You are on page 1of 4

PT PLN (Persero)

WILAYAH KALSEL DAN KALTENG

“ PERBAIKAN PROTEKSI PENYULANG SL.2


GI SELAT - KALSELTENG ”
Oleh :
1. Ir. SUHARTO, MT.
2. NAYUSRIZAL, ST.

ABSTRAK

Sistem Proteksi merupakan suatu kesatuan peralatan yang terdiri dari CT/PT, Relai,
PMT, Catu daya, Pengawatan, serta komponen pendukung lainnya. Kegagalan kerja salah
satu komponen dapat menyebabkan terjadinya malfungsi proteksi yang berakibat rusaknya
peralatan atau meluasnya gangguan. Seperti kasus yang terjadi pada proteksi penyulang
SL.2 GI Selat, dimana PMT tidak membuka meskipun relai sudah memerintahkan trip.
Akibatnya, gangguan menjadi meluas karena tripnya PMT incoming 20 kV trafo tenaga.
Untuk itu, yang terpenting adalah melaksanakan pemeliharaan / investigasi menyeluruh
semua komponen sistem proteksi.

I. PENDAHULUAN a. Mengurangi besar arus


gangguan.
Gangguan dapat terjadi sewaktu-waktu
pada sistem ketenagalistrikan, baik pada b. Melepas bagian yang
pembangkit, gardu, jaringan transmisi terganggu secepatnya dengan
maupun distribusi. Gangguan dapat menggunakan PMT dan relai
bersumber dari internal peralatan tenaga pengaman (sistem proteksi).
listrik itu sendiri seperti tembus isolasi, c. Penerapan pola load
kerusakan mekanis dan fungsi komponen, shedding atau system splitting.
ataupun dari faktor eksternal seperti
sambaran petir, sentuhan pohon dan Namun dalam makalah ini hanya dibahas
binatang, serta kesalahan manusia mengenai sistem proteksi, mulai dari teori
(human error). Gangguan dapat berupa proteksi dan aplikasinya, sampai dengan
hubung singkat (fasa-fasa / fasa-tanah), contoh kasus yang pernah terjadi di
arus beban lebih, tegangan lebih (surja Sistem Kalselteng serta upaya
petir / surja hubung), gangguan stabilitas perbaikannya.
dan lain-lain.
Ada dua cara yang dapat dilakukan II. FILOSOFI SISTEM PROTEKSI
untuk mengatasi gangguan, yaitu : Proteksi merupakan bagian yang
1. Mengurangi penyebab gangguan sangat vital bagi sistem ketenagalistrikan.
a. Menggunakan peralatan Unjuk kerja peralatan proteksi akan sangat
yang dapat diandalkan. mempengaruhi life-time peralatan tenaga
b. Spesifikasi yang tepat dan listrik yang dilindunginya, keandalan
desain yang baik. sistem ketenagalistrikan, serta kontinuitas
c. Pemasangan yang benar. pasokan energi listrik ke konsumen. Oleh
d. Pengoperasian peralatan karena itu, operasi dan pemeliharaan
dengan benar sesuai SOP. peralatan proteksi perlu mendapat
perhatian yang serius untuk mencegah
e. Pemeliharaan yang baik
terjadinya malfungsi atau kegagalan kerja
dan konsisten (Time-based /
sistem proteksi.
Condition-based).
Sistem proteksi berfungsi untuk
f. Pembersihan gardu dan
mendeteksi kondisi abnormal (gangguan)
jaringan.
serta melepas bagian yang terganggu
tersebut secepatnya sehingga bagian
2. Mengurangi akibat gangguan
yang tidak terganggu dapat tetap

Workshop Proteksi & Power Quality 2008 1


PT PLN (Persero)
WILAYAH KALSEL DAN KALTENG

beroperasi. Secara lebih rinci, tujuan dari -) total beban pada rangkaian
sistem proteksi adalah : sekunder trafo tidak boleh melebihi
1. Mencegah kerusakan peralatan burden trafo,
yang terganggu, ataupun peralatan -) inti trafo yang digunakan untuk
yang dilewati arus gangguan, rangkaian proteksi harus benar
(melindungi peralatan). core proteksi, tidak boleh tertukar
2. Mengisolir bagian sistem yang dengan core pengukuran,
terganggu sekecil mungkin dan -) untuk menjaga akurasi, rasio trafo
secepat mungkin, sehingga gangguan yang digunakan sebaiknya propor-
tidak meluas ke bagian lainnya apalagi sional dengan besaran arus /
menyebabkan keruntuhan sistem, tegangan yang akan diukurnya.
(melindungi sistem). 2. Relai
3. Menghindari timbulnya korban berfungsi mengolah data analog yang
pada lingkungan sekitar, seperti diterimanya (nilai input arus/tegangan)
manusia, binatang, dan lainnya sesuai nilai settingnya untuk kemudian
(mengamankan lingkungan). mengeluarkan perintah trip ke PMT.
3. Pemutus Tenaga atau PMT (CB)
Suatu sistem proteksi harus meme- berfungsi memutus rangkaian tenaga
nuhi beberapa persyaratan berikut : listrik berdasarkan perintah yang
1. Sensitifitas diterimanya.
yaitu, proteksi harus mampu bekerja 4. Catu daya
untuk gangguan sekecil apapun. merupakan pensuplai daya listrik untuk
2. Selektifitas operasi peralatan-peralatan proteksi,
yaitu, proteksi hanya bekerja cepat bila biasanya menggunakan sistem DC.
gangguan terjadi pada peralatan yang 5. Pengawatan
dilindunginya atau zona proteksinya. berfungsi menghubungkan semua
3. Kecepatan peralatan proteksi untuk menyalurkan
yaitu, proteksi harus mampu bekerja daya / data / sinyal.
secepatnya untuk melepas bagian
yang terganggu. IV. STUDI KASUS MALFUNGSI
4. Keandalan PROTEKSI PENYULANG SL.2
yaitu, memiliki tingkat kepastian Gardu Induk Selat berada di daerah
bekerja atau tidak boleh gagal kerja Kuala Kapuas Kalimantan Tengah dan
(dependability), serta tingkat keterper- melayani konsumen Cabang Kuala
cayaan atau tidak boleh salah kerja Kapuas. GI ini memiliki satu buah trafo
(security). tenaga 150/20kV 20MVA yang disuplai
5. Ekonomis dari sistem transmisi 150kV dan di-backup
yaitu, harga peralatan proteksi relatif oleh PLTD 2x3 MW, serta memiliki lima
lebih murah bila dibandingkan dengan penyulang outgoing (SL.1 ~ SL.5). Untuk
harga peralatan tenaga listrik yang kubikel 20kV incoming dan outgoing,
dilindunginya. menggunakan PMT merek Modalek dan
Non-directional Over Current Relay MCGG
III. KOMPONEN SISTEM PROTEKSI 52 produksi GEC Alsthom, namun umur
Sistem proteksi merupakan satu keduanya sudah tua (lebih dari 15 tahun).
kesatuan fungsi peralatan yang meliputi : Pada minggu-1 bulan Mei 2007
1. Trafo Arus (CT) / Trafo Tegangan terjadi malfungsi proteksi penyulang SL.2
(PT) sebanyak dua kali, dimana gangguan
berfungsi sebagai sensor yang penyulang tidak dapat diputus oleh
mentransformasi besaran arus/ proteksi penyulang sehingga berakibat
tegangan dari nilai primer menjadi nilai tripnya incoming 20kV trafo tenaga.
sekunder sesuai rating nominalnya.
Beberapa hal yang harus diperhatikan
yaitu :

Workshop Proteksi & Power Quality 2008 2


PT PLN (Persero)
WILAYAH KALSEL DAN KALTENG

150k
V berfungsi dengan baik sehingga sinyal
trip tidak bisa diterima coil secara
sempurna. Akhirnya, tuas yang akan
20kV
mengerjakan pegas pendorong kontak
PMT tidak bekerja sehingga PMT tidak
bisa memutus rangkaian.
Couplin
g Kemudian dilakukan perbaikan dan
SL.1 SL.2 SL.3 SL.4 SL.5
PLTD pembersihan mekanik PMT sehingga
Kapuas
Sebenarnya relai di penyulang SL.2 sudah dapat berfungsi normal.
memerintahkan trip dengan indikasi
ground fault, tetapi PMT-nya tidak
membuka. Akibatnya PMT incoming trip
dengan indikasi ground fault.
Selanjutnya dilakukan pengecekan /
investigasi dan perbaikan sistem proteksi
dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Pengecekan catu daya
Dilakukan pengecekan / pengukuran
suplai tegangan di terminal relay panel
kubikel SL.2, hasilnya membuktikan
catu daya normal.
2. Pengecekan setting relai dan wiring
Pengecekan ulang nilai setting untuk
memastikan kesesuaian tap setting Komponen mekanis
dengan hasil perhitungan setting. untuk interlock PMT
Kemudian juga diperiksa semua (posisi tuas pada
pengawatan relai, auxiliary, dll di relay bagian dalam)
panel.
6. Melakukan uji individu relai
OCR/GFR MCGG 52 sesuai setting.
Hasil uji menunjukkan bahwa relai
masih berfungsi tetapi unjuk kerjanya
sedikit menurun, terbukti dengan waktu
trip instantnya mulai kurang stabil,
berkisar 60 ~ 130 ms (seharusnya ≤ 90
OCR/GFR merk MCGG 52 ms). Hal ini terjadi akibat kontak trip
relai sudah melemah karena faktor
3. Pengecekan arus masukan dari CT usia (aging). Untuk ke depan akan
di terminal relai. dilakukan peremajaan / penggantian
relai secara bertahap sesuai
4. Melakukan uji fungsi untuk memas-
ketersediaan anggaran.
tikan kerja peralatan. Terbukti bahwa
relai bekerja tetapi PMT tidak 7. Setelah semua peralatan
membuka. dipastikan baik secara individual,
kemudian PMT dimasukkan kembali ke
5. Selanjutnya PMT dibuka secara
kubikel (rack-in), semua pengawatan
manual melalui tombol langsung di
relai dll disem-purnakan kembali. Hal
body PMT dan kemudian dikeluarkan
yang penting diperhatikan yaitu
dari kubikel (rack-out). Dari penge-
pastikan interlock PMT berada pada
cekan mekanik PMT diketahui bahwa
posisinya dengan sempurna.
penyebab tidak bekerjanya PMT
Selanjutnya dilakukan uji fungsi sistem
karena tuas interlock-nya bengkok
proteksi, dan hasilnya membuktikan
sehingga tidak masuk dengan
bahwa proteksi sudah berfungsi
sempurna. Akibatnya auxiliary contact
dengan baik, sehingga penyulang bisa
yang mengerjakan coil trip tidak
kembali dinormalkan.

Workshop Proteksi & Power Quality 2008 3


PT PLN (Persero)
WILAYAH KALSEL DAN KALTENG

PLN (Persero) Wilayah Kalimantan


Jadi, pemeliharaan dan pengecekan Selatan dan Kalimantan Tengah.
proteksi agar dilakukan menyeluruh untuk
semua peralatan, tidak hanya terpaku
pada relai dan settingnya. Selain itu,
pengoperasian peralatan harus dilakukan
dengan baik sesuai SOP karena
kesalahan akan bisa berakibat fatal bagi
sistem ketenagalistrikan.

V. KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan :
1. Sistem proteksi merupakan satu
kesatuan peralatan yang perlu
dipelihara secara menyeluruh.
2. Malfungsi proteksi penyulang SL.2 GI
Selat disebabkan oleh kegagalan kerja
PMT dalam memutus arus gangguan
meskipun relai sudah memerintahkan
trip. Kegagalan terjadi akibat keru-
sakan mekanik PMT, kemudian dilaku-
kan perbaikan dan hasil pengujian
menunjukkan sistem proteksi sudah
berfungsi dengan baik.
3. Perlunya melaksanakan pemeliharaan/
investigasi menyeluruh semua kompo-
nen sistem proteksi.

BIOGRAFI PENULIS

*) Ir. SUHARTO, MT. (NIP : 6187001-A)


Lahir di Langkat pada tanggal 3 Juli
1961, menyelesaikan pendidikan S-1
pada tahun 1986 di Fakultas Teknik
Universitas Sumatera Utara dan
meraih gelar Magister Teknik dari
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
pada tahun 2002. Saat ini menjabat
sebagai Manajer Bidang Transmisi dan
Distribusi di PT PLN (Persero) Wilayah
Kalimantan Selatan dan Kalimantan
Tengah.

*) NAYUSRIZAL, ST. (NIP : 8005001-D)


Lahir di Dumai pada tanggal 9 Juni
1980, menyelesaikan pendidikan S-1
pada tahun 2003 di Fakultas Teknik
Universitas Andalas Padang. Saat ini
menjabat sebagai Terampil Utama
Sistem Proteksi Penyaluran pada
Bidang Transmisi dan Distribusi PT

Workshop Proteksi & Power Quality 2008 4