You are on page 1of 40

Laporan Tugas Akhir

Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya


pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 1

BAB 2
KAJIAN PUSTAKA
2.1 PENDAHULUAN
Estimasi biaya merupakan hal penting dalam dunia industri konstruksi. Ketidak-
akuratan dalam estimasi dapat memberikan efek negatif pada seluruh proses
konstruksi dan semua pihak yang terlibat. Estimasi biaya berdasarkan spesifikasi dan
gambar kerja yang disiapkan owner harus menjamin bahwa pekerjaan akan terlaksana
dengan tepat dan kontraktor dapat menerima keuntungan yang layak. Estimasi biaya
konstruksi dikerjakan sebelum pelaksanaan fisik dilakukan dan memerlukan analisis
detail dan kompilasi dokumen penawaran dan lainnya. Estimasi biaya mempunyai
dampak pada kesuksesan proyek dan perusahaan. Keakuratan dalam estimasi biaya
tergantung pada keahlian dan kerajinan estimator dalam mengikuti seluruh proses
pekerjaan dan sesuai dengan infomasi terbaru.
Proses analisis biaya konstruksi adalah suatu proses untuk mengestimasi biaya
langsung yang secara umum digunakan sebagai dasar penawaran. Salah satu metoda
yang digunakan untuk melakukan estimasi biaya penawaran konstruksi adalah
menghitung secara detail harga satuan pekerjaan berdasarkan nilai indeks atau
koefisien untuk analisis biaya bahan dan upah kerja. Saat ini para estimator di
Indonesia masih banyak mengacu pada BOW (Burgerlijke Open bare Werken) yang
ditetapkan tanggal 28 Februari 1921 pada jaman pemerintah Belanda. Sudah ada
upaya yang dilakukan oleh Puslitbang Pemukiman, Departemen Kimpraswil untuk
memperbaharui BOW tersebut dengan membuat Standar Nasional Indonesia (SNI),
meskipun belum mencakup seluruh jenis pekerjaan. Pada kedua acuan tersebut yang
dicantumkan adalah nilai-nilai indeks atau koefisien yang didefinisikan sebagai faktor
pengali pada perhitungan biaya bahan dan upah kerja tukang pada setiap satuan jenis
pekerjaan. Metoda ini dapat dilakukan apabila rencana gambar teknis dan persyaratan
teknis telah tersedia sehingga volume pekerjaan dapat dihitung.
Pada awalnya estimasi biaya penawaran yang menggunakan panduan tersebut adalah
untuk menstandarkan harga bangunan berdasarkan kualitas bangunan yang sarna. Hal
ini sangat membatasi para estimator apabila harus memperhitungkan berbagai faktor
risiko yang berbeda pada setiap daerah. Resiko ketidak-seragaman ketrampilan
tukang, bervariasinya mutu bahan di setiap daerah, kendala-kendala teknis lainnya
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 2

yang mempengaruhi pemilihan metoda konstruksi dan lain sebagainya adalah
merupakan faktor yang berpengaruh secara signifikan pada estimasi biaya penawaran.
Faktor risiko tersebut yang menyebabkan nilai indeks juga berbeda. Padahal nilai
indeks yang tercantum dalam SNI maupun BOW masih menganut nilai tunggal.
Analisis biaya konstruksi adalah suatu tahap yang selalu dilakukan pada saat seorang
estimator akan mengestimasi biaya konstruksi yang selanjutnya akan dicantumkan
dalam dikumen penawaran. Secara umum dalam dokumen penawaran biaya
konstruksi antara pihak konsultan, owner dan kontraktor mempunyai pendetailan
yang berbeda. Tetapi perincian biaya yang dicantumkan sama, yaitu meliputi biaya
langsung (material, tukang, dan peralatan), biaya tidak langsung, biaya tak terduga,
dan biaya overhead.
Estimasi biaya konstruksi secara detail didasarkan atas :

Gambar rencana yang detail

Spesifikasi kegiatan atau pekerjaan yang detail.
Biaya tiap kegiatan atau pekerjaan disebut biaya satuan kegiatan atau pekerjaan
(harga satuan pekerjaan). Biaya satuan pekerjaan dirinci berdasarkan :

Bahan yang digunakan,

Alat yang digunakan,

Pekerja yang terlibat untuk pekerjaan tersebut.
2.2 PELAKSANAAN PROYEK KONSTRUKSI
2.2.1 Pengertian Proyek Konstruksi
Proyek konstruksi merupakan suatu rangkaian kegiatan yang saling berkaitan untuk
mencapai tujuan tertentu (bangunan/konstruksi) dalam batasan waktu, biaya dan mutu
tertentu. Proyek konstruksi selalu memerlukan sumber daya (resources) yaitu man
(manusia), material (bahan bangunan), machine (peralatan), method (metode
pelaksanaan), money (uang), information (informasi), dan time (waktu).
Proyek merupakan sekumpulan aktivitas yang saling berhubungan dimana ada titik
awal dan titik akhir serta hasil tertentu. Proyek biasanya bersifat lintas fungsi
organisasi sehingga membutuhkan bermacam keahlian (skills) dari berbagai profesi
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 3

dan organisasi. Setiap proyek adalah unik, bahkan tidak ada dua proyek yang persis
sama. Proyek adalah aktivitas sementara dari personil, material, serta sarana untuk
menjadikan/ mewujudkan sasaran-sasaran (goals) proyek dalam kurun waktu tertentu
yang kemudian berakhir (PT. PP, 2003).
Rangkaian kegiatan dalam proyek konstruksi diawali dengan lahirnya suatu gagasan
yang muncul dari adanya kebutuhan dan dilanjutkan dengan penelitian terhadap
kemungkinan terwujudnya gagasan tersebut (studi kelayakan). Selanjutnya dilakukan
desain awal (preliminary design), desain rinci (detail design), pengadaan
(procurement) sumber daya, pembangunan di lokasi yang telah disediakan
(construction) dan pemeliharaan bangunan yang telah didirikan (maintenance)
sampai dengan penyerahan bangunan kepada pemilik proyek.
Gambar 2.1 Rangkaian Kegiatan dalam Proyek Konstruksi

Kebutuhan Pemilik dan Pemakai:
Timbulnya kebutuhan akan suatu bangunan/ konstruksi dengan fungsi tertentu
seperti bangunan permukiman, bangunan gedung, bangunan industri/ pabrik,
bangunan rekayasa sipil.

Kegiatan Studi Kelayakan (Feasibility Study):
Kegiatan yang bertujuan untuk melakukan studi layak tidaknya bangunan/
konstruksi untuk dibangun ditinjau dari berbagai aspek, baik dari segi ekonomi,
sosial-budaya, politik, dan lain-lain yang kemungkinan berhubungan dengan
bangunan yang akan dibangun tersebut.

Kegiatan Perencanaan Teknis/Desain/Perancangan (Design):
Kegiatan mendesain atau merancang bangunan/ konstruksi yang dibutuhkan
(fungsi tertentu) yang telah layak untuk dibangun. Desainer menerjemahkan ide/
Kebutuhan Pemilik dan
Pemakai

Studi Kelayakan
(Feasibility Study)

Desain/perancangan (Design)
Pra Desain
Detail Desain
Pengadaan (Procurement) Pelaksanaan
Konstruksi
(Construction)

Bangunan/Konstruksi
dipergunakan
beroperasi

Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 4

gagasan menjadi gambar fisik bangunan yang jelas dan dapat dipahami oleh
orang lain, terutama oleh tukang.

Kegiatan Pengadaan Barang/Jasa (Procurement):
Kegiatan untuk mengadakan penyedia jasa pengadaan barang dan atau jasa
konstruksi berupa resources yaitu material, pekerja, mesin/ alat berat, dan lain-
lain.

Kegiatan Pelaksanaan Konstruksi (Construction):
Kegiatan membangun bangunan/ konstruksi yang telah dirancang/ didesain oleh
kontraktor berdasarkan gambar kerja yang telah dibuat oleh desainer.

Bangunan/ Konstruksi dipergunakan/beroperasi:
Kegiatan pemanfaatan, pemeliharaan, dan perawatan bangunan yang telah
dibangun.
2.2.2 Jenis-Jenis Proyek Konstruksi
Jenis-jenis proyek konstruksi dapat diklasifikasikan secara garis besar menurut fungsi
dan sumber dana dari proyek konstruksi, yaitu :
a) Berdasarkan fungsinya :

Konstruksi perumahan

Konstruksi komersial, seperti bank, perkantoran, sekolah dll

Konstruksi konstutisional, seperti rumah sakit, dll

Konstruksi berat dan jalan raya.
b) Berdasarkan sumber dana :
1. Dana Pemerintah, dimana proses pelelangan umumnya kompetitif, harus
sesuai dengan prosedur.
2. Dana Swasta, dimana proses pelelangan umumnya dapat dinegosiasikan dan
ditentukan oleh aturan yang diadakan sendiri oleh pemilik dengan bantuan
konsultan perencana dan manajer konstruksi.
Untuk bidang pekerjaan sipil, penggolongan bidang pekerjaan untuk usaha
pemborongan berdasarkan Petunjuk Teknis Keppres No.16/ 1994 adalah :
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 5

1. Proyek drainase
2. Proyek jaringan pengairan
3. Proyek jembatan
4. Proyek jalan
5. Proyel landasan
6. Proyek pengeboran air darat
7. Proyek jalan kereta api
8. Proyek jembatan kereta api
9. Proyek bangunan gedung
10. Proyek reklamasi dan pengerukan
11. Proyek dermaga
12. Proyek penahanan tanah
13. Proyek bangunan bawah air
14. Proyek pertamanan
15. Proyek perumahan, permukiman
16. Proyek pencetakan sawah
17. Proyek pembukaan areal
18. Proyek perpipaan
19. Proyek interior
20. Proyek mekanikal & elektrikal
21. Proyek bendungan
2.2.3 Parameter Keberhasilan Pelaksanaan Proyek Konstruksi
Pada proyek konstruksi, terdapat empat parameter penting yang menjadi ukuran
keberhasilan pelaksanaan suatu proyek konstruksi dari segi teknis, yaitu biaya
yang harus dialokasikan, waktu penyelesaian yang harus ditepati, kualitas, dan
keamanan (safety) yang harus dipenuhi.
Keempat parameter ini terkait satu sama lain dan dialokasikan sebagai sasaran
yang ingin dicapai didalam pelaksanaan proyek konstruksi. Oleh karena itu, pada
saat perencanaan proyek perlu diadakan usaha penanganan risiko untuk
mengantisipasi dan meminimalkan risiko-risiko. Usaha tersebut akan berperan
dalam merencanakan cara penanggulangan atau pencegahan kendala serta
mengurangi akibat-akibat dari semua kejadian yang menghambat selama proses
konstruksi. Semuanya itu berfungsi untuk memenuhi parameter-parameter yang
menjadi ukuran keberhasilan pekerjaan proyek konstruksi.
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 6

1. Biaya
Proyek konstruksi harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi rencana
anggaran biaya proyek. Dalam pelaksanaan konstruksi, dituntut suatu manajemen
biaya untuk pengeluaran dana yang efisien yaitu diharapkan bahwa biaya untuk
menyelesaikan proyek diatur dengan pengendalian yang baik agar tidak terjadi
pembengkakkan biaya diluar anggaran yang telah direncanakan. Untuk proyek
yang melibatkan dana dalam jumlah besar dan jadwal pelaksanaan yang relatif
lama, perlu dilakukan estimasi biaya pelaksanaan proyek secara detail dengan
mengetahui komponen-komponen pembentuknya serta periode-periode pekerjaan
proyek.
2. Waktu
Proyek konstruksi harus dikerjakan sesuai dengan jangka waktu sampai dengan
tanggal akhir yang telah ditentukan. Penyelesaian proyek dalam jangka waktu
tertentu telah disesuaikan dengan perencanaan biaya yang dialokasikan. Oleh
karena itu, tidak terpenuhi batas waktu pelaksanaan akan menimbulkan kendala-
kendala baru misalnya penambahan biaya proyek yang tidak direncanakan.
3. Kualitas
Produk berupa konstruksi sebagai hasil kegiatan proyek konstruksi harus
memenuhi spesifikasi dan kriteria yang diisyaratkan. Sebagai contoh, bila hasil
kegiatan proyek tersebut berupa gedung bertingkat, maka kriteria yang harus
dipenuhi adalah gedung tersebut harus mampu beroperasi dengan memuaskan
dalam jangka waktu yang telah ditentukan dan sesuai dengan desain yang telah
direncanakan.
4. Safety
Perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan proyek konstruksi harus memiliki tingkat
keamanan yang cukup tinggi agar tidak membahayakan keselamatan pihak yang
terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam pelaksanaan proyek.
Perencanaan juga mempengaruhi faktor keamanan konstruksi yang dirancang
sehingga tidak membahayakan saat penggunaannya.
Keempat parameter keberhasilan proyek konstruksi bersifat tarik menarik, artinya
jika ingin meningkatkan kinerja produk yang telah disepakati dalam kontrak,
maka umumnya harus diikuti dengan peningkatan kualitas, yang selanjutnya
mengakibatkan peningkatan biaya sehingga melebihi anggaran yang telah
ditetapkan. Sebaliknya, jika ingin menekan biaya, maka umumnya perlu
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 7

dilakukan penyesuaian kualitas, jadwal dan safety. Hal ini harus ditangani secara
menyeluruh oleh pihak-pihak yang terlibat di dalam proyek konstruksi.
2.3 KOMPONEN BIAYA KONSTRUKSI
2.3.1 Biaya langsung (direct cost)
Biaya langsung (direct cost) adalah biaya yang langsung berkaitan dengan
kegiatan/pekerjaan konstruksi. Secara garis besar biaya langsung meliputi biaya
material, upah pekerja, dan biaya peralatan.
Komponen biaya langsung (direct cost) antara lain dipengaruhi oleh :
1. Lokasi pekerjaan.
Contoh, harga material dan upah pekerja di Bandung berbeda dengan harga
material dan upah pekerja di Makasar.
2. Ketersediaan bahan, peralatan, atau pekerja.
Contoh, ketika semen langka di pasaran, harga yang normalnya Rp. 31.000/zak
menjadi Rp. 40.000/zak.
3. Waktu.
Contoh, pekerjaan galian yang normalnya dilaksanakan dalam 2 hari biayanya Rp.
25.000,- per m
3
, bila harus dipercepat menjadi 1 hari, biayanya meningkat
menjadi Rp. 45.000,-.
2.3.1.1 Biaya Material
Biaya material yang digunakan adalah biaya di lokasi pekerjaan. Agar diperoleh
biaya tersebut, maka harus diketahui harga pembelian material dan biaya
pemindahannya ke lokasi pekerjaan. Pekerjaan pemindahan ini meliputi
pengelolaan (bongkar, muat, penyimpanan, dan lain-lain) dan pengankutan
material.
Dalam membuat penawaran harga, seorang estimator atau disebut quantity
surveyor biasanya membuat suatu daftar bahan yang diperlukan dan daftar ini
dipakai oleh para pemborong. Harga bahan yang dipakai biasanya harga bahan di
tempat pekerjaan jadi sudah termasuk biaya angkutan, biaya menaikkan dan
menurunkan, pengepakan, penyimpanan sementara di gudang, pemeriksaan
kwalitas dan asuransi. Harga material diperoleh dari komposisi jumlah bahan
untuk item-item pekerjaan. (Sastraatmaja,1994).
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 8

Proses pembelian bahan lazimnya dimulai dengan adanya usulan dari pihak
pemakai untuk pengadaan bahan dan peralatan tertentu kepada bidang pembelian
dalam organisasi proyek. Kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan sebelum
kegiatan pembelian dilaksanakan adalah penelitian atas kesiapan perusahaan
rekanan, evaluasi penawaran, dan perjanjian antara pejual dan pembeli yang
dituangkan dalam surat kontrak pembelian. (Soeharto,1998).
Proses pengadaan material dan peralatan mendapat perhatian besar dari
penyelenggara proyek, karena pengeluaran untuk proses ini dapat mencapai 50-60
persen dari total biaya. Pengadaan material dan peralatan meliputi
kegiatankegiatan pembelian, identifikasi kebutuhan, pemeliharaan persediaan,
pemantauan produksi, penerimaan dan penyimpanan barang di lokasi proyek,
persiapan dan penyusunan dokumen yang diperlukan. (Sorharto,1998).
Harga satuan pekerjaan adalah harga yang harus dibayar untuk menyelesaikan
satu jenis pekerjaan/konstruksi. (SNI 2002). Harga satuan bahan adalah harga
yang harus dibayar untuk membeli persatuan jenis bahan bangunan. (SNI 2002).
Harga bahan merupakan harga di tempat pekerjaan, jadi sudah termasuk
memperhitungkan biaya pengangkutan, menaikkan dan menurunkan, pengepakan,
asuransi, pengujian, penyusutan, penyimpanan di gudang dan sebagainya.
(Dipohusodo,1996). Harga bahan tergantung dari kontraktor, lokasi, kualitas,
jumlah dan potongan harga. (Anshworth,2004).
2.3.1.2 Biaya Peralatan
Peralatan untuk suatu jenis konstruksi meliputi alat-alat berat/mesin-mesin dan
alat-alat tangan/ringan. Peralatan ini ada yang hanya dapat dipakai sekali saja, ada
pula yang dapat dipakai untuk proyek berikutnya. Biaya yang dibutuhkan untuk
alat berat jauh lebih besar dibandingkan dengan alat tangan dan dalam proyek
yang besar sangat menentukan di dalam penyusunan harga satuan suatu item
pekerjaan, sehingga perkiraan biaya alat berat ini harus diteliti dan mendekati
kenyataan.
Penentuan biaya perlalatan didasarkan pada biaya produksinya, yang terdiri dari
biaya pemilikan alat, yaitu biaya yang dikeluarkan sebagai akibat memiliki
peralatan tersebut baik selama operasi maupun waktu menganggur, dan biaya
operasi, yaitu biaya yang dikeluarkan pada waktu alat beroperasi.
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 9

Adapun cara pemilikan alat berat ada tiga macam, yaitu pembelian, penyewaan,
dan leasing. Berikut adalah penjelasan biaya pemilikan untuk masing-masing cara
pemilikan alat berat yaitu :
1. Biaya pemilikan untuk pembelian alat berat
Tinggi rendahnya biaya pemilikan suatu alat tidak hanya tergantung pada harga
alat tersebut, tetapi juga dipengaruhi antara lain factor-faktor kondisi medan kerja,
tipe pekerjaan, harga lokal dari bahan-bahan dan minyak pelumas, tingkat bunga,
pajak, dan asuransi. Dengan demikian, biaya pemilikan meliputi interest/bunga
modal, pajak yang dikenakan atas kepemilikan alat, asuransi, biaya penyimpanan,
biaya perbaikan alat, dan depresiasi alat.

2. Biaya pemilikan untuk penyewaan alat berat
Penyewaan didasarkan pada perjanjian jangka pendek, yaitu : harian, mingguan,
atau bulanan. Jangka waktu sewa harian sampai dengan 3 hari ( 24 jam), sewa
mingguan sampai dengan 15 hari ( 120 jam), dan sewa bulanan minimal 176
jam.
3. Biaya pemilikan untuk pengadaan cara leasing
Leasing adalah transaksi sewa menyewa. Dalam transaksi ini suatu perusahaan
leasing, yang telah memperoleh ijin usaha di bidang leasing dari Departemen
Keuangan, menyewakan alatnya dan pihak penyewa membayar cicilan sewa per
bulan dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu tertentu (lebih dari satu
tahun).
2.3.1.3 Biaya Tenaga Kerja
Secara umum harga pasaran tenaga kerja dipengaruhi oleh dua hal utama, yaitu
indeks biaya hidup dan tingkat kemakmuran. Dalam perhitungan biaya tenaga
kerja, ada dua faktor utama yang harus diperhatikan. Faktor pertama adalah uang
atau harga yang berkaitan dengan upah per hari atau per jam, tunjangan tambahan,
asuransi, pajak, dan premi upah. Faktor kedua adalah produktivitas, yaitu
banyaknya pekerjaan yang dapat dilaksanakan oleh seorang pekerja ataupun regu
kerja dalam suatu periode yang sudah ditentukan (per hari atau per jam).
Dari kedua faktor tersebut, faktor produktivitas merupakan bagian yang paling
sulit untuk ditentukan. Upah dan komponen uang lainnya dapat bertahan dengan
konstan selama jangka waktu suatu operasi, sedangkan produktivitas dapat
bervariasi secara tidak menentu. Untuk dapat memperkirakan dan mengendalikan
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 10

produktivitas, disamping diperlukan cara bekerja yang teliti, selalu meng-update
data, juga diperlukan banyak sekali pengadaan kerja dan penilaian yang matang.
Satuan waktu untuk menghitung upah tenaga kerja ini ada dua macam, yaitu hari
dan jam. Dalam sisitem harian dikenal suatu sistem upah yang disebut hari-orang
standard. Pada sistem ini nilai satuan upah sama dengan upah pekerjaan dalam
satu hari kerja (siang hari), rata-rata 8 jam kerja termasuk 1 jam istirahat. Yang
dimaksud dengan orang standard atau pekerja standard adalah pekerja terlatih,
yang mampu mengerjakan satu macam pekerjaan saja, misalnya tukang gali,
tukang kayu, tukang batu, dan lain-lain. Sedangkan pada sistem jam, dikenal suatu
satuan upah yang disebut jam-orang standard. Pada sistem ini perhitungan upah
didasarkan pada jam efektif kerja. Jadi, selama jam kerja pada pekerja harus
bekerja sungguh-sungguh dan tidak boleh lengah sedikitpun, karena hal ini sangat
mempengaruhi kemungkinan terjadinya kerugian akibat keterlambatan pekerjaan.
2.3.2 Biaya tidak langsung (indirect cost)
1. Biaya Overhead
Biaya overhead adalah biaya tambahan yang harus dikeluarkan dalam
pelaksanaan kegiatan atau pekerjaan namun tidak berhubungan langsung dengan
biaya bahan, peralatan dan tenaga kerja.
Biaya overhead umumnya terbagi 2, yaitu biaya overhead umum dan biaya
overhead proyek. Biaya overhead umum adalah biaya overhead yang tidak dapat
segera dibebankan pada biaya proyek, yang digunakan untuk menutup biaya-biaya
kantor cabang dan kantor pusat. Seperti biaya sewa kantor, alat-alat tulis, air,
listrik, transportasi, pajak, bunga uang, asuransi, telekomunikasi, biaya-biaya
notaris, sebagian atau seluruh gaji karyawan. Biaya overhead umum ini dapat
diambil dari keuntungan yang dtetapkan pada satu proyek.
Biaya overhead proyek adalah biaya overhead yang dapat dibebankan langsung
pada biaya total proyek atau biaya tiap-tiap paket pekerjan, seperti pajak upah,
asuransi jiwa, tunjangan kesehatan, dan tunjangan lain-lainnya jika belum
diperhitungkan dalam biaya tenaga kerja, telepon di proyek, pembelian tambahan
dokumen kontrak pekerjaan, survey, surat-surat ijin, honorarium arsitek dan
insinyur, sebagian gaji pengawas proyek, risiko-risiko kenaikan bahan, upah,
interest, pajak, dan sebagainya. Disamping pembagian seperti di atas, penentuan
biaya overhead dapat pula dihitung sebagai persentase dari biaya komponen
material, alat, upah, dan lain-lain.
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 11

2. Biaya tak terduga (contingency cost)
Biaya tak terduga (contingency cost) adalah biaya tambahan yang dialokasikan
untuk pekerjaan tambahan yang mungkin terjadi (meskipun belum pasti terjadi).
Biaya tak terduga ini diajukan oleh kontraktor kepada pemilik proyek terhadap
segala sesuatu yang tidak terdapat dalam Bill of Quantity, dan besarnya harus
dibuat dengan sepengetahuan dan sepertujuan pemilik proyek.
Contoh: untuk pekerjaan pondasi beton diperlukan pemompaan lubang galian
yang sebelumnya tidak diduga akan tergenang air hujan.
3. Keuntungan (profit)
Keuntungan (profit) adalah jasa bagi kontraktor untuk pelaksanaan pekerjaan
sesuai dengan kontrak. Dalam penentuan suatu keuntungan, maka akan selalu ada
perbedaan antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lainnya. Pada
umumnya, semakin baik manajemen suatu perusahaan di dalam masalah
pengendalian dan pengelolaan proyek-proyeknya, maka semakin rendah pula
persentase keuntungan yang ditawarkan. Hal ini dapat dimengerti oleh karena
dengan semakin baiknya manajemen, maka faktor-faktor ketidakpastian dalam
penanganan suatu proyek juga dapat diperkecil seminimum mungkin.
Disamping masalah manajemen perusahaan, penentuan persentase keuntungan
ditentukan pula oleh besarnya risiko pekerjaan, kesukaran-kesukaran yang
mungkin timbul, dan cara pembayaran oleh pemberi pekerjaan.
4. Pajak (tax)
Pajak (tax) antara lain berupa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10%, Pajak
Penghasilan (PPh), dan lain-lain.
Selain itu, biaya tak langsung (indirect cost) meliputi :
- Contruction management
- Contruction camp
- Jamninan (bond)
- Asuransi
- Perijinan, lisensi, dan lain-lain
- Pengadaan (procurement)
- Eskalasi
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 12

2.4 ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI
2.4.1 Pengertian Estimasi Biaya
Estimasi biaya adalah penghitungan kebutuhan biaya yang diperlukan untuk
menyelesaikan suatu kegiatan atau pekerjaan sesuai dengan persyaratan atau
kontrak.
Estimasi adalah perkiraan mengenai nilai (value), jumlah (amount), ukuran (size),
atau berat (weight) dari sesuatu. Dalam konteks konstruksi, estimasi biaya atau
dalam hal ini disebut estimasi biaya pekerjaan konstruksi adalah ekspresi suatu
opini atau perkiraan tentang kemungkinan biaya yang akan digunakan pada
aktifitas konstruksi, umumnya didasarkan pada beberapa data yang sesuai dengan
kenyataan dan dapat diterima, atau juga disebut sebuah ramalan ilmiah atau
perkiraan biaya atas proyek yang akan dibangun.
Estimasi biaya pada suatu proyek konstruksi harus disiapkan sebelum suatu
proyek dilaksanakan, untuk menetapkan besarnya kemungkinan biaya pada suatu
proyek. Jadi estimasi biaya merupakan suatu perkiraan yang paling mendekat
pada biaya sesungguhnya. Sedangkan nilai sebenarnya dari suatu proyek tidak
akan diketahui sampai suatu proyek terselesaikan secara lengkap. Estimasi biaya
pekerjaan konstruksi biasanya memberikan indikasi tertentu terhadap biaya total
proyek. Estimasi biaya mempunyai peranan penting dalam suatu proyek, karena
tanpa adanya estimasi biaya suatu proyek tidak akan berhasil. (Gould,1983).
Kualitas suatu estimasi biaya proyek tergantung pada tersedianya data dan
informasi, teknik atau metode yang digunakan, serta kecakapan dan pengalaman
estimator. Tersedianya data dan informasi memegang peranan penting dalam hal
kualitas estimasi biaya proyek yang dihasilkan. Sebagai contoh, pada awal
formulasi lingkup proyek, jika sebagian data atau informasi belum tersedia atau
belum ditentukan, maka estimasi atau perkiraan biaya yang dihasilkan masih
berupa perkiraan kasar dengan akurasi di atas 50%. (Imam Soeharto,1995)
Dalam melakukan estimasi (perhitungan) biaya diperlukan :

Pengetahuan dan keterampilan teknis estimator, seperti membaca gambar,
melakukan estimasi (perhitungan), dll.

Personal judgement berdasarkan pengalaman estimator.
Seseorang yang tidak terbiasa melakukan estimasi, proses yang harus dijalani
terlihat rumit. Seperti memperkirakan jumlah pekerja, jumlah bahan yang
diperlukan,jumlah waktu pelaksanaan dan sebagainya.
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 13

Gambar 2.2 Estimasi Biaya Bertujuan untuk Mencapai Biaya Aktual
Selain kesulitan akibat parameter-parameter langsung yang berhubungan dengan
biaya konstruksi, terdapat beberapa hal yang juga turut mempengaruhi keakuratan
biaya estimasi, yaitu waktu dan pengalaman dari estimator seperti pada Gambar
2.3.

Gambar 2.3 Faktor Pengaruh Keakuratan Biaya Estimasi
Mengapa selalu terjadi perbedaan perhitungan antara biaya estimasi dengan biaya
aktual? Hal ini dapat terjadi karena beberapa hal yaitu :
1) Perhitungan jumlah
2) Harga material
3) Upah tenaga kerja
4) Perkiraan produktivitas pekerja
5) Metoda kerja
6) Biaya peralatan konstruksi
7) Biaya pekerjaan tak langsung
8) Bayaran untuk sub-kontraktor
9) Bayaran untuk supplier material
10) Ketidak-pahaman kondisi lokasi
11) Faktor-faktor yang bersifat lokal
12) Biaya yang berkaitan dengan waktu pelaksanaan konstruksi
Biaya estimasi Biaya aktual
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 14

13) Biaya-biaya awal pelaksanaan
14) Overhead
15) Pertimbangan keuntungan
16) Alokasi resiko dan biaya tak terduga
17) Kesalahan dalam rumusan estimasi
18) Informasi dasar yang biasa digunakan untuk perumusan estimasi biaya
19) Tekanan pasar
Alasan-alasan tersebutlah yang menjadi tugas estimator untuk meminimasi
perbedaan tersebut dengan cara memahami rencana proyek, kondisi setempat, dan
beberapa faktor resiko lainnya.
Estimasi biaya merupakan bagian dari perencanaan proyek agar dapat mengetahui
besarnya uang yang akan dialokasikan. Informasi mengenai proyek-proyek
terdahulu yang telah dilaksanakan merupakan sumber yang paling baik untuk
estimasi. Akurasi estimasi tergantung dari jumlah informasi yang diketahui dari
proyek tersebut. Semakin tinggi jumlah informasi yang diperoleh maka akan
semakin tinggi pula tingkat akurasi estimasi biaya suatu proyek konstruksi.
Gambar 2.4 Estimates dan Re-estimates dalam Tahapan Proyek Konstruksi
Berikut adalah tabel pengelompokan jenis estimasi dan metoda berdasarkan
AACE (the American Association of Cost Engineering) dan grafik tingkat
keakuratan estimasi berdasarkan pembagian waktu proses konstruksi :
Sponsors study
Preliminary engineering Detailed engineering Procurement Construction
Initial estimate

Re-estimate

Re-estimate

Bid-estimate

Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 15

Tabel 2.1 Pengelompokan Jenis Estimasi dan Metoda
AACE
Classification
AACE
Accuracy
Range (%)
Other
Nomenclature
Approximate
Engineering
Progress
Estimating
Method
Order of
Magnitude
-30 to + 50 Conceptual
Screening
0 5 % Indices Capacity
Curves
Budget -15 to + 30 Preliminary
Appropriation
5 20 % Component
Ratio, Equipment
Factored
Semi detailed 30 50 % Square Foot,
Parameter or
Elemental
Definitive - 5 to + 15 Engineers,
Bid, Detailed
60 % + Detailed Pricing
and takeoff

Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 16

+15 %
-5 %
-15 %
-30 %
+50 %
+30 %
0 % 5% 50 %
Order of
Magnitude
Budget
Devinitive
(Detailed)
Amount of
Inf ormation
Available
Expcted
Percent
Variance w/o
Contigency
Excecute
Pre-Fund
Authorizatio
C
o
n
c
e
i
v
e
D
e
v
e
l
o
p
e
Post-Fund Authorization
Figure : Estimate Accuracy Range (AACE Estimate
Gambar 2.5 Estimate Accuracy Range (AACE Estimate)
Dari tabel dan grafik diatas dapat diketahui, bahwa nilai keakuratan estimasi akan
mendekati keakuratannya ketika proses konstruksi mendekati masa penyelesaiaan.
Terkumpulnya data informasi yang diperlukan membuat keakuratan estimasi lebih
akurat.
Pelaksanaan proyek konstruksi melalui beberapa tahapan proyek konstruksi atau
rangkaian kegiatan konstruksi. Dalam setiap tahapan proyek konstruksi
memerlukan estimasi biaya. Setiap tahapan proyek konstruksi memiliki akurasi
estimasi biaya yang berbeda-beda. Hal ini tergantung dari level informasi yang
diperoleh pada suatu tahapan proyek konstruksi. Estimasi biaya pada suatu proyek
konstruksi biasanya disajikan dalam bentuk Bill of Quantity. Dimana pada Bill of
Quantity terdapat tiga unsur penting yaitu jenis pekerjaan, kuantitas dan harga
satuan pekerjaan. Harga satuan pekerjaan ini ditentukan dari harga bahan, upah
pekerjaan dan faktor-faktor yang mempengaruhi harga satuan pekerjaan. Estimasi
biaya dalam hubungan level informasi dan akurasi estimasi biaya dibedakan
secara konseptual dan detail. Untuk memperoleh penghitungan kebutuhan biaya
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 17

Kebutuhan
Pemilik dan
Pemakai
Studi
Kelayakan
(Feasibility Study)
Desain/perancangan (Design):
- Pra Desain (Preliminary Design)
- Detail Desain (Detail Engineering Design
- DED)
Pelaksanaan
Konstruksi
(Construction)

Pengadaan Pelelangan
(Procurement)

Bangunan/Konstruksi
dipergunakan
beroperasi
yang diperlukan dalam suatu proyek konstruksi secara akurat maka diperlukan
level informasi yang tinggi pula.
Gambar 2.6 Akurasi Estimasi Biaya dalam Tahapan Proyek Konstruksi
Akurasi pada setiap tahapan proyek konstruksi tersebut berdasarkan jumlah
informasi yang diperoleh. Informasi yang diperoleh dipengaruhi oleh metode
penilaian suatu tahapan proyek konstruksi dan faktor-faktor lain yang dapat
mempengaruhi tingkat informasi suatu pekerjaan konstruksi. Semakin berlanjut
suatu tahapan konstruksi, maka akurasi estimasi biaya semakin akurat. Hal ini
dikarenakan level informasi yang semakin tinggi. Sehingga melalui estimasi biaya
yang akurat dapat memperhitungkan besarnya uang yang dialokasikan dalam
proyek konstruksi.
Biaya investasi untuk suatu bangunan (konstruksi) dibedakan atas biaya
konstruksi (construction), biaya non-konstruksi (non-construction), dan biaya
daur hidup (life-cycle).
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 18

Gambar 2.7 Biaya Konstruksi, Biaya Non Konstruksi, dan Biaya Daur Hidup
2.4.2 Fungsi Estimasi Biaya
Menurut Pratt (1995) fungsi dari estimasi biaya dalam industri konstruksi adalah :
a. Untuk melihat apakah perkiraan biaya konstruksi dapat terpenuhi dengan
biaya yang ada.
b. Untuk mengatur aliran dana ketika pelaksanaan konstruksi sedang berjalan.
c. Untuk kompentesi pada saat proses penawaran.
Tujuan dari estimasi biaya adalah untuk menentukan perkiraan biaya yang
diperlukan untuk menyelesaikan proyek konstruksi berdasarkan kontrak dan
spesifikasinya. Ada dua tujuan yang jelas dalam estimasi biaya, yaitu menentukan
biaya dan waktu untuk melaksanakan proyek konstruksi.
2.4.3 Pedoman Perhitungan Estimasi Biaya
Dengan berkembangnya dunia konstruksi saat ini, maka dalam menentukan
rencana anggaran biaya bangunan dan harga satuan pekerjaan diperlukan suatu
pedoman yang dapat membantu untuk menghitung rencana anggaran biaya dan
harga satuan pekerjaan itu sendiri. Oleh karena itu analisis BOW 1921 yang dalam
perkembangannya mendapat pembaharuan dari SNI 2002, diharapkan dapat
menjadikan suatu perbandingan untuk membantu dalam menentukan analisa harga
satuan yang akan dipakai dalam membuat rencana anggaran biaya.
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 19

2.4.3.1 Burgelijke Openbare Werken (BOW) 1921
Sebagai peninggalan masa-masa pemerintahan Belanda, BOW merupakan metode
yang digunakan dalam perhitungan harga satuan pekerjaan. Namun setelah sekian
lama digunakan, ternyata metode tersebut belum memuat pengerjaan beberapa
jenis bahan bangunan yang ditemukan di pasaran bahan bangunan dan konstruksi
dewasa ini, sebagai contoh adalah pekerjaan pembuatan tiang pancang yang tidak
terdapat dalam metode BOW namun banyak digunakan dalam pekerjaan
konstruksi saat ini. Bahkan ada kecenderungan mengenai ketidaksesuaian antara
indeks-indeks yang tercantum dalam metode BOW dengan kenyataan yang ada di
lapangan, khususnya yaitu indeks upah pekerja. Hal ini membuat banyak
estimator untuk lebih menggunakan intuisi yang berdasarkan pengalamannya
masing-masing dalam menentukan harga satuan pekerjaan, sehingga
menimbulkan banyak variasi dalam menentukan harga satuan pekerjaan itu
sendiri.
2.4.3.1 Standar Nasional Indonesia (SNI) 2002
Karena banyaknya variasi-variasi yang cukup berbeda dalam penyusunan
anggaran biaya tersebut, maka pemerintah melalui Pusat Penelitian dan
Pengembangan Permukiman pada tahun 1987 sampai tahun 1991 melakukan
penelitian untuk mengembangkan analisa BOW dalam menentukan harga satuan
pekerjaan tersebut.
Pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu melalui pengumpulan data sekunder
berupa analisa biaya yang dipakai oleh beberapa kontraktor dalam menghitung
harga satuan pekerjaan. Disamping itu dilakukan pula pengumpulan data primer,
melalui penelitian lapangan pada proyek-proyek pembangunan perumahan. Data
primer yang diperoleh dipakai sebagai pembanding/crosscheck terhadap
kesimpulan data sekunder yang diperoleh. Kegiatan tersebut diatas telah
menghasilkan produk analisa biaya konstruksi yang telah dikukuhkan sebagai
Standar Nasional Indonesia (SNI) pada tahun 1991-1992, namun hanya untuk
perumahan sederhana.
Agar lebih memperluas sasaran analisa biaya konstruksi ini, maka SNI tersebut
diatas pada tahun 2001 dikaji kembali untuk disempurnakan dengan sasaran yang
lebih luas yaitu bangunan gedung dan perumahan, sehingga SNI tersebut berjudul
Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan 2002.
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 20

2.4.4 Jenis Estimasi Biaya Konstruksi
Ada beberapa metoda dalam melakukan estimasi biaya konstruksi yaitu :
1. Estimasi harga-pasti (fixed-price)
a. Metoda lump sum (lump sum estimate)
Metoda ini umumnya dilakukan bila jenis pekerjaan dan jumlahnya telah
diketahui dan dikenal benar. Kontraktor berani mengambil resiko. Bila
ketidakpastian terjadi di lapangan, maka tingkat risiko yang dipikul kontraktor
lebih besar. Keuntungan bagi owner adalah bahwa harga konstruksi diketahui
dengan baik sehingga memudahkan untuk menentukan anggaran.
b. Metoda harga satuan (unit-price estimate)
Metoda harga satuan biasanya berdasarkan harga satuan setiap jenis pekerjaan.
Dalam penawaran juga dicantumkan juga estimasi jumlah setiap jenis pekerjaan
untuk mendapatkan total biaya yang mana volume jumlah hanya berdasarkan pada
gambar rencana arsitektur yang belum tentu dijamin keakuratannya. Seperti
halnya pada cara estimasi lump sum, survey jumlah dibuat untuk setiap jenis
penawaran. Biaya total proyek dihitung meliputi tenaga kerja, material, peralatan,
sub-kontrator, overhead, markup, dan lain-lain.
2. Estimasi harga-perkiraan (approximate estimate)
Metoda ini didasarkan pacta perincian biaya dari proyek sebelumnya. Ada
beberapa metoda yang termasuk kategori ini yaitu :
Harga per fungsi, metoda ini didasarkan pada estimasi biaya setiap jenis
penggunaan
Harga luas, metoda ini menggunakan harga per luas lantai
Harga volume kubik, metoda ini didasarkan pada volume bangunan
Modular takeoff, metoda ini mengacll pada konsep modul dan kemudian
dikalikan untuk seluruh proyek
Partial takeoff, metoda ini merupakan jumlah dari gabungan jenis-jenis
pekerjaan yang diperkirakan menggunakan harga satuan.
Harga satuan panel, metoda ini dilakukan dengan mengasumsikan harga satuan
per luas lantai, keliling, dinding, atap, dan sebagainya
Harga parameter, metoda ini menggunakan harga satuan dari komponen
bangunan yang berbeda seperti site work, pondasi, lantai, dinding, dan
sebagainya.
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 21

2.4.5 Permasalan Dalam Estimasi Biaya Konstruksi
Seorang estimator akan berusaha melakukan estimasi biaya sedekat mungkin
dengan kebutuhan biaya aktual. Untuk melakukan estimasi biaya suatu pekerjaan
sering dijumpai beberapa kesulitan yaitu :
Memilih metoda kerja
Dalam setiap jenis pekerjaan mungkin terdiri dari beberapa metoda kerja. Sebagai
contoh seorang estimator harus mengasumsikan terIebih dahulu berapa tukang
yang diperIukan dalam melakukan pekerjaan dinding pasangan bata, apakah
diperlukan pekerja 3 orang atau 4 orang untuk menyelesaikan pekerjaan dengan
baik? Bagaimana mengawali pekerjaan? Apa saja kendala yang dihadapi? Semua
pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dicari solusinya dan dipilih yang paling
ekonomis.
Kebutuhan tenaga kerja
Untuk mengasumsikan kebutuhan tenaga kerja, biasanya didasarkan pada hasil
kinerja pekerjaan sebelumnya untuk satu jenis pekerjaan yang sama. Dengan
demikian dokumentasi pekerjaan di lapangan sangat berguna untuk membantu
para estimator dalam menganalisa proyek berikutnya. Manipulasi data mungkin
tetap diperlukan, misalnya karena terjadi penurunan kondisi pekerjaan.
Upah tenaga kerja
Berapa biaya yang diperlukan untuk tukang? Seorang estimator harus
memperkirakan biaya tersebut. Biaya tukang akan bervariasi tergantung pada
pekerjaan, keahlian, peraturan upah minimum, kondisi pasar, dan sebagainya.
Biaya material (yang terpakai dan terbuang)
Hal ini dapat diperkirakan dengan tepat apabila material tersedia dan banyak
dijual di pasaran. Jumlah material yang diperlukan harus dihitung berdasarkan
gambar kerja dan tidak tergantung pada kinerja tukang atau metoda kerja. Akan
tetapi seorang estimator tidak hanya mempertimbangkan material yang diperlukan
dalam perkejaan, tetapi juga perkiraan material yang terbuang. Faktor ini sangat
bervariasi dan tergantung pada kinerja dan prosedur kerja yang dipakai oleh
tukang.
Biaya overhead dan keuntungan
Jumlah ini akan tergantung pada kebijakan perusahaan, kondisi pasar, dan banyak
variabel lainnya.
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 22

2.4.6 Pengaruh Lokasi Proyek dalam Estimasi Biaya
Perhitungan estimasi biaya konstruksi sangat dipengaruhi oleh lokasi. Seorang
estimator harus sadar betul bahwa suatu harga di lokasi A yang berada di pusat
kota akan berbeda dengan dengan lokasi B yang berada di daerah pegunungan.
Faktor lokasi muncul karena terdapat beberapa perbedaan yang menimbulkan
kesulitan, seperti :
( l) Keterpencilan kawasan (remoteness)
(2) Keterbatasan lokasi (confined sites)
(3) Ketersediaan tukang (labor availability)
(4) Cuaca (weather)
(5) Pertimbangan desain (design consideration)
(6) Kerawanan dan keamanan lokasi (vandalism and site security)
(1) Keterpencilan Kawasan (Remoteness)
Daerah yang terpencil akan mengalami beberapa kesulitan, yaitu :
Masalah komunikasi
Jika kesulitan komunikasi seperti tidak adanya jaringan telepon, maka diperlukan
alat komunikasi lainnya. Kesulitan komunikasi dalam melaksanakan proyek
adalah masalah besar sehingga memerlukan biaya tambahan.
Masalah transportasi
Semula material dan tenaga kerja perlu diangkut ke lokasi. Jika rute jalan buruk
bisa terjadi keterlambatan pengiriman material; mendatangkan kendaraan berat
bisa merusak jembatan sempit sehingga diperlukan biaya perbaikan.
Harga material berfluktuasi.
Harga material naik biasanya karena naiknya biaya transportasi seperti karena
jarak jauh atau kesulitan transportasi.
Sumber listrik dan air
Tenaga listrik dan sumber air selalu diperlukan pada saat pelaksanaan konstruksi.
Air diperlukan untuk pengecoran beton, membersihkan dan banyak perkerjaan
lainnya. Air yang mengandung garam tidak diperkenankan pada persyaratan
pekerjaan beton, atau plesteran. Sehingga perlu didatangkan air dari lokasi lain.
Hal ini tentunya akan menambah biaya konstruksi. Demikian juga untuk
kebutuhan tenaga listrik. Bila tidak ada sumber listrik, maka perlu disediakan
generator listrik.
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 23

(2) Keterbatasan Lokasi (Confined Sites)
Lokasi yang terkurung umumnya disebabkan karena kemacetan atau sebab
lainnya sehingga lokasi tersebut tidak bebas. Hal ini bisa berakibat produktivitas
pekerja dan alat rendah. Lebih jauh lagi karena keterbatasan lokasi dapat
membatasi pemilihan metoda kerja, jenis alat yang digunakan dan jumlah pekerja
yang bisa dipekerjakan. Dengan keterbatasan ruang gerak, pada awal proyek perIu
kehati-hatian dalam menentukan utilitas agar tetap menghasilkan keuntungan
yang maksimum dengan menghasilkan produktivitas kerja yang tetap baik.
Keterbatasan ruang gerak dapat menimbulkan masalah logistik. Pengangkutan
material tidak dapat dilakukan sekaligus, sehingga setiap jenis material perlu
diangkut setiap waktu tertentu. Kondisi ini akan memerlukan biaya tambahan.
Seorang estimator perlu memahami masalah-masalah logistik di setiap lokasi.
Masalah tersebut dapat terjadi karena jalan masuk terbatas, penimbunan material
terbatas, penyimpanan peralatan terbatas, kendaraan trailer tidak dapat digunakan.
Semua keterbatasan tersebut menyebabkan pembatasan penggunaan jenis
peralatan, pengaruh pada efektivitas manajemen pekerjaan, produktivitas pekerja,
pembatasan jumlah pekerja. Hal tersebut dapat menimbulkan penambahan biaya
konstruksi.
(3) Ketersediaan tukang (labor availability)
Setiap lokasi mempunyai beragam ketersediaan jumlah pekerja yang terampil dan
tidak terampil, tergantung pada kondisi ekonomi lokal. Jika di lokasi setempat
pekerja yang terampil tidak tersedia maka perlu didatangkan pekerja dari luar
lokasi. Mendatangkan tenaga kerja dari satu lokasi ke lokasi lainnya akan
memerlukan biaya insentif. Besamya biaya insentif tergantung pada kondisi pasar.
Jika mendatangkan tenaga kerja dari luar harus disediakan juga akomodasinya.
(4) Cuaca (weather)
Kondisi cuaca sangat mempengaruhi hasil kualitas kerja yang nantinya
berpengaruh juga pada biaya konstruksi. Sebagai contoh pelaksanaan konstruksi
yang dilakukan pada tempat tinggi dengan kecepatan angin kencang, akan
mempengaruhi penggunaan keran (crane) dan perIu pengontrolan debu, tambahan
perancang sementara untuk menahan dari hempasan angin.
(5) Pertimbangan desain (design consideration)
Lokasi suatu proyek mempunyai beberapa aspek yang harus dipertimbangkan
oleh perencana. Sebagai contoh konstruksi bangunan sejarah, seluruh desainnya
harus harmonis dengan bangunan sejarah yang ada di lokasi setempat.
Pertimbangan penggunaan material dan konfigurasi bangunan perlu disesuaikan
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 24

dengan kondisi lokal. Pertimbangan-pertimbangan ini dapat menimbulkan
masalah tersendiri. Seorang estimator harus paham apakah ada persyaratan khusus
untuk material, apakah tersedia tenaga kerja lokal dengan keahlian yang
direncanakan, jika tidak maka perIu didatangkan spesialis.
(6) Kerawanan dan keamanan lokasi (vandalism and site securily)
Keamanan dan kerawanan di lokasi perIu juga diperhitungkan. Misalnya perIu
penjagaan selama 24 jam. Tingkat keamanan akan mempengaruhi tingkat resiko
pelaksanaan proyek, sehingga kadang kala keamanan setempat perlu dilibatkan.
2.4.7 Bill of Quantity
Estimasi biaya pekerjaan konstruksi biasanya disajikan dalam bentuk Bill of
Quantity. Dalam Bill of Quantity terdapat tiga unsur yang terdiri dari jenis
pekerjaan, kuantitas dan harga satuan pekerjaan. Jenis-jenis pekerjaan yang
terdapat dalam suatu proyek konstruksi sangat tergantung dari jenis proyek itu
sendiri. Dimana tiap-tiap jenis proyek memiliki perbedaan satu sama lainnya dan
memiliki keunikan tersendiri. Sedangkan kuantitas dalam Bill of Quantity terdiri
dari dua bagian yaitu volume dari suatu pekerjaan dan unitnya (m, m
2
, m
3
).
BO adalah suatu daftar rancangan pekerjaan yang memberikan gambaran dan
perhitungan volume dari pekerjaan yang terdapat di dalam kontrak konstruksi.
Tujuan utama Bill of Quantity adalah sebagai pengontrol dari volume yang
diajukan oleh kontraktor dan memberikan evaluasi atas kemajuan pekerjaan yang
dilakukan. Dalam Bill of Quantity terdapat daftar pekerjaan yang mendetail,
dimana kontraktor hanya ditugaskan untuk mengisikan harga dari setiap pekerjaan
yang dikerjakan.
Bill of Quantity terdiri dari dua bagian, yaitu Preliminary Bill dan Measured Bill.
Preliminary Bill adalah daftar pekerjaan yang tidak dapat diukur karena bukan
merupakan luasan, volume, melainkan berupa pekerjaan atau hal lain yang harus
ada dan harus diperhitungkan karena akan mempengaruhi nilai kontruksi,
misalnya air kerja, penerangan dan listrik ke pembuatan jalan darurat papan nama.
Measured Bill adalah daftar pekerjaan yang dapat diukur, berupa volume, luasan,
misalnya pekerjaan pengecoran, pekerjaan tanah. (Spence fudes, 1985, hal.3).
Civil Engineering Standard Method of Measurement (CESMM) membagi Bill of
Quantity menjadi lima bagian yang terdiri dari list of principal quantities,
pendahuluan, jadwal pekerjaan harian (daywork schedule), item pekerjaan (work
item) yang telah dikelompokkan, rekapitulasi. List of principal quantities berisi
tentang suatu daftar pekerjaan yang dipersiapkan sebagai pedoman untuk
melakukan pengukuran dan perhitungan volume pekerjaan sehingga dapat
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 25

mempermudah peserta tender untuk memberikan penawaran. Pendahuluan
memberikan metode pengukuran yang ada selain CESMM, untuk dipergunakan
dalam persiapan pengukuran dan perhitungan volume pekerjaan. Metode-metode
pengukuran di luar CESMM perlu dituliskan sumbernya. Daywork schedule yang
dimaksud adalah suatu daftar yang bervariasi tentang tenaga kerja, material, dan
bahan, serta peralatan yang akan dipakai sehingga kontraktor akan dibayar sesuai
dengan daftar yang ada atau berupa suatu pernyataan bahwa kontraktor akan
dibayar sesuai dengan yang dikerjakan berdasarkan jadwal yang dibuat. Item
pekerjaan yang terdapat dalam Bill of Quantity diatur menjadi beberapa bagian
yang bernomor untuk membedakan lokasi, akses, kondisi dan batasan-batasan
yang ada untuk mengerjakan pekerjaan tersebut.
Setiap kelompok pekerjaan dalam Bill of Quantity diberi heading menurut
kelompok pekerjaan yang dimaksud. Sedangkan untuk web heading-nya diberikan
apabila terdapat pembagian - pembagian di dalam suatu kelompok pekerjaan. Item
pekerjaan yang terdapat dalam setiap kelompok disesuaikan dengan
pengelompokan pekerjaan yang telah dipersiapkan. Untuk keterangan yang dapat
memperjelas kondisi pekerjaan dapat pula disertakan. Biasanya keterangan ini
meliputi jenis tanah lokasi dan kondisi serta batasan-batasan proyek konstruksi.
Deskripsi dari pekerjaan di dalam Bill of Quantity harus singkat, jelas, mudah
untuk dimengerti, serta mengacu pada standar yang ada. Hal ini juga akan
membantu dalam proses standardisasi di dalam pembuatan Bill of Quantity dan
mempermudah pembuatan basis data sehingga penulisan item pekerjaan selalu
konsisten, dan tidak terdapat kata idem untuk menuliskan pekerjaan yang sama.
Deskripsi pekerjaan yang dibuat untuk mengidentifikasi suatu pekerjaan
(tambahan/ khusus) atau untuk memperjelas suatu pekerjaan dapat dilihat pada
gambar yang ada atau dapat disertakan dalam spesifikasi pekerjaan.
2.4.7.1 Perhitungan Volume (quantity take off)
Format daftar volume biasanya telah ditetapkan oleh pemberi tugas berupa Daftar
Jenis dan Volume pekerjaan (Bill of Quantity), yang memuat jenis pekerjaan dan
volumenya, atau dalam bentuk Daftar Jenis Pekerjaan (Bill of Item) yang hanya
berisi daftar jenis pekerjaan tanpa volume.
Ada dua kondisi kontrak yang perlu diperhatikan berkaitan dengan perhitugan
volume ini, yaitu :
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 26

a. Kontrak harga pasti (lump sum contract)
Ini merupakan kontrak yang paling sederhana, di mana kontraktor bertanggung
jawab penuh untuk melaksanakan seluruh pekerjaan sesuai dengan gambar tender
serta tertulis dalam spesifikasi dengan harga yang pasti, volume yang tercantum
dalam Bill of Quantity hanya sebagai acuan yang tidak mengikat. Dalam kondisi
kontrak seperti ini, kegiatan perhitungan volume menjadi sangat penting, karena
kesalahan perhitungan volume akan merupakan risiko yang harus ditanggung
kontraktor. Untuk mengurangi kesalahan perhitungan volume, pada saat ini sudah
banyak tersedia program komputer (software), antara lain roll up digitizer yang
diintegrasikan dengan program WinEst untuk menyelesaikan sampai perhitungan
harga satuan yang secara otomatis masuk ke dalam format bill of quantity.
b. Kontrak harga satuan (unit price contract)
Dalam kondisi kontrak harga satuan (unit price contract), kontraktor hanya wajib
mengisi harga satuan pekerjaan untuk setiap item yang telah disediakan
volumenya. Pembayaran kepada kontraktor akan didasarkan pada realisasi volume
pekerjaan yang dilaksanakan, tidak ada risiko kesalahan volume yang harus
diperhitungkan.
2.4.7.2 Tahap Persiapan Bill of Quantity
Persiapan Bill of Quantity dapat dikerjakan dengan empat metode, yaitu metode
tradisional, metode billing direct, metode cut and shuffle dan metode
komputerisasi. (RI. Wheeler, 1992, hal.l) Metode tradisional adalah metode yang
seringkali digunakan dimana metode ini terdiri dari empat tahap. Tahap pertama
adalah tahap pengukuran (taking off). Pada tahapan ini dilakukan pengukuran
dimensi dan pendeskripsian pekerjaan secara mendetail dan tepat untuk digunakan
dalam menentukan harga pekerjaan. Tahap kedua adalah working up, dimana
dilakukan pengumpulan dan, perhitungan hasil pengukuran didalam bill order
(lembar daftar pekerjaan). Sedangkan tahap terakhir adalah pengeditan. Setelah
bill order sementara telah dibuat, maka estimator akan mengadakan pengecekan
dan penyesuaian atas Bill of Quantity dengan kondisi yang tersedia.
Metode kedua adalah metode billing direct, dimana dilakukan pemindahan hasil
pengukuran dalam lembar dimensi secara langsung kedalam lembar Bill of
Quantity, sedangkan proses perhitungan dilakukan setelah daftar pekerjaan selesai
dibuat. Item-item pekerjaan diutur secara terpisah sehingga dapat mengurangi
waktu penyusunan dan mengurangi biaya. Meskipun demikian, metode ini hanya
dapat digunakan untuk proyek tidak terlalu rumit dan jumlah pekerjaan dalam
proyek tersebut terbatas. Misalnya saja proyek drainase.
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 27

Metode ketiga cut and shuffle method, metode ini merupakan salah satu cara
untuk mempersingkat pembuatan Bill of Quantity dengan memanfaatkan hasil
yang didapat dari metode tradisional yang diurutkan menurut daftar urutan
pekerjaan. Sebenarnya pada metode ini tidak terdapat suatu standar yang dipakai.
Proses yang dilalui adalah dengan membuat satu set salinan lembar dimensi yang
akan dimasukkan kedalam Bill of Quantity dan satu set yang lain (biasanya asli)
untuk disimpan oleh estimator.
Pengukuran dituliskan pada formulir yang terbuat dari kertas A4 terdiri dari tiga
atau empat kolom. Pengukuran dilakukan dengan cara konvensional tetapi cukup
dengan satu deskripsi, dengan berbagai macam dimensi dalam satu lembar. Untuk
mempermudah pencarian dilakukan penomoran pada setiap lembar dimensi.
Setelah pengukuran selesai dilanjutkan dengan memeriksa perhitungan dimensi,
dan waste calculation. Lembar-lembar dimensi yang telah dilarmpulkan perbagian
pekerjaan diurutkan dan disusun secara berurutan. Untuk setiap bagian pekerjaan
terdiri dari beberapa lembar dimensi dimana pada halaman pertama lembar
dimensi, disebut master slip, diberikan keterangan dengan jelas mengenai
deskripsi pekerjaan dan volume serta satuan pekerjaan. Deskripsi yang tertulis
pada master slip tidak boleh disingkat dan harus jelas. Selain itu volumenya sudah
merupakan jumlah dari semua lembar dimensi pada satu bagian pekerjaan.
Dengan demikian penulisan deskripsi dan volume pekerjaan dapat langsung
dilihat pada master slip. Metode ini mengurangi proses pemberian deskripsi yang
bertele-tele dan mengurangi penulisan pekerjaan yang dilakukan berulang kali.
Perbedaan yang mendasar antara metode tradisional dan metode cut and shuffle
adalah pada metode cut and shuffle terdapat beberapa persyaratan yang harus
dipenuhi, misalnya saja penggunaan lembar dimensi, tata cara penulisan. Untuk
proyek-proyek sederhana dimana kebutuhan untuk reevaluasi hasil pengukuran
dan perhitungan kecil, maka metode tradisional dirasakan cukup praktis.
Sedangkan untuk proyek besar, maka hal sebaliknya yang terjadi.
Metode komputerisasi didasari oleh kemajuan teknologi, dimana komputerisasi
mendukung pembuatan Bill of Quantity, khususnya mengurangi proses penulisan
deskripsi yang berulang, dan menghilangkan proses perhitungan. Untuk membuat
suatu sistem komputerisasi dalam pembuatan Bill of Quantity hanrs terdapat suatu
acuan dasar, dalam hal ini adalah Metode Pengukuran Standar (Standard Method
of Measurement, SMM). Semua pekerjaan, cara pengukuran, beserta kode
pekerjaan di dalam SMM dimasukkan dengan jelas ke dalam suatu software
pembuatan Bill of Quantity. Setelah itu dengan bantuan software tersebut dapat
dilakukan pembuatan Bill of Quantity yang bervariasi dari standar Bill of Quantity
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 28

yang ada. Dengan adanya perkembangan dunia konstruksi yang meliputi material,
cara pengerjaan dan didukung oleh perkembangan teknologi software yang ada
dapat semakin disempurnakan.
2.4.8 Analisis Harga Satuan

Gambar 2.8 Analisis Harga Satuan Pekerjaan
Biaya (harga) satuan pekerjaan adalah jumlah :

Total biaya bahan yang digunakan,

Total biaya peralatan yang digunakan,

Total upah seluruh pekerja yang melaksanakan pekerjaan tersebut.
Contoh :

Biaya satuan (1m3) beton K-250 untuk pondasi pelat adalah sebesar Rp.
453.000,-. Artinya biaya satuan tersebut meliputi total biaya bahan yang
digunakan, total biaya peralatan yang digunakan, dan total upah seluruh
pekerja yang terlibat dalam pembuatan 1 m3 beton K-250.

Biaya satuan (buah) pondasi pelat beton adalah sebesar Rp. 675.000,-
Artinya biaya satuan tersebut meliputi biaya bahan (beton, tulangan,
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 29

cetakan) yang digunakan, biaya peralatan (cangkul, sekop, pengaduk
beton, pemadat beton, dll.) yang digunakan, serta upah seluruh pekerja
(menggali & menimbun, pasang cetakan, mengecor, memadatkan beton,
dsb.).
Memperkirakan biaya berdasarkan harga satuan adalah memperkirakan biaya
berdasarkan per unit pekerjaan (per m, m
2
, m
3
). Harga satuan pekerjaan adalah
harga yang harus dibayar untuk menyelesaikan satu jenis pekerjaan. (SNI, 2002).
Harga satuan pekerjaan merupakan jumlah dari harga bahan, upah pekerjaan,
harga alat dan harga subkontrak. Dimana pada penelitian ini, harga alat dan harga
subkontrak tidak ikut diperhitungkan, jadi harga satuan pekerjaan hanya
merupakan jumlah dari harga bahan dan upah pekerjaan.
Bahan yang digunakan dalam suatu proyek konstruksi bisa terdiri dari satu atau
berbagai jenis bahan dengan berbagai variasinya. Sebagai contoh untuk pekerjaan
pasangan, bahan-bahan yang digunakan terdiri dari batu bata, semen, dan pasir.
Harga bahan merupakan harga di tempat pekerjaan, jadi sudah termasuk
memperhitungkan biaya pengangkutan, menaikkan dan menurunkan,
pengepakkan, asuransi, pengujian, penyusutan, penyimpanan di gudang dan
sebagainya. (Dipohusodo, 1996). Dalam suatu proyek konstruksi, jenis material
yang dipergunakan berbeda-beda untuk setiap jenis pekerjaannnya. Untuk
pekerjaan campuran beton dan pasangan bata misalnya. Pada pekerjaan campuran
beton, material yang digunakan di dalamnya terdiri dari semen, pasir dan batu
pecah, sedangkan pada pekerjaan pasangan bata, material yang digunakan adalah
semen, pasir dan bata. Selain itu untuk suatu pekerjaan yang sama jenisnya tetapi
berbeda spesinya maka jumlah/ komposisi material di dalamnya juga berbeda.
2.4.9 Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Dalam bidang konstruksi yang sekarang ini mulai bangkit kembali, makin banyak
pihak ikut berperan dalam proyek konstruksi dan makin besar kompetisi untuk
mendapatkan proyek. Tender-tender mulai banyak diikuti dan kompetitif, baik
tender terbuka maupun tender tertutup. Dalam tender kontraktor akan memberikan
penawaran berupa Rencana Anggaran Biaya (RAB), berupa daftar pekerjaan
disertai dengan volume dan harga satuan, untuk proyek konstruksi, dan pemilik
akan menganalisa dan memilih kontraklor yang akan mengerjakan proyek
tersebut. Jika pemilik memiliki konsultan Quantity Survey maka akan dibuatkan
format RAB yang harus diikuti oleh semua kontraktor yang mengikuti tender,
akan tetapi jika tidak terdapat format RAB yang dapat dijadikan acuan maka
peserta tender harus membuat format sendiri. Biasanya bentuk penawaran dari
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 30

kontraktor akan bervariasi, mulai kelompok pekerjaan, jenis pekerjaan, item
pekerjaan volume pekerjaan dan harga dari masing-masing item pekerjaan.
Variasi dari keempat hal tersebut akan membingungkan pemilik untuk
menganalisa dan membandingkannya. Pemilik membutuhkan suatu acuan yang
sama untuk melakukan perbandingan, yang bisa dijadikan acuan adalah jenis
pekerjaan dan item pekerjaan yang tertulis di dalam RAB. Jika jenis pekerjaan
dan item pekerjaan yang akan dilakukan serupa maka pemilik hanya akan
membandingkan volume dan nilai dari penawaran yang diajukan.
Untuk membuat jenis pekerjaan dan item pekerjaan yang sama maka diperlukan
suatu standardisasi. Lebih jauh lagi adanya standardisasi jenis pekerjaan dapat
menghindari perbedaan volume yang besar antar kontraktor. Standardisasi ini juga
dibutuhkan oleh kontraktor dan konsultan untuk mempermudah pembuatan daftar
pekerjaan (bill of item). Hal ini juga didukung adanya perkembangan teknologi,
khususnya komputer akan memudahkan kontraktor untuk memprediksi nilai
konstruksi, dan mengetahui historical data-data jenis pekerjaan dan item
pekerjaan dalam konstruksi akan sama, yang berbeda adalah harga dari tiap item
pekerjaan.
Hal lain yang tak kalah penting adalah adanya standardisasi yang telah dilakukan
oleh beberapa negara salah satunya adalah Inggris yaitu Civil Engineering
Standard Method of Measurement (CESMM). Untuk negara di Asia Tenggara
khususnya Filipina dan Singapura juga telah memiliki standar RAB sendiri yang
mengacu kepada CESMM. Di Indonesia belum terdapat suatu standar semacam
itu, RAB yang ada hanya mencakup ruang lingkup pekerjaan yang termasuk
dalam proses konstruksi tanpa adanya pengkodean tersendiri sehingga apa yang
dihitung oleh satu kontraktor untuk suatu volume pekerjaan tertentu, belum tentu
sama dengan apa yang dihitung oleh kontraktor lain. Beberapa pertimbangan
diatas mendorong perlunya diadakan suatu standardisasi jenis pekerjaan untuk
dapat dipergunakan dalam penyusunan daftar pekerjaan dalam RAII, sehingga
dapat dilakukan perbandingan oleh pemilik proyek, dengan atau tanpa bantuan
seorang Quantity Surveyor.
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 31

Gambar 2.9 Struktur Rencana Anggaran Biaya (RAB) Proyek Konstruksi
2.4.9.1 Perhitungan Biaya Langsung (direct cost)
Data-data yang diperlukan dalam perhitungan biaya langsung untuk setiap satuan
pekerjaan adalah :

harga material

harga upah

harga pekerjaan khusus, yang didapat dari penawaran sub kontraktor

biaya operasi peralatan

metode pelaksanaan
Data tersebut kemudian dimaksukkan dalam analisis harga satuan, yang dapat
berupa analisis strandar atau analsis yang dibuat berdasarkan metode pelaksanaan
yang direncanakan.
2.4.9.2 Perhitungan Biaya Tak Langsung (Indirect Cost)
Biaya tak langsung adalah segala biaya yang diperlukan untuk mendukung
penyelesaian pekerjaan, yang terdiri dari komponen-komponen :
1. Biaya pekerjan persiapan
2. Biaya lapangan (site expenses)

biaya gaji pegawai

biaya perlengkapan kantor direksi

biaya perlengkapan kantor kontraktor
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 32

biaya perlengkapan camp karyawan

biaya perlengkapan rumah tangga

biaya umum kantor lapangan
3. Biaya peralatan umum dan kendaraan
4. Biaya asuransi, yang termasuk dalam tanggung jawab kontraktor biasanya
adalah :
- Contractor all risk (CAR)
Untuk mencakup risiko bencana/kecelakaan yang menimpa proyek selama
periode pelaksanaan. CAR untuk proyek di darat berkisar 0,15 0,2 %
dari nilai kontrak, sedangkan proyek di laut sebesar 0,2 0,3 %.
- Third party liabilities
Untuk mencakup risiko bencana/kecelakaan yang menimpa pihak ketiga
di luar proyek, dan besarnya pertanggungan biasanya ditentukan oleh
pemilik proyek, misalnya seratus juta rupiah setiap satu kali kejadian,
sehingga dapat dihitung biaya preminya.
- Asuransi tenaga kerja (ASTEK)
Sesuai undang-undang ketenagakerjaan adalah sebagai jaminan apabila
terjadi kecelakaan yang menimpa tenaga kerja, dengan biaya sebesar 0,2
persen dari nilai kontrak.
5. Biaya provisi bank, yaitu segala biaya yang diperlukan untuk menerbitkan surat
jaminan bank, berupa :

Jaminan tender (bid bond)
Merupakan surat yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga keuangan lain
untuk menjamin apabila peserta tender menarik diri sebelum batas waktu
berlakunya penawaran. Biasanya jaminan tender ini sebesar 1% - 3% dari
harga penawaran.

Jaminan pelaksanaan (performance bond)
Merupakan surat yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga keuangan lain,
untuk menjamin apabila kontraktor tidak mampu menyelesaikan pekerjaan
atau tidak memenuhi kewajibannya selama masa pelaksanaan. Besarnya
jaminan pelaksanaan pada umumnya adalah 5% - 10% dari nilai kontrak.
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 33

Jaminan uang muka (payment bond)
Merupakan jaminan atas uang muka yang dibayarkan kepada kontraktor.
Nilai jaminan uang muka ini sama dengan nilai uang muka yang
dibayarkan.

Jaminan pemeliharaan (maintenance bond)
Merupakan jaminan atas pemeliharaan, setelah serah terima pertama
proyek. Besarnya jaminan pemeliharaan pada umumnya 5% dari nilai
kontrak.
Jaminan tender, pelaksanaan, dan uang muka umumnya diberikan dalam
bentuk Bank Guarantee, sedangkan jaminan pemeliharaan dilakukan dengan
cara owner atau pemberi tugas menahan 5% dari total nilai kontrak (retensi)
sebagai nilai jaminan dan akan diserahkan di akhir masa pemeliharaan. Jika
hal-hal yang dijaminkan melalui jaminan gagal dipenuhi oleh kontraktor,
maka institusi penjamin akan membayarkan jaminan kepada owner. Jaminan
tersebut dimaksudkan untuk mengganti kerugian owner akibat kegagalan
kontraktor.
6. Biaya bunga, dihitung berdasarkan hasil simulasi cash flow sesuai dengan cara
pembayaran (term of payment), di mana apabila terjadi kondisi cash flow
negatif atau cash out lebih besar daripada cash in maka akan timbul biaya
bunga.
2.5 SOFTWARE ESTIMASI BIAYA
Sejak ditemukannya komputer sampai saat ini, perkembangan teknologi komputer
semakin pesat baik pada hardware (perangkat keras) maupun pada software
(perangkat lunak/ program). Pada saat ini penggunaan teknologi komputer sudah
merambah pada bidang pendidikan, pertanian, kedokteran, ekonomi dan lain-lain.
Khusus pada bidang teknik penggunaan teknologi komputer sudah merupakan
kebutuhan dan sering digunakan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi
dalam menyelesaikan proyek-proyek yang berskala menengah ke atas. Hal
tersebut tentunya akan sangat membantu kita yang bekerja di bidang teknik, tetapi
dengan penggunaan teknologi komputer bukan berarti bahwa komputerisasi dapat
menyelesaikan semua permasalahan pada semua bidang teknik. Para pengguna
teknologi komputer diharapkan sudah menguasai teori-teori yang mendasari
penggunaan program-program komputer tersebut. Input data yang dilakukan
merupakan input data yang benar sehingga output yang dihasilkan merupakan
hasil yang benar.
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 34

2.5.1 Komputerisasi pada Bidang Teknik Sipil
Saat ini komputerisasi pada bidang teknik sudah maju dan berkembang dengan
pesatnya sampai bagian yang terkecil. Sebagai gambaran ada beberapa program-
program di bidang teknik sipil yang sudah banyak digunakan di bawah ini :
1. Management and Project Manager
Auto project
PPC (Project Planning Control)
GL (General Ledger)
Time Line 6.0 for Win
Primavera
Microsoft Project
Arthemis
WinEst Pro
2. Sureying, Land Development, Highway Engineering
ADS Surveying & Mapping (COGO PC Plus, CONTOUR Plus, HDP)
Auto Civil / Auto Series Complete
HYDRAULICS & HIDROLOGY
MTab * Heat (Steady & Transient thermal)
SCADA/HT Heat transfer
SCADA/FF Fluid Flow
ADS Hydraulics (Storm Plus, SEWER, Water)
TEMP/Window (Finite Element Geothermal Analysis)
3. Geotechnical and Materials Engineering
G SLOPE (Limit Equilibrium Slope Stability Analysis)
G TILT (Slope Inclinometer Data reduction with Spiral Capability)
PC-SLOPE (Slope Stability Analysis & methode)
PC-SEEP (Seepage Analysis, Saturated & Unsaturated)
SLOPE/WINDOW (Slope stability)
CTRAN/WINDOW (Contaminant transport Analysis)
SIGMA/WINDOW (Stress & Deformation)
LPILE (Lateral Loaded pile & Driled Shaft P Y Methode)
LPILE Plus (Lateral Loaded Pile & Driled Shaft P Y Methode)
LPILE Window (Lateral Loaded pile & Driled Shaft P Y Methode)
GROUP (Pile Group Analiysis P Y Methode) ver. 3.0
APILE2 (Axially Loaded Pile T Z Methode) ver. 2.0
APILE Plus (Axially Loaded pile API Methode)
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 35

STIFF (Design on Piles & Driled Shaft ACI)
SHAFT (Design on Piles & Driled Shaft)
PILE GP (Load Distribution deflection interrelationships)
PG (Pile group analysis Poulos & Davis)
BMWWLL (Sheet Pile wall Limit Equilibrium)
CNSLT (konsolidasi tes)
SETOFF (Analysis of Fondation Settlement)
3DPILE
4. Structural Analysis and Design
SAP 2000 (Concrete and Steel Design)
ETABS (Concrete and Steel Design)
SANS 89
STAAD Pro Package
SCADA/S1 static, finite Element, Conrette & Steel Design
SCADA/S2 Dynamic
SCADA/S3 Material Geometric Nonlinear Analysis
RAPT Convensional and Prestressed Concrete Design
EnBeam (Prestressed Beam Design & Analysis for Simple Span)
EnBeam (Analysis only)
EnBeamC (Live load Design & Analysis)
EnDraw (Auto CAD Drafting for Prestress Beam)
5. Computer Aided Design
Auto CAD 2007
Multimedia Explorer
3DS Max
Animator Pro
CAD Plus 3D
6. Adcadd Structural / Architectural / Productivity
Plan & Elevations
Details & Sections
Modeller
Structural Design Series (Complete)
Steel Detailer
Architectural Base
Auto Architect (include all function of Architectural Base)
HVAC*
Plumbing*
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 36

Electrical*
Mechanical Design Series (include Architectural Base, HVA, Electrical,
mPlumbing & prod. Tools)
7. Adcadd Architectural / Productivity
Landscape
Productivity Tools
Database Query
Estimating
8. Adcadd Civil
DTM (requires COGO)
Earthwork (requires COGO & DTM)
Advanced Design (requires COGO)
Productivity Tools
Landscape
Site series (COGO, Survey, Design, DTM, Earthwork, Prod. Tools)
Roadway series (COGO, Survey, DTM, Advanced design, Prod.Tools)
Highway Design And Maintenance (HDM III)
2.5.2 Penggunaan Software Estimasi Biaya
Mengapa harus menggunakan software estimasi biaya?
Proyek konstruksi memerlukan perhitungan yang akurat dan detail, hal ini
memakan proses perhitungan yang cukup lama. Sofware estimasi biaya dapat
membantu untuk meningkatkan produktivitas karena dapat memenuhi persiapan
pekerjaan secara detail.
Software estimasi biaya dapat membantu mempersiapkan penawaran kontraktor.
Beberapa kelebihan dari program estimasi biaya yang baik, antara lain :

Document Preparation : membuat report, schedule, letters, contract, dan
printable change order form.

Purchase Order Processing : mencatat semua order pembelian dan
pemasukan.

Archives Previous project : membuat database untuk pekerjaan yang
lengkap sebagai referensi dalam perhitungan estimasi biaya untuk
penawaran yang baru.

Flexibility : memperkenankan perubahan untuk seluruh pekerjaan dan
dimensi dalam membuat penyesuaian untuk unit cost.
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 37

Accounting : banyak program yang secara langsung ataupun accounting
program dapat mengatur perhitungan secara umum, tagihan dan fungsi
pembayaran.
Apa yang dicari di software estimasi biaya?
Tidak ada satupun program yang dapat menjamin kontraktor akan dapat
memenangkan setiap penawaran. Akan tetapi program yang berkualitas dapat
membantu untuk mengatur pekerjaan harian, meningkatkan produktivitas, dan
meningkatkan keuntungan. Dengan me-review suatu software estimasi biaya dan
melakukan perbandingan dengan software estimasi biaya yang lain dapat
membantu dengan cepat untuk mencari software estimasi biaya yang baik.
Berikut ini adalah kriteria dalam penentuan software estimasi biaya konstruksi
yang baik :

Feature set : Software estimasi biaya harus dapat memenuhi seluruh
fasilitas yang diperlukan agar pekerjaan menjadi lebih mudah. Termasuk
kemampuan untuk membuat jalur biaya pekerjaan dan penawaran.
Software tersebut harus dapat menerima formula yang lazim dalam
perhitungan, menyediakan report, memasukkan indeks biaya nasional,
membandingkan data harga subkontraktor dan supplier, serta jalur
pekerjaan berdasarkan divisi dan subdivisi.

Ease of use : software estimasi biaya konstruksi mengatur berbagai
variabel yang cukup kompleks, tetapi penggunaan software seharusnya
lebih mudah. Software seharusnya dirancang lebih teratur dan disajikan
dengan cara yang mudah.

Ease of Installation and Setup : Software estimasi biaya seharusnya dapat
di-instal dengan cepat dan tanpa terjadi error, jika sudah memenuhi
spesifikasi komputer minimum.

Help Documentation : meskipun tipe software ini memenuhi banyak
aspek, pembuat software seharusnya menyediakan tutorial, training
classes ataupun online demonstrations untuk membantu mempelajari
fasilitas yang ada. Nomor telepon, email, FAQ, dan metode kontak lainnya
harus tersedia untuk technical support.
Dengan mengeluarkan sedikit investasi untuk pembelian lisensi software estimasi
biaya seorang estimator dapat melakukan perhitungan estimasi biaya,
meningkatkan keakurasian perhitungan, dan mempercepat dalam proses
pengajuan penawaran.
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 38

Beberapa software esimasi biaya yang dapat dijumpai di pasaran antara lain
adalah :
- WinEst
- Bid4Build
- Virtual Estimator
- ProEst
- Dan lain-lain
2.5.3 Keunggulan dan Kelemahan Software Estimasi Biaya
Keunggulan Software Estimasi Biaya
Software estimasi biaya memiliki banyak keunggulan yang membuat software
estimasi biaya banyak dipakai oleh perusahaan arsitek dan konstruksi di dunia,
seperti Day and Zimmermann Group, CH2M HILL Coporation, dan lain-lain.
Adapun keunggulan software estimasi biaya antara lain :
1. Memiliki fitur yang cukup lengkap, seperti take off screen, assembly take off,
separated divisions (major dan minor divisions), dan lain-lain.
2. Mudah digunakan (user friendly).
3. Mudah dalam proses instalasinya.
4. Memiliki fasilitas bantuan (help documentation).
5. Memiliki mitra kerja yang luas.
6. Dapat diintegrasikan dengan software manajemen proyek yang lain, seperti
Primavera P3 dan P3e/c, Microsoft Project, Microsoft Visio, Microsoft
Solomon, dan Microsoft Great Plains.
7. Memiliki beberapa pilihan produk sesuai dengan variasi kebutuhan pemakai.
8. Tersedia fasilitas training.
Kelemahan Software Estimasi Biaya
Selain memiliki beberapa keunggulan, software estimasi biaya juga memiliki
beberapa kelemahan, antara lain :
1. Tidak tersedia fitur cost control, harus diintegrasikan dengan software cost
control yang lain, seperti Prolog Manager.
2. Jika terdapat perubahan data base, rekapitulasi perhitungan tidak langsung
berubah.
3. Belum tersedia pilihan bahasa Indonesia, terutama dalam fasilitas bantuannya.
4. Belum terintegrasi dengan software umum seperti Microsoft Excel.
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 39

2.5.4 Project Management System

Gambar 2.10 Project Management System
Software estimasi biaya digunakan untuk menghitung atau mengestimasi biaya/
budget proyek. Untuk pihak owner atau pemilik proyek, estimasi biaya ini juga
dikenal sebagai Owner Estimate (O/E) yang biasanya digunakan untuk keperluan
budgeting atau anggaran perusahaan. Sedangkan di pihak kontaktor atau
subkontraktor, estimasi biaya ini dikenal sebagai Rencana Anggaran Biaya (RAB)
yang digunakan untuk keperluan penawaran atau tender, dan sebagai Rencana
Anggaran Proyek (RAP) yang digunakan untuk menghitung jumlah biaya atau
cost yang diperlukan untuk melaksanakan proyek.
Dengan menggunakan software estimasi biaya, owner maupun kontraktor dapat
dengan mudah mengetahui biaya dan volume pekerjaan termasuk breakdown
biaya dan volume bahan, upah dan alat untuk pekerjaan tersebut. Untuk
menghitung biaya-biaya tersebut, software estimasi biaya dilengkapi dengan cost
database yang berfungsi sebagai cost library (databank) untuk estimator. Di
dalam cost database ini terdapat kumpulan data yang dapat digunakan untuk
berbagai macam proyek yang meliputi data harga-harga bahan, upah dan alat,
produktivitas tenaga kerja (manhour/manday productivity), analisa harga satuan
pekerjaan (composite rate), spesifikasi teknis, dan daftar vendor/supplier. Cost
database ini dapat di-update secara berkala untuk menyesuaikan harga-harga
terbaru.
RAB/RAP atau estimasi yang dihasilkan oleh software estimasi biaya selanjutnya
dapat dijadikan acuan atau pedoman untuk pembuatan schedule proyek, dimana
Laporan Tugas Akhir
Analisis Penggunaan Software Estimasi Biaya
pada Proyek Konstruksi di Indonesia

Irwan A. Wicaksono 15003125 BAB 2 - KAJIAN PUSTAKA
Digby F. Ardyansah 15003133 2 - 40

item-item pekerjaan termasuk durasinya (manhours atau mandays) dapat
dihubungkan dengan Planning and Scheduling untuk pembuatan Bar Chart dan
Network Planning sehingga diperoleh schedule proyek dengan critical path-nya,
sedangkan biaya dan volume dari masing-masing komponen bahan, upah dan alat
digunakan untuk pembuatan Resource Histogram dan S-Curve. RAB/RAP ini
dapat pula dihubungkan dengan modul Control and Monitoring (Prolog
Manager). Didalam Prolog Manager, RAB/RAP tersebut merupakan budget
proyek yang dipakai sebagai acuan atau pedoman untuk dibandingkan dengan
biaya-biaya aktual yang dikeluarkan (budget vs actual cost), sedangkan volume
dari masing-masing komponen bahan, upah, dan alat dipakai untuk mengetahui
jumlah yang akan di-order melalui kontrak.
2.6 PENUTUP
Banyaknya permasalahan yang timbul dalam perhitungan estimasi biaya membuat
software estimasi biaya menjadi alat bantu dalam perhitungan. Manfaat yang
dihasilkan dari software estimasi biaya ini sangat besar untuk meningkatkan
keakurasiaan perhitungan, menghemat waktu perhitungan, meningkatkan
kecepatan dalam perhitungan estimasi biaya, dan masih banyak lagi.
Sudah selayaknya untuk proyek konstruksi berskala menengah ke atas yang
memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dalam pengerjaannya memanfaatkan
software estimasi biaya dalam perhitungan biaya, hal ini dikarenakan faktor biaya
menjadi salah satu hal yang penting dalam menentukan keberhasilan suatu
proyek.