You are on page 1of 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR

BELAKANG ARDS Distress ( Acute ) Respiratory merupakan

Syndrom

kerusakan paru akut yang disebabkan oleh infeksi, infiltrasi pada seluruh lapang paru, dan hipoksemia. Lima puluh persen dari pasien ARDS meninggal sebelum datang ke Rumah Sakit dan hanya 20% yang meninggal akibat kegagalan pernapasan. ada ren!atan sepsis ( septi" sho"k # kematian dapat men"apai $0% dan apabila disertai dengan kelainan faal !antung maka kematian dapat men"apai %00%. &dema paru ter!adi oleh karena adanya aliran "airan dari darah ke ruang intersisial paru yang selan!utnya ke al'eoli paru, melebihi aliran "airan kembali ke darah atau melalui saluran limfatik. (edua gagguan ini merupakan penyebab a)al dari henti pernapasan dan dapat menimbulkan kematian !ika tidak segera ditangani. eran dan fungsi pera)at dapat terlihat dengan !elas, terutama pada dua area yang terakhir, namun dapat dilakukan hanya bila pera)at*pera)at dapat

mendidik orang lain dan dapat memberikan penanganan pertolongan pertama. Lebih dari 2$ tahun terakhir respon*respon terhadap ke"elakaan, penyakit* penyakit mendadak dan luka*luka telah dapat dianggap mengalami perubahan, bahkan merupakan suatu kepentingan terhadap penanganan sebelum pasien atau korban tiba diunit kega)atan. enanganan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki dapat !uga

menyelamatkan nya)a seseorang dengan masalah*masalah medis akut. +atas )aktu yang tegas berarti perbedaan diantara ketidakmampuan atau pemulihan penuh dan antara hidup dan mati. Dan batas )aktu itu bergantung pada satu 'ariabel pertolongan pertama yang adekuat dan "epat. Dalam memberikan pertolongan, informasi dan edukasi sangat

dibutuhkan, karenanya tidak hanya keamanan dan pen"egahan ke"elakaan, tapi !uga penanganan yang "epat dan tepat. Sayangnya pera)at*pera)at memiliki reputasi hanya untuk memperoleh ren"ana pengetahuan akan pertolongan pertama, tapi dengan komitmen mereka untuk menyelamatkan hidup, pelatihan yang diberikan kepada mereka dapat dengan baik men!adi seorang ahli dalam lapangan atau bidang ini.

B. TUJUAN PENULISAN

Adapun tu!uan penulisan dari makalah ini yaitu, %. -ntuk mengetahui gambaran tentang Asuhan (epera)atan Dengan (ega)atan Sistem ernapasan ARDS dan &dema aru. ada (lien

2. -ntuk mengetahui prosedur*prosedur su"tion pada klien yang tidak sadar. .. -ntuk memenuhi tugas pada kuliah (epera)atan /a)at Darurat
C. METODE PENULISAN

0etode penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah metode deskriptif dan menggunakan pendekatan teknik studi kepustakaan yaitu dengan mempela!ari teori dan memba"a literatur yang berhubungan dengan !udul makalah.

D. RUANG LINGKUP PENULISAN

Dalam menyusun makalah ini penulis membatasi ruang lingkup penulisannya, yaitu pada Asuhan (epera)atan ada (lien Dengan (ega)atan Sistem ernapasan ARDS dan &dema aru

E. SISTEMATIKA PENULISAN

Adapun sistematika penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut, +A+ 1 , endahuluan yang meliputi latar belakang, tu!uan penulisan, ruang lingkup penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan +A+ 11 , 2in!auan 2eoritis yang terdiri dari (ega)atdaruratan sistem ernapasan , ARDS, &dema aru dan rosedur Su"tion pada pasien yang tidak sadar +A+ 111 , enutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran

DA32AR -S2A(A BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. Syndrom Distres Pernapasan A !t " De#asa $ARDS% 1. De&inisi

A"ute Respiratory Distress Syndrom (ARDS# atau !uga dikenal dengan Adult Respiratory Distress Syndrom adalah reaksi serius yang

menghasilkan berbagai ma"am bentuk penyakit pada paru. 4al ini sangat lah penting untuk menentukan kesalahan dalam peningkatan edema pulmonal yang bersifat permieabel. ARDS adalah penyakit pada paru yang ter!adi baik se"ara langsung maupun tidak langsung. 4al ini seperti inflamasi pada parenkim paru, hipoksemia, dan kerusakan organ lainnya. (internet) Sindrom /a)at ernapasan Akut (ARDS# adalah perburukan paru

yang akut oleh karena infeksi, infiltrasi pada seluruh lapang paru dan hipoksemia. (Prinsip Gawat Paru : Dr. H. Tabrani Rab) ARDS atau Sindroma Distres ernapasan De)asa ( SD D # adalah

kondisi kedaruratan paru yang tiba*tiba dan bentuk kegagalan napas berat, biasanya ter!adi pada orang yang sebelumnya sehat yang telah terpa!an pada berbagai penyebab pulmonal atau non*pulmonal ( Hudak, %556 #.

2. Etio'o(i 0enurut 4udak 7 /allo ( %556 #, gangguan yang dapat men"etuskan ter!adinya ARDS adalah 8

a. Sistemi ) %# Syok karena beberapa penyebab. 2# Sepsis gram negati'e. .# 4ipotermia. 9# 4ipertermia. $# 2akar la!ak obat ( :arkotik, Salisilat, 2risiklik,
+leomisin # ara;uat, 0etadone,

<# /angguan hematology ( D1=, 2ransfusi massif, +ypass kardiopulmonal #. 6# &klampsia. ># Luka bakar
*+ P!'mona' )

%# 2# .# 9#

neumonia ( ?iral, bakteri, !amur, penumosistik karinii # 2rauma ( emboli lemak, kontusio paru # Aspirasi ( "airan gaster, tenggelam, "airan hidrokarbon # neumositis

,+ Non-P!'mona' )

%# =edera kepala.

9#

ankreatitis.

2# .#

eningkatan 21(. as"akardio'ersi.

$# -remia

3. PATO.ISIOLOGI

(erusakan membrane kapiler Surfaktan menurun

(apiler bo"or dan ter!adi perdarahan

aru*paru kaku roses perfusi 'entilasi &dema pulmo yang bukan karena penyakit !antung

ARDS

/agal :apas akut

* *

4ipoksemia yang sulit diatasi enurunan kardiak output dengan tekanan akhir ekspirasi positif

* * * * * *

enurunan 'enus return &dema akibat o'erload 'olume 4ipertensi akibat dari syok Sekresi meningkat /erakan siliaris tidak ade kuat 2akut dan lemah karena kehabisan tenaga

4. Mani&estasi K'inis /e!ala klinis utama pada kasus ARDS adalah ,

a.

enurunan kesadaran mental

b. 2akikardi, takipnea ". Dispnea dengan kesulitan bernapas d. 2erdapat retraksi interkosta e. Sianosis. f. 4ipoksemia. g. Auskultasi paru , ronkhi basah, krekels, stridor, )hee@ing. h. Auskultasi !antung , +A normal tanpa murmur atau gallop

5. Komp'i asi

(arena ARDS adalah suatu kondisi hebat yang mana ini memerlukan tindakan terapi yang tidak tanpa resiko sehingga perlu dipertimbangkan beberapa komplikasinya yaitu,
a.

aru

, &mboli aru, 3ibrosis aru, +arotrauma ('olutrauma# , 4emoragi, dismotility, pneumoperitonium, translokasi bakteri

b. /astrointestinal

c. Aantung d. Renal

, Aritmia, Disfungsi 0iokardial , /agal /in!al Akut, (eseimbangan =airan ositif

e. 0ekanik

, 1n!uri ?askuler, 2rakeal

neumothorak, StenosisB 1n!uri

f.

:utrisi

, 0alnutrisi, Defisiensi &lektrolit.

6. Pemeri saan Pen!n/an(

emeriksaan hasil Analisa /as Darah , a. 4ipoksemia ( penurunan tekanan parsial C2 ( aC2## b. 4ipokapnia ( penurunan tekanan parsial =C2 ( =C2## pada tahap a)al karena hiper'entilasi. ". 4iperkapnia ( peningkatan tekanan parsial =C2 ( =C2## menun!ukkan gagal 'entilasi. d. Alkalosis respiratori ( p4 D 6,9$ # pada tahap dini. e. Asidosis respiratori B metabolik ter!adi pada tahap lan!ut emeriksaan Rontgent Dada , a. 2ahap a)al 8 sedikit normal, infiltrasi pada perihilir paru. b. 2ahap lan!ut 8 1nterstisial bilateral difus pada paru, infiltrate di al'eoli 2es 3ungsi paru , a. b. enurunan komplain paru dan 'olume paru irau kanan*kiri meningkat

7. Penata'a sanaan Medis

a.

asang !alan napas yang adekuat E en"egahan infeksi.

b. ?entilasi 0ekanik E Dukungan nutrisi. ". 2&A E 0onitor sistem terhadap respon. d. emantauan oksigenasi arteri E era)atan kondisi dasar.

e. =airan. f. 3armakologi ( C2, Diuretik, A.+ #. g. emeliharaan !alan napas

B. Edema Par! 1. De&enisi

&dema paru merupakan penimbunan "airan serosa atau serosanguinosa yang berlebihan dalam ruang intestinal dan alfeolus paru, !ika edema timbul akut dan luas sering disusul kematian dalam )aktu singkat. &dema paru dapat !uga ter!adi karena peningkatan tekanan hidrostatik dalam kapiler paru, penurunan tekanan osmotik koloid seperti nefritis atau kerusakan dinding kapiler

2. Etio'o(i

Se"ara teoritis penyebab dari &dema aru adalah sebagi berikut ,


a. 0eningkatnya tekanan hidrostatik pada kapiler paru b. 0enurunnya tekanan osmotik plasma intra'as"ular c. 0eningkatnya permeabilitas kapiler d. 2erganggunya aliran limfe

e. 0eningkatnya rangsangan neurogen akibat dari perubahan permiabilitas

dan 'olume darah yang meningkat, yang dihubungkan dengan meningkatnya tekanan hidrostatik kapiler. &dema ulmonal dapat ditimbulkan oleh berbagai penyakit dan yang palng sering adalah gangguan hemodinamik (/agal Aantung (ongestif, Stenosis 0itralis dan -remia#, selain itu dapat pula disebabkan oleh pengauruh @at*@at kimia atau infeksi. Salah satu penyebab ter!adinya &dema ulmonal yang !elas adalah hipertensi.

3. Pato&isio'o(i a. 0ekanisme kesimbangan "airan di dalam paru.

&kstra'askular paru ditentukan oleh faktor, 2ekanan hidrostastik kapiler 2ekanan osmostik intra'askular ermeabilitas kapiler engaliran "airan limfe sebagai akibat berlebihnya "airan

esktra'askular ke intra'askular.
b. Struktur membrana difusi

0embrana difusi terdiri dari air blood protoplasmic barier yang mempunyai tebal 0,9 mikron dan mempunyai tekanan hidrostatik yang "ukup rendah.

Sebab*sebab ter!adinya retensi natrium sukar untuk diterangkan karena tidak dapat diketahui dengan pasti. Akan tetapi beberapa hal yang mempengaruhi retensi natrium ini antara lain, engaruh dari gin!al Residual volume dari !antung lebih besar daripada stroke 'olume. 4ubungan antara tekanan 'ena dan cardiac output mengalami depresi.

4. Mani&estasi K'inis

Sebagaimana dinyatakan dalam patofisiologi di atas, hipoksemia merupakan ge!ala yang lebih dominan dari pada hiperkapnia, dan hipoksemia lebih banyak menimbulkan komplikasi dibanding hiperkapnia. &dema paru terutama ditimbulkan oleh edema kardiogenik, oleh karena itu yang terutama dibi"arakan dalam edema paru adalah edema kardiogenik. /e!ala F ge!alanya dapat dibagi atas ,
a. /e!ala yang ditimbulkan oleh karena kegagalan !antung untuk memenuhi

oksigenisasi !aringan tubuh, terutama serebral, koroner dan gin!al.


-

Asma kardiak, sesak napas ter!adi se"ara tiba*tiab dan biasanya bersifat noktural dan ortopne, berkeringat dingin, mengi ()hee@ing# yang dapat didengar diseluruh lapangan paru, dan batuk*batuk dengan ekspektorasi yang disebabkan oleh karena kongestif paru. (adang* kadang ter!adi hemoptisis, sehingga menyebabkan ter!adinya sputum yang berdarah.

2anda*tanda serebral ter!adi oleh karena adanya penurunan "ardiak output sehingga timbul stupor, koma dan depresi mental.

/e!ala*ge!ala kardio'askular dapat berupa suatu sindroma ren!atan. enutunan =ardiak output yang disertai dengan berbagai ge!ala ren!atan kardiogenik ditandai dengan takikardi, flutter dan fibrilasi.

b. /e!ala F ge!ala yang ditimbulkan oleh karena berkumpulnya berbagai @at

toksik yang disebabkan oleh kegagalan fungsi transportasi @at F @at sisa.
-

+erkurangnya substrat yang dipengaruhi oleh !aringan, terutama glukosa, sehingga !aringan tersebut dalam hal ini mempergunakan sumber energy lainnya, misalnya lemak dan protein, kekurangan substrat ini hanya ter!adi apabila terdapat kegagalan dalam aliran darah.

engangkutan @at sisa yang tidak dapat dilakukan oleh tubuh disebabkan oleh dua hal yakni ,

eranan mikrosirkulasi dan transportasi sisa*sisa bahan makanan tidak sempurna.

3ungsi ekskresi gin!al tidak sempurna.

(edua hal ini disebabkan oleh karena terdapatnya gangguan hemodinamik.


5. Pemeri saan Pen!n/an(

a. Pemeri saan K'ini )

Akral dingin, S. gollopB(ardiomegali, Distensi 'ena !ugularis, Ronkhi basah b. Tes La*oratori!m ) &(/ , 1skhemiaBinfark 6 Ro , distribusi edema perihiler &n@im !antung mungkin meningkat 2ekanan (apiler asak am D %> mm4g Intrapulmonar shunting , meningkat ringan =airan edemaBprotein serum G 0,$ enyakit Dasar di luar Aantung Akral hangat ulsasi nadi meningkat 2idak terdengar !allop 2idak ada distensi 'ena !ugularis Ronkhi kering 2erdapat penyakit dasar (peritonitis,dsb.#

6. Penata'a sanaan Medis

2erapi yang diberikan dengan klien yang edema paru ialah pemberian oksigen dengan dosis <*> liter Bmenit, dan selan!utnya akan diberikan pengobatan sebagai berikut ,
a. 0orfi sebagai pilihan utama dengan dosis 9*$ mg 1? b. 3urosemid 90*>0 1? dalam $ menit, dan dosis ganda bila telah menerima

furosemid sebelumnya.
c. Aminopilin diberikan dalam bentuk bolus dengan dosis < mgBkg dalam %0

ml dalam masa sedikit 20 menit dan dilan!utkan dengan pemberian 0,$ mgBkgB!am.
d. 0emberikan ?asodilatasi dengan :etrogliserin dapat diberikan pada

penderita dengan tensi yang normal atau hipertensi, 0,9*0,> mg 1?. +ila :etrogliserin memberikan hasil yang baik, dapat diulang .*9 !am sublingual 0,9 mg atau topikal.
e. Lakukan digitalisasi yang "epat, 0,< mg lanatosid = atau %,2 mg,

digitoksin pada pasien yang belum mendapat digitalisasi, dan dengan dosis yang lebih rendah pada pasien yang telah mendapat digitalisasi.

0+ As!1an Kepera#atan ARDS dan Edema Par!


7.1 Pen( a/ian

a. A ti2itas" Istira1at

/e!ala , kekurangan energiB kelelahan, 1nsomnia


b. Sir !'asi

/e!ala , ri)ayat adanya bedah !antungB bypass !antung fenomena embolik (darah, udara, lemak#

paru,

2anda , 2D , dapat normal atau meningkat pada a)al (berlan!ut men!adi hipoksia#, hipotensi ter!adi pada tahap lan!ut (syok# atau terdapat faktor pen"etus seperti pada eklamsia.
c. Inte(ritas E(o

/e!ala , (etakutan, an"aman perasaan takut 2anda , /elisah, agitasi, gemetar, mudah terangsang, perubahan mental.
d. Ma anan" 3airan

/e!ala , (ehilangan selera makan, mual. 2anda , &dema Bperubahan berat badan, hilangB berkurangnya bunyi usus.
e. Ne!rosensori

/e!ala , Adanya trauma kepala 2anda , mental lamban, difungsi motor


f.

Pernapasan

/e!ala , Adanya aspirasi Btenggelam, inhalasi asapBgas, infeksi difus paru, timbul tiba*tibaB bertahap, kesulitan napas, lapar udara. 2anda , ernapasan "epat, mendengkur, dangkal, peningkatan ker!a napas, penggunaan otot aksesori pernapasan, "ontoh , Retraksi interkosta, atau substernal, pelebaran nasal, memerlukan oksigen berkonsentrasi tinggi, ekspansi dada tidak sama, peningkatan fremitus, sputum sedikit berbusa, pu"atB sianosis, penurunan mentalB binggung.
g. Keamanan

/e!ala , Ri)ayat trauma ortopedikB fraktur, sepsis, transfusi darah, episode anafilaktik.

7.2 Dia(nosa Kepera#atan

rioritas masalah kepera)atan pada klien dengan ARDS menurut Doenges (200%# adalah sebagai berikut , a. Dia(nosa Kepera#atan Dapat di1!*!n( an den(an * * * , 2idak efektifnya bersihan !alan napas )

(ehilangan fungsi silia !alan napas (hipoperfusi# eningkatan !umlah B 'iskositas sekret paru 0eningkatnya tahanan !alan napas (edema interstisial# )

Kem!n( inan di*! ti an o'e1 * Laporan dispnea

erubahan kedalaman B frekuensi pernapasan, penggunaan otot aksesoris untuk bernapas

* *

+atuk (efektif atau tak efektif# dengan B tanpa produksi sputum AnsietasB gelisah )

Hasi' yan( di1arap an " riteria 1asi' * *

0enyatakanB menun!ukkan hilangnya dispnea mempertahankan !alan napas paten dengan bunyi napas bersihB tidak ada ron"hi

* *

mengeluarkan sekret tanpa kesulitan menun!ukkan perilaku untuk memperbaiki B mempertahankan bersihan !alan napas

1nter'ensi , %# =atat perubahan upaya dan pola bernapas. 2# Cbser'asi penurunan ekspansi dinding dada dan adanyaB peningkatan fremitus. .# =atat karakteristik bunyi napas. 9# =atat karakteristik batuk, !uga produksi dan karakteristik sputum. $# ertahankan posisi tubuhB kepala tepat dan gunakan alat !alan sesuai kebutuhan. <# +antu dengan batukB napas dalam, ubah posisi dan sesui indikasi.

b. Dia(nosa Kepera#atan Dapat di1!*!n( an den(an * * *

) /angguan pertukaran gas )

Akumulasi protein dan "airan dalam interstisialB area al'iolar 4ipo'entilasi al'eolar (ehilangan surfaktan menyebabkan kolaps al'eolar )

Kem!n( inan di*! ti an o'e1 * * *

2akipnea, penggunaan otot asesori, sianosis. erubahan /DA, gradien A*a, dan tindakan pirau. (etidak "o"okan 'entilasiB perfusi dengan peningkatan ruang mati dan pirau intrapulmonal

Hasi' yan( di1arap an " riteria 1asi' *

0enun!ukan perbaikan 'entilasi dan oksigenasi adekuat dengan /DA dalam rentang normal dan bebas ge!ala distres pernapasan.

+erpartisipasi dalam program pengobatan dalam kemampuanB situasi

1nter'ensi , %# (a!i status pernapasan dengan sering. 2# =atat adanya B tidak adanya bunyi napas.

.# (a!i adanya sianosis. 9# Cbser'asi ke"endrungan tidur, apatis, tidak perhatian, gelisah, bingung, samnolen. $# +erikan periode istirahat dan lingkungan yang tenang. <# +erikan oksigen.

". Dia(nosa Kepera#atan 'olume "airan Dapat di1!*!n( an den(an * * enggunaan diuretik.

) Resiko tinggi ter!adi kekurangan

eroindahan "airan kearea lain. )

Kem!n( inan di*! ti an o'e1 *

2idak dapat diterapkan 8 adanya tanda*tanda dan ge!ala*ge!ala membuat diagnosa aktual.

Hasi' yan( di1arap an " riteria 1asi' *

0enun!ukan 'olume "airan normal yang dibuktikan oleh 2D, ke"epatan nadi, berat badan, dan haluaran urine dalam batas normal.

1nter'ensi , %# A)asi tanda*tanda 'ital 2# (a!i turgor kulit, hidrasi, membran mukosa.

.# -kurB hitung masukan, pengeluaran. 9# 2imbang berat badan. $# (olaborasi dengan pemberian "airan 1?.

d. Dia(nosa Kepera#atan Dapat di1!*!n( an den(an * * * (risis situasi

) =emasB Ansietas )

An"aman untukB perubahan status kesehatan8 takut mati. 3aktor psikologis (efek hipoksemia# )

Kem!n( inan di*! ti an o'e1 *

0enyatakan masalah sehubungan dengan perubahan ke!adian hidup.

* *

eningkatan tegangan dan tak berdaya. (etakutan, takut, gelisah. )

Hasi' yan( di1arap an " riteria 1asi' *

0enyatakan kesadaran terhadap ansietas dan "ara sehat untuk mengatasinya.

* *

0engakui dan mendiskusikan takut. 2ampak rilek dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat ditangani.

0enun!ukan peme"ahan masalah dan penggunaan sumber efektif.

1nter'ensi , %# Cbser'asi peningkatan pernapasan, agitasi, gelisah, emosi labil 2# ertahankan lingkungan yang tenang.

.# 1dentifikasi persepsi pasien terhadap an"aman. 9# +antu orang terdekat agar berespon positif terhadap pasien.

C. Prosed!r S!,tion Pada Penderita 4an( Tida Sadar

Persiapan A'at
1. 2.

eralatan penghisap , engukur untuk menun!ukkan besar takanan negatif

3. +otol pengampul 4.

ipa penghubung

5. Dua sarung tangan steril berisi beberapa ons larutan garam fisiologis steril 6. +ahan pelumas 7. Hadah steril berisi beberapa ons larutan garam fisiologis steril 8. +ahan pelumas yang larut dalam air 9. +antalan kain kasa steril ukuran 9 I 9 in"i 10. (ateter penghisap steril a. Lunak, lentur, tidak mudah kolaps karena tekanan negatif b.

astik bening B karet merah sekali pakai

c. -kurannya "ukup ke"il sehingga dapat mele)ati !alan napas

d. -kuran penghisap nasotrakea

%# de)asa , %2 F %9 f 2# anak*anak .# bayi , %0 f , $ atau > f

e. (atup kontrol ibu !ari f.

+eberapa lubang penghisap pada u!ung kateter

g. Sistem penyaluran o2 tambahan

Lan( a1 5 Lan( a1 )
1. Aelaskan tindakan tersebut kepada pasien. 2.

eriksa apakah semua alat sudah tersedia.

3. Aika pasien sedang dimonitor, lakukan penge"ekan untuk memastikan bah)a

semua alat monitor (untuk oksimetri pulsa, pemeriksaan elektrokardiografi, tekanan darah dan tekanan intrakranial# beker!a dengan baik. +ila hipoksia merupakan komplikasi utama dalam penghisapan !alan napas, dian!urkan bah)a kapan pun pasien mengalami prosedur ini dimonitor dengan oksimetri pulsa.
4. +ila perlu pasien dapat diberikan premedikasi (misalnya obat 'asokonstriksi

semprotan, obat analgesik topikal, bronkodilator inhaler#


5. Lakukan preoksigenasi pada pasien dengan oksigen 90 sampai 50 %,

tergantung pad dera!at disfungsi paru pasien.

6. Susun ukuran penghisap dengan tekanan negatif penghisap yang tepat

(de)asa >0*%20 mm4g, anak*anak >0*%00 mm4g, bayi <0*>0 mm4g#.


7. =u"i tangan. 8. +uka bungkusan kateter dan kenakan sarung tangan steril. 2angan yang

dominan (tangan yang steril# digunakan untuk memegang dan mendorong kateter. 2angan yang tidak dominan menyambung kateter dengan dengan perangkat alat penghisap dengan demikian men!adi tidak steril.
9. (eluarkan )adah steril dari bungkusan. 2uangkan larutan garam fisiologis

steril

kedalam )adah tersebut dengan menggunakan tangan yang tidak

dominan.
10. 4isap se!umlah larutan garam fisiologis untuk memastikan kalau alat tersebut

berfungsi dengan baik.


11. asien dengan posisi telenang diatas tempat tidur. 12. +erdiri pada salah satu sisi pasien. 13. Letakkan alat bag*'al'e yng telah dihubungkan dengan oksigen beraliran

"epat pada dada pasien sehingga dapat di!angkau dengan mudah oleh tangan kiri. astikan kalau aliran oksigen sudah dihidupkan.
14. egang kateter penghisap dalam posisi tergulung pada tangan yang dominan

dan steril.
15. Dengan tangan kiri yang tidak steril, lepaskan pipa respirator dari selangnya

dan letakkan dalam bungkusan bersih tempat kateter berada.

16. egang kuat selang tersebut dengan tangan kiri anda yang tidak steril. 17. 0asukkan kateter kedalam !alan napas tanpa penghisapan. 18. Dorong kateter sampai terasa ada tahanan. Aangan mendorong dengan

paksaan.
19. Sementar menarik kembali kateter, se"ara intermiten tutup katup penghisap

dengan ibu !ari, yang lamanya !angan lebih %$ detik untuk setiap penghisapan. 2etap hidupkan monitor selama melakukan penghisapan.
20. utarlah kateter sambil menariknya. 21. ertahankan kateter penghisap dalam posisi tergulung pada tangan kanan

yang steril. /unakan tangan kiri yang tidak steril untuk memasang bag*'al'e beraliran oksigen pada selang endotrakea dan gunakanlah untuk memberi pasien >*%0 kali napas pan!ang.
22. +ersihkan kateter dari sekret dengan menghisap larutan garam fisiologis

steril.
23. -langi rangkaian penghisapan yang telah diuraikan diatas sebanyak 2*. kali. 24. Respirator dihubungkan kembali. 25. Apabila sudah selesai, gulung kateter pada tangan yang dominan, lepaskan

sarung tangan dengan membaliknya le)at kateter dan kemudian buanglah kedua*duanya dengan benar.
26. =u"i tangan.

BAB III PENUTUP

A. Kesimp!'an

Dari sekian banyak kasus kedaruratan pada sistem pernapasan, pada makalah ini diangkat dua kasus kedaruratan yaitu ARDS dan &dema aru. (edua penyakit ini merupakan penyebab utama timbulnya gagal pernapasan.

-ntuk itu pada kasus*kasus seperti ini sikap tanggap dari tim kesehatan sangat lah penting, sehingga apabila ter!adi kedaruratan akan dapat ditangani segera. Dalam melakukan pengka!ian yang perlu diperhatikan untuk setiap kasus kedaruratan adalah A+=. Dimulai dari Air )ay, +reating, =ir"ulation. 4al ini penting untuk mengetahui apakah kondisi si (lien dalam keadaan yang perlu penanganan "epat.

B. Saran

+erdasarkan kesimpulan diatas, maka kelompok menga!ukan beberapa saran yaitu ,


1. Diperlukan keterampilan yang baik untuk semua pera)at khususnya yang

bertugas di unit kega)atdaruratan sehingga dalam penanganan pasien dengan kasus*kasus ga)at pernapasan dapat terlaksana se"ara maksimal.
2. -ntuk

mahasis)a

diharapkan

menambah

)a)asannya

tentang

kega)atdaruratan serta keterampilan dalam melakukan tindakan kepera)atan kega)atdaruratan sehingga apabila turun kelapangan, tidak akan merasakan kesulitan.

DA.TAR PUSTAKA

Doenges, 0arilynn &. dkk. %555. Rencana "su#an $eperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Peawatan Pasie. %disi &. Aakarta , &/= Aastremski, 0i"hael. S, 0ar" Dumas , Lisa enal'er. %55<. Prosedur $edaruratan. Aakarta , &/= Rab, 2abrani. Dr. 4. %55<. Prinsip Gawat Paru. %disi '. Aakarta , &/= Ree'es, =harlene A. Dkk. 200%. (uku )aku : $eperawatan *edikal (eda#. Aakarta , Salemba 0edika ))). /oogle."om (%% 0aret 200>#