You are on page 1of 7

USULAN PERBAIKAN PROTEKSI LINE TRANSMISI

PANGKEP – PAREPARE
TERHADAP SAMBARAN PETIR

Ricky Cahya Andrian

Area Penyaluran dan Pengaturan Beban (AP2B)


PT. PLN (Persero) Wilayah VIII Sulsel dan Sultra
Jl. Letjen. Hertasning Blok B No. 1, Makassar, Sulawesi Selatan
Email : arrester97@yahoo.com

Abstrak : Dari data gangguan transmisi di Sulsel, Selama tahun 2003, frekuensi gangguan akibat petir
petir adalah penyebab terbesar gangguan line terhadap line transmisi sebesar 58%, di mana 28%
transmisi antara Pangkep dan Pare-Pare. Transmisi di antaranya terjadi di line Pare – Pangkep.
Pangkep – Pare adalah Critical Line di sistem Sedangkan pada tahun 2004, frekuensi gangguan
Sulsel untuk saat ini karena konfigurasinya masih akibat petir terhadap line transmisi hampir sama
berupa radial. Maksudnya adalah, jika terjadi yaitu sekitar 58%, tetapi 50% di antaranya terjadi di
gangguan pada salah satu line ini di saat beban line Pare – Pangkep. Mulai tahun 1995 sampai
puncak di mana arus yang mengalir di kedua line tahun 2004, jumlah kWh yang hilang akibat
ini lebih dari 300 A, maka akan terjadi pemadaman gangguan petir ini berjumlah 684.562 kWh atau
meluas di Sulsel. Hal ini disebabkan satu line tidak senilai dengan 370 juta rupiah (asumsi 1 kWh =
bisa menahan beban arus lebih dari 600 A atau 540 rupiah).
keandalan N-1 nya tidak terpenuhi. Beberapa
kejadian penting yang melatarbelakangi penulisan
usulan ini di antaranya adalah tanggal 5 April 2004 Persoalan
terjadi black out di Sulsel pada saat terjadi
penghitungan suara PEMILU pada malam hari, Transmisi Pangkep – Pare adalah Critical Line di
kemudian tanggal 6 Juli 1004 sekitar jam 13.00 sistem Sulsel untuk saat ini karena sistemnya masih
WITA dan terjadi lagi pada tanggal 19 November berupa radial. Sehingga jika line 1 atau line 2 trip
2004 jam 17.30 WITA di daerah yang sama. Dari terutama pada saat Bakaru dibebankan maksimum,
data, didapat indikasi gangguan yang terjadi adalah maka akan terjadi pemadaman meluas di Sulsel.
2 fasa-tanah dan 1 fasa-tanah, terjadi di kedua line Hal ini disebabkan kapasitas satu penghantar
transmisi antara Pangkep-Pare di tower 263 dan maksimum sebesar 600 A, sedangkan pada saat
264. Kedua tower ini berada di gunung dan tepat di Bakaru dibebankan maksimum, satu penghantar
atas sungai. Penulis mengusulkan beberapa mengalirkan arus lebih dari 300 A. Gangguan petir
alternatif untuk mengurangi gangguan petir ini sering terjadi di daerah ini dan sering menyebabkan
yaitu penggunaan LSA (Line Surge Arrester), pemadaman meluas di Sulsel. Jika terjadi
penggunaan DAS (Dissipation Array System), pemadaman meluas, recovery atau pemulihan
penggunaan finial air, perbaikan grounding dan sistem memakan waktu lama akibat kondisi
penggunaan dummy tower. beberapa pembangkit di Sulsel yang tidak siap
untuk masuk kembali ke dalam sistem. Dari
Keywords : Shielding Failure, Back Flash Over beberapa kejadian, sistem kembali normal
(BFO), resistansi pentanahan, Lightning Surge minimum rata-rata 1 jam.
Arrester (LSA), Dissipation Array System (DAS),
finial air, barbed wire, dummy Tower.
Pra-Anggapan

Masalah 1. Sambaran petir yang terjadi di transmisi


Pangkep-Pare disebabkan karena 2 hal yaitu
Dari data gangguan transmisi, petir adalah shielding failure dan Back Flash Over (BFO).
penyebab terbesar gangguan antara line transmisi 2. Shielding Failure yang terjadi karena
antara Pangkep dan Pare-Pare terutama di tower no bentuk sudut elektrogeometri yang ada saat ini
263 dan 264. (eksisting) sudah tidak memenuhi syarat sudut
perlindungan karena karakteristik petir di
Makassar yang tidak diperhitungkan saat
membangun tower Pangkep – Pare.
3. Nilai impedansi pentanahan yang relatif
tinggi menyebabkan terjadinya BFO pada
transmisi sehingga indikasi gangguan yang
terjadi adalah gangguan 1 fasa – tanah. Hal ini
juga terlihat dari indikasi relay jarak (GRZ)
yang terbaca adalah fasa R-T-N dan fasa T-N.

Beberapa fakta kejadian akibat petir

1. Tanggal 5 April 2004 terjadi black out di


Sulsel pada saat terjadi penghitungan suara
PEMILU pada malam hari. Dari bukti-bukti
yang didapat, gangguan yang terjadi
disebabkan oleh petir yang menyambar line
transmisi antara tower 263 dan 264 di kedua
line. Line 1, indikasi fasa R-T-N dan line 2,
indikasi fasa T-N.
Gambar 2. Tower no 264
2. Tanggal 6 Juli 2004 sekitar jam 13.00
siang terjadi black out di Sulsel akibat
sambaran petir. Dari data, didapat indikasi
gangguan yang terjadi adalah 1 fasa-tanah,
terjadi di kedua line transmisi.
3. Tanggal 19 November 2004 sekitar jam
17.30 WITA terjadi black out di Sulsel akibat
sambaran petir di tempat yang sama dan
indikasi fasa yang sama juga seperti kejadian
tanggal 5 April 2004 yang lalu.

Line 150 kV Pangkep – Pare

Transmisi line Pangkep – Pare berada di daerah Gambar 3. Sungai di bawah TWR 263 dan 264
perbukitan sehingga jenis tanahnya banyak
bebatuan. Berikut posisi line Pare – Pangkep di
sistem Sulsel :
Pangkep - Pare

Gambar 4. TWR 263 dilihat dari bawah

Gambar 1. Peta kelistrikan sistem Sulsel


Gambar 6. Cara pemasangan LSA di TWR tension
Bahasan RatingLSA yang akan dipasang

Mengurangi gangguan akibat petir dapat dilakukan Class : 10 kA,3 (IEC 60099-4)
dengan memperkecil penyebab terjadinya gangguan Energy Cap. : 7.8 kJ/kV
petir tersebut, yaitu akibat shielding failure dan Um (kV rms) : 52-420
BFO (Back Flash Over). Ada beberapa cara atau Ur (kV rms) : 42-360
metode yang diusulkan penulis untuk memperbaiki Mechanical Strength : 4000 Nm
sistem proteksi terhadap petir di transmisi line ini, Jenis : Gapless Silicone Zinc Oxide
yaitu : Active Elements
1. Penggunaan LSA (Line Surge Arrester)
2. Penggunaan DAS (Dissipation Array 2. Penggunaan DAS
System)
3. Penggunaan finial air Dissipation Array adalah salah satu metode proteksi
4. Perbaikan grounding tower terhadap sambaran petir baik untuk daerah yang
5. Penggunaan dummy tower diproteksi maupun untuk array tersebut. Metode ini
6. Menambah BIL isolator tower menurunkan perbedaan tegangan antara ground
dengan awan sehingga memperkecil kuat medan di
1. Penggunaan LSA (Line Surge Arrester) antara keduanya sehingga masih lebih kecil
dibandingkan kuat medan tembus udara di daerah
Saat ini, AP2B sistem Sulsel akan menggunakan yang dilindungi (protected area). Dengan kata lain
LSA untuk mengatasi gangguan petir di line menghindari terbentuknya upward streamer.
Pangkep – Pare. Rencananya, LSA ini akan
dipasang di 6 tower yaitu mulai dari TWR no. 261, Penulis mengusulkan agar sebaiknya dissipation
262, 263, 264, 265 dan 266 di tiap line di ketiga wire dipasang paralel dengan ground wire eksisting
fasa, sehingga total LSA yang akan dipasang agar sepanjang saluran tersebut terhindar dari
berjumlah 36 buah. sambaran petir. Sehingga fenomena secondary
effect atau BFO (Back Flash Over) tidak terjadi
sama sekali di tower. Dengan kata lain, “jika kita
tidak bisa menangkap petir, sebaiknya hindari
saja”. (Quite simple, isn’t ?) Dissipation wire di
atas sebaiknya dari jenis stainless steel, karena
kemampuan untuk discharge muatannya lebih baik
dibanding jenis metal lainnya.

Gambar 5. TWR 263 dan 264 jenis tension

Cara pemasangan LSA di tower

Gambar 7. Penggunaan DAS di power line


Gambar 8. Barbed wire
Pasif

Seperti konsep franklin rod. Jenis ini sangat


konvensional dan sangat lama. Tetapi karena
harganya lebih murah, masih sering digunakan.

Gambar 9. Setelah diinstall DAS


Gambar 11. Franklin rod

Aktif

Jenis air terminal menggunakan teknologi baru,


yaitu menghasilkan upward streamer, sehingga
dengan cepat menangkap downward leader dari
petir itu sendiri.

Gambar 12. Interceptor


Gambar 10. DAS bentuk kanonikal

3. Penggunaan finial air 3.2. Convey The Energy Lightning Safely To the
Ground
Konsep finial air terhadap sambaran petir adalah
sebagai berikut : Kunci dari tahap ini adalah bagaimana
1. Capture (tangkap) the Lightning Strike at a menggunakan downconductor yang memiliki harga
known and preferred point L (induktansi) yang rendah. Hal ini disebabkan,
2. Convey (alirkan) the lightning energy safely to terjadinya BFO disebabkan karena harga L
the ground (induktansi) yang besar dibandingkan dengan harga
3. Dissipate into a low impedance grounding R (resistansi) yang besar.
System (perbaikan grounding tower)
di 2
kV BFO = R I + L + kV sistem
Konsep ini terbalik dengan konsep DAS. dt 3
…..(1)
3.1. Capture the lightning strike L di/dt >> R I maupun harga kV sistem. Hal ini
disebabkan karena harga di/dt yang besar. di/dt
Ada 2 jenis finial air yang digunakan untuk adalah kecuraman dari impuls petir itu sendiri.
menangkap sambaran petir ini, yaitu Oleh karena itu untuk mendapatkan harga L di/dt
yang rendah, jenis downconductor yang digunakan
harus mempunyai harga L yang rendah, karena L
tower tidak bisa dimanipulatif karena besarnya
sudah fixed (tetap). Down conductor inilah yang
akan diparalel atau dibonding dengan tower.

Gambar 15. Vertikal rod

Gambar 13. Proses terjadinya BFO

Gambar 16. Counterpoise

Gambar 14. Insulated down conductor

4. Perbaikan grounding tower

Untuk memperbaiki harga resistansi pentanahan,


penulis mengusulkan untuk mengubah bentuk
grounding kaki tower atau memperbanyak
pentanahan bantu. Pada dasarnya, besarnya harga R
(resistansi pentanahan) tidak mempengaruhi suatu
tower tersambar petir atau tidak, tetapi bagaimana
arus petir tersebut dapat dialirkan dengan cepat ke
dalam tanah sehingga tidak terjadi BFO atau
pantulan dari tanah ke isolator.

Tabel 1. Pengukuran Setelah Sambaran Petir


Gambar 17. Konfigurasi grounding kaki tower
No. Tower Resistansi tanah Lokasi
261 4.40 Ohm Gunung
262 3.00 Ohm Gunung
263 18.00 Ohm Gunung
264 20.5 Ohm Gunung
Gambar 18. Dissipasi energi saat sambaran petir

Jika kita ingin mendesain suatu sistem grounding


yang baik, yang harus kita mengerti adalah
karakteristik dari grounding itu sendiri pada saat
terjadi impulse petir. Impedansi yang rendah
berbeda dengan resistansi yang rendah. Impuls petir
itu terdiri dari komponen frekuensi tinggi dan
frekuensi rendah. Frekuensi yang tinggi itu identik
dengan kecuraman fast rising front (tipikal < 10 µs
to peak current). Sedangkan komponen frekuensi
yang rendah adalah gelombang ekor, mempunyai Gambar 19. Proteksi tower terhadap sambaran petir
energi yang tinggi, “tail” atau following current.
Sistem grounding yang dialiri impuls petir ini 5. Penggunaan dummy tower
diidentikkan dengan transmisi line dimana teori
travelling wave berlaku juga di sistem grounding
ini.

Pengukuran ground resistance pada frekuensi


rendah tidak efektif terutama pada saat kondisi
lightning discharge. Oleh karena itu dibutuhkan
Ground System analyzer, dimana fast pulse
diinjeksikan ke ground test point untuk
mensimulasikan performance under kondisi
lightning discharge (tidak sama jika menggunakan
Earth Tester yang biasa digunakan untuk mengukur
tower resistance).

Gambar 20. Dummy tower di TWR 263 dan 264


1. Gangguan petir yang terjadi antara line
Pangkep – Pare disebabkan 2 hal yaitu
shielding failure dan BFO (Back Flashover).
2. Saat ini AP2B Sistem Sulsel akan
memasang Line Surge Arrester (LSA) di 3
tower pertama di sebelah kiri dan kanan sungai
yaitu tower no. 261, 262, 263, 264, 265 dan
266.
3. Solusi lain yang kedua adalah
menggunakan DAS (Dissipation Array
System) dengan memasang barbed wire paralel
dengan earth wire eksisting. Atau juga bisa
menggunakan DAS kanonikal.
Gambar 21. Dummy tower untuk proteksi TWR 4. Solusi yang ketiga dengan menggunakan
finial air, dilengkapi dengan down conductor
yang mempunyai harga L (induktansi) yang
rendah.
5. Solusi yang keempat adalah dengan
memperbaiki sistem grounding di kaki tower,
dengan memperbanyak grounding rod sebagai
tahanan bantu.
6. Solusi yang kelima adalah menggunakan
dummy tower untuk memproteksi tower dari
sambaran langsung baik di erath wire atau
kawat fasa.
7. Menambah BIL isolator dengan
menambah jumlah keping isolator.
Gambar 22. Dummy tower dilihat dari atas

Profil Penulis

Ricky Cahya Andrian dilahirkan di Jakarta, 3 Mei


1979. Menyelesaikan S1 di Institut Teknologi
Bandung (ITB) pada tahun 2002 dan S2 di
Universitas Jayabaya pada tahun 2004. Saat ini
bertugas sebagai Supervisor Operasi Unit Pengatur
Beban (UPB) Kendari di Sulawesi Tenggara.

Gambar 23. Tahanan bantu di kaki tower

6. Menambah BIL isolator

Cara ini adalah yang paling mudah karena hanya


menambah jumlah keping isolator di tower yang
akan diproteksi. Tetapi cara ini membutuhkan biaya
yang cukup tinggi karena harga isolator yang
mahal. Di samping itu, jika isolator ini terkena
sambaran langsung (direct hit), maka isolator ini
akan pecah sehingga PMT line di kedua ujung line
akan tetap trip.
Kesimpulan