apabila kawat perak menjadi lumer karena tenaga arus yang melebihi maksimum, maka waktu itu kawat akan hancur. Karena adanya gaya hentakan, maka tabung porselin akan terlempar keluar dari kontaknya. Dengan terlepasnya tabung porselin ini yang berfungsi sebagai saklar pemisah, maka terhidarlah peralatan jaringan distribusi dari gangguan arus beban lebih atau arus hubung singkat. Umur dari fuse cut out initergantung pada arus yang melaluinya. Bila arus yang melalui fuse cut out tersebut melebihi batas maksimum, maka umur fuse cut out lebih pendek. Oleh karena itu pemasangan fuse cut out pada jaringan distribusi hendaknya yang memiliki kemampuan lebih besar dari kualitas tegangan jaringan, lebih kurang tiga sampai lima kali arus nominal yang diperkenankan. Fuse cut out ini biasanya ditempatkan sebagai

15

pengaman tansformator distribusi, dan pengaman pada cabangcabang saluran feeder yang menuju ke jaringan distribusi sekunder.

Gambar Penempatan fuse cut out pada jaringan distribusi

3.3 PMR /Pole Mounted Recloser (Pemutus Balik Otomatis) Pada saluran distribusi yang menggunakan saluran udara hampir 80%90% gangguan bersifat sementara. Recloser adalah peralatan yang digunakan untuk memproteksi bila terdapat gangguan, pada sisi hilirnya akan membuka secara otomatis dan akan melakukan penutupan balik (reclose) sampai beberapa kali tergantung penyetelannya dan akhirnya akan membuka secara permanen bila gangguan masih belum hilang (lock out). Penormalan recloser dapat dilakukan baik secara manual maupun dengan sistem remote. Recloser juga berfungsi sebagai pembatas daerah yang padam akibat gangguan permanen atau dapat melokalisir daerah yang terganggu. Dengan demikian dalam penyelenggaraan fungsi dari PMR yang ditempatkan pada jaringan untuk menghindari pemutusan penyaluran tenaga listrik yang lama dalam system distribusi listrik yang diakibatkan oleh gangguan, disamping itu untuk mempersempit daerah gangguan. Recloser mempunyai 2 (dua) karateristik waktu operasi (dual timming), yaitu operasi cepat (fast) dan operasi lambat (delay) 16

Menurut fasanya recloser dibedakan atas : a.Recloser 1 fasa b.Recloser 3 fasa

Menurut sensor yang digunakan, recloser dibedakan atas : a. Recloser dengan sensor tegangan (dengan menggunakan trafo tegangan) digunakan di jawa timur b.Recloser dengan sensor arus (dengan menggunakan trafo arus) digunakan di jawa tengah

Gambar Penggambaran kerja PMR

Apabila terjadi gangguan pada daerah yang diamankan oleh PMR, maka akan membuka circuit breaker (CB) dan dalam selang setting waktu yang akan

17

menutup kembali. Dengan setting yang ada maka urutan terbuka dan menutup yang kesekian kali sesuai dengan setting.

3.4 Saklar Seksi Otomatis (SSO) PGS (Pole Mount SF6 Gas Switch)atau disebut SSO atau tipe lain yaitu AVS / Automatic Vacum Switch adalah alat pemutus beban yang secara otomatis dapat melokalisasi gangguan yang terjadi pada jaringan distribusi, sehingga wilayah yang aman tetap mendapat catu daya. Peredaan antara PGS dan AVS adalah saklarnya, kalau PGS saklarnya menggunakan SF6 sedangkan AVS saklarnya menggunakan vaccum (hampa udara)

Gambar Koordinasi pengaman AVS pada jaringan radial

T PCT

: control device (kotak pengatur) : power control transformer

T1 : waktu mulai ada tegangan sampai dengan arus masuk (missal 15 detik) T2 : waktu untuk menentukan buka atau terkunci (missal 5 detik) T3 : waktu tanda mulai saat tegangan hilang sampai arus terbuka (missal 18 detik)

18

Gambar Koordinasi pengaman AVS pada jaringan loop

3.5 CB /Circuit Breaker (Pemutus Tenaga / PMT) Pemutus Tenaga (CB) adalah peralatan listrik yang berfungsi untuk menyalurkan dan memutuskan daya listrik baik dalam kondisi normal (sesuai rencana dengan tujuan pemeliharaan), abnormal (gangguan), atau manuver system, sehingga dapat memonitor kontinuitas system tenaga listrik dan keandalan pekerjaan pemeliharaan. Dalam operasinya CB dilengkapi dengan rele-rele pengaman yang bertugas sebagai pendeteksi gangguan. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu pemutus tenaga atau Circuit Breaker (CB): a.Harus mampu untuk menutup dan dialiri arus beban penuh dalam waktu yang lama. b.Dapat membuka otomatis untuk memutuskan beban atau beban lebih. c. Harus dapat memutus dengan cepat bila terjadi hubung singkat. d.Celah (Gap) harus tahan dengan tegangan rangkaian, bila kontak membuka. e.Mampu dialiri arus hubung singkat dengan waktu tertentu. f. Mampu memutuskan arus magnetisasi trafo atau jaringan serta arus pemuatan (Charging Current) 19

g.Mampu menahan efek dari arching kontaknya, gaya elektromagnetik atau kondisi termal yang tinggi akibat hubung singkat. PMT tegangan menengah ini biasanya dipasang pada Gardu Induk, pada kabel masuk ke busbar tegangan menengah (Incoming Cubicle) maupun pada setiap rel/busbar keluar (Outgoing Cubicle) yang menuju penyulang keluar dari Gardu Induk (Yang menjadi kewenangan operator tegangan menengah adalah sisi Incoming Cubicle).

Jenis-jenis PMT :

1. Jenis PMT berdasarkan media pemadam busur apinya PMT dengan menggunakan minyak banyak (Bulk Oil Circuit Breaker) PMT dengan menggunakan minyak sedikit (Low Oil Content Circuit Breaker) PMT dengan media hampa udara (Vacuum Circuit Breaker) PMT dengan udara hembus (Air Blast Circuit Breaker) PMT dengan media gas SF6 2. Jenis PMT berdasarkan mekanis penggeraknya Pegas Pneumatik Hidrolik
Pemutus tenaga harus memiliki kemampuan pembukaan dan

penutupan yang benar, yaitu kemampuan pada keadaan abnormal (pembukaan dan penutupan pada keadaan hubung singkat). Seperti halnya pemutus beban, pemutus tenaga juga memiliki karakteristik pembukaan dan penutupan cepat yang dapat diatur secara manual, perbedaannya adalah bahwa pemutus tenaga dapat bekerja dengan relay proteksi maupun relay reclosing. Pemutus terpasang (pemisah) di tenaga dengan depan dan umumnya DS di 20

belakangnyayang fungsinya untuk memisahkan bagian yang beroperasi normal dan tidak, serta untuk keperluan pemeliharaan dan inspeksi. Pemutus tenaga harus memiliki kemampuan penutupan dan pembukaan sekurang-kurangnya sama dengan daya hubung singkat di daerah tersebut.

Gambar Circuit Breaker


3.6 DS (Disconnecting Switch) Adalah sebuah alat pemutus yang digunakan untuk menutup dan membuka pada komponen utama pengaman/recloser, DS tidak dapat dioperasikan secara langsung, karena alat ini mempunyai desain yang dirancang khusus dan mempunyai kelas atau spesifikasi tertentu, jika dipaksakan untuk pengoperasian langsung, maka akan menimbulkan busur api yang dapat berakibat fatal. Yang dimaksud dengan pengoperasian langsung adalah penghubungan atau pemutusan tenaga listrik dengan menggunakan DS pada saat DS tersebut masih dialiri tegangan listrik. Pengoperasian DS tidak dapat secara bersamaan melainkan dioperasikan satu per satu karena antara satu DS dengan DS yang lain tidak berhubungan, biasanya menggunakan stick (tongkat khusus) yang dapat dipanjangkan atau dipendekkan sesuai dengan jarak dimana DS itu berada, DS sendiri terdiri dari bahan keramik sebagai penopang dan sebuah pisau yang berbahan besi logam sebagai switchnya.

21

Gambar Contoh Pemisah Disconnecting Switch

3.7Lightning Arrester (LA)

Gambar Lighting Arrester Arrester merupakan peralatan pengaman tegangan lebih sebagai akibat dari sambaran petir maupun switching. Arrester ditempatkan pada sisi tegangan menengah dan dipasang dibumikan. Untuk tingkat IKL diatas 110, sebaiknya tipe 15 KA. Sedang untuk perlindungan Transformator yang dipasang pada tengah-tengah jaringan memakai LA 5 KA, dan di ujung jaringan dipasang LA 10 KA. LA berfungsi melindungi peralatan listrik terhadap tegangan lebih akibat surja petir dan surja hubung serta mengalirkan arus surja ke tanah. LA dilengkapi dengan : Sela bola api (Spark gap) Tahanan kran atau tahanan tidak linier (valve resistor) Sistem pengaturan atau pembagian tegangan (grading system)

22

Dalam keadaan normal LA bersifat isolatif, sedangkan saat keadaan gangguan , LA bekerja dan bersifat konduktif atau menyalurkan listrik ke bumi.

23

BAB 4 Keandalan Distribusi


4.1 Berdasarkan kontinuitas Kontinuitas penyaluran merupakan salah satu indikator dari keandalan penyaluran yang tergantung pada macam sarana penyaluran dan peralatan pengaman. Sarana penyaluran, jalur distribusi mempunyai tingkat kontinuitas yang tergantung pada sumber saluran susunan saluran dan cara pengaturan operasinya dan pemeliharaannya, yang pada hakekatnya direncanakan dan dipilih untuk memenuhi kebutuhan dan sifat beban. Tingkat tersebut antara lain : Tingkat 1 : Mungkin padam berjam-jam, waktu yang cukup untuk mencari dan memperbaiki bagian yang rusak karena gangguan. Tingkat 2 : Padam beberapa jam, waktu untuk mengirim petugas ke lapangan, melokalisir kerusakan dan melakukan manipulasi untuk menghidupkan sementara kembali. Tingkat 3 : Padam beberapa menit, manipulasi oleh petugas yang stand by di gardu atau dilakukan deteksi atau pengukuran dan pelaksanaan manipulasi jarak jauh. Tingkat 4 : Padam secara otomatis beberapa detik, pengamanan manipulasi

Tingkat 5 : Tanpa padam, dilengkapi dengan instalasi cadangan terpisah dan otomatis penuh. Berdasarkan tingkatan keandalan tersebut, sistem jaringan distribusi di desa dan di kota dibedakan. Di desa dimasukkan ke dalam keandalan tingkat 1, sehingga hanya memerlukan sistem jaringan radial. Sedangkan di kota dimasukkan ke dalam keandalan tingkat 2, sehingga harus memakai sistem jaringan spindle.

4.2

Berdasarkan keandalan pengaman Dalam keadaan normal pengaman tidak bekerja selama berbulanbulan atau bahkan bertahun-tahun suatu pengaman tidak perlu bekerja, tetapi pengaman bila diperlukan harus dan pasti bekerja,
24

sebab jika gagal bekerja dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih parah pada peralatan yang diamankan, atau mengakibatkan bekerjanya pengaman lain, sehingga daerah itu mengalami pemadaman yang lebih luas (black out). Pengaman itu tidak boleh salah kerja (mistrip), sebab dapat mengakibatkan pemutusanpemutusan yang tidak perlu dan pemadaman yang tidak semestinya. Susunan alat-alat pengaman itu harus dapat diandalkan, baik pengaman itu sendiri maupun alat-alat lainnya serta hubungan-hubungannya. Keandalan pengaman tergantung kepada desain, pengerjaan (workman ship) dan perawatannya. Untuk beberapa pengaman tidak harus bekerja, tetapi harus pasti dapat bekerja bila sewaktu-waktu diperlukan. Oleh karena itu, pengujian secara periodik perlu sekali dilakukan khususnya rele+PMT. Hal ini dimaksudkan untuk: 1. Mengetahui apakah sebagaimana mestinya pengaman masih dapat bekerja

2. Mengetahui penyimpangan-penyimpangan karakteristik yang selanjutnya untuk mengadakan koreksi penyetelan 3. Membandingkan hasil-hasil pengujian sebelumnya, agar diketahui proses memburuknya rele pengaman alat bantunya sehingga dapat direncanakan perbaikan dan penggantinya. Hasil pengujian periodik dan catatan bekerjanya rele sebagai akibat gangguan sangat bermanfaat untuk mengadakan evaluasi dan analisa pengaman pada sistem tenaga listrik. Berdasarkan kualitas daya Kualitas Daya yang baik, antara lain meliputi: - kapasitas daya yang memenuhi. - tegangan yang selalu konstan dan nominal. - frekuensi yang selalu konstan (untuk sistem AC). Catatan: Tegangan nominal di sini dapat pula diartikan kerugian tegangan yang terjadi pada saluran relatif kecil sekali.

4.3

25

BAB 5 Gangguan pada Jaringan Distribusi


5.1Berdasarkan lama gangguan : 5.1.1 Gangguan Temporer : dapat hilang dengan sendirinya atau dengan memutuskan sesaat bagian yang terganggu dari sumber tegangannya kemudian menutup balik (lewat pengaman yang ada, umumnya adalah PBO). Gangguan ini tidak menimbulkan kerusakan pada peralatan di sistem jaringan distribusi. Gangguan ini jika tidak bisa segera hilang dan tidak dapat diatasi dengan pengaman yang ada, dapat menjadi gangguan permanen. 5.1.2 Gangguan Permanen : Untuk menghilangkannya diperlukan tindakan perbaikan dan menyingkirkan gangguan tersebut sehingga gangguan ini menyebabkan pemutusan tetap.

5.2Gangguan internal : Pemasangan alat tidak baik Penuaan alat Beban lebih Peralatan yang dipasang tidak memenuhi standar.

5.3Gangguan eksternal : Surja Petir Hujan dan cuaca Binatang dan benda-benda lain Hubung singkat Angin yang menyebabkan dahan atau ranting pohon mengenai saluran distribusi
26

27

BAB 6 PEMBEBANAN
Dari keseluruhan sistem penyediaan energi, jaringan distribusi merupakan bagian yang langsung berhubungan dengan pengguna energi listrik, yang dalam pengusahaan energi listrik disebut pelanggan. Pelanggan, adalah pembeli energi listrik dan adalah wajar jika apa yang dibelinya mempunyai mutu yang sesuai dengan harapan. Mutu energi listrik yang sampai ke tempat pelanggan ditetapkan dalam berbagai ketentuan. Namun dalam operasinya, pada waktuwaktu tertentu bisa terjadi penyimpangan-penyimpangan. Penyimpangan ini mungkin dipicu oleh kejadian alam, ataupun dipicu oleh kejadian di jaringan itu sendiri. 6.1 Jenis Beban 6.1.1 Pengelompokan Pelanggan Menurut Tegangan Dilihat dari posisi meter transaksi, pelanggan dapat di kelompokkan dalam: a). Pelanggan Tegangan Menengah b). Pelanggan Tegangan Rendah Pada jaringan distribusi PLN, nilai nominal tegangan menengah adalah 20 kV (antar fasa) sedangkan tegangan rendah adalah 380/220 V. 6.1.1.1 Pelanggan Tegangan Menengah Pelanggan tegangan menengah adalah pelanggan yang meter transaksinya 1-2 Sudaryatno Sudirham, Distribusi Energi Listrik dipasang di sisi tegangan menengah; jadi kWh-meter mengukur energi yang masuk ke transformator. Hal ini tidak berarti bahwa semua pembebanan di sisi pelanggan dicatu dengan tegangan menengah. Dengan meletakkan pengukur energi di sisi tegangan menengah, maka susut energi yang terjadi di transformator dan di jaringan tegangan rendah yang tersambung ke transformator tersebut, menjadi tanggungan pelanggan. Oleh karena itu harga energi bagi pelanggan tegangan menengah bisa lebih rendah. Di sisi sekunder transformator, pelanggan dapat medistribusikan energi melalui jaringan tegangan rendah pada beban-bebannya.
28

29

6.1.1.2 Pelanggan Tegangan Rendah Pelanggan tegangan rendah adalah pelanggan yang meter transaksinya dipasang di sisi tegangan rendah; jadi kWh-meter mengukur energi yang masuk langsung ke beban-beban tegangan rendah. Contoh yang umum untuk pelanggan tegangan rendah adalah pelanggan rumah tangga, di mana tegangan 220 V (fasa-netral) mencatu peralatan rumah tangga. Perlu diingat bahwa tidak semua negara menggunakan tegangan 220 V sebagai tegangan catu peralatan rumah tangga. Di negara tertentu digunakan tegangan 110 V; oleh karena itu kita perlu memastikan lebih dulu berapa tegangan sumber sebelum kita hubungkan peralatan kita. Demikian pula halnya jika kita membeli peralatan listrik, perlu kita pastikan berapa tegangan yang diperlukan. 6.1.2 Pengelompokan Menurut Jenis Pemanfaatan Energi PLN mengelompokkan pelanggannya menurut jenis peruntukan energinya, yaitu: 1. Pelanggan Rumah Tangga 2. Pelanggan Industri 3. Pelanggan Bisnis 4. Pelanggan Sosial 5. Kantor Pemerintah 6. Penerangan Jalan Umum 6.2. Pengertian-Pengertian Dasar Dalam Pembebanan 6.2.1 Beban Puncak Beban puncak adalah kebutuhan daya listrik terbesar konsumen atau sistim distribusi dari seluruh kebutuhan beban yang terpasang dalm periode waktu tertentu. Besarnya beban puncak ditentukan dalam suatu interval waktu, biasanya sehari, seminggu, sebulan atau setahun. Beban puncak harian tercapai dua kali, yaitu pada waktu siang (antara jam 10.00 sampai jam 12.00) dan malam (antara jam 18.00 sampai jam 22.00) 6.2.2 Beban Rata-Rata Beban rata-rata adalah banyaknya energi dalam suatu periode tertentu dibagi dengan waktu periode tersebut Pr = Keterangan : E = jumlah energi tersalur dalam kwh t = waktu
30

Untuk periode satu tahun menggunakan rumus Pr = Keterangan : 1 tahun = 8760 jam 6.3 Karakteristik Beban Dari pengelompokan beban tersebut secara periodik dapat dicatat besar-kecilnya beban setiap saat berdasarkan jenis beban pada tempat tempat tertentu, sehingga dapat dibuat karakteristiknya. 6.3.1 Karakteristik Beban untuk Industri Besar. Pada industri besar (misalnya pengecoran baja) umumnya bekerja selama 24 jam, sehingga perubahan beban hanya terjadi pada saat jam kerja pagi untuk keperluan kegiatan adminitrasi. Perubahan beban tersebut nilainya sangat kecil jika dibanding dengan daya total yang digunakan

untuk operasional industri. Selebihnya hampir kontinyu, selama 24 jam. Gambar 2-56 memperlihatkan karakteristik beban harian untuk industri besar yang umumnya, bekerja selama 24 jam. 6.3.2 Karakteristik Beban untuk Industri Kecil. Untuk beban harian pada industri kecil yang umumnya hanya bekerja pada siang hari saja perbedaan pemakaian tenaga listrik antara siang dan malam hari sangat mencolok, karena pada malam hari listrik hanya untuk keperluan penerangan malam. Gambar 2-57 memper-lihatkan karakteristik beban harian untuk industri kecil yang hanya bekerja pada siang hari.

31

6.3.3 Karakteristik Beban Daerah Komersiil. Untuk daerah komersiil beban amat bervariasi dan beban puncak terjadi antara pukul 17.00 sampai dengan pukul 21.00. Gambar 2-58 memperlihatkan kurve beban harian untuk daerah komersiil.

6.3.4 Karakteristik Beban untuk Rumah Tangga Pemakaian beban untuk keperluan rumah tangga dalam gambar 2-59 ialah karakteristik beban untuk rumah tangga yang mana tenaga listrik sudah merupakan kebutuhan. Misalnya penggunaan kompor listrik, seterika listrik, mesin cuci, kulkas, pemanas air listrik (heater), oven listrik, AC dan lain-lain. Rumah tangga yang pemakaian listriknya seperti tersebut diatas ialah rumah tangga dengan tarif R3 dan R4.

32

6.3.5 Karakteristik Beban untuk Penerangan Jalan Pemakaian beban untuk keperluan penerangan jalan adalah yang paling sederhana, karena pada umumnya tenaga listrik hanya digunakan mulai pukul 18.00 sampai dengan pukul 06.00. Gambar 2-60 memperlihatkan kurve beban harian penerangan jalan umum.

33

BAB 8 DAFTAR PUSTAKA


http://google.com buku ajar Transmisi dan Distribusi Sistem Tenaga Listik Buku SMK Teknik Distribusi Tenaga Listrik Buku Distribusi Sistem Tenaga Listrik

34