You are on page 1of 12

DAYA HAMBAT MANGOSTIN TERHADAP KEHAMILAN MENCIT

(Mus musculus) SWISS WEBSTER BETINA


PADA PERIODE PRA IMPLANTASI

Adnan
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Makassar

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat mangostin terhadap


kehamilan mencit (Mus musculus) Swiss Webster . Mangostin dilarutkan dalam
minyak kacang dan disuntikkan secara sub kutan setiap hari pada umur kehamilan
hari ke-1 s/d hari ke-4. Dosis mangostin yang digunakan adalah 10, 25, dan 50
mg/kg berat badan dan kontrol. Daya hambat mangostin terhadap kehamilan
diamati pada umur kehamilan hari ke-10 dan hari ke-18. Pengamatan dilakukan
terhadap jumlah korpus luteum, jumlah implantasi, jumlah kematian pasca-
implantasi dan jumlah fetus hidup. Selain itu juga dilakukan pengamatan terhadap
berat badan mencit. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan rumus
tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mangostin dengan dosis 25 dan 50
mg/kg berat badan dapat meningkatkan persentase kehilangan gestasi, kematian
pasca implantasi, dan. menurunkan jumlah implantasi dan fetus hidup. Dengan
demikian mangostin memiliki kemampuan untuk menghambat atau mengganggu
terjadinya kehamilan, khususnya pada periode pra-implantasi atau pada umur
kehamilan hari ke-10 dan hari ke-18

A. PENDAHULUAN

Hingga saat ini, masalah jumlah penduduk masih tetap merupakan masalah utama
yang dihadapi oleh banyaj negara, khususnya negara-negara yang sedang berkembang.
Upaya pengendaliannya telah dilakukan melalui berbagai macam cara kontrasepsi.
Hingga saat ini belum ditemukan cara kontrasepsi yang ideal dalam arti bahwa cara
kontrasepsi tersebut dapat memberikan perlindungan terhadap fertilitas dan sekaligus
bebas dari efek samping. Estrogen dan progesteron merupakan bahan kontrasepsi yang
hingga saat ini banyak digunakan, namun keduanya tidak lepas dari efek samping.
Penggunaan estrogen dapat menimbulkan gangguan pada pembuluh darah berupa
tromboemboli dan penyakit jantung koroner, meningkatkan kemungkinan resiko
menderita kanker endometrium dan diabetes millitus (Setiabudy et al., 1990; Johnson dan
Everiit, 1988). Penggunaan bahan progestagenik dapat meningkatkan kemungkinan
resiko menderita kanker payudara, kanker leher rahim dan perdarahan transvagina
(Johnson dan Everiit, 1988).
Realitas di atas mendorong perlunya dilakukan penelitian dan pengkajian tentang
bahan-bahan alam yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan kontrasepsi dimasa yang akan
datang. Bahan-bahan tersebut dapat diperoleh dari berbagai jenis hewan maupun
tumbuh-an. Berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa senyawa
senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai bahan antifertilitas antara lain senyawa-
senyawa golongan steroid, alkaloid, isoflavonoid, triterpenoid dan xanthon (Farnsworth
et al., 1975; Ghosal et al., 1981; Chattopadhyay et al., 1983; dan Chattopadhyay et al.,
1984).
Salah satu jenis xanthon yang telah diisolasi dari daun mangga adalah mangiferin
(Bennet et al., 1988). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mangiferin terbukti memiliki
potensi yang sangat tinggi dalam mangganggu fungsi reproduksi pada tikus. Jenis
xanthon lain yang telah diisolasi adalah mangostin yang diperoleh dari kulit buah
manggis (Garcinia mangostana L). (Bandaranayake et al., 1975; Sultanbawa, 1979; Sen
et al., 1981; dan Bennet et al 1988).
Mangostin dikenal dengan nama 1,3,6-trihidrokxy-7-methoxy-2,8-di-(3-methyl-2-
butenyl) xanthon dengan rumus kimia C24 H26O 6. Hingga saat ini pengetahuan mengenai
aktivitas biologis mangostin masih terbatas sehingga masih diperlukan pengkajian.
Sedangkan aktivitas biologis xanthon telajh dikaji oleh beberapa peneliti. Xanthon
bekerja spesifik pada sistem saraf pusat, dan umumnya mempunyai aktivitas kardiotonik,
diuretik, antibakteri, dan menghambat aktivitas monoamin oksidase dan xanthin oksidase
(Beretz et al., 1979; Zusuki et al., 1980; Zusuki et al., 1981; ). Selain itu xanthon
merupakan inhibitor enzim fosfodiesterase dan dapat menghambat pemecahan nukleotida
siklik yaitu AMP dan GMP (Beretz et al., 1979). Inhibitor enzim fosfodiesterase dapat
mengehentikan atau mereduksi pengaruh rangsangan prolaktin terhadap sintesis RNA,
sintesis kasein, sintesis laktobumin dan sintesis trigliserida dalam kultur jaringan
mammae. Selain itu juga dapat menghambat kecepatan produksi laktosa dalam jaringan
mammae marmut (Rillema et al., 1988)
Berdasarkan uraian di atas maka dilakukan penelitian dengan judul Daya hambat
mangostin terhadap kehamilan mencit Swiss Wbster pada periode pra-implantasi.
B. METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini bahan yang diuji aktivitas biologisnya adalah mangostin
yang diisolasi dari kulit buah manggis dengan kemurnian 90%. Mangostin diperoleh dari
Prof. Dr. Iwang Soediro, Jurusan Farmasi ITB. Sebagai pelarut digunakan minyak
kacang dari Sigma Chemical Company, USA.
Hewan uji yang digunakan adalah mencit (Mus musculus) Swiss Webster betina
yang diperoleh dari bagian pemeliharaan hewan Juerusan Farmasi ITB, berumur 21 hari.
Pemeliharaan dan pengembangbiakan mencit dilakukan di rumah hewan PAU ilmu
hayati ITB dengan pencahayaan ruangan 12 jam gelap (pk. 18.00-06.00) dan 12 jam
terang (pk 06.00-18.00) dan suhu ruangan berkisar 22,5-24,50oC. Mencit betina dan
mencit jantan dipelihara di dalam kandang yang terpisah. Alas kandang dilapisi sekam
dengan tebal kurang lebih 2 cm dan diganti setiap tiga hari. Mencit beri pakan anak babi,
produksi PT. Charoen Pokphand Indonesia dan air minum (air PAM) ad libitum dan
diganti setiap dua hari.
Mencit yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit yang berumur 10-11
minggu, dengan berat badan berkisar 25 - 30 g, dan memiliki siklus estrus yang teratur,
yaitu berkisar 4-5 hari.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap. Terdiri
atas 1 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan. Yaitu pemberian mangostin dengan
dosis 10, 25, dan 50 mg/kg berat badan. Pemberian mangostin dilakukan secara subkutan
setiap hari dengan volume 0,25 ml/mencit pada umur kehamilan hari ke-1 sampai hari
ke-4. Mencit yang telah diberi perlakuan dipelihara hingga umur kehamilan hari ke-18.
Penimbangan berat badan dilakukan setiap tiga hari yang dimulai pada hari ke-0
kehamilan. Bila pada umur kehamilan hari ke-10, berat badan mencit tidak menunjukkan
adanya kenaikan yang berarti, maka pengamatan dilakukan pada umur kehamilan hari ke-
10, sedangkan bila terdapat kenaikan yang berat badan yang berarti, maka pengamatan
dilakukan pada umur kehamilan hari ke-18. Pada umur kehamilan hari ke-10 atau ke-18,
mencit-mencit dimatikan dengan cara dislokasi leher, selanjutnya dilakukan pembedahan.
Setelah mencit dibedah, kedua ovariun dilepaskan dan dimasukkan ke dalam
cawan petri yang mengandung larutan NaCl 0,9% secara terpisah. Uterus kemudian
dilepaskan tubuh induk. Uterus selanjutnya di gunting pada sisi yang berlawanan dengan
tempat implantasi, sehingga bagian dalam uterus terdedah. Selanjutnya kantung amnion
dibuka satu persatu (Manson dan Kang, 1989). Pada kedua tanduk uterus dilakukan
pengamatan mengenai jumlah implantasi, jumlah fetus hidup dan fetus mati dan jumlah
embrio yang mengalami resorpsi. Fetus hidup kemudian dilepaskan dari uterus dengan
cara memotong tali pusatnya, lalu dimasukkan ke dalam botol yang mengandung NACl
0,9%. Selanjutnya fetus diangkat dari dalam larutan NACl 0,9%, dan dikeringkan
dengan menggunakan kertas tissue. Malformasi eksternal yang muncul pada setiap fetus
diamati, dan berat badan fetus ditimbang satu persatu dengan menggunakan neraca
elektrik.
Korpus luteum diamati secara terpisah dengan menggunakan mikroskop disseksi.
Bursa yang membungkus ovarium dilepaskan dengan menggunakan pinset dan gunting.
Setelah itu jumlah korpus luteun dihitung.
Jumlah implantasi didapatkan dengan cara menghitung semua tempat implantas,
baik yang mengandung fetus hidup, fetus mati, maupun embrio resorpsi pada kedua
tanduk uterus. Gumpalan darah yang berwarna hitam dengan sisa jaringan embrio yang
termase-rasi atau tanpa adanya jaringan embrio dinyatakan sebagai embrio resorpsi
(Manson dan Kang, 1989). Konseptus yang sudah dapat dibedakan atas kepala, badan,
kaki dan ekor serta tidak memberikan reaksi bila diberi sentuhan dinyatakan sebagai fetus
mati. Untuk mengetahui adanya embrio yang diresorpsi lebih awal dilakukan dengan
cara merendam uterus di dalam larutan amonium sulfida 0,52% selama beberapa menit.
Adanya bintik-bintik berwarna hitam pada kedua tanduk uterus dinyatakan sebagai
tempat implantasi.
Data yang diperoleh dihitung dengan menggunakan rumus-rumus tertentu.sebagai
berikut:
1. Persentase Implantasi (IM) (Dubin et al., 1979)
Jumlah Implantasi
IM = x 100%
Jumlah korpus Luteum
2. Persentase Kehilangan Gestasi (KGE) (Manson dan Kang, 1989)
Jumlah Korpus Luteum-Jumlah Implantasi
KGE = x100%
Jumlah Korpus Luteum
3. Persentase Kematian Pasca Implantasi (KPI) (Manson dan Kang, 1989)
Jumlah Implantasi-Jumlah Fetus Hidup
KPI = x 100 %
Jumlah Implantasi

C. HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Berat Badan
Hasil pengamatan rata-rata berat badan mencit kontrol dan perlakuan disajikan
pada tabel 1.
Tabel 1. Rata-rata persentase kehilangan gestasi (KGE) pada mencit kontrol dan
perlakuan yang diberi mangostin setiap hari selama periode pra-
implantasi.

Dosis Umur Jumlah Pertambahan


(mg/kg kehamilan Hewan Berat Badan (X±SEM) g Berat badan
b.b) (Hari) Uji (X+SEM) g
Uk-0 Uk-18 (10)
0 18 10 27,47±0,33 51,52±0,63 24,05±0,64
10 18 10 25,97±0,34 tn 45,82±0,53 * 19,85±0,48 tn
25 18 6 26,45±0,31 tn 44,42±0,97 * 17,97±0,98 *
10 7 27.16±0,41 tn (28,81±0,35) 1,65±0,49
50 18 6 27,62±0,42 tn 43,23±0,93 15,61±0,91 *
10 9 27,87±0,43 tn (29,13±0,45) 1,26±0,32
Keterangan: bb = berat badan, uk= umur kehamilan,. tn = tidak berbeda nyata dengan kontrol pada
taraf kepercayaan α0,05%, *= berbeda nyata dengan kontrol pada taraf kepercayaan α 0,05%

Tabel 1 menunjukkan bahwa untuk perlakuan dengan dosis 25 dan 50 mg/kg

berat badan, waktu pengamatan dilakukan pada umur kehamilan hari ke-10 dan hari ke-

18. Hal ini dilakukan karena pada kedua perlakuan tersebut, masing-masing 7 ekor

mencit pada kelompok dosis 25 mg/kg berat badan dan 9 ekor mencit pada kelompok

dosis 50 mg/kg tidak menunjukkan kenaikan berat badan yang berarti. Untuk
mengantisipasi agar data tentang jumlah korpus luteum dan implantasi tidak hilang, maka

pembedahan dilakukan pada umur kehamilan hari ke-10.

Data pada tabel 1 menunjukkan bahwa kenaikan berat badan pada setiap

kelompok perlakuan sangat ditentukan oleh pertumbuhan embrio/fetus pada setiap

mencit.. Dengan kata lain mencit yang mengalami gangguan dalam kehamilannya tidak

mengalami kenaikan berat badan yang berarti.

2. Kehilangan Gestasi

Hasil pengamatan rata-rata persentase kehilangan gestasi pada mencit kontrol dan

perlakuan ditunjukkan pada tabel 2.

Tabel 2. Persentase kehilangan gestasi (KGE) pada mencit kontrol dan perlakuan yang
diberi mangostin pada umur kehamilan hari ke-0 s/d hari ke-4.

Dosis Jumlah Jumlah Jumlah KGE


(mg/kg Hewan Korpus Luteum Implantasi
b.b) Uji X±SEM X±SEM (%) X±SEM (%)
0 10 12,00±0,48 11.80±0,49 1,74 ±0,51
(98,26±0,62)
10 10 11,80±0,43 11,00±0,39 tn 6,31±0,88 tn
(83,70±0,83) tn
25 13 11,30±0,73 9,08±0,53) tn 22,10±1,42 tn
(77,90±1,62)tn
50 15 12,33±0,32 7,87±0,54 * 36,32±1,50*
(63,68±1,50)*
Keterangan: bb = berat badan., uk= umur kehamilan., tn = tidak berbeda nyata dibandingkan
dengan kontrol pada taraf α0,05., * berbeda nyata dengan kontrol pada taraf α 0,05.

Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa persentase kehilangan gestasi pada mencit

kelompok perlakuan lebih tinggi dibandingkan dengan mencit kontrol. Hasil uji Fα 0,05

yang dilanjutkan dengan uji bnt α 0,05 menunjukkan bahwa mangostin dengan dosis 50

mg/kg berat badan secara nyata meningkatkan rata-rata persentase kehilangan gestasi.

Terdapat kecenderungan bahwa rata-rata persentase kehilangan gestasi meningkat dengan


bertambahnya dosis. Meningkatnya persentase kehilangan gestasi kemungkinan

disebabkan karena terjadinya perubahan lingkungan endpkrin di dalam uterus, dan pada

akhirnya dapat menghambat terjadinya implantasi. Sifat mangostin yang esterogenik

diduga kuat merupakan faktor penyebab meningkatnya kehilangan gestasi sebagai akibat

dari terjadinya hambatan terhadap proses implantasi. Menurut Johnson dan Everiit

(1988), kegagalan implantasi sering terjadi sebagai akibat terjadinya gangguan pada

transpor telur. Konsentrasi esterogen yang tinggi dapat mempercepat transpor telur

sehingga telur tiba di dalam uterus pada saat uterus belum resptif untuk berlangsungnya

implantasi (Rugh, 1968; Johnson dan Everiit, 1988). Pada mencit, umumnya implantasi

berlangsung pada umur kehamilan hari ke-4 s/d hari ke-5 (Rugh, 1968; Nalbandov.,

1979).

Bentuk hubungan antara dosis dengan persentase kehilangan gestasi dapat

dinyatakan dalam bentuk persamaan Y= 1,35 + 0,71 Xi dengan koefisien regresi r=0,99

(Y= penduga untuk KGE, X= dosis dalam mg/kg berat badan). Dengan demikian

kenaikan dosis sebesar 1 mg/kg berat badan akan meningkatkan kehilangan gestasi

sebesar 0,71%. Sedangkan bentuk hubungan antara dosis dengan persentase implantasi

dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan Y = 98,65-0,72 Xi dengan koefisien regresi r

= 0,99 (Y = penduga untuk persentase implantasi, X = dosis dalam mg/ kg berat badan).

Dengan demikian kenaikan dosis sebesar 1 mg/kg berat badan akan menurunkan

persentase implantasi sebesar 0,72%.

Rata-rata kehilangan gestasi pada mencit perlakuan dengan dosis 25 dan 50

mg/kg berat badan masing-masing 22,10 dan 36,32. Nishimura dan Shiota (1977)

kehilangan gestasi pada mencit dapat berlangsung secara alami sebesar 10,80 s/d 23,1 %.
Dengan mengacu pada pernyataan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa mangostin

dengan dosis 50 mg/kg berat badan secara nyata meningkatkan persentase kehilangan

gestasi bila pemberiannya dilakukan pada periode pra-implantasi.

Jumlah implantasi pada mencit perlakuan dengan dosis 25 dan 50 mg/kg berat

badan adalah masing-masing 77,90% dan 63,68 %. Suatu zat dapat dikategorikan

sebagai zat antiimplantasi bila zat tersebut dapat menghambat implantasi sebesar 50%

(Farnswoth et al., 1975). Dengan mengacu pada pernyataan di atas, maka mangostin

dengan dosis 50 mg/kg berat badan belum dapat dikategorikan sebagai zat anti-

implantasi sekalipun secara statistik tampak berbeda nyata dengan kontrol.

3. Kematian Pasca Implantasi

Hasil penelitian mengenai rata-rata persentase kematian pasca-implantasi (KPI)

ditunjukkan pada tabel 3.

Tabel 3. Persentase KPI pada mencit kontrol dan perlakuan yang diberi mangostin
selama periode pra-implantasi.

Dosis Jumlah Jumlah Jumlah KPI


(mg/kg Hewan Korpus Luteum Implantasi X±SEM (%)
b.b) Uji X±SEM X±SEM (%)
0 10 12,00±0,48 11.80±0,49 8,78±0,97
(98,26±0,62)
10 10 11,80±0,43 11,00±0,39 tn 19,73±0,1,34 tn
(83,70±0,83) tn
25 13 11,30±0,73 9,08±0,53) tn 73,69±1,73 **
(77,90±1,62)tn
50 15 12,33±0,32 7,87±0,54 * 78,21±1,40**
(63,68±1,50)*
Keterangan: bb = berat badan., uk= umur kehamilan., tn = tidak berbeda nyata dibandingkan
dengan kontrol pada taraf α0,05., * berbeda nyata dengan kontrol pada taraf α 0,05.

Hasil analisis statistik dengan uji F pada taraf kepercayaan α 0,05 yang
dilanjutkan dengan uji bnt α 0,01 menunjukkan bahwa pemberian mangostin dengan
dosis 25 dan 50 mg/kg berat badan secara nyata meningkatkan persentase kematian
pasca-implantasi. Peningkatan persentase kematian pasca-implantasi lebih disebabkan
karena terjadinya resorpsi embrio dari pada karena fetus mati. Oleh sebab itu mangostin
lebih bersifat embriotoksik dari pada fetotoksik.
Bila dibandingkan dengan pengaruh mangiferin terhadap kehamilan tikus yang
dilaporkan oleh Chattopadhyay et al.., (1984) dengan pengaruh mangostin yang
dilakukan dalam penelitian ini, tampak adanya kesamaan pengaruh. Pemberian
mangiferin dengan dosis 5 mg/kg berat badan pada tikus betina albino pada umur
kehamilan hari ke-1 s/d hari ke-3 menyebabkan resorpsi embrio 100%. Dalam penelitian
inipemberian mangostin dengan dosis 50 mg/kg berat badan pada umur kehamilan hari
ke-1 s/d hari ke-5 , 9 (60%) ekor mencit mengalami resorpsi embrio 100%, dan 6 (40%)
ekor mencit yang mengalami resorpsi embrio sebahagian.
Terdapat kecenderungan bahwa makin besar dosis mangostin yang diberikan,
maka persentase kematian pasca impnatasi semakin meningkat. Bentuk hubungan antara
dosis dengan kematian pasca implantasi dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan Y=
13,4 +1,49 Xi (Y= penduga untuk persentase kematian pasca implantasi; X= dosis dalam
mg/kg berat badan). Dengan demikian kenaikan dosis sebesar 1 mg/kg berat badan akan
menyebabkan terjadinya kematian pasca implantasi sebesar 1,49%. Kematian pasca-
implantasi pada mencit merupakan suatu kejadian alami dengan kisaran sebesar 20%
(Nishimura dan Shiota, 1977). Dengan mengacu pada pernyataan tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa mangostin dengan dosis 50 mg/kg berat badan dapat meningkatkan
kematian pasca-implantasi. Dengan kata lain mangostin dapat mengganggu kehamilan
pada mencit bila diberikan selama periode pra-implantasi.
Kematian pasca-implantasi dapat terjadi sebagai akibat terjadinya perubahan
lingkungan uterus yang kurang menguntungkan. Untuk memelihara implantasi,
tergantung pada keseimbangan hormon dalam lingkungan uterus dengan rasio
progesteron-esterogen yang tinggi ( Austin dan Short, 1985; Johnson dan Everiit., 1988).
Telah dilaporkan oleh beberapa peneliti bahwa xanthon pada umumnya dan
mengostin pada khususnya merupakan inhibitor enzim monoamin oksidase (Beretz et al.,
1979; Zusuki et al., 1980; Zusuki et al., 1981; dan Bennet et al., 1988). Inhibitor
monoamin oksidase dapat menginduksi terjadinya aborsi (farnsworth et al., 1975).
Penghambatan dari enzim monoamin oksidase akan menghasilkan seretonin yang tidak
dapat dimetabolisme. Akumulasi seretonin di dalam uterus akan merangsang konstraksi
uterus dan pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya aborsi. Pada beberapa species
mamalia, inhibitor monoamin oksidase dapat mengganggu kehamilan (Farnsworth et al.,
1975).

5. Persentase Fetus Hidup


Hasil penelitian mengenai rata-rata jumlah fetus hidup pada mencit kontrol dan
perlakuan disajikan pada tabel 4.

Tabel 4. Rata-rata persentase fetus hidup pada mencit kontrol dan perlakuan yang
diberi mangsotin setiap hari pada periode pra-implantasi.

Dosis Jumlah Jumlah Jumlah


(mg/kg Hewan Korpus Luteum Implantasi Fetus Hidup
b.b) Uji X±SEM X±SEM (%) X±SEM (%)
0 10 12,00±0,48 11.80±0,49 10,80 ±0,52
(98,26±0,62) (91,22±0,97)
10 10 11,80±0,43 11,00±0,39 tn 8,80±0,48 tn
(83,70±0,83) tn (80,27±1,33) tn
25 13 11,30±0,73 9,08±0,53) tn 2,54±0,55 **
(77,90±1,62)tn (26,31±1,96)**
50 15 12,33±0,32 7,87±0,54 * 2,27±0,46**
(63,68±1,50)* (21,73±1,40)**
Keterangan: bb = berat badan., uk= umur kehamilan., tn = tidak berbeda nyata dibandingkan
dengan kontrol pada taraf α0,05., * berbeda nyata dengan kontrol pada taraf α 0,05.

Tabel 4 menunjukkan bahwa rata-rata jumlah fetus hidup pada mencit kontrol dan
perlakuan yang diberi mangostin dengan dosis 25 dan 50 mg/kg berat badan masing-
masing 2,54 dan 2,27 atau 26,31% dan 21,73%. Hasil analisis statistik dengan uji F yang
dilanjutkan dengan uji bnt α 0,01 menunjukkan bahwa mangostin dengan dosis 25 dan 50
mg/kg berat badan secara nyata menurunkan jumlah fetus hidup.

D. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan
bahwa :
1. Pemberian mangostin dengan dosis 25 dan 50 mg /kg berat badan dapat menghambat
terjadinya kehamilan.
2. Penghambatan mangostin terhadap kehamilan dapat berupa meningkatnya persentase
kehilangan gestasi, menurunkan persentase implantasi, meningkatkan persentase
kematian pasca implantasi dan menurunkan jumlah fetus hidup.
3. Mangostin bersifat embriotoksik.

E. DAFTAR PUSTAKA
Austin, C. R and Short, R. V. 1985. Reproduction in mammals, embryonic and
fetal development. Vol.2. Cambridge University Press. London, New York.
P. 145-146

Bennet, G. J. and Lee, H. 1988. Xanthones from Guttiferae. J. Phytochem. 28:


267-298.

Beretz, A. Joly, M. Stocklet, J. C. and Anton, R. 1979. Inhibition of 3’,5’-AMP


phosfodiesterase by biflavonoids and xanthones. J. Planta. Med. 36: 193-
195.
Chattopadhyay, S; Chattopadhyay, U; Mathur, P. P; Saini, K. S.; and Ghosal, S.
1983. Effects of hippadine, an amaryllidaceae alkaloid on testicular
function in rats. J. Planta. Med. 49:252-254.

Chattopadhyay, S; Chattopadhyay, U; Suklla, S. P; and Ghosal, S. 1984. Effects


of mangiferin a naturally occuring glucosylxanthones on reproductive
function of rats. J. Pharmaceut. Sci. 41: 279-282.

Dubin, N. H; Baron, N. A; Cox, R. T; and King, T. M. 1979. Implantation and


fetal survival in the rat as affected by intra uterine injection of steril saline.
J. Biol. Repord, 21:47-52.

Farnsworth, N. R; Bingel, A.S; Cordel, G. A; Crane, F. A and Fong, H. H. S.


1976. Potential Value of plants as sources of new antifertility agents I. J.
Pharmaceut. Sci. 64:535-598.

Johnson , M and Everiit, B. 1988. Essential reproduction. Blackwell Sci. Publ.


London. P. 94-97, 224-225.

Manson, J. M and Kang, Y. J. 1989. The methods for acessing female


reproductive and developmental toxicology. In: Principles and methods of
toxicology, Ed: A.W. Hayes. Raven Press. New York. P. 311-359

Nalbandov, A. W. 1979. Reproductive physiology of mammals and birds, The


comparative physiology of donestics and laboratory animals and man. W.
H. Freeman and Co. san Francisco. P. 271, 253-255.

Nishimura, H and Shiota, K. 1977. Comparative maternal and epidemiologic


aspect. In : hand book of teratology. Ed: G.J. Wilson and F. C. Fraser.
Plenum Press. New York. P. 119-154.
Rillema, J.A; Etindi, R.M; Ofenstein, J. P; and Waters, S. B. 1988. Mechanisms
of prolaction action. In: The physiology of reproduction. Eds: Knobil, E;
Ewing, L; L. Markert, C.L. Neill, J. D; and Pfaff, D.W. Raven Press. Ltd.
New York. P 2218-2230.

Rugh, R. 1968. The mouse, its reproduction and development. Burgess Publ. Co
Minneapolis. P. 1-6, 35-41.

Zusuki, O; Katsumata, Y; Oya, M; Chari, V. M; Clapfenberger, R; Wagner, H;


and Hostettmann, K. 1980. Inhibitor of type A and type B monoamine
oxidase by naturally occuring xanthones. J. planta. Med. 39:19-23.

Zusuki, O; Katsumata, Y; Oya, M; Chari, V. M; Clapfenberger, R; Wagner, H;


and Hostettmann, K. 1981. Inhibitor of type A and type B monoamine
oxidase by naturally occuring xanthones. J. Planta .Med. 42:17-21

F. UCAPAN TERIMA KASIH


Pada kesempatan ini penulis ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya
kepada Dr. Lien A. Sutasurya dan Prof. Dr. Sri Sudarwati atas bimbingannya selama
melaksanakan penelitian. Terima kasih juga disampaikan kepada Prof Dr. Soelaksono,
Direktur PAU Hayati ITB atas ijin yang diberikan selama melaksanakan penelitian, dan
kepada Prof. Dr. Iwang Soediro , Kepala Laboratorium Biologi Farmasi ITB yang dengan
kemurahan hati telah memberikan bantuan mangostin kepada penulis sehingga penelitian
ini dapat selesai pada waktunya.