You are on page 1of 22

MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

BAB I
LATAR BELAKANG MASALAH

I.1. Latar Belakang

Sistem Sulsel merupakan interkoneksi 150kV yang mensupply listrik di


Provinsi Sulsel dan Sulbar. Terdiri dari berbagai jenis pembangkit
PLTA,PLTGU dan PLTD. Pusat beban sistem (60%) berada di bagian
Selatan, tepatnya di Makassar, ibukota provinsi Sulsel, sedangkan
pembangkit murah dan terbesar lokasinya ada di sebelah utara. Sehingga
pasokan listrik mengalir dari bagian utara ke selatan setiap hari selama 24 jam
sepanjang 400 kms. Hal ini tentu saja mengurangi kehandalan sistem. Jika
terjadi gangguan di sepanjang saluran ini, maka kota Makassar akan padam
total. Artinya, PLN akan kehilangan sebesar 60% pelanggannya. Selain
masalah kehandalan itu, masalah berikutnya adalah keterbatasan daya, di
mana saat ini Sistem Sulsel defisit sekitar 24MW tiap malam. Untuk
melakukan investasi pembangkit, tentu saja memerlukan biaya yang sangat
besar dan waktunya sangat lama, termasuk di dalamnya pembangunan
transmisi dan Gardu Induk yang baru. Kondisi ini semakin diperparah dengan
gangguan beberapa mesin eksisting di PLTD dan PLTG/U Tello serta inflow
air di PLTA Bakaru yang berkurang. Sehingga angka defisit 24MW akan bisa
bertambah seiiring dengan naiknya kebutuhan energi dari masyarakat. Yang
bisa dilakukan PLN untuk jangka pendek adalah menyetop pemasangan baru
dan menghimbau pelanggan untuk senantiasa berhemat listrik terutama saat
beban puncak pukul 17.00-22.00 WITA. Penulis mengusulkan untuk
membuat kebijakan microgrid, yang mengijinkan pelanggan untuk menjual
kelebihan daya (excess power) ke grid eksisting PLN dengan harga yang
menarik. Sehingga selain ada kebijakan harga TDL (harga jual PLN), ada
juga kebijakan harga beli PLN dari microgrid pelanggan. Dengan demikian,
pelanggan turut berperan membantu keterbatasan daya PLN di Sistem Sulsel

1
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

ini. Sehingga beban puncak saat malam hari dapat dipangkas dan pemakaian
BBM dapat dikurangi dengan masuknya microgrid ini.
Isu microgrid ini dimulai dari kemajuan teknologi pembangkit yang
berukuran kecil dan berdaya mampu besar seperti microtubine yang
memungkinkan dipasang di lokasi pelanggan atau lokasi beban yang mau
disupply. Dalam hal ini, Distributed Energy Resources (DER) – small power
generator yang dipasang di lokasi pelanggan yang memanfaatkan output
listrik dan thermalnya. DER ini meliputi generator, energy storage, load
control dan advanced power electronic interface antara generator dengan
generator lainnya. Microgrid ini mengintegrasikan semua jenis DER di dalam
sistem.

I.2. Teknologi

Kunci dari kesuksesan microgrid ini ada di power electronic, control dan
communication yang membuat microgrid berfungsi sebagai semiautonomous
power system.

I.2.1. Microturbines

Daya mampu sekitar 25-100kW dan sedang diproduksi daya mampu di


atas angka ini.Mekanisnya sangat sederhana, single shaft devices,
putaran tinggi (50.000-100.000 rpm) dengan bearing airfoil. Dengan
menggunakan power electronic, microturbine ini mensupply beban
sistem. Misalnya Capstone 30kW, 60kW, Honeywell 75kW, Bowman
atau Turbec. Microturbine sangat ramah lingkungan. Bahan bakarnya
natural gas dan BBM dengan output low particles.

2
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

Gambar 1. Microtubine kapasitas 80kW

I.2.2. Fuel Cell

Jenis ini cocok untuk distributed generation. Walaupun harganya


mahal, effisiensinya sangat tinggi dan low emisi. Jenis Phosporic Acid
Cell sudah dijual dengan saya mampu 200 kW. Bahan bakarnya adalah
gas hidrogen.

I.2.3. Renewable Generation

Dengan menggunakan power electronic, memungkinkan PV sistem dan


wind turbine dapat interkoneksi dengan grid. Begitu juga dengan
biofueled microturbine. Jenis renewable ini merupakan jawaban atas
pembangkit yang bersih dari emisi karbon yang diproduksi oleh
pembangkit konvensional.

I.2.4. Storage Energies

3
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

Seperti halnya battere dan ultra capasitor, storage energies adalah


komponen yang penting di dalam microgrid. Storage DC ini dapat
memperbaiki kestabilan sistem saat terjadi perubahan sistem dari on
Grid ke islanding. Dengan battere NAS, dapat mensupply 5MW per
detik.

Di Indonesia khususnya di Sulsel, yang paling memungkinkan adalah


microturbine yang menggunakan natural gas, karena infrasturktur gas ini
akan diperbaiki dan direncanakan akan dibangun pipanisasi gas di perkotaan
menurut blueprint Migas sehingga tiap pelanggan perkotaan dapat membuat
microgridnya sendiri. Ini adalah peluang yang harus dimanfaatkan PLN
dengan mengikat kontrak dengan pelanggan microgrid ini. Indonesia juga
kaya akan batubara dan gas alam. Batubara bisa diubah ke dalam syngas
melalui proses Fischer Tropisch atau bisa juga dicairkan menjadi CTL (Coal
to Liquid) sehingga bisa digunakan sebagai bahan bakar microturbine.

BAB II
PERMASALAHAN

II.1. Permasalahan

4
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

Sistem Sulsel interkoneksi 150kV terbentang mulai dari utara PLTA Bakaru
sampai dengan Selatan di kota Makassar yang disupply dari Pembangkit di
Tello yang berbahan bakar HSD dan sangat mahal. Sehingga untuk efisiensi
biaya operasi, maka pembangkit di Utara dimaksimalkan mulai dari PLTA
Bakaru, PLTGU Sengkang dan PLTD MFO Suppa. Hal ini membuat
kehandalan sistem berkurang karena loadflow berasal dari bagian utara
sistem yang jauh yang rentan terjadi gangguan transmisi. Apalagi
kontingensi di backbone Pare-Pangkep sudah tidak memenuhi (N-1)
sehingga gangguan Blackout terus membayangi Sistem Sulsel ini. Tercatat
beberapa kali gangguan blackout di Sistem Sulsel disebabkan karena
malfunction PMT atau equipment lain di bagian utara yang menyebabkan
gangguan supply untuk Makassar. Kejadian Blackout terakhir adalah
tanggal 11 Maret 2009, dimana terjadi gangguan malfunction PMT di line 1
arah Soppeng di GI Sidrap yang mentripkan line 2 (line sebelahnya)
sehingga pasokan supply dari PLTGU Sengkang terputus dan load flow
berubah melalui Bone-Bulukumba-Makassar yang menyebabkan terjadinya
drop tegangan di Makassar yang membuat lepas sinkron beberapa
pembangkit di Makassar sehingga terjadinya pemadaman total di Sistem. Ini
adalah masalah besar bagi Sistem Sulsel yang harus dicarikan solusi praktis
dan cepat tanpa menggunakan biaya investasi dari PLN yaitu dengan cara
mengikutsertakan pelanggan PLN dalam memenuhi kebutuhan sistem di
Selatan melalui microgrid ini. Tentu saja, pelanggan harus diimingi dengan
harga beli PLN yang menarik.

5
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

PUSAT BEBAN 1 1 1 1
PUSAT PEMBANGKIT
1 1 1 1

(SELATAN)
TLAMA
A
2

TELLO
A
2
BSOWA
2

A
PNKEP
2
BARRU (UTARA) 2
PPARE
A
2
PRANG
2
PLMAS
A
BKARU
A
2

2x5
B MVA B B
B B B
1 2 1 2
31,5 31,5 5
1 2 1x16 16
3 5 30 MVA MVA MVA MVA
2x30 MVA MVA 1 2
30 2 x 31,5 1 2 20
IBT MVA 5 1 2 3
MVA MVA 20 MVA
2 x 31,5 IBT 1 MVA 1 2
MVA 20 MVA 1 2
G G G G G G A G G

1 2 1 2 1 2 MJENE PLTA BAKARU


B 2x63.00 MW
PLTG GE MITSUBISHI SWD 2 x 45 G
4 x 10 MVA
2x33.40 MW 2x12.60 MW 2x12,40 MW 20 PLTA TEPPO
MVAr PLTD
4 MVA 1.0 MW
SEWATAMA G 70 kV
30 kV SDRAP
15.00 MW A 1 2 A 20
5 x 10 MVA 1
MAROS MVAr G G G G G G
B B
PLTD SUPPA 2
1 2 1 2 TNASA 6 x 10.80 MW MMUJU
1 2
20 MVA IBT IV 1 x 10 MNDAI 20
20 MVA MVA
MVAr
G G G G G
1 2 1 2 PLTG
WESTCAN ALSTOM 1
14 ,47 MW 21,35 MW PLTU ALSTOM 2 1 2 2 x 20 MKALE
2x12,50 MW 20.10 MW MVA
BNTLA PKANG 1 2
1

1 2 3 2 1
1 x 30 2 20
2 x 30 BRLOE DAYA SKANG SPENG
PLTD
MVA MVA MAMUJU
2 x 20 MVA
BWAJA A A
5.10 MW
G
MVA
B B
20 MVA
10 MVA 2 x 10 1 2 1 2
20
MVAr 2 X 20
1 2 MVA
30 MVA
MVA G
PLTD
G G G G MAKALE
G G GT 21 ST18 GT12 GT 11 6.72 MW PLOPO
PLTA
BILI BILI PLTGU SENGKANG 1 2
135.00 (60 Baru) MW
20.00 MW

2 1
2x20
1 1 1 1 1 1 MVA

2 2 2 2 2 2
BONE
A A A A A A

B B B B SNJAI B
B
TBNGA SGMSA TLASA JNPTO BKMBA
20
20 PLT D
30 30 10 16 20 MVA 2 x 20
MVA MVA PALOPO G G
MVA MVA MVA MVA MVA
18.67 MW
PLTD
MASAMBA
5.30 MW

KETERANGAN : SINGLE LINE DIAGRAM SISTEM SULSELKONDISI NORMAL


SUTT 150 kV PMT MASUK Sesuai dengan surat Direktur Transmisi & Distribusi
66 kV
SKTT 30 kV PMT KELUAR No. 00048 / 110 / DITTND / 2008
20 kV PMS MASUK
RENCANA 12 kV PT. PLN (PERSERO ) Dibuat oleh : Tanggal Revisi :
PMS KELUAR WILAYAH SULTANBATARA
6 kV AP2B SISTEM SULAWESI SELATAN Bag Operasi Sistem Agustus 2008

Gambar 2. Single Line Sistem Sulsel 2009

Masalah lain di Sistem Sulsel adalah keterbatasan daya baik akibat defisit
daya maupun defisit energi. Defisit daya disebabkan tidak ada penambahan
kapasitas pembangkit secara signifikan dibandingkan dengan penambahan
beban yang terjadi tiap tahun baik natural growth 5% ataupun pemasangan
baru sehingga growth naik di atas 10%. Sedangkan defisit energi adalah
defisit akibat gangguan supply energi primer seperti penurunan elevasi dan
inflow air di PLTA atau gangguan pasokan BBM dari Pertamina.

Gambar 3. Pertumbuhan Energi di Sulsel 2003- 2009

6
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

BAB III
PEMBAHASAN MASALAH

III.1. Pembahasan
Untuk mengatasi hal ini, penulis mengusulkan untuk membentuk
pembangkit kecil secara cluster yang melayani gedung perkantoran, ruko,
Mall, perumahan dan kawasan industri yang disebut dengan istilah
microgrid di pusat beban di Makassar. Sistem microgrid ini dapat
membantu untuk mengatasi keterbatasan daya di sistem tanpa menambah
beban line transmisi atau beban Trafo distribusi di Gardu Induk. Karena
dengan menambah transmisi dan gardu induk baru membutuhkan biaya
yang besar dan waktu yang lama. Diharapkan dengan dibangunnya
microgrid di pusat beban di Makassar, kehandalan sistem lebih terjamin dan
menurunkan beban puncak yang mengakibatkan berkurangnya pemakaian
BBM dari pembangkit mahal saat malam hari (peak load).

Microgrid ini dapat berupa generator kecil berbahan bakar diesel atau gas,
fuel cell, microturbines, solar cell, wind turbine dan lain sebagainya.

7
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

Biasanya kapasitas microgrid ini tidak lebih dari 500kW. Microgrid dapat
switch off dan on dalam waktu singkat. Saat beban puncak, di mana harga
listrik PLN mahal karena pembangkit BBM masuk, maka microgrid
diharapkan masuk sistem untuk mengurangi pemakaian BBM. Sedangkan
pada LWBP di mana harga listrik PLN murah, maka microgrid akan switch
off atau pelanggan membeli listrik dari grid PLN. Termasuk saat terjadi
gangguan feeder atau transmisi, maka microgrid akan mengisolasi dirinya
sendiri. PLN diharapkan membuat kebijakan microgrid ini menjadi pemicu
ke masyarakat untuk menjual excess power (kelebihan daya) ke grid PLN
melalui kWhmeter exim di site pelanggan sehingga juga akan memperbaiki
kualitas tegangan di lokal pelanggan. Penulis berpikir bahwa konsep
microgrid ini akan mengubah paradigma, di mana selama ini pelanggan
hanya menjadi load center berubah menjadi generation center.

Gambar 4. Langgam beban harian Sistem Sulsel

Turun 30MW
Penulis berpikir, ke depan, microgrid ini akan semakin kompetitif dengan
pembangkit konvensional. Sebagai contoh, teknologi power electronic
semakin canggih dan murah di mana dapat mensinkronkan solar cell dengan
grid PLN melalui inverter. Begitu juga dengan ukuran genset akan semakin
kecil dan mobile dengan bahan bakar yang semakin murah. Perubahan
paradigma dari sentralized power plant ke distributed power plant ini tidak
mudah dan membutuhkan waktu yang sangat lama seiiring dengan
perkembangan renewable energy, fleksibilitas dan pembangkit berwawasan
lingkungan. Microgrid dapat mengubah skema pembelian listrik, di mana
pada market konvensional, didominasi oleh power producer dan kompetisi
terjadi hanya di antara mereka saja. Di era microgrid ini akan terjadi
kompetisi retail, di mana pelanggan memilih supply listrik berdasarkan
harga dan kualitas pelayanannya. Hal ini membuat penjual listrik dalam hal
ini PLN, akan menjadi lebih disiplin dalam menyediakan listriknya.

III.2. Konsep Microgrid

8
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

Feeder A,B,C dan D disupply dari Gardu Induk. Di feeder A,B dan C ada
microsources yaitu no 22,16,8 dan 11. Dengan masuknya microsources ini,
maka beban trafo di Gardu Induk ini akan berkurang. Jika terjadi gangguan
di Trafo Distribusi atau grid PLN, maka static switch akan membuka
sehingga microsources tersebut hanya mensupply untuk feeder A,B dan C
terpisah dari grid PLN (islanding), sedangkan feeder D tetap padam. Jika
beban microsources ini mencukupi untuk mensupply feeder D, maka secara
bertahap feeder D akan dimanuver bebannya ke Feeder A,B dan feeder C.

Gambar 5 .Konsep Microgrid

III.2.1. Microgrid Control

Teknologi inverter memungkinkan microsources dan energi


terbarukan untuk sinkron dengan grid PLN tanpa perlu modifikasi.
9
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

Daya aktif dan reaktif dapat dikontrol oleh inverter sesuai dengan
kebutuhan beban. Microgrid mempunyai kemampuan untuk
mengatur load flow di feeder, mengatur besaran tegangan di tiap
microsources. Dan sebagai tambahan bagaimana microgrid ini
dapat island dan reconnect dengan smooth.

Gambar 6 . Interface Inverter System

III.2.2. Basic Control Active dan Reactive Power

Ada dua jenis microsources yaitu DC sources seperti fuel cell,


photovoltaic cell dan battery storage dan AC sources seperti
microturbine yang harus disearahkan dulu (rectified) kemudian
baru dikonversi menggunakan voltage source inverter. General
model untuk sebuah microsource terdiri dari 3 basic elemen yaitu :
prime mover, DC interface dan Voltage Source Inverter. Voltage
source inverter mengontrol magnitude dan fasa output voltage (V).
Vektor antara inverter voltage (V)dan local microgrid voltage (E)
dihubungkan dengan reaktansi inductor (X) menentukan loadflow
Real dan Reactive (P dan Q) dari microsource ke grid. Magnitude
P dan Q didapat dari persamaan (1) di bawah. P tergantung power
angle (δ) dan Q tergantung magnitude inverter voltage (V).

10
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

………………………..(1)

III.2.3. Voltage vs Reactive Power (Q) Droop

Masuknya berbagai macam microsources di dalam microgrid tidak


akan berpengaruh terhadap power factor control karena adanya
power and voltage control regulation. Voltage regulation
dibutuhkan untuk local reliability dan stability. Tanpa adanya
voltage control, maka akan timbul osilasi tegangan dan daya reaktif
(kVAR). Sehingga jika tegangan terlalu tinggi, maka microsources
akan menyerap kVAR dan sebaliknya jika tegangan terlalu rendah,
maka microsources akan menginjeksi kVAR.

11
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

Gambar 7. Microsources Controller

Gambar 8. Voltage set point with droop

Qlimit (Qmax) pada gambar 7 di atas dibatasi dari fungsi VA rating


dan P (daya aktif) dari Prime Mover

III.2.4. Power vs Frequency Droop

Seperti halnya UPS, microgrid dapat island dan reconnect dengan


smooth ke grid jika terjadi gangguan supply PLN dengan
menggunakan controller untuk menyesuaikan dengan beban lokal
sistem tanpa menggunakan komunikasi dengan microsources
lainnya. Ketika suatu microgrid connect dengan grid PLN, maka
microgrid menerima beban dari PLN dan local microsources.
Ketika grid PLN mengalami gangguan atau blackout, maka
microgrid dapat membentuk island sendiri dengan smooth. Ketika
terjadi islanding, voltage phase angle di tiap microsources akan
berubah, begitu juga dengan frekuensi akan mengalami perubahan
saat terjadi islanding, disesuaikan dengan local beban yang
dipikulnya.

12
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

Gambar 9. Power vs Frequency Droop Control

Sebagai contoh, di gambar atas, dua microsources mempunyai


daya mampu yang berbeda P1max dan P2max. Saat didispatch,
bebannya P01 dan P02 pada base frekuensi ωo. Droop didefinisikan
penurunan atau kenaikan beban pada frekuensi yang sama. Selama
perubahan beban, 2 generator ini bekerja di frekuensi yang berbeda
sehingga menimbulkan perubahan pada sudut angle di antara
mereka sehingga frekuensi sistem cenderung turun yaitu ω1. Unit 2
mempunyai daya mampu yang lebih kecil sehingga hanya Unit 1
yang bisa menaikkan frekuensi sistem.

III.2.5. Sistem Dinamik


A. Kasus 1
Suatu beban industri dapat digunakan sebagai contoh untuk beban
dinamik dari suatu microgrid dengan besar 1.2 MW beban
motor.Disupply dari feeder 20kV overhead. Lihat gambar 5.
Industri tersebut disupply dari 4 feeder 380V, di mana 3 feeder di
antaranya tidak boleh outage dan harus kontinu dilistriki jika grid
PLN mengalami gangguan supply. Tiga feeder ini memiliki
microsources di node 8,11,16 dan 22 dan kemampuan untuk
islanding dengan menggunakan static switch. Sedangkan feeder ke-
4 tidak memiliki microsources. Node 16 dan 22 berada di dua
feeder yang berbeda sedangkan node 8 dan 11 berada di feeder
yang sama.

13
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

Gambar 10. Hasil testing microgrid

Load A berada di dekat node 11, sedangkan load B berada di antara


node 8 dan 11. Gambar 10 menggambarkan respon dari ke-4
microsources terhadap 3 events kejadian yaitu : reduce load A,
increase load B dan islanding. Plot gambar 10 di atas
menggambarkan beban masing-masing microsources. Reduction
load A, menyebabkan beban microsources 8 dan 11 juga ikut turun
sehingga load flow untuk beban feeder C akan konstan. Event
berikutnya adalah increase load B yang menyebabkan beban
microsources no 8 akan ikut naik.Pada saat terjadi islanding, maka
ke-4 microsources akan ikut menaikkan bebannya. Sedangkan pada
gambar di sebelah kanan adalah keluaran daya reaktif.

B. Kasus 2

14
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

Gambar 11. One line diagram

Beban industri di atas 1.6MW dengan beban motor rata-rata 50 to


150HP. Memiliki 3 feeder 480V dan 2.4kV. Beban 2 feeder yang
bertegangan 480Vac harus tetap online dan kontinu served. Di bus
8 dan 9 ada mesin sinkron (M8 dan M9) dengan kapasitor support
voltage dengan pf=0.85. Pada saat M8 dan M9 tidak beroperasi,
tegangan di bus 8 dan 9 adalah 0.933 dan 0.941pu (base 480V).
Losses sekitar 70kW. Masing-masing M8 dan M9 (cluster
microsources) adalah 600kVA. Total daya output saat dispatch
masing-masing sebesar 300kVA. Dengan beban ini, tegangan di
bus 8 dan bus 9 naik menjadi 1pu dan total losses turun menjadi
6kW atau berkurang 64kW.

15
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

Gambar 13. Startup P dan Q Gambar 14. Regulated voltage


Microsources (a) Active power ; (a) bus 8 dan (b) bus 9
(b) Reactive Power

Pada gambar di atas, initial state, local sources tidak beroperasi,


sehingga pada gambar 12 menunjukkan zero real and reactive
power injection dan reduced voltage di bus 8 dan 9. Pada t=1s,
generator pada bus 8 beroperasi dengan beban 446kW seperti
ditunjukkan gambar 13 di atas. Pada t=3s, unit pada bus 9
beroperasi dengan beban 360kW. Pada saat unit ke-2 masuk sistem,
Q pada unit bus 8 akan memperbaiki local tegangan dengan
menurunkan keluaran kVar-nya pada saat unit 9 menginjeksi kVar.
Case ini bisa berlaku juga saat terjadi islanding, di mana besar
power sharing tidak bisa mencukupi besarnya beban sehingga
harus dilepas breaker S2 (pada gambar 11), untuk melepas beban
M7.

Pada t=10s, microgrid keluar dari grid PLN untuk mode islanding
dengan mentripkan switch S1 karena terjadi gangguan supply dari
grid. Pada saat yang bersamaan, feeder non prioritas dilepas dengan
melepas switch S2. Waveform tegangan di bus 8 dan 9 selama
mode switch ke island, ditunjukkan pada gambar 14 di mana
perubahannya sangat smooth.

16
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

Gambar 15. Regulated voltage selama Gambar 16. P dan Q transient selama
proses pindah ke mode island (a) bus 8 transisi ke mode islanding
(b) bus 9 dan (c) 13.8 kV

III.2.6. Sistem Proteksi Microgrid

Sistem proteksi di microgrid berbeda dengan sistem radial


konvensional karena adanya microsources. Sistem konvensional
hanya berupa beban saja tanpa adanya microsources di feeder.
Walaupun ada microsources yang terpasang, aliran daya tetap
melalui proteksi device. Yang berbeda adalah dari besarnya hubung
singkat yang terjadi ketika berpindah mode dari grid ke mode
islanding. Sehingga sistem proteksi yang berlaku di sistem
microgrid ini ada 2 skenario yaitu :
 Skenario pertama yaitu scenario “Normal”, di mana microgrid
connected ke grid saat gangguan terjadi. Proteksi sistem harus
merespon cepat dengan melepas microsources (DER) dari grid
dengan mode islanding yang menggunakan Separation Device
(SD).
 Skenario kedua yaitu gangguan terjadi pada saat mode
islanding

III.2.7. Gangguan Terjadi pada Kondisi Microgrid On Grid

17
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

Gambar 17. Gangguan di dalam Microgrid


Beban microgrid itu bermacam-macam. Fokus utama adalah
menjaga agar lampu penerangan akan tetap menyala. Sedangkan
beban-beban yang sangat sensitive seperti computer cash register
dan inventory control harus tetap menggunakan UPS sehingga saat
terjadi outage atau mode switch, tidak akan menyebabkan kedip
tegangan (voltage dip).

A. Gangguan di dalam Grid PLN

Individual DER pada scenario ini harus mempunyai scheme


proteksi yaitu Separation Device (SD) yang menjaga DER ini tetap
beroperasi selama proses disconnecting microgrid dari grid
(islanding). Tetapi jika fault terjadi di dalam microgrid itu sendiri,
maka proteksi scheme berikutnya yang harus bekerja.

18
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

B. Gangguan di dalam microgrid

Jika terjadi gangguan di zone 2 di dalam microgrid seperti pada


gambar 17, maka perlakuannya akan berbeda dengan skenario
pertama. Pada skenario pertama, jika gangguan terjadi pada grid
PLN, maka Separation Device (SD) akan bekerja untuk
memisahkan microgrid dari grid PLN. Jika gangguan terjadi di
dalam microgrid sendiri saat islanding, maka breaker di dekat
microsources akan bekerja mengisolasi gangguan tersebut. Respon
proteksi di dalam microgrid itu tergantung kompleksitas dari
microsources. Semakin banyak microsources yang masuk di
feeder, maka semakin komplek kerja dari relay proteksi tersebut.
Untuk memudahkan, jika terjadi gangguan di dalam microgrid,
maka pelanggan pemilik microsources akan melepaskan diri dari
microgrid untuk mensupply bebannya sendiri tanpa perlu
mensupply beban lain di luar dirinya sendiri. Ini merupakan cara
yang paling mudah.

III.2.8. Kemampuan Mengurangi Arus Hubung Singkat

Ketika microgrid connect ke grid PLN, maka jika terjadi gangguan,


maka besar arus gangguan yang terjadi akan lebih besar dari arus
beban. Besar arus gangguan ini kemudian akan diisolasi oleh relay.
Jenis DER seperti fuel cell, solar cell, wind turbine dan battery
storage menyumbang arus gangguan kurang dari setting arus
gangguannya, sehingga tidak terdeteksi oleh relay OCR di feeder
dan dianggap sebagai arus beban normal. Sehingga dibutuhkan
relay lain sebagai alternative dalam mendeteksi gangguan DER ini
seperti relay impedance, zero sequence current atau differential
relay.

19
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

IV.1. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa microgrid layak untuk


diterapkan di sistem Sulsel. Dengan harga beli PLN yang menarik, maka
tiap pelanggan akan berlomba-lomba untuk membentuk microgrid sendiri.
Sehingga implikasinya adalah penurunan beban puncak saat malam hari
yang menurunkan pemakaian BBM. Menurut penulis, selama harga
pembelian masih di bawah biaya energy pembangkit mahal yang masuk saat
malam hari, maka harga tersebut masih wajar, apalagi dibandingkan dengan
pembangunan pembangkit,transmisi dan gardu induk baru yang
membutuhkan biaya besar dan waktu lama. Sistem Sulsel belum memiliki
excess power yang mensupply sistem sehingga diharapkan microgrid ini
dapat membuat suatu pemikiran baru, di mana excess power itu bukan
hanya milik industri besar tetapi setiap stakeholder dapat menjadi excess
power dengan membentuk microgrid sendiri.

IV.2. Saran

20
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

Penulis menyarankan agar PLN memberikan harga beli yang sangat menarik
untuk memacu pertumbuhan microgrid. Untuk itu, perlu dibuat suatu
kebijakan excess power yang berasal dari microgrid khususnya pelanggan
rumah tangga, ruko,hotel atau Mall. Untuk menciptakan persaingan di
bidang retail, Pemerintah daerah disarankan membuat microgrid untuk ikut
membantu melistriki pelanggan PLN yang juga menjadi warga pemerintah
daerah setempat. Untuk Sulsel, potensi yang memungkinkan untuk
membuat microgrid ini berkembang adalah dengan melakukan pipanisasi
gas dari Sengkang ke Makassar. Dengan sumber gas yang berlimpah dan
harga yang lebih murah dari BBM, maka microgrid akan tumbuh subur
seiiring dengan masuknya pipa gas ke setiap pelanggan PLN. Untuk
pelanggan yang berada di tepi pantai, dapat mengembangkan wind turbine
atau solar cell yang potensinya sangat besar.

LAMPIRAN

21
MICROGRID : SOLUSI KETERBATASAN DAYA

22