You are on page 1of 26

Terapi kelompok

TERAPI KELOMPOK
Merupakan satu cara merawat/menyembuhkan orang secara berkelompok. Terapi Kelompok berbeda dengan Terapi Keluarga. Terapi Kelompok berasal dari latar belakang yang BERBEDA secara agama, ekonomi, sosial, pendidikan, dan lain-lain. Sedangkan Terapi Keluarga harus ada ikatan keluarga. Kesamaannya adalah pada tujuan, yakni saling menolong orang lain. Ini berbeda dengan terapi individu yang hanya melibatkan satu pribadi dan satu terapis. Terapi Kelompok diawali oleh seorang mantan pecandu alkohol bernama Bill Wilson. Diceriterakan, pada suatu hari di bulan November, Ebby Thatcher, teman mabuknya mengunjungi Wilson. Thatcher mengakui dia sudah diubahkan Kristus setelah dikunjungi misi Calvary Episcopal Church di penjara. Dia mengajak Wilson untuk menghadiri pertemuan gereja tersebut. Menurut Wilson, kesaksian-kesaksian di gereja tersebut menggerakkan hatinya untuk berubah. Tetapi belum ada tindakan sampai akhirnya dia masuk rumahsakit. Thatcher mengunjunginya di RS dan menantang Wilson untuk menyadari kelemahannya serta memohon Tuhan mengubahkan hidupnya. Setelah Thatcher pulang, Wilson jadi depresi. Tetapi akhirnya dia menemukan dirinya berteriak, "Kalau di sana ada Tuhan, biarlah Dia menunjukkan diri-Nya! Saya siap untuk melakukan apa pun!" Wilson tidak pernah minum lagi! Suatu kali, dalam perjalanan bisnis yang gagal di Ohio, Wilson tergoda minum lagi. Dia menelepon Oxford Group, yang membawahi Calvary Episcopal Church, untuk meminta pertolongan. Dia bertemu dengan Henrietta Seiberling dari Oxford Group. Kepadanya Wilson mencurahkan ketakutannya jatuh lagi. Akhirnya Sieberling punya ide. Dia bermaksud mempertemukan Wilson dengan Bob Smith, yang sudah cukup lama dilayani dan didoakan oleh Oxford Group supaya tidak mabuk lagi, tetapi tak kunjung berhasil. Lewat sebulan, akhirnya Smith berhenti minum. Wilson dan Smith membuktikan bahwa kelompok senasib dapat saling menolong dan menguatkan Mereka berusaha menolong para alchoholic yang berjuang melepaskan diri dari kebiasaan ini, melalui Terapi Kelompok yang akhirnya dinamakan Alchoholic Anonymous.

mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok Beberapa jenis terapi kelompok yang berkembang dewasa ini: 1. T-Group (training group), bertujuan melatih peserta untuk terampil bergaul. Mereka membentuk kelompok eksekutif untuk saling mengenal diri dan berelasi. 2. Encounter Group : menekankan pertumbuhan pribadi, relasi personal 3. Sensitive Training Group - kesadaran perilaku orang mempengaruhi orang lain 4. Task Oriented Group: tugas yang harus dicapai bersama (kelompok kerja sama di pabrik) 5. Body Awareness (dansa) 6. Creativity Workshop : mengekspresikan diri dengan musik 7. Organizational development group : menumbuhkan kepemimpinan 8. Team Building group : mempererat ikatan kerabat kerja 9. Gestalt Group : memanfaatkan teknik gestalt 10. Support Group : kelompok mendukung yang sakit: kelompok alkoholik, child abuse, dan lain-lain

Definisi
Hansen, Warner & Smith: Suatu proses interpersonal yang melibatkan seorang konselor dan
beberapa anggota yang mengeksplorasi diri dan situasi mereka dalam upaya mereka mengubah sikap dan perilaku mereka.

Sifat/karakteristik terapi kelompok


Preventif = pencegahan Terapeutik = pengobatan/kuratif

Keunggulan terapi kelompok


Daya lebih besar : terapis + kelompok mempengaruhi anggota Tanggapan dari sesama rekan senasib lebih berpengaruh daripada tanggapan terapis

Kelemahan terapi kelompok


Pada saat kelompok lemah semua menjadi lemah Kemungkinan rahasia bocor lebih besar, jadi orang takut terbuka Kalau pemimpin/anggota jatuh, mudah melemahkan anggota lainnya Membungkamkan, jika anggota tidak biasa bicara di depan orang banyak Seseorang akan bisa berlindung pada orang lain, khususnya pada saat terapis berkonsentrasi pada satu orang. mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok

Dasar/asumsi terapi kelompok


Rogers : manusia adalah makhluk sosial, butuh keterkaitan satu sama lain
Kepribadian sesorang dipengaruhi oleh persepsi orang lain dan merupakan produk interaksi dengan sesama/antar pribadi Kehausan / kerinduan akan hubungan pribadi memikat orang masuk ke dalam hubungan kelompok (hunger for relationship)

Tiga prinsip dasar keyakinan Terapi Kelompok


Aku adalah penderita (alkoholik, penjudi, dlsb) - harus disadari dan diakui. Sebab kebanyakan orang berdalih, misalnya bilang : cuma iseng, dlsb Aku tidak berdaya menolong diriku sendiri Ada kuasa yang lebih besar yang bisa menolong aku

Manfaat Terapi Kelompok


Memberi sumbangsih pada pertumbuhan pribadi (keterampilan berelasi) Memberi tanggapan untuk eksplorasi diri Menguji realitas. Contohnya orang yang tertutup, kondisikan agar belajar terbuka di kelompok Menambah rasa tanggung jawab terhadap sesama dan diri sendiri

FAKTOR PENYEMBUH DALAM KELOMPOK TERAPI


Ada 11 faktor penyembuh menurut Yalom : 1. Instillation Hope (penanaman harapan) Harus ada penanaman harapan. Dinamika kelompok bisa menjadi pendorong dan bisa juga merusak kelompok. Adakalanya anggota yang pesimis, meremehkan dan menganggap target terlalu tinggi. Jadi, penting menanamkan harapan. Oleh karena itu pemimpin sebaiknya mantan penderita (alkoholik, dlsb). Sebab jika anggota ada yang jatuh, setidaknya pemimpin menjadi figur yang berhasil. Kalau ada anggota yang kritis jangan disingkirkan. Kalau perlu cukup konfrontasi. Harapan tinggi, kesembuhan cenderung tinggi, sebaliknya harapan rendah, kesembuhan rendah. mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok

2. Universalitas Pasien di dalam kelompok menyadari bahwa ia tidak sendiri dalam masalahnya. Banyak orang yang bermasalah seperti dia, sehingga ia terhibur. Ia tidak merasa aneh dengan dirinya. Bahkan ada yang lebih berat. Dia merasa menjadi bagian dari kelompok, akhirnya muncul perasaan kebanggaan tersendiri. Pandangannya tidak menjadi negatif terhadap dirinya. Keinginan sembuh menjadi lebih besar. Ada dua hal penting di sini: (1) perasaan tidak sendirian (2) harga diri yang membaik. Refleksi teologis: sejak manusia jatuh dalam dosa, manusia senang kalau ada orang lain jatuh seperti dia. Sifat dosa adalah, yang salah tidak mau disalahkan. 3. Pemberian Informasi Terapi kelompok bersifat edukatif, karena baik si pemimpin maupun anggota mendapat banyak informasi. Mis. tentang penyakitnya. Banyak orang pikir itu diturunkan. Bukan, tetapi dicenderungkan (baik gen maupun sosial). Umumnya keturunan alkoholik memang mudah menjadi alkoholik. Hal ini membuat orang itu jangan menyerah pada nasib, tetapi bisa melawan. Informasi meliputi: a. kesehatan mental/ kelainan mental b. psikodinamika dalam kelompok : seperti nasehat, sugesti, tuntunan langsung terhadap masalah yang dihadapi Pemberian informasi juga berguna untuk mempengaruhi struktur kelompok, dalam arti informasi ini menjadi pedoman keamanan kelompok. Sehingga kelompok tidak ngawur tapi teratur, terarah dan produktif. Informasi tidak hanya implisiti tapi juga eksplisit. Misalnya dengan cara memberi pelajaran tentang struktur dan fungsi sistem syaraf pusat dan relevansinya; mengajarkan tentang culture shock; menggunakan buku, berdiskusi, dlsb. Contoh advise: I Think you ought to... Proses pemberian nasehat tidak sama dengan isi nasehat. Proses yang baik dengan penuh perhatian, menolong memberi efek yang baik. 4. Altruism = berbuat baik kepada orang lain Merasa diri berguna karena berbuat baik terhadap orang lain. Ia merasa ceritanya bermanfaat bagi temannya di kelompok. Waktu temannya melihat ia positif, ia makin mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok positif terhadap dirinya. Ada aktualisasi diri. Dulu jadi beban, sekarang ia dianggap berharga, didengarkan. Di terapi individual tidak ada kesempatan berbuat baik. 5. Faktor Koreksi Dalam kelompok kita bisa menghidupkan kembali peristiwa negatif atau konflik berat yang pernah menimpa kita waktu kecil. Tapi kini peristiwa itu membawa koreksi dalam hidup kita, misalnya : saya disebut "anak dari tong sampah", "bodoh", dan lain-lain. Namun akhirnya, kita tidak seperti itu. Bisa menggunakan teknik Psikodrama. 6. Pengembangan Ketrampilan Bergaul (bersosialisasi) Terapi kelompok sebagai wadah atau kesempatan untuk anggotanya menambah ketrampilan bergaul. Anggota belajar mendengar tanggapan orang lain. Melalui tanggapan kita belajar mengetahui dampak sikap kita terhadap orang lain. Hal yang negatif diubah. Misal cara kita memuji, mengkritik. (pengalaman dengan BS dan AT). Terapi kelompok menjadi wadah bagi pesertanya untuk memeriksa dan memperbaiki ketrampilan bergaul yang kurang sehat dan acapkali merugikan diri sendiri. 7. Contoh Perilaku (Imitative Behavior) Para peserta berkesempatan meniru perilaku dan cara pikir yang lebih sehat baik dari terapis maupun sesama peserta. Contoh: anak Pak Paul yang menceloteh karta married. Ketika ditanya apa artinya, ia langsung memeluk Ibunya. Modeling atau imitasi adalah daya terapi yang efektif. 8. Belajar Dari dan Antar Pribadi Tujuan akhir dari terapi adalah hubungan antar pribadi. Umumnya orang ke terapi bertujuan untuk melenyapkan gangguan yang dideritanya. Namun akhirnya fokus terapi bergerak dari orientasi gangguan ke pada perbaikan hubungan dengan sesama, misal: kemampuan berkomunikasi. Yalom mengutip Sullivan, bahwa fungsi terapi kelompok adalah membawa seseorang kembali ke kehidupan antar pribadi lagi. Caranya, terapi kelompok menyediakan dua unsur kesembuhan yang penting: (a) pengalaman terapi yang mengandung aspek emosi. Setelah emosi muncul ada kesadaran untuk memperbaiki reaksi reakisnya dalam hubungan antar pribadi yang tidak tepat. (b) pengalaman kuratif ini langsung dibawa dalam relasi antar pribadi. Keefektifan terapi kelompok bergantung pada :

mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok a. kemampuan menyatakan emosi masing-masing. Ekspresi emosi yang terarah, terkendali dan terbuka sangat berpengaruh untuk menyem-buhkan, baik bagi orang lain maupun diri sendiri. b. Pemahaman Rasional (insight): pemimpin harus bisa mengarahkan dan mengoreksi ekspresi emosi anggota. Sebab kadang persepsi kita terhadap orang lain tidak tepat/rasional. Dengan perkataan lain terapi yang berhasil adalah terapi yang mengkombinasikan pencetusan emosi dan pengertian rasional. Emosi dilepaskan dulu, baru pemahaman kognitif muncul. Gaya terapi yang bercorak kognitif ini dikembangkan Albert Ellis.

TIGA TIPE KRITIS Ada tiga tipe kritis yang menjadi titik tolak menuju ke arah kesembuhan, dan ketiganya mengandung aspek emosi. Tipe kritis I : ledakan emosi atau kemarahan/kebencian yang kuat. Ini bisa berdampak positif, asalkan komunikasi tetap terjadil dan masalah bisa diselesaikan. Malah hubungan bisa lebih dalam. Tipe pertama ini mempunyai lima ciri : a. si pasien mengekspresikan perasaan negatif yang kuat b. baginya pengekspresian itu merupakan pengalaman yang unik c. malapetaka yang ditakutkan tidak terjadi d. pengujian realitas menyusul, ia menemukan ternyata menghindari pengekspresian emosinya adalah tidak rasional. e. ia dapat berinteraksi lebih bebas. Tipe kritis II : bercorak pengekspresian emosi yang kuat, namun mengandung aspek emosi positif. Cirinya: a. si pasien mengekspresikan emosi yang kuat dan positif. Ini baginya tidak biasa b. malapetaka yang ia bayangkan dan takuti tidak terjadi: ia tidak menerima penolakan atau diremehkan dan tidak terluka

mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok c. ia menemukan sesuatu tentang dirinya yang ia tidak ketahui sebelumnya. Ini menolongnya berhubungan dengan orang lain dengan satu dimensi baru. Tipe kritis III : melibatkan unsur yang serupa tipe kedua, di mana seseorang mengambil langkah yang berani untuk membuka diri atau kebutuhannya secara langsung. Menurut Yalom, ada 5 faktor yang mengakibatkan terjadinya pengalaman emosi yang korektif: a. Adanya pengekspresian emosi yang dialamatkan kepada pribadi lainnya dan mengandung unsur risiko di pihak pasien tersebut. b. Adanya dukungan dan penerimaan dari kelompok yang memper-kenankan tindakan yang riskan ini, sehingga ia didorong lebih terbuka. c. Terjadinya pengujian realitas. Ini memungkinkan pasien mengkaji ulang peristiwa tersebut, di mana peserta lainnya secara konsesnus juga memberikan tanggapan yang makin mendekatkannya dengan realitas d. Adanya pengakuan tentang perilaku dan perasaan yang kurang sesuai atau tentang perilaku menghindar yang tidak tepat e. Penambahan kemampuan si pasien untuk berinteraksi dengan yang lainnya secara lebih fair dan mendalam. Jadi terapi kelompok merupakan suatu mikrokosme sosial, atau miniatur pergaulan sosial. Apa yang dilakukan anggota di luar kelompok dibawanya ke dalam kelompok. Demikian juga apa yang diperoleh di kelompok akan dibawanya keluar kelompok. Dengan perkataan lain anggota makin mengenal siapa dirinya (who I am) dan siapa bukan dirinya (who I am not). Hal ini sangat membantu di mana peserta telah berinteraksi dengan dan memiliki persepsi tentang peserta lainnya. Proses Kelompok Pertemuan (Rogers): 1. Berputar-putar : belum jelas arah terapi, bingung sopan dan dangkal 2. Perlawanan terhadap ekspresi atau eksplorasi diri 3. Penceritaan tentang perasaan namun dalam bentuk lampau 4. Pencetusan perasaan perasaan yang negatif 5. Pengekspresian dan pengeksplorasian tentang hal hal bermakna secara pribadi 6. pengekspresian perasaan-perasaan yang berkaitan dengan antar pribadi di kelompok 7. Pengembangan kapasitas untuk penyembuhan di dalam kelompok 8. Penerimaan diri dan permulaan perubahan mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok 9. Mulai meretaknya topeng-topeng 10. Individu menerima tanggapan 11. Konfrontasi 12. Hubungan menolong di luar kelompok 13. Terjadinya pertemuan: hubungan Aku - Engkau dan Aku - Aku 14. Pengekspresian perasaan positif dan keakraban 15. Perubahan perilaku di dalam kelompok GROUP COHESIVENESS (Kesatuan Kelompok) Dalam terapi pribadi relasi pribadi sangat penting ; demikian juga dalam terapi kelompok yang sangat penting adanya kesatuan kelompok (group cohesiveness). Kelompok terapi sangat bergantung pada keakraban dan kesatuan kelompok. Jika keakraban baik maka perubahanpun akan positif. GC adalah relasi pasien terhadap terapis, dengan teman2 lain dan terhadap kelompok itu sendiri. Defenisi: "hasil atau akibat dari segala sesuatu yang membuat peserta tetap tinggal dalam kelompok itu. Relasi yang memikat, yang berasal dari kelompok itu, dan yang membuat peserta ingin tetap dalam kelompok tersebut." Kondisi Pasien Group Cohesiveness Faktor kuratif Jadi, GC bukanlah faktor yang langsung menyembuhkan, tetapi sebagai faktor penghubung/ pengantara yang membawa kesembuhan. Keakraban ini menimbulkan perasaan diterima. Curahan isi hati kita diterima. Ini sangat menolong. Ini merupakan harta karun kristiani yang ada dalam alkitab namun lama diabaikan ("hendaklah kamu saling mengasihi). Keakraban menimbulkan penerimaan, merasa ada kesamaan dengan orang lain. Makin akrab kelompok makin besar dampaknya/ manfaatnya terhadap anggota. Berapa suka dia terhadap kelompok, makin dia tertarik mengikuti kelompok. GC membuahkan penerimaan diri. Penerimaan teman mendorong dia menerima diri sendiri. Penerimaan diri menolong dia menerima teman. Penerimaan dia membantu dia menerima penerimaan teman-teman, Sehingga ia makin menyukai diri atau mengasihi diri. mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok

Sebaliknya kalau ia tidak diterima kelompok, ia sukar menerima dirinya. Ini terjadi jika kelompok terlalu high expectation namun tanpa cinta kasih. Tanpa kasih maka semua tuntutan itu bersifat impersonal. Sampai ia dewasa perasaan tidak diterima oleh orangtua dan keluarga terbawa terus. Ia menjadi orang minder dan mudah menyalahkan diri. Contoh: banyak orang yang potensial, kaya, namun minder dan tidak pernah puas dengan dirinya. Contoh : P' PGn dijuluki Hidung Besar- ia sulit mengintergrasikan muka dengan seluruh tubuh. Lama sekali ia menerima muka itu merupakan bagian tubuhnya. Manusia itu lama sekali baru bisa menerima dirinya. Contoh: bagaimana Billy Graham berlatih keras untuk bisa berkotbah. Itupun isinya sangat sederhana. (Sullivan: Manusia itu adalah kumpulan penilaian-penilaian orang lain). Sebenarnya kita manusia yang sangat rapuh. Ada dua problem utama orang datang ke terapis: a. Agar bisa membangun relasi dengan orang lain (masalah dengan orang lain) b. Agar bisa menerima diri (masalah dengan diri) Jadi, keakraban ini menimbulkan: Penerimaan Daya tarik Popularitas kelompok mempengaruhi absensi atau kehadiran/ partisipasi membuat dia lebih mudah dipengaruhi kelompok

Mekanisme sehingga keakraban itu bermanfaat (Rogers: h.54) Menurut Rogers ada suatu proses yang akan terjadi sewaktu hubungan antara pasien dan terapis terjalin: 1. Pasien akan lebih bebas mengekspresikan perasaannya 2. Pasien mulai menguji realitas, sehingga ia lebih tepat dalam melihat perasaan dan persepsinya akan lingkungan, dirinya, orang lain dan pengalamannya. Responnyapun makin benar. 3. Ketika hubungan terjalin, pasien lebih menyadari adanya ketidakcocokan antara apa yang dialaminya dengan konsep dirinya. Misal: A merasa dapat menguasai diri. Namun setelah diterapi ia mengizinkan perasaan keluar -- ternyata ia marah dan mengumpat. Ia

mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok mengalami ketidakcocokan, ternyata ia tidak seperti yang dipikirkannya. Ini tidak mudah dia terima. 4. Lebih menyadari perasaan yang selama ini belum disadari/disangkali/ didistorsikan. Misal: A takut pria yang suka marah - ternyata dulu papanya seorang yang suka marah. B seorang yang mengatakan ia butuh kasih sayang dan bukan seks (ternyata ia pernah jadi korban pelecehan seksual). 5. Konsep dirinya semakin tepat/sama dengan pengalamannya (pas). Untuk ini terapis perlu menolong pasien menguraikan permasalahan dengan jelas. 6. Pasien lebih mampu menerima dan mengalami kasih sayang dari orang lain (termasuk terapis), tanpa merasa terancam dan risih. Ia bisa menerima penerimaan orang lain. 7. Pasien semakin bisa melihat dan mengalami diri sebagai fokus evaluasi. Kita layak menerima perhatian tersebut. Rela pengalaman hidupnya dinilai. Kita adalah evaluator sekaligus objek yang dievaluasi. Ini makin memampukan kita bercermin diri. 8. Kita sering bertindak demi tuntutan orang. Namun makin kita sehat, kita bertindak bukan untuk dianggap baik bagi orang lain, tetapi demi kebaikan kita sendiri. Dengan kata lain, kita bereaksi terhadap pengalaman hidup; tidak lagi berdasarkan evaluasi orang terhadapnya, melainkan berdasarkan keefektifan memperkaya pertumbuhan diri. (bukan berarti setiap penilaian orang itu jelek). Terapi kelompok akan bermanfaat bagi anggota jika anggota itu kelompok menganggap kelompok penting bagi dia. Juga sejauh mana kelompok menilai dia secara spesifik. Tetapi ketidakcocokan penilaian kelompok dan penilaian diri sendiri mendatangkan masalah. Reaksi yang sering kita berikan adalah mengatakan: Orang itu pasti keliru. Ia sentimen sama saya. Memang dia begitu orangnya (menyalahkan orang). Anggota akan membela diri.

PUBLIC ESTEEM Self esteem sangat berpengaruh dalam proses penyembuhan. Self-esteem membaik maka penyembuhan pun makin besar. Jika anggota makin menghargai kelompok, maka penyembuhan makin besar. Public esteem adalah penilaian kelompok terhadap saya. Ini sangat membawa dampak terhadap saya.

mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok Group cohesiveness (GC) berkaitan dengan 3 hal: 1. Public esteem baik, group makin baik 2. GC bergantung pada kehadiran dalam kelompok. Semakin senang seseorang terhadap kelompoknya, ia akan semakin hadir, maka groups cohesiveness makin baik 3. GC bergantung pada pengekspresian marah/benci. Kebebasan pengekspresian emosi negatif meningkat, maka GC akan meningkat. Apa kaitannya? Ini kadang muncul terhadap sesama rekan. Mengapa muncul perasaan tidak suka satu dengan lain? Karena adanya pemindahan (transference). Misalnya kita melihat dia ngomongnya ketus. Kita merasa dia seperti ibu kita yang tidak kita sukai yang juga ketus. Si peserta didorong berani menyatakan mengapa dia tidak suka. Sebab, semakin akrab, kelompok seharusnya makin menyediakan wadah untuk menyatakan kebencian atau kemarahannya. Apa yang terjadi jika kemarahan itu tidak digubris atau konflik itu dihindari ? Menghalangi kemajuan dan menghalangi keakraban yang murni Meski ditahan, akhirnya akan nongol juga nantinya.

Mengizinkan konflik memang bukan hal yang mudah. Namun ini penting sebab : Dengan demikian pasien mampu menyatakan rasa marah. Itu baik. Bagi yang dimarahi juga positif, sebab dengan diterjang seperti itu ia bertumbuh dan tahu apa artinya "diterjang". Anggota lainnya dapat melihat bagaimana reaksi orang yang sedang "diterjang".

Ada beberapa reaksi orang yang diterjang: a. Menyerang balik: marah dan menerjang balik b. Jurus kura-kura: menyembunyikan diri, menghindarkan diri dari konflik, tidak mau sakit c. Membiarkan diri diterjang: merasa diri tidak mampu membalas, dan menerima diri begitu saja karena biasa memblame diri d. Kompensasi (displacement): membalas kepada individu lain, atau mencari mangsa lain, misal: anak, istri, dlsb. Sikap Terapis melihat orang menerjang dalam kelompok: 1. Biarkan saja, jangan dihambat. Lihat dan pahami, mengapa ia menerjang. Ajar klien itu menerima terjangan itu dan memahai reaksinya. Kalau kita sendiri yang diterjang, kita mesti menempatkan diri pada orang tersebut (empati). mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok 2. Jangan didiamkan, sebab kita perlu melatih orang menahan tekanan. Bagaimana pun juga ia akan menghadapi itu dalam hidup ini. 3. Ini dapat memperkuat pembukaan diri (self disclouser). 4. Peserta diajar berkonflik dengan sehat dalam kelompok. Melatih peserta melebarkan wawasan. Ia tahu tentang sikap dan tipe-tipe orang. Menurut Yalom, ikatan kelompok (group cohesiveness) tidak saja membuat peserta berani mengeluarkan uneg-uneg pada peserta lainnya tapi juga pada pemimpin/terapis. Ia belajar konflik dengan figur otoritas di kelompok tersebut. Adakalanya pasien menyimpan harapan tertentu pada terapis (semacam kontra pemindahan). Engkau tidak seperti ayahku... Kalau ini bisa dimunculkan keluar maka ini akan membuahkan pengenalan diri yang lebih sehat. Kalau ia tidak mengeluarkan uneg-uneg-nya pada si terapis, ia akan meremehkan kelompok dan menyerang peserta yang dekat dengan si terapis. Ini juga sehat bagi si terapis, sebab dia juga bagian dari kelompok. Sebab terapis tidak pernah netral seratus persen. Kadang ia sendiri membuat kontra pemindahan. Jadi melalui konflik itu si pemimpin pun disadarkan. Tetapi ingat jangan malah si terapis yang menimbulkan konflik tersebut. Sebab terapi ini untuk klien, bukan bagi si terapis. Kalau ia jadi peserta bolehlah. Ketika klien mengalami kemajuan: Seringkali ketika individu mengalami kemajuan ia justru mudah mengalami kemunduran. Ia sendiri mensabotase kemajuannya. Why? Sebab ia merasa hidup "tanpa problem" itu tidak enak. Ia sudah biasa dengan problemnya itu. Ternyata tidak mudah membuang begitu saja kebiasaan atau problem hidupnya. Ia merasa tidak sanggup menjadi manusia lain dari apa yang sudah biasa dijalaninya. Ia sudah menikmati manfaat dari kebiasaan buruknya itu. Ia merasa bebas. Problem atau gangguannya tadi mempunyai fungsi tertentu dalam hidupnya. Misalnya meredakan ketegangan, mmeberinya kebebasan, dlsb. Awalnya memang ada yang menetralisasi persoalan, namun akhirnya ke-bablas-an. Beberapa contoh:

Pasien depressi. Ia merasa dengan depresi ia biasa merenung dan lamban dalam hidup
ini. Ini berguna, sehingga dengan mengalami depresi ini orang tidak akan terlalu banyak menuntut dari dirinya. Kasus anak yang depresi: dengan depresinya orangtua mejadi sangat memperhatikannya. Sang ayah menjadi memperhatikan keluarga, dan tidak main gila di luar. mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok

Alkoholik. Ia sudah biasa menenangkan diri dari tekanan hidup dengan alkohol. Kini
tanpa alkohol tidak ada alat menenangkan dirinya.

Sexacholic (masturbasi, gonta-ganti hubungan): ia sudah terbiasa mengatasi rasa sakit


(pain) dengan kenikmatan hubungan seksual. Seks adalah pleasure. Namun kini itu sudah tidak ada lagi. Banyak orang korban pelecehan seksual menjadi promiscuous. Sebab ia sudah mengenal seks sejak dini. Akhirnya tanpa sadar ia dicenderungkan begitu. Ia sulit membedakan antara "pain" dan "pleasure" dalam hubungan seksnya. Umumnya yang melakukan pelecehan seks adalah orang yang dekat dengan korban, mereka yang telah intim secara emosinal, misalnya ayah, ayah tiri, paman, kakak, pacar dan sebagainya. Mulanya hubungan intim sangat natural, namun tanpa disangka hubungan menjadi lebih jauh. Ia pun tidak berdaya menolak atau mengadukan persoalan itu. Tidak heran kebanyakan perlakuan itu berlangsung lama.

Orang yang biasa marah. Dengan marah orang takut padanya, tidak menuntut dia
macam macam. Kini kalau ia tidak marah, orang tidak lagi segan padanya dan berani menuntut dia. Ia merasa tidak aman.

Menjadi anak nakal. Dengan kenakalannya ia diterima sebagai anak yang tidak pandai.

Hal hal di ataslah yang membuat banyak peserta jatuh kembali dalam problemnya. Yang penting diperhatikan adalah, sejak kapan kebiasaan itu ia alami. Kalau sejak kecil, maka kebiasaan itu sangat sulit dihilangkan. Jadi kita harus ingat, ada kalanya pasien kita yang sudah membaik itu menghancurkan apa yang ia sudah terima dari terapi. Ia tiba tiba ambruk dan mundur. Sikap terapis: 1. Jangan putus asa membimbingnya 2. Kuatkan penerimaan terhadap klien. Sebab ia peka dengan penolakan. Kalau kita saja akhirnya tidak mengerti dia, dia akan mudah hancur dan mundur dari terapi. Di dalam kelompok ada dua jenis peserta: 1. Peserta populer: yang berani ambil risiko, terbuka dan berani instropeksi

mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok 2. Peserta yang tidak populer: peserta yang tidak bisa menginstropeksi diri, tidak berpartisipasi, moralistik, kaku dan akhirnya ia tidak mendapat manfaat dari terapi kelompok tersebut.

Konsekuensi keakraban kelompok. 1. Kelompok bermotivasi untuk saling menolong anggota 2. Lebih mau terbuka untuk mempengaruhi anggota yang lain. 3. Lebih mau bersedia mendengar dan menerima yang lain 4. Lebih merasa aman dalam kelompok 5. Lebih berani berpartisipasi 6. Lebih membuka diri 7. Menjaga norma-norma kelompok, atau mempertahankannya 8. Tidak terlalu terpengaruh jika ada anggota yang keluar EMPAT TINGKATAN INSIGHT 1. Tingkat pertama: "Kita menyadari apa persepsi orang terhadap saya". Pandangan subjektif kita terhadap diri kita sendiri semakin diobjektifkan. Misalnya: a. Bagaimana diri saya yang otoriter dan tidak sabar, baru saya kenal secara objektif lewat terapi kelompok ini b. Ketika kita mengatakan sama teman kelompok, "Kamu orang yang lembut", tapi teman itu tidak menerima pendapat kita, sebab ia merasa diri keras. Ia merasa lebih aman sebagai orang yang keras daripada lembut. Jadi kecenderungan kita umumnya dikotomi: saya menganggap diri saya begini, tapi kelompok menganggap saya begitu. Ingat, kita adalah kumpulan dari apa yang kita lihat dari diri kita sendiri dan apa yang kelompok atau orang lain lihat dari diri kita. Jadi dalam diri kita selalu ada integrasi, antara "saya yang pandai dan saya yang bodoh", "saya yang demokratis dan saya yang otoriter", dan seterusnya. 2. Tingkat Kedua: Memahami apa yang sedang dilakukannya terhadap/di depan orang lain (nilai- nilai hidup yang dijalani). Ini ada dalam proses yang panjang; bagaimana kita menyikapi orang lain. Misalnya bagaimana sebagainya. mardenny.wordpress.com kita memanfaatkannya, menolak, mengeksploitasi orang lain, dan

Terapi kelompok

Carl Jung pernah berkata, "Manusia mempunyai tema-tema hidup yang kompleks.
Melihat siapa diri kita (kekuatan dan kelemahan) kita dalam dunia ini. Misalnya siapa kita, apa kebutuhan kita; apa peran kita.

Tema-tema hidup itu antara lain: a. Inferioriy complex : merasa diri kurang berdaya; cenderung menaikkan diri kita supaya kita tidak sekurang ini. Kita cenderung menaikkan taraf kita, dengan tujuan minta konfirmasi dari orang lain, memancing tanggapan orang lain dengan tingkah yang overacting dlsb. Motifnya adalah ingin membuktikan diri, siapa saya ini! b. Superiority complex : kita menganggap orang lain lebih rendah. Motif kita adalah merendahkan orang lain agar diri kita lebih tinggi. Kalau lihat orang rasanya ingin beradu lebih hebat, siapa yang lebih kuat dari saya c. "pertandingan complex" : melihat hidup ini sebagai satu persaingan; cenderung melihat hidup ini kalah dan menang (contoh: para usahawan) d. Merasa dunia ini penuh tipu muslihat (hidup harus selalu bersiaga) e. Merasa hidup pantas menerima segala yang buruk 3. Tingkat Ketiga: Pemahaman Motivasi Kita berhasil menyadari alasan kita bersikap seperti ini dan itu terhadap orang lain. Ini merupakan isi dari level dua di atas. Kalau kita menganggap orang itu mau mengambil untung dari kita maka kita berusaha mengambil jarak dengan dia. Adakalanya individu tertentu kompetitif sekali, namun dalam hatinya ia butuh ada orang yang merawat dia. Why? Dia mau menang, merasa layak dikasihi, sehingga dia merasa butuh dilayani. Namun di satu sisi merasa tidak layak. Karena itu ia berusaha dengan cara lain, misal melatih dan mengembangkan diri sedemikian rupa hingga prestasinya dalam bidang tertentu dihargai (misalnya orang cacat) Ada juga orang yang cenderung "jinak-jinak merpati" atau seductive. Dia menyimpan kemarahan tertentu tapi tidak dapat mengungkap-kannya dengan baik. Akibatnya yang keluar adalah sikap jinak-jinak merpati, yakni antara perasaan ingin dekat dan menjauh (karena takut dilukai orang). 4. Tingkat Keempat: Pemahaman Bentuk Kita menyadari mengapa sampai kita memiliki tema hidup seperti itu (inferior, superior, dlsb). Kita dapat mengenal ini juga lewat sejarah keluarga. Dari keempat level di atas

mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok yang paling susah adalah tingkat kedua, sebab kalau nilai-nilai hidup ditemukan, level selanjutnya lebih mudah.

TUGAS-TUGAS DAN TEKNIK TERAPIS Meski teknik penting, jauh lebih penting adalah kehangatan, empati dan penerimaan kita terhadap klien. Kehangatan tidak dapat dibeli seperti kepandaian dokter. Sebagai terapis ada kaitan yang erat antara profesi dan kepribadian (siapa diri kita). Kita memang perlu tahu semua metode, namun sebaiknya punya ciri pendekatan yang khas dan dapat memakai metode itu secara tepat di mana perlu. Ingat, meski kita ramah dan menyenangkan belum tentu semua senang kepada kita. Sebab dalam proses terapi selalu terjadi proses transference. Namun kalau kita ramah tentu lebih banyak orang bisa kerja sama dengan kita. Beberapa Sikap Terapis yang Diperlukan: 1. Peduli (concern) = punya relasi kuat dengan klien 2. Berhati-hati dengan kemarahan, kecuali hubungan sudah sangat dekat. Tingkatannya adalah: menentang (konfrontasi), frustrasi terhadap klien, lalu marah. Di mana perlu, berikan perhatian lebih pada orang tertentu. Ini merupakan bagian dari perawatan. Kadang terjadi kontra transference dalam diri kita. Misal: kita minder pada klien itu karena ia lebih hebat dari kita (rujuk saja pada orang lain); atau kita suka sama dia sebab mirip ibu kita, dlsb. Perasaan ini tidak apa-apa, asal kita sadari dengan baik. Juga jangan sampai kontra tranference ini demi kepentingan kita (tapi demi kepentingan klien). Beberapa Tugas Terapis Dalam Terapi kelompok: 1. Menciptakan dan memelihara kelompok: Kita sebagai penjaga gawang, yakni menjaga (wasit) jangan sampai peserta lainnya diserang oleh hal-hal yang dapat memporakporandakan proses kelompok. Menghidarkan dari keluarnya klien dari kelompok dan menghalau apapun yang bisa mengancam group cohesiveness. Misalnya klien yang sering terlambat, sering tidak hadir, suka menginterupsi orang lain, di luar membentuk grup sendiri; ada yang dikambing hitamkan, dlsb. Juga, mulanya sebagai pemelihara kelompok, terapis menjadi pemersatu. Anggota berbicara melalui terapis. Misalnya kalau mau marah kepada teman, lewat si terapis. Namun akhirnya

mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok dikembalikan pada setiap peserta, sebab semuanya bisa menjadi terapis bagi kelompok. Jadi menciptakan sistem (pola) dalam kelompok supaya bisa berjalan dengan sehat. 2. Membangun dan Menetapkan Norma dalam Kelompok: Membuat kelompok menjadi satu suasana yang kondusif dan terapeutik, yang membuat interaksi kelompok menjadi sehat dan dinamis. Terapis berusaha menciptakan budaya sehingga anggota berani bicara satu dengan lainnya (I - Thou relationship). Karena itu ia harus membangun dan menetapkan beberapa norma. Dalam terapi kelompok yang bertugas membawa perubahan bukan si terapis, tetapi kelompok itu sendiri. Beberapa norma kelompok yang umum: a. Keterbukaan, kejujuran dan spontanitas. Kelompok bisa ngomong dengan siapa saja, tidak harus melalui terapis. Peserta berani jujur dan spontan terhadap perasaan saat itu. b. Semua harus berani dan berpartisipasi. Terapis mendorong, mengingatkan, dan bertanya kepada mereka. Masing-masing me-nerima semuanya tanpa menghakimi. Ingatkan, jangan memberi komentar yang menghakimi. Kalau ada peserta yang demikian jangan tegur, tapi cukup perjelas saja dengan kata kata. Ingat, kalau anda terbuka, orang akan jauh lebih suka dan dekat dengan anda. Masing-masing memiliki keinginan untuk memahami diri dan sikap yang berani tidak puas dengan perilaku sekarang dan ingin berubah. Bagaimana akhirnya norma dibangun? Ini harus ditetapkan sejak awal, sebab kalau tidak jalannya kelompok jadi tidak lancar. Misalnya kelompok jadi bergantung pada terapis, dlsb. a. Usahakan dari peserta kelompok: tanya, apa yang mereka harapkan dari kelompok ini. Contoh: boleh memberi pendapat tapi tidak boleh memaksakan pendapat. b. Dari pemimpin atau anggota yang berpengaruh Bagaimana si pemimpin membentuk norma? Terapis berfungsi sebagai ahli dan model/contoh. Sebagai ahli, terapis mengunakan teknik untuk menggerakkan kelompok ke arah yang ia inginkan. Misalnya ke arah aturan main tertentu. Misalnya menanyakan apa yang klien rasakan saat ini? Apa yang ia mau katakan? Apa reaksi mereka? Mengutarakan kesan di antara anggota terhadap kelompok. Terapis memuji anggota yang berani ambil risiko. Jadi terapis menjadi fasilitator. Jika peserta tidak berpartisipasi maka lemparkan kepada mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok anggota; posisi dan cara pandang terapis kepada semua peserta (letak tubuhnya sangat penting); kalau ada anggota yang suka nyela dan humor jangan terlalu ditanggapi; jika perlu menggunakan prinsip hukuman dan imbalan (beri kue atau coke); menghukum secara halus, misal mengabaikan humornya yg tidak perlu. Sebagai contoh/model: tokoh yang terbuka/transparan (termasuk kalau lagi sedih atau susah), spontan, ekspresi terhadap situasi sekarang terhadap sosok yang ada di depan kita; berani mengaku salah; berani ambil resiko; tidak takut terluka. Menerima klien tanpa syarat, menerima kemarahan anggota terapi; memberi penghargaan terhadap peserta. Beberapa Norma Dalam Kelompok (Sikap Kelompok Terhadap Kelompok) a. Kelompok bertanggung jawab atas kelangsungan kelompok Misalnya setelah pertemuan awal, terapis bertanya bagaimana pendapat mereka terhadap kelompok itu sendiri. Jangan sampai kelompok itu hidup karena si terapis. Karena itu terapis ada kalanya berdiam diri saja walau ada risiko. Tunggu peserta yang ngomong lebih dulu. b. Norma keterbukaan (Self Disclosure) Ini tidak berarti pengakuan dosa. Juga tidak harus klien dipaksa terbuka. Namun ingatkan mereka yang terbukalah akan mendapat manfaat yang lebih banyak dari terapi. Setiap kita harus dapat melihat kelompok seolah "dari atas" (meta self-disclosure). Kita sendiri berefleksi ketika kita sedang membuka diri (meneropong diri sendiri). Misalnya: waktu sedang membuka diri, apa yang sedang saya rasakan saat itu? Ingat, tidak boleh menghukum orang karena ia membuka diri apapun yang ia ceritakan. Kalau ada orang yang menyerang keterbukaannya terapis harus menghentikan konflik itu. Lalu tanyakan peserta itu apakah ia terluka dengan serangan tadi (ini cukup menghukum orang yang menyerangnya) c. Norma prosedur : semua harus bebas, tidak diatur atur. Jika menjadi digilir, terapis bisa mengatakan, sepertinya bergilir nih, apa tidak ada yang mendesak bicara? Siapa yang ngomong duluan, dan siapa yang ngomong hari ini. Ini tidak ada prosedurnya.Siapa saja boleh ngomong duluan. d. Mementingkan kelompok. Norma menekankan bahwa kelompok adalah hal yang penting (sehingga perlu terus usaha membuka diri dalam kelompok). e. Norma instrumen. mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok Setiap Peserta adalah agen agen penolong, agen agen perubahan. Masing-masing saling menolong.

TRANSFERENCE AND TRANSPARANCY A. Transference Adalah "distorsi persepsi interpersonal". Manfaatnya al: untuk diri sendiri, untuk membangun kodrat diri dan interpersonal. Wujudnya: iri, selalu memberi, selalu memuji, dan lain-lain. Kita sadar bahwa pemindahan itu, kalau digunakan secara tepat. Sebab asumsinya adalah pengalaman emosional yang benar-benar korektif memerlukan wadah atau konteks yakni transference. Misalnya kita marah terhadap seseorang. Tanpa sadar banyak berkaitan dengan figur masa lampau. Ini sangat korektif, sebab kita gunakan pada orang lain, lalu kita uji, kita amati distorsinya lalu kita koreksi ulang. Para terapis psikodinamika umumnya membiarkan terjadinya transference dan memberikan kesempatan klien mengungkapkan perasaannya. Namun Yalom mengingatkan hal penggunaan transference ini. Meski berguna, namun harus perhatikan hal hal berikut: 1. Pemindahan itu memang akan terjadi dan mempunyai dampak positif. 2. Kalau terapis tidak percaya proses pemindahan, ia akan kehilangan banyak proses terapeutik 3. Sebaliknya kalau terlalu menekankan transference dia dapat kehilangan autentik pribadi klien masa sekarang ini 4. Banyak cara pasien mendapatkan pertolongan. Salah satunya adalah pemindahan, tapi juga dari factor-faktor kuratif lainnya. 5. Interaksi dengan pasien banyak didasarkan pada realitas sekarang ini. Distorsi yang terjadi pun tidak selalu berkaitan dengan pemindahan 6. Pelihara flexibilitas anda.

Yalom menekankan, sebagai pemimpin kita sering jadi objek pemindahan.


Misalnya orang orang enggan duduk di sebelah terapis. Terapis dilihat sebagai figur otoritas, dosen, dan lain-lain. Ini transference. Juga kalau ngomong anggota selalu mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok melirik ke terapis. Ia minta persetujuan dari kita. Si terapis dianggap sebagai figur yang lebih tahu. Yalom mengingatkan jangan sampai terapis mengutamakan (menganakemaskan) satu klien. Sebab ini dapat menimbulkan transference persaingan antar saudara di kelompok. Misalnya, "Elu cari muka sama terapis." Ini sering terjadi di sekolah/kampus. Kita tidak suka sama mahasiswa yang dekat dengan dosen. Ada kontradiksi. Di satu sisi kita suka difavoritkan, satu sisi tidak suka lihat orang lain difavoritkan. Anggota cenderung melihat terapis sebagai superhuman. Inilah harapan mereka. Kita orang yang tidak bermasalah. Namun sebaliknya, salah satu keluhan anggota pada terapis, si pemimpin terlalu nggak manusiawi, terlalu superman. Mereka harapkan terapis yang lebih manusiawi. Yang penting menurut Yalom adalah bagaimana kita menyelesaikan poses pemindahan bukan meniadakannya. Jangan pancing, tapi biarkan pemindahan muncul secara alamiah. Kita menyelesaikan dengan cara memunculkan proses ini ke alam sadar agar pasien menyadari bahwa inilah yang ia lakukan, dan akhirnya ia lebih mampu berhubungan dengan tepat dan tidak dipengaruhi distorsi-distorsinya. Sebab tujuan kita agar pasien itu dapat berelasi secara tepat dengan orang lain, tidak dipengaruhi distorsi. Ada dua cara kita menyelesaikan pemindahan. a. Berikan komentar yang memvalidasi persepsi pasien yang sama dengan persepsi kelompok. Artinya walau ia anggap otoriter, tapi kelompok tidak anggap kita otoriter. Fokuskan: jangan-jangan ada pendistorsian dalam persepsi pasien. Atau kalau kelompok menganggap kita otoriter, kita benarkan pandangannya (kita validasi dia). Dengan cara ini kita dekatkan dia pada realitas, pada persepsi kelompok. b. Kita lebih banyak membuka diri padanya (transparansi). Agar ia bisa cek dengan informasi yang sudah ia miliki tentang kita. Juga dalam kehidupan sesehari, belajar jadi orang yang jelas/terbuka. Ini dapat mengusir kesalahpahaman. B. Tranparansi (membuka diri) Pembukaan diri adalah dengan maksud menguatkan peserta, jemaat. Ceritakanlah setelah kita berhasil menang atas pergumulannya. Ceritakan juga proses di mana kita bergumul. Atau hal yang kita gumulkan dan pasti kita akan melewatinya. Jangan sampai pembukaan diri melemahkan peserta.

mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok Kegunaannya: a. Kita dirasakan dekat dengan orang. Sebab mereka ingin kita jadi orang yang manusiawi. Ini mendorong keakraban. b. Mengusir pendistorsian, menghindari pemindahan yang mendistorsi. Atau orang tidak salahfaham dengan kita. c. Yang lain bisa belajar dari kehidupan terapis sendiri. d. Dinamika kehidupan jadi benar-benar nyata dalam kelompok. Misalnya kalau ada yang nangis, si terapis turut sedih. Ini jadi nyata. Ini bisa juga ada negatifnya/berbahaya : a. Kita terlalu manusiawi. Di mana kita tidak ada bedanya. Hal ini dapat membuat kita kehilangan wibawa sebagai pemimpin. Kelompok jadi kehilangan pemimpin. Jadi awalnya jangan terlalu terbuka yang polos. Kita tetap harus ada yang lebih baik/sehat dari klien. b. Kalau terapis mengatakan, ia juga tidak tahu arah terapis, ini bahaya. Jangan membuka diri seperti itu, walaupun itu pengalaman kita pertama kali. c. Juga hati-hati dengan waktu. Terbukalah pada waktu yang tepat dan kelompok siap menerima keterbukaan anda. d. Jangan membuka diri untuk menghina orang, dan sebagainya.

MANFAAT TERAPI KELOMPOK Mengikuti kuliah pada Jurusan Konseling telah membukakan beberapa pengertian baru mengenai konsep diri. Saya mulai mengenali bagian bagian diri saya yang perlu mendapat perubahan agar kelak saya dapat menjadi seorang konselor yang efektif. Saya berharap terapi kelompok dapat menjadi alat "operasi" salib Kristus dalam hidup saya. Hal ini tentu saja akan terasa menyakitkan, namun dampaknya sangat besar dalam proses kesembuhan. Pemahaman yang lebih menyeluruh tentang terapi kelompok ini membuat saya semakin menghargai upaya penyembuhan lewat kelompok seperti ini. Paper ini berisi tentang konsep, tujuan, proses dan manfaat terapi. Pemahaman ini kiranya akan lebih memperlengkapi pelayanan dan pengabdian kami di dalam dan melalui gereja, khususnya dunia konseling.

mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok Konsep dan Tujuan Terapi Konsep saya pada awalnya mengenai terapi kelompok ini sangat sederhana, yakni terapi adalah alat untuk mengenal dan mengubah diri. Mulanya saya berpikir manfaat dan proses penyembuhan itu akan lebih banyak saya peroleh dari terapis. Namun kenyataannya lebih dari itu, yakni manfaat lebih banyak saya peroleh dari kelompok. Inilah salah satu kelebihan terapi kelompok dari terapi pribadi. Tepatlah apa yang dikatakan Hansen, Warner dan Smith, bahwa terapi kelompok merupakan proses interpersonal dari semua peserta yang saling mengeksplorasi diri dan situasi mereka, dalam upaya mengubah sikap dan perilaku. Terapi kelompok merupakan mikrokosme (miniatur) pergaulan sosial. Ini menjadi sarana untuk mengenali diri dan kepribadian melalui kelompok. Semua cara atau sikap bergaul di luar akan tampak dalam terapi. Melalui terapi ini kami dapat memahami persepsi diri lebih objektif. Lewat terapi ini kami akan makin mengenal siapa diri saya (who I am) dan siapa bukan diri saya (who I am not). Hal ini tidak hanya membebaskan kami dari beban dan tekanan emosi yang tidak sehat, tetapi juga membantu kelompok berinteraksi dengan lebih baik dan sehat. Konsep saya akan sifat terapi juga berubah. Mulanya saya berpikir kelompok ini hanya bersifat kuratif atau pengobatan, tetapi ternyata juga bersifat preventif. Ini berarti setiap orang sebenarnya membutuhkan kelompok semacam ini. Tujuan dari terapi ini pada dasarnya ada dua. Pertama, meningkatkan kemampuan untuk mengenal dan berelasi secara sehat dengan diri sendiri. Kedua, meningkatkan kemampuan berelasi dengan sesama. Pada akhir sesi terapi ini saya merasa kami telah memahami dan mendapatkan ketrampilan baru dari kedua tujuan terapi tersebut. Bagi saya pribadi terapi merupakan wadah atau wahana yang sangat baik dan sehat dalam menemukan jati diri kita sebagai manusia ciptaan Allah. Manusia yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah, namun yang telah rusak karena dosa. Lewat terapi ini setiap orang dapat melihat diri dan sesamanya dengan lebih jernih melalui refleksi atau proses iluminasi melalui interaksi. Terapi kelompok bagi saya sangat alkitabiah, sehingga patut dipakai dan dipraktekkan dalam pelayanan bagi orang percaya. Proses Terapi

mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok Menurut Yalom, proses adalah dampak atau pengaruh yang bersifat relasi dari suatu interaksi interpersonal. Proses adalah segala sesuatu yang bersifat relasional yang berakibat seseorang bersikap, berkata, dan berperilaku tertentu terhadap peserta lain. Proses iluminasi atau pencerahan adalah kelompok melihat dan memahami proses yang sedang terjadi. Kelompok dapat melihat hal ini berguna bagi semuanya. Artinya masing-masing melihat proses ini dari "atas", merefleksikan apa yang sedang terjadi di dalam kelompok tersebut. Meskipun proses ini sangat penting namun bagi kami tidak mudah untuk terlibat dalam proses. Penyebabnya antara lain, faktor kecemasan sosial yang berkaitan dengan masa lalu. Pengalaman masa lalu kami banyak yang pahit dan yang malu untuk dikenang apalagi diceritakan. Itu sebabnya sebagian besar pengalaman itu kami represikan dan rasionalisasikan. Namun pada akhirnya kelompok dapat melewati keengganan tersebut. Salah satu faktor pendukung adalah terapis sendiri. Terapis telah menjadi contoh yang baik bagi kami dalam pembukaan diri (transparansi). Sedangkan bagi saya pribadi keengganan karena mau menjaga wibawa dan agar tetap merasa aman. Namun ini pun dapat saya singkirkan dalam terapi, sebab menyadari bahwa itu adalah rasa aman dan wibawa palsu. Melalui kelompok ini kami belajar untuk menyadari proses apa yang terjadi dalam relasi kami satu dengan lainnya. Misalnya, kami tidak hanya mendengar dan menafsirkan apa yang diucapkan tapi juga menangkap apa yang tidak terucapkan (nonverbal). Proses seperti ini membutuhkan kepekaan dan latihan yang terus-menerus. Kami juga dilatih berpikir dan bersikap secara proses. Hal ini membuat kami lebih menghargai usaha daripada hasil. Lebih mendalam dari itu adalah kami lebih mampu menerima komentar-komentar teman teman yang bersifat proses dan iluminasi. Hal ini tidak mudah, sebab sering kami merasa eksistensi kami terancam. Dalam pengamatan saya pada awalnya kami nampak cemas setiap kali menerima komentar yang bersifat proses dari terapis atau peserta lainnya. Hal ini wajar, mengingat kami tidak biasa menerima itu dalam kehidupan dan pergaulan sesehari di luar kelompok. Namun ini sangat penting dipraktekkan, kalau tidak kita hidup hanya dengan topeng-topeng dan menjadi orang munafik. Saya secara pribadi lewat proses ini menemukan tema hidup saya, yakni inferiority complex. Ini menjadi tema hidup saya, sebab pengalaman dan pembentukan masa kecil saya yang mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok penuh dengan penolakan dan celaan. Tidak mengherankan ini menimbulkan satu sifat dalam diri saya yakni ingin menjadi orang yang meaningful. Hal ini membuat saya terus-menerus ingin membuat sesuatu yang berarti agar mendapat penghormatan dan penerimaan orang lain. Tanpa saya sadari hal ini membuat saya lelah, mudah putus asa, dan kecewa jika apa yang saya inginkan tidak terjadi. Menyadari proses ini saya makin mengerti betapa rapuhnya saya. Pertama kali, saya melawan dan menolak ini. Saya sangat sulit menerima. Namun proses terapi memberikan saya fakta-fakta yang menguatkan hal tersebut, sehingga saya harus menerimanya, tidak hanya secara rasio tapi juga dengan emosi (hati) saya. Mulanya proses kelompok berjalan tersendat-sendat. Bahkan di tengah jalan beberapa kali mengalami hambatan. Namun ada beberapa kali proses berjalan dengan baik. Namun sayang, saya beberapa kali kehilangan kesempatan melihatnya secara proses. Kelompok kadang tergoda melihat detail peristiwa daripada proses. Melalui proses terapi kami mendapatkan satu kemampuan yang sangat mahal dan penting bagi seorang terapis, yakni empatik. Manfaat Terapi Setelah melewati terapi ini saya melihat ada beberapa manfaatnya bagi kelompok dan saya pribadi, yaitu: Memberi sumbangsih pada pertumbuhan pribadi. Melalui terapi ini kami semakin mengenali hambatan-hambatan dalam kepribadian. Pe-ngenalan itu membuat kami mempunyai keinginan menyingkirkannya dan menggantinya dengan konsep diri yang lebih sehat. Misalnya kemampuan melihat diri sendiri dan orang lain secara lebih positif. Proses dan manfaat ini saya analogikan dengan proses "kelahiran baru". Konsep diri yang lebih sehat menghasilkan pola berelasi yang lebih sehat pula. Kami juga makin saling menghargai dan mempercayai satu dengan lain. Itu sebabnya kami makin tidak segan-segan menceritakan pengalaman yang memalukan bagi kami. Eksplorasi dan pengenalan diri. Disamping itu kami semua berani mengeksplorasi diri. Ketika mengeksplorasi diri kami umumnya menangis, bahkan mungkin dengan jeritan hati yang tak terucapkan. Kelompok menjadi tempat kami dapat mengeluarkan uneguneh alias katarsis. Kemampuan ini membuat kami makin jujur melihat diri. Kami menemukan pengalaman-pengalaman masa kecil yang sangat mempengaruhi

mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok kehidupan kami setelah dewasa. Bahkan kami dapat menangkap tema atau nilai hidup yang mendorong kami bersikap dan berperilaku tertentu dalam hidup ini. Pengenalan diri lewat eksplorasi mendorong kami bergaul lebih jujur dan mendalam. Topeng-topeng diri makin meretak, dan hidup ini terasa lebih asli dan segar. Sikap atau tanggapan teman yang positif mem-buat kami sadar bahwa apa yang kami takutkan selama ini tidak pernah terjadi. Ini sangat terapeutik dan mendatangkan banyak perubahan bagi kami. Menguji realitas. Banyak dari kami mengalami proses pemindahan di dalam proses terapi. Ternyata dalam kelompok ini kami baru sadar banyak konsep dan perilaku kami tentang diri maupun orang lain merupakan distorsi persepsi terhadap orang lain. Kami disadarkan bahwa ini dipengaruhi oleh kesan dan pengalaman yang kami terima khususnya dari orangtua kami. Semuanya ini tentu berjalan dalam alam ketidaksadaran kami. Dalam kelompok inilah kami diajak untuk berani menguji realitas. Hal ini dimungkinkan karena peserta lainnya secara konsensus juga memberikan tanggapan yang makin mendekatkan kami masing-masing dengan realitas. Menambah rasa tanggung jawab terhadap sesama dan diri sendiri. Dalam kelompok ini kami makin menyadari betapa kami benar benar manusia berdosa yang sangat egois dan kurang bertanggung jawab. Rasa tanggung jawab sejati terhadap diri dan orang lain justru dihidupkan melalui proses kelompok ini. Misalnya kemauan pribadi untuk merubah sikap dan perilaku negatif, maupun kemauan pribadi untuk menolong teman yang bermasalah. Melalui terapi ini kami bersama disadarkan bahwa yang paling bertanggungjawab atas diri kami adalah kami pribadi. Menyadari ini kami mulai menyadari tidak ada faedahnya mengkambinghitamkan orang lain atas masalah yang menimpa kami. Kami belajar menerima, bahwa bagaimanapun juga kami adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan apa yang terjadi pada diri kami. Dalam kelompok ini juga kami merasa diri kami lebih berarti, sebab masingmasing kami dapat berbuat baik. Melalui cerita dan pengalaman hidup yang kami bagikan ternyata telah menolong, menguatkan dan menghibur teman-teman. Bagi saya ini juga merupakan latihan untuk memberitakan kabar baik. Mengimitasi sikap dan perilaku positif. Bagi saya pribadi, terapi kelompok ini menjadi satu menimba pengalaman dari terapis khususnya teknik konseling. Secara sadar saya mardenny.wordpress.com

Terapi kelompok mengimitasi beberapa sikap terapis dalam memperlakukan kami peserta. Khususnya belajar dalam hal mendengarkan, memberi perhatian dan penilaian yang objektif dan merata serta adil. Memberi kemerdekaan dan kelegaan. Pada akhirnya manfaat terapi ini bagi kami adalah memberikan kemerdekaan diri. Semua kami menyaksikan bahwa melalui terapi ini kami dibebaskan dari konsep-konsep diri yang keliru dan menerima konsep diri yang jauh lebih sehat. Melalui uji realitas terhadap distorsi yang ada kami menemukan siapa kami yang sesungguhnya. Hal ini tidak saja mempengaruhi pertumbuhan kepribadian kami tetapi juga kerohanian kami. Saya melihat hambatan dalam kepribadian itu telah menjadi semacam "duri" yang menghimpit benih Firman Tuhan. PENUTUP Saya sangat berterima kasih kepada Tuhan atas kelompok ini. Melaluinya saya secara pribadi sangat tertolong dari beban emosi dan kecemasan yang telah menghambat pertumbuhan hidup saya selama ini. Kami makin melihat kemuliaan dan kebesaran karya Tuhan yang tampak dalam hidup saya dan teman-teman. Kami lebih sadar, bahwa hidup kami ini benar-benar hanya karena anugerah-Nya. Tidak berlebihan saya menganggap kelompok ini merupakan perwujudan Firman Tuhan, "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu, demikianlah kamu meme-nuhi hukum Kristus."

PENDALAMAN Mulailah membuat kelompok terapi di lingkungan (gereja, sekolah, kantor) Saudara. Tuliskanlah manfaat yang Saudara dapatkan di dalamnya. 1. Materi Kuliah Pdt. Julianto Simanjuntak, M.Div.,M.Si. di STTRII Jakarta 2. Yalom, Irvin D., The Theory and Practice of Group Psychotherapy- 4th edition, BasicBooks, HarperCollins Publisher, 1995 3. Makalah Pdt Julianto Simanjuntak, M.Div.,M.Si. di STTRII Jakarta Terakhir diperbaharui : Senin, 29 Oktober 2007, 22:04

mardenny.wordpress.com