You are on page 1of 99

1

MODEL RANCANG BANGUN


SENTRA PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KOMODITAS UNGGULAN (SPAKU) PEPAYA
Diabstraksikan dan dirangkum oleh: Prof Dr Ir Soemarno MS Bahan kajian MK. Landuse Planning, PDIP PPSFPUB 2010

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Selama PJPT I pembangunan sektor pertanian diarahkan pada sasaran pokok untuk (1) mencapai dan mempertahankan swasembada pangan khususnya beras, (2) menyediakan kebutuhan pangan secara beragam untuk emningkatkan kualitas gizi masyarakat, (3) menyediakan bahan baku industri dalam negeri, (4) meningkatkan penerimaan devisa negara melalui peningkatan ekspor dan pengurangan impor, (5) menciptakan lapangan kerja, (6) meningkatkan kesejahteraan petani, (7) membantu pemeliharaan stabilitas ekonomi nasional melalui pengendalian harga komoditas pertanian dan mendorong pertumbuhan produksi sektor pertanian. Tujuan pembangunan pertanian di masa mendatang ialah membangun pertanian tangguh yang efisien dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Dengan demikian pertanian mampu secara optimal meningkatkan pendapatan epetani, meningkatkan gizi masya rakat, mening katkan devisa negara dan mendorong pertumbuhan kesempatan berusaha dan kesempatan kerja di pedesaan. Upaya-upaya ini perlu dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek kelestarian sumberdaya dan lingkungan hidup. Sektor pertanian dihadapkan pada semakin terbatasnya ketersediaan sumberdaya dan resiko kemerosotan kualitas sumberdaya alam sehingga menuntut pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam secara tepat. Sektor pertanian diharapkan juga mampu menjamin berkelanjutan pemba-ngunan pertanian yang memberikan peningkatan kesejahteraan para pelakunya. Konversi lahan pertanian di Jawa untuk kegiatan non pertanian menyebabkan produksi pertanian harus bergeser ke areal di luar P. Jawa yang memiliki kualitas relatif lebih rendah. Produktivitas lahan tersebut diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas lahan di Jawa. Wilayah tersebut ditandai oleh keterbatasan sarana/ prasarana dan kurangnya insentif ekonomi. Pemanfataan secara optimal potensi sumberdaya pertanian dan keunggulan kompetitif

komoditas pertanian, dikembangkan usaha pertanian dalam sutau sistem agribisnis yang utuh dan dalam kerangkia pembangunan berkelanjutan. Pada PJP II sektor pertanian harus dibangun menjadi suatu industri pertanian yang tangguh dan efisien. Industri pertanian berarti adanya "kesatuan terpadu" antara industri hulu, sistem usaha pertanian, agroindustri dan pemasraan dalam suatu sistem agribisnis. Melalui industri pertanian (agribisnis dan agroindustri) yang tangguh dan efisien sumberdaya pertanian memberikan nilai tambah lebih besar sesuai dengan potensi optimal yang ada. Pembangunan sentra agribisnis komoditas unggulan pada hakekatnya adalah kegiatan awal untuk memacu pembangunan ekonomi di suatu wilayah. Secara bertahap berkembangnya kegiatan produksi pertanian diupayakan untuk dapat diikuti oleh muncul dan berkembangnya kegiatan-kegiatan ekonomi terkait, baik secara horizontal maupun vertikal, serta pengadaan jasa-jasa di sekitarnya sehingga menumbuhkan dinamika perekonomian wilayah. Mulai TA 1996/1997 tampaknya pembangunan sentra agribisnis komoditas akan lebih didukung dengan mengerahkan kegiatan lintas sektoral maupun subsektor yang terfokus dan terintegrasi pada lokasi yang telah terpilih. Upaya terfokus ini dilaksanakan multi tahun, untuk mendukung dan menghantarkan petani dan masyarakat pelaku usaha agribisnis untuk mampu melakukan dan menjalin kegiatan-kegiatan agribisnis dengan kekuatan sendiri secara berkesinambungan. Berdasarkan analisis dan konsultasi dengan Instansi terkait di wilayah, dapat ditetapkan komoditas unggulan pepaya untuk wilayah Kecamatan Wajak. Untuk membangun sentra agribisnis tersebut diperlukan subsub kegiatan mulai dari penyediaan agro-input, teknologi budidaya, penanganan pascapanen buah hingga pemasaran, serta prasarana dan kelembagaan pendukung yang merupakan perpaduan berbagai bidang kerja yang berada pada kendali dari berbagai pihak, yaitu pemerintah dan masyarakat, termasuk pengusaha swasta, perorangan dan badan usaha. Untuk itu harus disusun rancang bangun multi tahun Sentra Pengembangan Agribisnis Komoditas Unggulan Pepaya (SPAKU PEPAYA). Agar pembangunan sentra agribisnis tersebut berhasil, kegiatan dan pendanaan yang tersebar secara parsial harus dapat dikoordinasikan dan dirangkai ke dalam suatu kegiatan yang saling bersambung, membentuk sistem agribisnis yang utuh. Untuk itu koordinasi perencanaan dan pengendalian sejak di tingkat propinsi hingga tingkat lokasi, yang menjamin terfokusnya berbagai sumberdaya dan dana untuk pengembangan sentra dimaksud merupakan aspek yang sangat penting. Sehubungan dengan hal itu peranan Pemerintah Daerah sebagai penguasa yang mengatur gerak pembangunan daerah sangat penting. Rancang bangun yang disusun ini memuat gambaran kondisi

saat ini, deskripsi sentra agribisnis yang akan diwujudkan, rincian kegiatan yang harus dilaksanakan, kontribusi yang harus diberikan setiap sektor, subsektor maupun institusi sektoral, subsektoral maupun institusi lainnya. Rancang bangun tersebut dilengkapi dengan mekanisme perencanaan, pelaksanaan, koordinasi dan pengendalian di tingkat lokasi hingga tingkat propinsi. Untuk itu keterlibatan seluruh instansi yang terkait, dalam penyusunan rancang bangun ini sangat penting. 1.2. Tujuan Pembuatan Rancang Bangun Sentra Agribisnis Komoditas Unggulan (SPAKU) Pepaya ini ditujukan untuk menyusun rencana induk serta rencana operasional multi tahun atas pengembangan sentra agribisnis komoditas unggulan pepaya, untuk memberi kekuatan awal, memfasilitasi dan memandu masyarakat setempat, hingga mampu menggerakkan agribisnis dengan kekuatan sendiri. Rancang bangun ini merupakan acuan bagi seluruh pihak yang harus berperan dalam pembangunan sentra tersebut. 1.3. Sasaran Penyusunan rencana menyeluruh atas lokasi pengembangan sentra komoditas unggulan pepaya di wilayah Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang ini menghasilkan dokumen rancang bangun yang memerlukan dukungan dan kesepakatan dari instansi terkait, dan memuat hal-hal sebagai berikut : a. Rancang Bangun atau Rancang Induk menyeluruh Sentra Agribisnis Komoditas Unggulan Pepaya yang memuat output, target grup, manfaat yang dihasilkan proyek, dilengkapi dengan disain fisik dan indikator pengukurnya. b. Rencana tahapan kegiatan hingga terwujudnya Sentra dimaksud, memuat rencana kegiatan sinergis lintas sektor, subsektor, program dan institusi, beserta volume fisik menurut tahapan per tahun anggaran. c. Rencana operasional rinci yang harus dilaksanakan oleh masingmasing instansi terkait. d. Mekanisme koordinasi perencanaan dan pengendalian di tingkat lokasi, Dati II, Dati I yang mengait dengan Tingkat pusat. 1.4. Lingkup Kegiatan Beberapa aspek yang dicakup dalam rancang bangun ini adalah sebagai berikut. 1.4.1. Penetapan Lokasi dan Sasaran Jenis Usaha Pemilihan lokasi didasarkan atas ketersediaan lahan, kesesuaian lahan serta agroklimatnya, kesiapan prasarana, ketersediaan tenaga kerja serta sumberdaya lain yang membentuk keunggulan lokasi yang bersangkutan (berdasarkan hasil studi Pewilayahan

Komoditas). Pemilihan komoditas utama dan penunjang serta jenis usahanya didasarkan atas potensi menghasilkan keuntungan, potensi pemasarannya, kesiapan dan penerimaan masyarakat atas jenis usahatani yang akan dikembangkan, serta keselarasan dengan kebijakan pemba-ngunan daerah. Untuk menduga unggulan wilayah serta komoditas yang akan dipilih dilakukan analisis kuantitatif dan kualitatif yang memperhatikan faktor-faktor ekonomi dan sosial. 1.4.2. Penentuan Kegiatan yang Dilakukan Penentuan kegiatan yang perlu dilakukan didasarkan atas analisis kondisi saat ini dan kondisi yang diinginkan, yang dirinci menurut komponen- komponen penting sistem agribisnis, yaitu target grup, ketersediaan dan kesesuaian lahan, dan prasarana nya, ketersediaan sarana produksi, kemampuan pengelolaan budidaya, penanganan pasca panen, pemasaran, dukungan prasarana dan kelembagaan. Dari analisis tersebut dapat diketahui upaya dan kegiatan yang diperlukan untuk sentra agribisnis, dalam satuan volume yang jelas. Keseluruhan kegiatan tersebut selanjutnya diuraikan menurut tahapan per tahun, disesuaikan dengan kondisi fisik lokasi, kondisi sosial ekonomi serta tingkat kemampuan masyarakat. Desain lokasi sentra tersebut harus dilengkapi dengan gambar fisiknya untuk mengetahui volume serta lokasi yang tepat atas pembangunan dan kegiatan fisik yang diperlukan. 1.4.3. Rincian Kegiatan Sinergis Lintas Sektoral Tahapan kegiatan tahunan tersebut selanjutnya diuraikan menurut program/proyek serta institusi yang harus memberikan kontribusi terhadap pembangunan sentra agribisnis pepaya. Secara garis besar hal ini dapat disajikan dalam bentuk matriks keterpaduan pengembangan Sentra Agribisnis Komoditas Unggulan Pepaya. Kegiatannya antara lain meliputi hal-hal berikut ini. 1. Pengembangan Budidaya Pengembangan budidaya pepaya dan tanaman komplementernya, diidentifikasi menurut volume fisik yang jelas. Garis besar kegiatannya meliputi persiapan lahan dan penyiapan petani, pelatihan usahatani, penyediaan agroinput & alat pertanian, dan penyelenggaraan penyuluhan. Pembinaan teknis budidaya, cara memanen dan cara untuk mempertahankan kualitas produk, perlakuan pasca panen 2. Pasca Panen dan Pemasaran Peningkatan ketrampilan teknis dalam penanganan pasca panen seperti cara memanen, mengumpulkan dan menyeleksi hasil

panen serta peralatan yang diperlukan untuk mempertahankan kualitas hingga cara pengolahan produk untuk meningkatkan nilai tambah serta meningkatkan kemampuan pemasaran, khususnya yang menyangkut produk buah-buahan. Untuk melaksanakan pembinaan dengan sarana yang tersedia di wilayah secara lebih optimal maka kerjasama dengan instansi perindustrian dan perdagangan setempat harus dilakukan. Sinergi kegiatan hanya dapat dicapai dengan koordinasi perencanaan dan pembagian tugas yang jelas. 3. Pembinaan Pengembangan Usaha Pertanian Kelompok kegiatan yang menyangkut peningkatan kemam puan mengelola usaha dan melaksanakan kemitraan dengan pedagang, eksportir maupun industri pengolahan pangan dilaksanakan melalui pembinaan Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA) ke arah terbentuknya koperasi petani pepaya, pembentukan Forum Komunikasi Agribisnis (FORKA), pelaksanaan temu-temu usaha, pelatihan kewirausahaan, dan peningkatan kemampuan BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) sebagai pusat konsultasi dan pelayanan agribisnis. 4. Kegiatan Penunjang a. Pelayanan Sarana Produksi Lembaga pelayanan ini (misalnya KUD) diperlukan untuk membantu penyediaan sarana produksi dan peralatan yang dibutuhkan para petani, pedagang dan pengolah untuk melaksanakan kegiatan usahanya. Pelayanan ini harus ada untuk menjamin ketersediaan sarana usahatani tepat waktu, jumlah dan harga yang wajar. Instansi pemerintah setempat harus mampu menciptakan iklim usaha dan memberikan dukungan agar koperasi atau pengusaha dapat menjalankan fungsinya secara wajar. Diperlukannya rekomendasi berbagai program insentif untuk mendorong tumbuhnya lembaga pelayanan, khususnya untuk lokasi yang terpencil. b. Pelayanan Informasi Teknologi Spesifik Lokasi Diidentifikasi jenis teknologi spesifik yang diperlukan untuk pembangunan sentra agribisnis. Pelayanan ini mencakup pemilihan kultivar dengan kualitas tinggi yang secara ekonomis dapat diproduksi di lokasi setempat, teknologi pembibitan, teknologi budidaya, pasca panen, pengolahan primer, sekunder hingga pengepakan buah segar maupun olahannya. Kerjasama penelitipenyuluh dalam hal alih teknologi kepada petani harus dilakukan secara intensif. c. Pelayanan Perlindungan Tanaman

Kegiatan perlindungan yang harus mengawali pelaksanaan sentra agribisnis terutama adalah pengawasan sebagai tindak preventif serta metode penanggulangan hama dan penyakit yang mungkin mengganggu tanaman, serta komoditas penunjangnya. Hal ini sangat penting untuk mencegah kerugian akibat kegagalan panen atau penurunan kualitas produk. Pelayanan ini dialokasikan pada proyek PSSP yang dikelola Dinas-dinas lingkup pertanian melalui Balai Perlindungan atau institusi lain. d. Pelayanan Pembibitan Penangkar bibit harus diarahkan untuk mengalokasikan sebagian kegiatannya mendukung pengembangan komoditas unggulan pepaya maupun komoditi penunjangnya (tanaman sela: jagung, kedelai, kacang tanah; tanaman pagar: sengon, melinjo, buah-buahan lain), pada wilayah sentra agribisnis. Kegiatan yang diperlukan beragam dan dirinci menurut volume dan jenis. Aspek ini mencakup pengadaan bibit, pengawasan dan sertifikasi bibit, serta pembinaan petani penangkar bibit, khususnya untuk tanaman unggulan serta komoditas penunjangnya. e. Pembinaan Penyuluhan BPP ditingkatkan kemampuannya agar dapat memberikan kontribusi sesuai dengan fungsinya, sebagai tempat bertanya, berlatih, berbagi pengalaman antar petani dan tempat pertemuan antara petani, pedagang dan pengelola agroindustri. Untuk itu perlu dipersiapkan sumberdaya manusia (SDM) serta perangkat keras dan lunak yang memadai untuk menjalankan fungsi pusat pelayanan agribisnis. f. Pengairan Sentra agribisnis memerlukan air untuk budidaya, pasca panen, dan kegiatan penunjang lainnya. Kebutuhan air bersih akan meningkat kalau telah terdapat kegiatan pengolahan, terutama dalam bentuk industri pengolahan pangan. Program pengairan yang dikelola oleh Departemen Pekerjaan Umum diminta untuk mengalokasikan kegiatan penyediaan sumber air (sumur atau embung) dan saluran pengairan untuk kawasan sentra ini. Koordinasi dengan Pemda dan instansi terkait sangat penting untuk mengarahkan kegiatan fisik yang tepat pada lokasi yang tepat pula. g. Transportasi Sarana transportasi sangat vital dalam membangun sentra agribisnis, dengan demikian program pembangunan sarana transportasi yang dikelola oleh Departemen Pekerjaan Umum dan Departemen Perhubungan harus mampu menjamin tersedianya prasarana jalan (jalan desa dan jalan kebun) serta fasilitas transportasi yang memadai di kawasan sentra produksi, yang

menghubungkannya pemasaran.

dengan

pusat-pusat

pelayanan

dan

h. Energi Energi diperlukan antara lain dalam proses penanganan pasca panen terutama untuk alat pengeringan, pengupasan, sortasi, pengo-lahan, perlakuan pemanasan, pendinginan dan sebagainya. Energi yang dibutuhkan dapat berupa listrik, bahan bakar minyak, gas atau bahan bakar dari limbah tanaman seperti daun, kayu dan ranting hasil pangkasan. i. Sarana dan Prasarana Pemasaran Sarana dan prasarana pemasaran, seperti tempat penampungan, alat-alat penyimpanan dengan fasilitas pendingin, alat-alat pengepakan, informasi harga serta fasilitas fisik pasar yang memadai, sangat vital dalam pengembangan sentra agribisnis. Kebutuhan fasilitas ini sangat beragam sesuai dengan komoditas unggulan komoditas penunjangnya. j. Lembaga Keuangan/Permodalan Tersedianya lembaga keuangan dan permodalan sangat penting bagi para pelaku usaha agribisnis, sehingga harus diusahakan di lokasi sentra atau lokasi yang sangat mudah dicapai dari kawasan sentra, dengan biaya transportasi dan biaya administrasi yang minimum. Kerjasama antara Pemda dengan instansi terkait diperlukan untuk menyediakan sumber modal yang dapat diakses dengan prosedur yang cepat dan murah. 5. Koordinasi dan Pengendalian Koordinasi operasional keseluruhan harus di tangan Pemerintah Daerah II melalui Bappeda maupun di tingkat lokasi. Koordinasi perencanaan sektoral, khusus pertanian dilakukan kegiatan monitoring dan evaluasi program pembangunan pertanian serta koordinasi lintas subsektor yang terkait.

II. METODOLOGI 2.1. Batasan Istilah 2.1.1. Rancang Bangun Rancang bangun adalah rancang bangun multi tahun komoditas pepaya di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, kegiatannya meliputi komoditas unggulan dan komoditas penunjangnya serta pembangunan kegiatan lainnya yang serasi dan dibutuhkan

sehingga pembangunan wilayah agroekosistem dengan komoditas unggulannya akan dapat mencapai sasaran, yaitu peningkatan kesejahteraan petani dan pertumbuhan ekonomi wilayah. 2.1.2. Sentra Pengembangan Sentra Pengembangan adalah suatu hamparan komoditas pepaya berskala ekonomi di suatu wilayah agroekosistem, dimana wilayah tersebut dilengkapi dengan sarana- prasarana yang dibutuhkan, kelembagaan, pengolahan/pemasaran, dan sektor lain yang menunjang perkembangan dari sentra komoditas tersebut. 2.1.3. Komoditas Andalan Komoditas andalan adalah sejumlah komoditas yang dapat dibudidayakan/ dikembangkan di suatu wilayah Kabupaten berdasarkan analisis kesesuaian agroekologi (tanah dan iklim). 2.1.4. Komoditas Unggulan Komoditas unggulan (misalnya pepaya) adalah salah satu komoditas andalan yang paling menguntungkan untuk diusahakan/dikembangkan di suatu wilayah yang mempunyai prospek pasar dan peningkatan pendapatan/kesejahteraan petani dan keluarga serta mempunyai potensi sumberdaya lahan yang cukup besar. 2.1.5. Komoditas Penunjang Komoditas penunjang ialah komoditas-komoditas lain yang dapat dipadukan pengusahaannya dengan komoditas pokok (unggulan) yang dikembangkan di suatu lokasi/sentra komoditas unggulan dalam rangka optimalisasi pemanfaatan sumberdaya (lahan, tenaga kerja, sarana/prasarana) dan peningkatan pendapatan petani melalui peningkatan produksi maupun keterpaduan pengusahaannya akan meningkatkan efisiensi/saling memanfaatkan. 2.1.6. Agribisnis Agribisnis merupakan suatu kegiatan penanganan komoditas secara komprehensif mulai dari hulu sampai hilir (pengadaan dan penyaluran agroinput, proses produksi, pengolahan dan pemasaran). 2.1.7. Sekala ekonomi Agribisnis Komoditas Unggulan Suatu luasan/besaran usahatani komoditas unggulan yang dapat menghasilkan volume produksi tertentu untuk memenuhi kebutuhan pasar/agroindustri (skala kecil/sedang/besar) di wilayah agroekosistem tertentu. 2.2. Analisis Pengkajian Komoditas

2.2.1. Seleksi Komoditas Seleksi komoditas dilakukan untuk mendapatkan alternatif komoditas (unggulan dan penunjangnya) yang sesuai dikembangkan di suatu wilayah dengan lingkungan tumbuh tertentu. Inventarisasi dimulai dari jenis- jenis komoditas yang banyak diusahakan oleh rakyat, kemudian baru merambah kepada jenis-jenis komoditas yang belum dikenal. Kriteria yang digunakan sebagai dasar seleksi bertumpu pada aspek agroteknologinya untuk dikembangkan lebih lanjut, potensi pasarnya baik domestik maupun ekspor, nilai tambah ekonomi bagi petani, serta dampaknya terhadap kesempatan kerja dan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Dari seleksi ini akan didapatkan beberapa komoditas terpilih baik berupa tanaman pangan, perkebunan, maupun tanaman hortikultura. 2.2.2. Analisis Budidaya dan Pengkajian Kelayakan Usaha Uraian tentang profil komoditas meliputi gambaran tentang persyaratan tumbuh, penyebaran komoditas saat ini, teknik budidaya yang cukup memadai dan tingkat kelayakan usahanya. Untuk beberapa komoditas tertentu juga dapat disajikan profil industri pengolahan, baik dari aspek teknis, investasi maupun prospek pasarnya. Tujuan pengkajian profil ini terutama untuk mendapatkan informasi yang akan digunakan sebagai masukan guna mengadakan estimasi terhadap dampak pengembangan komoditas yang terutama akan menggunakan tolok ukur penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan petani dan kelestarian fungsi lingkungan. Disamping itu informasi yang diperoleh dari profil komoditas diharapkan dapat digunakan sebagai indikator awal tentang kelayakan usahataninya. Hal ini akan bermanfaat bagi investor, perbankan, para perencana serta pelaksana kebijakan. Namun demikian sesuai dengan makna sebuah "profil" maka informasi yang disajikan masih memerlukan penelitian dan pengkajian yang lebih rinci atau lebih dalam lagi dari berbagai segi sebelum dapat digunakan untuk penerapannya. Uraian tentang teknik budidaya meliputi persiapan tanam, pemeliharaan pertanaman, sampai dengan pemungutan hasil. Berdasarkan pada teknologi budidaya yang diterapkan di lapangan saat ini, dengan penyesuaian ke arah paket teknologi rekomendasi/anjuran. Selain itu pemilihan teknologi didasarkan pada kemampuan produsen, baik dari segi managerial maupun praktikalnya. Pertimbangan yang sama juga berlaku bagi industri pengolahan dengan memper hatikan skala ekonomi yang memadai dan kemungkinan tersedianya bahan baku. Modal usahatani maupun industri pengolahan diasumsikan berasal dari sistem perbankan formal, sehingga tingkat bunga harus disesuaikan. Periode analisis finansial bervariasi sesuai dengan satu siklus umur produktif tanaman dengan luasan satu hektar. Untuk

10

mengetahui tingkat kelayakan usahanya digunakan beberapa alternatif tolok ukur seperti pendapatan, B/C, R/C, NPV dan IRR. 2.2.3. Strategi Analisis Untuk memudahkan analisis dan evaluasinya, maka penelaahan Sistem Agribisnis Komoditas Unggulan dibagi menjadi tujuh bidang yaitu: (1). Kesesuaian Lingkungan Tumbuh Untuk dapat berproduksi secara baik tanaman harus tumbuh pada daerah yang sesuai dengan syarat tumbuhnya. Tiga faktor lingkungan tumbuh yang dianggap paling berperan dalam pembudidayaan tanaman adalah kualitas tanah (dapat dibedakan menjadi Tanah kapur dan Tanah Vulkanik), Curah hujan (Daerah basah dan Daerah kering) dan Ketinggian tempat (Dataran rendah, Dataran Menengah dan Dataran Tinggi). (2). Pewilayahan Daerah Penyebaran Setelah diketahui syarat lingkungan tumbuh tanaman, maka perlu juga ditentukan wilayah yang kondisi lingkungannya memung kinkan untuk pengembangannya. Sehingga sentra produksi yang selama ini hanya terletak pada wilayah tertentu, lokasinya dapat diperluas. Hal ini membuka peluang untuk meningkatkan kesempatan menciptakan lapangan kerja. (3). Paket Teknologi Budidaya dan Kondisi SosioTeknologi Produktivitas tanaman dapat tercapai dengan baik apabila dibudidayakan dengan cara yang benar. Meskipun pemilihan lokasi sudah sesuai dengan syarat lingkungan tumbuh, namun apabila sistem budidaya yang diterapkan tidak tepat, maka produksi tanaman tidak akan sesuai dengan potensi yang ada. Oleh karena itu untuk optimasi produksi diperlukan penerapan teknologi budidaya secara terpadu mulai dari persiapan tanam sampai pasca panen. Usaha-usaha yang dapat ditempuh meliputi, pengolahan tanah, penggunaan benih/bibit bermutu, sistem tanam, pemeliharaan tanaman dan pemungutan hasil. (4). Penanganan Pasca panen dan Industri Pengolahan Fluktuasi harga komoditas tidak dapat sepenuhnya ditentukan dengan pasti oleh petani produsen. Hal ini sangat tergantung kepada mekanisme pasar. Pada saat pasar kekurangan stok, harga komoditas pertanian melojak tinggi, namun sewaktu terjadi panen raya, harga akan turun drastis. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan teknologi pasca panen yang mampu mengubah bahan mentah menjadi bahan olah yang tahan lama.

11

(5). Analisis Finansial dan Ekonomi Pertama kali yang mendorong petani melakukan usahatani adalah tingkat pendapatan (income) yang dapat diperoleh per luasan areal yang diusahakan per satuan waktu. Semakin tinggi keuntungan yang diperoleh, maka minat petani untuk mengusahakan akan semakin tinggi pula. Oleh karena itu pemilihan jenis komoditas yang diusahakan akan sangat ditentukan oleh analisis usahataninya. (6). Pemasaran Hasil Disamping analisis usahatani, faktor lain yang sangat menentukan minat petani untuk melakukan usahatani adalah masalah pemasaran, terutama yang berkenaan dengan efisiensi pemasaran, peluang pasar, dan perimbangan supply/demand. Meskipun nilai keuntungan yang diperoleh petani tinggi, namun apabila pemasaran hasil sulit dilakukan, maka petanipun akan enggan untuk mengusa hakan. Kesulitan ini dapat dikurangi dengan cara memperbaiki kualitas atau mengembangkan komoditas yang dapat digunakan sebagai bahan baku industri. (7). Analisis kelembagaan Tujuan dari analisis ini ialah untuk merekayasa kelembagaan sosial-ekonomi di tingkat pedesaan yang mampu menunjang penerapan Konsep SPAKU. Hasil yang diharapkan ialah rancangan kelembagaan sosial dan kelembagaan ekonomi di tingkat pedesaan yang dapat diakses oleh petani dan Kelompok Tani, serta dapat mengakses kelembagaan pada hierarkhi yang lebih tinggi. Pada setiap tahap pengusahaan (usahatani) komoditas andalan, pemasaran dan pengolahannya diperlukan lembaga sosialekonomi sebagai suatu wadah, pola organisasi dan atribut yang dibutuhkan oleh para petani untuk dapat melakukan fungsinya. Lembaga sosial dapat dibedakan dengan organisasi atau seringkali disebut dengan istilah lembaga non-formal dan lembaga formal. Lembaga sosial timbul karena kebutuhan masyarakat, berakar pada norma sosial dan peralatan yang dimiliki oleh masyarakat; sedangkan organisasi pada umumnya dibentuk dengan tujuan tertentu, dengan kegiatan anggota yang saling mengisi dan tunduk pada aturan-aturan yang dibuat, agar bagian-bagian yang ada dapat berfungsi efektif. Dalam konsep struktur pedesaan progresif sebagaimana dikemukakan Mosher (1976), lokalitas usahatani dikemukakan pula sebagai salah satu modal yang dapat diterapkan untuk pencapaian tujuan. Beberapa komponen pokok dan penunjang adalah adanya sarana kelembagaan yang menunjang dan pentingnya pendidikan pembangunan bagi petani dalam proses transfer teknologi. Suatu bentuk kelembagaan dengan ikatan-ikatan dan hubungan sosial-ekonomi berdasarkan kebutuhan masyarakat

12

diperlukan dalam penanganan Sistem Agrikoman sehingga memberikan manfaat dan memungkinkan keterlibatan penuh anggota-anggotanya. Menemukan lembaga-lembaga tradisional yang tumbuh dalam komunitas pedesaan khususnya dalam pengusahaan komoditas andalan, sejak penanaman, pertanahan, pengerahan tenaga kerja, perkreditan, panen dan pengolahan serta pemasaran hasil merupakan langhkah awal dalam upaya rekayasa dan peningkatan fungsi kelembagaan tersebut. Selanjutnya, keberhasilan dalam produksi menuntut adanya bentuk- bentuk kelembagaan yang lebih besar dan berorientasi ekonomis sehingga mampu mengelola sistem pertanian secara lebih efisien . Sebagaimana telah diberlakukan dalam pengelolaan tanaman pangan dan tanaman perkebunan, di pedesaan telah diintroduksi pola-pola hubungan pertanian kontrak, BIMAS, dan PIR, yang melibatkan Kelompok Tani, KUD, lembaga penyuluhan, lembaga pengolahan hasil (INDUSTRI pengolah hasil, dll.) dan lembaga pemasaran. Masing-masing model pengembangan kelembagaan tersebut dalam penerapannya mempunyai kelemahan dan keunggulan. Dalam konteks pertanian lahan kering terdapat kelompok tani lahan kering dengan aktivitasnya meliputi konservasi lahan dan manajemen produksi pertanian. Agar kelompok tani yang ada dapat ditingkatkan fungsi dan peranannya diperlukan lembaga penunjang yang lebih luas khususnya dalam pengolahan hasil dan pemasaran. 2.3. Strategi Penanganan SPAKU Sebagaimana dijelaskan dalam bagian sebelumnya, penyusunan konsep penanganan SPAKU dilandasi dengan pendekatan "Agrosistem" dengan tiga aspek utamanya, yaitu aspek teknis-teknologi (termasuk pertimbangan bio-fisik), aspek ekonomi-bisnis, dan aspek sosial-budaya (termasuk kelembagaan penunjang). 2.3.1. Penetapan Komoditas Unggulan Suatu tanaman akan tumbuh dan berkembang dengan baik di suatu lahan pertanian apabila kondisi lahan tersebut memenuhi syarat. Masing-masing daerah mempunyai ciri khusus tentang macam komoditas yang dikembangkan. Selain kondisi lingkungan yang sesuai tentunya pengembangan komoditas juga harus mempertimbangkan tingkat keuntungan yang dapat dipetik. Kepentingan ini dapat direncanakan sejak dini, misalnya dengan membuat peta wilayah komoditas pada masing-masing daerah yang akan dikembangkan. (a). Pendekatan ekonomi wilayah Pendekatan ini dilakukan dengan cara menentukan jenis

13

tanaman yang secara ekonomi layak untuk dikembangkan dan dibudidayakan. Pewilayahan tanaman yang dilakukan berdasar kepada keuntungan atau nilai tambah yang diterima petani dalam upaya meningkatkan pendapatan perkapita. Dengan kata lain tanaman tersebut menguntungkan petani apabila dibudidayakan. Analisis ini diperoleh dari selisih antara investasi yang ditanam dari usaha tersebut dengan hasil yang diperoleh. Dari sektor-sektor usaha yang berkembang di masyarakat akan terpilih beberapa sektor dominan yang layak untuk ditangani lebih serius, karena memberikan prospek baik. Berdasarkan pendekatan ini dari seluruh sektor yang ada di masyarakat yaitu, tanaman pangan dan hortikultura, tanaman perkebunan, tanaman hutan, peternakan, industri,perdagangan, angkutan, jasa , tambang, ada lima sektor yang berperan dan sangat menentukan tingkat pendapatan perkapita petani meliputi ; sektor peternakan, industri, pertanian tanaman pangan dan hortikultura, tanaman perkebunan serta tanaman hutan. Dari lima sektor tersebut, masing-masing daerah mempunyai prioritas yang berbedabeda. Ini dikarenakan adanya perbedaan daya dukung lahan serta alam di lokasi tiap-tiap wilayah. Di wilayah pedesaan, biasanya terdapat dua sektor paling doniman yang mampu memberikan sumbangan terbesar bagi pendapatan petani yaitu subsektor sektor pertanian tanaman bahan makanan dan subsektor peternakan. Dua sektor tersebut masingmasing memberi sumbangan sebesar 60-80 % dan 20- 40% dari pendapatan petani. Dari hasil pengamatan didapatkan jenis komoditas yang secara ekonomi berkembang di masyarakat dan banyak diusahakan oleh petani sebagai tumpuhan hidup mereka, baik tanaman pangan dan hortikultura maupun tanaman perkebunan; diantaranya : padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kedelai, kacang tanah, cabe, kelapa dan kapok randu. Sedang di sektor peternakan nampaknya kambing dan sapi lokal merupakan primadona peternakan yang perlu mendapatkan perhatian lebih serius. Hal ini disamping sapi dikem bangkan untuk menambah pendapatan petani juga dimanfaatkan sebagai sumber tenaga pengolah tanah pertanian. (b). Pendekatan Ekologi Wilayah Pendekatan ini didasarkan pada kesesuaian komoditas pertanian untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di suatu daerah. Untuk menentukan jenis komoditas yang mampu berkembang, selain berdasar kepada komoditas yang sudah ada tidak menutup kemungkinan mengembangkan jenis komoditas yang secara ekologis sesuai. Penentuan jenis komoditas yang sesuai untuk dikembangkan di suatu wilayah dilakukan dengan cara pendekatan secara ekologis yaitu dengan cara melihat syarat tumbuh bagi masing-masing komoditas dan juga melihat kondisi

14

wilayahnya. Dari kedua faktor ekologis yang berperan menetukan tingkat kesesuaian lahan yaitu konsidi wilayah dan syarat tumbuh yang dibutuhkan setiap komoditas, akan diperoleh informasi tentang jenis komoditas yang secara ekologis sesuai untuk dikembangkan. Berdasarkan hasil analisis secara ekologis jenis komoditas yang dapat tumbuh dengan baik pada kondisi lahan kering a.l. : padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, cabe, kelapa, mangga, rambutan, melinjo , jeruk, jambu mete dan kapok randu. Dengan diketahuinya jenis komoditas yang secara ekomonis lebih menguntungkan atau lebih menguntungkan di antara komoditas lain yang sudah ada dan secara ekologis daerah tersebut sesuai (baik syarat tumbuh maupun kondisi wilayah bersangkutan), maka komoditas-komoditas tersebut perlu segera dikembangkan. Dengan demikian sasaran untuk meningkatkan tarap hidup petani akan tercapai. Di samping itu program pengembangan ini dapat dipadukan dengan program pertanian berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Artinya dari hasil pemetaan akan didapatkan jenis komoditas yang secara agroekologi dapat dikembangkan dengan baik, dapat meningkatkan kesuburan tanah atau bahkan menunjang upaya konservasi lahan. 2.3.2. Kelembagaan Untuk memperlancar program pengembangan SPAKU yang sudah terencana, setelah diketahuinya komoditas andalan yang akan dekembangkan, diperlukan langkah-langkah yang harus dilaksanakan. Paket pengembangan program harus tersusun secara sistematis sehingga tahapan pelaksanaan dapat berjalan dengan baik, mulai dari persiapan sampai usaha tersebut menghasilkan sesuatu. (a). Penentuan Kelompok Sasaran (KUBA) Program pengembangan ini tentunya dapat diproiritaskan bagi petani yang kurang mampu, dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraannya. Dasar pertimbangannya adalah bahwa petani tersebut biasanya kurang berani mengambil resiko kegagalan dan menanamkan modal untuk usaha yang belum pernah ditekuni. Disamping itu petani tersebut kurang mampu untuk mencari modal yang cukup besar untuk usahataninya. Penentuan kelompok sasaran ini dapat dilakukan dengan cara seleksi yang mendasarkan kepada beberapa kriteria yang dapat digunakan sebagai tolok ukur taraf hidup petani. Kriteria pemilihan berpedoman kepada beberapa fasilitas sarana fisik yang dimiliki seperti, pemilikan ternak, alat transport, luas lahan, rumah serta status pekerjaan. Apabila petani tersebut lolos dari persyaratan minimal yang diajukan maka tidak memenuhi syarat sebagai petani kurang mampu, sehingga tidak mendapatkan prioritas bantuan dan sebaliknya.

15

Sistem pengelolaan Usaha kelompok masyarakat miskin harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dengan harga yang bersaing. Untuk tujuan tersebut, maka Kelompok masyarakat miskin harus dirangsang berupa pelayanan yang baik. Usaha ini dapat dilakukan apabila telah mempunyai ketrampilan yang memadai dalam proses produksi , kebijakan dalam investasi, pembelian, pemasaran dan pengelolaan keuangan. Usaha Pemerintah untuk mengembangkan usaha ini dapat dilakukan melalui : bimbingan, pelatihan, permodalan, sarana dan prasana serta bantuan perluasan jangkauan pemasaran. Disamping itu usaha tersebut seyogyanya pula mempunyai mitra usaha dari perusahaan besar baik milik Pemeritah maupun swasta. Untuk menunjang kegiatan tesebut intervensi pemerintah juga diharapkan pada pengembangan infrastruktur Berdasarkan kenyataan bahwa suatu usaha adalah suatu investasi bisnis, maka prinsip kelayakan usaha juga harus menjadi pertimbangan. Prinsip-prinsip tersebut adalah : (1). Kelayakan Usaha Berdasarkan Finansial, meliputi: Comparative & Competitive advantages, enterprise choice cabang usaha, Opportunity cost, dan Economic of scale. (2). Kelayakan Usaha Berdasarkan Managerial, meliputi : Sistem pengorganisasian, model kredit begulir, model pembinaan, model pelunasan pinjaman, sistem keterkaitan dengan mitra usaha, dll. (3). Kelayakan Usaha Berdasarkan Sosial, meliputi : respon ma syarakat, Partisipasi, dan daya jangkau kebutuhan masyarakat. (b). Penyuluhan Mengingat tingkat pengetahuan petani lahan kering di wilayah pedesaan miskin sangat terbatas, khususnya mengenai hal-hal yang mesih dianggap baru, maka petani harus diperkenalkan dengan teknologi budidaya tanaman tersebut. Pengenalan IPTEK baru ini meliputi beberapa aspek baik teknis maupun non teknis. Hal-hal yang bersifat teknis misalnya teknologi budidaya yang perlu diperhatikan mulai dari penyediaan bibit atau bahan tanam, pemupukan, pemeli haraan tanaman sampai kepada pasca panennya. Hal yang bersifat noon teknis misalnya manfaat tanaman bagi peningkatan pendapatan, prospek tanaman untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun peluangnya untuk ekspor dan sebagainya. Dengan demikian petani akan terbuka wawasannya dan mempunyai minat besar untuk mengembangkan komoditas tersebut. (c). Penyediaan bahan tanam/Bibit Salah satu aspek yang menentukan berhasil tidaknya suatu usahatani adalah tersedianya bahan tanam baik berupa bibit maupun benih. Kesalahan dalam memilih bahan tanam tersebut

16

banyak yang mengakibatkan kerugian yang membawa akibat fatal bagi petani. Sebagai contoh, kalau seandainya petani ingin menanam kelapa, sementara mereka tidak memperhatikan bibit yang digunakan sebagai bahan tanam, maka kesalahan penggunaan bibit ini akan baru dirasakan setelah menunggu selama 5 - 7 tahun berikutnya. Sehingga petani disamping rugi dengan biaya yang dikeluarkan, juga akan rugi waktu. Karena mereka bersusah payah menunggu sampai bertahun-tahun akhirnya tanaman yang diusahakan tidak memuaskan. Sistem penyediaan bahan tanam dapat ditempauh melalui dua cara yaitu pertama dengan cara mendatangkan bibit atau benih dari penyalur resmi dan kedua melalui kebun bibit yang didirikan oleh masyarakat setempat. Penyediaan bibit atau benih dengan cara pertama tidak banyak mengalami kesulitan, namun memerlukan biaya yang tinggi. Lain halnya apabila usaha pengadaan benih atau bibit ini dilakukan oleh masyarakat setempat. Secara ekonomi hanya memer lukan biaya yang relatif kecil, namun secara teknis lebih sulit. 2.4. DATA DAN ANALISIS 2.4.1. Data dan Informasi Data dan informasi yang akan dikumpulkan meliputi: a. Data Biofisik 1. Sumberdaya Lahan: Kualitas dan karakteristik lahan yang diperlukan untuk keperluan evaluasi kesesuaian lahan 2. Sumberdaya air: Curah hujan, aliran sungai, sumber air . 3. Agroklimat: temperatur udara, dan data-data meteorologi dari stasiun terdekat. 4. Sumberdaya Biologi: flora dan fauna, termasuk tanaman budidaya, dan ternak. b. Data Ekonomi 1. Ekonomi wilayah: sumberdaya dan sektor ekonomi yang potensial di tingkat kecamatan / desa; matapencaharian penduduk dan sumber pendapatan rumahtangga 2. Usahatani tanaman dan ternak: Struktur dan perilaku usahatani 3. Kelembagaan ekonomi/finansial: koperasi/KUD, lembaga keuangan pedesaan/pelayanan permodalan, pengolahan/ pemasaran hasil dan saprodi. 4. Data penunjang lainnya c. Data Kelembagaan Sosial-Budaya 1. Pola panutan masyarakat dan stratifikasi sosial/kelompok tani 2. Perilaku kelembagaan dan mekanisme transfer informasi dan IPTEK: Penerangan masyarakat, penyuluhan, komunikasi

17

massa dan interpersonal. 3. Data penunjang lainnya. d. Data agroteknologi: 1. Teknologi produksi tanaman dan ternak yang dikuasai petani dan yang terdapat di pusat/lembaga inovasi terdekat. 2. Teknologi konservasi sumberdaya lahan dan air 3. Teknologi pengelolaan lingkungan hidup. e. Data Agroindustri/industri rumahtangga/kerajinan rakyat: 1. Penanganan pascapanen dan pengolahan hasil tanaman dan ternak 2. Teknologi produksi/pengendalian kualitas produk non-farm 3. Promosi dan pemasaran hasil.

18

III. POTENSI PENGEMBANGAN KOMODITAS PEPAYA 3.1. PENGEMBANGAN TANAMAN BUAH-BUAHAN Pengembangan tanaman hortikultura dalam Pelita VI mengacu kepada tujuan pembangunan sub sektor pertanian tanaman pangan dan hortikultura yang diarahkan untuk mewujudkan pertanian yang tangguh dan efisien, sehingga mampu (a) menghasilkan pangan dan bahan mentah yang cukup bagi pemenuhan kebutuhan rakyat, (b) memelihara kemantapan swasembada pangan, (c) memperbaiki keadaan gizi masyarakat melalui penganekaragaman jenis bahan pangan, (d) meningkatkan produktivitas dan efisiensi serta kualtas sumberdaya manusia, (e) meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani, (f) memperluas kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, (g) mengisi dan memperluas pasar dalam negeri dan luar negeri, dan (h) menciptakan keterkaitan dan keterpaduan dengan sektor industri dan jasa menuju terbentuknya jaringan kegiatan agribisnis dan agroindustri yang produktif (Adjid, 1993). Peningkatan konsumsi buah-buahan masyarakat sangat penting. Rataan konsumsi buah-buahan saat ini masih sangat rendah, baru mencapai sekitar 53.9% dari anjuran gizi, yaitu 32.6 kg per kapita per tahun (tahun 1978). Keadaan seperti ini ternyata masih belum mampu dipenuhi oleh produksi buah domestik, sehingga masih terjadi impor buah-buahan yang cukup besar. Impor buahbuahan yang terlalu banyak dikhawatirkan tidak merangsang petani untuk mengusahakan mkomoditi buah-buahan, sehingga diberlakukanlah kebijaksanaan pembatasan impor buah-buahan (SK Menteri perdagangan dan Koperasi Nomor 505/KP/XII/1982). Setelah itu jumlah impor buah-buahan menurun dan sekaligus diikuti oleh peningkatan produksi dalam negeri dan ekspor. Dalam kurun waktu lima tahun setelah pembatasan impor, rata-rata produksi buah-buahan meningkat sebesar 3.56% dan diikuti dengan meningkatnya ekspor buah-buahan hingga mencapai 57.83% serta menurunnya impor sebesar 39.76%. Hal ini menunjukkan bahwa pembatasan impor buah-buahan berdampak positif dalam pengembangan buah-buahan di Indonesia. Peningkatan ekspor buah-buahan terutama terjadi pada komoditi mangga, manggis, durian, pisang, pepaya, rambutan, nenas, alpokad, dan melon (Tabel 3.1); serta ekspor buah olahan seperti nenas, jambu biji, pepaya, sirsak, markisa, pisang, rambutan, salak, nangka dan anggur (Tabel 3.2). Tantangan dalam pengembangan komoditi buah-buahan akan menjadi semakin berat kalau pembatasan impor buah-buahan ditiada kan. Dalam kondisi seperti ini pengembanan buah-buahan dalam negeri dituntut untuk lebih dapat bersaing dengan produksi

19

buah-buahan impor. Menurut Soerojo (1993) dalam PJP II peranan komoditi hortikultura buah-buahan akan terus ditingkatkan melalui pengembangan agribisnis dan agroindustri, sehingga nilai tambah produk buah-buahan dalat lebih ditingkatkan. Pemerintah memberikan pelu ang yang lebih besar bagi pihak koperasi dan suasta untuk berusaha di bidang agribisnis buah-buahan, terutama komoditas pesuplai bahan baku industri, ekspor, substitusi impor dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. Untuk itu diperlukan strategi pengembangan buah-buahan yang baru untuk menjawab tantangan tersebut. Tabel 3.1. Perkembangan ekspor buah segar Indonesia
Komoditi 1. 2. 3. 4. 5. 6. Mangga Durian Pisang Pepaya Rambutan Jeruk 1990 573 272 155 109 108 Fisik (ton) 1993 1503 331 24917 2 202 308 Nilai FOB (US $ 000) 1990 1993 579 1707 156 274 282 3301 88 2 158 317 112

Sumber: Direktorat Bina Produksi Hortikultura dan BPS Tabel 3.2. Perkembangan ekspor buah olahan Indonesia
Komoditas Fisik (ton) 1990 1. Buah & kulit dalam gula 2. Nanas dalam sirup 3. Grape fruit juice 94 7149 192 1993 4964 99742 10936 Nilai FOB (US $ 000) 1990 63 4086 96 1993 1694 49983 21392

Sumber: Direktorat Bina Produksi Hortikultura dan BPS Menurunnya impor buah-buahan terutama terjadi pada buah jeruk, apel, anggur, pear, jeruk mandarin, kurma kering, dan anggur kering (Tabel 3.3).

20

Tabel 3.3. Perkembangan impor buah-buahan


Komoditas Fisik (ton) 1990 179 249 2178 1407 1617 1993 22791 7453 25454 7044 ? Nilai CIF (US $ 000) 1990 218 427 1490 892 352 1993 23836 8517 21705 5529 ?

1. 2. 3. 4. 5.

Jeruk Anggur Apel Pear Kurma

Sumber: Direktorat Bina Produksi Hortikultura (1987) dan BPS (1991) Potensi Produksi Potensi riil komoditi buah-buahan penting di Jawa Timur selama beberapa tahun terakhir terus meningkat (Tabel 3.4). Komoditi buah yang terus berkembang yaitu mangga, pisang, nenas, pepaya, apel, rambutan, dan salak. Walaupun demikian ternyata masih harus terus ditingkatkan untuk memenuhi pasar domestik dan ekspor.

Tabel 3.4. Produksi komoditi buah-buahan di Jawa Timur


Komoditi 1. Alpokad 2. Anggur 3. Apel 4. Durian 5. Jeruk besar 6. Jeruk Keprok 7. Jeruk manis 8. Jeruk Siem 9. M Arumanis 10. Mangga Golek 11. M lainnya 12. Nanas 13. Pepaya 14. Pisang 15. Rambutan Luas areal panen (pohon) 1983 862.833 23.192 6891.333 398.904 783.255 1220.912 339.115 580.873 709.970 742.877 3089.693 76743.132 27688.817 89149.513 1744.544 1990 1005.528 51.112 3831.149 701.677 951.178 2590.266 652.115 1498.809 2567.210 1622.179 5467.763 386852.33 4 38183.003 163105.03 7 2893.564 Produksi buah (ton) 1983 32.635 900 138.425 15.852 18.527 23.031 9.139 13.144 21.324 16.091 105.205 112.800 719.836 898.371 70.520 1990 44.867 2.552 152.213 67.882 85.760 73.238 25.839 136.700 178.832 77.897 318.217 427.035 972.131 3121.930 171.965

Sumber: Diperta Jawa Timur

21

Ekologi Tanaman Kapabilitas sumberdaya lahan dan kondisi agroekologi di suatu wilayah pengembangan sangat beragam, sehingga memungkinkan aneka jenis tanaman buah-buahan untuk tumbuh dan berproduksi. Oche (1975) telah berupaya mengelompokkan kesesuaian komoditi buah- buahan berdasarkan kondisi agroekologi wilayah menjadi empat, yaitu zone rendah kering, zone remdah basah, zone tinggi kering, dan zone tinggi basah (Tabel 3.5). Sedangkan Terra (1955) mengelompokkan kesesuaian komoditi buah-buahan berdasarkan ketinggian tempat dan iklim (Tabel 3.6). Hubungan antara kondisi sumberdaya lahan dengan respon tanaman dalam upaya pengelolaan lahan akan menentukan tingkat produktivitas lahan. Berbagai teknik telah dikembangkan untuk memperkirakan tingkat produktivitas lahan melalui proses evaluasi kesesuaian lahan. Hasil evaluasi ini sangat penting dalam rangka perencanaan penggunaan dan pengelolaan sumberdaya lahan. Tabel 3.5. Pengelompokkan Tanaman buah-buahan
Ketinggian tempat (m dpl) Tinggi (>700 mdpl) Iklim Schmidt dan Ferguson: Basah (Tipe A; B; C) Markisa; Jeruk sieam Kasemek; Alpokad Jeruk nipis; Nangka Pepaya; Sawo Pisang Ambon; Sirsak Pisang Tanduk; Jambu Biji Jeruk keprok Rambutan; Jeruk siem Durian ; Jeruk keprok Duku ; Jeruk manis Mangga ; Alpokad Salak ; Sirsak Nanas ; Jambu biji Blimbing manis;Nangka Pepaya ; Sawo Pisang Ambon; Sukun Pisang Raja; Jeruk besar Pisang Tanduk Kering (Tipe D; E; F) Apel; Jeruk Lengkeng; Alpokad Pisang Ambon; Sirsak Pisang Lumud; Jambu Biji Nenas; Nangka Strawberry; Sawo Jeruk keprok Mangga; Jeruk keprok Anggur ; Alpokad Langsat ; Jeruk manis Manggis ; Jambu Biji Blimbing; Sirsak Salak ; Nangka Pepaya ; Sawo Pisang Ambon; Jeruk Besar Pisang Kepok; Nenas

Rendah (< 700 m dpl)

Sumber: Direktorat Bina Produksi Hortikultura.

22

Tabel 3.6. Syarat tumbuh ketinggian tempat dan Iklim


No. Jenis Tanaman 1. Alpokad 2. Blimbing manis 3. Jambu Biji 4. Jeruk Besar 5. Jeruk Keprok 6. Jeruk Nipis 7. Jeruk Manis 8. Jeruk Siem 9. Duku 10. Durian 11. Juwet 12. Mangga 13. Manggis 14. Nangka 15. Rambutan 16. Sawo 17. Sirsak 18. Klengkeng 19. Pepaya 20. Pisang 21. Salak Tinggi tempat m dpl 0-1000 0- 500 0-1000 0- 400 0-1200 0-1000 0-1000 0- 700 0- 650 0- 800 0- 500 0- 300 0- 800 0-1000 0- 600 0- 700 0- 500 300-900 0- 700 0- 800 0- 400 Iklim Schmidt & Ferguson: A A-bcd A-abcd A-abcd A-bcd B2-bcd A-abcd A-bcd A-bcd A-abcd A-bcd A-bcd A-abcd A-bcd A-bcd A-abcd A-abcd A-bcd A-abcd A-abcd A-abcd B B-bc B-abc B-abcd B-bc B-bcd B-abc B-bcd B-bc B-abc B-bcd B-bc B2abcd B-ab B-bcd B-bcd B-abcd B-abc B-bc B-abc B-abc B-abc C C-bc C-abc C-abc C-bc C-abc C-bc C-ab C-bc C-abc C-ab C-bc D D-bcd D-bc D-abc -

C-abc C-ab C-ab C-ab

Sumber: Direktorat Bina Produksi Hortikultura, 1987 Keterangan: Kedalaman air tanah: a = < 50 cm; b = >50-150 cm; c >150-200 cm; d = sangat dalam. Iklim: A1 = 12 bulan basah dan 0 bulan kering A2 = < 12 bulan basah dan 0 bulan kering B1 = 12 bulan basah dan 1 bulan kering hingga 9-10 bulan basah dan bulan kering B2 = 9 bulan basah dan 4 bulan kering hingga 7 -8 bulan basah dan bulan kering C = 7 bulan basah dan 4 bulan kering hingga 5-6 bulan basah dan bulan kering D = 5 bulan basah dan 6 bulan kering hingga 2- 4 bulan basah dan bulan kering.

2 4 6 8

Model Kelembagaan Agribisnis Lembaga penyuluhan, perkreditan, pemasaran tidak berjalan efektif. Di lain pihak teknologi yang diterapkan petani rendah, adanya kesulitan modal bagi petani untuk pengembangan, petani cenderung untuk berorentasi pada kecukupan pangan, keadaan pasar yang cenderung membuat posisi petani lemah. Berdasarkan keadaan ini, maka dalam strategi pengembangan kelembagaan agribisnis buah-buahan seperti mangga dan rambutan, seyogyanya

23

dipilih model PIR dengan mitra-kerja para eksportir, apabila lokasi pengembangan lahannya terletak dalam suatu wilayah hamparan dengan model usahatani tumpangsari dengan tanaman pangan pada waktu umur tanaman pokok masih muda. Sedangkan apabila lokasi hamparan petani berjauhan lebih tepat jika dikembangkan Model Anak Angkat. Pemecahan masalah modal bagi petani seyogyanya berbentuk model jasa petani terhadap perusahaan inti yang dapat berupa jasa pemeliharaan tanaman milik perusahaan inti, usaha pembibitan ataupun aktivitas lainnya dari perusahaan inti. Kendala Pengembangan Agribisnis di Jawa Timur Beberapa kendala yang dihadapi dalam pengembangan agri bisnis komoditi buah-buahan di Jawa Timur dapat diidentifikasikan seperti berikut ini. (1). Faktor Agroekologi Faktor-faktor agroekologi seringkali menjadi penyebab rendah nya produksi buah pepaya di Jawa Timur. Berdasarkan hasil-hasil penelitian dan observasi lapangan di daerah produksi, beberapa gangguan terhadap pembuahan tersebut dapat dapat dikelompokkan menjadi enam, yaitu: (a). Gangguan penyerbukan bunga, gangguan yang sering terjadi adalah karena turunnya hujan lebat pada masa pembungaan pepaya. (b). Rendahnya tingkat kesuburan tanah (c). Gangguan hama, penyakit, dan gulma (d). Rendahnya intensitas radiasi matahari yang sampai pada permukaan tajuk tanaman (e). Ketidak-sesuaian dengan kondisi iklim dan musim (f). Laju pertumbuhan tanaman; tanaman yang tumbuhnya terlalu cepat seringkali tidak dapat berbunga dan berbuah dengan baik. Penghambatan laju pertumbuhan ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, a.l. pemotongan sebagian akar, mengikat batang atau cabang dengan kawat, membalut batang atau cabang dengan kaleng. (2). Sistem Pengusahaan Sistem usahatani durian, mangga dan rambutan selama ini masih secara sambilan dengan memanfaatkan lahan pekarangan. Tampaknya masih sedikit tanaman pepaya yang diusahakan dengan sistem kebun monokultur. Sebagian besar usahatani dilakukan secara kecil-kecilan oleh individu rumah tangga, sehingga varietasnya sangat beragam, intensitas perawatan ta-naman relatif rendah, teknologi yang diterapkan rendah, serta penanganan pasca panen yang kurang memadai.

24

Suatu hal yang menarik dari aspek teknologi ini adalah pene muan teknologi oleh pusat-pusat pengembangan IPTEK di Indonesia dirasakan masih kurang dapat dimanfaatkan oleh petani. Sebagai teladan adalah teknologi pembibitan, teknologi manipulasi tajuk dan bunga untuk merangsang pembuahan, teknologi pengawetan dan pengolahan buah . Keadaan yang lebih memprihatinkan dijumpai pada komoditi pepaya walaupun mempunyai potensi ekonomi untuk dikembangkan, tetapi penemuan dan penyebaran agro- teknologi dan agro-industrinya masih sangat kurang. 3.2. Sistem AGRIBISNIS KOMODITAS PEPAYA 3.2.1. Pendahuluan Pepaya merupakan tanaman tropika yang dapat tumbuh meluas di lahan pekarangan. Tanaman ini diperkirakan berasal dari daerah tropika Amerika. Lazimnya tanaman ini ditanam ependuduk di kebun, tegalan sempit- sempit atau sebagai tanaman individual di pekarangan untuk konsumsi sendiri. Daging buahnya bernilai gizi tinggi, mengnadung banyak vitamin A dan C. Tanaman ini mudah beradaptasi secara lokal dan tersebar luas, ditanam di daerah sekitar ekuator hingga daerah lintang sedang. Pertumbuhan tanaman di daerah tropika lebih cepat dan akan berbunga setelah umur 6 bulan dan menghasilkan buah yang masak pada umur 9 bulan. Pepaya akan mati kalau terkena frost. Di derah iklim sangat basah ia mudah terserang penyakit busuk akar terutama kalau drainase tanah buruk. Dataran tinggi hingga 1500 m dpl di daerah tropika masih sesuai bagi pepaya asalkan tidak terlalu basah dan berawan. Tanah harus mempunyai drainase yang bagus, sehingga tanah-tanah berpasir sangat sesuai. Tanah-tanah masam dengan pH < 5 harus dikapur untuk memperkecil gangguan penyakit busuk akar. Pepaya tidak boleh ditanam bertutur-turut pada tanah yang sama tanpa adanya fumigasi. Benih pepaya diperoleh dapat dari tanamannya sendiri. Pada dasarnya ada dua cara untuk mendapatkan benih yang baik, yaitu: (a). Biji diambil dari pohon yang menghasilkan banyak buah dan tipe buahnya bagus; (b). Persilangan pohon-pohon yang hasilnya tinggi juga dapat dilakukan. Karena pepaya sering mengalami polinasi dari luar, maka hasil yang lebih baik dapat diperoleh dengna menyialngkan pohon-pohon tertentu yang terpilih. Penyilangan pohon betina yang buahnya banyak dengan tanaman hermaprodite akan menghasilkan banyak biji yang akan tumbuh menjadi pohon betina. Bibit ini sangat dibutuhkan untuk tanaman di lapangan/kebun. Kalau diinginkan pepaya dengan tipe buah kecil, pohon hermaprodit dapat disilangkan. Pollen diambiln dari bunga hermaprodit dan disimpan dalam tabung reaksi yang disumbat

25

dengan pakas dalam suatu desikator. Pelepasan polen dilakukan/berlangsung pada saat hari cerah dimulai dsari pagi ahri. Bunga-bunga betina harus dibungkus dengan kertas secara rapat selama 10 hari setelah petal dibuang dan pollen ditaburkan pada stigma. Biji-biji diambil dari buah masak/matang dan dapat ditanam langsung atau dikeringkan dan disimpan selama waktu tertentu hingga setahun. Kadangkala lapisan lemak berlendir pada biji dibuang dahulu sebelum ditanam. Biji dikecambahkan pada petakan rata tanah berpasir yang drainasenya bagus. Biji disusun dengan jarak 2 cm dan ditutup dengan lapisan tanah halus setelab 1 cm. Biji akan berkecambah dengna baik kalau mendapatkan cahaya pagi. Becambah akan mati akibat penyakit mati pucuk kalau diairi secara berlebihan, sehingga tanah harus diairi sedikit-demi sedikit dua kali sehari. Kadangkala perlu menggunakan tanah yang telah disterilkan atau difumigasi dengan bromo-methan. Setelah umur seminggu bibit muda dapat dipindahkan ke kantong plastik ukuran 15x20 cm, dan dipelihara selama 3-4 minggu sebelum ditanam . Pepaya umumnya ditanam dengan jarak 2x3 m, jarak yang lebih rapat memberikan hasil lebih banyak pada tahun pertama, tetapi tanaman mengalami etiolasi dan hasilnya menurun pada tahun ke dua. Umumnya pepaya ditanam tidak lebih dari 3-4 tahun. Untuk mendapatkan proporsi tanaman betina yang banyak, menanam tiga bibit dengan jarak 25 cm dengan biji yang berasal dari polinasi luar. Tanaman betina murni dapat dikenali oleh tidak adanya bunga jantan sebelum tiga bulan di daerah tropika; pada saat ini tanaman yang kelihatan betina ditinggalkan dan yang lain dipotong. Rabuk organik dan pupuk buatan keduanya dipakai untuk pepaya. Untuk mendapatkan buah yang banyak diperlukan pupuk majemuk NPK (15-15-15) dengan dosis 1.5 kg/tanaman/tahun. Rincian dosis pupuk menurut umur tanaman adalah: Umur 0-3 bulan: 20 g/tanaman/bulan Umur 4-6 bulan: 50 g/tanaman/bulan Umur > 7 bulan: 100 g/tanaman/bulan Kalau buah pepaya akan digunakan untuk konsumsi kalengan maka dosis pupuk nitrogen harus dikurangi. Dosis N yang tinggi akan menimbulkan kadar nitrat yang tinggi pada pepaya dan ini membahayakan kaleng. Untuk pengalengan ternyata pupuk lengkap NPK dengan rasio 1:2:2 harus digunakan dan dosisnya tidak boleh lebih dari 50 g/tanaman/bulan. Penyiangan secara manual harus hati-hati supaya tidak merusak akar tanaman. Herbisida Diuron dengan dosis 2 kg/ha dan paraquat 1 liter/ha memberikan hasil yang baik kalau disemprotkan di lingkaran tajuk seputar batang, asalkan tidak pada tanah berpasir dan gambut. Pepaya mudah terserang nematoda dan lahan tidak boleh

26

ditanami pepaya lebih dari sekali (1-3 tahun) sebelum dirotasikan dengan tanaman lainnya. Pada lahan yang terserang parah, nematisida separeti Nemagon sangat dianjurkan. Formalin (25 ml larutan metanal 4%) dituangkan dalam lubang tanam juga dianjurkan. Pada tanah-tanah yang drainasenya jelek, dan tanah tanah yang sebelumnya telah ditanami pepaya, maka Phytophthor dan berbaqabusuk akar lainya menyebabkan kerugian yang serius pada pepaya.Berbagai penyakit batang dan daun juga ada dan kadang kadang dapat dikendalikan dengan menyemprot fungisida.Ada banyak penyakit virus pada pepaya dengan gejala seperti mosaik, kerdil, lambatnya pertumbuhan tanaman dan kerdil, menguningnya daun dan tajuk yang kecil. Mereka umumnya disebarkan oleh serangga,tetapi sukar diberantas. Suatu tanaman yang tumbuhnya tidak normal harus segera dibongkar dan dibakar atau dikubur. Beberapa tanaman menunjukkan resitensi dan ini harus digunakan untuk memprokduksi biji benih. Pepaya pegunungan juga agak resisten terhadap gangguan virus penyakit. Buah pepaya harus dipanen pada saat setengah masak,ketika daging buahnya masih keras dan tekstur seperti wortel.Buah ini akan cepat masak selama 1-3 hari dan harus segera diangkut ke pasar sebelum menjadi lunak. Dalam hal budidaya tanaman pepaya dan pengelolaannya, mulai dari persemaiannya benih sampai dengan pemanenannya, terdapat beberapa permasalahan yang umum dijumpai oleh petani pepaya di wilayah Jawa Timur, yakni kualitas bibit yang tidak bagus (bahkan terkesan apa adanya), kerontokan bunga yang cukup besar, terjadinya tanaman jantan, produksi buah tidak teratur /beragam dan buah hasil panen yang tidak tahan lama dan mudah rusak/busuk. (a). Kualitas bibit yang kurang baik Umumnya petani mendapatkan bibit pepaya dari buah yang diperoleh dari tetangga atau membeli buah di pasar bebas. Biji dari buah ini kemudian disemaikan dan bibitnya ditanam. Bibit yang diperoleh dengan cara seperti ini ternyata ragam produksinya sangat besar dan umumnya mempunyai produktivitas yang rendah. (b). Kerontokan bunga Kerontokan bunga sering terjadi pada tanaman pepaya, terutama bila terjadi hujan deras dan angin kencang selama periode pembungaan berlang sung. (c). Terjadinya buah yang kecil-kecil dan bentuknya tidak teratur Pada masa pemanenan buah, tak jarang kita jumpai adanya buah-buah yang kecil-kecil dan bentuknya tidak beraturan. Kondisi seperti ini biasnaya dibarengi dengan buah yang tumbuh jarang-jarang pada pohon pepaya.

27

3.2.2. Potensi Produksi di Jawa Timur Di Jawa Timur, sentra produksi pepaya terletak di daerah Kediri-Malang-Lumajang-Jember hingga Banyuwangi. Di daerah ini dapat dijumpai tanaman pepaya yang ditanam secara campuran dengan tanaman lain pada lahan pekarangan dan tegalan, ada pula petani-petani yang mengkhususkan diri menanam pepaya dalam kebun monokultur. Tabel 3.7. Potensi riil produksi pepaya di Jawa Timur
Kabupaten 1. Mojokerto 3. Bojonegoro 4. Tuban 5. Madiun 7 .Ngawi 8 .Ponorogo 9 . Pacitan 10. Kediri 11. Nganjuk 12. Blitar 13. Malang 14. Lumajang 15. Bondowoso 17. Jember 18. Banyuwangi 19. Sumenep Tanaman menghasilk an (pohon) 199.637 191.054 225.994 130.734 193.151 481.145 126.433 1058.056 334.663 396.325 1928.204 249.098 301.266 657.106 649.414 319.600 Produksi buah (ton) 1777 5428 4379 1035 3232 4103 1319 33663 3019 3485 32377 8350 3215 3286 20423 1620 Rataan prodktivitas (kg/pohon) 8.90 28.41 19.38 7.92 16.73 8.53 10.43 34.65 9.02 8.79 16.79 33.52 10.67 5.00 31.45 5.07 Kategori Daerah Rendah Tinggi Sedang Rendah Sedang Sedang Rendah Sangat tinggi Sedang Sedang Sangat Tinggi Tinggi Sedang Sedang Sangat Tinggi Rendah

Keterangan: Rendah : < 2500 ton/tahun; Sedang: 2500 - 5000; Tinggi: 5000 - 10.000; Sangat Tinggi: > 10.000 ton/tahun.

3.2.3. Ekologi Tanaman Kondisi Agroklimat Tanaman pepaya dapat dijumpai pada hampir seluruh wilayah Jawa Timur, dengan keanekaan jenis yang sangat besar dan ragam produktivitas yang sangat tinggi. Tanaman ini mudah beradaptasi secara lokal dan tersebar luas pada berbagai kondisi daerah. Kondisi lingkungan tumbuh tanaman ternyata sangat berpengaruh terhadap produktivitas buah dan ukuran individu buah. Kualitas buah ini sangat tergantung pada fluktuasi musiman suhu udara dan radiasi matahari (Hamilton, 1971). Preferensi buah pepaya yang ukurannya kecil untuk ekspor, rataan sekitar 340 - 560 g, telah mendorong penanaman pepaya strain "Puna" atau

28

"Kapoho" di Hawaii. Manipulasi lingkungan tumbuh tanaman melalui teknologi budidaya tanaman, terutama suplai air irigasi dan pupuk juga berpengaruh terhadap ukuran buah. Di wilayah bebas salju di Afrika Selatan, buah pepaya menunjukkan pola pertumbuhan sigmoid dalam meningkatkan volumenya, tetapi bentuk kurvenya sangat beragam tergantung pada bulan fruit-set dan klon tanaman (Kuhne dan Allan, 1970). Suhu rataan mingguan sekitar 19oC akan memperpanjang fase initial dan fase akhir dari pertumbuhan yang relatif lambat. Fase pertengahan meningkat dengan cepat volume buahnya dan paling kurang terpengaruhi oleh suhu udara yang rendah. Laju pertumbuhan pada fase initial lebih cepat apabila suhu udara lebih tinggi selama masa pra-anthesis dan fase initial dari kurva eksponensial (log volume buah). Rataan suhu mingguan (<15oC) selama fase ini menyebabkan penangguhan laju pertumbuhan dan reduksi ukuran buah. Ukuran buah mencapai puncaknya apabila fruitset terjadi pada musim panas dan kemudian menurun dengan cepat. Musim hujan yang berkepanjangan dan drainase tanah yang jelek dapat mengakibatkan gugur daun (premature) pada bagian bawah, menguningnya daun-daun muda, batang kurus dan tumbuh memanjang, dan hasil buah sedikit. Dalam rangka untuk mengatasi masalah ini biasanya petani membuat bedengan yang tinggi dengan parit-parit yang lebar dan dalam. Kondisi Tanah Kondisi tanah yang ideal bagi tanaman pepaya dalah tanah lempung berpasir yang ringan, namun dmeikian tanaman ini masih mampu tumbuh dengan baik pada berbagai kondisi tanah yang mampu menahan cukup banyak air tersedia dan drainasenya bagus. kondisi air tergenang sangat berbahaya, dan drainase yang kurang bagus akan mendorong gangguan penyakit busuk akar dan busuk batang. Fumigasi tanah dapat mengurangi gangguan akibat penyakit busuk akar Phytophthora dan Pythium. Syarat tumbuh lainnya untuk mendapatkan hasil buah yang bagus ialah kondisi struktur tanah yang baik dan mampu menyediakan unsur hara dalam jumlah yang memadai. Pada kondisi iklim yang baik, dan suplai unsur hara tersedia yang memadai, tanaman pepaya akan tumbuh pendek, batangnya kuat dan dengan cepat menghasilkan bunga dan buah. Tanah yang sangat masam harus dikapur hingga nilai pH-nya mencapai 6.0 - 6.5. Kebutuhan hara dan pemupukan Menurut Chandler (1964), praktek pemupukan yang dianggap paling baik ialah mempertahankan suplai nitrogen agak tinggi dan mensuplai secukupnya hara lain yang defisien. Untuk mensuplai fosfat tersedia dalam tanah, terutama bagi tanaman muda, sebanyak

29

500 g pupuk fosfat dicampur secara merata dengan tanah pada liang tanam, atau pemupukan sebelum tanam bibit sekitar 1250 kg/ha campuran pupuk yang mengandung N, P dan K, dengan rasio N/P2O5/K2O = 1:3:1, dibenamkan dalam tanah lapisan atas 15-20 cm. Defisiensi P mengakibatkan daun berwarna hijau gelap dengan tulang daun dan tangkai daun berwarna ungu kemerahan. Kalium menjadi snagat penting setelah fase pembungaan. Selama masa pertumbuhan awal, periode vegetatif 5-6 bulan pertama tanaman sangat ememelrukan nitrogen, setelah itu kebutuhan utamanya adalah nitorgen dan kalium dengan rasio K2O/N = 1.5:2. Telah terbukti bahwa pada tanah-tanah yang tampaknya subur, dimana hanya respon nitrogen yang terjadi, pemupukan P dan K cenderung merangsang pertumbuhan yang cepat dan pembungaan yang lebih awal. Penggunaan rabuk kandang pada awal musim tanam atau sebelum tanam bibit sangat disarankan, terutama kalau dikombinasikan dengan fosfat, dalam rangka untuk meningkatkan ketersediaan fosfat dalam tanah. Namun demikian tidak disarankan menempatkan rabuk kandang dalam liang tanam karena dapat merangsang perkembangan jamur Pythium. Tujuan utama dari program pemupukan yang berimbang adalah perkembangan tajuk tanaman yang penuh dan sehat. Kalau daun-daun di bagian bawah menguning, ini mengindikasikan defisiensi nitrogen. Sangat diperlukan untuk menjaga daun-daun bagian bawah tetap hijau sehat selama mungkin karena pertumbuhan tanaman, rasa dan kandungan gula dalam buah secara langsung tergantung pada luas permukaan daun ini dan sintesis karbohidratnya. Standar tentatif nitrogen dan fosfor, yang didasarkan pada tangkai daun dewasa terakhir telah diteliti oleh Awada et al. (1969). Informasi mengenai nilai baku hara tanaman ini dapat diabtraksikan sbb:
Hara Lokasi percobaan Waimanalo Sampling Standard; % bhan kering Maksimum 5% dari maksimum 1.28 1.20 1.14 0.25 1.14 1.07 1.02 0.21

Nitrogen

Fosfor

Malama-Ki

Juni Agst-Sept September Mei-Juni

Rekomendasi pemupukan pada perkebunan pepaya di Angola ialah 50 g pupuk lengkap 10-10- 10 pada saat tanam bibit, diikuti dengan 250 g selang 3-4 bulan berikutnya pada pertenghaan musim hujan. Pada tahun ke dua, 1000 g/tanaman harus diberikan, setengahnya pada awal musim hujan dan sisanya pada pertengahan musim hujan. Berikut ini adalah rekomendasi pemupukan yang lazim

30

dilakukan petani: Untuk tanaman yang umurnya kurang setahun Ammonium sulfat Superfosfat (18% P2O5) Sulfat kalium Untuk tanaman yang umurnya lebih setahun Ammonium sulfat Superfosfat (18% P2O5) Sulfat kalium Dosis per tanaman 50-100 g 150-300 g 20-40 g Dosis per tanaman 300-400 g 400-800 g 100-200 g.

Pada pertanaman pepaya monokultur di Queensland, Agnew (1968) merekomendasikan penaburan 1250 kg pupuk lengkap 1234-12 per hektar dan membenamkannya ke dalam tanah 15 cm, diikuti dengan pemupukan 40 kg N/ha setiap dua bulan. Kalau tanaman dibudidayakan untuk pengalengan buah, yang menghendaki buah bebas nitrat, jadwal pemupukan ini harus dilakukan hingga akhir Februari pada musim summer setelah tanam bibit, dan setelah itu penugalan pupuk harus dibatasi hingga Nopember-Februari setiap tahun berikutnya. Kalau tanaman menunjukkan gejala defisiensi nitrogen, harus diberikan tambahan nitrogen sebagai semprotan urea. Rekomendasi lainnya (Kruger dan Menary, 1968) adalah menggunakan 100 g N dalam tiga kali aplikasi dari saat panen buah hingga Januari, dengan tambahan semprotan urea kalau diperlukan. Dalam rangka untuk menghindari kelebihan nitrogen pada musim winter maka tidak boleh ada tanaman pupuk hijau atau tanaman legum dan rabuk kandang. Pada pertanaman pepaya di New South Wales, Leigh (1969) merekomendasikan basal-dressing 1250 kg per ha pupuk lengkap NPK 1:3:1, yang diikuti dengna side dressing campuran pupuk yang serupa dengan dosis 240 g/tanaman pada bulan Agustus, Nopember dan Februari selama tahun pertama. Selama tahuntahun berikutnya, dosis pupuk dapat ditingkatkan hingga maksimum 1350 g/tanaman setahun. Persyaratan Tumbuh Tanaman Hackett dan Carolane (1982) menyusun kriteria evaluasi syarat lingkungan tumbuh tanaman sebagai beirkut: 1. Agen biologis yang diperlukan dalam pembuahan (1-5): 2 2. Persyaratan kelembaban udara: agak tinggi 3. Kebutuhan hara:

31

Perlunya pemupukan hara makro (2-8): N :7 Ca dan Mg : 6 P :7 K :7 Kebutuhan pupuk mikro (1-5) : 2 4. Fotoperiodisitas: Hari panjang atau hari pendek. 5. Toleransi kemiringan lahan (o): Maksimum : > 10o Minimum : 0 6. Kedalaman efektif tanah (2-8): Kurang dari 10 cm : 4 10 - 20 cm : 6 21 - 40 cm : 8 > 40 cm : 8 7. Reaksi (pH) tanah (2-8): Kurang dari 5.5 : 2 5.5 - 7.0 : 8 7.1 - 8.5 : 8 8. Tekstur tanah (2-8): Lempung, seragam : 8 Lempung di atas liat : 6 Tanah berbatu : 4 Pasir , seragam : 8 Pasir di atas liat : 6 Tidak ada medium solid 2 9. Suhu udra (oC): Suhu dasar : 10-12 Kisaran optimum : 21 - 30 Batas atas (siang/malam) : 45 / 30. Kepekaan salju (1-9) :6 Kebutuhan vernalisasi (1-5) :1 10. Toleransi Kekeringan (1-8) :5 Banjir (2-7) :2 Garam sebagai spray(1-9) : 2 Garam di daerah perakaran (1-9) : 2 Naungan (1-5) :1 Angin (3-7) :3 11. Daerah sentra produksi Elevasi ( m dpl) < 800 Produktivitas 0 -200 ton/ha/th. Garis lintang 20 oLU Garis bujur 155o BB 3.4. Sistem Usahatani Tanaman Pepaya

32

Tanaman pepaya berproduksi mulai umur satu tahun sampai dengan umur 5-7 tahun. Modal investasi usahatani dibutuhkan sampai tanaman berumur satu tahun (sebelum berproduksi). Analisis cash-flow usahatani pepaya menunjukkan biaya produksi per tahun per hektar sampai dengan umur lima tahun adalah sekitar Rp.250.000 hingga Rp 450.000. Pada tingkat usahatani pepaya secara monokultur umumnya dapat diperoleh keuntungan yang memadai, dengan Net B/C (DF 18%) 2.75 - 4.50, NPV (DF 18%) Rp.2.500.000 - Rp 5.500.000,- dan IRR umumnya lebih dari 25%. (1). Sifat Pengusahaan Secara agroekologis wilayah Kabupaten Kediri, Malang, Blitar, dan sekitarnya cocok untuk budidaya tanaman pepaya dan juga pemeliharaannya tidak terlalu sulit. Tanaman pepaya umumnya ditanam petani dalam sistem campuran pada l;ahan pekarangan dan tegalan, sistem budidaya pepaya dalam kebun monokultur buiasanya dilakukan oleh petani yang modalnya kuat dan dilakukan secara intensif. Tetapi akhir-akhir ini banyak petani yang sudah mulai memperhatikan pengusahaan tanaman ini secara monokultur karena harganya cukup baik. Perhatian petani tersebut berupa usaha-usaha untuk mengadakan pemeliharaan dan pemupukan terhadap tanaman pepaya. Asal bibit tanaman pepaya sebagian besar berasal dari biji yang tumbuh dengan sendirinya (tukulan) yaitu sebanyak 60-70% dan sisanya berasal dari penangkar bibit. Mereka umumnya menanam pepaya di lahan pekarangan sebagai batas pekarangan atau pada pekarangan yang tidak diusahakan untuk tanaman pangan. Rata-rata pemilikan tanaman pepaya adalah relatif kecil, di Kabupaten Kediri, Blitar dan Malang dn sekitarnya yakni 15-20 pohon, dengan variasi 5 - 50 pohon. Petani yang memiliki pohon pepaya cukup banyak, sudah mulai mengusahakan tanaman ini secara intensif. Tetapi ada juga yang memiliki pohon pepaya cukup banyak berasal dari bibit "tukulan" di pekarangannya dan biasanya tidak dipelihara. Umur rata-rata pohon pepaya produktif tersebut adalah 2-3 tahun, yang paling muda dijumpai berumur 1 tahun dan yang paling tua berumur hanmpir 10 tahun. Sebagai tanaman pekarangan pepaya ditanam tidak memakai jarak tanam yang teratur. Rata-rata jarak tanam dari pohon yang satu ke pohon yang lainnya adalah 8-10 meter, tetapi petani ada yang menanam dengan jarak 5 m atau bahkan 20 m antara satu pohon dengan pohon yang lain. (2). Intensitas Pengusahaan Perawatan tanaman pepaya walaupun masih kurang tetapi sudah ada usaha ke arah pengelolaan secara intensif. Sebagian besar responden (sekitar 70% petani) melakukan pembumbunan pada tanaman ini dan yang lainnya membiarkan tanaman ini seperti

33

tanaman liar. Sumber air untuk tanaman pepaya berasal dari air hujan, mendapat pengairan dari sumur dan dari sungai/saluran irigasi. Usaha untuk membuat saluran drainase untuk tanaman ini hampir dilakukan oleh seluruh petani, sebagian petani sudah ada yang melakukan pembuatan teras pada lahan tempat tumbuh dari tanaman ini karena kemiringannya lebih dari 15%. (3). Analisa Biaya dan Pendapatan. Tanaman pepaya monokultur dipelihara secara intensif oleh sebagian petani. Oleh karena itu dikenal dua macam petani, yaitu petani pepaya monokultur yang melakukan pemeliharaan secara intensif dan petani pepaya campuran yang tidak melakukan usaha pemeliharaan sama sekali. Untuk golongan petani yang pertama, biaya pemeliharaan tahun pertama untuk satu pohon sekitar Rp. 2000 - 2250.

34

Tabel 3.8. Taksiran rataan biaya produksi pepaya per pohon/tahun.


Macam biaya 1. Pupuk Kandang 20 Kg Pupuk Urea 1.5 Kg Pupuk ZA 0.5 Kg Pupuk TSP 1.5 Kg Pupuk KCl 0.5 Kg 2. Biaya Tenaga Kerja: - Pemupukan - Pemangkasan 3. Pestisida dan Penyemprotan Total Jumlah (Rp.) 500.00 425.00 150.00 425.00 150.00 150.00 75.00 250.00 2125.00

Harga pupuk buatan rata-rata per kg Rp.300, pupuk kandang Rp.25/kg. (Soemarno. 1992.) Usaha pemupukan yang dilakukan oleh petani antara lain pembe rian pupuk kandang dilakukan oleh 100% petani, kompos 25%, Urea 80%, ZA 35%, TSP 80%, KCl 10% dan NPK 5 %.. Pemberian pupuk dilakukan menjelang pepaya berbunga dan setelah panen. Petani yang menyatakan memberikan pupuk pada saat menjelang berbunga adalah sebesar 75-80%, dan setelah panen sebesar 25-30%. Pemanenan raya buah pepaya mulai dilakukan sekitar bulan April sampai bulan Nopember, musim raya buah pepaya sekitar lima bulan, dan setelah itu buah masih dapat dipanen sepanjang tahun. Dalam waktu lima bulan tersebut pohon pepaya dapat dipanen beberapa kali, tergantung dari ketersediaan air untuk pertumbuh annya. Penerimaan dari penjualan buah pepaya (Harga jual rataan Rp 125/kg) rata-rata Rp. 27.500 per pohon setahun dengan kisaran Rp.15.500-Rp.50.000 tergantung dari produktifitas tanaman pepaya. Rata-rata pemilikan petani 15-25 pohon dengan kisaran 5 - 50 pohon per keluarga yang memiliki tanaman. Umur pohon pepaya milik petani berkisar antara 1-10 tahun. 3.2.5. Sistem Pemasaran Buah (1). Lembaga Pemasaran Petani Produsen Petani pepaya umumnya menanam beberapa pohon (15-50 pohon) di lahan pekarangan dan tegalan dicampur dengan tanaman lainnya. Mereka ini umumnya tidak mengusahakan tanaman pepaya secara intensif, pemeliharaan tanaman dilakukan secara sederhana dan kalau tiba saatnya berbuah barulah petani memperhatikan tanamannnya dari gangguan. Pada musim panen buah mereka

35

menjual buah secara tebasan kepada pedagang (penebas). Sebagian kecil petani telah menanam pepaya secara monokultur (>500 pohon) dan dipelihara secara intensif. Tanaman sela selama tahun pertama biasanya jagung atau sayur-sayuran. Petani seperti ini biasanya berhubungan dengan pedagang besar dan memasarkan buah pepaya segar ke kota-kota besar seperti Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Penebas dan Tengkulak I. Penebas adalah orang yang membeli buah pepaya yang masih berada di atas pohon. Penebas tersebut menaksir jumlah buah yang dapat dihasilkan oleh satu atau beberapa pohon sekaligus, kemudian menentukan harganya. Transaksi antara penebas dengan petani (umumnya petani monokultur) pembayarannya dilakukan secara kontan, dan hanya sebagian kecil lainnya (8-10% petani) dengan cara membayar uang muka sejumlah 50% dari nilai transaksi. Tengkulak I adalah orang yang membeli buah pepaya setelah buah dipetik oleh pemiliknya. Transaksi pembelian dilakukan per satuan buah pepaya atau per satuan berat (kuintal atau ton). Cara pembayarannya adalah kontan atau dibayar setelah buah pepaya terjual habis (khusus untuk tengkulak I yang berasal dari dalam desa). Volume perdagangan dari penebas/tengkulak I ini dalam satu lokasi antara 3-5 ton buah pepaya per bulan pada saat musim panen raya, dan 0.5- 1.5 ton pada saat panen biasa. Modal usaha dari tengkulak I rata Rp. 250.000 - Rp 500.000 berupa modal yang digunakan dalam pembelian dan penjualan. Tengkulak II (TK II) TK II adalah orang yang membeli buah pepaya dari para tengkulak I atau penebas. Pedagang ini berdomisili di luar desa sentra produksi dan menjual hasil pembeliannya kepada para pedagang pengecer di kota. Volume perdagangan dari TK II ini daspat mencapai 10-15 ton buah pepaya per bulan pada saat musim panen raya. Modal yang digunakan rata-rata Rp. 2 -5 juta. Pedagang Pengumpul. Pedagang ini umumnya berdomisili di kota-kota besar, tetapi melakukan kegiatannya sampai di desa/lokasi kebun pepaya. Pedagang ini membeli buah pepaya dari para tengkulak I atau tengkulak II. Penjualan dilakukan ke para pengecer di kota-kota besar seperti Kediri, Malang, Surabaya, Bandung dan Jakarta. Volume perdagangan dapat mencapai 20-25 ton buah pepaya per bulan pada saat musim panen yang berlangsung sekitar tiga hingga empat bulan. Alat transportasi yang digunakan dalam pengangkutan barang dagangannya adalah truk colt-diesel yang berkapasitas 5-7.5 ton pepaya sekali angkut. Modal yang digunakan

36

diperkirakan lebih dari Rp. 10 juta. (2). Saluran Pemasaran Buah pepaya oleh petani pada umumnya dijual kepada penebas (75-80% petani), tengkulak 15%, pedagang pengecer 5%. Biasanya pembeli yang datang kepada petani, dari sejumlah kasus penjualan yang dilakukan oleh petani hanya kurang dari 10% saja petani yang menjual buah pepayanya ke pasar atau yang menjual buah pepayanya dengan mendatangi pembelinya. Saluran tataniaga pepaya dari petani sampai dengan konsumen yang utama adalah: Petani, penebas/Tengkulak I, Tengkulak II, Pedagang pengumpul, dan Pedagang pengecer (3). Transaksi Penjualan Panen pepaya dapat dimulai pada bulan Desember dan berakhir dalam waktu 4-5 bulan, satu pohon pepaya dapat menghasilkan buah sepanjang tahun tergantung dari cukup tidaknya air dan hara yang tersedia bagi pertumbuhannya. Cara tebasan nampak lebih dominan (terutama pada sistem monokultur), pembayaran penebas pada sebagian besar petani dilakukan secara kontan. Dalam penentuan harga antara pembeli dan penjual biasanya dilakukan dengan tawar menawar (75% responden) dan lainnya ada yang memperoleh informasi harga dari pasar (15% responden) atau biasanya pihak penjual sudah mengetahui harga dari tetangganya (10-20% responden). Dalam melakukan pembelian pepaya kepada petani, seorang penebas/tengkulak I harus mengeluarkan biaya untuk 100 kg pepaya sebagai berikut: 1. Ongkos Petik Rp.1000 - Rp.1500 (tengkulak I tidak mengeluarkan biaya panen). 2. Ongkos Angkut Rp.500 - Rp.1000 (tergantung dari jarak yang ditempuh untuk ke luar dari desa sentra produksi). Tengkulak II membeli pepaya dari berbagai tempat sentra produksi pepaya. Dalam melakukan aktivitas pembelian dan penjualan, pedagang mengeluarkan biaya-biaya untuk 1 ton pepaya sebanyak: 1. Ongkos angkut Rp.5.000 - Rp.7.500 (tergantung dari jarak yang ditempuh). 2. Ongkos Penimbangan Rp. 1500 3. Rafraksi antara Rp 20.000 - Rp.25.000 Pedagang Pengumpul membeli pepaya dari para tengkulak I/tengkulak II di pasar tempat sentra produksi pepaya setiap hari. Volume pembeliannya rata-rata setiap hari adalah 1.0-2.5 ton. Alat angkut yang digunakan untuk mengangkut buah pepaya ke kota adalah truk colt-diesel yang berkapasitas 5-7.5 ton. Dalam transaksi perdagangan biaya yang harus dikeluarkan untuk 5 ton pepaya sekitar Rp.218.000 (Tabel 3.9).

37

Tabel 3.9.

Biaya fungsi marketing yang pedagang pengumpul (5 ton).

dikeluarkan

oleh

Macam biaya Biaya (Rp.) ........... 1. Ongkos angkut 35.000. 2 Ongkos muat bongkar 30.000. 3. Ongkos packing 15.000. 4. Ongkos Penimbangan 5.000. 5. Retribusi 2.500. 6. Rafraksi 125.000. Total 24.500. Sumber: Diolah dari data primer (Soemarno. 1992). Pedagang Pengecer Pengecer biasanya menjual pepaya dan buah- buahan lainnya. Rata-rata setiap hari pedagang ini harus menanggung biaya retribusi sebesar Rp 400 - Rp 500. Modal yang digunakan dalam perdagangan pepaya sebesar Rp.250.000 - Rp 500.000. (4). Analisis Biaya dan Margin Harga yang diterima petani per kg pepaya Rp.150 atau sekitar 25% dari harga eceran yang dibayar konsumen yaitu Rp.550Rp 600. Perbedaan harga konsumen dan produsen sebesar Rp.400 - 450 per kg pepaya, sekitar 35 % digunakan untuk biaya fungsi tataniaga dan 65% merupakan keuntungan yang diterima oleh lembaga tataniaga. Pada transaksi penjualan dari tengkulak II ke pedagang pengumpul, dan transaksi antara pedagang pengumpul ke pengecer biasanya ada rafraksi sebesar 5-10 % berupa potongan harga yang diberikan pada pembeli untuk transaksi partai besar. 3.6. Teknik Budidaya Tanaman (1). Produksi biji atau benih Benih pepaya diperoleh dapat dari tanamannya sendiri. Pada dasarnya ada dua cara untuk mendapatkan benih yang baik, yaitu: (a). Biji diambil dari pohon yang menghasilkan banyak buah dan tipe buahnya bagus. (b). Persilangan pohon-pohon yang hasilnya tinggi juga dapat dilakukan. Karena pepaya sering mengalami polinasi dari luar, maka hasil yang lebih baik dapat diperoleh dengan menyilangkan pohonpohon tertentu yang terpilih. Penyilangan pohon betina yang buahnya banyak dengan tanaman hermaprodite akan menghasilkan banyak biji yang akan tumbuh menjadi pohon betina. Bibit ini sangat dibutuhkan untuk tanaman di lapangan/kebun monokultur.

38

Kalau diinginkan pepaya dengan tipe buah kecil, pohon hermaprodit dapat disilangkan. (2). Pesemaian Biji dikecambahkan pada petakan rata tanah berpasir yang drainasenya bagus. Biji disusun dengan jarak 2 cm dan ditutup dengan lapisan tanah halus setebal 1 cm. Biji akan berkecambah dengan baik kalau mendapatkan cahaya pagi. Pengalaman empiris petani menyatakan bahwa kecambah akan mati akibat penyakit mati pucuk kalau diairi secara berlebihan, sehingga tanah harus diairi sedikit-demi sedikit dua kali sehari. Kadangkala perlu menggunakan tanah yang telah disterilkan atau difumigasi dengan bromo-methan. Setelah umur seminggu bibit muda dapat dipindahkan ke kantong plastik ukuran 15 cm x 20 cm, dan dipelihara selama 3-4 minggu sebelum ditanam . (3). Cara Bertanam Bibit dan Populasi Tanaman Pepaya monokultur umumnya ditanam dengan jarak 2 m x 3 m, jarak yang lebih rapat memberikan hasil lebih banyak pada tahun pertama, tetapi tanaman mengalami etiolasi dan hasilnya menurun pada tahun ke dua. Umumnya pepaya ditanam tidak lebih dari 4-5 tahun. Untuk mendapatkan proporsi tanaman betina yang banyak, menanam tiga bibit dengan jarak 25 cm dengan biji yang berasal dari polinasi luar. Tanaman betina murni dapat dikenali oleh tidak adanya bunga jantan sebelum tiga bulan di daerah tropika; pada saat ini tanaman yang kelihatan betina ditinggalkan dan yang lain dipotong. Kepadatan populasi tanaman monokultur yang lazim adalah 1000 - 2000 tanaman per hektar. Praktek yang baik ialah menanam tiga atau empat bibit secara terpisah dengan jarak 20-25 cm dan kemudian dijarangkan tinggal satu tanaman yang bagus. Surplus pohon jantan dipotong dan ditinggalkan pohon betina yang terbaik. Untuk mendapatkan polinasi yang memadai, diperlikan satu pohon jantan untuk setiap 10 pohon betina bagi varietas yang berumah dua (dioecious) Kalau kebun pepaya terdiri atas campuran pohon hermaprodit, jantan dan betina, maka diperlukan lebih sedikit pohon jantan untuk menjamin polinasi yang efektif. Cara bertanam pohon pepaya tidak banyak berbeda dengan cara bertanam pohon buah-buahan lainnya. Sebelum bibit ditanam pada tempat yang telah disediakan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk memperoleh hasil penanaman yang memuaskan. Oleh karena produksi buah yang dihasilkan kelak sangat tergantung kepada cara bertanamnya selain faktor keadan bibit itu sendiri. Dalam penelitiannya mengenai pepaya di Tanzania utara, Northwood (1970), mendapatkan hasil papain sebanyak 169 kg/ha selama periode 11 bulan dengan jarak tanam 3 m x 3 m, dan jarak

39

tanam 3 m x 1.5 m ternyata 50% lebih tinggi dibandingkan dengan jarak tanam 3 x 4.5 m. Pemupukan N tidak berpengaruh nyata. Masalah gangguan penyakit harus dipertimbangkan dalam memilih jarak tanam yang sesuai dan populasi tanaman harus cukup tinggi untuk mengimbangi kehilangan. (4). Pemeliharaan Tanaman Pemberian mulsa Pemulsaan merupakan praktek yang bagus untuk mengkonservasi air tanah dan mengendalikan pertumbuhan gulma. Kalau bahan organik miskin nitrogen digunakan sebagai bahan mulsa maka diperlukan tambahan pupuk nitrogen untuk menghindari defisiensi nitrogen. Mulsa perlu diberikan terutama pada waktu bibit masih muda dan pada waktu musim kemarau, sejak selesai penanaman bibit ke lubang tanam. Mulsa diberikan di sekeliling tanaman hingga menutupi tanah sekitar tanaman dengan cara melingkar. Mulsa yang digunakan biasanya dari jerami. Guna pemberian mulsa ini adalah untuk mempertahankan kelembaban tanah di sekitar tanaman agar tetap lembab, tidak cepat kering. Penyiangan dan Pendangiran Penyiangan gulma dilakukan bersamaan dengan menutupi tanah di sekeliling tanaman dengan mulsa berupa jerami atau daun-daunan. Pada dasarnya penyiangan harus tetap dilakukan secara rutin di sekeliling tanaman apabila ternyata gulma tetap tumbuh dan mengganggu, terutama ketika tanaman masih muda (umur setahun). Cara penyiangan dapat dilaksanakan dengan menggunakan sabit, cangkul, dicabut dengan tangan biasa, sekop, kecol, atau secara khemis dengan menggunakan herbisida. Pendangiran adalah pengerjaan tanah di sekeliling tanaman dengan cara mencangkuli tanah-tanah di sekitarnya, agar tanah gembur sekaligus memperbaiki aerasi dan drainasinya. Dalam mengerjakan penggemburan tanah diusahakan sebaik-baiknya agar akar tanaman tidak rusak akibat pencangkulan, maka harus dilakukan dengan hati-hati sekali. Akan lebih baik bila alat yang digunakan berupa garpu untuk menghindari putusnya akar akibat pencangkulan. Pekerjaan pendangiran harus dilakukan secara rutin untuk mendukung pertumbuhan tanaman agar lebih baik, terutama pada tanahtanah yang mudah padat dan pada tanaman yang sedang mengalami fase pertumbuhan aktif. Perioda perkembangan dan pertumbuhan tanaman pepaya biasanya dimulai sejak masa transplanting sampai tanaman berumur lebih kurang lima tahun. Pemupukan Pupuk organik dan pupuk buatan keduanya dipakai oleh petani monokultur untuk pepaya muda (umur kurang dari setahun)

40

dan tanaman dewasa (umur lebih dari setahun). Untuk mendapatkan buah yang banyak diperlukan pupuk majemuk NPK (15-15-15) dengan dosis 1.5 kg/tanaman/tahun. Rincian dosis pupuk yang lazim menurut umur tanaman muda adalah: Umur 0-3 bulan: 20 g/tanaman/bulan Umur 4-6 bulan: 50 g/tanaman/bulan Umur > 7 bulan: 100 g/tanaman/bulan Kalau buah pepaya akan digunakan untuk konsumsi kalengan maka dosis pupuk nitrogen harus dikurangi. Dosis N yang tinggi akan menimbulkan kadar nitrat yang tinggi pada pepaya dan ini membahayakan kaleng. Untuk pengalengan ternyata pupuk lengkap NPK dengan rasio 1:2:2 harus digunakan dan dosisnya tidak boleh lebih dari 50 g/tanaman/bulan. Jenis pupuk yang diberikan pada tanaman pepaya dapat berupa pupuk organik (pupuk kandang, pupuk hijau atau kompos) dan pupuk anorganik. Pupuk organik dapat diberikan bersamaan waktu tanam atau saat selanjutnya setelah tanam. Pupuk anorganik diberikan selang bebe rapa waktu setelah tanam. Waktu pemupukan yang paling tepat diberikan pada saat mulai turun hujan. Dosis pemupukan untuk setiap tanaman berbeda tergantung umur tanaman, keadaan tanah dan tanaman serta lingkungannya. Tetapi secara umum dosis pupuk yang perlu diberikan berdasarkan umur dapat dilihat pada Tabel 3.10. Tabel 3.10. Pemupukan tanaman pepaya berdasarkan umur
Tahun ke Waktu tanam I - II II - III Lebih III Pupuk kandang (kg) 5 5-10 10 - 15 10 - 15 NPK(g) 50-100 100 - 150 150 - 200 150 -200 Keterangan per phn per thn per phn per thn per phn per thn per phn per thn

Sumber: Diolah dari data primer (usahatani pepaya monokultur) Dalam penelitian Awada (1969) telah dilakukan penentuan secara tentatif nilai baku N dan P untuk keperluan program pemupukan. Tangkai daun dewasa paling akhir, yang ditandai oleh adanya bunga termuda pada ketiak daun, dipilih sebagai jaringan indeks untuk N dan P. Nilai Standar N yang dinyatakan dalam epersentase berat ekering beragam dari 1.28 pada bulan Juni hingga 1.20 pada Agustus/September dan 1.14 pada September. NIlai standar P adalah 0.25 untuk sampling bulan Mei/Juni. Pemangkasan

41

Pemangkasan dilakukan terhadap daun yang terserang penyakit yang diperkirakan sulit disembuhkan dan terhadap daun yang kering atau mati; pemangkasan wiwilan dilakukan terhadap tunas-tunas vegetatif yang tumbuh. Pemangkasan pemeliharaan juga dilakukan pada tanaman yang terlalu rimbun. Di Ghana, formula untuk mengestimasi luas daun pepaya telah diteliti (Karikari, 1973). Formula ini menyediakan metode yang cepat dan cukup akurat yang dapat digunakan pada daun yang masih utuh, dan tampaknya formula ini juga dapat dipakai untuk mengestimasi luas daun pepaya di negara lain. (5). Pembungaan dan pemeliharaan buah pepaya Pembungaan Pembungaan tanaman pepaya dapat terjadi sepanjang tahun, namun demikian pembungaan lebat dapat terjadi pada awal musim hujan. Selama periode pembungaan ini, peka sekali terhadap tiupan angin yang kencang. Apabila terjadi tiupan angin yang kencang, proses pembuahan akan gagal terjadi sehingga produksi buahnya kelak akan merosot jumlahnya. Apabila sesudah periode pembungaan terjadi periode kering yang berat, proses pembuahan akan gagal terjadi dengan baik sehingga produksi buah yang dihasilkan kelak menjadi gepeng. Bunga pepaya juga tidak tahan terhadap hujan yang terlalu deras, karena menyebabkan banyak bunga yang gugur dan gagal melakukan pembuahan. Periode pembentukan buah pada pepaya dapat terjadi sepanjang musim. Pemeliharaan buah Pemeliharaan buah pada waktu buah belum dipanen merupakan hal yang penting untuk dikerjakan, karena pemeliharaan ini akan menentukan kualitas buah, dan harga buah bila kelak dipanen. Untuk konsumsi buah dalam bentuk segar, kualitas buah menjadi faktor penting yang harus diperhatikan yang meliputi ukuran buah, penampakan buah dan warna yang menarik, tebal daging buah, aroma, rasa dan sebagainya. Terdapat bebe rapa cara memelihara buah yang masih melekat di pohonnya agar kualitas buah tetap terjaga dengan baik. Buah pepaya dibungkus secara individual dengan kantong poli-etilen berlubang-lubang atau kertas tissue dan dikemas dalam kotak karton. Kemudian dikirim lewat udara dengan lama perjalanan dua hari dalam suatu peti kemas yang terkendali tekanan dan suhunya; atau dikirim lewat laun selama 21 hari dalam peti kemas beku. Buah-buah yang dibungkus dengan kantong polietilena ternyata masih menunjukkan kenampakan yang bagus. Praperlakuan buah dengan 2% Zineb gagal mereduksi kehilangan selama periode pematangan (Lee, 1973).

42

a. Penyemprotan buah Buah pepaya (milik petani kebun pepaya monokultur) kadangkala disemprot dengan obat-obatan berupa insektisida maupun fungisida untuk mencegah serangan hama penyakitnya, karena seringkali diserang hama seperti lalat atau lainnya apabila dibiarkan, sehingga akan merusak buah dan kualitasnya. Pada buah yang sudah terserang hama/penyakit yang berat sekali dan diperkirakan sulit diberantas, lebih baik dipetik untuk mencegah penularannya. b. Perbaikan warna buah Buah pepaya diusahakan dapat menerima cahaya matahari langsung untuk memperbaiki warnanya, agar buah berwarna lebih bagus dan menarik. Sehingga daun-daun tua yang terlampau rimbun dan seringkali menutupi buah perlu dipangkas, atau dengan menyangga ranting yang berbuah banyak dengan tiang penyangga dan diusahakan buah tersembul ke atas dari pentupan daun. Dengan demikian buah dapat terkena cahaya matahari langsung. (6). Hama - penyakit Tanaman dan Pengendaliannya Ada beberapa macam hama dan penyakit yang biasa terdapat menyerang tanaman pepaya. Jenis hama yang sering ditemukan antara lain kalong/codot, burung, ulat daun. Sedangkan jenis penyakitnya antara lain embun tepung, penyakit layu, nematode dan beberapa penyakit lainnya. Masih banyak jenis hama dan penyakit tanaman pepaya yang belum dapat disebutkan disini, karena yang diutamakan adalah hama penyakit penting yang biasa menyerang tanaman pepaya. Pepaya mudah terserang nematoda dan lahan tidak boleh ditanami pepaya lebih dari sekali (1-3 tahun) sebelum dirotasikan dengan tanaman lainnya. Pada lahan yang terserang parah, nematisida separeti Nemagon sangat dianjurkan. Formalin (25 ml larutan metanal 4%) dituangkan dalam lubang tanam juga dianjurkan. Pada tanah-tanah yang drainasenya jelek, dan tanah tanah yang sebelumnya telah ditanami pepaya, maka Phytophthor dan berbaqabusuk akar lainya menyebabkan kerugian yang serius pada pepaya.Berbagai penyakit batang dan daun juga ada dan kadang kadang dapat dikendalikan dengan menyemprot fungisida. Ada banyak penyakit virus pada pepaya dengan gejala seperti mosaik, kerdil, lambatnya pertumbuhan tanaman dan kerdil, menguningnya daun dan tajuk yang kecil. Mereka umumnya disebarkan oleh serangga, tetapi sukar diberantas. Suatu tanaman yang tumbuhnya tidak normal harus segera dibongkar dan dibakar atau dikubur. Beberapa tanaman menunjukkan resitensi dan ini harus digunakan untuk memproduksi biji benih. Pepaya pegunungan

43

juga agak resisten terhadap gangguan virus penyakit. Hama Tanaman a. Kalong/Codot Bagian tanaman yang diserang adalah buah. Buah pepaya yang masak sangat digemari hewan ini, buah akan diambil dan dimakan. Tak jarang buah pepaya berjatuhan akibat serangan hama ini. Kalong/ codot kebanyakan menyerang pada malam hari. Cara mengatasinya dengan cata gropyokan yaitu menangkap hewan ini beramai-ramai, kemudian membunuhnya. b. Ulat daun Bagian tanaman yang diserang adalah daun, terutama daundaun yang masih muda. Hama ini menyerang bunga dan tunastunas muda. Pemberantasan kimiawi, dilakukan dengan menggunakan insektisida Diazinon atau Basudin 0.2 - 0.5%. c. Kumbang hijau Serangannya ditandai dengan penggerekan terhadap batang dan membuat liang panjang didalamnya. Pemberantasan kimiawi dengan menggunakan Karbolineum plantarum . d. Tungau atau mites Hama ini umumnya menyerang tanaman dengan menghisap zat cair organ tanaman/daun muda. Pada serangan berat daun tampak mengering. Cara menanggulanginya dengan menyemprotkan bubur California atau dengan penghembusan tepung belerang. Penyakit Tanaman Faktor utama yang mendorong terjadinya gangguan penyakit pada pepaya ialah kondisi tanah yang jelek, termasuk defisien hara, kondisi iklim/cuaca buruk, teknik budidaya yang tidak memadai, kontaminan atmosfer, dan kelainan pertumbuhan karena faktor genetik (Barbosa, 1971). Istilah "Mosaik" telah digunakan dalam penyakit virus pepaya baik untuk mendeskripsikan gejala yang berhubungan dengan lebih dari satu penyakit maupun sebagai nama umum untuk penyakit tunggal yang disebabkan oleh suatu infeksi tertentu (Cook, 1972). Dalam uji rumahkaca yang dilakukan di Hawaii, virus mosaik papaya dan virus ringspot pepaya dapat dikenali melalui daya infeksinya pada inang yang terpilih (Cook dan Milbrath, 1969). Tanaman kacang buncis (Vicia faba), Ocium basilicum, dan Celosia plumosa yang semula dianggap tidak peka ternayata dapat terinfeksi virus mosaik pepaya. Daun-daun Chenopodium amaranticolor yang diinokulasi dengan virus ringspot pepaya ternyata menumbuhkan lesion lokal yang dapat dikenali dengan jelas berbeda dengan yang disebabkan oleh virus mosaik pepaya. Penyakit mosaik pepaya di

44

Hawaii serupa dengan Mosaik Bombay di India, becak ringspot di Florida, dan Mosaik pepaya di Puerto Rico. Pengendalian gulma Penyiangan secara manual dilakukan oleh petani dengan sangat hati-hati supaya tidak merusak akar tanaman. Herbisida Diuron dengan dosis 2 kg/ha dan paraquat 1 liter/ha memberikan hasil yang baik kalau disemprotkan di lingkaran tajuk seputar batang, asalkan tidak pada tanah berpasir. Paraquat dan diuron lazim digunakan untuk mengendalikan gulma pada perkebunan pepaya di Hawaii (Romanowski, 1972). Perlakuan yang dianjurkan ialah Paraquat (+surfactant) pada dosis 0.56- 1.12 kg produk komersial (c.p.)per hektar; dan Diuron dosis 2.8 - 5.6 kg c.p./ha. Paraquat diaplikasikan sebagai basic-spray untuk gulam yang berkecambah dengan dosis 750-950 l/ha. Surfactan non-ionik seperti X-77 harus ditambahkan sekitar 230-460 g ke dalam 100 gallons (378 l) bahan semprotan. Bahan semprotan ini tidak boleh kontak dengan batang dan daun pepaya yang berwarna hijau. Diuron hanya boleh digunakan setelah kebun pepaya tumbuh baik minimal umur 6 bulan. Veinal klorosis dapat terjadi pada daun-daun tua. Tanaman tidak boleh ditanam selama dua tahun setelah aplikasi Diuron terakhir. Kebun pepaya di Hawai berada pada tanah vulkanik kasar memerlukan perlakukan khusus dalam budidayanya. Frekuensi pemupukan harus lebih sering dibandingkan dengna kebun pepaya pada tanah- tanah yang normal. Karena tanah yang porus ternyata pengendalian gulma dengan herbisida juga menjadi masalah. Dua bahan kimia yang digunakan ialah solven petroleum 150-375 l/ha dan paraquat 0.5-1.1 kg/ha dengan surfactan 2.5-5 l/ha. Diuron dengan dosis 2.2 kg/ha diberikan tidak lebih dari duakali setahun (Ito, 1969). 3.7. Panen dan Pascapanen Buah pepaya harus dipanen pada saat setengah masak, ketika daging buahnya masih keras dan tekstur seperti wortel. Buah ini akan cepat masak selama 1-3 hari dan harus segera diangkut ke pasar . Tanda-tanda kemasakan buah pepaya terutama ditandai adanya perubahan warna kulit buah dari hijau menjadi kuning atau kemerahan. Tanda kemasakan dengan melihat warna buah ini adalah merupakan cara paling sederhana dan mudah. Buah yang masak benar dicirikan dengan tidak adanya campuran warna hijau pada kulit buah. Kulit buah berwarna kuning atau kemerahan atau campuran kedua warna tersebut. Kemasakan buah umumnya terjadi 4- 5 bulan setelah pembungaan. IV. PEPAYA RANCANGAN KEGIATAN PENGEMBANGAN SPAKU

45

Untuk mewujudkan Sentra Pengembangan Agribisnis Komoditas Unggulan (SPAKU) Pepaya di wilayah Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, maka berbagai kegiatan dalam seluruh subsistem-subsistem agribisnis termasuk subsistem penunjangnya perlu direncanakan. Perwujudan Kecamatan Wajak sebagai sentra pengembangan agribisnis komoditas pepaya akan memerlukan waktu sekitar 5 tahun, dimana 2 tahun adalah kebutuhan waktu untuk pembangunan kebun (penanaman) dan 3 tahun adalah kebutuhan waktu untuk pembinaan KUBA mandiri. Berikut ini diuraikan kegiatan-kegiatan yang ditargetkan untuk dapat dilaksanakan dalam kurun waktu 5 tahun. Rancangan kegiatan ini difokuskan pada pengembangan 1000 Ha kebun pepaya monokultur sebagai inti dan sekitar 500 ha pepaya pekarangan sebagai daerah dampak dari SPAKU pepaya. Rancangan kegiatan ini memberikan gambaran kegiatankegiatan pokok yang akan ditangani melalui proyek sejak penanaman sampai dengan pemeliharaan tahun ke 2 karena tanaman pepaya baru dapat di panen pada tahun ke 2. 4.1. Pengadaan dan Penyaluran Agroinput 4.1.1. Pengadaan dan Penyaluran Bibit Pepaya Sesuai target/sasaran, dalam kurun waktu lima tahun akan dikembangkan 1000 Ha tanaman pepaya, pada lima kecamatan terpilih. Untuk itu dibutuhkan bibit pepaya Thailand sebanyak minimal 1.000.000 bibit ditambah 5 - 10 % perkiraan kebutuhan cadangan bibit untuk sulaman tanaman yang mati. Pengadaan bibit untuk kebutuhan pengembangan sentra pepaya tersebut diharapkan dapat dipenuhi dari penangkarpenangkar setempat. Selain bibit pepaya juga diperlukan pengadaan bibit tanaman aneka jenis hortikultura sayuran, sela jagung, kedelai, kacangtanah, dan kacang hijau; serta bibit tanaman pagar seperti sengon, kapok randu, melinjo, petai, pisang, alpokad, atau lainnya. 4.1.2. Pengadaan dan Penyaluran Saprodi 1. Pupuk Sesuai dengan agroekosistem/kondisi lahan ke lima Kecamatan terpilih sebagai lokasi sentra agribisnis pepaya, maka rencana pengadaan pupuk yang dibutuhkan untuk tanaman pepaya mulai tanam sampai dengan pemeliharaan tanaman menjelang panen adalah sebagaimana disajikan dalam Tabel 4.1.

46

Tabel 4.1. Rencana Pengadaan Pupuk Sentra Agribisnis Pepaya


Jenis Pupuk Urea ZA TSP KCl Penanaman 62.5 62.5 62.5 62.5 Kebutuhan, kg/ha Pemeliharaan Th.I Th.II Th.III 125 125 125 125 125 125 125 125 250 250 125 125 Pengadaan untuk 1000 Ha 812500 812500 637500 637500

Th.IV 250 250 200 200

Pengadaan pupuk ini diusulkan disalurkan melalui/oleh KUD. Selain itu juga diperlukan pengadaan pupuk untuk menunjang program intensifikasi usahatani tanaman sela, sesuai dengan paket agroteknologi yang disarankan. 2. Pestisida Beberapa hama dan penyakit yang umumnya menyerang tanaman pepaya adalah wereng pepaya atau sikada, penggerek batang dan buah, lalat buah dan antrakaose. Untuk mencegah dan memberantas hama penyakit yang mungkin dapat menyerang tanaman pepaya, maka dalam kurun waktu berlangsungnya pembangunan sentra (1000 Ha) diperlukan pengadaan pestisida sebesar 125000 liter dengan rincian sebagaimana disajikan dalam Tabel 4.2. Tabel Pepaya
Jenis Basudin Azodrin Metil Cugero Benlate/ Dithare M-45 Saat tanam 0.0 0.0 0.0 0.0

4.2.

Pengadaan

Pestisida

Sentra Agribisnis
Pengadaan untuk 1000 ha 25000 25000 25000 50000

Kebutuhan, kg/ha Pemeliharaan P1 P2 P3 P4 5.0 5.0 5.0 10.0 5.0 5.0 5.0 10.0 5.0 5.0 5.0 10.0 10.0 10.0 15.0 15.0

Jumlah kebutuhan pengadaan agroinput (pupuk dan pestisida) untuk tanaman pepaya s/d tanaman berproduksi optimal (tahun ke 10) dapat dilihat pada paket budidaya tanaman.

47

3. Pengadaan benih tanaman sela Sebagai sumber penghasilan tambahan bagi petani sebelum pepaya berproduksi, maka akan dibudidayakan tanaman kedelai, kacangtanah, kacang hijau, cabai, jagung atau tanaman sayuran sebagai tanaman sela. Dengan memperhitungkan pergiliran tanaman, maka kebutuhan benih jagung dan kedelai untuk tanaman sela pada areal seluas 1000 Ha dapat dihitung berdasarkan paket usahatani yang disarankan. Pengadaan benih tanaman sela ini dapat disalurkan melalui KUD setempat. 4.2. Pengadaan Sarana, Prasarana dan Alsintan Alsintan yang dibutuhkan pada saat tanaman diproduksi sampai dengan panen adalah alat pengolah tanah dan penyiangan. Perkiraan kebutuhan pengadaan alsintan untuk pengembangan SPAKU pepaya di Kecamatan Wajak adalah satu unit per rumahtangga. Sarana yang sangat diperlukan dalam pengembangan komoditas pepaya ini yaitu pengairan yang diupayakan melalui pembuatan sumur galian sebanyak 2 unit/ha kebun. Prasarana utama yang perlu dibangun adalah jalan kebun sepanjang 100 m/ha kebun dalam waktu 5 tahun. 4.3. Pemantapan Kelembagaan Kelembagaan yang harus ada di lokasi SPAKU meliputi kelembagaan petani, kelembagaan ekonomi dan kelembagaan aparatur. a. b. c. d. e. 4.3.1. Kelembagaan Pengelola SPAKU Pepaya Setiap petani menjadi anggota KUBA Pepaya. Setiap KUBA Pepaya tani beranggotakan 20 petani. Setiap petani menguasai sekitar 1 Ha lahan untuk pepaya. Setiap 15 KUBA Pepaya oleh 1 PPL. Setiap PPL mengelola 5 Ha kebun inti yang berfungsi sebagai kebun produksi, pusat informasi teknologi budidaya pepaya, yang dilengkapi dengan SAUNG (gubuk tempat pertemuan kelompok tani). Setiap petani juga menjadi anggota Koperasi Petani Pepaya/KUD. Setiap KUD menjadi mitra sumber dana yang terdiri dari BRI, BPD, BUMN, BUMS.

f. g.

Dalam rangka menyusun model pembinaan KUBA Pepaya digunakan langkah-langkah sebagai berikut :

48

1. KONDISI SAAT INI 2. PELUANG PENGEMBANGAN

3. MODEL RANCANG-BANGUN

EVALUASI KELAYAKAN 4. TEKNOLOGI 5. SOSIAL EKONOMI

6. REKAYASA KELEMBAGAAN ORGANISASI/ PRANATA

7. JUSTIFIKASI KELEMBAGAAN

8. RANCANG-BANGUN SISTEM

9. STRATEGI IMPLEMENTASI

10. RENCANA ENFORCEMENT DAN PEMANTAUAN

49

(A) Kondisi Pada Saat Ini 1. Sosial Ekonomi a. Rataan pendapatan per kapita per tahun para pemilik pepaya (petani lahan kering) di wilayah kecamatan Wajak, Kabupaten Malang masih harus ditingkatkan untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih baik b. Fluktuasi pendapatan bersifat musiman dan sangat tergantung pada dinamika pasar/harga pepaya di pasaran serta fluktuasi pasar/harga saprodi, terutama pupuk dan pestisida; c. Rataan anggota keluarga 4 - 5 orang, dengan 2 - 3 orang anak. 2. Teknologi Pemeliharaan Tanaman Pepaya (Produksi) a. Jumlah dan kualitas pohon sangat beragam dan kualitasnya umumnya rendah b. Populasi pohon pepaya 50 - 100 pohon c. Luas pekarangan 500-1000 m persegi untuk menanam tanaman pepaya dan ditanami dengan aneka tanaman tahunan lainnya d. Sasaran produksi : buah pepaya ; e. Tenaga kerja keluarga: suami-istri, dan anak-anak . 3. Kelembagaan Produksi Primer: Petani lahan kering a. Hubungan antara anggota kelompok tani yang ada sekarang bersifat tradisional b. Usaha pemeliharaan tanaman dengan sistem kebun campuran kurang intensif; c. Setiap kelompok tani beranggotakan 20-30 RTP dan dipimpin oleh seorang ketua dan seorang sekretaris dan seorang bendahara; namun demikian aktivitas kelompok ini masih sederhana d. Kelompok tani yang ada sekarang belum membentuk Koperasi formal yang beranggotakan semua RTP (Rumah Tangga Petani) (B) Permasalahan dan Peluang Pengembangan Keterbatasan penguasaan informasi, modal dan teknologi mengakibatkan operasi pemeliharaan tanaman sangat terbatas dan hasil buah pepayanya juga masih relatif rendah. Peluang inovasi teknologi dapat dilakukan melalui pembinaan kelompok tani (KUBA=Kelompok Usaha Bersama Agribisnis) secara intensif sehingga mempunyai akses yang lebih besar terhadap kemudahan-kemudahan yang disediakan oleh pemerintah atau investor swasta. Fluktuasi harga buah pepaya pada tingkat petani masih cukup besar dan "bargaining power" dalam mekanisme pasar relatif

1.

2.

50

3.

4.

sangat lemah , karena informasi pasar yang dikuasai sangat terbatas dan daerah pemasarannya sangat terbatas. Informasi pasar yang memadai diharapkan dapat memperbaiki situasi ini. Rintisan kemitraan dengan kelembagaan suasta yang bergerak dalam bidang pemasaran buah pepaya diharapkan dapat membantu petani memasarkan hasil buahnya. Dalam kaitan ini perlu adanya lembaga pengumpul (pengepul) di desa sebagai "perwakilan" dari perusahaan suasta tersebut yang berperan sebagai pedagang desa. Lembaga pengepul inilah yang berhubungan langsung dengan KUBA. Salah satu kendala serius yang masih dihadapi para petani ialah dalam pengadaan saprodi, terutama bibit pepaya yang unggul, sedangkan pupuk dan pestisida telah dapat tersedia secara lokal dengan harga yang layak. Jalinan kemitraan juga perlu dikembangkan dengan melibatkan agen-agen dari produsen bibit/penangkar bibit yang bersertifikat, serta kioskios/toko pertanian yang merupakan perwakilan dari produsen saprodi, seperti pupuk daun, hormon /zat trumbuh dan pestisida. Khusus dalam kaitannya dengan pembinaan dan pengembangan KUBA Pepaya diperlukan suatu "Forum Komunikasi Agribisnis Pepaya (FORKA Pepaya)" yang beranggotakan wakil-wakil dan dinas/instansi terkait, koperasi/KUD, Suasta, ketua-ketua KUBA dan tokoh masyarakat. Fungsi dan tugas FORKA ini adalah membahas segenap permasalahan pengembangan KUBA pepaya dan mencari alternatif penanganannya.

(C). Hopotesis Disain Agro-Teknologi Usaha pemeliharaan pepaya dengan sistem KUBA disarankan dengan perbaikan paket agrtoteknologi alternatif sebagai berikut : 1. Sistem perkebunan pepaya permanen dengan pemeliharaan tanaman secara intensif 2. Menggunakan bibit pepaya jenis unggul, misalnya Thailand 3. Kebun monokultur lebih disarankan apabila memungkinkan. 4. Pengawasan kesehatan dan kesuburan tanaman dilakukan dengan menerapkan praktek budidaya tanaman secara intensif. 5. Recording buku harian individu tanaman pepaya dan pengawasan periode pembungaan dan pembuahan kalau memungkinkan. 6. Menerapkan teknologi penanaganan pasca panen buah untuk menyeragamkan pematangan buah atau menangguhkan proses pematangan melalui manipulasi teknologi kemasan. (D). Kelayakan Disain Kebun Pepaya

51

1. Kelayakan Teknis Kebun monokultur digunakan secara khusus untuk memproduksi buah-buah pepaya yang kualitasnya bagus dan seragam; sedangkan pengelolaan kebun dapat mengikuti rekomendasi yang ada. Tanaman selama selama lima tahun pertama adalah kedelai atau jagung yang dikelola secara intensif. 2. Kelayakan Ekonomi Sekala ekonomi minimum bagi rumah tangga petani adalah 0.5-1.0 ha dengan jumlah pohon produktif 500-1000 pohon. Peningkatan produksi dan pendapatan usahatani pepaya mulai tahun ke V diharapkan telah cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga secara memadai (telah melampaui batas ambang kemiskinan); Fluktuasi pendapatan dan produksi hampir merata dari tahun ke tahun tahun. Penyerapan tenaga kerja memungkinkan mempekerjakan tenagakerja luar keluarga ; Secara ekonomi layak; Beberapa faktor penunjang kelayakan ekonomi tersebut adalah : a. Menambah sasaran produksi, yaitu grading buah-buah pepaya untuk pasar lokal, regional dan kota-kota besar. b. Meningkatkan hasil buah pepaya secara bertahap setiap tahun hingga sasaran akhir tahun ke X dengan sekala usaha 500-1000 pohon produktif setiap rumahtangga yang memiliki lahan kering 0.5 -1.0 ha. c. Mengurangi fluktuasi produksi dan pendapatan dengan jalan disiplin usaha dan pemantauan/pemeliharaan tanaman produktif secara intensif. d. Menciptakan adanya pola usaha bersama (KUBA) secara berkelompok dengan pangsa yang relatif sama. 3. Kelayakan Sosial Usaha pemeliharaan pepaya secara berkelompok telah lazim dilakukan dengan kerjasama yang serasi; dengan demikian proyek SPAKU Pepaya ini tidak akan menimbulkan konflik sosial dan mengganggu sistem kelompok yang telah serasi. (E). Rekayasa Kelembagaan 1. Petani yang terikat pinjaman dengan pedagang/pelepas uang harus melunasi untuk melepaskan ikatan tersebut; 2. Respon terhadap inovasi teknologi masih harus ditingkatkan, karena keterbatasan akses individu petani terhadap sumber informasi inovasi, peluang- peluang bisnis dan informasi pasar yang ada;

52

3. Respon terhadap KUD umumnya rendah dan terkesan bahwa peran KUD dalam membantu pemasaran hasil buah serta penyediaan modal belum banyak dirasakan oleh masyarakat petani ; 4. Respon terhadap perkreditan formal rendah, hal ini disebabkan pengalaman sebelumnya dimana penyaluran kredit kurang aspiratif, terlalu birokratif, bunga tinggi dan tidak sesuai dengan kebutuhan petani . Berdasarkan atas beberapa kendala tersebut, maka strategi rekayasa kelembagaan yang perlu disarankan adalah sebagai berikut : 1. Menciptakan usaha berkelompok dari RTPLK yang memungkinkan berkongsi dengan pangsa yang relatif seimbang dalam bentuk KUBA; 2. Meningkatkan peran serta PTL, PPL, dan tokoh masyarakat dalam pembinaan KUBA pepaya; 3. Mengurangi secara bertahap ketergantungan petani pada pedagang/ lembaga pemasaran sehingga meningkatkan posisi tawar- menawar dalam pemasaran hasil ; 4. KUBA-KUBA pepaya perlu membentuk koperasi petani pepaya (Unit Usaha Otonom Agribisnis dari KUD) yang berfungsi sebagai jembatan penghubung antara kelompoktani pepaya dengan dunia luar, baik dunia bisnis, birokrasi dan perbankan, maupun sumber inovasi teknologi 5. Memperkenalkan kredit yang ditempuh dengan sistem bagi hasil, serta mengatur sistem bagi hasil yang lebih seimbang dengan melibatkan lembaga antara , yaitu Koperasi petani pepaya atau KUD. (F). Justifikasi Kelembagaan Ikatan antara sesama petani dan antara petani dalam lembaga tradisional yang ada, serta antara petani dengan tokoh masyarakat sangat kuat. Pada sisi lain keterbatasan penguasaan modal dan informasi teknologi dirasakaan sebagai kendala pokok bagi pengembangan agribisnis pepaya. Oleh karena itu usaha yang sekarang dilakukan masih terkesan tradisional dengan sekala usaha yang relatif rendah. Sistem kredit bagi hasil dengan lembaga antara KUBA dan Koperasi Petani Pepaya (Unit usaha otonom KUD) dimaksudkan untuk mengurangi keterbatasan modal usaha melalui penggunaan fasilitas KPPA. Dengan demikian perbankan formal, seperti Bank Jatim, sebagai penyedia fasilitas kredit diharapkan mampu menjalin kerjasama kemitraan dengan para petani .

53

(G). Rancangan Sistem SPAKU Pepaya 1. Organisasi Produsen Primer

FORKA Pepaya

Investor Pemerintah (Mis. Bank Jatim) Konsultasi/investasi/Perkreditan

( PTL dan PPL) Tokoh Masyarakat

kredit dengan sistem bagi hasil

Suasta/ perwakilan Pedagang buah Produsen Saprodi kerjasama Pemasaran hasil buah & SAPRODI

Penyuluhan DIKLAT

Modal usaha

KOPERASI PETANI Pepaya

KUBA PEPAYA 25-30 RTP

54

2. Struktur Sistem Pembinaan

FORKA PEPAYA BPTP PPL tokoh masyarakat Pusat Penangkaran bibit Suasta

Koperasi Petani Pepaya

KUBA pepaya 25-30 RTP

KUBA pepaya 25-30 RTP

.............. .........

3. Pranata Tugas dan tanggung masing-masing komponen organisasi yang diusulkan tersebut diuraikan sebagai berikut : a. Investor PEMERINTAH: - Menyediakan fasilitas kredit bagi hasil dalam bentuk paket agribisnis pepaya intensif untuk KUBA melalui koperasi petani pepaya; - Menjalin kerjasama kemitraan dalam permodalan dengan koperasi petani dengan jalan menyediakan kemudahankemudahan birokrasi dan administrasi; - Menjalin kerjasama konsultatif dengan Koperasi petani pepaya, khususnya dalam pelatihan manajemen permodalan bagi usaha agribisnis pepaya.

55

b. Suasta: Pedagang buah/Produsen Saprodi : - Diharapkan bersedia sebagai mitra kerja Koperasi Petani Pepaya atau KUBA pepaya, dengan jalan menunjuk perwakilannya di desa ; - Menjalin kerjasama kemitraan dengan jalan menyediakan informasi-informasi pasar dan transfer teknologi inovatif . c. Petugas Penyuluhan/Teknis Lapangan (PPL/PTL) : - Bertanggung jawab terhadap pelatihan dan penyuluhan untuk lebih meningkatkan akses petani kecil terhadap peluang-peluang ekonomi yang ada dan penguasaan teknologi; - Menjalin kerjasama konsultatif dan kemitraan dengan instansi terkait dan tokoh masyarakat setempat dalam pelaksanaan transfer teknologi dan pembinaan pengelolaan usaha d. Koperasi Petani Pepaya (Unit Usaha Otonom KUD) - Mengawasi, mengkoordinasikan dan membina pelaksanaan sistem usaha agribisnis yang dilakukan oleh KUBA pepaya ; Membantu KUBA dalam operasionalisasi kegiatan pembinaan agribisnis pepaya ; - Membina mekanisme kerja pengembalian kredit sehingga dapat memenuhi aspirasi petani dan sumber kredit ; - Menjalin kerjasama kemitraan dengan suasta pedagang telur dan produsen/pedagang SAPRODI ; - Membina dan mengembangkan mekanisme tabungan sukarela dari para petani. e. Petani Pepaya - Melaksanakan usaha agribisnis pepaya melalui KUBA - Menjalin kerjasama kemitraan dengan instansi/ investor melalui mekanisme "kerjasama yang saling menguntungkan"; - Mengikuti pelatihan teknologi sebelum/selama operasionalisasi kegiatan; - Memasarkan hasil produksinya kepada lembaga pemasaran yang bermitra dengan KUBA - Pengelolaan pemilikan alat produksi (jika kredit telah lunas), tetap berusaha secara kongsi di bawah pengawasan dan pembinaan KUBA dan Koperasi; - Menjalin kerjasama dengan Koperasi Petani Pepaya melalui program tabungan bebas sebagai dana untuk perawatan alat-alat produksi. (H). Strategi Implementasi 1. Aspek Kelembagaan a. Pengaturan adanya usaha agribisnis pepaya secara berkelom-

56

pok (KUBA) dilakukan dengan sistem kredit bagi hasil ; b. Sarana alat produksi dan SAPRODI menjadi milik RTPLK yang berkelompok menjadi KUBA c. Pembagian hasil diatur sedemikian rupa, sehingga saling menguntungkan semua pihak secara proporsional d. Pada tahap awal, pemilihan kelompok sasaran perlu diarahkan pada pribadi-pribadi yang memiliki status sosial hampir sama/merata dan respon terhadap mekanisme pembinaan ; e. Perlu dijalin kerjasama kemitraan yang harmunis antara instansi pemerintah, investor suasta, pedagang/pengolah/produsen SAPRODI, Koperasi dan tokoh masyarakat desa melalui forum komunikasi agribisnis (FORKA). Kunci keberhasilan pembinaan sangat tergantung pada peran serta semua pihat terkait, termasuk petani. 2. Operasionalisasi Teknis Rekapitulasi pengaturan teknis yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan kredit bagi hasil adalah sebagai berikut : a. Jumlah Jumlah tanaman produktif yang dipelihara minimum 500 pohon setiap RTPLK ; b. Jumlah RTPLK dalam usaha kelompok 25-30 RTPLK; c. Ketentuan bagi hasil dalam pengembalian kredit dan perguliran berdasarkan asas saling menguntungkan; d. Nilai kredit/modal yang diinvestasikan disesuaikan dengan kebutuhan.

57

3. Operasionalisasi Pengorganisasian. Pengorganisasian yang perlu diakukan untuk menunjang program ini adalah : N o. 1 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tahapan kegiatan Pengaturan kerjasama investor dengan Petani Penentuan pedagang sebagai komponen pembina-an Pengaturan kerjasama antar kelembagaan yang terkait Pelatihan PPL tentang teknologi yang akan diintroduksikan. Penentuan/seleksi RTPLK untuk usaha kelompok dalam KUBA Pepaya Pelatihan Petani Operasionalisasi kegiatan usaha agribisnis secara berkelompok/berkongsi : a. Pemeliharaan Tanaman b. Pembeli hasil produksi pepaya c. Pengatur dan pengawasan bagi hasil d. Pengawasan harga e. Pembelian Saprodi f. Penanggung jawab bagi hasil g. Penambahan modal usaha Pengaturan usaha bersama petani setelah kredit lunas Pelaksana Investor dan Di nas/Instansi FORKA FORKA Dinas/BLPP BPTP Instansi/Tokoh masyarakat/Desa PPL/FORKA/BPTP

RTPLK Pedagang/Pengepul Ketua KUB Koperasi Koperasi; RTP Koperasi, KUB Koperasi, KUB Koperasi+KUB

8.

(I). Enforcement dan Pemantauan Dalam rangka untuk mengamankan dan membantu kelancaran kredit bagi hasil untuk petani kecil tersebut perlu dikembangkan pola insentif dan penalti yang melibatkan Koperasi, KUBA, aparat pemerintahan desa, dan kelembagaan lain yang terkait. Dalam hubungan ini pendekatan persuasif sangat diperlukan.

58

4.3.2. Kelembagaan Ekonomi/Keuangan Kelembagaan ekonomi yang diperlukan adalah : BRI, BPD, BUMN, Swasta, KUD, Pedagang dan Arisan/pengajian. 4.3.3. Kelembagaan Aparatur Kelembagaan aparatur, berdasarkan fungsinya dapat dibagi menjadi : a. Lintas sektoral Misalnya : LKMD, Forum Musyawarah LKMD. b. Struktural sektoral - Mantri Tani, berfungsi untuk administrasi tanaman pepaya atau SIMKM (Sistem Informasi Manajemen Kebun Pepaya) - Kepala Dinas Tk. II - Kepala Dinas Tk. I - Kakanwil Dep. Pertanian Propinsi Jawa Timur c. Struktural fungsional - PPL pepaya, dibekali ketrampilan teknis dan manajerial dan dengan modal kredit usahatani. - PPS di tingkat BIPP Kabupaten. d. Balai Latihan Kerja dan Diklat Petani - Sekolah Lapangan (SL) Agribisnis pepaya di lokasi sentra. - BLPP di Tingkat Kabupaten 4.4. Peningkatan Pengolahan dan Pemasaran Salah satu aspek sangat penting dalam pembangunan sentra agribisnis adalah pengolahan/pemasaran hasil. Memasuki perdagangan bebas, aspek-aspek penting dari produk usahatani atau produk agroindustri yang akan dipasarkan adalah : a. Kuantitas (volume produksi) yang berskala ekonomi b. Kontinuitas (ketersediaan sepanjang waktu) c. Kualitas/mutu yang tinggi dan Harga (efisiensi) yang kompetitif 4.4.1. Peningkatan pengolahan meliputi : a. Pengadaan alat pengolahan hasil (Cold storage) b. Pelatihan pengolahan hasil bagi petani (pemakaian bahan kimia untuk penyeragaman pemasakan) c. Pelatihan peningkatan mutu hasil (Sekolah Lapang Agribisnis Pepaya) d. Magang petani di perusahaan agroindustri e. Magang di BLPP/BPTP Karangploso, Malang.

4.4.2. Peningkatan pemasaran meliputi :

59

a. Pengembangan sistem informasi pasar Melalui Radio Komunikasi Informasi Pertanian (RKIP) Wonocolo Surabaya. b. Temu Usaha c. Magang di perusahaan agribisnis produk pepaya yang ada d. Studi banding ke daerah PUSAT pemasaran 4.5. Dukungan Sektor Terkait Pembangunan Sentra Agribisnis Komoditas Unggulan memerlukan dukungan sektor lain yang terkait seperti : a. Pembangunan jalan kebun (Dep. PU) b. Pembangunan Irigasi /sumur (Dep. PU) c. Pengembangan Koperasi/KUD (Dep. Koperasi dan PPK) d. Pembangunan Pasar Lelang, pasar induk (Dep. PERINDAG) e. Pembangunan Industri Pengolahan Hasil (DEPERINDAG) f. Teknologi tepatguna inovatif (BPTP Karangploso, Malang) 4.6. Analisis Faktor Pendorong dan Penghambat Dalam rangka pembangunan sentra pengembangan komoditi unggulan pepaya di Kabupaten Kediri, perlu dianalisis faktor pendorong dan penghambat. 4.6.1. Faktor pendorong Meliputi sosioteknologi, agroekosistem cacah, infra struktur memadai, kelembagaan agro-support mendukung, supra struktur politis kondusif. 4.6.2. Faktor penarik Meliputi pemasaran prospektif, trend kenaikan pendapatan, kesadaran gizi masyarakat, Program Gerakan Kembali ke Desa, perkembangan struktur ekonomi wilayah perdesaan. 4.6.3. Faktor penghambat Meliputi pemilihan lahan sempit, kesulitan air, orientasi subsistensi, keragaman poliklonal, musiman dan binial bearing (pembuahan tidak teratur), volume besar dan berat serta mudah rusak. 4.7. Pengorganisasian Proyek 4.7.1. Koordinasi Perencanaan Proyek 1. Kegiatan Tahapan kegiatan-kegiatan tahunan seperti dijabarkan pada Bab VI merupakan rencana kegiatan untuk pengembangan sentra agribisnis pepaya di Kabupaten Malangyang perlu disepakati oleh

60

fungsi perencanaan pada Kanwil Departemen Pertanian Propinsi Jawa Timur, Bappeda Tingkat I Propinsi Jawa Timur, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Tk. I dan Tk. II serta Bappeda Kabupaten Kediri, dan disetujui oleh Departemen Pertanian dan Pemda Kabupaten Malangserta Dinas-dinas sektor terkait lainnya. 2. Pendanaan Biaya pembangunan sentra produksi pepaya selama 5 - 10 tahun diusulkan untuk dapat dialokasikan tidak saja dari dana APBN tetapi juga dari dana APBD Tk. I atau APBD Tk. II. Dengan sistem/pola pendanaan : - Pemeliharaan th. I = APBN - P II - P III - P IV = APBD I dan II 4.7.2. Pelaksanaan Pengembangan sentra agribisnis pepaya di Kabupaten Malangini dilaksanakan oleh Unit Pelayanan Pengembangan (UPP) sentra agribisnis pepaya yang berada di bawah tanggung jawab Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Tk. II Kabupaten Kediri. 4.7.3. Pengendalian Pengendalian kegiatan pengembangan sentra agribisnis pepaya (selama masa konstruksi proyek) di Kabupaten Malangdilaksanakan oleh Tim Teknis Pembangunan Pertanian Propinsi Jawa Timur. FORKA Pepaya (Forum Komunikasi Agribisnis Pepaya) dibentuk dan diharapkan dapat berfungsi penuh selama pasca proyek. 4.7.4. Monitoring dan Evaluasi Evaluasi pelaksanaan kegiatan tahunan (on going) dilaksanakan secara terpadu oleh Kanwil Deptan Propinsi Jawa Timur, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Tk. I dan Tk. II Kabupaten Kediri, Bappeda Kabupaten Malangserta Dinasdinas sektor terkait di Kabupaten Kediri. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan tahunan bertujuan memantau kegiatan tahunan agar sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan merekomendasi penyesuaianpenyesuaian yang perlu dilaksanakan seandainya demi tercapainya tujuan pengembangan sentra agribisnis pepaya. Evaluasi dampak (ex post) akan dilaksanakan setelah 5 - 6 tahun berjalan yang melibatkan Instansi Pertanian tingkat Pusat. Evaluasi dampak bertujuan melihat/menganalisa dampak yang timbul akibat adanya kegiatan pembangunan sentra agribisnis pepaya. Diharapkan dampak yang timbul adalah dampak positif yaitu antara lain : meningkatnya pendapatan petani khususnya dan perekonomian desa pada umumnya.

61

62

V. PENTAHAPAN KEGIATAN Untuk mengembangkan Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang menjadi sentra agribisnis pepaya diperlukan pembinaan dan pembiayaan dari Pemerintah selama 5 tahun. Dengan kata lain, masa kerja Unit Pelayanan Pengembangan (UPP) sentra agribisnis pepaya akan berlangsung selama 5 tahun. Dasar pertimbangan dibutuhannya waktu 5 tahun adalah sebagai berikut : 1. Sasaran luas areal yang akan dikembangkan menjadi inti/percontohan adalah 1000 Ha dengan target penanaman 200 Ha/tahun. Dengan demikian dibutuhkan waktu selama 5 tahun untuk mengembangkan 1000 Ha sentra produksi pepaya di lokasi terpilih. 2. Tanaman pepaya baru dapat berproduksi setelah tanaman berusia 2 tahun. Agar petani mampu melakukan pemeliharaan tanaman sesuai paket teknologi yang dianjurkan, maka diharapkan pembinaan dan bantuan Pemerintah diberikan kepada petani tidak hanya berupa paket 1 tahun (pada tahun penanaman) tapi juga pembinaan dan paket pemeliharaan tanaman sampai dengan tanaman mulai berproduksi. Tanaman yang ditanam pada tahun ke 4 baru akan berproduksi pada tahun ke 4. Oleh karena itu dibutuhkan waktu sampai dengan 5 tahun pembinaan. Pada tahun ke 5, sebelum berakhirnya masa tugas Unit Pelayanan Pengembangan sentra agribisnis pepaya akan dilaksanakan evaluasi dampak (ex-post evaluation) untuk menilai dampak pembangunan sentra agribisnis pepaya terhadap peningkatan pendapatan petani khususnya, dan peningkatan kegiatan ekonomi pedesaan pada umumnya.

63

VI. P E N U T U P 6.1. Mekanisme Pendanaan Untuk tercapainya sasaran kegiatan pengembangan Agribisnis pepaya yang tahapan kegiatannya telah dijabarkan pada Bab V, maka setiap tahun pada penyelenggaraan Rakor bangtan/Rakorbang Tk. II, perlu dibahas rancangan kebutuhan biaya pelaksanaan pembangunan sentra agribisnis pepaya setiap tahunnya. Hal ini diperlukan untuk pengalokasian dana dari masingmasing sumberdana yang seperti telah diusulkan pada bab-bab terdahulu. 6.2. Manfaat Yang Diharapkan Pembangunan "SPAKU" Pepaya di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang ini jika berhasil akan memberikan dampak langsung berupa pening-katan pendapatan dan kualitas hidup 1000-2000 rumah tangga petani peserta yang akan dibina, dimana pada umumnya kualitas hidup rata- rata para petani tersebut masih berada di sekitar ambang kemiskinan.

64

BAHAN BACAAN AAK. 1980. Bertanam Pohon Buah-buahan I. Yayasan Kanisius. Yogyakarta AAK. 1980. Bertanam Pohon Buah-buahan II. Yayasan Kanisius. Yogyakarta. Adriance, G.W. dan F.R. Brison. 1967. Propagation of Horticultural Plant. Second ed. Tata McGraw Hill Publ. Co. Ltd., New Dwlhi. Afriastini, J.J. 1985. Daftar Nama Tanaman. Swadaya. Jakarta. PT Penebar

Astawan, M. dan M.W. Astawan. 1991. Teknologi Pengolahan Pangan Nabati Tepat Guna. Penerbit Akademika Pressindo. Jakarta. Ayers, R.S. dan D.W. Westcot. 1976. Water Quality for Agriculture. FAO Irrigation and Drainage Paper No 20. Rome. Azis, A. 1991. Interaksi Sektor Pertanian dan Sektor Industri dalam Proses Industrialisasi. Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional V, Jakarta 3-7 September 1991, Pusat Analisa Perkembangan IPTEK-LIPI, Jakarta. Brinkman,A.R. dan A.J. Smyth. 1973. Land Evaluation for Rural Purposes. Publ. No. 17. ILRI, Wageningen. Chicester,DF and FW Tanner, 1968. Antimicrobial Food Additives. In Handbook of Food Additives by Furia, TE. The Chemical Rubber Co. Ohio. p. 1963-1966 Dent,J.B. dan J.R. Anderson. 1971. System Analysis in Agricultural Management. John Wiley and Sons,Australia PTY, Sydney. DeWit,C.T. 1958. Transpiration and Crop Yield. Versl. Landbkundig Onderz., 64(5) Pudoc, Wageningen. Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan RI. 1981. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Bhatara Karya Aksara, Jakarta. Doorenbos, J. dan W.O. Pruitt. 1977. Guidelines for Predicting Crop Water Requirements. FAO Irrigation and Drainage Paper No. 24. Food and Agriculture Organization of The United Nations, Rome. Doorenbos, J dan A.H. Kassam. 1979. Yield Response to Water. FAO Irrigation and Drainage Paper No 33. Food and Agriculture Organization of The United Nations. Rome.

65

Downey, W.D. dan S.P. Erickson. 1989. Manajemen Agribis nis. (Terjemahan R.S. Ganda). Penerbit Erlangga, Jakarta. Dwi Astuti, R., M. Dewani , S. Wijana dan Solimun. 1995. Abstraksi Sistem Agribisnis Rambutan. Review Hasil-hasil Penelitian dalam Rangka Implementasi PIP Universitas Brawijaya Tahun 1990/91 - 1993/94. Lembaga Penelitian Universitas Brawijaya, Malang Dwiastuti, M.E., A. Muharam dan A. Triwiratno, 1992. Biokarakterisasi koleksi strain lemah virus Tristeza Jeruk (CTV) di Indonesia. Penelitian Hortikultura 3 (1). Dwiastuti, M.E., A. Triwiratno, dan A. Muharam, 1992. Deteksi cepat CVPD pada jeruk dengan teknik immunoflurescence technique. Penelitian Hortikultura 3 (1). FAO. 1978. A Framework for Land Evaluation. Soils Bulletin No. 32. Food and Agriculture Organization of The United Nations. Rome. FAO. 1978. Agro-ecological Zone Project. Soil Resources Report No. 48. Rome. Fisher, R.A. dan R.M. Hagan. 1965. Plant Water Relations, Irrigation Management and Crop Yields. Exp. Agric. 1:161-177. Flach, K.W. 1986. Modeling of Soil Productivity and Related Land Classification. Soil Conservation Services, USDA, Washington, D.C. France, J. dan J.H.M. Thornley. 1984. Mathematical Models in Agriculture. A Quantitative Approach to Problems in Agriculture and Related Sciences . Butterworths & Co. (Publishers) Ltd., London Frazier,WC., 1978. Food Microbiology. Tata Mac Graw Hill Publishing Co. Ltd. New Delhi. India. p. 368. Gibbon,D. dan A. Pain. 1985. Crops of the Drier Regions of the Tropics. Intermediate Tropical Agriculture Series. Longman, London. Godefroy, J. dan Ph. Melin. 1973. Effect of sulphur applications on the chemical characteristics of a volcanics soil used for banana cultivation. Fruits (France) 28(4): 255-261. Gonzales, C.I., B.G. Mercado, B.G. Dimayuga, and L.V. Magraye, 1991. Recent development technologies towards the control of citrus greening disease in thr Philippines. Proc. of 6th Int. Asia Pacific Workshop on Integrated citrus health management. Kualalumpur, Malaysia.

66

Hamer, W.I. 1982. Final Soil Conservation Consultant Report. AGOF/INS/78/006. Technical Note No. 26.Centre for Soil Research, Bogor. Hernandez, R.P. 1986. Land Inventory and Traditional Agrotechnology Information as basis for the Mapping of Land Management Units in Central Mexico. Soil Sci. Laboratory, Dept. of Agric. Sci., Univ. of Oxford, U.K. Hernandez, L. J. 1973. The elaboration of full orange juices. Boletin Estacion Experimental Agricola de Tucuman (Argentina) No. 113, 9p. Kamarijani, 1983. Perencanaan Unit Pengolahan Hasil Pertanian. Jurusan Pengolahan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Kartasapoetra, G., A.G. Kartasapoetra, dan R.G. Kartasapoetra. 1985. Management Pertanian (Agribisnis). Penerbit Bina Aksara Jakarta. Kassam, A.H. 1977. Net biomass production and yield of crops. Present and Potential Land Use by Agroecological Zones Projects, FAO, Rome. Kipps, M.S. 1970. Production of field crops. A Textbook of Agronomy. McGraw Hill, New York. Malavolta, E. 1962. On the mineral nutririon of some tropical crops. Editors: International Potash Institute, Berne, Switzerland. Malquori, A. 1980. The Potassium requirements of fruit crops. Dalam Potassium Requirements of Crops. IPI Research Topics No. 7, International Potash Institute Bern/Switzerland. Malquori, A. dan F. Parri. 1980. Potassium requirements of fruit crops. Dalam Potassium requirement of crops. Int. Potash Inst. Research Topics No. 7, Bern/Switzerland. Mangkusubroto, K dan L. Trisnadi, 1987. Analisa Keputusan. Pendekatan Sistem Dalam Manajemen Usaha dan proyek. Ganeca Exact Bandung. Bandung. Pusat Pengembangan Agribisnis. 1988. Commodity Profiles. Pusat Pengembangan Agribisnis (PPA) Jakarta. Quilici, S. 1989. Report of mission to Indonesiaas a consultant for FAO Proyect INS/84/007 on Citrus rehabilition. France Rismunandar. 1983. Membudayakan Tanaman Buah-Buahan. Penerbit Sinar Baru. Bandung,

67

Rodriguez,A.J., R. Guadalupe, L.M.de G. Iquina. 1974. the ripening of local papaya cultivars under controlled conditions . Jour. of Agric. of the Univ. of puerto Rico 58(2) : 184-196. Ryall, A.L. dan W.J. Lipton. 1983. Handling, Transportation and Storage of Fruits and Vegetables. Volume I. AVI Publishing Company, Inc. Westport, Connecticut. Samson, J.A. 1980. Tropical Fruits. Longman. London. Soemarno. 1992. Studi Model Pewilayahan Komoditi Pertani an yang Berwawasan Lingkungan di Sub DAS Lesti, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Proyek Penelitian yang dibiayai oleh Proyek ARM Balitbang Pertanian. Sys, C. 1985. Land Evaluation. Part III. International Training Centre for Post-Graduate Soil Scientists, State University of Ghent. Tohir, K. A. 1983. Bercocok Tanam Pohon Buah-buahan. Pradnya Paramita. Jakarta.

68

Lampiran 1. Agroteknologi Budidaya Tanaman Pepaya dalam Kebun Monokultur A. Pengaturan Tanaman Beberapa cara pengaturan tanaman pepayamonokultur yang disarankan adalah : A.1. Cara bujung sangkar A* D* * * * * B* C* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * dalam kebun

Pengaturan cara bujursangkar lebih mudah dibandingkan cara yang lain. Panjang AB = BC = CD = AD. Seandainya jarak tanaman pepaya 2-2.5 m, luas ABCD = 4.0 - 6.0 m2. A.2. Cara diagonal A* D* E* * * * B* * * * * * * * C* * * * * * * * F* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Panjang AB = BC = CD = AD, titik E terletak pada titik potong diagonal. Cara ini sebenarnya sama dengan cara bujursangkar, hanya pada titik potong diagonal diberi tanaman berumur pendek yang kemudian hari tanaman tersebut dibongkar. Jarak tanam yang dianjurkan 2 - 3 m. A.3. Cara Garis Tinggi (Contour) Cara garis tinggi ini dikerjakan bila tanah untuk perkebunan pepayaterletak pada tanah yang miring. Saat penanaman sebaiknya tanah dibuat teras lebih dahulu. Karena tanahnya miring maka sulit untuk dibuat cara bujur sangkar atau segitiga sama sisi. Jarak dalam baris pada tinggi yang sama dapat ditentukan misalnya 5 m, tetapi

69

jarak dari teras yang satu ke teras yang lain mungkin sulit disamakan. Dalam hal ini perlu disesuaikan dengan keadaan. B. Jarak Tanam Jarak tanam pohon pepayatergantung beberapa faktor di antaranya jenis tanah, berat ringannya tanah, kesuburan tanah, dan varietas tanaman mangga. Pada tanah yang tandus, pertumbuhan tanaman kurang subur sehingga dapat ditanam pada jarak yang lebih dekat. Tanaman yang berasal dari biji pada umumnya lebih besar daripada yang berasal dari semai atau cangkok, sehingga ditanam dengan jarak yang lebih lebar. Jarak tanam pepayayang baik adalah 8 m, sehingga pada waktu tanaman pepayasudah besar tidak akan berdempetan dan akan mengurangi timbulnya penyakit . C. Pembuatan Lubang Tanam Setelah ajir dipasang sesuai dengan cara tanam yang dikehen daki, kemudian dibuat lubang tanam dengan ukuran 10 x 10 x 10 cm. Pada waktu lubang titik tengahnya tepat pada ajir. Tanah bagian bawah dipisahkan dari tanah bagian atas, karena pada saat pengisian lubang, yang dimasukkan terutama adalah tanah bagian atas yang baik, sedangkan tanah bawah tidak perlu dimasukkan tetapi telah diganti dengan kompos atau pupuk kandang yang telah jadi, dan dicampur dengan tanah bagian atas, superphosphat dan abu. Tanah bagian bawah yang tidak digunakan, dibiarkan diatas tanah disekitar lubang dan akan menjadi tanah yang baik karena pelapukan. Pemberian superphosphat + 300 - 500 gram tiap lubang dan abu kayu bakar + 3 - 5 kg. Sedangkan Kusumo dkk. (1975) menganjurkan pupuk kandang sebanyak dua kaleng minyak tanah yang dicampurkan pada kedua macam tanah galian. Kemudian tanah bagian bawah dikembalikan ke bawah, dan yang atas ditaruh kembali diatasnya. Setelah diisi, lubang diberi air kompos air pupuk kadang secukupnya. Pembuatan lubang sebaiknya dilakukan pada musim kemarau sehingga akan mendapat banyak sinar matahari yang dapat mematikan penyakit yang ada. D. Penanaman Penanaman sebaiknya dilakukan sore hari pada musim hujan, sehingga tidak perlu menyiram dan udara tidak terlalu panas pada siang hari. Hal ini akan mengurangi kematian tanaman yang baru ditanam. Sebelum bibit ditanam, lubang yang telah diisi tanah dibiarkan beberapa hari sampai tanah betul- betul tidak turun lagi. Kalau tanah masih turun di tambah tanah lagi yang telah dicampur kompos, pupuk kandang dan superphosphat. Pemberian tanah sedikit lebih tinggi dari tanah disekitarnya sehingga tidak tergenang air hujan. Di tempat ajir, dibuat lubang yang sedikit lebih besar dari keranjang bibit, kemudian ditaburi dengan furadan, curaterr, temik atau mipzinon + 10 - 25 gram tiap lubang guna mencegah gangguan rayap atau semut yang mungkin ada. Waktu penanaman sebaiknya keranjang dilepas supaya tidak didatangi rayap. Pada waktu menanam diusahakan leher akar tetap seperti pada waktu di pesemaian dan tempat mata tempel atau sambung jangan sampai tertimbun tanah. Setelah tanam segera disiram sampai betul-betul basah lalu dibuat peneduh yang terbuat dari daun kelapa, alang-

70

alang atau yang lainnya sehingga tidak terkena sinar matahari secara langsung. Peneduh tetap dipakai selama 2 - 3 minggu, setelah itu peneduh dibuka sedikit demi sedikit. Apabila yang ditanam bibit cabutan, akar yang rusak atau sakit dipotong sampai di tempat yang sehat, dan luka diolesi "santar" atau obat luka lainnya. Pada waktu menanam diusahakan akar tersebar seperti keadaan aslinya, apabila akar tunggang terlalu panjang bisa dipotong sehingga tidak bengkok waktu ditanam. Bila terdapat hama putih pada akar harus dibersihkan jangan sampai ikut ditanam, demikian pula hama yang lain. Daun dipotong 1/3 sampai 2/3 bagian dari panjangnya untuk menghidari penguapan yang berlebihan. Pada waktu menanam, tanah diberikan sedikit demi sedikit sehingga bisa masuk di antara akar. E. Pemeliharaan Tanaman E.1. Penyiraman Bibit tanaman yang baru ditanam sebaiknya disiram secara teratur setiap hari, lebih-lebih yang berasal dari cabutan.Disamping itu juga diperlukan naungan untuk melindungi dari terik sinar matahari sehingga daun dan batang tidak kering . E.2. Pengendalian gangguan hama, penyakit dan gulma Karena penanaman dilakukan pada musim hujan di mana keadaan udara selalu berawan dan lembab, sehingga selalu ada kemungkinan timbul penyakit. Untuk pencegahannya bisa disemprot dengan fungisida misalnya dengan Bubur Burdeaux (BB). BB ini melekat lebih kuat dibandingkan fungisida lainnya, tidak lekas larut bila terkena hujan, dan masih bisa melekat beberapa lama. Bila ada tumbuhan epifit walaupun bukan parasit segera dihilangkan karena mungkin menjadi inang hama atau penyakit. Gulma harus segera disiang karena dapat menyaingi tanaman pepayadalam menyerap makanan, sehingga mungkin pepayakalah cepat apalagi bila tanaman pepayamasih muda. Selain itu gulma dapat menjadi inang penyakit yang kemudian bisa menyerang tanaman pepaya. E.3. Pemangkasan ranting, bunga dan tunas Bila tanaman muda sudah mulai berbunga, sebaiknya bunga dikurangi. Karena bila dibiarkan jadi buah dalam keadaan masih muda, akibatnya tanaman pepayamenjadi lemah dan mudah terkena penyakit. Tanaman baru boleh mulai berbuah dan jadi buah sesudah berumur + 2 tahun. Ranting dan cabang yang kering atau terkena penyakit sebaiknya dipotong, tetapi jangan terlalu banyak memangkas daun yang masih sehat, karena akan mengurangi fotosintesis sehingga pertumbuhan akan terhambat . E.4. Penggemburan Tanah Apabila tanah padat sebaiknya digemburkan, sehingga dapat terjadi pertukaran udara dalam tanah. Akar tanaman yang mendapat cukup udara akan tumbuh sehat dan dapat menyerap makanan cukup banyak sehingga tanaman akan tumbuh pesat. Penggemburan tanah jangan terlalu dalam karena dapat

71

memutuskan akar . E.5. Pemangkasan Pemangkasan daun tua sebagai pemeliharaan dapat dilakukan sewaktu-waktu. Pemangkasan ini ditujukan untuk membuang daun tua yang patah, rusak, yang mengganggu cabang lain, atau cabang yang tidak dikehendaki. Sedangkan pemangkasan peremajaan dilakukan dengan memangkas semua cabang yang kecil-kecil, kecuali satu batang paling atas untuk memelihara kelanjutan hidup tanaman. Tunas-tunas baru yang tumbuh disisakan 2 - 3 batang. E.6. Pemupukan Program pemupukan yang dianjurkan untuk kebun pepaya adalah : (a). Pohon Pepaya muda 1. Pada permulaan tanam : pupuk kandang 2 - 3 kg/tanaman 2. Kemudian : 0.25 - 1.25 kg ZA (20 %) 0.0 - 0.5 kg Superphosphat (18 % P2O5) 0.1 - 0.25 kg Kaliumsulphat (50 % K2O) (b). Pohon Pepaya Produktif : 1.1 - 5.0 kg ZA; 0.4 - 0.8 kg Superphosphat; 0.5 - 0.75 kg Kalisulphat; Disamping itu dapat juga diberikan pupuk campuran dengan aturan sebagai berikut : a. pada tanaman muda : 0.5 - 1.5 kg (15 N : 5 P : 15 K) b. pada tanaman tua : 2 - 3 kg ( 12 N : 8 P : 18 K) E.7. Tanaman sela Di sela-sela tanaman pepaya dapat ditanami aneka tanaman sayuran sewaktu tanaman pepaya tersebut masih kecil (hingga umur 5 tahun). Jenis tanaman sela yang dapat digunakan yaitu sayuran, kedelai, kacangtanah atau jagung. E.8. Pemungutan Hasil Pohon pepaya yang berasal dari bibit perkecambahan dapat diharapkan berubah setelah umur + 2 tahun, dan hasil terbanyak diberikan oleh tanaman pepaya yang berumur 5 - 6 tahun. Buah pepaya dapat dipetik bila kulit buah yang semula berwarna hijau muda sudah berubah menjadi hijau tua atau kebiru-biruan, dan kulit seakan-akan tertutup oleh lapisan lilin yang akhirnya akan menghilang, serta tangkai buah berwarna kuning. Buah yang demikian keadaannya masih keras tetapi sudah cukup masak, dan akan benar-benar masak beberapa hari kemudian . Pohon yang masih muda (4 - 5 tahun) produksinya sekitar 20 - 30 buah, dan kemudian akan meningkat terus mencapai 100-150 buah setiap pohon.

72

Lampiran 1. Agroteknologi tanaman sela sayuran 1. BAWANG MERAH (Allium sp.) 1.1. Pendahuluan Tanaman bawang merah dapat tumbuh baik pada tanahtanah yang subur, banyak mengandung bahan organik, tidak tergenang air, aerasinya cukup baik, dan pH 5.5-6.5. Jika pH tanah kurang dari 5.5 biasanya pertumbuhan tanaman kerdil akibat gangguan oleh Al-dd. Sedangkan kalau pH tanah lebih dari 6.5, biasanya umbinya kecil-kecil karena defisien Mn. Saat tanam yang baik adalah akhir musim hujan (Maret/April) dan musim kemarau (Juni/Mei). Penanaman pada musim penghujan menghendaki drainase tanah yang bagus dan pengendalian hama dan penyakit yang intensif. Bawang merah yang dikenal dengan nama "Brambang" adalah Allium ascalonicum L. yang umumnya ditanam di dataran rendah pada musim kemarau. Sedangkan "bawang Bombay" adalah Allium cepa L, yang biasanya ditanam di dataran tinggi yang beriklim sejuk (Doorenbos dan Kassam, 1978; SP2UK, 1992). 1.2. Budidaya Tanaman (1). Perbanyakan tanaman Tanaman diperbanyak dengan umbi lapisnya, di Indonesia tidak pernah diperbanyak dengan biji. (2). Bertanam Pengolahan tanah dilakukan sedalam 40 cm, diberi pupuk kandang atau kompos sekitar 10-20 ton/ha. Bedengan dibuat dengan lebar sekitar 60 cm dengan lebar parit 20-40 cm. (3). Perlakuan benih/bibit Umbi bibit dipilih yang berukuran kecil hingga medium, bulat normal, dan telah diistirahatkan 1-2 bulan dalam gudang. Umbi basah tidak baik untuk bibit. Umbi bibit ini dipotong ujungnya sebanyak 1/3 hingga 1/2, bagian bawah atau pangkalnya untuk bibit. Setelah pemotongan segera bibit ditanam dalam posisi berdiri tegak dengan jarak 20 x20 cm. Setiap bvedengan memuat 3-4 baris tanaman, penanaman tidak terlalu dalam, permukaan irisan umbi bibit cukup tertutup lapisan tanah gembur yang tipis. Bibit muali tumbuh seminggu kemudian. Kebutuhan bibit brambang sekitar 200 000 umbi bibit atau 1200 kg setiap hektar.

73

(4). Pemupukan Setelah tanaman berumur tiga minggu semenjak tanam, mulai diberi pupuk buatan N, P, dan K dengan kisaran dosis: 75-180 kg N/ha, 0-90 kg P/ha dan 0-100 kg K/ha. Jenis pupuk yang diguna kan biasanya urea, ZA, DS, TSP, KCl atau pupuk lengkap NPK 15:15:15. Pemberian pupuk dilakukan pada saat mendangir atau menyiang, ditempatkan di sekitar tiap tanaman sejauh 5-10 cm. a. b. (5). Pengendalian hama dan penyakit Ulat daun yang sering memotong ujung-ujung daun dan hama bodas yang menyeran daun hingga kering. Hama ini dapat dikendalikan dengan Bayrusil 0.2% atau jenis insektisida lainnya. Cendawan busuk umbi menyerang umbi, baik di lapangan maupun setelah di gudang, hingga umbi menjadi busuk. Hal ini sering terjadi kalau kondisi lahan terlalu basah dan kudang kurang kering. Gangguan penyakit dikendalikan dengan Bubur Bordeaux (BB) atau KOC 1-2% atau Dithane M.45 0.2% yang disiramkan pada setiap tanaman atau disemprotkan. Penyakit mati pucuk (Phytophtora porri) yang menyebabkan ujung daun tanaman berwarna kuning, kemudian berubah menjadi putih dan kering. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan BB 2% atau Dithane M.45 0.2%. Penyakit becak daun (Alternaria porri) dikendalikan dengan semprotan Dithae M.45 atau Antracol 0.2%.

c.

d.

1.3. Hasil Tanaman Tanaman dapat dipanen setelah batangnya lemas dan daundaunnya kering, biasanya setelah umur 2.5-3.5 bulan setelah tanam. Panen dila-kukan dengan mencabut tanaman. Setiap umbi bibit dapat menghasilkan 4-6 umbi anakan. Tanaman yang baik dapat mencapai hasil 100-120 kuintal umbi basah/ha.

2. BAWANG PUTIH (Allium cepa) 2.1. Pendahuluan Pada kondisi normal tanaman ini membentuk umbi pada musim pertumbuhan pertama dan berbunga pada musim ke dua. Hasil umbi dikendalikan oleh panjang hari dan panjang hari yang kritis berkisar antara 11 - 16 jam tergantung pada varietas tanaman. Tanaman tumbuh baik pada kondisi iklim yang medium, tanpa kondisi ekstrim suhu dan tanpa hujan yang berlebihan. Untuk periode pertumbuhan initialnya diperlukan cuaca dingin dan cukup air, sedangkan selama fase pemasakan diperlukan cuara hangat dan kering untuk mendapatkan hasil yang banyak dengan kualitas yang

74

baik. Rataan suhu harian yang optimum berkisar antara 15 dan 20 oC. Seleksi varietas tanaman yang sesuai sangat penting, terutama dalam hubungannya dengan persyaratan panjang hari. Misalnya varietas dari daerah iklim sedang yang long-day, kalau ditanam di daerah tropis dengan short day akan menghasilkan pertum buhan vegetatif saja tanpa menghasilkan umbi. Panjangnya musim pertumbuhan beragam dengan kondisi iklim, tetapi umumnya antara 130-175 hari mulai dari tabur benih hingga panen. Tanaman ini dapat disemaikan dulu dan dipindahkan setelah umur 30-35 hari, penanaman benih langsung di lapangan juga dapat dilakukan. Tanaman biasanya ditanam dalam barisan atau pada bedengan dengan dua baris atau lebih dalam setiap bedengan dan jarak tanamnya 0.3-0.5 x 0.05-0.1 m. Suhu tanah yang optimum untuk perkecambahan adalah 15-25oC. Untuk produksi umbi yang bagus, tanaman tidak boleh berbunga karena hasil umbinya jelek. Umbi dapat dipanen kalau daun-daunnya telah mengering. Untuk inisiasi pembungaan diperlukan suhu rendah (kurang dari 14oC 16oC) dan kelembaban yang rendah. Akan tetapi pembungaan hanya sedikit terpengaruhi oleh panjang hari. Tanaman ini dapat ditanam pada banyak tipe tanah tetapi yang terbaik adalah tekstur tanah medium. pH optimum berkisar antara 6 dan 7. Kebutuhan pupuk biasanya 60-100 kg N/ha, 25-45 kg P/ha dan 45-80 kg K/ha. Tanaman sangat peka terhadap salinitas tanah, dan penurunan hasil pada berbagai tingkat salnitas tanah adalah: 0% pada ECe=1.2 mmhos/cm; 10% pada ECe=1.8; 25% pada ECe=2.8; 50% pada ECe=4.3 dan 100% pada ECe=7.5 mmhos/cm (Doorenbos dan Pruitt, 1977; Doorenbos dan Kassam, 1978). 2.2. Kebutuhan air Untuk mencapai hasuil optimum tanaman onion memerlukan 350-550 mm air. Koefisien tanaman (kc) yang menghubungkan evapotranspirasi referensi dengan kebutuhan air (ETm) untuk berbagai fase pertumbuhannya adalah: Fase initial, 15-20 hari 0.40-0.6 Fase perkembangan tanaman, 25-35 hari 0.70-0.8 Fase pertengahan musim , 25-45 hari 0.95-1.1 Fase akhir musim tumbuhan, 35-45 hari 0.85-0.9 Fase panen tanaman, 0.75-0.85. 2.3. Suplai air dan hasil tanaman Tanaman sangat peka terhadap kondisi defisit air tanah. Untuk mencapai hasil yang tinggi, penurunan kandungan air tanah tidak boleh melebihi 25% air tanah tersedia. Kalau tatan tetap relatiuf basah, pertumbuhan akar direduksi dan ini sangat cocok untuk pembentukan umbi. Irigasi harus diskontinyu kalau tanaman telah mendekati masak untuk membiarkan tajuknya mengering dan juga

75

untuk mencegah terjadinya flush ke dua pertumbuhan akar. Periode pertumbuhan onion yang total musim tumbuhnya 100-140 hari adalah: Periode 0: Periode kecambahan mulai dari tabur hingga transplanting, 30-35 hari Periode 1: Pertumbuhan vegetatif, 25-30 hari Periode 3: Pembentukan hasil, pembesaran umbi, 50-80 hari Periode 4: Pemasakan, 25-30 hari Tanaman paling peka terhadap defisit air selama periode pembentukan hasil, terutama selama periode pertumbuhan umbi yang cepat yang terjadi sekitar 60 hari setelah transplanting. Tanaman juga sangat peka kekeringan selama masa transplantasi. Untuk tanaman penghasil biji, ternyata periode pembungaan juga sangat peka terhadap defisit air. Selama periode pertumbuhan vegetatif (periode 1) tanaman agak kurang peka terhadap defisit air tanah. Untuk mendapatkan hasil yang banyak dan kualitas yang baik, tanaman memerlukan suplai air yang terkendali dan sering selama musim pertumbuhannya; akan tetapi irigasi yang berlebihan mengakibatkan pertumbuhan terhambat. Untuk mendapatkan ukuran umbi yang besar dan bobot yang tinggi, defisit air tanah terutama selama periode pembentukan hasil (Periode pembesaran umbi) tidak boleh terjadi. Kalau supali air terbatas, maka penghematan air dapat dilakukan selama periode pertumbuhan vegetatif dan periode pemasakan. Akan tetapi pada kondisi eketerbatasan air seperti ini maka strategi pertanaman harus diarahkan untuk memaksimumkan produksi per hektar lahan. 2.4. Penyerapan air Tanaman mempunyai sistem perakraan yang dangkal dan akar-akar terkonsentrasi pada tanah klapisan atas sedalam 0.3 m. Pada umumnya 100% penyerapan air terjadi dari lapisan tanah atas sedalam 0.3-0.5 m (D=0.3-0.5 m ). Untuk memenuhi seluruh kebutuhan air tanaman (ETm) tanah harus dijaga tetap lembab; pada laju evapotranspirasi 5-6 mm/hari ternyata laju penyerapan air mulai menurun kalau 25% dari air tanah tersedia telah habis (p = 0.25). 2.5. Jadwal irigasi Tanaman ini menghendaki irigasi ringan dan sering yang dimulai kalau sekitar 25% air tanah tersedia dalam lapisan tanah atas 0.3 m telah dihabiskan oleh tanaman. Irigasi setiap 2-4 hari lazim dipraktekkan. Irigasi yang berlebihan seringkali mengakibatkan gangguan penyakit seperti mildew dan busuk putih. Iriga si dapat dihentikan 15-25 hari sebelum panen. Metode irigasi yang sering dilakukan adalah furrow dan basin. 2.6. Hasil dan Kualitasnya

76

Irigasi yang sering diperlukan untuk mencegah pecahnya umbi dan pembentukan 'doubles'. Demikian juga suplai air yang cukup sangat diperlukan untuk mencapai kualitas hasil yang tinggi. Hasil umbi yang baik pada kondisi irigasi adalah 35-45 ton/ha. Efisiensi penggunaan air untuk hasil panen (Ey) umbi dengan kadar air 85-90% adalah sekitar 8-10 kg/m3. 2.7. Budidaya Tanaman (a). Syarat tumbuh tanaman Tanaman ini menghendaki tanah-tanah yang gembur, tipe iklim B, C, dan D (Schmidt & Ferguson) (b). Bibit Tanaman Perbanyakan tanaman dengan siung, siung ini siap tanam kalau tunas telah mencapai lebih dari tiga per empat siung yaitu setelah disimpan 6-8 bulan. Lahan satu hektar memerlukan bibit umbi 600-700 kg. Kultivar yang dianjurkan adalah sbb: Daerah dengan ketinggian hingga 500 m dpl adalah Lumbu Putih Daerah dengan ketinggian tempat 500-1000 m dpl, adalah Lumbu Putih, Lumbu Kuning, Lumbu Hijau, Filipina dan Shantung. Daerah dengan ketinggian lebih dari 1000 m dpl, adalah Lumbu hijau, Lumbu kayu, Shantung dan Tawangmangu. (c). Penanaman bibit Pengolahan tanah dilakukan dengan mencangkul atau dibajak, dibiarkan 1-2 minggu, kemudian dibuat bedengan dengan lebar 100- 120 cm, lebar parit 30-40 cm. Umbi bibit dipisahkan menjadi siung, dipisahkan antara siung besar dan kecil, agar pertanaman seragam masing-masing ukuran dikelom pokkan sendiri-sendiri. Disarankan hanya digunakan bibit siung yang besarbesar saja. Penananam bibit siung dengan jarak tanam 10x10 cm atau 10 x 15 cm. Setelah siung ditanam ditutup dengan jerami mulsa setebal 5 cm. Waktu penanaman pada akhir musim hujan pada lahan sawah dan awal musim hujan pada alahan tegalan.

(d). Pemupukan dilakukan sbb:


Umur tanaman Saat tanam ZA TSP 90 KCl 90 Rabuk kandang 10-20 ton/ha Cara aplikasi Dicampur tanah

77

15 HST 30 HST 45 HST

300 300 300

30 -

Disebar merata Disebar merata Disebar merata

Keterangan: Dosis pupuk kg/ha (SP2UK-P2LK Jatim, 1991) (e). Pemeliharaan Penyiraman dilakukan setiap hari hingga umur dua bulan; penyiangan dilakukan pada umur 30, 45 dan 60 HST; parit dibersihkan dan diperbaiki dengan cangkul. (f). Hama dan penyakit 1. Trips, dapat dikendalikan dengan Azodrin, Lebaycid dengan dosis 2-4 ml per liter air. 2. Ulat daun, dapat dikendalikan dengan Azodrin, Tamaron atau Curacron dengan dosis 2-4 ml per liter air. 3. Alternaria dan Phytophthora, dapat dikendalikan dengan Dithane M-45 atau Anthracol dengan dosis 2-4 g/liter air. (g). Panen dan pascapanen Panen bawang putih dilakukan setelah daun mulai mengering dan menguning, pada kultivar Lumbu Hijau berkisar 110-125 hari setelah tanam. Hasil panenan dijemur, setelah kering tanah yang melekat pada umbi dibersihkan, akar dan beberapa helai daun dibuang. Pengelompokkan umbi menurut ukuran besar, sedang dan kecil. Masing- masing kelompok umbi diikat menjadi ikatan seberat 1 kg, selanjutnya setiap ikatan dijadikan satu untuk mempermudah penyimpanan dalam sigiran. Untuk keperluan bibit, umbi disimpan di sigiran dan disemprot dengan pestisida. Umbi untuk konsumsi dapat dilakukan pengasapan selama 34 jam hingga kulit berwarna kecoklatan (suhu di bawah 65oC). 3. KUBIS (Brassica oleracea ) 3.1. Pendahuluan Tanaman kubis diperkirakan berasal dari daerah pantai selatan dan barat Eropa. Untuk produksi yang tinggi tanaman ini mensyaratkan ilkim dingin dan humid. Total panjangnya musim poertumbuhan beragam antara 90 hingga 200 hari, tergantung pada kondisi iklim, varietas dan saat tanam, tetapi utnuk produksi yang baik ternyata periode pertumbuhannya sekitar 120-140 hari. Kebanyakan varietas kubis tahan terhadap kondisi dingin selama waktu yang singkat, tetapi kondisi dingin pada waktu yang lama sangat berbahaya. Tanaman dengan daun-daun yang lebih kecil kurang dari 3 cm mampu bertahan pada kondisi suhu rendah dalam waktu lama, tetapi kalau daun-daunnya besar 5-7 cm maka tanaman akan mulai tumbuh generatif dan ini menghasilkan kualitas yang

78

jelek. Pertum buhan yang optimum dapat terjadi pada rataan suhu harian sekitar 17oC dengan rataan suhu maksimum harian 24oC dan rataan suhu minimum 10oC. Rataan lembab relatif udara jharus dalam kisaran 60-90%. Umumnya tanah-tanah lempung atau yang lebih berat sesuai bagi tanaman kubis. Pada kondisi curah hujan yang tinggi, tanah- tanah lempung berpasir dan tanah-tanah berpasir lebih sesuai karena drainagenya bagus. Kebutuhan pupuk sangat tinggi: 100- 150 kg/ha N, 50-65 kg/ha P dan 100-130 kg/ha K. Kubis agak peka terhadap salinitas tanah. Hasil tanaman menurun pada berbagai tingkat salinitas tanah: penurunan 0% pada ECe = 1.8; 10% pada ECe=2,8; 25% pada ECe=4.4; 50% pada ECe=7.0 dan 100% pada ECe=12 mmhos/cm. Jarak tanam tergantung pada ukuran kole yang diperlukan untuk pasar, biasanya antara 0.3-0.5 m untuk ukuran kole 1-1.5 kg dan 0.5-0.9 m untuk ukuran kole 3 kg. Produksi optimum dapat dicapai dengan kepadatan tanaman 30 000 hingga 40 000 tanaman/ha. Penanaman dapat dilakukan dengan penaburan benih secraa langsung dengan populasi 3 kg/ha, atau dengan transplanting bibit dari pesemaian. Kubis dicirikan oleh pertumbuhan yang lambat selama separuh pertama periode pertumbuhannya, yang bisanya memerlukan waktu 50 hari untuk jenis genjah dan 100 hariuntuk varietas yang umurnya panjang. Selama periode pertumbuhan selanjutnya (pembentukan hasil dan pemasakan) tanaman melipatduakan bobotnya selama periode 50 hari. Pada awal eperiode pembentukan hasil( periode 3), pembentukan kole mulai terjadi yang diikuti oleh penurunan peranan daun-daun. Kole yang masak penuh dihasilkan selama periode pemasakan 10-20 hari (periode 4). Tergantung pada varietasnya, kole dapat berbentuk bundar atau meruncing, hijau atau kemerahan, halus atau bergelombang. Rotasi tanaman disarankan tiga tahunan untuk mengendalikan gangguan penyakit dari tanah. 3.2. Kebutuhan air Kebutuhan air beragam antara 380 - 500 mm tergantung pada kondisi iklim dan lamanya musi pertumbuhan tanaman. Transpirasi tanaman meningkat selama musim perutmbuhan tanaman dengan puncaknya terjadi pada akhir musim. Dalam hubungannya dengan evapotranspirasi referensi (ETo), koefisien tanaman (kc) untuk kubis adalah sbb: Fase initial, selama 20-30 hari 0.40-0.5 Fase perkembangan tanaman, 30-35 hari 0.70-0.8 Fase pertengahan musim , 20-30 hari 0.95-1.1 Fase akhir musim tanaman, 10-20 hari 0.90-1.0 Fase panen tanaman , 0.80-0.95.

79

3.3. Suplai air dan Hasil Tanaman Respon terhadap suplai air meningkat dengan musim perkembangan tanaman. Selama perkembangan tanaman lambat pada periode vegetatif (1), hasil tanaman hanya sedikit terpengaruhi oleh defisit air. Kalau pertumbuhan yang cepat terjadi selama periode pembentukan (periode 3) maka pengaruh ekekurangan air sangat besar hingga mendekati akhir musim pertumbuhan. Pada kondisi suplai air yang terbatas, total produksi yang tinggi dapat dicapai dengan jalan memperluas areal dan memenuhi kebutuhan air tanaman sebagian saja. 3.4. Penyerapan air Tanaman kubis mempunyai sistem perakaran yang sangat ekstensif. Sebagian besar akar ditemukan pada lapisan tanah atas sedalam 0.4-0.5 m dan kepadatan akar menurun dengan cepat semakin ke arah dalam. Biasanya 100% air diekstraks dari lapisan tanah permukaan ini (D=0.4-0.5 m) . Pada kondisi ETm=5-6 mm/hari, laju penyerapan air oleh tanaman mulai menurun kalau air tanah tersedia telah berkurang sekitar 35% (p= 0.35). 3.5. Jadwal irigasi Frekuensi irigasi beragam antara 3 dan 12 hari tergantung pada kondisi iklim, perkembangan tanaman, dan tipe tanah. Kalau suplai air terbatas, irigasi awal tidak perlu dilakukan kecuali jika hal ini dapat diteruskan hingga akhir periode pertumbuhan tanaman. Penghematan air sebaiknya dilakukan pada awal musim pertumbuhan tanaman. 3.6. Metode Irigasi Metode irigasi yang dapat digunakan adalah furrow, sprinkler, dan trickle. Tampaknya di negara-negara maju se-makin banyak dilakukan "subsoil irrigation". Dengan cara ini, kedalaman water table dipertahankan pada 0.3 - 0.7 m pada tanah-tanah lempung berpasir halus, dan kedalaman 0.7 - 1,1 m pada tanah- tanah lempung. 3.7. Hasil dan Kualitas Hasil Pada kondisi tadah hujan, hasil tanaman yang normal sekitar 25- 35 ton/ha kole segar, dan maksimumnya sekitar 50 ton/ha kalau dipupuk dan disemprot pestisida dengan baik. Pada kondisi iklim yang ideal dan irigasi yang bagus, serta perawatan tanaman yang memadai, hasil dapat mencapai 85 ton/ha. Efisiensi penaggunaan air untuk produksi kole (Ey) sekitar 12-20 kg/m3. Rataan kandungan air pada kole kubis adalah 90%, dengan vitamin B, C dan Ca dan P cukup banyak. Kalau tanaman mengalami kekurangan air terutama selama akhir musim tumbuhnya, akan dihasilkan kole yang kecil-kecil dan kualitasnya jelek.

80

4. KENTANG (Solanum tuberosum) 4.1. Pendahuluan Pertumbuhan dan produksi tanaman kentang sangat dipengaruhi oleh suhu dan rataan suhu harian yang optimal adalah 18-21C. Pada umumnya suhu malam harin di bawah 15C diperlukan untuk inisiasi umbi. Suhu tanah yang optimum untuk pertumbuhan umbi yang normal adalah 15- 18C. Pertumbuhan umbi sangat terhambat kalau suhu tanah kurang dari 10C dan di atas 30C. Varietas-varietas kentang dapat dikelompokkan menjadi genjah (umur 90-120 hari), medium (120-150 hari), dan varietas dalam (150-180 hari). Kondisi dingin pada sata tanam mengakibatkan lambatnya perkecambahan yang akibatnya adalah memperpanjang musim pertumbuhan. Untuk daerah yang beriklim tropis diperlukan varietas kentang yang tahan hari pendek. Tanaman kentang memerlukan tanah yang drainasenya baik, aerasinya bagus dan porus dengan pH 5-6. Kebutuhan pupuk relatif tinggi dan untuk tanaman irigasi kebutuhan pupuk nya adalah antara 80-120 kg N/ha , 50-80 kg P/ha, dan 125-160 kg K/ha. Tanaman ditanam pada guludan atau bedengan. Untuk sistem produksi tadah hujan pada kondisi kering, penanaman dalam bedengan cenderung memberikan hasil lebih tinggi karena pengaruh adanya konservasi air tanah. Pada kondisi irigasi tanaman sebaiknya ditanam dengan sistem guludan. Kedalaman penanaman umumnya adalah 5-10 cm, sedangkan jarak tanamnya 0.75 x 0.3 m pada kondisi irigasi dan 1.0x 0.5 m pada kondisi tadah hujan. Kultivasi selama musaim pertum buhan harus menghindarkan kerusakan akar dan umbi, dan di daeran yang beriklim sedang (TEMPERATE) guludan senantiasa dibumbun untuk menghindarkan "greening" umbi. Tanaman ini cukup peka terhadap salinitas tanah, penurunan hasil pada berbagai tingkat salinitas adalah: 0% pada Ece = 1.7; 10% pada ECe = 2.5; 25% pada ECe= 3.8; 50% pada ECe = 5.9 dan 100% pada ECe = 10 mmhos/cm (Doorenbos dan Kassam, 1978). 4.2. Kebutuhan Air Untuk mendapatklan produksi yang tinggi, kebutuhan air tanaman (ETm) selama musim pertumbuhan 120 - 150 hari adalah 500 - 700 mm, tergantung pada kondisi iklim. Hubungan antara evapotranspirasi maksimum (ETm) dan evapotranspirasi referense (ETo) dicerminkan oleh koefisien tanaman (kc), yaitu: Fase initial, 20-30 hari 0.40-0.5 Fase perkembangan, 30-40 hari, 0.70-0.8 Fase pertengahan musim 30-60 hari 1.05-1.20 Fase akhir musim 20-35 hari 0.85-0.95 Fase pemasakan 0.70-0.75.

81

(Sumber: Doorenbos dan Pruit, 1978) 4.3. Suplai air dan hasil tanaman Tanaman ini relatif peka terhadap defisit air tanah. Untuk mencapai hasil yang optimal, total air tanah tersedia tidak boleh berkurang lebih dari 30-50%. Pengurangan total air tanah tersedia selama periode pertumbuhan lebih dari 50% akan mengakibatkan hasil umbi yang rendah. Defisit air selama periode stolonisasi dan inisiasi umbi dan pembentukan hasil berpengaruh sangat buruk terhadap hasil umbi, sedangkan periode pemasakan dan awal pertumbuhan vegetatif kurang peka. Pada umumnya defisit air tanah pada pertengahan dan akhir musim pertumbuhan cenderung mereduksi hasil lebih banyak daripada defisit pada awal musim. Akan tetapi varietas-varietas sangat berbeda-beda kepekaannya terhadap defisit air tanah. Beberapa varietas respon lebih baik terhadap irigasi pada awal periode pembentukan hasil, sedangkan varietas lainnya menunjukkan respon lebih baik pada akhir periode tersebut. Hasil dari varietas yang umbinya sedikit agak kurang peka terhadap defisit air dibandingkan dengan varietas yang banyak umbi. Untuk memaksimumkan hasil, tanah harus dipertahankan pada kandungan air tanah yang tinggi. Akan tetapi hal ini dapat berpengaruh buruk kalau air irigasinya diberikan dengan frekuensi sering dengan air dingin yang dapat menurunkan suhu tanah di bawah batas optimumnya 15 - 18C bagi pembentukan umbi. Demikian juga, problem aerasi tanah kadangkala dapat terjadi dalam tanah-tanah basah dan berat. Kalau jumlah persediaan air irigasi terbatas, maka pengguna annya harus diarahkan untuk memaksimumkan hasil umbi per hektar lahan. Penghenmatan air dapat dilakukan dengan jalan mengatur waktu irigasi dan jumlah air yang diberikan setiap irigasi. 4.4. Penyerapan Air Pada kondisi evaporatif dengan ETm 5 - 6 mm, pengaruh penurunan air tanah hingga 25% terhadap hasil umbi relatif kecil (p=0.25). Karena tanaman kentang mempunyai sistem perakaran yang dangkal, biasanya 70% dari total penyerapan air terjadi dari lapisan tanah atas 0.3 m dan 100% dari lapisan tranah atas 0.4-0.6 m (D=0.4-0.6 m). Akan tetapi pola penyerapan air juga akan tergantung pada tekstur dan struktur tanah. 4.5. Jadwal Irigasi Kalau curah hujan sedikit dan suplai air irigasi terbatas, jadwal irigasi harus didasarkan pada pertimbangan untuk menghindari defisit air selama periode stolonisasi dan inisiasi umbi dan pembentukan hasil. Suplai air dapat dibatasi selama awal periode vegetatif dan pemasakan. Penghematan air juga dapat dicapai dengan jalan membiarkan penurunan air tanah lebih banyak

82

ke arah periode pemasakan sehingga semua air tersedia dalam daerah perakaran digunakan oleh tanaman. Praktek seperti ini diharapkan dapat memacu proses pemasakan. Waktu irigasi yang tepat dapat menghemat aplikasi irigasi 1-3 kali termasuk irigasi terakhir sebelum panen. 4.6. Metode irigasi Metode irigasi yang lazim untuk tanaman kentang adalah furrow dan sprinkler. Respon hasil terhadap irigasi yang sering cukup besar karena tanaman mempunyai perakraan yang dangkal dan memerlukan pengurangan air tanah yang sedikit. Misalnya, untuk mendapatkan hasil produksi yang tinggi digunakan sistem irigasi sprinkler dimana kehilangan evapotranspirasi diganti setiap hari atau dua hari sekali. 4.7. Hasil dan Kualitas Suplai air dan jadwal pemberiannya sangat penting ditinjau dari sudut pandang kualitas umbi. Defisit air pada awal periode pembentukan hasil meningkatkan terjadinya "spindled tuber", yang lebih banyak terjadi pada varietas yang umbinya silinderis daripada varietas yang umbinya bundar. Defisit air pada periode ini yang diikuti dengan irigasi dapat mengakibatkan umbi pecah-pecah. Kadar bahan kering umbi meningkat sedikit dengan suplai air yang terbatas pada periode pemasakan. Irigasi yang dilakukan dengan frekuensi tinggi dapat mengurangi terjadinbya malformasi umbi. Haisl umbi yang baik pada kondisi irigasi untuk tanaman 120 hari di daerah iklim sedang dan subtropis adalah 25 - 35 ton/ha umbi segar dan di daerah tropis hasilnya 15-25 ton/ha. Efisiensi penggunaan air untuk hasil panen (Ey) umbi dengan kadar air 7075% adalah 4 - 7 kg/m3. 5. KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris) 5.1. Persyaratan Umum Hasil tanaman ini dapat dikonsumsi sebagai buah polong segar sebagai sayuran atau biji keringnya. Tanaman dapat tumbuh tumbuh dengan baik pada daerah-daerah dengan curah hujan medium, tetapi kurang cocok di daerah yang beriklim basah (humid dan wet tropics). Hujan yang berlebihan dan cuaca panas menyebabkan bunga dan polong rontok dan merangsang /meningkatkan gangguan penyakit. Rataan suhu harian optimum adalah 15-20oC, rataan suhu harian tidak boleh kurang dari 10oC dan tidak lebih dari 27oC. Suhu yang tinggi meningkatkan kandungan serat pada polong. Perkecambahan benih memerluikan suhu tanah 15oC atau lebih, dan pada suhu tanah 18oC perkecambahan benih berlangsung sekitar 12 hari, dan pada 25oC

83

sekitar 7 hari. Kebanyakan varietas kacang ini tidak terpengaruh oleh panjang hari. Total panjang periode pertumbuhan beragam dengan penggunaan hasil panen, untuk sayuran hijau dapat dipanen pada 60-90 hari dan untuk biji kering sekitar 90-120 hari. Tanaman ini tidak menghendaki persyaratan tanah yang spesifik, tetapi tanah yang gembur, solum dalam, pH 5.5 - 6.0 sangat sesuai. Kebutuhan pupuk untuk produksi buah yang baik adalah 2040 kg N/ha, 40-60 kg P/ha, dan 50-120 kg K/ha. Tanaman ini mampu memfiksasi nitrogen dari udara guna memenuhi kebutuhannya, namun demikian pupuk starter nitrogen sangat diperlukan untuk pertumbuhan awalnya. Tanaman sangat peka terhadap gangguan penyakit dari tanah dan harus ditanam dalam sistem pergiliran (rotasi). Penugalan benih dapat dilakukan 5-7 cm, jarak tanamnya tergantung varietas. Tipe varietas yang tegak biasanya jarak tanamnya 5-10 x 50-75 cm, sedangkan tipe merambat 10-15 x 90150 cm. Tanaman ini sangat peka terhadap kondisi salinitas tanah. Penurunan hasil akibat salinitas adalah: 0% pada ECe 1.0; 10% pada ECe 1.5; 25% pada ECe 2.3; 50% pada ECe 3.6 dan 100% pada ECe 6.5 mmhos/cm. 5.2. Kebutuhan Air Kebutuhan air bagi tanaman dengan periode tumbuh 60-120 hari berkisar antara 300 dan 500 mm tergantung pada kondisi iklim dan cuaca. Kebutuhan air selama periode pemasakan ditentukan oleh tujuan panen, yaitu polong hijau segar atau biji keringnya. Kalau ditanam untuk konsumsi sayuiran hijau segar, total periode pertumbuhan tanaman relatif pendek dan selama periode pemasakan, yang berlangsung sekitar 10 hari, evapotranspirasinya relatif kecil karena daun-daun sudah mulai mengering. Kalau tanaman ditanam untuk dipanen biji keringnya, maka periode pemasakannya lebih lama dan penurunan evapotranspirasi tanaman relatif lebih besar. Periode pertumbuhan juga tergantung pada jumlah petik, kalau dilakukan 3 atau 4 kali petik maka periode panen sekitar 20-30 hari. Koefisien tanaman (kc) yang menghubungkan evapotranspirasi referensi (ETo) dengan kebutuhan air (ETm) untuk berbagai fase pertum buhan tanaman (untuk panen sayuran hijau) adalah: a. Selama fase initial selama 15-20 hari: 0.30-0.40 b. Fase perkembangan selama 15-20 hari: 0.65-0.75 c. Fase pertengahan musim tumbuh selama 20-30 hari: 0.95-1.05 d. Fase akhir musim tumbuh selama 5-20 hari: 0.90-0.95 e. Fase panen: 0.85-0.90. Untuk tanaman yang dipanen biji keringnya adalah:

84

a. Selama fase initial selama 15-20 hari: 0.30-0.40 b. Fase perkembangan selama 15-20 hari: 0.70-0.80 c. Fase pertengahan musim tumbuh selama 35-45 hari: 1.05-1.20 d. Fase akhir musim tumbuh selama 20-25 hari: 0.65-0.75 e. Fase panen: 0.25-0.30 5.3. Suplai air dan hasil tanaman Suplai air yang diperlukan untuk mencapai hasil maksimum (polong segar dan biji kering) adalah serupa selama periode pertumbuhan tetapi beragam selama periode pemasakan. Untuk hasil polong hijau, suplai air diteruskan hingga menjelang panen akhir, tetapi untuk hasil biji kering suplai air harus dihentikann sekitar 20-25 hari sebelum panen hasil. Kalau ingin dipanen sekaligus satu kali maka pemberian air dikonsentrasikan pada periode panen, ini dapat dicapai dengan jalan pengaturan waktu pemberian air sedemikian rupa sehingga terjadi defisit air ringan selama periode pemasakan dan air tanah dibiarkan menurun hingga 50% dari total air tersedia, perlakuan ini dapat mempercepat pemasakan. Periode pertumbuhan untuk tanaman kacang ini adalah: Polong hijau Biji kering 0 Perkecambahan 10-15 hari 10-15 hari 1 Vegetatif hingga bunga pertama 20-25 20-25 2 Pembungaan, termasuk pembentukan polong 15-25 15-25 3 Pembentukan hasil (Perkembangan polong dan pengisian biji) 15-20 25-30 4 Pemasakan 0-5 20-25 -------------------------60-90 90-120 hari Defisit air yang parah selama periode vegetatif (1) umumnya akan menghambat pertumbuhan tanaman dan menyebabkan pertumbuhan tidak seragam. Selama periode pembungaan (2) dan pembentukan hasil (3) irigasi yang sering dapat megakibatkan respon tertinggi terhadap produksi, walaupun kelebihan air akan meningkatkan gangguan penyakit dan terutama busuk akar. Kalau pupuk nitrogen diberikan dalam bentuk pupuk mineral, maka irigasi harus diikuti dengan dosis pupuk yang cukup untuk memaksimumkan hasil. Kalau suplai air terbatas, penghematan air dapat dilakukan selama periode vegetatif (1) dan untuk produksi biji kering penghematan air juga dapat dilakukan selama periode pemasakan tanpa mempengaruhi hasiln asalkan defisit air masih pada tingkat moderat. 5.4. Penyerapan air

85

Akar tunggang tanaman kacang ini dapat mencapai kedalaman 1-1.5 m. Sistem perakaran lateral sangat ekstensif dan terutama terkonsentrasi pada lapisan tanah permukaan 0.3 m. Pada fase perkecambahan perakarannya mencapai kedalaman sekitar 0.07 m, pada awal pembungaan sekitar 0.3 - 0.4 m, dan pada saat pemasakan 1 - 1,5 m. Penyerapan air terjadi terutama pada kedalaman lapisan tanah atas 0.5-0.7 m (D=0.5-0.7 m). Pada kondisi dimana ETm sebesar 5 - 6 mm/hari, 40-50% dari total air tanah tersedia dapat lenyap sebelum penyerapan air terpengaruh (p = 0.4-0.5). 5.5. Jadwal irigasi Kalau tanaman kacang ditanam dengan tambahan air irigasi, maka suplai air harus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan air selama periode perkecambahan (0) dan awal fase periode pembungaan (2). Kalau tanaman ditanam dengan sistem irigasi penuh, penurunan kandungan air tanah selama periode pembungaan (2) dan periode pembentukan hasil (3) tidak boleh melebihi 40-50% dari total air tanah tersedia (p = 0.4-0.5). Kalau tanaman untuk produksi biji kering maka penurunan kandungan air tanah selama periode pemasakan (4) tidak boleh melebihi 60-70%. Stress air dalam tanaman dapat terdeteksi dengan mata karena daun menjadi hijau tua kebiruan. 5.6. Hasil dan Kualitas Defisit air selama periode pembentukan hasil (3) mengakibatkan polong kecil, pendek, tidak berwarna dengan bentuk biji yang tidak teratur. Juga kandungan serat pada polong lebih tinggi dan biji kehilangan ketegarannya. Hasil komersial yang baik dalam lingkungan irigasi yang baik adalah 6 - 8 ton/ha polong segar dan 1.5 - 2 ton/ha biji kering. Efisiensi penggunaan air untuk hasil panen (Ey) biji segar yang mengandung 80-90% air adalah 1.5 - 2.0 kg/m3 dan untuk biji kering yang mengandung sekitar 10% air adalah 0.3-0.6 kg/m3. 6. KACANG HIJAU (Phaseolus radiatus L.) 6.1. Pendahuluan Tanaman ini menghendaki iklim panas selama musim pertumbuhannya, namun masih dapat tumbuh di berbagai daerah di Indonesia. Di daerah yang curah hujannya tinggi, problem seriusnya adalah gangguan hama dan penyakit. Biasanya ditanam pada musim kemarau. Tanaman dapat tumbuh pada berbagai tipe tanha, namun tanah yang idela adalah tanah lempung yang kaya bahan organik dan drainasenya bagus, pH tanah 5.8-6.5 (SP2UK, 1992).

86

6.2. Budidaya Tanaman (a). Varietas: No. 129, Betet, Merak, Walet, Gelatik, Parkit, dan Merpati. (b). Penyiapan lahan: Tanah berat harus diolah hingga gembur; tanah tegalan bekas tanaman jagung, kedelai atau gogo perlu pengolahan minimal. (c). Penanaman benih: Ditugal dengan jarak tanam 40 x 15 cm dan diisi dua benih setiap lubang tanam (d). Pemupukan: Pada tanah yang kurus diberi pupuk 45 kg Urea, 45-90 kg TSP, 50 kg KCl/ha. pupuk diberikan pada saat tanam, disebar merata atau larikan di samping lubang tanam. (e). Penyiangan: dilakukan dua kali yaitu pada umur 2 dan empat minggu setelah tanam dengan tangan atau cangkul. Herbisida pratumbuh yang dapat digunakan adalah Lasso, Roundup, dan Goal pada daerah yang mahal tenagakerja. (f). Pengendalian hama dan penyakit: Lalat bibit dapat dikendalikan dengan Azodrin pada umur tujuh hari setelah tanam. Ulat daun dan penggerek polong, dapat dikendalikan dengan menyemprot Thiodan, Dursban, Decis, dan Basudin. Penyakit busuk batang, puru dan embun tepung dapat disemprot dengan Benlate, Dithane M.45, Baycor, Belsene MX 200. 6.3. Produksi Tanda-tanda kacang hijau siap dipanen adalah kalau polongnya telah berwarna coklat hingga hitam. Panen polong kemudian dikeringkan dan bijinya dirontokkan, kemudian dijemur 2-3 hari. Biji kering matahatri yang mengandung air 12-14% dapat disimpan. Beberapa varitas unggul adalah Arta Ijo, Siwalik, Bhakti, dan No. 129. Rataan varitas unggul dapat menbghasilkanbiji 10 kw/ha, sedangkan varitas lokal sekitar 5 kw/ha. 7. LOMBOK (Capsicum annum dan Capsicum frutescens) 7.1. Pendahuluan Tanaman cabai (lombok) diperkirakan berasal dari daerah tropika Amerika. Tanaman ini tumbuh baik pada kondisi iklim dengan musim tumbuhnya mempunyai suhu 18-27oC selama siang hari dan 15- 18oC selama malam hari. Suhu malam yang rendah mengakibatkan lebih banyaknya percabangan dan lebih banyak bunga; suhu malam yang hangat mempercepat pembungaan dan efek ini lebih jelas kalau intensitas cahaya meningkat. Lombok banyak ditanam pada kondisi lahan tadah hujan dan

87

hasil yang tinggi diperoleh dengan curah hujan 600-1250 mm, tersebar merata sepanjang musim pertumbuhannya. Curah hujan yang tinggi selama periode pembungaan menyebabkan kerontokam bunga dan fruit-set yang buruk, dan selama periode pemasakan terjadi pembusukan buah. Tanah-tanah yang teksturnya ringan dengan kapasitas penahanan air yang mencukupi dan drainage yang baik sangat disenangi lombok. pH optimum adalah 5.5 - 7.0 dan tanah masam memerlukan pengapuran. Penggenangan, meskipun hanya sebentar, dapat menyebabkan kerontokan daun. Kebutuhan pupuk adalah 100-170 kg N/ha, 25-50 kg P/ha dan 50-100 kg K/ha. Tanaman agak peka terhadap slainitas tanah, kecuali pada fase perkecambahan sangat peka. Penurunan hasil pada berbagai kondisi salinitas tanah adalah: 0% pada ECe=1.5 mmhos/cm; 10% pada ECe=2.2; 25% pada ECe = 3.3; 50% pada ECe = 5.1 dan 100% pada ECe = 8.5 mmhos/cm. Biji yang ditabur di bedengan pesemaian menghendaki suhu tanah optimum 20-24oC. Kecambah bibit yang tingginya 10-20 cm dipindahkan ke lapangan setelah umur 25-35 hari. Panjangnya total musim pertumbuhan beragam dengan kondisi iklim dan varietas, tetapi pada umumnya berlangsung 120-150 hari dari saat tabuh benih hingga panen. Bibit kadangkala dipangkas 10 hari sebelum transplanting untuk merangsang percabangan. Jarak tanam 0.4- 0.6 x 0.6-0.9 m. Untuk produksi buah lombok konsumsi kalengan seringkali digunakan jarak tanam yang lebih rapat. Pembungaan mulai terjadi pada umur 1-2 bulan setelah transplanting dengan petik buah hijau pertama satu bulan kemudian. Setelah itu buah lombok merah yang masak dipanen dengan interval 1-2 minggu hingga umur tiga bulan. 7.2. Kebutuhan air Total kebutuhan air (ETm) adalah 600-900 mm, bahkan hingga 1250 mm untuk musim pertumbuhan yang panjang dan beberapa kali petik. Koefieisn tanaman (kc) adalah 0.4 setelah transplanting, 0.95- 1.1 selama pertumbuhan penuh, dan untuk produksi lombok segar 0.8-0.9 saat panen. 7.3. Suplai air dan Hasil Tanaman Untuk mendapatkan hasil yang banyak, suplai air yang cukup dan tanah yang relatif lembab diupersyaratkan selama total periode pertum buhan tanaman. Reduksi suplai air selama periode pertumbuhan pada umumnya mempunyai efek buruk terhadap hasil dan reduksi terbesar terjadi kalau ada kekurangan air secara kontinyu hingga saat petik buah pertama,. Masa awal periode pembungaan sangat peka terhadap keku rangan air dan penurunan kadar air tanah dalam zone perakaran selama periode ini tidak boleh melebihi 25%. Kekurangan air sebelum dan selama awal pembungaan mereduksi jumlah buah. Efek defisit air terhadap hasil

88

selama periode ini lebih besar pada kondisi suhu tinggi dan kelembaban rendah. Irigasi yang terkendali sangat penting untuk mencapai produksi yang tinggi karena tanaman peka terhadap kelebihan dan kekurangan irigasi Kalau kualitas air irigasinya buruk (saline) maka hsil petik buah pertama berkurang tetapi efek ini kurang tampak jelas pada hasil petik selanjutnya. Sprinkling dengan air irigasi saline mengakibatkan daun terbakar dan busuk buah. Defisit air selama periode pembentukan hasil mengakibatkan hasil buah yang keriput dan bentuknya jelek. Kualitas kepedasan buah hingga batas-batas tertentu dipengaruhi oleh suplai air. Pada kondisi suplai air yang terbatas, total produksi ditingkatkan oleh pemenuhan kebutuhan air tanaman secara penuh pada areal lahan yang terbatas. 7.4. Penyerapan air Tanaman lombok mempunyai akar utama yang patah pada saat transplanting dan kemudian menumbuhkan banyak akar-akar lateral. Kedalaman akar dapat meluas hingga 1m tetapi pada kondisi irigasi ternyata akar terkonsentrasi pada lapisan tanah atas sedalam 0.3 m. Biasanya 100% penyerapan air terjadi dalam keda;laman lapisan tanah 0.5 - 1.0 m (D = 0.5-1.0 m). Pada kondisi evapoytranspirasi maksimum 5-6 mm/hari, 25-30% total air tersedia dapat dihabiskan sebelum terjadi reduksi penyerapan air (p=0.250.30). 7.5. Jadwal Irigasi Untuk mendapatkan hasil yang optimum penurunan air tanah tidak boleh melebihi 30-40% total air tersedia. Frekuensi irigasi 47 hari lazim dilakukan. Kalau suplai air terbatas, irigasi harus mencukupi hingga panen buah pertama dan setelah itu air dapat dihemat. 7.6. Metode Irigasi Metode irigasi pada pertanaman lombok adalah irigasi permukaan, sprinkler dan drip. Pada sistem irigasi sprinkler ternyata hasil buah cenderung lebih banyak pada aplikasi ringan dibandingkan dengan aplikasi berat. Akan tetapi, kalau kualitas air irigasi jelek, intensitas berat dan jumlah yang banyak umumnya lebih disenangi dengan irigasi sprinkler karena dapat mereduksi kebakaran daun. Untuk mendapatkan hasil yang banyak biasanya lebih sesuai dengan drip irrigation. 7.7. Hasil dan kualitas hasil Hasil buah sangat beragam dengan kondisi iklim dan panjangnya musim pertumbuhan, yaitu jumlah petik buah. Pada kondisi irigasi komersial dapat diperoleh ahsil buah 10-15 ton/ha buah segar dan 20-25 ton/ha dapat diperoleh pada kondisi iklim

89

yang sesuai. Akan tetapi persentase hasil buah yang dapat dipasarkan sangat beragam. Efisiensi penggunaan air (Ey) untuk buah lombok segar yang mengandung 90% air beragam antara 1.5 3.0 kg/m3. 7.8. Budidaya Tanaman (a). Syarat tumbuh: Tanaman lombok dapat tumbuh di dataran rendah hingga pada ketinggian 1500 m dpl. Tanaman ini menghendaki iklim kering, akan tetapi dapat ditanam pada musim hujan di lahan tegalan dan tidak becek; membutuhkan cahaya matahari yang cukup, sehingga sebaiknya ditanam tanpa naungan. Lombok menghendaki tanah yang subur, gembur dengan drainase yang baik dan pH tanah antara 5-6 (SP2UK, 1992). . (b). Bibit tanaman: Bibit lombok yang dibutuhkan sebanyak 250-500 g benih per hektar. Benih disemaikan dengan luas 0.5 x 2 meter setiap 3 gram benih (1 sendok teh). Bibit yang telah berumur 30-35 hari atau tanaman muda telah berduan 3-4 helai siap untuk dipindah dan ditanam di kebun. (c). Penanaman bibit Tanah diolah hingga strukturnya gembur dan tidak menahan air, yaitu dengan cangkul sedalam 30 cm sebanyak dua kali atau lebih. Selang waktu pengolahan tanah pertama dengan penanaman adalah 7- 14 hari. Kemudian dibuat lubang tanam dengan cangkul sedalam 15 cm, panjang 20-25 cm, lebar 20-25 cm, jarak antar lubang tanam 60 x 80 cm. Setiap lubang diisi rabuk kandang sebanyak 0.5-1 kg yang dicampur dengan tanah, kemudian disiram dengan air sekitar satu liter. Pada setiap lubang tanam ditanam bibit 2-3 batang, 2-3 minggu setelah tanam dilakukan penjarangan dan disisakan satu tanaman yang paling sehat/baik, sedangkan tanaman lainnya dicabut. (d). Pemeliharaan tanaman: Pupuk yang diberikan adalah rabuk kandang 0.5 kg sebagai pupuk dasar, Urea 4 g, TSP 4 g dan KCl 2 g setiap tanaman yang diberikan pada umur satu bulan. Pemupukan berikutnya dilakukan dua minggu kemudian dengan jumlah dan cara seperti pada pemupukan yang pertama. Penyiangan dilakukan 2-3 kali tergantung keadaan rumput, dimulai sejak 20 hari setelah tanam. Kegiatan penyiangan dapat juga dilakukan sekaligus dengan penggemburan tanah lapisan atas dan pembumbunan.

90

(e). Pengendalian hama dan penyakit Ulat dapat dikendalikan dengan Dursban 20 EC, Bayrusil 25 EC dan Hostation 40 EC dengan dosis 2 ml per liter air. Trips dapat dikendalikan dengan Phosvel 300 EC, Bayrusil dan Lebaycid dengan dosis 2 ml per liter air. Lalat buah menyerang buah, dapat dikendalikan dengan pergiliran tanaman atau dikendalikan dengan Diazinon 10 EC, Decis dengan dosis 0.15 ml per liter air. Busuk daun, dapat dikendalikan dengan Dithane M-45 2 g/l air. Antraknose yang disebabkan oleh Gloesponia sp. dapat dikendalikan dengan Dithane M-45 atau Antracol 70 WP dengan dosis 2 g/l air. Penyakit layu, dapat dikendalikan dengan rotasi tanaman . Penyakit virus dapat dikendalikan dengan memberantas vektornya. (f). Panen dan pascapanen Pemungutan hasil pertama dapat dilakukan setelah tanaman berumur 3-4 bulan; pemetikan dilakukan setelah buah 60% berwarna merah. 8. BAYAM (Amaranthus sp.) 8.1. Pendahuluan Bayam mengandung vitamin A, C dan sedikit vitamin B, banyak kalsium, P, dan Fe. Tanaman dapat tumbuh sepanjang tahun mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Pada tanahtanah yang pH nya kurang dari 6.0 biasanya pertumbuhannya kerdil, sedangkan pada atanah yang pH nya lebih dari 7.0 akan terjadi khlorosis. Saat tanam yang terbaik adalah awal musim hujan (Oktober/Nopember) atau awal musim kemarau (Maret/April). Dua jenis bayam yang lasim dibudidayakan adalah: 1. Bayam cabutan yang juga disebut bayam sekul ( Amaranthus tricolor L.). Jenis ini ada yang batangnya berwarna kemerahan (bayam merah) dan ada yang hijau keputihan (bayam putih). Bayam putih lebih enak. 2. Bayam tahun atau bayam sekop atau kakap ( Amaranthus hybridus L.) daunnya lebar-lebar. Dua varietas yang sangat dikenal adalah A. paniculatus dan A. caudatus. Varietas caudatus mempunyai daun agak panjang dengan ujungnya runcing dan hijau atau merah tua. Bunganya dalam rangkaian panjang dan terkumpul pada ujung batang. Varietas paniculatus daunnya lebih lebar, hijau, dengan rangkaian bunga panjang dan lebih teratur, bunganya tersebar di setiap ketiak daun atau cabang. 8.2. Budidaya tanaman (1). Perbanyakan tanaman Bayam diperbanyak dengan biji, disebar di pesemaian atau ditanam langsung di lapangan.

91

(2). Bertanam Pengolahan tanah sedalam 20-30 cm, diberi pupuk kandang atau kompos sebanyak 10 ton/ha atau 1 kg setiap meter persegi. Bedengan dibuat dengan lebar satu meter. Biji ditaburkan menurut barisan yang membujur dari tumur ke barat dengan jarak barisan 20 cm. Setiap bedengan memuat lima barisan tanaman dan setelah 35 hari biji bayam mulai tumbuh. Setelah berumur dua minggu setiap pagi tanaman digoyang kekiri dan ke kanan dengan sapu lidi sampai tampak lemas. Dengan cara ini tanaman tumbuh kuat dan cepat dan hama berlarian. Setelah tanaman setinggi 15 cm (berumur sebulan) dapat dijarangkan dengan mencabut tanaman yang sudah besar dan terlalu rapat. Setelah umur 1.5 bulan dan tinggi tanaman 20 cm dapat dicabut seluruhnya. Pada lahan pekarangan biasanya ditanam A. hybridus, penanaman dengan memindahkan tanaman muda yang tingginya 10 cm dari pesemaian ke tempat yang telah disiapkan dengan jarak tanam 20 x 40 cm. Panen dilakukan dengan memetik daun atau memotong ujung batang/cabang sebelum berbunga. Dengan cara ini tanaman dapat bertahan hingga umur setahun. (3). Perlakuan benih/bibit Pesemaian A. hybridus ditempatkan di lokasi yang teduh, kebutuhan benis sekitar 5-10 kg/ha. (4). Pemeliharaan Perawatan yang perlu diperhatikan adalah menggem burkan tanah sekitar tanaman sambil membuang gulma. Pestisida tidak harus digunakan untuk mengendalikan ulat daun. (5). Produksi Rataan tanaman bayam dapat menghasilkan 10-25 ku/ha tergantung tingkat kesuburan tanah. 9. KACANG PANJANG (Vigna sinensis) 9.1. Pendahuluan Tanaman ini banyak digemari masyarakat karena rasanya enak, gurih, banyak mengandung vitamin A, B dan C. Syarat pokok bagi pertumbuhannya ialah tanah gembur dan porus, cukup mampu menahan air tersedia, pH 5.5-6.5, kaya bahan organik. Waktu tanam yang sesuai adalah awal dan akhir musim hujan (SP2UK, 1992). Ada dua golongan kacang panjang yang dikenal masya-rakat, yaitu:

92

a. Kacang lanjaran, batangnya membelit lanjaran dari kayu atau bambi. a.1. Kacang lanjaran biasa, batangnya membelit dan panjang, buahnya panjang hingga 40 cm, hijau ketika masih muda dan menjadi putih kalau tua. Bijinya bulat panjang, ada kalanya melengkung agak pipih, warnanya ada yang kuning, coklat, hitam, putih dan kemerahan, ukuran bijinya 5-6 mm x 5-9 mm. a.2. Kacang usus, batangnya seperti kacang lanjaran, hanya buahnya panjang selaki hingga lebih 80 cm. BUah muda keputihan dan buah tua kekuningan. Bijinya bulat panjang, ada kalanya melengkung agak pipih, warnanya putih atau blorok atau putih bernoda merah, besartnya biji 5-6 mm x 8-9 mm. b. Kacang panjang yang bukan lanjaran dan tidak membelit b.1. Kacang tunggak, kacang tolo (Vigna unguigulata) atau kacang dadap. Batangnya pendek dan tidak membelit, hanya ujungnya yang membelit dan tidak diberi lanjaran, buahnya pendek (10 cm), hijau dan kaku, bijinya bulat panjang agak pipih dengan ujung yang agak lonjong, besarnya antara 4-6 mm x 7-8 mm, warna bijinya kuning kecoklatan. b.2. Kacang uci atau kacang endel (Gigna umbellata), setengah membelit, bijinya kecil berbentuk bulat panjang dengan warna macam-macam merah, hijau, hitam dll. Besarnya biji 1.5 2mm x 5-6 mm. Daunnya agak kasar dan kaku. b.3. Kacang hibrida atau kacang harapan, hasil perkawinan antara kacang lanjaran dengan kacang tunggak. Tanaman tidak membelit, buahnya panjang-panjang (mencapai 25 cm) dan bentuknya menyerup. 9.2. Budidaya tanaman (1). Perbanyakan Tanaman diperbanyak dengan biji dan ditanam langsung ke lahan tanpa pesemaian. (2). Bertanam Pengolahan tanah dengan cangkul dan kemudian diratakan. Lubang tanam dibuat dengan tugal pada jarak 30x 60 cm untuk kacang lanjaran, 20 x 30 cm untuk kacang lainnya. Setiap lubang diisi dua butir benih dan ditutup dengan tanah gembur . Benih akan tumbuh dalam waktu lima hari. Setelah tinggi tanaman 25 cm segera diberi lanjaran bambu setinggi dua meter. (3). Perlakuan benih Kebutuhan benih setiap hektar lahan sekitar 15-20 kg untuk kacang lanjaran dan 20-25 kg untuk kacang tunggak, 12 kg biji untuk kacang uci dan 30 kg biji untuk kacang harapan.

93

(4). Pemupukan Dosis pupuk yang dianjurkan urea 1-2 kuintal setiap hektar, 240 kg DS atau TSP, dan 160 kg ZK atau KCl. Pupuk ditugalkan disamping tanaman berajark 5 cm dari batang. (5). Pemeliharaan Perawatan yang diperlukan adalah membelitkan batang pada lanjaran, Hama tungau dan kutu daun bila perlu dikendalikan dengan pestisida. 9.3. Produksi Buah muda dapat dipanen setelah tanaman berumur dua bulan, panen selanjutnay dilakukan setiap minggu berlangsung hingga 3.5 atau 4 bulan. Kacang tunggak dan kacang uci dipanen setelah buahnya kering. Kacang lanjaran dapat menghasilkan 30 kuintal buah muda setiap hektar, sedangkan kacang tunggak dan kacang uci dapat menghasilkan 15 kuintal biji kering setiap hektar. 10. KAPRI (Pisum sativum) 10.1. Pendahuluan Kapri ditanam sebagai tanaman sayuran yang menghasilkan polong segar atau biji kering.Varietasnya bermacam-macam, mulai dari tipe yang batangnya merambat hingga tipe kerdil yang tumbuh pendek dan genjah. Kapri merupakan tanaman iklim dingin dan rataan suhu harian yang optimum adalah 17oC dengan kisaran 10 23oC. Perkecambahannya sangat dipengaruhi oleh suhu tanah, pada 5oC perkecambahan berlangsung 30 hari atau lebih, pada 10oC sekitar 14 hari dan pada 20oC -30oC sekitar 6 hari. Di daerah tropika sekitar katulistiwa, kapri ditanam pada ketinggian 1500 m dpl. Musim tumbuhnya yang normal 65-100 hari untuk menghasil kan polong segar dan tambahan 20 hari untuk menghasilkan biji kering. Tanaman dapat tumbuh baik pada berbagai kondisi tanah dengan drainage yang baik dan pH 5.5 - 6.5. Kebutuhan pupuk sekitar 20-40 kg N/ha, 40-60 kg P/ha dan 80-160 kg K/ha. Kapri mampu memfiksasi nitrogen dari udara, namun demikian dosis starter 20- 40 kg N/ha diperlukan untuk mendapatkan pertumbuhan awal yang bagus. Jarak tanam tergantung pada varietas dan tipe tumbuh tanaman, antara 0-6-0.9 x 0.05-0.1 m dengan jarak yang lebih lebar lagi kalau ditanam dengan lanjaran. Kedalaman tanam benih 2-5 cm. Drainase dan rotasi tanaman diperlukan untuk mengendalikan gangguan busuk akar. 10.2. Kebutuhan Air Kebutuhan air tanaman kapri (ETm) sekitar 350 - 500 mm.

94

Koefisien tanaman (kc) selama musim pertumbuhannya adalah: Fase initial, 10-25 hari 0.4 Fase perkembangan tanaman, 25-30 hari 0.7-0.8 Fase pertengahan musim , 25-30 hari 1.051.20 Fase akhir musim tumbuh (produksi polong segar), 5-10 hari 1.0- 1.15 Fase akhir musim (produksi biji kering) 20-30 hari 0.650.75 Panen polong segar, 0.95-1.1 Panen biji kering, 0.250.30. 10.3. Suplai air dan hasil tanaman Periode pertumbuhan tanaman kapri adalah: Polong segar Biji kering Periode 0 Perkecambahan hari Periode 1 Pertumbuhan vegetatif hari Periode 2 Pembungaan dan pod set 15-20 hari Periode 3 Pembentukan hasil (Pemben20-25 hari tukan dan pengiusian polong) Periode 4 Pemasakan 0- 5 hari ------------------------------65-100 hari Periode yang sangat peka terhadap defisit air adalah pembungaan (2) dan pembentukan hasil (3). Suplai air yang tidak terbatas selama periode vegetatif akan meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman tetapi belum tentu berpengaruh nyata terhadap hasil kapri; defisit air tanah dalam periode ini hanya sedikti berpen garuh terhadap hasil. Demikian juga defisit air selama periode pemasakan untuk kapri penghasil biji kering hanya sedikit berpengaruh terhadap hasil biji. Kalau air hujan tidak mencukupi, irigasi selama periode pembungaan dapat meningkatkan jumlah polong yang bagus dan jumlah biji setiap polong. Irigasi selama periode pembentukan hasil dapat meningkatkan bobot polong dan biji. Tanaman lebih mudah 85-120 15-20 15-20 15-20 25-30 25-30 10-25 10-25

95

menjadi layu selama periode kekurangan air kalau jumlah air tersedia selama periode sebelumnya cukup banyak. Untuk mendapatkan hasil yang tinggi, penurunan kadar air tanah tidak boleh melebihi 60% total air tersedia selama periode pertumbuhan vegetatif, dan 40% selama pembungaan dan pembentukan hasil. Irigasi ringan yang terlalu sering mengakibatkan pemasakan yang tidak seragam. Kalau panen dilakukan sekaligus seringkali disarankan untuk menahan suplai air selama bagian akhir dari periode pembentukan hasil untuk memacu pemasakan polong. Cara ini sesuai untuk varietas yang periode pemasakannya panjang dan tidak seragam. Pada kondisi suplai air yang terbatas ternyata total produksi yang tinggi dapat dicapai dengan memenuhi seluruh kebutuhan air tanaman secara penuh pada areal lahan yang terbatas. 10.4. Penyerapan Air Tanaman mempunyai akar utama (tap root) dengan banyak akatr lateral kecil-kecil. Kedalaman perakaran pada tanah-tanah yang solumnya tebal dapat mencapai 1-1.5 m, akan tetapi kedalaman efektif penyerapan air terbatas pada kedalaman 0.6-1.0 m (D=0.6- 1.0m)Pola penyerapan air pada seluruh kedalaman tanah sangat tergantung pada praktek irigasi. Penyerapan air dalam hubungannya dengan ETm hanya sedikit terpengaruhi hingga terjadi penurunan kadar air tanah sekitar 40% total air tersedia (p = 0.4). 10.5. Jadwal irigasi Untuk mendapatkan hasil yang optimum, penurunan kadar air tanah pada kebanyakan kondisi iklim tidak boleh melampaui 40% dari total air tersedia dan frekuensi irigasi 7-10 hari lazim dilakukan. Kalau suplai air terbatas, irigasi harus mencukupi selama periode pembungaan dan epembentukan hasil, penghematan air mungkin dilakukan selama periode pertumbuhan vegetatif dan pemasakan. Kalau tidak memungkinkan irigasi yang sering, maka suplai air dapat dijadwal sebagai pra-irigasi pada saat pembungaan dan pembentukan hasil, atau dengan sekali irigasi pada 40- 60 hari setelah pra-irigasi. 10.6. Hasil dan Kualitasnya Kalau irigasi tidak teratur, ukuran polong dan biji tidak seragam, lebih beragam warnanya dan juga saat masaknya beragam. Defisit air yang parah selama periode pembentukan hasil mengakibatkan kualitas biji jelek. Pada umumnya peningkatan ukuran biji diikuti oleh penurunan kadar gula dan kekakuan biji, peningkatan kadar pati dan protein. Saat panen yang tepat menjadi syarat untuk mendapatkan hasil yang baik. Pada kondisi iklim yang sesuai, hasil yang baik dengan irigasi adalah antara 2 dan 3 ton/ha polong segar

96

(70-80% kadar air) dan 0.6- 0.8 ton/ha biji kering (12% kadar air). Efisiensi penggunaan air untuk hasil panen (Ey) kapri segar adalah 0.5-0.7 kg/m3 dan untuk kapri kering sekitar 0.15-0.20 kg/m3. 11. TERONG (Solanum melongena L.) 11.1. Pendahuluan Tanaman dapat tumbuh dengan baik pada tanah-tanah yang subur, tidak tergenang air, pH 5-6, waktu tanam yang baik awal musim kemarau (Maret/April) atau musim hujan (Oktober/Nopember). Beberapa jenis terong yang sangat dikenal masyarakat adalah: a. Terong kopek, buahnya bulat panjang dan ujungnya tumpul, warnanya ada yang ungu dan hijau keputihan. b. Terong craigi, buahnya bulat panjang dan ujungnya meruncing, ada yang lurus dan bengkok, warnanya ungu. c. Terong Bogor atau terong kelapa, buahnya bundar besar, warnanya putih atau hijau keputihan dan rasanya renyah agak getir, hanya untuk lalap mentah. d. Terong glatik atau terong lalap, buahnya kecil-kecil, warnanya ungu atau putih keunguan, rasanya langu, tetapi tidak getir, digunakan sebagai lalapan mentah. 11.2. Budidaya tanaman 1. Perbanyakan Terong dapat diperbanyak dengan biji dan disemaiakn lebih dahulu. 2. Bertanam Tata cara pesemaian serupa dengan tana,man tomat, biji berkecambah dalam waktu 10 hari. Tanah diolah dengan bedengan selebar 120-140 cm. Pada bedengan dibuatkan lubang-lubang untuk bertanam dengan jarak 70x80 cm. Parit-parit antar bedengan selebar 20 cm. Pada setiap lubang tanam diberi pupuk kandang atau kompos yang telah masak 0.5 kg. Bibit yang berumur 1.5 bulan (berdaun empat lembar) dapat dipindahkan ke lubang tanam di bedengan. 3. Perlakuan benih/bibit Benih terong diperlukan sekitar 150-500 gram untuk setiap hektar lahan. Perawatan pesemaian harus cukup intensif untuk mendapatkan bibit yang sehat dan subur pertumbuhannya. 4. Pemupukan Tanaman umur dua minggu dipupuk dengan urea (1-2

97

kuintal/ha). Pemupukan lengkap ZA (Urea), TSP dan ZK dengan perbandingan 1:2:2 sebanyak 10 g setiap lubang tanam sangat baik. Pupuk ini diberikan di sekeliling tanaman (5 cm dari batang). pupuk ini diberikan pada umur 2.5-3 bulan, setiap hektar memerlukan 1.5 ku ZA, 3 ku TSP dan 1.5 ku ZK. 5. Hama dan penyakit Kutu daun dan tungau dapat disemprot dengan pestisida Penyakit busuk buah disebabkan oleh cendawan Phomopsis vexans Penyakit gugur daun desebabkan oleh cendawan Verticilium alboatrum. 6. Produksi Buah pertama dapat dipetik setelah tanaman berumur empat bulan. Panen jangan sampai terlambat supaya buahnya tidak liat dan kurang enak rasanya. 12. KETIMUN (Cucumis sativus) 12.1. Pendahuluan Tanaman dapat ditanam di dataran rendah hingga dataran tinggi, namun lebih sesuai dataran rendah. Syarat tumbuhnya ialah tanah cukup mengandung air, tidak ada genangan air, tidak banyak hujan, pH 6.0-7.0; tumbuh di tampat terbuka, banyak sinar matahari, dan tidak tahan naungan. Waktu tanam yang baik adalah akhir musim hujan (MAret/April) atau musim kematrau asalkan cukup tersedia air. Dua golongan ketimun yang sangat dikenal adalah: a. Ketimun yanbg pada buahnya terdapat bintil-bintil seperti jerawat, terutama pada pangkal buahnya: a.1. Timun biasa yang disebut "ketimun", kulitnya tipis dan lunak. Buah muda warnanya hijau keputihan dan setelah tua berwarna coklat. a.2. Timun watang, kulit buahnya tebal dan agak keras, buah mudanya hijau keputihan dan buah tua kuning-tua. a.3. Timun wuku, kulit buahnya agak tebal, buah mudanya agak coklat. b. Krai atau timun krai, buahnya halus tidak mempunyai bintuilbintil. Buahnya hijau kekuningan dan bergaris putih. b.1. Krai besar, buahnya besar dan rasanya seperti ketimun. b.2. Timun suri atau bonteng suri, buahnya lebih besar lagi, bentuknya lonjong oval. 12.2. Budidaya tanaman

98

1. Perbanyakan Tanaman diperbanyak dengan biji yang langsung ditanam di lahan tanpa pesemaian. 2. Bertanam Tanah diolah sedalam 30 cm, diratakan dan dibuat lubang tanam dengan jarak 50x100 cm. Pada setiap lubang tanam diberi pupuk kandang atau kompos sebanyak 1-2 kg. Setiap lubang ditanami 2-3 biji dan ditutup dengan lapisan tanah gembur. Benih akan tumbuh 3-5 hari kemudian. Penjarangan tanaman dilakukan pada umur dua minggu. 3. Kebutuhan benih setiap hektar lahan sekitar 3 kg . 4. Pemupukan Pada umur sebulan dapat dipupuk urea dengan dosis 1-2 kuintal setiap hektar. Pupuk lengkap NPK 15-15-15 dapat digunakan sebanyak 20 g setiap tanaman. Pupuk ditugalkan di sekitar tanaman sejauh 15 cm dari batang. Pupuk dapat diberikan pada saat mendangir tanah ketika tanaman berbunga pertama (bunga jantan). 5. Hama dan penyakit a. Oteng-oteng (Epilachna sp.) sering memakan daun timun. Hama ini dapat diberantas dengan semprotan insektisida seperti Diazinon 60 EC 0.2%. b. Penyakit layu oleh bakteri dan virus mozaik. Penyakit layu ini terjadi pada musim hujan ketika tanahnya terlalu basha. Buanglah secepatnya tanaman yang terserang. c. Penyakit jamur embun (Pseudoperonospora cubensis Berk & Curt Rostow). BIla mendung malam hari, sering timbul penyakit embun atau downy mildew". Sebelum terlambat tanaman dapat diselamatkan dengan semprotan Dithane M45 atau Antracol 0.2%. 12.3. Produksi Tanaman Buah timun pertama dapat dipanen umur 2-3 bulan. Secara keseluruhan timun dapat menbghasilkan buah 200 kuintal/ha. 13. KANGKUNG (Ipomoea sp.) 13.1. Pendahuluan Tanaman banyak mengnadung vitamin A, C dan mineral, terutama besi. Kangkung dpaat ditanam secara mudah di dataran rendah hingga dataran tinggi, pada tanah-tanah yang subur dan berlumpur. Saat tanam yang baik adalah musim hujan untuk kangkung darat dan musim kemarau untuk kangkung air (Ipomoea aquatica

99

Forsk). 13.2. Budidaya Tanaman 1. Perbanyakan tanaman Kangkung air dapat diperbanyak dengan stek batang sepanjang 20- 25 cm dan kangkung darat dengan biji. 2. Bertanam Stek batang dapat alangsung ditanam pada lumpur kolam atau sawah/rawa yang airnya dangkal dengan jarak tanam 30x20 cm. Setiuap meter persegi memerlukan sekitar 17 stek bibit. Kangkung darat ditanam langsung pada bedengan-bedengan yang telah disiapkan dengan jarak tanam 20 x 20 cm. Pengolahan tanah bedengan biasanya sedalam 30 cm,lebar bedengan sekitar 60-100 cm, kemudian ditugal dengan jarak 20x20 cm. Pupuk kandang atau kompos dapat diberikan dengan dosis 5 ton/ha. 3. Perlakuan bibit/benih Kebutuhan bibit kangkung air sekitar 150000-170000 stek setiap hektar, sedangkan kangkung darat 2.5 kg biji setiap hektar. 4. Pemupukan Dosis pemupukan yang dianjurkan adalah 1.2 kuintal ureas setiap hektar. 5. Produksi tanaman Setelah tanaman berumur tiga bulan mulai dapat dipangkas ujungnya sepanjang 20 cm supaya bercabang banyak. Pangkasan ini merupakan panen pertama, panen selanjutnya dengan memangkas cabang-cabang setiap dua minggu sekali. Rata-rata dapat menghasilkan 100-160 kuintal/ha dalam setahun. Biasanya setelah berumur setahun pertumbuhannya mulai kerdil.