You are on page 1of 4

NAMA NIM KELAS

: MOH.NURUL FUAD : 1014034 : VII -A

ARTIKEL CONTUSIO

A. Definisi Kontusio merupakan suatu istilah yang digunakan untuk cedera pada jaringan lunak yang diakibatkan oleh kekerasan atau trauma tumpul yang langsung mengenai jaringan, seperti pukulan, tendangan, atau jatuh (Arif Muttaqin,2008: 69). Kontusio adalah cedera jaringan lunak, akibat kekerasan tumpul,mis : pukulan, tendangan atau jatuh (Brunner & Suddart,2001: 2355) Kontusio adalah cedera yang disebabkan oleh benturan atau pukulan pada kulit. Jaringan di bawah permukaan kulit rusak dan pembuluh darah kecil pecah, sehingga darah dan cairan seluler merembes ke jaringan sekitarnya (Morgan, 1993: 63) Kontusio adalah suatu injuri yang biasanya diakibatkan adanya benturan terhadap benturan benda keras atau pukulan. Kontusio terjadi akibat perdarahan di dalam jaringan kulit, tanpa ada kerusakan kulit. Kontusio yang disebabkan oleh cedera akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan, meskipun demikian luka memar di bagian kepala mungkin dapat menutupi cedera yang lebih gawat dalam kepala. Kontusio dapat menjadi bagian dari cedera yang luas, misalnya karena kecelakaan bermotor (Agung Nugroho, 1995: 52).

B. Etiologi 1. Benturan benda keras. 2. Pukulan. 3. Tendangan/jatuh 4. Penggunaan obat-obatan dalam jangka panjang C. Manifestasi Klinis

1. Perdarahan pada daerah injury (ecchymosis) karena rupture pembuluh darah kecil, juga berhubungan dengan fraktur. 2. Nyeri, bengkak dan perubahan warna. 3. Hiperkalemia mungkin terjadi pada kerusakan jaringan yang luas dan kehilangan darah yang banyak (Brunner & Suddart,2001: 2355). 4. Perubahan warna 5. Kompres dingin intermitten kulit berubah menjadi hijau/kuning, sekitar satu minggu kemudian, begkak yang merata, sakit, nyeri dan pergerakan terbatas. 6. Kontusio kecil mudah dikenali karena karakteristik warna biru atau ungunya beberapa hari setelah terjadinya cedera. 7. Kontusio ini menimbulkan daerah kebiru-biruan atau kehitaman pada kulit. 8. Bila terjadi pendarahan yang cukup, timbulnya pendarahan didaerah yang terbatas disebut hematoma. 9. Nyeri pada kontusio biasanya ringan sampai sedang dan pembengkakan yang menyertai sedang sampai berat (Hartono Satmoko, 1993:191). D. Patofisiologi Kontusio terjadi akibat perdarahan di dalam jaringan kulit, tanpa ada kerusakan kulit. Kontusio dapat juga terjadi di mana pembuluh darah lebih rentan rusak dibanding orang lain. Saat pembuluh darah pecah maka darah akan keluar dari pembuluhnya ke jaringan, kemudian menggumpal, menjadi Kontusio atau biru. Kontusio memang dapat terjadi jika sedang stres, atau terlalu lelah. Faktor usia juga bisa membuat darah mudah menggumpal. Semakin tua, fungsi pembuluh darah ikut menurun (Hartono Satmoko, 1993: 192) Endapan sel darah pada jaringan kemudian mengalami fagositosis dan di daurulang oleh makrofaga. Warna biru atau unguyang terdapat pada kontusio merupakan hasil reaksi konversi dari hemoglobin menjadi bilirubin. Lebih lanjut bilirubin akan dikonversi menjadi hemosiderin yang berwarna kecoklatan. Tubuh harus mempertahankan agar darah tetap berbentuk cairan dan tetap mengalir dalam sirkulasi darah. Hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi pembuluh darah, jumlah dan kondisi sel darah trombosit, serta mekanisme pembekuan darah yang harus baik. Pada purpura simplex, penggumpalan darah atau pendarahan akan terjadi bila fungsi salah satu atau lebih dari ketiga hal tersebut terganggu (Hartono Satmoko, 1993: 192).

E. Komplikasi 1. Paralisisneralisis 2. Sindrom post traumatic (post contusion sindrom) 3. Epilepsy post trauma 4. Osteomyelik 5. Atelectasis 6. Hiperthermi 7. Syock F. Penatalaksanaan

Mengurangi/menghilangkan rasa tidak nyaman : 1. Tinggikan daerah injury 2. Berikan kompres dingin selama 24 jam pertama (20-30 menit setiap pemberian) untuk vasokonstriksi, menurunkan edema, dan menurunkan rasa tidak nyaman 3. Berikan kompres hangat disekitar area injury setelah 24 jam kedua(20-30 menit) 4 kali sehari untuk melancarkan sirkulasi dan absorpsi 4. Lakukan pembalutan untuk mengontrol perdarahan dan bengkak 5. Kaji status neurovaskuler pada daerah extremitas setiap 4 jam bila ada indikasi (Brunner & Suddart,2001: 2355).

Menurut Agung Nugroho (1995: 53) penatalaksanaan pada cedera kontusio adalah sebagai berikut: 1. Kompres dengan es selama 12-24 jam untuk menghentikan pendarahan kapiler. 2. Istirahat untuk mencegah cedera lebih lanjut dan mempercepat pemulihan jaringan-jaringan lunak yang rusak. 3. Hindari benturan di daerah cedera pada saat latihan maupun pertandingan berikutnya.

G. Pemeriksaan Diagnostik 1. CT-Scan Untuk melihat letak lesi dan adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek.

2. Lumbal Pungsi Untuk menentukan ada tidaknya darah pada LCS harus dilakukan sebelum 6 jam dari saat terjadinya trauma 3. EEG Dapat digunakan untuk mencari lesi 4. Roentgen Untuk melihat ada tidaknya fraktur pada tulang

DAFTAR PUSTAKA http://zillyannurse.blogspot.com/2011/11/askep-trauma-muskuloskeletal.html http://yuflihul.blogspot.com/2011/10/askep-contusio.html KapitaSelektaKedokteran, FKUI Jakarta 2000 KeperawatanMedikalBedah , EGC http://adf.ly/1487760/banner/http://mydocumentku.blogspot.com/2012/03/asuhankeperawatan-pada-pasien-kontosio.html